Anda di halaman 1dari 18

Presentasi Kasus Stase Radiologi

PRESNTASI KASUS

CA BULLI
Oleh : Dzaarunnadwallauzia

I.

Epidemiologi Karsinoma buli-nuli merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam bidang bedah urologi, tumor yang paling sering ditemukan di antara tumor sistem urogenital. Kanker kandung kemih kebanyakan pada pria, pria:wanita adalah 34:1. Predileksi pada usia 50-70 tahun.

II.

Etiologi Etiologi karsinoma buli-buli rumit dan kebanyakan belum jelas. Dewasa ini faktor terkait yang umum diakui adalah: 1. Lingkungan dan pekerjaan Kini sudah jelas bahwa beta-naftilamin, benzidin, 4-aminobifenil merupakan zat karsinigen kanker kandung kemih, kontak jangka panjang dengan zat itu mudah menimbulkan kanker kandung kemih, tapi variasi individu besar, masa laten panjang. Zat pewarna, produk karet-plastik, cat, zat pencuci dll juga mungkin menjadi faktor karsinogen. Di daerah tertentu tingginya insiden karsinoma buli-buli diteliti mungkin berkaitan dengan karsinogen tertentu dalam air minum seperti tingginya kadar arsen. 2. Merokok Merokok juga dapat menjadi faktor pembantu karsinogen, dengan menyekat metabolisme triptofan, hingga metabolit karsinogen menumpuk dalam urin. 3. Metabolisme triptofan dan asam nikotinat abnormal

Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

Presentasi Kasus Stase Radiologi

Kelainan

metabolisme

triptofan

dapat

menghasilkan

beberapa

metabolit yang setelah melalui proses dalam hati lalu diekskresikan ke buli-buli bersifat karsinogenik. 4. Lainnya Iritasi kronis mukosa local buli-buli, seperti infeksi kronis, batu bulibuli serta obstruksi uretral. Sedangkan leukoplakia mukosa, sistitis adenomatosa dianggap sebagai lesi prekanker, dapat menginduksi perubahan ganas. Skistosoma hematobium dan parasit lain dalam buli-buli juga dapat menjadi faktor predisposisi karsinoma buli-buli.

III.

Patologi Setiap jaringan yang membentuk kandung kemih dapat timbul tumor, secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 golongan besar: 1. Tumor yang berasal dari jaringan epitel (karsinoma sel transisional, adenokarsinoma dan karsinoma sel skuamosa buli-buli). Menempati 98% dari seluruh tumor kandung kemih. Karsinoma sel transisional menempati 95% dari tumor epitel. 2. Tumor dari jaringan interstisial, jarang ditemukan. Tumor epitel transisional mencakup 3 jenis, yaitu: 1. Papiloma Ini termasuk tumor jinak, juga ada yang menganggapnya sebagai karsinoma papilar beriferensiasi baik (grade I). Tumbuh ke arah lumen buli-buli, tangkai panjang halus, papila saling berpisah. Irisan patologi menunjukkan papila diselimuti 5-7 lapis sel transisional mirip normal, terdapat berkas sentral jaringan ikat dan vaskular yang jelas. Ukuran sel tiap lapisan seragam, kutubnya sama tersusun di atas membran basal yang intak. Papiloma berciri khas rekuren dalam 5 tahun 60%. Di antaranya 1520% terjadi perubahan keganasan, kebanyakan rekukern dalam 1 tahun pasca perasi, tapi ada yang rekuren setelah banyak tahun. Papiloma jika tersebar di seluruh bagian buli-buli disebut sebagai papilomatosis bulibuli.

Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

Presentasi Kasus Stase Radiologi

Yang tumbuhnya berkebalikan dari papiloma tersebut di atas disebut papiloma inversi, jarang ditemukan. Manifestasi patologi sebagai massa submukosa buli-buli, di atasnya diselimuti epitel transisional normal, sel tumor dari lapisan epitel ini tumbuh ke bawah, membentuk banyak pita epitel transisional yang saling berhubungan. Papiloma inversi setelah dieksisi jarang rekuren, transformasi ganas juga jarang ditemukan. 2. Karsinoma papilar Paling sering ditemukan, tiap papil pendek besar saling menyatu, permukaan tumor terdapat nekrosis atau endapan kalsium, dasar lebar atau bertangkai pendek besar. Lapisan epitel transisional papil bertambah banyak, ukuran sel dan susunannya tak beraturan. Tumor invasi ke bawah ke membran basalis dan lapisan otot. 3. Karsinoma padat Derajat keganasan tinggi, tanpa papil, permukaan tidak rata, terdapat nekrosis dan endapan kalsium yang jelas, tepi tukak tinggi dan tampak nodular, pada stadium dini infiltras ke dalam, maka juga disebut karsinoma infiltratif, metastasis terjadi awal. 4. Karsinoma in situ Karsinoma epitel transisional yang terdapat di intra-epitel transisional buli-buli, derajat keganasan tinggi tapi tidak menginvasi membran basalis. Jarang sebagai soliter buli-buli, sering terdapat bersama karsinoma papilar atau karsinoma padat buli-buli. Bila epitel sekitar kanker buli-buli terdapat karsinoma in situ, dalam waktu 5 tahun sering timbul rekurensi karsinoma infiltratif, sedangkan bila epitel sekitar normal maka sangat jarang terjadi. Empat kausa utama mudah terjadinya rekurensi tumor buli-buli: epitel buli-buli terus dipengaruhi karsinogen dalam urin, eksisi primer tumor tidak bersih, di buli-buli bekas luka atau insisi, sel kanker bebas mudah hidup menempel dan timbul rekurensi, berasal dari hiperplasia epitel transisional yang sudah ada atau lesi displasia.

Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

Presentasi Kasus Stase Radiologi

IV.

Manifestasi Klinis Hematuria. Sebagian besar datang dengan keluhan makrohematuria tanpa nyeri. Hematuria biasanya menyeluruh sepanjang urinasi, bertambah hebat di akhir. Voume perdarahan tidak terkait dengan ukuran, jumlah, derajat keganasan tumor. Polaksiuria, urgensi, disuria atau nokturia meningkat. Ini menunjukkan tumor nekrosis atau menginfiltrasi dinding buli-buli atau berupa suatu kanker padat. Karsinoma in situ sering memiliki gejala sistitis, tumor di leher buli-buli atau bertangkai dapat menimbulkan kesulitan urinasi atau retensi uri.

V.

Diagnosis dan Diagnosis Banding Setiap orang dewasa, khususnya berusia 40 tahun ke atas, bila timbul hematuria tanpa nyeri harus dipikirkan kemungkinan tumor sistem urinaria, dan di antaranya yang tersering ditemuan adalah tumor buli-buli. Sistoskopi Metode paling utama dalam diagnosis, dapat langsung melihat okasi, ukuran, jumlah, bentuk, situasi tangkai dan derajat infiltrasi di basis tumor. Karsinoma in situ selain mukosa setempat eritema, tidak ada kelainan lain. Pada waktu sistoskopi harus diperhatikan hubungan antara tumor dan ostium ureter dan leher buli-buli, dan dilakukan biopsi. Belakangan ini terutama diperhatikan lesi patologis mukosa buli-buli, dilakukan biopsi random, jika secara visual ditemukan karsinoma in situ pada mukosa normal, hiperplasia atipikal, pertanda progonosis tidak baik. Urinalisis Simpel dan mudah dikerjakan, luas digunakan untuk menapis pasien, tindak lanjut pasca operasi dan penapisan umum kelompok pekerja risiko tinggi. Sel kanker dalam urin dapat muncul sebelum timbul tumor. Pemeriksaan rontgen Pielografi ekskretorik dapat melihat pelvis renis, ureter apakah terdapat tumor dan pengaruh tumor terhadap fungsi ginjal. Pencitraan buli-

Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

Presentasi Kasus Stase Radiologi

buli dapat melihat defek pengisian, infiltrasi dinding buli-buli menjadi keras tak beraturan. USG Dapat menemukan tumor di atas 0,5 cm, jika dilakukan scaning transuretral, akurasi dapat mencapai 94%, dapat secara lebih tepat mengetahui lingkup invasi dan stadium tumor. Akhir-akhir ini penggunaan pencitraan ultrasonik 3 dimensi dapat menunjukkan bentuk dan lokasi tumor secara stereoskopik. CT Akurasi diagnosis stadium tumor buli-buli lebih tinggi dari USG, dapat mencapai 90%. Dengan CT-helikal pencitraan 3 dimensi buli-buli dapat memahami secara tepat hubungan tumor dan sekitarnya maupun ada tidaknya metastasis kelenjar limfe sekitar. Diagnosis Fotodinamik Merupakan metode diagnosis tumor yang baru-baru ini digunakan secara klinis, ke dalam buli-buli dialirkan zat fotosensitisasi, lalu disinari dengan cahaya khusus dari sistoskop fluoroskopi, secara makroskopik tampak sel tumor terwarna merah, sedangkan sel normal terwarna biru, mudah dibedakan. Kepekaan tinggi, dapat menemukan mikrolesi sekitar 1 mm. Lainnya Sitometri aliran, pemeriksaan petanda tumor dapat membantu diagnosis dini tumor buli-buli.

VI.

Klasifikasi Tingkat Keganasan Tumor Klasifikasi stadium TNM karsinoma buli-buli menurut UICC: Tis TA T1 T2 T3a : Intraepitelial (karsinoma in situ) : Papilar, terbatas pada mukosa : Submukosa : Lapisan otot superfisial : Lapisan otot dalam 5

Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

Presentasi Kasus Stase Radiologi

T3b T4a T4b N+ M+

: Lemak sekitar buli-buli : Ekstensi ke uretra pars prostatika : Organ sekitar : Metastasis kelenjar limfe regional : Metastasis organ ekstra-pelvis

Klasifikasi gradasi menunjukkan tingkat keganasan tumor: Grade I: diferensiasi baik, epitel transisional lebih dari 7 lapis, displasia inti ringan, mitosis janrang ditemukan Grade II: epitel menebal, polarisasi sel hilang, displasia inti derajat sedang, mitosis sering ditemukan Grade III: tergolong tak berdiferensiasi, tidak ada persamaan dengan epitel normal, mitosis banyak Prognosis karsinoma buli=buli harus mempertimbangkan stadium dan gradasi serta jenis tumornya.

VII.

Penatalaksanaan Metode terapi meliputi operasi, radioterapi, kemoterapi dan

imunoterapi, namun yang utama adalah operasi. Operasi dibagi menjadi transuretral, eksisi tumor sistotomi, sistotektomi parsial dan sistektomi total. Berdasarkan patologi tumor dan kondisi fisik umum pasien dipilih teknik operasi yang paling sesuai. Secara prinsip, tumor stadium TA, T1, T2 lokalisasi dapat digunakan teknik konservasi buli-buli, untuk tumor agak besar, multipel, rekuren berkali-kali serta stadium lanjut, harus dilakukan sistektomi total. Tumor buli-buli pasca operasi mudah rekuren, tapi rekurensi masih mungkin disembuhkan. Berbagai teknik bedah konservasi buli-buli, daam 2 tahun sebagian besar kasus mengalami rekurensi, kasus rekuren sekitar 10-15% menunjukkan kecenderungan peningkatan keganasan. Maka segala kasus sekuele pasca operasi konservasi buli-buli harus ditindak lanjut secara ketat dan dilakukan terapi perfusi intravesika preventif, tiap 3 bulan dilakukan sistoskopi 1 kali, jika setelah 1 tahun tidak kambuh masa 6 Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

Presentasi Kasus Stase Radiologi

pemeriksaan dapat diperpanjang, periksa ulang dan perfusi demikian harus menjadi bagian terapi. Karsinoma buli-buli superfisial (Tis, TA, T1) Karsinoma in situ (Tis): terletak intra-epitel buli-buli. Tidak infiltratif, dapat timbul soliter atau di tepi kanker buli-buli. Sebagian dapat berkembang menjadi karsinoma infiltratif, sebagian lain dapat tak berubah dalam waktu lama. Sel karsinoma in situ berdiferensiasi buruk, karsinoma in situ di tepi kanker atau bila sudah infiltratif dapat dilakuakn sistektomi total. Karsinoma in situ murni juga dapat dilakuakn perfusi obat lalu dimonitor ketat. Stadium T1: kebanyakan tumor buli-buli termasuk ini, dapat dilakukan elektroeksisi transuretral. Bila tumor besar atau tidak dapat dioperasi transuretral dapat dilakukan sistotomi untuk elektrokauter atau eksisi. Karsinoma stadium T1 dan in situ dapat dilakukan injeksi vaksin BCG, MMC, ADR, TSPA langsung intravesikal. Cara yang sering digunakan di klinis adalah BCG 75-150 mg (ada juga yang 60-120 mg) ditambah larutan garam faal 40-60 ml disuntikkan intravesikal atau MMC 40 mg ditambah larutan garam faal 40 ml diperfusi intravesikal, sekali per minggu, selama 6 minggu berturut-turut 1-2 tahun. Setiap 3 bulan diperiksa ulang sistoskopi sekali, 2 tahun kemudian dapat diperiksa ulang setiap setengah tahun sekali. Bila seleksi kasus tepat, efektifitas terapi cukup pasti, angka remisi total antara 60-70%. Namun 50% pasien mungkin rekuren. Untuk tumor stadium T1 multipel atau rekuren pasca terapi disertai peningkatan derajat keganasan, harus dilakukan sistektomi total. Tumor buli-buli infiltratif (T2, T3, T4) Stadium T2, T3: umumnya menurut lingkup infiltrasi dipilih sistektomi parsial atau sistektomi total. Indikasi sistektomi parsial: tumor agak besar yang tidak dapat di operasi transuretral, hasil biopsi multipel dinding buli-buli di luar tumor 7

Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

Presentasi Kasus Stase Radiologi

tidak menemukan karsinoma in situ atau displasia epitel, tepi eksisi setidaknya berjarak 2 cm dari tumor. Indikasi sistektomi total: sesuai untuk tumor yang cepat rekuren, setiap kali rekuren stadium/gradasi tumor meningkat, atau epitel di luar tumor sudah menunjukkan displasia atau karsinoma in situ, kanker buli-buli stadium T3a dan kanker padat umumnya mempunyai metastasis kelenjar limfe regional, seringkali dipikirkan untuk sistektomi total radikal. Pasca sistektomi total perlu dilakukan pengalihan urin dan rekonstruksi buli-buli. Metodenya terbagi dua jenis, yaitu operasi buli-buli yang memerlukan kantung urin eksternal (inkontinen) dan yang kontinen tidak memerlukan kantung urin eksternal. Dewasa ini yang paling sering digunakan adalah termasuk jenis kedua yaitu disebut sistektomi ortotopik. Reservoir urin langsung di anastomosis dengan pars membranosa uretra, fungsi urinasi lewat uretra dipertahankan, relatif lebih fisiologis, terutama sesuai bagi pasien dengan fungsi otot sfingter yang masih baik. Stadium T4: dengan radioterapi atau kemoterapi paliatif dapat mengurangi gejala, memperpanjang survival. Akhir-akhir ini sejumlah metode terapi baru mulai digunakan untuk terapi tumor buli-buli, seperti terapi fotodinamik, imunoterapi sekunder, terapi gen dengan laporan keberhasilan tertentu, namun efek jangka panjang masih perlu diteliti.

VIII. Prognosis Insiden tumor buli-buli akhir-akhir ini cenderung meningkat, sedangkan mortalitas secara bertahap turun. Operasi konservasi buli-buli mempunyai survival total 5 tahun 48%, di antara stadium T1 100%, stadium T2 67%, stadium T3a 37,5%, maka operasi jenis ini harus dibatasi penggunaannya sampai stadium T2. Survival rata-rata stadium T4 adalah 10 bulan. Karakteristik biologik karsinoma epitel transisional pada anak atau remaja berbeda dari lansia, sebagian terbesar adalah kanker noninfiltratif 8 Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

Presentasi Kasus Stase Radiologi

stadium rendah grade rendah, sangat jarang rekuren, tidak perlu terlalu sering dilakukan sistoskopi. Umumnya tidak perlu dipertimbangkan untuk sistektomi total. Sistektomi total dan sistektomi total radikal mempunyai mortalitas masing-masing sekitar 6% dan 1%. Belakangan ini terhadap kanker bulibuli stadium tinggi grade tinggi banyak digunakan radioterapi pra-operatif, efek terapinya meningkat. Tumor infiltratif banyak metode terapinya, tapi yang menentukan prognosis adalah kedalaman infiltrasi tumor dan derajat diferensiasi selnya, bukan pada metode terapi sendiri. Kasus karsinoma bui-buli kebanyakan berusia lanjut, maka cukup banyak yang meninggal bukan karena kanker, bagi yang meninggal karena kanker, umumnya akibat metastasis dan gagal ginjal.

Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

Presentasi Kasus Stase Radiologi

ULTRASONOGRAFI (USG)
I. Definisi Salah satu imaging diagnostic (pencitraan diagnostik) untuk pemeriksaan alat-alat tubuh, dimana kita dapat mempelajari bentuk, ukuran anatomis, gerakan serta hubungan dengan jaringan sekitarnya. II. Prinsip USG Pada pemeriksaan USG menggunakan gelombang suara yang frekuensinya 1-10 MHz (1-10 juta Hz). Gelombang suara frekuensi tinggi tersebut dihasilkan dari kristalkristal yang terdapat dalam suatu alat disebut transduser. Perubahan bentuk akibat gaya mekanis pada kristal, akan menimbulkan tegangan listrik. Disebut efek piezo-electric ( tekanan listrik), yang merupakan dasar perkembangan USG selanjutnya. Bentuk kristal juga akan berubah bila dipengaruhi oleh medan listrik. Sesuai dengan polaritas medan listrik yang melaluinya, kristal akan mengembang dan mengkerut, maka akan dihasilkan gelombang suara frekuensi tinggi. III. Persiapan penderita obstipasi sebaiknya semalam sebelumnya diberikan laksansia. Pemeriksaan alat-alat dirongga perut bagian atas sebaiknya dilakukan dalam keadaan puasa. Pemeriksaan kandung empedu dianjurkan puasa sekurangkurangnya 6 jam sebelum pemeriksaan agar diperoleh dilatasi pasif yang maksimal. IV. Pemeriksaan daerah pelvis dan kandungan, buli-buli harus penuh.

Teknik pemeriksaan 10

Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

Presentasi Kasus Stase Radiologi

Tiga irisan yang digunakan untuk penilaian hati ialah longitudinal, transversal, dan subcostal. Posisi penderita biasanya berbaring atau decubitus(left lateral decubitus) sambil menahan nafas pada inspirasi dalam. Jarak tiap-tiap irisan umumnya sekitar 1-2 cm sampai seluruh jaringan hati terlihat. Vena cava inferior maupun ligamentum dapat digunakan sebagai patokan dalam memeriksa masing-masing lobus kanan dan lobus kiri. V. Penyulit USG tidak mampu menembus bagian tertentu badan Gelombang suara yang mengenai tulang akan dipantulkan Pada perbatasan rongga-rongga yang mengandung gas akan dipantulkan Pada pemeriksaan abdomen hasil kurang memuaskan karena gas dalam usus Penderita gemuk agak sulit

Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

11

Presentasi Kasus Stase Radiologi

BNO IVP
I. BNO ( Foto polos abdomen) BNO atau foto polos abdomen adalah foto pemeriksaan tanpa kontras. Pada setiap pemeriksaan traktus urinarius sebaiknya dibuat terlebih dahulu foto polos abdomen. Yang harus diperhatikan pada foto ini adalah bayangan, besar (ukuran),dan posisi kedua ginjal. Dapat pula dilihat kalsifikasi dalam kista dan tumor, batu radioopak dan perkapuran dalam ginjal. Harus diperhatikan batas muskuli psoas kanan dan kiri, batu radioopak di daerah ureter dan buli-buli. II. IVP Pemeriksaan IVP memerlukan persiapan, yaitu malam sebelum pemeriksaan diberikan kastrol oil (catharsis) atau laksans untuk membersihkan kolon dari feses yang menutupi daerah ginjal. Untuk mendapatkan keadaan dehidrasi ringan, pasien tidak diberikan cairan (minum) mulai dari jam 10 malam sebelum pemeriksaan. Keesokan harinya penderita harus puasa. Untuk bayi dan anak diberikan minum yang mengandung karbonat, tujuannya untuk mengembangkan lambung dengan gas. Usus akan berpindah, sehingga bayangan kedua ginjal dapat dilihat melalui lambung yang terisi gas. Bahan kontras Conray (Meglumine iothalamat 60% atau hypaque sodium/sodium ditrizoate 50%), urografin 60 atau 76 mg% (methyl glucamine diatrizoate), dan urografin 60-70%. Sebelum pasien disuntik urografin 60 mg% harus dilakukan terlebih dahulu uji kepekaan. Dapat berupa pengujian subkutan atau intravena. Jika penderita alergi terhadap bahan kontras, pemeriksaan pielografi intravena harus dibatalkan. Dosis urografin 60 mg% untuk orang dewasa adalah 20 ml. Kalau perlu dapat diberikan dosis rangkap yaitu 40 ml. Tujuh menit setelah penyuntikan dibuat film bucky antero-posterior abdomen. Foto berikutnya diulangi 15, 30 menit, dan 1 jam. Sebaiknya segera setelah pasien disuntik kontras, kedua ureter dibendung, baru dibuat foto 7 menit. 12 Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

Presentasi Kasus Stase Radiologi

Kemudian bendungan dibuka, langsung dibuat foto dimana diharapkan kedua ureter terisi. Dilanjutkan dengan foto 15 dan 30 menit. Pada kasus tertentu dibuat foto 1 dan 2 jam, malahan foto 6, 12, dan 24 jam. Fungsi pemeriksaan IVP : 1. Menilai bentuk anatomi ginjal, ureter, dan VU dan kelainankelainannya : batu, massa, hidronefrosis, hidroureter, dan infeksi. 2. Menilai fungsi ginjal. 3. Menilai fungsi voiding/berkemih.

ANALISA KASUS
Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

13

Presentasi Kasus Stase Radiologi

I.

Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Tanggal periksa : : : : : Tn. Jamil 39 tahun Laki-laki Kaliglagah, Kalibeji, Tuntang, Semarang 22 Juli 2010

II.

Gejala Klinis Anamnesis : 1. Keluhan Utama Buang air kecil (BAK) keluar darah, sulit (harus mengejan), dan kemaluan terasa sakit. 2. Riwayat Penyakit Sekarang Sakit dirasakan kurang lebih 1 bulan yang lalu. Gejala yang timbul berupa BAK keluar darah, keluarnya air kencing sedikit-sedikit (harus mengejan) dan terasa sakit. 3. Riwayat Penyakit Dahulu Kurang lebih 4-5 tahun yang lalu pasien mengalami keluhan serupa yaitu BAK keluar darah tetapi tidak terasa sakit. Awalnya darah yang keluar hanya sedikit, oleh pasien dibiarkan saja karena tidak sakit, kemudian darah yang keluar menjadi banyak sehingga oleh pasien dibawa ke mantri. Pada saat berobat ke mantri tersebut pasien mendapat suntikan, setelah itu langsung sembuh. 4. Riwayat Penyakit Keluarga Dalam keluarga pasien ada yang memiliki gejala yang serupa dengan gejala yang diderita pasien sekarang yaitu berupa BAK keluar darah (kakak pertama pasien). Tetapi sudah diobati dan sudah sembuh.

Pemeriksaan fisik : Vital sign : nadi = 80 x/menit


Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

14

Presentasi Kasus Stase Radiologi

T.D = 120/70 mmHg T = 36,5o C RR = 18x/menit Inspeksi Perkusi Palpasi Auskultasi III. AL Hb Ht AE MCV MCH Pemeriksaan Laboratorium = 6,3x 103 = 13,9 g/dl = 25,1 % = 3,57x 106 = 70,1 FL = 39,0 Pg N= p: 4,5-11 ribu, w : 4,5-11 ribu N= p: 14-18, w :12-16 N= p: 40-54%, w : 38-47% N= p: 4,5-5,5, w : 4-5 N= 85-100 N= 28-31 N= 30-35 N= < 144 N= 10-50 mg/dl N= p: 1,0-3,0 mg/dl, w: 0,6- 1,1 mg/dl N= p < 37, w < 31 N= p < 42, w < 32 : Tidak ada edema : Suara abdomen timpani : Nyeri tekan (-) : Suara peristaltik usus (+)

Pemeriksaan darah rutin

MCHC = 55,6 g/dl Gol.darah= O GDS = 127 Ureum = 21 Kreatinin= 1,4 SGOT SGPT = 15 = 37

Keterangan: AL Hb Ht AE GDS = dbn = menurun = menurun = menurun = dbn 15

Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

Presentasi Kasus Stase Radiologi

Ureum = dbn Kreatinin= dbn SGOT = dbn SGPT = dbn

Pemeriksaan urin rutin Warna Bau PH Kejernihan Berat jenis Protein Reduksi Bilirubin Urobilinogen Keton Nitrit Blood Leukosit Epithel Leukosit Eritrosit Bakteri Silinder Kristal Lain-lain : Kuning tua : Khas : 5,5 : Keruh : 1,025 : 300 : Negatif : 1,0 : 3,0 : Negatif : Positif : Over : Negatif : 0-1 : 1-2 : 40-50 : Positif : Negatif : Negatif : Negatif N: 1,015-1,025 N: < 300 N: < 15 N: < 0,2 N: < 1 N: < 5 N: Negatif N: < 5 N: < 10 N: 5-15 N: 1-4 N: 0-1 N: Negatif N: Negatif N: Negatif N: Negatif N: Negatif N: 4,8-7,4

Benang mucus : Negatif

III. Pemeriksaan Radiologik 22 Juli 2010 BNO - IVP


Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

16

Presentasi Kasus Stase Radiologi

Kesan : Hydronephrosis dan Hydroureter Sinistra et causa penyumbatan sebagian massa Intra Vesica Urinaria terutama di daerah Trigonum Vesica Urinaria Suspek Ca Bulli Divertikel Vesica Urinaria di bagian kranial

USG Traktus Urinarius Kesan : Hydronephrosis dan Hydroureter Sinistra et causa: massa di daerah Trigonum Vesica Urinaria yang sebagian menutupi Uretrovesico Junction Sinistra suspek Ca Bulli Divertikel di bagian kranial Vesica Urinaria IV. Diagnosis Radiologik Hydronephrosis dan Hydroureter Sinistra et causa massa di daerah Trigonum Vesica Urinaria yang sebagian menutupi Uretrovesico Junction Sinistra suspek Ca Bulli

DAFTAR PUSTAKA

Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

17

Presentasi Kasus Stase Radiologi

Desen,W., 2008, Buku Ajar Onkologi Klinis, ed.2, Balai Penerbit FK UI Jakarta

Pembimbing : Dr. Achmad Kardinto, Sp. Rad.

18