Anda di halaman 1dari 9

Makalah Sulfonamid

Disusun Oleh : Prhitaningtyas A.G Fitri Rahmania Farikha Zaenuri Ryan Septian Wuri Sri Widiastuti Safira Firdaus Sinta

Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan

BAB 1 PENDAHULUAN

Sulfonamid adalah kemoterapeutik yang pertama digunakan secara sistemik untuk pengobatan dan pencegahan penyakit infeksi pada manusia.Penggunaan sulfonamide kemudian terdesak oleh antibiuotik.Pertengahan tahun 1970 penemuan kegunaan sedian kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol meningkatkan kembali penggunaan sulfonamide untuk pengobatan penyakit infeksi tertentu Sulfonamid merupakan kelompok zat antibakteri dengan rumus dasar yang sama, yaitu H2N-C6H4-SO2NHR dan R adalah bermacam-macam substituen. Pada prinsipnya, senyawa-senyawa ini digunakan untuk menghadapi berbagai

infeksi.Namun, setelah ditemukan zat-zat antibiotika, sejak tahun 1980an indikasi dan penggunaannya semakin bekurang.Meskipun demikian, dari sudut sejarah, senyawa-senyawa ini penting karena merupakan kelompok obat pertama yang digunakan secara efektif terhadap infeksi bakteri Selain sebagai kemoterapeutika, senyawa-senyawa sulfonamide juga

digunakan sebagai diuretika dan antiodiabetika oral. Perkembangan sejarah, pada tahun 1935, Domank telah menemukan bahwa suatu zat warna merah, brontosil rubrum, bersifat bakterisid in vivo tetapi inektif in vitro.Ternyata zat ini dalam tubuh dipecah menjadi sulfanilamide yang juga aktif in vitro.Berdasarkan penemuan ini kemudian disintesa sulfapiridin yaitu obat pertama yang digunakan secara sistemis untuk pengobatan radang paru (1937). Dalam waktu singkat obat ini diganti oleh sulfathiazole (Cobazol) yang kurang toksik (1939), disusul pula oleh sulfaniazine ,

sulfmetoksazole, dan turunan-turunan lainnya yang lebih aman lagi. Setelah diintroduksi derivate-derivat yang sukar resorbsinya dari usus (sulfaguanidin dan lain-lain), akhirnya disintesa sulfa dengan efek panjang, antara lain sulfadimetoksil (Madribon), sulfametoksipiridazine (Laderkyn), dan sulfalen Sulfonamida bersifat amfoter, artinya dapat membentuk garam dengan asam maupun dengan basa. Daya larutnya dalam air sangat kecil garam alkalinya lebih baik, walaupun larutan ini tidak stabil karena mudah terurai Sulfonamide berbentuk Kristal putih yang umumnya sukar larut dalam air, tetapi garam natriumnya mudah larut. Rumus dasarnya adalah :

Berbagai variasi radikal R pada gugus amida (-SO2NHR) dan substitusi gugvus amino (NH2) menyebabkan perubahan sifat fisik, kimia dan daya antibakteri sulfonamid Sulfonamid mempunyai spectrum antibakteri yang luas, meskipun kurang kuat dibandingkan dengan antibiotik dan strain mikroba yang resisten semakin

meningkat. Golongan obat ini umumnya hanya bersifat bakteriostatik, namun pada kadar yang tinggi dalam urin, sulfonamide dapat bersifat bakterisid Obat-obat ini memiliki daya kerja bakteriostatik yang luas terhadap bakteri Gram positif dan Gram negative tetapi Pseudomonas, Proteus, dan Streptococcus faecalestidak aktif

BAB II

A. MEKANISME AKSI Struktur dari Sulfonamid mirip dengan p-aminobenzoic acid (PABA) yang merupakan prekursor DHF. Mekanisme kerja dari sulfonamide adalah

sebagai substrat palsu dimana sulfonamide berkompetisi dengan PABA pada sintesis DHF . Karenanya efeknya berupa bakteriostatik yang menghambat pertumbuhan dan replikasi bakteri. Bakteri memerlukan PABA (p-aminobenzoicacid) untuk membentuk asam folat yang digunakan untuk sitesis purin dan asam-asam nukleat. Sulfonamide merupakan penghambat kompetitif PABA Sulfonamide, berkompetisidengan PABA

Dihidropteroat sintetase

Asamdihidrofolat Dihidrofolatre duktase

Trimetropim

Asamtetrahidrofolat

Purin

DNA

Mekanisme kerjanya berdasarkan sintesis dihidro folat dalam bakteri dengan cara antagonisme saingan dengan PABA. Banyak jenis bakteri membutuhkan asam folat untuk membangun asam-asam intinya DNA dan RNA. Asam folat ini dibentuknya sendiri dari bahan pangkal PABA (para-aminobenzoicacid) yang terdapat dimana-mana dalam tubuh manusia. Rumus PABA menyerupai rumus dasar sulfonamide. Bakteri keliru menggunakan sulfa sebagai bahan untuk mensintesa asam folatnya, sehingga DNA / RNA tidak terbentuk lagi sehingga pertumbuhan bakteri terhenti. Sel-sel mamalia tidak dipengaruhi oleh sulfonamide karena mamalia dan beberapa bakteri (misalnya str. faecalis dan Enterococci lainnya) tidak membuat asam folat sendiri, tetapi menerimanya dalam bentuk jadi yaitu dalam bentuk makanan, sehingga tidak mengalami gangguan pada metabolismenya. Dalam nanah terdapat banyak PABA, sehingga efek sulfonamide dihambat oleh adanya nanah dan jaringan nekrotik, karena kebutuhan mikroba akan asam folat berkurang dalam media yang mengandung basa purin dan timidin.

B. HUBUNGAN STRUKTUR DAN AKTIVITAS

Sulfonamida adalah senyawa organik yang mengandung SO dan NH 2, sulfonamide merupakan analog structural asam para amino benzene acid yang sangat penting untuk sintesis asam folat pada bakteri Guguss amino primer aromatis (NH2) sangat penting untuk Cincin benzene di ganti senyawa tidak aktif substitusi pada cincin

aktvitas, jika gugus ini tersubstitusi maka sulfonamid tidak aktif. -

Benzene menurunkan aktv SO2-C6H4-(P) NH2 tetap aktif CONH-C6H4-(p)NH2 atau CO-C6H4-(p)NH2 aktivitas turun

SULFONAMIDE SEBAGAI PRODUK TUNGGAL DAN KOMBINASI

Sulfonamide bekerja dengan bertindak sebagai inhibitor kompetitif terhadap enzim dihidropteroate sintetase (DHPS). Dengan dihambatnya enzim DHPS ini menyebabkan tidak terbentuknya asam tetrahidrofolat bagi bakteri.

Tetrahidrofolat merupakan bentuk aktif asam folat, di mana fungsinya adalah untuk berbagai peran biologis di antaranya dalam produksi dan pemeliharaan sel serta sintesis DNA dan protein. Biasanya Sulfonamide digunakan untuk penyakit Neiserria meningitis.

KOMBINASI DENGAN TRIMETROPIM Senyawa yang memperlihatkan efek sinergistik paling kuat bila digunakan besama sulfonamide ialah trimetropim. Senyawa ini merupakan senyawa penghambat enzim dihidrofolat reduktase yang kuat dan selektif. Enzim ini berfungsi mereduksi asam dihidrofolat menjadi asam tetrahidrofolat, jadi pemberian sulfonamid bersama trimetropim menyebabkan hambatan berangkai dalam reaksi pembentukan asam tetrahidrofolat Kontrimoksazole adalah suatu kombinasi dari sulfonametoksazol + trimetoprim dalam perbandingan 5:1 (400 : 80 mg). yang terakhir adalah suatu obat malaria dengan spectrum kerja antibakteri yang mirip sulfa dan efektif terhadap sebagian besar kuman Gram-positif dan Gram-negatif. Walaupun kedua komponen masing-masing hanya bersifat bakteriostatik, kombinasinya berkhasiat bakterisid terhadap bakteri yang sama juga terhadap Salmonella, proteus, dan H. influenza. Pada umumnya kombinasi dari sulfonamide + trometoprim memperkuat khasiatnya (potensial) serta menurunkan resiko resistensi dengan kuat.

Kombinasi trimertoprim dan sulfa lain dengan sifat-sifat dan penggunaan sama dengan kontrimoksazole adalah 1. 2. 3. Supristol = sulfamoxol 200 mg + trimetoprim 40 mg Kelfprim = sulfalen 200 mg + trimetoprim 250 mg Lidatrim = sulfametrol 400 mg + trimetoprim 80 mg

Mekanisme kerjanya berdasarkan teori sequential blockade dari Hitchings (1966), yakni bila dua obat bekerja terhadap dua titik berturut-turut dari suatu proses enzim bakteri, maka efeknya adalah potensial. Keuntungan penting lain dari kombinasi ini adalah timbulnya resistensi lebih lambat dari pada komponenkomponennya sendiri. Hal ini adalah jelas, karena bakteri yang menjadi resisten untuk salah satu komponen masih dapat dimusnahkan oleh yang lain.