Anda di halaman 1dari 11

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG Psikologi kepribadian adalah pengetahuan ilmiyah dan sebagai pengetahuan ilmiyah psikologi kepribadian menggunakan konsep-konsep dan metode-metode ilmiyah dimaksudkan agar psikologi kepribdian bisa mencapai sasaranya seperti: 1. Memperoleh informasi mengenai tingkah laku menusia. 2. Mendorong individu agar bisa secara penuh dan memuaskan. Untuk mengetahui tingkah laku keprbadian tidak hanya berpusat untuk melampiaskan nafsu saja tetapi juga sebagai peningkatan manfaat dalam kehidupan manusia dan sebagai pembelajaran tentang kepribadian individu lain apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang berbuat hal yang demikian. Sehingga apa yang telah didapat dapat dimanfaatkan sebagai psikoterapi dalam pembelajaran untuk merubah seorang individu menjadi individu yang lebih baik. Interaksi dalam psikologi kepribadian sangat berpengaruh terutama pada lembaga-lambaga yang ada seperti interaksi yang terjadi pada pendidik dan anak didik, dimana pihak pendidik berusaha mempengruhi anak didik agar berkembang secara optimal. Dan untuk mewujudkan keinginan tersebut seorang pendidik harus membekali diri dengan persyaratan contoh: Pemahaman tentang prilaku manusia baik diri sendiri maupun orang lain, karena tanpa dibekali dengan pemahaman tentang prilaku maka akan sulit untuk mewujudkan prilaku yang eduktif

RUMUSAN MASALAH  Apa saja kepribadian yang matng menurut sinner.  Klasifikasi kepribadian menurut skinner. TUJUAN Untuk mengetahui apa saja dan bagaimana kepribadian yang matang menurut skinner. 1

Menurut : Burrhus Frederic Skinner ( 1904-1990)


Teori Kepribadian Burrhus Frederic Skinner
Skinner tidak mempercayai teori-teori konseptual, bukan karena itu tidak penting, tetapi banyak konsep-konsep teori spekulatif itu, tidak mengizinkan atau menyelubungi hipotesis, sehingga sulit dibuat definisi operasional yang nantinya dapat dilakukan pengujian empiris Skinner sangat percaya dengan eksperimental, elementalisme. Sesuatu itu harus diteliti bagian per bagian lalu meluas dan makin meluas. Juga sesuatu itu benar dan salahnya bukan dari konsep rasional, tetapi mesti tahan uji secara empiris, eksperimental. Bagian dalam manusia tak dapat dilihat dan diteliti, yang kita lihat, ujia adalah yang tampak. Dari situlah kita mengetahui apa yang didalam. Manusia kata Skinner adalah kotak tertutup, variable pengantara tingkah laku, motif, dorongan dan lain-lain itu semua harus dikesampingkan, sebab itu menghambat penelitian-penelitan dan studi tentang tingkah laku manusia. Penelitian ilmiah, harus dapat dibuktikan dengan variable yang terkontrol murni. Sehingga penjelasan-penjelasan lain tanpa control (hipotesa, fisiologi, genetika dan lain-lain, Skinner tak menyetujuinya). Skinner percaya bahwa individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukan agen penyebab tingkah laku, melainkan tempat kedudukan atau suatu point dimana factor-faktor lingkungan dan bawaan yang khas secara bersama menghasilkan akibat (tingkah laku) yang khas pula pada individu tersebut. Studi kepribadian bagi skinner adalah bagaimana menemukan pola-pola yang khas dari kaitan antara tingkah laku organisme dan konsekuensi-konsekuensi yang diperkuatnya. Skinner menggunakan analisis fungsional dimana ahli didorong untuk dapat membentuk kaitan pasti, nyata dan dapat diperinci antara tingkah laku organisme yang dapat diamati (respons) dan kondisi-kondisi lingkungan (stimulus) yang menentukan atau mengendalikannya. Variable-variabel yang dipakai harus eksternal, bisa dilihat dan dapat didefinisikan dalam istilah-istilah yng kuantitatif. Tujuan praktis dari itu adalah bisa memanipulasi variable-variabel lingkungan (independent variable) sebagai pangkal tolak pembuatan peramalan-peramalan, dan kemudian peneliti mengukur perubahan tingkah laku yang dihasilkan (dependent variable).

Pengkondisian Operan
2

Sistem tingkah laku, kata Skinner terdiri dari 2 hal yaitu responden dan operan (operant). Singkatnya, setiap tingkah laku individu disebabkan oleh stimulus yang selalu mendahului respons. Misalnya menyempitkan mata karena sinar, menggigil karena dingin dll. Orang pertama yang mempelajari pengkondisian ini adalah Ivan Pavlol dengan pengkondisian Klasiknya lewat penelitian keluarnya air liur anjing. Mula-mula anjing itu diberi makan dan setiap makanan diberikan, sebelumnya lonceng dibunyikan..karena adanya makanan, maka keluarlah air liur si anjing. Karena setiap makanan keluar sebelumnya didahului lonceng juga bunyi, maka setelah beberapa waktu pengkondisian itu, apabila lonceng dibunyikan walau tanpa makanan, maka air liur anjing tetap keluar. Tetapi bila sampai beberapa saat, lonceng terus yang bunyi tanpa dibarengi oleh makanan, maka air liur tak keluar. Demikian juga pengkondisian yang dilakukan oleh Watson dan Rayner pada tahun 1920. sebelum pengkondisian Albert 11 th, tidak takut dengan tikus putih, kapas, topeng dll. Setelah dikondisikan, bahwa setiap ada tikus putih, anak kecil itu diberi bunyi-bunyian keras dibelakang dirinya. Setelah 7 kali pengkondisian, setelah lihat tikus putih saja, tanpa bunyi anak kecil itu sudah menangis dan ketakutan. Pada tahap selanjutnya Albert menggeneralisasi kondisi itu, sehingga ia takut pada anjing, mantel bulu, topeng, bahkan rambut peneliti. Sekalipun pengkondisian klasik itu benar, tetapi kata Skinner yang lebih penting adalah Pengkondisian Operan. Tafsiran Skinner tentang pengkondisian adalah; penguatan (reiforcer) tindakan. Tindakan yang mendapat penguatan (hasil) positif akan dilakukan lagi (diulang), sedangkan yang mendapat penguatan negative akan ditinggalkan. Mencacat dan Jadwal perkuatan Makin probalistik hasil suatu tindakan, makin orang itu penasaran dan mencoba. Makin pasti suatu hasil tindakan, maka makin kecil penasaran, penguatan tindakan. Sebagai contoh bila gaji diberikan sebagai penguatan semangat kerja, maka akhir-akhir bulan pegawai semangat, atau minimal yang mendekati gajian. Setelah itu malas lagi. Lain dengan sales, karena tidak jelas mana, pintu yang keberapa rumah orang akan beli, maka si sales akan terus bersemangat antara 1 rumah dengan rumah yang lainnya. Demikian juga dengan penjudi atau pemain jackpot. awalnya mereka mencoba, gagal-gagal, malas berjudi dan main lagi. Tetapi bila orang itu pernah menang, maka semangatnya dan kemungkinan ia berhenti akan lebih rendah sekalipun uangnya ditambah dengan kemenangannya sudah ludes. Pengkondisian juga akan membuat orang bertingkah laku tahayul, bila karena hal tertentu (kebetulan), menghasilkan keuntungan. Misalnya pemain bulu tangkis dengan raket tertentu, pemain sepak bola dengan kostum tertentu. Demikian waktu anak kecil bermain kelereng. Karena dengan menggunakan kelereng tertentu ia menang dan menang lagi.. maka mungkin ia akan menunda permainannya bahkantidak bermain sementara waktu kalau kelereng itu tak ada dan seterusnya

Shaping adalah pembentukan suatu respon melalui pemberian penguatan atas respon-respon lain yang mengarah atau mendekati respon yang diinginkan. misalnya anak yang kita inginkan belajar, maka mendekati tempat belajar kita perkuat dengan 3

hadiah, selanjutnya mendekati tempat belajar tidak kita kasih sampai ia pegang-pegang buku kita perkuat dengan hadiah, selanjutnya pegang-pegang buku sampai buka-buka buku kita perkuat.. buka-buka buku, sampai membaca sekalipun cerita kita perkuat dan seterusnya akhirnya ia akan belajar.

Evolusi Kebudayaan (behaviorisme)


Kebudayaan sama halnya dengan spesies-spesies, mengalami seleksi berdasarkan adaptasinya terhadap lingkungan, yakni; sejauh mana kebudayaan itu membantu anggota-anggota dalam rangka memperoleh apa yang mereka butuhkan; sejauh mana kebudayaan itu membantu anggotanya untuk menghindarkan dari hal-hal yang membahayakan; dan seberapa besar kebudayaan itu membantu orang-orang yang menjadi anggotanya untuk survive dan memelihara kebudayaan itu sendiri. Sama halnya dengan spesies dalam teori Darwin. Praktek-praktek budaya bisa berubah (bermutasi), tetapi praktek-praktek budaya tersebut tetap berlaku karena kebudayaan memiliki nilai adaptasi. Nilai kebudayaan hanya dapat ditentukan oleh satu kriteria: Kelangsungan. Dan untuk menjamin kelangsungannya, kebudayaan harus mendorong anggota-anggotanya untuk bekerja bagi pemeliharaan kebudayaan. Orang-orang yang menjadi anggota kebudayaan itu harus diberi perkuatan bagi upaya mereka memelihara kebudayaan itu. Tantangan bagi perancang kebudayaan adalah mempercepat perkembangan praktek-praktek yang membawa konsekuensi memperkuat pada tingkah laku individu dalam arah yang langsung. Dan jika para anggota kebudayaan itu tidak memperoleh perkuatan, maka mereka tidak akan tergerak untuk bekerja bagi pemeliharaan kebudayaan sehingga kebudayaan tersebut akan mati.

Struktur kepribadian
Menurut Skinner, penyelidikan mengenai kepribadian hanya sah jika memenuhi beberapa kriteria ilmiah. Umpamanya, ia tidak akan menerima gagasan bahwa kepribadian (personality) atau diri (self) yang membimbing atau mengarahkan perilaku. Bagi Skinner, studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada penemuan pola yang khas dari kaitan antara tingkah organisme dan berbagai konsekuensi yang diperkuatnya. Selanjutnya, Skinner menguraikan sejumlah tehnik yang digunakan untuk mengontrol perilaku. Kemudian banyak diantaranya dipelajari oleh social-learning theoritists yang tertarik dalam modeling dan modifikasi perilaku. Teknik tersebut adalah sebagai berikut: 4

(Wulansari & Sujatno, 1997). y y y y y y y Pengekangan Fisik ( physical restraints ) Bantuan Fisik ( physical aids) Mengubah Kondisi Stimulus (changing the stimulus conditions) Manipulasi Kondisi Emosional (manipulating emotional conditions) Melakukan Respons-respons Lain (performing alternative responses) Menguatkan Diri Secara Positif (positive self-reinforcement). Menghukum Diri Sendiri ( self punishment).

Selanjutnya Skinner membedakan perilaku atas :  Perilaku yang alami (innate behavior), atau yang biasa disebut respondent behavior. Yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang jelas.  Perilaku Operan (operant behavior), yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang tidak jelas atau tidak diketahui, tetapi semata-mata ditimbulkan organisme itu sendiri.

Bagi Skinner, faktor motivational dalam tingkah laku bukan bagian elemen struktural. Dalam situasi yang sama tingkah laku seseorang bisa berbeda-beda kekuatan dan keseringan munculnya. Konsep motivasi yang menjelaskan variabilitas tingkah laku dalam situasi yang konstan bukan fungsi dari keadaan energi, tujuan, dan jenis penyebab sebagainya. Konsep itu secara sederhana dijelaskan melalui hubungan sekelompok respon dengan sekelompok kejadian. Penjelasan mengenai motivasi ini juga berlaku untuk emosi.

Dinamika Kepribadian
 Kepribadian dan Belajar
Hakikat teori skinner adalah teori belajar, bagaimana individu menjadi memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil, menjadi lebih tahu. Dia yakin bahwa kepribadian dapat dipahami dengan mempertimbangkan tingkah laku dalam hubungannya yang terus menerus dengan lingkungannya. Cara yang paling efektif untuk mengubah dan mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan penguatan (reinforment), suatu strategi kegiatan yang membuat tingkah laku tertentu berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya (berpeluang tidak terjadi) pada masa yang akan datang. Konsep dasarnya sangat sederhana yakni semua tingkah laku dapat dikontrol. 5

 Tingkah laku Kontrol Diri


Prinsip dasar pendekatan skinner adalah : Tingkah laku disebabkan dan dipengaruhi oleh variabel eksternal. Tidak ada dalam diri manusia, tidak ada bentuk kegiatan eksternal, yang mempengaruhi tingkah laku. Pengertian kontrol diri ini bukan mengontrol kekuatan di dalam self, tetapi bagaimana self mengontrol variabel-variabel luar yang menentukan tingkah laku

 Stimulan Aversif
Stimulasi aversif adalah lawan dari stimulant penguatan, sesuatu yang tidak menyenangkan atau bahkan menyakitkan.

Perilaku yang diikuti oleh stimulant aversif akan memperkecil kemungkinan diulanginya perilaku tersebut pada masa-masa selanjutnya.
Definisi ini sekaligus menggambarkan bentuk pengkondisian yang dikenal dengan hukuman.

 Kondisioning Klasik (Classical Conditioning)


Kondisioning klasik, disebut juga kondisioning responden karena tingkah laku dipelajari dengan memanfaatkan hubungan stimulus-respon yang bersifat refleksbawaan.

 Kondisioning Operan (Operant Conditioning)


6

Reinforser tidak diasosiasikan dengan stimulus yang dikondisikan, tetapi diasosiasikan dengan respon karena respon itu sendiri beroperasi memberi reinsforment. Skinner menyebut respon itu sebagai tingkah laku operan (operant behavior). Tingkah laku responden adalah tingkah laku otomatis atau refleks, yang dalam kondisioning klasik respon diusahakan dapat dimunculkan dalam situasi yang lain dengan situasi aslinya. Tingkah laku operan mungkin belum pernah dimiliki individu, tetapi ketika orang melakukannya dia mendapat hadiah. Respon operan itu mendapat reinforcement, sehingga berpeluang untuk lebih sering terjadi. Kondisioning operan tidak tergantung pada tingkah laku otomatis atau refleks, sehingga jauh lebih fleksibel dibanding kondisioning klasik. B. F. Skinner dengan pandangannya yang radikal, banyak salah dimengerti dan mendapat kritik yang tidak proporsional. Betapapun orang harus mengakui bahwa teori Behaviorisme paling berhasil dalam mendorong penelitian dibidang psikologi dengan pendekatan teoritik lainnya. Berikut lima kritik terpenting terhadap B. F. Skinner. 1. teori skinner tidak menghargai harkat manusia. Manusia bukan mesin otomat yang diatur lingkungan semata. Manusia bukan robot, tetapi organisme yang memiliki kesadaran untuk bertingkah laku dengan bebas dan spontan. 2. gabungan pendekatan nomoterik dan idiografik dalam penelitian dan pengembangan teori banyak menimbulkan masalah metodologis. 3. pendekatan skinner dalam terapi tingkah laku secara umum dikritik hanya mengobati symptom dan mengabaikan penyebab internal mental dawn fisiologik.

4. generalisasi dari tingkah laku merpati mematok makanan menjadi tingkah laku manusia yang sangat kompleks, terlalu luas/ jauh.

KONSEP BELAJAR MENURUT SKINNER


Belajar menurut pandangan B.F. Skinner (1958) adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Menurut Skinner dalam belajar ditemukan hal-hal berikut : 1. kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons belajar. 2. respons pelajar 3. konsekuensi yang bersifat menggunakan respons tersebut,baik

konsekuensinya sebagai hadiah maupun teguran atau hukuman. 7

KLASIFIKASI KEPRIBADIAN MENURUT SKINNER.


Menerima diri sendiri 1. Mempunyai harga diri 2. Memounyai kemampuan diri

3. Mengenal perasan-perasaaannya 4. Mengenal dan menerima batas kemampuannya Diterima oleh orang lain 1. Mempunyai banyak teman 2. Disukai dan dicintai orang tuanya 3. Dapat bekerja sama dengan orang lain 4. Sanggup menjadi pemimmpin dan bawahan Efesiensi dalam pekerjaan atau sekolah. 1. Konsentrasi baik 2. Bekerja menurut kemampuannya 3. Mampu menyelesaikan tugas. 4. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya 5. Bersikap tenang. Relatif babas tegangan dan konflik 1. Senang dengan pekerjaan 2. Mau mencari hiburan. 3. Matang dalam penilaian dan prilaku 4. Dapat menguasai diri.

CIRI-CIRI KEPRIBADIAN YANG MATANG


 Perluasan diri (extension of the self). Artinya hidupnya tidak boleh terikat secara sempit pada sekumpulan aktifitas yang erat hubungannya dengan kebutuhankebutuhan dan kewajiban-kewajiban pokoknya. Harus dapat mengambil bagian dan menikmati macam-macam aktivitas yang berbeda-beda. Salah satu aspek dari

perluasan diri adalah proyeksi ke masa depan, yakni merencanakan dan mengharapkan.  Kemampuan menjalin hubungan yang hangat dengan orang lain (Warm relating of self to other), baik dalam bentuk hubungan yang mendalam maupun tidak mendalam, memiliki dasar rasa aman dan menerima dirinya sendiri.  Memiliki orientasi yang realistik (Self Objectification). Dua komponen utama dari Self Objectification adalah humor dan insight. Insight disini adalah kapasitas individu untuk memahami dirinya sendiri, meskipun tidak jelas bagaimana menemukan suatu standar yang cocok untuk membandingkan kepercayaankepercayaan individu yang bersangkutan. Perasaan humor tidak hanya

menunjukkan kapasitas untuk menemukan kesenangan dan gelak tawa dalam hal sehari-hari, tetapi juga kemampuan untuk membina hubungan-hubungan positif dengan diri sendiri dan dengan objek-objek yang dicintai, serta menyadari adanya ketidakselarasan dalam hal ini.  Filsafat hidup (Philosophy of life). Walaupun individu itu harus dapat obyektif dan bahkan menikmati kejadian-kejadian dalam hidupnya, namun mestilah ada latar belakang yang mendasari segala sesuatu yang dikerjakannya, yang memberinya arti dan tujuan. Religi merupakan salah satu hal yang penting dalam hal ini.  Kemampuan menghindari reaksi berlebihan terhadap masalah (Emotional security). Masalah disini adalah masalah yang menyinggung drives spesifik (misalnya, menerima dorongan seks, memuaskan sebaik mungkin, tidak menghalangi tetapi juga tidak membiarkan bebas) dan mentoleransi frustasi, perasaan seimbang.  Realistic perceptions, skill, assignments, kemampuan memandang orang, obyek dan situasi seperti apa adanya, kemampuan dan minat memecahkan masalah , memiliki keterampilan yang cukup untuk menyelesaikan tugas yang dipilihnya, dapat memenuhi kebutuhan ekonomi kehidupan tanpa rasa panic, rendah diri, atau tingkah laku destruksi diri lainnya.

BAB 2
PENUTUP

Kesimpulan
Tujuan dilakukan penelitian kepribadian terhadap diri seseorang berdasarkan teori B.F.Skinner. Dan berusaha untuk memahami bagaimana macammacam karakter dalam menghadapi klien

Saran
y y y Sebagai perawat kita harus dapat mengeri karakter dan kepribadian klien Sebagai perawat kita harus menghadapi klien berdasarkan ilmu Sebagai perawat kita harus memahami apa yang klien inginkan agar selalu merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan setiap perawat

10

DAFTAR PUSTAKA

1. Denny Richard. 1995. Sukses Motivasi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 2. Surya Mohamad. Prof. DR. 2004. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung : Pustaka Bani Quraisy.

11