Anda di halaman 1dari 8

JUDUL : Pengaruh paparan jangka panjang Kadmium/Cd terhadap kesehatan manusia PAPARAN KADMIUM DAN PATAH TULANG LENGAN

BAWAH
ABSTRAK Tujuan studi ini untuk analisa hubungan antara paparan cadmium level rendah dan patah tulang lengan bawah. keseluruhan 1021 pria dan wanita yang terpapar cadmium di swedia dimasukkan. Studi ini menyatakan bahwa paparan cadmium dihubungkan dengan meningkatnya resiko patah tulang lengan bawah pada orangorang usia lebih dari 50 tahun. PENDAHULUAN Sangat sedikit studi yang menunjukan faktor resiko lingkungan untuk patah tulang. Cadmium diketahui menyebabkan kerusakan ginjal dan pada dosis tinggi menyebabkan kerusakan pada tulang. Tujuan studi ini untuk analisa hubungan antara paparan cadmium dosis rendah dan patah tulang lengan bawah. MATERIAL DAN METODE 479 pria dan 542 wanita,usia 16-81 tahun, tinggal dilingkungan / pekerjaan yang terpapar cadmium diuji tahun 1997. Cadmium urin digunakan untuk perkiraan dosis, dan informasi tenteng patah tulang sebelumya dan faktor resiko patah tulang diperoleh dari kuesioner. Patah tualang divalidasi dengan catatan medis. Hubungan antara dosis cadmium dan resiko patah tulang lengan bawah dievaluasi menggunakan Cox proportional hazard regression analysis. HASIL DAN KESIMPULAN Rata-rata cadmium dalam urin dalam studi populasi adalah 0,74 nmol cadmium/mmol kreatinin (10% dan 90% persentil adalah 0,19 dan 1,42, berurutan). Untuk kejadian patah tulang setelah usia 50 tahun (n=558, 32 patah tulang lengan bawah), rasio bahaya patah tulang, biasanya untuk gender dan variasi yang relevan lainnya meningkat 18% (95% CI, 1,0-38%) per unit cadmium dalam urin (nmol cadmium/mmol kreatinin). Ketika subjek dikelompokkan dalam kategori paparan, rasio bahaya mencapai 3,5 (90% CI, 1.1,11) dalam kelompok subjek dengan cadmium dalam urin antara 2 dan 4 nmol/mmol kreatinin dan 8,8 ( 90% CI, 2.6,30) dalam kelompok subjek dengan 4 nmol/mmol kreatinin. Hubungan antara cadmium dan resiko patah tulang sebelum usia 50 adalah nihil. Paparan cadmium dihubungkan dengan meningkatnya resiko patah tulang lengan bawah pada orangorang usia melebihi 50 tahun. INTRODUCTION

Patah tulang karena osteoporosis merupakan masalah seluruh dunia dan angka kejadiannya terus meningkat. Salah satu dampak dari osteoporosis yang parah adalah patah tulang pinggul. Bagaimanapun hanya 1/3 patah tulang pinggul pada lansia, dan lebih banyak terjadi pada tangan khususnya lengan bawah. Menopause, BMD rendah, penurunan tinggi badan, BB rendah, asupan rendah kalsium dan jatuh merupakan factor resiko umum untuk patah tulang tungkai atas.

PAPARAN KADMIUM DOSIS RENDAH DAN OSTEOPOROSIS


ABSTRAK Osteoporosis merupakan penyebab utama kesakitan di seluruh dunia. Banyak factor resiko,seperti usia dan jenis kelamin. Paparan tinggi cadmium menyebabkan kerusakan ginjal dan pada kasus parah juga menyebabkan osteoporosis dan osteomalasia. Kami telah menguji paparan cadmium dosis rendah jangka panjang meningkatkan resiko osteoporosis. Kepadatan mineral tulang di lengan bawah telah diukur pada 520 pria dan 544 wanita, usia 16-81 tahun, lingkungan atau pekerjaan yang terpapar cadmium , menggunakan teknik dual-energy X-ray absorption-etry (DXA). Cadmium dalam urin digunakan untuk perkiraan dosis dan protein HC digunakan sebagai marker kerusakan tubula ginjal. Ada hubungan respon dosis yang jelas antara dosis cadmium dan prevalensi tubular proteinuria. Hubungan sebaliknya ditemukan antara dosis cadmium, tubular proteinuria, dan BMD, beberapa ditunjukan pada orang usia lebih dari 60 tahun. Ada hubungan respon dosis antara dosis cadmium dan osteoporosis. Odds ratio untuk pria adalah 2.2 (95% CI, 1.0-4.8) pada kelompok dosis 0,5-3 nmol cadmium /mmol kreatinin dan 5,3 (2,0-14) pada kategori dosis tinggi (> 3 nmol/mmol kreatinin) dibandingkan dengan kelompok dosis rendah (<0.5 nmol/mmol kreatinin). Untuk wanita, OR adalah 1,8 (0,65-5,3) pada kelompok dosis 0,5-3 nmol/ mmol kreatinin. Kami menyimpulkan bahwa paparan cadmium dosis rendah meningkatkan resiko osteoporosis. PENDAHULUAN Prevalensi osteoporosis dan insiden patah tulang meningkat secara cepat di dunia. Patah tulang karena osteoporosis adalah penyebab utama kesakitan dan kematian. Meskipun osteoporosis kebanyakan terjadi pada wanita menopause, tetapi juga menjadi masalah kesehatan pada pria. Beberapa factor resiko osteoporosis sudah diidentifikasi, seperti usia, jenis kelamin, merokok, alcohol,inactivity, asupan kalsium rendah dan beberapa penyakit dan juga obat. Factor lingkungan, seperti merokok dan alcohol dan factor gya hidup lainnya dianggap berperan dalam penurunan massa tulang pada pria, tetapi studi tenteng paparan lingkungan lainnya masih kurang dikembangkan. Bagaimanapun, beberapa logam seperti aluminium, cadmium, dan timbal sudah diusulkan sebagai factor resiko. Cadmium merupakan partikel yang penting, karena paparan jangka panjang menyebabkan kerusakan tubula ginjal, dimana bisa berkembang menjadi kerusakana ginjal secara keseluruhan dengan efek sekunder gangguan pada tulang, gangguan metabolisme kalsium dan vitamin D.

Studi terbaru oleh penulis yang sama, menyatakan bahwa paparan cadmium di lingkungan memicu demineralisasi tulang rangka dan memicu meningkatnya resiko patah tulang.

PAPARAN CADMUIM DAN RESIKONYA TERHADAP KANKER PAYUDARA Latar Belakang Kadmium, merupakan logam yang sangat keras, yang dianggap karsinogenik pada manusia oleh pemerintahan di AS. Sumber Paparan utama yaitu dari makanan dan rokok. Dan dilakukan penelitian pada populasi dengan menggunakan metode case control pada wanita sebanyak 246 org yang berumur 20-69 tahun yang menderita kanker payudara dan 254 orang dengan usia sama sebagai kontrol. Dengan mengukur tingkat cadmium pada sampel urin yang dilakukan dengan inductively coupled plasma mass spectrometry dan dilakukan interview lewat telepon untuk mendapatkan informasi tentang resiko kanker payudara.Odds Ratio dan 95% kepercayaan untuk kanker payudara dengan tingkat cadmium kreatinin dihitung dengan analisa multivariable.Pada pengujian statisik dua arah, pada wanita yang mempunyai kuartil tertinggi pada tingkat cadmium kreatinin ( 0/58g/g) memiliki dua kali lebih beresiko terjadi kanker payudara pada kuartil yang rendah(<0.26 g/g; OR = 2.29, 95% CI = 1.3 to 4.2) setelah menyesuiakan untuk kemungkinan factor resiko, dan secara statistik terjadi peningkatan resiko dengan meningkatnya tingkat cadmium (P -trend=01). Berdasarkan studi ini, perbedaan resiko absolute adalah 45 (95% Cl:0-77)per 100.000 secara keseluruhan dalam rata rata yang menderita kanker payudara pada 124 per 100.000. Apakah meningkatnya cadmium merupakan factor yang menyebabkan terjadinya kanker payudara .

KERACUNAN KADMIUM YANG MENYEBABKAN TERJADINYA KEMANDULAN PADA LAKI LAI DI NIGERIA

Ringkasan konsentrasi cadmium pada serum dan cairan semen yang diperkirakan menggunakan atomic absorption spektrometri dalam 60 orang laki laki yang mandul du Nigeria. Hasil yang dibandingkan dengan tingkat Cd dalam 40

normozoospermic (dengan melihat umur dan bukti kesuburan). Hubungan antara tingkat Cd dan spermatograms atau HPG-axis yang diselidiki dengan menghubungkan tingkat cadmium dengan serum dan cairan semen dengan karakteristik cairan semen dan tingkat hormone. tingkat Cadmium pada cairan semen lebih tinggi dibandingkan dengan serum.( p<0.001).Tingkat Cd pada Serum dan cairan semen mengalami peningkatan (p<0.001) dalam azoospermis pada perbandingan oligozoospermic dan sabyek yang dikontrol. Suatu hubungan yang negative yang diamati dengan membandingkan tingkat Cd dengan serum dan semua pengujian pada karakteristik semen kecuali volume sperma. Sebuah hubungan yang positif yang juga diamati antara cairan semen dengan tingkat Cd dan FSH. Hasil yang didapat dari penelitian yang pertama yaitu yang melibatkan cadmium yang menyebabkan terjadinya kemandulan pada laki laki di Nigeria yang diperluas dengan memperluas dan mendukung penemuan sebelumnya dengan keterkaitan keracunan cadmium dan laki laki yang mandul. Efek yang kuat yang mengganggu terhadap cadmium pada spermatogenis kemungkinan disebabkan karena toksisitas systemic dan seluler. Sebuah kemungkinan yang berhubungan antara bagian dan HPG-axis yang juga disarankan/diusulkan.

JANGKA PANJANG ASUPAN KADMIUM DAN PERISTIWA POSTMENOPAUSE KANKER ENDOMETRIUM :SEBUAH PENDUDUK DASAR METODE COHORT YANG PROSPEKITIF

Latar Belakang Polutan lingkungan yang mempengaruhi estrogen yang menambah meningkatnya kejadian pada hormone yang berhubungan dengan kanker,tapi dukungannya sangat jarang/kecil. Estrogen yang kuat- pada aktifitas cadmium dalam polutan, yang menengahi reseptor estrogen yang ditunjukkan pada in vivo. Dalam pemeriksaan yang prospektif dalam perkumpulan antara paparan cadmium dan peristiwa postmenopause kanker endometrium. Di swedia mammography cohort merupakan sebuah populasi yang berdasarkan prospektif cohort pada 30,210 wanita yang postmenopause yang secara umum bebas dari diagnosis kanker(1987) dan menyelesaikan kuesioner frekuensi makanan pada tahun 1997. Memperkirakan dasar asupan cadmium dari data dan kandungan cadmium pada semua makanan. Selama 16 thn menindak lanjuti antara dasar/awal dan pertengahan 2006 kita memastikan sebanyak 378 kasus yang terjadi pada endome- trioid adenocarcinoma .Rata rata kemungkinan asupan cadmium yaitu 15 Mg/hari(80%dari sereal dan sayuran). Asupan cadmium yang signifikan secara statistika berhubungan dengan peningkatan resiko kanker endotetrium pada semua wanita, the multivariate relative risk (RR) 1.39 dan [derajad kepercayaan 95%(Cl), 1.04-1.86; Ptrend = 0.019], paling tinggi dan rendah merupakan perbandingan yang tertile. Selama wanita tidak merokok dan mempunyai BMI < 27 kg/m, sedangkan RR 1.85 (CI 95%, 1.13-3.08; Ptrend = 0.009). Peneliti melakukan pengamatan dengan meningkatnya resiko 2.9(CI 95%, 1.05-7.79) yang berhubugan dengan asupan cadmium dalam jangka waktu yang lama diatas rata2 pada thn 1987 dan 1997 pada wanita yang

tidak merokok dengan ketersediaan estrogen rendah (BMI <27 kg/ m dan tidak digunakan hormone pada postmenopause ). Penelitian yang didukung dengan hipotesis dengan menggunakan logam kadmuim yang mempengaruhi estrogen dan dengan cara deminkian dapat meningkatkan resiko pada hormone yang berhubungan dengan kanker.

Chronic kidney disease of unknown aetiology in Sri Lanka: is cadmium a likely cause? Background: The rising prevalence of chronic kidney disease (CKD) and subsequent end stage renal failure necessitating renal replacement therapy has profound consequences for affected individuals and health care resources. This community based study was conducted to identify potential predictors of microalbuminuria in a randomly selected sample of adults from the North Central Province (NCP) of Sri Lanka, where the burden of CKD is pronounced and the underlying cause still unknown. Methods: Exposures to possible risk factors were determined in randomly recruited subjects (425 females and 461males) from selected areas of the NCP of Sri Lanka using an interviewer administered questionnaire.Sulphosalicylic acid and the Light Dependent Resister microalbumin gel filtration method was used for initial screening for microalbuminuria and reconfirmed by the Micral strip test. Results: Microalbumnuria was detected in 6.1% of the females and 8.5% of the males. Smoking (p<0.001), alcohol use (p=0.003), hypertension (p<0.001), diabetes (p<0.001), urinary tract infection (UTI) (p=0.034) and consumption of water from wells in the fields (p=0.025) were associated with microalbuminuria. In the binary logistic regression analysis, hypertension, diabetes mellitus, UTI, drinking well water in the fields, smoking and pesticide spraying were found to be significant predictors of microalbuminuria. Conclusions: Hypertension, diabetes mellitus, UTI, and smoking are known risk factors for microalbuminuria. The association between microalbuminuria and consumption of well water

suggests an environmental aetiology to CKD in NCP.The causative agent is yet to be identified. Investigations for cadmium as a potential causative agent needs to be initiated.

Comparative genomic analyses identify common molecular pathways modulated upon exposure to low doses of arsenic and cadmium. Abstract Background: Exposure to the toxic metals arsenic and cadmium is associated with detrimental health effects including cancers of various organs. While arsenic and cadmium are well known to cause adverse health effects at high doses, the molecular impact resulting from exposure to environmentally relevant doses of these metals remains largely unexplored. Results: In this study, we examined the effects of in vitro exposure to either arsenic or cadmium in human TK6 lymphoblastoid cells using genomics and systems level pathway mapping approaches. A total of 167 genes with differential expression were identified following exposure to either metal with surprisingly no overlap between the two. Real-time PCR was used to confirm target gene expression changes. The gene sets were overlaid onto protein-protein interaction maps to identify metalinduced transcriptional networks. Interestingly, both metalinduced networks were significantly enriched for proteins involved in common biological processes such as tumorigenesis, inflammation, and cell signaling. These findings were further supported by gene set enrichment analysis. Conclusions: This study is the first to compare the transcriptional responses induced by low dose exposure to cadmium and arsenic in human lymphoblastoid cells. These results highlight that even at low levels of exposure both metals can dramatically influence the expression of important cellular pathways.

Evidence for separate translocation pathways in determining cadmium accumulation in grain and aerial plant parts in rice Abstract Background: Cadmium (Cd) translocation and accumulation in the grain and aerial plant parts of rice (Oryza sativa L.) is an important aspect of food safety and phytoextraction in areas with contaminated soil. Because control of Cd translocation and accumulation is likely to be determined by the plants genetics, the Cd contents of grain and the aerial parts of rice may be manipulated to improve food safety and for phytoextraction ability. This study studied Cd translocation and accumulation and their genetic control in aerial parts of rice to provide a starting point for improving food safety and phytoextraction in Cdcontaminated soils. Results: In the japonica rice cultivar "Nipponbare", Cd accumulated in leaves and culms until heading, and in culms and ears after heading. Two quantitative trait loci (QTLs) from indica cv. "Kasalath", qcd4-1 and qcd4-2, affect Cd concentrations in upper plant parts just before heading. Three near-isogenic lines (NILs) with qcd4-1 and qcd4-2 were selected from the "Nipponbare" background, and were analyzed for the effects of each QTL, and for interactions between the two QTLs. From the results compared between "Nipponbare" and each NIL, neither QTL influenced total Cd accumulation in aerial parts at 5 days after heading, but the interaction between two QTLs increased Cd accumulation. At 35 days after heading, qcd4-2 had increased Cd accumulation in the aerial plant parts and decreased translocation from leaves other than flag leaf, but interaction between the two QTLs increased translocation from leaves. NILqcd4-1,2 accumulated higher concentrations of Cd in brown rice than "Nipponbare". Conclusion: Three types of Cd translocation and accumulation patterns demonstrated by NILs suggested that the accumulation of Cd in leaves and culms before heading, and translocation from them after heading are responsible for Cd accumulation in grain. Cd translocation from roots to culms and ears after heading may

direct Cd to the aerial organs without influencing brown rice accumulation.