Anda di halaman 1dari 5

Tugas : essai ekonomi makro

Nama: Mohamad Afghani Risma Purnama


Kelas: 2 ps-B
Nim: 214110202103
Dosen pengampu: Muhammad Ash-Shiddiqy, M.E

PENGENTASAN KEMISKINAN DI INDONESIA


Kemiskinan secara umum dapat dibedakan dalam beberapa pengertian. Menurut
Sumodiningrat (1989) mengklasifikasikan pengertian kemiskinan sekurang-kurangnya dalam
lima kelas, yaitu kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, kemiskinan kultural, kemiskinan
kronis dan kemiskinan sementara. Identifikasi masing-masing klas kemiskinan tersebut
adalah seperti berikut. Kemiskinan Absolut, diartikan apabila tingkat pendapatan seseorang di
bawah garis kemiskinan atau sejumlah pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidup minimum (basic needs), antara lain kebutuhan pangan, sandang, kesehatan,
perumahan dan pendidikan yang diperlukan untuk hidup dan bekerja. Kemiskinan Relatif,
adalah bila seseorang yang mempunyai penghasilan di atas garis kemiskinan, namun relatif
lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan masyarakat sekitarnya. Kemiskinan relatif erat
kaitannya dengan masalah pembangunan yang sifatnya struktural, yakni kesenjangan akibat
kebijaksanaan pembangunan yang belum menjangkau seluruh masyarakat.
Secara teoritis garis kemiskinan dapat dihitung dengan menggunakan tiga pendekatan, yaitu:
pendekatan produksi, pendapatan dan pengeluaran (Bappenas, 2000a). Garis kemiskinan
yang ditentukan berdasarkan tingkat produksi, misalnya: produksi padi perkapita hanya dapat
menggambarkan kegiatan produksi tanpa memperhatikan pemenuhan kebutuhan hidup.
Perhitungan garis kemiskinan dengan pendekatan pendapatan rumah tangga dinilai paling
baik. Cara ini tidak mudah dilakukan karena kesulitan untuk memperoleh data pendapatan
rumahtangga secara akurat. Untuk mengatasi kesulitan dalam pengumpuIan data pendapatan,
maka garis kemiskinan ditentukan dengan pendekatan pengeluaran yang digunakan sebagai
proksi atau perkiraan dari pendapatan rumah tangga dupan masyarakat yang sesungguhnya
karena pengeluaran pokok diluar kebutuhan pangan juga dipertimbangkan.
Besamya pengeluaran per kapita sebagai dasar garis kemiskinan dibedakan antara daerah
perkotaan dan pedesaan. Garis kemiskinan yang dipergunakan dikoreksi dari tahun ke tahun
menurut perkembangan tingkat harga kebutuhan pokok masyarakat. Perubahan tersebut
ditampilkan pada Tabel 1.
Banyak penduduk hayati sedikit pada atas garis kemiskinan & rentan jatuh miskin. Banyak
penduduk Indonesia yg berhasil keluar berdasarkan kemiskinan masih hayati sedikit pada
atas garis kemiskinan. Pada tahun 2013, lebih kurang 28 juta penduduk hayati pada bawah Rp
293.000 per bulan. Selain itu, 68 juta penduduk hayati sedikit pada atas nomor tersebut.
Kejadian mini mampu menggunakan gampang menciptakan mereka jatuh miskin, & memang
poly famili keluar-masuk berdasarkan perangkap kemiskinan. Berdasarkan data tahun 2010,
hampir 1/2 penduduk miskin nir miskin dalam tahun sebelumnya. Seperempat penduduk
Indonesia mengalami kemiskinan setidaknya satu kali dalam tiga tahun.

Bank Dunia terus bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia dalam upaya mengentaskan
kemiskinan. Riset mengenai kemiskinan dan pengentasan kemiskinan mencakup banyak
bidang, seperti tren kemiskinan, bantuan sosial, jaminan sosial, program berbasis masyarakat,
serta penciptaan lapangan kerja yang lebih banyak dan lebih baik. Kumpulan penelitian
tersebut berfungsi sebagai dasar memberikan rekomendasi kebijakan serta dukungan lain dari
Bank Dunia kepada Pemerintah Indonesia. Bank Dunia juga memberikan dukungan teknis
untuk menerapkan program-program pemerintah. Misalnya, PNPM Support Facility
memberikan dukungan analitis dan implementasi bagi Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat.

Namun untuk menilai perbaikan kesejahteraan masyarakat tak cukup hanya berpatokan pada
tingkat kemiskinan secara agregat. Faktanya, masih tersimpan sejumlah permasalahan serius.
Pertama, penurunan kemiskinan di daerah perkotaan relatif lambat. Selama September 2020
hingga September 2021, tingkat kemiskinan di perkotaan hanya turun 0,32 persen.
Di sisi lain, kemiskinan di perdesaan sudah berkurang hingga 0,67 persen. Dibanding dengan
kondisi 2019 (pra pandemi), tingkat kemiskinan desa sedikit lebih baik. Hal ini
mengindikasikan bahwa pemulihan pendapatan yang didorong oleh sektor-sektor ekonomi di
perkotaan (seperti industri manufaktur, perdagangan dan jasa) masih terbatas dibandingkan
dengan sektor pertanian di pedesaan yang ternyata lebih resilient.
Kedua, meskipun tingkat kemiskinan di perdesaan sudah turun signifikan, indeks
keparahannya ternyata meningkat. Artinya, terjadi pelebaran kesenjangan antar penduduk di
bawah garis kemiskinan. Dari 0,57 pada September 2020, indeks keparahan kemiskinan
perdesaan naik menjadi 0,59 persen pada September 2021.

Ketiga, jika dibandingkan dengan antar wilayah, tingkat kemiskinan di sejumlah daerah di
luar Jawa masih meningkat. Yang paling mengkhawatirkan adalah kemiskinan di Provinsi
Papua yang meningkat dari 26,86 persen (Maret 2021) menjadi 27,38 persen (September
2021) atau tertinggi di Indonesia dan jauh di atas rata-rata nasional.

Persentase penduduk miskin di Indonesia pada September 2021 sebesar 9,71%, menurun
sekitar 0,43% dibandingkan Maret 2021 dan menurun 0,48% dibandingkan September 2020.

Faktor penyebab kemiskinan di Indonesia secara terbagi menjadi dua faktor yaitu faktor
internal dan eksternal. Berdasarkan penjelasan di Jurnal Keislaman, Kemasyarakatan, dan
Kebudayaan
Faktor iinternal
Penyebab kemiskinan dapat disebabkan oleh faktor dari dalam atau internal. Adapun faktor
internal yang bisa menyebabkan kemiskinan antara lain; sikap, pengalaman dan pengamatan,
kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi.
Faktor Eksternal
Selain faktor internal, penyebab kemiskinan lainnya yaitu faktor eksternal atau faktor dari
luar, seperti kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan kebudayaan.
Dampak Kemiskinan di Indonesia
Kondisi kemiskinan ternyata bisa menimbulka beberapa dampak atau akibat. Dari Jurnal
Keislaman, Kemasyarakatan, dan Kebudayaan, disebutkan beberapa dampak kemiskinan di
Indonesia seperti berikut:
1. Meningkatnya angka pengangguran.
2. Banyaknya kasus putus sekolah.
3. Muncul berbagai masalah kesehatan di masyarakat.
4. Menurunnya kualitas generasi penerus.
5. Muncul tindakan kriminalitas.
Daftar pustaka

Bappenas. 2000a. Konsep Kebijakan dan Program Penanggulangan Kemiskinan Dalam


Propenas 2000-2001. Makalah dalam diskusi Rapat Koordinasi Kelompok Kerja Operasional
Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan Tingkat Pusat Jakarta 13 Juni 2000.

Bappenas. 2000b. Program Pembangunan Nasional Penanggulangan Kemiskinan. Makalah


dalam diskusi Rapat Koordinasi Kelompok Kerja Operasional Gerakan Terpadu Pengentasan
Kemiskinan Tinglat Pusat, Jakarta 13 Juni 2000.

BPS 1998, Crisis Poverty and Human Development in Indonesia, BPS-UNDP, Jakarta

Irawan,.B. dan H. Romdiati. 2000. The Impact Of Economic Crisis on Poverty and Its
Implications For Development Strategies (draft for discussion). Makalah dipresentasikan
pada Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, Jakarta 29 Febuari – 2 Maret 2000

https://www.worldbank.org/in/country/indonesia/brief/reducing-extreme-poverty-in-
indonesia

https://m.bisnis.com/amp/read/20220217/9/1501535/opini-membaca-rapor-kemiskinan-di-
indonesia

https://katadata.co.id/sitinuraeni/berita/620636c38eedf/penyebab-kemiskinan-dan-dampak-
yang-ditimbulkan

Anda mungkin juga menyukai