Anda di halaman 1dari 9

# Jupiter Vol.3 No.

1 Januari 2022
Jurnal Pengetahuan & Ilmu Terapan E-IECN: 2003-0521

## ANALISIS EFISIENSI TERMAL ALAT GRATE COOLER

DI PT. SEMEN BATURAJA (PERSERO) TBK.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA1SMBR LEARNING DEVELOPMENT2
Patrasatya001@gmail.com1safaruddintohir@gmail.com2

ABSTRACT
Clinker Cooler as a part of cement production equipment has an important role. This
equipment serves to cool the clinker, and the cooling process here will determine the quality
of the cement to be produced. Calculation of heat efficiency in the clinker cooler can be carried
out in two stages, namely, calculations using a mass balance and calculations using a heat
balance. Mass balance calculations are required for heat balance calculations. From the heat
balance calculation, it can be seen that the heat efficiency of the clinker cooler is both the
system heat efficiency and the reaction heat efficiency. The performance value of the clinker
cooler can be found by calculating the reaction heat efficiency of the clinker cooler, which is
the ratio between the amount of heat for the reaction and the amount of heat provided. The
heat of reaction efficiency is an indicator of whether or not the clinker cooler's performance
and operation is good.

## KEYWORDS: analysis, thermal efficiency, grate cooler.

ABSTRAK
Clinker Cooler sebagai salah satu bagian dari alat produksi semen mempunyai peranan yang
cukup penting. Peralatan ini berfungsi untuk mendinginkan clinker, dan proses pendinginan
di sini sangat menentukan kualitas semen yang akan diproduksi. Perhitungan efisiensi panas
pada clinker cooler dapat dilakukan dalam dua tahap yaitu, yaitu perhitungan dengan neraca
massa dan perhitungan dengan neraca panas. Perhitungan neraca massa diperlukan untuk
perhitungan neraca panas. Dari perhitungan neraca panas maka dapat diketahui efisiensi
panas dari clinker cooler baik efisiensi panas sistem maupun efisiensi panas reaksi. Nilai unjuk
kerja clinker cooler dapat dicari dengan menghitung efisiensi panas reaksi dari clinker cooler,
yaitu perbandingan antara jumlah panas untuk reaksi dengan jumlah panas yang disediakan.
Efisiensi panas reaksi merupakan indikator baik atau tidaknya unjuk kerja dan pengoperasian

## KATA KUNCI: analisis, efisiensi termal, grate cooler.

PENDAHULUAN
Dalam proses pembuatan semen, setelah terjadi proses pembakaran ( burning process
), maka untuk tahap selanjutnya adalah dilakukan proses pendinginan material yang dilakukan
(cooling zone) sampai temperatur sekitar 1350 oC. Kemudian pendinginan berikutnya
dilakukan didalam cooler. Pendinginan klinker mempengaruhi struktur, komposisi mineral
grindability, dan kualitas semen yang dihasilkan.
Jupiter Vol.3 No.1 Januari 2022
Jurnal Pengetahuan & Ilmu Terapan E-IECN: 2003-0521

## Kecepatan pendinginan clinker mempengaruhi perbandingan antara kandungan kristal

rotary cooler, kristal dari komponen klinker akan terbentuk sekaligus menyebabkan sebagian
mencegah pertumbuhan lanjut dari kristal yang terbentuk.
Clinker harus didinginkan secepatnya (quenching) dengan pertimbangan :
1. Agar diperoleh klinker yang bersifat amorf sehingga mudah digiling.
2. Mencegah kerusakan alat-alat transportasi dan storage clinker, karena material dengan
suhu tinggi dapat merusak peralatan dan sulit penangannya.
3. Clinker yang panas berpengaruh buruk dalam proses grinding nantinya.
4. Pendinginan yang baik akan meningkatkan kualitas semen.

TINJAUAN TEORI
Deskripsi Peralatan
Suatu proses pendinginan dapat dilakukan dengan beberapa jenis Cooler dengan prinsip
operasi hampir sama.
Jenis-jenis Cooler tersebut antara lain:
1. Rotary Cooler
Rotary Cooler merupakan drum sederhana yang berputar, mengangkat clinker kemudian
menjatuhkannya pada arus udara yang masuk sehingga mengakibatkan perpindahan panas
antara klinker dengan udara tersebut. Jenis Cooler ini terbatas untuk kiln dalam kapasitas
kecil.
2. Planetary Cooler
Planetary Cooler terdiri dari pipa-pipa yang berbentuk cincin dihubungkan dengan shell
kiln dan berputar bersama kiln. Jenis cooler ini dapat menyebabkan masalah mekanik pada
kiln. Cooler ini cenderung menyulitkan aerodinamika nyala api dan pada cooler jenis ini sulit
dalam menyeimbangkan aliran klinker yang masuk ke Cooler.
3. Grate Cooler
Macam-macam Grate Cooler :
a. Reciprocating Grate Cooler
Jenis ini pertama kali diperkenalkan oleh Fuller Company. Jenis ini terdiri dari sebuah
rangkaian under-grate kompartemen dengan cooling fan terpisah yang memungkinkan kontrol
tekanan dan volume tersendiri pada saat memasukkan udara pendingin. Di Cooler ini terdapat
lebih dari under- grate compartement dan 2 atau 3 seksi grate yang digerakkan yang terpisah.
Ukuran grate pertama 10ft wide x 35ft long dan grate kedua 12ft x 42ft. Tekanan under-grate
kurang lebih 600mm pada kompartemen pertama makin lama makin berkurang hingga

## b. Air Beam Cooler

Penggunaan air beam, “Controller Flow Grates” adalah design dengan daya tahan tinggi
dimana udara lewat secara horisontal melewati lubang-lubang ke permukaan grate, hal ini
mengurangi penurunan kehalusan semen dan membuat aliran udara berkurang tergantung
c. Cross Bar Cooler
Tipe yang baru-baru ini (tahun 1999) dikembangkan yaitu Cross Bar Cooler. Jenis ini
seluruhnya terdiri dari Static Grate dengan transportasi clinker dipengaruhi oleh reciprocating
Jupiter Vol.3 No.1 Januari 2022
Jurnal Pengetahuan & Ilmu Terapan E-IECN: 2003-0521

pusher bar diatas permukaan grate. Cooler ini juga menggunakan pengatur aliran yang sangat
bed tanpa memperhatikan porositas bed. Efisiensi jenis Cooler ini yaitu 75-78%.
Sebagai sumber udara bertekanan, digunakan fan-fan yang terletak di luar konstruksi
cooler. Penyuplaian udara ini dialirkan melalui pipa yang dihubungkan ke undergrate. Disisi
samping disediakan pintu-pintu untuk dapat mengakses ke dalam cooler, baik untuk daerah
overgrate maupun undergrate. Pada Fuller Reciprocating Grate Cooler, udara bertekanan
ditiupkan ke ruangan kosong dibawah grate cooler dan udara itu naik ke atas untuk
mendingikan material, udara bertekanan itu disalurkan ke sebuah “pipa” di sepanjang
undergrate dan akan meniupkan udara bertekanan tadi secara langsung.
Sistem ini lebih efektif karena udara yang ditiupkan dapat mendinginkan material secara
lebih merata. Disepanjang undergrate dipasang sensor- sensor tekanan untuk memonitoring
tekanan di undergrate tersebut yang diakibatkan oleh udara yang ditiupkan oleh fan, dimana
hasil dari sensor ini dikirimkan ke peralatan yang selalu memantau keadaan dan akan
membandingkan dengan set point yang telah ditentukan. Apabila tekanan di undergrate
melebihi set point maka hal ini berarti terjadi penumpukan material di grate sehingga
kecepatan grate harus ditambahkan. Di akhir grate dipasang clinker breaker yang berguna
untuk memperkecil ukuran klinker sebelum masuk ke finish mill ataupun klinker silo. Udara
panas yang dihasilkan oleh peniupan material oleh udara bertekanan ini selanjutnya akan
disalurkan ke Reinforced Suspension Preheater dan kiln sehingga akan menghemat energi.
Udara yang keluar dari Cooler dilewatkan ke Electrostatic Precipitator (EP) untuk mengurangi
pencemaran lingkungan.

Bahan mentah yang telah digiring di raw mill selanjutnya masuk ke homogenizing silo
dan selanjutnya diberikan proses pemanasan awal sehingga suhunya menjadi 8000C sebelum
masuk ke rotary kiln yang bersuhu sekitar 14000C ini kemudian masuk ke unit cooler untuk
Clinker (terak) dengan suhu tinggi akan jatuh pada cooler dan didistribusikan secara
seragam ke area kompartemen sesuai dengan lebar gratenya. Dikarenakan suhu material
dimana semakin dekat dengan kiln maka panjang kompartemen semakin panjang. Udara yang
telah melewati material bersuhu sekitar 2000C akan dihisap untuk kemudian digunakan
sebagai sumber panas di preheater dan kiln yang bertujuan untuk meminimalkan energi yang
hilang kelingkungan sekitar serta yang berarti pula menghemat biaya. Volume jatuhan klinker
ini akan selalu dimonitor oleh sebuah transmitter tekanan yang dipasang di undergrate. Jika
volume curahan terak dari kiln melebihi atau kurang dari nilai yang telah disetkan maka
transmitter tekanan akan mengirim sinyal ke pengontrol tekanan sehingga akan segera
mengolah data tersebut yang selanjutnya data tersebut akan dikirim ke pengontrol kecepetan
motor penggerak grate. Jika volume jatuhan klinker lebih besar dari yang disetkan maka motor
akan bergerak lebih cepat dengan tujuan untuk mengecilkan bed depth dan sebaliknya.
Data dari pengontrol tekanan juga akan dikirim ke pengontrol katup fan kompartemen
pertama. Nilai bed depth yang besar akan menyebabkan laju kecepatan aliran udara yang
kecil tidak cukup kuat untuk menembus klinker yang akan didinginkan. Hubungan antara beda
tekanan (P), laju alir udara (v) dan percepatan gravitasi (g) ditentukan oleh hubungan :

P = v2. ξ /2g
Jupiter Vol.3 No.1 Januari 2022
Jurnal Pengetahuan & Ilmu Terapan E-IECN: 2003-0521

## Dimana : ξ = Densitas Udara

Pertambahan nilai P akan berusaha disetkan kembali dengan menambah laju aliran
udara. Suatu nilai laju keepatan udara normal dengan open area 100% adalah sekitar
2meter/detik.
Clinker dari kompartemen pertama dengan memanfaatkan gaya gravitasi dengan
memanfaatkan Hukum Newton I bahwa suatu benda akan selalu mempertahankan gerak
asalnya. Dengan didinginkan oleh udara yang bersumber dari fan di undergrate tiap
breaker dengan maksud untuk memperluas area clinker yang terkena udara, sehingga
mempercepat pendinginan secara alami dalam perjalanan dengan mekanisme ban berjalan
ke klinker silo untuk disimpan. Debu dari pemecahan klinker dan debu selama proses
pendinginan akan dihisap melalui fan dan direduksi oleh EP untuk mengurangi partikel yang
akan menyebabkan pencemaran udara sebelum dilepas ke atmosfer.

METODE
Teori Neraca Massa dan Energi
1. Penyusunan Persamaan Neraca Massa

Input Massa
1. Udara Pendingin (CA)
Output Massa
2. Udara Sekunder (MSA)
3. Udara Tersier (MTA)
4. Udara Buang (MVA)
Neraca Massa :
MKI + MCA = MKO + MSA +MTA + MVA
Jupiter Vol.3 No.1 Januari 2022
Jurnal Pengetahuan & Ilmu Terapan E-IECN: 2003-0521

## 2. Penyusunan Neraca Energi

Input Panas
• Panas Sensible Clinker keluar kiln (QKI)
• Panas Sensible udara pendingin (QCA) Output Panas
• Panas Sensible Clinker keluar cooler (QKO)
• Panas Sensible udara sekunder ( QSA)
• Panas Sensible Udara Tersier (QTA)
• Panas Sensible Udara Buang ke EP (QVA)
• Panas Lain-lain (QLA)
Neraca Panas :
QKI + QCA = QKO + QSA+ QTA +QVA-QLA
QLA = (QKI + QCA) – (QKO + QSA + QTA +QVA)

## 3. Perhitungan Efisiensi Thermal

Efisiensi Thermal pada cooler didefinisikan sebagai : “Perbandingan antara jumlah
panas yang dikembalikan lagi ke proses pembakaran dengan total panas yang dibawa

η= x 100 %

Dimana :
QKI = Panas sensibel clinker keluaran kiln
QKO = Panas sensibel udara clinker keluar cooler
QHL = Panas yang hilang karena radiasi, konduksi, dll (heat loss).

Metodologi

## Kerja Praktek ini dilaksanakan di PT Semen Baturaja (Persero)Tbk. Pabrik Baturaja,

Jalan Tiga Gajah, Kecamatan Sukajadi, Baturaja Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.
Waktu Pelaksanaan kerja praktek mulai tanggal 12 Juli 2021 sampai dengan 1 Oktober
2021.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode deskriptif. Data-data
Efisiensi Termal Diperoleh dari :
1. Data Lapangan
Data-data diperoleh dari Central Control Room (CCR), Laboratorium pengendalian proses
dan laboratorium jaminan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk. Dan data-data tersebut
meliputi :
a. Data Kiln Feed
b. Data Kebutuhan Batubara (Coal Firing)
c. Data Kapasitas Fan pendingin
d. Data Temperatur Klinker dan Udara
Jupiter Vol.3 No.1 Januari 2022
Jurnal Pengetahuan & Ilmu Terapan E-IECN: 2003-0521

## e. Data Spesifikasi Alat Grate Cooler

Data-data yang diperoleh digunakan untuk menghitung neraca massa dan neraca panas.

## Neraca Massa dan Neraca Panas

Untuk mencari input massa clinker :
Kiln Feed / Faktor Clinker ............ (PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, 2020)
Kapasitas panas mempunyai persamaan :
Cp = a + bT + cT-2 ……………… (Smidth,2003)
Untuk mengetahui harga kapasitas panas ada beberapa cara yaitu :
1. Kapasitas panas fungsi temperatur
Kapasitas panas fungsi temperatur secara umum mempunyai persamaan sebagai berikut :
Cp = a + bT + cT2 + dT3………………… (Smidth, 2003)
Persamaan ini digunakan untuk gas ideal anorganik, sedangkan untuk senyawa organik
mempunyai persamaan :
Cp = α + β T2 + γ T3, a, b, c, α, β, dan γ merupakan konstanta.

Untuk menghitung perubahan panas dari suatu sistem dengan menggunakan kapasitas
panas fungsi temperatur dari T1 ke T2.
a. Untuk gas ideal anorganik
dQ = ∫ Cp . dT = ∫ (a + bT + cT2 + dT3) dT ………(Smidth, 2003)
b. Untuk senyawa organik
dQ = ∫ Cp . dT = ∫ (α + βT + γ T2 ) dT ……………(Smidth,2003)
2. Kapasitas panas rata – rata
Kapasitas panas rata-rata dari perubahan temperatur T1 ke T2 dapat
diturunkan dari kapasitas panas fungsi temperatur dengan persamaan :
Cpm = ∫ cp . dT/T2-T1 ………………………………...(Smidth, 2003)
Untuk menghitung perubahan panas dari suatu sistem dengan menggunakan kapasitas
panas rata-rata dari T1 ke T2.
dQ = n . Cp . dT …………………………………………….(Smidth, 2003)
3. Kapasitas panas molar
Kapasitas panas molal dari perubahan temperatur T1 ke T2 dapat diturunkan
dari kapasitas panas fungi temperatur dengan persamaan :
Cp = a + b (T1+T2/2) + c (T1+T2/2)2 + d (T1+T2)3….. .(Smidth,2003)
Untuk menghitung perubahan panas suatu sistem dengan menggunakan kapasitas
panas molal dari T1 ke T2 adalah :
dQ = n . Cp . dT …………………………………………(Smidth, 2003)

Dimana :
n = Volume Udara Pembarakan (m3) dalam hal ini Udara Sekunder
Cp = Panas Jenis Udara Sekunder pada Suhu Tertentu (kcal/m3 oC)
Jupiter Vol.3 No.1 Januari 2022
Jurnal Pengetahuan & Ilmu Terapan E-IECN: 2003-0521

## dT = Temperatur Udara Sekunder masuk Kiln

Hasil Perhitungan
Berdasarkan perhitungan neraca massa dan neraca panas pada tanggal 03
Oktober – 09 Oktober 2021, maka didapatkan nilai efisiensi alat Grate Cooler :

## Tabel Pengambilan Data Nilai Efisiensi

03 Oktober 2021 76.5 %
04 Oktober 2021 82.8 %
05 Oktober 2021 74.7 %
06 Oktober 2021 75.7 %
07 Oktober 2021 69.7 %
08 Oktober 2021 75.2 %
09 Oktober 2021 70.3 %
Rata - Rata 75 %

## Efisiensi Termal Alat Grate Cooler

Efisiensi termal pada alat grate cooler didefinisikan sebagai perbandingan antara
jumlah panas yang dikembalikan lagi ke proses pembakaran dengan total panas yang
dibawa oleh clinker keluar kiln. Berdasarkan data dan perhitungan efisiensi termal pada
alat grate cooler ini, efisiensi termal alat akan dianalisa dalam tiga data dengan metode
pengambilan data selama 7 hari untuk 7 data, yaitu pada tanggal 03 Oktober – 09 Oktober
2021. Adapun grafik efisiensi termal alat grate cooler dapat dilihat pada Gambar 3 berikut
:

## Grafik Efisiensi Termal Grate Cooler

85.00% 82.80%

80.00% 76.50%
74.70% 75.70% 75.20% 75%
75.00% 70.30%
69.70%
70.00%
65.00%
60.00%
03 04 05 06 07 08 09 Rata -
Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Oktober Rata
2021 2021 2021 2021 2021 2021 2021

## Gambar 3. Grafik Efisiensi Termal Alat Grate Cooler

Tanggal 03 Oktober – 09 Oktober 2021

Berdasarkan Gambar 3. grafik efisiensi termal grate cooler di atas, dapat dilihat
Jupiter Vol.3 No.1 Januari 2022
Jurnal Pengetahuan & Ilmu Terapan E-IECN: 2003-0521

Oktober sampai dengan 09 Oktober 2021. Grafik di atas menunjukkan bahwa efisiensi
pada tanggal 04 Oktober 2021 merupakan nilai tertinggi dengan nilai efisiensi 82,80%.
Berdasarkan pembacaan data, diketahui juga bahwa pada tanggal 04 Oktober 2021
tersebut kinerja fan maksimal dimana fan mampu menghasilkan volume udara mendekati
volume udara yang dapat dialirkan fan berdasarkan data desainnya terutama pada fan-
terutama pada tanggal 07 Oktober 2021 yang merupakan nilai efisiensi terendah dengan
nilai efisiensi sebesar 69,70%.

PEMBAHASAN
Metode Pendinginan Clinker menggunakan Grate Cooler
proses pembuatan klinker, bahan baku berupa batu kapur (lime stone), tanah liat (clay), pasir
silika dan pasir besi dicampurkan dalam kompisisi masing- masing yang telah ditentukan.
Semua bahan tersebut akan digiling dalam perangkat penggiling yaitu raw mill untuk
selanjutnya dibakar dalam tanur putar (kiln) dengan temperatur mencapai 1400 oC.
untuk dilakukan proses pendinginan dengan cepat (mendadak). Proses pendinginan ini
dilakukan dengan menggunakan dua grade fan pendingin. Akibat udara pendingin yang
dihembuskan oleh fan menuju ke clinker keluaran dari kiln menyebabkan penurunan suhu
bongkahan klinker dengan suhu ± 100 oC. Proses pendinginan tersebut berlangsung, dimana
udara pendingin yang dihembuskan dari fan akan menyerap panas yang terdapat pada klinker
sehingga terjadi perpindahan energi panas dari klinker ke udara pendingin, udara pendingin
yang telah menyerap panas akan keluar menuju saluran untuk selanjutnya dimanfaatkan
kembali. Bongkahan klinker yang dingin akan dikeluarkan dari grate cooler untuk selanjutnya
ukurannya dengan menggunakan crusher.

KESIMPULAN
Prinsip pendinginan klinker pada alat grate cooler di Pabrik Baturaja II PT Semen
Baturaja (Persero) Tbk menggunakan metode pendinginan mendadak (quenching) dan
menggunakan udara sebagai media pendingin yang dialirkan menggunakan fan untuk
Besarnya nilai efisiensi termal alat grate cooler tertinggi terjadi pada tanggal 04 Oktober
2021 dengan nilai efisiensi termal sebesar 82,80% dan nilai efisiensi termal grate cooler
terendah terjadi pada tanggal 07 Oktober 2021 dengan nilai efisiensi termal sebesar 69,65%.
Tinggi rendahnya nilai efisiensi termal alat grate cooler dipengaruhi oleh banyaknya
volume udara pendingin yang dialirkan dan jumlah kiln feed yang masuk. Dimana semakin
banyak udara pendingin yang dialirkan maka nilai efisiensi cenderung meningkat, dan
penurunan nilai efisensi disebabkan oleh kapasitas produksi clinker yang meningkat tanpa
diikuti dengan perubahan kebutuhan volume udara pendingin yang digunakan.

DAFTAR PUSTAKA
Ahamed, J.U., Madlool, N.A., Saidur, R., Shahinuddin, M.I., Kamyar, A., dan Masjuki, H.H.
2012. Assessment of energy and exergy efficiencies of a grate clinker cooling system
through the optimization of its operational parameters. Energy, 46(1), 664–674.
doi:10.1016/j.energy.2012.06.074.
Jupiter Vol.3 No.1 Januari 2022
Jurnal Pengetahuan & Ilmu Terapan E-IECN: 2003-0521

Alsop, Philip A., PhD. 2019. The Cement Plant Operations Handbook for Dry Process Plant,
Seventh Edition. USA : Tradeship Publications Ltd.
FLSmidth. 2003. Burner Bible. FLSmidth, Inc.
Green, Don W., dan Southard, Marylee Z. 2019. Perry’s Chemical Engineers’ Handbook, 9th
Edition. New York : McGraw-Hill Companies, Inc.
Hougen, Olaf A., Watson, Kenneth M., dan Ragatz, R.A. 1943. Chemical Process Principles:
Material and Energy Balances. New York: John Wiley & Sons, Inc.
Perray, Kurt E. 1979. Cement data Book: International Process Engineeering in The Cement
Industries 3rd Edition. London : Bauverlag GMBH Weis Baden and Berlin, Mc. Donald
and Evan.
Perry, Robert H., dan Green, Don W. 2008. Perry’s Chemical Engineers’ Handbook, 8th
Edition. New York : McGraw-Hill Companies, Inc.
Setiyana, Budi. 2007. Analisis Unjuk Kerja Grate Clinker Cooler pada Proses Produksi Semen.
Jurusan Teknik Mesin FT-UNDIP, Vol. 9, No. 3.
Steuch, Hans E. 2004. Innovations in Portland Cement Manufacturing : Clinker Coolers.
Chapter 3.8, Page 495.
Telschow, Samira. 2012. Clinker Burning Kinetics and Mechanism. Denmark : Technical
University of Denmark.