Anda di halaman 1dari 3

Aneurisme Aorta Abdomen Definisi Aneurisme aorta abdomen adalah dilatasi aorta abdomen yang terlokalisir melebihi diamter

normal sebesar lebih dari 50 persen. Penyakit ini merupakan bentuk tersering dari aneurisma aorta (Upchurch, 2006). Epidemiologi Aneurisme aorta abdomen sering muncul terutama pada individu berusia 65 sampai 75 tahun dan sering diderita oleh laki-laki yang perokok (Upchurch, 2006). Etiologi dan Faktor Resiko Penyebab pasti dari aneurisme aorta abdomen masih tidak diketahui dengan pasti, faktorfaktor yang mempengaruhi adalah (Greenhalgh, 2008):
y y

Rokok, lebih dari 90 % pasien yang menderita aneurisme aorta abdomen adalah perokok Genetik, angka prevalensi pada keluarga sering terjadi pada laki-laki. Ada banyak teori mengenai kelainan genetik yang menyebabkan aneurisme, contohnya teori tentang defisiensi alpha 1-antitrypsin dan teori mutasi X-linked.Kelainan jaringan ikat seperti pada sindrom Marfan dan sindrom Ehlers-Danlos juga diasosiasikan dengan kejadian aneurisma

y y

Aterosklerosis, yang sering didapatkan pada dinding arteri pada aneurisme aorta abdomenis Penyebab lain seperti infeksi, trauma, dan arteritis

Patofisiologi Perubahan histopatologis dari aorta aneurism sering terlihat pada tunika media dan tunika intima. Terjadi akumulasi lemak dalam bentuk foam cell, kristal kolesterol ekstraseluler, kalsifikasi, trombosis, ulserasi, dan ruptur lapisan pembuluh darah. Degradasi tunika media oleh proses proteolitik menjadi dasar patofisiologi pada aneurisma aorta abdomenis. Hal ini mengakibatkan hilangnya elastin dari tunika media sehingga mudah terjadi peningkatan tekanan darah. Berkurangnya vasa vasorum pada aorta abodminal menyebabkan tunika media bergantung pada proses difusi untuk transfer nutrisi (MacSweeney, 1994).

Gejala Klinis

Sebagian besar gejala aneurisme adalah asimptomatik. Ketika aneurisme aorta abdomen semakin meluas maka muncul gejala nyeri berdenyut pada perut, dada, punggung bawah, dan skrotum. Resiko ruptur sangat tinggi pada aneurisme yang simptomatik, sehingga menjadi indikasi bagi tindakan operasi. Komplikasi aneurisme meliputi ruptur arteri, embolisasi perifer, oklusi aorta dan fistula aortocaval dan aortoduodenal. Perdarahan pada aneurisme biasanya menyebabkan syok hipovolemik dengan gejala hipotensi, takikardi, sianosis, dan perubahan status mental. Perdarahan dapat terjadi retroperitoneal atau intraperitoneal. Ekimosis flank adalah tanda dari perdarahan retroperitoneal atau disebut juga Grey Turners sign (Brown,1999). Diagnosa Banyak penderita yang tidak memiliki gejala dan terdiagnosis pada pemeriksaan fisik rutin atau pada pemeriksaan rontgen yang dilakukan untuk alasan lain. Pada pemeriksaan fisik, dokter bisa merasakan adanya massa yang berdenyut di garis tengah perut. Aneurisma yang berkembang dengan cepat dan hampir pecah, sering terasa nyeri atau menimbulkan nyeri tumpul bila ditekan. Pada penderita yang gemuk, aneurisma yang lebarpun sering tidak dapat ditemukan (Greenhalgh, 2008). Beberapa pemeriksaan laboratorium dapat membantu menegakkan diagnosis aneurisma (Greenhalgh, 2008): y Foto rontgen perut bisa memperlihatkan suatu aneurisma yang memiliki endapan kalsium di dindingnya y y USG bisa menunjukkan dengan jelas ukuran dari aneurisma CT scan yang dilakukan setelah penyuntikan zat warna secara intravena, bisa secara tepat menunjukkan ukuran dan bentuk aneurisma. y MRI scan juga merupakan pemeriksaan yang akurat, tetapi biayanya mahal.

Terapi Pengobatan aneurisma tergantung kepada ukurannya. Jika lebarnya kurang dari 5 cm, jarang pecah; tetapi jika lebih lebar dari 6 cm, sering pecah. Karena itu pada aneurisma yang lebih lebar dari 5 cm, dilakukan pembedahan. Pada pembedahan dimasukkan pencangkokan sintetik untuk memperbaiki aneurisma (Greenhalgh, 2008).

Prognosa Kematian post operasi pada kasus aneurisma yang sudah ruptur telah cukup berkurang dalam beberapa dekade terakhir namun masih bertahan lebih dari 40 %. Bila operasi dilakukan sebelum terjadi ruptur maka angka kematian sebesar 1-6 %. Hal ini terjadi karena jika suatu aneurisma pecah, ginjal memiliki resiko untuk mengalami cedera karena terganggunya aliran darah ke ginjal atau karena syok akibat kehilangan darah. Jika setelah pembedahan terjadi gagal ginjal, harapan hidup penderita sangat tipis. Aneurisma yang pecah dan tidak diobati, selalu berakibat fatal (Greenhalgh, 2008).

DAFTAR PUSTAKA Brown L.C. 1999. Risk factors for aneurysm rupture in patients kept under ultrasound surveillance (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10493476, diakses pada tanggal 1 Juli 2011) Upchurch, G.R. 2006. Abdominal aortic aneurysm (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/

pubmed/16623206, diakses pada tanggal 1 Juli 2011) Greenhalgh, R.M. 2008. Endovascular repair of abdominal aortic aneurysm

(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18234753, diakses pada tanggal 1 Juli 2011) MacSweeney, S.T.R. 1994. Pathogenesis of abdominal aortic aneurysm (http://www.ncbi.nlm. nih.gov/pubmed/12027981, diakses pada tanggal 1 Juli 2011)