Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Sejak diberikannya kelekuasaan penanaman modal khususnya penanaman modal asing oleh pemerintah Indonesia untuk melaksanakan usahanya di Indonesia hingga saat ini telah berjalan kurang lebih 36 tahun lamanya. Dalam jangka waktu itu sudah banyak proyek-proyek yang didirikan baik dengan modal asing maupun dengan modal dalam negeri dan sudah banyak pula yang menghasilkan produk mulai dari industri jasa sampai dengan industri pertambangan. Pada prinsipnya, investor yang menanamkan investasinya di Indonesia mengharapkan investasi yang ditanamkannya dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya dan tidak menimbulkan gangguan baik dari pihak pemerintah sendiri maupun dari masyarakat sekitarnya.semakin baik dan aman dalam menjalankan usahanya para investor, maka semakin besar keuntungan yang akan diperolehnya di kemudian hari. Walaupun para investor telah menjalankan usahanya dengan baik, tidak tertutup kemungkinan usaha yang dijalankannya menimbulkan persoalan dengan pihak pemerintah maupun masyarakat sekitarnya. Yang menjadi persoalannya adalah bagaimana cara penyelesaian sengketa yang timbul antara investor dengan pihak Pemerintah Indonesia atau masyarakat sekitarnya. Untuk penyelesaian sengketa tersebut diperlukan suatu cara yang khusus untuk diselesaiakan agar sengketa tersebut tidak berlarut-larut. Untuk itu, dalam makalah ini penulis mencoba untuk menguraikan bagaimana proses penyelesaian sengketa penanaman modal.

1.2 Rumusan Masalah Adapun masalah-masalah yang akan penulis bahas dalam makalah ini, yaitu: 1. Bagaimana cara atau proses penyelesaian sengketa antara Pemerintah dan investor domestic di Indonesia? 2. Bagaimana cara penyelesaian sengketa antara pemerintah dengan investor asing dalam ketentuan internasional maupun peraturan perundang-undangan di Indonesia?

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Penyelesaian Sengketa Penanaman Modal yang Timbul Antara Pemerintah dengan Domestik Investasi dari aspek pembiayaan dibagi menjadi 2, yaitu investasi yang bersumber dari modal dalam negeri (PMDN) dan investasi yang bersumber dari modal asing (PMA). Oleh karena itu, investor yang menanamkan modalnya di Indonesia juga terbagi 2, yaitu investor domestik dan investor asing. Apabila sengketa yang terjadi antara investor domestik dengan pihak Pemerintah Indonesia dan masyarakat sekitarnya, hukum yang digunakan adalah hukum Indonesia. Ada dua cara yang ditempuh oleh investor domestik untuk menyelesaikan sengketa yang timbul antara Pemerintah Indonesia dengan investor domestik, yaitu : 1. Penyelesaian sengketa melalui nonlitigasi atau lazim disebut alternative dispute resolution (ADR), terbagi atas: Konsultasi Negosiasi Mediasi Konsiliasi Penilaian ahli1

2. Litigasi Dalam kontrak yang dibuatoleh para pihak dalam kontrak patungan di bidang penanaman modal biasanya terdapat klausul cara penyelaesaian sengketa melalui pengadilan setempat jika cara musyawarah untuk penyelesaian sengketa tidak tercapai. Para investor menganggap penyelesaian sengketa melalui lembaga pengadilan di Indonesia adalah sebagai berikut: 1. Penyelesaian sengketanya sangat lambat 2. Biaya perkara mahal 3. Peradilan umumnya tidak responsive, yaitu

Salim HS dan Budi Sutrisno, Hukum Investasi di Indonesia, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2008, hal. 355.

Peradilan kurang atau tidak tanggap terhadap kepentingan umum dan sering kali mengabaikan kepentingan dan kebutuhan masyarakat banyak sehinggap dianggap tidak adil dan tidak fair

Peradilan kurang tanggap melayani kepentingan rakyat miskin

4. Putusan pengadilan: Tidak bersifat problem solving Menempatkan kedua belah pihak yang bersengketa pada dua sisi yang saling berhadapan, yaitu pihak yang menang dan pihak yang kalah Bersifat membinggungkan atau erratic Kemampuan para hakim bersifat generalis2

Apabila kelima cara tersebut tidak dapat menyelesaikan sengketa, maka salah satu pihak yang dirugikan dapat mengajukan persoalan itu ke pengadilan.

Dalam pasal 32 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal telah ditentukan cara penyelesaian sengketa yang timbul dalam penanaman modal antara pemerintah dengan investor domestik, yaitu : a. Musyawarah dan mufakat Adalah salah satu penyelesaian sengketa dengan melakukan pembahasan bersama dengan maksud untuk mencapai keputusan dan kesepakatan atas penyelesaian sengketa secara bersama-sama. b. Arbitrase Adalah cara penyelesaian sengketa dengan menggunakan jasa arbiter atau majelis arbiter, sehingga arbiter atau mejelis arbiter yang akan menyelesaikan sengketa. c. Alternatif penyelesaian sengketa Adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati antara Pemerintah Indonesia dengan investor domestic, yakni penyelesaian sengketa di luar pengadilan dengan cara ADR di atas. d. Pengadilan

Dhaniswara K. Harjono, Hukum Penanaman Modal, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2007, hal. 263.

Adalah cara untuk mengakhiri sengketa , dengan penyelesaiannya dilakukan di muka dan dihadapan pengadilan. Penyelesaian melalui pengadilan memerlukan waktu yang lama dan biaya yang besar.3

2.2 Penyelesaian Sengketa Penanaman Modal yang Timbul Antara Pemerintah dengan Investor Asing Undang-undang Nomor 5 Tahun 1968 tentang Persetujuan Atas Konvensi tentang Penyelesaian perselisihan antara Negara dan Warga Negara Asing Mengenai Penanaman Modal Telah ditentukan pola penyelesaian sengketa yang terjadi antara Negara dengan warga Negara aing. Di dalam undang-undang itu ditentukan bahwa ketentuan yang digunakan untuk penyelesaian sengketa antara Negara dan warga Negara asing adalah International Centre for the Settlement of Investment Dispute (ICSID).4 Kebijakan Indonesia untuk meratifikasi konvensi ICSID didasarkan pada pertimbangan agar dapat menarik penanaman modal asing sebanyak mungkin ke Indonesia, memberikan rasa aman. International Centre for the Settlement of Investment Dispute (ICSID) lahir dari Convention on the Settlement of Investment Dispute Between States and Nationals of Other States yang merupakan badan yang sengaja didirikan Bank Dunia. Lembaga ini ditetapkan tanggal 14 Oktober 1966 di Amerika Serikat. Kantor pusatnya berada di Washington, Amerika Serikat.5 Tujuan lembaga ICSID adalah untuk penyelesaian sengketa yang timbul di bidang investasi antara suatu negara dengan asing di antara sesame negara peserta konvensi. Hal-hal yang diatur dalam ICSID : 1. Chapter I International Centre for the Settlement of Investment Dispute (ICSID) (Artikel 124) 2. Chapter II Jurisdiction on the Centre (Artikel 25-27) 3. Chapter III Conciliation (Artikel 28-35) 4. Chapter IV Arbitration (Artikel 36-55) 5. Chapter V Replacement and Discualification of Conciliators and Arbitrator (Artikel 56-58) 6. Chapter VI Cost of Proceding (Artikel 59-63)
3

Ibid., hal. 265-266. Salim HS dan Budi Sutrisno, op. cit., hal. 358-359. 5 Ibid.

7. Chapter VII Disputes between Contracting States (Artikel 64) 8. Chapter VIII Amendment (Artikel 65-66) 9. Chapter IX Final Provisions (Artikel 67-75)6

Berdasarkan keterangan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat 2 pola penyelesaian sengketa, yaitu: a. Penyelesaian sengketa melalui konsiliasi b. Penyelesaian sengketa melalui arbitrase

Konsiliasi Konsiliasi adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan dam menyelesaikan perselisihan tersebut. Menurut Oppenheim, konsiliasi adalah suatu proses penyelesaian sengketa dengan menyerahkannya kepada suatu komisi orang-orang yang bertugas menguraikan / menjelaskan fakta-fakta dan (biasanya setelah mendengar para pihak dan mengupayakan agar mereka mencapai suatu kesepakatan), membuat usulan-usulan suatu penyelesaian, namun keputusan tersebut tidak mengikat.7 Penyelesaian sengketa melalui konsialisi diatur dalam Artikel 2samapi dengan 35 ICSID. Hal-hal yang diatur dalam artikel tersebut, yaitu: 1. Komisi konsiliasi Komisi konsiliasi berada di bawah pengawasan Dewan Adminstratif yang diketuai oleh Presiden Bank Dunia. Badan Komisi Konsiliasi, yang merupakan salah satu lembaga yang berada di bawah ICSID, di samping badan arbitrase. Komisi konsiliasi ini mempunyai kewenangan khusus untuk menyelesaikan persengketaan melalui jalan damai. 2. Anggota komisi Anggota yang duduk dalam komisi konsiliasi disebut dengan konsiliator. Jumlah anggota konsiliator boleh terdiri dari satu orang, yang disebut konsiliator tunggal (sole cinsiliator), tetapi boleh juga terdiri dari beberapa orang asalkan jumlahnya ganjil (any uneven number). 3. Pengajuan konsiliasi
6 7

Ibid., hal. 360. Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum Dalam Bisnis, PT Rineka Cipta, Jakrta, 1996, hal. 52.

Agar permohonan dapat diminta kepada ICSID untuk diselesaikan oleh Comission atau komisi pendamai, harus berdasarkan kesepakatan para pihak. Tanpa adanya kesepakatan dalam perjanjin yang menyatakan perselisihan yang terjadi diantara mereka akan diselesaikan melalui perdamain menurut tata cara yang diatur dalam ICSID, permohonan yang demikian akan ditolak atas alasan tidak termasuk yurisdiksinya. Kasepakatantentang konsiliasi dapat dicantumkan bersamaan dengan perjanjian pokok dalam bentuk pactum de compromitendo. 4. Jenis perselisihan Jenis perselisihan yang dapat diajukan kepada Komisi ICSID hanya persengketaan yang timbul dari perjanjian penanaman modal atau joint venture antara warga negara dengan warga negara asing. Jenis perselisihan joint venture keuangan, perdagangan, atau alih teknologi. 5. Permohonan konsiliasi Dalam Artikel 28 ICSID ditentukan bahwa permohonan konsiliasi diajukan oleh satu pihak kepada Sekretaris Jenderal ICSID, dengan ketentuan : a. Permohonan dalam bentuk tertulis b. Mencantumkan identitas para pihak c. Melampirkan kesepakatan tentang penyelesaian melalui komisi konsiliasi menurut ketentuan ICSID. Sekretaris Jenderal meneliti tentang permohonan salah satu pihak tersebut sebvelum permohonan tersebut didaftarkan. Apabila perselisihan yang diajukan dalam permohonan termasuk dalam yurisdiknya, maka permohonan akan didaftarkan. Sedangkan kalau tidak termasuk dalam yurisdiksinya, pendaftaran ditolak. Sekretaris Jenderal harus tersebut bisa menyangkut bidang

memberitahukan para pihak mengenai pendaftaran perkara diterima maupun ditolak. Setelah Sekretaris Jenderal menerima permohonan konsiliasi, sesegera mungkin Sekretaris Jenderal tersebut harus menyampaikan permohonan kepada pihak lawan. Tujuannya adalah agar pihak lawan mengetahui adanya permohon konsiliasi dari pihak pemohon. 6. Penunjukan, jumlah, dan penunjukan jumlah konsiliator Setelah permohonan didaftarkan, ICSID segera membentuk komisi konsiliasi. Agar komisi bisa berdiri, dibarengi dengan penunujukan anggota konsiliator yang akan bertindak dan berfungsi menyelesaikan perdamaian yang diminta. Berdasarkan pasal 2ayat (2) huruf a,

ditentukan jumlah konsiliator, yaitu konsiliator tunggal dan konsiliator yang terdiri dari bebrapa orang (harus ganjil). Apabila para pihak tidak setuju mengenai jumlah dan tata cara penunjukan anggota konsiliator, komisi konsiliator harus : a. Terdiri dari 3 orang anggota b. Masing-masing pihak menunjuk seorang konsiliator c. Sedang anggota konsiliator yang ketiga yang akan bertindak sebagai ketua, ditunjuk berdasarkan persetujuan kedua belah pihak Apabila dalam jangka waktu 90 hari sejak pemberitahuan pendaftaran permohonan, dlam permohonan, salah satu pihak dapat mengajukan permintaan kepada The Chairmant of Administrative Council agar menunjuk anggota konsiliator. Penunujukan dilakukan oleh Chairman, setelah terlebih dahulu mengadakan konsultasi dengan kedua belah pihak. Syarat penunjukan konsiliator dalam pasal 14 ayat (1) ICSID, yaitu : Memiliki integritas moral yang tinggi Dikenal sebagai orang yang memiliki kompetisi di bidang hukum, perdagangan, industri, dan keuangan Orngnya benar-benar dapat memberikan pertimbangan yang bebas dan tidak bersikap persial atau memihak 7. Proses penyelesaisn konsiliasi Dalam ketentuan ICSID disebut bahwa konsiliasi hanya akan mengadili perselisihan sepanjang hal itu yang meliputi kompetensinya sehingga sa;ah satu pihak diberikan hak untuk mengajukan eksepsi atau bantahan tentang yurisdiksi. Substansi eksepsinya adalah berkaitan dengan ketidakwenangan dari ICSID. Apabila ada eksepsi yang demikian, komisi harus mempertimbangkan , apakah hal itu diputus melalui putusan sela atau akan diselesaikan bersama dengan pokok sengketa. Tata cara proses penyelesaian sengketa dilakukan menurut ketentuan ICSID, apabila ada permasalahan yang menyangku sengketa, tetapi tidak diatur didalamnya, cara penyelesaian dapat dilakukan dengan tata cara yang disetujui oleh para pihak. 8. Penyelesaian konsiliasi a. Tahap penjernihan perselisihan Ada dua cara yang dilakukan, yaitu :
7

Melalui konsultasi secara terpisah di antara para pihak Melalui konsultasi terbuka berhadapan dengan kedua belah pihak dalam suatu pertemuan yang ditentukan

b. Menemukan kesepakatan Di sini diperlukan kejelian dan keseksamaan menampung keinginan para pihak agar dapat menyusun rumusan yang memenuhi keinginan mereka sehingga kesimpulan rumusan yang disusun dapat disetujui para pihak secara timbal balik. Hanya kesimpulan rumusan yang saling menguntungkan yang dapat mendekatkan mereka menerima dan menyetujui usaha konsiliasi. Usaha untuk mencoba menemukan persetujuan konsiliasi yang dapat diterima secara timbal balik dengan cara menyampaikan anjuran-anjuran untuk menerima rumusan perdamain yang disusun komisi. Peran aktif dan kerjasama para pihak yang dilandasi itikad baik dari kedua belah pihak sangat menentukan. c. Membuat nota laporan persetujuan Nota laporan berisi tentang : Pokok perselisihan Mencatat atau merekam dalam laporan tentang isi p[ersetujuan yang dicapai kedua belah pihak Notalaporan dapat disamakan dengan putusan atau ketetapan The Conciliation Commission. Hal yang dimuat dalam nota laporan mengikat dan harus ditaati kedua belah pihak sebab apa yang tercantum dalam nota laporan merupakan persetujuan kedua belah pihak. d. Nota laporan kegagalan mencapai perdamaian. Apabila perdamaian tidak tercapai komisi konsiliasi harus menutup proses penyelesaian diikuti dengan membuat nota laporan. Isi nota laporan adalah penegasan bahwa para pihak gagal mencapai persetujua konsiliasi. Pembuatan nota harus dilakukan apabila salah satu pihak tidak mau datang atau tidak mau ikut berpartisipasi dalam proses penyelesaian konsiliasi.8

Salim HS dan Budi sutrisno, op. Cit., hal. 361 hal. 361-367.

Arbitrase Arbitrase adalah proses penyelesaian atau pemutusan sengketa di luar pengadilan oleh seorang arbiter atau majelis arbitrase yang berdasarkan persetujuan bahwa mereka akan tunduk kepada atau menaati keputusan yang diberikan oleh majelis arbitrase atau arbiter yang mereka pilih atau tunjuk. Lembaga arbitrase ICSID merupakan suatu lembaga penyelesaian perselisihan sengketa penanaman modal asing yang sifatnya privat atau swasta, sehingga untuk melaksanakan putusan yang telah ditetapkannya haruslah mempunyai alat perlengkapan yang dapat memaksa putusannya itu. Alat perlengkapan tersebut tidak dipunyai oleh ICSID, maka diperlukan alat perlengkapan yang dapat memaksa putusan tersebut, yaitu badan peradilan suatu Negara untuk mengakui dan aksekusi terhadap putusan arbitrase tersebut. Hal-hal yang diatur dalam Artikel 36 sampai 55 ICSID adalah sebagai berikut: 1. Tata cara pengajuan permohonan arbitrase Dalam Artikel 36 ICSID disebutkan bahwa pengajuan permohonan penyelesaian sengketa kepada Centre adalah melalui forum arbitrase. Tata caranya adalah sebagai berikut a. Pengajuan permohonan disampaikan kepada Sekretaris Jenderal Dewan Administrasi Centre b. Permohonan diajukan secara tertulis c. Permohonan membuat penjelasan tentang : Pokok-pokok perselisihan Identitas para pihak Mengenai adanya persetujuan kedua belah pihak yang bersengketa untuk mengajukan perselisihan yang timbul menurut ketentuan Centre.9 Setelah permohonan tersebut diterima, Sekretaris Jenderal mendaftarkan pendaftaran tersebut, kecuali jika Sekretaris Jenderal menemukan bahwa perselisihan tersebut timbul nyata-nyata berada di luar yurisdiksinya, maka perkara tersebut tidak daftarkan. Permohonan yang diterima maupun yang ditolak, Sekretaris Jenderal harus menyampaikan kepada para pihak dan salinan permohonan kepada pihak lawan. 2. Pembentukan tribunal arbitrase

Ibid.

Setelah permohonan tersebut didaftarkan dan telah diberitahukan kepada para pihak, Centre harus segera membentuk Majelis arbitrase (tribunal arbitrase) dalam jangka waktu 90 hari sejak pemberitahuan permohonan didaftarkan diterima para pihak. Arbiter yang ditunjuk haruslah diluar dari warga Negara yang sedang berselisih tersebut. Dalam Artikel 37 ayat 2 ICSID, ketentuan jumlah mahkamah arbitrase : Boleh terdiri dari seorang arbiter saja Boleh juga terdiri dari beberapa prang tetapi jumlahnya harus ganjil

Jika para pihak tidak menyetujui tata cara penunjukan tersebut, maka penunjukan arbiter dilakukan dengan acuan Artikel 37 ayat 2 huruf b ICSID, dengan cara : Anggota harus terdiri dari 3 orang arbiter Masing-masing pihak menunjuk arbiter yang mereka pilih Anggota ketiga yang ditunjuk berdasarkan persetujuan bersama semua pihak, secara langsung jadi ketua dari majelis arbitrase. 3. Kewenangan dan fingsi tribunal arbitrase Kewenangan dari arbitrase centre adalah untuk mengadili atau memutus perselisihan sesuai dengan kompetensinya. Jika ada bantahan dari salah satu pihak bahwa perselisihan tersebut tidak termasuk yurisdiksi Centre, maka majelis arbitrase terlebih dahulu mempertimbangkan dan memutus tentang hal tersebut dalam putusan pendahuluan dan bias juga diputus bersamaan dengan pokok perselisihan. Kewenangan dan fungsi memutus perselisihan oleh majelis arbitrase: a. Memutus sengketa menurut hukum : Centre harus memutus berdasarkan hukum yang dipilih oleh para pihak Jika tidak ada pilihan hukum dari para pihak, Centre menerapkan hukum dari Negara peserta yang berselisih dengan tetap berpedoman pada ketentuan dan asa hukum internasional Centre tidak boleh menerapkan hukum yang tidak dikenal oleh para pihak yang berselisih. Centre dapat memutus perselisihan berdasarkan kepatutan atau ex aequo et bono, jika hal itu disepakati para pihak dalam perjanjian. b. Memanggil dan melakukan pemeriksaan setempat, meliputi :

10

Memanggil atau minta pihak-pihak untuk menyerahkan dokumen atau alat bukti yang dianggap penting

Melakukan pemeriksaan setempat atau memeriksa langsung barang, orang, serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dianggap perlu dan bermanfaat dalam penyelesaian perselisihan.10

Kewengan tersebut gugur jika para pihak menetukan lain dalam perjanjian. c. Putusan provisi Penjatuhan putusan didasarkan pada pertimbangan untuk melindungi dan menghormati hak dan kepentingan salah satu pihak. Dalam putusan atau tindakan sementara, majelis arbitrase dapat memasukkan penyitaan atas barang yang disengketakan maupun pelarangan penjualan atau pemindahan barang yang menjadi objek yang langung terlibat dalam perselisihan. 4. Putusan arbitrase centre Tata cara pengambilan keputusan oleh arbitrase Centre (Artikel 48 ICSID), yaitu: a. Putusan diambil berdasar suara mayoritas anggota arbiter. b. Putusan arbiter yang sah ialah: Dituangkan secara tertulis Ditandatangani oleh anggota arbiter yang menyetujui putusan

c. Putusan memuat segala segi permasalahan serta alasan-alasan yang menyangkut dasar pertimbangan putusan. d. Setiap anggota arbiter dibenarkan mencantumkan pendapat pribadi dalam putusan, meskipun pendapat tersebut berbeda atau menyimpang dari pendapat mayoritas annggota arbiter. Bahkan arbiter juga boleh mencantumkan suatu pernyataan yang merupakan alasan mengapa dia berbeda pendapat dengan mayoritas anggota arbiter. e. Centre tidak boleh mempublikasikan putusan, tanpa persetujuan para pihak.11 Kemudian Sekretaris Jenderal harus memberitahukan dan mengirimkan salinan putusan tersebut kepada para pihak. Putusan lembaga arbitrase ini bersifat final dan binding. Selama 45 hari sejak salinan putusan dikirimkan kepada para pihak, para pihak dapat mengajukan pertanyaan seputar putusan tersebut.
10 11

Ibid., hal. 371. Ibid., hal. 372.

11

Walaupun putusan tersebut telah dikeluarkan, para pihak tetap diperkenankan melakukan : 1) Interpretasi putusan Pasal 50 ICSID memberikan hak kepada para pihak untuk mengajukan pendapat mengenai penafsiran yang menyangkut pelaksanaan putusan yang diaujukan kepada Sekretaris Jenderal. Perbedaan penafsiran tersebut diselesaikan oleh majelis arbitrase yang mengeluarkan putusan tersebut. Kalau majelis arbitrase yang semula tidak mungkin lagi menyelesaikan perbedaan penafsiran tersebut karena alasan yang dibenarkan, maka dapat dibentuk mejelis arbitrase baru yang secara khusus diserahi tugas untuk mengambil putusan atas perbedaan penafsiran tersebut. 2) Revisi atas putusan Putusan yang dikeluarkan oleh Centre dapat direvisi. Para pihak dapat mengajukan permintaan revisi atas putusan tersebut yang dibuat secara tertulis dan diajukan ke Sekretaris Jenderal. Pengajuan revisi dapat dilakukan dalam tempo 90 hari sejak tanggal pengiriman salinan putusan. Penilaian atas permohonan revisi dilakukan oleh mejelis arbitrase yang mengeluarkan putusan. 3) Pembatalan putusan Alasan yang dapat digunakan oleh para pihak untuk pembatalan putusan (Artikel 52 ayat 1 ICSID), yaitu : Pembentukan majelis arbitrase yang memutus tidak tepat Majelis arbitrase yang memutus melampaui batas kewenangan Ada kecurangan dari anggota arbiter Ada penyimpangan yang sangat serius dari fundamentum atau aturan acara Putusan gagal mencantumkan alasan-alasan yang menjadi dasar putusan12

Tenggang waktu mengajukan pembatalan yaitu 120 hari sejak salinan putusan dikirimkan. Untuk pembatalan dengan alasan kecurangan, tenggang waktunya 120 hari sejak kecurangan ditemukan. Tata cara pembatalan putusan (Artikel 52 ayat 3 ICSID): Ketua Dewan Administratif , dalam hal ini presiden Bank Dunia, menunjuk anggota arbiter untuk duduk dalam komisi ad hoc yang terdiri dari 3 orang.
12

Ibid,. hal. 374.

12

Penunjukan anggota arbiter yang akan duduk dalam komite ad hoc, tidak boleh diambil dari anggota yang semula menjatuhkan putusan yang diajukan permohonan pembatalan.13

5. Eksekusi terhadap putusan arbitrase asing di Indonesia Dalam pasal 3 Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing, putusan arbitrase asing diakui serta dapat dilasanakan di Indonesia apabila memenuhi persyaratan: a. Putusan tersebut dijatuhkan oleh suatu badan arbitrase ataupun perorangan di suatu Negara yang dengan Negara Indonesia ataupun bersama-sama dengan Negara Indonesia terikat dalam suatu konvensi internasional perihal pengakuan serta pelaksanaan arbitrase asing. Pelaksanaan didasarkan atas asas timbale balik (resiprositas). b. Putusan-putusan Arbitrase tersebut terbatas pada putusan-putusan yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup hukum dangang. c. Putusan-putusan arbitrase tersebut dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan-putusan yang tidak bertentangan dengan kepentingan umum. d. Suatu putusan arbitrase asing dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh Exequator dari Mahkamah Agung RI.

13

Ibid., hal. 375.

13

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan y Dalam pasal 32 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal telah ditentukan cara penyelesaian sengketa yang timbul dalam penanaman modal antara pemerintah dengan investor domestik, yaitu : a. Musyawarah dan mufakat Adalah salah satu penyelesaian sengketa dengan melakukan pembahasan bersama dengan maksud untuk mencapai keputusan dan kesepakatan atas penyelesaian sengketa secara bersama-sama. b. Arbitrase Adalah cara penyelesaian sengketa dengan menggunakan jasa arbiter atau majelis arbiter, sehingga arbiter atau mejelis arbiter yang akan menyelesaikan sengketa. c. Alternatif penyelesaian sengketa Adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati antara Pemerintah Indonesia dengan investor domestic, yakni penyelesaian sengketa di luar pengadilan dengan cara ADR di atas. d. Pengadilan Adalah cara untuk mengakhiri sengketa , dengan penyelesaiannya dilakukan di muka dan dihadapan pengadilan. Penyelesaian melalui pengadilan memerlukan waktu yang lama dan biaya yang besar. y Dalam ketentuan ICSID terdapat 2 pola penyelesaian sengketa, yaitu: a. Penyelesaian sengketa melalui konsiliasi Dalam Aritikel 28 sampai dengan 35 ICSID. b. Penyelesaian sengketa melalui arbitrase Dalam Artikel 36 sampai dengan 55 ICSID

14

3.2 Saran Adapun saran yang dapat penulis berikan adalah: 1. Bahwa selama penulis membaca beberapa buku reverensi, penulis menemukan perbedaan mengenai cara penyelesaian sengketa antara pemerintah dan investor asing. 2. Bahwa apabila pembaca menemukan kata-kata yang tidak dimengerti dalam makalah penulis ini, maka dimohonkan maaf karena penulis belum menemukan referensi yang dapat menjelaskan maknanya.

15

DAFTAR PUSTAKA
Ilmar, Aminuddin. 2007. Hukum Penanaman Modal di Indonesia. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Salim HS dan Budi sutrisno. 2008. Hukum Investasi di Indonesia. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Harjono, Dhaniswara K. 2007. Hukum Penanaman Modal. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Simatupang, Richard Burton. 1996. Aspek Hukum Dalam Bisnis. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

16