Anda di halaman 1dari 10

KEBIJAKAN FISKAL DALAM EKONOMI MAKRO

ABSTRAK

Kebijakan fiskal merupakan cikal bakal utama yang penting terkait kebijakan publik.
Ketertiban dan kesusilaan masyarakat merupakan sebuah sarana yang digunakan untuk
mencapai kesejahteraan hidup manusia. Maksud dari kebijakan fiskal tidak lain ialah sebagai
penyesuaian pendapatan dan pengeluaran aset negara dengan pendapatan serta pengeluaran
anggaran, yang dikurangi dengan anggaran negara sehingga dapat mencapai stabilitas
ekonomi yang diinginkan umumnya ditentukan dalam rencana pembangunan. Adapun hal-hal
yang dikaitkan dengan keuangan islam yaitu kesejahteraan material dan spiritual berdasarkan
nilai-nilai moral. Peran kebijakan fiskal secara umum meliputi alokasi sumber daya fisik,
distribusi pendapatan, dan stabilitas ekonomi. Selain itu, terdapat kebijakan suku bunga yang
tidak lain merupakan kebijakan moneter yang diputuskan oleh pemerintah untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi perbankan.

Kata Kunci: kebijakan fiskal, kebijakan moneter

ABSTRACT

Fiscal policy is an important forerunner of public policy. Public order and decency
are a means used to achieve the welfare of human life. The purpose of fiscal policy is none
other than the adjustment of income and expenditure of state assets with budget revenues and
expenditures, which are reduced by the state budget so as to achieve the desired economic
stability which is generally determined in the development plan. As for matters related to
Islamic finance, namely material and spiritual welfare based on moral values. The role of
fiscal policy in general includes the allocation of physical resources, distribution of income,
and economic stability. In addition, there is an interest rate policy which is nothing but a
monetary policy decided by the government to encourage banking economic growth.

Keywords: fiscal policy, monetary policy


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hakekatnya kebijakan fiskal merupakan langkah-langkah untuk menyusun suatu
kegiatan ekonomi makro selain kebijakan moneter Mitra kebijakan moneter terhadap
manajemen kebijakan moneter yang ada, mendorong stabilitas ekonomi dan
pertumbuhan lapangan kerja. Apabila perekonomian stagnan, tentunya hal tersebut dapat
memberikan pengeluaran bagi pemerintah untuk memajukan perekonomian melalui
kebijakan fiskal. Peningkatan permintaan total ini terjadi akibat pengeluaran yang terlalu
berlebihan atau bahkan pajak yang lebih rendah. Perekonomian ini dapat meningkatkan
pendapatan serta mengungurangi pengangguran yang ada.
Di sisi lain, apabila permintaan agregat dikatakan terlalu tinggi, kebijakan ini
dapat berperan melalui langkah-langkah berikut yaitu, mulai dari depresiasi akibat dari
pemotongan pengeluaran, selanjutnya dengan meningkatkan pendapatan pajak di negara
bagian atau ekonomi ketika mengalami pusaran yang diinginkan. Menyediakan sumber
daya ekonomi dalam keadaan yang diperlukan. Tentunya, stabilitas merupakan salah satu
faktor yang sangat penting. Dari kondisi stabil ini dapat membentuk suasana
mempromosikan perkembangan global masyarakat. Stabilitas makroekonomi sangat
kentara dengan impak-impak variabel Makroekonomi serta variabel ekonomi makro
lainnya. Impak apabila menurut dampaknya mengakibatkan fluktuasi akbar Variabel
makroekonomi. Keseimbangan jangka panjang tersebut dapat dikatakan stabilitas
makroekonomi dan cenderung berubah. Kebijakan moneter merupakan salah satu
kebijakan yang dibuat agar memiliki tujuan terhadap ekuilibrium keseimbangan.
Stabilitas ekonomi dapat diukur dengan menggunakan kesempatan kerja, stabilitas harga
hingga neraca pembayaran ekuilibrium internasional. Apabila, ketika stabilitas kegiatan
ekonomi berhenti maka kebijakan moneter ini tentunya disedikan suatu pemulihan atau
disebut dengan aksi stabilisasi.
Pajak merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan kebijakan fiskal. Pajak
merupakan suatu penghasilan tanah yang digunakan untuk mengmanuver kehidupan
masyarakat agar terciptanya kesejahteraan. Adapun, pajak sebagai pendapatan
pemerintah ialah salah satu sarana yang paling penting bagi pemerintah agar dapat
menjalankan misinya, terutama sebagai stabilisator ekonomi yang aman melalui
kebijakan anggaran pertumbuhan ekonomi secara wajar. Penerimaan pajak adalah salah
satu sumbernya condong sebagai dana pemerintah dalam upaya pembangunan rutin.
Salah satu kebijakan moneter terkait dengan kepentingan yaitu suku bunga yang
digunakan untuk menstabilkan jumlah uang beredar yang banyak digunakan di kalangan
masyarakat. Apabila, suku bunga tinggi, maka jumlah uang beredar pun akan berkurang.
Di sisi lain, jika yang lebih rendah itu suku bunga, maka jumlah uang beredar semakin
bertambah. Dengan menurunkan BI Suku bunga bank sentral dapat meningkat atau
dengan kata lain yaitu kontraksi keuangan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Kebijakan Fiskal?
2. Apa saja indikator dan orientasi dari kebijakan moneter?
3. Bagaiamana kaitannya dengan kebijakan fiskal?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kebijakan Fiskal di Indonesia


Salah satu peran negara yaitu untuk menyusun suatu aktivitas ekonomi agar
terciptanya ekonomi yang stabil dan kesejahteraan pada masyarakatnya, sehingga tidak
terjadi permasalahan pada kasus kemiskinan hingga terhapap. Pada pandangan menurut
Islam itu sendiri, pemerintah memiliki pertanggungjawaban terhadap suatu
kesejahteraan kehidupan individu di seluruh warganya di berbagai bidang, ditutamakan
pada bidang pada ekonomi yang menjadi cikal bakal utama pada kehidupan. Suatu
kondisi dimana terjalinnya dua hubungan antar dua negara merupakan suatu bentuk
pertanggungjawaban negara dalam menjamin kemaslahatan rakyat.
Kebijakan Fiskal merupakan kebijakan pemerintah, mulai dari perspektif
pengaturan kinerja, selanjutnya dengan ekonomi dengan terjalinnya suatu mekanisme
penerimaan pengeluaran pemerintah. Kebijakan fiskal, merupakan salah satu kebijakan
pemerintah yang menjalankan semua pendapatan serta pengeluaran Negara untuk
perlindungan stabilitas ekonomi pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal yang terdapat
pada negara Indonesia ini sendiri dapat terlihat dari adanya APBN, dimana dapat
menyusun suatu inflasi agar tidak terjadi krisis moneter, membangun ekonomi dengan
pertumbuhan yang berubah dengan baik dan merata.
Pertumbuhan ekonomi tentunya memiliki dampak pengaruh yang sangat bersar
terhadap kebijakan fiskal yang dapat terjadi dalam APBN. Apabila APBN yang
dilaksanakan pun sesuai dengan kriteria waktu dan tempat yang tepat, maka dapat
dipastikan jika inflasi akan dikendalikan dengan baik sehingga memiliki dampak positif
terhadap pertumbuhan yang terlihat nyata hingga pemerataannya terhadap ruang lingkup
makro yaitu negara.
Adapun, perbedaan yang dapat dilihat secara nyata dimana menurut Islam itu
sendiri dengan campur tangan konvensional yang dapat terjadi didalam suatu kebijakan
fiskal itu sendiri dimana memiliki artian jika tidak ada suatu kebijakan moneter yang
memakai alat suku bunga, terutama dalam peran dan mekanisme dari kewajiban hutang
publik itu sendiri. Pada metode pinjaman dalam Islam diproses dengan metode bebas
bunga. Sehingga, penekanan dalam sistem Islam terkait dengan kebijakan pembelanjaan
ini, berorientasi terhadap bentuk kejujuran serta integritas dan bukan kepada individu
yang melakukan peminjaman. Jika dibandingkan dengan mekanisme berbasis bunga
yang menitikberatkan bentuk problematika terhadap faktor dari keefektifan dan
ketidakefektifan, atau dengan kata lain usaha-usaha yang sangat menguntungkan dan
tidak memberikan suatu hasil yang sangat baik. Maksudnya, ialah variasi- variasi dari
sistem bunga relatif terbatas dan jarang yang secara khusus ini didasari terhadap
penerapan kriteria efisiensi dalam bidang ekonomi yang secara informal terdapat sektor
moneter yang sangat luas dan terorganisasi.
2.2 Tujuan dari Kebijakan Fiskal
a. Meningkatkan produksi nasional (PDB) dan pertumbuhan ekonomi
b. Memperluas lapangan pekerjaan
c. Menjaga kestabilan harga barang untuk mengatasi inflasi.
2.3 Langkah konsolidasi fiscal melalui pengendalian deficit anggaran
a. Peningkatan pendapat negara
b. Pengendalian dan penajaman prioritas alokasi belanja negara
c. Perbaikan struktur penerimaan dan alokasi belanja negara
d. Pengelolaan keuangan negara yang lebih efektif
Kebijakan moneter ini merupakan Politik Pemerintah yang memiliki tujuan untuk
memperbaiki kondisi Ekonomi dengan upaya yaitu memperbaiki kuantitas suplai uang.
Jumlah uang Analisis makroekonomi memiliki dampak signifikan terhadap tingkat
performa ekonomi hingga stabilitas harga. Begitu, sebaliknya dengan uang yang beredar
tinggi, tetapi aktivitas produksi pun juga tinggi. Hal ini, tentunya dikatakan seimbang
dan ditandai dengan adanya kenaikan harga sepanjang tahun. Adapun, hal yang meliputi
instrumen kebijakan moneter dalam perekonomian modern, yaitu sebagai berikut:
a. Operasi pasar terbuka
b. Penentuan tingkat bunga
c. Penentuan cadangan wajib
d. Himbauan moral
Adapun, efek kegiatan perdagangan diberikan oleh bank sentral antara lain yaitu
Transaksi Pasar Terbuka (OPT). Pada kondisi ini, kasus penjualan surat berharga yang
diberikan oleh Bank Pusat memiliki efek terbalik terhadap uang hal ini dikarenakan
terjadinya penurunan kas dan setara kas Bank. Selain itu, pembelian surat nilai yang jauh
lebih tinggi pada bank sentral ini memiliki dampak terhadap ekspansi keuangan. Salah
satu penyebabnya yaitu, dikarenakan oleh meningkatnya aset lancar bank dalam batas
kemampun untuk memberikan kredit. OPT diimplementasikan oleh dua orang yaitu
dengan menjual cara, maksudnya yaitu seperti sertifikat Intervensi Bank Indonesia (SBI)
dan Rupiah menggunakan Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (FASBI). Penjualan SBI
yang dijalankan akibat hal ini disebut dengan lelang, dan pada tingkatan diskontonya
ialah apapun hal yang terjadi harus benar-benar menunjukan keadaan likuiditas pasar
uang saat ini. Selain itu, pada kegiatan intervensi rupiah yang dilaksanakan oleh Bank
sentral harus sesuai pada kondisi yang baik terhadap likuiditas serta pasar uang tingkat
suku bunga.
Selanjutnya, yaitu terdapat Fasilitas Diskonto yang merupakan suatu kebijakan
yang memengaruhi keuangan bank sentral dengan memiliki jumlah berdasarkan suatu
ketentuan yaitu rabat pinjaman bank sentral Bank. Kondisi ini harus menyesuaikan
terhadap level yang diharapkan memiliki diskon yang lebih tinggi dari bank Permintaan
kredit.
2.4 Indikator dan Orientasi Kebijakan Moneter
a. Tingkat suku bunga
Kebijakan moneter ini harus digunakan apabila suku bunga yang jadikan target
antara penetapan suku bunga Ideal yaitu untuk memajukan aktivitas investasi.
Tentunya, suku bunga itu sendiri harus memberikan peningkatan lebih dari
pembayaran, dengan kata lain bank sentral akan diperluas. Sehingga, menjadikan
mata uang dan suku bunga turun terhadap tingkatan yang sudah ditentukan
begitupun sebaliknya.
b. Uang beredar
Seperti yang diketahui jika kebijakan moneter ini digunakan sebagai jumlah atau
dengan kata lain sebagai gol setengah hati. Adapun, Efek positif yang diberikan
yaitu berupa tingkat harga yang stabil. Sehingga, ketika terjadi kerusuhan pada
kondisi keuangan, terutama pada kasus lebih atau kurangnya syarat yang sudah
ditentukan oleh bank sentral, maka tersebut akan memberi dampak terhadap
menyusutnya keuanga. Begitupun dengan upaya dimana uang harus tetap ada pada
jumlah yang sudah ditentukan.
2.5 Kaitan Kebijakan Fiskal
1. Kebijakan fiscal berkaitan dengan pajak
Pajak merupakan salah satu bentuk dari konstribusi masyarakat untuk negara Siapa
yang (dipaksa) berutang? Tentunya masyarakat harus membayar sesuai dengan
aturan umum. Salah satu tujuannya yaitu untuk membiayai pengeluaran produksi
umum yang berkaitan dengan misi nasional yaitu mempertahankan mitra pengendali.
2. Adapun ciri – ciri pajak, antara lain yaitu :
a. Peralihan kekayaan dari masyarakat itu sendiri
b. Dipungut oleh negara yaitu oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah
c. Dipungut berdasarkan undang – undang yang berlaku
d. Pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi
e. Ditunjukan untuk pengeluaran pemerintah dari pemasukannya masih terdaoat
surplus
3. Kebijakan Moneter berkaitan dengan suku bunga
Dapat dijelaskan jika kebijakan pada susunan pada suatu suku bunga merupakan
salah satu kebijakan moneter yang diberi keputusan oleh pemerintah untuk
mengupayakan jika pertumbuhan ekonomi perbankan. Bunga merupakan salah satu
hal penting bagi pihak dari bank pada bagian penarikan tabungan dan penyaluran
kreditnya. Bunga bagi bank bisa menjadi biaya (cost of fund) yang harus dibayarkan
kepada penabung. Tetapi dilain pihak, bunga juga dapat merupakan pendapatan bank
yang diterima dari debitur karena kredit yang diberikannya.
4. Pengaruh Pajak terhadap Perekonomian
Pada sitem dari perpajakan dapat disebut baik jika dapat menentukan jalannya
perekonomian Negara. Apabila, Tarif pajak tinggi Secara otomatis mengurangi
investasi Menekan pertumbuhan ekonomi, Hal itu akan berdampak pada penurunan
penerimaan pajak. Tarif pajak yang relatif rendah dapat memberikan efek yang
sebaliknya, yaitu dengan investasi yang dipercepat. Akibatnya, pertumbuhan
ekonomi yang membaik Pendapatan pemerintah akan meningkat.
5. Pengaruh Suku Bunga terhadap Perekonomian
Bank sentral, diganti dengan para Pelaku pasar serta investor. Hal ini dapat
meningkatkan nilai suatu produksi, investasi. bersama Itu juga mempengaruhi
jumlah Peningkatan produksi dan tenaga kerja Ini juga akan meningkat. Akibatnya,
dengan ekspor Forex saat tingkat pengangguran turun Semakin banyak datang ke
negara ini Memperkuat dolar terhadap mata uang lainnya.
2.6 Kebijakan Fiskal Aktif
Kebijakan fiskal aktif merupakan salah satu kebijakan pemerintah yaitu pemerintah
melakukan upaya perubahan terhadap tingkat pajak atau program-program
pengeluarannya. Selain itu, pada kebijakan fiskal pasif memiliki artian sebagai segala
suatu upaya yang digunakan untuk menurunkan marginal propensity to spend mulai dari
pendapatan nasional, hal ini mengakibatkan pengurangan biaya pada besarnya
pengganda. Di sisi lain, pada kebijakan ini terdapat segala sesuatu yang condong dalam
peningkatan defisit pemerintah (menurunkan surplus pemerintah) atau contong terhadap
peningkatan surplus pemerintah (menurunkan defisit pemerintah) tanpa diperlukan
adanya tindakan eksplisit oleh para pembuat kebijakan.
Pada pandangan menurut Islam itu sendiri, kebijakan fiskal ini diartikan salah satu
perangkat yang digunakan untuk mencapai tujuan syariah yang menurut pandangan islam
sendiri dimana merupakan suatu upaya peningkatan kehidupan masyarakat yang baik
tanpa mengurangi keimanan, kehidupan, intelektualitas, kekayaan dan kepemilikan. Pada
umumnya kebijakan fiskal telah lama dikenal dalam teori ekonomi Islam.
Meskipun kebijakan moneter dan fiskal memiliki dampak yang signifikan terhadap
struktur serta terhadap kasus ekonomi yang berlainan, tentunya kedua faktor tersebut
dapat dilakukan secara simultan dalam hal mencapai dua tujuan stabilitas yang
berkelainan, seperti contohnya dalam pencapaian untuk pemerataan internal (stabilitas
harga) dan pada pemerataan eksternal (neraca pembayaran). Dalam kasus tersebut,
kebijakan moneter dan fiskal ini tentunya dapat dikoordinasikan sebaik mungkin
sehingga nantinya stimulus yang diberikan oleh kedua kebijakan tersebut dapat
dibimbing untuk dapat mempengaruhi perekonomian.
Secara teoritis maupun empiris, baik terhadap kebijakan moneter dan fiskal ini
terdapat dua peranan yang sangat penting dalam rangka stabilisasi perekonomian, yaitu
melalui dalam hal penyeimbangan permintaan agregat hingga penawaran agregat. Jika,
kondisi perekonomian saat ini mengalami tekanan inflasi yang cukup besar, otomatis hal
tersebut akan menjadikan kebijakan stabilisasi ditujukan terhadap pengurangan pada
permintaan agregat. Begitupun sebabaliknya, ketika kondisi ekonomi mengalami resesi,
oleh karena itu, kebijakan stabilisasi lebih ditujukan untuk menstimulasi permintaan
agregat.

BAB III
KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan ekonomi
makro yang otoritas utamanya berada di tangan pemerintah dan diwakili oleh Kementerian
Keuangan. Kebijakan moneter adalah Politik Pemerintah untuk memperbaiki situasi Ekonomi
dengan memperbaiki kuantitas Suplai uang.
DAFTAR PUSTAKA

Islamy, M. Irfan. 2003. Prinsip-prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Bumi


Aksara
Gulo.2012. Analisis Pengaruh Aspek Moneter dan Fiskal Terhadapp Pertumbuhan Ekonomi
Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Vol.1.No.1.Hal 1-21
Izza, Nurul, 2012. Analisis Pengaruh Kebijakan Moneter dan Kebijkaan Fiskal Regional
Terhadap Stabilitas Harga dan pertumbuhan Ekonomi di Jawa Tengah. Jurnal
Ekonomi.Vol.1.No.1.Hal.1-121
Mahdi.2013. Pengaruh Kebijkana Fiskal dan Moneter terhadap Pertumbuhan Ekonomi Jambi.
Jurnal Ekonomi.Vol.1.N0.1.Hal-15
Mardiasmo, 2008. Perpajakan. Edisi Revisi. Andi Offest. Yogyakarta
Maryanne. 2009. Ekonomi Makro. Jakarta : Salemba Empat
Nanga, Muana. 2007. Makroe Ekonomi. Jakarta : Ghalia Indonesia
Nasution, Mulia.2006. Teori Ekonomi Makro. Depok; Djambatan
Nizar. 2010. Makro Ekonomi. Jakarta: Erlangga
Setiawan, Iwan. 2009. Analisis Dampak Kebijakan Moneter terhadap perkembangan Inflasi
dan Pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jurnal, Ekonomi, Keuangan dan Akuntansi.
Vol.1.No.1.Hal 15-31
Sirait, Yani.2013. Analisis Dampak Kebijkan Fiskal terhadap Pertumbuhan Ekonomi di
Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Vol.2.No.1.Hal.15-31
Sukirno, Sadono. 2006. Makroe Ekonomi: Teori Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Rahayu, Ani Sri., 2014, Pengantar Kebijakan Fiskal, Jakarta: Bumi Aksara
Sudirman, I. Wayan., Kebijakan Fiskal dan Moneter: Teori dan Empirikal, Jakarta: Kencana,
2011
Muhammad, Kebijakan Fiskal dan Moneter dalam Ekonomi Islam, Jakarta: Salemba Empat,
2002
Karim, Adiwarman A., Ekonomi Makro Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2007
Ali, Nuruddin Mhd., ,Zakat Sebagai Instrumen Dalam Kebijakan Fiskal, Jakarta: PT.Raja
Grafindo Persada, 2006
Al-Arif, M. Nur Rianto, Teori Makroekonomi Islam, Bandung : Alfabeta, 2010
Suparmoko, M., Keuangan Negara dalamTeori dan Praktik, Yogyakarta: BPFE- Yogyakarta,
1997
Syamsi, Ibnu., Dasar-Dasar Kebijaksanaan Keuangan Negara, Jakarta: Bina Aksara, 1983

Anda mungkin juga menyukai