Anda di halaman 1dari 35

PERCOBAAN I

MODULASI AMPLITUDO
A. TUJUAN
A.1. PENGAMATAN RANGKAIAN AM
1. Mengamati bentuk rangkaian sinyal modulasi amplitude
2. Mengamati pengaruh induktor dan kapasitor terhadap sinyal modulasi
A.2. PENGAMATAN DOMAIN WAKTU
1. Mengamati bentuk sinyal keluaran dari modulasi amplitudo pada domain
waktu
2. Mengamati pengaruh indeks modulasi terhadap sinyal modulasi
A.3. PENGAMATAN DOMAIN FREKUENSI
1. Mengamati bentuk sinyal keluaran dari modulasi amplitudo domain
frekuensi
2. Menentukan nilai upper side band (USB) dan lower side band (LSB) dari
pengamatan spectrum sinyal AM

B. DASAR TEORI
B.1 Pengertian Modulasi dan Tujuan Modulasi
B 1.1 Pengertian Modulasi
Modulasi merupakan proses penumpangan sinyal informasi terhadap
sinyal carrier (pembawa) dimana parameter sinyal pembawa atau sinyal
carrier diubah-ubah terhadap yang lain (yaitu sinyal pemodulasi yang berupa
sinyal informasi). Sinyal informasi dapat berbentuk sinyal audio, sinyal video,
atau sinyal yang lain. Dalam melakukan modulasi diperlukan sebuah perangkat
yang dinamakan modulator. Modulasi yaitu proses “menumpangkan” data pada
frekuensi gelombang pembawa (Carrier Signal) ke sinyal informasi/pesan agar
bisa dikirim ke penerima melalui media tertentu (kabel atau udara), biasanya
berupa gelombang sinus. Modulasi dari gelombang sinus akan mengubah
sebuah gelombang pesan baseband menjadi gelombang passband. Selain
modulator terdapat sebuah perangkat lain yang digunakan sebagai
penerjemah/pembaca hasil dari modulasi yang dilakukan oleh modulator yaitu
demodulator. Demodulator mempunyai fungsi kebalikan dari modulator
(demodulasi), yaitu proses mendapatkan kembali data atau proses membaca
data dari sinyal yang diterima dari pengirim. Dalam demodulasi, sinyal pesan
dipisahkan dari sinyal pembawa frekuensi tinggi. Kedua fungsi modulator dan
demodulator tersebut terdapat langsung pada sebuah perangkat yang disebut
dengan modem (modulator demodulator).
Informasi yang dikirim dapat berupa analog maupun digital, sehingga
terdapat 2 jenis modulasi :
1) Modulasi analog
Modulasi analog adalah proses pengiriman sinyal data yang masih berupa
sinyal analog atau berbentuk sinusoidal. Adapun yang termasuk kedalam
modulasi analog adalah sebagai berikut:
• Amplitude Modulation (AM)
Amplitude Modulation (AM) adalah modulasi yang paling sederhana.
Gelombang pembawa (carrier wave) diubah amplitudonya sesuai dengan
sinyal informasi yang akan dikirimkan. Modulasi ini disebut juga linear
modulation, artinya bahwa pergeseran frekuensinya bersifat linier mengikuti
sinyal informasi yang akan ditransmisikan.
• Frequency Modulation (FM)
Frequency Modulation (FM) adalah nilai frekuensi dari gelombang
pembawa (carrier wave) diubah-ubah menurut besarnya amplitudo dari sinyal
informasi. Karena noise pada umumnya terjadi dalam bentuk perubahan
amplitudo, FM lebih tahan terhadap noise dibandingkan dengan AM.
• Phase Modulation (PM)
Phase Modulation (PM) adalah proses modulasi yang mengubah fasa
sinyal pembawa sesuai dengan sinyal pemodulasi atau sinyal pemodulasinya.
Sehingga dalam modulasi PM amplitudo dan frekuensi yang dimiliki sinyal
pembawa tetap, tetapi fasa sinyal pembawa berubah sesuai dengan informasi.

Gambar 1.1 Sinyal Modulasi Analog


2) Modulasi digital
Modulasi digital adalah teknik pengkodean sinyal dari sinyal analog ke
dalam sinyal digital. Pada teknik ini, sinyal informasi digital yang akan
dikirimkan dipakai untuk mengubah frekuensi dari sinyal pembawa. Dalam
komunikasi digital, sinyal informasi dinyatakan dalam bentuk digital berupa
biner ”1” dan ”0”, sedangkan gelombang pembawa berbentuk sinusoidal yang
termodulasi disebut juga modulasi digital. Adapun yang termasuk kedalam
modulasi digital adalah sebagai berikut :
• Phase Shift Keying (PSK)
Modulasi digital Phase Shift Keying (PSK) merupakan modulasi yang
menyatakan pengiriman sinyal digital berdasarkan pergeseran fasa. Biner 0
diwakilkan dengan mengirim suatu sinyal dengan fasa yang sama terhadap
sinyal yang dikirim sebelumnya dan biner 1 diwakilkan dengan mengirim suatu
sinyal dengan fasa berlawanan dengan sinyal yang dikirim sebelumnya. Dalam
proses modulasi ini, fasa dari frekuensi gelombang pembawa berubah-ubah
sesuai dengan perubahan status sinyal informasi digital.
• Frequency Shift Keying (FSK)
Modulasi digital Frequency Shift Keying (FSK) merupakan sejenis
Frequency Modulation (FM), dimana sinyal pemodulasinya (sinyal digital)
menggeser outputnya antara dua frekuensi yang telah ditentukan sebelumnya,
yang biasa diistilahkan frekuensi mark dan space. Modulasi digital dengan
FSK juga menggeser frekuensi carrier menjadi beberapa frekuensi yang
berbeda didalam band-nya sesuai dengan keadaan digit yang dilewatkannya.
Jenis modulasi ini tidak mengubah amplitudo dari sinyal carrier yang berubah
hanya frekuensi.
• Amplitudo Shift Keying (ASK)
Modulasi digital Amplitude Shift Keying (ASK) adalah pengiriman
sinyal digital berdasarkan pergeseran amplitudo. Sistem modulasi ini
merupakan sistem modulasi yang menyatakan sinyal digital 1 sebagai suatu
nilai tegangan dan sinyal digital 0 sebagai suatu nilai tegangan yang bernilai 0
volt. Sehingga dapat diketahui bahwa didalam sistem modulasi ASK,
kemunculan frekuensi gelombang pembawa tergantung pada ada tidaknya
sinyal informasi digital.
Gambar 1.2 Sinyal Modulasi Digital
Perbedaan utama antara modulasi digital dan modulasi analog adalah
bahwa pesan yang ditransmisikan untuk sistem modulasi digital mewakili
seperangkat simbol-simbol abstrak (Misalnya 0 dan l untuk sistem transmisi
biner), sedangkan dalam sistem modulasi analog, sinyal pesan adalah gelombang
kontinyu. Untuk mengirim pesan digital, modulasi digital mengalokasikan
sepotong waktu yang disebut interval sinyal dan menghasilkan fungsi kontinyu
yang mewakili simbol (Bribe & M.MTr, 2015)

B 1.2 Tujuan modulasi


Tujuan dari modulasi adalah untuk memindahkan posisi spectrum dari
sinyal data, dari pita spectrum yang rendah (base band) ke pita spectrum yang
jauh lebih tinggi (band pass). Hal ini dilakukan pada transmisi data tanpa kabel
(dengan antena), yang mana dengan membesarnya frekuensi data yang dikirim,
maka dimensi antenna yang digunakan akan mengecil. Kegunaan lain dari
modulasi adalah, dengannya dimungkinkan proses pengiriman data/informasi
melalui suatu media yang sama secara bersamaan. Proses modulasi terjadi
dengan melakukan variasi pada salah satu besaran karakteristik dari sinyal
pembawa (yang berfrekuensi tinggi) seirama dengan sinyal data (yang
berfrekuensi rendah). Sinyal pembawa yang telah dimodulasikan ini di sebut
sinyal termodulasi. Sinyal data disebut juga sinyal pemodulasi. Alat, di mana
proses modulasi ini terjadi, disebut juga modulator (Fitria, 2013).

B.2 Modulasi Amplitudo


Amplitude Modulation (AM) adalah proses modulasi paling sederhana. Dimana
gelombang pembawa (carrier wave) diubah amplitudonya sesuai dengan informasi
yang akan dikirimkan. Modulasi ini juga disebut linier modulation, artinya bahwa
pergesaran frekuensinya bersifat linier mengikuti sinyal informasi yang akan
ditransmisikan. Dibandingkan frekuensi modulasi (FM), AM dapat
mentransmisikan sinyal dengan cakupan jarak yang sangat jauh sedangkan pada FM
hanya dapat mentransmisikan sinyal dalam cakupan jarak yang dekat.
Chattopadhyay dkk (dalam Ninla Elmawati Falabiba, 2019) Pada jenis
modulasi ini amplitudo sinyal pembawa diubah-ubah secara proporsional terhadap
amplitudo sesaat sinyal pemodulasi, sedangkan frekuensinya tetap selama proses
modulasi.
Smale (dalam Ninla Elmawati Falabiba, 2019) mengatakan Gelombang
pembawa yang belum dimodulasikan mempunyai harga amplitudo maksimum yang
tetap dan frekuensi yang lebih tinggi daripada sinyal pemodulasi, tetapi bila sinyal
pemodulasi telah diselipkan, maka harga amplitudo maksimum dari gelombang
pembawa akan berubah-ubah sesuai dengan harga-harga sesaat dari sinyal
pemodulasi tersebut dan bentuk gelombang luar atau sampel dari harga-harga
amplitudo gelombang yang telah dimodulasi tersebut sama dengan gelombang
sinyal informasi yang asli atau dengan perkataan lain gelombang sinyal pemodulasi
telah diselipkan pada gelombang pembawa.

Gambar 1.3 Modulasi AM


Sinyal pembawa berupa gelombang sinus dengan persamaan matematisnya sebagai
berikut:
ec = Ec sin c t…………………………………………………………………...(1)
Sinyal pemodulasi, untuk memudahkan analisa, diasumsikan sebagai gelombang
sinusoidal juga, dengan persamaan matematisnya:
em = Em sin m t………………………………………………………………….(2)
Dimana :
Ec = amplitudo maksimum sinyal pembawa
ɷc = 2π fc dengan fc adalah frekuensi sinyal pembawa
Em = amplitudo maksimum sinyal pemodulasi
ɷm = 2π fm dengan fm adalah frekuensi sinyal pemodulasi
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pada modulasi amplitudo besarnya
amplitudo sinyal pembawa akan diubah-ubah oleh sinyal pemodulasi sehingga
besarnya sebanding dengan amplitudo sinyal pemodulasi tersebut. Frekuensi sinyal
pembawa biasanya jauh lebih tinggi daripada frekuensi sinyal pemodulasi.
Frekuensi sinyal pemodulasi biasanya merupakan sinyal pada rentang frekuensi
audio (AF, Audio Frequency) yaitu antara 20 Hz sampai dengan 20 kHz. Sedangkan
frekuensi sinyal pembawa biasanya berupa sinyal radio (RF, Radio Frequency)
pada rentang frekuensi tengah (MF, Mid-Frequency) yaitu antara 300 kHz sampai
dengan 3 Mhz.

Gambar 1.4 Bagan Modulasi

(a) Sinyal pemodulasi

(b) Sinyal pembawa


(c) Sinyal termodulasi AM
Gambar 1.5 Sinyal informasi (pemodulasi), sinyal pembawa, dan sinyal
termodulasi AM.

Pada gambar 1.6. diperlihatkan spectrum frekuensi gelombang termodulasi AM


yang dihasilkan oleh spectrum analyzer. Harga amplitudo masing-masing bidang
sisi dinyatakan dalam harga mutlaknya (Yasmine dan Nadya, 2019)

Gambar 1.6 Spectrum Frekuensi Sinyal Termodulasi AM

B.3 Teorema Nyquist


H. Nyquist dan C. E. Shannon (dalam Sevani & Ariesta, 2014) Teorema
NyquistShannon yang menyatakan bahwa sinyal analog harus disampling dengan
frekuensi sampling sekurang-kurangnya dua kali frekuensi tertinggi dari sinyal yang
disampling agar dapat direkonstruksi dengan sempurna.
D. L. Donoho, E. Candes dan M. B. Wakin, serta R. Baraniuk (dalam Sevani &
Ariesta, 2014) Persyaratan ini dipenuhi oleh hampir semua peralatan akuisisi digital
moderen. Teknik sampling yang didasarkan pada teorema Nyquist-Shannon ini
direalisasikan pada umumnya dengan menggunakan sampling periodik dengan jarak
antar sampel yang memenuhi teorema tersebut. Syarat Nyquist-Shannon ini sering
menyebabkan proses akuisisi menjadi lama dan data hasil akuisisi menjadi sangat
besar. Pada beberapa jenis sinyal yang bersifat sparse, dimungkinkan untuk
mensampling sinyal pada frekuensi yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan
frekuensi minimal yang disyaratkan oleh teorema Nyquist-Shannon tersebut. Skema
ini disebut dengan teknik compressive sensing.
Persamaan Teorema Nyquist :
Fc > 2.Fin max Keterangan
:
Fc = Sinyal Carrier
Fin max = Sinyal Informasi Maksimum

B.4 Jenis-Jenis Modulasi Amplitudo B.4.1


AM SSB (Single Sideband)
Yuyunsitirohmah (dalam Lestari, 2017) AM-SSB adalah salah satu jenis
modulasi amplitudo dimana spectrum frekuensi yang dipancarkan hanya salah
satu dari spectrum frekuensi AM yaitu frekuensi LSB (Lower Sideband) atau
frekuensi USB (Upper Sideband) saja. Dilihat dari penggunaan bandwidth,
modulasi ini lebih efisien karena mempunyai bandwidth transmisi setengah
dari
AM maupun DSB-SC. Pembangkitan sinyal SSB dilakukan dengan
membangkitkan sinyal DSB terlebih dahulu, kemudian menekan salah satu
sideband dengan filter. Jika USB yang ditekan, maka akan menghasilkan sinyal
SSB-LSB. Sebaliknya menghasilkan SSB-USB.

Gambar 1.7 Modulasi AM-SSB dan Spectrum SSB

B.4.2 AM DSBFC (Double Sideband Full Carrier)


Yuyunsitirohmah (dalam Lestari, 2017) Double Sideband Full Carrier
disebut juga full modulasi amplitudo, dimana spectrum yang dipancarkan
adalah spectrum frekuensi AM yaitu frekuensi LSB dan frekuensi USB.
Bandwidth sinyal termodulasinya adalah sama dengan dua kali sinyal
informasinya.

Gambar 1.8 Modulasi AM-DSBFC

B.4.3 AM DSBSC (Double Sideband Suppressed Carrier)


Yuyunsitirohmah (dalam Lestari, 2017) AM-DSBSC adalah jenis
modulasi amplitudo dimana spectrum frekuensi carrier di tekan mendekati nol.
AM jenis ini juga dibuat untuk mengatur agar amplitudo sinyal carrier berubah
secara proporsional sesuai perubahan amplitudo pada sinyal pemodulasi atau
sinyal informasi.
Roody dan Coolen (dalam Lestari, 2017) DSBSC memanfaatkan daya
transmit lebih efisien dibanding amplitudo modulasi standar, namun masih
diperlukan dua kali jumlah bandwidth dibanding dengan Single Sideband
(SSB). Hendaknya diperhatikan bahwa, walaupun bandwidth dua kali lipat
daripada yang dibutuhkan untuk SSB, daya yang diterima juga dua kali lipat
dari yang didapat SSB dan karena itu maka signal-to-noise rationya sama.
Akan tetapi, penghematan bandwidth merupakan tujuan penting dalam sistem
komunikasi dan biasanya DSBSC merupakan satu langkah dalam
membangkitkan SSB.
Gambar 1.9 Modulasi AM-DSBSC

B.4.4 AM VSB (Vestigial Sideband)


Yuyunsitirohmah (dalam Lestari, 2017) Penapisan salah satu komponen
bidang sisi (LSB atau USB) pada transmisi SSB dapat menghemat lebar bidang
dan daya pancar. Penapisan semacam ini membutuhkan cara khusus dan proses
konversi. Terdapat suatu teknik intermediet antara SSB dan DSBFC yang
disebut Vestigial Sideband (VSB), yang digunakan dalam industri televisi
komersial untuk transmisi dan penerimaan sinyal video.
Dalam VSB, sebagian (vestige) komponen bidang sisi bawah (LSB) ikut
ditransmisikan bersama komponen bidang sisi atas (USB) dan komponen
pembawa. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa komponen USB
termasuk pembawa video benar-benar ditransmisikan secara keseluruhan.
Disamping itu juga didapatkan penghematan daya dan lebar bidang jika
dibandingkan dengan transmisi DSBFC.

Gambar 1.10 Spectrum VSB

B.5 Blok diagram system Telekomunikasi


Gambar 1.11 Diagram Blok Sistem Telekomunikasi

Prinsip kerja sebuah sistem telekomunikasi dimulai dengan stimulasi pesan


berupa data atau informasi yang akan dikirim (text, data, voice, picture, music,
picture and video). Pesan tersebut lalu diubah menjadi bentuk biner atau bit yang
kemudian di-encode menjadi sinyal oleh perangkat encoder. Sinyal tersebut lalu
dikirimkan melalui media transmitter yang telah ditentutan saat membuat
konfigurasi jaringan, sehingga sinyal dapat diterima oleh stasiun penerima. Di
stasiun penerima, sinyal didecode dalam bentuk yang sesuai dengan format aslinya
oleh perangkat receiver, sehingga pesan bisa diterima seperti data atau informasi
yang telah dikirim (Salasi

Wasis, 2019)
Fungsi Tiap komponen blok analog :
• Sumber informasi : Memberikan informasi masukan
• Transduser input : Mengubah informasi masukan menjadi isyarat elektris
a. Modulator analog : Menyesuaikan isyarat elektris dengan media transmisi
misalnya gelombang radio
• Media Transmisi : Kabel maupun non-kabel Proses di penerima simetris pada
media denganfungsi yang berlawanan dengan bagian pengirim.

B.6 LSB (Lower Side band) dan USB (Upper Side band)
Lower Side band merupakan bagian dari spectrum sinyal yang berfrekuensi
rendah dan merupakah slisih antara frekuensi sinyal carrier dengan frekuensi sinyal
informasi, dengan rumus :
LSB = Fc – Fm Keterangan
:
LSB = Lower Side band
Fc = Sinyal Carrier (Pembawa)
Fm = Sinyal Modulasi/Informasi

Upper Side band merupakan bagian dari spectrum sinyal yang berfrekuensi
tinggi yang merupakan penjumlahan dari frekuensi sinyal carrier dengan frekuensi
sinyal informasi, dengan rumus :
USB = Fc + Fm Keterangan
:
USB = Upper Side band
Fc = Sinyal Carrier (Pembawa)
Fm = Sinyal Modulasi/Informasi
(Kurniawan et al., 2018)
B.7 Kelebihan dan Kekurangan AM
Dalam prateknya AM pun dapat terjadi kekurangan maupun kelebihannya di
dalam melakukan pemrosesan diantaranya yaitu :
B.7.1 Kelebihan AM
1. Memiliki range jangkauan yang luas daripada FM, karena modulasi
amplitudo dipantulkan pada lapisan udara teratas yaitu ionosfer.
2. Sinyal dapat berubah menjadi suara dengan peralatan sederhana. Jika
sinyal cukup kuat, bahkan tidak dibutuhkan sumber daya khusus, dan
dapat diterima dengan sebuah penerima radio kristal sederhana tanpa
catu daya sama sekali (mungkin beberapa pembaca pernah mengalami
proyek radio kristal di masa kecil).
3. Lebih mudah di modulasi karena lebih sederhana (Lestari, 2017).

B.7.2 Kekurangan AM
1. Mudah dipengaruhi oleh keadaan transmisinya, seperti: redaman oleh
udara, noise, interfrensi dan bentuk-bentuk gangguan lainnya.
2. Daya yang dibutuhkan lebih besar dibandingkan FM.
3. Kualitas suara yang ditransmisikan tidak sejernih FM karena memiliki
bandwith yang kecil (Lestari, 2017).
C. ALAT DAN BAHAN
1. Laptop
2. 1N4001
3. ALTERNATOR
4. CAPASITOR
5. INDUCTOR
6. RESISTOR
7. OSILOSKOP
8. Ground
9. Program PROTEUS
10. Program MATLAB
11. GUI Amplitude Modulation Demo

D. LANGKAH PERCOBAAN
D.1 PENGAMATAN RANGKAIAN AM
1. Menghidupkan laptop yang akan digunakan
2. Membuka aplikasi Proteus
3. Mengklik scematic capture seperti gambar dibawah ini

4. Mengklik component mode , lalu klik pick device.

5. Mencari komponen-komponen yang dibutuhkan untuk membuat rangkaian. 6.


Merangkai seperti rangkaian dibawah ini
7. Menentukan parameter sinyal informasi (amplitudo dan frekuensi) pada blok
Modulating Signal.
8. Menentukan parameter sinyal carrier (amplitudo dan frekuensi) pada blok
Carrier Signal.
9. Mengklik tombol run untuk menampilkan keluaran sinyal.
10. Mengamati bentuk sinyal keluaran dan catat hasil percobaan.
D.2 PENGAMATAN DOMAIN WAKTU
1. Menghidupkan Komputer yang akan digunakan.
2. Membuka program MATLAB.
3. Mengketik “guide” pada command windowdi program MATLAB.
4. Membuka file GUI Amplitude Modulation Demo dengan format *m file atau
*fig.
5. Mengklik tombol “run” pada tampilan GUI atau editor.

Gambar D.2. Tampilan GUI Amplitude Modulation


6. Menentukan parameter sinyal informasi (amplitudo dan frekuensi) pada blok
Modulating Signal.
7. Menentukan parameter sinyal carrier (amplitudo dan frekuensi) pada blok
Carrier Signal.
8. Menglik tombol Time Domain pada GUI untuk menampilkan keluaran sinyal
AM pada domain waktu.
9. Mengamati bentuk sinyal keluaran dan catat hasil percobaan.
10. Mengulangi pengamatan pada keluaran sinyal AM dengan amplitudo sinyal
informasi yang berbeda.

D.3 PENGAMATAN DOMAIN FREKUENSI


1. Mengikuti langkah 1 sampai 7 pada sub percobaan I.
2. Mengklik tombol Spectrum pada GUI untuk menampilkan keluaran sinyal AM
pada domain frekuensi.
3. Mengamati bentuk sinyal keluaran dan catat hasil percobaan.
4. Mengulangi pengamatan spectrum sinyal AM dengan frekuensi sinyal
informasi yang berbeda.
E. DATA HASIL PERCOBAAN
E.1 Tabel hasil pengamatan rangkaian
L= 2 mH
C= 6 uF

L= 2 mH
C= 7uF

L= 2 mH
C= 8 uF

L= 1 mH
C= 5 uF

L= 2 mH
C= 5 uF
L= 3 mH
C= 5 uF

L= 1 mH
C= 1 uF

L= 2 mH
C= 2 uF

L= 3 mH
C= 3 uF
E.2. Tabel hasil pengamatan domain waktu.
Sinyal informasi 1 Sinyal carrier 1
Vm = 0,4 Volt Vc = 1,2 Volt
Fm = 2 Hz Fc = 120 Hz

Sinyal informasi 2 Sinyal carrier 2


Vm = 0,5 Volt Vc = 1,2 Volt
Fm = 2 Hz Fc = 120 Hz

Sinyal informasi 3 Sinyal carrier 3


Vm = 0,6 Volt Vc = 1,2 Volt
Fm = 2 Hz Fc = 120 Hz

Sinyal informasi 4 Sinyal carrier 4


Vm = 0,7 Volt Vc = 1,2 Volt
Fm = 4 Hz Fc = 120 Hz
Sinyal informasi 5 Sinyal carrier 5
Vm = 0,8 Volt Vc = 1,2 Volt
Fm = 4 Hz Fc = 120 Hz

Sinyal informasi 6 Sinyal carrier 6


Vm = 0,9 Volt Vc = 1,2 Volt
Fm = 4 Hz Fc = 120 Hz

Sinyal informasi 7 Sinyal carrier 7


Vm = 1,0 Volt Vc = 1,2 Volt
Fm = 4 Hz Fc = 120 Hz

Sinyal informasi 8 Sinyal carrier 8


Vm = 1,1 Volt Vc = 1,2 Volt
Fm = 4 Hz Fc = 120 Hz
Sinyal informasi 9 Sinyal carrier 9
Vm = 1,2 Volt Vc = 1,2 Volt
Fm = 4 Hz Fc = 120 Hz

Sinyal informasi 10 Sinyal carrier 10


Vm = 1,3 Volt Vc = 1,2 Volt
Fm = 4 Hz Fc = 120 Hz
E.3 Tabel hasil pengamatan domain frekuensi.
Sinyal informasi 1 Sinyal carrier 1
Vm = 2 Volt Vc = 1 Volt
Fm = 4 Hz Fc = 246 Hz

Sinyal informasi 2 Sinyal carrier 2


Vm = 2 Volt Vc = 1 Volt
Fm = 6 Hz Fc = 246 Hz

Sinyal informasi 3 Sinyal carrier 3


Vm = 2 Volt Vc = 1 Volt
Fm = 8 Hz Fc = 246 Hz

Sinyal informasi 4 Sinyal carrier 4


Vm = 2 Volt Vc = 1Volt
Fm = 10 Hz Fc = 246 Hz
Sinyal informasi 5 Sinyal carrier 5
Vm = 2 Volt Vc = 1 Volt
Fm = 12 Hz Fc = 246 Hz

Sinyal informasi 6 Sinyal carrier 6


Vm = 2 Volt Vc = 1Volt
Fm = 14 Hz Fc = 246 Hz

Sinyal informasi 7 Sinyal carrier 7


Vm = 2 Volt Vc = 1Volt
Fm = 16 Hz Fc = 246 Hz
Sinyal informasi 8 Sinyal carrier 8
Vm = 2 Volt Vc = 1 Volt
Fm = 18 Hz Fc = 246 Hz

Sinyal informasi 9 Sinyal carrier 9


Vm = 2 Volt Vc = 1 Volt
Fm = 20 Hz Fc = 246 Hz

Sinyal informasi 10 Sinyal carrier 10


Vm = 2 Volt Vc = 1 Volt
Fm = 22 Hz Fc = 246 Hz
F. ANALISA DATA
F.1 Analisa pengamatan rangkaian AM

Rangkaian diatas merupakan rangkaian AM dimana dapat dilihat terdapat 2


alternator dimana pada bagian atas adalah sinyal carrier sementara bagian bawah
adalah sinyal informasi. Pada rangkain tersebut juga terdapat empat buah resistor
dimana fungsi dari resistor ini adalah sebagai penghambat/resistan yang mampu
mengatur atau mengendalikan tegangan dan arus listrik rangkaian. Terdapat juga
sebuah dioda yang memiliki fungsi sebagai penyearah gelombang. Serta satu buah
induktor dan satu buah kapasitor, dimana induktor memiliki fungsi untuk
menyimpan arus listrik dalam medan magnet, menapis (filter) frekuensi tertentu,
menahan arus bolak-balik (AC), meneruskan arus searah (DC), dan pembangkit
getaran serta melipat gandakan tegangan sedangkan kapasitor memiliki fungsi
sebagai penahan arus AC.
Sinyal carrier dihubungkan ke Channel A yang merupakan pembaca sinyal
carrier, dan sinyal informasi dihubungkan ke Channel B yang merupakan
pembaca sinyal informasi. Kemudian sinyal carrier juga dihubungkan secara seri
dengan resistor R1, dan sinyal informasi dihubungkan secara seri dengan resistor
R2, kemudian output dari resistor R2 dihubungkan dengan output dari resistor R1,
dilanjutkan dengan menghubungkannya dengan resistor R3 dan dioda. Output dari
dioda kemudian dihubungkan dengan resistor R4, kapasitor dan juga induktor yang
selanjutnya duhubungkan dengan Channel C. Resistor R3 juga terhubung dengan
ground bersama dengan resistor R4, kapasitor dan juga induktor. Dimana nantinya
nilai dari C1 dan L1 akan menghasilkan output yang akan menampilka hasil sinyal
termodulasi pada osiloskop.
Pada rangkaian nilai dari kapasitor C1 dan Induktor L1 dapat mempengaruhi
perubahan bentuk dari spektrum sinyal AM, dimana ketika nilai dari kapasitor C1
dan induktor L1 berubah maka bentuk dari sinyal AM akan berubah atau nilai dari
kapasitor C1 dan juga induktor L1 berbanding lurus dengan perubahan bentuk dari
sinyal AM. Indeks Modulasi
F.2. Analisa sinyal domain waktu.
Diketahui:
Sinyal informasi Sinyal Carrier
Vm = 0,4 volt Vc = 1,2 volt
Fm = 4 Hz Fc = 120 Hz

Persamaan sinyal:
Sm (t) = Vm cos (2π fm t) Sc (t) = Vc cos (2π fc t)
= 0,4 cos (2π 4 t) = 1,2 cos (2π 120 t)
= 0,4 cos (8 π t) = 1,2 cos (240 π t)

Persamaan sinyal AM:

m m
SAM(t) = V c cos(2 π f c ¿ t)+ V c cos 2 π (f c −f m ¿ )+ cos 2 π (f c + f m ¿ ) ¿ ¿ ¿
2 2

0,33 0,33
= 1,2 cos (2 π 120 t) + 1,2 cos 2 π (120-4) + cos 2 π (120+4)
2 2
= 1,2 cos (240 π t) + 0,198 cos 232 π + 0,165 cos 248 π

Indeks modulasi AM
V m 0,4
m= = =0,33
V c 1,2
Tabel Analisa Domain Waktu
No Sinyal Informasi Sinyal Carrier Indeks
Modulasi
Vm Fm Sm(t) Vc Fc Sc(t) SAM(t) (m)
(V) (Hz) (V) (Hz)

1 0,4 4 1,2 120 0,33


0,4 cos (8 π t) 1,2 cos (240 π t) 1,2 cos (240 π t) + 0,198 cos 232 π + 0,165 cos 248 π
2 0,5 4 0,5 cos (8 π t) 1,2 120 1,2 cos (240 π t) 1,2 cos (240 π t) + 0,252 cos 232 π + 0,21 cos 248 π 0,42

3 0,6 4
0,6 cos (8 π t)
1,2 120
1,2 cos (240 π t) 1,2 cos (240 π t) + 0,3 cos 232 π + 0,25 cos 248 π 0,5

4 0,7 4 1,2 120 1,2 cos (240 π t) + 0,348 cos 232 π + 0,29 cos 248 π 0,58
0,7 cos (8 π t) 1,2 cos (240 π t)
5 0,8 4 1,2 120 1,2 cos (240 π t) + 0,402 cos 232 π + 0,335 cos 248 π 0,67
0,8 cos (8 π t) 1,2 cos (240 π t)
6 0,9 4 0,9 cos (8 π t) 1,2 120 1,2 cos (240 π t) 1,2 cos (240 π t) + 0,45 cos 232 π + 0,375 cos 248 π 0,75

7 1,0 4 1,2 120 1,2 cos (240 π t) + 0,498 cos 232 π + 0,415 cos 248 π 0,83
1,0 cos (8 π t) 1,2 cos (240 π t)
8 1,1 4 1,2 120 1,2 cos (240 π t) + 0,552 cos 232 π + 0,46 cos 248 π 0,92
1,1 cos (8 π t) 1,2 cos (240 π t)
9 1,2 4 1,2 120 1,2 cos (240 π t) + 0,6 cos 232 π + 0,5 cos 248 π 1
1,2 cos (8 π t) 1,2 cos (240 π t)
10 1,3 4 1,3 cos (8 π t) 1,2 120 1,2 cos (240 π t) 1,2 cos (240 π t) + 0,648 cos 232 π + 0,54 cos 248 π 1,08
Berdasarkan tabel diatas, dapat dianalisa bahwa sinyal informasi memiliki nilai
frekuensi yang tetap yaitu 10Hz, sedangkan nilai amplitudonya bertambah 0,1V tiap
data. Kemudian sinyal carrier memiliki nilai amplitudo dan frekuensi yang sama pada
setiap data. Pada tabel analisa domain waktu diatas, bisa kita lihat juga hubungan antara
indeks modulasi dan sinyal AM, dimana pada saat Vm < 1, maka maka sinyal AM
termodulasi tidak sempurna. Kondisi ini merupakan modulasi kurang sempurna. Pada
saat Vm = 1 sinyal akan termodulasi sempurna, kondisi ini kondisi ideal, dimana
amplitudo sinyal termodulasi akan bervariasi dari 0 sampai 2 kali amplitudo sinyal
carrier (sebelum termodulasi). Pada saat Vm > 1, sinyal AM yang dihasilkan akan
mengalami distorsi, sehingga sinyal termodulasi akan jauh berbeda dengan bentuk
sinyal informasi (overmodulasi).
F.3 Analisa sinyal domain frekuensi Diketahui:
Sinyal Informasi Sinyal Carrier Vm = 0.6 Volt Vc
= 0.6 Volt
Fm = 10 Hz Fc = 300

Persmaan Sinyal: Persamaan Sinyal:


Sm(t) = Vm cos(2𝜋𝑓𝑚𝑡) Sc(t) = Vc cos(2𝜋𝑓𝑐𝑡)
= 0.6 cos(2𝜋10𝑡) = 0.6 cos(2𝜋300𝑡)
= 0.6 cos (20 𝜋𝑡) = 0.6 cos (600 𝜋𝑡)

Persamaan sinyal AM: SAM(t) = Vc cos(2𝜋𝑓𝑐𝑡) + 𝑚 𝑉𝑐 cos 2𝜋 (𝑓𝑐 − 𝑓𝑚)𝑡 − 𝑚

𝑉𝑐 cos 2𝜋 (𝑓𝑐 + 𝑓𝑚)𝑡


2 2

= 0.6 cos(2𝜋300𝑡) + 0.6 cos 2𝜋 (300 − 10)𝑡 − 0.6 cos 2𝜋 (300 + 10)𝑡
= 0.6 cos(600𝜋𝑡) + 0.3 cos 2𝜋 (290)𝑡 − 0.3 cos 2𝜋 (310)𝑡
= 0.6 cos(600𝜋𝑡) + 0.3 cos(580𝜋𝑡) − 0.3 cos(620𝜋𝑡)

Indeks modulasi AM
𝑉𝑚 0,6
m= = =1
𝑉𝑐 0,6

Upper Side band: Lower Side band:


USB = Fc + Fm LSB = Fc – Fm
= 300 + 10 = 300 – 10
= 310 = 290
Tabel Analisa Domain Frekuensi
No Sinyal Informasi Sinyal Carrier LSB USB

Vm Fm Sm(t) Vc Fc Sc(t) SAM(t)


(Volt) (Hz) (Volt) (Hz)
1 0.6 10 0.6 cos (20 𝜋𝑡) 0.6 300 0.6 cos (600 𝜋𝑡) 0.6 cos(600𝜋𝑡) + 0.3 cos(580𝜋𝑡) − 0.3 cos(620𝜋𝑡) 290 310

2 0.6 20 0.6 cos (40 𝜋𝑡) 0.6 300 0.6 cos (600 𝜋𝑡) 0.6 cos(600𝜋𝑡) + 0.3 cos(560𝜋𝑡) − 0.3 cos(640𝜋𝑡) 280 320

3 0.6 30 0.6 cos (60 𝜋𝑡) 0.6 300 0.6 cos (600 𝜋𝑡) 0.6 cos(600𝜋𝑡) + 0.3 cos(540𝜋𝑡) − 0.3 cos(660𝜋𝑡) 270 330

4 0.6 40 0.6 cos (80 𝜋𝑡) 0.6 300 0.6 cos (600 𝜋𝑡) 260 340
0.6 cos(600𝜋𝑡) + 0.3 cos(520𝜋𝑡) − 0.3 cos(680𝜋𝑡)
5 0.6 50 0.6 cos (100 𝜋𝑡) 0.6 300 0.6 cos (600 𝜋𝑡) 0.6 cos(600𝜋𝑡) + 0.3 cos(500𝜋𝑡) − 0.3 cos(700𝜋𝑡) 250 350

6 0.6 60 0.6 cos (120 𝜋𝑡) 0.6 300 0.6 cos (600 𝜋𝑡) 0.6 cos(600𝜋𝑡) + 0.3 cos(480𝜋𝑡) − 0.3 cos(720𝜋𝑡) 240 360

7 0.6 70 0.6 cos (140 𝜋𝑡) 0.6 300 0.6 cos (600 𝜋𝑡) 0.6 cos(600𝜋𝑡) + 0.3 cos(460𝜋𝑡) − 0.3 cos(740𝜋𝑡) 230 370

8 0.6 80 0.6 cos (160 𝜋𝑡) 0.6 300 0.6 cos (600 𝜋𝑡) 220 380
0.6 cos(600𝜋𝑡) + 0.3 cos(440𝜋𝑡) − 0.3 cos(760𝜋𝑡)
9 0.6 90 0.6 cos (180 𝜋𝑡) 0.6 300 0.6 cos (600 𝜋𝑡) 0.6 cos(600𝜋𝑡) + 0.3 cos(4200𝜋𝑡) − 0.3 cos(780𝜋𝑡) 210 390

10 0.6 100 0.6 cos (200 𝜋𝑡) 0.6 300 0.6 cos (600 𝜋𝑡) 0.6 cos(600𝜋𝑡) + 0.3 cos(400𝜋𝑡) − 0.3 cos(800𝜋𝑡) 200 400
Berdasarkan tabel diatas dan gambar spektrum sinyal AM yang telah termodulasi,
maka dapat diketahui bahwa LSB ( Lower side Band ) merupakan bagian dari spektrum
sinyal yang berfrekuensi rendah, dan merupakan selisih antara frekuensi sinyal carrier
dengan frekuensi sinyal informasi (LSB = fc - fm).
Sedangkan USB ( Upper Side Band ) merupakan bagian dari spektrum sinyal yang
berfrekuensi tinggi, dan merupakan gabungan penjumlahan antara frekuensi sinyal carrier
dan frekuensi sinyal informasi ( USB = fc + fm)
Dan lebar pita sinyal (Bandwith) bergantung pada besar atau kecilnya frekuensi sinyal
informasi (fm). Dimana ketika semakin besar nilai fm maka bandwith juga akan semakin
besar atau lebar. Dan sebaliknya jika semakin kecil, maka bandwith juga akan semakin
kecil. Sehingga dapat diketahui bahwa lebar atau besarnya pita sinyal (bandwith)
berbanding lurus dengan nilai frekuensi sinyal informasi (fm).
F. KESIMPULAN
1. Pada rangkaian modulasi amplitudo, terdapat 3 ground sebagai penetral noise,
dua alternator yang berfungsi sebagai sumber listrik atau gelombang sinus
sinyal carrier dan sinyal informasi. Terdapat resistor yang berfungsi sebagai
hambatan atau penahan arus listrik. Terdapat dioda yang berfungsi sebagai
penyearah arus. Terdapat paralel kapasitor dan induktor tempat terjadinya
modulasi, kapasitor untuk menyimpan muatan listrik sementara sedangkan
induktor untuk mengatur dan filter frekuensi. Bentuk sinyal carrier, sinyal
informasi, dan sinyal termodulasi ditampilkan pada osiloskop.
Jika nilai C semakin besar dan nilai L tetap, maka frekuensi yang dihasilkan
semakin kecil. Begitupun sebaliknya. Kemudian jika nilai L dan C sama dan
bernilai kecil, maka frekuensi yang dihasilkan bernilai besar, begitupun
sebaliknya
2. Besar nilai amplitudo pada sinyal termodulasi sama dengan besar nilai
amplitude maksimum dari sinyal carrier.
Pada pengamatan sinyal domain waktu terdapat tiga kemungkinan yang terjadi
pada sinyal termodulasi yang dipengaruhi oleh indeks modulasi . Jika nilai
indeks modulasi (m < 1), maka sinyal keluaran termodulasi tidak sempurna.
Jika nilai indeks modulasi (m = 1), maka sinyal keluaran termodulasi
sempurna. Jika nilai indeks modulasi (m > 1), maka sinyal keluaran mengalami
overmodulasi atau distorsi.
3. Semakin besar nilai FM yang diberikan pada sinyal informasi maka keluaran
sinyalnya akan semakin besar pada modulasi amplitudonya.
Pada saat FM diberi nilai yang besar maka USB (Upper Side Band) akan
semakin tinggi atau besar sedangkan jika FM diberi nilai besar maka LSB
(Lower Side Band) akan semakin kecil.
DAFTAR PUSTAKA
Fitria. (2013). Perancangan Modul Pembelajaran Praktek Am Modulator Dan Am
Demodulator Untuk Praktikum Di Laboratorium Teknik Telekomunikasi. Journal
of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.
Kurniawan, A., Rohmah, Y. S., Aulia, S., & Telkom, U. (2018). Perancangan Simulator
Kinerja Teknik Modulasi Fm Pada Kanal Awgn Dan Rayleigh Simulator Design
of Fm Modulation Techniques on Awgn and. E-Proceeding of Applied Sci, 4(2),
576–585.
Lestari, S. (2017). PERANCANGAN SIMULATOR MODULASI AM (AMPLITUDE
MODULATION) BERBASIS GUI. Jurusan Teknik Elektro Program Studi Teknik
Telekomunikasi Politeknik Negeri Sriwijaya.
Salasi Wasis, W. (2019). Sistem Telekomunikasi Nirkabel Pada Teknologi Pemantauan
UntuknBudidaya Laut Di Wakatobi. Seminar Nasional Inovasi Dan Aplikasi
Teknologi Di Industri 2019 Tema A – Penelitian.
Sevani, N., & Ariesta, M. (2014). Web-Based Decision Support Systems Application of
Stock Recommendation Using Bayesian Methods. Jurnal INKOM, 8(1), 1.
https://doi.org/10.14203/j.inkom.302
Yasmine dan Nadya. (2019). PERANCANGAN MODUL PEMBELAJARAN
PRAKTEK AM MODULATOR DAN AM DEMODULATOR UNTUK
PRAKTIKUM DI LABORATORIUM TEKNIK TELEKOMUNIKASI.
Politeknik Negeri Sriwijaya, 9.

Anda mungkin juga menyukai