Anda di halaman 1dari 6

Judul: Filosofi Teras

Penulis: Henry Manampiring


Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun: 2019
Halaman: xxiv +320 hlm
Dimensi fisik: 13 cm x 19 cm

REVIEW BUKU FILSAFAT KEBAHAGIAAN “FILOSOFI TERAS”


KARYA HENRY MANAMPIRING
Oleh: Agung Hidayat Mazkuri
Kata kunci: Review Buku, Filsafat, Stoisisme, Kebahagiaan

“Some things up to us, some things are not up to us” — Epictetus.

BUKU Henry Manampiring ini disajikan dengan gaya penulisan dan penyajian format buku populer,
bukan formalistis. Narasi mengalir seperti bercerita dan mendongeng. Tak salah jika buku ini memang
ditujukan ke pembaca segmen sosial apapun, dan memang begitulah sepertinya semangat filsafat Stoa
yang inklusif, ora ndakik-ndakik. Dicirikan dengan adanya gambar-gambar ilustratif atau kata-kata
pesan yang dicetak memenuhi satu halaman dengan tata letak kekinian. Bagus dan menghibur. Seolah-
olah menyihir pembacanya dengan mantra: “biar yang dibahas filsafat, buku ini nggak membahas hal-
hal berat dan njlimet kok”. Gaya penulisan populer lainnya tercermin dalam format tulisan yang tidak
di-center fold.
Penulis adalah pribadi yang divonis oleh psikiatri mengidap Major Depressive Disorder, istilah
medis depresi klinis. Orang yang sedang gandrung membaca buku kewirausahaan adalah umumnya
sedang ingin mencari trik atau terobosan-terobosan meningkatkan usahanya. Orang yang bela-belain
membeli buku panduan tes seleksi CPNS, yang tebal dan relatif tidak murah itu, adalah orang yang
sedang pengen lolos tesnya. Orang yang terobsesi membaca buku-buku selfhealing adalah orang yang
merasa sedang punya problem dengan psikologinya—dan kesadaran diri akan “merasa” ini adalah
modal penting Anda jika pengen sembuh. Jika Anda merasa memiliki masalah-masalah dengan
kebahagiaan, atau selalu pusing dengan opini, gibah, bully dari orang, buku ini adalah referensi tepat.
Namun begitu, buku ini tidak menolong Anda langsung, melainkan diri Anda sendiri—dan satu-satunya
orang—yang dapat menolong diri Anda! Buku sekedar memberi pemahaman terkait timbulnya emosi-
emosi negatif dan bagaimana mengatasinya. Beberapa maksud dalam kalimat yang sudah saya tulis
tadi adalah alasan pribadi mengapa buku layak diulas. Segeralah membaca buku ini.

REVIEW, atau istilah kita sebut ulasan, adalah describes and evaluates a work of fiction or non-fiction ...
over all-purpose, its structure, and style of narration, attempting to place the book in a larger context
by comparing it to other books of its kind.... If the book is nonfiction, the reviewer will pay primary
attention to the major points (the argument) the author is putting forth and to the sources the author
has drawn upon to back up his or her point of view. Gampangnya, mengulas karya fiksi atau nonfiksi
secara menyeluruh: tujuan penulisan itu buku, struktur bab, gaya penulisannya, dan melakukan
komparasi pula terhadap karya tulis lain dalam tema sama. Begitu tulis laman Duke Thompson Wrting
Program (http:twp.duke.edu). Sedangkan laman penerbit buku Deep Publish dalam artikel daring
berjudul Cara Mereview Buku Yang Baik dan Berkualitas + Contohnya, mengartikan review itu berpadanan
ulasan yang mana oleh KBBI diartikan tafisran, tanggapan, dan penilaian. Jadi, review atau ulasan
adalah “tanggapan, tafsiran, penilaian terhadap mutu/kualitas/isi dari sebuah buku dengan
menekankan pada penilaian secara ilmiah dan argumentasinya.”, tanpa menyebut unsur komparatif.
Bukan bab-bab selebihnya tidak penting, subtansi buku ini ada di Bab I hingga V. Buku yang
diulas ini genre nonfiksi. Review ini mengambil teknik memaparkan poin-poin penting buku, tanpa
melakukan komparasi lebih mendalam terhadap tema selfhealing serupa. Penyuguhannya dengan
gaya dan sistematika yang diimprovisasi.

Kesehatan Mental Hari Ini: Fakta, Kesalahpahaman, dan Stigma


Gangguan mental banyak macamnya. Dalam bahasa sehari-hari untuk mudahnya disebut depresi,
kadang juga disebut stres. Tekanan pikiran karena berbagai faktor eksternal. Gangguan mental
menimpa lebih dari 264 juta orang di seluruh dunia, begitu rilis dalam satu artikel WHO di website-
nya. Depresi adalah penyebab hampir 800.000 jiwa mengakhiri hidupnya per tahun, atau ada 1 orang
mengakhiri hidupnya tiap 40 detik di dunia ini, begitu informasi yang saya kutip dari buku Infodatin
(Situasi dan Pencegahan Bunuh Diri) yang dirilis Kemenkes RI pada 2020. Hari ini kesehatan mental
sama pentingnya dengan kesehatan fisik kita.
Yang menarik, penulis menempatkan Bab I tentang survei kekawatiran dan Ia jadikan pula
sebagai judul babnya: Survei Khawatir Nasional. Eits, jangan salah, sebenarnya ini bukanlah survei yang
dilakukan otoritas resmi terkait itu, melainkan survei penulis melalui platform media sosial Twitter.
Penulis memulai diskusinya pada isu-isu konkret keseharian, permasalahan masyarakat modern hari
ini. Meski bukan gambaran fakta yang presisi di lapangan seratus persen, survei yang dilakukan penulis
buku menguak fakta kecemasan, kekhawatiran, dan depresi yang tak tampak di permukaan dalam
masyarakat. Kesehatan mental tak bisa dibantah adalah fenomena gunung es di masyarakat kita, dan
persepsi keliru semakin membuat isu ini diabaikan dan terpinggirkan. Titik tolak bagus memulai
tulisannya. Dan, manusia modern lebih membutuhkan penjelasan logis untuk lepas dari beban
pikirannya yang kemudian untuk dipraktikkan dalam keseharian. Filsafat Stoa salah satu cara praktis
untuk itu.
Banyak dari kita berpandangan keliru, menganggap gangguan psikis sebagai gangguan “jiwa”
dalam arti berkaitan aspek “ruhaniah” semata yang tidak ada hubungannya dengan aspek fisik. Karena
berangkat dari cara pandang keliru, tak luput penanganannya otomatis keliru. Stigma dan pandangan
serta penanganan keliru lahir karena ketidaktahuan masyarakat bahwa problem psikis juga bisa
berkaitan dengan fungsi organ tubuh dan kimia otak.

SAINS DAN PENANGANAN SECARA MEDIS capaiannya hari ini sudah sampai pada tahap lebih baik dalam
memahami dan menangani gangguan mental ketimbang era-era sebelumnya, yang menganggap
penyakit mental tidak ada kaitan sama sekali dengan yang fisik. Capaian itu dengan sendirinya juga
bermanfaat praktis dalam pengobatan. Namun begitu, seperti dikutip penulis, laporan penelitian yang
dikutipnya menunjukkan fakta bahwa dari 37 persen pasien depresi yang sembuh, hanya 10 persennya
saja yang benar-benar bisa lepas sepenuhnya dari depresi selama setahun. Penanganan medis, yaitu
dengan pemberian obat-obatan saja, hanya memandang dari aspek malfungsi otak. Obat-obatan bisa
menciptakan mood positif pada orang-orang depresi, tapi ada hal-hal lain dibutuhkan untuk bisa
memelihara mental dalam jangka panjang. Fakta ini penting dipertimbangkan dan alasan mengapa
filsafat-filsafat berkaitan laku hidup dengan pemaparan rasional dan mudah dijalankan begitu penting
hari ini.

Stoisisme: Kebahagiaan Selaras Rasio Alam, Areté, dan Interconectedness


Stoisisme adalah filsafat kebahagiaan. Tema-tema yang dibicarakan tidak melulu konsep-konsep
abstrak yang sistematis dan mengawang-awang. Stoisisme acapkali dinisbatkan kepada Zeno, seorang
tokoh yang hidup 2300 tahun lalu atau kira-kira pada 300 SM. Ia seorang pedagang yang dalam
perjalanan dagangnya, kapalnya karam beserta dagangannya, kemudian tertarik pada filsafat dan
berguru pada banyak filsuf yang berbeda-beda di Athena. Ia kemudian mengajarkan filsafatnya sendiri.
Ia seringnya mengajarkan itu di suatu teras berpilar, yang dalam bahasa Yunani disebut stoa, ‘teras’,
agora di Yunani. Mungkin itu adalah bangunan besar, dengan pilar-pilar besar pula tentunya, ada di
tengah kota untuk publik. Murid-muridnya berkembangnya waktu disebut kaum Stoa. Ajaran filsafat
ini meredup pada abad keempat ketika peradaban Yunani jatuh diganti Romawi dan diadopsinya
Kristen sebagai ajaran resminya.
Stoisisme menekankan pada keselarasan hidup dengan alam. Yang terkandung dalam
ajarannya, dengan begitu, adalah nilai-nilai universal yang dapat diterima siapa saja yang bernalar, dan
nilai-nilainya itu yang sama dan menjadi inti di setiap agama atau nilai-nilai etik yang ada di masyarakat
mana pun. Menariknya, kita tanpa perlu mendebatkan asal muasal nilai itu. Inilah ciri filsafat Stoa yang
inklusif, merangkul semua. Sebenarnya kata alam dalam banyak literatur Stoisisme ditulis Nature,
‘Alam’, sebut penulis. Huruf awal ditulis kapital, tidak ditulis nature. Bukan tanpa maksud. Maksud
yang dikehendaki dari “selaras dengan alam” dalam Stoisisme lebih luas ketimbang pengertian
menjaga lingkungan: membuang sampah pada tempatnya, menjaga keseimbangan ekologi, tidak
merusak alam. “Manusia yang hidup selaras dengan alam adalah manusia yang hidup sesuai dengan
desainnya, yaitu mahluk bernalar (h. 36).” Nalar dalam satu tempo juga disebut rasio. Rasio adalah
fitur yang esensial dan alamiah dalam diri manusia sekaligus pembeda dengan lainnya. Dengan begitu,
selaras dengan alam erat kaitannya dengan cara menggunakan rasio dalam menemukan areté masing-
masing.
Areté padanan harfiahnya di bahasa kita adalah bajik atau virtue dalam bahasa Inggris. Areté
dalam makna asalnya tidak mirip dengan pemahaman akan padanan katanya di bahasa kita. Kuda yang
kuat dan tangguh berlari sekencangnya, ini dapat diartikan bahwa kuda itu juga sudah menjalankan
areté-nya. Pemain sepakbola, menjalani profesinya dan bermain sampai batas maksimal kemampuan
dan menikmatinya, itu juga areté. “Menjalankan sifat dan esensi dasar kita dengan sebaik mungkin,
dengan cara sehat dan terpuji (h. 28)”, begitu Donald Robertson mendefinisikan. Manampiring
memberi pemahaman, mudahnya, “hidup sebaik-baiknya dengan peruntukkan kita.” Hemat saya,
terkait apa yang menjadi profesi kita, ini juga bisa diartikan mencari dan menekuni dan
mengembangkan apa yang kita minati agar kita bisa menjalani kehidupan yang membahagiakan. Itulah
peruntukkan kita. Pada dasarnya, kebahagian-apatheia yang diusung Stoisisme bercirikan untuk tidak
terkungkung oleh emosi negatif-merusak, yaitu kondisi pikiran yang tiada gangguan, tiada emosi.
Kebahagiaan dalam Stoisisme di sini juga berkaitan dengan kemampuan kita memahami apa
yang bisa kita kontrol dan tidak bisa kita kontrol yang mana berikutnya dipecah oleh penulis menjadi
penilaian, opini, persepsi, dan interpretasi-otomatis di bab-bab berikutnya. Dengan kata lain,
kebahagiaan Stoisisme berciri negative-logic: tidak ada amarah, waswas, rasa benci, kecewa, iri, dsj.
Ini dalam istilah Yunani disebut apatheia, kadang ataraxia, “a” artinya tidak, “patheia” artinya
penderitaan, dan “taraxia” artinya masalah. Harfiahnya berarti tiada gangguan, tiada emosi, atau tiada
gangguan. Bahagia adalah tidak terganggunya pikiran kita ketika berhadapan situasi apapun.
Kebahagiaan yang diusung Stoisisme, sampai di sini, jelas berbeda dengan kebahagiaan yang
dipahami oleh masyarakat umum. Kebahagiaan menurut masyarakat umum sejatinya suasana
psikologis yang menyenangkan karena respon dan kerja kimiawi otak ketika menerima rangsangan dari
luar. Cara kerja otak ini sama ketika kita dihadapkan hal-hal yang tak menyenangkan. Ini sebenarnya
masih wilayah kesenangan. Segala hal yang masih butuh rangsangan dari luar masih terkategori
kesenangan, misalnya ketika duduk bareng dengan orang yang dicintai, umumnya akan berkata
“merasakan kedamaian”. Sejatinya ini masih kategori kesenangan karena momen itu adalah
rangsangan dari luar ke otak yang kemudian memengaruhi kerja kimiawinya. Jika masih sulit diterima,
gampangnya, kebahagiaan-apatheia adalah manakala pikiran terbebas dari emosi yang mengganggu,
utamanya ketika dihadapkan pada hal-hal tak menyenangkan atau menyebalkan, caranya menetapkan
persepsi positif dalam pikiran kita. “Kamu memiliki kendali atas pikiranmu—bukan kejadian-kejadian
di luar sana. Sadari ini, dan kamu akan menemukan kekuatan,” Marcus Aurelius.
Termasuk ajaran fundamental Stoisisme adalah bahwasanya kehidupan manusia dengan
jaringan Semesta ini adalah tak terpisahkan dan semua peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup
tunduk pada hukum Semesta itu. Diri kita bagian dari jaring-jaring yang besar itu, satu hal atau kejadian
adalah akibat dari kejadian sebelumnya. Stoisisme mengajarkan bahwa keberadaan manusia adalah
bagian dari Alam yang lebih besar ... dan semua peristiwa di dalam hidup menaati hukum dan aturan
“Alam”.

Dikotomi dan Trikotomi Kendali


Dikotomi kendali adalah ajaran fundamental dalam Stoisisme. “Di semua situasi, bahkan saat kita tidak
ada kendali sekalipun, selalu ada bagian di dalam diri kita yang tetap merdeka, yaitu pikiran dan
perspesi (h. 54).” Epictetus mengatakan, Some things up to us, some things are not up to us. Terjemah
bebasnya, ada hal-hal yang dikendalikan kita dan ada pula yang tidak. Hal-hal yang ada di bawah
kendali kita misalnya pertimbangan, keinginan, tujuan, dbl. Singkatnya, yang ada di bawah kendali kita
adalah pikiran dan tindakan kita. Yang di luar kendali kita adalah opini orang lain, tindakan orang lain,
kekayaan, jabatan, karir, dbl. Singkatnya, hal-hal di luar kendali kita adalah segala hal yang bukan
berasal dari pikiran kita. “Kendali” dalam Stoisisme bukan sekedar kemampuan memperoleh. Lebih
dari itu, ia diartikan mempertahankan. Kita bisa berargumen bahwa kekayaan atau sukses karir bisa
dicapai dengan kerja keras dan keuletan. Apakah kita bisa sepenuhnya mempertahankannya?
Epictetus mengajarkan, “Siapa pun yang mengingini atau menghindari hal-hal yang ada di luar
kendalinya tidak pernah akan benar-benar merdeka dan bisa setia pada dirinya sendiri, tetapi akan
terus terombang-ambing terseret hal-hal tersebut.”
Ok, kita bisa menerima—dalam memahami dikotomi kendali tadi—bahwa apa sore nanti hujan
atau tidak, ketika pergi ke pasar nanti akan berpapasan siapa, ketika naik kereta nanti siapa di sebelah
kita, berapa harga kopi musim panen tahun depan, atau kita tak bisa memilih dari rahim siapa
dilahirkan ke dunia. Semua ini adalah yang di luar kendali kita. Namun begitu, apa dikotomi kendali
dapat diterapkan semua peristiwa, misalnya prestasi sekolah, nilai mata kuliah, atau menjalin
hubungan? Seorang penulis Stoisisme, seperti sebut penulis, William Irvine dalam bukunya A Guide To
Good Life: The Ancient Art of Stoic, mengembangkan dikotomi kendali menjadi model trikotomi
kendali. Beberapa contoh peristiwa memang tak bisa mengaplikasikan dikotomi kendali, contohnya
adalah karir pekerjaan di kantor, nilai mata kuliah dan nilai skripsi. Umumnya kita akan meyakini bahwa
dengan kerja sungguh-sungguh dan ulet atau belajar tekun dan sungguh-sungguh ada dalam kendali
kita.
Yang perlu diingat, nilai ujian skripsi yang akan kita raih adalah di luar kendali kita. Banyak faktor
terkait nilai skripsi, misalnya, tergantung pada hal-hal di luar kendali kita, seperti mood si dosen penguji
kita atau siapa mengira ternyata atasan kita di kantor menyimpan sentimen pribadi pada kita. Sampai
di sini, kita memahami bahwa dalam contoh-contoh ini pun tetap bisa dipahami dalam dikotomi
kendali. Yang bisa kita kendalikan adalah belajar sungguh-sungguh, memahami sebaik mungkin materi
skripsi kita, menyiapkan presentasi juga sebaik mungkin. Inilah internal goal-nya, yang ada di bawah
kendali kita.

Positive Thinking dan Opini Orang Lain


Tema ini sepertinya mendapat sorotan lebih penulis buku. Terlihat dari dua topik ini yang ditulis dalam
subbab terpisah dan tersendiri. Bukan tanpa alasan, penulis sepertinya hendak menyadarkan kita
bahwa dua hal ini sumber munculnya emosi-emosi negatif yang merusak suasana pikiran.
Positive thinking yang selama ini kita anggap “ramuan” ampuh agar hidup menjadi bahagia, di
buku ini dikatakan justru mengandung problem. Laporan-laporan yang dikutip penulis, menyatakan
bahwa “mereka yang menerapkan positive thinking dalam berusaha mencapai tujuannya sering kali
memperoleh hasil yang lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang tidak menerapkan positive
thinking (h. 19)”, karena di pikiran kita seolah apa yang dituju sudah diraih, sehingga melemahkan
keuletan kita dalam berusaha mencapainya. Lebih-lebih ketika gagal, ini akan membuat penganut
positive thinking lebih tertekan karena secara implisit mengandung “penyalahan diri” dan ini lebih
merusak ketimbang kegagalan itu sendiri. Lebih lanjut, para penulis laporan justru menyarankan
mental contrasting, yaitu penggabungan antara positive thinking dengan memikirkan hambatan-
hambatannya.
Yang merusak kesehatan mental lainnya adalah terpaku dan menyibukkan diri pada opini orang
lain terhadap kita. Kita lahir bukan untuk menyenangkan mereka, mereka lahir bukan untuk
menyenangkan kita. Kita hanya perlu hidup bajik. Opini orang lain ibarat tiran yang membelenggu kita.
Di kehidupan ini, pikiran kita sering kali menyibukkan diri dan dihabiskan untuk ini. Kita tidak bisa
mengontrol pikiran orang lain. Kata Imam Syafi’i, “Engkau tak akan mampu menyenangkan semua
orang.” Namun begitu, ini yang susah menurut saya, seorang stoa adalah mempraktikkan kathekonta:
memenuhi kewajiban-kewajiban sosial-kemasyarakatan yang selayaknya ditunaikan, yang sejatinya itu
tidak wajib.

Stoisme dan Zen dalam Perbandingan


Filsafat Stoa, gagasan-gagasannya yang ditawarkan untuk menemukan kedamaian/kebahagiaan mirip
gagasan-gagasan yang dalam filsafat Zen-Buddhisme 1 . Lebih menekankan ke dalam diri, pada
prinsipnya berenergi atau bersemangat Yin. Dua filsafat laku hidup ini menekankan pentingnya pada
kendali atas pikiran kita. Berbeda sedikit, dalam Zen adalah “mengosongkan pikiran” dan menekankan
pada pengalaman apa adanya atas segala sesuatu.
Ada beberapa poin yang memiliki kesamaan sekaligus sedikit perbedaan pada aspek tertentu,
setidaknya ini yang saya catat, dalam Stoisisme dengan Zen.
1. Kesamaan ajaran Zen dengan Stoisisme adalah konsep kebahagiaan yang bersifat menekankan
lebih ke dalam diri. Kesamaan lainnya, ajaran Zen mengusung cara pandang kesatuan-diri-dan-
Semesta (periksa, misalnya, Wattimena; hal. 50, 59). Dalam istilah Stoisisme ini diistilahkan
dengan interconectedness. Secara tersirat ini mirip kausalitas atau Karma dalam Zen-
Buddhisme.
2. Dari sisi perbedaannya, Zen menekankan pada diri yang mengambil jarak dengan pikiran,
diistilahkan “mengheningkan pikiran” atau “menghentikan pikiran” (Wattimena; hal. 85) dan
lebih menekankan pada pengalaman apa adanya dan sebagaimana adanya. Zen lebih
menekankan dan melatih spontanitas kita dalam segala hal, ini dikatakan sebagai sifat alamiah
manusia dan letak kebahagiaan dalam ajaran Zen. Sedangkan Stoisisme masih “menolerir”

1
Untuk ulasan dua buku yang menjadi pembanding dalam review ini, ulasan buku pertama bisa diakses ke Resensi Buku
"Dengarkanlah (Pandangan Hidup Timur, Zen, dan Jalan Pembebasan)" Karya Reza Wattimena.
rasio. Malahan, rasio adalah hal penting dalam mencapai kebahagiaan yang negatif-logic yang
menekankan untuk pembebasan diri akan emosi-emosi negatif. Stoisme berfokus pada
bagaimana mengelola emosi-emosi negatif yang timbul di pikiran. Meski begitu, dalam hal
tertentu Stoisisme menekankan pada cukupnya pada pengalaman impresi. Pengalaman
bersifat impresi, sekali lagi, memiliki kesamaan dengan Zen, seperti disinggung penulis, terkait
impresi (hal. 100). Dalam istilah Zen, sebagaimana dipaparkan Wattimena, adalah “kenyataan
apa adanya atau kadang disebut intuisi.
3. Meski interconectedness hampir mirip ajaran Karma dalam Zen-Buddhisme, ada sedikit
perbedaan. Interconnectedness adalah cara pandang atas peristiwa segala sesuatu sebagai
kausalitas, tak ada yang kebetulan, ibarat rantai-rantai yang mengait. Zen, memandang
kausalitas, sebagai akibat dari perbuatan diri.
Sepertinya filosofi kaum Stoa berbagi ide dengan ajaran Zen-Buddhisme dalam beberapa hal yang
mendasarnya. Ini menarik untuk menelusuri jauh tentang bagaimana itu bisa terjadi: itu sekedar
kebetulan atau ada relasi kesejarahan antara keduanya.

Penutup
Buku ini menghadirkan filsafat dengan bahasa yang renyah, mudah dipaham oleh semua kalangan.
Narasinya mengalir seperti mendongeng dan bisa dipahami dan dipraktikkan siapa saja. Kekurangan
buku ini, secara pribadi yang terbiasa baca tulisan gaya formal, selain dibubuhinya kisah-kisah pribadi
yang fungsinya sebagai analogi, adalah sistematikanya. Secara pribadi, karena gaya penulisan dan
penyajiannya yang narasi populer, secara relatif, kesulitan memahami dan mengabstraksi topik-topik
yang dibicarakan dan merangkai garis-garis temu imajiner poin-poin di benak saya pribadi. Namun
begitu, buku ini bisa kita jadikan “gerbang” awal untuk memahami Stoisisme lebih lanjut. Lebih dari
semuanya itu, sebagaimana ujar penulis, buku ini ditulis dengan tujuan agar setiap pembacanya bisa
bahagia dengan memahami dan berpegang pada ajaran dikotomi kendali, inti ajaran Stoisisme, dalam
menjalani kehidupan.[]

Pustaka pembanding:
Reza A. A Wattimena, 2018, Dengarkanlah: Pandangan Hidup Timur, Zen dan Jalan Pembebasan,
Karaniya, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai