Anda di halaman 1dari 13

TUGAS FARMAKOLOGI DASAR ANALGETIK ANTIPIRETIK DAN ANTI INFLAMASI

DISUSUN OLEH : KELOMPOK VIII Abeer Fauzi Desi Puji Lestari Rachmawidia Falahardhi Ruliyani Septianingsih (1004017002) (0904015054) (0904015218) (1004017042) (1004017044)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA JAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bila sel-sel atau jaringan-jaringan tubuh mengalami cedera atau mati, selama penderita masih berthan hidup, jaringan hidup disekitarnya membuat sutu respons mencolok yang disebut peradangan. Yang lebih khusus, peradangan adalah reaksi vascular yang menimbulkan pengiriman cairan, zat-zat yang terlarut, dan sel-sel darah ke jaringan-jaringan interstitial di daerah cedera atau nekrosis. Kecenderungan alami adalah yang memandang peradangan sebagai sesuatu yang tidak diinginkan, karena peradangan pada tenggorokan, kulit, atau jaringan lunak dapat menyebabkan rasa tidak nyaman. Akan tetapi, peradangan sebenarnya merupakan fenomena yang menguntungkan dan defensive yang menghasilkan netralisasi dan eliminasi agen penyerang, penghancuran jaringan nekrolit, dan terbentuknya keadaan yang diperlukan untuk perbaikan dan pemulihan. Tanda-tanda pokok peradangan yang mencakup kemerahan, panas, nyeri dan pembengkakan, dan perubahan fungsi sel. Dari uraian diatas maka pada kesempatan kali ini kami akan membahas mengenai peradangan dan juga tanda-tanda peradangan dikhususkan pada panas dan nyeri.

1.2 Tujuan a. Untuk mengetahui semua tentang analgetik, antipiretik, dan juga antiinflamasi mulai dari pengertian, mekanisme kerja, serta penggolongan masing-masing obat-obatnya b. Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi.

BAB II ANALGETIK, ANTIPIRETIK

2.1 Definisi Nyeri merupakan tanda adanya penyakit atau kelainan dalam tubuh dan merupakan bagian dari proses penyembuhan (inflamasi). Nyeri perlu dihilangkan jika telah mengganggu aktivitas tubuh. Analgetik adalah obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Antipiretik adalah obat yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Jadi analgetik-antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala, fungsinya memberi tanda tentang adanya gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot. Rasa nyeri disebabkan rangsang mekanis atau kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yang disebut mediator nyeri (pengantara). Zat ini merangsang, reseptor nyeri yang letaknya pada ujung syaraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini rangsang dialirkan melalui syaraf sensoris ke S.S.P (Susunan Syaraf Pusat), melalui sumsum tulang belakang ke talamus (optikus) kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar, di mana rangsang terasa sebagai nyeri. Sebagai mediator nyeri adalah: 1. Histamin
3

2. Serotonin 3. Plasmokinin (antara lain Bradikinin) 4. Prostaglandin 5. Ion kalium

2.2 Mekanisme Kerja dan Penggolongan Obat Ada dua jenis analgetik yaitu analgetik narkotik dan analgetik non narkotik. 1. Analgetik narkotik Analgetik narkotik dapat menghilangkan nyeri dari derajat sedang sampai hebat (berat), seperti karena infark jantung, operasi (terpotong), viseral ( organ) dan nyeri karena kanker. Analgetik narkotik merupakan turunan opium yang berasal dari tumbuhan Papaver somniferum atau dari senyawa sintetik. Analgetik ini digunakan untuk meredakan nyeri sedang sampai nyeri hebat dan nyeri yang bersumber dari organ viseral. Penggunaan berulang dan tidak sesuai aturan dapat menimbulkantoleransi dan ketergantungan. Toleransi ialah adanya penurunan efek, sehingga untuk mendapatkan efek seperti semula perlu peningkatan dosis. Karena dapat menimbulkan ketergantungan, obat golongan ini penggunaannya diawasi secara ketat dan hanya untuk nyeri yang tidak dapat diredakan oleh AINS. Nyeri minimal disebabkan oleh dua hal, yaitu iritasi lokal ( menstimuli saraf perifer) dan adanya persepsi (pengenalan) nyeri oleh SSP. Pengenalan nyeri bersifat psikologis terhadap adanya nyeri lokal yang disampaikan ke SSP. Analgetik narkotik mengurangi nyeri dengan menurunkan persepsi nyeri atau menaikan nilai ambang rasa sakit.

Analgetik narkotik tidak memperngaruhi saraf perifer, nyeri tetap ada tetapi dapat diabaikan atau pasien dapat mentorerirnya. Untuk mendapatkan efek yang maksimal analgetik narkotik harus diberikan sebelum tindakan bedah. Semua analgetik narkotik dapat mengurangi nyeri yang hebat, tetapi potensi onzet dan efek sampingnya berbeda-beda secara kualitatif maupun kuantitatif. Efek samping yang paling sering adalah mual, muntah, konstipasi, dan ngantuk. Dosis yang besar dapat menyebabkan hipotensi serta depresi pernapasan. Morfin dan petidin merupakan analgetik narkotik yang paling banyak dipakai untuk nyeri hebat walaupun menimbulkan mual dan muntah. Obat ini di indonesia tersedia dalam bentuk injeksi dan masih merupakan standar yang digunakan sebagai pembanding bagi analgetik narkotik lainnya. Selain menghilangkan nyeri morfin dapat menimbulkan euforia dan gangguan mental. Berikut adalah contoh analgetik narkotik yang sampai sekarang masih digunakan di Indonesia : Morfin HCl Kodein Fentanil HCl Petidin dan Tramadol

2. Analgetik non narkotik Analgetik non narkotik berasal dari golongan antiinflamasi non steroid (AINS) yang menghilangkan nyeri ringan sampai sedang. Disebut AINS karena selain sebagai analgetik, sebagai anggotanya mempunyai efek antiinflamasi dan penurun panas (antipiretik) dan secara kimiawi bukan steroid. Oleh karena itu, AINS sering disebut (Analgetik, antipiretik dan antiinflamasi ) atau 3A .
5

Beberapa AINS hanya berefek analgetik dan antipiretik sedangkan yang lain ada yang mempunyai efek analgetik, anti inflamasi dan anti piretik. Hipotalamus merupakan bagian dari otak yang berperan dalam mengatur nyeri dan temperatur. AINS secara selektif dapat mempengaruhi hipotalamus menyebabkan penurunan suhu tubuh ketika demam. Mekanismenya kemungkinan menghambat sintesis

prostaglandin (PG) yang menstimulasi SSP. PG dapat meningkatkan aliran darah ke perifer (vasodilatasi) dan berkeringat sehingga panas banyak keluar dari tubuh. Efek analgetik timbul karena mempengaruhi baik di hipotalamus atau ditempat cedera. Respon terhadap cedera umumnya berupa inflamasi, udem, serta pelepasan zat aktif seperti brandikinin, PG dan histamin. PG dan Brandikinin menstimulasi ujung saraf perifer dengan membawa implus nyeri ke SSP. AINS dapat menghambat sintesis PG dan brandikinin sehingga menghambat terjadinya perangsangan reseptor nyeri. Obat-obat yang banyak digunakan sebagai analgetik dan antipiretik adalah golongan salisilat dan asetaminofen (parasetamol). Aspirin adalah penghambat sintesis PG paling efektif dari golongan salisilat. Antipiretik yang banyak digunakan dan dianjurkan adalah parasetamol, ibuprofen, dan aspirin (asetosal) Oleh karena itu antipiretik yang akan dibahas lebih lanjut ketiga jenis obat tersebut. 2.3 Zat-zat tersendiri a. Parasetamol (Asetaminofen) Parasetamol (asetaminofen) merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik yang sama dan telah digunakan sejak tahun 1893. Efek anti inflamasi parasetamol hampir tidak ada. Asetaminofen di Indonesia lebih dikenal dengan nama parasetamol, dan tersedia sebagai obat bebas,

misalnya Panadol, Bodrex, INZA, dan Termorex . Efek analgesik parasetamol serupa dengan salisilat yaitu

menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral. Parasetamol merupakan penghambat prostaglandin yang lemah. Efek iritasi, erosi, dan perdarahan lambung tidak terlihat pada obat ini, demikian juga gangguan pernafasan dan keseimbangan asam basa. Waktu paruh asetaminofen adalah 2-3 jam dan relatif tidak terpengaruh oleh fungsi ginjal. Dengan kuantitas toksik atau penyakit hati, waktu paruhnya dapat meningkat dua kali lipat atau lebih. Reaksi alergi terhadap parasetamol jarang terjadi. Manifestasinya berupa eritema atau urtikaria dan gejala yang lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa. B. Ibuprofen Ibuprofen adalah turunan sederhana dari asam fenilpropionat. Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama seperti aspirin. Efek antiinflamasinya terlihat dengan dosis 1200-2400 mg sehari . Efek lainnya yang jarang seperti eritema kulit, sakit kepala, trombositopenia, dan ambliopia toksik yang reversibel. Dosis sebagai analgesik 4 kali 400 mg sehari tetapi sebaiknya dosis optimal pada tiap orang ditentukan secara individual. Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui. C. Aspirin Aspirin atau asam asetilsalisilat adalah suatu jenis obat dari keluarga salisilat yang sering digunakan sebagai analgesik (terhadap rasa sakit atau nyeri), antipiretik (terhadap demam), dan antiinflamasi. Aspirin
7

juga memiliki efek antikoagulan dan digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung. Beberapa contoh aspirin yang beredar di Indonesia ialah Bodrexin dan Inzana. Aspirin merupakan obat yang efektif untuk mengurangi demam, namun tidak direkomendasikan pada anak. Aspirin, karena efek sampingnya merangsang lambung dan dapat mengakibatkan perdarahan usus maka tidak dianjurkan untuk demam ringan. Efek samping seperti rasa tidak enak di perut, mual, dan perdarahan saluran cerna biasanya dapat dihindarkan bila dosis per hari lebih dari 325 mg.

BAB III ANTIINFLAMASI 3.1 Definisi Inflamasi adalah respon normal terhadap cedera. Ketika terjadi cedera zat seperti histamin, brandikinin, dan PG serta serotonin dilepaskan. Pelepasan zat-zat diatas menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas dinding kapiler. Reseptor nyeri mengalami perangsangan, protein dan cairan keluar dari pembuluh darah kapiler (sel). Aliran darah ketempat cedera meningkat, sel fagosit (leukosit) migrasi ketempat cedera untuk merusak zatzat yang dianggap berbahaya. Jika fagositosis berlebihan justru akan meningkatkan inflamasi yang ditandai dengan kemerah-merahan, bengkak ( odem), panas, nyeri dan hilangnya fungsi. 3.2 Mekanisme Kerja dan Penggolongan Obat Anti inflamasi bekerja mengikat enzim cyclooxigenase dan lipogenase sehingga menghambat sintesis PG dan leukotrin. Hambatan tersebut antara lain menyebabkan stabilisasi sel meningkat, permeabilitas membran menurun (mengurangi odem) dan nyeri berkurang. Berdasarkan cara kerja diatas ada

dua jenis anti inflamasi yang digunakan dalam klinik yaitu golongan kortikosteroid dan non steroid. 1. Golongan kortikosteroid Dari kedua golongan antiinflamasi yang sering digunakan adalah AINS karena golongan steroid dalam jangka panjang dapat menimbulakna efek samping seperti a. Iritasi lambung b. Moon face c. Menekan imunitas d. Tulang kropos Kortikosteroid mengurangi aktifitas fosfolipase A2 dan mengikat enzim lipogenase dan mengurangi terbentuknya leukotrin sehingga mengurangi radang atau inflamsi. Leukotrin adalah zat kemotaktik bersifat menarik migrasi sel fagosit ke tempat cedera tetapi jika berlebihan justru dapat menyebabkan inflamasi. Contoh obat golongan ini adalah a. Prednisolon b. Hydrocortison c. Deksamethasone d. Betamethasone e. Triamsinolon 2. AINS Semua AINS bekerja mengikat COX. COX berfungsi

mengkonversi asam arakidonat menjadi PG, tromboksan dan prostasiklin. PG disintesis dan dikeluarkan ketika dibutuhkan, PG mempunyai waktu
9

paruh pendek sehingga efeknya cepat hilang. Oleh karena itu mengontrol enzim yang digunakan untuk mensintesis PG sama artinya dengan mengontrol PG itu sendiri. AINS diindikasikan untuk nyeri seperti pada sakit kepala, pencabutan gigi, cedera jaringan, dan nyeri persendian. Karena dapat menghambat sintesis PG pada daerah tertentu, AINS juga bermanfaat untuk nyeri karena gout (pirai), disminore dan arthritis. a. AINS NON Selektif Non selektif berarti menghambat COX1 dan COX2 sehingga dapat menimbulkan iritasi lambung. Oleh karena itu jika menggunakan obat golongan ini harus diminum setelah makan dan tidak digunakan pada orang yang menderita gastritis dan harus hati-hati pada lansia. Contoh AINS non selektif adalah : Ibuprofen Indometasin Ketorolak Naproksen Diklofenak - ketoprofen - asam mefenamat - fenilbutazon - piroksikam - nabumeton

b. AINS Selektif AINS Selektif adalah yang hanya mengikat COX2 sehingga tidak menimbulkan iritasi lambung. Contohnya adalah celecoxib, meloxicam dan refecoxib. Penggolongan obat AINS secara garis besar juga dapat dibagi sebagai berikut : 1. Asam Karboksilat

a. Asam asetat Derivat asam fenilasetat : diklofenak dan fenklofenak Derivat asam asetat inden/ indon : indometasin, sulindak, tolmetin b. Derivat asam salisilat Aspirin Benorilat Diflunisal Salsalat

c. Derivat asam propionate As. Tiaprofenat Fenbufen Fenoprofen Flurbiprofen Ibuprofen Ketofropen naproksen

d. Derivat asam fenamat As. Mefenamat meklofenamat

2. Asam Enolat

11

a. Derivat pirazolon Azapropazon Fenilbutazon Oksifenbutazon

b. Derivat oksikam Piroksikam Tenoksikam

3.3 Zat-zat tersendiri a. Asam mefenamat Asam mefenamat memiliki daya antiradang sedang, kira-kira 50% dari khasiat fenilbutazon. Plasma t nya 24 jam. Penggunaanya sebagai obat antinyeri dan obat rema terbatas karena sering menimbulkan gangguan lambung usus, terutama dyspepsia dan diare hebat. Tidak dianjurkan untuk anak-anak Dosis : pada nyeri akut, permulaan 500 mg d.c/p.c, kemudian 3-4 dd 250 mg selama maksimal 7 hari. b Deksametasone lebih kurang 6x lebih kuat dari kortisol (1958). Zat ini menekan adrenal relative kuat, maka resiko insufiensi juga agak besar. Secara topical digunakan sebagai tetes mata/ telinga (fosfat 0,1%), juga dikombinasikan dengan antibiotika. Perbandingan efeknya : 0,65 mg deksamethasone = 20 mg hidrokortison. Dosis : oral semula 0,5-9 mg sehari sesudah makan pagi,

pemeliharaan 0,5-1 mg sehari. Pada shock i.v 100-300 mg larutan Nafosfat. c. Piroksikam Peroksikam berkhasiat analgetik, antipiretik dan antiradang kuat dan lama (plasma t nya rata-rata 50 jam). Obat ini sering digunakan, juga untuk nyeri haid dan serangan encok. Dosis : oral, rektal dan i.m. 1 dd 20 mg (d.c/ p.c), dysminore primer 1dd 40 mg selama 2 hari, lalu bila perlu 1 dd 20 mg. pada serangan encok permulaan 40 mg, lalu 2 dd 20 mg selama 4-6 hari.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Farmakologi Dan Terapi edisi 4. Gaya Baru: Jakarta. Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi Edisi 6. EGC: Jakarta. Priyanto. 2010. Farmakologi Dasar Untuk Mahasiswa Farmasi & Keperawatan. Leskonfi : Jakarta. Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2002. Obat- Obat Penting. Gramedia: Jakarta

13