Anda di halaman 1dari 4

INDONESIA DI LEMBAH RESESI DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM

MELAWAN RESESI SELAMA PANDEMI COVID-19

Pengertian Resesi Ekonomi


Kata “resesi” berarti kelesuan atau kemerosotan. Resesi ekonomi diartikan sebagai kondisi di
mana pendapatan nasional suatu negara mengalami kemerosotan atau kondisi di mana Produk
Domestik Bruto (PDB) suatu negara mengalami penurunan atau pertumbuhan ekonomi riil
bernilai negatif selama dua kuartal atau enam bulan secara berturut-turut atau lebih dari satu
tahun. Resesi mengakibatkan penurunan secara serentak atau simultan pada setiap aktivitas di
sektor ekonomi. Seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi
memberikan dampak domino pada masing-masing kegiatan ekonomi. Ketika sektor-sektor
ekonomi tadi mengalami penurunan, maka tingkat produksi atas suatu produk atau komoditas
juga akan menurun. Dampaknya, tingginya angka pengangguran kerja akibat pemutusan
hubungan kerja. Selanjutnya, kondisi tersebut mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat
karena pendapatan yang menurun bahkan masyarakat kehilangan pendapatannya.

Indonesia dan Resesi Selama Pandemi

Pandemi Covid-19 telah meluluh lantakkan segala sektor khususnya sektor perekonomian di
Indonesia sepanjang tahun 2020 hingga 2021. Perekonomian Indonesia telah resmi masuk ke
zona resesi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan kinerja pada kuartal III tahun
2020. Pada periode tersebut, ditandai dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Republik
Indonesia terkontraksi mencapai minus 3,49% secara tahunan. Pada kuartal sebelumnya,
ekonomi Indonesia minus 5,32% year on year. Setelah dalam dua kuartal berturut-turut
pertumbuhan PDB tercatat negatif, maka ekonomi Indonesia dinyatakan resmi mengalami
resesi.

Dampak Pandemi Covid-19 pada Perekonomian Indonesia

1. Indonesia Masih Resesi

Sejak terjadinya pandemi ini, ekonomi Indonesia terus-terusan berada di zona negatif. Di
kuartal II-2020, ekonomi RI langsung jeblok hingga -5,32%, di kuartal III-2020 mulai terjadi
perbaikan menjadi -3,49% tapi masih berada di zona negatif, di kuartal IV-2020 pun
demikian meski membaik menjadi -2,19% tapi tetap saja belum berhasil mencatatkan
pertumbuhan yang positif. Masing-masing mobilitas penduduk ke pusat perbelanjaan turun

1
23%, ke perkantoran turun -29%. Terbatasnya pergerakan penduduk membuat sektor retail
terpukul, industri manufaktur lakukan PHK massal dan jasa transportasi serta pariwisata
alami resesi berkepanjangan. Realisasi itu menunjukkan bahwa Indonesia belum mampu
keluar dari jurang resesi. Hal ini terjadi karena pergerakan manusia belum kembali seperti
sebelum adanya pandemi Covid-19. Terlebih lagi, melonjaknya kasus corona akhir-akhir ini
yang membuat pemerintah harus melakukan PPKM membuat perekonomian Indonesia
semakin terpuruk.

2. Ekonomi Indonesia Jatuh ke Level Terendah

Sepanjang tahun 2020 kemarin, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi hingga -3,49%, ini
merupakan pertumbuhan terendah dalam setidaknya 20 tahun terakhir. Hingga saat ini
pandemi ini juga membuat jumlah pengangguran Indonesia semakin lama kian membludak.
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) per 7 April 2020, akibat
pandemi Covid-19, tercatat sebanyak 39.977 perusahaan di sektor formal yang memilih
merumahkan, dan melakukan PHK terhadap pekerjanya.

3. Kemiskinan Melonjak

Karena pengangguran meningkat, pendapatan masyarakat pun juga berkurang. Hal ini
kemudian berdampak pada peningkatan jumlah penduduk miskin di Indonesia. Jumlah
penduduk miskin pada September 2020 sebesar 27,55 juta orang, meningkat 1,13 juta orang
terhadap Maret 2020 dan meningkat 2,76 juta orang terhadap September 2019. Dampak ini
pun bisa mengarah ke target Indonesia untuk menjadi negara maju (keluar dari middle
income trap) menjadi semakin menantang, karena dibutuhkan pertumbuhan ekonomi dengan
rata-rata 7-8% dalam 10 hingga 20 tahun ke depan. (hasil survey atau pengamatan ini
berdasarkan hasil penelitian dari Ekonom Institute for Development of Economics and
Finance (INDEF) )

Kebijakan Pemerintah Indonesia Melawan Resesi

Selama pandemi ini, tentunya pemerintah Indonesia telah melakukan upaya-upaya dan
kebijakan dalam melawan resesi ini untuk bangkit dari keterpurukan perekonomian. Menurut
salah satu perdebatan mengenai kebijakan pemerintah dalam melawan resesi dari enam
perdebatan mengenai kebijakan makroekonomi, apakah Indonesia menggunakan kebijakan
melawan resesi dengan kenaikan belanja ataukah kebijakan melawan resesi dengan
pemotongan pajak?

2
a) Pemerintah Indonesia Melawan Resesi dengan Meningkatkan Belanja

Ekonomi itu akan meningkat apabila daya serap atau daya belinya tinggi. Pasar yang sukses
dalam menciptakan regulasi itu adalah pasar yang mampu menciptakan daya beli yang tinggi.
Karena Regulasi Daya beli itu memberikan pengaruh sekitar 60% terhadap naiknya sebuah
ekonomi. Dalam membangkitkan perekonomian Indonesia dari sepanjang tahun 2020 hingga
saat ini tahun 2021, pemerintah tetap melanjutkan program pemulihan ekonomi nasional
(PEN). Melalui PEN ini, diharapkan dapat mendorong daya beli masyarakat sekaligus untuk
memperluas penciptaan lapangan kerja di Indonesia. Strategi PEN di tahun 2021 akan
difokuskan pada empat kegiatan. Pertama, belanja kesehatan, termasuk pengadaan
testing,obat-obatan,alat kesehatan,insentif tenaga kesehatan dan rumah sakit,serta
memastikan ketersediaan vaksin. Kedua, melanjutkan stimulus fiscal,baik
kementrian/Lembaga maupun non kementrian/Lembaga pada sektor-sektor yang memberi
dampak multiplier tinggi terhadap penciptaan lapangan kerja maupun pertumbuhan ekonomi.
Ketiga, belanja pemerintah akan diarahkan kepada pembelian barang yang diproduksi dalam
negeri sehingga dapat memberikan dampak besar terhadap permintaan barang dalam negeri.
Keempat, belanja bantuan sosial,program cash of work,program sembako,PKH,subsidi tenaga
kerja baik sektor formal maupun informal,sehingga dapat menambah daya beli kelompok
berpenghasilan rendah yang selanjutnya dapat mendorong konsumsi masyarakat. Di sisi
moneter, Gubernur Bank Indonesia secara khusus menekankan lima kebijakan untuk
memperkuat pemulihan ekonomi nasional,yaitu pembukaan sektor produktif dan
aman,percepatan realisasi stimulus fiskal,peningkatan kredit/pembiayaan pada dunia
usaha,keberlanjutan stimulus moneter dan makroprudensial,serta digitalisasi ekonomi dan
keuangan,khususnya UMKM.

b) Pemerintah Indonesia Melawan Resesi dengan Pemotongan Pajak

Selain dengan meningkatkan belanja,pemerintah Indonesia juga melakukan pemotongan


pajak dalam upaya melawan resesi. Pemerintah turut menerapkan penurunan tarif umum PPh
Badan yang semula 25%, menjadi 22% untuk tahun pajak 2020 dan 2021, lalu menjadi 20%
pada tahun pajak 2022. Sedangkan untuk perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbuka
dengan jumlah keseluruhan saham yang diperdagangkan di bursa efek di Indonesia paling
sedikit 40%, dan memenuhi syarat tertentu, dapat memperoleh tarif 3% lebih rendah dari tarif
umum PPh Badan. Hal ini dapat merangsang investasi,merangsang investasi merupakan salah

3
satu kunci untuk mengakhiri resesi. Pemerintah yang membuat kebijakan dapat menargetkan
investasi khususnya dengan kebijakan pajak yang didesain dengan baik.

Nama : Syifa Annisa

NIM : 141200201

Materi Presentasi : 6 Perdebatan Mengenai Kebijakan Makroekonomi

Essai “INDONESIA DI LEMBAH RESESI DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH


DALAM MELAWAN RESESI SELAMA PANDEMI COVID-19”