Anda di halaman 1dari 6

BAB II

KONSERVASI DAN 3 PILAR KONSERVASI

Sejarah Konservasi
Pada awalnya praktik konservasi tampak pada aktivitas yang berkaitan dengan kerja di
beberapa museum yang memajang atau memamerkan beberapa mahakarya kreatif dari
seseorang. Hal itu menunjukkan bahwa praktik konservasi di dunia telah dimulai sejak ribuan
yang lalu. Dari pelacakan praktik sejarah konservasi, zaman Renaisans Italia (akhir abad ke-
14) merupakan era yang secara konvensional diyakini sebagai awal mula praktik konservasi
terjadi kali pertama. Pada saat itu, praktik konservasi dibuktikan melalui aktivitas seseorang
seniman yang menemukan kembali praktik dan produk pematung klasik.
Metode dan cara kerja yang dilakukan tersebut membuat sebuah teori konservasi lahir.
Tokoh yang terlibat dari lahirnya teori konservasi adalah John Ruskin dan Eugène Viollet le
Duc, dan puncaknya dengan karya Cesare Brandi atau Salvador Muñoz Viñas (Brandi, 2005).
Kemudian, dalam perkembangan selanjutnya, gambaran praktik konservasi dapat ditelusuri
melalui serangkaian dokumen dan deklarasi. Argumen yang paling kritis menggali praktik
konservasi terdapat dalam dokumen dan deklarasi meliputi Venesia (1964), Burra
(1988,1999), Nara (1994) dan Yamato (2004). Sebagian besar dari piagam tersebut
menyangkut monumen dan situs. Sehubungan dengan itu, objek dari praktik konservasi harus
ditafsirkan dengan hati-hati saat mempertimbangkan objek museum. Dari sinilah mencul
praktik konservasi menjadi sebuah profesi yang professional.
Sejarah tentang apa yang dianggap sebagai profesi konservasi terdefinisi mulai
terbentuk pada paruh pertama abad kedua puluh. Upaya pengaturan mandiri oleh para
profesional konservasi ditelusuri melalui serangkaian kode yang dimulai dengan laporan
Murray Pease di mulai tahun 1960-an, dan diakhiri dengan sejumlah dokumen yang secara
dangkal diadopsi oleh kelompok profesional konservasi di berbagai negara di seluruh dunia.
Misalnya, Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa.
Rangkaian teks yang diterbitkan - buku, piagam, dan kode - semuanya bertanggal dan
tersedia bagi para sarjana, memberikan sejarah akademis yang tajam yang memetakan
kemunculan dan penerimaan ide-ide baru. Akan tetapi, akan sangat sederhana untuk berpikir
bahwa tonggak tekstual ini sebenarnya mewakili awal dari suatu fase baru atau akhir suatu
era.

Pengertian Konservasi
Secara etimologis, istilah konservasi (conservation) berasal dari kata com (together)
dan servare (to keep, to save) yang dapat diartikan sebagai upaya memelihara yang kita
miliki (to keep, to save what we have), dan menggunakan milik tersebut secara bijak (wise
use). Secara leksikal, konservasi dimaknai sebagai (1) tindakan untuk melakukan
perlindungan atau pengawetan dan (2) sebuah kegiatan untuk melestarikan sesuatu dari
kerusakan, kehancuran, kehilangan, dan sebagainya (Masrukhi dan Rahayuningsih 2010:8;
Wahyudin dan Sugiharto 2010:88; Handoyo dan Tijan 2010:15).
Kali pertama ide konservasi diperkenalkan oleh Theodore Roosevelt (1902).
Berdasarkan kehistorisannya, mula-mula aktivitas konservasi mengacu pada pelbagai
aktivitas berkaitan dengan lingkungan, seperti konservasi air, perlindungan hutan, dan
sebagainya. Namun dalam perkembangannya, konsep konservasi juga mengarah pada
persoalan budaya. Richmond and Bracker (2009) mengartikan konservasi sebagai suatu
proses kompleks dan terus-menerus yang melibatkan penentuan mengenai apa yang
dipandang sebagai warisan, bagaimana ia dijaga, bagaimana ia digunakan, oleh siapa, dan
untuk siapa. Warisan yang disebut dalam definisi tersebut tidak hanya menyangkut hal fisik
tetapi menyangkut juga kebudayaan. Dengan demikian, pengertian konservasi tidak hanya
menyangkut masalah perawatan, pelestarian, dan perlindungan alam, tetapi juga menyentuh
persoalan pelestarian warisan kebudayaan dan peradaban umat manusia.
Menurut Handoyo dan Tijan (2010:16), konservasi juga dapat dipandang dari segi
ekonomi dan ekologi. Konservasi dari segi ekonomi berarti mencoba memanfaatkan sumber
daya alam untuk masa sekarang. Dari segi ekologi, konservasi merupakan pemanfaatan
sumber daya alam untuk sekarang dan masa yang akan datang. Dalam konteks yang lebih
luas, konservasi tidak hanya diartikan secara sempit sebagai menjaga atau memelihara
lingkungan alam (pengertian konservasi fisik), tetapi juga bagaimana nilai-nilai dan hasil
budaya dirawat, dipelihara, dijunjung tinggi, dan dikembangkan demi kesempurnaan hidup
manusia.

Metode Praktik Konservasi


Cakupan praktik konservasi memiliki Batasan bahwa seluruh kegiatan pemeliharaan
sesuai dengan kondisi dan situasi lokal maupun upaya pengembangan untuk pemanfaatan
lebih lanjut. Suatu praktik konservasi tidak hanya dipertahankan keasliannya dan
perawatannya namun tidak mendatangkan nilai ekonomi atau manfaat lain bagi pemilik atau
masyarakat luas. Dalam rangka mencapai tujuan itu, praktik konservasi hingga kini
didominasi dengan penggunaan metode 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle). Melalui kajian
yang mendalam, metode praktik konservasi ini lebih cocok pada konservasi fisik atau objek
yang nyata. Untuk memperoleh metode praktik konservasi yang menyeluruh diperlukan
metodologi praktik konservasi yang lebih tepat (Gambar 2.1).

Gambar 2.1 Metode Penentuan Tindakan Konservasi

Menurut Caple (2012), diagram tersebut dapat mewakili dinamika yang terlibat dalam merancang dan
melaksanakan tindakan konservasi. Setiap sudut pada gambar 2.1 itu lebih kurang dapat mewakili ide
inti dalam metodologi konservasi saat ini.
a. Investigasi sebelum intervensi: perintah untuk melakukan penelitian, dan dokumentasi, semua
bukti yang relevan sebelum dan setelah intervensi apa pun.
b. Evaluasi sebelum pemindahan: perintah untuk menghormati proses sejarah dalam catatan
kumulatif aktivitas yang tercermin dalam objek dan diidentifikasi sebagai yang menunjukkan
berbagai keyakinan budaya, nilai, materi, dan teknik yang dilaksanakan dari waktu ke waktu.
c. Pertahankan identitas: perintah untuk menjaga keaslian—dalam hal ini perlu dipahami sebagai
istilah relatif epistemologis yang terkait dengan proses material dan material dalam suatu objek
dan kepenulisan atau niatnya—bergabung dengan kewajiban untuk melaksanakan intervensi fisik
minimal untuk membantu kembali membangun keterbacaan dan makna struktural dan estetika
sambil memungkinkan pilihan perawatan di masa depan.

Kegiatan yang dilakukan seperti tergambar pada gambar 2.1 membutuhkan upaya lintas
sektoral, multi dimensi dan disiplin, serta berkelanjutan. Apapun praktik konservasi yang
dilakukan metode segitiga tersebut harus menjadi acuan dasar dalam setiap melakukan
praktik konservasi. Metode segitiga itu dilaksanaka secara simultan dalam upaya mencapai
praktik konservasi yang maksimal.

Pilar Konservasi
Secara geografis, Unnes terletak di daerah pegunungan dengan tipologi yang beragam.
Wilayah itu merupakan kawasan yang sejak dulu telah difungsikan sebagai area resapan air
guna menjaga siklus hidrologi dan penyedia air bagi kehidupan daerah Kota Semarang yang
terletak di dataran yang lebih rendah. Fungsi ini perlu terus dijaga agar tidak terjadi bencana,
terutama krisis air di kawasan semarang dan sekitarnya.
Kondisi strategis tersebut dimanfaatkan UNNES sebagai daya dukung menjadi sebuah
universitas konservasi. Buktinya, pada 12 Maret 2010 secara tegas Prof. Dr. Sudijono
Sastroadmodjo, M.Si., Rektor UNNES, menorehkan sejarah baru terhadap nafas UNNES
dalam bentuk universitas konservasi. Pada saat itu pula nafas kehidupan UNNES selalu
diwarnai nafas-nafas konservasi. Tekad UNNES tersebut bukannya tanpa alasan, tetapi sudah
dirancang pada tahun sebelumnya. Sejak tahun 2005, Rektor UNNES yang saat itu menjabat
Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan telah melopori dengan gerakan tanam seribu pohon
(Serbu) dengan ujung tombaknya mahasiswa (Masrukhi dan Rahayuningsih 2010:14).
Langkah UNNES kian percaya diri dalam menapaki sebagai universitas konservasi. Di
awali dari upaya menghijaukan kembali lahan kritis seluas 64 hektar, UNNES merupakan
satu-satunya lembaga pendidikan tinggi pertama di Indonesia yang menerima Hibah
Lingkungan Hidup. Melalui hibah tersebut UNNES mengembangkan Taman
Keanekaragaman Hayati (Taman Kehati) yang peresmiaannya dilakukan oleh Menteri
Lingkungan Hidup pada tahun 2008 (Wahyudin dan Sugiharto 2010:90). Usaha demi usaha
yang dilakukan Unnes terkait konservasi oleh semua pihak menghantarkan Rektor Unnes,
Prof. Dr. Sudijono Sastroadmodjo, M.SI. menerima penghargaan Kalpataru langsung dari
presiden RI, 9 Juni 2010 di Istana Negara Jakarta.
Sejak dideklarasikan sebagai universitas konservasi, UNNES menetapkan tujuh pilar
konservasi, yakni (1) biodiversitas, (2) arsitektur hijau & transportasi internal, (3) pengolahan
limbah, (4) nirkertas, (5) energi bersih, (6) etika, seni dan budaya, dan (3) kader konservasi
(Gambar 2.2). Pada saat itu Rektor UNNES, Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si.
menekankan bahwa ada tiga hal yang memperkuat tujuh pilar konservasi yang diusung
UNNES, yakni pituah, pitutur, dan pitulungan. Konsep pituah atau petuah berarti nasihat.
Dengan semangat mencapai tujuan bersama, keluarga besar universitas konservasi haruslah
saling mengingatkan satu sama lain demi kebaikan dan kebersamaan. Konsep pitutur yang
dapat dimaknai perbincangan (bertutur). Dalam konteks ini, berbagai ide maupun gagasan
yang dilontarkan untuk kemajuan bersama, akan lebih matang jika mendapat masukan dari
berbagai pihak. Sementara itu, konsep pitulungan berarti tulung-tinulung (tolong-menolong).
Selain bekerja sesuai dengan bidang masing-masing, semua lini di universitas konservasi juga
diharuskan saling membantu.
Gambar 2.2 Tujuh Pilar Konservasi

Upaya mewujudkan Unnes menjadi universitas konservasi sesungguhnya tidak lepas


dari landasan yang bersifat filosofis. Alam semesta seisinya adalah ciptaan dan anugerah dari
Tuhan Yang Maha Esa. Alam memiliki cara sendiri untuk mengatur keseimbangan pada
dirinya. Sayangnya, perkembangan peradaban yang tidak bermoral menyebabkan kerusakan
tatan alam yang ada. Untuk itu, Unnes mengambil inisiatif menjadi universitas konservasi.
Menurut Wahyudin dan Sugihato (2010:86), universitas konservasi adalah sebuah universitas
yang dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi mengacu pada prinsip konservasi
(perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari) sumber daya alam dan seni
budaya serta berwawasan ramah lingkungan.
Mengacu pada historis dan perkembangan konservasi di UNNES, konservasi yang
dimanifestasikan dalam visi UNNES dengan istilah universitas berwawasan konservasi,
bukan universitas konservasi. Perubahan paradigma ini membawa perubahan yang mendasar
pada tujuh pilar konservasi. Perubahan itu didasarkan pada cara pandang mengenai
konservasi yang kurang relevan dengan konsep konservasi seperti yang dikemukan di atas.
Pada tujuh pilar konservasi, arah dan praktik konservasi lebih didominasi pada konservasi
yang bersifat fisik dan sumber daya alam. Oleh sebab itu, melalui diskusi yang panjang di
Senat UNNNES, Prof Dr Fathur Rokhman, M.Hum. melakukan perombakan dari tujuh pilar
konservasi menjadi tiga pilar konservasi, yakni (1) nilai dan karakter, (2) seni dan budaya,
dan (3) sumber daya alam dan lingkungan (Gambar 2.3). Penjelasan lebih mendalam setiap
nilai akan dijelaskan pada bab selanjutnya.
Nilai
Seni
SDA dan
dandanKarakter
Budaya
Lingkungan

2.3 Tiga Pilar Konservasi

Perubahan pilar konservasi itu ditetapkan melalui sejumlah dokumen, di antaranya


dokumen Rencana Induk Pengembangan (RENIP) UNNES 2016 – 2040 dan Peraturan
Rektor UNNES Nomor 6 Tahun 2017 tentang Spirit Konservasi Universitas Negeri
Semarang. RENIP UNNES 2016 – 2040 meletakkan proyeksi praktik konservasi sampai
menjadi penyelamat bumi. Sementara itu, Peraturan Rektor UNNES Nomor 6 Tahun 2017
tentang Spirit Konservasi Universitas Negeri Semarang menyebutkan bahwa dalam rangka
menopang spirit konservasi arum luhuring pawiyatan ing astanira menempatkan UNNES
sebagai rumah ilmu pengembang peradaban. Ini berarti seluruh aktivitas didasarkan pada
proses keilmuan yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sumber Bacaan
Brandi, Cesare. 2005. Theory of Restoration (Florence: Nardini Editore, 2005) (first pub-
lished in Italian in 1963). Salvador Muñoz Viñas, Contemporary Theory of
Conservation. Oxford: Elsevier Butterworth-Heinemann, 2005).
Caple, C., 2012. Conservation skills: judgement, method and decision making. Routledge.
Handoyo, E. dan Tijan. 2010. Model Pendidikan Karakter Berbasis Konservasi: Pengalaman
Universitas Negeri Semarang. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press
bekerjasama Penerbit Widya Karya
Masrukhi dan Rahayuningsih, M. 2010. Universitas Konservasi: Wahana Pembangun
Karakter Bangsa (Sebuah Renungan Dies Natalies Unnes ke-45). Semarang: Unnes.
Richmond, A and Bracker, A. 2009. Conservation: Principles, Dilemmas and Uncomfortable
Truths. London: Victoria and Albert Museum London.
The Venice Charter: International Charter for the Conservation and Restoration of
Monuments and Sites (1964) (http://www.international.icomos.org/e_venice.htm). The
Burra Charter: The Australia ICOMOS Charter “For the Conservation of Places of
Cultural Significance” (1999)
Wahyudin, A. dan Sugiharto, DYP. 2010. Unnes Sutera: Pergulatan Pikir Sudijono
Sastroatmodjo Membangun Universitas Sehat, Unggul, dan Sejahtera. Semarang:
Unnes Press.

Anda mungkin juga menyukai