Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

KESEHATAN LINGKUNGAN DAN KESEHATAN KERJA


ZAT TOKSIK KLORIN (Cl2)

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja

Dosen Pengampu:
Dr. Setyo Sri Rahardjo,dr., M.Kes

Oleh:

SRI MULYANI

NIM. S022208038

PROGRAM STUDI S-2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, petunjuk dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah dengan judul “Zat Toksik Klorin (Cl2)” ini
dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan tugas yang diberikan oleh
dosen mata kuliah Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja yang bertujuan untuk
memberikan informasi dan menambah wawasan tentang bagaimana mekanisme, dampak dan
penatalaksanaan intoksikasi Klorin (Cl2).

Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
penulis mempersilahkan apabila terdapat kritik dan saran yang membangun. Demikian,
semoga Makalah ini dapat bermanfaat.

Surakarta, 26 September

2022

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pencemaran lingkungan (environmental pollution) adalah terkontaminasinya

komponen fisik dan biologis dari sistem bumi dan atmosfer sehingga mengganggu

keseimbangan ekosistem lingkungan. Kontaminasi tersebut bisa berasal dari kegiatan

manusia ataupun proses alam, yang menyebabkan kualitas lingkungan menjadi tidak

dapat berfungsi sesuai dengan seharusnya. Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun

2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup memberi penjelasan

bahwa pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup,

zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia

sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan. Segala sesuatu

yang dapat menimbulkan pencemaran disebut polutan (bahan pencemar). Zat dapat

dikatakan sebagai polutan apabila jumlahnya telah melebihi batas normal, yang berada

pada waktu dan tempat yang tidak tepat. Zat pencemar dikenal juga dengan istilah

limbah (sampah). Limbah merupakan bahan buangan yang dihasilkan dari suatu proses

produksi, seperti kegiatan rumah tangga yang kehadirannya dapat berdampak negatif

bagi lingkungan.

Salah satu zat yang membawa dampak pencemaran baik air, tanah dan udara

adalah zat klorin (Cl2) Zat toksik ini merupakan zat bersifat beracun yang dapat

dikategorikan berdasarkan sifat kimia, sumber paparannya, serta efeknya terhadap

kesehatan baik bagi lingkungan atau kesehatan manusia terutama jika masuk kedalam

tubuh (Berniyanti, 2018). Klorin diklasifikasikan sebagai bahan kimia berbahaya yang

dapat berefek pada pencemaran lingkungan, udara, air, dan tanah bahkan terhadap
kesehatan manusia (Sonibare & Adeniran, 2019). Untuk pemanfaatannya, klorin

merupakan salah satu zat kimia yang mampu membunuh bakteri sehingga sering

digunakan pada produk rumah tangga sebagai cairan pembersih, pemutih yaitu Natrium

hipoklorit, serta digunakan sebagai desinfektan untuk kolam renang yaitu Kalsium

hipoklorit atau yang biasa disebut kaporit (Sonibare & Adeniran, 2019). Meskipun sangat

berguna dan sering digunakan untuk berbagai kebutuhan, namun penggunaan klorin

harus dalam kadar yang normal. Penggunaan klorin dalam jumlah kecil seperti dalam air

minum tidak akan berdampak bagi kesehatan, namun sebaliknya paparan klorin yang

besar atau berlebihan dapat berisiko pada gangguan kesehatan. Selain itu dalam beberapa

kasus keracunan klorin terjadi di lingkungan rumah tangga karena pencampuran

beberapa produk rumah tangga seperti pemutih dengan produk yang mengandung asam

amonia. Campuran antara pemutih yang mengandung klorin dengan produk yang

mengandung asam merupakan sumber umum paparan gas klorin.

B. Tujuan

1. Mengetahui sumber toksisitas Klorin.


2. Mengetahui mekanisme terjadinya intoksikasi Klorin.
3. Mengetahui dampak intoksikasi klorin pada manusia.
4. Mengetahui penatalaksanaan bila terjadi intoksikasi.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sumber Toksikan
Klorin banyak digunakan dalam berbagai produk dan kebutuhan industri serta
rumah tangga. Mulai dari pemutih, pembersih, pemurni air, hingga disinfektan.
Kandungan – kandungan dari produk tersebut tidak terlepas dari zat kimia salah
satunya klorin. Klorin juga sering digunakan sebagai desinfektan pada kolam renang
karena dapat membunuh mikroorganisme (Dudziak et al., 2017; Mazhar et al., 2020).
Klorin dalam jumlah yang kecil sangat membantu terutama untuk membunuh bakteri.
Namun jika dalam jumlah banyak, klorin bersifat sebagai zat toxic/racun yang dapat
mengganggu kesehatan. Selain itu pencampuran antara pemutih yang memiliki
kandungan klorin dengan produk rumah tangga yang mengandung asam atau amonia
perlu diperhatikan karena dapat menimbulkan gas yang bersifat toxic. Sumber
toksikan klorin ini terjadi apabila adanya kontak antara gas klorin dengan air sehingga
menimbulkan reaksi yang dapat menghasilkan asam klorida dan asam hipoklorit.
Berikut reaksi yang terjadi apabila Klorin (Cl2) bereaksi dengan air:
Cl2+ H2O <--> HCl + HOCl <--> 2HCl + O-
Asam hipoklorit dan asam klorida hasil reaksi inilah yang bersifat toksik bagi tubuh
dan mampu mengiritasi membran mukosa pada saluran pernapasan (Morim &
Guldner, 2022).
B. Perjalanan Toksikan Masuk Kedalam Tubuh
Masuknya klorin kedalam tubuh bisa melalui saluran pernafasan. Gas klorin
memiliki kelarutan air sedang, setelah kontak dengan air akan menghasilkan asam
hipoklorit dan klorida. Toksisitas klorin disebabkan karena reaktivitasnya yang tinggi
dan potensi oksidasinya. Asam yang dihasilkan gas klorin dapat bereaksi dengan
mukosa pada saluran pernapasan (Zellner & Eyer, 2020). Ion yang dilepaskan mampu
melewati dinding sel dan menghasilkan radikal bebas oksigen. Selain mampu
mengiritasi saluran pernapasan, gas klorin juga mampu menyebabkan iritasi pada
mata. Asam yang terbentuk dari reaksi gas klorin dengan air dapat mengiritasi selaput
lendir pada konjungtiva sehingga dapat menyebabkan iritasi/perlukaan superfisial
pada kornea mata, terutama pada epitel dan membran basal.

C. Mekanisme Terjadinya Intoksikasi


Mekanisme terjadinya intoksikasi dari asam hipoklorit dan asam klorida yang
dihasilkan oleh klorin setelah terjadi kontak dengan air. Ion yang dilepaskan dari
reaktivitas dan oksidasi dapat melewati dinding sel dan menghasilkan radikal bebas
yang mampu menyebabkan kerusakan pada sel, oksidasi lipid membrane dan
perubahan DNA. Sel yang terkena akan melepaskan mediator inflamasi, kemokin dan
interleukin, serta mengaktifkan makrofag dan menyebabkan terjadinya vasodilatasi,
kebocoran, sehingga merangsang produksi lendir yang berlebih. Iritasi lokal dari asam
menghasilkan respon inflamasi pada saluran napas atas dan bawah yang menyebabkan
bronkospasme, batuk, dan dyspnea (Sonibare & Adeniran, 2019; Zellner & Eyer,
2020). Gangguan membran sel dan protein oleh asam dan radikal bebas menyebabkan
kematian sel alveolus dan sel endotel kapiler yang berdekatan. Manifestasi klinis dari
kerusakan ini antara lain edema paru dan Acute Respiratory Distress Syndrome
(ARDS). Gejala non-spesifik lainnya yang disebabkan oleh klorin seperti mual,
muntah, rinorea dan sakit kepala(Sonibare & Adeniran, 2019).
D. Dampak Intoksikasi Pada Manusia
Meskipun berguna untuk membunuh bakteri serta sebagai bahan campuran
dalam produk-produk rumah tangga. Pencemaran air oleh klorin bebas (Cl2) dapat
berdampak pada kesehatan manusia. Rasio paparan gas klorin yang berbeda dapat
menyebabkan keluhan dan gejala yang berbeda. Paparan ringan hingga sedang
biasanya menimbulkan gejala akut dalam waktu tiga hingga lima hari. Paparan klorin
yang tinggi dapat menimbulkan gangguan kesehatan seperti, iritasi mata serta
gangguan pernafasan apabila terpapar gas yang mengandung klorin terutama dalam
jangka waktu yang lama dan apabila terpapar secara langsung (Govier & Coulson,
2018). Beberapa parahnya gejala dari keracunan klorin biasanya tergantung dari
jumlah zat yang masuk ke tubuh, jenis paparan, dan durasinya. Gejalanya biasanya
muncul dengan cepat setelah menelan atau menghirup zat tersebut. Anda akan
mengalami berbagai masalah pada sistem pencernaan, pernapasan, dan juga sirkulasi
darah. Jika klorin masuk ke sistem pencernaan, beberapa gejala yang biasanya muncul
seperti:
● Mulut panas seperti terbakar
● Sakit tenggorokan
● Sakit perut, Buang air besar (BAB) berdarah
● Muntah

Klorin juga akan berdampak pada sistem pernapasan dengan menimbulkan berbagai
gejala seperti:
● Sulit bernapas
● Tenggorokan bengkak
● Paru-paru terisi air (edema paru)
Selain memunculkan masalah di sistem pencernaan dan pernapasan, klorin juga bisa
merusak sistem sirkulasi dan menimbulkan berbagai gejala seperti:
● pH darah menjadi tidak seimbang
● Tekanan darah rendah
Gejala lainnya juga bisa muncul pada mata dengan menimbulkan berbagai gejala dari
mulai penglihatan yang kabur, berair, terbakar, iritasi, hingga kebutaan. Kerusakan
kulit seperti cedera jaringan akibat luka bakar dan iritasi juga bisa muncul jika
paparan zatnya langsung mengenai kulit.
Selain itu dapat berefek samping terhadap timbulnya gejala gastrointestinal, dehidrasi,
dan hipotensi (Lardieri et al., 2021). Apabila terjadi kontak dengan air, gas klorin
dapat menghasilkan asam hipoklorit dan asam klorida yang merupakan zak toksik
bagi tubuh manusia. Dalam dosis yang tinggi, klorin dapat menyebabkan
neurotoksisitas yang dapat mengganggu sistem saraf sehingga menimbulkan
berberapa gangguan saraf seperti ataksia, tremor, serta kejang.
Intoksikasi gas klorin dapat mengganggu sistem trakeobronkial yaitu
timbulnya penyempitan pada trakea dan bronkial pada paru karena adanya peradangan
dan sekresi lender berlebih yang disebabkan oleh aktivitas saraf sensorik yang
merupakan bertuk reaksi terhadap paparan iritan. Dalam ruang alveolar, mediator
inflamasi dibebaskan, sel inflamasi menyerang menyebabkan hipersekresi dan
gangguan kontak sel-sel dan penghalang epitel endotel. Dengan melonggarnya
pertautan ketat dan perlekatan antara sel epitel, plasma darah memasuki interstitium
paru, mengakibatkan edema (Zellner & Eyer, 2020).
Paparan klorin yang tinggi tidak hanya dapat memicu gangguan pernapasan
saja, namun juga dapat menyebabkan terjadinya cedera sistemik seperti systemic
vasculature dysfunction (disfungsi pada pembuluh darah sistemik) dan estensive
cardiac injury (cedera jantung). Paparan klorin dapat menyebabkan disfungsi endotel
karena interaksinya dengan jalur sinyal turunan dari endothelial nitric oxide synthase
(eNOS). Selain itu, pada tingkat yang lebih parah juga dapat menyebabkan terjadinya
myocardial depression dan gagal jantung yang ditunjukkan dengan adanya
peningkatan laktat di sinus coroner, pelemahan kekuatan kontraktik miokard, adanya
penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik serta disfungsi sistolik dan diastolik
ekokardiografi vetrikel kiri (Zellner & Eyer, 2020).
Bagaimana cara mencegah keracunan klorin?
● Paparan zat klorin dalam kehidupan sehari-hari tak bisa dihindari. Namun,
Anda tetap bisa mencegah keracunan klorin dengan cara: Selalu membaca
dan mengikuti petunjuk penggunaan Tidak mencampur bahan kimia
berbahan dasar klorin dengan produk atau zat lain secara asal.
● Mengenakan pakaian atau peralatan sesuai yang diinstruksikan pada produk.
● Tidak menggunakan klorin di area tertutup tanpa ventilasi udara.
● Menyimpan produk di tempat yang aman dan tepat serta jauh dari jangkauan
anak-anak.
● Jangan menelan air kolam renang.
E. Penatalaksanaan Bila Terjadi Intoksikasi
Keracunan klorin bisa diatasi dengan berbagai cara. Dikutip dari Centers for
Disease Control and Prevention, jika disebabkan oleh gas klor, Anda perlu segera
meninggalkan area tersebut dan pindah ke tempat dengan udara yang bersih.
Kemudian, jika klorin mengenai kulit, Anda bisa segera mencuci bagian tersebut
dengan sabun dan air. Jika zat yang satu ini masuk ke mata, segera bilas dengan air
mengalir hingga tak lagi terasa perih. Lepaskan lensa kontak terlebih dahulu jika
Anda sedang menggunakannya. Saat klorin tertelan, jangan minum cairan apa pun
atau berusaha memaksa klorin keluar dengan muntah. Segera konsultasikan ke dokter
untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Dokter biasanya akan mengatasi
keracunan klorin dengan berbagai perawatan. Mulai dari obat, arang aktif, cairan
infus, dan oksigen tambahan. Tak hanya itu, dalam beberapa kasus, dokter juga akan
mengosongkan perut dengan prosedur pengisapan lambung. Prosedur ini dilakukan
dengan cara memasukkan tabung melalui hidung atau mulut hingga perut. Tabung ini
nantinya akan mengalirkan isi lambung untuk dikeluarkan. Jika diperlukan, dokter
juga akan memasukkan tabung pernapasan ke dalam saluran udara agar bernapas
menjadi lebih mudah. Perawat juga akan mencuci kulit yang mengalami masalah
akibat klorin setiap jamnya jika dibutuhkan. Dengan perawatan yang tepat dan
sesegera mungkin diberikan, Anda bisa pulih dari berbagai gejala keracunan klorin
yang dirasakan. Tidak ada pengobatan khusus untuk gangguan pernapasan akut yang
diakibatkan oleh gas iritan. Pada saat terkena paparan gas klorin yang cukup tinggi,
hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengeluarkan atau menjauhkan
pasien dari paparan gas klorin dengan segera serta menempatkan pasien di ruang
terbuka. Untuk tindakan yang dapat dilakukan setelah terpapar oleh iritan antara lain
(Morim & Guldner, 2022; Zellner & Eyer, 2020):
1. Penggunaan Humudified Oksigen
Penggunaan Humudified mampu meberikan kelembapan pada udara dan oksigen.
Kelembapan oksigen yang cukup mampu mengurangi peradangan atau iritasi
akibat paparan klorin. Sebagian besar pasien yang meninggal akibat paparan gas
klorin mengalami asfiksia (kurangnya kadar oksigen didalam tubuh), karena itu
pasien perlu terhidarasi oleh oksigen yang cukup. Selain itu kelembapan oksigen
efektif mengobatai hipoksemia dan dyspnea.
2. Mechanical ventilation
Ventilasi mekanis dengan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) dalam
kasus edema paru dengan ARDS, intubasi atau trakeotomi dalam kasus
laringospasme masif mungkin diperlukan. Tekanan positif akhir ekspirasi yang
cukup tinggi harus diterapkan, terutama jika terjadi edema paru toksik. Intubasi
dan ventilasi mekanis biasanya hanya diperlukan pada kasus yang paling parah.
Ventilasi mekanis pada ARDS yang diinduksi gas klorin tidak boleh berbeda
dengan ARDS standar dan pengobatan edema paru. Ini menyiratkan penggunaan
volume tidal rendah (6-8 mL per kilogram) dan pertimbangan tekanan
mengemudi dan dataran tinggi, untuk membatasi stres dan ketegangan paru-paru
di ARDS.
3. Bronchodilators
Dalam kasus bronkospasme, bronkodilator inhalasi atau nebulisasi harus
diterapkan. Β2- simpatomimetik, seperti salbutamol, dapat digunakan sendiri atau
dalam kombinasi dengan ipratropium bromida. Ini mengurangi bronkokonstriksi,
iritasi saluran napas dan resistensi saluran napas. Jika aplikasi inhalasi tidak
memungkinkan, penggunaan teofilin subkutan, terbutalin atau adrenalin juga
dimungkinkan. Sevoflurane berhasil digunakan sebagai obat penenang untuk
pasien yang diintubasi karena juga memiliki sifat bronkodilator dan digunakan
secara efektif pada pasien dengan asma.

4. Irigasi Mata
Apabila mata terpapar oleh gas klorin dan mengalami iritasi, perlu segera
dilakukan irigasi dengan menggunakan larutan pembilas mata selama 3-5 menit
atau membilas dengan air mengalir selama 15-20 menit. Selain itu juga dapat
dilakukan pembilasan menggunakan larutan NaCl 0,9% selama 15-20 menit.
Tindakan irigasi atau pembilasan pada mata ini bertujuan untuk menormalkan
pH.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Klorin (Cl2) adalah zat toksik yang beracun yang dapat dikategorikan berdasarkan
sifat kimia, sumber paparannya, serta efeknya terhadap kesehatan baik bagi lingkungan
atau kesehatan manusia terutama jika masuk kedalam tubuh. Untuk pemanfaatannya, klorin
merupakan salah satu zat kimia yang mampu membunuh bakteri sehingga sering
digunakan pada produk rumah tangga sebagai cairan pembersih, pemutih yaitu Natrium
hipoklorit, serta digunakan sebagai desinfektan untuk kolam renang yaitu Kalsium
hipoklorit atau yang biasa disebut kaporit (Sonibare & Adeniran, 2019). Meskipun sangat
berguna dan sering digunakan untuk berbagai kebutuhan, namun penggunaan klorin
harus dalam kadar yang normal. Bila terjadi intoksikasi dengan perawatan yang tepat dan
sesegera mungkin diberikan bisa pulih dari berbagai gejala keracunan klorin yang
dirasakan
B. Saran
Di Indonesia, penelitian mengenai zat toksik klorin masih sangat terbatas.
Pencegahan pencemaran lingkungan baik air, tanah dan udara hendaknya menjadi
prioritas karena hal ini bersifat jangka panjang. Pemerintah dapat memberikan program
pendidikan dan kesadaran publik adanya potensi pencemaran lingkungan. Dengan
memberikan edukasi dan informasi penggunaan zat toksik klorin tersebut kepada
masyarakat akan dapat meminimalisir dampak pencemaran lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA

Berniyanti, Tt. (2018). Biomarker Toksisitas: Paparan Logam Tingkat Molekul (1st ed.).
Surabaya: Pusat Penerbitan dan Percetakan Universitas Airlangga (AUP).

Dudziak, M., Wyczarska-Kokot, J., & Lempart, A. (2017). Chlorine contamination in


different points of pool – risk analysis for bathers’ health. Ecological Chemistry and
Engineering. A, 24(2), 217–226. https://doi.org/10.2428/ecea.2017.24(2)23

Govier, P., & Coulson, J. M. (2018). Civilian exposure to chlorine gas: A systematic review.
Toxicology Letters, 293(January), 249–252. https://doi.org/10.1016/j.toxlet.2018.01.014

Lardieri, A., Cheng, C., Jones, S. C., & McCulley, L. (2021). Harmful effects of chlorine
dioxide exposure. Clinical Toxicology, 59(5), 448–449.
https://doi.org/10.1080/15563650.2020.1818767

Mazhar, M. A., Khan, N. A., Ahmed, S., Khan, A. H., Hussain, A., Rahisuddin, Changani, F.,
Yousefi, M., Ahmadi, S., & Vambol, V. (2020). Chlorination disinfection by-products in
municipal drinking water – A review. Journal of Cleaner Production, 273.
https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2020.123159

Morim, A., & Guldner, G. T. (2022). Chlorine Gas Toxicity. In StatPearls.


http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/30725898, diakses pada 15 Maret 2022.

Sonibare, O. O., & Adeniran, J. A. (2019). Exposure assessment and environmental


consequence evaluation of accidental chlorine release in an industrial area. International
Journal of Environmental Studies, 76(3), 396–411.
https://doi.org/10.1080/00207233.2019.1568758

Zellner, T., & Eyer, F. (2020). Choking agents and chlorine gas – History, pathophysiology,
clinical effects and treatment. Toxicology Letters, 320, 73–79.
https://doi.org/10.1016/j.toxlet.2019.12.005

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5765860/pencemaran-lingkungan-pengertian-jenis-

dan-penyebab-terjadinya

https://hellosehat.com/sehat/gejala-umum/gejala-dan-mengatasi-keracunan-klorin/
https://id.wikipedia.org/wiki/Klorin