Anda di halaman 1dari 48

PENDAHULUAN

A. Petunjuk Belajar
1. Bacalah dan pahami dengan seksama uraian materi yang disajikan dalam modul ini.
Bila terpaksa masih ada materi yang kurang jelas dan belum bisa dipahami dapat
ditanyakan kepada guru yang mengampu mata kuliah tersebut.
2. Apabila dalam kenyataannya dalam belajar siswa belum menguasai materi pada level
yang diharapkan, coba ulangi membaca dan bertanya kepada guru yang mengampu
mata kuliah tersebut.

B. Tujuan Pembelajaran Umum


1. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian pengukuran, klasifikasi pengukuran dan
macam-macam alat pengukuran
2. Mahasiswa dapat menjelaskan prosedur penggunaan alat ukur otomotif.
3. Mahasiswa dapat menjelaskan prosedur pengukuran dengan benar.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 1


POKOK BAHASAN I
PENGERTIAN PENGUKURAN

A. Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berhadapan dengan benda hidup dan benda mati.
Suatu saat kita kadang-kadang harus mengkomunikasikan sesuatu obyek, baik obyek hidup
(bergerak) maupun obyek mati (diam) kepada orang lain. Seandainya informasi tentang
obyek yang kita komunikasikan itu kurang lengkap maka orang yang menerima informasi
sangat dimungkinkan untuk bertanya lebih jauh lagi. Misalnya kita mengkomunikasikan besar
dan beratnya sebuah batu, cepatnya lari seseorang, jauhnya perjalanan, panasnya suatu benda
dan sebagainya. Orang yang menerima informasi tentu akan bertanya lebih jauh lagi tentang
seberapa beratnya batu tersebut, berapa kecepatan lari orang tersebut, seberapa jauh
perjalanan yang ditempuh, seberapa tinggi panas benda tersebut, dan sebagainya. Pertanyaan
ini sangat dimungkinkan timbul apabila obyek yang dikomunikasikan tidak dilengkapi
dengan obyek pelengkap. Obyek pelengkap ini biasanya dinyatakan dalam bentuk ukuran dan
satuan sehingga obyek yang diinformasikan mempunyai arti lebih luas. Misalnya, batu
tersebut beratnya satu ton, kecepatan larinya sekitar 1 kilometer per jam, jalan yang sudah
ditempuh sekitar 2 kilometer, panas badannya sekitar 40 derajat Celcius, dan sebagainya.
Dengan demikian peranan obyek pelengkap sebagai penambah keterangan dari obyek yang
diinformasikan memang sangat penting.

Sebetulnya, dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berhadapan dengan sesuatu yang
sifatnya harus diukur. Setiap saat kita harus memperhatikan waktu, setiap saat kita harus
memperhatikan jarak atau panjang sesuatu, saat-saat tertentu kita harus memperhatikan berat
sesuatu, setiap saat kita merasakan panas (suhu) sekitar, dan sebagainya. Dengan kata lain
bahwa pada dasarnya dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari apa yang
dinamakan pengukuran. Penggunaan kata pengukuran disini dikhususkan pada masalah
pengukuran hasil-hasil industri yang menyangkut masalah pengukuran bentuk, pengukuran
kehalusan permukaan, dan yang terbanyak adalah pengukuran dimensi (ukuran) dari suatu
produk.

Kini kita berada pada era yang serba otomatis, kemajuan dan perkembangan teknologi
menghasilkan barang-barang atau produk yang sangat bagus bentuknya, canggih

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 2


konstruksinya, dan presisi ukurannya. Salah satu dari sekian banyak hasil kemajuan teknologi
itu misalnya alat untuk mengukur, dalam hal ini mengukur hasil-hasil industri atau pabrik.
Dengan alat ukur yang serba canggih ini kita dapat mengukur semua hasil produksi maupun
benda lain disekitar kita dengan cara yang mudah dan tepat. Bahkan benda yang tidak dapat
dilihat misalnya suara, dapat diukur kecepatannya maupun getarannya. Ini semua karena
adanya perkembangan peradaban manuasia yang semakin maju yang setiap saat selalu
berusaha menghasilkan sesuatu yang baru dengan memanfaatkan kekayaan alam. Akan tetapi,
bila kita menengok sejenak ke belakang, ke zaman purba, timbul pertanyaan: apakah yang
dilakukan oleh manusia pada masa itu untuk menyelesaikan masalah pengukuran? Untuk itu,
ada baiknya pula dilihat lagi sedikit sejarah tentang beberapa bangsa yang telah menangani
masalah pengukuran terutama pengukuran panjang yang mempunyai dimensi bentuk yang
bermacam-macam

Mengukur merupakan aktivitas sederhana, tetapi sangat penting dalam kehidupan kita
sehari-hari. Mengukur adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang
lain yang dipakai sebagai ukuran. Sesuatu yang diukur tersebut dinamakan besaran dan
ukuran pembandingnya disebut satuan.

Pengukuran dalam bidang otomotif adalah menyangkut pengukuran linier atau


pengukuran panjang (jarak). Diameter poros, diameter silinder, tinggi nok, kedalaman alur
ring piston merupakan contoh dari dimensi panjang (linier). Untuk itu perlu dipelajari
bagaimana cara mengukurnya dan alat-alat ukur apa saja yang dapat digunakan untuk
mengukurnya

Yang dimaksud dengan alat ukur di sini adalah alat yang dipergunakan untuk mengukur
secara presisi, yang diperlukan di dalam kita melakukan pekerjaan pemeliharaan dan
perbaikan otomotif khususnya dan peralatan teknik atau pekerjaan logam lainnya. Alat ukur
yang banyak dipergunakan di otomotif dapat diklasifikasikan menjadi 3 kategori, yaitu alat
ukur mekanis; alat ukur pneumatic; alat ukur elektris dan elektronis.

Mengukur adalah proses membandingkan ukuran (dimensi) yang tidak diketahui


terhadap standart ukuran tertentu. Alat ukur yang baik merupakan kunci dari proses produksi
massal. Tanpa alat ukur, elemen mesin tidak dapat dibuat cukup akurat. Pada waktu merakit,
komponen yang dirakit harus sesuai satu sama lain. Pada saat ini, alat ukur merupakan alat
penting dalam proses pemesinan dari awal pembuatan sampai dengan kontrol kualitas di akhir
produksi .

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 3


B. Istilah-istilah Penting Dalam Pengukuran
Kita ambil satu contoh dari pembuatan suatu produk yang dalam pembuatannya juga
dilakukan proses pengukuran yang sangat sederhana, misalnya pembuatan kursi dari bahan
kayu. Bahan dipotongpotong sesuai dengan ukuran yang dikehendaki lalu diukur dengan
meteran biasa. Kehalusan hanya dirasakan dengan rabaan tangan. Kesikuan hanya ditentukan
dengan penyiku biasa. Kemudian potongan-potongan tadi dirakit menjadi sebuah kursi.
Dalam perakitan ternyata ada beberapa potongan yang perakitannya harus di pukul atau
dipaksa, ada juga yang terlalu longgar dan ada juga yang betul-betul pas. Kesikuan dari
perakitan antara potongan satu dengan potongan yang lain ternyata ada yang betul-betul siku
(sudut kesikuan 900 ), ada yang lebih kecil dari pada 900 dan ada pula yang lebih besar
daripada 900 . Dengan bantuan pasak-pasak penguat akhirnya kursi tersebut pun bisa
digunakan. Ini hanya pembuatan sebuah kursi yang walaupun tidak terlalu tergantung pada
kelonggaran maupun kesesakan dari pasangan dua komponen dan juga tidak terlalu
tergantung pada kesikuan pasangan dua komponen namun, masih tetap dapat dihasilkan
sebuah kursi yang bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini disebabkan bahan yang digunakan hanya dari kayu dan penggunaannya pun tidak
dituntut ukuran yang presisi. Sekarang, bagaimana kalau bahan yang digunakan untuk
membuat produk itu akan digunakan dalam permesinan serta proses pembuatannya juga harus
dengan mesin? Kalau dalam proses pembuatannya tidak memperhatikan masalah kelonggaran
dan kesesakan serta kehalusan komponen, maka dapat dipastikan bahwa hasil atau produk
yang dibuat kurang presisi. Disamping itu proses perakitannya juga mengalami kesulitan dan
produk yang dibuat tidak bisa bertahan lama apabila digunakan atau bahkan tidak bisa
digunakan sama sekali. Ini berarti efektifitas dan efisiensi dari suatu produksi tidak terpenuhi.
Untuk dapat menghasilkan produk yang presisi maka harus mematuhi ketentuan-ketentuan
yang berlaku yang biasanya kebanyakan ketentuan tersebut dicantumkan dalam gambar
teknik. Disamping itu juga harus memperhatikan pula prinsip-prinsip yang ada dalam
masalah pengukuran. Ada beberapa istilah yang sering terkait dalam masalah pengukuran
antara lain yaitu: ketelitian, ketepatan, ukuran dasar, toleransi, harga batas, kelonggaran.
1. Ketelitian (Accuracy)
Kata teliti dalam dunia keteknikan mempunyai dua arti. Pertama, teliti yang dikaitkan
dengan apakah hasil suatu pengukuran persis atau mendekati sama dengan ukuran yang sudah
ditentukan. Misalnya, pada tangkai bor biasanya dicantumkan ukuran diameter bor tersebut.
Lalu kita ingin mengecek ukuran tersebut dengan menggunakan mikrometer. Setelah diukur
ternyata diperoleh hasil yang sama persis dengan ukuran yang ada pada tangkai bor tersebut.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 4


Keadaan seperti ini dinamakan dengan istilah teliti. Kedua, teliti yang dikaitkan dengan
proses pengukuran itu sendiri. Misalnya, seseorang mencoba mengecek ukuran diameter bor
yang besarnya tertera pada tangkai bor tersebut. Alat yang yang digunakan adalah mistar baja.
Setelah diletakkannya pada ujung tangkai bor tersebut kemudian dibaca skalanya, ternyata
hasil pembacaan menunjukan bahwa diameter bor tersebut lebih besar tiga skala dari pada
mistar baja. Lalu orang yang mengukur tadi berkesimpulan bahwa ukuran yang tercantum
pada tangkai bor tersebut adalah salah.
Dari contoh ini dapat dikatakan bahwa proses pengukuran tersebut tidak teliti dikarenakan
penggunaan alat ukur yang kurang tepat dan mungkin masih di tambah lagi dengan prosedur
pengukuran yang tidak tepat pula. Jadi, dari kedua contoh diatas dapat disimpulkan bahwa
kata teliti selalu dikaitkan dengan hasil pengukuran yang mengacu pada ukuran benda yang
diukur. Makin dekat atau kalau mungkin persis sama antara hasil pengukuran dengan harga
dari benda yang diukur, maka hal ini dikatakan semakin teliti atau dengan kata lain
ketelitiannya tinggi. Perbedaan antara hasil pengukuran dengan ukuran dari benda ukur
biasanya disebut dengan istilah kesalahan sistematis (systematic error). Semakin kecil
kesalahan sistematis ini maka proses pengukuran yang dilakukan seseorang semakin teliti.
2. Ketepatan (Precision)
Untuk memberikan gambaran mengenai kata ketepatan ini dapat diambil contoh yang
sangat sederhana berikut ini. Misalnya, seseorang menembak satu sasaran seratus kali dengan
pistol dan cara menembak yang identik, ternyata dari seratus kali tembakan tersebut sembilan
puluh lima kali diantaranya mengenai sasaran. Dari contoh ini dapat dikatakan bahwa orang
tersebut memiliki ketepatan yang tinggi dalam menembak. Demikian pula halnya dengan
proses pengukuran. Apabila seseorang melakukan pengukuran terhadap suatu obyek dengan
cara berulangulang dan diperoleh hasil yang hampir sama dari masing-masing pengukuran
bila dibandingkan harga rata-rata pengukuran yang berulang-ulang tersebut, maka dikatakan
proses pengukuran itu mempunyai ketepatan yang tinggi.
Dasar untuk menentukan apakah ketepatan proses pengukuran itu tinggi atau rendah
adalah besarnya kesalahan yang timbul yang dalam hal ini lebih dikenal dengan istilah
“kesalahan rambang”. Jadi, dapat diulangi lagi disini bahwa suatu proses pengukuran
dikatakan mempunyai ketepatan yang tinggi apabila pengukuran itu dilakukan secara
berulangulang dan sama dimana hasil dari masing-masing pengukuran tadi mendekati sama
dengan harga rata-rata dari keseluruhan hasil pengukuran tersebut.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 5


3. Ukuran Dasar (Basic Size)
Ukuran dasar merupakan dimensi atau ukuran nominal dari suatu obyek ukur yang secara
teoritis dianggap tidak mempunyai harga batas ataupun toleransi. Walaupun harga sebenarnya
dari suatu obyek ukur tidak pernah diketahui, namun secara teoritis ukuran dasar tersebut
diatas dianggap sebagai ukuran yang paling tepat. Dalam gambar teknik akan nampak jelas
dimana letak dari ukuran dasar tersebut yang biasanya dinyatakan dalam bentuk bilangan
bulat. Dan kebanyakan pula ukuran dasar ini dipakai untuk mengkomunikasikan benda-benda
yang berbentuk silindris melalui gambar teknik. Jadi ada istilah poros (shaft) dan istilah
lubang (hole). Akan tetapi, tidak semua benda akan berbentuk poros dan lubang. Kalau
demikian apakah penggunaaan istilah ukuran dasar ini bisa juga diterapkan pada bidang-
bidang datar? Untuk ini dapat diganti istilah poros dan lubang dengan istilah-istilah ruangan
padat dan ruangan kosong yang berarti ada pembatasan dari dua bidang singgung, misalnya
tebal dari pasak dan lebar dari alur.
4. Toleransi (Tolerance)
Toleransi memberi arti yang sangat penting sekali dalam dunia industri. Dalam proses
pembuatan suatu produk banyak faktor yang terkait didalamnya, misalnya faktor alat dan
operator. Oleh karena itu ukuran yang diperoleh tentu akan bervariasi. Variasi ukuran yang
terjadi ini di satu pihak memang disengaja untuk dibuat, sedang dipihak lain adanya banyak
faktor yang mempengaruhi proses pembuatannya.
Dalam hal variasi ukuran yang sengaja dibuat ini sebetulnya ada tujuan-tujuan tertentu
yang salah satunya adalah untuk memperoleh suatu produk yang berfungsi sesuai dengan
yang direncanakan. Sudah tentu variasi-variasi ukuran ini ada batasnya dan batas-batas ini
memang diperhatikan betul menurut keperluan. Batas-batas ukuran yang direncanakan
tersebut menunjukkan variasi ukuran yang terletak diatas dan dibawah ukuran dasar (basic
size). Dengan adanya variasi harga-harga batas ini maka komponen-komponen yang dibuat
dapat dipasangkan satu sama lain sehingga fungsi dari satuan unit komponen tersebut
terpenuhi.
Dari penjelasan diatas maka dapat dikatakan bahwa toleransi merupakan perbedaan ukuran
dari kedua harga batas yang diizinkan sehingga dari perbedaan ukuran ini dapat diketahui
dimana ukuran dari komponen-komponen yang dibuat itu terletak. Besarnya toleransi
merupakan selisih dari ukuran maksimum dan ukuran minimum. Jadi, dari benda yang
berbentuk poros mempunyai toleransi dan dari benda yang berbentuk lubang juga mempunyai
toleransi yang besarnya toleransi dari kedua benda tersebut tidak selalu sama.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 6


Penentuan besarnya toleransi sudah barang tentu harus memperhatikan segi-segi positif
dan kegunaan dari komponen yang akan dibuat. Makin presisi suatu komponen dibuat maka
besarnya toleransi juga makin kecil. Makin kecil toleransi yang harus dibuat maka makin
kompleks pula proses pembuatannya, apalagi bila besarnya toleransi mendekati nol. Makin
kompleks proses pembuatan suatu komponensudah tentu akan mempengaruhi pula pada biaya
yang harus dikeluarkan.
Cara penulisan dari toleransi pada gambar teknik ada beberapa macam. Dapat dilihat
dibawah ini beberapa contoh penulisan toleransi.

Gambar 1. Penulisan Toleransi dengan mencantumkan ukuran maksimum dan minimum secara
langsung

Gambar 2. Penulisan toleransi dengan mencantumkan ukuran dasar dan harga-harga


penyimpanganya.

Gambar 3. Penulisan toleransi dimana besarnya toleransi terletak simetris terhadap ukuran dasar.

Gambar 4. Penulisan toleransi menurut standar ISO

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 7


5. Harga Batas (Limits)
Harga batas adalah ukuran atau dimensi maksimum dan minimum yang diizinkan dari
suatu komponen, di atas dan di bawah ukuran besar (basic size). Pada pembahasan mengenai
statistik dalam metrologi harga batas ini akan dibagi menjadi dua yaitu harga batas atas dan
harga batas bawah.
6. Kelonggaran (Clearance)
Kelonggaran merupakan perbedaan ukuran antara pasangan suatu komponen dengan
komponen lain di mana ukuran terbesar dari salah satu komponen adalah lebih kecil dari pada
ukuran terkecil dari komponen yang lain. Contoh yang paling jelas misalnya pasangan antara
poros dan lubang. Kelonggaran akan terjadi pada pasangan poros dan lubang tersebut apabila
dimensi terluar dari poros lebih kecil dari pada dimensi terdalam dari lubang. Pembahasan
kelonggaran ini akan disinggung lagi dalam pembahasan masalah suaian.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 8


POKOK BAHASAN II
SISTEM DAN STANDAR PENGUKURAN

A. Pengertian
Teknologi perindustrian makin lama makin berkembang. Masing-masing negara yang
memiliki industri besar berusaha meningkatkan produktivitas perindustriannya dengan tujuan
hasil perindustrian tersebut bisa digunakan oleh negara-negara lain. Dalam usaha
meningkatkan produk industri ini, timbul pula usaha untuk menyempurnakan sistem dan
standar pengukuran. Salah satu negara yang terkenal dengan perkembangan pengukuran
adalah Perancis. Pada sekitar tahun 1791, Paris Academic of Science mengenalkan suatu
sistem pengukuran mendasarkan pada satuan meter dan kilogram. Baru pada 20 Mei 1875,
suatu badan Internasional yang bernama International Metric Convention bekerja sama
dengan International Bureau of Weight and Measures, melakukan penyeragaman dan
pembenahan diri sistem pengukuran yang hingga sekarang terkenal dengan nama sistem
metrik (metric system).
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam dunia perindustrian saat ini
ada dua sistem pengukuran yang digunakan yaitu sistem metric dan sistem inchi (english
system). Satu persatu dari sistem tersebut akan dibicarakan pada pembahasan berikut ini.
1. Sistem Metrik (Metric System)
Sistem metrik telah dikembangkan oleh para ilmuwan Perancis sejak tehun 1790-an.
Sistem ini mendasarkan pada meter untuk pengukuran panjang dan kilogram untuk
pengukuran berat. Dari satuan meter dan kilogram ini kemudian diturunkan unit satuan lain
untuk mengukur luas, volume, kapasitas, dan tekanan.
Pada mulanya satu meter ini panjangnya diperkirakan sama dengan sepersepuluh juta dari
kuadrant meredian bumi. Berdasarkan pengamatan lebih lanjut ternyata persamaan tersebut
kurang tepat. Lalu dibuatlah standar meter dari bahan platinum-iridium yang kemudian
dikenal dengan sebutan Prototip Meter Internasional (International Protoype Meter). Sejak
tahun 1960, oleh General Conference of Weights and Measures (CGPM), satu meter
didefinisikan sebagai satuan panjang yang panjangnya adalah sama dengan 1650763,73 kali
panjang gelombang radiasi atom Krypton 86 dalam ruang hampa dan ini timbul karena
adanya perubahan tingkatan energi antara 2p10 dan 5d5. Sedangkan satu kilogram
didefinisikan sebagai masa dari satu decimeter kubik air destilasi pada kekentalan (density)

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 9


maksimum yaitu pada temperatur 4° C. Dari dasar inilah kemudian dibuatkan prototipnya
yaitu Prototip Kilogram Internasional (International Prototype Kilogram). Kedua prototip di
atas yaitu prototip meter dan prototip kilogram semuanya disimpan di suatu tempat yang
bernama Sevres, Perancis, dan dipelihara oleh suatu badan yang bernama International
Bureau of Weights and Measures. Ada pula satuan untuk unit lain yaitu yang disebut liter (l).
Liter adalah unit untuk kapasitas yang didasarkan atas standar masa. Definisinya adalah: satu
liter kira-kira sama volume yang dimiliki oleh air putih yang masanya satu (1) kilogram.
Volume ini mendekati satu (1) decimeter kubik, persamaan yang sesungguhnya adalah: 1 liter
= 1000.028 centimeter kubik. Jadi, satu liter lebih besar sedikit dari pada satu decimeter
kubik. Untuk maksud-maksud tertentu kelebihan itu bisa diabaikan. (Menurut perhitungan
awal yang dilakukan oleh International Bureau of Weights and Measures, didapatkan bahwa 1
liter = 1000.027 centimeter kubik).
Sekarang sistem ini banyak digunakan oleh hampir semua negara industri, baik industri
yang sudah maju maupun industri yang baru berkembang. Akan tetapi, ada juga beberapa
negara yang industrinya sudah maju namun masih tetap menggunakan sistem pengukuran
yang bukan sistem metrik, misalnya Amerika dan Kanada. Negara-negara ini, sebagian besar
industrinya masih menggunakan sistem pengukuran inchi (English System). Kita tahu bahwa
Amerika dan Kanada merupakan negera industri maju yang produk-produk industrinya sudah
dikenal dan digunakan orang sejak lama. Timbul pertanyaan, mengapa negaranegara tersebut
di atas masih mempertahankan sistem inchi? Alasan yang bisa diterima tentunya masalah
biaya. Untuk mengubah suatu sistem pengukuran yang sudah mantap menjadi suatu sistem
yang belum pernah digunakan sama sekali tentu membutuhkan biaya, dan tentunya masih ada
pertimbangan-pertimbangan lain. Meskipun demikian, lambat laun negara-negara yang masih
menggunakan sistem inchi tentu akan mempertimbangkan untuk menggunakan sistem metrik
dalam perindustriannya.
Sebetulnya, kalau dikaji lebih jauh, sistem metrik ini mempunyai banyak keuntungan
dibandingkan sistem inchi. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain yaitu:
1. Konversinya lebih mudah, perhitungannya juga lebih mudah dan cepat karena
berdasarkan kelipatan sepuluh, dan terminologinya lebih mudah dipelajari.
2. Dunia perdagangan dari negara-negara industri sebagian besar menggunakan sistem
metrik sehingga hal ini memungkinkan terjadinya hubungan kerja sama antara industri
satu dengan lainnya karena sistem pengukuran yang digunakan sama. (Ingat prinsip
dasar industri untuk menghasilkan komponen yang mempunyai sifat mampu tukar).
2. Sistem Inchi (English System)

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 10


Sistem inchi, secara garis besar berlandaskan pada satuan inchi, pound dan detik sebagai
dasar satuan panjang, massa dan waktu. Kemudian berkembang pula satuan-satuan lain
misalnya, yard, mil, ounce, gallon, feet, barrel, dan sebagainya. Pada umumnya sistem inchi
yang digunakan di Inggris (British Standard) dan di Amerika (National Bureau of Standards)
adalah tidak jauh berbeda. Hanya pada hal-hal tertentu ada sedikit perbedaan. Misalnya satu
ton menurut British Standar adalah sama dengan 2240 pound, sedangkan di Amerika satu ton
adalah sama dengan 2000 pound; satu yard Amerika = 3937/3600 meter, sedangkan satu yard
menurut British Imperial sama dengan: 3937014/3600000 meter; dan contoh yang lain lagi
satu pound menurut British Imperial sama dengan 0.4535924277 kilogram, sedangkan satu
pound menurut British Imperial sama dengan 0.45359234 kilogram. Itulah beberapa contoh
dari perbedaan besarnya satuan yang dipakai oleh National Bureau of Standard dan British
Standard. Standar utama (primary standard) untuk panjang yang digunakan
Standar utama (primary standard) untuk panjang yang digunakan oleh industri-industri di
Amerika adalah United States Prototype Meter 27. Prototip ini merupakan standar garis (line
standard) yang terbuat dari 90% platinum dan 10% iridium, dan mempunyai penampang yang
berbentuk X. Batang ukur panjang (length bar) ini disimpan di National Bureau of Standards
di Washington. Dasar untuk menentukan standar panjangnya bermacam-macam. National
Bureau of Standards telah menetapkan bahwa panjang gelombang radiasi hijau dari isotop
mercury 198 sebagai dasar yang fundamental untuk ukuran panjang yang berbeda dengan
dengan International Protoype Meter. Kalau dibandingkan dengan standar meter maka
didapat bahwa 1 inchi = 0.0254 meter. Dalam pemakaiannya di industri-industri ada dua
macam skala yaitu skala decimal dan skala pecahan. Misalnya, 0.0001 inchi (decimal) dan
1/128 (pecahan atau fractional). Untuk pengukuranpengukuran presisi banyak digunakan
skala decimal, misalnya 0.1, 0.01, 0.0001, sampai 0.000001 inchi. Untuk skala pecahan yang
banyak digunakan adalah 1/128, 1/64, 1/32, 1/20, 1/16, 1/8, ¼, dan ½ inchi. Untuk satuan-
satuan yang lain: 1 foot = 12 inchi, 1 yard = 36 inchi = 3 feet, 1 mil = 5280 feet.
Sedangkan standar utama (primary standard) untuk massa yang berlaku di Amerika adalah
United States Prototype Kilogram 20, terbuat dari platinum iridium dan dipelihara oleh
National Bureau of Standards. Dalam praktek sehari-hari satuan massa yang digunakan
adalah pound yang disesuaikan dengan Prototype Kilogram 20. Sejak tahun 1893 satu pound
ini ditetapkan sama dengan 0.4535924277 kilogram. Dalam sistem inchi ini dikenal juga
adanya istilah ton.
Dengan demikian, dalam dunia perdagangan dan industri sekarang ini terdapat dua sistem
pengukuran yaitu sistem metrik dan sistem inchi. Meskipun sistem metrik digunakan oleh

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 11


sebagian besar negara industri, namun ada baiknya pula mempelajari sistem inchi. Hal ini
disebabkan masih ada industri-industri besar misalnya di Amerika dan Kanada yang
menggunakan sistem inchi dan semua hasil-hasil produksinya tersebar di berbagai negara.
Sebagian besar obyek yang diukur dalam industri permesinan adalah menyangkut panjang
dengan berbagai bentuk. Oleh karena itu, konversi dari satuan metrik ke inchi atau inchi ke
metrik perlu juga dipelajari.
3. Konversi Antara Metrik dan Inchi
Karena sejak semula sistem metrik dan sistem inchi maka tidak ada hubungan yang jelas
antara kedua sitem itu dalam pengukuran panjang. Untuk itu perlu dilakukan konversi dari
metrik ke inchi atau dari inchi ke metrik. Ada tiga (3) macam konversi yang sudah dilakukan
yaitu: a. konversi secara matematika, b. konversi melalui tabel (chart), dan c. konversi dial
mesin (convertion dial).
a. Konversi secara matematika
Konversi inchi ke metrik secara matematika diperlukan faktor konversi. Caranya adalah
sebagai berikut:
1 yard = 3937/3600 meter = 0.914440
1 yard = 36 inchi, berarti:
1 inchi = 1/36 x 0.91440 meter = 0.025400
Kita tahu bahwa 1 meter = 1000 milimeter
Maka: 1 inchi = 0.025400 x 1000meter = 25.40000 mm (faktor konversi)
b. Konversi dengan chart
Konversi ini berupa tabel yang ada angka-angka konversinya. Sehingga mudah untuk
menggunakannya karena tinggal melihat tabel saja. Dan tabel atau chart ini banyak
terdapat di pabrik-pabrik. Contohnya dapat dilihat tabel 1 dibawah ini.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 12


Tabel 1. Konversi metrik ke inchi

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 13


c. Konversi Dial Mesin
Konversi ini dilakukan pada dial yang terdapat pada mesin-mesin produksi, misalnya
mesin bubut, frais dan sebagainya. Dengan demikian satu unit mesin dapat digunakan
untuk membuat komponen-komponen baik yang ukurannya dalam inchi maupun yang
ukurannya dalam metrik.
4. Standar Pengukuran
Yang paling banyak dijumpai dalam pengukuran adalah pengukuran panjang (linear).
Bahkan sudutpun bisa diukur dengan kombinasi pengukuran linier. Untuk dapat melakukan
pengukuran tersebut diperlukan standar. Dalam pengukuran dikenal ada tiga macam standar
yaitu: a. standar garis, b. standar ujung, dan c. standar gelombang.
a. Standar garis
Prinsip pelaksanaan pengukuran dengan standar garis ini adalah berdasar pada jarak
yang dibuat antara dua garis paralel, seakan-akan perhitungan ditentukan dari satu garis
menuju ke garis yang lainnya. Contoh dari standar garis ini misalnya standar yard dan
meter.
Standar garis ini dibagi menjadi empat (4) sub divisi lagi. Hal ini mengingat
pentingnya standar master meter dan yard yang tidak bisa digunakan untuk sembarang
keperluan. Keempat sub divisi standar garis tersebut adalah: standar primer, standar
sekunder, standar tertier, dan standar kerja.
1) Standar primer
Standar Primer (Primary Standard) Merupakan standar utama, misalnya standar meter
dan yard. Jumlahnya hanya satu, tetap terkontrol dalam keadaan tertentu dan
penggunaannya yang jarang sehingga kepresisiannya terpelihara. Standar primer ini
digunakan sebagai standar pembanding dari standar sekunder.
2) Standar sekunder
Standar yang dibuat hampir sama dengan standar primer baik material maupun
panjangnya. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada standar sekunder ini
tetap dikontrol dengan membandingkannya dengan standar primer setelah digunakan
beberapa lama. Standar sekunder ini ditempatkan ke berbagai lokasi dengan maksud
sebagai standar pembanding bagi standar tertier.
3) Standar tertier
Standar ini merupakan standar yang dikelola oleh National Physical Laboratories
(NPL), dan merupakan standar pertama yang digunakan sebagai referensi di

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 14


laboratorium dan bengkel kerja. Standar ini juga merupakan standar pembanding bagi
standar kerja.
4) Standar kerja
Merupakan standar garis yang juga didesain sama dengan standar primer, sekunder
dan tertier, hanya bahan yang digunakan untuk membuatnya lebih murah ditinjau dari
sudut ekonomi. Standar ini dipakai secara umum di laboratorium metrologi.
Kadang-kadang sub divisi standar di atas diklasifikasikan sebagai: standar referensi
yaitu untuk referensi tujuan-tujuan tertentu; standar kalibrasi yaitu untuk mengecek
atau mengkalibrasi; standar inspeksi yaitu standar yang digunakan oleh inspector; dan
standar kerja yaitu standar yang digunakan oleh operator.
b. Standar ujung
Prinsip utama dari standar ujung ini adalah pengukuran dari kedua ujung yang datar
dan paralel. Contoh alat ukur yang termasuk dalam kategori standar ujung ini antara lain
adalah slip gauge, gap gauge, mikro meter anvil, batang ukur (length bar), dan
sebagainya. Kesulitan untuk membuat standar ujung ini adalah sulitnya membentuk
kedua ujung dengan permukaan yang betul-betul paralel dan juga agak sulit dalam
mengeraskan kedua ujungnya sehingga tetap stabil.
c. Standar gelombang

B. Batasan dan Suaian


Untuk mendapatkan suatu komponen yang memiliki sifat mampu tukar
(interchangeability) maka standar-standar tertentu harus diikuti dengan teliti. Untuk apa
komponen itu dibuat, berapa ukuran maksimum ataupun minimum dari masing-masing
komponen harus dibuat, bagaimana tingkat kehalusannya, dan sebagainya, ini semua harus
diperhatikan betul-betul, Dalam rangka merencanakan untuk memperoleh pasangan antar
komponen dengan kondisi tertentu (memiliki kelonggaran atau kerapatan tertentu bila
komponen-komponen dipasangkan) maka perlu dibicarakan masalah batasan dan suaian.
Dalam pembahasannya nanti banyak menyinggung masalah toleransi. Karena toleransi akan
selalu terkait di dalamnya setiap kali membicarakan penentuan suaian
1. Definisi
Telah disinggung di muka bahwa batasan atau harga-harga batas adalah harga atau
ukuran maksimum dan minimum yang diizinkan dari suatu komponen. Jadi, ada ukuran
yang paling tinggi dan ada ukuran yang paling rendah. Akan tetapi, tinggi rendahnya
ukuran-ukuran ini masih dalam batas yang diizinkan. Dari adanya harga-harga batas

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 15


maksimum dan minimum ini tentu ada perbedaan (selisih) besarnya ukuran. Perbedaan dari
besarnya ukuran maksimum dan minimum dari suatu komponen inilah yang disebut dengan
istilah toleransi. Dalam Gambar 1.8. dapat dilihat dimana letak dari toleransi tersebut.
Karena masing-masing komponen mempunyai toleransi ukuran tertentu maka bila
komponen-komponen tersebut dipasangkan (dirakit) akan diperoleh pasangan dengan
kondisi tertentu. Keadaan yang demikian inilah yang disebut dengan istilah suaian. Jadi,
suaian adalah keadaan atau hubungan yang terjadi pada dua komponen yang disatukan
(dirakit) yang disebabkan karena adanya perbedaan ukuran antara kedua komponen sebelum
kedua komponen tersebut disatukan. Disinilah nanti timbul pasangan yang longgar atau
yang sulit untuk dipasangkan. Untuk lebih mengenal mengenai kondisi pasangan dua
komponen ini perlu dibicarakan masalah suaian yang didalamnya terkait pula masalah
toleransi.
2. Macam Suaian
Dalam pembahasan akan dianggap bahwa komponen yang dibuat berbentuk silindris.
Jadi, ada istilah lubang dan poros. Bila poros dan lubang ini dipasangkan satu sama lain ada
beberapa kemungkinan yang terjadi karena adanya perbedaan ukuran antara keduanya.
Kemungkinan-kemungkinan tersebut antar lain yaitu: ada pasangan yang longgar, berarti
masuk suaian longgar; ada pasangan yang pas, berarti masuk suaian pas; dan ada pasangan
yang harus dipaksa masuknya, ini dinamakan suaian paksa. Jadi, paling tidak ada tiga suaian
yang terjadi bila dua buah komponen disatukan yaitu: suaian longgar, suaian pas, dan suaian
paksa.
a) Suaian Longgar (Clearance Fit)
Suaian longgar adalah suaian yang selalu akan menghasilkan kelonggaran
(clearance). Artinya, bila dua buah komponen disatukan maka akan timbul kelonggaran,
baik sebelum maupun sesudah dipasangkan. Hal ini terjadi karena daerah toleransi
lubang selalu terletak di atas daerah toleransi poros.
b) Suaian Pas (Transition Fit)
Suaian pas adalah suaian yang dapat menghasilkan kelonggaran atau
kesesakan/kerapatan. Hal ini terjadi karena daerah toleransi lubang dan daerah toleransi
poros saling menutupi.
c) Suaian Paksa (Interfence Fit)
Suaian paksa adalah suaian yang akan selalu menghasilkan kerapatan atau kesesakan.
Artinya, sebelum ataupun sesudah dua komponen dipasangkan akan timbul

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 16


kesesakan/kerapatan. Hal ini terjadi karena daerah toleransi lubang selalu terletak di
bawah daerah toleransi poros.
Terjadinya suaian-suaian tersebut di atas bukan karena kesalahan pada proses pembuatan,
tetapi disebabkan hal ini memang direncanakan mengingat fungsi dari komponen yang
dibuat tersebut. Dari ketiga macam suaian yang disebutkan di atas maka dapat kita
simpulkan bahwa untuk satu macam suaian dapat dibuat berbagi macam kombinasi.
Misalnya, suaian paksa dapat dicapai asal daerah toleransi lubang selalu terletak dibawah
daerah toleransi poros tanpa mempedulikan di mana letak daerah-daerah toleransi tersebut
terhadap garis nol. Untuk membatasi adanya berbagai macam kombinasi ini maka ISO telah
menetapkan dua (2) macam sistem suaian yang bisa digunakan yaitu: sistem basis lubang
dan sistem basis poros.
Sistem basis lubang (hole basis system) memberi arti bahwa semua toleransi lubang
ditentukan di daerah “H” tanpa memperdulikan tingkatan suaian yang akan dibuat.
Mengenai macam tingkatan yang dikehendaki dapat dibuat dengan jalan mengubah-ubah
ukuran poros.
Sistem basis poros (shaft basis system) mempunyai arti bahwa semua toleransi poros
ditentukan di daerah “h” juga tanpa memperdulikan tingkatan suaian yang dibuat. Untuk
mendapatkan macam-macam tingkatan yang dikehendaki dapat dibuat dengan jalan
mengubah-ubah ukuran lubang.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 17


POKOK BAHASAN III
KLASIFIKASI PENGUKURAN

A. Pengertian Klasifikasi Pengukuran


Geometris obyek ukur mempunyai bentuk yang bermacam-macam. Oleh karena itu
caranya mengukur pun bisa bermacam-macam. Agar hasil pengukurannya mendapatkan
hasil yang paling baik menurut standar yang berlaku maka diperlukan cara pengukuran yang
tepat dan benar. Untuk itu perlu juga diketahui klasifikasi dari pengukuran. Ada beberapa
cara pengukuran yang bisa dilakukan untuk mengukur geometris obyek ukur yaitu:
Pengukuran langsung, Pengukuran tak langsung, Pengukuran dengan kaliber batas,
Pengukuran dengan bentuk standar.
1. Pengukuran langsung
Proses pengukuran yang hasil pengukurannya dapat dibaca langsung dari alat ukur yang
digunakan disebut dengan pengukuran langsung. Misalnya mengukur diameter poros
dengan jangka sorong atau mikrometer
2. Pengukuran tak langsung
Bila dalam proses pengukuran tidak bisa digunakan satu alat ukur saja dan tidak bisa
dibaca langsung hasil pengukurannya maka pengukuran yang demikian ini disebut dengan
pengukuran tak langsung. Kadang-kadang untuk mengukur satu benda ukur diperlukan dua
atau tiga alat ukur, biasanya ada alat ukur standar, alat ukur pembanding dan alat ukur
pembantu. Misalnya mengukur ketirusan poros dengan menggunakan senter sinus (sine
center) yang harus dibantu dengan jam ukur (dial indikator) dan blok ukur.
3. Pengukran dengan kaliber batas
Kadang-kadang dalam proses pengukuran kita perlu melihat berapa besar ukuran benda
yang dibuat melainkan hanya untuk melihat apakah benda yang dibuat masih dalam batas-
batas toleransi tertentu. Misalnya saja mengukur diameter lubang. Dengan menggunakan
alat ukur jenis kaliber batas dapat ditentukan apakah benda yang dibuat masuk dalam
kategori diterima (Go) atau masuk dalam kategori dibuang atau ditolak (No Go). Dengan
demikian sudah tentu alat yang digunakan untuk pengecekannya adalah kaliber batas Go
dan No Go. Pengukuran seperti ini disebut pengukuran dengan kaliber batas. Keputusan
yang diambil adalah: dimensi obyek ukur yang masih dalam batas toleransi dianggap baik
dan dipakai, sedang dimensi yang terletak di luar batas toleransi dianggap jelek. Pengukuran

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 18


cara ini tepat sekali untuk pengukuran dalam jumlah banyak dan membutuhkan waktu yang
cepat.
4. Pengukuran dengan bentuk standar
Pengukuran disini sifatnya hanya membandingkan bentuk benda yang dibuat dengan
bentuk standar yang memang digunakan untuk alat pembanding. Misalnya kita akan
mengecek sudut ulir atau roda gigi, mengecek sudut tirus dari poros kronis, mengecek
radius dan sebagainya. Pengukuran dilakukan dengan alat ukur proyeksi. Jadi, di sini
sifatnya tidak membaca besarnya ukuran tetapi mencocokkan bentuk aja. Misalnya sudut
ulir dicek dengan mal ulir atau alat pengecek ulir lainnya.

B. Klasifikasi Alat Ukur


Geometris obyek ukur mempunyai bentuk dan ukuran yang bervariasi. Adanya variasi
bentuk dan ukuran inilah yang menyebabkan timbulnya berbagai jenis alat ukur dan jenis
pengukuran. Untuk jenis pengukuran sudah dibicarakan di atas, jenis alat ukur perlu juga
dibicarakan yang dititik beratkan pada sifat alat ukur itu sendiri maupun pada jenis benda
yang diukur.
Menurut cara kerja dari alat ukur maka alat ukur dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
alat ukur mekanis, alat ukur elektris, alat ukur optis, alat ukur mekanis optis dan alat ukur
pneumatis. Ini semua sudah dibicarakan pada bagian pengubah alat ukur.
Menurut sifat dari alat ukur maka alat ukur dapat dibedakan menjadi:
1. Alat ukur langsung, hasil pengukurannya dapat langsung dapat dibaca pada skala
ukurnya. Misalnya jangka sorong, mikrometer dan sebagainya.
2. Alat ukur pembanding, alat ukur yang mempunyai skala ukur yang telah dikalibrasi.
Dipakai sebagai pembanding alat ukur yang lain. Misalnya: jam ukur (dial indicator),
pembanding (comparator).
3. Alat ukur standar, alat ukur yang mempunyai harga ukuran tertentu. Biasanya digunakan
bersama-sama dengan alat ukur pembanding misalnya: blok ukur (gauge block), batang ukur
(length bar) dan master ketinggian (height master).
4. Alat ukur batas, alat ukur yang digunakan untuk menentukan apakah suatu dimensi obyek
ukur masih terletak dalam batas-batas toleransi ukuran. Misalnya: kaliber-kaliber batas Go
dan No Go.
5. Alat ukur bantu, alat ukur yang sifatnya hanya sebagai pembantu dalam proses
pengukuran. Misalnya: dudukan mikrometer, penyangga/pemegang jam ukur, dan
sebagainya.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 19


Menurut jenis dari benda yang akan diukur maka alat ukur dapat pula diklasifikasikan
menjadi:
1. Alat ukur-alat ukur linier, baik alat ukur linier langsung maupun alat ukur linier tak
langsung.
2. Alat ukur sudut atau kemiringan. Ada alat ukur sudut yang langsung bisa dibaca skala
sudutnya ada juga yang harus menggunakan perhitungan secara matematika.
3. Alat ukur kedataran.
4. Alat ukur untuk mengukur profil atau bentuk.
5. Alat ukur ulir.
6. Alat ukur roda gigi.
7. Alat ukur mengecek kekasaran permukaan.

C. Sifat Umum Alat Ukur


Bagaimanapun baiknya atau sempurnanya suatu alat ukur tentu ada kekurangan-
kekurangannya. Karena memang disadari bahwa alat ukur adalah buatan manusia.
Kesempurnaan buatan manusia ada batasnya. Oleh karena itu, bila ada kekurang tepatan dari
alat ukur harus kita maklumi karena hal itu memang merupakan sifat dari alat ukur. Untuk
itu perlu juga dipelajari masalah sifat-sifat dari alat ukur. Dalam istilah keteknikan ada
beberapa sifat dari alat ukur yang perlu diketahui yaitu: rantai kalibrasi, kepekaan,
kemudahan baca, histerisis, kepasifan, kestabilan nol dan pengambangan.
1. Rantai kalibrasi
Kadang-kadang alat-alat ukur yang habis dipakai harus dicek kembali ketepatannya
dengan membandingkannya pada alat ukur standar. Proses seperti ini biasa disebut
dengan istilah kalibrasi. Kalibrasi adalah mencocokkan harga-harga yang ada pada skala
ukur dengan harga-harga standar atau harga sebenarnya. Sebetulnya, kalibrasi ini tidak
saja dilakukan pada alat-alat ukur yang sudah lama atau habis dipakai, tetapi juga untuk
alat-alat ukur yang baru dibuat. Pemeriksaan alat-alat ukur standar panjang dapat
dilakukan melalui rangkaian sebagai berikut:
Tingkat 1: Pada tingkat ini kalibrasi untuk alat ukur kerja dengan alat ukur standar kerja.
Tingkat 2: Pada tingkatan yang kedua, kalibrasi dilakukan untuk alat ukur standar kerja
terhadap alat ukur standar.
Tingkat 3: Pada tingkat yang ketiga, dilakukan kalibrasi alat ukur standar dengan alat
ukur standar yang mempunyai tingkatan yang lebih tinggi, misalnya standar
nasional.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 20


Tingkat 4: Pada tingkat terakhir ini, dilakukan kalibrasi standar nasional dengan standar
meter internasional.
Dengan urut-urutan kalibrasi di atas maka dapat dijamin bahwa alat-alat ukur panjang
masih tetap tepat dan teliti untuk digunakan dalam bengkel kerja. Di samping itu, dengan
adanya rantai kalibrasi di atas dapat dihindari terjadinya pemeriksaan langsung alat ukur
standar kerja dengan standar meter internasional.
2. Kepekaan
Kepekaan alat ukur menyangkut masalah kemampuan dari alat ukur untuk memonitor
perbedaan yang kecil dari harga-harga yang diukur. Kepekaan suatu alat ukur berkaitan
erat dengan sistem mekanisme dari pengubahnya. Makin teliti sistem pengubah
mengolah isyarat dari sensor maka makin peka pula alat ukurnya.
3. Kemudahan baca
Kalau kepekaan berkaitan erat dengan sistem pengubah maka kemudahan baca
berkaitan erat dengan sistem skala yang dibuat. Jadi, kemampuan alat ukur untuk
menunjukkan harga yang jelas pada skala ukurnya dapat diartikan sebagai kemudahan
baca alat ukur tersebut. Di sini, pembuatan skala nonius dengan sistem yang lebih terinci
memegang peranan penting dalam masalah kemudahan baca. Akhirakhir ini sistem
penunjuk digital secara elektronis banyak digunakan dalam rangka mencari kemudahan
baca yang tinggi.
4. Histerisis
Pada waktu dilakukan pengukuran sudut benda kerja di atas batang sinus (sine bar)
atau dengan senter sinus (sine center) dengan menggunakan alat ukur pembanding jam
ukur (dial indicator) biasanya dilakukan pengukuran bolak-balik. Bolak-balik di sini
artinya jam ukur digerakkan dalam dua arah yaitu dari titik terendah menuju titik
tertinggi dari benda ukur, dan dari titik tertinggi menuju ke titik terendah. Kalau
diperhatikan pengukuran pada waktu menuju ke titik tertinggi dan kembali ke titik
terendah kadang-kadang didapatkan penyimpangan. Penyimpangan yang terjadi sewaktu
dilakukan pengukuran dari titik terendah (titik nol) sampai titik tertinggi (maksimum)
kemudian kembali lagi dari titik tertinggi sampai ke titik terendah disebut dengan
histerisis. Kalau digambarkan maka dapat dilihat secara grafis adanya perbedaan
tersebut, Gambar 5.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 21


Gambar 5. Histerisi

Perbedaan tersebut timbul karena pada waktu poros jam ukur bergerak ke atas banyak
gaya-gaya yang harus dilawannya seperti gaya pegas dan gaya gesek, pada waktu poros
jam ukur turun gaya pegas malah mendorongnya tetapi gaya gesekan harus dilawannya.
Kita lihat garis grafik waktu naik berbeda dengan garis grafik waktu turun. Seharusnya
garis grafik waktu turun dan garis grafik waktu naik dapat berimpit walaupun kesalahan
pengukuran dapat terjadi. Untuk menghindari histerisis maka gesekan poros dengan
bantalannya harus dibuat seminimum mungkin. Kalaupun ada pengaruh histerisis,
pengaruh ini dapat dikurangi dengan jalan membuat tinggi susunan blok ukur kirakira
sama dengan tinggi benda ukur, sehingga dengan demikian perbedaan ukuran yang
ditunjukkan oleh jam ukur adalah relatif kecil.
5. Kepasifan
Kadang-kadang sewaktu dilakukan pengukuran terjadi pula bahwa jarum penunjuk
skala tidak bergerak sama sekali pada waktu terjadi perbedaan harga yang kecil. Atau
dapat dikatakan isyarat yang kecil dari sensor alat ukur tidak menimbulkan perubahan
sama sekali pada jarum penunjuknya. Keadaan yang demikian inilah yang sering disebut
dengan kepasifan atau kelambatan gerak alat ukur.
Untuk alat-alat ukur mekanis kalaupun terjadi kepasifan atau kelambatan gerak jarum
penunjuknya mungkin disebabkan oleh pengaruh pegas yang sifat elastisnya kurang
sempurnya. Pada alat ukur pneumatis juga sering terjadi kepasifan ini misalnya

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 22


lambatnya reaksi dari barometer padahal sudah terjadi perubahan tekanan udara. Hal ini
disebabkan volume udaranya terlalu besar akibat dari terlalu panjangnya pipa
penghubung sensor dengan ruang perantara.
6. Pergeseran (shifting)
Pergeseran adalah penyimpangan yang terjadi dari harga-harga yang ditunjukkan
pada skala atau yang tercatat pada kertas grafik padahal sensor tidak melakukan
perubahan apa-apa. Kejadian seperti ini sering disebut dengan istilah pergeseran, banyak
terjadi pada alat-alat ukur elektris yang komponen-komponennya sudah tua.
7. Pengambangan (Floating)
Kadang-kadang terjadi pula jarum penunjuk dari alat ukur yang digunakan posisinya
berubah-ubah. Atau kalau penunjuknya dengan sistem digital angka paling kanan atau
angka terakhir berubah-ubah. Kejadian seperti ini dinamakan pengambangan. Kepekaan
dari alat ukur akan membuat perubahan kecil dari sensor diperbesar oleh pengubah.
Makin peka alat ukur makin besar pula kemungkinan terjadinya pengambangan. Untuk
itu, bila menggunakan alat-alat ukur yang mempunyai jarum penunjuk pada skalanya
atau penunjuk digital harus dihindari adanya kotoran atau getaran, juga harus digunakan
metode pengukuran yang secermat mungkin.
8. Kestabilan nol
Pada waktu mengukur dengan jam ukur, kemudian secara tiba-tiba diambil benda
ukurnya, maka seharusnya jarum penunjuk kembali pada posisi nol semula. Akan tetapi,
sering terjadi bahwa jarum penunjuknya tidak kembali ke posisi nol. Keadaan ini disebut
dengan kestabilan nol yang tidak baik. Salah satu penyebab tidak kembalinya pada posisi
nol adalah adanya keausan pada sistem penggerak jarum penunjuk. Dengan demikian
jelaslah bahwa banyak sekali hal-hal yang dapat menimbulkan penyimpangan dalam
pengukuran yang salah satunya disebabkan oleh sifat-sifat dari alat ukur itu sendiri. Oleh
karena itu, untuk mengurangi banyaknya penyimpangan perlu dilakukan pengecekan
alatalat ukur, baik yang belum digunakan lebih-lebih lagi untuk alat-alat ukur yang sering
digunakan. Jadi, kalibrasi alat ukur memang sangat diperlukan, disamping untuk
mengecek sifat-sifat dari alat ukur. Kalau hal yang demikian ini dilakukan secara rutin
maka penyimpangan pengukuran yang timbul dari alat ukur bisa dikurangi menjadi
sekecil mungkin.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 23


D. Sumber-sumber Kesalahan Pengukuran
Dalam proses pengukuran paling tidak ada tiga faktor yang terlibat yaitu alat ukur, benda
ukur dan orang yang melakukan pengukuran. Hasil pengukuran tidak mungkin mencapai
kebenaran yang absolut karena keterbatasan dari bermacam faktor. Yang diperoleh dari
pengukuran adanya hasil yang dianggap paling mendekati dengan harga geometris obyek
ukur. Meskipun hasil pengukuran itu merupakan hasil yang dianggap benar, masih juga
terjadi penyimpangan hasil pengukuran. Masih ada faktor lain lagi yang juga sering
menimbulkan penyimpangan pengukuran yaitu lingkungan. Lingkungan yang kurang tepat
akan mengganggu jalannya proses pengukuran.
1. Kesalahan pengukuran karena alat ukur
Di muka telah disinggung adanya bermacam-macam sifat alat ukur. Kalau sifat-sifat
yang merugikan ini tidak diperhatikan tentu akan menimbulkan banyak kesalahan dalam
pengukuran. Oleh karena itu, untuk mengurangi terjadinya penyimpangan pengukuran
sampai seminimal mungkin maka alat ukur yang akan dipakai harus di kalibrasi terlebih
dahulu. Kalibrasi ini diperlukan disamping untuk mengecek kebenaran skala ukurnya
juga untuk menghindari sifat-sifat yang merugikan dari alat ukur, seperti kestabilan nol,
kepasifan, pengambangan, dan sebagainya.
2. Kesalahan pengukuran karena benda ukur
Tidak semua benda ukur berbentuk pejal yang terbuat dari besi, seperti rol atau bola
baja, balok dan sebagainya. Kadang-kadang benda ukur terbuat dari bahan alumunium,
misalnya kotak-kotak kecil, silinder, dan sebagainya. Benda ukur seperti ini mempunyai
sifat elastis, artinya bila ada beban atau tekanan dikenakan pada benda tersebut maka
akan terjadi perubahan bentuk. Bila tidak hati-hati dalam mengukur bendabenda ukur
yang bersifat elastis maka penyimpangan hasil pengukuran pasti akan terjadi. Oleh
karena itu, tekanan kontak dari sensor alat ukur harus diperkirakan besarnya.
Di samping benda ukur yang elastis, benda ukur tidak elastis pun tidak menimbulkan
penyimpangan pengukuran misalnya batang besi yang mempunyai penampang
memanjang dalam ukuran yang sama, seperti pelat besi, poros-poros yang relatif panjang
dan sebagainya. Batang-batang seperti ini bila diletakkan di atas dua tumpuan akan
terjadi lenturan akibat berat batang sendiri. Untuk mengatasi hal itu biasanya jarak
tumpuan ditentukan sedemikian rupa sehingga diperoleh kedua ujungnya tetap sejajar.
Jarak tumpuan yang terbaik adalah 0.577 kali panjang batang dan juga yang jaraknya
0.544 kali panjang batang. Gambar 6 menunjukkan letak tumpuan yang seharusnya
dipasang. Titik tumpuan ini biasanya disebut dengan Titik Airy (Airy point).

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 24


Gambar 6. Letak tumpuan
Kadang-kadang diperlukan juga penjepit untuk memegang benda ukur agar posisinya
mudah untuk diukur. Pemasangan penjepit ini pun harus diperhatikan betul-betul agar
pengaruhnya terhadap benda kerja tidak menimbulkan perubahan bentuk sehingga bisa
menimbulkan penyimpangan pengukuran.
3. Kesalahan pengukuran karena faktor si pengukur
Bagaimanapun presisinya alat ukur yang digunakan tetapi masih juga didapatkan
adanya penyimpangan pengukuran, walaupun perubahan bentuk dari benda ukur sudah
dihindari. Hal ini kebanyakan disebabkan oleh faktor manusia yang melakukan
pengukuran. Manusia memang mempunyai sifat-sifat tersendiri dan juga mempunyai
keterbatasan. Sulit diperoleh hasil yang sama dari dua orang yang melakukan pengukuran
walaupun kondisi alat ukur, benda ukur dan situasi pengukurannya dianggap sama.
Kesalahan pengukuran dari faktor manusia ini dapat dibedakan antara lain sebagai
berikut: kesalahan karena kondisi manusia, kesalahan karena metode yang digunakan,
kesalahan karena pembacaan skala ukur yang digunakan.
a. Kesalahan karena kondisi mata
Kondisi badan yang kurang sehat dapat mempengaruhi proses pengukuran
yang akibatnya hasil pengukuran juga kurang tepat. Contoh yang sederhana, misalnya
pengukur diameter poros dengan jangka sorong. Bila kondisi badan kurang sehat,
sewaktu mengukur mungkin badan sedikit gemetar, maka posisis alat ukur terhadap
benda ukur sedikit mengalami perubahan. Akibatnya, kalau tidak terkontrol tentu hasil
pengukurannya juga ada penyimpangan. Atau mungkin juga penglihatan yang sudah

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 25


kurang jelas walau pakai kaca mata sehingga hasil pembacaan skala ukur juga tidak
tepat. Jadi, kondisi yang sehat memang diperlukan sekali untuk melakukan
pengukuran, apalagi untuk pengukuran dengan ketelitian tinggi.
b. Kesalahan karena metode pengukuran yang digunakan
Alat ukur dalam keadaan baik, badan sehat untuk melakukan pengukuran,
tetapi masih juga terjadi penyimpangan pengukuran. Hal ini tentu disebabkan metode
pengukuran yang kurang tepat. Kekurang tepatan metode yang digunakan ini
berkaitan dengan cara memilih alat ukur dan diukur diameter poros dengan ketelitian
0,01 milimeter. Tentu saja hasil pengukuranya tidak mendapatkan dimensi ukuran
sampai 0,01 milimeter. Kesalahan ini timbul karena tidak tepatnya memilih alat ukur.
Cara memegang dan meletakan alat ukur pada benda kerja juga akan
mempengaruhi ketepatan hasil pengukuran. Misalnya posisi ujung sensor jam ukur,
posisi mistar baja, posisi kedua rahang ukur jangka sorong, posisi kedua ujung ukur
dari mikrometer, dan sebagainya. Bila posisi alat ukur ini kurang diperhatikan
letaknya oleh si pengukur maka tidak bisa dihindari terjadinya penyimpangan dalam
pengukuran.
c. Kesalahan karena pembacaan skala ukur
Kurang terampilnya seseorang dalam membaca skala ukur dari alat ukur yang
sedang digunakan akan mengakibatkan banyak terjadi penyimpangan hasil
pengukuran. Kebanyakan yang terjadi karena kesalahan posisi waktu membaca skala
ukur. Kesalahan ini sering disebut, dengan istilah paralaks. Paralaks sering kali terjadi
pada si pengukur yang kurang memperhatikan bagaimana seharusnya dia melihat
skala ukur pada waktu alat ukur sedang digunakan. Di samping itu, si pengukur yang
kurang memahami pembagian divisi dari skala ukur dan kurang mengerti membaca
skala ukur yang ketelitiannya lebih kecil daripada yang biasanya digunakannya juga
akan berpengaruh terhadap ketelitian hasil pengukurannya.
Jadi, faktor manusia memang sangat menentukan sekali dalam proses
pengukuran. Sebagai orang yang melakukan pengukuran harus menetukan alat ukur
yang tepat sesuai dengan bentuk dan dimensi yang akan diukur. Untuk memperoleh
hasil pengukuran yang betul-betul dianggap presisi tidak hanya diperlukan asal bisa
membaca skala ukur saja, tetapi juga diperlukan pengalaman dan ketrampilan dalam
menggunakan alat ukur. Ada beberapa faktor yang harus dimiliki oleh seseorang yang
akan melakukan pengukuran yaitu:

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 26


1. Memiliki pengetahuan teori tentang alat ukur yang memadai dan memiliki
ketrampilan atau pengalaman dalam praktek-praktek pengukuran.
2. Memiliki pengetahuan tentang sumber-sumber yang dapat menimbulkan
penyimpangan dalam pengukuran dan sekaligus tahun bagaimana cara
mengatasinya.
3. Memiliki kemampuan dalam persoalan pengukuran yang meliputi bagaimana
menggunakannya, bagaimana, mengkalibarasi dan bagaimana memeliharanya.
4. Kesalahan karena faktor lingkungan
Ruang laboratorium pengukuran atau ruang-ruang lainnya yang digunakan untuk
pengukuran harus bersih, terang dan teratur rapi letak peralatan ukurnya. Ruang
pengukuran yang banyak debu atau kotoran lainnya sudah tentu dapat menganggu
jalannya proses pengukuran. Disamping si pengukur sendiri merasa tidak nyaman juga
peralatan ukur bisa tidak normal bekerjanya karena ada debu atau kotoran yang
menempel pada muka sensor mekanis dan benda kerja yang kadangkadang tidak
terkontrol oleh si pengukur. Ruang pengukuran juga harus terang, karena ruang yang
kurang terang atau remang-remang dapat mengganggu dalam membaca skala ukur yang
hal ini juga bisa menimbulkan penyimpangan hasil pengukuran.
Akan tetapi, untuk penerangan ini ruang pengukuran sebaiknya tidak banyak diberi
lampu penerangan. Sebeb terlalu banyak lampu yang digunakan tentu sedikit banyak
akan mengakibatkan suhu ruangan menjadi lebih panas. Padahal, menurut standar
internasional bahwa suhu atau temperatur ruangan pengukur yang terbaik adalah 20°C
apabila temperatur ruangan pengukur sudah mencapai 20°C, lalu ditambah lampu-lampu
penerang yang terlalu banyak, maka temperatur ruangan akan berubah. Seperti kita
ketahui bahwa benda padat akan berubah dimensi ukurannya bila terjadi perubahan
panas. Oleh karena itu, pengaruh dari temperatur lingkungan tempat pengukuran harus
diperhatikan.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 27


POKOK BAHASAN IV
PENGUKURAN LINER

A. Pendahuluan
Sebagian besar pengukuran geometris benda ukur dalam metrologi industri adalah
menyangkut pengukuran linier atau pengukuran panjang (jarak), diameter poros, tebal gigi,
tinggi, lebar, kedalaman, perhitungan sudut dengan metode sinus atau tangent,
kesemuanya itu merupakan contoh dari dimensi panjang (linier) dari benda ukur yang
memang mempunyai variasi bentuk panjang yang bermacam-macam. Untuk itu perlu
dipelajari bagaimana cara mengukurnya dan alat-alat ukur apa saja yang bisa digunakan
untuk mengukurnya. Berdasarkan cara mengukurnya maka dapat dibedakan dua jenis
pengukuran yaitu pengukuran linier langsung dan pengukuran linier tak langsung.
1. Alat ukur linier langsung dan cara menggunakannya
Telah dikemukakan bahwa pegukuran langsung adalah pengukuran yang hasil
pengukurannya dapat langsung dibaca pada skala ukur dari alat ukur yang digunakan.
Dengan demikian alat ukur yang digunakan juga alat ukur yang mempunyai skala
yang bisa langsung dibaca skalanya. Alat ukur linier langsung yang banyak digunakan
dalam praktek sehari-hari dapat digolongkan menjadi tiga golongan besar yaitu : Mistar
ukur dengan berbagai macam bentuk, Mistar ingsut (jangka sorong) dengan berbagai
bentuk, Mikrometer dengan berbagai bentuk.
a. Mistar ukur
Dalam kehidupan sehari-hari dikenal yang namanya mistar atau penggaris. Ada
yang terbuat dari kayu, ada yang dari bahan plastik, dan ada pula yang terbuat dari baja atau
kuningan.Yang paling banyak saat ini adalah mistar yang terbuat dari plastik (untuk
menggambar/menggambar teknik) dan mistar yang terbuat dari baja (untuk pengukuran
di bidang permesinan). Yang akan dibicarakan disini mistar yang terbuat dari baja atau
kuningan yang memang banyak digunakan untuk pengukuran dalam kerja mesin. Mistar
ukur yang terbuat dari baja ini bermacam-macam bentuknya, misalnya meteran gulung,
meteran lipat, mistar ukur berkait, mistar ukur pendek. Sistem pembagian skalanya juga ada
yang dengan sistem inchi dan ada pula yang dengan sistem metrik.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 28


1) Meteran gulung
Jenis mistar ukur ini kebanyakan terbuat dari pelat baja yang tipis dan bisa digulung.
Gulungan ini dimasukkan dalam kotak sedemikian rupa sehingga cara
menggunakannya menjadi lebih praktis. Pada ujung dari meteran lipat ini biasanya
diberi semacam kait guna mengaitkan ujung ukur dengan benda ukur sehingga
pengukuran menjadi lebih mudah. Panjang maksimum dari meteran lipat ini biasanya
mencapai 50 meter. Meteran gulung ini banyak digunakan oleh pekerja-pekerja
bangunan/konstruksi bangunan.
2) Meteran lipat
Meteran lipat ini sebetulnya merupakan gabungan dari mistar ukur yang dihubungkan
oleh sebuah engsel. Pada Gambar dapat dilihat konstruksi sederhana dari meteran
lipat ini. Biasanya terbuat dari alumunium atau baja. Dalam penggunaannya memang
meteran lipat ini kurang menguntungkan karena di samping engsel sering aus juga
kemungkinan ketidak lurusan dari garis pengukuran.
3) Mistar ukur berakit (Hook Rule)
Dengan mistar ukur berkait ini memberi kemudahan kepada kita untuk mengukur
lebar alur ataupun dalamnya. Karena pada alat ini bagian ujungnya diberi semacam
kait persegi sehingga dapat menempatkan pada posisi nol di bagian-bagian benda ukur
yang kurang menguntungkan kalau digunakan mistar ukur biasa. Untuk benda-benda
ukur yang bagian-bagian tertentu bentuknya menyudut atau tirus (chamfer) mistar
ukur berkait ini sangat cocok sekali digunakan dibandingkan dengan mistar-mistar
ukur lainnya.
4) Mistar ukur pendek (short rule set)
Jenis mistar ukur ini merupakan satu set mistar yang terdiri dari beberapa mistar
ukur kecil yang bentuknya pendek-pendek. Biasanya pada proses pengukuran
dibantu dengan perlengkapan sebuah pemegang sehingga mempermudah dalam
menggunakannya. Gambar adalah contoh satu set alat ukur pendek yang
mempunyai skala pengukuran dalam inchi. Sangat cocok untuk mengukur tingkatan
tinggi dari alut (slot)
5) Cara menggunakan mistar ukur
Meskipun alat ukur yang bernama mistar ukur bukan merupakan alat ukur yang
begitu presisi, akan tetapi untuk keperluan pengukuran dengan ketelitian yang
tidak begitu tinggi dan perlu waktu yang relatif cepat untuk mengukurnya maka
mistar ukur dengan berbagai bentuknya dapat digunakan. Tinggal bagaimana cara

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 29


menggunakannya sehingga penyimpangan-penyimpangan dalam pengukuran dapat
dihindari. Tentunya letak dari mistar ukur harus betul-betul sejajar dengan arah
memanjang atau tegak lurus dengan arah melintang dari benda yanga akan diukur.
Kadang-kadang untuk keperluan tertentu diperlukan jangka bengkok atau jangka kaki,
misalnya untuk pengukuran kasar dari diameter luar atau diameter dalam suatu poros
dan lubang.
b. Mistar Ingsut (Jangka Sorong)
Alat ukur ini banyak terdapat di bengkel-bengkel kerja, yang dalam praktek sehari-
hari mempunyai banyak sebutan misalnya jangka sorong, mistar geser, schuifmaat atau
vernier. Pada batang ukurnya terdapat skala utama yang cara pembacaannya sama
seperti pada mistar ukur. Pada ujung yang lain dilengkapi dengan dua rahang ukur
yaitu rahang ukur tetap dan rahang ukur gerak. Dengan adanya rahang ukur tetap dan
rahang ukur gerak ini maka mistar ingsut bisa digunakan untuk mengukur dimensi luar,
dimensi dalam, kedalaman dan ketinggian dari benda ukur. Di samping skala utama,
dilengkapi pula dengan skala tambahan yang sangat penting perannya di dalam
pengukuran yaitu yang disebut dengan skala nonius. Adanya skala nonius inilah yang
membedakan tingkat ketelitian mistar ingsut.
Dalam pembacaan skalanya ada yang dalam sistem inchi dan ada pula yang
dalam sistem metrik. Biasanya pada masing-masing sisi dari batang ukur dicantumkan dua
macam skala yaitu yang satu sisi dalam bentuk inchi dan sisi lain dalam bentuk metrik.
Dengan demikian dari satu alat ukur bisa digunakan untuk mengukur dengan dua
sistem satuan sekaligus yaitu inchi dan metrik. Ketelitian alat ukur mistar ingsut bisa
mencapai 0.001 inchi atau 0.05 milimeter.
Ada pula mistar ingsut yang tidak dilengkapi dengan skala nonius. Sebagai
penggantinya maka dibuat jam ukur yang dipasangkan sedemikian rupa sehingga
besarnya pengukuran dapat dilihat pada jam ukur tersebut. Angka yang ditunjukkan oleh
jam ukur adalah angka penambah dari skala utama (angka di belakang koma yang
menunjukkan ingkat ketelitian). Jadi ada dua jenis jangka sorong yaitu jangka sorong
(jangka ingsut) dengan skala nonius dan mistar ingsut dengan jam ukur. Sesuai dengan
bentuk dari benda ukur maka saat ini telah banyak diproduksi mistar ingsut dengan
berbagai bentuk dan konstruksi, namun prinsip pembacaannya tetap sama
1) Mistar ingsut dengan skala nonius
Pada gambar 2.10 dapat dilihat secara umum bentuk dari mistar ukur dengan skala
nonius. Ada dua macam bentuknya, yaitu yang hanya mempunyai rahang ukur bawah

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 30


dan yang lain mempunyai rahang ukur bawah dan atas. Mistar ingsut yang hanya
mempunyai rahang ukur bawah saja digunakan untuk mengukur dimensi luar dan
dimensi dalam dari benda ukur. Sedangkan mistar ukur yang mempunyai rahang
ukur atas dan bawah dapat digunakan untuk mengukur dimensi luar dan dalam,
kedalaman (depth) dan ketinggian alur bertingkat. Untuk skala pembacaan dengan
sistem metrik, mistar ingsut ada yang panjang skala utamanya dari 150 mm, 200 mm,
250 mm dan 300 mm, bahkan ada juga yang sampai 1000 mm.
2) Mistar ingsut dengan jam ukur
Mistar ingsut jenis ini tidak mempunyai skala nonius. Sebagai ganti dari skala nonius
maka dibuat jam ukur. Oleh karena itu namanya menjadi mistar ingsut jam ukur.
Pada jam ukurnya dilengkapi dengan jarum penunjuk skala dan angka-angka dari
pembagian (divisi) skala. Jarum penunjuk tersebut dapat berputar sejalan dengan
bergeraknya rahang jalan (gerak). Jadi, gerak lurus dari rahang ukur jalan (sensor)
diubah menjadi gerak rotasi dari jarum penunjuk. Gerak rotasi ini terjadi karena adanya
hubungan mekanis antara roda gigi pada poros jam ukur dengan batang bergigi pada
batang ukur.
Pada jam ukur biasanya sudah dicantumkan tingkat-tingkat kecermatannya. Ada
yang tingkat kecermatannya 0.10 mm, ada yang 0.05 mm dan ada pula yang sampai
0.02 milimeter. Sedang untuk yang pembacaannya dalam inchi, tingkat kecermatannya
ada yang 0.10 inchi dan ada yang 0.001 inchi. Untuk yang tingkat kecermatan 0.10
mm, biasanya satu putaran jarum penunjuk dibagi dalam 100 bagian yang sama.
Ini berarti, untuk satu putaran jarum penunjuk rahang jalan akan bergerak 100 x 0.10
mm = 10 mm.
3) Cara penggunaan mistar ingsut
Berdasarkan bagian-bagian utama yang dipunyai oleh mistar ingsut, secara
umum mistar ingsut dapat digunakan antara lain untuk mengukur ketebalan,
mengukur jarak luar, mengukur diameter luar, mengukur kedalaman, mengukur
tingkatan, mengukur celah, mengukur diameter luar, dan sebagainya.
Agar pemakaian mistar ingsut berjalan baik dan tidak menimbulkan kemungkinan-
kemungkinan yang dapat menyebabkan cepat rusaknya mistar ingsut maka ada
beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
a) Gerakan rahang ukur gerak (jalan) harus dapat meluncur kelincinan(gesekan)
tertentu sesuai denga standar yang diizinkan dan jalannya rahang ukur harus tidak
bergoyang.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 31


b) Sebaiknya jangan mengukur benda ukur dengan hanya bagian ujung dari kedua
rahang ukur tetapi sedapat mungkin harus masuk agak kedalam.
c) Harus dipastikan bahwa posisi nol dari skala ukur dan kesejajaran muka rahang
ukur betul-betul tepat.
d) Waktu melakukan penekanan kedua rahang ukur pada benda ukur harus
diperhatikan gaya penekannya. Terlalu kuat menekan kedua rahang ukur akan
menyebabkan kebengkokan atau ketidaksejajaran rahang ukur. Disamping itu, bila
benda ukur mudah berubah bentuk maka terlalu kuat menekan rahang ukur
dapat menimbulkan penyimpangan hasil pengukuran.
e) Sebaiknya jangan membaca skala ukur pada waktu mistar ingsut masih berada
pada benda ukur. Kunci dulu peluncurnya lalu dilepas dari benda ukur kemudian
baru dibaca skala ukurnya dengan posisi pembacaan yang betul.
f) Jangan lupa, setelah mistar ingsut tidak digunakan lagi dan akan disimpan
ditempatnya, kebersihan mistar ingsut harus dijaga dengan cara membersihkannya
memakai alat-alat pembersih yang telah disediakan misalnya kertas tissue, vaselin,
dan sebagainya.
4) Cara membaca skala mistar ingsut
Mistar ingsut yang banyak beredar sekarang ada yang mempunyai skala ukur dalam
inchi dan ada pula yang dalam metrik. Akan tetapi, kebanyakan mistar ingsut
yang digunakan adalah dalam sistem metrik. Karena kedua sistem satuan tersebut
sama-sama digunakan maka pembahasan cara membacanya pun kedua-duanya akan
dijelaskan.
a) Cara Membaca Skala Mistar Ingsut dalam Inchi
Pada mistar ingsut dengan skala inchi, skala vernier(nonius) nya dibagi dalam
25 bagian dan ada juga yang dibagi dalam 50 bagian. Untuk mistar ingsut yang
skala verniernyadibagi dalam 25 bagian, skala utama 1 inchi dibagi dalam 10
bagian utama yang diberi nomor 1 sampai 9. Berarti satu bagian skala utama
mempunyai jarak 0.1 inchi. Masingmasing dari satu bagian skala utama (0.1
inchi) dibagi lagi dalam 4 bagian kecil. Untuk mistar ingsut yang skala
verniernya dibagi 50 bagian, skala utama 1 inchi juga dibagi dengan 10 bagian.
Akan tetapi yang sepersepuluh bagian (0.1) dibagi lagi dengan 2 bagian kecil.
Berarti satu skala (divisi) dari skala utama berjarak 0.050 inchi.
Garis indeks nol skala verniertelah melewati angka satu besar pada skala
utama yang berarti ukurannya menunjukkan 1 inchi. Di samping melewati

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 32


angka satu besar, garis nol skala vernierjuga melewati angka 4 kecil skala utama,
artinya 0.4 inchi. Ternyata garis nol skala verniermelewati satu bagian (divisi)
skala utama dari angka 5 kecil, berarti 0.05 inchi (1 divisi skala utama = 0.05
unci). Kemudian dilihat baris skala vernieryang segaris dengan baris skala utama.
Ternyata baris ke-9 skala verniersegaris dengan salah satu baris dari skala utama.
Ini berarti ada kelebihan 9 x 0.001 inchi = 0.009 inchi. Dengan demikian ukuran
tersebut menunjukkan : 1 + 0.4 + 0.05 + 0.009 inchi = 1.459 inchi.
Garis nol indeks skala verniertelah melewati angka 1 besar skala utama, ini
berarti ukurannya = 1 inchi. Garis nol vernier juga melewati angka 2 kecil skala
utama, berarti 2 x 0.1 inchi = 0.2 inchi. Ternyata garis nol skala verniermasih juga
melewati satu skala kecil (divisi) dari skala utama setelah angka 2 kecil tetapi belum
sampai melewati angka 3 kecil, ini berarti ukurannya 0.025 inchi. Setelah dilihat
baris dari skala vernieryang segaris dengan baris dari skala utama ternyata
baris ke-13. Ini artinya mempunyai kelebihan sebesar 13 x 0.001 inchi =
0.013 inchi. Secara keseluruhan ukuran tersebut menunjukkan jarak sebesar : 1 +
0.2 + 0.025 + 0.013 inchi = 1.238 inchi.
b) Cara membaca skala mistar ingsut dalam metrik
Sistem pembacaan mistar ingsut dengan skala satuan metrik sebetulnya
sama saja dengan sistem pembacaan mistar ingsut dalam satuan inchi.
Perbedaannya hanyalah pada satuannya dan juga tingkat ketelitian pada skala
nonius (vernier). Untuk mistar ingsut dengan sistem metrik skala verniernya ada
yang mempunyai ketelitian sampai 0.02 (skala vernierdibagi dalam 50 bagian)
dan ada yang tingkat ketelitiannya sampai 0.05 milimeter. Tiap angka pada
skala utama menunjukkan besarnya jarak dalam centimeter. Misalnya angka 1
berarti 1 centimeter = 10 milimeter. Jarak antara dua angka berarti 10 milimeter.
Jarak ini dibagi dalam 10 bagian yang sama, berarti satu skala kecil (divisi) pada
skala utama menunjukkan jarak 1 milimeter.
Dari contoh dalam gambar tersebut nampak bahwa garis nol skala vernier
sudah melewati angka 2 pada skala utama yang berarti menunjukkan ukuran
20 mm. Dari angka 2 itu pun masih melewati 7 garis, berarti ukurannya 7 mm,
akan tetapi belum melewati angka 3 skala utama. Garis nol ternyata terletak di
antara baris ke tujuh dan baris ke delapan dari angka 2 sampai 3 skala
utama, namun belum diketahui besarnya. Untuk itu perlu mengetahui baris
skala vernier yang segaris dengan salah satu baris pada skala utama. Ternyata

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 33


baris ke-18 dari skala vernier adalah segaris dengan salah satu baris skala
utama. Ini berarti ada kelebihan 18 x 0.02 mm = 0.36 mm. Dengan demikia
keseluruhan ukurannya menunjukkan jarak : 20 + 7 + 0.36 mm = 27.36 mm.

c. Mikrometer
Alat ukur linier langsung yang juga termasuk alat ukur presisi adalah mikrometer.
Mikrometer inipun mempunyai bentuk yang bermacammacam yang disesuaikan
dengan bentuk yang bermacam-macam yang disesuaikan dengan bentuk dari benda ukur.
Bagian yang sangat penting dari mikrometer adalah ulir utama. Dengan adanya ulir utama
kita dapat menggerakkan poros ukur menjauhi dan mendekati permukaan bidang ukur
dari benda ukur.
Ulir utama ini dibuat sedemikian rupa sehingga satu putaran ulir utama dapat
menggerakkan sepanjang satu kisaran tergantung dari jarak kisar (pitch) ulir. Berarti di sini
gerak rotasi diubah menjadi gerak traslasi. Jarak kisar ulir biasanya dibuat 0.05 mm. Pada
ulir utama inilah biasanya terjadi kesalahan kisar. Bila diamati kesalahan kisar ini
mulai dari awal gerak sampai batas akhir akan terjadi kesalahan kisar yang biasanya
disebut dengan kesalahan kumulatif.
Untuk mengurangi kesalahan kumulatif dari kisar ulir utama maka biasanya
panjang ulir utama hanya dibuat sampai 25 mm yang berarti panjang poros ukur
maksimum hanya 25 mm (panjang yang bisa dicapai oleh maju mundurnya poros ukur).
Untuk pengukuran yang berjarak lebih besar dari pada 25 milimeter maka biasanya dibuat
landasan tetap yang dapat diganti-ganti.
Secara umum, tipe dari mikrometer ada tiga macam yaitu mikrometer luar
(outside micrometer), mikrometer dalam (inside micrometer) dan mikrometer
kedalaman (depth micrometer). Meskipun mikrometer ini terbagi dalam tiga tipe yang
masing-masing tipe mempunyai bermacam-macam bentuk, akan tetapi komponen-
komponen penting dan prinsip baca skalanya pada umumnya sama. Gambar 7
menunjukkan bagian-bagian umum dari mikrometer luar.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 34


Gambar 7. Bagian-bagian umum mikrometer luar.

1) Cara menggunakan mikrometer


Mikrometer adalah alat ukur yang presisi. Oleh karena itu, dalam
menggunakannya harus dengan metode yang betul dan dengan cara yang hati-hati.
Dengan demikian, keselamatan alat ukur dan kesalahan pengukuran dapat
dikontrol. Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan bila akan
melakukan pengukuran dengan menggunakan mikrometer. Hal-hal tersebut antara
lain yaitu :
1. Permukaan bidang ukur dari benda ukur harus betul-betul bersih sehingga
tidak ada kotoran yang dapat merusakkan sensor alat ukur dan kemungkinan
terjadinya kesalahan pengukuran adalah kecil.
2. Sebelum melakukan pengukuran harus dipastikan terlebih dahulu apakah posisi
nol dari skala ukur sudah tepat. Kalau belum harus dilakukan penyetelan
lebih dulu dengan menggunakan kunci penyetel.
3. Bila tersedia alat pemegang mikrometer maka sebaiknya mikrometer diletakkan
pada alat pemegang tersebut sedemikian rupa sehingga posisinya memudahkan
untuk melakukan pengukuran. Bila tidak tersedia alat pemegang mikrometer
maka sebaiknya benda kerja dipegang dengan tangan kiri dan mikrometer dengan
tangan kanan. Aturlah posisinya sedemikian rupa sehingga skala ukurnya dapat
dilihat dan dibaca dengan mudah.
4. Penekanan poros ukur terhadap muka bidang ukur harus diperhatikan betul-
betul, tidak terlalu keras dan tidak terlalu lunak. Terlalu keras menekan poros
ukur akan cepat merusakkan ulir utama dan adanya kemungkinan untuk terjadinya
perubahan bentuk benda ukur sehingga menimbulkan kesalahan pengukuran.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 35


Terlalu lunak menekan poros ukur juga akan menimbulkan kesalahan pengukuran
karena kemungkinan tidak menyentuhnya sensor pada bidang ukur dapat terjadi.
Oleh karena itu, untuk memastikan tekanan poros ukur yang cukup dapat
digunakan alat pembantu pemutar silinder putar yaitu gigi gelincir (rachet).
Penekanan poros ukur pada benda ukur dapat diatur dengan gigi gelinchir ini
begitu muka poros ukur menempel pada muka bidang ukur.
2) Cara pemeliharaan mikrometer
Pemeliharaan mikrometer harus diperhatikan betul-betul. Bila terjadi kerusakan
kecil saja pada mikrometer maka tingkat kecermatannya pun menjadi berkurang. Oleh
karena itu, cara menggunakan dan memelihara mikrometer ini harus dilakukan dengan
baik. Setelah dipakai harus dilap yang bersih dengan kain pembersih yang
disediakan dan harus diberi vaselin bila disimpan ditempatnya.
Salah satu cara untuk mengecek tingkat kecermatannya adalah dengan cara
kalibrasi. Kalibrasi alat-alat ukur dalam jangka waktu tertentu setelah digunakan perlu
dilakukan untuk mengkalibrasi mikrometer adalah sebagai berikut :
1. Mengecek apakah gerakan silinder putar atau poros ukur betul-betul stabil dalam
arti tidak ada goyangan.
2. Mengecek apakah kedudukan posisi nol dari skala ukur sudah tepat.
3. Mengecek apakah kedua muka ukur (sensor) mempunyai kerataan dan
kesejajaran bila dirapatkan.
4. Mengecek apakah harga-harga yang ditunjukkan oleh skala ukurnya betul-betul
menunjukkan harga yang benar menurut standar yang berlaku.
5. Mengecek apakah fungsi dari rachet dan pengunci poros ukur dapat berfungsi
dengan baik.
Bila hal-hal di atas dapat dilakukan dengan baik maka alat ukur mikrometer
keawetannya dapat dijamin dan tingkat kecermatannya pun bisa dipelihara. Ada
dua hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam pengecekan mikrometer
tersebut yaitu pemeriksaan kerataan dan kesejajaran muka ukur serta kebenaran skala
ukurnya.
a. Pemeriksaan kerataan muka ukur
Dengan prinsip optis maka pemeriksaan kerataan salah satu muka ukur dapat
dilakukan. Alat bantu yang digunakan adalah kaca datar (optical flat). Kaca datar
terbuat dari gelas atau Batu Sapphire yang satu permukaannya sangat rata dengan
toleransi kerataan antara 0.2 sampai 0.05 um. (Masalah kaca datar akan disinggung

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 36


lagi pada pembahasan pengukuran permukaan). Kaca datar tidak boleh digosok-
gosokan pada muka ukur. Sebab akan merusakkan kerataan dari kaca datar.
Pemeriksaan kerataan adalah dengan bantuan sinar monochromatis. Bila tidak
ada sinar monochromatis dapat juga digunakan sinar lampu biasa. Kaca datar
diletakkan di atas muka ukur. Dengan bantuan sinar monochromatis dapat dilihat
apakah muka ukur mikrometer masih rata atau tidak. Bila tidak nampak garis
berwarna pada muka ukur setelah dilihat melalui kaca datar maka dapat
disimpulkan bahwa muka ukur adalah rata, bila nampak garis-garis berwarna
berarti muka ukur tidak rata. Ketidak rataan ini dapat dibedakan menurut jumlah
garis berwarna yang nampak menunjukkan adanya ketidak rataan sebesar 0.32 µm.
Muka ukur mikrometer masih dianggap baik bila garis berwarna yang nampak
paling banyak 2 garis (untuk mikrometer dengan kapasitas lebih dari 250 mm
paling banyak 4 garis)

Gambar 8. Pemeriksaan kerataan muka ukur mikrometer dengan kaca datar

b. Pemeriksaan kesejajaran kedua muka ukur


Muka ukur dari mikrometer tidak saja harus rata, tetapi juga harus sejajar bila
dirapatkan antara muka ukur yang satu dengan mua ukur yang lain. Pemeriksaan
kesejajaran muka ukur juga dapat dilakukan dengan menggunakan kaca datar,
tetapi kaca datar yang mempunyai dua permukaan yang rata paralel. Kaca datar
seperti ini lebih dikenal dengan nama kaca paralel (optical parallel). Ketebalan dari
kaca paralel ini bermacam-macam, misalnya 12 mm, 12.12 mm, 12.25 mm dan
12.37 mm. Cara menggunakannya adalah dengan menjepitkan kaca paralel di
antara kedua muka ukur dari mikrometer. Cara menjepitkannya adalah dengan

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 37


memutar gigi gelincir (rachet) secara hati-hati. Seperti halnya pemeriksaan kerataan
muka ukur, maka untuk pemeriksaan kesejajaran juga menggunakan sinar
monochromatis, bisa juga sinar lampu. Dengan adanya sinar ini maka dapat dilihat
apakah ada garis berwarna pada kedua muka ukur mikrometer yang diperiksa.
Sudah barang tentu untuk memeriksanya kedua muka ukur harus betul-betul bersih
dari kotoran agar pemeriksaannya seliti.
Untuk memeriksa kesejajaran muka ukur mikrometer yang mempunyai
kapasitas lebih dari 25 mm dapat digunakan alat bantu lain yaitu blok ukur (gauge
block). Blok ukur ini diletakkan di tengah-tengah antara kedua kaca paralel.
Dengan mengamati jumlah garis berwarna yang nampak maka dapat ditentukan
apakah kedua muka ukur mikrometer betul-betul sejajar atau tidak. Pemeriksaan
sebaiknya dilakukan sampai 5 kali pada posisi yang berbeda yang masing-masing
posisi dicatat apa yang terjadi. Kemudian hasil pengamatannya dibandingkan
dengan standar kesejajaran yang diijinkan. Gambar 9 menunjukkan contoh hasil
pemeriksaan kesejajaran kedua muka ukur mikrometer.

Gambar 9. Pemeriksaan kesejajaran muka ukur mikrometer dengan kaca paralel.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 38


c. Pemeriksaan kebenaran skala ukur mikrometer
Dalam sistem pengukuran kita mempunyai ukuran standar yang biasa
digunakan untuk membandingkan hasil pengukuran yang kita lakukan. Hasil
pengukuran yang dilakukan dengan alat-alat ukur tertentu harus sesuai dengan
ukuran standar diatas. Apabila hasil pengukuran tidak sesuai dengan besarnya
harga ukuran standar maka kebenaran skala alat ukur yang kita gunakan adalah
tidak tepat atau kurang baik. Demikian juga dengan kebenaran skala ukur
mikrometer, harus diperiksa apakah harga yang ditunjukkan oleh skalanya sudah
sesuai dengan harga ukuran standar. Alat ukur standar yang biasa digunakan untuk
memeriksa kebenaran skala ukur mikrometer adalah blok ukur dengan kualitas
kelas 1 atau kelas 2. pembahasan lebih lanjut mengenai blok ukur akan dijumpai
pada pembahasan alat-alat ukur standar. Skala ukur mikrometer yang harus
diperiksa adalah mulai dari ukuran sampai pada ukuran maksimum yaitu 25 mm.
Blok ukur yang digunakan untuk memeriksa juga harus yang bertingkat biasanya
tingkatan kenaikan ukurannya adalah 0.5 mm. Bila sudah diperoleh kepastian
bahwa posisi nol betul-betul tepat baru dilakukan pemeriksaan dengan mengukur
blok ukur yang 0.5 mm, dicatat harga yang ditunjukkan oleh skala mikrometer.
Kemudian diteruskan mengukur blok ukur dengan ukuran yang lebih tinggi sampai
pada mengukur blok ukur yang maksimum. Setiap kali mengukur blok ukur harus
dicatat harga yang ditunjukkan oleh skala mikrometer. Dengan demikian diperoleh
harga-harga pengukuran blok ukur dengan mikrometer yang banyaknya tergantung
dari jumlah blok ukur yang digunakan untuk pemeriksaan. Besarnya tingkat
kesalahan yang mungkin terjadi adalah:
Kesalahan = pembacaan mikrometer – ukuran blok ukur
Kemudian dilakukan pengukuran ulang dengan cara seperti diatas, hanya
mulainya dari pengukuran blok ukur yang maksimum sampai pada pengukuran
blok ukur yang terkecil sampai pada posisi nol semula. Dari kedua hasil
pengukuran (pengukuran naik dan pengukuran turun) diperoleh harga rata-ratanya.
Dengan adanya harga rata-rata inilah maka dibuat grafik tingkat kesalahan
kumulatif (cumulative error). Dalam grafik tersebut, gambar 10, dapat dilihat
adanya kesalahan total (total error) yaitu jarak titik tertinggi dan titik terendah.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 39


Gambar 10. Grafik kesalahan kumulatif skala ukur mikrometer

3) Cara membaca skala ukur mikrometer


Sistem pembacaan mikrometer ada yang menggunakan sistem Inchi dan ada pula
yang menggunakan sistem matrik. Yang paling banyak digunakan dalam praktek
sehari-hari adalah sistem metrik. Karena kedua sistem tersebut digunakan maka untuk
mengenalkan cara pembacaannya kedua-duanya akan dibicarakan.
a. Cara pembacaan skala ukur mikrometer dan inchi
Pada skala tetap(sleeve), jarak dari angka 1 sampai angka 2 adalah 0.1 inchi.
Antara angka1 dan angka 2 dibagi lagi dalam 4 bagian yang sama. Berarti satu
skalanya kecil berjarak 0.025 inchi. Ulir utama mempunyai gang sebanyak 40 gang
per inchi. Bila ulir utama berputar satu putaran penuh maka poros ukur akan maju
sejauh 1/40 inchi (0.0025).
Pada skala putar (thimble), dari garis nol ke garis nol lagi (berarti satu putaran
penuh skala putar) dibagi dalam 25 bagian. Karena satu putaran penuh skala putar
menyebabkan perpindahan 0.0025 inchi maka satu skala (divisi) berjarak 1/25 x
0.0025 inchi = 0.001 inchi. Dengan dasar besarnya jarak satu skala pada tetap dan
pada skala putar maka kita dapat menentukan ukuran benda ukur. Gambar 11
menunjukkan pembagian skala ukur mikrometer dalam inchi. Sedangkan gambar
12 menunjukkan contoh pembacaan ukuran yang ditunjukkan oleh skala ukur
mikrometer juga dalam inchi, ukuran yang ditunjukkan adalah 0.359 inchi.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 40


Gambar 11. Pembagian skala ukur mikrometer dalam inchi

Gambar 12. Contoh pembacaan mikrometer yang menunjukan ukuran 0,359 inchi.

Dari gambar 12 dapat dijelaskan sebagai berikut. Ujung dari skala putar
(thimble) berada di sebelah kanan dari angka 3 pada skala tetap, berarti
menunjukkan ukuran 0.3 inchi. Di samping itu, ujung skala putar masih juga
berada sejauh dua skala kecil (divisi) di sebelah kanan angka 3 skala tetap, berarti
menunjukkan 2 x 0.025 = 0.05 inchi. Sekarang dilihat garis skala pada skala putar,
ternyata ada satu garis skala yang posisinya segaris dengan salah satu garis skala
tetap yaitu garis angka 9 dari skala putar. Ini berarti menunjukkan ukuran 9 x 0.001
= 0.009 inchi. Jadi, pembacaan keseluruhannya adalah 0.3 + 0.05 + 0.009 inchi =
0.359 inchi.
Ada pula mikrometer yang dilengkapi dengan skala vernier sehingga
memungkinkan mikrometer tersebut memiliki tingkat kecermatan sampai 0.0001
inchi atau 0.001 milimeter. Gambar 12 menunjukkan contoh pembacaan
mikrometer yang dilengkapi dengan skala vernier dengan satuan dalam inchi. Dari
gambar nampak bahwa ujung skala putar berada di sebelah kanan angka 2 tetapi
belum sampai pada angka 3 dari skala tetap. Ini berarti ukurannya = 0.02 inchi.
Skala putar garis angka 16 melampaui sedikit garis batas pada skala tetap tetapi

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 41


garis ke 17 belum, berarti ukurannya = 16 x 0.001 inchi = 0.16 inchi, lebih sedikit.
Kelebihan sedikit ini kita tentukan dengan melihat garis skala vernier yang segaris
dengan salah satu garis skala putar. Ternyata garis angka 3 yang segaris dengan
salah satu garis skala putar. Ini berarti menunjukkan ukuran 0.0003 inchi (angka 3
berarti 3/10 bagian dari skala vernier karena skala vernier dibagi dalam 10 bagian
yang sama). Dengan demikian bila angka 3 segaris dengan salah satu garis dari
skala putar maka hal ini menunjukkan 3/10 x 0.001 inchi = 0.0003 inchi. Jadi,
secara keseluruhan gambar tersebut menunjukkan ukuran : 0.2 + 0.016 + 0.0003
inchi = 0.2163 inchi.

Gambar 13. Contoh pembacaan skala ukur mikrometer dengan skala vernier dalam
inchi

b. Cara pembacaan skala ukur mikrometer dan metrik


Pada dasarnya cara membacanya sama saja dengan cara membaca skala ukur
mikrometer dalam inchi seperti yang telah dijelaskan di atas. Ulir utama
mempunyai jarak gang (pitch) sebesar 0.5 mm. Berarti, satu putaran penuh poros
ulir utama akan menggerakkan poros ukur dan skala putar (thimble) sejauh 0.5 mm.
Hal ini berarti juga satu skala tetap mempunyai jarak 0.5 mm. Biasanya pada skala

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 42


tetap dicantumkan angka-angka sebagai berikut 0, 5, 10, 15, 20, dan 25. Angka-
angka ini menunjukkan jarak. Misalnya angka 5 berarti jaraknya 5 mm, angka 25
berarti jaraknya 25 mm. Antara 0 – 5 dibagi dalam 10 bagian yang sama yang
berarti satu bagian skala kecil (divisi) jaraknya 1/10 x 5 mm = 0.5 mm. Pada skala
putar, dari garis nol melingkar 360° menuju ke garis nol lagi dibagi dalam 50
bagian yang sama. Dengan demikian satu skala kecil (divisi) pada skala putar 1/50
x 0.5 mm = 0.01 mm. Karena satu putaran penuh skala putar berarti juga memutar
dari nol ke nol (50 bagian = 0.5 mm). Dengan dasar ini maka kita dapat membaca
skala ukur yang ditunjukkan oleh skala ukur mikrometer dalam metrik. Gambar 14
menunjukkan contoh pembacaan skala ukur mikrometer dalam sistem metrik. Dari
gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Ujung dari skala putar ternyata
berada di sebelah kanan baris kedua bagian atas di sebelah angka 10. Ini
menunjukkan ukuran 12 x 1 mm = 12 mm. Atau 24 x 0.5 mm = 12 mm, bila dilihat
garis atas dan garis bawah dari garis batasnya. Kemudian kita lihat pada garis skala
putar untuk menentukan garis skala yang segaris dengan garis batas skala tetap.
Ternyata baris ke 32 dari skala putar berada segaris dengan garis batas yang berarti
menunjukkan ukuran sebesar 32 x 0.01 mm = 0.32 mm. Jadi, secara keseluruhan
ukuran yang ditunjukkan oleh gambar tersebut adalah 12 + 0.32 mm = 12.32 mm.

Gambar 14. Contoh pembacaan skala mikrometer dalam metrik

Telah dikemukakan di muka bahwa secara umum mikrometer terbagi dalam tiga
tipe yaitu mikrometer luar, mikrometer dalam dan mikrometer kedalaman.
Mikrometer luar digunakan untuk mengukur jarak luar atau diameter luar.
Mikrometer dalam digunakan untuk mengukur jarak dalam atau diameter dalam.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 43


Mikrometer kedalaman digunakan untuk mengukur kedalaman suatu lubang atau
alur.

2. Alat Ukur Linier Tak Lansung dan Cara Penggunaanya


Pada pengukuran linier langsung hasil pengukurannya dapat dibaca langsung pada skala
ukur alat ukur yang digunakan karena memang dari alat ukur tersebut memungkinkan untuk
maksud-maksud di atas. Akan tetapi, kadang-kadang kita tidak bisa melakukan pengukuran
langsung dikarenakan adanya pengukuran yang memerlukan kecermatan yang tinggi
ataupun karena bentuk benda ukur yang tidak memungkinkan untuk diukur dengan alat ukur
langsung. Untuk keadaan seperti di atas maka biasanya dilakukan pengukuran tak langsung,
dalam hal ini adalah pengukuran linier. Untuk melakukan pengukuran linier tak langsung
ada dua jenis alat ukur yang biasa digunakan yaitu alat ukur standar dan alat ukur
pembanding.
a. Alat Ukur Standar
Yang termasuk dalam kategori alat ukur standar untuk pengukuran linier tak langsung
adalah: Blok ukur, batang ukur dan kaliber induk tinggi.
1) Blok Ukur (Gauge Blok)
Blok ukur dikenal juga dengan berbagai nama misalnya end gauge, slip gauge, jo
gauge (johanson gauge). Sebagai alat ukur standar, maka blok ukur ini dibuat
sedemikian rupa sehingga fungsinya sesuai dengan namanya yaitu alat ukur standar.
Alat ukur ini berbentuk segi empat panjang dengan ukuran ketebalan yang bermacam-
macam. Dua dari 6 permukaannya adalah sangat halus, rata dan sejajar. Kedua
permukaan ini sangat halus dan rata maka antara blok ukur yang satu dengan blok ukur
yang lain dapat digabungkan/disusun tanpa perantara alat lain. Bila penyusunannya
dilakukan dengan teliti maka akan diperoleh suatu susunan blok ukur yang sangat kuat
seolah-olah blok ukur yang satu dengan yang lain sangat melekat. Dengan menyusun
blok ukur yang mempunyai ukuran tertentu maka kita dapat mengecek atau
mengkalibrasi ukuran yang lain.
Karena blok ukur ini diperlukan untuk pengukuran presisi sebagai alat ukur standar
maka alat ukur ini harus dibuat dari bahan yang kuat dan tahan lama. Biasanya bahan
untuk membuat blok ukur adalah baja, karbon tinggi, baja paduan atau karbida. Dengan
perlakuan proses panas tertentu maka logam ini mempunyai sifat-sifat: tahan terhadap
keausan karena tingkat kekerasannya tinggi yaitu 65 RC, tahan terhadap korosi,

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 44


koefisien muai panjangnya sama dengan baja karbon yaitu 12 x 10-6 0C-1, tingkat
kestabilan dimensinya tinggi.
Kegunaan dari blok ukur ini antara lain untuk: mengecek dimensi ukuran alat-alat
ukur, mengkalibrasi alat ukur langsung seperti mistar ingsut, mikrometer dan mistar
ketinggian, menyetel komparator dan jam ukur, menyetel posisi batang sinus dan senter
sinus dalam pengukuran sudut, dan mengukur serta menginspeksi komponen-komponen
yang presisi di dalam ruang inspeksi.
a) Set blok ukur dan tingkat kualitasnya
Karena blok ukur ini penggunaannya dengan jalan menyusun atau
menggabungkan maka sudah tentu diperlukan jumlah blok ukur yang cukup.
Biasanya jumlah blok ukur ini dikelompokan dalam satu set blok ukur dengan
jumlah dan tingkatan ukuran yang sudah tertentu. Dimensi blok ukur dibuat dalam
versi yaitu dalam standar inchi dan standar metrik. Untuk blok ukur yang sistem
satuannya dalam inchi dikelompokkan dalam satu set yang terdiri dari blok ukur
dengan berbagai tingkatan, yaitu dari 0.0001 inchi, 0.001 inchi, 0.050 inchi, sampai
dengn 1.000 inchi.
Satu set blok ukur biasanya ditempatkan dalam satu kotak khusus dimana
setiap blok ukur diletakan sedemikian rupa dalam alur-alur sesuai dengan ukuran
blok ukur. Sehingga dengan mudah untuk menggunkanya.

Gambar 15. Set blok ukur

b) Pemakaian blok ukur


Blok ukur digunakan sebagai pembanding pengukur yang teliti
untuk mengukur perkakas, pengukur, diedan sebagai standar laboratorium induk
untukmengukur ukuran selama produksi. Ketelitian berlakuhanya pada suhu 20°C.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 45


2) Batang Ukur
Dengan blok ukur, ukuran maksimal yang masih dapat disusundengan mudah adalah
150 mm. Untuk ukuran yang lebih besar lagi hingga ukuran 250 harus digunakan
perlengkapan blok ukur misalnya pemegang. Ada satu alat ukur lain yang dapat
digunakan untuk mendapatkan ukuran standar yang lebih besar daripada 150 mm, yaitu
batang ukur.
Batang ukur hampir sama dengan blok ukur, akan tetapi ukuranya lebih panjang
daripada blok ukur. Terbuat dari baja karbon dan mempunai penampang berbentuk
lingkaran dengan diameter lebih kurang 22 mm. Proses pengerasanya hanya pada
bagian kedua ujungnya saja. Untuk menghubungkan batang ukur sata batang dengan
batang ukur lainya, pada kedua ujung batang dilubangi dan diulir untuk baut lepas
sebagai penghubungnya.
Batang ukur juga mempunyai kualitas yang bermacam-macam sesuai dengan
fungsinya. Menurut standar BS 1790 ada 4 tingkat ketelitian batang ukur yaitu batang
ukur referensi, batang ukur kalibrasi, batang ukur inspeksi, dan batang ukur kerja.
3) Kaliber Induk Tinggi

Berikut dijelaskan mekanisme penggunaan kaliber induk tinggi (height master) antara
lain sebagai berikut

 Letakkan objek ukur, kaliber induk ketinggian dan blok geser pada meja rata
 Geserkan kaliber ketinggian (blok geser dan kelengkapannya) pada kaliber induk
ketinggian sebagai ukuran standar yang akan digunakan untuk mengukur atau
membandingkan dengan ukuran objek ukur
 Usahakan ujung penggores atau sensor pada pupitas menyentuh permukaan blok
ukur pada kaliber induk ketinggian. Lakukan penyetelan padaposisi nol atau
kencangkan baut pengikatnya jika menggunakan penggores
 Geserkan kaliber ketinggian (blok geser) yang telah diset ukuran ketinggiannya pada
benda kerja
 Bandingkan ketinggian blok ukur dengan ketinggian kaliber apakah lebih tinggi atau
lebih rendah, memenuhi standar toleransi atau di luar standar toleransi yang
diberikannya.
 Simpulkan hasil pengukurannya Memenuhi standar ukuran yang diminta atau tidak
memenuhi standar toleransi yang diberikan.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 46


b. Alat Ukur Pembanding
1) Jam Ukur

Dial indikator/jam ukur adalah salah satu alat ukur yand dapat mengugur kerataan
benda kerja yang ketelitiannya 0,01mm.

Dail indikator digunakan untuk mengukur atau memeriksa kerataan, kesejajaran,


kebundaran, kehalusan, kebengkokan, kelurusan dan ketirusan dari suatu benda kerja.
Dail indikator dapat melakukan pengukuran dengan ketelitian hingga 0,0005 mm.
Metode dial indikator adalah metode yang paling banyak di lakukan, karena ketelitian
cukup dapat dipertanggung-jawabkan, terutama jika dilakukan dengan professional. Dan
harga alat relativ murah.

Bagian bagian dial indikator :

 Rumah indikator berbentuk silindir yang tebal


 Spindle
 Jarum penunjuk seperangkat roda gigi
 Cincin luar pelat dudukan baja
 Ujung keras yang dapat dilepas

Fungsi dial indikator :

 Memeriksa kerataan dari permukaan benda


 Memeriksa penyimpangan yang kecil pada bidang datar, benda bulat, benda
permukaan lengkung
 Memeriksa penyimpangan eksentris
 Memeriksa kesejajaran permukaan benda
 Menyetel kesentrisan benda pada pencekam mesin bubut

Cara mengukur dengan menggunakan dial indikator

 Masukkan tangkai dial indicator pada lubang pengunci yang ada pada tiang dial
indicator, kemudian kencangkan baut pengencangnya.
 Masukkan bagian dial indikator yang terdapat skala dan jarum pad a tangkai dial
indikator kemudian kencangkan.

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 47


 Baca gambar kerja kemudian Bersihkan benda kerja dari kotoran Kemudian lakukan
pengukuran , yang pertama hidupkan aliran magnet pada dial indikator tersebut
dengan memindahkan tombol yag ada pada bagian bawah ke posisi on.
 Posisikan jarum dial indikator tepat dia atas permukaan benda kerja sampai
menyentuh atau terjadi gesekan antara jarum dengan benda kerja.
 Kemudian benda kerja digeserkan ke kanan atau ke kiri apabila jarum pada dial
indikator itu berputar searah jarum jam maka benda kerja tersebut permukaanya
cembung atau menonjol ke atas, sedangkan apabila jarum pada dial indikator berputar
berlawanan dengan arah jarum jam maka benda tersebut cekung.

2) Pupitas
Pupitas disebut juga jam ukur tes atau dial test indicator yang berfungsi untuk
mengetahui:
• Kerataan permukaan benda kerja.
• Mengukur daerah toleransi suatu produk.
Perbedaan dengan dial indicator yaitu terletak pada sensornya. Sensor pada
pupitas berupa lengan dengan ujung berbentuk boladan gerakkannya seperti busur,
mempunyai kapasitas pengukuran yang lebih kecil yaitu antara 0,2 s/d 0,8 mm.
 Konstruksi bagian-bagian pupitas terdiri atas:
• Sensor yang berbentuk lengan
• Blok gerak 
• Blok diam
• Piring ukur 
• Rangka terbuat dari metal atau plastic

MODUL PENGUKURAN OTOMOTIF Page 48