Anda di halaman 1dari 14

Nama : Alan Denofta

NIM : 2010111134

Kelas : Hukum Perjanjian 2.1

Tugas Resume Perjanjian Bernama

Perjanjian Bernama
Kontrak nominaat, adalah kontrak atau perjanjian yang sudah dikenal dalam KUHPerdata.

Dalam pasal 1319 KUHPerdata membedakan kontrak bernama (artinya nama kontrak oleh undang-undang sudah
diberi nama), jika mengikuti nama kontrak yang sudah ditentukan tersebut, maka ketentuan yang mengatur
kontrak tersebut harus diperhatikan.

kontrak bernama terbatas jumlahnya sebagaimana yang ditentukan dalam titel I, II, III, IV dan V sampai dengan
titel XVIII KUHPerdata, yaitu :

1. Jual Beli
2. Tukar Menukar
3. Sewa Menyewa
4. Perjanjian Melakukan Pekerjaan
5. Persekutuan Perdata
6. Badan Hukum
7. Hibah
8. Penitipan Barang
9. Pinjam Pakai
10. Pinjam Meminjam
11. Pemberian Kuasa
12. Bunga Tetap Abadi
13. Perjanjian Untung Untungan
14. Penanggungan Utang
15. Perdamaian

Tiap kontrak/perjanjian mempunyai pengertian dan ciri tersendiri sebagai pembeda antara kontrak-kontrak yang
ada. Adanya pengertian dan ciri yang berbeda tersebut merupakan suatu signifikasi batas tiap kontrak.

1. Perjanjian Jual Beli


Dasar Hukum
Pasal 1457 - Pasal 1540 KUHPerdata

Jual-beli (koop en verkoop) ialah suatu persetujuan / perjanjian dengan mana pihak yang satu – penjual –
mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu benda (zaak), sedangkan pihak lainnya – pembeli – untuk
membayar harga yang telah dijanjikan (Pasal 1457 KUHPerdata).

#Ketentuan Umum (Sifat) Dan Hak Serta Kewajiban Para Pihak

Perjanjian jual – beli itu dianggap sudah terjadi antara pihak penjual dan pihak pembeli, segera setelah mereka
sepakat tentang benda dan harga yang bersangkutan, walaupun baik benda maupun harganya belum diserahkan
dan dibayar.

Beralihnya hak milik atas benda yang dijual hanya terjadi jika telah dilakukan penyerahan (levering).

Penyerahan dalam jual–beli itu ialah suatu pemindahan barang yang telah dijual ke dalam kekuasaan (macht) dan
kepunyaan (bezit) pembeli.

Jika benda yang dijual itu berupa suatu barang tertentu, apabila para pihak tidak menentukan lain, maka barang ini
sejak saat pembelian itu terjadi merupakan tanggungan pembeli, walaupun penyerahannya belum dilakukan, dan
penjual dapat (berhak untuk) menuntut harganya (Pasal 1460 KUHPerdata, yang menurut para ahli hukum
merupakan pasal mati).

#Adanya Larangan Jual Beli Bagi Orang-Orang Tertentu

Adanya larangan bagi orang-orang tertentu, karena kedudukan atau jabatan, untuk membeli barang-barang
tertentu, yaitu :

1. jual–beli antara suami-isteri, dengan beberapa pengecualian ;


2. Hakim, Jaksa, Panitera, Advokat, Pengacara, Jurusita dan Notaris untuk menjadi pemilik hak-hak dan
tuntutan-tuntutan yang menjadi pokok perkara / hal yang bersangkutan.
3. penjabat-penjabat umum untuk dirinya sendiri atau orang-orang perantara, mengenai barang-barang yang
dijual oleh atau di hadapan mereka, dengan mengecualikan yang diberikan oleh Ketua Pengadilan Negeri
yang berwenang ;
4. kuasa (perantara) kepada siapa barang-barang ybs. dikuasakan untuk menjualnya, pada penjualan secara
di bawah tangan ;
5. pengurus benda-benda milik Negara dan badan-badan umum, kepada siapa dipercayakan untuk
memelihara dan mengurusnya, kecuali jika telah mendapat izin dari Ketua Pengadilan Negeri yang
berwenang.

Jual-beli benda milik orang lain batal, dan pembeli yang tidak mengetahui bahwa barang itu milik orang lain
berhak untuk menuntut penjual yang bersangkutan, ganti biaya, rugi dan bunga.

#Hak & Kewajiban Penjual Dan Pembeli


#Kewajiban Penjual

Penjual berkewajiban untuk menyatakan dengan tegas untuk apa ia mengikatkan dirinya, oleh karena segala janji
yang tidak terang (duister) dan dapat diberikan berbagai pengertian (dubbelzinnig), harus ditafsirkan atas kerugian
penjual itu.

kewajiban (utama) dari penjual terhadap pembeli :


 menyerahkan barang / benda yang bersangkutan,
 menanggung / menjamin (vrijwaren),
 penguasaan benda yang dijual itu secara aman dan tenteram (rustig en vreedzaam),
 cacad-cacad yang tersembunyi (verborgen gebreken) dari benda yang bersangkutan. atau yang sedemikian
rupa hingga menerbitkan alasan pembatalan jual-beli itu.

#Kewajiban Pembeli

Pembeli mempunyai kewajiban utama untuk membayar harga dari apa yang dibelinya itu, pada waktu dan di
tempat sebagaimana ditetapkan menurut persetujuan / perjanjian yang bersangkutan dengan aturan tambahan
bahwa jika para pihak tidak menentukannya, pembayaran itu harus dilakukan di tempat pada waktu penyerahan
benda itu.

Jika pembeli tidak membayar harga benda yang dibelinya itu, maka penjual dapat menuntut dibatalkannya jual-
beli yang bersangkutan.

Mengenai jual-beli barang-barang dagangan dan barang-barang perabot rumah-tangga (waren en meubelen)
terdapat kekecualian, yaitu bahwa demi kepentingan penjual, jual-beli itu batal dengan sendirinya jika barang itu
tidak diambil pada waktu yang telah ditentukan oleh para pihak.

2. Tukar - Menukar
Dasar Hukum

Pasal 1541 - 1546 KUHPerdata

Tukar-menukar (ruiling) ialah suatu persetujuan / perjanjian, dengan mana para pihak mengikatkan diri untuk
saling memberikan suatu barang secara timbal-balik (elkander wederkerig), sebagai pengganti suatu barang lain.

Segala apa yang dapat dijual, dapat pula menjadi bahan (onderwerp) tukar-menukar. Perbedaannya yaitu, jika
dalam jual-beli objeknya adalah uang dan barang lain (bukan uang), dalam tukar-menukar yang merupakan
objeknya sama yaitu berupa barang (bukan uang).

Mutatis mutandis apa yang berlaku bagi jual-beli banyak yang berlaku pula untuk tukar-menukar. Pasal 1543,
1544 dan 1545 KUHPerdata namun merupakan peraturan khusus untuk perjanjian tukar-menukar.

3. Sewa Menyewa
Dasar Hukum

Pasal 1548 - 1600 KUHPerdata

Sewa-menyewa (huur en verhuur) adalah suatu perjanjian / persetujuan dengan mana pihak yang satu
mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan dari sesuatu barang, selama
sesuatu waktu tertentu dan dengan pembayaran sesuatu harga, yang oleh pihak tersebut terakhir disanggupi
pembayarannya.

Bahwa perjanjian sewa-menyewa itu tidak hapus / berakhir (niet ontbonden), karena :

1. Meninggalnya penyewa, atau


2. Meninggalnya yang menyewakan, atau
3. Dijualnya (dipindahkan / dialihkan haknya) barang yang disewakan itu, kecuali bila dalam kontrak yang
bersangkutan telah dijanjikan demikian (koop breekt geenhuur).

#Hak & Kewajiban Dalam Sewa Menyewa


#Kewajiban Yang Menyewakan
1. Menyerahkan barang yang disewakannya itu kepada pihak penyewa, dalam keadaan terpelihara baik
segala-galanya (in alle opzichten);
2. Memelihara barang yang disewakannya itu sedemikian rupa, hingga barang itu dapat dipakai /
dipergunakan untuk keperluan yang dimaksudkan; Memberikan atau membiarkan pihak penyewa untuk
menikmati barang yang disewanya itu dengan aman dan tenteram selama berlangsungnya kontrak yang
bersangkutan.
3. Suruh melakukan pembetulan-pembetulan (reparatien) yang diperlukan, kecuali pembetulan yang menjadi
/ merupakan kewajiban pihak penyewa (baca pula Pasal 1583 tentang pembetulan-pembetulan kecil dan
sehari-hari yang dipikul oleh penyewa dan Pasal 1584 mengenai beberapa pembersihan / pemeliharaan
yang harus dipikul oleh yang menyewakan jika tidak dijanjikan sebaliknya).

#Kewajiban Penyewa
1. Ia harus bertindak sebagai seorang bapak / kepala rumah tangga yang baik (als seen goed huisvader)
dalam memakai / mempergunakan barang yang disewanya itu, sesuai dengan tujuannya, baik
sebagaimana telah dijanjikan / disepakati oleh kedua belah pihak ataupun yang diperkirakan menurut
keadaan. Ini berarti bahwa penyewa berkewajiban memelihara dan menggunakan barang yang disewanya
itu sebaik mungkin ; dan
2. Ia berkewajiban untuk membayar harga sewa pada waktu yang telah ditentukan, yaitu yang disepakati
oleh kedua belah pihak.
3. Penyewa tidak dibolehkan (dilarang) untuk menyewakan lagi atau mengulang-sewakan barang yang
disewanya itu kepada atau melepaskan hak sewanya itu untuk kepentingan pihak ketiga (derden), kecuali
jika untuk itu ia memang telah mendapat izin dari yang menyewakan.
4. Sanksinya ialah perjanjian sewa-menyewa tersebut dapat dibatalkan dengan penggantian biaya, rugi dan
bunga. Setelah terjadinya pembatalan itu, pihak yang menyewakan tidak diwajibkan untuk menaati
persetujuannya tentang ulang-sewa/menyewakan lagi (onderhuur).
5. Dalam pada itu jika yang disewa itu berupa sebuah rumah yang didiami oleh penyewa, ia (penyewa) - atas
tanggung-jawab sendiri - dapat menyewakannya sebagian dari bangunan itu kepada orang lain, kecuali
bila kedua belah pihak telah menjanjikan lain, yaitu adanya larangan untuk menyewakan ulang/lagi dalam
kontrak yang bersangkutan.

4. Beli-Sewa / Sewa-Beli (Huurkoopovereenkomst)


Dasar Hukum

KUHPerdata tidak mengaturnya secara khusus, tapi sebagai dasar hukum dapat dipergunakan Pasal 1576
KUHPerdata – dan seterusnya mengenai onroerend goed.

Dalam kehidupan sehari-hari (praktek) ternyata kita banyak menjumpai kontrak ini, jadi sudah lama hidup di
kalangan masyarakat. Sesuai dengan istilahnya perjanjian ini menyangkut baik unsur-unsur sewa-menyewa
maupun unsur jual-beli.

5. Perjanjian Kerja / Perburuhan


Dasar Hukum

Pasal 1601 sampai dengan 1603 KUHPerdata


Persetujuan / perjanjian perburuhan (arbeidovereenkomst) adalah perjanjian dengan mana pihak yang satu (buruh)
mengikatkan dirinya untuk melakukan pekerjaan di bawah perintah pihak lain (majikan), untuk sesuatu waktu
tertentu, dengan menerima upah.

6. Pemborongan Kerja / Pekerjaan


Dasar Hukum

Pasal 1601 b, Pasal 1604 - Pasal 1617 KUHPerdata

Pemborongan kerja (aanneming van werk) ialah persetujuan / perjanjian dengan mana pihak yang satu –
pemborong (aannemer) - mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu pekerjaan bagi pihak yang lain –yang
memborongkan (aanbesteder) – dengan menerima suatu harga (prijs) yang ditentukan.

Dalam kontrak pemborongan itu para pihak (yang memborongkan dan pemborong) dapat menjanjikan :

 Bahwa pemborong hanya akan melakukan pekerjaan (arbeid) saja, atau


 Bahwa pemborong selain dari melakukan pekerjaan akan menyediakan bahannya (stof) juga.

Hal tersebut membawa akibat dalam pertanggung jawaban, yaitu mengenai hal yang pertama, jika hasil pekerjaan
yang bersangkutan musnah (vergaat), maka pemborong hanya bertanggung jawab untuk / karena kesalahannya
saja, sedangkan mengenai hal yang kedua, jika hasil pekerjaan yang bersangkutan dengan cara bagaimanapun juga
musnah sebelum pekerjaan itu diserahkan kepada yang memborongkan, maka pemborong bertanggung-jawab atas
segala kerugian, kecuali bila pihak yang memborongkan telah lalai untuk menerima pekerjaan itu.

Para ahli bangunan (bouwmeesters) dan para pemborong yang bersangkutan bertanggung jawab untuk selama 10
tahun, jika suatu gedung yang telah diborongkan dengan harga tertentu, sebagian atau seluruhnya musnah
dikarenakan suatu cacat, baik dalam penyusunan (gebrek in de samenstelling) konstruksinya atau karena tak
patut/tak baiknya (ongeschiktheid) tanah yang bersangkutan atau kualitas bahan yang digunakan.

Pihak pemborong bertanggung-jawab terhadap perbuatan dari para pekerja yang ia suruh untuk melakukan
pekerjaan borongan yang bersangkutan. Pemborongan pekerjaan berhenti dengan meninggalnya pemborong yang
bersangkutan, tanpa mengurangi kewajiban pihak yang memborongkan utnuk membayar kepada ahli waris
pemborong harga pekerjaan yang telah dikerjakan dan atau harga bahan yang telah disediakan oleh pemborong,
dengan mana pihak yang memborongkan memperoleh suatu manfaat.

#Perseroan / Persekutuan Perdata


Dasar Hukum

Pasal 1618 - Pasal 1652 KUHPerdata

Perseroan (maatschap) adalah suatu persetujuan / perjanjian dengan mana dua orang atau lebih mengikatkan diri
untuk memasukkan sesuatu ke dalam suatu gabungan (gemeenschap), dengan maksud untuk membagi di antara
mereka (para peseronya) keuntungan yang terjadi/ diperoleh dari kerja sama itu.

Perseroan ini mencari/mengejar keuntungan yang bersifat kebendaan (stoffelijk voordeel) dan yang hanya dapat
diadakan/didirikan oleh 2 orang atau lebih; jadi tak bisa hanya oleh seorang saja (logis).

Perseroan yang terdapat dalam pasal tersebut di atas merupakan dasar hukum pula dari / bagi perseroan-perseroan
lain yang terdapat dalam kitab undang-undang lain seperti (terutama) KUHDagang, yaitu perseroan di bawah
firma, perseroan komanditer (C.V), perseroan terbatas (P.T.), perseroan perkapalan (rederij), Yayasan,
Perkumpulan, Koperasi..
7. Hibah
Dasar Hukum

Pasal 1666 - Pasal 1693 KUHPerdata

Hibah / penghibahan (schenking) adalah suatu persetujuan / perjanjian, dengan / dalam mana pihak yang
menghibahkan (schenker), pada waktu ia masih hidup, secara cuma-cuma (om niet) dan tak dapat ditarik kembali,
menyerahkan/ melepaskan sesuatu benda kepada / demi keperluan penerima hibah (begiftidge) yang menerima
penyerahan / penghibahan itu.

#Ketentuan Yang Perlu Diperhatikan.

Beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan tentang hibah ini antara lain :

1. Yang dapat dihibahkan hanya benda yang sudah ada pada saat penghibahan itu terjadi. Jika hibah itu
mencakup barang-barang yang belum ada, maka penghibahan batal sekedar mengenai barang-barang yang
belum ada itu.
2. Antara suami-isteri penghibahan dilarang, kecuali mengenai hadiah atau pemberian benda bergerak yang
bertubuh (roerende en lichamelijke voorwerpen) dan harganya tidak seberapa, dengan mengingat /
memperhatikan kemampuan penghibah. Yang dapat diberikan antara suami-isteri itu hanya benda
bergerak yang bertubuh, tidak termasuk penghibahan mengenai kertas-kertas berharga (geldswaardige
papieren)
3. Penghibahan kepada lembaga-lembaga umum atau keagamaan (openbare of godsdienstige gestichten)
hanya sah setelah oleh presiden atau pejabat/penguasa yang ditunjuk olehnya kepada pengurus lembaga-
lembaga tersebut diberi kekuasaan untuk menerima hibahan itu.
4. Baik notaris maupun saksi-saksi dari sesuatu akta hibah tidak boleh menikmati suatu dari pada akta yang
dibuat di hadapan / disaksikan oleh mereka sendiri.
5. Akta hibahan itu harus dibuat secara otentik (notarieel) demikian pula halnya dengan akta penerimaan
hibahan yang bersangkutan bila akta pemberian dan penerimaannya dibuat secara terpisah.
6. Jika sesuatu akta hibah karena adanya cacad (gebrek) dalam bentuk (vorm), maka hibahan itu batal
(nietig) demi hukum, dan cacadnya itu tidak dapat diperbaiki dengan suatu akta penegasan (bevestiging),
melainkan harus dibuat akta hibah yang baru.
7. Pasal 1684 KUHPerdata dan Pasal 103 – dan seterusnya KUHPerdata tentang hak dan kewajiban suami
dan isteri, mengatur tentang hibahan kepada wanita bersuami, sedangkan Pasal 1685 KUHPerdata
mengenai hibahan kepada anak-anak di bawah umur (belum dewasa), baik yang berada di bawah
kekuasaan orang tua (ouderlijke macht) ataupun yang berada di bawah perwalian (voogdij)

Suatu hibah hanya dapat ditarik kembali atau dihapuskan (te niet gedaan) :

 Jika syarat-syarat yang tercantum dalam akta yang bersangkutan tidak dipenuhi ;
 Jika penerima hibah bersalah melakukan atau turut melakukan kejahatan yang bertujuan untuk membunuh
penghibah atau kejahatan lain terhadap penghibah ;
 Jika penerima hibah menolak untuk memberikan tunjangan (levensonderhoud) kepada penghibah, setelah
penghibah jatuh miskin.

Menurut Pasal 1693 KUHPerdata ketentuan dalam Pasal 1666 dan seterusnya KUHPerdata tidak mengurangi / tak
merubah berlakunya apa yang ditetapkan dalam Pasal 139 KUHPerdata tentang pemberian (giften) pada perjanjian
kawin (huwelijksvoorwaarden).
8. Penitipan Barang
Dasar Hukum

Pasal 1694 - Pasal 1739 KUHPerdata

Penitipan barang (bewaargeving) terjadi, apabila seseorang menerima sesuatu barang dari seseorang lain dengan
syarat bahwa ia menyimpannya dan mengembalikannya dalam ujud asalnya (in natura).

KUHPerdata mengenal dua macam penitipan barang, yaitu :

1. Penitipan yang sejati (de eigenlijk gezegde bewaargeving) dan


2. Sekestrasi (sequestratie).

#Penitipan Sejati

Penitipan barang yang sejati hanya dapat terjadi mengenai barang gerak (roerende goederen) dan jika tidak
dijanjikan sebaiknya dianggap dibuat tanpa pembayaran (cuma-cuma), dengan ketentuan bahwa barang yang
bersangkutan. Harus sungguh-sungguh diserahkan atau secara dugaan / disangkakan (voorondersteld).

#Sekestrasi

Pengertian tentang sekestrasi (sequestratie) dapat kita baca dalam Pasal 1730 KUHPerdata, hal mana terjadi atas
barang sengketa / perselisihan (geschil). Barang yang bersangkutan berada di tangan seorang ketiga (een derde),
yang mengikatkan diri untuk mengembalikan barang itu serta hasilnya (vruchten) kepada pihak yang dinyatakan
berhak, hal mana dapat terjadi karena perjanjian atau atas perintah hakim.

Sekestrasi tunduk pada aturan yang berlaku untuk penitipan sejati, akan tetapi dengan perbedaan / pengecualian
sebagaimana tercantum dalam Pasal 1734 dan seterusnya KUHPerdata, antara lain :

1. Bahwa sekestrasi dapat mengenai baik benda (ber) gerak maupun benda tak gerak, dan
2. Bahwa orang yang dititipi barang secara sekestrasi tidak dapat dibebaskan dari tugasnya sebelum selesai /
berakhirnya sengketa yang bersangkutan, kecuali jika semua pihak yang berkepentingan menyetujuinya
atau apabila terdapat suatu alasan lain yang sah.

#Hak & Kewajiban Dalam Penitipan Barang

Yang menerima titipan barang berkewajiban untuk merawat barang yang bersangkutan, dan memeliharanya itu
harus seperti ia memelihara barang milik pribadinya sendiri serta mengembalikan barang itu dalam ujudnya tatkala
ia menerima barang itu. Oleh karena itu apabila yang dititipkan itu berupa uang (geldsom), maka yang harus
dikembalikan itu mata uang yang sama seperti yang dititipkan. Naik atau turunnya nilai uang itu atau kemunduran
harga dari sesuatu barang yang dititipkan merupakan tanggungan pihak yang menitipkan (logis).

Penerima barang titipan berhak – bila beralasan yang sah – untuk mengembalikan kepada pihak yang menitipkan
barang yang bersangkutan sebelum habisnya waktu penitipan menurut perjanjian, atau jika pihak yang menitipkan
menolaknya dapat diminta izin hakim untuk menitipkan barang itu di suatu tempat lain.

9. Pinjam – Pakai
Dasar Hukum

Pasal 1740 - Pasal 1753 KUHPerdata


Pinjam-pakai (bruiklening) itu adalah suatu perjanjian / persetujuan dengan mana pihak yang satu memberikan
(geeft) suatu barang kepada pihak yang lainnya untuk dipakai secara cuma-cuma (om niet), dengan syarat bahwa
yang menerima barang itu setelah memakainya atau setelah lewatnya suatu waktu tertentu, akan
mengembalikannya.

Perikatan yang terbit dari perjanjian pinjam-pakai beralih / berpindah baik kepada ahli waris yang meminjamkan
atau kepada ahli waris yang meminjam, kecuali apabila peminjaman itu telah diberikan kepada seseorang secara
pribadi (khusus), maka ahli waris peminjam tak dapat terus/tetap menikmati barang pinjaman itu.

Kewajiban-kewajiban peminjam barang antara lain, bahwa ia – peminjam- berkewajiban untuk menyimpan dan
memelihara barang pinjaman yang bersangkutan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya, yaitu sebagai seorang bapak
rumah tangga yang baik (als een goed huisvader). Ia hanya boleh memakai barang pinjaman itu sesuai dengan sifat
dari barang yang bersangkutan.

Ada kalanya barang yang merupakan obyek perjanjian itu berkurang harganya. Jika terjadi demikian, maka
peminjam tidak bertanggung-jawab mengenai kemunduran harga/nilai barang itu, asalkan berkurangnya itu di luar
salahnya pemakai / peminjam dan oleh karena pemakaian semata-mata.

#Kewajiban Dalam Pinjam Pakai

Kewajiban-kewajiban yang meminjamkan barang antara lain, bahwa ia hanya boleh meminta kembali barang yang
bersangkutan setelah lewatnya waktu yang ditentukan dalam perjanjian, atau sesudah dipergunakannya barang itu
untuk keperluan yang dimaksudkan, apabila kedua pihak tidak menjanjikan jangka waktu tertentu, kecuali apabila
hakim memutuskan lain dengan mengingat alasan yang mendesak yang diajukan oleh yang meminjamkan.

10. Pinjam – Mengganti / Meminjam


Dasar Hukum

Pasal 1754 - Pasal 1769 KUHPerdata

Pinjam-mengganti atau pinjam-ganti atau pinjam-meminjam (verbruiklening), yaitu persetujuan / perjanjian


dengan mana pihak yang satu, yaitu yang meminjamkan / kreditur memberikan (afgeeft) kepada pihak yang lain,
yaitu yang meminjam / debitur suatu jumlah tertentu dari benda (zaken) yang dapat habis karena pemakaian,
dengan syarat bahwa pihak yang meminjam mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan keadaan yang
sama pula.

Perbedaan yang sangat penting / menonjol antara pinjam-pakai dan pinjam-ganti di antaranya ialah, bahwa dalam
pinjam pakai (bruiklening) pihak yang meminjamkan tetap merupakan pemilik barang yang dipinjamkan,
sedangkan pada pinjam-mengganti (verbruik-lening) peminjam menjadi pemilik benda yang bersangkutan.
Dengan akibat (dalam pinjam-ganti) jika barang itu musnah secara bagaimanapun, maka kemusnahan itu
merupakan tanggungan pihak peminjam, yang lain halnya dengan musnahnya barang pada perjanjian pinjam-pakai
(Pasal 1745 KUHPerdata)

Di kalangan masyarakat mengenai pinjam-ganti ini paling sering terjadi ialah pinjaman uang / pengakuan utang
(perjanjian kredit), baik antara orang-orang pribadi maupun antara orang dengan berbagai bank (pemerintah dan
swasta). Dalam bentuk perjanjian pengakuan utang atau perjanjian kredit ini.

Beberapa pasal yang menyebut-nyebut khusus tentang atau bertalian erat dengan pinjaman uang itu ialah Pasal
1756, 1757, 1761, 1765, 1766, 1767, 1768 dan 1769 KUHPerdata, sedangkan pasal-pasal lainnya pada umumnya
merupakan aturan aik yang berlaku untuk peminjaman uang maupun barang/benda lain yang dapat habis setelah
dipakai (verbruikbare zaken) atau barang/benda yang dapat diganti (vervangbare zaken).
Undang-undang memperbolehkan kepada para pihak, yaitu kreditur dan debitur untuk menjanjikan bunga (interest
/ rente) dalam perjanjian pinjam-meminjam uang atau barang lain yang dapat habis karena pemakaian. Sebaiknya
besarnya bunga itu ditetapkan/ditentukan oleh pihak-pihak yang bersangkutan. oleh karena apabila besarnya itu
tidak ditentukan, maka debitur hanya berkewajiban membayar bunga menurut undang-undang, yaitu sebesar 6%
per tahun (Stb. 1848 – 22) tentang anatocismus.

11. Bunga Tetap / Abadi


Dasar Hukum

Pasal 1770 - Pasal 1773 KUHPerdata

Bunga abadi (gevestigde / altijddurende renten) merupakan suatu perjanjian dengan mana pihak yang memberi
pinjaman uang (uitlener/kreditur) mensyaratkan (dijanjikan oleh kedua belah pihak) adanya bunga atas
pembayaran sejumlah uang pokok (hoofdsom) yang tidak akan dimintanya kembali (dari debitur).

Perbedaannya dengan pinjaman uang dengan bunga biasa, ialah dalam altijddurende rente – sebagaimana
diterangkan di atas – uang / pinjaman pokok yang bersangkutan tidak boleh diminta kembali kecuali bila (salah
satu dari) ketiga hal tersebut di bawah ini terjadi.

#Hak Dan Kewajiban Kreditur Dan Debitur

Bunga yang dijanjikan oleh para pihak itu pada dasarnya dapat dibayar / diangsur (aflosbaar), meskipun para pihak
itu dapat saling berjanji, bahwa hal ini selama tenggang waktu / masa untuk – hal mana tidak boleh lebih dari 10
tahun – tidak akan terjadi. (Pasal 1771 KUHPerdata).

Debitur dapat dipaksa untuk mengembalikan uang pokok pinjaman, apabila :

 Debitur sama sekali tidak membayar bunga selama 2 tahun berturut-turut, kecuali jika ia dalam waktu 20
hari terhitung mulai adanya peringatan dengan perantaraan hakim (gerechtelijke aanmaning) membayar
angsuran-angsuran yang sudah harus dibayarnya ;
 Debitur lalai memberikan jaminan yang telah dijanjikan kepada kreditur, kecuali jika ia dalam waktu 20
hari terhitung mulai adanya peringatan seperti tersebut di atas memberikan jaminan yang telah dijanjikan /
ditentukan ; dan
 Debitur telah dinyatakan pailit.

12. Perjanjian Untung-Untungan


Dasar Hukum

Pasal 1774 - Pasal 1791 KUHPerdata

Perjanjian untung-untungan (kans-overeenkomst) merupakan suatu perbuatan yang hasilnya – bertalian dengan
untung-ruginya – baik bagi semua maupun bagi salah satu pihak, bergantung pada “suatu kejadian yang belum
tentu”, tergantung dari “pelaksanaan kewajiban dari suatu pihak”.

Contoh :

 Perjanjian pertanggungan (de overeenkomst van verzekering) (Pasal 246 – dan seterusnya KUHDagang);
 Bunga cagak hidup atau bunga untuk selama hidup seseorang (lijfrente), dan
 Perjudian dan pertaruhan (spel en weddingschap).
#Bunga Cagak Hidup

perjanjian/persetujuan ini yang menurut pendapat ahli-ahli hukum hendaknya tidak dipandang sebagai suatu
persetujuan, melainkan suatu perhubungan hukum tertentu, dapat terjadi karena / dengan Persetujuan atas beban
(bij ene bezwarende titel), atau Suatu akta hibah (schenking), atau Suatu surat / akta wasiat, atau Suatu putusan
hakim.

Perjanjian ini dapat diadakan :

 Atas diri (lijf) orang yang memberikan pinjaman (geldschieter), atau


 Atas diri (lijf) orang yang memperoleh kenikmatan dari bunga tersebut, atau
 Atas diri seorang ketiga (een derde), walaupun orang ini tidak menikmatinya ;
 Atas diri satu orang atau lebih ;
 Dengan bunga yang besarnya sesuai dengan ketetapan para pihak sendiri

Bunga cagak hidup tidak dapat diadakan atas diri seorang yang telah meninggal pada hari dibuatnya perjanjian /
persetujuan itu ; dengan sanksi “tak berdaya” (krachteloos) / batal.

Pemungut bunga (renteheffer) hanya dapat menagih bunga dengan mengatakan bahwa orang yang atas dirinya
diadakan lijfrente itu masih hidup.

#Perjudian Dan Pertaruhan

Mengenai hal ini undang-undang tidak memberikan suatu tuntutan hukum (rechtsvordering) untuk utang yang
terjadi karena itu, terkecuali mengenai permainan yang berlaku (geschikt) untuk olahraga. Hal tersebut tidak dapat
dihindari dengan dalih pembaruan utang (novatie/schuldvernieuwing).

Seseorang yang telah membayar secara sukarela suatu perjudian sama sekali tidak berhak untuk menuntut kembali
pembayaran itu terhadap / dari pemenang yang bersangkutan., kecuali jika kemenangan itu terjadi karena
kecurangan atau penipuan dari pemenang tersebut.

13. Pemberian Kuasa


Dasar Hukum

Pasal 1792 - Pasal 1819 KUHPerdata

Pemberian kuasa (lastgeving) merupakan suatu perjanjian / persetujuan dengan mana seseorang memberi kuasa /
kekuasaan (macht) kepada orang lain (lasthebber), yang menerimanya untuk atas nama pemberi kuasa (lastgever).

Kuasa itu dapat diberikan dan diterima dengan berbagai cara, yaitu :

 Dengan akta umum / otentik (notarieel),


 Dengan tulisan di bawah tangan (onderhands geschrift),
 Dengan surat biasa dan/atau
 Dengan lisan

Sedangkan penerimaannya selain dari secara tegas sebagaimana diterangkan di atas dapat pula secara diam-diam
(stilzwijgend) dan dapat disimpulkan dari pelaksanaannya.
Pemberian kuasa itu, bila tidak dijanjikan, terjadi secara cuma-cuma (om niet). Jika upah bagi pemegang kuasa
tidak ditentukan dengan tegas dalam perjanjian yang bersangkutan maka berlakunya ketentuan Pasal 411
KUHPerdata tentang upah bagi wali (voogd).

Diperlukan suatu pemberian kuasa dengan kata-kata yang tegas untuk :

 Mengalihkan / melepaskan hak atas benda,


 Menghipotikkan (menjaminkan) suatu benda (tanah dan lain-lain),
 Membuat suatu perdamaian, atau
 Suatu perbuatan / tindakan lain yang hanya dapat dilakukan oleh pemilik benda yang bersangkutan.

#Jenis-Jenis Kuasa

Berdasarkan undang-undang (KUHPerdata) kita mengenal beberapa macam pemberian kuasa, yaitu :

 Kuasa khusus (bijzonder) dan hanya menyangkut satu atau beberapa hal / kepentingan (zaken) saja, atau
 Kuasa umum (algemeen) dan menyangkut semua hal / kepentingan dari pemberi kuasa, dengan catatan
bahwa apabila pemberian kuasa itu dirumuskan dalam kata-kata umum (algemene bewoordingen), maka
hanya meliputi perbuatan pengurusan (daden van beheer) saja.

#Hak & Kewajiban Dalam Kuasa

Dalam melakukan kekuasaan yang bersangkutan pemegang kuasa tidak boleh bertindak melampaui batas yang
diberikan kepadanya oleh pemberi kuasa.

Pesero komanditer (pesero pelepas uang) tidak boleh dikuasakan untuk melakukan perbuatan pengurusan atau
untuk bekerja pada perseroan komanditer itu (Pasal 20 KUHDagang).

Oleh karena tindakan dari pemegang kuasa itu sebenarnya mewakili, demikian untuk dan atas nama pemberi
kuasa, maka ia – pemberi kuasa – dapat dalam arti kata berhak untuk menggugat secara langsung dan menuntut
orang ketiga, dengan siapa pemegang kuasa telah bertindak dalam kedudukannya, agar perjanjian yang
bersangkutan dipenuhinya.

#Kewajiban Dan Tanggung Jawab Pemegang Kuasa


 Pemegang kuasa berkewajiban untuk antara lain terus melaksanakan tugasnya sebagai kuasa sampai
selesai, selama ia belum dibebaskan untuk itu (kuasanya belum dicabut/berakhir). Ia bertanggung jawab
atas kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya itu, lagi pula ia diwajibkan untuk melaporkan
serta memberikan perhitungan kepada pemberi kuasa apa yang telah dikerjakannya sebagai pemegang
kuasa.
 Pemegang kuasa yang telah menyerahkan / mengoperkan kekuasaannya itu kepada orang lain / orang
ketiga (een derde) bertanggung jawab untuk orang yang ditunjuknya itu: Apabila ia tidak diberi kuasa
oleh pemberi kuasa untuk menunjuk orang lain ;
 Apabila untuk itu dia memang telah diberi wewenang (bevoegd), akan tetapi orang yang ditunjuknya itu
ternyata tak-cakap (onbekwaam)

#Kewajiban Dan Tanggung Jawab Serta Hak Pemberi Kuasa


 Pemberi kuasa berkewajiban untuk memenuhi semua perikatan (verbintenissen) yang telah dilaksanakan
oleh pemegang kuasa sesuai dengan kekuasaan yang telah diberikan olehnya kepada pemegang kuasa itu.
Selanjutnya ia – pemberi kuasa – berkewajiban untuk :
 Membayar kembali uang di muka (voorschotten) dan biaya (onkosten), pula membayar upah jika hal ini
memang telah dijanjikan, demikian pula membayar ganti-rugi dan membayar bunga atas persekot
tersebut, kepada pemegang kuasa, walaupun urusannya tidak berhasil karena bukan kelalaian atau kurang
hati-hatinya pemegang kuasa itu.
 Pemegang kuasa berhak untuk menahan segala sesuatu milik / kepunyaan pemberi kuasa yang ada pada
pemegang kuasa, selama apa yang merupakan utang tersebut belum lunas.
 Masing-masing pemberi kuasa bertanggung jawab secara renteng (hoofdelijk aanpsrakelijk) mengenai
segala akibat dari pemberian kuasa itu terhadap pemegang kuasa dalam hal terjadinya pemberian kuasa
oleh beberapa orang untuk mengenai urusan bersama dari para pemberi kuasa itu.

#Berakhirnya Kuasa
1. Pencabutan / ditariknya kembali (herroeping) oleh pemberi kuasa ;
2. Pemberitahuan (opzegging) oleh pemberi kuasa ;
3. Meninggalnya, pengampuannya (curatele), jatuh miskinnya (staat van kennelijk onvermogen) pemberi
kuasa atau pemegang kuasa ;
4. Perkawinan seorang wanita baik sebagai pemberi maupun sebagai pemegang kuasa.

Bila dikehendakinya pemberi kuasa dapat menarik kembali kuasanya itu, sedangkan yang diberi kuasa – jika
memang beralasan – dapat dipaksa/diharuskan untuk mengembalikan kekuasaan yang bersangkutan.

Agar penarikan kembali kekuasaan itu mengikat pihak ketiga yang telah mengadakan perikatan dengan pemegang
kuasa, sebaiknya penarikan kembali itu selain dari kepada pemegang kuasa diberitahukan pula kepada pihak
ketiga itu.

Jika pemberi kuasa mengangkat seorang kuasa baru untuk melakukan suatu hal/ urusan yang sama (dezelfde
zaak), maka terhitung mulai saat diberitahukannya hal itu kepada pemegang kuasa yang pertama / terdahulu itu,
berarti / menyebabkan ditariknya kembali kekuasaan yang telah diberikan oleh pemberi kuasa kepada pemegang
kuasa yang pertama / terdahulu tersebut.

Merupakan suatu keharusan bagi para ahli waris dari pemegang kuasa yang meninggal untuk memberitahukan
peristiwa meninggalnya pemegang kuasa itu kepada pemberi kuasa dan mengambil langkah-langkah yang perlu
menurut keadaan demi kepentingan pemberi kuasa. Bila ahli waris itu lalai dalam hal ini, ia / mereka dapat (bila
beralasan) dituntut untuk membayar/mengganti biaya, kerugian dan bunga.

14. Penanggung Utang / Penanggungan


Dasar Hukum

Pasal 1820 - Pasal 1850 KUHPerdata

Penanggungan (borrgtocht) merupakan suatu perjanjian/persetujuan, dengan mana seorang ketiga (een derde),
guna kepetingan kreditur (schuldeiser), mengikatkan dirinya untuk memenuhi perikatan debitur (schuldenaar), jika
ia debitur itu sendiri tidak memenuhinya.

#Sifat Dan Akibat Penanggungan

Penanggungan itu merupakan salah satu perjanjian dampingan/sampingan/tambahan (bijkomende / accssoire


verbintenis) sehingga ia tidak akan ada bila tidak ada suatu perjanjian/perikatan pokok (hoofdverbintenis) yang
sah (wettig) dari debitur.

Dalam pada itu namun seseorang dapat mengajukan diri sebagai penanggung (borg) untuk suatu perikatan yang
dengan/oleh suatu tangkisan (exceptie), seperti masih di bawah umurnya (minderjarigheid), dari debitur, dapat
dibatalkan.
Selaras dengan sifat accessoir dari penanggungan itu, seorang penanggung tidak dapat mengikatkan diri untuk
menanggung lebih berat daripada ikatan debitur dalam perjanjian yang bersangkutan. Penanggungan itu boleh
diadakan untuk hanya sebagian saja dari utang debitur atau dengan syarat yang lebih ringan/kurang.

Seseorang dapat bertindak sebagai penanggung walaupun tidak diminta oleh atau (bahkan) tanpa sepengetahuan
debitur; juga dapat sebagai penanggung dari penanggung (voor een reeds gestelde borg).

Penanggungan itu tidak boleh terjadi hanya dengan/secara persangkaan (verondersteld) belaka, melainkan perlu
diadakannya suatu pernyataan yang tegas (uitdrukkelijk).

Seperti halnya dengan perikatan/perjanjian lain, perikatan dan penanggung berpindah pula pada ahli warisnya.

Seseorang yang oleh undang-undang atau menurut suatu putusan (vonnis) hakim diwajibkan mengajukan seorang
penangung, sedangkan ia tidak berhasil untuk mendapatkannya, sebagai gantinya memberikan jaminan lain berupa
gadai atau hipotik. KUHPerdata tidak mengatur sebaliknya, mengingat jaminan gadai dan hipotik dipandang lebih
kuat daripada penanggungan.

#Hak & Kewajiban Dalam Penanggungan

Penanggung tidak usah membayar utang debitur, selama debitur itu tidak lupa (in gebreke).

Penanggung tidak dapat menuntut, agar harta benda debitur lebih dahulu disita dan dijual :

 Jika ia telah melepaskan (heeft afstand gedaan) hak istimewanya untuk menuntut supaya harta benda
debitur disita dan dijual lebih dahulu (voorrecht van eerdere uitwinning);
 Jika ia telah mengikatkan dirinya untuk bertanggungjawab secara renteng;
 Jika debitur dapat mengajukan suatu tangkisan (exceptie), yang hanya mengenai dirinya pribadi, misalnya
karena ia masih di bawah umur;
 Jika debitur berada dalam keadaan pailit atau jatuh miskin (kennelijk onvermogen);
 Jika penanggung itu karena perintah hakim (gerechtelijk borgtocht).

Dalam pada itu kreditur tidak diwajibkan untuk menyita dan menjual lebih dahulu harta benda debitur (eerdere
uitwinning), kecuali bila penanggung memang telah memintanya demikian pada waktu dia (penanggung) pertama
kali dituntut di pengadilan.

Apabila beberapa orang telah mengikatkan diri sebagai penanggung untuk seorang debitur dari/untuk utang yang
sama, maka masing-masing terikat untuk seluruh utang itu. Akan tetapi masing-masing terikat untuk seluruh utang
itu. Akan tetapi masing-masing dari mereka itu, yang tidak melepaskan hak istimewanya untuk pemecahan utang
(schuldsplitsing), boleh menuntut agar kreditur lebih dahulu membayar piutang/ penagihannya.

Penanggung yang telah membayar berhak untuk menuntutnya kembali dari debitur-utama (hoofdschuldenaar),
tanpa mengingat apakah penanggungan itu telah diadakan dengan atau tanpa pengetahuan debitur.

Hal ini pembuat undang-undang mengatur demikian, oleh karena penanggung yang telah membayar utang itu,
demi hukum (van rechtswege) menerima semua hak kreditur terhadap debitur (Pasal 1400 KUHPerdata).

Penanggung juga dapat (boleh/berhak untuk) menuntut debitur untuk diberikan ganti rugi atau dibebaskan dari
perikatannya, antara lain (bahkan) apabila utang debitur itu sudah dapat ditagih (opeisbaar) karena lampaunya
jangka waktu yang telah ditetapkan untuk pembayaran ybs. Juga setelah lewatnya 10 tahun bila perjanjian pokok
(utama) tidak mempunyai waktu pengakhiran (vervatijd).
Setiap penanggungan hapus/berakhir karena hapus berakhirnya perjanjian/perikatan pokok (utama) ; jadi sama
halnya seperti hipotik, gadai dan perjanjian dampingan lainnya. Penundaan pembayaran yang diberikan oleh
kreditur kepada debitur yang bersangkutan tidak membebaskan penanggung, walaupun ia (penanggung) dalam hal
demikian/boleh memaksa/menuntut agar debitur membayar utangnya itu atau membebaskan penanggung dari
penanggungan yang membebaninya itu.

15.Perdamaian
Dasar Hukum

Pasal 1851 - Pasal 1864 KUHPerdata

Perdamaian (dading/compromise) merupakan suatu perjanjian/persetujuan dengan mana para pihak, dengan
menyerahkan, menjanjikan atau menahan suatu barang, mengakhiri suatu perkara yang belum putus (aanhanging)
atau untuk mencegah timbulnya suatu perkara.

Seseorang hanya dapat mengadakan perdamaian bila ia mempunyai, kekuasaan/wewenang (bevoegdheid) untuk
melepaskan haknya (beschikken) atas hal-hal yang termasuk di dalam perdamaian itu. Wali dan pengampu dalam
mengadakan perdamaian bagi pupil dan kurandus mereka tunduk pada (harus mengindahkan) ketentuan yang
tercantum dalam Pasal 330 dan seterusnya KUHPerdata, dan Pasal 433 dan seterusnya KUHPerdata.

Batal (nietig) suatu perdamaian yang diadakan atas dasar surat-surat yang kemudian ternyata/diketahui
palsu.

Perdamaian dari suatu perkara yang masih dapat dimintakan banding, jadi yang belum mempunyai kekuatan
mutlak, sedangkan para atau salah satu pihak tidak mengetahuinya putusan hakim yang bersangkutan adalah sah
(van waarde).

Merupakan suatu keharusan untuk memperbaikinya bagi para pihak, bila dalam suatu perdamaian terdapat suatu
kekeliruan dalam hal menghitung (misslag van berekening).

#Dibuatnya Dan Sifat


 Perjanjian ini harus dibuat secara tertulis, meskipun seandainya menyangkut suatu hal/perkara (zaak)
yang pembuktiannya boleh dilakukan dengan saksi (kesaksian).
 Setiap perdamaian hanya mengakhiri perselisihan/sengketa (geschillen) yang termasuk di dalamnya atau
hanya terbatas pada soal/masalah yang termaktub di dalam pokok perselisihan yang bersangkutan.
 Antara para pihak perdamaian itu mempunyai kekuatan seperti suatu putusan (vonnis) hakim dalam
tingkat paling tinggi/ terakhir (kracht van gewijsde in het hoogste resort), sehingga terhadap perjanjian itu
tidak dapat diajukan bantahan dan perjanjian itu tidak dapat dibatalkan, kecuali karena kekhilafan
mengenai orang atau pokok perselisihan (dwaling) atau karena penipuan (bedrog) atau paksaan (geweld).
 Tanpa menghalangi kewajiban kejaksaan (penuntut umum) untuk menuntut perkara pidana yang
bersangkutan, dapat pula diadakan perdamaian yang menyangkut urusan perdata yang timbul dari suatu
kejahatan (misdrijf) atau pelanggaran (overtrading).

Anda mungkin juga menyukai