Anda di halaman 1dari 52

DR.

MOMON SODIK IMANUDIN


Email: momon_unsri@yahoo.co.id
WA: 081263781095
DR.MOMON SODIK IMANUDIN
Email: momon_unsri@yahoo.co.id
WA: 081263781095
LAHAN GAMBUT
 Lahan gambut dikenal dan ditemukan pertama kali oleh Kyooker,
seorang pejabat Belanda pada tahun 1860an yang menyatakan
bahwa 1/6 areal wilayah Sumatera ditempati gambut

 Penyebaran :
- Luas gambut di Indonesia sekitar 18.480 ribu hektar, tersebar pada
pulau-pulau besar Kalimantan, Sumatera, Papua serta beberapa
pulau Kecil
 Tanah gambut atau tanah Organosol atau tanah organik
mempunyai ciri dan sifat: horizon tidak terjadi deferensiasi secara
jelas, ketebalan lebih dari 0.5 m, warna coklat hingga kehitaman,
tekstur debu lempung, tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat-agak
lekat, kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur
lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir, umumnya
bersifat sangat asam (pH 4,0) kandungan unsur hara rendah
 Terbentuknya gambut pada umumnya terjadi dibawah
kondisi dimana tanaman yang telah mati tergenang air
secara terus menerus, misalnya pada cekungan atau
depresi, danau atau daerah pantai yang selalu
tergenang dan produksi bahan organik yang melimpah
dari vegetasi hutan mangrove atau hutan payau.
 Tanah gambut apabila memenuhi salah satu
persyaratan):
1. Apabila dalam keadaan jenuh air mempunyai
kandungan C –organik paling sedikit 18% jika
kandung liatnya >60 % atau mempunyai kandungan
C-organik 2% jika tidak mempunyai liat (O %) atau
mempunyai kandungan C–organik lebih dari 12% + %
liat x 0,1 jika kandungan liatnya antara 0-60 %
2. Apabila tidak jenuh air mempunyai kandungan C-
organik minimal 2O %.
Fungsi ekologi hutan rawa gambut
 Fungsi ekologi hutan rawa gambut sebagai pengendali
suhu, kelembaban udara, dan hidrologi kawasan
 Pemanfaatan lahan gambut selama ini hanya
didasarkan pada KEPPRES No. 32 Tahun 1990, yang
menyatakan bahwa ketebalan gambut lebih dari tiga
(3) meter diperuntukkan bagi konservasi atau untuk
kehutanan, dan kurang dari tiga (3) meter dapat
dijadikan kawasan produksi.
Jenis Tanah di Daerah Rawa
 Tanah di lahan rawa dapat berupa aluvial atau gambut.
Tanah aluvial merupakan endapan yang terbentuk dari
campuran bahan-bahan seperti lumpur, humus, dan pasir
dengan kadar yang berbedabeda.
 Gambut merupakan hasil pelapukan bahan organik seperti
dedaunan, ranting kayu, dan semak dalam keadaan jenuh
air dan dalam jangka waktu yang sangat lama (ribuan
tahun). Di alam, gambut sering bercampur dengan tanah
liat.
 Lahan rawa yang tidak memiliki tanah gambut dan
kedalaman lapisan piritnya kurang dari 50 cm disebut
sebagai lahan aluvial bersulfida dangkal atau sering
disebut lahan sulfat masam potensial
Pembentukan gambut
Gambut adalah lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik yang
berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk.
Timbunan tersebut menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan
yang tebal. Pada umumnya, gambut ditemukan di area genangan air, seperti rawa,
cekungan antara sungai, maupun daerah pesisir.

Sumber:
https://pantaugambut.id/pelajar
i/apa-itu-gambut/sejarah-
terbentuknya-gambut
Lahan Gambut dan Bergambut
 Tanah gambut secara alami terdapat pada lapisan
paling atas. Di bawahnya terdapat lapisan tanah
aluvial pada kedalaman yang bervariasi. Lahan dengan
ketebalan tanah gambut kurang dari 50 cm disebut
sebagai lahan atau tanah bergambut.
 Disebut sebagai lahan gambut apabila ketebalan
gambut lebih dari 50 cm. Dengan demikian, lahan
gambut adalah lahan rawa dengan ketebalan gambut
lebih dari 50 cm.
Perdasarkan kedalamnya, lahan gambut dibagi
menjadi empat tipe, yaitu:
 Lahan gambut dangkal, yaitu lahan dengan ketebalan
gambut 50-100 cm;
 Lahan gambut sedang, yaitu lahan dengan ketebalan
gambut 100-200 cm;
 Lahan gambut dalam, yaitu lahan dengan ketebalan
gambut 200-300 cm;
 Lahan gambut sangat dalam, yaitu lahan dengan
ketebalan gambut lebih dari 300 cm
Tingkat Kematangan Gambut
 Gambut saprik (matang), yaitu gambut yang sudah
melapuk dan bahan asalnya sudah tidak bisa dikenali.
Berwarna cokelat tua hingga hitam dan bila diremas oleh
tangan kandungan seratnya < 15%.
 Gambut hemik (setengah matang), yaitu gambut setengah
lapuk dan sebagian bahan induknya masih bisa dikenali.
Berwarna cokelat dan bila diremas bahan seratnya di
kisaran 15-75%.
 Gambut fibrik (mentah), yaitu gambut yang belum
melapuk dan bahan induknya bisa dikenali dengan mudah.
Berwarna cokelat dan bila diremas bahan seratnya > 75%.
Potensial Produksi
 Gambut yang masih mengandung kayu tinggi (belum
terlapuk) berpengaruh terhadap hasil produksi yang
kurang baik dibandingkan dengan gambut yang telah
termineralisasi. Begitu juga terhadap tingkat
kematangan gambut, hasil penelitian menunjukkan
bahwa jenis gambut memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap produksi
 Gambut Saprik menunjukkan berbagai hasil antara
19.48 - 22.92 ton/ha dibandingkan dengan gambut
Hemic yang berkisar antara 9.47 - 13.37 ton/ha.
 Sumber: Soewandita (2018)
Malaysia bisa 30 ton/ha
Fungsi Lingkungan
 Lahan gambut memiliki porositas yang tinggi,
sehingga sebagai tempat penyimpan air (fress water)

 Bila porositas 70% hujan jatuh 50 mm, maka air bisa


disimpan adalah 35mm. Bila dalam 1 ha adalah 10.000
m2, misal kedalaman gambut 3m. maka volume air
disimpan (0,035 m x 10.000 m2) x 3m = .......m3 air bisa
disimpan.
 Sementara itu, lingkungan gambut memiliki
keterbatasan terutama dalam hal kesuburan tanah
dan rentan terhadap terjadinya kebakaran hutan
dan lahan di musim kemarau.
Sifat Fisik Tanah Gambut
 Tanah Gambut di lapanggan dijumpai sebagai pasta
berwama coklat kehitaman yang mengandung banyak
serat dan sisa tumbuhan dengan proporsiyang sangat
ditentukan oleh tingkat pelapukannya.
 Pada gambut yang masih muda bahan gambut masih
memperlihatkan bentuk dan sifat bahan pembentuknya
(batang, daun, akar, dan sebagainya) karena
banyaknya serat yang dikandungnya (> 60%). Gambut
yang berserat ini dinamakan gambut fibrik (fibrous
peat) olehpara ahli tanah.
 Konduktivitas hidraulik horizontal yang sangat cepat
dan konduktivitas vertikal yang sangat lambat secara
setempat;
Hidrologi Daerah Gambut
 Kapasitas infiltrasi kubah gambut umumnya cukup besar
untuk mencegah terjadinya air limpasan pada setiap hujan
(Wosten dan Rizema, 2003). Tetapi hanya bila gambut
telah jenuh air, maka setiap hujan berikutnya akan
langsung berubah menjadi air limpasan dan
mengakibatkan banjir atau genangan.

 Oleh karena itu bila sistem hidrologinya terganggu akan


mempengaruhi sistem tata kelola air dan akan
mempengaruhi kondisi lahan gambut.
Hidrologi Daerah Gambut
 Nilai porositas tinggi bisa mencapai 80-90% dengan kesarangan
drainase yang bisa mencapai 80%. Dengan besarnya kesarangan
tersebut, gambut memiliki permeabilitas yang tinggi pula.
Konduktivitas hidraulik bahan gambut umumnya di atas 1 m/hari

 Kenaikan air kapiler pada gambut sangat tergantung pula pada


humifikasi, Umumnya proporsi pori kapiler di dalam gambut yang
tersedia untuk transpirasi tanaman hanya berkisar sekitar 10%.
Denganjumlah ini, maka beberapa jenis akan mulai memperlihatkin
gejala stress apabila bujan tidak turun selama 10 hari berturutturut.

 Sifat fisik massa gambut yang sangat sarang memberikan efek


penyangga yang baik terhadap fluktuasi aliran air sebagai respons
terhadap curah hujan
Hidrologi Gambut
 Sebaliknya, pengaruh curah hujan terhadap fluktuasi air tanah terjadi
demikian langsung. Kenaikan muka air tanah terjadi segera setelah
hujan turun, dengan rasio kenaikan muka air tanah terhadap tinggi
curah hujan yang mencapai hampir tiga kalinya (Takahashi, 2000).

 Muka air tanah akan turun secara berangsur setelah hujan reda
dengan kecepatan yang semakin lama semakin berkurang. Pada
proses penurunan muka air tanah, faktor-faktor evapotranspirasi
lebih banyak berpengaruh daripada pengaliran air tanah. Pada tanah
terbuka, besarnya angka evapotranspirasi bervariasi setiap harinya,
berkisar antara 0,8 sampai 3,9 mm/hari (Takahashi, 2000)

 Neraca air daerah gambut (Kayama, 2000) memperlihatkan bahwa


kehilangan air melalui penguapan dan pengaliran air terhadap totat
curah hujan relatif sebanding
Karakteristik Fisik Gambut
 Gambut yang mengalami kering tak balik berubah
sifat menjadi gambut yang tidak lagi mempunyai
kemampuan dalam menyerap air seperti semula dan
sifat gambut berubah dari suka air (hidrofilik) menjadi
menolak air (hidrofobik).

 Misalnya, gambut yang terbakar hanya dapat


menyerap air sekitar 50% dari semula sebelum
terbakar karena sebagian berubah menjadi hidrofobik.
Subsidence
 Ambles (subsidence) diartikan sebagai penurunan muka
tanah gambut akibat perubahan kematangan atau
kemampuan gambut dalam menyerap air akibat
pembukaan, penggunaan yang intensif, kebakaran, atau
musim kemarau yang panjang.
 Besar amblesan pada tahun 1-2 pembukaan lahan gambut
lebih besar dan cepat dibandingkan tahun berikutnya.
Rata-rata amblesan pada gambut Barambai, Barito Kuala
(Kalsel) selama tiga tahun pertama rata-rata 16 cm/tahun.
Amblesan mulai mengecil setelah tahun ke enam dan
mantap setelah tahun ke delapan atau ke sepuluh
(Notohadiprawiro, 1979; Hardjowigeno, 1997).
 Lahan gambut Serawak (tebal 2-6 m) yang dipertahankan
dengan muka air tanah antara 75-100 cm dari permukaan
rata-rata ambles hanya 6 cm/tahun (Tieh and Kueh, 1979)
Reklamasi Lahan Gambut
 Petani tradisional suku Bugis dan
Banjar yang telah terbiasa membuka
lahan gambut di sekitar sungai untuk
bercocok tanam. Pembukaan sekala
kecil, dan tidak merusak lingkungan

 Pertama: mendrainase lahan dengan


membuat parit-parit untuk
menurunkan muka air tanah dan
kemudian membuka lahan dengan
menebangi pohon serta
membersihkan tumbuhan di atasnya.
Karena area yang direklamasi
umumnya tidak luas (1-3 ha) dan
terletak di sekitar pematang sungai,
Reklamasi Lahan Gambut
.
 Keterbatasan lahan kering
memaksa Pembukaan lahan
gambut untuk perkebunan
dan kehutunan. Sistem tata
air dibuat sekala besar,
ditambah belum tersedianya
bangunan pengendali muka
air, maka sering terjadi
kelebihan pembuagan (over
drainage) sekala
Prinsip Drainase
 Drainase yang ideal harus dapat membuang kelebihan air
yang datang dari hujan secara tepat waktu dan efisien, dan
mengendalikan muka air tanah agar dapat mencapai
kondisi optimum bagi pertumbuhan tanaman (Tie dan
Lim, 1992).
 Drainase yang tidak tepat dapat menimbulkan dampak
lingkungan yang serius pada ekosistem lahan gambut.
Dampak tersebut dapat berupa subsiden, meningkatnya
bencana kebakaran dan meningkatnya emisi gas rumah
kaca
 Menurut Chotimah (2002), gambut akan kehilangan air
tersedia setelah mengalami kekeringan selama 4 - 5
minggu.
Kerentanan Terhadap Kebakaran
 Gambut yang belum matang (jenis fibrik dan hemik) lebih
mudah terbakar dibandingkan gambut matang (jenis
saprik).
 Kebakaran gambut masih bisa terjadi pada kadar air 119%
yang merupakan kadar air kritis kebakaran gambut.
 Titik kritis kedalaman muka air tanah gambut berkisar
antara 27 hingga 74 cm. (Febrianti et al., 2018)
 Terjadi penurunan kadar air gambut setelah tanah gambut
terbakar dengan tingkat kebakaran yang berbeda. Semakin
berat tingkat kebakaran gambut maka semakin rendah
kadar air pada tanah gambut.
Neraca Air
 Neraca air (water balance) INPUT (MASUKAN)
merupakan neraca masukan
dan keluaran air disuatu tempat  Hujan
pada periode tertentu, sehingga  Air pasang
dapat untuk mengetahui
jumlah air tersebut kelebihan
(surplus) ataupun kekurangan
(defisit)
 Surplus bila presipitasi lebih OUTPUT (KELUAR)
dari penggunaan  Evapotranspirasi
(evapotranspirasi, perkolasi)
 Deficit bila presipitasi lebih
 Discharge (aliran) ke
kecil dari penggunaan luar
(evapotranspirasi, perkolasi)
PENDUGAAN KETERSEDIAAN AIR
 IDENTIFIKASI SUMBER  Data penguapan
AIR dihitung pendekatan
 AIR PERMUKAAN, empiris menggunakan
SUNGAI, WADUK DAN sofwer kompiter ETo
DANAU
 CURAH HUJAN. Data
 Data Tanaman
harian, bulanan,
Koefiesien Tanaman (kc)
tahunan
 Untuk menghitung
kebutuhan air tanaman
ANALISIS NERACA AIR
Zona Akar Hujan
Limpasan
Kadar Air
Evaporasi
Tinggi Air
Evapotranspirasi

Irigasi/Drainase
TARG Rembesan
ET Perkolasi
Air Tanah

Hisapan matriks tanah

16/09/2022 Budi Indra (2020) 26


Skematik Tanah Menerima Air

Tebal
Rm
gambut

mineral
I/H = irigasi pasang atau air hujan
E = evaporasi (penguapan)
Rf = Run off (air yang mengalir dipermukaan tanah)
If = Infiltrasi (air yang meresap ke dalam tanah)
Rm = rembesan
P = Perkolasi (air yang mengalir ke bawah melampaui
daerah perakaran menuju ke groundhttp:/budindra.staff.ipb.ac.id
16/09/2022
water (air tanah)). 27
Presipitasi
 Hujan adalah jatuhnya hydrometeor yang berupa
partikelpartikel air dengan diameter 0.5 mm atau lebih.
Jika jatuhnya sampai ketanah maka disebut hujan, akan
tetapi apabila jatuhannya tidak dapat mencapai tanah
karena menguap lagi maka jatuhan tersebut disebut Virga.
Hujan juga dapat didefinisikan dengan uap yang
mengkondensasi dan jatuh ketanah dalam rangkaian
proses hidrologi.
 Hujan andalan adalah hujan yang selalu tersedia dengan
andalan sebesar 80% dimana probabalitas tersebut
dihitung dengan persamaan Weibull sebagai berikut:
Pr = m / (n+1) x 100 %
Untuk menghitung nilai
Evapotranspirasi minimal
harus tersedia data temperatur

Perlu di kunci,
agar tidak dibuka anak-anak
Infiltrasi/Perkolasi ke dalam tanah
Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah serta
batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air
dapat bergerak secara vertikal atau horizontal di bawah permukaan tanah
hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.

Pada Gambar A akan menghasilkan daya


infiltrasi yang besar, tetapi daya
perkolasinya kecil, karena lapisan atasnya
terdiri dari lapisan kerikil yang
mempunyai permeabilitas tinggi dan
lapisan bawahnya terdiri dari lapisan
tanah liat yang relatif kedap air.
Demikian juga sebaliknya pada Gambar B
akan menghasilkan daya infiltrasi yang
kecil, tetapi daya perkolasinya besar,
karena lapisan atasnya terdiri dari lapisan
kedap air dan lapisan bawahnya tiris.
Aliran Permukaan (Run off)
 Bila seluruh ruang pori tanah terisi air, maka tanah akan
jenuh sehingga air tidak bisa masuk kedalam tanah.
Sehingga air menjadi tergenang dan menyebabkan aliran
permukaan. Terjadi bila infiltrasi tanah 0
 Air bergerak di atas permukaan tanah dekat dengan aliran
utama dan danau. Makin landai lahan dan makin sedikit
poripori tanah, maka aliran permukaan semakin besar.
Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk
sungai utama yang membawa seluruh air permukaan di
sekitar daerah aliran sungai menuju laut.
 Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang
tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah
permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk
sungai dan berakhir ke laut.
COBA BUAT GRAFIK HUJAN
TAHUNAN SELAMA 6 TAHUN

SUMBER: BMKG STASIUN KENTEN PALEMBANG


CONTOH NERACA AIR GLOBAL
Contoh data hujan bulanan
Tahun
Bulan
1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005
Januari 244 312 304 297 312 361 283 38 473 379 433 262 438 269 163 280
Februari 350 130 81 152 128 251 183 82 434 184 172 114 90 248 110 161
Maret 280 280 238 360 280 279 243 300 306 235 274 119 380 450 247 199
April 375 380 244 376 332 232 387 428 331 295 269 227 300 409 450 238
Mei 289 249 373 289 289 590 213 141 182 360 202 285 311 311 593 291
Juni 350 116 124 326 110 137 286 21 353 202 289 281 429 60 132 266
Juli 223 35 140 31 171 247 160 142 461 181 87 196 45 94 190 257
Agustus 110 28 110 16 20 198 219 12 229 15 258 111 18 8 0 132
September 180 39 297 180 180 194 226 180 240 129 138 313 19 175 15 287
Oktober 362 169 595 362 53 444 492 38 441 604 421 483 105 292 262 306
Nopember 393 448 393 393 639 467 477 385 138 267 326 505 523 556 746 549
Desember 590 544 424 421 370 394 265 481 426 442 274 584 418 401 868 451
Hujan Bulanan
Bulan
No. Tahun
Jan Feb Maret April Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nop Des
1 1990 243,6 350,1 279,5 375,4 288,6 350,4 223,3 110,5 180,3 361,8 393,4 589,9
2 1991 312,46 129,9 279,5 379,6 248,7 115,9 35,0 27,8 38,8 168,8 447,7 543,6
3 1992 304 81,2 238,2 243,5 373,0 123,6 140,4 110,5 297,4 595,2 393,4 424,4
4 1993 297,2 152,2 360,1 376,4 288,6 325,6 30,6 16,1 180,3 361,8 393,4 420,9
5 1994 312,46 127,6 279,5 331,8 288,6 110,3 170,5 19,8 180,3 53,3 638,7 370,2
6 1995 360,6 250,8 279,4 232,1 589,7 137,0 247,1 197,5 194,3 444,4 467,2 394,0
7 1996 283,2 183,1 243,4 387,2 212,7 285,8 159,7 219,0 226,0 491,7 477,0 264,9
8 1997 38,4 81,8 299,6 427,8 141,0 20,7 141,6 12,0 180,3 37,5 385,1 480,7
9 1998 473 434,4 306,0 331,4 181,9 352,8 460,5 229,3 239,7 440,9 137,9 425,7
10 1999 378,8 184,2 235,0 295,2 359,6 202,1 180,6 15,4 128,6 603,6 266,9 441,5
11 2000 433,3 172,4 274,4 268,9 202,2 289,2 86,6 257,5 137,5 421,0 326,4 274,0
12 2001 261,8 113,6 119,4 227,2 284,5 281,1 196,4 111,3 313,4 483,1 504,7 584,2
13 2002 438,2 89,9 379,7 299,7 310,8 429,2 44,8 17,9 18,7 104,6 522,5 417,6
14 2003 268,8 247,9 450,1 409,1 310,8 60,3 94,2 7,9 174,8 291,7 556,2 400,5
15 2004 163,3 110,3 246,5 450,0 592,7 132,1 189,6 0,0 15,4 261,8 746,4 867,5
16 2005 280 161,0 199,0 237,7 290,5 266,1 257,2 132,2 287,3 305,9 549,3 451,2
Shorting Data
Prob. Bulan
No.
(%) Jan Feb Maret April Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nop Des
1 6 473,0 434,4 450,1 450,0 592,7 429,2 460,5 257,5 313,4 603,6 746,4 867,5
2 13 438,2 350,1 379,7 427,8 589,7 352,8 257,2 229,3 297,4 595,2 638,7 589,9
3 19 433,3 250,8 360,1 409,1 373,0 350,4 247,1 219,0 287,3 491,7 556,2 584,2
4 25 378,8 247,9 306,0 387,2 359,6 325,6 223,3 197,5 239,7 483,1 549,3 543,6
5 31 360,6 184,2 299,6 379,6 310,8 289,2 196,4 132,2 226,0 444,4 522,5 480,7
6 38 312,5 183,1 279,5 376,4 310,8 285,8 189,6 111,3 194,3 440,9 504,7 451,2
7 44 312,5 172,4 279,5 375,4 290,5 281,1 180,6 110,5 180,3 421,0 477,0 441,5
8 50 304,0 161,0 279,5 331,8 288,6 266,1 170,5 110,5 180,3 361,8 467,2 425,7
9 56 297,2 152,2 279,4 331,4 288,6 202,1 159,7 27,8 180,3 361,8 447,7 424,4
10 63 283,2 129,9 274,4 299,7 288,6 137,0 141,6 19,8 180,3 305,9 393,4 420,9
11 69 280,0 127,6 246,5 295,2 284,5 132,1 140,4 17,9 174,8 291,7 393,4 417,6
12 75 268,8 113,6 243,4 268,9 248,7 123,6 94,2 16,1 137,5 261,8 393,4 400,5
13 81 261,8 110,3 238,2 243,5 212,7 115,9 86,6 15,4 128,6 168,8 385,1 394,0
14 88 243,6 89,9 235,0 237,7 202,2 110,3 44,8 12,0 38,8 104,6 326,4 370,2
15 94 163,3 81,8 199,0 232,1 181,9 60,3 35,0 7,9 18,7 53,3 266,9 274,0
16 100 38,4 81,2 119,4 227,2 141,0 20,7 30,6 0,0 15,4 37,5 137,9 264,9
Curah Hujan Andalan
Curah Hujan Andalan 90% (mm/bln)
Prob. Bulan
No.
(%) Jan Feb Maret April Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nop Des
1 88 243,6 90 235 238 202 110 44,8 12 38,8 104,6 326,4 370,2
2 90 211,5 86,7 220,6 235,5 194,1 90,3 40,9 10,4 30,8 84,1 302,6 331,7
3 94 163,3 81,8 199 232,1 181,9 60,3 35 7,9 18,7 53,3 266,9 274

Curah Hujan Andalan 80% (mm/bln)


Prob. Bulan
No.
(%) Jan Feb Maret April Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nop Des
1 75 268,8 114 243 269 249 124 94,2 16,1 137,5 261,8 393,36 400,5
2 80 263,2 111,0 239,2 248,6 219,9 117,4 88,1 15,5 130,4 187,4 386,8 395,3
3 81 261,8 110,3 238,2 243,5 212,7 115,9 86,6 15,4 128,6 168,8 385,1 394

Curah Hujan Andalan 50% (mm/bln)


Prob. Bulan
No.
(%) Jan Feb Maret April Mei Juni Juli Agust Sept Okt Nop Des
1 50 304,0 161,0 279,5 331,8 288,6 266,1 170,5 110,5 180,3 361,8 467,2 425,7
MENGHITUNG KEBUTUHAN AIR
TANAMAN (ETc )
 Evapotranspirasi potensial adalah nilai yang menggambarkan
kebutuhan lingkungan, sekumpulan vegetasi, atau kawasan pertanian
untuk melakukan evapotranspirasi yang ditentukan oleh beberapa
faktor, seperti intensitas penyinaran matahari, kecepatan angin, luas
daun, temperatur udara, dan tekanan udara.Hitung Evapotrasnporasi
potensial ETo
 http://www.fao.org/land-water/databases-and-software/eto-
calculator/en/

ETc = kc x ETo
 koefisien tanaman adalah karakteristik dari tanaman yang
digunakan untuk memprediksi nilai evapotranspirasi. Koefisien
tanaman (Kc) dihitung berdasarkan rasio dari evapotranspirasi yang
terukur berdasarkan pengamatan di suatu lahan dengan kondisi
vegetasi seragam dan air melimpah (ET), dengan evapotranspirasi
referensi (ET0)
Tampilan Sofware ETo
Mulai dengan
File Baru
Isi data informasi
stasiun

Isi data waktu


dari kapan
sampai kapan
yang akan
dihitung
Isi jenis data yang tersedia di stasiun kita
Isi data dalam tabel

Otomatis komputer menghitung dan keluar angka ETo


Kebutuhan Air Tanaman
Kebutuhan air tanaman kelapa sawit ditentukan dengan
menggunakan persamaan berikut: ETc = Kc x Etp

Untuk tanaman kelapa sawit, berdasarkan penelitian Harahap dan


Darmosarkoro (1994) dalam Widodo dan Dasanto (2010) nilai crop
coefisien untuk tanaman kelapa sawit berkisar antara 0,82 (untuk LAI
< 2) sampai 0,93 (untuk LAI > 5). Kelapa sawit dengan kelompok
umur > 7 tahun memiliki nilai LAI berkisar antara 4,9 - 5,1.
Umur rata-rata tanaman kelapa sawit yang misal lebih dari 7 tahun.
Oleh karena itu, nilai crop coefisien yang digunakan dalam
perhitungan kebutuhan air tanaman adalah sebesar 0,93. Hasil ETc
tanaman kelapa sawit kemudian di konversi kedalam satuan m3 /s,
yang didapatkan dengan mengalikan ETc dengan data luas area
perkebunan kelapa sawit.
Neraca air bulanan sederhana
ETO Kc ETc Perkolasi Hujan Neraca
` Bulan
(mm/hr) (mm/bln) ETO mm R80 Air
1 Jan 4,649 139,468 0,900 125,521 60,000 263,2 77,679
2 Feb 4,267 128,006 0,900 115,205 60,000 111,0 -64,245
3 Maret 4,267 128,006 0,900 115,205 60,000 239,2 64,035
4 April 4,267 128,006 0,900 115,205 60,000 248,6 73,375
5 Mei 4,267 128,006 0,900 115,205 60,000 219,9 44,695
6 Juni 4,267 128,006 0,900 115,205 60,000 117,4 -57,765
7 Juli 4,267 128,006 0,900 115,205 60,000 88,1 -87,085
8 Agust 4,267 128,006 0,900 115,205 60,000 15,5 -159,665
9 Sept 4,267 128,006 0,900 115,205 60,000 130,4 -44,825
10 Okt 4,267 128,006 0,900 115,205 60,000 187,4 12,195
11 Nop 4,267 128,006 0,900 115,205 60,000 386,8 211,547
12 Des 4,267 128,006 0,900 115,205 60,000 395,3 220,095

Tersedia Program ETo untuk menghitung nilai evapotranspirasi


potensial kunjungi web fao.org/land-water
Neraca Air Bulanan
450,0

Defisit air terjadi mulai


400,0
Juni sd September
350,0

300,0
surplus
surplus
250,0
R80
200,0 ETO

150,0 defisit
100,0

50,0

0,0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
 Tegak lurus saluran sekunder di bangun saluran tersier ( dalam 1,6-2
m, lebar bawah 1,5m dan lebar atas 2,25m)
Secondary
canal
Jalan
Tertiary
canal

Buntu tertiary canal


Pengaruh
Pengendalian Muka air
Kondisi kering ada 120
h dan basah 245 h
Tanggal Pengamatan Agustus 2016 sd Agustus 2017
0,000

7/8/2017

8/17/2017
10/1/2016

11/10/2016

2/22/2017

5/21/2017

6/6/2017

6/30/2017
11/2/2016

1/13/2017

1/29/2017

3/10/2017
9/15/2016

10/17/2016

4/3/2017

5/5/2017
3/26/2017

8/9/2017
8/22/2016

10/9/2016

12/28/2016

1/21/2017

2/6/2017

3/2/2017

4/11/2017

6/14/2017

7/16/2017
5/13/2017

5/29/2017
8/30/2016

11/26/2016
12/4/2016

12/20/2016

1/5/2017

2/14/2017

8/1/2017
9/7/2016

6/22/2017

7/24/2017
9/23/2016

10/25/2016

11/18/2016

12/12/2016

3/18/2017

4/19/2017
4/27/2017
-0,100

-0,200 1 5 913172125293337414549535761656973778185899397101
105
109
113117121
125129
133
137
141
145
149
153
157
161
165
169
173
177
181
185
189
193
197
201
205
209
213
217
221
225
229
233
237
241
245
249
253
257
261
265
269
273
277
281
285
289
293
297
301
305
309
313
317321
325
329
333
337
341
345
349
353
357
361
Kedalaman air tanah (m)

-0,300
Kelapa Sawit D41

-0,400

-0,500

-0,600

-0,700

-0,800 Full retensi Kasus


CV Gunung
Kencana
Proses Pengisian Contoh Kasus Perkebunan Sawit di
Lahan Gambut OKI
20 Tanggal Pengamatan September-Oktober 2016 Dalam kasus ini
10
hujan mulai
0
turun di bulan
-10
Ketinggian air (cm)

September.
-20
Tanggal 1
-30
september air
-40
tana -68 cm,
-50
tercapai air tanah
-60 Hujan
dibawah 40 cm
-70
Air Tanah pada tanggal 17
-80
Oktober. Input
hujan pada lahan
sebesar 311 mm.
Pada tanggal 18 Juni Air tanah sudah turun dibawah 40 Imanudin et al.,
cm, sehinga periode kritis terhadap kebakaran dimulai (2017)
tanggal 18 Juni sd 17 Oktober. (empat bulan)
Analisis kelebihan air dalam Zona 40 cm
(Surplus Excess Water 40 cm/SEW-40)

 Lever air tanah 40 cm sesuai dengan Peraturan Pemerintah


Indonesia Nomor 71 tahun 2014 tentang perlindungan dan
pengelolaan ekosistem gambut dimana upaya pengelolaan
air harus menciptakan kondisi air tanah tidak melebihi
Di lapangan terbukti bila muka air tanah berada
angka 40 cm. 40 cm dibahwa permukaan tanah maka Gambut
bagian atas cukup lembab untuk mencegah
terjadi kebakaran. Bagian atas lahan ada bimasa.
Penelitian ini bisa mendukung keputusan
pemerintah, yang selama ini menuai kontroversi
di berbagai pihak
Air tanah pada musim hujan melalui penutupan
kanal (Canal blocking) mampu di jaga melebihi
angka 40 cm
Hubungan Muka Air Tanah
dengan Kadar Air
 Syaufina aet al.,
(2004) kadar air
kritis mudah
terbakar untuk
gambut adalah 115%.
 Jadi jelas
berdasarkan
penelitian Junaedi
(2016) pada
kedalaman air anah
70 cm, gambut
mudah terbakar

Sumber: Junaedi, 2016


RANCANGAN MODEL OPERASI Air Harus penuh di
saluran sekunder,
-10 sampai menjelang
-20
-30 -40 CM musim kemarau
(Mei-Juni). Bila 1 cm
60 CM
Muka air tanah turun setiap harinya
maka untuk turun 30
cm hanya dalam waktu
Zona Aman 1 bulan. Praktis di
bulan Agustus muka air
turun 50 cm. Pada saat
-10
-20 mencapai angka ini
-30 sistem sudah dalam
-40 -50 CM
-50 kategori bahaya
-60
kebakaran muncul.
Muka air tanah
Maka usaha penutupan
kanal harus dimulai
sejak bulam Mei
Zona Tidak Aman