Anda di halaman 1dari 174

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

Disusun Oleh:

Bambang Semedi, S.H. (Widyaiswara Utama)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR

KEPABEANAN DAN CUKAI

Disusun Oleh:

Bambang Semedi, S.H. (Widyaiswara Utama)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI 2011

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan

DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR ........................................................................................... i DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii DAFTAR GAMBAR .............................................................................................vii PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ...... viii PETA KONSEP MODUL ..... ix MODUL KETENTUAN BARANG LARANGAN DAN PEMBATASAN A. Pendahuluan .. 1 1. Deskripsi Singkat .......................................................1 2. Prasyarat Kompetensi ...................................................... 3 3. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) ........................ 3 4. Relevansi Modul ................. 4 B. KEGIATAN BELAJAR ............................................................................ 5 1. Kegiatan Belajar (KB) 1 .......................................................5 KETENTUAN BARANG LARANGAN DAN PEMBATASAN (KBLP) UNTUK KEPENTINGAN PERLINDUNGAN BIDANG PERTAHANAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN MASYARAKAT Indikator Keberhasilan ..... 5 1.1. Uraian dan contoh ...........................................................................5 A. Senjata Api .................................................................................5 1) Pengertian dan Definisi Senjata Api .. 6 2) Ketentuan Impor Senjata Api .. 12 B. Amunisi dan Mesiu 14 1) Amunisi ....14 2) Mesiu ...15 C. Bahan Peledak .......................................................................... 17 D. Selpeter ......................................................................................21 E. Petasan / Happy Crackers ........................................................ 24 F. Barang Cetak .............................................................................26 1) Pengertian .... 27

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

ii

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


2) Klasifikasi Barang Cetak .. 27 3) Ketentuan Pidana ..... 28 G. Film dan Kaset Video .................................................................28 1) Pengertian Film ..29 2) Video ... 30 3) Kaset Video ....30 1.2. Latihan 1 ......... 33 1.3. Rangkuman ..... 33 1.4. Tes Formatif 1 .... 38 1.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ........................ 41 2. Kegiatan Belajar (KB) 2 ...................................................... 42 KETENTUAN BARANG LARANGAN DAN PEMBATASAN (KBLP) UNTUK KEPENTINGAN PERLINDUNGAN BIDANG KESEHATAN MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN HIDUP Indikator ... 42 2.1. Uraian dan contoh .......................................................................... 42 A. Narkotika ................................................................................... 42 1) Narkotika .43 2) Penggolongan Narkotika . 43 3) Ketentuan Mengimpor Narkotika 44 4) Pengangkutan Narkotika . 45 B. Psikotropika .............................................................................. 46 1) Pengertian Psikotropika .. 47 2) Penggolongan Psikotropika 47 3) Transito Psikotropika ......................................................... 48 C. Prekursor .................................................................................. 49 1) Pengertian Prekursor 50 2) Daftar Jenis Prekursor ....................................................... 51 D. Sediaan Farmasi, Obat Tradisional dan Alat Kesehatan ..... 51 1) Pengertian . 52 2) Ketentuan Impor Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan 54 3) Impor atau Ekspor Obat Tradisional . 55 4) Tindak Pidana Pelanggaran Ketentuan Sediaan ............... 56

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

iii

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Farmasi dan Alat Kesehatan ...... 57 E. Makanan dan Minuman Beralkohol ..... 58 1) Pengertian .. 59 2) Larangan Dalam Importasi Minuman beralkohol ... 60 3) Larangan ....... 61 F. Pencemaran Lingkungan Hidup ... 63 1) Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) . 63 2) Bahan Perusah Lapisan Ozon (Ozone Depleting Subtances) . 64 3) Pasir Laut ... 66 4) Bahan-Bahan Galian 67 5) Pabrikasi Pelumas dan Pengolahan Pelumas Bekas Serta Penetapan Mutu Pelumas .... 71 6) Limbah .71 7) Ketentuan Pidana .... 71 2.2. Latihan 2 ......... 71 2.3. Rangkuman .... 72 2.4. Tes Formatif 2 ..... 78 2.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ........................ 81 3. Kegiatan Belajar (KB) 3 .......................................................82 KETENTUAN BARANG LARANGAN DAN PEMBATASAN (KBLP) UNTUK KEPENTINGAN PERLINDUNGAN FLORA, FAUNA, CITES, INDUSTRI PERDAGANGAN, KEUANGAN DAN KEBUDAYAAN Indikator Keberhasilan ...... 82 3.1. Uraian dan contoh .......................................................................... 82 A. Flora ... 82 1) Pengertian .... 83 2) Tindakan Karantina Tumbuhan .. 83 B. Fauna .. 85 1) Karantina Hewan .. 85 2) Persyaratan Karantina . 86 3) Pemasukan 87 4) Perikanan 88

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

iv

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


5) Ketentuan Pidana Kejahatan .. 89 6) Ketentuan Pidana Pelanggaran ......................................... 89 C. CITES ......91 1) Lingkup Nasional .. 92 2) Pengertian .. 96 D. Dalam Penggolongan barang ekspor ... 97 1) Barang yang diatur ekspornya 99 2) Barang yang diawasi ekspornya .99 3) Barang yang dilarang ekspornya ... 100 E. Pembawaan Uang .... 101 1) Pengertian .. 102 2) Pelaporan ...... 107 F. Money Laundering ... 108 1) Pengertian .. 109 2) Upaya Pemberantasan Money Laundering Di Indonesia 3) Pelaksanaan Upaya-upaya rezim Anti Money Laundering... 112 4) Pelaksanaan Rezim Anti Money Laundering oleh PPATK 113 5) Implementasi UU Tindak Pidana Pencucian uang oleh Polri, Jaksa dan Hakim . 113 G. Deteksi Uang Palsu ..... 115 1) Pengertian .. 116 2) Hasil Cetak Yang Kasar ...116 3) Tanda Air 117 4) Nomor Seri . 118 5) Benang Pengaman ..... 120 6) Visible Fluorescent Ink .... 122 H. Benda Cagar Budaya, dan Situs ...... 123 3.2. Latihan 3 ......... 126 3.3. Rangkuman .... 127 3.4. Tes Formatif 3 .... 133 3.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ........................ 136 PENUTUP ..... 137 112

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


TES SUMATIF ................................................................ 138 KUNCI JAWABAN ( TES FORMATIF DAN TES SUMATIF ) ... 146 DAFTAR PUSTAKA .... 158

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

vi

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan

DAFTAR GAMBAR

Nomor
1.1. 1.2.

Judul Gambar
Senjata Genggam atau Laras Pendek Jenis Pistol Senjata Genggam atau Laras Pendek jenis Revolver

Halaman
7 8

1.3.

Senjata Bahu atau Laras Panjang

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

vii

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL


Untuk dapat memahami modul ini secara benar, maka peserta diklat diharapkan mempelajari modul ini secara urut mulai dari Kegiatan Belajar 1 sampai dengan Kegiatan Belajar 3. Cara mempelajari setiap kegiatan belajar adalah mengikuti tahap-tahap berikut ini: 1. Lihat apa yang menjadi target indikator dari kegiatan belajar tersebut; 2. Pelajari materi yang menjadi isi dari setiap kegiatan belajar (dengan cara membaca materi minimal 3 kali membaca isi materi kegiatan belajar tersebut); 3. Lakukan review materi secara umum, dengan cara membaca kembali ringkasan materi untuk mendapatkan hal-hal penting yang menjadi fokus perhatian pada kegiatan belajar ini; 4. Kerjakanlah Tes Formatif pada kegiatan belajar yang sedang dipelajari; 5. Lihat kunci jawaban Tes Formatif dari kegiatan belajar tersebut yang terletak pada bagian akhir modul ini. 6. Cocokkan hasil tes formatif dengan kunci jawaban tersebut, apabila ternyata hasil Tes Formatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah yang benar x 100/15), maka kegiatan belajar dapat dilanjutkan pada kegiatan belajar berikutnya, namun apabila diperoleh angka di bawah 67, maka peserta diklat diharuskan mempelajari kembali kegiatan belajar tersebut agar selanjutnya dapat diperoleh angka minimal 67. 7. Kerjakan Tes Sumatif apabila semua Tes Formatif dari seluruh kegiatan belajar telah dilakukan. 8. Lihat kunci jawaban Tes Sumatif yang terletak pada bagian akhir modul ini 9. Cocokkan hasil tes sumatif dengan kunci jawaban tes sumatif, apabila ternyata hasil tes sumatif peserta diklat memperoleh nilai minimal 67 (jumlah yang benar x 100/25), maka peserta diklat dapat dinyatakan lulus dari

kegiatan belajar

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

viii

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan

PETA KONSEP
Dalam mempelajari modul ini, agar lebih mudah dipahami maka disarankan kepada peserta diklat untuk mempelajari peta konsep modul. Dengan demikian pola pikir yang sistematik dalam mempelajari modul dapat terjaga secara berkesinambungan selama mempelajari modul.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

ix

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan

A
PENDAHULUAN

MODUL

KETENTUAN BARANG LARANGAN DAN PEMBATASAN


1. Deskripsi Singkat

Senjata api, amunisi dan mesiu adalah barang yang berbahaya bagi pertahanan dan keamanan Republik Indonesia dan juga berbahaya bagi keselamatan jiwa masyarakat. Tujuan utama dari pengelolaan peraturan dan larangan guna perlindungan, pertahanan, keamanan dan ketertiban masyarakat adalah menjaminnya terlaksananya keamanan di dalam masyarakat. Setiap kegiatan impor maupun ekspor komoditi yang berkaitan dengan pertahanan, keamanan dan ketertiban masyarakat, dimanapun pasti akan menimbulkan dampak. Dampak yang ditimbulkan dapat positif maupun negatif. Senjata api, amunisi dan mesiu dalam arti positif merupakan alat untuk membela diri, mempertahankan kedaulatan negara, penegakan hukum, tetapi dalam arti negatif penggunaan senjata api, amunisi dan mesiu secara ilegal, akan mengganggu ketertiban umum (tindak kriminalitas) dan merupakan ancaman terhadap negara kesatuan Republik Indonesia. Bahan-bahan berbahaya memang sangat berbahaya sekali baik pada kesehatan maupun pada lingkungan hidup, oleh karena itu pemasukan bahan-

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


bahan berbahaya ke Indonesia harus diawasi. Tata niaga dari bahan berbahaya ini sudah diatur oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan, sedangkan Bea dan Cukai hanya mengawasi dengan tetap menjaga kelancaran arus barang, jasa, ataupun kelancaran dokumen. Bahan-bahan berbahaya benarbenar sangat berbahaya jika tidak diawasi penggunaannya. Penggunaan bahanbahan berbahaya yang tidak sesuai dengan kegunaannya sangat riskan sekali terhadap efek sampingnya. Apalagi penggunaannya hanya dengan tujuan untuk mengambil keuntungan bagi perusahaan saja, tanpa memperhatikan kesehatan masyarakat dan lingkungan pada umumnya. Disinilah peran Badan POM (Pengawasan Obat dan Minuman) dalam mengawasi penggunaan bahan-bahan berbahaya tersebut, jika penggunaan bahan-bahan berbahaya tersebut untuk bahan dalam pembuatan obat dan makanan. Sebenarnya tanpa peran aktif dari masyarakat dan para pelaku dunia usaha (pengusaha), kesemua instansi tersebut tidak akan bisa menjalankan perannya dengan maksimal. Diharapkan disini para pengusaha untuk

menggunakan bahan-bahan berbahaya tersebut sesuai dengan fungsinya. Jangan hanya untuk mengejar keuntungan saja, masyarakat yang menjadi korbannya. Serta peran aktif masyarakat untuk lebih teliti dalam mengkonsumsi barang-barang dengan terlebih dahulu mengetahui komposisi atau bahan baku apa yang digunakan. Jika terdapat bahan-bahan berbahaya yang terkandung di dalamnya dan sebagai bahan yang tidak selayaknya untuk digunakan, maka diharapkan untuk melaporkan kepada pihak-pihak yang terkait, seperti Badan POM misalnya. Bahan peledak adalah suatu bahan atau zat yang berbentuk padat, cair, gas atau campurannya yang apabila dikenai suatu aksi berupa panas, benturan, atau gesekan akan berubah secara kimiawi menjadi zat-zat lain yang sebagian besar atau seluruhnya berbentuk gas dan perubahan tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat singkat dan disertai efek panas dan tekanan yang sangat tinggi. Selpeter atau asam sendawa yang mempunyai nama kimiawi Kalium Nitrate(KNO3) adalah bahan atau zat berupa butir-butir putih transparan yang memiliki rasa asin, mudah larut dalam air, dapat larut sedikit dalam alkohol serta berkadar racun rendah. Ketentuan impor selpeter sama dengan ketentuan impor bahan peledak. Happy crackers adalah petasan yang memiliki kembang api yang

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


dapat meledak seperti petasan tetapi sekaligus mengeluarkan kembang api yang berwarna-warni. Sejak tahun 1977 happy crackers merupakan salah satu jenis barang yang dilarang sepenuhnya atas produksi dan impornya. Bahan peledak merupakan salah satu barang dibatasi yang sangat berbahaya dan perlu diawasi sejak dari pengadaan, pengangkutan, penyimpanan, penggunaan sampai dengan pemusnahannya sehingga terhadap importasinya diperlukan ketentuanketentuan baik dari intern DJBC sendiri maupun ketentuan-ketentuan dari instansi/departemen terkait yang nantinya dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan pengawasan untuk memperkecil kemungkinan penyalahgunaan bahan peledak tersebut oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bahan kimia yang biasa dipakai untuk bahan peledak sangat banyak jenisnya. Pengelompokan bahan-bahan peledak ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya berdasarkan komposisi senyawa kimia, kegunaannya, jenis bahan baku dan/atau bahan setengah jadi menurut sifat eksplosifnya dan lingkungan penggunaannya.

2. Prasyarat Kompetensi
Untuk mempelajari modul ini, idealnya Anda telah ditunjuk sebagai Peserta dan telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pegawai DJBC Gol II yang belum pernah mengikuti diklat teknis; Lulusan SLTA atau sederajat; Usia maksimum 50 tahun; Sehat jasmani dan rohani; Memiliki motivasi yang kuat untuk mengikuti diklat; Tidak sedang menjalani atau dalam proses penjatuhan hukuman disiplin; Tidak sedang ditunjuk mengikuti diklat lain; Ditunjuk oleh Sekretaris DJBC.

3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar


Standar Kompetensi Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu

melaksanakan dan menjelaskan Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan (KBLP) untuk Kepentingan Perlindungan Bidang Pertahanan Keamanan dan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Ketertiban Masyarakat atas pelaksanaan penyelesaian pelanggaran

Kepabeanan dan Cukai secara optimal.

Kompetensi Dasar Bahan ajar atau Modul Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan (KBLP) untuk Kepentingan Perlindungan Bidang Pertahanan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat ini bermanfaat bagi peserta didik dan/atau peserta Diklat sebagai pedoman dalam mengikuti ujian, evaluasi pembelajaran dan nantinya berguna bagi peserta DTSS I dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya sewaktu bekerja sesuai bidang spesialisasinya.

4. Relevansi Modul
Relevansi modul terhadap tugas pekerjaan yang akan dijalankan peserta diklat adalah sebagai berikut : a. Materi modul ini diharapkan dapat memberikan pemahaman dan wawasan yang lengkap tentang tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai adalah melakukan pengawasan lalulintas barang impor dan ekspor terutama dalam rangka melindungi masyarakat Indonesia atas dampak yang timbul dari aktifitas ekspor dan impor barang tersebut. Dalam rangka melaksanakan tugas tersebut para siswa diharapkan mengenal dan memahami barang-barang yang terkena peraturan larangan dan pembatasan oleh instansi teknis terkait. b. Materi modul ini terkait pada mata pelajaran identifikasi, pengetahuan dan klasifikasi barang serta mata pelajaran teknis pabean dan diharapkan dapat memberikan gambaran secara utuh penetapan jenis-jenis barang larangan dan pembatasan, penangan serta persyaratan import dan ekspornya.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan

B
KEGIATAN BELAJAR
1. Kegiatan Belajar (KB) 1

KETENTUAN BARANG LARANGAN DAN PEMBATASAN (KBLP) UNTUK KEPENTINGAN PERLINDUNGAN BIDANG PERTAHANAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN MASYARAKAT
Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan ketentuan barang larangan dan pembatasan untuk kepentingan bidang Hankamtibnas antara lain: sejata api, amunis, mesiu, bahan peledak , selpeter, petasan/ happy crackers, barang cetak, film dan kaset video.

1.1. Uraian dan Contoh

A.

SENJATA API
Semua negara yang berdaulat dan merdeka selalu ingin melindungi

negara, pemerintah dan rakyatnya dari gangguan ekonomi, politik, sosial, budaya, militer, lingkungan hidup, keamanan, kesehatan dan kesejahteraannya dari gangguan negara lain maupun dari gangguan lainnya. Untuk itu peran serta Bea dan Cukai adalah mengamankan dan melindungi wilayah teritorial negara, wilayah Republik Indonesia dari gangguan yang timbul pada lalu lintas barang, alat angkut, orang yang mengganggu

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


kepentingan negara yang berdaulat dan mengganggu kelancaran arus dokumen dan barang, yang salah satunya dengan melakukan Penegakan Hukum. Untuk melakukan penegakan hukum tersebut diperlukan pengetahuan dan keterampilan penanganan tentang larangan, pembatasan dan wewenang pegawai, demikian juga masyarakat usaha, importir, eksportir, Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) juga diharapkan mengetahui dan terampil dalam mengurus atau memproses barang yang termasuk terkena peraturan larangan dan pembatasan untuk kepentingan perlindungan bidang pertahanan keamanan dan ketertiban masyarakat, seperti Senjata Api, Amunisi dan Mesiu, Bahan Peledak, Selpeter, Petasan / Happy Crackers, Barang Cetakan, Film. Pada dasarnya impor senjata api tidak dibenarkan dilakukan instansi lain selain Tentara Nasional Indonesia dan Polri. Namun demikian dapat diimpor, diekspor dan dimiliki, dikuasai dan atau penggunaan senjata api dapat dilakukan untuk yang Non standar TNI/Polri yang berkaliber maksimal senjata genggam atau laras pendek kaliber 32 MM, yang berkaliber maksimal senjata bahu atau laras panjang kaliber 22 MM dan digunakan instansi pemerintah lainnya dalam rangka penegakan hukum.

1) Pengertian dan Definisi Senjata Api


Senjata Api berarti setiap alat, baik yang sudah terpasang ataupun yang belum, yang dapat dioperasikan atau yang tidak lengkap, yang dirancang atau dirubah, atau yang dapat dirubah dengan mudah agar mengeluarkan proyektil akibat perkembangan gas-gas yang dihasilkan dari penyalaan bahan yang mudah terbakar di dalam alat tersebut, dan termasuk perlengkapan tambahan yang dirancang atau dimaksudkan untuk dipasang pada alat demikian. Pengertian senjata api berdasarkan ordonansi Senjata Api tahun 1939 juncto Undang-undang Darurat Nomor 12 tahun 1951 adalah termasuk juga : a. Bagian-bagian dari senjata api b. Meriam-meriam dan vylamen werpers (penyembur api) termasuk bagiannya c. Senjata-senjata tekanan udara dan tekanan per tanpa mengindahkan kalibernya, slachtpistolen (pistol penyembelih/pemotong), sein pistolen (pistol isyarat), demikian juga senjata api imitasi seperti alarm pistolen(pistol tanda bahaya), start revolvers(revolver perlombaan), shijndood

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


pistolen(pistol suar), schijndood revolvers(revolver suar) dan benda-benda lainnya sejenis itu, yang dapat dipergunakan untuk mengancam atau menakut-nakuti begitu pula bagian-bagiannya. Dikeluarkan dari pengertian senjata api : a. Senjata yang nyata-nyata dipandang sebagai mainan anak-anak b. Senjata yang nyata-nyata mempunyai tujuan sebagai barang kuno atau barang antik c. Sesuatu senjata yang tidak tetap terpakai atau dibuat sedemikian rupa sehingga tidak dapat dipergunakan Penggolongan senjata api menurut versi TNI/POLRI: a. Pistol/ revolver, dari berbagai macam tipe dan kaliber b. Pistol Mitraliur, dari berbagai macam tipe dan kaliber c. Senapan, dari berbagai macam tipe dan kaliber d. Senapan mesin, dari jenis senapan mesin ringan dan berat e. Roket Launcher, dari berbagai macam. f. Mortir, dari berbagai macam g. Meriam, dari berbagai macam, dan Peluru kendali, dari berbagai macam Gambar 1.1. Senjata genggam atau laras pendek jenis Pistol

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Gambar 1.2. Senjata genggam atau laras pendek jenis Revolver

Gambar 1.3. Senjata bahu atau laras panjang

SS2-V1 Asault Rifle. Kaliber : 5,56 x 45 mm Panjang Laras : 460 mm Berat : 3.2 kg Panjang Keseluruhan : 930 mm (24 September 2004)

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Menurut Undang-undang Darurat No 12 tahun 1951 Pasal 1 (1) : Barang siapa tanpa hak memasukkan ke Indonesia atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak, dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara selama-lamanya 20 tahun. Sanksi berdasarkan undang-undang ini hukumannya jauh lebih berat dibandingkan Ordonansi 1937 yang sanksi hukumannya hanya satu tahun kurungan. Senjata dapat diimpor apabila memiliki izin dalam hal ini Pejabat yang berwenang untuk memberi izin pemasukan senjata api non standar TNI/POLRI adalah Kepala Kepolisian Republik Indonesia qq. Kepala Direktorat Intelijen Pengamanan. Di dalam Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Nomor KEP/27/XII/1997 tanggal 28 Desember 1997 tentang Tuntunan kebijaksanaan untuk meningkatkan pengawasan dan pengendalian senjata api sebagai pelaksanaan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1976, izin untuk mengimpor, memiliki, menguasai, dan atau menggunakan senjata api dan atau amunisi untuk perorangan dapat diberikan untuk keperluan :

a. Pembatasan Senjata api perorangan untuk bela diri Izin untuk memasukkan, memiliki, menguasai dan atau menggunakan senjata api dan atau amunisi untuk perorangan dibatasi untuk kepentingan bela diri karena untuk menghadapi ancaman yang nyatanyata dapat membahayakan keselamatan jiwanya Pemberian izin senjata api perorangan untuk membela diri tersebut dibatasi 1 (satu) pucuk senjata api dari jenis, macam dan

ukuran/kaliber non standar TNI/POLRI dengan amunisi sebanyak untuk 1(satu) magazyne/cylinder Kepala Kepolisian Republik Indonesia mengeluarkan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan lainnya yang diperlukan agar pembatasan dapat dikendalikan Izin senjata api perorangan untuk bela diri sewaktu-waktu dapat dicabut atau tidak diperbaharui, apabila alasan tersebut tidak sesui lagi

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Dalam hal dipandang perlu kepada pejabat-pejabat pemerintah tertentu dapat memberikan izin untuk menguasai dan atau menggunakan senjata api dan amunisi dari jenis, macam dan ukuran standar TNI/POLRI. Senjata api yang dimaksud merupakan pinjaman dari Departemen Pertahanan dan Keamanan yang diperoleh melalui permohonan diri yang berkepentingan kepada Menteri Pertahanan dan Keamanan / Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia berdasarkan Rekomendasi dari Kepala Kepolisian Republik Indonesia.

b. Pembatasan senjata api perorangan untuk olahraga Izin untuk memasukkan, memiliki, menguasai dan atau menggunakan senjata api dan atau amunisi untuk olahraga dibatasi pada olahraga menembak sasaran (target shooting) dan atau berburu Senjata api yang digunakan untuk olahraga tersebut adalah senjata api dari jenis, macam dan ukuran/ kaliber yang khusus (original) digunakan untuk olahraga tersebut dan bukan berasal dari senjata api lain yang telah dirombak Setiap olahragawan menembak sasaran dan atau berburu diwajibkan menjadi anggota dari Persatuan Olahraga menembak dan atau berburu yang telah mendapatkan pengesahan dari Komite Olahraga Nasional Indonesia Permohonan izin untuk pemasukan, pemilikan, penguasaan dan atau penggunaan senjata api, amunisi untuk keperluan olahraga menembak sasaran dan atau berburu wajib disertai rekomendasi dari persatuan olahraga yang dimaksud pada sub c di atas Izin yang dapat diberikan kepada setiap olahragawan menembak sasaran dan atau menggunakan senjata api, amunisi dibatasi pada satu senjata api dan amunisi dari jenis, macam dan ukuran/ kaliber yang digunakan untuk setiap jenis mata lomba (event) Izin yang dapat diberikan kepada setiap olahragawan berburu untuk memiliki, menguasai dan atau menggunakan senjata api, amunisi dibatasi pada satu senjata dari jenis, macam, dan ukuran/ kaliber yang digunakan untuk memburu binatang yang diizinkan sesuai dengan akta berburu (jacht-acte) dan atau izin berburu (jachtvergunning)

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

10

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Izin senjata perorangan untuk olahraga menembak sasaran dan atau berburu, sewaktu-waktu dapat dicabut atau tidak diperbaharui jika pemegang izin tersebut tidak melakukan kegiatan olahraga tersebut Pengurus Persatuan Olahraga yang dimaksud pada sub c di atas ikut bertanggung jawab terhadap senjata api dan amunisi yang dimiliki, dikuasai dan atau digunakan untuk para anggotanya

c. Pembatasan senjata api perorangan untuk koleksi Izin untuk memasukkan, memiliki, menguasai sejata api untuk keperluan koleksi dibatasi pada senjata api antik atau senjata api lainnya yang mempunyai arti khusus bagi si kolektor Senjata api koleksi dibuat menjadi tidak berfungsi dengan diambil pasak dan pegas pemalunya (slagpinveer) atau peralatan vital lainnya Pasak dan pegas pemalu atau peralatan vital lainnya dari senjata koleksi tersebut wajib diserahkan kepada pihak kepolisian yang memberikan izin Senjata api koleksi tidak dapat digunakan untuk tujuan lain kecuali untuk koleksi semata-mata

d. Senjata api dan amunisi untuk kapal laut indonesia dan asing Untuk kepentingan keamanan, ketentraman dan ketertiban pelayaran kapal-kapal Indonesia baik milik pemerintah maupun swasta, kepada pemilik kapal-kapal tersebut apabila dipandang perlu dapat diberikan izin untuk memasukkan, memiliki, menguasai dan atau menggunakan senjata api dan atau amunisi Senjata api dan amunisi yang dimaksud adalah jenis, macam dan kaliber senjata api non standar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Jumlah senjata api dan amunisi yang diizinkan adalah hanya untuk mempersenjatai 1/3 (sepertiga) dari kekuatan awak kapal dengan maksimum 10 (sepuluh) pucuk senjata api setiap kapal dan amunisi sebanyak untuk 3 (tiga) magazyn/ cylinder untuk setiap senjata api. Senjata api dan amunisi yang dimaksud merupakan perlengkapan kapal yang dipertanggungjawabkan kepada nahkoda

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

11

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Permohonan izin untuk memasukkan, memiliki, menguasai dan atau menggunakan senjata api dan amunisi untuk kapal-kapal tersebut wajib disertai rekomendasi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Awak-awak dari kapal laut asing bukan kapal perang yang berlabuh di pelabuhan Indonesia dilarang untuk membawa senjata api dan atau amunisinya ke darat e. Ketentuan wajib simpan senjata api dan amunisi. Senjata api perorangan untuk membela diri, olahraga dan amunisinya berdasarkan pertimbangan keamanan dapat dikenakan wajib simpan pada komando-komando kepolisian

2) Ketentuan impor senjata api.


Untuk bisa memasukkan senjata api ini, importir harus, memiliki izin dari Kepala Kepolisia Republik Indonesia, memiliki Angka Pengenal Impor dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan Tempat pemasukan senjata api dan amunisi dapat dilakukan melalui pelabuhan laut maupun udara. Untuk pelabuhan laut dapat melalui Medan (Belawan), Jakarta (Tanjung Priok), Surabaya (Tanjung Perak), Makassar (Soekarno-Hatta). Untuk pelabuhan udara dapat melalui Bandara Polonia, Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Juanda dan Bandara Hasanuddin. Prosedur yang harus ditempuh adalah, importir mengajukan permohonan kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia dengan mencantumkan : identitas, jumlah dan jenis senjata api, negara penjual, jangka waktu pemasukkan, pelabuhan pemasukkan, dan lain-lain izin yang dikeluarkan berlaku selama enam bulan, dan apabila realisasi impor tidak dipenuhi dalm jangka waktu tersebut izin harus diperpanjang. Peralatan Keamanan yang dapat digunakan untuk mengancam atau menakut-nakuti/mengejutkan berdasarkan Surat Direktur Intelpam atas nama Kapolri Nomor : R/WSD 404/VII/98/Dit LPP tanggal 21 Agustus 1998, adalah:

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

12

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


a. Senjata gas air mata yang berbentuk : pistol/ revolver gas stick/ pentungan gas spray gas gantungan kunci gas extinguising gun/ pemadam api ringan pulpen gas, dll. b. Senjata kejutan listrik yang berbentuk : stick/ tongkat listrik kejutan genggam senter serba guna, dll. c. Senjata panah : model cross bow (senjata panah) panah busur, dll. d. Senjata tiruan/ replika e. Senjata angin kaliber 4,5 mm f. Alat pemancang paku beton Surat Direktur Intelpam Nomor : B/337/VI/1988 Tanggal 20 Juni 1988 mengenai senjata api mainan yang impornya tidak perlu izin Kapolri : a. Terbuat dari plastik. b. Komponen pokok tidak terbuat dari : logam, aluminium atau sejenisnya. c. Laras, magazen, kamar peluru, dan traggernya tidak berfungsi sbg senjata api. Surat Direktur Intelpam Nomor : R/SWD-368/VII/1998/Dit LPP Tanggal 24 Juli 1998 mengenai senjata api tiruan : a. Senpi type clock 17 pistol dari plastik b. Crossman 50 caliber poin gun c. The cat pistol d. Marksman semi auto pistol e. 22 black revolver mini cross bow f. Mainan berbentuk senjata api asli g. Replika senjata mainan menyerupai senpi h. Alat keamanan/ bela diri yang sejenis

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

13

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


B. AMUNISI DAN MESIU
Sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 Tanggal 15 Nopember 2006 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 Tanggal 30 Desember 1995 Tentang Kepabeanan disebutkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean, pada saat barang-barang tersebut memasuki daerah pabean, saat itu pula barang tersebut wajib membayar bea masuk. Pengertian tersebut merupakan dasar yuridis bagi pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan pengawasan (termasuk di dalamnya penegakan hukum) dalam daerah yurisdiksinya. Pengawasan dan penerapan sanksi untuk menjamin ditaatinya ketentuan yang diatur dalam undang-undang, sebenamya bukan merupakan tujuan, tetapi suatu proses yang harus ada, sejalan dengan kehadiran suatu peraturan hukum. Di dalam proses itu sendiri, penegakan hukum melibatkan manusia di dalamnya, baik si pelanggar maupun pejabat yang berwenang dalam penegakan hukum. Pengawasan merupakan suatu upaya dari pemerintah untuk dipatuhinya ketentuan perundang-undangan dan peraturan- peraturan pelaksanaannya. Kepatuhan dan kepastian terhadap hukum menunjukkan adanya kewibawaan pemerintah dalam menjalankan tugas-tugas pernerintahannya. Pada hakekatnya pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan larangan dan pembatasan atas impor dan ekspor barang tidak mungkin dilakukan sendirisendiri oleh tiap instansi teknis yang menetapkan peraturan larangan atau pembatasan pada saat pemasukan atau pengeluaran barang ke atau dari daerah pabean. Sesuai dengan praktik kepabeanan internasional, pengawasan lalu lintas barang yang masuk atau keluar dari Daerah Pabean dilakukan oleh instansi pabean.

Pengertian 1) Amunisi
Alat apa saja yang dibuat atau dimaksudkan untuk digunakan dalam senjata api sebagai proyektil atau yang berisi bahan yang mudah terbakar yang

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

14

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


dibuat atau dimaksudkan untuk menghasilkan perkembangan gas di dalam Senjata Api untuk meluncurkan proyektil. Amunisi juga berarti bagian-bagian dari amunisi seperti patroon hulzen (selongsong peluru), slaghoedjes (penggalak), mantel kogels (peluru palutan), slachtveepatroonen (pemalut peluru) demikian juga proyektil-proyektil yang dipergunakan untuk menyebarkan gas-gas yang dapat membahayakan

kesehatan manusia. Amunisi adalah merupakan salah satu alat untuk melaksanakan tugas pokok bagi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (sekarang TNI/POLRI) di bidang pertahanan dan keamanan. Dengan demikian, pada dasarnya impor amunisi tidak dibenarkan dilakukan instansi lain selain TNI/POLRI. Namun demikian, diluar lingkungan. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia terdapat impor, pemilikan, penguasaan dan atau penggunaan amunisi yang digunakan oleh instansi pemerintah lainnya dalam rangka penegakan hukum, maka pemerintah memandang perlu adanya penertiban, pengawasan, dan pengendalian amunisi di masyarakat, sehingga dicegah sejauh mungkin timbulnya ekses yang dapat menimbulkan ancaman atau gangguan terhadap keamanan.

2) Mesiu
Bubuk mesiu atau bubuk hitam ialah zat yang membakar sangat cepat dan digunakan sebagai bahan pembakar dalam senjata api, khususnya bubuk hitam atau bubuk tak berasap. Saat membakar, gelombang deflagrasi subsonik diproduksi dari gelombang detonasi supersonik yang bahan peledak berkekuatan tinggi akan memproduksi. Ini mereduksi tekanan puncak dalam senapan, namun membuatnya kurang cocok untuk menghancurkan batu atau kubu pertahanan. Bubuk hitam merupakan bahan pembakar kimia pertama dan peledak pertama yang tercatat dalam sejarah. Bubuk hitam ialah campuran belerang, arang kayu, dan potasium atau sodium nitrat. Tak seperti bahan pembakar tak berasap, itu berbuat lebih seperti peledak sejak kecepatan bakarnya tak dipengaruhi tekanan, namun merupakan peledak yang amat jelek sebab memiliki tingkat pembusukan yang rendah dan kemudian brisance yang amat rendah. Sifat yang sama ini yang membuatnya meledak jelek menjadikannya berguna sebagai bahan pembakar--kurangnya brisance mencegah bubuk hitam menghancurkan laras, dan menghubungkan energi untuk menggerakkan peluru.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

15

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Kelemahan utama bubuk hitam ialah berat jenis energi yang rendah secara relatif (dibandingkan dengan bubuk tak berasap modern) dan semata-mata jumlah jelaga yang besar yang tertinggal di belakangnya.

Menurut Undang-undang Darurat Nomor 12 tahun 1951 Pasal 1 (1) : Barang siapa tanpa hak memasukan ke Indonesia atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak, dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara selama-lamanya 20 tahun.

Di dalam Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Nomor KEP/27/XII/1997 tanggal 28 Desember 1997 tentang Tuntunan Kebijaksanaan untuk meningkatkan pengawasan dan pengendalian amunisi sebagai pelaksanaan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 tahun 1976, izin untuk mengimpor, memiliki, menguasai, dan atau amunisi untuk perorangan dapat diberikan untuk keperluan Pembatasan senjata dan amunisi perorangan untuk bela diri. Senjata api dan amunisinya adalah barang yang berbahaya bagi pertahanan dan keamanan Republik Indonesia dan juga berbahaya bagi keselamatan jiwa masyarakat. Setiap kegiatan impor maupun ekspor komoditi yang berkaitan dengan pertahanan, keamanan dan ketertiban masyarakat, dimanapun pasti akan menimbulkan dampak, baik dampak positif maupun negatif. Senjata api dan Amunisi dalam arti positif merupakan alat untuk membela diri, mempertahankan kedaulatan negara, penegakan hukum, tetapi dalam arti negatif penggunaan senjata api, amunisi dan mesiu secara ilegal, akan mengganggu ketertiban umum (tindak kriminalitas) dan merupakan ancaman terhadap negara kesatuan Republik Indonesia. Pemasukan dan penggunaan dari senjata api dan amunisi diatur oleh undang-undang agar pengadaan serta penggunaanya tepat guna dan sasaran sehingga tidak merugikan masyarakat.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

16

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


C. BAHAN PELEDAK
Berbagai lingkungan strategis di tingkat nasional, regional, dan global dan perkembangannya yang sangat cepat di bidang teknologi informasi,

telekomunikasi, dan transportasi berdampak pada semakin meningkatnya tuntutan masyarakat perdagangan dan perekonomian dunia terhadap

peningkatan kinerja institusi kepabeanan di setiap negara. Tuntutan terhadap peningkatan kinerja tersebut telah mendorong Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) untuk melakukan berbagai upaya serius dan menempuh langkah-langkah strategis guna melakukan perbaikan dan reformasi di bidang kepabeanan yang telah diwujudkan dalam bentuk penyusunan program reformasi kebijakan di bidang Kepabeanan atau yang sering dikenal dengan Program Reformasi Kepabeanan (Customs Reform). Pengawasan terhadap barang larangan dan pembatasan pada

hakekatnya merupakan pelaksanaan dari tugas DJBC untuk melindungi masyarakat dari masuknya barang-barang yang dapat berdampak negatif dan untuk melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan dari berbagai instansi. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka pada kesempatan kali ini penyusun akan mencoba memaparkan mengenai barang larangan dan pembatasan terutama untuk perlindungan di bidang hankamtibnas khususnya mengenai ketentuan impor bahan peledak. Penyusun mengambil bahasan ketentuan impor bahan peledak

dikarenakan bahan peledak merupakan salah satu barang dibatasi yang sangat berbahaya dan perlu diawasi sejak dari pengadaan, pengangkutan,

penyimpanan, penggunaan sampai dengan pemusnahannya sehingga terhadap importasinya diperlukan ketentuan-ketentuan baik dari intern DJBC sendiri maupun ketentuan-ketentuan dari instansi/departemen terkait yang nantinya dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan pengawasan untuk memperkecil kemungkinan penyalahgunaan bahan peledak tersebut oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

17

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Pengertian
Sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 125 Tahun 1999 tentang bahan peledak, bahan peledak merupakan barang yang sangat berbahaya dan rawan, sehingga untuk mendukung kebutuhan dan penggunaannya dalam penyelenggaraan pembangunan nasional dan kegiatan pertahanan keamanan negara diperlukan adanya pengawasan dan pengendalian secara khusus. Bahan peledak adalah suatu bahan atau zat yang berbentuk padat, cair, gas atau campurannya yang apabila dikenai suatu aksi berupa panas, benturan, atau gesekan akan berubah secara kimiawi menjadi zat-zat lain yang sebagian besar atau seluruhnya berbentuk gas dan perubahan tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat singkat dan disertai efek panas dan tekanan yang sangat tinggi. Bahan Peledak berarti senyawa kimia atau adukan mekanis yang mengandung unsur-unsur yang mengoksidasi atau mudah terbakar, dalam takaran, jumlah atau bungkusan sehingga jika dinyalakan oleh api, gesekan, gegaran, pukulan, atau peledakan dari bagian apa saja daripadanya, dapat atau dimaksudkan dapat menyebabkan ledakan. Bahan peledak termasuk, sebagai contoh dan tidak dimaksudkan sebagai pembatasan, serbuk mesiu, serbuk yang digunakan dalam peledakan, dinamit, sumbu detonator atau bahan peledak yang digunakan untuk menjalankan peledakan, serbuk yang tidak berasap, granat, ranjau atau alat peledak apa saja. Bahan peledak tidak termasuk bahan bakar mesin kecuali jika digabungkan dengan adukan lain dengan tujuan menyebabkan peledakan Berdasarkan pasal 1 ayat (1) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 125 Tahun 1999 tentang Bahan Peledak Lampiran I. Unsur-unsur definisi : Bahan atau zat Berbentuk padat, cair, gas, atau campurannya Dikenai aksi berupa panas, benturan, gesekan Berubah secara kimiawi Menjadi zat lain (sebagian besar atau seluruhnya berbentuk gas) Perubahannya berlangsung secara singkat Disertai efek panas dan tekanan yang sangat tinggi

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

18

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Sebagai Dual Munition agent, di satu sisi bahan peledak bermanfaat untuk mendukung kelancaran pelaksanaan pembangunan nasional, namun akan sangat berbahaya apabila disalahgunakan terutama untuk kepentingan kegiatan terrorism. Sesuai Undang-undang Nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan, maka pengawasan dan pengendalian terhadap pengelolaan bahan peledak dilaksanakan secara terkoordinasi terpadu antar instansi dan dikoordinasikan oleh Departemen Pertahanan. Bahan peledak ada dua macam yaitu komersial dan militer. Untuk bahan peledak militer, pembinaan dan pengendaliannya diatur khusus oleh Dephan dan Mabes ABRI/(TNI/POLRI). Untuk pengawasan pengendalian bahan peledak komersial telah disusun suatu Pedoman Pembinaan dan Pengendalian Bahan Peledak Komersial oleh Polri dan Depperindag. Kegunaan untuk latihan dan operasi militer, destruksi/ demolition, perizinan bahan peledak militer diatur khusus oleh Dephan dan instansi terkait.

Bahan peledak komersial harus memiliki beberapa karakteristik / spesifikasi antara lain : Peka terhadap suatu reaksi (panas, getaran, gesekan atau benturan) Mempunyai kecepatan detonasi tertentu (high dan low explosive) Memiliki daya tahan air (water resistance) terbatas Dapat disimpan dengan stabil Menghasilkan gas-gas hasil eledak (gas dalam bentuk molekul lebih stabil) Memerlukan stemming/penyumbatan dalam penggunaannya

Macam bahan peledak komersial, adalah semua jenis : Dinamit, yang dikenal dengan nama Nitro Glycerine Based Explosives, Blasting Agents (ANFO) Water Based Explosives seperti Slurry, Watergel, Emulsion Explosives. Bahan peledak pembantu (Blasting Accessories) seperti Primer (Booster), Detonator, Sumbu Api, Sumbu Peledak, MS Connector (Detonating Relay), Igniter, Igniter Cord, Connector dan sejenisnya. Shaped Charges seperti RDX, HMX, dan sejenisnya.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

19

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan

Untuk bahan peledak komersial ketentuan impornya adalah : Diimpor oleh badan usaha (importir) yang telah ditunjuk oleh Departemen Pertahanan. Badan usaha di bidang bahan peledak yang telah ditunjuk oleh Departemen Pertahanan, antara lain : PT Dahana PT Multi Nitrotama Kimia (MNK) PT Tridaya Esta PT Pindad PT Amindo Prima PT Pupuk Kaltim PT Inti Cellulose Utama Indonesia PT Trifita Perkasa

Importir memiliki izin impor dari Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Deperindag. Importir memiliki rekomendasi dari Departemen Pertahanan, Polri, Bais TNI.

Sedangkan untuk masalah ketentuan impornya konteks yang dibicarakan adalah mengenai bahan peledak militer dan bahan peledak komersial. Untuk bahan peledak militer berdasarkan Pasal 25 Ayat (1.) Butir (h) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan, maka terhadapnya diberikan pembebasan bea masuk. Pembebasan bea masuk tersebut diberikan dengan cara pihak yang bersangkutan dalam hal ini Dephankam, Mabes TNI, atau Polri dapat langsumg mengajukan PIB (BC 2.0) dan dokumen pelengkap pabean lainnya kepada KPBC tempat pemasukkan barang.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

20

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


D. SELPETER
Selpeter merupakan komponen bubuk hitam teroksidasi (disuplai

oksigen). Sebelum fiksasi industri nitrogen skala besar (proses Haber), sumber utama Kalium Nitrat ialah deposit yang mengkristalisasikan dari dinding gua atau mengalirkan bahan organik yang membusuk. Tumpukan kotoran juga sumber umum yang utama, amonia dari dekomposisi urea dan zat nitrogen lainnya akan melalui oksidasi bakteri untuk memproduksi nitrat. Secara historis, nitre-beds tersedia dengan mencampurkan rabuk dengan adukan semen ataupun abu kayu, bahan tanah dan organik yang umum seperti jerami untuk memberikan porositas pada tumpukan kompos yang secara tipikal setinggi 1,5 m dengan seluas 2 m dengan sepanjang 5 m. Timbunannya biasanya di bawah penutup dari hujan, mencegah basah dengan urin, kerap berubah untuk mempercepat pembusukan dan dilepaskan dengan air setelah kurang lebih setahun. Cairan yang memuat bermacam nitrat kemudian diubah dengan abu kayu kepada kalium nitrat, dikristalisasikan dan dibersihkan untuk penggunaan dalam bubuk mesiu. Di Inggris, hak pengolahan bahan peledak telah ada di tangan keluarga John Evelyn, diaris ternama, sebagai monopoli puncak sejak sebelum tahun 1588. Salah satu penerapan yang paling berguna dari kalium nitrat ialah dalam produksi asam sendawa, dengan menambahkan asam sulfat yang terkonsentrasi pada larutan encer kalium nitrat, menghasilkan asam sendawa dan kalium sulfat yang terpisah melalui distilasi fraksional. Kalium Nitrat juga digunakan sebagai pupuk, sebagai model bahan pembakar rocket, dan dalam beberapa petasan seperti bom asap, dicampuran dengan gula memproduksi jelaga asap 600 kali dari volumnya sendiri. Yang akan dibahas lebih lanjut adalah selpeter, menimbang bahwa selpeter merupakan barang yang berbahaya dan rawan, sehingga untuk mendukung kebutuhan dan penggunaannya dalam penyelenggaraan

pembangunan nasional dan kegiatan pertahanan keamanan negara, diperlukan adanya pengawasan dan pengendalian secara khusus. Dalam hal

pemasukannya (importasi) pun dibutuhkan pengawasan yang khusus pula yang dilakukan oleh aparat Bea dan Cukai, terutama oleh bagian penegakan hukum.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

21

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Pengertian
Selpeter atau asam sendawa atau kalium nitrate (KNO3) adalah berupa bahan atau zat berupa butir-butir putih transparan yang memiliki rasa asin, mudah larut dalam air, dapat larut sedikit dalam alkohol serta berkadar racun rendah, yang digunakan untuk membuat mesiu, petasan, korek api, serta campuran bahan peledak Selpeter hanya di impor oleh importir yang ditunjuk, yaitu PT Dahana, PT Multi Nitrotama Kimia, dan PT Tri Daya Esa Saltpeter atau asam sendawa mempunyai sifat sifat antara lain : a. Sifat sifat umum : Saltpeter atau asam sendawa juga mempunyai nama lain Kalium nitrat Mempunyai rupa padatan putih atau abu abu kotor Mudah larut dalam air Memiliki rasa asin Dapat larut sedikit dalam alkohol Memilki kadar racun rendah. Oleh karena sifat ini, penggunaan saltpeter atau asam sendawa harus hati hati dan sesuai kadarnya agar tidak membahayakan b. Sifat sifat fisik Bobot senyawa 101,1 sma Titik lebur 607 K (334 C) Titik didih terdekomposisi pada 673 K (400 C) Densitas 2,1 103 kg/m3 Struktur kristal Aragonit Kelarutan 38 g dalam 100 g air

c. Termokimia ?fH0gas ? kJ/mol ?fH0cair -483 kJ/mol ?fH0padat -495 kJ/mol S0gas, 1 bar ? J/molK S0cair, 1 bar ? J/molK S0padat ? J/molK

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

22

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Sendawa dibuat dengan mereaksikan kalium khlorida dengan asam nitrat atau natrium nitrat. Cairan yang memuat bermacam nitrat kemudian diubah dengan abu kayu menjadi kalium nitrat, dikristalisasikan dan dibersihkan untuk penggunaan dalam bubuk mesiu. Kalium nitrat sangat luas kegunaannya baik di bidang industri, pertanian, maupun dalam praktikum di laboratorium. Kalium nitrat antara lain digunakan untuk: Bubuk mesiu Bahan Peledak Pupuk Bahan pengawet makanan Petasan dan kembang api Pada dasarnya ketentuan impor dan ekspor salpeter sama dengan ketentuan impor dan ekspor bahan peledak yaitu: Diimpor oleh importir yang ditunjuk oleh Departemen Pertahanan Memiliki izin dari Departemen Perdagangan Memiliki rekomendasi dari Departemen Pertahanan,Kepolisian Republik Indonesia, dan Badan Inteligen Strategis (BAIS) TNI. Dalam ketentuan impor dan ekspor bahan peledak, persyaratan administrasi bagi importir atau eksportir bahan peledak adalah antara lain : Importir Perusahaan telah mendapat penunjukan dari Departemen Pertahanan. Memenuhi prosedur untuk medapatkan izin impor bahan peledak, mengajukan permohonan impor salpeter beserta komponennya kepada Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan. Ekportir Perusahaan telah mendapat penunjukan dari Departemen Pertahanan, memenuhi prosedur untuk menapatkan izin ekspor bahan peledak, mengajukan rencana ekspor salpeter beserta komponennya kepada Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Deperdag

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

23

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


E. PETASAN / HAPPY CRACKERS
Pengguna petasan memang bisa dijerat dengan Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Kepemilikan Senjata Api dan Bahan Peledak Ilegal. Pada langkah awal, mesti dicermati adalah soal mengganggu ketertiban umum. Pasalnya, bahan pembuat petasan yang mengandung bubuk mesiu memang bisa dipakai untuk membuat bom dalam kapasitas besar. Bertolak dari hal itu, yang harus dicermati pertama kali adalah kondisi bahwa penggunaan petasan, memang kian hari kian mengganggu. Beberapa korban berjatuhan akibat petasan, penggunaan petasan memang mengganggu, bahkan dapat mengganggu ketertiban umum. Polri dalam upaya mengurangi dampak pengunaan petasan, menerapkan ketentuan melalui UU Darurat nomor 12/1951 sekaligus penegakan sanksi Pasal 187 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman hukuman penjara 12 tahun, bidikan UU Darurat memang perlu terhadap pengguna petasan, UU Darurat tetap bisa dimanfaatkan selama UU itu belum dihapus dan belum ada penggantinya. Oleh karena itu, polisi tetap bisa menggunakan UU Darurat untuk menuntaskan masalah petasan yang penggunaannya memang mengganggu ketertiban umum.Penggunaan selpeter untuk pertama kali erat kaitannya dengan penemuan kembang api. Menurut sejarahnya, kembang api bermula dari ditemukannya petasan pada abad ke-9 di Cina. Waktu itu seorang juru masak secara tidak sengaja mencampur tiga bahan bubuk hitam (black powder) yang ada di dapurnya, yaitu garam peter atau KNO3 (kalium nitrat), belerang (sulfur) dan arang dari kayu (charcoal). Ternyata campuran ketiga bahan tersebut merupakan bubuk mesiu yang mudah terbakar. Jika bubuk mesiu itu dimasukkan ke dalam sepotong bambu yang ada sumbunya, kemudian sumbu dibakar, maka mesiu itu akan meledak dan mengeluarkan suara ledakan keras.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

24

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Pengertian
Petasan dan happy crackers dilarang di Indonesia, alasan pelarangan potensi menyebabkan kebakaran mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat dalam bentuk polusi suara. Sejak tahun 1977 karena

membahayakan keselamatan jiwa masyarakat, untuk itu produksi dan impornya dilarang sepenuhnya. Happy Crackers adalah petasan yang memiliki kembang api, yang dapat meledak seperti petasan tapi sekaligus mengeluarkan kembang api yang berwana warni, dan biasanya dipergunakan di malam hari. Kalium nitrat, stronsium nitrat, kuprum oksida, karbon perklorat, barium klorat, potasium perklorat, sulfur, serbuk aluminium dan arsenik adalah bahan kimia yang sering digunakan dalam petasan. Tujuan penggunaan berbagai bahan ini adalah untuk memberi fungsi yang berlainan seperti menghasilkan oksigen dan karbon, kesan bunyi dan warna. Warna-warni yang muncul pada petasan/kembang api berasal dari pembakaran unsur-unsur kimia tertentu. Warna merah berasal dari pembakaran strontium dan litium, warna kuning berasal dari pembakaran natrium, warna hijau berasal dari pembakaran barium dan warna biru dari pembakaran tembaga. Campuran bahan kimia itu dibentuk ke dalam kubus kecilkecil yang disebut star. Star inilah yang menentukan warna dan bentuk bila kembang api itu meledak nantinya. Kumpulan star dimasukkan ke dalam silinder yang terbuat dari kertas atau plastik. Lalu dimasukkan juga bubuk mesiu serta sumbu untuk menyalakannya.Konon, menurut kepercayaan Cina, petasan dipercaya bisa mengusir roh jahat. Petasan jenis seperti mesiu dipakai pada perayaan pernikahan, kemenangan perang, peristiwa gerhana bulan dan upacara-upacara keagamaan. Kemudian petasan ini menjadi dasar dari pembuatan kembang api, yang lebih menitikberatkan pada warna-warni dan bentuk pijar-pijar api di udara.Pembuatan kembang api kemudian berkembang pesat di Eropa. Marco Polo membawa serbuk mesiu itu dari Cina ke Eropa pada abad ke-13. Di Eropa serbuk petasan dipergunakan untuk keperluan militer, misalnya untuk peluncuran roket, meriam, dan senjata. Kembang api akan melesat ke udara apabila sumbunya dibakar, sedangkan petasan hanya mengeluarkan suara ledakan tanpa diiringi pencaran api berwarna-warni. Pada abad ke-18 Jerman muncul sebagai pembuat kembang api yang unggul bersama

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

25

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Italia. Kembang api menjadi sangat terkenal di Inggris Raya selama pemerintahan Ratu Elizabeth I. Berkat kemajuan teknologi, kini kembang api bisa bermacam-macam bentuknya. Ada yang seperti komet, pohon palem, bunga krisan, planet Saturnus, sarang laba-laba, dan getah pohon.

F.

BARANG CETAK
Ketentuan peraturan yang mengatur tentang barang cetak adalah

Undang-undang Pers, untuk itu dipelajari ketentuan tenatang pers. Kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis, sehingga kemerdekaan mengeluarkan pikiran dan pendapat sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 harus dijamin; Kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang demokratis, kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat sesuai dengan hati nurani dan hak memperoleh informasi, merupakan hak asasi manusia yang sangat hakiki, yang diperlukan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa; Pers nasional sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi, dan

pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang profesional, sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum, serta bebas dari campur tangan dan paksaan dari manapun; Pers nasional berperan ikut menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial; Undang-undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Undangundang Nomor 4 Tahun 1967 dan diubah dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 1982 sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman; Pers yang meliputi media cetak, media elektronik dan media lainnya merupakan salah satu sarana untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan tersebut. Pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah. Pers wajib melayani Hak Jawab. Pers wajib melayani Hak Koreksi.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

26

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Wartawan memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik. Dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum. Pers nasional mempunyai fungsi dan peranan yang penting dan strategis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

1) Pengertian
Perusahaan pers adalah badan hukum Indonesia yang

menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi. Penyensoran adalah penghapusan secara paksa sebagian atau seluruh materi informasi yang akan diterbitkan atau disiarkan, atau tindakan teguran atau peringatan yang bersifat mengancam dari pihak manapun, dan atau kewajiban melapor, serta memperoleh izin dari pihak berwajib, dalam pelaksanaan kegiatan jurnalistik.

Perusahaan pers dilarang memuat iklan: yang berakibat merendahkan martabat suatu agama dan atau

mengganggu kerukunan hidup antar umat beragama, serta bertentangan dengan rasa kesusilaan masyarakat; minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.

2)

Klasifikasi Barang Cetak


Yang termasuk dalam klasifikasi barang cetak, adalah barang cetak yang

bentuknya berupa Buku, Brosur, Pamflet, dan Poster. Barang cetak yang dilarang, adalah barang cetak yang dapat mempengaruhi ideologi negara, dapat melanggar kesusilaan, dan dapat melanggar budaya pancasila. Berdasarkan Pasal 20 UU. 40/PPNS/1999 Tentang Pers, bahwa surat kabar, majalah, penerbitan berkala, dan buletin tidak termasuk sebagai barang cetak

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

27

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


3) Ketentuan Pidana
Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Perusahaan pers yang melanggar ketentuan, dipidana dengan pidana denda paling sedikit

Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah), dan paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

G. FILM DAN KASET VIDEO


Seperti yang telah kita ketahui bahwa dewasa ini banyak sekali film-film luar negeri yang diputar di bioskop-bioskop kita. Hampir tiap minggu film-film yang diputar tersebut berganti dengan film yang lebih baru. Banyak sekali macam dari film-film tersebut, mulai dari cerita klasik percintaan sampai cerita tentang peperangan. Hal ini menunjukkan bahwa banyak sekali film luar negeri yang masuk Indonesia tiap minggunya. Jika dilihat lebih dalam, film-film tersebut mempunyai muatan nilai-nilai yang banyak dan beragam. Sedikit banyak karena muatan nilai yang terkandung di dalamnya bisa mempengaruhi pola pikir masyarakat kita. Menghindari kemungkinan akan pengaruh budaya ataupun nilai-nilai negative kepada masyarakat itulah yang menjadikan alasan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam perannya sebagai community protector memasukkan impor film sebagai barang terkena larangan dan pembatasan. Hal ini dimaksudkan agar impor film mendapatkan pengawasan yang lebih, karena dampaknya besar sekali terhadap masyarakat. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai hanya bisa melakukan pembatasan terhadap pengimporan saja. Masalah isi yang terkandung di dalamnya DJBC tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan pengawasan. Untuk itu ada satu badan independent yang berwenang melakukan penyensoran film yaitu Lembaga Sensor Film (LSF). Lembaga ini bertugas melakukan penyensoran, yaitu pemotongan bagian film yang dirasa tidak layak untuk dikonsumsi masyarakat. Setiap film yang berasal dari luar negeri wajib

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

28

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


melewati pihak Bea dan Cukai, yang berwenang dalam melakukan pemungutan penerimaan negara berupa Bea Masuk dan Pungutan Dalam Rangka Impor (PDRI) yang meliputi PPN, PPNBM, PPh dan lainnya, yaitu importir membayar bea masuk serta pungutan-pungutan lainnya. Sedangkan Lembaga Sensor Film adalah badan yang menentukan apakah sebuah film layak ditonton ataukah tidak. Lewat dua lembaga (DJBC dan LSF) inilah diharapkan pengaruh buruk dari film-film luar negeri dapat dihindari. Namun pada akhirnya masyarakat sendirilah yang menilai apakah film yang dia konsumsi mempunyai pengaruh buruk ataukah tidak. Maka dari itu diharapkan kerjasama masyarakat dalam upaya filterisasi terhadap pengaruh buruk film luar negeri tersebut.

1) Pengertian Film
Film adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar (audio visual) yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita selluloid, pita, video, piringan video, dan atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik atau proses lainnya dengan atau tanpa suara yang dapat dipertunjukkan dan atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik dan atau lainnya. Sensor film adalah penelitian dan penilaian terhadap film dan reklame film, untuk menentukan dapat tidaknya sebuah film dipertunjukkan dan atau ditayangkan kepada umum, baik secara utuh maupun setelah peniadaan bagian gambar atau suara tertentu. Lembaga sensor film (LSF) adalah sebuah lembaga yang berdiri dibawah Departemen Kehakiman dan bertanggung jawab keatasnya yang bertugas untuk melakukan penyensoran terhadap film, memberikan keputusan apakah sebuah film dapat dipertunjukkan kepada umum (layak dikonsumsi) atau tidak. Sebab sebuah film tidak layak untuk ditayangkan atau layak ditayangkan setelah dilakukan penyensoran terlebih dahulu, apakah mengandung ideologi yang sangat bertentangan dengan pancasila, mengandung unsur kekerasan yang berlebihan, dan mengandung unsur seks yang berlebihan atau bisa dikatakan terlalu vulgar, dan sebagainya Ketentuan perundang-undangan terbaru

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

29

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


yang mengatur mengenai film adalah Undang-undang Nomor 8 tahun 1992 tentang film yang menggantikan ordonansi Staatsblaad 1940 No. 507. undangundang tersebut mencakup usaha perfilman yang meliputi, Pembuatan film, Jasa teknik film, Ekspor film, Impor film, Pengedaran film, Pertunjukan film dan penayangan film. Undang undang tersebut menetapkan bahwa setiap usaha perfilman tersebut di atas harus dimiliki oleh warga negara Indonesia, berbentuk badan hukum, serta memiliki ijin usaha dari Departemen Penerangan. Dilihat dalam Undang-undang Nomor 8 tahun 1992 diatas impor dan ekspor film diatur juga. Tidak sembarang perusahaan bisa mengimpor ataupun mengekspor film. Untuk ekspor film, perusahaan yang diijinkan untuk mengekspor yaitu, Perusahaan ekspor film, Perusahaan pembuatan film, Perusahaan pengedaran film, Sedangkan untuk importasi film, perusahaan yang diijinkan untuk melakukan pengimporan film yaitu hanya dapat dilakukan oleh perusahaan impor film. Ekspor maupun impor film hanya dapat dilakukan melalui kantor pabean tempat Lembaga Sensor Film berada. Dalam hal ini berarti yang impor atau ekspor film melalui, Bandara Sukarno Hatta, Pelabuhan Tanjung Priok, Kantor Pos Besar Pasar Baru. Kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh importer ketika melakukan impor film adalah mempertaruhkan uang jaminan, film diserahkan ke Lembaga Sensor Film, jika film tsb lolos sensor, maka wajib membayar bea masuk dan pungutan lainnya.

2)

Video
Video digunakan sebagai media penyimpanan sebuah film. Sebuah film

direkam menggunakan kamera pada waktu pengambilan gambar, setelah melalui bermacam langkah-langkah pembuatan film seperti pengambilan gambar dan penyuntingan (melakukan proses editing) kemudian sebuah film direkam atau disimpan dalam sebuah media yaitu berupa kaset video. Video sebagai media tempat penyimpanan sebuah film diatur juga dalam Undang-undang Nomor 8 tahun 1992. Seperti halnya dengan importasi film, video juga diperlakukan sama. Untuk perusahaan atau importIr yang melakukan pengimporan video juga ditunjuk oleh pemerintah. Jadi disini tidak sembarang perusahaan atau importir yang boleh melakukan pengimporan video. Berdasarkan Surat Keputusan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

30

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


menteri Penerangan No.220/Kep/MenPen/95 ada sebelas perusahaan yang diberi ijin untuk melakukan pengimporan terhadap rekaman video. Perusahaan-perusahaan tersebut diataslah yang berhak atau diberi hak untuk melakukan pengimporan video. Perusahaan atau importir yang ditunjuk dan diijinkan untuk mengimpor video, pengimporan harus memenuhi persyaratan yaitu : Rekaman video yang diimpor adalah rekaman induk atau master. Isi rekaman : Tidak bertentangan dengan ideology negara Indonesia dan

kepribadian bangsa Indonesia. Tidak dijadikan alat propaganda ideologi negara asing. Tidak mengganggu ketertiban umum. Tidak merugikan kepentingan nasional. Harus diberi teks bahasa Indonesia.

Khusus untuk film dan rekaman video milik penumpang/anak buah kapal dan kiriman-kiriman rekaman video melalui pos, penyelesaian prosedur impornya mengacu pada Surat Jaksa Agung No. B.253/D/4/1979 tanggal 3 April 1979. Seperti halnya impor sebuah film, video juga mempunyai ketentuan pidana jika perusahaan tersebut tidak melakukan sebuah pelanggaran. Ketentuan pidananya juga sama dengan film, yaitu pasal 40 dan 41 Undang-undang No. 8 tahun 1994. sedangkan penegakan hukumnya

dilaksanakan oleh Kepolisian Repulik Indonesia dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Departemen Penerangan. Dengan demikian, Direktur Jenderal Bea dan Cukai hanya melakukan penegahan terhadap impor dan ekspor illegal rekaman video, sedangkan proses selanjutnya diserahkan kepada pihak Kejaksaan.

3) Kaset Video
Seperti halnya video, kaset video juga diatur dalam Undang-undang Nomor 8 tahun 1992. kaset video merupakan suatu media penyimpanan sebuah gambar (video). Disini kaset video kadang disama artikan dengan sebuah video. Akan tetapi ada perbedaan mendasar dari video dan kaset video yaitu video

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

31

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


adalah sebuah perpaduan antara gambar dan suara sedangkan kaset video adalah merupakan media penyimpanannya. Dalam hal ini, istilah kaset sendiri mengacu pada fisik barang tersebut yang berupa pita seluloid yang dapat merekam gambar serta suara.Sebenarnya ada berbagai macam media penyimpanan antara lain, Kaset, Compact Dist (CD),Video Compact Disc (VCD, Digital Video Disc (DVD). Kaset seperti yang sudah disebutkan diatas merupakan media

penyimpanan yang berbentuk pita seluloid yang digulung dalam suatu wadah. Keunggulannya tahan lama tapi mempunyai kelemahan yaitu harganya mahal. Compact Disc merupakan media penyimpanan yang hanya berupa suara saja. Keunggulannya harganya murah dan mudah untuk diperbanyak namun tidak tahan lama. Sekali saja tergores maka kemungkinan besar sudah tidak dapat dibaca lagi. Video Compact Disc merupakan media penyimpanan gambar dan suara, seperti halnya Compact Disc, Video compact Disc murah harganya dan mudah untuk diperbanyak namun mudah rusak.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

32

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


1.2. Latihan 1
1. Bagaimana Mr Ronaldiho dari Mexico, melakukan kegiatan importasi senjata api di Indonesia? Jelaskan! 2. Kedapatan sebuah kapal motor KM Golden One berbendera Singapore, masuk daerah pabean Indonesia di daerah Kepulauan Riau dan kapal tersebut disinyalir membawa barang-barang larangan dan pembatasan berupa amunisi, dan mesiu. Saudara sebagai pejabat bea dan cukai

yang ditunjuk sebagai Komandan Patroli BC. 20004 yang kebetulan sedang ditugaskan di daerah tersebut, apa yang anda akan lakukan ? 3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan bahan peledak, dan digunakan untuk apa sajakah bahan peledak itu? 4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan selpeter, dan bagaimana ketentuan impor selpeter tersebut dalam hal importasinya dilakukan di Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok-Jakarta? 5. Bagaimana langka pemerintah melalui Polri dalam upaya mengurangi

dampak pengunaan Happy Crackers, dan jelaskan apa yang dimaksud dengan Happy Crackers? 6. Apa saja yang termasuk klasifikasi barang cetak, barang cetak yang dilarang itu yang bagaimana, dan jelaskan apa yang dimaksud dengan penyensoran! 7. Jelaskan apa yang dimaksud dengan film, persyaratan impor video.! video, dan bagaimana

1.3. Rangkuman
1. Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa fungsi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sangatlah penting yaitu sebagai community protector, karena merupakan ujung tombak pertahanan dan keamanan Negara Republik Indonesia ini dari masuknya barang-barang yang dapat mengganggu keamanan, ketentraman, dan keselamatan masyarakat. Selain itu perlu diperhatikan bahwa dalam segala tindakan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

33

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


yang dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai haruslah berdasarkan Undang-undang. 2. Agar fungsi ini dapat berjalan dengan maksimal, maka diperlukan kebijakan yang saling mendukung antara TNI, Polri, maupun instansi lain yang erat kaitannya dengan kegiatan ekspor-impor barang. Demikian uraian mengenai peraturan larangan dan pembatasan yang melindungi kepentingan pertahanan, keamanan, dan ketertiban masyarakat. 3. Pada dasarnya impor senjata api tidak dibenarkan dilakukan instansi lain selain Tentara Nasional Indonesia dan Polri. Namun demikian dapat diimpor, diekspor dan dimiliki, dikuasai dan atau penggunaan senjata api dapat dilakukan untuk yang Non standar TNI/Polri yang berkaliber

maksimal senjata genggam atau laras pendek kaliber 32 MM, yang berkaliber maksimal senjata bahu atau laras panjang kaliber 22 MM dan digunakan instansi pemerintah lainnya dalam rangka penegakan hukum 4. Untuk itu peran serta Bea dan Cukai adalah mengamankan dan melindungi wilayah teritorial negara, wilayah Republik Indonesia dari

gangguan yang timbul pada lalu lintas barang, alat angkut, orang yang mengganggu kepentingan negara yang berdaulat dan mengganggu kelancaran arus dokumen dan barang, yang salah satunya dengan melaksankan Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan. 5. Untuk melaksankan Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan tersebut diperlukan pengetahuan dan keterampilan pegawai Bea dan Cukai, juga diharapkan mengetahui dan terampil dalam mengurus atau memproses barang yang termasuk terkena peraturan barang larangan dan pembatasan untuk kepentingan perlindungan bidang pertahanan keamanan dan ketertiban masyarakat. 6. Amunisi dan mesiu adalah barang yang berbahaya bagi pertahanan dan keamanan Republik Indonesia dan juga berbahaya bagi keselamatan jiwa masyarakat. Sehingga proses dalam pemasukan dan pengeluarannya ke daerah pabean perlu benar-benar diawasi karena apabila dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab akan membahayakan keadaan Negara Republik Indonesia. 7. Surat Pernyataan Barang Impor Dephankam/ABRI yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Material, Fasilitas dan Jasa atau oleh Direktur

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

34

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Pengadaan dalam hal barang dan bahan diimpor oleh Departemen Pertahanan dan Keamanan; Asisten Logistik Kepala Staf Umum ABRI atau Wakil Asisten Logistik dalam hal barang dan barang diimpor oleh Markas besar ABRI/(TNI/POLRI). Untuk mendapatkan pembebasan bea masuk atas impor barang-barang. Produsen Industri Strategis yang ditetapkan oleh pemerintah mengajukan permohonan kepada Menteri Keuangan melalui Direktur Jenderal Bea danCukai, dengan melampirkan rincian jumlah dan jenis barang yang dimintakan pembebasan bea masuk beserta nilai pabeannya. 8. Bahan peledak merupakan salah satu barang dibatasi yang sangat berbahaya dan perlu diawasi sejak dari pengadaan, pengangkutan, penyimpanan, penggunaan sampai dengan pemusnahannya sehingga terhadap importasinya diperlukan ketentuan-ketentuan baik dari intern DJBC sendiri maupun ketentuan-ketentuan dari instansi/departemen terkait yang nantinya dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan pengawasan untuk memperkecil kemungkinan penyalahgunaan bahan peledak tersebut oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. 9. Bahan kimia yang biasa dipakai untuk bahan peledak sangat banyak jenisnya. Pengelompokan bahan-bahan peledak ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya berdasarkan komposisi senyawa kimia, kegunaannya, jenis bahan baku dan/atau bahan setengah jadi menurut sifat eksplosifnya dan lingkungan penggunaannya. 10. Selpeter merupakan barang yang berbahaya dan rawan, sehingga untuk mendukung kebutuhan dan penggunaannya dalam penyelenggaraan pembangunan nasional dan kegiatan pertahanan keamanan negara, diperlukan adanya pengawasan dan pengendalian secara khusus. Dalam hal pemasukannya (importasi) pun dibutuhkan pengawasan yang khusus pula yang dilakukan oleh aparat Bea dan Cukai, terutama oleh bagian penegakan hukum. Importir yang diberi izin atau yang ditunjuk melakukan importasi selpeter atau asam sendawa yaitu PT Dahana, Nitrotama Kimia, dan PT Tri Daya Esa 11. Happy Crackers adalah petasan yang memiliki kembang api, yang dapat meledak seperti petasan tapi sekaligus mengeluarkan kembang api yang berwana warni, dan biasanya dipergunakan di malam hari. PT Multi

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

35

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Kalium nitrat, stronsium nitrat, kuprum oksida, karbon perklorat, barium klorat, potasium perklorat, sulfur, serbuk aluminium dan arsenik adalah bahan kimia yang sering digunakan dalam petasan. Tujuan penggunaan berbagai bahan ini adalah untuk memberi fungsi yang berlainan seperti menghasilkan oksigen dan karbon, kesan bunyi dan warna. 12. Warna-warni yang muncul pada petasan/kembang api berasal dari pembakaran unsur-unsur kimia tertentu. Warna merah berasal dari pembakaran strontium dan litium, warna kuning berasal dari pembakaran natrium, warna hijau berasal dari pembakaran barium dan warna biru dari pembakaran tembaga. Campuran bahan kimia itu dibentuk ke dalam kubus kecil-kecil yang disebut star. 13. Star inilah yang menentukan warna dan bentuk bila kembang api itu meledak nantinya. Kumpulan star dimasukkan ke dalam silinder yang terbuat dari kertas atau plastik. Lalu dimasukkan juga bubuk mesiu serta sumbu untuk menyalakannya. Happy Crackers ini dilarang karena dapat menimbulkan polusi suara dan bahaya kebakaran, dan dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan UU Darurat nomor 12/1951 sekaligus penegakan sanksi Pasal 187 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman hukuman penjara 12 tahun. 14. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967 dan diubah dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 1982, Pers yang meliputi media cetak, media elektronik dan media lainnya merupakan salah satu sarana untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan tersebut. 15. Perusahaan pers adalah badan hukum Indonesia yang

menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi. Barang cetak adalah barang cetak yang bentuknya berupa Buku, Brosur, Pamflet, dan Poster. 16. Barang cetak yang dilarang, adalah barang cetak yang dapat

mempengaruhi ideologi negara, dapat melanggar kesusilaan, dan dapat melanggar budaya pancasila. Berdasarkan Pasal 20 UU. 40/PPNS/1999

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

36

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Tentang Pers, bahwa surat kabar, majalah, penerbitan berkala, dan

buletin tidak termasuk sebagai barang cetak 17. Khusus untuk film dan rekaman video milik penumpang/anak buah kapal dan kiriman rekaman video melalui pos, penyelesaian prosedur impornya mengacu pada Surat Jaksa Agung No. B.253/D/4/1979 tanggal 3 April 1979. Ketentuan pidananya juga sama dengan film, yaitu pasal 40 dan 41 Undang-undang No. 8 tahun 1994. sedangkan penegakan hukumnya dilaksanakan oleh Kepolisian Repulik Indonesia dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Departemen Penerangan. 18. Dengan demikian, Direktur Jenderal Bea dan Cukai hanya melakukan penegahan terhadap impor dan ekspor illegal rekaman video, sedangkan proses selanjutnya diserahkan kepada pihak Kejaksaan. 19. Ekspor maupun impor film hanya dapat dilakukan melalui kantor pabean tempat Lembaga Sensor Film berada. Dalam hal ini berarti yang impor atau ekspor film melalui, Bandara Sukarno Hatta, Pelabuhan Tanjung Priok, Kantor Pos Besar Pasar Baru. 20. Kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan oleh importir ketika

melakukan impor film adalah mempertaruhkan uang jaminan, film diserahkan ke Lembaga Sensor Film, jika film tersebut lolos sensor, maka wajib membayar bea masuk dan pungutan lainnya

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

37

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


1.4. Test Formatif 1
Pilihlah jawaban yang saudara anggap paling benar, dengan cara memberi tanda bulatan atau lingkaran pada salah satu huruf yang tersedia didepan kalimat soal pilihan ganda.

1. Yang dimaksud dengan senjata non standar TNI-Polri, berdasarkan ketentuan senjata api, adalah kaliber : a. Senjata api genggam maks. 32 mm; senjata api bahu maks. 25 mm b. Senjata api genggam maks. 35 mm; senjata api bahu maks. 22 mm c. Senjata api genggam maks. 32 mm; senjata api bahu maks. 22 mm d. Senjata api genggam maks. 22 mm; senjata api bahu maks. 32 mm

2. Selpeter atau asam sendawa atau kalium nitrate (KNO3), adalah bahan atau zat berupa butir-butir putih transparan yang memilik rasa asin, mudah larut dalam air, dapat larut sedikit dalam alkohol serta berkadar racun rendah membuat: a. Mesiu, dan pembersi karat pada besi b. Bahan air accu, dan petasan c. Korek api, dan campuran bahan gas helium d. Petasan, dan campuran bahan peledak

3. Barang cetak yang dilarang impornya karena terdapat unsur-unsur dapat mempengaruhi ideologi negara, dapat melanggar kesusilaan, dapat melanggar, budaya pancasila, adalah klasifikasi barang cetak yang berupa: a. Buku, brosur, pamflet dan majalah b. Buku, brosur, pamflet dan poster c. Bku, brosur, koran dan poster d. Buku, buletin, pamflet dan poster

4. Berdasarkan UU nomor 8/1992 tentang film, barang impor berupa film wajib sensor film oleh Lembaga Sensor Film yang ada di Jakarta, dan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

38

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


diatur juga film yang dibebaskan dari kewajiban sensor (bebas sensor), adalah : a. Film berita yang ditayangkan di bioskop b. Film sejarah yang ditayangkan di bioskop c. Film berita yang ditayangkan oleh media elektronik d. Film sejarah yang ditayangkan oleh media elektronik

5. Berdasarkan ketentuan tentang senjata api, penggunaan senjata api non standar TNI-Polri yang di-izinkan digunakan di kapal laut berbendera asing maupun bendera Indonesia, jumlah yang dapat diberikan untuk amunisinya 3 magazen/ silinder untuk setiap pucuk, dan untuk senjata apinya adalah: a. 1/3 jumlah awak kapal, maksimal 5 pucuk, b. 1/3 jumlah awak kapal, maksimal 10 pucuk, c. 2/3 jumlah awak kapal, maksimal 15 pucuk, d. 2/3 jumlah awak kapal, maksimal 20 pucuk,

6. Senjata api non standar TNI-Polri dapat diimpor oleh importir yang ditunjuk oleh departemen pertahanan, memiliki izin impor dari Ditjen Perdagangan Luar Negeri Deperindag, dan harus memiliki rekomendasi dari : a. Departemen Pertahanan, Polri, dan Bais TNI b. Departemen Pertahanan, Deperindag , dan Bais TNI c. Departemen Pertahanan, Polri, dan Deperindag d. Deperindag, Polri, dan Bais TNI

7. Amunisi berarti alat apa saja yang dibuat atau dimaksudkan untuk digunakan dalam Senjata Api sebagai proyektil atau yang berisi bahan yang mudah terbakar yang dibuat atau dimaksudkan untuk menghasilkan perkembangan gas di dalam Senjata Api untuk: a. Meluncurkan peluru b. Meluncurkan proyektil c. Meledakan peluru d. Meledakan proyektil

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

39

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


8. Ekspor maupun impor film hanya dapat dilakukan melalui kantor pabean tempat Lembaga Sensor Film berada. Kegiatan impor atau ekspor film melalui Bandara Sukarno Hatta, Pelabuhan Tanjung Priok, dan melalui : a. Bandara Polonia - Medan b. Bandara Juanda Surabaya c. Kantor Pos Besar - Pasar Baru Jakarta d. Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

9. Perusahaan pers dilarang memuat iklan yang berakibat merendahkan martabat suatu agama dan/atau bertentangan dengan rasa kesusilaan masyarakat; serta mengganggu: a. Kerukunan hidup antar umat beragama b. Kegiatan impor c. Kegiatan ekspor d. Kegiatan perekonomian

10. Petasan dan happy crackers dilarang di Indonesia, alasan pelarangan potensi menyebabkan kebakaran mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat dalam bentuk: a. Polusi udara. b. Pencemaran lingkungan hidup c. Pencemaran Kehidupan Manusia. d. Polusi suara.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

40

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


1.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cocokkan hasil jawaban dengan kunci jawaban yang disediakan pada modul ini. Hitung jawaban Anda yang kedapatan benar. Kemudian gunakan rumus untuk mengetahui tingkat pemahaman terhadap materi. Perhatikan dan cocokan hasil jawaban Anda dengan hasil perhitungan sesuai rumus dengan hasil pencapaian prestasi belajar sebagaimana data pada kolom dibawa ini.

TP =

Jumlah Jawaban Yang Benar X 100% Jumlah keseluruhan Soal

Apabila tingkat pemahaman Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai 91 % 81 % 71 % 61 % s.d s.d. s.d. s.d. 100 % 90,00 % 80,99 % 70,99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang

Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori Baik), maka disarankan mengulangi materi.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

41

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


2. Kegiatan Belajar (KB) 2

KETENTUAN BARANG LARANGAN DAN PEMBATASAN (KBLP) UNTUK KEPENTINGAN PERLINDUNGAN BIDANG KESEHATAN MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN HIDUP
Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa menjelaskan ketentuan barang larangan dan pembatasan untuk kepentingan perlindungan masyarakat bidang kesehatan masyarakat antara lain: narkotika, psikotropika, precursor, sediaan farmasi, obat tradisionil, alat kesehatan, makanan minuman berakohol, dan pencemaran lingkungan hidup.

2.1. Uraian dan Contoh

A.

NARKOTIKA
Secara geografis Indonesia terletak diantara dua benua, yaitu Asia dan

Australia dan Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia, merupakan negara kepulauan yang terbesar di dunia dengan 17.508 pulau. Indonesia juga memiliki garis pantai dan perbatasan yang sangat panjang dan terbuka serta terletak relatif tidak jauh dari daerah penghasil opiun terbesar di dunia yaitu "Segi Tiga Emas" (Laos, Thailand dan Myanmar) dan daerah "Bulan Sabit Emas" (Iran, Afganistan dan Pakistan) serta tidak terlalu susah dicapai dari tiga

negara,Amerika Latin yang juga penghasil opium (Peru, Bolivia dan Colombia). Hal ini merupakan potensi pasar yang besar untuk peredaran gelap narkotika dan psikotropika dan mendorong timbulnya pengedar- pengedar yang ingin cepat kaya dengan sedikit susah payah. Derasnya informasi dari negara-negara industri maju dan proses globalisasi membawa pergeseran nilai-mlai perubahan selera dan gaya hidup kearah yang lebih berorientasi kepada keangkuhan (egoismei, individualisme, konsumtifisme, dan hedonisme. Jenis narkotika yang paling dominan dalam penyalahgunaan dan perdagangan gelapnya di Indonesia adalah ganja disamping heroin,morphine atau putaw. Peran serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam strategi ini adalah dengan melakukan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

42

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


pengawasan atas jalur masuk/keluamya barang baik melalui laut,darat,udara. Pengetesan narkotika di lapangan menggunakan intrumen atau peralatan yang disebut narkotest-kit dengan ampul-ampul berisi cairan Reagent antara lain : reagent marquis, reagent cobalt Thiocyanate, reagent KN dan reagent Koppanyi. Perlu diketahui bahwa tes ini merupakan identifikasi awal dan untuk meyakinkan harus dikonfirmasikan dengan uji laboratorium. Jenis-jenis narakotika adalah Candu (Opium), Morphine, Codeine, Heroine, Cocain, Marihuana atau Ganj, dan Hashish.

1) Narkotika
Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

2) Penggolongan narkotika
a) Narkotika Golongan I Narkotika yang hanya dapat dipergunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan untuk terapi, serta mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk mengakibatkan ketergantungan. Contoh: Opium mentah/masak, tanaman koka, daun koka, kokain mentah, ganja. b) Narkotika golongan II Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai plihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: Dekstromoramida, metadonia interemdiate, dipipanona. c) Narkotika Golongan III Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi da/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantunagan. Contoh: Dihidrokodenia, etilmorphina.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

43

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Peraturan Perundang-undangan tentang Pelarangan Impor dan Ekspor Narkotika: Secara Internasional Secara Nasional: a. UU no.9 tahun 1976 jo UU no.22 tahun 1997 tentang narkotika. b. PP no.1 tahun 1990 tentang ketentuan penanaman papaver, koka, dan ganja c. Keputusan Menteri Kesehatan no.195/Menkes/SK/VIII/1977 tentang penetapan alat-alat dan bahan sebagai barang dibawah pengawasan d. Peraturan Menkes no.28/menkes/per/I/1978 tentang penyimpanan narkotika e. Peraturan Menkes no.229/Menkes/Per/VII/1978 tentang jarum suntik, semprit suntik, pipa pemadatan dan anhidrida asam asetat

3) Ketentuan Mengimpor Narkotika


Berdasarkan Undang-undang No.22 tahun 1997 disebutkan bahwa untuk tujuan pengobatan dan/atau tujuan ilmu pengetahuan, narkotika hanya dapat diimpor ke Indonesia oleh salah satu importir pedagang besar farmasi setelah memperoleh keputusan Menteri Kesehatan dan mendapat izin impor dari Menteri Perindustrian dan Perdagangan, dengan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut, Memiliki Angka Pengenal Impor, Memiliki surat persetujuan impor untuk setiiap kali impor dari Menteri Kesehatan, Memiliki persetujuan pemerintah negara eksportir. Sedangkan berdasarkan ketentuan yang terdapat dalam ketentuan Undang-undang no.22 tahun 1997 yang boleh mengekspor narkotika hanyalah satu perusahaan pedagang besar farmasi milik negara yang memenuhi syaratsyarat sebagai berikut, Memiliki Angka Pengenal Impor, Memiliki surat persetujuan ekspor untuk setiap kali ekspor dari Menteri Kesehatan, Memiliki persetujuan pemerintah negara pengimpor. Selain pemenuhan pesyaratan yang digariskan oleh Undang-undang no.22 tahun 1997 pelaksanaan impor dan ekspor tetap harus memenuhi ketentuan Undang-undang Kepabeanan.Narkotika yang diangkut harus

dilengkapi persetujuan ekspor dari pemerintah negara eksportir.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

44

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Narkotika yang diangkut harus dilengkapi persetujuan impor dari Menteri Kesehatan. Narkotika yang diangkut harus disimpan dalam kemasan khusus serta aman dan disegel oleh nakhoda, Penyegelan harus disaksikan oleh pengirim dilengkapi dengan Berita Acara Penyegelan, Nakhoda harus

memberitahukan kedatangannya kapada Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai setempat paling lambat 24 jam setelah tiba Pembongkaran harus dilakukan pada kesempatan pertama dan disaksikan oleh Pejabat Bea dan Cukai

4)

Pengangkutan Narkotika
Untuk lebih menjaga kepentingan masyarakat, pemerintah juga mengatur

perihal pengangkutan narkotika di dalam bagian kedua (pasal 20-pasal 25) Undang-Undang Nomor 22 tahun 1997. Syarat yang harus dipenuhi dalam pengangkutan narkotika, baik melalui laut maupun udara adalah: a. Narkotika yg diangkut harus dilengkapi persetujuan ekspor dari pemerintah eksportir. b. Narkotika yang diangkur harus dilengkapi persetujuan impor dari Menteri Kesehatan c. Narkotika yang diangkut harus disimpan dalam kemasan khusus serta aman dan disegel oleh Nakhoda d. Penyegelan harus disaksikan oleh pengirim dilengkapi dengan Berita Acara Penyegelan e. Nakhoda harus memberitahukan kedatangannya pada Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai setempat paling lambat 24 jam setelah tiba. f. Pembongkaran harus dilakukan pada kesempatan pertama dan disaksikan oleh pejabat Bea dan Cukai. Selain mengatur mengenai pengangkutan, pemerintah jua mengatur perihal transito di dalam bagian ketiga (pasal 26 sampai dengan 29) UndangUndang No. 22 Th. 1997. Syarat yang harus dipenuhi dalam transito adalah narkotika harus dilengkapi dengan Surat Persetujuan Ekspor dan Surat Persetujuan Impor yang memuat keterangan antara lain, Nama dan alamat importir dan eksportir, Jenis, bentuk, dan jumlah narkotika, Negara tujuan ekspor narkotika. Lebih jauh, pemerintah juga mengatur mengenai alat-alat bantu yang dapat dipergunakan untuk menggunakan narkotika. Objek pengawasan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

45

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


pemerintah terhadap alat-alat bantu ini meliputi pipa pemadatan, jarum suntik, semprit suntik dan peng-gunaan anhidrida asam asetat (acetic acid anhydride). Pemerintah melalui menteri Kesehatan mengeluarkan Peraturan No.

229/Menkes/Per /VII/1978 tanggal 15 Juli 1978. Di dalam keputusan ini, pipa pemadatan dilarang diproduksi, diedarkan, dijual, dimiliki, disimpan, atau digunakan. Sedangkan produksi, impor, dan penyaluran jarum suntik, semprit suntik, produksi, impor, ekspor, penyaluran, pemilikan, penyimpanan dan penggunaan anhidrida asam asetat (acetic acid anhydride) harus mendapatkan ijin khusus dari Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.

B.

PSIKOTROPIKA
Maraknya penyalahgunaan narkotika dan psikotropika merupakan suatu

indikasi

mengancam

generasi

yang

akan

datang.

Permasalahan

penyalahgunaan dan pemberantasan peredaran gelap narkotika dan psikotropika beserta prekursor narkotika dan prekursor psikotropika merupakan

permasalahan yang demikian kompleks, sehingga memerlukan penanggulangan secara komperehensif dan terpadu antara berbagai disiplin ilmu dan profesi, agama dan social budaya, antara berbagai sektor terkait baik pemerintah maupun masyarakat dan kerjasama luar negeri secara terarah,berencana dan berkelanjutan. Dalam modul ini akan dibahas secara lebih khusus mengenai psikotropika. Oleh karena itu pengenalan terhadap psikotropika tersebut sangat diperlukan dalam upaya mencegah dan melindungi masyarakat dari bahaya penyalahgunaan psikotropika. Melalui tulisan ini diharapkan para pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai khususnya dan masyarakat umumnya dapat lebih mengenal tentang jenis-jenis psikotropika, sehingga memiliki pengetahuan untuk menangkal bahaya yang ditimbulkannya. Melalui tulisan ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan pegawai DJBC tentang beberapa modus operandi yang selalu berkembang dan kadang berulang, sehingga dapat melakukan pencegahan dengan lebih baik. Melalui tulisan ini pula dimaksudkan untuk membekali pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan beberapa peraturan yang terkait dengan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

46

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


psikotropika beserta prekursornya, sehingga dengan demikian memiliki landasan yang jelas dalam melakukan tindakan pencegahan terhadap perdagangan gelap psikotropika

1) Pengertian Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikotropika aktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Dari pengertian psikotropika bisa berasal dari bahan-bahan alami maupun non alami. Psikotropika ada yang mengakibatkan sindroma

ketergantungan ada juga yang tidak.

2) Penggolongan Psikotropika
Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang psikotropika menggolongkan Psikotropika yang mengakibatkan sindroma ketergantungan sebagai berikut:

a. Psikotropika Golongan I Psikotropika yang termasuk golongan I hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Golongan ini terdiri dari 27 macam. b. Psikotropika Golongan II Psikotropika yang termasuk golongan II yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi, dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Golongan II ini terdiri dari 14 macam.

c. Psikotropika Golongan III Psikotropika yang termasuk golongan III ialah yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Golongan III ini terdiri dari 11 macam.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

47

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


d. Psikotropika Golongan IV Psikotropika yang termasuk golongan IV ini adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Golongan IV ini terdiri dari 60 macam.

Secara lebih detail jenis-jenis psikotropika dan penggolongannya dirinci dalam lampiran Undang-Undang Nomor 5 tahun 1997 tanggal 11 Maret 1997. Perubahan jumlah dari setiap golongan psikotropika ini diatur lebih lanjut oleh Menteri Kesehatan dan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan.

3) Transito Psikotropika
Seperti layaknya dalam transito narkotika, untuk transito psikotropika juga memiliki persyaratan khusus, antara lain: Persetujuan ekspor dari negara pengekspor Persetujuan impor dari negara tujuan Perubahan persetujuan impor dapat diberikan, Negara Pengekspor, Negara pengimpor semula, Negara pengimpor terakhir

Tidak hanya psikotropika, akan tetapi zat atau bahan pemula atau bahan kimia (disebut juga prekursor psikotropika) yang dapat digunakan dalam pembuatan psikotropika juga termasuk kedalam objek pelarangan ekspor dan impor. Hal ini dipandang perlu mengingat penyalahgunaan psikotropika yang semakin meluas dan berdimensi internasional dan untuk mencegah

kemungkinan terjadinya penyalahgunaan bahan tersebut untuk pembuatan dan produksi psikotropika. Secara lebih detail jenis-jenis prekursor psikotropika dan penggolongan pos tarifnya dirinci dalam lampiran Keputusan Menteri Kesehatan No. 917/MENKES/VIII/1997 tanggal 25 Agustus 1997 tentang Jenis-jenis prekursor Psikotropika. Penambahan dan perubahan jenis prekursor psikotropika ini ditetapkan oleh badan internasional di bidang psikotropika.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

48

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Sesuai dengan undang-undang Nomor 5 tahun 1997 tentang

psikotropika,yang dimaksud dengan psikotropika adalah Zat atau Obat,baik alamiah atau sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Dalam Undang-undang tersebut psikotropika digolongkan menjadi 4 (empat) golongan sesuai dengan akibat yang dapat ditimbulkannya. Golongan I ada 26 jenis, golongan II ada 14 jenis, golongan III ada 9 jenis dan golongan IV sebanyak ada 60 jenis. Berikut ini adalah beberapa jenis psikotropika dengan penyebutan berdasarkan nama di dalam

perdagangannya, Benzedrine, Biphethamine, Dexedrine, Desoxyn, Preludin, Ritalin, Tranxene, Valium, Morphine Sulfate, Ecstasy / XTC. Salah satu fungsi Direktorat Bea dan Cukai sebagai "border enforcement agency", adalah mencegah lalu-lintas ilegal barang-barang larangan yang dapat membahayakan masyarakat,diantaranya pencegahan impor atau ekspor ilegal psikotropika.

C.

PREKURSOR
Peraturan larangan dan pembatasan yang melindungi kepentingan

kesehatan masyarakat, dilatarbelakangi sifatnya yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat serta lingkungan hidup. Beberapa komoditi yang termasuk dalam objek larangan dan pembatasan ini dapat mempengaruhi perilaku pemakai kearah negatif dan memiliki kecenderungan addiktif. Sebagai contoh, narkotika yang dapat mempengaruhi pemakainya kearah perbuatan negatif dan destruktif. Lebih jauh, pelarangan dan pembatasan terhadap narkotika ini bertujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari kehancuran kesehatan, kahancuran kehidupan, kehancuran moral dan akhlak serta menurunkan kejahatan, bahka lebih jauh lagi dapat pula menghancurkan nilai-nilai budaya bangsa yang pada akhirnya akan dapat melemahkan ketahanan nasional. Mengingat pentingnya hal tersebut, prekursor sebagai bahan-bahan pembuat narkotika dan psikotropika diatur tersendiri dalam peraturan hukum, baik dalam keputusan setingkat menteri maupun yang lebih rendah. Hal ini dimaksudkan agar nantinya tidak terjadi penyalahgunaan prekursor untuk hal-hal yang negatif dan merusak, misalnya untuk membuat narkoba sehingga nantinya

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

49

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


akan dikonsumsi oleh masyarakat umum dan akan berakibat kepada hancurnya moral dan kepribadian bangsa, khususnya generasi muda. Dalam Modul ini akan dikemukakan mengenai prekursor dan peraturan-peraturan yang mengaturnya. Hal ini dimaksudkan agar nantinya pengertian dan pemahaman tentang prekursor, baik mengenai prekursor narkotika maupun prekursor psikotropika dapat dipahami dengan tepat dan lebih mendalam.

1) Pengertian Prekursor
Prekursor dalam hal ini diartikan sebagai zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan narkotika (Prekursor Narkotika) atau yang dapat digunakan dalam pembuatan Psikotropika (Prekursor Psikotropika). Prekursor Narkotika, ialah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan narkotika. Prekursor Psikotropika, ialah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan psikotropika. Prekursor, baik prekursor narkotika maupun prekursor psikotropika merupakan salah satu objek pelarangan dan pembatasan impor dan ekspor. Prekursor Psikotropika adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan Psikotropika. Prekursor perlu dilakukan pemantauan untuk mencegah penyalahgunaan pembuatan Psikotropika. Penambahan dan perubahan jenis prekursor mengacu kepada jenis prekursor yang ditetapkan oleh internasional di bidang psikotropika. Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan No. HK.00.06.6.03181 tanggal 18 Desember 1997 Tentang

Pemantauan Prekursor Psikotropika. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan tentang Pemantauan Prekursor Psikotropika

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

50

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


2) Daftar Jenis Prekursor
a. Kelompok I Anhidrida asetat, Asam Fenil asetat, Asam Lisergat, Asam N asetil antranilat, Ephedrin, Ergometrin, Ergotamin, 1-fenil 2-propanon,

Isosafrol,Kalium Permanganat, 3,4-Metilon dioksi fenil-2 propanon, Norefedrin, Piperonal, Pseudoefedrin, Safrol.

b. Kelompok II Asam antranilat, Asam klorida, Asam sulfat, Aseton, Etil eter, Metil etil keton, Piperidin, Toluen. Termasuk garam-garam dan sediaan-

sediaannya yang mengandung satu atau lebih bahan tersebut kecuali asam klorida dan asam sulfat.

D.

SEDIAAN FARMASI, OBAT TRADISIONAL DAN ALAT KESEHATAN


Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai suatu lembaga memiliki

peranan yang sangat penting yang mungkin kurang disadari oleh masyarakat, yaitu untuk melindungi masyarakat itu sendiri dari berbagai hal yang memiliki kemungkinan untuk menciptakan kerusakan maupun membahayakan bagi lingkungan masyarakat Indonesia pada khususnya. Sebagai gerbang pertama dari masuknya barang-barang yang berasal dari luar negeri, pegawai Bea dan Cukai memiliki kewajiban untuk

memberlakukan peraturan dan perundang-undangan yang sesuai terhadap jenis barang yang akan memasuki daerah pabean Indonesia. Selain itu, sebagai fasilitator perdagangan internasional, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menempatkan posisinya sebagai suatu organisasi yang memegang andil yang menuntut suatu sikap profesional dalam diri setiap pegawainya. Lancar tidaknya perdagangan atau arus lalu lintas barang sangat tergantung pada keahlian yang dimiliki oleh seorang pegawai Bea dan Cukai. Bekerjasama dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) yang berada di bawah naungan Departemen Kesehatan, DJBC turut serta

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

51

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


melakukan pengawasan terhadap obat, bahan baku obat dan alat kesehatan yang akan beredar di Indonesia. Perbedaan mendasar dari tugas Badan POM dengan DJBC itu sendiri adalah pada perbedaan waktu dan letak di mana obat, bahan obat dan alat kesehatan itu berada. Tugas utama dari Badan POM adalah mengawasi sediaan farmasi yang telah dan baru akan beredar di dalam negeri. Sedangkan tugas DJBC adalah mengawasi, dalam hal ini, sediaan farmasi yang akan memasuki wilayah Indonesia dan menetapkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku bagi sediaan farmasi tersebut (diizinkan, dibatasi, atau dilarang).

1) Pengertian
Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik. Alat Kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin, atau implan yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis,

menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit serta memulihkan kesehatan pada manusia dan/atau untuk membentuk struktur dan mampu memperbaiki fungsi tubuh. Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Sediaan farmasi yang berupa obat tradisional dan kosmetika serta alat kesehatan harus memenuhi standar dan/atau persyaratan yang ditentukan.

Standar-standar yang berlaku:

a. Standar untuk obat adalah buku farmakope Indonesia. Apabila belum ditetapkan, digunakan standar dari buku farmakope lain atau buku standar lain. b. Standar untuk obat tradisional adalah buku Materia Medika. c. Standar untuk kosmetika adalah buku Kodeks Kosmetika Indonesia. d. Untuk alat kesehatan ditetapkan berdasarkan persyaratan yang berlaku.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

52

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Standardisasi obat tradisional hanya diberlakukan bagi industri obat tradisional yang diproduksi dalam skala besar. Bagi industri rumah tangga seperti jamu racik dan jamu gendong masih dalam tahap pembinaan dan belum diberlakukan ketentuan pidana sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Ketentuan Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Lainnya Menurut PP No. 72/1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat diproduksi oleh badan usaha yang telah memenuhi izin usaha industri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan dimaksud tidak berlaku bagi sediaan farmasi yang berupa obat tradisional yang diproduksi oleh perorangan. Peredaran sediaan farmasi dan alat kesehatan terdiri dari penyaluran dan penyerahan. Ketentuan Pemasukan dan Pengeluaran Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan ke Dalam dan Dari Wilayah Indonesia Ketentuan-ketentuan yang sekarang ini berlaku di Indonesia mengenai pemasukan dan pengeluaran sediaan farmasi dan alat kesehatan ke dalam dan dari wilayah Indonesia, antara lain: a. Sediaan farmasi dan alat kesehatan yang dimasukkan ke dalam dan dikeluarkan dari wilayah Indonesia untuk diedarkan harus memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan. b. Pemasukan dan pengeluaran sediaan farmasi dan alat kesehatan ke dalam dan dari wilayah Indonesia harus dapat dilakukan oleh badan usaha yang telah memiliki izin sebagai importir dan/atau eksportir sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. Lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan dapat memasukkan sediaan farmasi dan alat kesehatan ke dalam wilayah Indonesia untuk kepentingan ilmu pengetahuan. d. Sediaan farmasi dan alat kesehatan yang dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia untuk diedarkan harus memiliki izin edar dari Menteri. Terhadap sediaan farmasi yang berupa obat yang sangat dibutuhkan dalam pelayanan kesehatan serta belum diproduksi di Indonesia, dapat

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

53

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


dilakukan pemasukan ke dalam wilayah Indonesia selain oleh importir tersebut.

2) Ketentuan Impor Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan


Dilakukan oleh badan usaha dan lembaga pendidikan atau lembaga penelitian. Memiliki Angka Pengenal Impor (API). Dilindungi oleh Certificate of Analysis dari instansi yang berwenang di negara pengekspor (pabrik yang memproduksi). Bila tidak memiliki Certificate of Analysis, maka Pejabat Bea dan Cukai dapat mengambil contoh untuk obat jadi masing-masing 5 bungkus, dan untuk bahan obat masing-masing 50 sampai dengan 100 gram. Mengirim contoh ke Badan POM, paling lambat 3 x 24 jam setelah pengambilan contoh tersebut. Badan POM akan meneliti contoh barang dan kemudian memberikan keputusan yang dituangkan dalam surat. Surat dikirimkan ke petugas Bea dan Cukai yang digunakan untuk melindungi pengeluaran barang ke peredaran bebas.

3) Impor atau Ekspor Obat Tradisional


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 246 / Menkes / Per / V / 1990 tahun 1990 serta disempurnakan dengan Peraturan Menteri kesehatan No1297/Menkes/ Per/XI/1998 tanggal 23 Nopember 1998 tentang peredaran obat tradisional impor bahwasanya badan usaha yang dapat melakukan kegiatan ekspor dan impor adalah produsen obat tradisional atau badan usaha yang ditunjuk oleh produsen luar negeri. Permohonan impor dan ekspor ditujukan kepada Badan POM yang dilengkapi Certificate OF Free Sale, sertifikat uji keamanan, dan surat penunjukan dari produsen luar negeri. Ketentuan-ketentuan tradisional, a.l: untuk mengimpor/mengekspor obat-obatan

Dilakukan oleh produsen obat tradisional. memiliki izin impor atau ekspor dari Kepala Badan POM.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

54

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Harus dibungkus atau memiliki wadah pengemas yang memuat informasi yang lengkap di dalamnya mengenai:

nama obat; komposisi; bobot, isi atau jumlah tiap kemasan; dosis pemakaian; khasiat,kegunaan dan kontradiksi; masa kadaluwarsa; nomor pendaftaran; nama dan alamat pabrik yang bertanggung jawab di Indonesia, dan dibuat dalam Bahasa Indonesia

4) Tindak Pidana Pelanggaran Ketentuan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan


Tindak pidana yang dapat terjadi berkenaan dengan sediaan farmasi dan alat kesehatan dapat dibedakan berdasarkan dua peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia yaitu Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan bila tindak pidana itu terjadi dalam hal peristiwa terjadinya tindak pidana berlangsung di dalam wilayah Indonesia, dan Undangundang Kepabeanan bila tindak pidana itu terjadi dalam hal peristiwa terjadinya tindak pidana itu pada saat memasuki atau keluar dari Daerah Pabean Indonesia (sediaan farmasi dan alat kesehatan merupakan barang impor atau ekspor).

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

55

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


E. MAKANAN DAN MINUMAN BERALKOHOL

Berdasarkan Undang-Undang R.I. Nomor 7 Tahun 1996 tanggal 04 Nopember merupakan 1996 Tentang Pangan, kehendak menyatakan untuk Pembangunan nasional

pencerminan

terus-menerus

meningkatkan

kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia secara adil dan merata dalam segala aspek kehidupan serta diselenggarakan secara terpadu, terarah, dan berkesinambungan dalam rangka mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur, baik material maupun spiritual, berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. Segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman disebut Pangan. Minuman yang beralkohol, yang lazim disebut sebagai minuman keras atau khamr adalah produk yang dihasilkan melalui proses fermentasi dengan menggunakan khamir (ragi sacharomyces cereviciae), pada bahan yang mengandung pati atau

mengandung gula tinggi. Proses fermentasi adalah proses yang sudah dikenal sejak berabad tahun yang lalu. Pada zaman kehidupan Rasulullah saw, beliau melarang para sahabat untuk mengkonsumsi jus buah yang umurnya lebih dari tiga hari, atau ketika saribuah tersebut dalam kondisi menggelegak (berbuih). Berdasarkan fakta inilah kemudian komisi Fatwa MUI menetapkan batas maksimal kandungan alkohol (sebagai senyawa tunggal, ethanol) yang digunakan sebagai pelarut dalam produk pangan yaitu satu persen. Bagi konsumen muslim, minuman yang merupakan hasil fermentasi yang menghasilkan minuman beralkohol adalah haram untuk dikonsumsi. Berkaitan dengan hal itu maka Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sesuai dengan komitmennya, sebagai Community Protector, memasukkan alkohol sebagai salah satu barang kena cukai. Karena sifatnya, maka alkohol dimasukkan dalam barang yang dibatasi dan diawasi. Berkaitan dengan hal itu maka pemerintah juga menetapkan beberapa peraturan tentang hal tersebut.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

56

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Menurut peraturan Menteri Kesehatan No 86 tahun 1997, minuman beralkohol dibedakan menjadi tiga golongan. Proses produksi fermentasi karbohidrat mencakup tiga tahapan yaitu tahapan pertama pembuatan larutan nutrien, tahapan kedua proses fermentasi, dan tahapan ketiga destilasi etanol.

1) Pengertian
Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman. Kemasan pangan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi dan atau membungkus pangan, baik yang bersentuhan langsung dengan pangan maupun tidak. Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung ethanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi, baik dengan cara memberikan perlakuan terlebih dahulu atau tidak, menambahkan bahan lain atau tidak, maupun yang diproses dengan cara mencampur konsentrat dengan ethanol atau dengan cara pengenceran minuman dengan ethanol. Importir Minuman Beralkohol adalah perusahaan Importir Toko Bebas Bea (Duty Free Shop) adalah perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 1996 tentang Tempat Penimbunan Berikat dan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor

109/KMK.00/1993 tentang Toko Bebas Bea (Duty Free Shop), yang menjual Minuman Beralkohol secara eceran dalam kemasan. Pengecer adalah perusahaan yang menjual secara eceran Minuman Beralkohol khusus dalam kemasan. Dalam pengawasan dan pengendalian makanan dan minumam

mengandung etil alkohol, minuman mengandung alkohol di bedakan menjadi 3 golongan : 1. Minuman Beralkohol golongan A adalah Minuman Beralkohol dengan kadar ethanol (C2H5OH) 1% (satu perseratus) sampai dengan 5% (lima perseratus); misalnya Bir

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

57

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


2. Minuman Beralkohol golongan B adalah Minuman Beralkohol dengan kadar ethanol (C2H5OH) lebih dari 5% (lima perseratus) dengan 20% (dua puluh perseratus); misalnya anggur. 3. Minuman Beralkohol golongan C adalah Minuman Beralkohol dengan kadar ethanol (C2H5OH) lebih dari 20 % (dua puluh perseratus) sampai dengan 55% (lima puluh lima perseratus); misalnya whisky dan brandy.

Dalam melaksanakan produksinya, industri minuman mengandung alkohol hanya diperbolehkan menggunakan proses fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi dalam produksinya untuk memperoleh kadar alkohol yang diinginkan. Pada setiap kemasan atau botol Minuman Beralkohol golongan A, B dan C yang diproduksi untuk konsumsi di dalam negeri wajib dilengkapi label, lebel wajib menggunakan bahasa Indonesia, angka Arab dan huruf Latin dan sekurang-kurangnya memuat keterangan mengenai, nama produk; kadar alkohol; daftar bahan yang digunakan; berat bersih atau isi bersih; nama dan alamat pihak yang memproduksi; tanggal, bulan, dan tahun kadaluwarsa; pencantuman tulisan "Minuman Beralkohol". Pada label Minuman Beralkohol golongan A, B dan C yang diproduksi di dalam negeri dilarang mencantumkan kata "halal".

2) Larangan dalam importasi minuman beralkohol antara lain


1. Mengimpor Minuman Beralkohol yang isi kemasannya kurang dari 180 (seratus delapan puluh) ml, kecuali untuk keperluan penjualan dikamar hotel. 2. Bahan baku Minuman Beralkohol dalam bentuk konsentrat dilarang diimpor. 3. Minuman Beralkohol yang tidak termasuk Minuman Beralkohol golongan A, B dan C dilarang diimpor. 4. Siapapun dilarang membawa Minuman Beralkohol golongan A, B dan C dari luar negeri sebagai barang bawaan, kecuali untuk dikonsumsi sendiri sebanyak-banyaknya 1000 (seribu) ml per orang dengan isi kemasan tidak kurang dari 180 (seratus delapan puluh) ml.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

58

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan

Pengecer atau Penjual Langsung Untuk Diminum dilarang menjual Minuman Beralkohol golongan A, B dan C, kecuali kepada Warga Negara Indonesia yang telah berusia 21 (dua puluh satu) tahun yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk dan Warga Negara Asing yang telah dewasa. Toko Bebas Bea dilarang menjual Minuman Beralkohol golongan B dan C, kecuali secara eceran kepada Anggota Korps Diplomatik sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1957; Tenaga (Ahli) Bangsa Asing yang bekerja pada Lembaga-lembaga Internasional sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1955; Mereka yang akan bepergian ke luar negeri; dan Mereka yang baru tiba dari luar negeri.

3) Larangan
1. Melakukan pengemasan ulang (repacking), atau melakukan proses produksi dengan cara pengenceran dan atau pencampuran dengan ethanol (C2H5OH). 2. Memproduksi Minuman Beralkohol yang isi kemasannya kurang dari 180 (seratus delapan puluh) ml, kecuali untuk memenuhi kebutuhan penjualan langsung untuk diminum dikamar hotel 3. Menyimpan dan menggunakan ethanol (C2H5OH) sebagai bahan baku dalam pembuatan Minuman Beralkohol. 4. Minuman Beralkohol yang tidak termasuk Minuman Beralkohol golongan A, B dan C diproduksi di dalam negeri. 5. Bahan baku Minuman Beralkohol dalam bentuk konsentrat dilarang diimpor. 6. Minuman Beralkohol yang tidak termasuk Minuman Beralkohol golongan A, B dan C dilarang diimpor. 7. Siapapun dilarang membawa Minuman Beralkohol golongan A, B dan C dari luar negeri sebagai barang bawaan, kecuali untuk dikonsumsi sendiri sebanyak-banyaknya 1000 (seribu) ml per orang dengan isi kemasan tidak kurang dari 180 (seratus delapan puluh) ml. 8. Mencantumkan label halal pada kemasan minuman mengandung alkohol.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

59

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


F. PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup,bahwa Lingkungan hidup Indonesia yang dianugerah kan Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan karunia dan rahmat-Nya yang wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa Indonesia serta makhluk hidup lainnya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri. Pancasila, sebagai dasar dan falsafah negara, merupakan kesatuan yang bulat dan utuh yang memberikan keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa

kebahagiaan hidup akan tercapai jika didasarkan atas keselarasan, keserasian, dan keseimbangan, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa maupun manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia sebagai pribadi, dalam rangka mencapai kemajuan lahir dan kebahagiaan batin. Antara manusia, masyarakat, dan lingkungan hidup terdapat hubungan timbal balik, yang selalu harus dibina dan dikembangkan agar dapat tetap dalam keselarasan, keserasian, dan keseimbangan yang dinamis. Akan tetapi, lingkungan hidup yang berkaitan dengan pengelolaan harus jelas batas wilayah wewenang pengelolaannya. Di antara dampak yang timbul dari kegiatan ini, yang sengat menonjol adalah masalah pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan menurut pengertian dalam Undang-Undang Lingkungan Hidup Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, menegaskan bahwa, Pencemaran Lingkungan Hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya hidup turun sampai tidak dapat ke tingkat tertentu sesuai yang

menyebabkan

lingkungan

berfungsi

dengan

peruntukannya. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku ada beberapa barangbarang yang berbahaya bagi lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat yang dapat dikelompokkan menjadi Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), Limbah, dan Radioaktif.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

60

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


1) Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2001 26 November 2001 Tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. Dengan

meningkatnya kegiatan pembangunan di berbagai bidang terutama bidang industri dan perdagangan, terdapat kecenderungan semakin meningkat pula penggunaan bahan berbahaya dan beracun; Sampai saat ini terdapat beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur pengelolaan bahan berbahaya dan beracun, akan tetapi masih belum cukup memadai terutama untuk mencegah terjadinya pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup; Untuk mencegah terjadinya dampak yang dapat merusak lingkungan hidup, kesehatan manusia, dan makhluk hidup lainnya diperlukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun secara terpadu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; Pengaturan pengelolaan B3 bertujuan untuk mencegah dan atau mengurangi risiko dampak B3 terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Pengelolaan B3 yang tidak termasuk dalam lingkup Peraturan Pemerintah ini adalah pengelolaan bahan radioaktif, bahan peledak, hasil produksi tambang serta minyak dan gas bumi dan hasil olahannya, makanan dan minuman serta bahan tambahan makanan lainnya, perbekalan kesehatan rumah tangga dan kosmetika, bahan sediaan farmasi, narkotika, psikotropika, dan prekursornya serta zat adiktif lainnya, senjata kimia dan senjata biologi. Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib mencegah terjadinya pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup. Setiap orang yang melakukan kegiatan ekspor B3 yang terbatas dipergunakan, wajib

menyampaikan notifikasi ke otoritas negara tujuan ekspor, otoritas negara transit dan instansi yang bertanggung jawab. Ekspor B3 hanya dapat dilaksanakan setelah adanya persetujuan dari otoritas negara tujuan ekspor, otoritas negara transit dan instansi yang bertanggung jawab. Persetujuan dari instansi yang bertanggung jawab merupakan dasar untuk penerbitan atau penolakan izin ekspor dari instansi yang berwenang di bidang perdagangan.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

61

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Pengertian.

Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya; Tata cara notifikasi ditetapkan dengan Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab.Setiap orang yang memproduksi B3 wajib membuat Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet). Setiap penanggung jawab pengangkutan, penyimpanan, dan pengedaran B3 wajib menyertakan Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet). Pengangkutan B3 wajib menggunakan sarana pengangkutan yang laik operasi serta

pelaksanaannya sesuai dengan tata cara pengangkutan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Persyaratan sarana pengangkutan dan tata cara pengangkutan ditetapkan oleh instansi yang berwenang di bidang transportasi. Setiap B3 yang dihasilkan, diangkut, diedarkan, disimpan wajib dikemas sesuai dengan klasifikasinya. Setiap kemasan B3 wajib diberikan simbol dan label serta dilengkapi dengan Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet). Tata cara pengemasan, pemberian simbol dan label ditetapkan dengan Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab. Wewenang pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan B3 dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. Dalam hal tertentu, wewenang pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan B3 dapat diserahkan menjadi urusan daerah Propinsi/Kabupaten/Kota. Penyerahan wewenang pengawasan ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab dan atau instansi yang berwenang di bidang tugasnya masing-masing. Pengawas dalam melaksanakan pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan B3 wajib dilengkapi tanda pengenal dan surat tugas yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

62

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib: mengizinkan pengawas untuk memasuki lokasi kerja dan membantu terlaksananya tugas pengawasan; mengizinkan pengawas untuk mengambil contoh B3; memberikan keterangan dengan benar baik lisan maupun tertulis; mengizinkan pengawas untuk melakukan pemotretan di lokasi kerja dan atau mengambil gambar.

2) Bahan Perusak Lapisan Ozon (Ozone Depleting Substances)


Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor: 410/Mpp/Kep/9/1998 Tanggal 27 Januari 1998 Tentang Perubahan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 110/Mpp/Kep/1/1998 3 September 1998 Tentang Larangan Memproduksi dan Memperdagangkan Bahan Perusak Lapisan Ozon Serta Memproduksi dan Memperdagangkan Barang Baru Yang Menggunakan Bahan Perusak Lapisan Ozon (Ozone Depleting Substances) Menteri Perindustrian Dan Perdagangan Republik Indonesia. Metil Bromida ditetapkan sebagai salah satu bahan perusak lapisan ozon yang dilarang diproduksi dan diperdagangkan; mengingat Metil Bromida masih diperlukan sebagai fumigan untuk karantina, penggunaan di gudang dan pra pengapalan dan sesuai dengan pengecualian dari Copenhagen

Amandemen, penggunaan bahan tersebut tetap diperkenankan. Khusus Metil Bromida No. HS. 2903.30.000 diperkenankan untuk diperdagangkan, sepanjang penggunaannya sebagai fumigan untuk karantina, di gudang dan pra pengapalan. Metil Bromida yang diperdagangkan wajib mencantumkan label dengan tulisan digunakan hanya untuk karantina, di gudang dan pra pengapalan.

3) Pasir Laut
Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 33 Tahun 2002 tanggal 23 Mei 2002 Tentang Pengendalian Dan Pengawasan Pungusahaan Pasir Laut Kegiatan penambangan, pengerukan, pengangkutan, dan perdagangan pasir laut,yang selama ini berlangsung tidak terkendali, telah menyebabkan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

63

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


kerusakan ekosistem pesisir dan laut, keterpurukan nelayan dan pembudidaya ikan, serta jatuhnya harga pasir laut; Untuk mencegah dampak negatif dan untuk melindungi dan member-dayakan nelayan, pembudidaya ikan , dan masyarakat pesisir umumnya, serta memperbaiki nilai jual pasir laut, perlu dilakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pengusahaan pasir laut; Pelaksanaan pengendalian dan pengawasan terhadap pengusahaan pasir laut masih diselenggarakan secara sektoral sehingga penegakan hukum belum

terkoordinasi sebagaimana mestinya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku;

i. Pengertian Pasir laut adalah bahan galian pasir yang terletak pada wilayah perairan Indonesia yang tidak mengandung unsur mineral golongan A dan/atau golongan B dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi pertambangan. Perusakan laut adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang melampaui kriteria baku kerusakan laut.

ii. Perdagangan Ekspor Pasir Laut Ekspor pasir laut ditetapkan menjadi komoditi yang diawasi tata niaga ekspornya. Pasir laut yang ditetapkan sebagai komoditi yang diawasi tata niaga ekspornya dapat diubah menjadi komoditi yang dilarang ekspornya setelah mempertimbangkan usulan dari Tim Pengendali dan Pengawas Pengusahaan Pasir Laut. Ekspor pasir laut hanya dapat dilakukan oleh perorangan atau badan hukum setelah mendapatkan persetujuan ekspor dari menteri yang perdagangan. bertanggung jawab dibidang perindustrian dan

4) Bahan-Bahan Galian
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1980 Tanggal 15 Agustus 1980 Tentang Penggolongan Bahan-Bahan Galian Dengan mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1964 tentang Penggolongan Bahan-bahan Galian (Lembaran Negara Tahun 1964 Nomor 57);

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

64

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Bahan-bahan galian terbagi atas tiga golongan: a. Golongan bahan galian yang strategis adalah: minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi, gas alam; bitumen padat, aspal; antrasit, batubara, batubara muda; uranium, radium, thorium dan bahan-bahan galian radioaktip lainnya; nikel, kobalt; timah. b. Golongan bahan galian yang vital adalah: besi, mangan, molibden, khrom, wolfram, vanadium, titan; bauksit, tembaga, timbal, seng; emas, platina, perak, air raksa, intan; arsin, antimon, bismut; yttrium, rhutenium, cerium dan logam-logam langka lainnya; berillium, korundum, zirkon, kristal kwarsa; kriolit, fluorpar, barit; yodium, brom, khlor, belerang; c. Golongan bahan galian yang tidak termasuk golongan a atau b adalah: nitrat-nitrat, pospat-pospat, garam batu (halite); asbes, talk, mika, grafit, magnesit; yarosit, leusit, tawas (alum), oker; batu permata, batu setengah permata; pasir kwarsa, kaolin, feldspar, gips, bentonit; batu apung, tras, obsidian, perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth); marmer, batu tulis; batu kapur, dolomit, kalsit; granit, andesit, basal, trakhit, tanah liat, dan pasir sepanjang tidak mengandung unsur-unsur mineral golongan a amupun golongan b dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi pertambangan.

Pemegang Kuasa Pertambangan wajib memasang alat pantau produksi pada kapal yang telah didaftarkan. Nakhkoda kapal wajib mengaktifkan dan memelihara alat pantau produksi agar berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

65

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Setiap pelanggaran atas kewajiban dalam pengusahaan pasir laut yang ditemukan dalam pelaksanaan operasi pengawasan ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagi bahanbahan galian sepanjang terletak di lepas pantai, izin usaha pertambangannya diberikan oleh Menteri.

5) Pabrikasi Pelumas dan Pengolahan Pelumas Bekas Serta Penetapan Mutu Pelumas
Keputusan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 1693 K/34/Mem/2001 Tanggal 22 Juni 2001 Tentang Pelaksanaan Pabrikasi Pelumas Dan Pengolahan Pelumas Bekas Serta Penetapan Mutu Pelumas Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 2001 Tanggal 22 Juni 2001, dan Keputusan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Tentang Pelaksanaan Pabrikasi Pelumas Dan Pengolahan Pelumas Bekas Serta Penetapan Mutu Pelumas.

Pengertian

Pelumas Bekas adalah pelumas yang pernah dipakai dan atau tidak memenuhi spesifikasi dan/atau mutu pelumas yang ditetapkan. Nomor Pelumas Terdaftar (NPT) adalah nomor yang diberikan oleh Direktur Jenderal terhadap Pelumas dengan Nama Dagang Pelumas yang didaftarkan setelah memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Nama Dagang Pelumas adalah merek dari suatu Pelumas disertai identitas klasifikasi mutu dan ketentuan yang dicantumkan pada Kemasan Pelumas dan atau sertifikat mutu atau dokumen pelumas. Daftar Umum Pelumas adalah daftar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal mengenai NPT, memuat Nama Dagang Pelumas yang dapat diedarkan dan dipasarkan di dalam negeri serta keterangan penggunaan dan klasifikasinya. Pengemasan Pelumas, adalah kegiatan atau usaha menempatkan Pelumas yang diperoleh bukan dari hasil Pabrikasi Pelumas (Blending) milik sendiri ke dalam Kemasan Pelumas. Kemasan Pelumas adalah wadah atau tempat berukuran tertentu untuk menempatkan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

66

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Pelumas disertai identitas Pelumas antara lain tentang klasifikasi mutu dan kekentalan, nama Perusahaan, Nomor Batch, NPT dan tujuan penggunaan yang ditempelkan dan/atau dituliskan pada kemasan tersebut. Laboratorium Uji adalah laboratorium yang mempunyai kemampuan teknis dan tenaga ahli untuk melaksanakan pengujian mutu Pelumas dan telah mendapatkan akreditasi dari instansi yang berwenang. Sebelum mendapatkan izin usaha untuk mendirikan pabrik dan

melaksanakan Pabrikasi Pelumas (Blending) dan atau Pengolahan Pelumas Bekas dari Menteri yang bertanggungjawab di bidang perindustrian, Perusahaan terlebih dahulu wajib mendapat pertimbangan tertulis dari Menteri.

6)

Limbah
Kegiatan pembangunan bertujuan meningkatkan kesejahteraan hidup

rakyat yang dilaksanakan melalui rencana pembangunan jangka panjang yang bertumpu pada pembangunan di bidang industri. Pembangunan di bidang industri tersebut di satu pihak akan menghasilkan barang yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidup rakyat, dan di lain pihak industri itu juga akan menghasilkan limbah. Untuk mengindentifikasi limbah sebagai limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) diperlukan uji karakteristik dan uji toksikologi atas limbah tersebut. Pengujian ini meliputi karakterisasi limbah atas sifat-sifat mudah meledak dan atau mudah terbakar dan atau bersifat reaktif, dan atau beracun dan atau menyebabkan infeksi, dan atau bersifat korosif. Sedangkan uji toksikologi digunakan untuk mengetahui nilai akut dan atau kronik limbah. Penentuan sifat akut limbah dilakukan dengan uji hayati untuk mengetahui hubungan dosis-respon antara limbah dengan kematian hewan uji untuk menetapkan nilai LD50. Apabila suatu limbah tidak tercantum dalam Lampiran I Peraturan Pemerintah ini, lolos uji karakteristik limbah bahan beracun dan berbahaya (B3), lolos uji LD50, dan tidak bersifat kronis maka limbah tersebut bukan limbah bahan beracun dan berbahaya (B3), namun

pengelolaannya harus memenuhi ketentuan. Limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) yang dibuang langsung ke dalam lingkungan dapat menimbulkan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

67

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


bahaya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia serta makhluk hidup lainnya. Mengingat resiko tersebut, perlu diupayakan agar setiap kegiatan industri dapat meminimalkan limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) yang dihasilkan dan mencegah masuknya limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) dari luar Wilayah Indonesia. Pemerintah Indonesia dalam pengawasan perpindahan lintas batas limbah B3 telah meratifikasi Konvesi Basel pada tanggal 12 Juli 1993 dengan Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1993. Untuk menghilangkan atau mengurangi resiko yang dapat ditimbulkan dari limbah B3 yang dihasilkan maka limbah B3 yang telah dihasilkan perlu dikelola secara khusus. Dalam rangkaian kegiatan tersebut terkait beberapa pihak yang masing-masing merupakan mata rantai dalam pengelolaan limbah B3, yaitu Penghasil Limbah B3; Pengumpul Limbah B3; Pengangkut Limbah B3; Pemanfaat Limbah B3; Pengolah Limbah B3; Penimbun Limbah B3.

iii. Pengertian Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan; Limbah bahan berbahaya dan beracun, disingkat limbah B3, adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau

merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Sedangkan ketentuan nasional ada beberapa yang mengatur tentang limbah yakni : Undang undang nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan tentang lingkungan hidup tanggal 19 september 1997 sbg. pengganyi undang undang No 4 tahun 1982 Peraturan pemerintah nomor 85 tahun 1999 tanggal 7 oktober 1999 tentang pengelolaan limbah bahan beracun dan berbahaya sebagai pengganti peraturan pemerintah nomor 18 tahun 1999. Surat keputusan menteri perdagangan dan perindustrian Nomor 230/MPP/Kep/7/ 1997 tanggal 4 juli 1997 tentang barang yang diatur tata niaga impornya.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

68

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Surat Keputusan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Nomor 231/MPP/KEP/7/ 1997 tanggal 4 juli 1997 tentang Prosedure Impor Limbah. Dari berbagai ketentuan di atas limbah dapat diartikan sebagai bahan sisa pada suatu kegiatan dan atau proses produksi, sedangkan limbah bahan beracun dan berbahaya adalah setiap limbah yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat atau konsentrasinya dan atau jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak dan atau dapat membahayakan kesehatan umat manusia. Limbah bahan beracun dan berbahaya mengandung beberapa karakteristik yaitu Mudah Meledak, dan Mudah Terbakar.

iv. Limbah Beracun Limbah beracun adalah limbah yang mengandung racun yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan. limbah bahan beracun dan berbahaya ini dapat menyebabkan kematian dan yang serius pada semua organisme hidup, apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, kulit, atau mulut. Penentuan sifat racun untuk identifikasi limbah ini dapat menggunakan baku mutu konsentrasi TCLP (Toxicity Characteristic Leaching Prosedure). Pencemar organic dan an organic dalam limbah.

v. Limbah jenis lainnya Limbah jenis lainnya adalah limbah lain yang apabila diujii dengan metode toksilogi dapat diketahui termasuk dalam jenis limbah B3, misalnya dengan metode LD 50(Lethal Dose Fifty), yaitu perhitungan dosis (Gram pencemar per kilogram berat bahan) yang dapat menyebabkan kematian 50% populasi mahluk hidup yang dijadikan percobaan.

Menteri Perindustrian dan Perdagangan atas persetujuan Kepala Badan Pengendalian dampak lingkungan telah menyepakati tentang limbah bahan beracun dan berbahaya yang masih dimungkinkan untuk diimpor, yaitu: Sisa dan skrap timah hitam (HS 7802.00.0000)

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

69

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Sisa dan skrap dari sel primer, baterei primer, dan akumulator listrik, sel primer habis pakai, baterai primer habis pakai dan akimulator listrik habis pakai (HS 8548.10.000)

Dari sisi status perusahaan dikenal tiga macam importir limbah: Importir umum limbah adalah importir umum yang diakui dan disetujui oleh direktorat Jenderal Perdagangan Internasional untuk mengimpor limbah ada sejumlah 18 (delapan belas )tarip pos yang diizinkan untuk diimpor Importir Produsen Limbah Bahan beracun dan berbahaya adalah produsen yg diakui dan disetujui oleh menteri perindustrian dan perdagangan untuk mengimpor sendiri limbah bahan beracun dan berbahaya diperlukan hanya untuk semata mata keperluan proses produksinya ada 2 macam tarip pos yang diizinkan untuk diimpor. Importir produsen limbah non bahan beracun dan berbahaya,adalah produsen yang diakui dan disetujui oleh direktorat jenderal perdagangan internasional untuk mengimpor sendiri limbah bahan beracun dan berbahaya yang diperlukan hanya untuk semata mata keperluan proses

produksinya.ada 2 macam tarip pos yang diizinkan untuk diimpor.

Ketentuan larangan dan pembatasan untuk mengimpor limbah beracun dan berbahaya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1999 yakni: Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan beracun dan berbahaya Pengangkutan limbah bahan beracun dan berbahaya dari luar negeri melalui wilayah negara RI dengan transit wajib memiliki persetujuan tertulis dari kepala badan pengendalian dampak lingkungan. Pengangkutan limbah bahan beracun dan berbahaya dari luar negeri melalui wilayah negara RI wajib diberitahukan terlebih dulu. Pengiriman limbah bahan beracun dan berbahaya ke luar negeri dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan tertulis dari pemerintah negara pengimpor dan juga dari kepala badan pengendalian lingkungan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata niaga impr limbah ditetapkan oleh menteri perindustrian dan perdagangan setelah mendapat persetujuan dari kepala badan pengendalian dampak lingkungan.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

70

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


7) Ketentuan Pidana
Setiap orang yang melanggar ketentuan yang mengakibatkan terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup, diancam dengan pidana berdasarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam hal terdapat B3 yang telah beredar tetapi belum diregistrasikan maka wajib diregistrasikan oleh penyimpan, pengedar dan atau pengguna menurut ketentuan.

2.2. Latihan 2
1. Narkotika digolongkan menjadi berapa golongan, dan jelaskan golongan Narkotika yang termasuk berasal dari tanaman hayati.! 2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Psikotropika dan bagaimana ketentuan impor Psikotropika! 3. Prekursor, baik prekursor narkotika maupun prekursor psikotropika merupakan salah satu objek pelarangan dan pembatasan impor dan ekspor. Terhadap prekursor jenis apakah yang harus dilakukan pemantauan dan pengawasan? Jelaskan. Bagaimanakah wujud

pengawasan dan pemantauan terhadap impor dan ekspor prekursor? Dan sebutkan jenis prekursor yang apabila diimpor atau diekspor wajib dilaporkan kepada Kepala Kantor? 4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan sediaan farmasi, obat tradisional, dan alat kesehatan! 5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Pangan, dan jelaskan ketentuan impor dan ekspor untuk Toko Bebas Bea di Indonesia. 6. Jelaskan barang atau benda apa saja yang dapat mengakibatkan

pencemaran lingkungan hidup. Jelaskan ketentuan pengawasan atau penegakan hukumnya atas salah satu barang atau benda yang dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan hidup, dan merugikan manusia

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

71

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


2.3. Rangkuman
1. Peran serta Direktorat Jenderal Bea penanggulangan bahaya narkotika dan Cukai dalam strategi adalah dengan melakukan

pengawasan atas jalur masuk/keluarnya barang baik melalui laut, darat, udara. Pengetesan narkotika di lapangan menggunakan intrumen atau peralatan yang disebut narkotest-kit dengan ampul-ampul berisi cairan Reagent. 2. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan

ketergantungan. 3. Untuk tujuan pengobatan dan/atau tujuan ilmu pengetahuan, narkotika hanya dapat diimpor ke Indonesia oleh salah satu importir pedagang besar farmasi setelah memperoleh keputusan Menteri Kesehatan dan mendapat izin impor dari Menteri Perindustrian dan Perdagangan, dengan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut, memiliki angka pengenal impor (API/T), memiliki surat persetujuan impor untuk setiap kali impor dari menteri kesehatan, memiliki persetujuan pemerintah negara eksportir, berdasarkan ketentuan Undang-undang No.22 tahun 1997. 4. Objek pengawasan pemerintah terhadap alat-alat bantu ini meliputi pipa pemadatan, jarum suntik, semprit suntik dan peng-gunaan anhidrida asam asetat (acetic acid anhydride). Pemerintah melalui menteri Kesehatan mengeluarkan Peraturan No. 229/Menkes/Per /VII/1978 tanggal 15 Juli 1978. 5. Di dalam keputusan ini, pipa pemadatan dilarang diproduksi, diedarkan, dijual, dimiliki, disimpan, atau digunakan. Sedangkan produksi, impor, dan penyaluran jarum suntik, semprit suntik, produksi, impor, ekspor, penyaluran, pemilikan, penyimpanan dan penggunaan anhidrida asam asetat (acetic acid anhydride) harus mendapatkan ijin khusus dari Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. 6. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 5 tahun 1997 tentang

psikotropika, yang dimaksud dengan psikotropika adalah Zat atau Obat,

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

72

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


baik alamiah atau sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. 7. Dalam UnU tersebut psikotropika digolongkan menjadi 4 (empat) golongan sesuai dengan akibat yang dapat ditimbulkannya, yaitu Psikotropika Golongan I, II, III dan IV. 8. Tidak hanya psikotropika, akan tetapi zat atau bahan pemula atau bahan kimia (disebut juga prekursor psikotropika) yang dapat digunakan dalam pembuatan psikotropika juga termasuk kedalam objek pelarangan ekspor dan impor. Hal ini dipandang perlu mengingat penyalahgunaan

psikotropika yang semakin meluas dan berdimensi internasional dan untuk mencegah kemungkinan terjadinya penyalahgunaan bahan tersebut untuk pembuatan dan produksi psikotropika.Salah satu fungsi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai "border enforcement agency", adalah mencegah lalu-lintas ilegal barang-barang larangan yang dapat

membahayakan masyarakat, diantaranya pencegahan impor atau ekspor ilegal psikotropika. 9. Peraturan larangan dan pembatasan yang melindungi kepentingan kesehatan masyarakat, dilatarbelakangi sifatnya yang dapat

mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat serta lingkungan hidup. Beberapa komoditi yang termasuk dalam objek larangan dan pembatasan ini dapat mempengaruhi perilaku pemakai kearah negatif dan memiliki kecenderungan addiktif. Sebagai contoh, narkotika yang dapat

mempengaruhi pemakanya kearah perbuatan negatif dan destruktif. Lebih jauh, pelarangan dan pembatasan terhadap narkotika ini bertujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari kehancuran kesehatan, kahancuran kehidupan, kehancuran moral dan akhlak serta menurunkan kejahatan, bahka lebih jauh lagi dapat pula menghancurkan nilai-nilai budaya bangsa yang pada akhirnya akan dapat melemahkan ketahanan nasional. Tidak kalah pentingnya ialah pengawasan terhadap pentingnya ialah

pengawasan terhadap prekursor yaitu bahan-bahan kimia yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan narkotika dan psikotropika. Terhadap impor dan ekspor precursor dilakukan pengawasan lebih lanjut setelah mendapat persetujuan impor atau ekspor dari Pejabat Bea dan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

73

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Cukai. Pengawasan sebagaimana dimaksud dilakukan secara tertutup/ surveillance dan dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan dan Kantor Wilayah. Ada 15 jenis Prekursor yang diimpor atau diekspor yang wajib dilaporkan kepada Kepala Kantor Pabean. Laporan sebagaimana dimaksud sekurang-kurangnya memuat tentang, Nama, NPWP dan alamat perusahaan, yang mengimpor atau mengekspor, Jenis dan jumlah dari tiap jenis precursor, Nomor dan tanggal dokumen Impor (PIB)/ dokumen ekspor (PEB), Nomor dan tanggal Surat Persetujuan Impor (SPI) / Surat Persetujuan Ekspor(SPE), Negara Asal/ Negara Tujuan. 10. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menempatkan posisinya sebagai suatu organisasi yang memegang andil yang menuntut suatu sikap profesional dalam diri setiap pegawainya. Lancar tidaknya perdagangan atau arus lalu lintas barang sangat tergantung pada keahlian yang dimiliki oleh seorang pegawai Bea dan Cukai. 11. Bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan

Makanan (Ditjen POM) yang berada di bawah naungan Departemen Kesehatan, DJBC turut serta melakukan pengawasan terhadap obat, bahan baku obat dan alat kesehatan yang akan beredar di Indonesia. Perbedaan mendasar dari tugas Ditjen POM dengan DJBC itu sendiri adalah pada perbedaan waktu dan letak di mana obat, bahan obat dan alat kesehatan itu berada. Tugas utama dari Ditjen POM adalah mengawasi sediaan farmasi yang telah dan baru akan beredar di dalam negeri. 12. Tindak pidana yang dapat terjadi berkenaan dengan sediaan farmasi dan alat kesehatan dapat dibedakan berdasarkan dua peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia yaitu Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan bila tindak pidana itu terjadi dalam hal peristiwa terjadinya tindak pidana berlangsung di dalam wilayah Indonesia, dan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan bila tindak pidana itu terjadi dalam hal peristiwa terjadinya tindak pidana itu pada saat memasuki atau keluar dari Daerah Pabean Indonesia (sediaan farmasi dan alat kesehatan merupakan barang impor atau ekspor).

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

74

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


13. Pembangunan nasional merupakan pencerminan kehendak untuk terusmenerus meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia secara adil dan merata dalam segala aspek kehidupan serta

diselenggarakan secara terpadu, terarah, dan berkesinambungan dalam rangka mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur, baik material maupun spiritual. Segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman disebut Pangan. 14. Minuman yang beralkohol, yang lazim disebut sebagai minuman keras atau khamr adalah produk yang dihasilkan melalui proses fermentasi dengan menggunakan khamir (ragi sacharomyces cereviciae), pada bahan yang mengandung pati atau mengandung gula tinggi. Karena sifatnya, maka alkohol dimasukkan dalam barang yang dibatasi dan diawasi. Pada setiap kemasan atau botol Minuman Beralkohol golongan A, B dan C yang diproduksi untuk konsumsi di dalam negeri wajib dilengkapi label, lebel wajib menggunakan bahasa Indonesia, angka Arab dan huruf Latin dan sekurang-kurangnya memuat keterangan mengenai, nama produk; kadar alkohol; daftar bahan yang digunakan; berat bersih atau isi bersih; nama dan alamat pihak yang memproduksi; tanggal, bulan, dan tahun kadaluwarsa; pencantuman tulisan "Minuman

Beralkohol 15. Pembangunan nasional merupakan pencerminan kehendak untuk terusmenerus meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia secara adil dan merata dalam segala aspek kehidupan serta

diselenggarakan secara terpadu, terarah, dan berkesinambungan dalam rangka mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur, baik material maupun spiritual. Segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

75

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman disebut Pangan. 16. Minuman yang beralkohol, yang lazim disebut sebagai minuman keras atau khamr adalah produk yang dihasilkan melalui proses fermentasi dengan menggunakan khamir (ragi sacharomyces cereviciae), pada bahan yang mengandung pati atau mengandung gula tinggi. Karena sifatnya, maka alkohol dimasukkan dalam barang yang dibatasi dan diawasi. Pada setiap kemasan atau botol Minuman Beralkohol golongan A, B dan C yang diproduksi untuk konsumsi di dalam negeri wajib dilengkapi label, lebel wajib menggunakan bahasa Indonesia, angka Arab dan huruf Latin dan sekurang-kurangnya memuat keterangan mengenai, nama produk; kadar alkohol; daftar bahan yang digunakan; berat bersih atau isi bersih; nama dan alamat pihak yang memproduksi; tanggal, bulan, dan tahun kadaluwarsa; pencantuman tulisan "Minuman

Beralkohol 17. Untuk mencegah terjadinya dampak yang dapat merusak lingkungan hidup, kesehatan manusia, dan makhluk hidup lainnya diperlukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun secara terpadu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; 18. Pengaturan pengelolaan B3 bertujuan untuk mencegah dan atau mengurangi risiko dampak B3 terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya; 19. Metil Bromida ditetapkan sebagai salah satu bahan perusak lapisan ozon yang dilarang diproduksi dan diperdagangkan; mengingat Metil Bromida masih diperlukan sebagai fumigan untuk karantina, penggunaan di gudang dan pra pengapalan dan sesuai dengan pengecualian dari Copenhagen diperkenankan. Amandemen, Khusus penggunaan Bromida bahan No. tersebut HS. tetap

Metil

2903.30.000

diperkenankan untuk

diperdagangkan, sepanjang penggunaannya

sebagai fumigan untuk karantina, di gudang dan pra pengapalan. Metil Bromida yang diperdagangkan wajib mencantumkan label dengan tulisan digunakan hanya untuk karantina, di gudang dan pra pengapalan. Ekspor pasir laut ditetapkan menjadi komoditi yang diawasi tata niaga ekspornya. Pasir laut yang ditetapkan sebagai komoditi yang diawasi tata niaga

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

76

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


ekspornya dapat diubah menjadi komoditi yang dilarang ekspornya setelah mempertimbangkan usulan dari Tim Pengendali dan Pengawas Pengusahaan Pasir Laut. Ekspor pasir laut hanya dapat dilakukan oleh perorangan atau badan hukum setelah mendapatkan persetujuan ekspor dari menteri yang bertanggung jawab dibidang perindustrian dan perdagangan. Setiap pelanggaran atas kewajiban dalam pengusahaan pasir laut yang ditemukan dalam pelaksanaan operasi pengawasan ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagi bahan-bahan galian sepanjang terletak di lepas pantai, izin usaha pertambangannya diberikan oleh Menteri. 20. Pelumas disertai identitas Pelumas antara lain tentang klasifikasi mutu dan kekentalan, nama Perusahaan, Nomor Batch, NPT dan tujuan penggunaan yang ditempelkan dan/atau dituliskan pada kemasan tersebut. Laboratorium Uji adalah laboratorium yang mempunyai

kemampuan teknis dan tenaga ahli untuk melaksanakan pengujian mutu Pelumas dan telah mendapatkan akreditasi dari instansi yang berwenang. 21. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan; Limbah bahan berbahaya dan beracun, disingkat limbah B3, adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan

lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; 22. Selain itu, bahan nuklir harus dimiliki dan dikuasai oleh negara, sedangkan jual beli bahan tersebut sudah dilakukan secara internasional sehingga persyaratan yang harus dimiliki oleh negara akan menghambat perkembangan pemanfaatan tenaga nuklir.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

77

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


2.4. Test Formatif 2
Pilihlah jawaban yang saudara anggap paling benar, dengan cara memberi tanda bulatan atau lingkaran pada salah satu huruf yang tersedia didepan kalimat soal pilihan ganda.

1. Narkotika golongan I yaitu golongan narkotika yang mempunyai potensi sangat tinggi yang mengakibatkan ketergantungan, dan... a hanya dapat dipergunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan untuk terapi b berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi c berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi,

mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan d berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi

2. Zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat aktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku adalah... a b c d prekusor narkotika psikotropika obat tradisional

3. Zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam memproses pembuatan narkotika atau psikotropika adalah... a b c d bahan narkotik bahan psikotropika bahan obat narkotika dan psikotropika prekursor

4. Berdasarkan undang-undang no. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, dan peraturan pemerintah no. 72 tahun 1998 tentang penanganan sediaan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

78

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


farmasi dan alat kesehatan, yang dimaksud dengan sediaan farmasi adalah... a b c d obat, alat mendiagnosa bahan obat, instrumen kosmetika, dan obat tradisionil obat tradisionil, alat meringankan penyakit

5. Salah satu ketentuan impor sediaan farmasi dan alat kesehatan dilindungi oleh certificate of analysis dari instansi yang berwenang di negara pengekspor (pabrik yang memproduksi), mengirim contoh ke badan pengawas obat dan makanan (pom), bila tidak memiliki certificate of analysis maka pejabat bea dan cukai dapat mengambil contoh... a obat jadi masing-masing 5 bungkus, bahan obat masing-masing 50 sampai dengan 100 gram b obat jadi masing-masing 5 bungkus, bahan obat masing-masing 50 gram c obat jadi masing-masing 5 bungkus, bahan obat masing-masing 100 gram d obat jadi masing-masing 10 bungkus, bahan obat masing-masing 100 gram

6. Golongan minuman beralkohol, untuk golongan B adalah minuman beralkohol dengan kadar ethanol... a. dari 5% sampai dengan 20% b. lebih dari 5% sampai dengan 20% c. dari 10% sampai dengan 20% d. lebih dari 10% sampai dengan 20%

7. Barang-barang berbahaya bagi lingkungan hidup, meliputi... a b c d B3, limbah, dan radio aktif Non B3, B3, dan radio aktif Bahan-bahan berbahaya, Non B3, dan B3 Bahan-bahan berbahaya, limbah, dan radio aktif

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

79

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


8. Ada tiga macam importir limbah melakukan kegiatan impor di Indonesia, yaitu... a Importir umum limbah, importir produsen limbah B3, importir produsen limbah non B3 b Importir umum limbah, importir produsen limbah, importir produsen non limbah c Importir limbah, importir produsen limbah , importir produsen non limbah d Importir umum limbah, importir produsen limbah B3, importir limbah radio aktif

9. Berdasarkan Undang-undang no. 7 tahun 1996 tanggal 4 Nopember 1996 tentang pangan, Undang-undang no.23 th 1992 tentang kesehatan, dan peraturan pemerintah No. 329/Menkes/Per/1985 tentang makanan kadaluarsa, ketentuan impor makanan dan minuman sebelum impor harus didaftarkan dahulu pada badan POM, impor harus mendapatkan izin impor dari badan POM, dilampiri sertifikat kesehatan, dan dilampiri... a. nama perusahaan yang memproduksi b. negara asal barang yang di impor c. label dengan memuat keterangan yang jelas tentang obat tersebut d. nama perusahaan yang mengimpor

10. Ketentuan larangan dan pembatasan untuk mengimpor limbah beracun dan berbahaya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1999 yakni: a. Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan beracun dan berbahaya b. Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan berbahaya dan beracun. c. Setiap orang dilarang melakukan impor bahan berbahaya dan beracun. d. Setiap orang dilarang melakukan impor berbahaya bahan beracun dan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

80

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


2.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cocokkan hasil jawaban dengan kunci jawaban yang disediakan pada modul ini. Hitung jawaban Anda yang kedapatan benar. Kemudian gunakan rumus untuk mengetahui tingkat pemahaman terhadap materi. Perhatikan dan cocokan hasil jawaban Anda dengan hasil perhitungan sesuai rumus dengan hasil pencapaian prestasi belajar sebagaimana data pada kolom dibawa ini.

TP =

Jumlah Jawaban Yang Benar X 100% Jumlah keseluruhan Soal

Apabila tingkat pemahaman Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai 91 % 81 % 71 % 61 % s.d s.d. s.d. s.d. 100 % 90,00 % 80,99 % 70,99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang

Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori Baik), maka disarankan mengulangi materi.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

81

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


3. Kegiatan Belajar (KB) 3

KETENTUAN BARANG LARANGAN DAN PEMBATASAN (KBLP) UNTUK KEPENTINGAN PERLINDUNGAN FLORA, FAUNA, CITES, INDUSTRI PERDAGANGAN, KEUANGAN DAN KEBUDAYAAN

Indikator Keberhasilan : Setelah mempelajari materi diharapkan siswa mampu menjelaskan ketentuan barang larangan dan pembatasan untuk kepentingan perlindungan: flora, fauna, CITES, industri perdagangan, keuangan dan kebudayaan.

3.1. Uraian dan Contoh

A.

FLORA
Dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang

Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan pada tanggal 8 Juni 1992, dan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2002 Tanggal 23 April 2002 Tentang Karantina Tumbuhan, penyelenggaraan kegiatan karantina hewan, ikan dan tumbuhan di Indonesia telah mempunyai landasan hukum baru yang lengkap dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan, Setiap Media Pembawa yang dibawa atau dikirim dari suatu Area ke Area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia, wajib, dilengkapi Sertifikat Kesehatan Tumbuhan dari Area asal bagi tumbuhan dan bagian-bagiannya, kecuali Media Pembawa yang tergolong benda lain; melalui tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan; dilaporkan dan diserahkan kepada petugas Karantina Tumbuhan di tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran untuk keperluan tindakan Karantina Tumbuhan. Kewajiban dikenakan terhadap setiap Media Pembawa yang dibawa atau dikirim dari suatu Area yang tidak bebas ke Area lain yang bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina. Penetapan Area dilakukan oleh Menteri berdasarkan hasil survei dan pemantauan daerah sebar serta dengan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

82

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


mempertimbangkan hasil analisis resiko Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina. Setiap Media Pembawa yang akan dikeluarkan dari dalam wilayah Negara Republik Indonesia, apabila disyaratkan oleh negara tujuan wajib dilengkapi Sertifikat Kesehatan Tumbuhan dari tempat pengeluaran bagi tumbuhan dan bagian-bagiannya, kecuali Media Pembawa yang tergolong benda lain; melalui tempat-tempat pengeluaran yang telah ditetapkan; dilaporkan dan diserahkan kepada petugas Karantina Tumbuhan di tempat-tempat pengeluaran untuk keperluan tindakan Karantina Tumbuhan.

1) Pengertian
Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam nabati dalam keadaan hidup atau mati, baik belum diolah maupun telah diolah; Karantina Tumbuhan adalah tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dan tersebarnya Organisme Pengganggu Tumbuhan dari luar negeri dan dari suatu Area ke Area lain di dalam negeri atau keluarnya dari dalam wilayah Negara Republik Indonesia; Instalasi Karantina Tumbuhan yang selanjutnya disebut Instalasi Karantina adalah tempat beserta segala sarana yang ada padanya yang digunakan untuk melaksanakan tindakan Karantina Tumbuhan; Sertifikat Kesehatan Tumbuhan adalah surat keterangan yang dibuat oleh pejabat yang berwenang di negara atau Area asal/pengirim/transit yang menyatakan bahwa tumbuhan atau bagian-bagian tumbuhan yang tercantum di dalamnya bebas dari Organisme Karantina, Pengganggu Organisme Tumbuhan, Pengganggu Organisme Tumbuhan

Pengganggu

Tumbuhan

Karantina Golongan I, Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina Golongn II, dan/atau Organisme Pengganggu Tumbuhan Penting serta telah memenuhi persyaratan Karantina Tumbuhan yang ditetapkan dan/atau menyatakan keterangan lain yang diperlukan;

2) Tindakan Karantina Tumbuhan


Setiap Media Pembawa yang dimasukkan ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia dikenakan tindakan Karantina Tumbuhan. Setiap Media

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

83

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Pembawa yang dibawa atau dikirim dari suatu Area yang tidak bebas ke Area lain yang bebas di dalam wilayah Negara Republik Indonesia dikenakan tindakan Karantina Tumbuhan. Setiap Media Pembawa yang akan dikeluarkan dari wilayah Negara Republik Indonesia dikenakan tindakan Karantina Tumbuhan apabila disyaratkan oleh negara tujuan. Tindakan Karantina Tumbuhan dilakukan oleh petugas Karantina Tumbuhan berupa pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan,

penahanan, penolakan, pemusnahan dan pembebasan. Pemeriksaan meliputi, pemeriksaan administratif untuk mengetahui kelengkapan, kebenaran isi, dan keabsahan dokumen persyaratan; dan pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi kemungkinan adanya Organisme Pengganggu Tumbuhan dan/atau Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina. Pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan secara visual dan/atau laboratoris. Apabila setelah dilakukan pemeriksaan ternyata Media Pembawa tersebut: tidak bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina Golongan II, maka terhadap Media Pembawa tersebut dilakukan perlakuan di atas alat angkut; tidak bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina Golongan I, busuk, rusak atau merupakan jenis-jenis yang dilarang pemasukannya, maka terhadap Media Pembawa tersebut dilakukan penolakan dan dilarang diturunkan dari alat angkut yang membawanya; bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina, maka Media Pembawa tersebut dapat diturunkan dari alat angkut yang membawanya. Dokumen tindakan Karantina Tumbuhan yang wajib segera disampaikan kepada Pemilik dan/atau pihak lain yang berkepentingan antara lain : Surat Keterangan Masuk Karantina ; Sertifikat Pelepasan Karantina Tumbuhan Luar Negeri; Sertifikat Pelepasan Karantina Tumbuhan Domestik; Sertifikat Karantina Tumbuhan Domestik; Phytosanitary Certificate; Phytosanitary Certificate for Re-Export; Fumigation Certificate; Berita Acara Pemusnahan;

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

84

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Surat Penahanan; Surat Penolakan; Laporan Pemeriksaan Kapal; Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan.

B.

FAUNA

1) Karantina Hewan
Perlindungan terhadap kesehatan masyarakat verteriner sangat

diutamakan salah satunya dengan adanya Sertifkasi hewan atau sertifikasi sanitasi. Tindakan yang tegas juga sangat diperlukan dalam hal terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku. Persyaratan Karantina, meliputi memasukkan ke dalam wilayah Negara RI, media pembawa yang dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia, dan media pembawa yang akan dikeluarkan dari wilayah negara Republik RI Wewenang dan tanggung jawab tindakan karantina berada pada dokter hewan karantina. Pelaksanaan tindakan karantina oleh dokter hewan karantina harus berdasarkan tanggung jawab profesi sebagai dokter hewan. Paramedik karantina dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada dokter hewan karantina. Pemasukan media pembawa harus disertai sertifikat

kesehatan, sertifikat sanitasi, atau surat keterangan asal dan persyaratan dokumen karantina, dilengkapi juga keterangan mutasi muatan untuk hewan, keterangan tidak terjadi kontaminasi selama dalam perjalanan atau catatan suhu untuk bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan yang dipersyaratkan diangkut dalam suhu tertentu dari penanggung jawab alat angkut ; Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2000 Tanggal 19 September 2000 Tentang Karantina Hewan. Tempat pemasukan dan tempat pengeluaran adalah pelabuhan laut, pelabuhan sungai dan danau, pelabuhan penyeberangan, bandar udara, kantor pos, pos perbatasan dengan negara lain dan tempat-tempat lain yang ditetapkan sebagai tempat untuk memasukkan dan atau mengeluarkan media pembawa.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

85

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Hama dan penyakit hewan karantina yang selanjutnya disebut hama penyakit hewan karantina adalah semua hama, hama penyakit, dan penyakit hewan yang berdampak sosio-ekonomi nasional dan perdagangan internasional serta menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat veteriner yang dapat digolongkan menurut tingkat risikonya. a. Hama penyakit hewan karantina golongan I adalah hama penyakit hewan karantina yang mempunyai sifat dan potensi penyebaran penyakit yang serius dan cepat, belum diketahui cara penanganannya, belum terdapat di suatu area atau wilayah negara Republik Indonesia. b. Hama penyakit hewan karantina golongan II adalah hama penyakit hewan karantina yang potensi penyebarannya berhubungan erat dengan lalu lintas media pembawa, sudah diketahui cara penanganannya dan telah dinyatakan ada di suatu area atau wilayah negara Republik Indonesia.

2) Persyaratan Karantina
Media pembawa yang dimasukkan ke dalam wilayah Negara RI, wajib : dilengkapi sertifikat kesehatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang di negara asal dan negara transit; dilengkapi surat keterangan asal dari tempat asalnya bagi media pembawa yang tergolong benda lain; melalui tempat-tempat pemasukan yang telah ditetapkan; dan dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat

pemasukan untuk keperluan tindakan karantina. Media pembawa yang dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia, wajib : dilengkapi sertifikat kesehatan yang diterbitkan oleh dokter hewan karantina dari tempat pengeluaran dan tempat transit; dilengkapi surat keterangan asal dari tempat asalnya bagi media pembawa yang tergolong benda lain; melalui tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah

ditetapkan; dan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

86

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat

pemasukan dan pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina. Media pembawa yang akan dikeluarkan dari wilayah negara Republik RI, wajib : dilengkapi sertifikat kesehatan yang diterbitkan oleh dokter hewan karantina di tempat pengeluaran; dilengkapi surat keterangan asal dari tempat asalnya bagi media pembawa yang tergolong benda lain; melalui tempat-tempat pengeluaran yang telah ditetapkan; dan dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat

pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina.

3) Pemasukan
Rencana pemasukan media pembawa oleh pemilik disampaikan kepada petugas karantina. Media pembawa yang dimasukkan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia dari luar negeri atau ke dalam suatu area dari area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia harus diperiksa kelengkapan, kebenaran isi dan keabsahan dokumen karantina serta kesehatannya oleh dokter hewan karantina di atas alat angkut sebelum diturunkan atau melewati tempat pemasukan. Jika pemeriksaan kesehatan tidak dapat dilakukan di atas alat angkut, pemeriksaan dapat dilakukan setelah media pembawa diturunkan atau melewati tempat pemasukan dengan ketentuan pemeriksaan pendahuluan telah selesai dilakukan, kecuali untuk hewan yang berstatus sebagai barang muatan. Khusus untuk media pembawa yang dibawa oleh penumpang, pemeriksaan dapat dilakukan setelah diturunkan dari alat angkut atau melewati tempat pemasukan. Selain persyaratan dokumen karantina, pemasukan media pembawa harus dilengkapi, keterangan mutasi muatan untuk hewan, keterangan tidak terjadi kontaminasi selama dalam perjalanan atau catatan suhu untuk bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan yang dipersyaratkan diangkut dalam suhu tertentu dari penanggung jawab alat angkut ; dan atau dokumen lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jika pemasukan media

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

87

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


pembawa tidak disertai sertifikat kesehatan, sertifikat sanitasi, atau surat keterangan asal maka media pembawa tersebut ditolak pemasukannya. Media pembawa yang ditolak pemasukannya dapat dilakukan penahanan, apabila, pemiliknya menjamin sertifikat kesehatan hewan, sertifikat sanitasi, atau surat keterangan asal, dapat ditunjukkan dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari; media pembawa tersebut bukan berasal dari negara, area, atau tempat yang pemasukannya dilarang; dan pada pemeriksaan di atas alat angkut menurut pertimbangan dokter hewan tidak ditemukan adanya gejala hama penyakit hewan karantina golongan I dan risiko penularan hama penyakit hewan karantina golongan II.

4) Perikanan
Berdasarkan Undang-Undang No.9 Tahun 1985 Tanggal 19 Juni 1985 Tentang Perikanan. Perairan yang merupakan bagian terbesar wilayah Negara Republik Indonesia dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia mengandung sumber daya ikan yang sangat potensial dan penting arti, peranan, dan manfaatnya sebagai modal dasar dan pembangunan untuk mengupayakan Dalam rangka peningkatan pelaksanaan

kesejahteraan

kemakmuran

rakyat;

pembangunan nasional dengan Wawasan Nusantara pengelolaan sumber daya ikan perlu dilakukan sebaik-baiknya berdasarkan keadilan dan pemerataan dalam pemanfaatannya dengan mengutamakan perluasan kesempatan kerja dan peningkatan taraf hidup bagi nelayan dan petani ikan kecil serta terbinanya kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya yang akan meningkatkan ketahanan nasional; Perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan

pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan; Sumber daya ikan adalah semua jenis ikan termasuk biota perairan lainnya, Usaha perikanan adalah semua usaha perorangan atau badan hukum untuk menangkap atau

membudidayakan ikan, termasuk kegiatan menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan ikan untuk tujuan komersial; Penangkapan ikan adalah kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan,

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

88

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


mengolah atau mengawetkannya; Kapal perikanan adalah kapal atau perahu atau alat apung lainnya yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan ikan, termasuk untuk melakukan survai atau eksplorasi perikanan.

5) Ketentuan Pidana Kejahatan


Tindak pidana berupa Barangsiapa di dalam wilayah perikanan Republik Indonesia Wilayah perikanan Republik Indonesia meliputi Perairan Indonesia; Sungai, danau, waduk, rawa, dan genangan air lainnya di dalam wilayah Republik Indonesia; melakukan usaha perikanan di bidang penangkapan ikan tanpa izin. Setiap orang atau badan hukum yang melakukan usaha perikanan diwajibkan memiliki izin usaha perikanan. Nelayan dan petani ikan kecil atau perorangan lainnya yang sifat usahanya merupakan mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tidak dikenakan kewajiban memiliki izin usaha perikanan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 (lima) tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), apabila dalam kegiatannya menggunakan kapal bermotor berukuran 30 (tiga puluh) gros ton atau lebih; dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 25.000.000,(dua puluh lima juta rupiah), apabila dalam kegiatannya menggunakan kapal bermotor berukuran kurang dari 30 (tiga puluh) gros ton. adalah kejahatan.

6) Ketentuan Pidana Pelanggaran


Tindak pidana berupa Barangsiapa di dalam wilayah perikanan Republik Indonesia Wilayah perikanan Republik Indonesia meliputi Perairan Indonesia; Sungai, danau, waduk, rawa, dan genangan air lainnya di dalam wilayah Republik Indonesia; melakukan usaha perikanan di bidang pembudidayaan ikan tanpa izin Setiap orang atau badan hukum yang melakukan usaha perikanan diwajibkan memiliki izin usaha perikanan. Nelayan dan petani ikan kecil atau perorangan lainnya yang sifat usahanya merupakan mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tidak dikenakan kewajiban memiliki izin

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

89

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


usaha perikanan, dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 5.000.000,-. Yang dimaksud dengan semua jenis ikan termasuk biota perairan lainnya adalah : Pisces (ikan bersirip); Crustacea (udang, rajungan, kepiting dan sebangsanya); Mollusca (kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, siput dan sebangsanya); Coelenterata (ubur-ubur dan sebangsanya); Echinodermata (tripang, bulu babi dan sebangsanya); Amphibia (kodok dan sebangsanya); Reptilia (buaya, penyu, kura-kura, biawak, ular air dan sebangsanya); Mammalia (paus, lumba-lumba, pesut, duyung dan sebangsanya); Algae (rumput laut dan tumbuh-tumbuhan lain yang hidupnya di dalam air); Biota perairan lainnya yang ada kaitannya dengan jenis-jenis tersebut di atas; semuanya termasuk bagian-bagiannya.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

90

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


C. CITES
Sejak dahulu kita ketahui bahwa banyak sekali aneka ragam flora dan fauna di dunia ini yang apabila dijadikan sebagai komoditas ekspor impor maka akan memiliki nilai jual yang sangat tinggi.Hal ini membuat sebagian besar para pengusaha dari negara maju untuk cenderung melakukan jual beli dengan para penjual flora dan fauna di suatu negara yang memiliki flora dan fauna yg menjadi ciri khas dari negaranya tersebut,yang memang tidak didapat di negara dari si pengusaha. Sebagai contoh; suatu perusahaan pabrik sepatu ternama di Amerika menggunakan kulit buaya Asia yg berasal Indonesia sebagai bahan baku dalam proses pembuatan, sedangkan di lain pihak spesies buaya Asia tersebut semakin terancam kelestarian hidupnya akibat dari ketidakseimbangan ekosistemnya karena jumlah buaya yg mati terbunuh untuk diambil kulitnya untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan sepatu tersebut tidak seimbang dengan jumlah kelahiran anak buaya yg memang masa perkembangbiakannya relatif lama, sehingga dengan kata lain hal ini mempengaruhi proses regenerasi dalam spesiesnya. Hal ini disebabkan karena adanya oknum yang terlibat dalam kegiatan ini, sehingga tak jarang dari kedua belah pihak tersebut juga cenderung menggunakan cara yang tidak legal yaitu dengan penggelapan pengiriman (penyelundupan), ataupun dalam hal transaksi jual belinya. Sebagai contoh lain, kegiatan ekspor impor komoditas ular cobra yg hendak dimanfaatkan darahnya sebagai bahan dasar ramuan obat kuat yg paling digemari oleh masyarakat di negara-negara Asia saat ini. Ada juga kegiatan ekspor impor gading gajah afrika yang biasanya digunakan untuk pajangan bagi orang-orang yg kaya saja. Sangatlah ironis bila disatu sisi hal ini menguntungkan kepentingan pribadi atau golongan tetapi di lain sisi sangat merugikan kepentingan suatu bangsa atau negara.Bahkan dampak lain yang lebih menakutkan dari masalah ini adalah menyangkut ekosistem dunia. Bila ular punah maka perkembangbiakan tikus akan sulit terbedung karena adanya kepincangan dalam rantai makanan. Bahkan tidak mustahil bila akan muncul wabah penyakit yg disebabkan oleh tikus.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

91

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


1) Pengertian
Berikut ini juga adalah definisi-definsi dari istilah-istilah yang berkaitan dengan CITES; antara lain:

a. Spesies : semua jenis, anak jenis dan populasi yang terpisah secara geografis diseluruh dunia. b. Specimen: binatang atau tumbuhan, hidup atau mati, atau semua bagianbagian yang masih dapat dikenal atau derivate jenis tumbuh-

tumbuhan/binatang. c. Bagian : kulit atau bagian dari kulit, tulang, atau kerangka tempurung, tanduk, gading dan gigi, bulu, telur, daging dan kayu. d. Derivat : darah, urine, musk, obyek yang terbuat dari bagian ( contoh: tut piano, alat musik dari rosewood, perabotan dari tempurung penyu, tas, jaket bulu, ikat pinggang, tali, jam, sepatu, sarung tangan dll) parfum dari spesies C I T E S juga obat-obatan dari spesies C I T E S. e. Tumbuhan : semua jenis sumber daya alam nabati, baik yang hidup didarat maupun di dalam lautan. f. Satwa : semua jenis sumber daya alam hewani, baik yang hidup didarat dalam laut ataupun di udara.

Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Flora and Fauna (CITES) ialah konvensi tingkat Internasional yang mengatur tentang perdagangan spesies flora dan fauna yang terancam punah. Di Indonesia sendiri CITES telah diratifikasi dengan Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978 pada tanggal 15 Desember 1978, dengan demikian 3 bulan sejak tanggal Keputusan Presiden itu (Maret 1979) Indonesia menerima isi dari konvensi tersebut. Sekretariat CITES berkedudukan di SwissCITES secara historical berhubungan langsung dengan World Wild Fauna(WWF) dan IUCN. Berikut ini juga adalah tahap-tahap yang harus diperhatikan dalam penyusunan sertifikat C I T E S; yaitu: a. Harus dibuat dalam satu bahasa, Inggris, Perancis, dan Spanyol

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

92

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


b. Bahasa nasional negara penerbit ijin boleh ditambahkan sebagai tambahan atau bisa diterima jika terjemahan dari tiap judul tiap-tiap kata dibuat dibawahnya. c. Harus berisi uraian dari specimen dalam salah satu bahasa dari ketiga bahasa tsb. d. Tidak boleh ada perubahan, perubahan hanya dapat dilakukan secara otentik dengan membubuhkan stempel dan tanda tangan. e. Harus menunjuk dengan jelas annex-nya dan jumlah lembar harus berisikan, jumlah lembar izin dari sertifikat dan tanggal penerbitan, Tanda tangan dan stempel dari penguasa yang berhak mengeluarkan dokume f. Dalam konvensi CITES ini akhirnya ditetapkan pembagian flora dan fauna. Pembagian ini berdasarkan atas tingkat kelangkaan yang secara garis besar diklasifikasikan kedalam 3(tiga) appendiks , yaitu:

Appendiks I

i. Terdiri dari jenis flora fauna yang dianggap sangat langka (endangered) dan terancam punah, sehingga pemanfaatannya harus diawasi secar ketat. ii. Dilarang untuk diperadagangkan baik dalam keadaan hidup maupun mati. iii. Pemanfaatan hanya boleh dipergunakan untuk kegiatan konservasi, penelitian dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan,

pendidikan, hadiah kenegaraan, dan hasil penangkaran dari generasi kedua. iv. Jumlah jenis flora dan fauna dalam appendiks ini sebanyak, 420 spesies, 22 genus, 17 familia, dan 4 ordo

Appendiks II

i. Terdiri dari jenis flora dan fauna yang tidak terancam punah. ii. Dapat diperdagangkan tetapi perlu diatur secara ketat agar tidak mengancam ke kepunahan.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

93

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


iii. Sistem perdagangan harus berdasarkan penjatahan (quota) yang ditentukan oleh masing-nasing negara peserta sesuai dengan tingkat kelestarian dan perkembangbiakan dari jenis flora dan fauna tersebut yang hendak akan diperdagangkan. iv. Jumlah jenis flora dan fauna dalam Appendiks ini sebanyak, 144 spesies, 40 genus, 17 familia, dan 4 ordo

Appendiks III

i. Terdiri dari jenis flora dan fauna yang dianggap sangat langka bagi geografis atau Negara. ii. Dilaporkan setiap kali diadakan sidang pleno. iii. Jenis flora dan fauna ini mendapat perlindungan khusus dari Negara anggota C I T E S. iv. Jumlah jenis flora dan fauna dalam Appendiks ini sebayak 235 spesies.

Berikut adalah berbagai jenis satwa yang dilindungi berdasarkan keputusan dari CITES, antara lain: a. Kelompok Mamalia : 70 jenis, contohnya Anoa, Babi Rusa, Lumba-lumba air laut, Malu-malu,Harimau Sumatra, Kera Hitam Sulawesi, Bilou, Owa Jawa dsb. b. Kelompok Aves : 93 jenis, contohnya Elang Trulek ekor putih, Elang Jawa, Cendrawasih Botak, Cendrawasih Merah, Kakaktua Raja, Burung Walet, Kasuari c. Kelompok Reptilia: 31 jenis, contohnya Tutong, Kura-kura Irian, Penyu Hijau, Penyu Sisik,Komodo dsb. d. Kelompok Pisces: 7 jenis,contohnya Peyang Malaya, Balida Jawa, Arwana Merah e. Kelompok Insect : 20 jenis, contohnya Kupu-kupu Sayap dsb. f. Kelompok Coral : 16 jenis, contohnya Akar Bahar dsb.

g. Kelompok Bivalvia : 14 jenis, contohnya Ketam Kelapa, Siput Hijan dsb.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

94

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Daftar fauna yang dilindungi secara lengkap tercantum pada Peraturan Permerintah Nomor 7 Tahun 1999. Disamping satwa, sebagian tumbuhan atau flora juga termasuk kedalam kelompok yang dilindungi, yaitu: a. Kelompok Palmae:14 jenis,contoh Palem Raja, Bunga Bangkai (raflessia arnoldi) b. Kelompok Raflessiaceae: 1 jenis, Bunga Padma. c. Kelompok Orchidaceae: 20 jenis, contohnya Anggrek Kebutan, anggrek kalajengking, Anggrek Bulan d. Kelompok Nephentaceae: 29 jenis,contohnya Kantung Semar. e. Kelompok Dipterocarpaceae: 13 jenis,contohnya Tengkawang.

Sanksi terhadap pelanggaran ketentuan diatas adalah pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta. Jika perbuatan diatas dilakukan karena kelalaian maka sanksinya adalah pidana kurungan paling lama 1 tahun dan denda paling banyak Rp. 50 juta. Segala sesuatu tentang flora dan fauna yang berkaitan dengan ketentuan ekspor, a.l. a. Satwa yang tidak dilindungi: Eksportir mengajukan permohonan kepada Direktorat Jenderal

Perlindungan Hutan Dan Pelestarian Alam. Dalam Surat Permohonan harus dilengkapi dengan: Fotokopi order dari pemesan di luar negeri. Surat ijin memelihara satwa yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan Dan Pelestarian Alam. Khusus ekspor kera, beruk, lutung,siriliharus dilengkapi dengan foto. Eksportir juga harus memenuhi ketentuan pabean. b. Satwa yang dilindungi: Yang Termasuk Dalam Appendiks I CITES, diperlukan Ijin Dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan Dan Pelestarian Alam, Yang Termasuk Dalam Appendiks II CITES, Diperlukan ijin dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan Dan Pelestarian Alam saja. Yang temasuk dalam Appendiks III CITES, diperlukan persyaratan yang sama seperti dengan flora dan fauna dalam Appendiks I CITES.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

95

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


2) Dalam lingkup nasional.
Indonesia menerapkan ketentuan larangan yang tertera dalam peraturan tentang perlindungan flora dan fauna antara lain: a. Setiap orang dilarang untuk mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagin-bagiannya baik dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain didalam atau diluar Indonesia. b. Setiap orang dilarang mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ketempat lain didalam atau diluar Indonesia. c. Setiap orang dilarang mengeluarkan kulit, tubuh, dan atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagianbagian satwa tersebut dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain baik di dalam atau diluar Indonesia.

Sanksi terhadap pelanggaran ketentuan diatas adalah pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp100 juta. Jika perbuatan diatas dilakukan karena kelalaian maka sanksinya adalah pidana kurungan paling lama 1(satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 50 juta.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

96

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


D. PENGGOLONGAN BARANG EKSPOR
Pemerintah melalui instansi terkait telah berupaya meningkatkan kegiatan perdagangan luar negeri melalui ekspor dan impor. Namun upaya pemerintah tersebut dipandang belum maksimal, karena pelaku ekspor dan impor masih menghadapai berbagai permasalahan yang menyebabkan biaya tinggi dalam kegiatan ekspor dan impor. Akibatnya, produk nasional semakin tidak kompetitif di pasar luar negeri. Beberapa permasalahan yang dihadapi tersebut antara lain; pembiayaan, ketenagakerjaan, kepelabuhan dan kepabeanan, efisiensi pabrik dan industri, energi, perpajakan, hukum dan keamanan. Terhadap permasalahan tsb maka dipandang perlu segera diselesaikan. Untuk itu pemerintah melalui Tim Koordinasi Peningkatan Kelancaran Arus Barang Ekspor dan Impor ( Keputusan Presiden Nomor 54 Tahun 2002) telah melakukan pembahasan khususnya yang menyangkut permasalahan kepabeanan dan kepelabuhan Di Kantor Pabean yang termasuk Kantor Pelayanan Utama sejak 1 Mei 2004, PEB sudah EDI dan paperless. Ijin ekspor dari bea dan cukai dengan Persetujuan Ekspor dicetak di kantor eksportir atau PPJK tidak dengan fiat dokumen PEB. Pengawalan Barang tersebut berhubungan dengan fasilitas yang diberikan Bea dan Cukai karena permohonan importir, misalnya pengawalan barang yang akan ditimbun atau diperiksa di gudang importir, hal ini dibenarkan dalam Undang-undang Kepabeanan. Penjelasan pasal 81(2) Undang-undang Kepabeanan, Ketentuan tersebut memberikan kewajiban kepada pengangkut atau pengusaha yang bersangkutan untuk memberikan bantuan kepada Pejabat Bea dan Cukai yang ditugaskan, karena di tempat tersebut tidak tersedia akomodasi, agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, antara lain berupa tempat atau ruang kerja, akomodasi, serta makanan dan minuman yang cukup. Keputusan menteri Perindustrian Dan Perdagangan Nomor

558/Mpp/Kep/1 2/1998 Tanggal 4 Desember 1998 Tentang Ketentuan Umum Di Bidang Ekspor Menteri Perindustrian Dan Perdagangan Republik Indonesia. Dalam rangka reformasi ekonomi nasional dan untuk-meningkatkan daya saing, peningkatan ekspor serta menjamin kepastian dan kesinambungan bahan baku industri kecil dan menengah, dipandang perlu menyempurnakan Ketentuan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

97

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Umum di Bidang Ekspor dengan mengubah status jenis barang tertentu yang semula termasuk kelompok barang yang dilarang dan bebas ekspornya menjadi kelompok barang yang diatur ekspornya, barang yang diawasi ekspornya, dan barang yang dilarang ekspornya. Ekspor dapat dilakukan oleh setiap perusahaan atau perorangan yang telah memiliki Tanda Daftar Usaha Perdagangan (TDUP) / Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP); atau Ijin Usaha dan Departemen Teknis/Lembaga Pemerintah Non Departemen berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP). Setiap eksportir yang melakukan ekspor Barang yang Diatur Ekspornya harus rnempunyai persyaratan dan telah mendapat pengakuan sebagai Eksportir Terdaftar dari Menteri Perindustrian dan Perdagangan, dalam hal ini Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri. Setiap eksportir yang melakukan ekspor Barang yang Diawasi Ekspornya harus memenuhi persyaratan dan telah mendapat persetujuan ekspor dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan dalam hal ini Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan atau Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kimia dengan mempertimbangkan usulan dan Direktur Pembina Teknis yang

bersangkutan di lingkungan Departemen Perindustrian dan Perdagangan dan atau instansi/Departemen lain yang terkait. Pembayaran ekspor dapat dilakukan dengan Letter of Credit (L/C) atau dengan cara pembayaran lain yang lazim berlaku dalam perdagangan internasional sesuai kesepakatan antara penjual dan pembeli, kecuali untuk jenis barang tertentu sistim pembayarannya hanya dapat dilakukan dengan Sight L/C.Terhadap barang ekspor tertentu, Menteri Perindustrian dan Perdagangan dalam hal ini Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri menetapkan Harga Patokan Ekspor secara berkala sebagai dasar perhitungan Pajak Ekspor.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

98

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Penggolongan barang ekspor menurut deperindag:

1) Barang yang diatur ekspornya


Barang yang diatur ekspornya adalah barang yang ekspornya hanya dapat dilakukan oleh eksportir terdaftar. Barang tersebut adalah : a. amoniak, khusus untuk ekspor tujuan negara eropa ,

b. tekstil, dan produk tekstil, khusus untuk ekspor tujuan negara kuota (USA, Uni Eropa, Canada, Norwegia, dan Turki) c. lembaran kayu venir, dan lembaran kayu lapis d. kopi

2) Barang yang diawasi ekspornya


Barang yang diawasi ekspornya adalah barang yang ekspornya hanya dapat dilakukan dengan persetujuan Memperindag atau pejabat yang ditunjuknya a. sapi, sapi bibit, dan kerbau b. ikan dalam keadaan hidup : ikan dan anak ikan napoleon wrasse (cheilinus undulatus) benih ikan bandeng (nener) ikan dan anak arwana jenis sclerophages jardini c. inti kelapa sawit (palm kernel) d. minyak dan gas bumi e. pupuk urea f. kulit buaya dalam bentuk wet blue

g. satwa liar dan tumbuhan alam yg dilindungi yg termasuk dalam appendix 2 cites h. perak dalam segala bentuk kecuali dalam bentuk perhiasan i. j. emas dalam segala bentuk kecuali dalam bentuk perhiasan limbah dan scrap ferro hasil peleburan skrap besi atau baja (khusus yang berasal dari wilayah pulau Batam) k. limbah dan skrap dari : baja stainless tembaga

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

99

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


kuningan aluminium

3) Barang yang dilarang ekspornya


Barang yang dilarang ekspornya adalah barang yang tidak boleh diekspor a. ikan dalam keadaan hidup: ikan dan anak ikan arwana jenis sclerophages formosus benih ikan sidat (anguila ssp) di bawah ukuran 5 mm ikan hias air tawar jenis botia macracanthus ukuran 15 cm ke atas udang galah air tawar di bawah ukuran 8 cm induk dan calon induk udang panaeidae b. karet bongkah c. bahan-bahan remiling berupa : slabs, lumps, scraps, karet tanah unsmoked sheets blnaked sheets smoked lebih rendah dari kualitas iv flat bark crepe remilled 4 cutting c blanked d. Off d. kulit mentah, picklet dan wet blue dari binatang melata, kecuali kulit buaya dalam bentuk wet blue

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

100

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


E. PEMBAWAAN UANG
Di era perubahan ini, banyak sekali yang memerlukan penyesuaian dalam negara kita, krisis moneter yang melanda negeri kita ini telah banyak membuat perubahan pada negara kita sehingga banyak terjadi krisis ketidakpercayaan dari investor asing kita, bahkan masyarakat pun kini juga berubah penilaian pada mata uang Rupiah kita. Setelah hampir sepuluh tahun berjalan, nilai Rupiah kita yang dulu sempat anjlok kini sudah mulai mengalami perbaikan hingga titik yang berjalan stabil seperti sekarang ini. Kinerja Direkorat Jendral Bea dan Cukai sejalan dengan kondisi negara kita yang berusaha memelihara kestabilan nilai Rupiah maka Direktorat Jendral Bea dan Cukai juga lebih dituntut untuk mengawasi lalu-lintas mata uang Rupiah yang masuk atau keluar dari daerah pabean Indonesia karena perdagangan uang Rupiah dengan cara pembawaan fisik secara lintas batas negara dapat menggangu Kebijakan Moneter pemerintah. Selain itu, dengan banyaknya pembawaan fisik secara lintas batas negara dikhawatirkan akan dijadikan lahan subur bagi tindak pidana pemalsuan uang maupun tindak pidana pencucian uang dan inipun merupakan tugas mulia bagi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam pengawasannya. Dalam hal pengawasan terhadap lalu-lintas peredaran uang dan pengawasan terhadap uang palsu, ketentuan tersebut diatur oleh Bank Indonesia sebagai bank sentral negara. Ketentuan mengenai hal tersebuat sebelumnya telah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/18/PBI/2001 mengenai persyaratan dan tata cara membawa Uang Rupiah keluar atau masuk wilayah pabean Republik Indonesia namun karena peraturan tersebut dirasa sudah tidak sesuai dengan situasi dan kondisi serta kebutuhan hukum dalam masyarakat, maka peraturan tersebut diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/8/PBI/2002 mengenai Persyaratan dan Tata Cara Membawa Uang Rupiah Keluar Atau Masuk Wilayah Pabean Republik Indonesia, sedangkan dalam intansi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, ketentuan pengawasan tersebut diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 70/BC/2004 tentang Tata Laksana Pengeluaran atau Pemasukan Uang Tunai Dari atau Ke dalam Daerah Pabean Republik Indonesia.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

101

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


1) Pengertian
Uang Rupiah adalah uang kertas maupun uang logam yang merupakan alat pembayaran yang sah di wilayah negara Republik Indonesia. Membawa Uang Rupiah adalah mengeluarkan atau memasukkan Uang Rupiah yang dilakukan dengan cara membawa sendiri atau melalui pihak lain dengan atau tanpa menggunakan sarana pengangkut. Sebagi bank sentral negara, Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga keuangan yang mempunyai otoritas untuk mengedarkan uang dan juga mengontrol peredarannya. Namun begitu, pengawasan terhadap lalu-lintas uang Rupiah terutama dalam hal pembatasan nilai Rupiah yang boleh dibawa keluar atau masuk kedalam daerah pabean diserahkan kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai garda terdepan di perbatasan negara. Pada awal tahun 1997, nilai Rupiah mengalami kemerosotan yang drastis dan hal ini menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat untuk

menggunakan uang Rupiah sehingga terjadilah krisis moneter di Indonesia. Akibat krisis moneter ini, banyak anggota masyarakat yang berusaha untuk membawa uang Rupiah ke luar negeri untuk ditukar dengan mata uang asing lainnya. Pada saat itu ada kecenderungan masyarakat untuk membawa uang Rupiah ke negara terdekat yaitu Singapura dengan berbagai dalih. Dengan aktivitas seperti ini, dapat dipastikan bahwa hal ini justru membuat nilai Rupiah semakin jatuh dan lebih mempercepat laju inflasi keuangan dan ekonomi negara. Untuk menghindari gangguan terhadap stabilitas nilai Rupiah sekaligus untuk mencegah bertambahnya masalah akibat krisis moneter, terhadap pembawaan uang Rupiah dalam bentuk tunai yang umumnya dibawa ke luar daerah pabean, dilakukan penegahan. Penegahan yang dilakukan oleh Direkrorat Jenderal Bea dan Cukai ini dilaksanakan sejak bulan Januari 1998, namun akhirnya penegahan-penegahan ini menimbulkan banyak reaksi

masyarakat baik yang bersifat pro terhadap tindakan ini maupun reaksi yang bersifat kontra. Selajutnya, ketika lahir Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, maka Peraturan Bank Indonesia Nomor 3 Tahun 2001 tersebut diganti dengan Peraturan Bank Indoneia Nomor 4/8/PBI/2002 tentang Persyaratan dan Tata Cara Membawa Uang Rupiah Keluar atau Masuk

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

102

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Wilayah Pabean Republik Indonesia. Dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/8/PBI/2002 ini, persyaratan dan tata cara membawa uang Rupiah tunai yang diatur didalamnya adalah sebagai berikut: i. setiap orang yang membawa Uang Rupiah sebesar Rp.100.000.000,(seratus juta Rupiah) atau lebih keluar dari wilayah pabean Republik Indonesia, wajib terlebih dahulu mendapat izin dari Bank Indonesia. ii. Setiap orang yang membawa Uang Rupiah sebesar Rp.100.000.000,(seratus juta Rupiah) atau lebih masuk wilayah pabean Republik Indonesia, wajib terlebih dahulu memeriksakan kaslian uang tersebut kepada petugas Bea dan Cukai di tempat kedatangan.

Bila kita perhatikan lebih lanjut terhadap ketentuan diatas, maka kita akan menemukan bahwa selain jumlah uang Rupiah yang boleh dibawa lebih banyak daripada peraturan sebelumnya, di Peraturan Pemerintah Nomor 4/8/PBI/2002 ini juga terdapat ketentuan bahwa uang yang dibawa masuk ke daerah pabean harus diperiksakan keasliannya terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa peraturan yang dibuat telah disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang dalam hal pengawasan terhadap masuknya uang palsu ke daerah pabean Indonesia. Selain itu, untuk lebih memperkuat pengawasan atas peraturan dari Bank Indonesia, Direktur Jenderal Bea dan Cukai sebelumnya menerbitkan Keputusan Dirjen Bea dan Cukai Nomor Kep-70/BC/2001 yang didalamnya disebutkan bahwa setiap orang yang membawa uang Rupiah: i. Keluar dari wilayah pabean Rp.5.000.000,- s.d. Rp.10.000.000,- wajib menyerahkan Formulir Bank Indonesia ii. Keluar dari wilayah pabean lebih dari Rp.10.000.000,- wajib menyerahkan Formulir Bank Indonesia dengan Ijin tertulis dari Bank Indonesia iii. Masuk ke wilayah pabean Rp.50.000.000,- s.d. Rp.100.000.000,- wajib memberitahukan kepada Petugas Bea dan Cukai dengan mengisi Customs Declaration ( BC 2.2 ), jika lebih dari Rp.100.000.000,selain

memberitahukan pada BC 2.2 juga harus memeriksakan keaslian uang tersebut kepada Petugas Bea dan Cukai.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

103

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Akan tetapi, karena hal tersebut diatas dirasa tidak sesuai lagi dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/8/PBI/2002, maka dibuat pengganti Kep70/BC/2001 yang didalamnya diatur tentang Tata Laksana Pengeluaran dan Pemasukan Uang Tunai Dari atau Ke Dalam Daerah Pabean Republik Indonesia. a. Keluar dari daerah pabean. i. setiap orang yang membawa uang tunai berupa Rupiah sejumlah Rp. 100.000.000,- ( seratus juta Rupiah ) atau lebih, atau mata uang asing yang nilainya setara dengan itu keluar dari daerah pabean, wajib memberikan laporan kepada Pejabat bea dan Cukai ii. Laporan tersebut, dilakukan dengan mengisi dan menyerahkan;

Pemberitahuan Pembawaan Uang Tunai Keluar Daerah Pabean (BC 3.2) jika dibawa langsung oleh penumpang,atau Pemberitahuan Ekspor Barang ( BC 3.0 ) jika diekspor sebagai barang kargo atau menggunakan Perusahaan Jasa Titipan (PJT) iii. Apabila yang dibawa adalah uang tunai berupa Rupiah maka laporan tersebut wajib dilampiri dengan Surat Ijin Bank Indonesia b. Masuk ke dalam daerah pabean i. Setiap orang yang membawa uang tunai berupa Rupiah sejumlah Rp.100.000.000,- ( seratus juta Rupiah ) atau lebih, atau mata uang asing yang nilainya setara dengan itu ke dalam daerah pabean, wajib memberi laporan kepada Pejabat Bea dan Cukai. ii. Laporan tersebut, dilakukan dengan mengisi dan menyerahkan; Customs Declaration ( BC 2.2 ) jika dibawa langsung oleh penumpang, atau Pemberitahuan Impor Barang ( BC 2.0 ) jika diimpor sebagai barang kargo, atau Pemberitahuan Impor Barang Tertentu ( BC 2.1 ) jika menggunakan Perusahaan Jasa Titipan. iii. Apabila yang dibawa adalah uang tunai berupa Rupiah maka orang tersebut wajib memeriksakan keaslian uang tersebut kepada Pejabat Bea dan Cukai.

Selain itu, dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/8/PBI/2002 juga dijelaskan mengenai pengenaan sanksi administrasi terhadap pelanggaran ketentuan tsb, yaitu:

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

104

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


a. Setiap orang yang membawa uang tunai berupa Rupiah sejumlah Rp. 100.000.000,- atau lebih keluar daerah pabean; dalam hal tanpa Ijin bank Indonesia dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 10 % dari jumlah uang yang dibawa; dalam hal mempunyai Ijin Bank Indonesia akan tetapi jumlah uang yang dibawa lebih besar daripada jumlah uang yang tertera dalam ijin tersebut, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 10 % dari jumlah selisih uang yang dibawa dengan jumlah uang yang tertera dalam Ijin Bank Indonesia. b. Setiap orang yang membawa uang tunai berupa Rupiah sejumlah Rp.100.000.000,- atau lebih ke dalam daerah pabean yang tidak

memeriksakan keasliannya kepada pejabat Bea dan Cukai, maka dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 10 % dari jumlah uang yang dibawa c. Batas maksimal pengenaan sanksi administrasi sebagaimana disebut diatas adalah sebesar Rp.300.000.000,- ( tiga ratus juta Rupiah). Ijin Bank Indonesia terhadap pembawaan uang tunai berupa Rupiah ke luar daerah pabean hanya diberikan untuk kepentinganyang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Ijin Bank Indonesia yang diberikan oleh Bank Indonesia hanya berlaku untuk satu kali penggunaan dengan ketentuan; masa berlaku ijin paling lama 30 ( tiga puluh ) hari kerja, terhitung sejak tanggal ijin diberikan; surat Ijin wajib diberikan kepada Pejabat Bea dan Cukai di tempat keberangkatan, dan Jumlah uang Rupiah yang dibawa paling banyak sama dengan jumlah yang tercantum dalam Surat Ijin. Peraturan Bank Indonesia nomor 4/8/PBI/2002 tanggal 10 Oktober 2002 tentang Persyaratan dan Tata Cara Membawa Uang Rupiah Keluar atau Masuk wilayah Pebean Republik Indonesia, pengenaan sanksi administrasi dengan tata cara sebagai berikut: a. Pengenaan sanksi Administraif sebesar 10 % ( sepuluh perseratus ) dari jumlah Uang Rupiah yang dibawa ke luar Wilayah PabeanRepublik Indonesia atau maksimal Rp.300.000.000,- ( tiga ratus juta Rupiah ) terhadap pelanggaran ketentuan membawa Uang Rupiah Keluar Wilayah Pabean Republik Indonesia.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

105

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


b. Membawa Uang Rupiah melebihi dari jumlah sebagaimana yang tercantum dalam Surat Ijin Bank Indonesia, dikenakan sanksi administratif berupa denda sebesar 10 % dari jumlah Uang Rupiah yang dibawa ke luar Wilayah Pabean republik Indonesia setelah dikurangi dengan jumlah yang diberikan ijin yang tercantum dalam Surat Ijin Bank Indonesia, dengan batas maksimal pengenaan sanksi sebesar Rp.300.000.000,- ( tiga ratus juta Rupiah ) c. Dalam hal uang yang dibawa ke luar atau masuk Wilayah Pabean Republik Indonesia sebagian palsu atau seluruhnya palsu, maka perhitungan dan pembayaran sanksi administratif berupa denda dilakukan atas dasar Uang Rupiah asli yang dibawa. i. Sisa Uang Rupiah setelah dikenakan sanksi administratif berupa denda dikembali kan kepada pihak yang dikenakan sanksi. ii. Uang Rupiah yang dikembalikan, hanya dapat dibawa ke luar atau masuk Wilayah Pabean Republik Indonesia setelah memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/8/PBI/2002 tentang Persyaratan dan Tata Cara Membawa Uang Rupiah keluar atau Masuk wilayah Pabean Republik Indonesia. iii. Membawa Uang Rupiah kurang dari jumlah yang diijinkan tidak terkena sanksi administratif.

Mengenai tata cara membawa Uang Rupiah masuk wilayah Pabean Republik Indonesia, hal tersebut dimuat dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/22/DLN sebagai penjelas dari Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/8/PBI/2002 yang mana tata caranya adalah sebagai berikut: a. Setiap orang yang membawa Uang Rupiah sebesar Rp. 100.000.000,(seratus juta) atau lebih masuk Wilayah Pabean Republik Indonesia, wajib terlebih dahulu memeriksakan keaslian Uang Rupiah kepada Petugas Bea dan Cukai di tempat kedatangan. b. Apabila pada saat dilakukannya pemeriksaan keaslian Uang Rupiah oleh Petugas Bea dan Cukai di tempat kedatangan dijumpai adanya Uang rupiah yang diragukan keasliannya, maka Petugas Bea dan Cukai dapat meminta klarifikasi secara tertulis dengan menyampaikan Uamg Rupiah yang diragukan keasliannya tersebut secara lengkap kepada bank Indonesia.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

106

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


2) Pelaporan
a. Kantor Pabean wajib menyampaikan laporan tentang informasi pembawaan uang tunai berupa rupiah sejumlah Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih, atau mata uang asing yang nilainya setara dengan itu masuk atau keluar Daerah Pabean dan pelanggaran atas tata laksana membawa uang tunai keluar atau masuk daerah pabean, kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) b. Kantor Pabean menyampaikan laporan tentang pengenaan sanksi

Administrasi terhadap pembawaan uang tunai berupa rupiah. c. Penyampaian laporan dilakukan selama jangka waktu 5 hari kerja. d. Pemberitahuan atas pelanggaran disampaikan paling lambat 5 hari kerja setelah adanya pelanggaran.

Tata laksana membawa uang keluar atau masuk wilayah pabean Republik Indonesia berguna untuk mendukung efektifitas kebijakan moneter. Efektifitas kebijakan moneter diperlukan dalam memelihara kestabilan nilai uang rupiah. Untuk itu perlu diupayakan agar peluang bagi pihak-pihak tertentu untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya dengan memperdagangkan uang rupiah melalui pembawaan fisik secara lintas batas negara dapat diminimalkan karena berdampak kurang menguntungkan bagi efektifitas kebijakan moneter. Sementara itu, untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap mata uang rupiah, perlu ditingkatkan pengawasan terhadap beredarnya uang palsu di masyarakat dengan mencegah masuknya rupiah palsu dari luar negeri. Tata laksana ini juga berguna untuk meminimalisir tindak pidana pencucian uang.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

107

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


F. MONEY LAUNDERING
Modul dengan bahan pembelajaran tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (money laundering) berdasarkan Undang-undang Nomor.25/2003. Aktivitas cuci uang mengacu kepada uang hasil kegiatan ilegal (perdagangan senjata, obat, wanita; korupsi; penyelundupan; dan masih banyak lagi) yang bisa digunakan/diputarkan untuk kegiatan legal. Jawabannya bisa jadi beragam, tergantung dari sudut pandang mana seseorang melihatnya. Topik money laundering menjadi isu hangat yang banyak diperbincangkan di media massa termasuk di pemerintahan. Pada Modul ini akan mengupas antara lain adalah seluk beluk tentang pencucian uang, hubungannya Indonesia dengan dunia Internasional, penegakan hukumnya di Indonesia, dan termasuk dalam hal apa DJBC berperan mengatasinya. Sejak tahun 1930, praktek pencucian uang telah tercium oleh aparat keamanan di Amerika Serikat. Pencucian uang (Money Laundering), pada intinya adalah mengubah bentuk uang dari hasil kejahatan menjadi kelihatan bersih dalam sistem keuangan. Atau dengan kata lain, menggunakan produk sistem keuangan untuk membuat uang kejahatan seperti bukan dari hasil kejahatan. Money laundering berkaitan dengan hasil kejahatan yaitu dengan adanya kejahatan ada uang yang diperoleh dari kejahatan tersebut, sehingga menimbulkan money laundering untuk menyamarkan uang tersebut agar kelihatan legal.. Dampak lain dari money laundering ialah instabilitas keuangan dunia, distorsi ekonomi dunia dan kemungkinan gangguan terhadap jumlah uang yang beredar. Dengan globalisasi di sektor perbankan dan sistem perdagangan internasional, praktek money laundering melibatkan antar negara di dunia, sehingga money laundering merupakan kejahatan transnasional (lintas negara). Untuk membasmi money laundering ini seluruh negara di dunia harus bersatu untuk menjalankan sistem dan rezim anti pencucian uang, karena jika sistem anti money laundering di beberapa negara sudah baik, tatapi di satu negara sistemnya buruk, maka launderingnya dilakukan pada negara yang sistem buruk tersebut dan hasil/uang kejahatan, pelakunya, barang bukti juga akan lari ke negara itu, sehingga kasus money laundering tidak dapat diusut.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

108

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


1) Pengertian
Pencucian Uang (money laundering) adalah perbuatan menempatkan, mentransfer, membayarkan, membelanjakan, menghibahkan, menyumbang- kan, menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan, atau perbuatan lainnya atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dengan maksud untuk menyembunyikan, atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan sehingga seolah-olah menjadi Harta Kekayaan yg sah. Penyedia Jasa Keuangan (PJK) adalah setiap orang yang menyediakan jasa di bidang keuangan atau jasa lainnya yang terkait dengan keuangan termasuk tetapi tidak terbatas pada bank, lembaga pembiayaan, perusahaan efek, pengelola reksa dana, kustodian, wali amanat, lembaga penyimpanan dan penyelesaian, pedagang valuta asing, dana pensiun, perusahaan asuransi, dan kantor pos. Transaksi Keuangan Mencurigakan (Suspicious Transaction Report) adalah, transaksi keuangan yang menyimpang dari profil, karakteristik, atau kebiasaan pola transaksi dari nasabah yang bersangkutan; transaksi keuangan oleh nasabah yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan transaksi yang bersangkutan yang wajib dilakukan oleh Penyedia Jasa Keuangan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini; atau transaksi keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan dengan menggunakan Harta Kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana. Transaksi Keuangan Mencurigakan yang Dilakukan Secara Tunai (Cash Transaction Report) adalah transaksi penarikan, penyetoran, atau penitipan yang dilakukan dengan uang tunai atau instrumen pembayaran lain yang dilakukan melalui Penyedia Jasa Keuangan. Predicated crime adalah tindak pidana yang menghasilkan uang atau harta kekayaan yang kalau disembunyikan atau disamarkan bisa dikategorikan sebagai money laundering. KYC (Know Your Customer) adalah kunci pokok untuk mengurangi bahkan menangkal money laundering, yaitu kewajiban bank dalam pengetahuan secara tepat dan akurat tentang data nasabahnya. Counter measure adalah sanksi dari FATF kepada negara-negara yang ada di daftar NCCT berupa pengucilan dari negara-negara yang sangat peduli

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

109

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


terhadap penumpasan money laundering dan pencegahan aliran dan terorisme global. Anti tipping-off adalah ketentuan larangan bagi direksi, pejabat, atau pegawai Penyedia Jasa Keuangan Pejabat atau pegawai, PPATK, serta penyelidik/penyidik memberitahukan kepada pengguna jasa keuangan atau orang lain baik secara langsung ataupun tidak langsung dengan cara apapun mengenai laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan yang sedang disusun atau telah disampaikan kepada PPATK atau yang telah dilaporkan kepada PPATK atau penyidik secara langsung atau tidak langsung dengan cara apapun, dimaksudkan agar pengguna Kekayaannya sehingga jasa keuangan tidak memindahkan Harta penegak hukum untuk melakukan

mempersulit

pelacakan terhadap pengguna jasa keuangan dan Harta Kekayaan yang bersangkutan. FIU (Financial Intelligence Unit) adalah lembaga independen yang dibentuk dalam rangka mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang. NCCT (Non Cooperative Countries and Territories) adalah negara-negara yang merupakan daftar hitam dari FATF dalam rezim anti money launndering dunia, karena tidak memenuhi rekomendasi 40+8 yang ditetapkan FATF. Sebelumnya telah dijelaskan definisi pencucian uang, dan menurut UU definisi pencucian uang adalah perbuatan menempatkan, mentransfer,

membayarkan, membelajakan, menghibahkan, menyumbangkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan, atau perbuatan lainnya atas harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dengan maksud menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan yang sah. Dan definisi singkatnya adalah upaya untuk menyembunyikan/menyamarkan asal usul uang yang dihasilkan dari suatu tindakan kejahatan, sehingga seolah-olah berasal dari tindakan yang sah.Dari penjelasan diatas, diperoleh kesimpulan money laundering merupakan tindak pidana kejahatan. Secara sederhana, upaya untuk mengaburkan asal usul kekayaan atau uang dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap kegiatan, yaitu: 1. Placement (penempatan), yaitu penempatan dana yang dihasilkan dari tindak kejahatan ke dalam sistem keuangan. Atau dengan kata lain,

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

110

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


placement merupakan upaya untuk menempatkan uang tunai yang berasal dari tindak pidana ke dalam sistem keuangan (financial system) atau upaya menempatkan uang giral (cek, wesel bank, sertifikat deposito, dan lain-lain) kembali kedalam sistem keuangan, terutama sistem perbankan. Dalam proses penempatan uang tunai kedalam sistem keuangan ini, terdapat pergerakan fisik uang tunai baik melalui penyelundupan uang tunai dari satu negara ke negara lain, penggabungan antara uang tunai yang berasal dari kejahatan dengan uang yang diperoleh dari hasil kejahatan yang sah, atau dengan cara-cara lain seperti pembukaan deposito, pembelian saham-saham, atau juga mengkonversi kannya ke dalam mata uang negara lain. 2. Layering (transfer), yaitu memindahkan/mengubah bentuk dana melalui transaksi keuangan yang kompleks dalam rangka mempersulit pelacakan (audit trail) asal usul dana. Atau dengan kata lain, layering merupakan upaya untuk mentransfer harta kekayaan, berupa benda bergerak atau benda tidak bergerak yang mungkin, yang berwujud atau yang tidak berwujud, yang berasal dari tindak pidana yang telah berhasil masuk ke dalam sistem keuangan melalui penempatan (placement). Dalam proses ini terdapat rekayasa untuk memisahkan uang hasil kejahatan dari sumbernya melalui pengalihan dan hasil placement ke beberapa rekening atau lokasi tertentu lainnya dengan serangkaian transaksi yang kompleks yang didesain untuk menyamarkan/mengelabuhi sumber dana haram tersebut.layering dapat pula dilakukan dengan transaksi jaringan

internasional baik melalui bisnis yang sah maupun melalui perusahaanperusahaan shell (perusahaan yang mempunyai nama dan badan hukum namun tidak melakukan kegiatan usaha apapun) 3. Integration, yaitu mengembalikan dan yang telah tampak sah kepada pemiliknya, sehingga dapat digunakan dengan aman. Integration

merupakan suatu upaya menggunakan harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana yang telah berhasil masuk ke dalam sistem keuangan melalui placement atau layering, sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan yang halal. Proses ini merupakan upaya untuk

mengembalikan uang yang telah dikaburkan jejaknya, sehingga pemilik

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

111

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


semula dapat menggunakan dengan aman. Di sini uang yang dicuci melalui placement maupun layering dialihkan ke dalam kegiatan-kegiatan resmi, sehingga tampak seperti tidak berhubungan sama sekali dengan aktivitas kejahatan yang menjadi sumber uang tersebut. 4. Atas tindak pidana pencucian uang akan berdampak luas terhadap suatu negara khususnya Indonesia,yaitu: Dampak Ekonomi berupa, Instabilitas sistem keuangan,Distorsi sistem persaingan bebas, Mempersulit pengendalian moneter, Meningkatnya country risk Dampak Hukum dan Sosial berupa, dan Meningkatnya kejahatan baik jenis maupun kualitasnya, dan Meningkatnya kerawanan sosial

2) Upaya Pemberantasan Money Laundering Di Indonesia


Berdasarkan dampak yang akan ditimbulkan oleh money laundering sebelumnya, sebenarnya sudah merupakan alasan yang cukup bagi pemerintah Indonesia untuk memberantas money laundering. Di samping itu, juga ada tekanan internasional dan kebutuhan domestik yang mengharuskan pemerintah untuk melakukan rezim anti money laundering:

3) Pelaksanaan Upaya-Upaya Rezim Anti Money Laundering


Salah satu upaya yang dibentuk oleh pemerintah dalam rezim anti money laundering adalah menetapkan UU nomar 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai dasar bagi aparat penegak hukum dalam memberantas kejahatan money laundering. Akan tetapi, UU nomor 15 tahun 2002 yang diharapkan sebagai produk yang mampu mencegah dan memberantas tindak pidana money laundering, ternyata dianggap belum memenuhi standar internasional pedoman pemberantasan kegiatan pencucian uang oleh FATF, sehingga Indonesia tetap masuk dalam daftar NCCT. Keputusan FATF ini ternyata beralasan karena berdasarkan fakta yang ada yaitu banyak laporan tentang petunjuk kecurigaan terhadap praktek money laundering yang disampaikan oleh berbagai, tapi hanya sedikit yang bisa diusut oleh polisi, apalagi yang bisa sampai ke tangan jaksa dan diproses di pengadilan.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

112

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Hal ini dapat terjadi karena ada beberapa pasal di dalam UU nomor 15 tahun 2002 yang mengandung banyak kelemahan, sehingga dapat dijadikan celah bagi pelaku tindak pidana pencucian uang. Jadi pada kesimpulannya, meskipun kita sudah memiliki UU tindak pidana pencucian uang, penanganan kejahatan pencucian uang masih belum efektif.Oleh karena itu, berdasarkan alasan belum memenuhi standar internasional anti money laundering serta kesulitan dalam penegakan hukum dan pemrosesan di pengadilan, maka pada tanggal 16 September 2003, DPR telah menyetujui amandemen UU nomor 15 tahun 2002 tentang tindak pidana pencucian uang, yang dialukan oleh pemerintah. Sehingga, UU No.15 tahun 2002 menjadi UU No. 25 tahun 2003 yang di dalamnya mengandung beberapa perubahan.

4) Pelaksanaan Rezim Anti Money Laundering oleh PPATK


PPATK dibentuk oleh pemerintah Indonesia dalam rangka mengeluarkan Indonesia dari daftar NCCT (Non Cooperative Countries and Territories). PPATK merupakan lembaga independen yang bertanggung jawab kepada presiden Republik Indonesia, yang dibentuk dalam rangka mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang. PPATK merupakan pihak yang aktif dalam pemberantasan money laundering di Indonesia dan bertanggung jawab untuk mengeluarkan Indonesia dari daftar NCCT. PPATK dapat melakukan kerja sama dan koordinasi dengan pihak yang terkait, baik nasional maupun internasional, misalnya BI dan Bapepam.

5) Implementasi UU Tindak Pidana Pencucian Uang oleh Polri, Jaksa, dan Hakim.
Disebutkan dalam UU nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang bahwa penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan sidang di pengadilan dilakukan berdasarkan ketentuan dalam Hukum Acara Pidana. Dan yang melakukan penyidikan terhadap money laundering adalah Polri, karena PPATK tidak mempunyai kewenangan untuk menyidik. Sebagai penyidik, Polri menerima petunjuk atas dugaan telah ditemukannya transaksi mencurigakan dari

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

113

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


PPATK. Setelah Polri menindaklanjuti petunjuk tersebut, serta telah menemukan bukti dan tersangkanya, maka selanjutnya diserahkan kepada Kejaksaan untuk diajukan tuntutan agar bisa diproses di pengadilan. Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang memerintahkan kepada Penyedia Jasa Keuangan untuk melakukan pemblokiran terhadap Harta Kekayaan setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik, tersangka, atau terdakwa yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana, dengan menggunakan surat perintah pemblokiran. Sesuai dengan pasal 8 UU nomor 25 tahun 2003 Penyedia Jasa Keuangan yang dengan sengaja tidak menyampaikan laporan kepada PPATK yaitu Transaksi Keuangan Mencurigakan dan transaksi keuangan tunai (Cash Transaction Report) yang ditetapkan UU nomor 25 tahun 2003, dipidana dengan pidana denda paling sedikit Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

114

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


G. DETEKSI UANG PALSU
Membawa uang tunai adalah mengeluarkan atau memasukkan uang tunai yang dilakukan dengan cara membawa sendiri melalui pihak lain, dengan atau tanpa menggunakan sarana pengangkut. Setiap orang yang membawa uang tunai berupa rupiah dalam jumlah tertentu atau mata uang asing yang nilainya setara, masuk ke dalam Daerah Pabean, wajib memberikan laporan kepada Pejabat Bea dan Cukai dengan menggunakan Pemberitahuan Pabean. Setiap pemasukan uang rupiah ke daerah Pabean Indonesia harus terlebih dahulu diperiksa keasliannya. Karena itu masyarakat pada umumnya dan Pejabat Bea dan Cukai pada khususnya harus mengetahui karakteristik uang asli dan mengetahui bagaimana mendeteksi uang palsu Tidak banyak orang yang dengan sengaja mengamati fisik uang, atau memikirkan bagaimana uang itu dibuat. Banyak uang yang beredar di masyarakat khususnya uang rupiah yang palsu. ebenarnya uang palsu mudah untuk dikenali karena proses percetakan uang dilakukan dengan cara yang sangat cermat dan dengan teknologi tinggi. Sebelum membahas bagaimana cara mendeteksi uang palsu kita akan terlebih dahulu membahas bagaimana pembuatan yang asli karena dengan mengetahui bagimana uang asli dibuat dan bagaimana ciri-ciri uang yang asli kita akan mudah mengenali uang palsu. Pertama kita akan membahas kertas yang dipakai dalam pembuatan uang. Kertas yang dipakai untuk mencetak uang kualitasnya harus tinggi, karena itu proses pengadaannya dilakukan oleh Bank Indonesia, dan Peruri tinggal menerima apa yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia. Bila mutu kertas rendah, uang akan gampang robek atau melengkung atau bahkan luntur. Jadi bagus jeleknya hasil pencetakan uang tergantung pada kualitas bahan dan kestabilan proses pembuatan uang kertas. Kertas yang dipakai pada uang palsu biasanya kertas yang berkualitas rendah. Kertas tersebut lebih tebal dari kertas uang pada umumnya tetapi tingkat kekuatannya rendah. Uang kertas palsu jika dicuci bentuknya kan berubah menjadi lusuh dan cetakan gambar pada uang tersebut akan luntur dan lusuh.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

115

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


1) Pengertian
Bank Indonesia adalah Bank Sentral Republik Indonesia. Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan Pemerintah dan/atau pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia. Bank Indonesia adalah badan hukum.Uang rupiah adalah alat pembayaran yang sah di wilayah negara Republik Indonesia.

2) Hasil Cetakan Yang Kasar


Setelah desain disetujui, para engraver (pengukir) harus membuat gambar kerja (pen drawing) gambar utama untuk cetak intaglio. Cetak intaglio adalah proses kedua setelah offset yang menghasilkan tacticle effect yaitu permukaan uang terasa kasar bila diraba. Untuk membuat hasil yang detail para pengukir harus menggunakan kaca pembesar. Pembuatan gambar intaglio tak seperti menggambar biasa, namun dengan cara terbalik artinya hasil cetak yang teraba kasar dibentuk dengan mencungkil cetakannya. Satu persatu cetakan itu 'dicungkil' agar hasilnya sesuai dengan yang diinginkan, yaitu sesuai anatomi, halus dan tajam. Selanjutnya, uang dicetak dengan cetak intaglio. Teknik cetak ini sifatnya unik, karena membuat uang terasa kasar bila diraba atau tacticle effect. Warna yang munculpun berkesan kuat serta menghasilkan elemen halus sampai tebal. Karena tintanya akan timbul, perlu waktu untuk pengeringan sebelum proses berikutnya. Intaglio bisa ditempatkan di bagian muka saja atau di dua sisi : bagian muka dan belakang. Interpol merekomendasikan bahwa sedapat mungkin uang kertas dicetak menggunakan intaglio di kedua sisi. Biasanya tergantung nilai nominal uang yang dicetak. Makin mahal pecahan uang tersebut, cetak intaglio juga makin rumit. Antara cetak offset dan intaglio harus nyambung. Bila tidak, menjadi cetakan tidak register. Kepemilikan mesin intaglio tidak sembarangan. Hanya percetakan uang resmi dan menerapkan tradisi cetak uang sesuai resolusi/rekomendasi Interpol yang dapat mengoperasikannya.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

116

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Bila diperhatikan, gambar utama muka dan gambar belakang uang kertas memiliki hubungan dari sisi tema. Uang seribu rupiah yang bergambar Kapitan Pattimura, misalnya, memiliki kesamaan tema dengan bagian belakangnya. Karena Pattimura dari Maluku, gambar belakangnya pun diambil dari daerah tersebut. Di situ ada gambar Pulau Maitara dan Tidore. Standar warna juga hampir sama. Misalnya, uang seratus perak biasanya berwarna merah. Lima ratus hijau, seribu biru, dan lima ribu bernuansa cokelat. Hasil cetakan yang memiliki permukaan yang kasar bila disentuh tidak dimiliki oleh uang palsu, karena itu cara pertama untuk membedakan uang yang asli dengan yang palsu cukup dengan meraba uang yang dimiliki bisanya cetakan yang terasa kasar terletak pada tulisan angka nominal uang tersebut, jika uang yang kita uji keasliannya tersebut ketika diraba tidak terasa kasar maka uang patut diragukan keasliannya.

3) Tanda Air
Petunjuk kedua yang menandakan uang yang kita miliki adalah uang asli adalah terdapatnya tanda air pada uang tersebut. Tanda air adalah salah satu bagian dari uang kertas untuk mengamankan uang kertas dari pemalsuan. BI menentukan gambar apa yang akan dijadikan tanda air. Tanda air adalah gambar transparan yang biasanya terletak di sebelah kanan gambar muka (front side) uang. Gambar tanda air akan terlihat dengan jelas bila orang menerawangnya ke arah cahaya atau lampu. Gambar tanda air tidak selalu tidak selelu berkaitan dengan tema utama uang tersebut. Misalnya, pada pecahan seribu rupiah, potret Cut Nyak Meutia-pahlawan asal Aceh-tampil dalam tanda air. Namun, pecahan Rp 20.000, gambar utama dan gambar tanda air sama yaitu gambar Ki Hadjar Dewantara. Memasuki milenium baru, rakyat Indonesia mendapat "hadiah" menarik dari Bank Indonesia (BI): uang pecahan Rp 100.000. Dalam sejarah uang RI, jumlah itu merupakan yang terbesar. Sebelumnya, masyarakat hanya bisa memiliki pecahan Rp 50.000. Mungkin tak ada yang istimewa dalam pecahan ini. Yang berbeda, uang tesebut terbuat dari bahan plastik. Pecahan uang yang beredar sebelumnya berbahan kertas dan logam. Tapi, uang plastik itu tak dicetak di Peruri --yang dikenal sebagai percetakan uang yang sah di Republik

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

117

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


ini, melainkan nun jauh diseberang sana, Australia. Note Printing Australia, namanya. Uang Republik Indonesia itu harus menempuh ribuan kilometer agar bisa digunakan sebagai alat pembayaran yang sah. Uang plastik sempat digembargemborkan tak mempan dipalsukan. Juga tak mudah lecek. Pemakaipun menggunakannya dengan hati-hati. Misalnya, tak melipat atau menyimpan di saku celana. Soal tak mudah lecek mungkin benar. Atau, karena itu tadi, pemakai tak sembarang memperlakukan uang pecahan gede ini. Tapi, masalah dipalsukan itu yang membuat aparat keamanan harus bekerja keras. Terbukti, akhir-akhir ini uang palsu pecahan bergambar Soekarno-Hatta ini banyak beredar. Masyarakatpun dituntut hati-hati bila menerimanya. Uang pecahan Rp100.000 mudah dipalsukan karena pada uang ini tidak bisa diberlakukan pada uang kertas. Pada uang yang terbuat dari plastik tidak terdapat tanda, air karena itu lebih mudah untuk dipalsukan karena ciri-ciri yang membedakan uang yang asli dengan uang yang palsu berkurang. Sebenarnya, tak banyak negara yang menggunakan bahan plastik untuk uang. Selain Australia, Thailand juga mengedarkan uang plastik, tapi untuk pecahan kecil. Konon kabarnya, negara tersebut sudah tidak mencetak lagi, karena masyarakatnya kurang menyukai uang plastik.

4) Nomor Seri
Tahap berikutnya adalah finishing. Ada dua finishing: otomatis dan manual. Kalau hasilnya 100% baik, langsung masuk ke finishing otomatis. Kalau ada yang rusak cetak sebagian, diproses manual. Setiap 100 lembar kertas uang yang sudah dicetak lengkap dimasukan dalam mesin finishing. Nomor dari 100 lembar tersebut sudah berurutan dari lembar pertama sampai lembar ke 100. Proses berjalan secara otomatis sambil dipotong menjadi ikatan-ikatan yang masing-masing berisi 100 bilyet uang. Kemudian ikatan-ikatan itu ditumpuk menjadi 10 secara otomatis. Lantas diban atau diikat lagi. Selanjutnya mesin menghitung lagi. Jumlahnya harus 1.000. Tahap berikutnya masuk ke plastik dan dibungkus. Pengepakan terakhir ini menggunakan kotak kaleng yang selanjutnya disolder. Lantas masuk ke peti kayu yang dilapisi kawat. Semuanya dalam kondisi disegel, dilengkapi kode masing-masing.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

118

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Namun, bila jumlah uang itu tidak lengkap atau terlipat, proses itu tak bisa berjalan. Mesin masih terus memeriksa. Uang yang tak lengkap tadi bakal menyisihkan diri. Misalnya, jumlahnya kurang atau lebih dari 1000, maka saat berjalan ke arah pengepakan akhir, uang ini akan jatuh dari belt proses ke dalam penampungan khusus. Uang tersebut lantas dipungut oleh petugas. Proses selanjutnya, secara manual petugas menghitung lagi dan mengecek apa yang kurang. Proses manual diawali dengan memotong. Karena hasil cetak tidak sempurna atau tidak presisi, misalnya, petugas akan mengambil dan

menyisihkan ke tempat khusus. Para petugas itu juga harus mencetak nomor seri uang yang rusak itu. kemudian uang rusak itu diganti dengan uang lain yang mutunya bagus. Nomornya tentu tidak berurutan lagi. Perlu dicatat, ada dua jenis uang kertas palsu. Yang pertama adalah uang palsu yang memang benar-benar ditiru dari aslinya. Dengan kata lain, materialnya saja sudah palsu. Uang kertas palsu jenis ini memang jauh lebih banyak jumlahnya, dan uang palsu yang seperti ini lebih mudah dideteksi. Jenis uang kertas palsu yang kedua adalah uang asli yang dipalsukan, yaitu uang yang secara fisik asli tapi peredarannya palsu. Uang kertas palsu jenis ini tidak pernah bisa dideteksi dengan instrumen apapun. Bentuk kedua ini bisa diproduksi oleh pihak-pihak yang berhubungan dengan pencetakan uang dengan cara menggandakan kapasitas order yang dikeluarkan oleh BI. Perlu diketahui uang Rupiah kita banyak yang dicetak di beberapa negara tetangga di luar negeri, termasuk uang pecahan seratusribu Rupiah yang dicetak di Australia. Logikanya, tidak mungkin ada uang kertas asli bernilai sama dan bernomer seri yang sama beredar secara legal. Itu logikanya. Tapi fakta berkata lain setelah ditemukannya dua lembar uang kertas asli pecahan 50,000 IDR dengan nomer seri yang sama. Secara fisik keduanya asli. Tapi dari aspek legalitasnya, satu di antaranya pasti palsu. Untuk menentukan apakah uang yang kita miliki palsu berdasarkan nomor seri sulit untuk dilakukan karena kemungkinan untuk mendapatkan uang yang bernomor seri sama dan jika kita menemukan uang yang bernomor seri sama tetapi salah satu dari uang seri tersebut merupakan uang asli tapi palsu kita tidak dapat berbuat apa-apa.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

119

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


5) Benang Pengaman
Petunjuk ketiga untuk membedakan uang asli dengan uang palsu adalah adanya benang pengaman pada uang asli, Di setiap uang kertas, pasti ada benang pengaman. Benang pengaman yang letaknya membujur biasanya berbeda satu dengan yang lainnya. Ada yang bentuknya seperti garis lurus dan zig-zag. Ada pula benang pengaman yang keluar masuk-biasa disebut window thread- atau diimbuhi tulisan "Bank Indonesia". Semua benang pengaman yang ada pada uang kertas ditanam dalam kertas uang tersebut pada saat pembuatan kertas uang. Bila uang kertas memiliki benang pengaman, uang plastik tak bisa. Benang pengaman itu biasanya ditanam di bahan kertas. Bahan plastik tidak mengakomodasi hal itu. Benang pengaman biasanya berbentuk garis membujur yang menjadi ciri uang kertas di manapun. Perbedaan lain adalah berkaitan dengan bahan pembuat uang itu sendiri. Untuk bahan uang kertas, saat ini pabrik kertas uang di dunia bisa dihitung dengan jari. Maklum, tak sembarang orang bisa membuat pabrik kertas uang. Selain biayanya besar, juga harus memiliki teknologi pembuatan kertas yang berbeda dengan pembuatan kertas biasa, sehingga mampu membuat kertas uang dengan unsur pengaman sebagaimana yang direkomendasikan Interpol. Berbeda dengan kertas uang, yang memiliki unsur pengaman tanda air atau benang pengaman pada saat pembuatannya. Pada bahan uang plastik, benang pengaman atau tanda air tidak dapat dibuat seperti pada bahan kertas uang. tak mengherankan bila uang plastik lebih mudah dipalsukan. Proses pembuatan uang logam lebih sederhana. Misalnya, dalam hal pengamanan, ada yang berupa gerigi di pinggir koin. Proses awalnya tak beda dengan uang kertas. Bahan dasarnya juga diterima dari BI. Logam yang diterima itu dalam kondisi blank berbentuk koin bulat. Itu sudah dilakukan sejak 1970-an. Koin-koin itu ditimbang. Proses awal, yaitu membuat pinggiran koin itu sedikit naik menonjol. Bila diperhatikan, permukaan uang logam tidak ada yang datar. Untuk uang logam sangat jarang sekali terjadi pemalsuan karena nilai nominal uang logam biasanya rendah sedangkan proses pembuatannya memerlukan biaya yang tinggi.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

120

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Sampai tahun 1997, tahap persiapan pembuatan uang dikerjakan secara manual. Pengerjaan desain dan pengerjaan detail unsur pengaman-garis guilloche, rosette dan relief-dikerjakan oleh dua unit kerja yang berbeda. Juga penyediaan dan pembuatan film dilakukan oleh unit kerja lainnya. Perubahan mendasar dan total menyangkut teknologi prepress di Peruri dimulai pada tahun 1998. Peruri mengaplikasikan teknologi prepress modern yang cangih dan mutakhir yang fully computerized. Teknologi Prepress terdiri dari beberapa komputer desain, scanner, dan image setter yang terhubung satu dengan yang lain dalam sebuah jaringan (network). Selain itu dilengkapi pula dengan "high security design software" yang mampu menghasilkan beragam anti copy yang hadal dan susah dipalsukan. Resolusi yang dihasilkan image setter tersebut mencapai 10.000 dpi (dot per inch). Sistem ini memungkinkan seorang desainer mampu membuat desain uang berikut unsur pengamanan yang diinginkan, bahkan sampai pembuatan filmnya. Untuk koreksi pun bisa cepat dilakukan. Dalam hal pengamanan, dengan sistem integrasi ini, Peruri bisa mengaplikasikan teknik pengamanan andal sejak desain uang dibuat. Pada proses pencetakan uang, setelah desain disepakati dan menjadi film siap cetak, terdapat tiga bagian. Masing-masing cetak offset untuk mencetak gambar dasar. Teknik offset merupakan teknik cetak uang menggunakan mesin simultan, yang memungkinkan gambar dasar muka dan belakang dicetak secara bersamaan dengan presisi tinggi. Teknik ini memungkinkan terbentuknya unsur pengaman yang disebut recto-verso atau see trough register, yaitu dua gambar tidah utuh dalam satu tempat muka belakang yang sangat presisi, jika diterawangkan akan membentuk suatu gambar utuh. Sejak tahun 2000 mesinmesin yang digunakan Peruri sudah mengadopsi teknologi tinggi sehingga tak diragukan lagi keandalannya dalam menghasilkan uang kertas dengan tingkat keamanan tinggi (security feature). Konfigurasi permesinan ini lebih mutakhir dibandingkan negara tetangga seperti Thailand yang masih menggunakan permesinan dengan format standar. Dampaknya, uang keluaran Peruri apabila dipalsukan, sangat sulit unutk menyamai uang aslinya.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

121

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


6) Visible fluorescent ink
Petunjuk selanjutnya adalah visible fluorescent ink. Visible fluorescent ink adalah cetakan pada uang yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Cetakan ini hanya bisa dilihat dengan menggunakan lampu fluorescent (lampu gelap) atau biasa disebut lampu ultra violet. Ketika uang disinari dengan lampu fluorescent akan muncul tulisan angka nominal dari uang tersebut. Selain tulisan nilai nominal uang tersebut terdapat juga tulisan nomor seri dari uang tersebut, jadi pada setiap uang asli terdapat dua tulisan nomor seri yaitu yang dicetak dengan tinta biasa dan dengan visible fluorescent ink. Kedua tulisan ini terdapat pada uang dengan nilai nominal Rp. 5.000 dan semua uang kertas dengan nilai nominal yang lebih tinggi. Untuk uang kertas dengan nilai nominal yang lebih rendah, tulisan yang menggunakan visible fluorescent ink hanya nomor seri saja sedangkan tulisan nilai nominal uang tersebut tidak ada. Berdasarkan ciri tersebut dapat dibedakan antara uang asli dengan uang yang palsu. Uang palsu tidak terdapat tulisan dengan menggunakan visible fluorescent ink, karena proses percetakan dengan menggunakan visible fluorescent ink menggunakan teknologo tinggi dan biaya yang mahal

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

122

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


H. BENDA CAGAR BUDAYA, DAN SITUS
Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki banyak suku bangsa dan budaya. Masing-masing suku telah berdiri di Indonesia sejak jaman dahulu. Masing-masing suku bangsa tersebut memiliki kebudayaan dan peradaban yang berbeda-beda. Peradaban-peradaban yang ada sejak jaman dahulu tersebut memiliki beraneka ragam benda-benda hasil budaya yang merupakan

peninggalannya. Hal ini menjadikan Indonesia sangat banyak memiliki benda cagar budaya yang beragam dangan nilai yang sangat tinggi bagi sejarah, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Dalam konteks kebudayaan Benda Cagar Budaya mempunyai arti penting bagi bangsa karena merupakan warisan budaya bangsa yang dapat

membangkitkan kebanggaan Nasional dan kesadaran akan jati diri bangsa sehingga harus dilestarikan dan dilindungi. Sebagian besar benda cagar budaya suatu bangsa adalah hasil ciptaan bangsa itu pada masa lalu yang dapat menjadi sumber kebanggaan bangsa yag bersangkutan. Oleh karena itu pelestarian benda cagar budaya Indonesia merupakan ikhtiar untuk memupuk kebanggaan nasional dan memperkokoh kesadaran jati diri sebagai bangsa yang banyak dipengaruhi oleh pengetahuan tentang masa lalu bangsa yang bersangkutan sehingga keberadaan kebangsaan itu masa kini dan dalam proyeksinya ke masa depan bertahan kepada ciri khasnya sebagii bangsa yang tetap berpijak pada landasan falsafah dan budayanya sendiri. Karena nilai sejarah dan kebudayaan serta unsur seni yang sangat tinggi melekat pada Benda-benda Cagar Budaya tersebut, banyak pihak yang mempunyai keinginan untuk memiliki dan mengoleksi Benda Cagar Budaya tersebut. Namun, benda-benda tersebut merupakan kekayaan milik negara yang dikuasai negara dan tidak dapat dimiliki oleh pribadi dan hal ini telah diatur dengan jelas dalam peraturan perundang-undangan.

Pengertian

1.

Benda cagar budaya adalah: Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya,

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

123

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


yang berumur sekurang-kurangnya 50 (limapuluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurangkurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan; Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan , dan kebudayaan. 2. Situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mongandung benda cagar 3. budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi

pengamanannya. Benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya, adalah benda bukan kekayaan alam yang mempunyai nilai ekonomi/ instrinsik tinggi yang tersumbunyi atau terpendam dibawah permukaan tanah dan dibawah perairan di wilayah Republik Indonesia.

Alasan pelarangan dan pembatasan atas impor maupun ekspor Benda Cagar Budaya disebabkan karena benda cagar budaya adalah merupakan kekayaan budaya bangsa yang sangat besar artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Oleh sebab itu benda-benda tersebut perlu dilestarikan. Untuk melestarikannya dibutuhkan perlindungan. Perlindungan inilah yang diwujudkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Benda Cagar Budaya yang karena, nilainya sangat penting bagi pengetahuan, pariwisata , pendidikan dan kebudayaanIndonesia; sifatnya memberikan corak yang khas, dan unik; dan jumlah dan jenisnya sangat langka; Berdasarkan ketentuan Undang-Undang no. 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya Dinyatakan sebagai Milik Negara.Benda Cagar Budaya yang dimiliki Negara pengelolaannya diselenggarakan Menteri Pariwisata dan

Kebudayaan.Pengelolaan sebagaimana dimaksud diatas meliputi perlindungan, pemeliharaan , perizinan , pemanfaatan , pengawasan dan hal lain yang berkenaan dengan pelestarian Benda Cagar Budaya. Sebelum kita ulas lebih jauh tentang Ketentuan Ekspor Impor Benda Cagar Budaya , lebih baik kita bahas terlebih dahulu kita uraikan tentang benda cagar budaya yang dibagi 2 (dua) yaitu Benda Cagar Budaya Bergerak dan Benda Cagar Budaya Tidak Bergerak.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

124

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Benda buatan manusia yang bergerak yang tergolong, ke dalam cagar budaya a.l.: 1. Benda-Benda Hasil Karya Manusia Jenis-jenis Benda Hasil Karya Manusia antara lain, seperti alat-alat keperluan hidup manusia, piagam-piagam (pertulisan-pertulisan), arcaarca, mata uang , benda-benda keramik seperti piring, mangkuk, bejana dan cerek. 2. Tanah lapang, kebun, sawah, ladang yang di dalamnya digunakan atau di atasnya terdapat petunjuk-petunjuk yang nyata terdapat benda-benda purbakala seperti tersebut di atas. 3. Benda-benda yang dipandang mempunyai nilai yang sangat tinggi dari sudut Palaeontheopologi (ilmu pengetahuan tentang fossil-fossil). Setiap instansi yang terkait atas pengamanan benda cagar budaya apabila mengetahui dibawanya atau dipindahkannya sebagian atau seluruh benda cagar budaya atau benda yang diduga benda cagar budaya tanpa dilengkapi izin dari Menteri Departemen Pariwisata dan Kebudayaan wajib melakukan penahanan atas benda tersebut. (pasal 33 PP no 10 Tahun 1993). Instansi yang melakukan penahanan, POLRI dan segenap jajaranya, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia beserta jajarannya, Bea Cukai serta petugas pengawas Lintas Batas serta tidak menutup kemungkinan instansi lain yang merupakan aparat penegak hukum, maupun yang bukan penegak hukum bilamengetahui adanya hal diatas, benda cagar budaya atau benda yang diduga benda cagar budaya segera memberitahukan kepada instansi Departemen Pariwisata dan Kebudayaan serta dibantu aparat penegak hukum yang bertanggung jawab atas perlindungan benda cagar budaya. Setiap orang dilarang merusak benda cagar budaya dan situs serta lingkungannya. Tanpa izin dari Pemerintah, yaitu setiap orang dilarang: a. membawa benda cagar budaya ke luar wilayah Republik Indonesia; b. memindahkan benda cagar budaya dari daerah satu ke daerah lainnya; c. mengambil atau memindahkan benda cagar budaya baik sebagian maupun seluruhnya, kecuali dalam keadaan darurat; d. mengubah bentuk dan/atau warna serta memugar benda cagar budaya; e. memisahkan sebagian benda cagar budaya dari kesatuannya;

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

125

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


f. memperdagangkan atau memperjualbelikan atau memperniagakan benda cagar budaya.

3.2. Latihan 3
1. Suatu kegiatan atau pergerakan Flora dari suatu area menuju ke area yang bebas media pembawa, dari suatu area menuju keluar daerah pabean Indonesia, atau dari luar daerah pabean Indonesia masuk kedalam daerah pabean Indonesia, jelaskan kaitannya dengan ketentuan larangan dan pembatasan. 2. Perlindungan terhadap kesehatan masyarakat verteriner sangat

diutamakan salah satunya dengan adanya Sertifkasi hewan atau sertifikasi sanitasi. Tindakan yang tegas juga sangat diperlukan dalam hal terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku. Jelaskan apa yang dimaksud dengan sertifikasi hewan atau sertifikasi sanitasi, dan siapa yang berwenang menerbitkan sertifikasi tsb. 3. Jelaskan apa saja yang Saudara ketahui tentang CITES 4. Jelaskan penggolongan barang ekspor sesuai Keputusan menteri Perindustrian Dan Perdagangan Nomor 558/Mpp/Kep/12/1998 Tanggal 4 Desember 1998 Tentang Ketentuan Umum Di Bidang Ekspor, dan uraikan contoh barang ekspor yang termasuk salah satu dari

penggolongan barang ekspor tersebut. 5. Apa yang dimaksud dengan uang rupiah, dan membawa uang rupiah.! Jelaskan berlakunya ijin Bank Indonesia untuk pembawaan mata uang dari dan ke luar wilayah negara Republik Indonesia.! 6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Pencucian Uang (money

laundering) dan Anti tipping-off sesui UU No.15 tahun 2002 yang telah diubah dan ditambah dengan UU No. 25 tahun 2003 tentang tindak pidana pencucian uang. 7. Jelaskan salah satu cara bagaimana saudara mengetahui uang yang kita miliki adalah uang asli. 8. Seseorang penumpang berjenis kelamin perempuan yang berkewarga negaraan Hongkong yang akan kembali ketanah airnya melalui terminal

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

126

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


keberangkatan penerbangan manca negara di Bandara Soekarno Hatta. Penumpang tersebut membawa 2 buah tas ia hanya pergi seorang diri dan ternyata setelah melewati Hi-Co Scan atau X-Ray yang ada di Bandara salah satu tas miliknya kedapatan sebuah benda benda menyerupai patung yang kemudian diketahui merupakan patung salah satu Dewa milik agama Hindu yang merupakan peninggalan kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Apa tindakan saudara sebagai Pejabat Bea dan Cukai terhadap barang tersebut menurut peraturan larangan dan pembatasan ?

3.3. Rangkuman
1. Dalam hal setelah dilakukan pemeriksaan ternyata Media Pembawa tersebut tidak bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina Golongan II, maka terhadap Media Pembawa tersebut dilakukan perlakuan di atas alat angkut; tidak bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina Golongan I, busuk, rusak atau merupakan jenisjenis yang dilarang pemasukannya, maka terhadap Media Pembawa tersebut dilakukan penolakan dan dilarang diturunkan dari alat angkut yang membawanya; dan untuk yang bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina, maka Media Pembawa tersebut dapat diturunkan dari alat angkut yang membawanya.Dalam hal hasil pemeriksaan karantina kedapatan tidak ditemukan media pembawa atau biasa disebut flora tersebut sehat, maka diberiikan sertifikat kesehatan. Sertifikat Kesehatan Tumbuhan adalah surat keterangan yang dibuat oleh pejabat yang berwenang di negara atau Area asal/pengirim/transit yang menyatakan bahwa tumbuhan atau bagian-bagian tumbuhan yang tercantum di dalamnya bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan, Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina, Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina Golongan I dan II, dan/atau Organisme Pengganggu Tumbuhan Penting serta telah memenuhi persyaratan Karantina

Tumbuhan yang ditetapkan dan/atau menyatakan keterangan lain yang diperlukan;

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

127

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


2. Berdasarkan Undang-Undang No.9 Tahun 1985 Tanggal 19 Juni 1985 Tentang Perikanan.Perairan yang merupakan bagian terbesar wilayah Negara Republik Indonesia dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia mengandung sumber daya ikan yang sangat potensial dan penting arti, peranan, dan manfaatnya sebagai modal dasar pembangunan untuk mengupayakan peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat; Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional dengan Wawasan Nusantara pengelolaan sumber daya ikan perlu dilakukan sebaik-baiknya berdasarkan keadilan dan pemerataan dalam pemanfaatannya dengan mengutamakan perluasan kesempatan kerja dan peningkatan taraf hidup bagi nelayan dan petani ikan kecil serta terbinanya kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya yang akan meningkatkan ketahanan nasional. Hama dan penyakit hewan karantina yang selanjutnya disebut hama penyakit hewan karantina adalah semua hama, hama penyakit, dan penyakit hewan yang berdampak sosio-ekonomi nasional dan

perdagangan internasional serta menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat veteriner yang dapat digolongkan menurut tingkat risikonya. Hama penyakit hewan karantina golongan I, adalah hama penyakit hewan karantina yang mempunyai sifat dan potensi penyebaran penyakit yang serius dan cepat, belum diketahui cara penanganannya, belum terdapat di suatu area atau wilayah negara Republik Indonesia. Hama penyakit hewan karantina golongan II , adalah hama penyakit hewan karantina yang potensi penyebarannya berhubungan erat dengan lalu lintas media pembawa, sudah diketahui cara penanganannya dan telah dinyatakan ada di suatu area atau wilayah negara Republik Indonesia. 3. Di Indonesia sendiri CITES telah diratifikasi dengan Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978 pada tanggal 15 Desember 1978, dengan demikian tiga bulan sejak tanggal Keputusan Presiden itu (Maret 1979) Indonesia menerima isi dari konvensi tersebut.Sekretariat CITES

berkedudukan diSwiss CITES secara historical berhubungan langsung dengan World Wild Fauna(W W F) dan IUCN.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

128

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Indonesia menerapkan ketentuan larangan yang tertera dalam peraturan tentang perlindungan flora dan fauna antara lain setiap orang dilarang untuk mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagin-bagiannya baik dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain didalam atau diluar Indonesia. Setiap orang dilarang mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ketempat lain didalam atau diluar Indonesia. Setiap orang dilarang mengeluarkan kulit, tubuh, dan atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barangbarang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain baik di dalam atau diluar Indonesia. 4. Setiap eksportir yang melakukan ekspor Barang yang Diatur Ekspornya harus rnempunyai persyaratan dan telah mendapat pengakuan sebagai Eksportir Terdaftar dari Menteri Perindustrian dan Perdagangan, dalam hal ini Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri. Setiap eksportir yang melakukan ekspor Barang yang Diawasi Ekspornya harus memenuhi persyaratan dan telah mendapat persetujuan ekspor dan Menteri Perindustrian dan Perdagangan dalam hal ini Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan atau Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kimia dengan mempertimbangkan usulan dan Direktur Pembina Teknis yang bersangkutan di lingkungan Departemen

Perindustrian dan Perdagangan dan atau instansi/Departemen lain yang terkait. Barang yang dilarang ekspornya adalah barang yang tidak boleh diekspor Ekspor dapat dilakukan oleh setiap perusahaan atau perorangan yang telah memiliki tanda daftar usaha perdagangan (TDUP) atau surat ijin usaha perdagangan (SIUP); atau ijin usaha dari departemen

teknis/lembaga pemerintah non departemen berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan tanda daftar perusahaan (TDP). Setiap eksportir yang melakukan ekspor Barang yang Diatur Ekspornya harus rnempunyai persyaratan dan telah mendapat pengakuan sebagai Eksportir Terdaftar dari Menteri Perindustrian dan Perdagangan, dalam hal ini Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 4/8/PBI/2002 telah disesuaikan dengan UU Nomor 15 Tahun 2002 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

129

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


23 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang dalam hal pengawasan terhadap masuknya uang palsu ke daerah pabean Indonesia, diperkuat dengan Keputusan Dirjen Bea dan Cukai Nomor Kep-70/BC/2001 yang didalamnya disebutkan bahwa setiap orang yang membawa uang Rupiah keluar dari wilayah pabean lima juta rupiah sampai dengan sepuluh juta rupiah, wajib menyerahkan Formulir Bank Indonesia. Keluar dari wilayah pabean lebih dari sepuluh juta rupiah wajib menyerahkan Formulir Bank Indonesia dengan Ijin tertulis dari Bank Indonesia. Masuk ke wilayah pabean lima puluh juta rupiah sampai dengan seratus juta rupiah wajib memberitahukan kepada Petugas Bea dan Cukai dengan mengisi Customs Declaration (BC 2.2), lebih dari seratus juta rupiah selain memberitahukan pada BC 2.2 juga harus memeriksakan keaslian uang tersebut kepada Petugas Bea dan Cukai. 6. Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/8/PBI/2002 juga dijelaskan mengenai pengenaan sanksi administrasi terhadap pelanggaran ketentuan

pembawaan mata uang, yaitu setiap orang yang membawa uang tunai berupa Rupiah sejumlah seratus juta rupiah atau lebih keluar daerah pabean; dalam hal tanpa Ijin bank Indonesia dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 10 % dari jumlah uang yang dibawa; dalam hal mempunyai Ijin Bank Indonesia akan tetapi jumlah uang yang dibawa lebih besar daripada jumlah uang yang tertera dalam ijin tersebut, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 10 % dari jumlah selisih uang yang dibawa dengan jumlah uang yang tertera dalam Ijin Bank Indonesia. Setiap orang yang membawa uang tunai berupa Rupiah sejumlah seratus juta rupiah atau lebih ke dalam daerah pabean yang tidak memeriksakan keasliannya kepada pejabat Bea dan Cukai, maka dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 10 % dari jumlah uang yang dibawa. Batas maksimal pengenaan sanksi administrasi adalah sebesar tiga ratus juta rupiah. PPATK dibentuk oleh pemerintah Indonesia dalam rangka mengeluarkan Indonesia dari daftar NCCT (Non Cooperative Countries and Territories). PPATK merupakan lembaga independen yang bertanggung jawab kepada presiden Republik Indonesia, yang dibentuk dalam rangka mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang. PPATK

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

130

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


merupakan pihak yang aktif dalam pemberantasan money laundering di Indonesia dan bertanggung jawab untuk mengeluarkan Indonesia dari daftar NCCT. PPATK dapat melakukan kerja sama dan koordinasi dengan pihak yang terkait, baik nasional maupun internasional, misalnya BI dan Bapepam. Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang memerintahkan kepada Penyedia Jasa Keuangan untuk melakukan pemblokiran terhadap Harta Kekayaan setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik, tersangka, atau terdakwa yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana, dengan menggunakan surat perintah pemblokiran. 7. Bila diperhatikan, gambar utama muka dan gambar belakang uang kertas memiliki hubungan dari sisi tema. Uang seribu rupiah yang bergambar Kapitan Pattimura, misalnya, memiliki kesamaan tema dengan bagian belakangnya. Karena Pattimura dari Maluku, gambar belakangnya pun diambil dari daerah tersebut. Di situ ada gambar Pulau Maitara dan Tidore. Standar warna juga hampir sama. Misalnya, uang seratus perak biasanya berwarna merah. Lima ratus hijau, seribu biru, dan lima ribu bernuansa cokelat. Hasil cetakan yang memiliki permukaan yang kasar bila disentuh tidak dimiliki oleh uang palsu, karena itu cara pertama untuk

membedakan uang yang asli dengan yang palsu cukup dengan meraba uang yang dimiliki bisanya cetakan yang terasa kasar terletak pada tulisan angka nominal uang tersebut, jika uang yang kita uji keasliannya tersebut ketika diraba tidak terasa kasar maka uang patut diragukan keasliannya. Untuk uang kertas dengan nilai nominal yang lebih rendah, tulisan yang menggunakan visible fluorescent ink hanya nomor seri saja sedangkan tulisan nilai nominal uang tersebut tidak ada. Berdasarkan ciri tersebut dapat dibedakan antara uang asli dengan uang yang palsu. Uang palsu tidak terdapat tulisan dengan menggunakan visible fluorescent ink, karena proses percetakan dengan menggunakan visible fluorescent ink

menggunakan teknologo tinggi dan biaya yang mahal Uang palsu biasanya diedarkan di kalangan masnyarakat ekonomi rendah atau yang berpendidikan rendah, karena dengan diedarkan pada

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

131

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


kalangan masyarakat tersebut para pemalsu lebih mudah untuk mengedarkan uang palsunya karena pada klangan masyarakat ini pengawasannya relatif rendah dan juga pengetahuan tentang bagaimana cara mendeteksi uang palsu. 8. Benda-benda Cagar Budaya memiliki nilai yang sangat tinggi bagi pendidikan, kesenian, dan ilmu pengetahuan. Karenanya beda-benda tersebut harus dilindungi dan dilestarikan agar bisa tetap dinikmati oleh generasi yang akan datang. Karena diharapkan generasi yang akan datang bisa tetap mengetahui sisa-sisa dari kejayaan bangsanya dimasa lalu bukan hanya dari cerita buku belaka, namun dari bukti-bukti nyata berupa Benda-benda Cagar Budaya yang ada. Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki banyak suku bangsa dan budaya. Masingmasing suku bangsa tersebut memiliki kebudayaan dan peradaban yang berbeda-beda. Peradaban-peradaban yang ada sejak jaman dahulu tersebut memiliki beraneka ragam benda-benda hasil budaya yang merupakan peninggalannya. Hal ini menjadikan Indonesia sangat kaya dengan Benda Cagar Budaya karena benda-benda tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi bagi sejarah, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Dengan kondisi seperti ini, maka perlindungan terhadap benda cagar budaya mutlak diperlukan untuk menjaga kelestarian keberadaan nilai historis yang harus senantiasa dihargai sebagai bagian dari upaya memelihara kebudayaan nasional. Dengan demikian,

diharapkan agar Benda-benda Cagar Budaya yang memiliki nilai sangat penting bagi kebudayaan Indonesia tetap lestari dan aman di tempatnya sehingga bisa dinikmati oleh generasi yang akan datang.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

132

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


3.4. Test Formatif 3
1. Binatang atau tumbuhan, hidup atau mati, atau semua bagian - bagian yang masih dapat dikenal atau derivat jenis tumbuh tumbuhan/binatang merupakan definisi dalam cites, yang artinya adalah a b c d Species Specimen Bagian Derivat

2. Sertifikat cites harus ditulis dalam salah satu bahasa asing, dan bahasa nasional negara penerbit ijin boleh ditambahkan sebagai tambahan atau bisa diterima jika terjemahan dari tiap judul tiap-tiap kata dibuat dibawahnya, yaitu salah satu bahasa asing a. Inggris, Perancis, Portugis b. Inggris, Portugis, Spanyol . c. Inggris, Perancis, Spanyol d. Portugis, Perancis, Spanyol

3. Penggolongan barang ekspor menurut deperindag, yaitu... a. Barang yang diatur, diawasi, dan bebas ekspornya b. Barang yang diatur, diawasi, dan dilarang ekspornya c. Barang yang diatur, bebas, dan dilarang ekspornya d. Barang yang bebas, diawasi, dan dilarang ekspornya

4. Pemeriksaan uang rupiah oleh DJBC dan pemilik/pembawa paling lambat 7 hari, dalam hal kedapatan palsu, BA wawancara dan bukti BA Penegahan serahkan ke pemilik/pembawa sebagai tanda terima, alat bukti berupa BA harus ditanda tangani oleh yangbersangkutan, bukan paraf dan laporan kejadian diserahkan kepada Polri, dan terhadap uang rupiah tersebut dilakukan hal sebagai berikut : a. Uang rupiah dirampas untuk negara b. Uang rupiah disita untuk negara c. Uang rupiah ditegah dan dibuat BA Penegahan (BCF. 1.3 B)

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

133

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


d. Uang rupiah dibuat BA Penegahan (BCF. 1.3 B),

5. PPATK merupakan lembaga independen yang bertanggung jawab kepada presiden Republik Indonesia, yang dibentuk dalam rangka mencegah dan memberantas: a. pembawaan mata uang b. tindak pidana pencucian uang c. uang palsu d. pengambilan mata uang dengan segera dan besar-besaran di Bank

6. Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang melakukan pemblokiran Harta Kekayaan setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik, tersangka, atau terdakwa yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana, dengan surat perintah pemblokiran, dengan cara memerintahkan kepada: a. Bank Devisa b. Bank Persepsi c. Penyedia Jasa Keuangan d. Bank Nasional yang beroperasi di Indonesia.

7. Uang kertas maupun uang logam yang merupakan alat pembayaran yang sah di wilayah negara Republik Indonesia, adalah: a. SGD b. HKD c. IDR d. MYR

8. Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan , dan kebudayaan, adalah: a. Keramik b. Batu granit c. Batu Alam d. Benda cagar budaya

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

134

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


9. Lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan pengamanannya, adalah: a. Situs b. Taman c. Makam d. Bangunan

10.

Alasan pelarangan dan pembatasan atas impor maupun ekspor Benda Cagar Budaya disebabkan karena benda cagar budaya adalah

merupakan kekayaan budaya bangsa yang sangat besar artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan mempunyai arti penting bagi: a. Kesenian b. Kebudayaan c. Sosial budaya d. Sosiologi pembangunan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

135

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


3.5. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Cocokkan hasil jawaban dengan kunci jawaban yang disediakan pada modul ini. Hitung jawaban Anda yang kedapatan benar. Kemudian gunakan rumus untuk mengetahui tingkat pemahaman terhadap materi. Perhatikan dan cocokan hasil jawaban Anda dengan hasil perhitungan sesuai rumus dengan hasil pencapaian prestasi belajar sebagaimana data pada kolom dibawa ini.

TP =

Jumlah Jawaban Yang Benar X 100% Jumlah keseluruhan Soal

Apabila tingkat pemahaman Anda dalam memahami materi yang sudah dipelajari mencapai 91 % 81 % 71 % 61 % s.d s.d. s.d. s.d. 100 % 90,00 % 80,99 % 70,99 % : : : : Amat Baik Baik Cukup Kurang

Bila tingkat pemahaman belum mencapai 81 % ke atas (kategori Baik), maka disarankan mengulangi materi.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

136

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan

PENUTUP
Setelah mempelajari modul ini diharapkan peserta dapat memahami dan melaksanakan fungsi kepabeanan disamping sebagai sebagai aparat pemungut fiskal juga mempunyai fungsi yang sangat penting yaitu sebagai pengawas terhadap lalulintas barang impor dan ekspor dalam rangka melaksanakan tugas sebagai community protector. Tercermin saat ini organisasi kepabeanan dunia lebih mengarah pada fungsi pengawasan sebagai home land border protection dari pada fungsi sebagai customs service. Akhirnya semoga modul ini bermanfaat khususnya bagi peserta Diklat pegawai DJBC di seluruh Indonesia. Tingkatkan kompetensi dan integritas. Jadilah yang terdepan dalam peningkatan kinerja untuk melaksanakan fungsi pengawas lalulintas barang, untuk melindungi segenap bangsa dan masyarakat Indonesia. Semoga rahmat Allah Swt - Tuhan Yang Maha Esa selalu menyertai kita semua dalam melaksanakan amanah-Nya.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

137

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan

TES SUMATIF
Pilihlah jawaban yang saudara anggap paling benar, dengan cara memberi tanda bulatan atau lingkaran pada salah satu huruf yang tersedia didepan kalimat soal pilihan ganda.

1. Yang dimaksud dengan senjata non standar TNI-Polri, berdasarkan ketentuan senjata api, adalah kaliber .. a. Senjata api genggam maks. 32 mm; senjata api bahu maks. 25 mm b. Senjata api genggam maks. 35 mm; senjata api bahu maks. 22 mm c. Senjata api genggam maks. 32 mm; senjata api bahu maks. 22 mm d. Senjata api genggam maks. 22 mm; senjata api bahu maks. 32 mm

2. Selpeter atau asam sendawa atau kalium nitrate (KNO3), adalah bahan atau zat berupa butir-butir putih transparan yang memilik rasa asin, mudah larut dalam air, dapat larut sedikit dalam alkohol serta berkadar racun rendah membuat: a. Mesiu, dan pembersi karat pada besi b. Bahan air accu, dan petasan c. Korek api, dan campuran bahan gas helium d. Petasan, dan campuran bahan peledak

3. Barang cetak yang dilarang impornya karena terdapat unsur-unsur dapat mempengaruhi ideologi negara, dapat melanggar kesusilaan, dapat

melanggar, budaya pancasila, adalah klasifikasi barang cetak yang berupa: a. Buku, brosur, pamflet dan majalah b. Buku, brosur, pamflet dan poster c. Buku, brosur, koran dan poster d. Buku, buletin, pamflet dan poster

4. Berdasarkan UU nomor 8/1992 tentang film, barang impor berupa film wajib sensor film oleh Lembaga Sensor Film yang ada di Jakarta, dan diatur juga film yang dibebaskan dari kewajiban sensor (bebas sensor), adalah :

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

138

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


a. Film berita yang ditayangkan di bioskop b. Film sejarah yang ditayangkan di bioskop c. Film berita yang ditayangkan oleh media elektronik d. Film sejarah yang ditayangkan oleh media elektronik

5. Berdasarkan ketentuan tentang senjata api, penggunaan senjata api non standar TNI-Polri yang di-izinkan digunakan di kapal laut berbendera asing maupun bendera Indonesia, jumlah yang dapat diberikan untuk amunisinya 3 magazen/ silinder untuk setiap pucuk, dan untuk senjata apinya adalah: a. 1/3 jumlah awak kapal, maksimal 5 pucuk, b. 1/3 jumlah awak kapal, maksimal 10 pucuk, c. 2/3 jumlah awak kapal, maksimal 15 pucuk, d. 2/3 jumlah awak kapal, maksimal 20 pucuk,

6. Senjata api non standar TNI-Polri dapat diimpor oleh importir yang ditunjuk oleh departemen pertahanan, memiliki izin impor dari Ditjen Perdagangan Luar Negeri Deperindag, dan harus memiliki rekomendasi dari : a. Departemen Pertahanan, Polri, dan Bais TNI b. Departemen Pertahanan, Deperindag , dan Bais TNI c. Departemen Pertahanan, Polri, dan Deperindag d. Deperindag, Polri, dan Bais TNI

7. Amunisi berarti alat apa saja yang dibuat atau dimaksudkan untuk digunakan dalam Senjata Api sebagai proyektil atau yang berisi bahan yang mudah terbakar yang dibuat atau dimaksudkan untuk menghasilkan perkembangan gas di dalam Senjata Api untuk: a. Meluncurkan peluru b. Meluncurkan proyektil c. Meledakan peluru d. Meledakan proyektil

8. Ekspor maupun impor film hanya dapat dilakukan melalui kantor pabean tempat Lembaga Sensor Film berada. Kegiatan impor atau ekspor film melalui Bandara Sukarno Hatta, Pelabuhan Tanjung Priok, dan melalui :

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

139

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


a. Bandara Polonia - Medan b. Bandara Juanda Surabaya c. Kantor Pos Besar - Pasar Baru Jakarta d. Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

9. Perusahaan pers dilarang memuat iklan yang berakibat merendahkan martabat suatu agama dan/atau bertentangan dengan rasa kesusilaan masyarakat; serta mengganggu: a. Kerukunan hidup antar umat beragama b. Kegiatan impor c. Kegiatan ekspor d. Kegiatan perekonomian

10. Petasan dan happy crackers dilarang di Indonesia, alasan pelarangan potensi menyebabkan kebakaran mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat dalam bentuk: a. Polusi udara. b. Pencemaran lingkungan hidup c. Pencemaran Kehidupan Manusia. d. Polusi suara.

11. Narkotika golongan I yaitu golongan narkotika yang mempunyai potensi sangat tinggi yang mengakibatkan ketergantungan, dan... a. hanya dapat dipergunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan untuk terapi b. berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi c. berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi, mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan d. berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi

12. Zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat aktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku adalah...

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

140

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


a. Prekusor b. Narkotika c. psikotropika d. obat tradisional

13. Zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam memproses pembuatan narkotika atau psikotropika adalah... a. bahan narkotik b. bahan psikotropika c. bahan obat narkotika dan psikotropika d. prekursor

14. Berdasarkan undang-undang no. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, dan peraturan pemerintah no. 72 tahun 1998 tentang penanganan sediaan farmasi dan alat kesehatan, yang dimaksud dengan sediaan farmasi adalah... a. obat, alat mendiagnosa b. bahan obat, instrumen c. kosmetika, dan obat tradisionil d. obat tradisionil, alat meringankan penyakit

15. Salah satu ketentuan impor sediaan farmasi dan alat kesehatan dilindungi oleh certificate of analysis dari instansi yang berwenang di negara pengekspor (pabrik yang memproduksi), mengirim contoh ke badan pengawas obat dan makanan (pom), bila tidak memiliki certificate of analysis maka pejabat bea dan cukai dapat mengambil contoh... a. obat jadi masing-masing 5 bungkus, bahan obat masing-masing 50 sampai dengan 100 gram b. obat jadi masing-masing 5 bungkus, bahan obat masing-masing 50 gram c. obat jadi masing-masing 5 bungkus, bahan obat masing-masing 100 gram d. obat jadi masing-masing 10 bungkus, bahan obat masing-masing 100 gram

16. Golongan minuman beralkohol, untuk golongan B adalah minuman beralkohol dengan kadar ethanol...

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

141

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


a. dari 5% sampai dengan 20% b. lebih dari 5% sampai dengan 20% c. dari 10% sampai dengan 20% d. lebih dari 10% sampai dengan 20%

17. Barang-barang berbahaya bagi lingkungan hidup, meliputi... a. B3, limbah, dan radio aktif b. Non B3, B3, dan radio aktif c. Bahan-bahan berbahaya, Non B3, dan B3 d. Bahan-bahan berbahaya, limbah, dan radio aktif

18. Ada tiga macam importir limbah melakukan kegiatan impor di Indonesia, yaitu... a. Importir umum limbah, importir produsen limbah B3, importir produsen limbah non B3 b. Importir umum limbah, importir produsen limbah, importir produsen non limbah c. Importir limbah, importir produsen limbah , importir produsen non limbah d. Importir umum limbah, importir produsen limbah B3, importir limbah radio aktif

19. Berdasarkan Undang-undang no. 7 tahun 1996 tanggal 4 Nopember 1996 tentang pangan, Undang-undang no.23 th 1992 tentang kesehatan, dan peraturan pemerintah No. 329/Menkes/Per/1985 tentang makanan

kadaluarsa, ketentuan impor makanan dan minuman sebelum impor harus didaftarkan dahulu pada badan POM, impor harus mendapatkan izin impor dari badan POM, dilampiri sertifikat kesehatan, dan dilampiri... a. nama perusahaan yang memproduksi b. negara asal barang yang di impor c. label dengan memuat keterangan yang jelas tentang obat tersebut d. nama perusahaan yang mengimpor

20. Ketentuan larangan dan pembatasan untuk mengimpor limbah beracun dan berbahaya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1999 yakni:

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

142

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


a. Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan beracun dan berbahaya b. Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan berbahaya dan beracun. c. Setiap orang dilarang melakukan impor bahan berbahaya dan beracun. d. Setiap orang dilarang melakukan impor bahan beracun dan berbahaya

21. Binatang atau tumbuhan, hidup atau mati, atau semua bagian - bagian yang masih dapat dikenal atau derivat jenis tumbuh tumbuhan/binatang merupakan definisi dalam cites, yang artinya adalah a. Species b. Specimen c. Bagian d. Derivat

22. Sertifikat cites harus ditulis dalam salah satu bahasa asing, dan bahasa nasional negara penerbit ijin boleh ditambahkan sebagai tambahan atau bisa diterima jika terjemahan dari tiap judul tiap-tiap kata dibuat dibawahnya, yaitu salah satu bahasa asing a. Inggris, Perancis, Portugis b. Inggris, Portugis, Spanyol c. Inggris, Perancis, Spanyol d. Portugis, Perancis, Spanyol .

23. Penggolongan barang ekspor menurut deperindag, yaitu... a. Barang yang diatur, diawasi, dan bebas ekspornya b. Barang yang diatur, diawasi, dan dilarang ekspornya c. Barang yang diatur, bebas, dan dilarang ekspornya d. Barang yang bebas, diawasi, dan dilarang ekspornya

24. Pemeriksaan uang rupiah oleh DJBC dan pemilik/pembawa paling lambat 7 hari, dalam hal kedapatan palsu, BA wawancara dan bukti BA Penegahan serahkan ke pemilik/pembawa sebagai tanda terima, alat bukti berupa BA harus ditanda tangani oleh yangbersangkutan, bukan paraf dan laporan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

143

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


kejadian diserahkan kepada Polri, dan terhadap uang rupiah tersebut dilakukan hal sebagai berikut : a. Uang rupiah dirampas untuk negara b. Uang rupiah disita untuk negara c. Uang rupiah ditegah dan dibuat BA Penegahan (BCF. 1.3 B) d. Uang rupiah dibuat BA Penegahan (BCF. 1.3 B),

25. PPATK merupakan lembaga independen yang bertanggung jawab kepada presiden Republik Indonesia, yang dibentuk dalam rangka mencegah dan memberantas: a. pembawaan mata uang b. tindak pidana pencucian uang c. uang palsu d. pengambilan mata uang dengan segera dan besar-besaran di Bank

26. Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang melakukan pemblokiran Harta Kekayaan setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik, tersangka, atau terdakwa yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana, dengan surat perintah pemblokiran, dengan cara memerintahkan kepada: a. Bank Devisa b. Bank Persepsi c. Penyedia Jasa Keuangan d. Bank Nasional yang beroperasi di Indonesia.

27. Uang kertas maupun uang logam yang merupakan alat pembayaran yang sah di wilayah negara Republik Indonesia, adalah: a. SGD b. HKD c. IDR d. MYR

28. Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan , dan kebudayaan, adalah:

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

144

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


a. Keramik b. Batu granit c. Batu Alam d. Benda cagar budaya

29. Lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan pengamanannya, adalah: a. Situs b. Taman c. Makam d. Bangunan

30. Alasan pelarangan dan pembatasan atas impor maupun ekspor Benda Cagar Budaya disebabkan karena benda cagar budaya adalah merupakan kekayaan budaya bangsa yang sangat besar artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan mempunyai arti penting bagi: a. Kesenian b. Kebudayaan c. Sosial budaya d. Sosiologi pembangunan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

145

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan

KUNCI JAWABAN
1. Kunci Jawaban Latihan dan Test Formatif

1.1. Jawaban Latihan 1

1. Mr Ronaldiho untuk bisa memasukkan senjata api ini, importir harus, memiliki izin dari Kepala Kepolisia Republik Indonesia, memiliki Angka Pengenal Impor atau API/T dari Departemen Perindustrian dan

Perdagangan Tempat pemasukan senjata api dan amunisi dapat dilakukan melalui pelabuhan laut maupun udara. Untuk pelabuhan laut dapat melalui Medan (Belawan), Jakarta (Tanjung Priok), Surabaya (Tanjung Perak), Makassar (Soekarno-Hatta). Untuk pelabuhan udara dapat melalui Bandara Polonia, Bandara SoekarnoHatta, Bandara Juanda dan Bandara Hasanuddin.Yang dapat diimpor adalah jenis senjata api Non Standar TNI/Polri

2. Sesuai dengan Undang-undang Darurat No. 12 tahun 1951 pasal (1) tentang senjata api dan amunisi, disebutkan bahwa Barang siapa tanpa hak memasukan ke Indonesia atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu

senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak, dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara selamalamanya 20 tahun. Penghentian sarana pengangkut dilakukan dengan menggunakan isyarat yang lazim berupa lampu, isyarat morse, atau sirine kapal. Jika dengan isyarat yang lazim sarana pengangkut tidak berhenti, maka penghentian dilakukan dengan paksa yaitu dengan tembakan ke udara sebanyak 3 (tiga) kali. Jika dengan tembakan ke udara tetap tidak mau berhenti, maka terpaksa sarana pengangkut tersebut dilumpuhkan dengan menembak ke bagian yang vital dari kapal tersebut.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

146

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Setelah sarana pengangkut berhenti, pejabat Bea Cukai segera naik ke atas kapal dan langsung menuju ruang kendali kapal. Ditanyakan surat izin pemasukan yang diberikan oleh Kapolri qq. Direktorat Intelapam.. Jika dokumen-dokumen tersebut tidak ada, maka sarana pengangkut melakukan pelanggaran dan kapal tersebut dibawa ke Kantor Pabean. Hasil temuan tersebut segera dicatat dalam BAP untuk selanjutnya dilakukan penyidikan.

3. Bahan peledak adalah suatu bahan atau zat yang berbentuk padat, cair, gas atau campurannya yang apabila dikenai suatu aksi berupa panas, benturan, atau gesekan akan berubah secara kimiawi menjadi zat-zat lain yang sebagian besar atau seluruhnya berbentuk gas dan perubahan tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat singkat dan disertai efek panas dan tekanan yang sangat tinggi. Bahan peledak ada dua macam yaitu komersial dan militer. Untuk bahan peledak militer, pembinaan dan pengendaliannya diatur khusus oleh Dephan dan Mabes ABRI/(TNI/POLRI). Untuk

pengawasan pengendalian bahan peledak komersial telah disusun suatu Pedoman Pembinaan dan Pengendalian Bahan Peledak Komersial oleh Polri dan Depperindag. Kegunaan untuk latihan dan operasi militer, destruksi/demolition, perizinan bahan peledak militer diatur khusus oleh Dephan dan instansi terkait.

4. Selpeter atau asam sendawa atau kalium nitrate (KNO3) adalah bahan atau zat berupa butir-butir putih transparan yang memiliki rasa asin, mudah larut dalam air, dapat larut sedikit dalam alkohol serta berkadar racun rendah, yang digunakan untuk membuat mesiu, petasan, korek api, serta campuran bahan peledak. Perusahaan atau importir setelah mendapat penunjukan dari Departemen Pertahanan, mengajukan permohonan untuk medapatkan izin impor selpeter beserta komponennya kepada Direktorat Jenderal

Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan. Diimpor oleh importir yang ditunjuk oleh Departemen Pertahanan, memiliki izin dari Departemen Perdagangan, dan memiliki rekomendasi dari Departemen

Pertahanan,Kepolisian Republik Indonesia, dan Badan Inteligen Strategis (BAIS) TNI.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

147

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


5. Pemerintah dalam hal ini dilakuikan oleh Polri dalam upaya mengurangi dampak pengunaan petasan, menerapkan ketentuan melalui UU Darurat nomor 12/1951 sekaligus penegakan sanksi Pasal 187 Kitab Undangundang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman hukuman penjara 12 tahun. Yang dimaksud dengan Happy Ckreckers adalah petasan yang

memiliki kembang api, yang dapat meledak seperti petasan tapi sekaligus mengeluarkan kembang api yang berwana warni, dan biasanya

dipergunakan di malam hari, jenis petasan ini dilarang karena dapat menimbulkan polusi suara dan bahaya kebakaran.

6. Yang termasuk dalam klasifikasi barang cetak, adalah barang cetak yang bentuknya berupa Buku, Brosur, Pamflet, dan Poster. Barang cetak yang

dilarang, adalah barang cetak yang dapat mempengaruhi ideologi negara, dapat melanggar kesusilaan, dan dapat melanggar budaya pancasila.

Penyensoran adalah penghapusan secara paksa sebagian atau seluruh materi informasi yang akan diterbitkan atau disiarkan, atau tindakan teguran atau peringatan yang bersifat mengancam dari pihak manapun, dan atau kewajiban melapor, serta memperoleh izin dari pihak berwajib, dalam pelaksanaan kegiatan jurnalistik.

7. Film adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar (audio visual) yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita selluloid, pita, video, piringan video, dan atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik atau proses lainnya dengan atau tanpa suara yang dapat dipertunjukkan dan atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik dan atau lainnya. kaset video merupakan suatu media penyimpanan sebuah gambar (video). Disini kaset video kadang disama artikan dengan sebuah video. Akan tetapi ada perbedaan mendasar dari video dan kaset video yaitu video adalah sebuah perpaduan antara gambar dan suara sedangkan kaset video adalah merupakan media penyimpanannya. Pengertian kaset sendiri mengacu pada fisik barang tersebut yang berupa pita seluloid yang dapat merekam gambar serta suara.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

148

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Perusahaan atau importir yang ditunjuk dan diijinkan untuk mengimpor video, pengimporan harus memenuhi persyaratan yaitu Rekaman video yang diimpor adalah rekaman induk atau master, Isi rekaman tidak bertentangan dengan ideology negara Indonesia dan kepribadian bangsa Indonesia, tidak dijadikan alat propaganda ideologi negara asing, tidak mengganggu ketertiban umum, tidak merugikan kepentingan nasional, harus diberi teks bahasa Indonesia.

1.2. Jawaban Test Formatif 1

1. c 2. d 3. b 4. c 5. b 6. a 7. b 8. c 9. a 10. d

1.3. Jawaban Latihan 2

1. Ada tiga jenis penggolongan Narkotika, yaitu Golongan I, Golongan II, dan Golongan III. Jenis narkotika seperti Opium mentah/masak, tanaman koka, daun koka, kokain mentah, ganja yaitu Narkotika Golongan I yang pengertiannya adalah Narkotika yang hanya dapat dipergunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan untuk terapi, serta mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk mengakibatkan ketergantungan. Berpotensi menurunkan kesadaran manusia. 2. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikotropika aktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

149

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


mental dan perilaku. Dari pengertian psikotropika bisa berasal dari bahanbahan alami maupun non alami. Psikotropika ada yang mengakibatkan sindroma ketergantungan ada Psikotropika hanya juga yang tidak. Impor dan ekspor pengobatan dan/atau tujuan ilmu

untuk tujuan

pengetahuan, hanya dapat diimpor oleh salah satu importir pedagang besar farmasi setelah memperoleh keputusan Menteri Kesehatan dan izin impor dari Menteri Perdagangan, dengan memenuhi syarat-syarat : memiliki angka pengenal impor (API/T), memiliki surat persetujuan impor untuk setiap kali impor dari menteri kesehatan, memiliki persetujuan pemerintah negara eksportir, berdasarkan ketentuan UU No.22 tahun 1997. 3. Pemantauan dan Pengawasan precursor dilakukan terhadap semua jenis precursor. Hal ini dipandang perlu mengingat penyalahgunaan narkotika dan psikotropika yang semakin meluas dan berdimensi internasional dan untuk mencegah kemungkinan terjadinya penyalahgunaan bahan tersebut untuk pembuatan dan produksi psikotropika dan narkotika. Pemantauan dan Pengawasan terhadap impor dan ekspor prekursor diwujudkan dengan jalan pemberian Surat Persetujuan Impor setiap kali mengimpor; pemberian Surat Persetujuan Ekspor setiap kali mengekspor; pem-beritahuan ekspor dari pemerintah negara pengekspor (pre ekspor notifikasi), kewajiban

menyampaikan catatan dan laporan bagi sarana pengelola precursor; Jenis prekursor yang apabila diimpor atau diekspor wajib dilaporkan kepada Kepala Kantor adalah Asam N-Asetil Antranilat, Efedrin, Ergometrin, Ergotamin, Isosafrol, Asam Lisergat, 3,4-metilen dioksifenil 2-propanon, 1Fenil2 Propanon, Piperonal, Pseudoefedrine, Safrol,Anhidrida Asam Asetat, Asam Fenil Asetat,Kalium Permanganat, Metil etil keton. 4. Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik. Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Alat Kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin, atau implan yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan dan

meringankan penyakit, merawat orang sakit serta memulihkan kesehatan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

150

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


pada manusia dan/atau untuk membentuk struktur dan mampu memperbaiki fungsi tubuh. 5. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman. Toko Bebas Bea dilarang menjual Minuman Beralkohol golongan B dan C, kecuali secara eceran kepada Anggota Korps Diplomatik sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1957; Tenaga (Ahli) Bangsa Asing yang bekerja pada Lembaga-lembaga Internasional sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1955; Mereka yang akan bepergian ke luar negeri; dan Mereka yang baru tiba dari luar negeri. Toko Bebas Bea (Duty Free Shop) adalah perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 1996 tentang Tempat Penimbunan Berikat dan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 109/KMK.00/1993 tentang Toko Bebas Bea (Duty Free Shop), yang menjual Minuman Beralkohol secara eceran dalam kemasan 6. Yang dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan hidup, adalah Bahanbahan berbahaya bagi kesehatan masyarakat (meliputi: bahan berbahaya dan beracun/B3; Bahan perusak lapisan ozon; pasir laut, pelumas, dan pupuk); Limbah; dan Radio Aktif. Pengawasan atau penegakan hukumnya dengan cara menetapkan

ketentuan larangan dan pembatasan untuk mengimpor limbah beracun dan berbahaya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1999 yakni setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan beracun dan berbahaya; pengangkutan limbah bahan beracun dan berbahaya dari luar negeri melalui wilayah negara RI dengan transit wajib memiliki persetujuan tertulis dari kepala badan pengendalian dampak lingkungan.; pengangkutan limbah bahan beracun dan berbahaya dari luar negeri melalui wilayah negara RI wajib diberitahukan terlebih dulu.; pengiriman limbah bahan beracun dan berbahaya ke luar negeri dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan tertulis dari pemerintah negara pengimpor dan juga dari kepala

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

151

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


badan pengendalian lingkungan.; dan ketentuan lebih lanjut mengenai tata niaga impr limbah ditetapkan oleh menteri perindustrian dan perdagangan setelah mendapat persetujuan dari kepala badan pengendalian dampak lingkungan.

1.4. Kunci Jawaban Test Formatif 2 1. a 2. c 3. d 4. c 5. a 6. b 7. d 8. a 9. c 10. a

1.5. Kunci Jawaban Latihan 3 1. Setiap Media Pembawa yang dimasukkan ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia dikenakan tindakan Karantina Tumbuhan. Setiap Media Pembawa yang dibawa atau dikirim dari suatu Area yang tidak bebas ke Area lain yang bebas di dalam wilayah Negara Republik Indonesia dikenakan tindakan Karantina Tumbuhan. Setiap Media Pembawa yang akan dikeluarkan dari wilayah Negara Republik Indonesia dikenakan tindakan Karantina Tumbuhan apabila disyaratkan oleh negara tujuan. Tindakan Karantina Tumbuhan dilakukan oleh petugas Karantina Tumbuhan berupa pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan, pemusnahan dan pembebasan. Pemeriksaan meliputi,

pemeriksaan administratif untuk mengetahui kelengkapan, kebenaran isi, dan keabsahan dokumen persyaratan; dan pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi kemungkinan adanya Organisme Pengganggu Tumbuhan dan/atau Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina. Pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan secara visual dan/atau laboratoris.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

152

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


2. Wewenang dan tanggung jawab tindakan karantina berada pada dokter hewan karantina. Pelaksanaan tindakan karantina, dan sertifikasi hewan atau sertifikasi sanitasi oleh dokter hewan karantina. berdasarkan tanggung jawab profesi sebagai dokter hewan. Media pembawa yang dimasukkan ke dalam wilayah Negara RI, wajib dilengkapi sertifikat kesehatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang di negara asal dan negara transit; dilengkapi surat keterangan asal dari tempat asalnya bagi media pembawa yang tergolong benda lain; melalui tempat-tempat pemasukan yang telah ditetapkan; dan dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat pemasukan untuk keperluan tindakan karantina. Media pembawa yang dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia, wajib dilengkapi sertifikat kesehatan yang diterbitkan oleh dokter hewan karantina dari tempat pengeluaran dan tempat transit; dilengkapi surat keterangan asal dari tempat asalnya bagi media pembawa yang tergolong benda lain; melalui tempattempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan; dan dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat pemasukan dan pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina. Media pembawa yang akan dikeluarkan dari wilayah negara Republik RI, wajib dilengkapi sertifikat kesehatan yang diterbitkan oleh dokter hewan karantina di tempat pengeluaran; dilengkapi surat keterangan asal dari tempat asalnya bagi media pembawa yang tergolong benda lain; melalui tempat-tempat pengeluaran yang telah ditetapkan; dan dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina. 3. Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Flora and Fauna (CITES) ialah konvensi tingkat Internasional yang mengatur tentang perdagangan spesies flora dan fauna yang terancam punah. Penyusunan sertifikat CITES; yaitu Harus dibuat dalam satu bahasa, Inggris, Perancis, dan Spanyol; Bahasa nasional negara penerbit ijin boleh ditambahkan sebagai tambahan atau bisa diterima jika terjemahan dari tiap judul tiap-tiap kata dibuat dibawahnya., Harus berisi uraian dari specimen dalam salah satu bahasa dari ketiga bahasa tsb., Tidak boleh ada perubahan, perubahan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

153

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


hanya dapat dilakukan secara otentik dengan membubuhkan stempel dan tanda tangan.. Harus menunjuk dengan jelas annex-nya dan jumlah lembar harus berisikan, jumlah lembar izin dari sertifikat dan tanggal penerbitan, Tanda tangan dan stempel dari penguasa yang berhak mengeluarkan dokumen, Dalam konvensi C I T E S ini akhirnya ditetapkan pembagian flora dan fauna. Pembagian ini berdasarkan atas tingkat kelangkaan yang secara garis besar diklasifikasikan kedalam 3(tiga) appendiks , yaitu Appendiks I , Appendiks II, dan Appendiks III 4. Barang yang diatur ekspornya, Barang yang diawasi ekspornya, dan Barang yang dilarang ekspornya. Barang yang diawasi ekspornya adalah barang yang ekspornya hanya dapat dilakukan dengan persetujuan Memperindag atau pejabat yang ditunjuknya, seperti barang ekspor berupa - sapi, sapi bibit, dan kerbau, - ikan dalam keadaan hidup termasuk ikan dan anak ikan napoleon wrasse (cheilinus undulatus), benih ikan bandeng (nener), ikan dan anak arwana jenis sclerophages jardini, - inti kelapa sawit (palm kernel), minyak dan gas bumi, - pupuk urea, - kulit buaya dalam bentuk wet blue, satwa liar dan tumbuhan alam yg dilindungi yg termasuk dalam appendix 2 cites, - perak dalam segala bentuk kecuali dalam bentuk perhiasan, - emas dalam segala bentuk kecuali dalam bentuk perhiasan, -limbah dan scrap ferro hasil peleburan skrap besi atau baja (khusus yang berasal dari wilayah pulau Batam), - limbah dan skrap dari baja stainless, tembaga, kuningan, dan aluminium. 5. Uang Rupiah adalah uang kertas maupun uang logam yang merupakan alat pembayaran yang sah di wilayah negara Republik Indonesia. Membawa Uang Rupiah adalah mengeluarkan atau memasukkan Uang Rupiah yang dilakukan dengan cara membawa sendiri atau melalui pihak lain dengan atau tanpa menggunakan sarana pengangkut. Ijin Bank Indonesia yang diberikan oleh Bank Indonesia hanya berlaku untuk satu kali penggunaan dengan ketentuan; masa berlaku ijin paling lama 30 ( tiga puluh ) hari kerja, terhitung sejak tanggal ijin diberikan; surat Ijin wajib diberikan kepada Pejabat Bea dan Cukai di tempat keberangkatan, dan Jumlah uang Rupiah

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

154

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


yang dibawa paling banyak sama dengan jumlah yang tercantum dalam Surat Ijin. 6. Pencucian Uang (money laundering) adalah perbuatan menempatkan, mentransfer, membayarkan, membelanjakan, menghibahkan,

menyumbangkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan, atau perbuatan lainnya atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dengan maksud untuk menyembunyikan, atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan sehingga seolah-olah menjadi Harta Kekayaan yg sah. Anti tipping-off adalah ketentuan larangan bagi direksi, pejabat, atau pegawai Penyedia Jasa Keuangan Pejabat atau pegawai, PPATK, serta penyelidik/penyidik memberitahukan kepada

pengguna jasa keuangan atau orang lain baik secara langsung ataupun tidak langsung dengan cara apapun mengenai laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan yang sedang disusun atau telah disampaikan kepada PPATK atau yang telah dilaporkan kepada PPATK atau penyidik secara langsung atau tidak langsung dengan cara apapun, dimaksudkan agar pengguna jasa keuangan tidak memindahkan Harta Kekayaannya. 7. Ada beberapa cara mendeteksi asli atau tidak nya uang, untuk itu salah satunya dengan cara melihat tanda air pada uang tersebut. Tanda air adalah salah satu bagian dari uang kertas untuk mengamankan uang kertas dari pemalsuan. BI menentukan gambar apa yang akan dijadikan tanda air. Tanda air adalah gambar transparan yang biasanya terletak di sebelah kanan gambar muka (front side) uang. Gambar tanda air akan terlihat dengan jelas bila orang menerawangnya ke arah cahaya atau lampu. Gambar tanda air tidak selalu tidak selelu berkaitan dengan tema utama uang tersebut. Misalnya, pada pecahan seribu rupiah, potret Cut Nyak Meutia-pahlawan asal Aceh-tampil dalam tanda air. Namun, pecahan Rp 20.000, gambar utama dan gambar tanda air sama yaitu gambar Ki Hadjar Dewantara. 8. Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya; PP No. 10 Tahun 1993 Tentang Pelaksanaan UU Benda Cagar Budaya, dan UU No. 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan UU No. 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan. Dilakukan pemerikasaan dokumen dan pemeriksaan badan. Pemeriksaan dokumen guna meminta yang bersangkutan untuk

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

155

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


menunjukkan surat izin membawa barang tersebut ke luar negeri. Sedangkan pemerisaan badan guna mencari segala hal yang berkaitan dengan barang tersebut yang diduga disembunyikan oleh yang

bersangkutan untuk mencari segala sesuatu yang berkaitan dengan orang tersebut guna mengumpulkan segala barang bukti guna pemenuhan penegakan mukum kepabeanan. Tata cara pemeriksaan badan adalah sebagai berikut dilakukan ditempat yang tertutup (tidak terlihat dari luar), dilakukan minimal oleh 2 (dua) orang yang berjenis kelamin sama dengan orang yang akan diperiksa, tetap mengindahkan norma kesopanan, hasil pemeriksaan ditulis dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan ditanda tangani pertugas pemeriksa dan oleh orang yang diperiksa. Bila ternyata orang tersebut memiliki izin atas pembawaan benda cagar budaya maka jangan langsung dipersilahkan untuk meninggalkan tempat untuk melanjutkan perjalanan, harus diperiksa terlebih dahulu keaslian surat izin tersebut dengan melihat dokumen surat tersebut lalu dilakukan Cross check data ke instansi yang melakukan penerbitan surat tersebut dalam hal ini adalah Departemen Pariwisata dan Kebudayaan.dan pastikan juga apakah sudah dipenuhi kewjiban kepabeanannya meliputi pemberitahuan barang tersebut yang dibawa dan kewajiban pabean yang lain. Bila semua hal diatas sudah dipenuhi maka wanita tersebut dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanannya. Bila ternyata wanita tersebut tidak dapat memberitahukan surat izin yang dimaksud atau surat izin telah kewat batas waktu dan tidak dapat digunakan lagi ataupun surat tersebut palsu atau dipalsukan maka hal ini adalah termasuk tindak pidana penyelundupan. Pejabat Bea dan Cukai membuat Berita Acara Pemeriksaan dan dalam hal dapat dibuktikan ada unsur atau delik pidana dilakukan penyidikan, dan diteruskan kepada penyidik. Menyerahkan barang bukti dan tersangka tindak pidana ke Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bea dan Cukai (PPNS BC) dan membuat Berita Acara Serah Terima dengan PPNS Bea dan Cukai.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

156

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


1.6. Kunci Jawaban Test Formatif 3 1. b 2. c 3. b 4. c 5. b 6. c 7. c 8. d 9. a 10. b

2. Kunci Jawaban Test Sumatif

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

c d b c b a b c a

11. a 12. c 13. d 14. c 15. a 16. b 17. d 18. a 19. c 20. a

21. b 22. c 23. b 24. c 25. b 26. c 27. c 28. d 29. a 30. b

10. d

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

157

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan

DAFTAR PUSTAKA
Undang-undang No. 17 tahun 2006 Tanggal 15 Nopember 2006 tentang Perubahan Undang-undang No. 10 tahun 1995 Tanggal 30 Desember 1995 tentang Kepabeanan. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 Tentang Pertahanan. Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Undang-undang Nomor: 40 Tahun 1999 tentang PERS Disahkan di Jakarta pada tanggal 23 September 1999 Presiden Republik Indonesia, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 166 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3887 Undang-undang Nomor 4/PPNS/1963 Tentang Pers Undang-undang Nomor 8 tahun 1992 tentang Film yang menggantikan Ordonansi Film Staatsblaad 1940 No. 507 Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Usaha Perfilman. Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1994 tentang Lembaga Sensor Film Ordonansi Senjata api Staadblaad 1937 Nomor 170 tanggal 19 Maret 1937 Ordonansi Senjata api Staadblaad 1939 Nomor 278 tanggal 30 Mei 1939 Ordonansi Bahan Peledak Staatsblaad 1893 Nomor 234 Ordonansi Bahan Peledak staatsblaad 1931 Nomor 168 tanggal 9 Mei 1931 Reglemen Senjata api Staadblaad 1939 Nomor 279 tanggal 30 Mei 1939 Undang-undang Nomor 8 tahun 1948 Lembaran Negara Nomor 17 tahun 1948 tentang Pendaftaran dan Pemberian Ijin Senjata Api Undang-undang Darurat No.12/Drt/1951 LN 1951 No.78 tanggal 1 September 1951 Mengenai Peraturan Hukum Istimewa Sementara Lembaran Negara Nomor 78 tanggal 4 September 1951 tentang Senjata Api dan Bahan Peledak Undang-undang Nomor 20/PPNS/1960 tanggal 13 Mei 1960 tentang

Kewenangan Perizinan Yang Diberikan Menurut Undang-unadang Mengenai Senjata Api. Keputusan Presiden Nomor 14 Tahun 1997 tentang Pengadaan Bahan Peledak

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

158

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 1976 tanggal 6 April 1976 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Keputusan Menteri Pertahanan dan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Nomor Kep/27/XII/1977 tanggal 28 Desember 1977 tentang Tuntunan Kebijaksanaan untuk Meningkatkan Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Sebagai Pelaksanaan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1976 Keputusan Menteri Pertahanan dan Keamanan Nomor : Kep/03/XI/1997 tentang Pengawasan dan Pengendalian Bahan Peledak Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 139//KMK.05/1997 tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Persenjataan, Amunisi, Termasuk Suku Cadang Dan Perlengkapan Militer Serta Barang Dan Bahan Yang Dipergunakan Untuk Menghasilkan Barang Yang

Diperuntukkan Bagi Keperluan Pertahanan Dan Keamanan Negara Keputusan Menteri Pertahanan Nomor : Kep05/M/VII/2001 tanggal 19 Juli 2001 tentang Penunjukkan Badan Usaha di Bidang Bahan Peledak Keputusan Menteri Pertahanan Nomor : Kep06/M/VII/2001 tanggal 19 Juli 2001 tentang Penunjukkan Badan Usaha di Bidang Bahan Peledak Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : SE-16/BC/2003 tentang Tata Cara Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Persenjataan, Amunisi, Termasuk Suku Cadang Dan Perlengkapan Militer Serta Barang Dan Bahan Yang Dipergunakan Untuk Menghasilkan Barang Yang

Diperuntukkan Bagi Keperluan Pertahanan Dan Keamanan Negara Surat Keputusan Menteri Penerangan Nomor 215/Kep/MenPen/94 tanggal 28 Oktober 1994 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Usaha Pefilman. Surat Keputusan Menteri Penerangan Nomor 220/Kep/MenPen/95 tanggal 6 September 1995 tentang Jumlah Perusahaan Impor Rekaman Video. Undang-undang No. 8 tahun 1994 tentang film. Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Usaha Perfilman Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1994 tentang Lembaga Sensor Film. Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1994 tentang Badan Pertimbangan Perfilman Nasional.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

159

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 215/Kep/MenPen/94 tentang Tata cara Penyelenggaraan Usaha Perfilman. Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 220/Kep/MenPen/95 tentang Jumlah Perusahaan Impor Rekaman Video. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (Lembaran Tahun 1997 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3698); Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3671); Undang-undang Nomor 7 Tahun 1997 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychothropic Substances, 1998 (Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika, 1998) (Lembaran Negara Tahun 1997 No.17, Tambahan Lembar Negara No. 3673); Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan; Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 Tentang Pangan Undang undang nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, tanggal 19 september 1997 sebagai pengganti undang undang no. 4 tahun 1982. Undang Undang Nomor 10 Tahun 1997, Tentang Ketenaga nukliran Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 917/MENKES/SK/VIII/1997 tanggal 25 Agustus 1997 tentang Jenis Prekursor Psikotropika. Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan No.

HK.00.06.6.03181 tanggal 18 Desember 1997 tentang pemantauan Prekursor Psikotropika. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 890/MENKES/SK/VIII/199824 Agustus 1998 tentang Jenis Prekursor Narkotika. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: KEP32/BC/2001 Tentang Pengawasan Impor dan Ekspor Prekursor Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Nomor :

HK.00.05.35.02771 Tentang Pemantauan dan Pengawasan Prekursor Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor

HK.00.05.350.02770 tentang Penambahan Jenis Prekursor Tahun 2002.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

160

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Keputusan Menteri Peraturan pemerintah nomor 85 tahun 1999 tanggal 7 oktober 1999 tentang pengelolaan limbah bahan beracun dan berbahaya sebagai pengganti peraturan pemerintah nomor 18 tahun 1999. Surat keputusan menteri perdagangan dan perindustrian Nomor 230/MPP/Kep /7/1997 tanggal 4 juli 1997 tentang barang yang diatur tata niaga impornya. Surat Keputusan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Nomor 231/MPP/KEP /7/1997 tanggal 4 juli 1997 tentang Prosedur Impor Limbah. Perindustrian dan Perdagangan RI No.254/MPP/KEP/7/2000 tanggal 4 Juli 2000 ttg Tata Niaga Impor dan Peredaran Bahan Berbahaya Tertentu Tgl.4 Juli 2000 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan; Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 920/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan Pendaftaran Obat Jadi Impor, dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1297/Menkes/Per/XI/1998 tentang

Peredaran Obat Tradisional Impor. Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengawasan Dan Pengendalian Minuman Beralkohol Peraturan Pemerintah No. 5 Th 1998 Tentang Nomor Pokok Pengusaha Kena Cukai Keputusan Menkes Nomor 282/Menkes/SK/1998 Tentang Standar Mutu Produksi Minuman Beralkohol Peraturan Menkes Nomor 86/Menkes/SK/1997 Tentang Penggolongan Minuman Beralkohol Keputusan Memperindag Nomor 359/MPP/KEP/10/1997 Tentang Pengawasan dan Pengendalian Produksi, Impor, Pengedaran, Penjualan Minuman Beralkohol Keputusan Memperindag Nomor 360/MPP/KEP10/1997 Tentang Tata Cara Pemberian Surat Izin Usaha Perdagangan Minuman Beralkohol. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun1 999 Tentang Label Dan Iklan Pangan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

161

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Keputusan Menteri Pertanian Nomor 711/Kpts/TP.270/7/1997 tentang

Perpanjangan dan Pemberian Izin Pestisida Berbahan Aktif Metil Bromida; Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 110/MPP/Kep/1/1998 tentang Larangan Memproduksi dan Memperdagangkan Bahan Perusak Lapisan Ozon Serta Memproduksi dan Memperdagangkan Barang Baru Yang Menggunakan Bahan Perusak Lapisan Ozon (Ozone Depleting Substances) Undang-undang Nomor 5 tahun 1992 tanggal 21 Maret 1992 tentang Benda Cagar Budaya sebagai pengganti Monumentum Ordonantie Staatsblaad 1931 No. 238. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478), Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3482), Undang-Undang No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1993 tentang Aturan Pelaksanaan UndangUndang No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1993 tanggal 19 Februari 1993 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 5 tahun 1992. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 062/U/1995 tanggal 29 Maret 1995 tentang Pemilikan, Penguasaan, Pengalihan dan

Penghapusan Benda Cagar Budaya dan/atau Situs. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudavaan Nomor 063/U/1995 tanggal 29 Maret 1995 tentang Perlindungan dan Pemeliharaan Benda Cagar Budaya. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 064/U/1995 tanggal 29 Marct 1995 tentang Penelitian dan Penetapan Benda Cagar Budaya dan/atau Situs Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 235/KMK.05/1996 tentang Barang yang Dinyatakan Tidak Dikuasai ,Barang Yang Dikuasai Negara dan Barang yang Menjadi Milik Negara.

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

162

Ketentuan Barang Larangan dan Pembatasan


Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 689/KMK.05/1996 tentang Pengadministrasian Barang Yang Dinyatakan Tidak Dikuasai , Barang yang Dikuasai Negara dan Barang Yang Menjadi milik Negara. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.Keputusan Dirjen Bea dan Cukai Nomor Kep70/BC/2001 tentang Tata Cara Pemeriksaan, Penegahan, Pengenaan, dan Penyetoran sanksi Administrasi atas Pengeluaran dan Pemasukan Uang, dari atau ke dalam Wilayah Pabean Republik Indonesia.2001 Bank Indonesia.Peraturan Bank Indonesia Nomor4/8/PBI/2002 tentang

Persyaratan dan Tata Cara Membawa Uang Rupiah Keluar atau Masuk wilayah Pabean republik Indonesia.2002 Bank Indonesia,Surat Edaran bank Indonesia Nomor 6/22/DLN/2004 tentang Persyaratan dan Tata Cara Membawa Uang Rupiah Keluar atau Masuk Wilayah Pabean Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2000 Tanggal 19 September 2000 Tentang Karantina Hewan

DTSD DTSD Kepabeanan dan Cukai

163