Anda di halaman 1dari 8

MATERI 4

PENCEGAHAN, DETEKSI FRAUD, DAN PROFILING FRAUD


Yuyun Septiyaningsih (195221071)

A. INTERNAL CONTROL

Menurut COSO (1992) Internal Control merupakan suatu proses yang dijalankan oleh
dewan komisaris, manajemen dan personal lainnya yang didisain untuk memberikan
keyakinan memadai tentang pencapaian ketiga golongan tujuan sebagai berikut:
efektivitas dan efisiensi kegiatan, dapat dipercayainya pelaporan keuangan, dan ketaatan
terhadap peraturan perundang-undangan. Dengan penerapan internal control yang
cukup memadai sebagai suatu proses yang dijalankan oleh semua orang yang
terlibat diharapkm dapat memberikan keyakinan memadai bahwa semua peraturan,
kebijakan, metode dan prosedur ditaati, yang bermakna pula bahwa pelaksanaan
operasi dapat berjalan secara efektif dan efisien dan pada akhirnya menghasilkan
infomasi keuangan yang dapat dipercaya oleh semua pihak.

B. STRATEGI PERUSAHAAN MEMERANGI FRAUD

Internal control dibangun dari lima komponen sebagai berikut :

1. Lingkungan pengendalian
Lingkungan pengendalian merupakan fondasi yang mendasari komponen-
komponen lainnya dalam suatu disiplin dan struktur yang selanjutya diturunkan
dalam bentuk tindakan, kebijakan dan prosedur. Lingkungan pengendalian
mencakup: integritas dan nilai etika, komitmen pada kompetensi, partisipasi dewan
komisaris atau komite audit, filosofi dan gaya operasi manajemen, struktur
organisasi, pemberian wewenang dan tanggungjawab, serta kebijakan dan praktik
sumber daya manusia. Diharapkan dengan dilandasi lingkungan pengendalian yang
sehat akan menghasilkan nilai dan etika yang lebih baik, seperti manajemen yang
berkualitas, kualitas produk, keuangan yang sehat, memiliki nilai investasi, memiliki
inovasi, pemanfaatan aset, tanggungjawab terhadap lingkungan dan memiliki
kemampuan untuk mengembangkan dan menjaga bakat seseorang.
2. Penetapan Risiko
Penetapan risiko yaitu mengidentifikasi dan menganalisis risiko yang
mungkin
muncul dari setiap aktivitas dalam mencapai suatu tujuan, serta sebagai dasar
dalam menetapkan bagaimana pengelolaan risiko tersebut, agar dapat
diminimalisasi. Setiap bisnis memiliki tingkat risiko yang berbeda yang akan
mempengaruhi transaksi dan akhirnya mempengaruhi penyajian laporan
keuangan. Risiko dapat muncul karena perubahan dalam lingkungan operasi,
personel baru, sistem informasi baru, teknologi baru, lini produk, produk atau
aktivitas baru, restrukturisasi korporasi, operasi luar negeri dan penerapan standar
akuntansi baru.
3. Aktivitas pengendalian
Aktivitas pengendalian merupakan serangkaian kebijakan dan prosedur yang
membantu memberikan keyakinan bahwa tindakan yang diperlukan telah
dilaksanakan untuk menghadapi risiko dalam pencapaian tujuan perusahaan.
Lima jenis aktivitas pengendalian terdiri dari: pembagian tugas, otorisasi yang
tepat atas transaksi dan aktivitas, kecukupan penggunaan dokumen dan catatan,
pengendalian phisik atas aset dan catatan, serta pengecekan independen atas
kinerja (Arens et al, 2006).
4. Informasi dan komunikasi

Informasi diperlukan agar seseorang dapat melaksanakan tanggungjawabnya.


Sedangkan komunikasi dibutuhkan untuk dapat menerima, memahami, menjalankan
dan melaporkan tugas-tugas yang diberikan. Informasi dan komunikasi keuangan dan
operasi lainnya diperlukan pada setiap tingkat hirarki organisasi untuk mengetahui
jalannya perusahaan dalam mencapai tujuan. Beberapa pendapat tentang informasi,
yaitu : informasi keuangan dan operasi dikembangkan dari sumber intern dan ektern
yang relevan dalam mencapai ketiga golongan tujuan (operasi, keuangan dan
kepatuhan), sistem informasi manual atau otomatisasi yang digunakan untuk
memproses informasi baik formal maupun informal, sistem informasi harus
mendukung inisiatif strategik dan terintegrasi dalam suatu operasi, kualitas informasi
mempengaruhi kemampuan manajemen dalam membuat keputusan (Root, 1998).
5. Pemantauan

Pemantauan merupakan proses penetapan kualitas kinerja internal control


sepanjang waktu. Proses ini dapat dilakukan dengan pemantauan yang berjalan
terus menerus, evaluasi secara terpisah atau kombinasi keduanya. Pemantauan
dilakukan terhadap seluruh sistem bahkan dapat diperluas pada aktivitas-aktivitas
komponen internal control lainnya, sehingga dapat memberikan keyakinan bahwa
internal control dilaksanakan secara efektif. Jika perusahaan telah memiliki bagian
internal auditing, pemantauan dapat dilakukan oleh internal auditing tersebut, untuk
mengevaluasi kecukupan disain dan implementasinya, serta dapat memberikan
saran atau rekomendasi perbaikan jika ternyata terdapat penyimpangan yang
berarti.

C. PENCEGAHAN FRAUD
Para ahli memperkirakan bahwa fraud yang terungkap merupakan bagian
kecil dari seluruh fraud yang terjadi. Oleh karena itu, upaya utama seharusnya adalah
pada pencegahannya. Ada ungkapan yang secara mudah ingin menjelaskan penyebab
atau akar permasalahan dari fraud. Ungkapan itu adalah: fraud by need, fraud by
greed, and fraud by opportunity. Kata fraud dalam ungkapan tersebut bisa diganti
dengan corruption, financial crime, dan lain-lain. Menghilangkan atau menekan need
dan greed yang mengawali terjadinya fraud dilakukan sejak menerima seseorang
(recruitment process), meskipun kita tahu bahwa proses itu bukan jaminan penuh. Ini
terus ditanamkan melalui fraud awareness dan contoh-contoh yang diberikan
pemimpin perusahaan atau lembaga.

D. MENCIPTAKAN BUDAYA JUJUR, TERBUKA, DAN SALING DUKUNG


Cara yang paling efektif untuk mencegah dan menghalangi fraud adalah
mengimplementasikan program serta pengendalian anti fraud, yang didasarkan pada
nilai-nilai inti yang diambil. Nilai-nilai semacam itu menciptakan lingkungan yang
mendukung perilaku dan ekspektasi yang dapat diterima, bahwa pegawai dapat
menggunakan nilai itu untuk mengarahkan tindakan mereka. Nilai-nilai itu
membantu menciptakan budaya jujur dan etika yang menjadi dasar bagi
tanggungjawab pekerjaan para pegawai. Menciptakan budaya jujurdan etika tinggi
mencakup beberapa unsur yaitu :
a. Menetapkan Tone at the Top
b. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Positif
c. Memperkerjakan dan Mempromosikan Pegawai yang Tepat
d. Pelatihan e. Konfirmasi

E. ELIMINASI KECURANGAN
Eliminasi Kecurangan upaya menghilangkan peluang fraud dan menangani penjahat
faldo dapat dilakukan dengan cara:
a. Pengendalian internal yang baik
b. Meminimalkan kolusi antar karyawan.
c. Mengkomunikasikan dengan jelas kebijakan anti-penipuan perusahaan kepada
pemasok
d. dan pemangku kepentingan lainnya.
e. Mengawasi karyawan
f. Memberikan sangsi terhadap para pelaku fraud
g. Melakukan secara proaktif melakukan audit

F. PENCENGAHAN KECURANGAN
Standar Pengedalian adalah kebijakan dari prosedur yang membantu menjamin bahwa
arahan manajemen dilaksanakan dan juga Mengefektifkan aktivitas pengendalian.
1. Review Kinerja
Aktivitas pengendalian ini mencakup review atas kinerja sesungguhnya
dibandingkan dengan anggaran, prakiraan, atau kinerja priode sebelumnya,
menghubungkan satu rangkaian data yang berbeda operasi atau keuangan satu sama
lain, bersama dengan analisis atas hubungan dan tindakan penyelidikan dan
perbaikan; dan review atas kinerja fungsional atau aktivitas seseorang manajer kredit
atas laporan cabang perusahaan tentang persetujuan dan penagihan pinjaman.
2. Pengolahan informasi
Berbagai pengendalian dilaksanakan untuk mengecek ketepatan, kelengkapan,
dan otorisasi transaksi. Dua pengelompokan luas aktivitas pengendalian sistem
informasi adalah pengendalian umum dan pengendalian aplikasi . Pengendalian
umum biasanya mencakup pengendalian atas operasi pusat data, pemerosesan dan
pemeliharaan perangkat lunak sistem, keamanan akses, pengembangan dan
pemeliharaan sistem aplikasi.
3. Pengengendalian fisik
Aktivitas pengendalian fisik mencakup keamanan fisik aktiva, penjagaan yang
memadai terhadap fasilitas yang terlindungi dari akses terhadap aktiva dan catatan;
otorisasi untuk akses ke program komputer dan data files; dan perhitungan secara
periodik dan pembandingan dengan jumlah yang tercantum dalam catatan pengendali.
4. Meningkatkan kultur organisasi
Meningkatkan kultur organisasi dapat dilakukan dengan mengimplementasikan
prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang saling terkait satu sama lain agar
dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan bekerja secara efisien,
menghasikan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para
pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan. Keterbukaan bagi
steakholder yang terkait untuk melihat dan memahami proses suatu pengambilan
keputusan /pengelolaan suatu perusahaan.
5. Akuntabilitas
Menciptakan sistem pengawasan yang efektif didasarkan atas distribusi dan
keseimbangan kekuasaan antar anggota direksi, komisaris, pemegang saham dan
pengawas. Di sini menyangkut pula proses pertanggungjawaban para pengurus
perusahaan ataskeputusan – keputusan yang dibuat dan kinerja yang dicapai. Internal
audit departemen harus mempunyai uraian tugas secara tertulis, sehingga setiap
auditor mengetahui dengan jelas apa yang menjadi tugas, wewenang dan
tanggungjawabnya
G. INDIKATOR KECURANGAN (RED FLAG)
Istilah red flags atau bendera merah sudah sering digunakan dalam berbagai
literatur audit, maknanya adalah tanda bahaya, tanda bahwa ada hal yang tidak sesuai
pada tempatnya dan perlu mendapat perhatian. Red flags juga bisa dikatakan sebagai
suatu kondisi yang janggal atau berbeda dengan keadaan normal. Red flags
dikategorikan menjadi tiga menurut Moyes (2007:10) dan terdiri atas:
1. Kesempatan atau (opportunities)
2. Tekanan atau (pressures/incentives)
3. Perilaku (attitudes) atau rasionalisasi (rationalization).

Ketiga kategori red flag ini telah dijelaskan pada bagian Fraud Triangle
Theory, dimana red flags dibuat berdasarkan konsep dari Fraud Triangle Theory.

H. KELEMAHAN PENGENDALIAN INTERNAL


Pengendalian internal adalah sistem pengendalian intern yang berupa proses
integral yang melekat di sepanjang kegiatan dan dilakukan secara terus menerus oleh
pimpinan dan seluruh pegawai sehingga dapat diperoleh keyakinan yang memadai
atas tercapainya tujuan organisasi . Diperlukan suatu pengendalian internal yang
memadai sebagai salah satu metode untuk mencegah terjadinya kecurangan dan
ketidakakuratan pelaporan keuangan , UU Nomor 15 Tahun 2004 pasal 12
mengamanatkan menjadi tanggung jawab BPK RI dalam pemeriksaan laporan
keuangan untuk melakukan pengujian dan penilaian atas pelaksanaan sistem
pengendalian intern pemerintah untuk memastikan bahwa pengendalian internal
sudah dibangun sesuai tujuannya.
Kasus kelemahan SPI yang lain meliputi pejabat yang bertanggungjawab lemah
dalam melakukan pengawasan maupun pengendalian kegiatan yang belum
sepenuhnya memahami ketentuan dan belum adanya koordinasi dengan pihak-pihak
terkait . kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan
belanja menjadi kendala dalam pencapaian opini WTP, Kawedar bahwa belum
disusunnya sistem dan prosedur penyusunan APBD yang merupakan salah satu
bentuk kelemahan struktur pengendalian intern sehingga terjadi penurunan opini
audit dari WDP menjadi TMP, serta penelitian Defera bahwa kelemahan sistem
pengendalian akuntansi dan pelaporan yang berpengaruh negatif terhadap penentuan
opini laporan keuangan pemerintah daerah seluruh Indonesia.

I. INDIKATOR ANALISIS KECURANGAN

Gaya hidup seseorang dapat berubah, dokumen dapat hilang, buku besar
mungkin tidak seimbang, seseorang dapat berperilaku mencurigakan,
perubahandalam hubungan analitis mungkin tidak masuk akal, atau seseorang
mungkinmemberikan informasi bahwa kecurangan terjadi namun, tidak seperti
perampokan atau tubuh korban pembunuhan, bukan bukti terjadinya kecurangan.
Mungkin aka nada penjelasan lain terhadap adanya indikator ini. penjelasan lain
terhadapnya indikator ini. perubahan gaya hidup mungkin terjadi karena adanya
uangwarisan.

J. PERILAKU YANG TIDAK BIASA

Bukti penipuan adalah bukti tidak langsung tanda-tanda kecurangan biasanya


munculnya gejala (symptoms) menunjukkan, misalnya Perubahan gaya hidup atau
perilaku seseorang, dokumen yang mencurigakan, keluhan pelanggan atau
kecurigaan rekan pekerja. Awalnya, penipuan ini akan muncul dengan karakteristik
tertentu, baik kondisi/kondisi lingkungan, dan perilaku seseorang. Karakteristik
Bersyarat/Situasi tentu saja, perilaku/kondisi individu disebut red flag (indikator
penipuan).

K. PROFILING DALAM KEJAHATAN TERORGANISASI DAN PERBUATAN


(FRAUD KEJAHATAN)
Pemberantasan korupsi di Indonesia dapat dilakukan salah satunya melalui
profiling dari para koruptor. Dengan memahami makna dari profil koruptor yang
dihasilkan, maka akan memudahkan tugas seorang akuntan forensik untuk turut serta
melawan kejahatan korupsi. Dengan melakukan pengamatan dari profil sekelompok
orang, suatu tindak kejahatan dapat diidentifikasi. Gender, usia, profesi, budaya atau
etnis, maupun ciri karakteristik tertentu dapat dijadikan dasar untuk melakukan
profiling.

Anda mungkin juga menyukai