Anda di halaman 1dari 11

Manajemen pengendalian mastitis Mastitis merupakan penyakit ekonomi bagi masyarakat peternak.

Mastitis bisa menurunkan tingkat kuantitas dan kualitas produksi, terutama sapi perah. Susu dari sapi perah yang menderita mastitis tidak layak untuk dikonsumsi sehingga susu harus dibuang sia-sia. Perubahan fisik air susu akibat mastitis meliputi warna, bau, rasa dan konsistensi. Warna yang biasanya putih kekuningan akan berubah menjadi putih pucat atau agak kebiruan. Rasa yang agak manis berubah menjadi getir atau agak asin. Bau yang harum berubah menjadi asam. Konsistensi yang biasanya cair dengan emulsi yang merata akan berubah menjadi pecah, lebih cair, dan kadang disertai jonjot atau endapan fibrin dan gumpalan protein yang lain. Perubahan secara kimiawi meliputi penurunan jumlah kasein, sehingga apabila dibuat keju kualitasnya menurun. Protein total air susu juga menurun dengan meningkatnya jumlah albumin dan globulin dan terjadi penurunan gula susu dan laktosa sehingga nilai kalori yang dikandungnya menurun (Jasper, 1980). Mastitis secara tidak langsung juga bisa

menyebabkan penurunan produksi susu. Hal ini sangat merugikan peternak sapi perah.

Mastitis adalah penyakit radang ambing yang merupakan radang infeksi. Biasanya penyakit ini berlangsung secara akut, sub akut maupun kronis. Mastitis ditandai dengan peningkatan jumlah sel di dalam air susu, perubahan fisik maupun susunan air susu dan disertai atau tanpa disertai perubahan patologis atau kelenjarnya sendiri (Subronto, 2003). Menurut faktor penyebabnya, mastitis dapat disebabkan oleh bakteri Streptococcus agalactiae,

Str.dysgalactiae, Str.uberis, Str. zooepidemicus, dan Staphylococcus aureus, serta berbagai spesies lain yang juga bisa menyebabkan terjadinya mastitis walaupun dalam persentase kecil. Kejadian mastitis di Indonesia tergolong banyak, terutama bagi peternak kecil yang kurang memperhatikan kondisi kandang dan juga tingkat kebersihannya. Penyebaran penyakit mastitis dapat melalui pemerahan yang tidak mengindahkan kebersihan, alat pemerahan, kain pembersih puting, dan pencemaran dari lingkungan kandang yang kotor (Mellenberger,

1997). Sering sekali dijumpai sapi-sapi yang menderita mastitis. Salah satu penyebabnya

adalah manajemen yang kurang baik dari para peternak. Sehingga sapi sapi mereka rentan terkena mastitis. Oleh karena hal tersebut, maka diperlukan sekali untuk mengetahui bagaimana cara penanganan mastitis dan pengenalan manajemen di kalangan para peternak. Sehingga dapat untuk menekan atau bahkan menghilangkan jumlah sapi yang terkena mastitis. Dan juga untuk meningkatkan produktifitas dari sapi itu sendiri. Terapi Dilihat dari faktor penyebabnya yaitu bakteri, memang penggunaan antibiotik sangatlah tepat untuk pengobatan penyakit ini, terutama penicillin (Benzyl penicillin G, procain penicillin-G, ampicilin), cephalosporin, erythromycin, neomycin, novobiosin, oksitetrasiklin, dan streptomycin. Terapi antibakterial untuk mastitis berdasarkan causa dari penyakit itu sendiri, namun terapi seperti ini memakan waktu yang lama. Sebagai tambahan, kebanyakan dari terapi antibakterial yang sekarang digunakan untuk mastitis klinis di Amerika belum disetujui oleh FDA (Federal Drug Administration). Glukokortikoid dapat membantu pada kasus mastitis yang disebabkan oleh koliform yang memproduksi endotoksin. Obat ini diberikan pada awal penyakit agar efeknya maksimal. Administrasi dexamethasone (30mg IM) pada sapi laktasi segera setelah terpapar oleh E. Coli ke dalam ambing telah terbukti mengurangi pembengkakkan dan menginhibit motilitas rumen. Isoflupredone (10-20mg IM) juga telah dilaporkan dapat mengurangi pembengkakkan pada ambing. Sebagai general guideline, terapi glukokortikoid lebih baik digunakan pada kasus gram -negatif mastitis yang parah, dengan dosis tunggal diberikan pada awal penyakit. Oksitetrasiklin dengan dosis 11mg/kgBB secara IV dua kali sehari meningkatkan persembuhan sapi yang terkena clinical coliform mastitis bila dibandingkan dengan sapi yang tidak diberi antibakterial sistemik. Ceftiofus sodium dengan dosis 2,2 mg/kgBB secara IM dua kali sehari mengurangi mortalitas dan angka pengafkiran sapi dengan coliform mastitis yang parah. Namun obat ini tidak terdistribusi dengan baik pada ambing melainkan mengobati septikemi (jika terjadi) di dalam tubuh sapi. Namun pada beberapa kasus seperti mastitis yang disebabkan oleh Nocrdia asteroides, tidak ada pengobatan yang efisien sehingga sebaiknya sapi dipotong (Erskine 2007). Biasanya pengobatan mastitis dilakukan dengan antibiotika secara intra mammae, tetapi karena kontrol terhadap pemakaian antibiotika ini sulit dilakukan dan juga sesuai

dengan keamanan konsumen terhadap produk susu maka pemakaian antibiotik dihindarkan. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah dengan menggunankan bahan alami yang berasal dari tanaman yaitu Receptalum Bunga Matahari (BUMATA) dan bahan alami yang berasal dari ternak yaitu BIOPLUS. Sesuai dengan bahan yang dikandungnya, bahan -bahan ini diharapkan dapat meningkatkan kesehatan ternak sehingga daya tahan tubuh meningkat, karena mastitis dapat diatasi dengan meningkatkan sistem pertahanan tubuhnya (Nurdin, 2004). BUMATA mengandung senyawa antiinflamasi yang diharapkan dapat membantu mengatasi radang yang menyertai mastitis dan antioksidan yang diharapkan dapat meningkatkan daya tahan tubuh (Nurdin, 2004), sedangkan BIOPLUS mengandung bakteri apatogen yang diharapkan dapat bekerjasama dengan bakteri rumen untuk menekan bakteri patogen sehingga kesehatan dan daya tahan tubuh ternak lebih baik (Mihrani, 2006). Penemuan terbaru yang dilakukan beberapa mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, menyebutkan bahwa penggunaan Virgin Coconut Oil (VCO) dapat menghambat pertumbuhan bakteri. VCO ini, yang diujikan pada mencit, terbukti dapat menghasilkan pembentukan asam laurat yang tinggi dalam tubuh yang dapat membunuh bakteri. Dalam pengujiannya, penggunaan VCO ini bisa mematikan bakteri patogen dalam mencit dalam waktu satu hari, sedangkan pada pemberian antibiotik, bakteri mati dalam 4 hari. Pengendalian Selama ini penanganan mastitis dilakukan dengan pemakaian antibiotika. Seperti kita ketahui pemakaian antibiotika yang tidak tepat akan menimbulkan masalah baru yaitu adanya residu antibiotika dalam susu, alergi, resistensi serta mempengaruhi proses pengolahan hasil susu. Dari hasil penelitian Sudarwanto et al. (1992), 32,52% susu pasteurisasi dan 31,10% susu segar di wilayah Jakarta, Bogor dan Bandung mengandung residu antibiotika dalam jumlah yang cukup tinggi. Selain itu mastitis subklinis yang disebabkan oleh bakteri Gram positif semakin sulit ditangani dengan antibiotika karena bakteri ini sudah banyak yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotika (Wibawan et al., 1998; Wahyuni et al., 2001). Berdasarkan uji sensitifitas terhadap berbagai antibiotika diketahui bahwa sebagian besar S. aureus telah resisten terhadap oksasilin (87,5%) dan eritromisin (71,97%), dan ada beberapa isolat yang juga telah resisten terhadap tetrasiklin (37,46%), ampisilin (25%), dan gentamisin (21,87%). Sebagian isolat juga bersifat intermediet terhadap gentamisin (78,13%),

tetrasiklin (59,38%) dan eritromisin (15,57%). Sifat intermediet terhadap beberapa abtibiotika ini mengindikasikan bisa berubah menjadi resisten. Melihat sifat resistensi terhadap berbagai antibiotika ini menunjukkan bahwa pengobatan mastitis dengan berbagai macam antibiotika tidak efektif lagi, sehingga perlu dilakukan alternatif penanganan untuk mengatasi problem mastitis pada peternakan di wilayah Jawa Tengah (Salasia, et al, 2005). Staphylococcus aureus merupakan salah satu penyebab utama mastitis pada sapi perah yang menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar akibat turunnya produksi susu (Isrina et al). Karakterisasi S. aureus meliputi uji clumping factor, uji koagulase, produksi hemolisin, produksi pigmen dan uji kepekaan S. aureus terhadap beberapa antibiotika. Dalam penelitian ini berhasil diisolasi dan diidentifikasi sebanyak 32 isolat S. aureus. Semua isolat positif pada uji clumping factor dan koagulase. Alfa-hemolisis dapat diamati pada 1 isolat, 7 isolat mempunyai sifat dan -hemolitik, 11 isolat - hemolitik dan 13 isolat bersifat non-

hemolitik. Berdasar produksi pigmen, 8 isolat menghasilkan pigmen berwarna oranye, 10 isolat pigmen kuning dan 8 isolat menghasilkan pigmen putih. Hasil uji resistensi antibiotik terlihat bahwa 24 isolat (75%) sensitif dan 8 isolat (25%) resisten terhadap ampisilin. Uji terhadap eritromisin diketahui 4 isolat (12,5%) sensitif, 5 isolat (15,57%) intermediet dan 23 isolat (71,97%) bersifat resisten. Sebanyak 25 isolat (78,13%) diketahui bersifat intermediet dan 7 (21,87%) resisten terhadap gentamisin. Sebanyak 4 isolat S. aureus (712,5%) bersifat sensitif dan 28 isolat (87,5%) resisten terhadap oksasilin. Terhadap tetrasiklin memperlihatkan sifat intermediet pada 19 isolat (59,38%), 12 isolat (37,46%) bersifat resisten dan hanya 1 isolat (3,16%) bersifat sensitif. Untuk menghindari hal tersebut maka perlu diupayakan strategi baru untuk mengatasi mastitis Untuk pencegahan suatu penyakit perlu dipahami proses atau mekanisme infeksi dari penyakitnya. Pengendalian Mastitis Subklinis (Pencegahan dan pengobatan Mastitis) Kasus mastitis pada sapi perah sangat tinggi terutama kasus mastitis subklinis (MSK). Pada MSK perlu dilakukan pemeriksaan khusus terhadap susu karena kejadian mastitis subklinis ini banyak tidak diketahui oleh para peternak. Hampir suatu kemutlakan bahwa dalam pengobatan radang ambing selalu memerlukan obat-obatan antimikrobial terutama antibiotika. Pemakaian antibiotika untuk pengobatan mastitis dapat mengakibatkan terjadinya residu antibiotika pada susu yang berakibat langsung timbulnya alergi pada konsumen dan

terjadinya resistensi kuman. Merupakan kenyataan didalam praktek bahwa kontrol terhadap pelarangan penjualan air susu yang mengandung residu antibiotika sulit sekali dilakukan. Kemungkinan adanya residu antibiotika dalam susu sangat besar, mengingat antibiotika akan tetap berada dalam susu sampai dengan hari kelima setelah pengobatan terakhir. Kenyataannya peternak sapi perah biasanya sudah menjual susu dalam waktu 48 jam setelah pengobatan terakhir kepada Koperasi Unit Desa (KUD), Industri Pengolahan Susu (IPS) (Franes 2009). Antibiotika tahan terhadap pemanasan di bawah titik didih susu. Jadi bila dikonsumsi dalam bentuk pasteurisasi maka antibiotic tersebut masih berada di dalam susu (Soebronto, 1985). Penggunaan produk alami pada pangan menjadi salah satu tuntutan konsumen pada saat ini. Perlu kiranya dilakukan seleksi dan karakterisasi senyawa-senyawa antimikroba alami yang berasal dari bahan-bahan yang umum digunakan. Penggunaan antimikroba alami perlu ditingkatkan untuk menggantikan bahan sintesis pada produk pangan. Begitupun pengobatan terhadap mastitis diperlukan obat alternatif alami sebagai pengganti antibiotika, salah satu pilihan obat alami diantaranya adalah daun sirih merah. Sirih sudah dikenal sejak lama di Indonesia, namun penelitian mengenai budidaya, pasca panen, maupun pemanfaatannya belum banyak dilakukan (Darwis, 1991). Selama ini penanganan mastitis dilakukan dengan pemakaian antibiotika. Seperti kita ketahui pemakaian antibiotika yang tidak tepat akan menimbulkan masalah baru yaitu adanya residu antibiotika dalam susu, alergi, resistensi serta mempengaruhi proses pengolahan hasil susu. Dari hasil penelitian Sudarwanto et al. (1992), 32,52% susu pasteurisasi dan 31,10% susu segar di wilayah Jakarta, Bogor dan Bandung mengandung residu antibiotika dalam jumlah yang cukup tinggi. Selain itu mastitis subklinis yang disebabkan oleh bakteri Gram positif semakin sulit ditangani dengan antibiotika karena bakteri ini sudah banyak yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotika. Untuk menghindari hal tersebut maka perlu diupayakan strategi baru untuk mengatasi mastitis (Wahyuni et al., 2005). Kebanyakan dari peternak akan memberikan antibiotic terhadap sapi yang terserang mastitis. Namun dengan dosis yang tidak tepat akan menyebabkan resisten pada bakteri penyebab mastitis tersebut. Dan jika dilakukan berlebihan maka yang terjadi adalah adanya residu pada susu yang dihasilkan. Bermunculan LSM pembela hak konsumen, maka berhembuslah kabar bahwa penggunaan antibiotik harus dikurangi atau bahkan ditinggalkan dengan alasan berbahaya jika sampai meninggalkan residu pada produk akhir berupa susu sapi konsumsi. Indonesia adalah negeri yang sangat subur, disini tumbuh berbagai jenis

tanaman yang tentunya bisa dimanfaatkan sebagai obat, salah satunya adalah sirih merah. sirih merah mengandung banyak senyawa yang memiliki sifat sebagai antiseptic. Hampir semua bagian tanaman sirih dapat digunakan sebagai obat, tetapi yang paling banyak digunakan adalah daunnya. Pemakaian sirih sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit sudah meluas namun masih bersifat tradisional. Menurut Soedibyo (1991) daun sirih banyak digunakan untuk pengobatan beberapa penyakit maupun perawatan kecantikan. Daun sirih digunakan sebagai obat kumur, sariawan, asma, batuk, encok, hidung berdarah, kepala pusing, radang selaput lendir mata, batuk kering, mulut berbau dan radang tenggorokan. Daun sirih merupakan salah satu sekian jenis tumbuhan yang memiliki aktivitas antibakteri paling tinggi (Soewondo et al., 1991) Sifat yang dimiliki sirih merah tersebutlah yang melandasi pemikiran tentang manfaat lain dari sirih merah untuk dunia kesehatan hewan. Salah satunya dapat digunakan sebagai pencegah atau bahkan mengobati mastitis subklinis pada sapi perah. Dengan segala kelebihan sirih merah maka bukan tidak mungkin akan menggantikan penggunaan antibiotic dipasaran (Franes, 2009). Hasil penelitian uji in vitro dengan metode difusi kertas cakram pada 4 konsentrasi ekstrak yang berbeda yaitu: 50; 25; 12,5 dan 6,25% menggunakan bakteri yang diisolasi dari susu sapi penderita mastitis subklinis yaitu Streptococcus agalactiae, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis, ekstrak daun sirih diuji efektivitasnya sebagai antibakteri terhadap mastitis subklinis menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih mempunyai efektivitas sebagai antibakteri terhadap ketiga bakteri uji tersebut. Efektivitas ekstrak daun sirih secara in vivo dilakukan dengan cara pencelupan/dipping puting dari ambing sapi penderita mastitis subklinis. Parameter yang diamati berupa jumlah total mikroba dalam susu sebelum dan setelah perlakuan. Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih efektif menurunkan jumlah kuman dalam susu sapi penderita mastitis subklinis. Berdasarkan penelitian itu, diharapkan peternak mampu mengadopsi dari inovasi yang diberikan. Sangat besar har apan supaya peternak mampu melakukan pencegahan sejak dini dengan cara melakukan pencelupan ambing sebelum dan sesudah pemerahan dengan ekstrak sirih merah. Sehingga susu yang dihasilkan memiliki jumlah bakteri yang rendah, terhindar dari penyakit mastitis subklinis dan apabila sudah terjangkit mastitis maka pencelupan juga bisa sebagai pengobatan alternative (Franes, 2009). Pada penelitian poeloengan et, al (2005) membuat ekstrak sirih merah menggunakan bahan kimia yang tidak bisa didapat oleh peternak rak yat. Sehingga untuk peternak rakyat, cukup membuat ekstrak sirih merah dengan cara merebus 100 gram sirih merah giling (serbuk kering) dengan 2 liter air bersih dan direbus sampai

mendidih. Setelah mendidih masih dibiarkan sampai 5 menit. Setelah itu dibarkan sampai hangat kuku (350c). setelah itu ekstrak sirih merah bisa digunakan untuk

pencelupan/dipping puting dari ambing sapi penderita mastitis subklinis. Sedangkan pada penelitian Poeloengan et al (2005) pembuatan ekstrak daun sirih di dapat dari daun sirih yang telah dikeringkan dan dibuat serbuk, diekstraksi secara maserasi dengan menggunakan etanol dan metanol. Sebanyak 100 g simplisia dimaserasi dalam 1000 ml etanol dan metanol pro analisis (99,8%) dan didiamkan selama 24 jam. Filtrat yang diperoleh disaring dan kemudian dipekatkan dengan rotavapor hingga diperoleh ekstrak kental. Uji daya antibakteri ekstrak daun sirih terhadap beberapa bakteri penyebab mastitis secara in vitro Ekstrak pekat daun sirih diencerkan dengan NaCl fisiologis steril hingga diperoleh konsentrasi ekstrak 50; 25; 12,5 dan 6,25%. Ekstrak daun sirih diuji daya hambatnya terhadap bakteri penyebab mastitis dengan metode cakram. Kertas cakram direndam dalam ekstrak daun sirih pada berbagai konsentrasi kemudian diletakkan diatas permukaan media agar Mueller Hinton yang telah diinokulasi dengan bakteri uji dan diinkubasikan selama 24 jam pada temperatur 37C. Diameter daerah hambat bakteri yang terbentuk di sekitar kertas cakram diukur dengan mistar. Berdasarkan pengukuran maka daun sirih pada semua konsentrasi mempunyai daya antibakteri terhadap Streptococcus agalactiae, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Diameter daerah hambat pertumbuhan bakteri yang terbentuk dari ekstrak metanol daun sirih terlihat lebih luas dibandingkan dengan ekstrak etanol daun sirih. Pengujian efektivitas ekstrak daun sirih pada sapi perah penderita mastitis subklinis secara in vivo dilakukan dengan cara melakukan dipping puting sapi ke dalam ekstrak daun sirih. Untuk dipping diperlukan 6 ekor sapi konsentrasi ekstrak yang dipakai (2 ekor/konsentrasi ekstrak). Dipping dilakukan setiap kali sehabis pemerahan dan parameter yang diamati adalah jumlah bakteri dalam susu sebelum dan setelah dipping yaitu hari ke-0, 7, 14 dan 21. Sebagai pembanding digunakan antiseptik Biocide. Ekstrak daun sirih pada konsentrasi 12,5%, 25% dan 50% yang digunakan untuk perlakuan pencelupan puting sapi penderita mastitis dapat menurunkan jumlah bakteri yang terkandung dalam susu. Jika dibandingkan dengan perlakuan pencelupan puting dengan antiseptik, ekstrak daun sirih mempunyai kemampuan yang setara untuk menurunkan jumlah bakteri susu sampai pada pengamatan minggu ke-4.

Pada konsentrasi ekstrak daun sirih 12,5% dan 25%, penurunan jumlah bakteri susu terjadi

pada pengamatan minggu ke-2 kemudian jumlah bakteri mengalami kenaikan pada minggu ke-3 dan kemudian mengalami penurunan kembali pada minggu ke-4. Kenaikan jumlah bakteri pada minggu ke-3 kemungkinan karena adanya pelepasan sel-sel epitel dan adanya masa sitoplasmik akibat pengaruh proses sekresi sel-sel somatis. Sel radang dalam ambing merupakan respon terhadap infeksi dan usaha memperbaiki jaringan yang rusak. Jumlah bakteri pada pengamatan terakhir (minggu ke-4) nilainya masih dibawah 10.000 cfu/ml sehingga susu dapat dinyatakan dalam kondisi masih segar (Dwidjoseputro, 1998). Menurut Aritonang (2003), apabila jumlah mikroba susu lebih dari 200.000 cfu/ml menunjukkan kondisi ambing abnormal dan apabila melebihi standar tersebut dapat dinyatakan sapi menderita mastitis. Perlakuan ekstrak daun sirih pada konsentrasi 50% menunjukkan penurunan rataan jumlah bakteri susu pada ke-2 sampai dengan minggu ke-4 pengamatan. Besarnya konsentrasi ekstrak daun sirih yang digunakan maka semakin besar pula zat aktif yang terkandung didalamnya (Komala, 2003) sehingga mampu menutup lubang puting sesaat setelah dicelupkan. Menurut Aritonang (2003), salah satu usaha untuk meminimalkan jumlah bakteri pathogen penyebab mastitis bisa dilakukan dengan pencelupan puting dengan desinfektan sebelum dan setelah pemerahan. Oleh karena itu dapat diduga bahwa ekstrak daun sirih yang digunakan pada penelitian Poeloengan et al (2005) ini dapat berfungsi sebagai desinfektan. Hal ini didukung dengan hasil perlakuan dengan desinfektan sebagai kontrol yang sama-sama dapat menurunkan jumlah bakteri susu. Keuntungan melakukan pencelupan puting setelah pemerahan adalah mikroba tidak dapat masuk ke dalam putting walaupun lubang puting masih terbuka (Sudarwanto, 1999). Dengan melakukan pencelupan puting dengan larutan ekstrak daun sirih pekat beberapa detik setelah pemerahan akan melapisi dinding puting dan menutup lubang puting karena ekstrak yang pekat akan mudah menempel pada lubang puting. Pengendalian yang sering dilakukan peternak Jawa Timur terhadap mastitis adalah dengan mencuci tangan sebelum memerah dengan larutan desinfektan, melakukan pemerahan dengan baik dan benar tanpa bahan pelicin dengan pemerahan sampai kosong, sapi yang menderita mastitis diperah terakhir dan harus dikeluarkan dari kandang bila tidak sembuh dengan pengobatan. melakukan pencegahan dengan pemberian antibiotika selama masa kering kandang, melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap kejadian mastitis, mengukur produksi sapi per ekor per hari secara teratur dan melakukan pencelupan atau dipping putting ke dalam larutan desinfektan setelah selesai pemerahan (Arimbi, 2005).

Pemahaman tentang epidemiologi dari Staphylococcus aureus yang meliputi sumber penularan, alur penularan dan faktor resiko menghasilkan sistem pengendalian mastitis yang baik dengan agen penyakit Staphylococcus aureus di beberapa peternakan. Hal penting dari pengendalian Staphylococcus aureus adalah menyadari bahwa bakteri ini ditularkan dari sapi ke sapi selama proses pemerahan. Langkah higienis selama waktu pe merahan menurunkan perpindahan bakteri dari sapi ke sapi yang berdampak penurunan intramammary infection (IMI) yang baru. Tetapi hanya dengan sistem higienis pemerahan saja tidak cukup baik untuk pengendalian penyakit ini . Dengan tambahan pengobatan pada waktu kering dan khususnya pengafkiran bagi yang terinfeksi kronis diperlukan untuk menurunkan IMI oleh Staphylococcus aureus. Pengetahuan yang detail tentang bakteri Staphylococcus aureus akan memperoleh gambaran bahwa pemberantasan pada saat ini masih belum memungkinkan, khususnya adanya Staphylococcus aureus yang memproduksi beberapa faktor virulensi. Jadi investigasi dalam tingkat biologi molekuler harus dilakukan untuk pemecahan masalah mastitis. Pada penelitian ini digunakan 98 sampel sapi perah yang diambil susunya untuk diperiksa angka prevalensi mastitis pada Peternakan Nongkojajar. Dari sampel susu mastitis dilakukan identifikasi bakteri Staphylococcus aureus yang meliputi bentuk mikroskopis kokus bergerombol, sifat hemolisis tipe b, katalase (+), koagulase (+) dan Gram (+). Karakterisasi biologi molekuler Staphylococcus aureus dengan mempergunakan pendekatan gen penyandi protein A dengan metode PCR, ekspresi gen protein A dengan metode SDSPAGE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data prevalensi mastitis sapi perah dari peternakan sapi perah Nongkojajar dengan angka prevalensi 82,7%. Dengan pendekatan genotipik memakai bobot molekul gel penyandi protein A didapatkan gen penyandi dengan BM 110 bp. Hasil ekspresi dari gen penyandi protein A ditemukan dengan BM 55 kD. Program Kontrol Mastitis Subklinis Daun sambiloto dapat disaran sebagai bahan dipping untuk kontrol mastitis pada sapi perah sehingga dapat menekan kerugian ekonomis akibat mastitis (Arimbi, 2005). Daun sambiloto merupakan tanaman yang mempunyai kasiat anti radang dan antiinfeksi terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan E. Coli. Zat yang terkandung dalam sambiloto berupa Andrographis paniculata efektif sebagai antiinflamatori dan antiinfeksi. Bahkan enterotoksin yang diproduksi Staphylococcus aureus pada mencit jantan dapat direduksi oleh zat ini (Arimbi, 2005).

Pada penelitian ini akan diselidiki tentang aplikasi daun sambiloto terhadap kasus mastitis subklinis yang disebabkan Staphylococcus aureus dan E. Coli untuk program kontrol mastitis pada sapi perah di daerah Sidoarjo (Arimbi, 2005). Screning terhadap sapi penderita mastitis subklinis, identifikasi untuk memperoleh Staphylococcus aureus dan E. Coli yang selanjutnya dilakukan dipping 3 menit selama 1 minggu pada putting penderita dengan larutan daun sambiloto. Ambing yang telah dilakukan dipping dengan larutan daun sambiloto diperiksa lagi kandungan Staphylococcus aureus dan E. Coli untuk mengetahui efektifitas daun sambiloto (Arimbi, 2005). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana efektifitas daun sambiloto sebagai bahan aktif dipping putting dalam program kontrol mastitis pada sapi perah terutama yang disebabkan Staphylococcus aureus dan E. Coli serta melihat efek dari daun sambiloto dalam mengontrol kasus mastitis pada sapi perah yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan E. Coli. Populasi target adalah sapi perah yang menderita mastitis Sidoarjo. Sampel yang digunakan adalah 16 ekor sapi. Teknik pengambilan sampel susu merupakan susu yang diambil dari puting penderita mastitis dan telah didipping dengan larutan daun sambiloto. Parameter yang diamati adalah penurunan jumlah Staphylococcus aureus dan E. Coli (Arimbi, 2005). Hasil penelitian Arimbi (2005), menunjukkan daun sambiloto efektif digunakan sebagai bahan aktif dipping dalam program kontrol mastitis yang disebabkan Staphylococcus aureus dan E. Coli pada sapi perah. Persentase penurunan jumlah Staphylococcus aureus setelah dilakukan dipping puting 3 menit selama 1 minggu adalah 68,03% sedangkan persentase penurunan jumlah E. Coli setelah dilakukan dipping puting 3 menit selama 1 minggu adalah 54,67%. Penurunan jumlah bakteri Staphylococcus aureus dan E. Coli ini karena larutan ekstrak sambiloto dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan E. Coli.

Daftar pustaka http://www.vet-indo.com/Kasus-Medis/Bagaimana-Pengobatan-Mastitis-yang-Efektif.html http://peternakan.unpad.ac.id/?p=4041

http://yudhiestar.blogspot.com/2010/05/kejadian-mastitis-subklinis-pada-sapi.html http://www.facebook.com/pages/Forum-Peternak-Sapi-IndonesiaFPSI/10150113896875721?v=app_2347471856 http://i-lib.ugm.ac.id/jurnal/download.php?dataId=10005 http://yudhiestar.blogspot.com/2009/10/mastitis.html