Anda di halaman 1dari 16

Bahan teratogenik dan Kecacatan pada Bayi

Bahan teratogenik adalah bahan-bahan yang dapat menimbulkan terjadinya kecacatan pada janin selama dalam kehamilan ibu. Ada banyak bahan yang mampu menimbulkan kecacatan janin. Bahan apa sajakah itu? Mengapa demikian serta bagaimana mencegahnya? Simak pada artikel berikut.Adalah impian setiap ibu untuk dapat melahikan putra-putrinya kedunia dengan seluruh sesempurnaan. Namun sering juga ibu yang melahirkan bayi-bayi dengan berbagai cacat saat bayi dilahirkan. Hanya sedikit dari ibu hamil yang tahu bahwa cacat janin dapat disebabkan oleh berbagai bahan atau zat dibumi ini. Bahan-bahan yang secara kedokteran dikenal mampu memberikan efek gangguan pada janin dan menimbulkan kecacatan dikenal sebagai bahan teratogenik. Bahan teratogenik adalah berbagai bahan di alam ini yang menyebabkan terjadinya cacat lahir / cacat fisik pada bayi yang terjadi selama bayi dalam kandungan. Bahan teratogenik dapat menimbulkan bayi lahir dengan cacat lahir berupa cacat fisik yang nampak maupun tidak nampak. Contoh kecacatan fisik yang nampak misalnya bibir sumbing, keanehan bentuk anggota gerak, kelainan bentuk kepala, tubuh maupun organ lain yang nampak dari luar. Sedangkan cacat lahir yang tidak nampak misalnya kelainan otak, penurunan kecerdasan/IQ, kelainan bentuk jantung, pembentukan sekat jantung yang tidak sempurna, gangguan reaksi metabolisme tubuh, kelainan ginjal atau bahkan kelainan organ reproduksi. Adanya kecacatan pada bayi secara fisik dapat menyebabkan bayi tumbuh tidak sempurna, gangguan pada masa pertumbuhan, kecacatan, dan bahkan kematian. Bila bayi dapat tumbuh dewasa, kecacatan yang dibawanya sejak lahir tentu akan memperngaruhi performa dirinya, misalnya kecerdasan lebih rendah, kurang berprestasi, kurang percaya diri dan bahkan ketergantungan mutlak kepada orang lain. GANGGUAN PROSES PEMBENTUKAN ORGAN TUBUH Selama kehamilan, janin akan tumbuh dan berkembang dari hanya satu sel menjadi banyak sel. Proses pembentukan jaringan dan organ tubuh selama janin dalam kandungan dikenal dengan istilah organogenesis. Proses ini berlangsung terutama pada saat kehamilan trisemester pertama dan akan selesai pada awal trisemester ke dua atau sekitar 16 minggu. Adanya bahan-bahan yang bersifat teratogenik akan menimbulkan gangguan pada sel-sel tubuh janin yang sedang melakukan proses pembentukkan organ tersebut. Akibat adanya gangguan tersebut, maka sel tidak dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana seharusnya dan menimbulkan berbagai cacat lahir yang dapat terjadi pada organ luar maupun organ dalam. Bahan teratogenik tidak hanya dapat menyebabkan kecacatan fisik. Bahan tersebut juga dapat menimbulkan kelainan dalam hal psikologis dan kecerdasan. Hal ini berhubungan dengan adanya gangguan pada pembentukan sel-sel otak bayi selama ia dalam kandungan. Bila bayi terlahir dengan cacat fisik yang nampak dan mungkin diperbaiki atau diterapi dengan cara pembedahan (misalnya bibir sumbing dan kelainan katub jantung) maka mungkin kecacatan anak dapat tertutup begitu anak menginjak dewasa dan mencegah terjadinya gangguan-gangguan yang mungkin muncul saat bayi dewasa. Namun hingga kini belum ditemukan cara untuk membalikkan gangguan yang terjadi pada sel-sel otak, maupun kelainan pada metabolisme anak

sehingga bila sudah terjadi gangguan otak atau gangguan metabolisme maka akan sulit bagi bayi untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. MENGHINDARI PAPARAN DENGAN BAHAN Hingga kini belum ditemukan cara untuk mengobati efek yang timbul akibat paparan bahan teratogenik pada ibu hamil. Oleh karena itu, satu-satunya jalan yang dapat dilakukan oleh ibu hamil dalam mencegah efek bahan teratogenik adalah dengan menghindari paparan bahan tersebut pada dirinya. Untuk itu perlu bagi ibu hamil untuk mengetahui dan memahami bahanbahan apa saja yang dapat memberikan efek teratogenik. Umumnya bahan teratogenik dibagi menjadi 3 kelas berdasarkan golongan nya yakni bahan teratogenik fisik, kimia dan biologis. Bahan tertogenik fisik adalah bahan yang bersifat teratogen dari unsur-unsur fisik misalnya Radiasi nuklir, sinar gamma dan sinar X (sinar rontgen). Bila ibu terkena radiasi nuklir (misal pada tragedi chernobil) atau terpajan dengan agen fisik tersebut, maka janin akan lahir dengan berbagai kecacatan fisik. Tidak ada tipe kecacatan fisik tertentu pada paparan ibu hamil dengan radiasi, karena agen teratogenik ini sifatnya tidak spesifik karena mengganggu berbagai macam organ. Dalam menghindari terpajan agen teratogen fisik, maka ibu sebaiknya menghindari melakukan foto rontgen apabila ibu sedang hamil. Foto rontgen yang terlalu sering dan berulang pada kehamilan kurang dari 12 minggu dapat memberikan gangguan berupa kecacatan lahir pada janin. Bahan teratogenik kimia adalah bahan yang berupa senyawa senyawa kimia yang bila masuk dalam tubuh ibu pada saat saat kritis pembentukan organ tubuh janin dapat menyebabkan gangguan pada proses tersebut. Kebanyakan bahan teratogenik adalah bahan kimia. Bahkan obat-obatan yang digunakan untuk mengobati beberapa penyakit tertentu juga memiliki efek teratogenik. Alkohol merupakan bahan kimia teratogenik yang umum terjadi terutama di negara-negara yang konsumi alkohol tinggi. Konsumsi alkohol pada ibu hamil selama kehamilannya terutama di trisemester pertama, dapat menimbulkan kecacatan fisik pada anak dan terjadinya kelainan yang dikenal dengan fetal alkoholic syndrome . Konsumsi alkohol ibu dapat turut masuk kedalam plasenta dan memperngaruhi janin sehingga pertumbuhan otak terganggu dan terjadi penurunan kecerdasan/retardasi mental. Alkohol juga dapat menimbulkan bayi mengalami berbagai kelainan bentuk muka, tubuh dan anggota gerak bayi begitu ia dilahirkan. Paparan rokok dan asap rokok pada ibu hamil terutama pada masa organogenesis juga dapat menimbulkan berbagai kecacatan fisik. Ada baiknya bila ibu berhenti merokok (bila ibu seorang perokok) dan menghindarkan diri dari asap rokok. Ada baiknya bila sang ayah yang perokok tidak merokok selama berada didekat sang ibu dalam kehamilannya. Asap rokok bila terpapar pada janin-janin yang lebih tua (lebih dari 20minggu) dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, atau bayi kecil. Obat-obatan untuk kemoterapi kanker umumnya juga bersifat teratogenik. Beberapa jenis obat anti biotik dan dan penghilang rasa nyeri juga memiliki efek gangguan pada janin. Obat-obatan

yang menimbulkan efek seperti narkotik dan obat-obatan psikotropika bila dikonsumsi dalam dosis besar juga dapat menimbulkan efek serupa dengan efek alkohol pada janin. Untuk itu ada baiknya bila selama kehamilan terutama trisemester pertama agar ibu berhati-hati dalam mengkonsumsi obat dan hanya mengkonsumsi obat-obatan yang dianjurkan oleh dokter. Beberapa polutan lingkungan seperti gas CO, senyawa karbon dan berbagai senyawa polimer dalam lingkungan juga dapat menimbulkan efek teratogenik. Oleh karena itu ada baiknya bila ibu membatasi diri dalam bepergian ke tempat-temapat dengan tingkat polusi tinggi atau dengan mewaspadai konsumsi makanan dan air minum tiap harinya. Hal ini karena umumnya bahan tersebut akan mengendap dan tersimpan dalam berbagai makanan maupun dalam air minum harian. Agen teratogenik biologis adalah agen yang paling umum dikenal oleh ibu hamil. Istilah TORCH atau toksoplasma, rubella, cytomegalo virus dan herpes merupakan agen teratogenik biologis yang umum dihadapi oleh ibu hamil dalam masyarakat. Infeksi TORCH dapat menimbulkan berbagai kecacatan lahir dan bahkan abortus sampai kematian janin. Selain itu, beberapa infeksi virus dan bakteri lain seperti penyakit sifilis/raja singa juga dapat memberikan efek teratogenik. Ada baiknya bila ibu sebelum kehamilannya melakukan pemeriksaan laboratorium pendahuluan untuk menentukan apakah ia sedang menderita infeksi TORCH, infeksi virus atau bakteri lain yang berbahaya bagi dirinya maupun kehamilannya. Bila dari hasil dinyatakan positif, ada baiknya bila ibu tidak hamil lebih dulu sampai penyakitnya disembuhkan dan telah dinyatakan fit untuk hamil.
http://www.duniabunda.com/bahan-teratogenik-dan-kecacatan-pada-bayi/

Friday, 15 August 2008


Efek Teratogenik Dismorfogenik Masalah Akibat Penggunaan Obat dalam Kehamilan Efek Teratogenik Dismorfogenik Masalah Akibat Penggunaan Obat dalam Kehamilan Max J Herman, D Mutiatikum Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R.I., Jakarta PENDAHULUAN Pemakaian obat pada wanita hamil dapat menimbulkan masalah bukan saja akibat reaksi obat yang tidak diharapkan pada ibu, akan tetapi fetus juga harus dipertimbangkan sebagai target potensial. Tipe reaksi yang timbul pada fetus bergantung pada tahap perkembangan pada saat pemaparan obat yang bersangkutan. Ada 4 tahap utama gestasi pada manusia yaitu :

1. Preimplantasi yang berlangsung 12 hari sejak konsepsi sampai implantasi. 2. Organogenesis selama hari ke-13 sampai ke-56 kehamilan. 3. Triwulan kedua dan ketiga-perkembangan fungsional dan pertumbuhan nyata terjadi pada gigi, sistem syaraf pusat, endokrin, genital dan sistem imun. .aneka resep masakan 4.Tahap kelahiran yang relatif singkat yang mengakhiri kemungkinan pengaruh pemakaian obat ibu pada fetus. Obat dapat memberikan dampak utama pada sistem saraf pusat janin yang sedang berkembang. Dua mekanisme yang penting adalah efek teratogenik dan timbulnya adiksi pasif yaitu sifat ketergantungan fisik yang timbul pada janin akibat pemaparan obat melalui ibunya l . Teratogenik berasal dari bahasa Yunani yang berarti menghasilkan monster, lebih tepat disebut dismorfogenik. Obat dapat menimbulkan respon teratogen bila diberikan selama periode organogenesis yang berlangsung dari hari ke-13 sampai hari ke-56 masa kehamilan. Pemaparan lebih dini dapat memberikan efek embriosida (membunuh embrio). Pemaparan fetus terhadap obat terjadi karena obat melewati jalur plasenta ibu-fetus. Suatu bahan teratogen tunggal dapat menimbulkan berbagai malformasi dan suatu malformasi tunggal dapat diinduksi oleh sejumlah teratogen. Gangguan yang terkenal adalah akibat thalidomid; 10--40% ibu hamil yang memakainya selama masa kritis easy cooking recipe kehamilan melahirkan bayi cacad. Sesungguhnya hanya sejumlah kecil obat yang secara pasti menyebabkan deformitas fetus bila diberikan pada ibu hamil. Secara eksperimental, beratus-ratus bahan dismorfogenik telah ditemukan di antaranya : a) Faktor fisika seperti sinar X dan anoksia. b) Infeksi virus seperti rubella, varicella dan cytomegalovirus. c) Endotoksin. d)

Sejumlah besar bahan kimia seperti racun, bahan kimia industri, pertanian dan berbagai obat. Beberapa dari senyawa-senyawa kimia ini toksisitasnya rendah, misalnya hormon, tetapi ada juga yang lebih toksis seperti obat sitotoksik dan antineoplasma. Meskipun ditemukan berbagai dismorfogen pada hewan, hanya pada beberapa kasus saja terbukti memberikan efek toksik pada embrio manusia. Berbagai mekanisme mengatur perkembangan prenatal manusia dan obat hanya merupakan satu dari sejumlah faktor yang terlibat dalam etiologi suatu kelainan bawaan tertentu. Tahap kehamilan saat obat mungkin memberikan efek dismorfogenik http://how-to-make-a-website-free.blogspot.com/2008/08/word-of-day-wordoftheday.html

Kamis, 23 April 2009


Siklus estrus

Daur Estrus ( Siklus Estrus)

Meski perubahan yang terjadi tidak sesignifikan di uterus dan cervix, dinding vagina juga memperlihatkan perubahan-perubahan yang terjadi secara berkala (periodik). Pada fase folikuler di dalam ovarium, estrogen merangsang epitel vagina aktif bermitosis dan mensintesis glikogen sehingga lapisan mukosa vagina menjadi lebih tebal menjelang ovulasi dan lumen vagina banyak mengandung glikogen. Penebalan epitel lapisan mukosa disertai dengan proses penandukan atau kornifikasi dan kemudian mengelupas. Dengan ditemukannya sel epitel menanduk pada preprat apus vagina, adalah indikator terjadinya ovulasi. Menjelang ovulasi leukosit makin banyak menerobos lapisan mukosa vagian kemudian ke lumen. Selama masa luteal pada ovarian dengan pengaruh hormon progesterondapat menekan pertumbuhan sel epitel vagina.

Siklus estrus merupakan sederetan aktivitas seksual dari awal hingga akhir dan terus berulang. Panjang waktu siklus estrus pada tikus putih (Rattus norvegicus L.) yaitu 4 sampai 5 hari. Siklus ini dibedakan dalam 2 tingkatan yaitu fase folikuler dan fase luteal. Fase folikuler adalah pembentukan folikel sampai masak sedangkan fase luteal adalah setelah ovulasi sampai ulangan berikutnya dimulai. Siklus estrus pada hewan berasal dari folokel graff ke korpus luteum. Siklus estrus dapat dibedakan menjadi 4 fase, yaitu : 1. Fase proestrus. Ditandai dengan adanya sel-sel epitel normal. Terjadi pembentukan folikel sampai tumbuh maksimum. Pertumbuahan folikel ini menghasilkan estrogen sehingga dinding uterus menjadi lebih tebal dan halus serta lebih bergranula. Selain itu digetahkan cairan yang agak pekat yang dinamakan cairan milk uteria. Struktur histologis epitel vagina pada fase proestrus adalah sebagi berikut : 1. Berlapis banyak (10-13) 2. Stratum korneum kornifikasi aktif. 3. Leukosit sedikit. 4. Mitosis aktif. 2. Fase estrus. Fase ini ditandai dengan adanya sel-sel epitel menanduk. Produksi estrogen akan bertambah dan terjadi ovulasi sehingga dinding mukosa uterus akan menggembung dan mengandung sel-sel darah. Pada fase ini folikel matang dan terjadi ovulasi dan betina siap menerima sperma dari jantan. Sel-sel epitel menanduk merupakan indikator terjadinya ovulasi. Menjelang ovulasi leukosit makin banyak menerobos lapisan mukosa vagina kemudian ke lumen. Selama masa luteal pada ovarium dengan pengaruh hormon progesteron dapat menekan pertumbuhan sel epitel vagina. Struktur histologis epitel vagina pada fase estrus sebagai berikut : 1. Lapisan superficial berinti. 2. Struktur korneum sedikit dan melepas leukosit di bawah epitel.

3. Mitosis berkurang. 4. Leukosit tidak ada. 3. Fase Diestrus Pada fase diestrus ditandai dengan adanya sel epitel normal dan banyak leukosit. 4. Fase anestrus Fase anestrus merupakan fase istirahat jika tidak terjadi fertilisasi atau kehamilan. Ditandai dengan sel epitel normal atau sel epitel biasa dan sel epitel menanduk. Dimana lapisan epiteliumnya 4-7 dan terdapat leukosit pada lapisan luar
http://mjumani.blogspot.com/2009/04/siklus-estrus.html

jurnal teratogen
By: shintabits09
Apr 02 2011

Category: kuliahku Leave a Comment BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Uji keteratogenikan merupakan salah satu jenis uji ketoksikan khas. Tepatnya, adalah uji ketoksikan suatu obat yang diberikan/ digunakan selama masa organogenesis suatu hewan bunting. Uji ini digunakan untuk menentukan apakah suatu obat dapat menyebabkan kelainan atau cacat bawaan pada diri janin yang dikandung oleh hewan bunting, dan apakah cacat tersebut berkerabat dengan dosis obat yang diberikan. Dengan demikian uji keteratogenikan bermanfaat sekali sebagai landasan evaluasi batas aman dan resiko penggunaan suatu obat oleh wanita hamil, utamanya berkaitan dengan cacat bawaan janin yang dikandungnya.

Pada praktikum uji keteratogenikan ini, akan dilakukan pengujian pemberian zat kimia yang berupa alcohol 40% terhadap mencit (Mus musculus) dengan dosis yang berbeda-beda sehingga dapat diketahui apakah cacat bawaan pada diri janin berkerabat dengan pemberian dosis obat (alcohol 40%) yang diberikan. Selain itu, juga akan dilakukan pengamatan morfologi terhadap janin hasil uji keteratogenikan apakah mengalami cacat bawaan atau tidak. Pengamatan morfologi meliputi jumlah fetus seperindukan, mortalitas fetus, morfologi fetus, dan sebagainya.

1.2 Permasalahan Permasalahan dalam praktikum uji keteratogenikan ini adalah bagaimana menjelaskan manfaat uji keteratogenikan sesuatu obat dan bagaimana melakukan uji keteratogenikan sesuatu obat.

1.3 Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk menjelaskan manfaat uji keteratogenikan sesuatu obat dan melakukan uji keteratogenikan sesuatu obat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Teratogenesis Banyak kejadian yang dikehendaki untuk perkembangan dari organisme baru yang memiliki kesempatan besar dalam tindakan tersebut untuk menjadi suatu kesalahan. Pada kenyataannya, kira-kira satu dari tiga kali keguguran embrio pada manusia, sering tanpa diketahui oleh si Ibu bahwa dia sedang hamil. Perkembangan abnormal yang lain tidak mencelakakan embrio tetapi kelainan tersebut akan berakibat pada anak. Kelainanan perkembangan ada dua macam, yaitu: kelainan genetik dan kelainan sejak lahir. Kelainan genetik dikarenakan titik mutasi atau penyimpangan kromosom dan akibat dari tidak ada atau tidak tepatnya produk genetik selama meiosis atau tahap perkembangan. Down syndrome hanyalah salah satu dari banyak kelainan genetik. Kelainan sejak lahir tidak diwariskan melainkan akibat dari faktor eksternal, disebut teratogen, yang mengganggu proses perkembangan yang normal. Pada manusia, sebenarnya banyak zat yang dapat dipindahkan dari sang ibu kepada keturunannya melalui plasenta, yaitu teratogen potensial. Daftar dari teratogen yang diketahui dan dicurigai meliputi virus, termasuk tipe yang menyebabkan kasus penyakit campak Jerman, alkohol, dan beberapa obat, termasuk aspirin (Harris, 1992). Teratogenesis adalah pembentukan cacat bawaan. Kelainan ini sudah diketahui selama beberapa dasawarsa dan merupakan penyebab utama morbiditas serta mortilitas pada bayi yang baru lahir.

Setelah pembuahan, sel telur mengalami proliferasi sel, diferensiasi sel, dan organogenesis. Embrio kemudian melewati suatu metamorfosis dan periode perkembangan janin sebelum dilahirkan (Lu, 1995). Teratologi merupakan cabang embrio yang khusus mengenai pertumbuhan struktural yang abnormal luar biasa. Oleh pertumbuhan yang abnormal luar biasa itu lahir bayi atau janin yang cacat. Bayi yang cacat hebat disebut monster. Pada orang setiap 50 kelahiran hidup rata-rata 1 yang cacat. Sedangkan dari yang digugurkan perbandingan itu jauh lebih tinggi. Perbandingan bervariasi sesuai dengan jenis cacat. Contoh daftar berikut :
Jenis cacat Lobang antara atrium Cryptorchidisme Sumbing Albino Hemophilia Tak ada anggota Frekuensi 1:5 1 : 300 1: 1000 1 : 20.000 1 : 50.000 1 : 500.000

(Yatim, 1994). Prosentase bagian tubuh yang sering terkena cacat adalah : SSP (susunan saraf pusat) Saluran pencernaan Kardiovaskuler Otot dan kulit Alat lain 60% 15% 10% 10% 5%

Cacat yang sering juga ditemukan adalah sirenomelus (anggota seperti ikan duyung), phocomelia, jari buntung, ada ekor, cretinisme, dan gigantisme (Yatim, 1994).

2.2 Proses Kerja Teratogen Cacat terjadi karena beberapa hal, diantaranya yang pentiung adalah : 1. gangguan pertumbuhan kuncup suatu alat (agenesis)

2. terhenti pertumbuhan di tengah jalan 3. 4. kelebihan pertumbuhan salah arah differensiasi

Agenesis atau terganggunya pertumbuhan suatu kuncup alat, menyebabkan adanya janin yang tak berginjal, tak ada anggota, tak ada pigment (albino), dan sebagainya. Kalau pertumbuhan berhenti di tengah jalan, terjadi cacat seperti sumbing atau dengan langit-langit celah. Kalau kelebihan pertumbuhan, contohnya gigantisme dan kembar. Sedangkan yang salah arah differensiasi menimbulkan tumor, teratoma, dan lain-lain (Yatim, 1994). Secara natural cacat itu sulit dipastikan apa penyebabnya yang khusus. Mungkin sekali gabungan atau kerja sama berbagai faktor genetis dan lingkungan. Secara experimental dapat dibuat cacat dengan mempergunakan salah satu teratogen dan mengontrol faktor lainnya. Proses kerja teratogen adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. mengubah kecepatan proliferasi sel menghalangi sintesa enzim mengubah permukaan sel sehingga agregasi tidak teratur mengubah matrix yang mengganggu perpindahan sel-sel merusak organizer atau daya kompetisi sel berespons

(Yatim, 1994).

2.3 Faktor Teratogen Faktor yang menyebabkan cacat ada dua kelompok, yaitu faktor genetis dan lingkungan. Faktor genetis terdiri dari : 1. Mutasi, yakni perubahan pada susunan nukleotida gen (ADN). Mutasi menimbulkan alel cacat, yang mungkin dominan atau resesif.

2. Aberasi, yakni perubahan pada sususnan kromosom. Contoh cacat karena ini adalah berbagai macam penyakit turunan sindroma. Faktor lingkungan terdiri atas : 1. Infeksi, cacat dapat terjadi jika induk yang kena penyakit infeksi, terutama oleh virus.

2. Obat, berbagai macam obat yang diminum ibu waktu hamil dapat menimbulkan cacat pada janinnya. 3. Radiasi, ibu hamil yang diradiasi sinar-X , ada yang melahirkan bayi cacat pada otak. Mineral radioaktif tanah sekeliling berhubungan erat dengan lahir cacat bayi di daerah bersangkutan. 4. Defisiensi, ibu yang defisiensi vitamin atau hormon dapat menimbulkan cacat pada janin yang sedang dikandung. Defisiensi Vitamin A Vitamin B kompleks, C, D Tiroxin Somatrotopin Cacat Mata Tulang/rangka Cretinisme Dwarfisme

5. Emosi, sumbing atau langit-langit celah, kalau terjadi pada minggu ke-7 sampai 10 kehamilan orang, dapat disebabkan emosi ibu.emosi itu mungkin lewat sistem hormon (Yatim, 1994).

2.4 Tahap Pradiferensiasi Selama tahap ini, embrio tidak rentan terhadap zat teratogen. Zat ini dapat menyebabkan kematian embrio akibat matinya sebagian besar sel embrio, atau tidak menimbulkan efek yang nyata. Bahkan, bila terjadi efek yang agak berbahaya, sel yang masih hidup akan menggantikan kerusakan tersebut dan membentuk embrio normal. Lamanya tahap resisten ini berkisar antara 5 9 hari, tergantung dari jenis spesiesnya (Lu, 1995).

2.5 Tahap Embrio.

Dalam periode ini sel secara intensif menjalani diferensiasi, mobilisasi, dan organisasi. Selama periode inilah sebagian besar organogenesis terjadi. Akibatnya, embrio sangat rentan terhadap efek teratogen. Periode ini biasanya berakhir setelah beberapa waktu, yaitu pada hari ke-10 sampai hari ke-14 pada hewan pengerat dan pada minggu ke-14 pada manusia. Selain itu, tidak semua organ rentan pada saat yasng sama dalam suatu kehamilan (Lu, 1995).

2.6 Tahap Janin. Tahap ini ditandai dengan perkembangan dan pematangan fungsi. Dengan demikian, selama tahapan ini, teratogen tidak mungkin menyebabkan cacat morfologik, tetapi dapat mengakibatkan kelainan fungsi. Cacat morfologik umumnya mudah dideteksi pada saat kelahiran atau sesaat sesudah kelahiran, tetapi kelainan fungsi, seperti gangguan SSP, mungkin tidak dapat didiagnosis segera setelah kelahiran (Lu, 1995).

2.7 Definisi Toksisitas Uji keteratogenikan adalah uji ketoksikan suatu obat yang diberikan selama masa organogenesis pada hewan bunting. Toksisitas pada hakekatnya menjelaskan tentang kerusakan / cidera pada organisme yang diakibatkan oleh suatu materi, substansi, atau energi. Definisi lain menyebutkan bahwa toksisitas merupakan proses kerjanya racun, tidak saja efeknya, tetapi juga mekanisme terjadinya efek tersebut (Tarter, 1985). Racun dapat berupa zat kimia, fisis, dan biologis. Toksin atau racun dapat diartikan sebagai: 1. zat yang dalam dosis kecil dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan hidup.

2. zat yang bila masuk ke dalam tubuh dalam dosis cukup, beraksi secara kimiawi dapat menimbulkan kematian/ kerusakan berat pada orang sehat. 3. zat yang bila memasuki tubuh dalam keadaan cukup, secara konsisten menyebabkan fungsi tubuh jadi tidak normal (Tarter, 1985).

2.8 Uji Toksisitas Uji toksisitas dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu kualitatif dan non-kualitatif. Uji kualitatif biasanya dilakukan atas dasar gejala penyakit yang timbul. Hal ini akibat dari tidak spesifiknya gejala/ penyakit akibat suatu keracunan. Respons tubuh terhadap racun disebut tidak spesifik karena tidak ada/ belum didapat gejala yang khas (pathognomonik) bagi setiap keracunan, dengan beberapa pengecualian. Oleh karena itu, seringkali keracunan diklasifikasikan atas gejalanya yang timbul seperti:

Gejala Fibrosis Granuloma Alergi Asfiksia Mutagenesis Karsinogenesis Teratogenesis

Penyebab/ racun SiO2, Fe, asbest, Co, C, dll Be, bakteri, fungi, dll Ni, Cr, TDI, berbagai zat organik CO, H2S, CO2, SO2, NH3, CH4, dll Radiasi pengion, benzene, metal-Hg Aminodifenil, asbest, benzidine,dll As, F, metil-Hg, TEL, benzena

Keracunan sistemik Pb, Cd, Hg, F, dll Demam Mn, Zn, Co, Pb, dll

(Tarter, 1985). 2.9LD50 LD50 didefinisikan sebagai dosis tunggal suatu zat yang secara statistik diarapkan akan membunuh 50% hewan coba. Pengujian ini juga dapat menunjukkan organ sasaran yang mungkin dirusak dan efek toksik spesifikasinya, serta memberikan petunjuk tentang dosis yang sebaiknya dugunakan dalam pengujian yang lebih lama (Lu, 1995). Akan tetapi, dalam beberapa hal, khususnya bila toksisitas akutnya rendah, kadang kita tidak perlu menentukan LD50 secara tepat. Suatu angka perkiraan sudah dapat memberikan manfaat. Informasi bahwa dosis yang cukup besar saja menyebabkan hanya sedikit kematian, atau tidak menyebabkan kematian, mungkin cukup (EPA, 1988). Prinsip ini sebenarnya telah diterapkan. Misalnya, sejumlah pewarna makanan diberikan kepada beberapa tikus dengan dosis 2 g/kg.

Karena tak ada tikus yang mati, dianggap bahwa semua toksistas akut yang berbahaya dapat disingkirkan dan LD50 tidak perlu ditentukan (Lu dan Lavallee, 1965) pandangan ini diterima oleh Joint FAO/ WHO Expert Committee on Food Additives (WHO, 1966) (Lu, 1995).

2.10 Etil Alkohol (Etanol) Alkohol murni: bp: 78 C; tekanan uap: 44 mm Hg pada 20 C. Etil (butir) alkohol (C2H5OH) digunakan sebagai pelarut, antiseptik, perantara kimia, dan sebagai minuman. Untuk banyak kepentingan komersil, etil alkohol didenaturasi. Dosis fatal untuk dewasa rata-rata 300-400 ml dari alkohol murni (600-800 ml wiski percobaan) jika dikonsumsi kurang dari satu jam, beberapa waktu kemudian gejala serius akan muncul pada anak dengan 1 ml/kg dari alkohol yang dirusak mengandung 5% metil alkohol (Dreisbach, 1977). Penemuan patologis dalam kerusakan akut dari etil alkohol termasuk didalamnya adalah edema otak dan hyperemia, dan edema gastrointestinal luas. Penemuan mayat dari pasien yang mati setelah mengkonsumsi begitu banyak alkohol meliputi perubahan degeneratif pada hati, ginjal, otak, atrophic gastritis, dan cirrhosis pada hati (Dreisbach, 1977). Berdasarkan kandungan alkoholnya, beberapa jenis minuman dapat dikelompokkan sebagai berikut: beer : 2-8 % Dry wine : 8-14 % Cocktail wine : 20-21 % Cordial : 25-40 % Spirits : 40-50 %

Seseorang yang mengkonsumsi minuman yang mengandung alcohol, zat tyersebut diserap oleh lambung, masuk ke aliran darah dan tersebar ke seluruh jaringan tubuh, yang mengakibatkan terganggunya semua system yang ada di dalam tubuh. Akibat dari penggunaan alkohaol dalam jangka panjang adalah kegelisahan, gemetar/tremor, halusinasi, kejang-kejang, dan bias merusak organ vital seperti otak dan hati. Bila ibu yang hamil mengkonsumsi minuman beralkohol, akan mengakibatkan bayi yang memiliki resiko lebih tinggi terhadap hambatan perkembangan mental dan ketidaknormalan lainnya, serta beresiko lebih besar menjadi pecandu alkohol saat dewasanya (Anonim, 2010). METODOLOGI 3.1 Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah spet/ jarum kanul/ gastric tube, silet dan seperangkat alat untuk pembedahan, botol kaca bermulut lebar, pipet, kertas label, dan kaca pembesar. Sedangkan bahan-bahan yang dibutuhkan adalah mencit (Mus musculus) albino umur antara 2 3 bulan, alkohol 70% dan 96%, KOH 1%, Alizarin Red S, formalin 5%, garam fisiologis, gliserin, akuades, dan asam pikrat atau tinta cina.

3.2 3.2.1

Cara Kerja Pengawinan dan Penetapan Masa Bunting

Mencit yang akan digunakan diaklimatisasi terlebih dahulu kurang lebih selama 7 hari. Kemudian mencit betina diamati siklus estrusnya, jika telah berada dalam kondisi estrus (siap kawin), maka dicampur dengan mencit jantan. Perbandingannya 3 mencit betina : 1 ekor mencit jantan. Selanjutnya diamati tiap hari ada tidaknya vagina plug pada mencit betina, jika ada maka mencit betina segera dipisahkan dan saat tersebut ditetapkan sebagai hari ke nol kehamilan. 3.2.2 Pemberian Dosis

Mencit betina yang hamil dicekok dengan alkohol mulai hari ke hamilan ke 6 sampai kehamilan ke 12. Dosis yang digunakan adalah 0 (kontrol); 0,2; 0,4; 0,6; dan 0,8 ml. Pencekokan dilakukan dengan jarum kanul. Tiap perlakuan termasuk kontrol masing masing dengan 3 ulangan. Setelah hari kehamilan ke 18 mencit betina dimatikan dan embrio diambil untuk diamati. 3.2.3 Pengamatan Fetus

Pengamatan terhadap fetus meliputi jumlah fetus seperindukan, mortalitas fetus, berat fetus, panjang fetus, morfologi fetus, sistem rangka dan organ dalam fetus. Pemeriksaan sistem rangka (skeletal) dilakukan dengan pewarnaan Alizarin Red S. Untuk itu beberapa embrio masingmasing induk dipersiapkan untuk pembuatan preparat skeletal mengikuti teknik pewarnaan Alizarin Red S seperti berikut: embrio difiksasi dengan etanol absolut selama 2 hari, isi rongga perut dan rongga dada dikeluarkan, embrio dimaserasi dengan KOH 1 % selama 2 hari sampai dagingnya mengelupas dan nampak transparan (setiap hari larutan KOH diganti 2 kali), dimasukkan embrio transparan ke dalam Alizarin Red S 1 % dalam KOH 1 % selama 10 menit, dibilas dengan KOH 1 % sampai warna ungu pada selaput transparan hilang, dimasukkan embrio yang telah diwarnai itu berturut-turut ke dalam campuran KOH gliserin (3:1, 1:1, 1:3) masingmasing selama 1 hari, dimasukkan ke dalam gliserin murni serta dismpan untuk pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan dengan kaca pembesar. Data yang dikumpulkan berupa: penulangan sternum, vertebrata dan rusuk, prosentase janin yang mempunyai penulangan pada karpal dan tarsal, prosentase kelainan rangka sumbu embrio. Sedangkan untuk melihat kelainan organ dalam dilakukan dengan bedah silet (Razor Blade Section).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Pengendalian Tikus. http://www.depkes.go.id. diakses tanggal 21 November 2010 pukul 18.31.

Dreisbach, R. H. 1977. Handbook of Poisoning: Diagnosis & Treatment. Lange Medical Publications: Los Altos, California.

Harris, C. L. 1992. Zoology. Harper Collins Publishers Inc: New York.

Lu, F. C. 1995. Toksikologi Dasar: Asas, Organ Sasaran, dan Penilaian Resiko. UI-PRESS: Jakarta.

Tarter,R.E. 1985. Alcohol and The Brain Chronic Effects. Plenum MediCal Book Co. New York and London.

Yatim, Wildan. 1994. Reproduksi dan Embryologi. Penerbit Tarsito: Bandung.