Anda di halaman 1dari 2

LEMBAR JAWABAN

1. Butir-butir penting yang perlu diperhatikan saat melakukan komunikasi antarbudaya ditunjukkan
McNab (2006) seperti berikut. Dia menunjukkan ada 8 (delapan) butir penting yang perlu diketahui,y
ang cara mempraktikkannya berbeda-beda pada setiap budaya. Butir-butir penting tersebut
sesungguhnya buikan hanya penting untuk melakukan komunikasi lintasbudaya, melainkan penting
juga untuk perhatian kita saat melakukan komunikasi dengan orang yang sama budayanya. Kita
perhatikan kedelapan butir penting tersebut.
1) Membuka dan menutup percakapan.Ini penting diperhatikan karena budaya yang berbeda
memiliki adat kebiasaan yang berbeda tentang siapa yang berbicara pada siapan, kapan dan
bagaimana serta siapa yang dipandang berhak,atau bahkan kewajiban, untuk memulai
pembicaraan, dan apa yang tepat untuk menyimpulkan percakapan.
2) Mengubah peran dalam percakapan. Pada beberapa kebudayaan,cara yang paling baik mengubah
peran dalam percakapan adalah dengan cara interaktif.Artinya peran sebagai pembicara dan
pendengar berganti-ganti karena kehendak kedua belah pihak. Pada kebudayaan yang lain,justru
dianggap sangat penting lawan bicara menyelesaikan dulu semua yang hendak disampaikannya,
baru kemudian kita berbicara untuk memberi komentar atau sekedar memberi tanggapan.
3) Memotong pembicaraan. Persoalan lain dalam komunikasi antarbudaya adalah memotong atau
menyela pembicaraan. Ada kebudayaan yang memandang memotong pembicaran dianggap
sebagai bagian dari gaya percakapan. Hal seperti ini biasanya terjadi pada budaya yang egaliter.
Sedangkan pada kebudayaan yang lain, memotong pembicaraan dianggap tidak sopan bahkan
dipandang menantang.
4) Jeda percakapan. Ada kalanya, saat kita bicara kita berdiam sejenak, barang beberapa detik.
Rupanya makna berdiam sejenak itu berbeda-beda pada setiap kebudayaan. Pada kebudayaan
tertentu, berdiam sejenak dipandang sebagai bentuk memikirkan semua apa yang dikatakan
dengan penuh pertimbangan, namun pada saat yang lain bisa saja ini dipandang sebagai sikap
bermusuhan. Bagi masyarakat Barat, berdiam selama 20 detik dalam sebuah pertemuan dipandang
sebagai tanda kekurangnyamanan, dan banyak orang akan merasa tidak enak dengan suasana
seperti itu. Namun pada masyarakat lain dipandang sebaliknya.
5) Topik pencakapan yang tepat. Ada beberapa topik yang bila dibicarakan dipandang tidak tepat.
Berbicara mengenai uang atau harta kekayaan secara terbuka, pada satu masyarakat dianggap
sebagai bentuk kesombongan namun pada masyarakat lain justru dianggap sebagai tanda
keakraban atau kedekatan.
6) Humor sering kali dianggap sebagai bumbu percakapan yang berfungsi mengakrabkan atau
membangun kedekatan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita biasa berusaha membangun kedekatan
dengan humor. Namun hendaknya ini tidak kita pandang berlaku universal, atau berlaku untuk
semua situasi. Pada orang yang baru kita kenal dan sedang berdua, tidak sepatutnya kita
berhumor.
7) Tahu seberapa banyak kita berbicara. Ini salah satu persoalan dalam komunikasi lintasbudaya.
Kita tidak memiliki ukuran atau takaran, seberapa banyak seseorang dianggap patut dalam
berbicara. Bagi satu kelompok budaya, pembukaan yang sekedar basa-basi tidak begitu disukai,
sehingga dipandang lebih baik berbicara langsung pada pokok permasalahan.Pada masyarakat
yang lain, pembukaan yang panjang-lebar bagian dari kesantunan dan menunjukkan diri sebagai
manusia yang beradab.
8) Menyusun tahapan untuk unsur-unsur percakapan. Bila kita berbicara isu yang
sensitif,permasalahan yang muncul biasanya pada saat mana kita dianggap tepat untuk memulai
berbicara tentang isu sensitif itu. Di sinilah kita perlu memiliki kepekaan kapan saat yang tepat
untuk mulai masuk ke dalam pokok bahasan yang sensitif itu, dengan mempertimbangkan
budaya. Karena bisa saja, pertanyaan yang sudah kita anggap pas yang disampaikan secara tepat
pula,bisa dipandang terlalu dini disampaikan atau terlalu terlambat untuk diajukan, yang bisa
dipandang dan dimaknai secara berbeda oleh setiap orang pada budaya yang berbeda.

2. Kita menafikan keragaman budaya, dan memandang-dalam alam bawah sadar kita- dunia ini diisi
oleh orang-orang yang sama dalam segala hal. "Jebakan-jebakan" sikap tersebut adalah sebagai
berikut.
1) Etnosentrisme, yaitu orang yang memandang bahwa kelompok etniknya atau budayanya yang
paling baik di dunia ini. Pada sikap ini sesungguhnya tercermin ketidakmampuan untuk menerima
apa yang menjadi pandangan dunia orang lain.
2) Diskriminasi, yaitu memberikan perlakuan yang berbeda pada individu karena statusnya sebagai
minoritas. Diskriminasi ini bisa dalam bentuk yang nyata (aktual), seperti pernah terjadi di Afrika
Selatan melalui diskriminasi rasial, bisa juga terjadi dalam persepsi yang memandang perlu
dilakukan pembedaan dalam memperlakukan kelompok etnis tertentu.
3) Stereotip, yang sesungguhnya merupakan generalisasi pada individu, kelompok dan etnik tertentu
sehingga kita menyimpulkan orang yang berasal dari etnik tertentu memiliki sifat dan watak
tertentu. Stereotip yang paling sering kita dengar, orang Padang pandai berdagang. Stereotip
sesungguhnya mengabaikan satu hal penting yaitu adanya perbedaan-perbedaan yang sifatnya
individual.
4) Buta budaya, yaitu mengabaikan perbedaan-perbedaan budaya dan memandang perbedaan itu
sesungguhnya tidak ada. Semua dianggap sama saja sehingga tidak perlu melakukan
pertimbangan budaya dalam bertindak.
5) Pemaksaan budaya yaitu keyakinan yang menyatakan bahwa semua orang hendaknya
menyesuaikan diri dengan mayoritas. Orang diabaikan memiliki perbedaan, bila pun memiliki
perbedaan diharuskan untuk mengikuti pada spa yang dianut oleh mayoritas.