Anda di halaman 1dari 32

1

BAB I PENDAHULUAN

Obat merupakan unsur yang sangat penting dalam upaya penyelenggaraan kesehatan. Sebagian besar penanganan medik

menggunakan obat, oleh karena itu obat tersedia pada saat diperlukan dalam jenis dan jumlah yang cukup, berkhasiat nyata dan berkualitas baik. Obat didefinisikan sebagai semua zat baik kimiawi, hewani, maupun nabati yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan, atau mencegah penyakit berikut gejalanya. (1, 2) Antibiotika (L. anti = lawan, bios = hidup) adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Antibiotik termasuk obat berkhasiat keras yang digolongkan ke dalam Daftar Obat Keras (Daftar G) yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Antibiotik yang beredar di pasaran bermacam macam, baik bentuk sediaannya maupun kandungan zat aktifnya.(2, 3) Antibiotik yang beredar di pasaran, antara lain adalah

siprofloksasin. Siprofloksasin merupakan antibiotik derivat siklopropil dari kelompok fluorokuinolon. Siprofloksasin yang beredar di pasaran antara lain tersedia dalam bentuk tablet, kapsul dan infus. Tablet siprofloksasin dipasarkan dalam bentuk sediaan tablet generik dan sediaan tabl et paten, dengan harga jual yang berbeda, dimana tablet paten memiliki harga yang lebih mahal dari harga tablet generik. (4, 5, 6)

Produk generik memiliki harga yang lebih murah karena penetapan harga obat generik sepenuhnya ditentukan oleh pemerintah sela in itu, pembuatan obat generik tidak perlu menanggung biaya yang tinggi karena produk tersebut dikemas secara sederhana dan tidak memerlukan usaha promosi. Sedangkan untuk produk obat paten memerlukan biaya operasional yang tinggi, mulai dari biaya kemasan hingga biaya promosi. (7) Perbedaan harga yang cukup besar, membuat konsumen

beranggapan bahwa obat generik mempunyai mutu lebih rendah daripada produk paten. Padahal, baik tablet generik maupun paten, memiliki zat berkhasiat yang sama dan telah melalui berbagai uji untuk memenuhi persyaratan mutu, seperti uji BA (bio -availabilitas) dan uji BE (bio ekivalensi). Produk obat generik seharusnya mempunyai bioekivalensi yang sama dengan produk paten sehingga akan menimbulkan efek klinik yang sama pula. Bioekivalensi dimana suatu produk atau obat, ditinjau dari hayati

bioavailabilitasnya,

bioavaibilitas

ketersediaan

berkaitan dengan kecepatan disolusi suatu obat. Disolusi merupakan proses melarutnya senyawa obat dalam medium tertentu. Semakin cepat suatu obat te rdisolusi, maka akan semakin cepat dan semakin tinggi persentasi ketersediaan obat dalam sirkulasi sistemik, sehingga akan menimbulkan efek yang lebih cepat.

Oleh karena itu, laju disolusi dapat berhubungan langsung dengan efikasi (kemanjuran) dan mutu suatu produk obat. Berdasarkan uraian di atas telah dilakukan penelitian uji disolusi tablet siprofloksasin generik dan paten yang beredar di Makassar yang bertujuan untuk melihat mutu tablet siprofloksasin generik dengan tablet siprofloksasin paten berdasarkan parameter kecepatan disolusi. Adapun permasalahannya adalah apakah tablet siprofloksasin generik dan paten memiliki perbedaan kecepatan disolusi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1

Tablet

Tablet adalah sediaan kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan yaitu zat pengisi, zat pengembang, zat pelicin, zat pengikat, zat pembasah atau zat lain yang cocok. Cara pembuatan tablet dibagi menjadi 3 cara, yaitu granulasi basah, granulasi kering dan kempa langsung. Tablet dibuat terutama dengan cara kempa, menggunakan mesin yang mampu menekan bahan bentuk serbuk atau granul dengan menggunakan berbagai bentuk dan ukuran punch dan die, sehingga diperoleh bentuk dan ukuran tablet yang berbeda. (8) Tujuan desain dan pabrikasi tablet kempa adalah untuk

memberikan obat melalui mulut dalam bent uk yang memadai, dalam jumlah yang tepat pada atau melalui waktu yang tepat, di tempat yang diinginkan yang juga mempunyai integritas kimia yang dilindungi. Disamping sifat kimia dan fisika dari obat yang akan diformulasi, desain fisik yang sebenarnya, proses pabrikasi, serta uji kimia lengkap atas tablet dapat memberikan efek yang berarti pada kemanjuran dari obat yang akan diberikan. Kriteria dari sediaan tablet adalah :

1. Tablet harus merupakan produk menarik (bagus dilihat) yang mempunyai identitasnya sendiri serta bebas dari serpihan, keretakan, pelunturan/pemucatan, kontaminasi, dan lain -lain. 2. Tablet harus sanggup menahan guncangan mekanik selama produksi dan pengepakan. 3. Tablet harus mempunyai kestabilan kimia dan fisika untuk

mempertahankan kelengkapan fisiknya sepanjang waktu. Beberapa sifat fisik tablet dapat mengalami perubahan karena pengaruh lingkungan dan stres, serta bahwa stabilitas fisika itu dalam beberapa keadaan dapat saja lebih mempengaruhi bioavailabilitas daripada stabilitas kimia. Sebuah tablet yang kuat secara fisik dapat saja tidak memberikan efek yang diharapkan. Untuk mengevaluasi kemanjuran suatu tablet, jumlah obat dalam tablet harus dipantau pada setiap tablet atau batch, begitu juga kemampuan tablet untuk melepaskan zat atau obat yang dibutuhkan harus dipastikan/diketahui. (9)
II.2 Obat Generik dan Obat Paten

Obat generik adalah obat dengan nama resmi International Non Propietary Names (INN) yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. (10) Obat paten adalah obat yang masih memiliki hak paten atau obat yang baru ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa paten yang tergantung dari jenis obatnya. Menurut UU No. 14 Tahun 2001 masa berlaku paten di Indonesia adalah 20 tahun. Selama 20 tahun itu,

perusahaan farmasi tersebut memiliki hak eksklusif di Indonesia untuk memproduksi obat yang dimaksud. Perusahaan lain tidak diperkenankan untuk memproduksi dan memasarkan obat serupa kecuali jika memiliki perjanjian khusus dengan pemilik paten. Setelah obat paten berhenti masa patennya, obat paten kemudian disebut sebagai obat generik. (10, 11) Produksi obat generik merupakan salah satu up aya penyediaan obat yang bermutu dengan harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Obat generik umumnya memiliki harga yang lebih murah dari obat paten, beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah (1) : a. Dalam harga obat paten, terd apat komponen biaya promosi yang cukup tinggi mencapai sekitar 50% dari HET (Harga Eceran Tertinggi), sedangkan obat generik tidak dipromosikan. b. Harga obat paten biasanya ditetapkan berdasarkan daya serap pasar dengan memperhitungkan harga kompetitor, sedangka harga obat generik lebih didasarkan pada biaya kalkulasi nyata. c. Harga obat paten biasanya mengikuti harga price leader dari obat yang sama, sedang obat generik tidak.
II.3 Ketersediaan Farmasetik ( Pharmaceutical availability)

Ketersediaan farmasetik merupakan bagian obat yang dibebaskan dari bentuk pemberiannya dan tersedia untuk proses resorbsi, misalnya dari tablet, kapsul, serbuk, suspensi, suppositoria dan sebagainya. Dengan kata lain ketersediaan farmasetik menyatakan kece patan larut

(dan jumlah) dari obat yang tersedia secara in vitro. Banyak penelitian mengenai pharmaceutical availability telah dilakukan dengan tablet sebagai bentuk sediaan yang paling umum. Setelah ditelan tablet akan pecah di lambung dan menjadi granul kecil, yang terdiri dari zat aktif tercampur zat-zat pembantu (gom, gelatin dan sebagainya). Setelah granul-granul ini pecah, zat aktif dibebaskan. Bila daya larutnya cukup besar, zat aktif tersebut akan melarut dalam cairan lambung/usus, tergantung dimana obat pada saat itu berada. Setelah melarut, obat tersedia dan proses resorpsi oleh usus dapat dimulai. Peristiwa inilah yang disebut pharmaceutical availability. Secara skematis, mekanismenya adalah sebagai berikut :

Gambar 1. Mekanisme pharmaseutical availability.

Banyak farmakope kini memuat syarat -syarat norma (standard) untuk memeriksa tablet, tidak hanya mengenai kadar zat aktifnya dan kesamaan kadar, melainkan juga mengenai kecepatan pecahnya (dalam

cairan lambung buatan) dan kecepatan larutnya dalam cairan usus buatan (dissolution rate). (2)
II.4 Ketersediaan Hayati / Bio -availabilitas ( Biological availability )

Ketersediaan hayati adalah persentase dan kecepatan zat aktif dalam suatu produk obat yang mencapai/tersedia dalam sirkulasi sitemik dalam bentuk utuh/aktif setelah pemberian produk obat tersebut, diukur dari kadarnya dalam darah terhadap waktu atau dari ekskresinya dalam urin. Ketersediaan hayati dapat diukur in vivo (pada keadaan

sesungguhnya pasien) dengan menentukan kadar plasma obat sesudah tercapai keseimbangan antara kadar obat di semua jaringan tubuh. Sebaliknya ketersediaan farmasetik hanya dapat ditentukan secara in vitro dalam laboratorium dengan mengukur kec epatan melarutnya zat aktif dalam waktu tertentu (dissolution rate). Pengukuran ini dilakukan dengan metode dan alat khusus guna meniru sejauh mungkin keadaan alami dalam saluran lambung-usus. (2, 12)
II.5 Kesetaraan Hayati / Bio-ekivalensi (Biological equ ivalence)

Kesetaraan hayati dapat didefinisikan sebagai kesetaraan pola kerja (kadar dan kecepatan resorpsi) dari dua obat yang berisi zat aktif dengan dosis yang sama. Dua produk obat disebut bioekivalen jika keduanya mempunyai zat aktif yang sama dalam jumlah yang sama dan dengan sediaan yang sama atau memiliki zat aktif yang sama tetapi berbeda dalam bentuk kimia atau bentuk sediaan atau kekuatan, dan pada pemberian dengan dosis molar yang sama akan menghasilkan bio -

availabilitas yang sebanding sehingga efeknya akan sama, dalam hal efikasi maupun keamanan. Dua tablet dengan zat aktif yang sama tetapi pabrik berlainan tidak selalu menghasilkan kadar darah dan efek yang sama pula. Sebagai akibat dari salah satu faktor tersebut, maka bio availabilitas masing-masing tablet dapat berbeda. Bahkan ada kalanya tablet dari satu pabrik tetapi dari batch berlainan dapat pula berbeda bio availabilitasnya. (2, 12)
II.6 Disolusi

II.6.1.Teori Disolusi

Disolusi adalah proses pelepasan senyawa obat dari sediaan dan melarutnya dalam media pelarut, sedangkan laju disolusi adalah jumlah zat aktif yang dapat larut dalam waktu tertentu pada kondisi antar permukaan (cair-padat), suhu dan komposisi media yang dibakukan. Tetapan laju disolusi merupakan suatu besaran yang menunjukka n jumlah bagian senyawa obat yang larut dalam media per satuan waktu. Uji disolusi yang diterapkan pada sediaan obat bertujuan untuk mengukur serta mengetahui jumlah zat aktif yang terlarut dalam media pelarut yang diketahui volumenya pada waktu dan suhu t ertentu, menggunakan alat tertentu yang didisain untuk menguji parameter disolusi. (13, 14) Disolusi merupakan tahapan yang membatasi atau tahap yang mengontrol laju bioabsorbsi obat -obat yang mempunyai kelarutan rendah, karena tahapan ini seringkali merup akan tahapan yang paling lambat dari berbagai tahapan yang ada dalam pelepasan obat dari bentuk sediaannya

10

dan perjalanannya ke dalam sirkulasi sistemik. Proses disintegrasi dan disolusi tablet di dalam kondisi in vitro atau in vivo digambarkan oleh Wagner (1971) seperti pada gambar dibawah ini :

Gambar 2. Proses disintegrasi dan disolusi tablet

Laju absopsi dari obat -obat bersifat asam yang diabsorpsi dengan mudah dalam saluran pencernaan sering ditetapkan dengan laju larut obat dari tablet. Bila yang menjadi tujuan adalah untuk memperoleh kadar yang tinggi di dalam darah, maka cepatnya obat dan tablet melarut biasanya menjadi sangat menentukan. Karena itu laju larut dapat berhubungan langsung dengan efikasi (kemanjuran) dari tablet dan perbedaan bio availabilitas dari berbagai formula. Penaksiran penglepasan paling langsung obat dari formula tablet diperoleh dengan mengukur bio -

11

availabilitas in vivo, namun karena beberapa alasan, penggunaan in vivo menjadi sangat terbatas, akibatnya uji disolusi secara in vitro dipakai dan dikembangkan secara luas, dan secara tidak langsung dipakai sebagai pengukur availabilitas obat (9, 15).
II.6.2 Alat Disolusi

Alat disolusi terdiri dari 2 jenis, yaitu (9) : 1. Alat 1, sebuah tablet diletakkan dalam keranjang saringan kawat kecil yang diikatkan pada bagian bawah suatu tongkat yang dihubungkan pada sebuah motor yang kecepatannya dapat diatur. Keranjang itu dicelupkan ke dalam medium disolusi yang terdapat di dalam lab u 1000 ml. Labu itu berbentuk silindris dengan dasar berbentuk hemisferik. Suhu labu dipertahankan pada 37 0 C 0,5 0 C, dengan penangas bersuhu tetap. Motor diatur pada kecepatan yang ditentukan, kemudian cairan sampel diambil pada selang waktu tertentu un tuk menentukan jumlah obat di dalam cairan itu. 2. Alat 2, alat ini sama dengan alat 1, hanya keranjang diganti dengan pedal yang dibentuk dari pisau dan tongkat sebagai elemen pengaduk. Sediaan obat dibiarkan tenggelam ke dasar labu sebelum diaduk.
II.6.3 Medium Disolusi

Menggunakan pelarut tertentu yang tertera dalam monografi. Jika medium disolusi adalah larutan buffer, sesuaikan larutannya sehingga pH larutan tak lebih dari 0,05 dari pH yang ditentukan dalam monografi. (Catatan : gas terlarut dapat menyeba bkan terbentuknya gelembung, yang

12

dapat mengubah hasil pengujian . Dalam kasus seperti ini, gas terlarut harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum memulai pengujian). (16)
II.6.4 Waktu Pengambilan Cuplikan

Bila dalam spesifikasi hanya terdapat satu waktu, pengujian dapat diakhiri dalam waktu yang lebih singkat bila persyaratan jumlah minimum yang terlarut telah terpenuhi. Bila dinyatakan dua waktu atau lebih, cuplikan dapat diambil hanya pada waktu yang ditentukan dengan toleransi 2%. (17)
II.6.5 Kondisi Hilang

Istilah kondisi hilang (sink condition) berasal dari pembuktian secara farmakologis bahwa kadar obat pada kedua sisi lapisan epitel dinding saluran pencernaan mendekati kesetimbangan dalam waktu singkat dan saluran pencernaan berfungsi penghilang al ami, yaitu obat diabsorbsi pada saat obat larut. Jadi dalam kondisi in vivo, tidak ada peningkatan kadar. Selama uji disolusi, kondisi hilang merupakan salah satu parameter percobaan yang harus dikendalikan, yaitu dengan senantiasa menambah media disolusi yang sama setelah pencuplikan agar kadar zat terlarut tidak lebih dari 10 -15% kelarutan maksimumnya, sehingga tidak ada perubahan kadar dalam lapisan. (15)
II.6.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Disolusi

a. Faktor intrinsik obat (18) : 1) Luas permukaan spesifik partikel 2) Distribusi ukuran partikel

13

3) Bentuk partikel 4) Polimorfi 5) Bentuk asam, basa, garam b. Faktor lingkungan medium (18) : 1) Temperatur 2) Viskositas cairan 3) Konsentrasi partikel yang terdisolusi 4) Kecepatan mengalirnya cairan 5) Komposisi medium disolusi : pH, kekuatan ionisasi, tegangan permukaan. c. Faktor teknologi Perbedaan metode yang digunakan dalam produksi turut

mempengaruhi disolusi obat. Demikian pula pengunaan bahan -bahan tambahan dalam produksi. Contoh bahan ta mbahan yang sering digunakan adalah pensuspensi yang akan menurunkan laju disolusi karena kenaikan kekentalan. Contoh lain adalah bahan pelicin yang bersifat hidrofob karena mampu menolak air sehingga menurunkan laju disolusi obat. Studi kecepatan disolusi intrinsik sudah diawali oleh Noyes dan Whitney dengan persamaan : dc/dt = K.S (Cs-C) Keterangan : dc/dt S = Kecepatan disolusi obat = Luas permukaan bahan obat yang terdisolusi

14

K Cs C

= Tetapan kecepatan disolusi = Larutan bahan obat jenuh = Kadar dalam obat yang terlarut dan cairan medium

Gambar 3 : Pengaruh difusi molekul zat terlarut terhadap laju disolusi.

Laju disolusi dipengaruhi oleh difusi molekul -molekul zat terlarut melalui lapisan difusi ke dalam bahan dari larutan tersebut. Persamaan di atas mengemukakan bahwa laju disolusi dari suatu obat bisa ditingkatkan dengan memperbesar luas permukaan dengan meningkatkan kelarutan obat dalam lapisan dengan faktor -faktor yang diwujudkan dalam konstanta laju disolusi. Tetapan kecepatan disolusi termasuk intensitas pengadukan pelarut dan koefisien difusi dari obat yang melarut. (15)
II.6.7 Kegunaan Uji Disolusi

Uji disolusi mempunyai beberapa kegunaan, yaitu (13) :

15

1. Mengontrol kualitas sediaan yang dilakukan dalam beberapa cara produksi obat yang baik. 2. Evaluasi keseragaman antara produk dari batch ke batch. 3. Pengembangan kualitas sediaan. 4. Memperkirakan kecepatan pelepasan zat aktif dari sediaan secara in vitro.
II.7 Uraian Umum Siprofloksasin

Siprofloksasin adalah salah satu antibiotik yang merupakan derivat siklopropil dari kelompok fluorkuinolon dengan khasiat lebih luas dan kuat daripada nalidiksinat dan pipemidinat, juga menghasilkan kadar

darah/jaringan dan plasma -t yang lebih tinggi. Resorpsinya baik dengan bioavailabilitas 70% dan kadar plasma maksima l tercapai 0,5-1,5 jam Diekskresikan melalui urin (55%) dan feces (39%). Plasma -t yaitu 3-5 jam dan bisa mencapai kira-kira 8 jam pada gangguan fungsi ginjal yang serius. (2) Siprofloksasin bekerja sebagai bakterisid, yaitu dengan

menghambat DNA-girase, menghambat relaksasi superkoloid DNA dan memicu kerusakan untai gandai DNA pada bakteri, sehingga sintesis DNA pada bakteri dapat dicegah. (19) Siprofloksasin memiliki rumus kimia C17H18FN3O3, merupakan serbuk berwarna kekuningan hingga kuning. Mempunyai kelarutan 36 mg/mL dalam air pada suhu 25C dan dapat larut sebanyak 0,25 g dalam 10 ml asam klorida 0,1N. Zat ini tidak stabil terhadap udara, cahaya dan

16

pemanasan, oleh karena itu harus disimp an pada wadah kedap dan tahan cahaya, pada suhu 25 0 C, dengan toleransi penyimpangan antara 15 0 C dan 30 0 C, dan hindarkan dari panas berlebih. Siprofloksasin dalam sediaan tablet disimpan pada wadah yang tertutup baik. Tablet siprofloksasin, tersedia dala m sediaan tablet 100 mg, 250 mg, 500 mg dan 750 mg. (16, 20) Indikasi dari siprofloksasin adalah sebagai berikut (19): 1. Anak-anak. Infeksi saluran urin dan pyelofritis yang disebabkan oleh E.coli. catatan: meskipun demikian, siprofloksasin bukan merupakan obat pilihan pertama. 2. Anak-anak dan dewasa. Untuk menurunkan angka kejadian penyakit terkait dengan Baccilus anhraticus. Pada infeksi mata, digunakan untuk mengobati infeksi pada okular (corneal ulcer, conjungtivitis ) atau bakteri sejenis. 3. Dewasa. Untuk pengobatan infeksi yag disebabkan bakteri, infeksi saluran urin, cistitis akut tanpa komplikasi pada wanita, prostatitis bakteri kronik, infeksi saluran nafas bawah (termasuk eksaserbasi akut dan bronchitis kronik), sinusitis akut, infeksi kulit, tulang dan persendian, infeksi intraabdominal komplek, diare karena infeksi, demam tyfoid karena Salmonella typhi, pneumonia nosokomial, terapi empiris febrile neutrophenic (kombinasi dengan piperacillin).

17

Dosis, cara pemberian dan lama pemberian dari siprofloksasin adalah, sebagai berikut (19) : 1. Dosis anak-anak :
 Oral:

a. Infeksi saluran urin atau pyelofritis: anak 1-17 tahun: 20-30 mg/kg/hari terbagi dalam 2 dosis terpisah (setiap 12 jam) untuk 10-21 hari. Maksimal 1.5 g/hari. b. Cistitis fibrosis: anak 5-17 tahun; 40 mg/kg/hari dalam dosis terbagi setiap 12 jam, pemberian selama 1 minggu
 Injeksi:

a. Infeksi saluran urin komplikasi pada anak 5-17 tahun: 6-10 mg/kg setiap 8 jam untuk 10-21 hari (maksimum 400 mg/dosis). b. Cistitis fibrosis:anak 5-17 tahun; 30 mg/kg/hari dalam dosis terbagi setiap 8 jam untuk satu minggu. 2. Dosis dewasa :
 Oral:

a. Infeksi saluran urin:


y Infeksi saluran urin akut tanpa komplikasi: 250 mg setiap 12

jam selama 3 hari.


y Infeksi saluran urin akut dan pyelonefritis tanpa komplikasi:

sedaan lepas lambat 1000 mg setiap 24 jam selama 7-14 hari.


y cistitis akut tanpa komplikasi sediaan lepas lambat 500 mg

setiap 24 jam selama 3 hari.

18

y Infeksi saluran urin sedang : 250 mg setiap 12 jam selama 7 -14

hari.
y Infeksi saluran urin berat: 500 mg setiap 12 jam selama 7-14

hari. b. Infeksi saluran nafas bawah, dan infeksi pada kulit: 500 750 mg

dua kali sehari untuk 7-14 hari, tergantung pada tingkat keparahan infeksi yang terjadi. c. Infeksi pada tulang dan persendian: 500 -750 mg dua kali sehari 4 6 minggu, tergantung pada ke pekaan dari bakteri penginfeksinya. d. Diare karena infeksi: 500 mg setiap 12 jam selama 10 hari. e. Infeksi intraabdominal (kombinasi dengan metronidazol): 500 mg setiap 12 jam selama 7-14 hari. f. Demam tyfoid: 500 mg setiap 12 jam selama 10 hari. g. Infeksi gonore uretral /servikal : 250-500 mg dosis tunggal. h. Infeksi gonore menyebar: 500 mg dua kali sehari selama pengobatan 7 hari penuh (pengobatan awal dengan seftriakson 1 g IM/IV perhari untuk 24-48 jam setelah ditemukan kasus tersebut). i. Sinusitis (akut): 500 mg setiap 12 jam selama 10 hari. j. Prostatitis kronik karena bakteri: 500 mg setiap 12 jam selama 28 hari.

19

 Injeksi:

a. Infeksi tulang dan persendian: infeksi ringan dan sedang : 400 mg setiap 12 jam untuk 4-6 minggu; infeksi berat dan komplikasi: 400 mg setiap 8 jam selama 4-6 minggu. b. Infeksi saluran napas bawah dan infeksi pada kulit: ringan hingga sedang :400 mg setiap 12 jam selama 7 -14 hari; infeksi gawat dan komplikasi: 400 mg setiap setiap 8 jam selama 4 -6 minggu. c. Pneumonia nosokomial: (ringan,sedang dan be rat): 400 mg setiap 8 jam selama 10-14 hari. d. Prostatitis (kronik, karena bakteri) 400 mg setiap 12 jam selama 28 hari. e. Sinusitis (akut): 400 mg setiap 12 jam selama 10 hari. f. Infeksi saluran urin: ringan hingga sedang 200 mg setiap 12 jam selama 7-14 hari; akut dan komplikasi: 400 mg setiap 12 jam selama 7-14 hari. g. Vebrile neutropeni (kombinasi dengan piperacilin) 400 mg setiap setiap 8 jam selama 7-14 hari. h. Intraabdominal infection (kombinasi dengan metronidazole): 400 mg setiap 12 jam selama 7-14 hari. Kontraindikasi dari siprofloksasin yaitu terhadap pasien yang mengalami hipersensitifitas terhadap golongan siprofloksasin dan

komponen lain dalam sediaan. Efek samping dari siprofloksasin yang sangat sering terjadi adalah gangguan lambung -usus, seperti sakit perut,

20

mual, muntah, anoreksia, dan diare. Disamping itu, efek samping yang telah dilaporkan antara lain reaksi alergi (eritema, urticaria), efek neurologi (sakit kepala, pening, neuropati dan perasaan kacau), efek psikis hebat (eksitasi, gelisah, reaksi panik) dan konvulsi. Siprofloksasin juga

menimbulkan resistensi, yaitu saat terjadinya resistensi pada kuman gram negatif, seperti E. coli dan Pseudomonas, enzim DNA-gyrase berperan utama dan topoisomerase IV memegang peranan sekunder. Sebaliknya pada kuman gram-positif, suku-suku yang resisten dapat melakukan mutasi pada enzim ini, sehingga menjadi sangat resisten.(2,19,21).
II.8 Uraian Spektrofotometer

Spektrofotometer

merupakan

salah

satu

cabang

analisis

instrumental yang mempelajari interaksi antara ato m atau molekul dengan radiasi elektromagnetik. Interaksi antara atom atau molekul dengan radiasi elektromagnetik dapat berupa hamburan (Scattering), absorbs

(absorbtion), emisi (emission). Interaksi antara radiasi elektromagetik dengan atom atau molekul yang berupa absorpsi menghasilkan spektrofotometri absorbs antara lain spektrofotometri ultraviolet (UV), spektrofotometri sinar tampak (Vis), spektrofotometri infa merah (IR). (22)
II.8.1 Spektrofotometer UV (Ultraviolet)

Spektrofotometri menggunakan radiasi

UV

yang dipakai un tuk aplikasi panjang gelombang

kuantitatif nm,

dengan

200 -380

sedangkan spektrofotometri sinar tampak menggunakan radiasi dengan panjang gelombang 380 -780 nm. Molekul yang dapat memberikan

21

abs ban ang b a ala

akna a a a a

anjang g lo mbang 200-780 nm an gugus

molek l-molek l

ang mempun ai gugus k omofor gugus fungsi

auksokrom.

ugus kromofor a ala

ang mempun ai

spektrum absorbsi karakteristik pa a aera Keuntungan ari serapan ikenal alam molekul-molekul

V atau sinar tampak. 22)

V aitu gugus -gugus karakteristik apat ang sangat kompleks. Sebagian besar alam V

ari molekul

ang relatif kompleks mungkin transparan

sehingga kita mungkin memperoleh spektrum ang sema am ari molekul sederhana. Spektrum V adalah suatu g ambar antara panjang

gelombang atau frekuensi serapan lawan intensitas serapan transmisi atau absorbansi). Sering juga data ditunjukkan sebagai gambaran grafik atau tabel ang men atakan panjang gelombag lawan serapan molar atau log dari serapan molar, E max atau log E max. 23) II. . j S m V l i l

Unsur-unsur terpenting suatu spektrofotemeter UV ditunjukkan secara skematik sebagai berikut 24) :

SR
Keterangan : S

SK

VD

Sumber adiasi onokromator.

SK

Sampel Kompartemen Ku et). etektor.

22

= Amplifier (Penguat).

VD = Visual Display (Recorder). Setiap bagian peralatan dari spektroskopi memegang fungsi dan peranan tersendiri, yaitu sebagai berikut : 1. Sumber radiasi, beberapa jenis sumber radiasi yang dipakai pada spektroskopi adalah lampu deuterium, lampu tungsten dan lampu merkuri. 2. Monokromator, merupakan alat yang mengisolasi suatu berkas radiasi yang menyeleksi panjang gelombang yang diinginkan untuk

pengukuran cuplikan. 3. Sampel kompartemen dianalisis. 4. Detector merupakan bagian yang mengubah energi radiasi menjadi isyarat listrik. 5. Amplifier, dan recorder merupakan rangkaian yang membuat isyarat listrik cocok untuk diamati dan system pembacaan yang menunjukkan besar isyarat listrik. Tahap analisis kuantitatif dengan spektroskopi UV : 1. Pemilihan pelarut, pelarut yang digunakan pada spektroskopi UV harus memenuhi persyaratan, yaitu tidak mengabsorbsi radiasi pada panjang gelombang pengukuran sampel, tidak mengandung system (kuvet) merupakan wadah sampel yang

terkonjugasi pada struktur molekulnya atau tidak berwarna, tidak

23

berinteraksi dengan molekul senyawa mempunyai kemurnian tinggi.

yang diukur dan harus

2. Pemilihan panjang gelombang, pada pengukuran harus dipilih panjang gelombang maksimum karena pada panjang gelombang ini , kepekaan analisis tinggi dan kurva serapan tetap lurus sehingga memenuhi hukum Lambert beer yaitu, panjang gelombang maksimum adalah panjang gelombang dimana terjadi A maksimum.

24

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

II.1

Jenis Penelitian.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif.


II.2 Waktu dan Tempat Penelitian.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2010 di Laboratorium Instrumen Politeknik Kesehatan Makassar dan Laboratorium Instrumen Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Makassar.
II.3 Teknik Pengambilan Sampel.

II.3.1 Populasi.

Populasi dari penelitian ini adalah tablet siprofloksasin generik dan tablet siprofloksasin paten yang beredar di Makassar.
II.3.2 Sampel.

Sampel dalam penelitian ini adalah tablet siprofloksasin generik dan tablet siprofloksasin paten merek X, Y dan Z yang diambil secara acak dari beberapa apotek di Makassar.
II.4 Pengerjaan Sampel.

II.4.1 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan adalah alat disolusi tipe 2, yaitu dengan pengaduk berupa dayung (Shimadzu CS, 93011PC), spektrofotometer UV (Hitachi U 2000 ), timbangan analitik (AND GF-200) dan alat-alat gelas.

25

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tablet siprofloksasin generik 500 mg, tablet siprofloksasin merek X, Y dan Z 500 mg, baku siprofloksasin standar farmakope, air suling dan asam klorida 0,01 N.
II.4.2 Pembuatan bahan. II.4.2.1 Pembuatan larutan baku.

Sejumlah lebih kurang 50 mg baku

siprofloksasin

standar

farmakope ditimbang seksama, dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml, dilarutkan dengan asam klorida 0,01 N hingga batas tanda (diperoleh larutan 500 ppm (g/ml)). Dipipet 10 ml larutan 5 00 ppm ke dalam labu takar 50 ml,diencerkan dengan asam klorida 0,01 N hingga batas tanda (diperoleh larutan 100 ppm). Dipipet 10 ml larutan 100 ppm ke dalam labu takar 50 ml,diencerkan dengan asam klorida 0,01 N hingga batas tanda (diperoleh larutan 20 pp m). Kemudian dibuat larutan dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8 dan 10 ppm.
II.4.2.2 Pembuatan Kurva Baku.

Dibuat 1 seri larutan baku siprofloksasin standar farmakope dalam asam klorida 0,01 N dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8 dan 10 ppm. Kemudian masing-masing diukur serapannya dengan spektrofotometer UV pada panjang gelombang maksimum 276 nm. Selanjutnya dibuat kurva baku antara serapan terhadap konsentrasi.

26

II.5

Prosedur Kerja. (16)

Sebanyak 6 tablet siprofloksasin yang akan diuji masing -masing dimasukkan ke dalam bejana disolusi yang berisi medium berupa asam klorida 0,01 N sebanyak 900 ml dengan suhu 37 o C 0,5 o C. Pengaduk diputar dengan kecepatan 50 rpm. Selanjutnya dilakukan pengambilan cuplikan sebanyak 10 ml pada menit ke 10, 15, 30, 45 dan 60 , setiap kali penculikan medium disolusi ditambah sebanyak 10 ml. Dilakukan penetapan kadar dengan cara mengukur serapan sampel hasil disolusi dengan menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang maksimum 276 nm, kemudian dihitung kadarnya. Tablet siprofloksasin memenuhi syarat apabila jumlah zat terlarut tidak kurang dari 80% selama 30 menit.
II.6 Pengumpulan Data.

Pengumpulan data berupa serapan tablet siprofloksasin generik dan tablet siprofloksasin paten merek X, Y dan Z yang terdisolusi pada menit ke 10, 15, 30, 45 dan 60, kemudian dihitung kadar disolusi masing masing sampel.
II.7 Pengambilan Kesimpulan.

Kesimpulan diambil berdasarkan kadar disolusi tablet siprofloksasin generik dan tablet siprofloksasin paten merek X, Y dan Z.

27

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil berupa kadar disolusi (%) dari tablet siprofloksasin generik dan tablet siprofloksasin paten merek X, Y dan Z, yang terdisolusi pada menit ke 10,15, 30, 45 dan 60, sebagai berikut : 1. Hasil pengukuran untuk tablet generik menunjukkan bahwa kadar disolusi rata-rata pada tiap satuan waktu masing -masing sebesar 98,82%, 99,03%, 99,12%, 99,42% dan 99,78 %. 2. Hasil pengukuran untuk tablet paten merek X menunjukkan bahwa kadar disolusi rata-rata pada tiap satuan waktu masing -masing sebesar 98,1%, 98,34%, 98,88%, 99,32% dan 99,64%. 3. Hasil pengukuran untuk tablet paten merek Y menunjukkan bahwa kadar disolusi rata-rata pada tiap satuan waktu masing -masing sebesar 71,09%, 74,83%, 80,16%, 86,94% dan 94,10%. 4. Hasil pengukuran untuk tablet paten Z menunjukkan bahwa kadar disolusi rata-rata pada tiap satuan waktu masing -masing sebesar 96,31%, 97,03%, 97,42%, 98,43% dan 99,25%. Data hasil pengukuran kadar disolusi selengkapnya terte ra pada lampiran 4, tabel. 4.

28

IV.2 Pembahasan

Uji disolusi dapat digunakan untuk menentukan persentasi ketersediaan obat dalam sirkulasi sistemik pada waktu tertentu, hal ini berhubungan dengan bio -availabilitas yang dapat menjadi parameter efikasi (kemanjuran) dan mutu suatu produk obat. (9) Penelitian ini menggunakan empat sampel yaitu, tablet

siprofloksasin generik, tablet siprofloksasin paten merek X, Y dan Z. Pemilihan sampel tersebut didasarkan pada perbedaan harga, dimana tablet siprofloksasin paten merek X memiliki harga yang paling mahal, kemudian tablet siprofloksasin paten merek Y memiliki kisaran harga diantara harga tablet siprofloksasin generik dan tablet siprofloksasin paten merek X, sementara tablet siprofloksasin paten merek Z memiliki harga yang sama dengan tablet siprofloksasin generik, hal ini bertujuan untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa perbedaan harga dari tablet siprofloksasin generik dan tablet siprofloksasin paten tidak berpengaruh terhadap mutu obat tersebut, ditinjau d ari kecepatan disolusinya. Uji disolusi yang dilakukan menggunakan alat disolusi tipe 2, yaitu alat dengan pengaduk berupa dayung, alat tersebut digunakan karena sampel adalah sediaan tablet. Medium disolusi yang digunakan adalah asam klorida 0,01 N, pengg unaan asam klorida tersebut dimaksudkan sebagai pengganti cairan lambung. Penambahan medium disolusi sebanyak 10 ml setelah pengambilan cuplikan dilakukan untuk

mengendalikan kondisi hilang selama uji disolusi yang dalam kondisi in

29

vivo dapat menyebabkan tidak adanya peningkatan kadar. Sampel siprofloksasin yang telah terdisolusi tidak stabil terhadap cahaya dan pemanasan, hal ini dapat merubah nilai serapan, oleh sebab itu, pada pelaksanaan penelitian wadah sampel hasil disolusi yang digunakan adalah wadah tahan cahaya berupa vial berwarna coklat. Kadar rata-rata disolusi yang diperoleh pada menit ke 30 dari tablet siprofloksasin generik dan tablet siprofloksasin paten merek X, Y dan Z tidak memiliki perbedaan yang mencolok, masing -masing adalah

sebanyak 99.12%, 98.88%, 80.16% dan 97.42%, terlihat bahwa tablet siprofloksasin generik memiliki kadar rata -rata disolusi yang lebih tinggi dari pada kadar disolusi tablet siprofloksasin paten. Perbedaan yang terjadi dapat dipengaruhi oleh faktor intrinsik obat mis alnya luas permukaan partikel, bentuk partikel dan faktor teknologi misalnya metode yang digunakan dalam produksi. Berdasarkan persyaratan disolusi, baik tablet siprofloksasin generik maupun tablet siprofloksasin paten merek X, Y dan Z telah memenuhi persyaratan disolusi sebagaimana yang tertera dalam USP 28, dimana jumlah siprofloksasin yang terdisolusi pada menit ke 30 harus tidak kurang dari 80%. Hasil kadar disolusi tersebut dapat membuktikan bahwa, anggapan masyarakat mengenai mutu obat generik lebih r endah daripada obat paten dapat terbantahkan.

30

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa tablet siprofloksasin generik dan tablet siprofloksasin paten merek X, Y dan Z memenuhi persyarat an uji disolusi yang tertera pada USP 28.
V.2 Saran

Sebaiknya dilakukan uji bio -availabilitas secara in vivo pada tablet Siprofloksasin generik dan paten.

31

DAFTAR REFERENSI

1. Zubaidah I. Perbandingan mutu fisik dan profil disolusi tablet ibuprofen merek dagang dan generik. Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2009. 2. Tjay TH, Rahardja K. Obat-obat penting: khasiat, penggunaan, dan efek-efek sampingnya 5 th ed. Jakarta: PT Ele Media Komputindo; 2002. 3. Harianto, Sabarijah W, Fitri T. Majalah ilmu kefarmasian: perbandingan mutu dan harga tablet amoksisilin 500 mg generik dengan non generik yang beredar di pasaran 3 th ed. Depok: Departemen Farmasi Universitas Indonesia; 2006. 4. Departemen Farmakologi dan terapeutik fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Farmakologi dan terapi 5 th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2008. 5. Karsono. Studi bioekivalensi tablet glibenklamida. Medan: Prosiding Kongres Ilmiah XVI ISFI; 2008. 6. Anonim. Harga obat yang rasional. [Online]. 2009 Des 21 [cited 2010 Apr 10]; Available from: URL:http://www.apotekkita.com/portal apoteker. 7. Anonim. Meninjau perbedaan obat generik dan paten. [Online]. 2009 Des 02 [cited 2010 Mar 30]; Available from: URL:http://www.sttbali.com/Sekaa Teruna Teruni Bali. 8. Direktorat Jenderal POM Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Farmakope Indonesia 3 th ed. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 1979. 9. Lachman L, Herbert A, Joseph L, Kaning L. Teori dan praktek farmasi industri 3 th ed. Jakarta: Universitas Indonesia Press; 1994. 10. Anonim. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor. 68 tentang kewajiban menggunakan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2010. 11. Anonim. Masa berlaku obat paten [Online]. 2009 Jan 10[cited 2010 Jul 20]; Available from: URL:http://www.dinaskesehatan.org/ Generik dan paten.

32

12. Anonim. Peraturan kepala badan pengawas obat dan makanan republik Indonesia tentang pedoman uji bioekivalensi. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan RI; 2005. 13. Abdou H. Disolution bioavailability and bioequivalence. Easton Pennsylvania: Mack publishing company; 1989. 14. Watimena JR. Beberapa aspek pokok pengujian mutu perbekalan farmasi. Bandung: Intergrafika; 1986. 15. Martin EW. Dispensing of medication 7 th ed. Easton Pennsylvania: Mack publishing company; 1971. 16. United States Pharmacopeial Convention, inc. The united states pharmacopeia 28 th ed. Canada: Webcom limited; 2005. 17. Direktorat Jenderal POM. Farmakope Indonesia 4 th ed. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 1995. 18. Parrot LE. Pharmaceutical publishing company; 1987. technology. Minneapolis: Burgesr

19. Comp L, Armstrong L, Goldman M P. Drug information hand book 14 th ed. APhA Pubications; 2006 20. Anonim. Informasi spesialite obat Indonesia 42 nd ed. Jakarta: Penerbit ISFI; 2007 21. Piddock LJV. Fluorquinolon resistance. New York: BMJ; 1998. 22. Skoog DA, Leary J J. Princilpes of instrumental analysis 4th ed. Florida: Harcourt Brace College Publishers; 1991. 23. Sastrohamidjojo H. Spektroskopi. Yogyakarta: Penerbit Liberty; 1991. 24. Mulja M, Syahrani A. Aplikasi analisis spektrofotometri UV-Vis. Surabaya: Mephiso Grafika; 1990.