Anda di halaman 1dari 14

1.

Cara menyampaikan laporan dan penghormatan apabila prajurit dipanggil sedang


dalam barisan dengan menyebut nama dan pangkat adalah sebagai berikut:
Komandan/atasan memanggil “Kopral Badu tampil ke depan”, setelah selesai
dipanggil prajurit tersebut mengucapkan kata-kata “Siap tampil ke depan” kemudian
keluar dari barisan sesuai dengan tata cara keluar barisan dan menghadap kurang lebih
6 langkah di depan Dan/atasan yang memanggil. Kemudian mengucapkan kata-kata:
“Lapor siap menghadap”. Selanjutnya menunggu perintah. Setelah mendapat
perintah/petunjuk mengulangi perintah tersebut. Contoh: “Berikan aba-aba ditempat”,
Mengulangi: “Berikan aba-aba ditempat”. Selanjutnya melaksanakan perintah yang
diberikan Komandan/atasan (memberikan aba-aba ditempat).
Setelah selesai melaksanakan perintah/petunjuk kemudian menghadap kurang lebih 6
langkah di depan Dan/atasan yang memanggil dan mengucapkan kata-kata:
“Memberikan aba-aba ditempat telah dilaksanakan, laporan selesai”.
Setelah mendapat perintah “Kembali ke tempat”, prajurit mengulangi perintah
selanjutnya kembali ke tempat. Bila dipanggil 2 orang atau lebih maka dipimpin oleh
yang tertua dengan melaporkan jumlahnya contoh “LAPOR DUA ORANG SIAP
MENGHADAP”

2. Pasal 28 dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 mengatur bahwa Tata urutan
acara bukan upacara bendera sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 (Tata Upacara
bukan upacara bendera dalam penyelenggaraan Acara Kenegaraan dan Acara Resmi
meliputi tata urutan upacara dan tata pakaian upacara) dalam Acara Kenegaraan atau
Acara Resmi, antara lain, meliputi:
A. Menyanyikan dan/atau mendengarkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya
B. Pembukaan
C. Acara pokok, dan
D. Penutup.

3. Aba-aba adalah suatu perintah yang diberikan oleh seseorang Pemimpin kepada yang
dipimpin untuk dilaksanakannya pada waktunya secara serentak atau berturut-turut.
Ada tiga macam aba-aba yaitu Aba-aba petunjuk, Aba-aba peringatan, Dan Aba-aba
pelaksanaan.
Aba-aba peringatan adalah inti perintah yang cukup jelas, untuk dapat dilaksanakan
tanpa ragu-ragu. Contoh aba-aba peringatan dan yang benar adalah :
a. Lencang kanan = GERAK dan bukan LENCANG = KANAN.
b. Duduk Siap = GERAK dan bukan ditempat duduk siap = GERAK.
c. Istirahat di tempat = GERAK dan bukan istirahat ditempat = GERAK.

4. Sebutkan dan jelaskan 4 jenis gerakan berjalan!


Gerak berjalan diperlukan pada saat menggerakkan, memindahkan, atau menggeser
barisan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Gerakan-gerakan berjalan sangat
diperlukan demi kekompakan, ketertiban, keseragaman dalam rangka memupuk rasa
kebersamaan.
Macam langkah dan penjelasannya:
1. Langkah biasa adalah langkah bergerak maju dengan panjang langkah dan
tempo tertentu dengan cara meletakkan kaki di atas tanah tumit lebih dahulu,
disusul dengan seluruh tapak kaki kemudian ujung kaki meninggalkan tanah
pada waktu membuat langkah berikutnya.
2. Langkah tegap adalah langkah yang dipersiapkan untuk memberikan
penghormatan dan diberi hormat terhadap pasukan, Pos jaga 4kesatrian,
penghormatan terhadap Pati serta digunakan untuk kegiatan-kegiatan tertentu.
3. Langkah defile adalah langkah tegap yang menggunakan aba-aba
“LANGKAH DEFILE JALAN” digunakan pada acara tambahan dari suatu
upacara yang kegiatannya dilaksanakan oleh pasukan dalam susunan tertentu,
dipimpin seorang komandan yang bergerak maju melewati depan Irup dan
menyampaikan penghormatan kepada mereka yang berhak menerima.
4. Langkah perlahan adalah langkah pendek yang ditahan sebentar dan
dilaksanakan secara terus menerus dengan khidmat, jarak yang relatif tidak
jauh (dekat) digunakan untuk mengusung jenazah dan acara pedang pora.
5. Langkah ke samping adalah langkah untuk memindahkan pasukan/sebagian
ke kiri/ke kanan, menghindarkan aba-aba “Berhenti”, maka jumlah langkah-
langkah maksimal 4 langkah, sekaligus telah diucapkan pada aba-aba
peringatan dimulai melangkah dengan kaki kiri.
6. Langkah ke ke belakang adalah langkah untuk memindahkan
pasukan/sebagian ke ke belakang, menghindarkan aba-aba “Berhenti”, maka
jumlah langkah-langkah maksimal 4 langkah, sekaligus telah diucapkan pada
aba-aba peringatan, dimulai melangkah dengan kaki kiri.
7. Langkah ke depan adalah memindahkan pasukan/sebagian dari pada pasukan
sebanyak-banyaknya 4 langkah ke depan dan cara melangkah adalah seperti
langkah tegap tetapi dengan tempo yang lebih lambat serta langkah yang lebih
pendek, tidak melenggang.
8. Langkah lari adalah langkah melayang yang dimulai dengan menghentakkan
kaki kiri 1 langkah, telapak kaki diletakkan dengan ujung telapak kaki terlebih
dahulu, lengan dilenggangkan dengan panjang langkah 80 CM dan tempo
langkah 165 tiap menit.

A. Panjang, Tempo Dan Macam Langkah


1. Langkah dapat di bedakan sbb :
Macam Langkah                                     Panjang                                  Tempo
a. Langkah biasa                                       70 cm                                        96 menit
b. Langkah tegap                                      70 cm                                        96 menit
c. Langkah perlahan                                  40 cm                                        30 menit
d. Langkah ke samping                             40 cm                                        70 menit
e. Langkah ke belakang                            40 cm                                        70 menit
f.  Langkah ke depan                                60 cm                                        70 menit
g. Langkah di waktu lari                           80 cm                                      165 menit

2. Panjang langkah di ukur dari tumit ke tumit

2. Maju Jalan
1.   Dari sikap sempurna
a.   Aba-aba  : ” Maju Jalan ”
b.  Pelakasanaan :
a. Kaki kiri di ayun ke depan, lutut lurus telapak kaki diangkat sejajar
dengan tanah setinggi 15 cm kemudian di hentakan ke tanah dengan
jarak setengah langkah, selanjutnya berjalan dengan langkah biasa.
b. Langkah pertama di lakukan dengan melenggangkan lengan kanan ke
depan 90o lengan kiri 30o
c. Langkah-langkah selanjutnya lengan atas dan bawah di lenggangkan
ke depan 45o dan ke belakang 300
d. Dilarang keras berbicara, melihat ke kanan / kiri.
C.   Langkah Biasa
a. Pada waktu berjalan kepala dan badan seperti sikap sempurna.
b. Waktu mengayunkan kaki ke depan, lutut di bengkokan sedikit ( kaki
tidak di seret ).
c. Di letakan sesuai dengan jarak yang di tentukan.
d. Langkah kaki seperti jalan biasa.
e. Pertama tumit di letakan di tanah selanjutnya seluruh kaki.
f. Lengan berlenggang wajar, lurus ke depan dan belakang.
g. Jari-jari tangan menggenggam dengan tidak terpaksa, punggung ibu
jari menghadap ke atas.

D.   Langkah Tegap


1.  Dari sikap sempurna
a.  Aba-aba  : ” Langkah Tegap Maju JALAN ”
b.  Pelaksanaan :
a. Mulai berjalan dengan kaki kiri setengah langkah,selanjutnya seperti
jalan biasa dengan cara kaki di hentakan terus menerus.
b. Telapak kaki rapat / sejajar dengan tanah, lutut lurus, kaki tidak boleh
dianggat tinggi.
c. Bersamaan dengan langkah pertama, genggaman tangan di buka,
hingga jari-jari lurus dan rapat.
d. Lenggang tangan ke depan 900, ke belakang 300.
     
2.   Dari Langkah Biasa
a.   Aba-aba  : ” Langkah Tegap JALAN ”
b.   Pelaksanaan :
a. Di berikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah di tambah satu langkah
b. Perubahan tangan dari menggenggam ke terbuka di lakukan bersamaan
dengan hentakan kaki.

3.  Kembali ke langkah biasa


a.   Aba-aba  : ” Langkah Biasa JALAN ”
b. Pelaksanaan : 
a. Di berikan pada waktu kaki kiri / kanan jatuh di tanah di tambah satu
langkah
b. Langkah pertama di hentakan,bersamaan dengan itu tangan kembali
menggenggam.

Catatan: Dalam keadaan berjalan, cukup menggunakan aba-aba peringatan  : 


Langkah tegap / biasa jalan pada perubahan langkah.

E.   Langkah Perlahan


1.   Untuk berkabung ( mengantar jenazah ) dalam upacara kemiliteran.
a.   Aba-aba  : ” Langkah perlahan maju JALAN ”
b.   Pelaksanaan :
a. Kaki kiri di langkahkan ke depan, setelah kaki kiri menapak tanah di
susul dengan kaki kanan di tarik ke depan dan di tahan sebentar di
sebelah mata kaki kiri, kemudian di lanjutkan di tapakan di depan kaki
kiri.
b. Tapak kaki pada saat melangkah ( menginjak tanah ) tidak di hentikan.

2.   Berhenti dari langkah perlahan


a.  Aba-aba  : ” Henti GERAK ”
b.  Pelaksanaan :
a. Diberikan pada waktu kaki kanan / kiri jatuh di tanah di tambah satu
langkah.
b. Selanjutnya kaki kanan / kiri di rapatkan pada kaki kanan / kiri
menurut irama langkah biasa dan kembali sikap sempurna.

F.   Langkah Kesamping / Kebelakang / Depan


1.    Aba-aba..........Langkah ke samping/Kebelakang/Kedepan – JALAN
2.    Pelaksanaan :
a. Kaki kanan / kiri di langkahkan ke samping / kekanan / kedepan 
sepanjang / sesuai ketentuan.
b. Selanjutnya kaki kiri / kanan di rapatkan pada kaki kanan / kiri.
c. Badan tetap pada sikap sempurna, tangan tidak melenggang.
d. Hanya boleh dilakukan sebanyak – banyaknya 4 langkah.
e. Khusus untuk langkah ke depan, gerakan dilakukan dengan langkah
tegap.

G.   Langkah di Waktu Lari


1.   Dari sikap sempurna :
a.   Aba-aba : ” Langkah Maju-JALAN ”
b.   Pelaksanaan :
a. Pada aba-aba peringatan, kedua tangan di kepalkan dengan lemas di
letakan di pinggang sebelah depan dengan punggung tangan
menghadap ke luar, kedua siku sedikit ke belakang.
b. Pada aba-aba pelaksanaan, di mulai lari dengan menghentakan kaki
setengah langkah dan selanjutnya lari menurut panjang langkah.

2.   Dari Langkah Biasa :


a.   Aba-aba  : ” Lari – JALAN ”
b.   Pelaksanaan :
a. Pada aba-aba peringatan, sama dengan di atas.
b. Pada aba-aba pelaksanaan, di berikan pada kaki kanan / kiri jatuh di    
tanah di tambah satu langkah.

3.   Kembali ke langkah Biasa :


a.   Aba-aba  : ” Langkah biasa – JALAN ”
b.   Pelaksanaan :
Di berikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah di tambah tiga lankah
kemudian berjalan biasa, di mulai dengan kaki kiri di hentakan,
bersamaan dengan itu kedua lengan di lenggangakan.

4.      Berhenti dari berlari


a.       Aba-aba  : ” Henti – GERAK ”
b.      Pelaksanaan :
Di berikan pada waktu kaki kanan / kiri jatuh di tanah di tambah tiga
Langkah, selanjutnya kaki di rapatkan, kedua di turunkan, kembali
bersikap sempurna.
H.  Ganti Langkah
1.      Aba-aba : ” Ganti Langkah JALAN ”
2.      Pelaksanaan :
a. Gerakan dapat di lakukan pada waktu langkah biasa / tegap.
b. Di berikan pada waktu kaki kanan / kiri jatuh di tanah di tambah satu
langkah.
c. Ujung kaki  kanan / kiri yang sedang di belakang di rapatkan dengan
tumit kaki sebelahnya.
d. Bersamaan dengan itu lenggang tangan di hentikan tanpa di rapatkan di
paha.
e. Selanjutnya di sesuaikan dengan langkah baru.
f. Gerakan ini di lakukan dalam satu hitungan.

I.  Jalan di Tempat


1.    Dari sikap sempurna :
a. Aba-aba : ” Jalan ditempat – GERAK ”
b. Pelaksanaan :
a. Di mulai dengan kaki kiri, lutut berganti – ganti diangkat hingga paha
rata-rata.
b. Ujung kaki menuju ke bawah, tempo langkah sesuai langkah biasa.
c. Badan tegak, pandangan lurus ke depan dan lengan di rapatkan pada
badan (tidak melenggang)

2.    Dari Langkah Biasa :


a. Aba-aba : ” Jalan di tempat – Gerak ”
b. Pelaksanaan :
Diberikan pada waktu kaki kanan / kiri jatuh di tanah, di tambah satu
langkah kemudian jalan di tempat.

3.  Dari Jalan di Tempat ke Langkah Biasa :


a. Aba-aba ; ” Maju – JALAN ”
b. Pelaksanaan :
Di berikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah, di tambah satu langkah
dan mulai berjalan dengan menghentakan kaki kiri setengah langkah
ke depan.

4. Dari Jalan di Tempat ke Berhenti :


a.  Aba-aba : ” Henti – GERAK ”
b.  Pelaksanaan :
Di berikan pada waktu kaki kanan / kiri jatuh di tanah di tambah satu
langkah, selanjutnya kaki kanan / kiri di rapatkan.

J.  Berhenti
a. Aba-aba : ” Henti GERAK ”
b. Pelaksanaan :
Diberikan pada waktu kaki kanan / kiri jatuh ditanah di tambah satu
langkah, selanjutnya kaki kanan / kiri dirapatkan.

K.  Hormat Kanan / Kiri

1. Gerakan Hormat kanan / kiri


a. Aba-aba hormat kanan kiri – GERAK ”
b. Pelaksanaan :
a. Gerakan dilakukan pada waktu langkah tegap.
b. Di berikan pada waktu kaki kanan jatuh di tanah di tambah satu
langkah
c. langkah berikutnya di hentakan.
d. Bersamaan dengan itu tangan kanan diangkat ke arah pelipis ( PPM )
kepala di palingkan dan pandangan mata di arahkan kepada yang di
beri hormat sampai 450 hingga ada aba-aba ”Tegak gerak ”
e. Penjuru kanan / kiri tetap melihat kedepan untuk memelihara arah.
f. Lengan kiri tidak melenggang, rapat pada badan, pada waktu
menyampaikan penghormatan.
2.    Gerakan Selesai Menghormat :
a.  Aba-aba : ” Tegak -  GERAK ”
b.  Pelaksanaan :        
Diberikan pada waktu kaki kanan jatuh di tanah, ditambah satu
langkah, langkah berikutnya di hentakan. Bersamaan dengan itu lengan
kanan maupun kiri kembali melenggang, pandangan kembali kedepan.

l.  Perubahan Arah Dari Berhenti ke Berjalan


1.  Ke Hadap Kanan / Kiri Maju Jalan :
a.  Aba-aba : ” Hadap Kanan / Kiri ” Maju - JALAN ”
b. Pelaksanaan :
a. Membuat gerakan hadap kanan / kiri.
b. Pada hitungan ke tiga kaki kanan / kiri tidak dirapatkan tetapi
dilangkahkan seperti gerakan maju jalan.

2.   Ke Hadap Serong Kanan / Kiri Maju Jalan


a. aba-aba : ” Hadap Serong kanan / kiri – JALAN ”
b. Pelaksanaan :
a. Membuat gerakan hadap serong kanan / kiri
b. Gerakan selanjutnya sama seperti diatas

3.   Balik Kanan Maju Jalan


a. Aba-aba : ” Balik Kanan maju – JALAN ”
b. Pelaksanaan :
a. Membuat gerakan balik Kanan
b. Gerakan selanjutnya sama seperti di atas.

4.   Ke Belok Kanan / Kiri Maju Jalan :


a. Aba-aba : ” Belok kanan / kiri maju - JALAN ”
b. Pelaksanaan :       
a. Penjuru merubah arah 900 ke kanan / kiri dan mulai berjalan ke arah
tertentu.
b. Anggota lainnya mengikuti.

J.   Perubahan Arah Dari Berjalan ke Berjalan


1.  Ke Hadap Kanan / Kiri Maju Jalan.
2.  Ke Hadap Serong Kanan / Kiri Maju Jalan.
3.  Ke Balik kanan maju jalan.
a. Aba-aba disesuaikan
b. Pelaksanaan :
a. Aba-aba pelaksanaan jatuh pada waktu kaki kanan / kiri jatuh di tanah,
di tambah satu langkah.
b. Melakukan gerakan-gerakan hadap kanan / kiri hadap serong kanan /
kiri, balik kanan / kiri.
c. Gerakan selanjutnya, pada hitungan ke tiga kaki kanan / kiri tidak
dirapatkan, tetapi dilangkahkan.
4.Ke Belok Kanan / Kiri
a.   Aba-aba : ” Belok kanan / Kiri – JALAN ”
b.   Pelaksanaan :
a. Pada saat kaki kanan / kiri jatuh di tanah, ditambah satu langkah.
b. Penjuru depan merubah arah 900 ke kanan / kiri dan mulai jalan ke arah
yang baru.
c. Anggota lainnya mengikuti.
         Catatan :
       1.   a.   Aba-aba : ” Dua kali belok kanan / kiri – JALAN ”
             b.   Pelaksanaan :

Pada saat kaki kanan / kiri jatuh di tanah, di tambah satu langkah.

Setelah dua langkah berjalan, kemudian melakukan gerakan belok


kanan / kiri – jalan.

       2.   a.  Aba-aba : ” Tiap-tiap banjar dua kali belok kanan / kiri - JALAN”
             b.  Pelaksanaan :
1) Pada saat kaki kanan / kiri jatuh di tanah, di tambah satu langkah.
2) Setelah dua langkah berjalan, tiap-tiap banjar melakukan belok
kanan / kiri, pada tempat dimana aba- aba di berikan.
3) Perubahan arah 1800.

K.  Perubahan Arah Dari Berjalan ke Berhenti


1. Ke hadap kanan / kiri berhenti
2. Ke hadap serong kanan / kiri berhenti
3. Ke balik kanan berhenti
      a.   Aba-aba +  Hadap kanan / kiri – henti GERAK
                        +  Hadap serong kanan / kiri henti GERAK
                        +  Balik kanan henti – GERAK
      b.  Pelaksanaan :
a. Aba-aba pelaksanaan jatuh pada kaki kanan / kiri jatuh di tanah, di
tambah satu tanah.
b. Melakukan hadap kanan / kiri, hadap serong kanan / kiri, balik kanan.
c. Pada hitungan ketiga, kaki kanan / kiri di rapatkan,kembali ke sikap
sempurna.

L.  Haluan Kanan / Kiri


Gerakan ini hanya dalam bentuk bersaf, guna merubah arah tanpa merubah bentuk.
1.  Berhenti ke Berhenti
a.   Aba-aba : ” Halauan Kanan / kiri – JALAN ”
b.   Pelaksanaan :
a. Pada aba-aba pelaksanaan, penjuru kanan / kiri jalan di tempat,dengan
merubah arah secara perlahan-lahan sampai 900.
b. Bersamaan dengan ini saf mulai maju, sambil meluruskan safnya,
hingga merubah arah 900, kemudian berjalan di tempat.
c. Setelah penjuru kanan / kiri melihat safnya telah lurus, ia memberi
isyarat ” LURUS ”.
d. Kemudian Komandan memberi aba-aba Henti – Gerak.

2.   Berhenti ke Berjalan


a.   Aba-aba : ” Haluan kanan / kiri maju – Jalan ”
b.  Pelaksanaan :
a. Gerakan seperti tersebut di atas
b. Setelah aba-aba ” Maju – Jalan ” ,pasukan mulai berjalan.( aba-aba di
berikan Komandan ).
3.   Berjalan ke Berhenti
a.  Aba-aba : ” Haluan kanan / kiri – jalan ”
b.  Pelaksanaan :
a. Pada saat kaki kanan / kiri jatuh di tanah, di tambah satu langkah.
b. Setelah penjuru kanan/kiri melihat safnya telah lurus, ia memberi
isyarat ”LURUS”.
c. Pelatih memberi aba-aba ” Henti – Jalan ”

4.   Berjalan ke Berjalan


a.   Aba-aba : ” Haluan kanan / kiri maju - Jalan ”
b.   Pelaksanaan :
a. Pada saat kaki kanan / kiri jatuh di tanah, di tambah satu langkah.
b. Setelah penjuru kanan/kiri melihat safnya telah lurus, ia memberi
isyarat ”LURUS”.
c. Pelatih memberi aba-aba ” Maju – Jalan ”
d. Seluruhnya melaksanakan berjalan.

M. Melintang Kanan / Kiri


Gerakan ini di lakukan dalam bentuk berbanjar, guna merubah bentuk pasukan
menjadi bersaf dengan arah tetap.
1.   Berhenti ke Berhenti
      a.   Aba-aba ” Melintang kanan / kiri – Jalan ”
      b.   Pelaksanaan :
Setelah aba-aba pelaksanaan, melakukan gerakan hadap kanan / kiri,
kemudian barisan mebuat gerakan Haluan kiri / kanan. 

2.   Berhenti ke Berjalan


a.   Aba-aba : Melintang kanan / kiri maju – Jalan ”
b.   Pelaksanaan :
a. Setelah aba-aba pelaksanaan, melakukan gerakan hadap kanan / kiri
kemudian barisan membuat gerakan haluan kanan / kiri.
b. Setelah beri aba-aba Maju – Jalan,barisan malakukan gerakan maju
jalan.

3.   Berjalan ke Berjalan


      a.   Aba-aba : ” Melintang Kanan / kiri Maju-Jalan ”
      b.   Pelaksanaan :
a. Setelah aba-aba pelaksanaan dan ditambah satu langkah barisan
melakukan haluan kiri / kanan.
b. Setelah beri aba-aba Maju – Jalan,barisan malakukan gerakan maju
jalan

4.   Berhenti ke Berhenti


      a.   aba-aba : ” Melintang kanan / kiri – Jalan ”
      b.   Pelaksanaan :
a. Setelah aba-aba pelaksanaan dan ditambah satu langkah barisan
melakukan haluan kiri / kanan.
b. Setelah aba-aba Henti – Gerak, seluruhnya kembali ke sikap sempurna

5. Jelaskan perbedaan upacara dan apel!


Menurut Wikipedia, Upacara adalah rangkaian tindakan yang direncanakan dengan
tatanan, aturan, tanda, atau simbol kebesaran tertentu. Pelaksanaan upacara
menggunakan cara-cara yang ekspresif dari hubungan sosial terkait dengan suatu
tujuan atau peristiwa yang penting. Upacara umumnya dibedakan menjadi upacara
kenegaraan, upacara adat dan upacara keagamaan.
Menurut KBBI, upacara mempunyai beberapa definisi: 1) tanda-tanda kebesaran
(seperti payung kerajaan): dayang-dayang mengiringkan raja, masing-masing
membawa peralatan (menurut adat-istiadat); 2) rangkaian tindakan atau perbuatan
yang terikat pada aturan tertentu menurut adat atau agama: perkawinan dilakukan
secara sederhana; 3) perbuatan atau perayaan yang dilakukan atau diadakan
sehubungan dengan peristiwa penting (seperti pelantikan pejabat, pembukaan gedung
baru): peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia; pelantikan bupati; peresmian
pabrik pupuk yang baru.
Sedangkan apel menurut KBBI, adalah wajib hadir dalam suatu upacara resmi
(bersifat kemiliteran) untuk diketahui hadir tidaknya atau untuk mendengar amanat.

Dapat diambil kesimpulan, secara umum perbedaan upacara dengan apel yaitu:
Upacara ialah suatu kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang di instansi
pemerintah untuk memperingati sesuatu atau karena diadakan acara tertentu.
Contohnya adalah Upacara dalam memperingati Hut RI Ke 70.
Apel adalah upacara yang dilaksanakan secara khusus tanpa membutuhkan kehadiran
pejabat dan memiliki tata urutan upacara yang tidak harus lengkap. Contohnya adalah
laporan serah terima jabatan.

Sumber:
https://www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/UU_2010_9.pdf
https://dindikpora.jogjakota.go.id/assets/instansi/dispora/files/materi-pembinaan-
kepemudaan-bertajuk-%e2%80%9ctraining-of-trainer-tah-216.pdf
https://lemdik.polri.go.id/index.php?p=fstream-pdf&fid=5702&bid=808

Anda mungkin juga menyukai