Anda di halaman 1dari 30

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

BAB I PENDAHULUAN

I.A. ANATOMI DAN FISIOLOGI Kanalis analis berasal dari proktoderm yang merupakan invaginasi ektoderm, sedangkan rektum berasal dari endoderm. Karena perbedaan asal anus dan rektum ini maka perdarahan, persarafan, serta penyaliran vena dan limfenya berbeda juga, demikian pula epitel yang menutupinya.

Gambar I.1. Anatomi anorektum Rektum dilapisi oleh mukosa glanduler usus sedangkan kanalis analis oleh anoderm yang merupakan lanjutan epitel berlapis gepeng kulit luar. Tidak ada yang disebut mukosa anus. Daerah batas rektum dan kanalis analis ditandai dengan perubahan jenis epitel.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

Kanalis analis dan kulit luar disekitarnya kaya akan persyarafan sensoris somatik dan peka terhadap rangsang nyeri, sedangkan mukosa rektum mempunyai persarafan autonom dan tidak peka terhadap nyeri. Nyeri bukanlah gejala awal pengidap karsinoma rektum, sementara fisura anus nyeri sekali. Darah vena diatas garis anorektum mengalir melalui sistem porta, sedangkan yang berasal dari anus dialirkan ke sistem kava melalui cabang v.iliaka. Distribusi ini menjadi penting dalam upaya memahami cara penyebaran keganasan dan infeksi serta terbentuknya hemoroid. Sistem limfdari rektum mengalirkan isinya melalui pembuluh limfe sepanjang pembuluh hemoroidalis superior ke arah kelenjar limf para aorta melalui kelenjar limf iliaka interna, sedangkan limfe yang berasal dari kanalis analis mengalir ke arah kelenjar inguinal. Kanalis analis berukuran panjang kurang lebih 3cm. Sumbunya mengarah ke ventrokranial yaitu arah umbilikus dan membentuk sudut yang nyata ke dorsal dengan rektum dalam keadaan istirahat. Pada saat defekasi sudut ini menjadi lebih besar. batas antara kanalis anus disebut garis anorektum, garis mukokutan, linea pektinata atau linea dentata. Didaerah ini terdapat kripta anus dan muara kelenjar anus antara kolumna rektum. infeksi yang terjadi disini dapat menimbulkan abses snorektum yang dapat menimbulkan fistel. Lekukan antar sfingter sirkuler dapat diraba didalam kanalis analis sewaktu melakukan colok dubur dan menunjukkan batas antara sfingter interna dan sfingter eksterna (garis Hilton). Cincin sfingter anus melingkari kanalis analis dan terdiri dari sfingter intern dan sfingter ekstern. sisi posterior dan lateral cincin ini terbentuk dari fusi sfingter intern, oto longitudinal, bagian tengah dari otot levator (puborektalis), dan komponen m.sfingter eksternus. M.sfingter internus terdiri atas serabut otot polos, sedangkan m.sfingter eksternus terdiri atas serabut otot lurik. Pendarahan arteri. arteri hemoroidalis superior adalah kelanjutan langsung a.mesenterika inferior. Arteri ini membagi diri menjadi dua cabang utama: kiri dan kanan. Cabang yang kanan bercabang lagi. Letak ketiga cabang terakhir ini mungkin dapat menjelaskan letak hemoroid dalam yang khas yaitu dua buah di setiap perempat sebelah kanan dan sebuah diperempat lateral kiri. Arteri hemoroidalis medialis merupakan percabangan anterior a.iliaka interna, sedangkan a.hemoroidalis inferior adalah cabang a.pudenda interna. Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah 2
Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

Anastomosis antara arkade pembuluh inferior dan superior merupakan sirkulasi kolateral yang mempunyai makna penting pada tindak bedah atau sumbatan aterosklerotik didaerah percabangan aorta dan a.iliaka. Anastomosis tersebut ke pembuluh kolateral hemoroid inferior dapat menjamin perdarahan di kedua ekstremitas bawah. Perdarahan di pleksus hemoroidalis merupakan kolateral luas dan kaya sekali darah sehingga perdarahan dari hemoroid intern menghasilkan darah segar yang berwarna merah dan bukan darah vena warna kebiruan. Pendarahan vena. Vena hemoroidalis superior berasal dari pleksus hemoroidalis internus dan berjalan kearah kranial kedalam v.mesenterika inferiordan seterusnya melalui v.lienalis ke vena porta. Vena ini tidak berkatup sehingga tekanan ronggga perut menentukan tekanan di dalamnnya. Karsinoma rektum dapat menyebar sebagai embolus vena didalam hati, sedangkan embolus septik dapat menyebabkan pileflebitis, v.hemoroidalis inferior mengalirkan darah ke dalam v.pudenda interna dan v. hemoroidalis dapat menimbulkan keluhan hemoroid. Penyaliran limf. pembuluh limfe dari kanalis membentuk pleksus halus yang menyalirkan isinya menuju ke kelenjar limfe inguinal, selanjutnya dari sini cairan limfe terus mengalir sampai ke kelenjar limfe iliaka. Infeksi dan tumor ganas di daerah anus dapat mengakibatkan limfadenopati inguinal. Pembuluh limfe dari rektum di atas garis anorektum berjalan seiring dengan v.hemoroidalis superior dan melanjut ke kelenjar limf mesenterika inferior dan aorta. Operasi radikal untuk eradikasi karsinoma rektum dan anus didasarkan pada anatomi saluran limf ini. Persarafan rektum terdiri atas sistem simpatik dan sistem parasimpatik. Serabut simpatik berasal dari pleksus mesenterikus inferior dan dari sistem parasakral yang terbentuk dari ganglion simpatis lumbal ruas kedua, ketiga, dan keempat. Unsur simpatis pleksus ini menuju ke arah struktur genital dan serabut otot polos yang mengendalikan emisi air mani dan ejakulasi. persarafan parasimpatik (nervi erigentes) berasal dari saraf sakral kedua, ketiga, dan keempat. Serabut saraf ini menuju ke jaringan erektil penis dan klitoris serta mengendalikan ereksi dengan cara mengatur aliran darah kedalam jaringan ini. Oleh Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah 3
Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

karena itu, cedera saraf yang terjadi pada waktu operasi radikal panggul seperti ekstirpasi radikal rektum atau uterus, dapat menyebabkan gangguan fungsi vesika urinaria dan gangguan fungsi seksual. Muskulus puborektal mempertahankan sudut anorektum; otot ini mempertajam sudut tersebut bila meregang dan meluruskan usus bila mengendur.1 Kontinensia anus bergantung pada konsistensi feses, tekanan didalam anus, tekanan didalam rektum, dan sudut anorektal. Makin encer feses, makin sunkar untuk menahannya didalam usus. Tekanan pada suasana istirahat didalam anus berkisar antara 25-100mmHg dan didalam rektum antara 5-20mmHg. Jika sudut antara rektum dan anus lebih dari 80 derajat, feses sukar dipertahankan. Defekasi. Pada suasana normal, rektum kosong. Pemindahan feses dari kolon sigmoid kedalam rektum kadang-kadang dicetuskan oleh makan, terutama pada bayi. Bola isi sigmoid masuk kedalam rektum, dirasakan oleh rektum dan menimbulkan keinginan untuk defekasi. Rektum mempunyai kemauan khas untuk mengenai dan memisahkan bahan padat, cair dan gas. Sikap badan sewaktu defekasi yaitu sikap duduk atau jongkok, memegang peranan yang berarti. Defekasi terjadi akibat refleks peristalsis rektum, dibantu oleh mengedan dan relaksasi sfingter anus ekstern. Syarat untuk defekasi normal ialah persarafan sfingter anus untuk kontraksi dan relaksasi yang utuh, peristalsis kolon dan rektum tidak terganggu, dan struktur anatomi organ panggul yang utuh. Pemeriksaan proktologi. Hampir semua gangguan atau penyakit pada anorektum dapat dibuat diagnosisnya berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik termasuk inspeksi dan palpasi daerah perianus serta pemeriksaan rektal secara digital, pemeriksaan anoskopi, dan pemeriksaan proktosigmoidoskopi.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

BAB II KELAINAN BAWAAN DI ANUS

II.A. ATRESIA ANI Istilah atresia berasal dari bahasa Yunani yaitu a yang berarti tidak ada dan trepsis yang berarti makanan atau nutrisi. Dalam istilah kedokteran, atresia adalah suatu keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal. Atresia ani adalah malformasi congenital dimana rektum tidak mempunyai lubang keluar (Walley,1996). Ada juga yang menyebutkan bahwa atresia ani adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau tertutupnya anus secara abnormal (Suriadi,2001). Sumber lain menyebutkan atresia ani adalah kondisi dimana rectal terjadi gangguan pemisahan kloaka selama pertumbuhan dalam kandungan.

Jadi atresia ani adalah kelainan congenital anus dimana anus tidak mempunyai lubang untuk mengeluarkan feces karena terjadi gangguan pemisahan kloaka yang terjadi saat kehamilan. Walaupun kelainan lubang anus akan mudah terbukti saat lahir, tetapi kelainan bisa terlewatkan bila tidak ada pemeriksaan yang cermat atau pemeriksaan perineum. Etiologi Etiologi secara pasti atresia ani belum diketahui, namun ada sumber mengatakan kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan, fusi, dan pembentukan anus dari tonjolan embriogenik. Pada kelainan bawaananus umumnya tidak ada kelainan rektum, sfingter, dan otot dasar panggul. Namun demikian pada agenesis anus, sfingter internal
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

mungkin tidak memadai. Menurut penelitian beberapa ahli masih jarang terjadi bahwa gen autosomal resesif yang menjadi penyebab atresia ani. Orang tua yang mempunyai gen carrier penyakit ini mempunyai peluang sekitar 25% untuk diturunkan pada anaknya saat kehamilan. 30% anak yang mempunyai sindrom genetic, kelainan kromosom atau kelainan congenital lain juga beresiko untuk menderita atresia ani. Sedangkan kelainan bawaan rektum terjadi karena gangguan pemisahan kloaka menjadi rektum dan sinus urogenital sehingga biasanya disertai dengan gangguan perkembangan septum urorektal yang memisahkannya.2 Faktor predisposisi Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan kongenital saat lahir seperti : 1. Sindrom vactrel (sindrom dimana terjadi abnormalitas pada vertebral, anal, jantung, trachea, esofahus, ginjal dan kelenjar limfe). 2. Kelainan sistem pencernaan. 3. Kelainan sistem pekemihan. 4. Kelainan tulang belakang.

Klasifikasi Secara fungsional, pasien atresia ani dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu : 1. Yang tanpa anus tetapi dengan dekompresi adequate traktus gastrointestinalis dicapai melalui saluran fistula eksterna. Kelompok ini terutama melibatkan bayi perempuan dengan fistula rectovagina atau rectofourchette yang relatif besar, dimana fistula ini sering dengan bantuan dilatasi, maka bisa didapatkan dekompresi usus yang adequate sementara waktu. 2. Yang tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adequate untuk jalan keluar tinja. Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk menghasilkan dekompresi spontan kolon, memerlukan beberapa bentuk intervensi bedah segera.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

Pasien bisa diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 sub kelompok anatomi yaitu : Anomali rendah Rektum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborectalis, terdapat sfingter internal dan eksternal yang berkembang baik dengan fungsi normal dan tidak terdapat hubungan dengan saluran genitourinarius. Anomali intermediet Rektum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis; lesung anal dan sfingter eksternal berada pada posisi yang normal. Anomali tinggi Ujung rektum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak ada. Hal ini biasanya berhungan dengan fistuls genitourinarius retrouretral (pria) atau rectovagina (perempuan). Jarak antara ujung buntu rektum sampai kulit perineum lebih daai1 cm. Sedangkan menurut klasifikasi Wingspread (1984), atresia ani dibagi 2 golongan yang dikelompokkan menurut jenis kelamin. 1,2 Pada laki laki golongan I dibagi menjadi 4 kelainan yaitu kelainan fistel urin, atresia rektum, perineum datar dan fistel tidak ada. Jika ada fistel urin, tampak mekonium keluar dari orifisium eksternum uretra, mungkin terdapat fistel ke uretra maupun ke vesika urinaria. Cara praktis menentukan letak fistel adalah dengan memasang kateter urin. Bila kateter terpasang dan urin jernih, berarti fistel terletak uretra karena fistel tertutup kateter. Bila dengan kateter urin mengandung mekonuim maka fistel ke vesikaurinaria. Bila evakuasi feses tidak lancar, penderita memerlukan kolostomi segera. Pada atresia rektum tindakannya sama pada perempuan ; harus dibuat kolostomi. Jika fistel tidak ada dan udara > 1 cm dari kulit pada invertogram, maka perlu segera dilakukan kolostomi. Sedangkan pada perempuan golongan I dibagi menjadi 5 kelainan yaitu kelainan kloaka, fistel vagina, fistel rektovestibular, atresia rektum dan fistel tidak ada. Pada fistel vagina, mekonium tampak keluar dari vagina. Evakuasi feces menjadi tidak lancar sehingga Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah 7
Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

sebaiknya dilakukan kolostomi. Pada fistel vestibulum, muara fistel terdapat divulva. Umumnya evakuasi feses lancar selama penderita hanya minum susu. Evakuasi mulai etrhambat saat penderita mulai makan makanan padat. Kolostomi dapat direncanakan bila penderita dalam keadaan optimal. Bila terdapat kloaka maka tidak ada pemisahan antara traktus urinarius, traktus genetalis dan jalan cerna. Evakuasi feses umumnya tidak sempurna sehingga perlu cepat dilakukan kolostomi.Pada atresia rektum, anus tampak normal tetapi pada pemerikasaan colok dubur, jari tidak dapat masuk lebih dari 1-2 cm. Tidak ada evakuasi mekonium sehingga perlu segera dilakukan kolostomi. Bila tidak ada fistel, dibuat invertogram. Jika udara > 1 cm dari kulit perlu segera dilakukan kolostomi. Golongan II pada laki laki dibagi 4 kelainan yaitu kelainan fistel perineum, membran anal, stenosis anus, fistel tidak ada. Fistel perineum sama dengan pada wanita ; lubangnya terdapat anterior dari letak anus normal. Pada membran anal biasanya tampak bayangan mekonium di bawah selaput. Bila evakuasi feses tidak ada sebaiknya dilakukan terapi definit secepat mungkin. Pada stenosis anus, sama dengan perempuan, tindakan definitive harus dilakukan. Bila tidak ada fistel dan udara. Sedangkan golongan II pada perempuan dibagi 3 kelainan yaitu kelainan fistel perineum, stenosis anus dan fistel tidak ada. Lubang fistel perineum biasanya terdapat diantara vulva dan tempat letak anus normal, tetapi tanda timah anus yang buntu menimbulkan obstipasi. Pada stenosis anus, lubang anus terletak di tempat yang seharusnya, tetapi sangat sempit. Evakuasi feses tidal lancar sehingga biasanya harus segera dilakukan terapi definitive. Bila tidak ada fistel dan pada invertogram udara. Patofisiologi Anus dan rektum berkembang dari embrionik bagian belakang. Ujung ekor dari bagian belakang berkembang menjadi kloaka yang merupakan bakal genitoury dan struktur anorektal. Terjadi stenosis anal karena adanya penyempitan pada kanal anorektal. Terjadi atresia anal karena tidak ada kelengkapan migrasi dan perkembangan struktur kolon antara 7 dan 10 mingggu dalam perkembangan fetal. Kegagalan migrasi dapat juga karena kegagalan dalam agenesis sacral dan abnormalitas pada uretra dan vagina. Tidak Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah 8
Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

ada pembukaan usus besar yang keluar anus menyebabkan fecal tidak dapat dikeluarkan sehungga intestinal mengalami obstrksi. Manifestasi Klinis Pada atresia ani terjadi adalah kegagalan lewatnya mekonium setelah bayi lahir, tidak ada atau stenosis kanal rectal, adanya membran anal dan fistula eksternal pada perineum (Suriadi,2001). Gejala lain yang nampak diketahui adalah jika bayi tidak dapat buang air besar sampai 24 jam setelah lahir, gangguan intestinal, pembesaran abdomen, pembuluh darah di kulit abdomen akan terlihat menonjol (Adele,1996) Bayi muntah muntah pada usia 24 48 jam setelah lahir juga merupakan salah satu manifestasi klinis atresia ani. Cairan muntahan akan dapat berwarna hijau karena cairan empedu atau juga berwarna hitam kehijauan karena cairan mekonium. Pemeriksaan Penunjang Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut : 1. Pemeriksaan radiologis Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal. 2. Sinar X terhadap abdomen Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk mengetahui jarak pemanjangan kantung rektum dari sfingternya. 3. Ultrasound terhadap abdomen Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena massa tumor. 4. CT Scan Digunakan untuk menentukan lesi. 5. Pyelografi intra vena Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

6. Pemeriksaan fisik rektum Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang atau jari. 7. Rontgenogram abdomen dan pelvis Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang berhubungan dengan traktus urinarius.2,3 Penatalaksaan Penatalaksanaan Medis Malformasi anorektal dieksplorasi melalui tindakan bedah yang disebut diseksi posterosagital atau plastik anorektal posterosagital. Colostomi sementara

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

10

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

BAB III PENYAKIT DI ANUS DAN PERIANAL

III.A.HEMOROID Hemoroid adalah pelebaran vena di dalam pleksus hemoroidalis yang tidak merupakan kelainan patologik. Hanya apabila hemoroid menyebabkan keluhan atau penyulit, diperlukan tindakan. Anatomi Rektum panjangnya 15 20 cm dan berbentuk huruf S. Mula mula mengikuti cembungan tulang kelangkang, fleksura sakralis, kemudian membelok kebelakang pada ketinggian tulang ekor dan melintas melalui dasar panggul pada fleksura perinealis. Akhirnya rektum menjadi kanalis analis dan berakhir jadi anus. Rektum mempunyai sebuah proyeksi ke sisi kiri yang dibentuk oleh lipatan kohlrausch. Fleksura sakralis terletak di belakang peritoneum dan bagian anteriornya tertutup oleh peritoneum. Fleksura perinealis berjalan ektraperitoneal. Haustra ( kantong ) dan tenia ( pita ) tidak terdapat pada rektum, dan lapisan otot longitudinalnya berkesinambungan. Pada sepertiga bagian atas rektum, terdapat bagian yang dapat cukup banyak meluas yakni ampula rektum bila ini terisi maka timbulah perasaan ingin buang air besar. Di bawah ampula, tiga buah lipatan proyeksi seperti sayap sayap ke dalam lumen rektum, dua yang lebih kecil pada sisi yang kiri dan diantara keduanya terdapat satu lipatan yang lebih besar pada sisi kanan, yakni lipatan kohlrausch, pada jarak 5 8 cm dari anus. Melalui kontraksi serabut serabut otot sirkuler, lipatan tersebut saling mendekati, dan pada kontraksi serabut otot longitudinal lipatan tersebut saling menjauhi.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

11

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

Kanalis analis pada dua pertiga bagian bawahnya, ini berlapiskan kulit tipis yang sedikit bertanduk yang mengandung persarafan sensoris yang bergabung dengan kulit bagian luar, kulit ini mencapai ke dalam bagian akhir kanalis analis dan mempunyai epidermis berpigmen yang bertanduk rambut dengan kelenjar sebacea dan kelenjar keringat. Mukosa kolon mencapai dua pertiga bagian atas kanalis analis. Pada daerah ini, 6 10 lipatan longitudinal berbentuk gulungan, kolumna analis melengkung kedalam lumen. Lipatan ini terlontar keatas oleh simpul pembuluh dan tertutup beberapa lapisan epitel gepeng yang tidak bertanduk. Pada ujung bawahnya, kolumna analis saling bergabung dengan perantaraan lipatan transversal. Alur alur diantara lipatan longitudinal berakhir pada kantong dangkal pada akhiran analnya dan tertutup selapis epitel thorax. Daerah kolumna analis, yang panjangnya kira kira 1 cm, di sebut daerah hemoroidal, cabang arteri rectalis superior turun ke kolumna analis terletak di bawah mukosa dan membentuk dasar hemorhoid interna

Gambar II. 1 Rektum dan anus normal Hemoroid dibedakan antara yang interna dan eksterna. Hemoroid interna adalah pleksus vena hemoroidalis superior di atas linea dentata/garis mukokutan dan ditutupi oleh mukosa. Hemoroid interna ini merupakan bantalan vaskuler di dalam jaringan submukosa pada rektum sebelah bawah. Sering hemoroid terdapat pada tiga posisi primer, yaitu kanan depan (jam 7), kanan belakang (jam 11), dan kiri lateral (jam 3). Hemoroid yang lebih kecil terdapat di antara ketiga letak primer tesebut.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

12

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

Gambar II.2. Hemoroid interna dan eksterna Hemoroid eksterna yang merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid inferior terdapat di sebelah distal linea dentata/garis mukokutan di dalam jaringan di bawah epitel anus. Kedua pleksus hemoroid, internus dan eksternus berhubungan secara longgar dan merupakan awal aliran vena yang kembali bermula dari rektum sebelah bawah dan anus. Pleksus hemoroid interna mengalirkan darah ke vena hemoroidalis superior dan selanjutnya ke vena porta. Pleksus hemoroid eksternus mengalirkan darah ke peredaran sistemik melalui daerah perineum dan lipat paha ke vena iliaka.1 Faktor resiko 1. Anatomik : vena daerah anorektal tidak mempunyai katup dan pleksus hemoroidalis kurang mendapat sokongan dari otot dan fascia sekitarnya. 2. Umur : pada umur tua terjadi degenerasi dari seluruh jaringan tubuh, juga otot sfingter menjadi tipis dan atonis. 3. Keturunan : dinding pembuluh darah lemah dan tipis

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

13

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

4. Pekerjaan : orang yang harus berdiri , duduk lama, atau harus mengangkat barang berat mempunyai predisposisi untuk hemoroid. 5. Mekanis : semua keadaan yang menyebabkan meningkatnya tekanan intra abdomen, misalnya penderita hipertrofi prostat, konstipasi menahun dan sering mengejan pada waktu defekasi. 6. Endokrin : pada wanita hamil ada dilatasi vena ekstremitas dan anus oleh karena ada sekresi hormone relaksin. 7. Fisiologi : bendungan pada peredaran darah portal, misalnya pada penderita sirosis hepatis. Beberapa gejala klinis yang tampak terjadi pada penderita hemoroid seperti: Klasifikasi Hemoroid eksterna diklasifikasikan sebagai akut dan kronik. Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya merupakan hematoma, walaupun disebut hemoroid trombosis eksterna akut. Bentuk ini sangat nyeri dan gatal karena ujung-ujung syaraf pada kulit merupakan reseptor nyeri. Hemoroid eksterna kronik atau skin tag berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan penyambung dan sedikit pembuluh darah. Hemoroid interna diklasifikasikan menjadi 4 derajat yaitu : Derajat I : Tonjolan masih di lumen rektum, biasanya keluhan penderita adalah perdarahan Derajat II : Tonjolan keluar dari anus waktu defekasi dan masuk sendiri setelah selesai defekasi. Dubur mengalami pendarahan (darah jernih dan menetes) Nyeri di sekitar anus dan rektum Iritasi dan gatal-gatal Tonjolan atau benjolan di anus

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

14

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

Derajat III : Tonjolan keluar waktu defekasi, harus didorong masuk setelah defekasi selesai karena tidak dapat masuk sendiri. Derajat IV : Tonjolan tidak dapat didorong masuk/inkarserasi

Pemeriksaan Anamnesis harus dikaitkan dengan faktor obstipasi, defekasi yang keras, yang membutuhkantekanan intra abdominal meninggi ( mengejan ), pasien sering duduk berjam-jam di WC, dan dapat disertai rasa nyeri bila terjadi peradangan. Pemeriksaan umum tidak boleh diabaikan karena keadaan ini dapat disebabkan oleh penyakit lain seperti sindrom hipertensi portal. Hemoroid eksterna dapat dilihat dengan inspeksi apalagi bila terjadi trombosis. Bila hemoroid interna mengalami prolaps, maka tonjolan yang ditutupi epitel penghasil musin akan dapat dilihat apabila penderita diminta mengejan. Pemeriksaan Colok Dubur Pada pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna stadium awal tidak dapat diraba sebab tekanan vena di dalamnya tidak terlalu tinggi dan biasanya tidak nyeri. Hemoroid dapat diraba apabila sangat besar. Apabila hemoroid sering prolaps, selaput lendir akan menebal. Trombosis dan fibrosis pada perabaan terasa padat dengan dasar yang lebar. Pemeriksaan colok dubur ini untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma rektum. Pemeriksaan Anoskopi Dengan cara ini dapat dilihat hemoroid internus yang tidak menonjol keluar. Anoskop dimasukkan untuk mengamati keempat kuadran. Penderita dalam posisi litotomi. Anoskop dan penyumbatnya dimasukkan dalam anus sedalam mungkin, penyumbat diangkat dan penderita disuruh bernafas panjang. Hemoroid interna terlihat sebagai struktur vaskuler yang menonjol ke dalam lumen. Apabila penderita diminta mengejan sedikit maka ukuran hemoroid akan membesar dan penonjolan atau prolaps akan lebih nyata. Banyaknya benjolan, derajatnya,

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

15

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

letak ,besarnya dan keadaan lain dalam anus seperti polip, fissura ani dan tumor ganas harus diperhatikan. Pemeriksaan proktosigmoidoskopi Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan keluhan bukan disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat tinggi, karena hemoroid merupakan keadaan fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Faeces harus diperiksa terhadap adanya darah samar. Penatalaksanaan Medis Ditujukan untuk hemoroid interna derajat I sampai III atau semua derajat hemoroid yang ada kontraindikasi operasi atau klien yang menolak operasi. a. Non-farmakologis Bertujuan untuk mencegah perburukan penyakit dengan cara memperbaiki defekasi. Pelaksanaan berupa perbaikan pola hidup, perbaikan pola makan dan minum, perbaikan pola/cara defekasi. Perbaikan defekasi disebut Bowel Management Program (BMP) yang terdiri atas diet, cairan, serat tambahan, pelicin feses, dan perubahan perilaku defekasi (defekasi dalam posisi jongkok/squatting). Selain itu, lakukan tindakan kebersihan lokal dengan cara merendam anus dalam air selama 10-15 menit, 2-4 kali sehari. Dengan perendaman ini, eksudat/sisa tinja yang lengket dapat dibersihkan. Eksudat sisa tinja yang lengket dapat menimbulkan iritasi dan rasa gatal bila dibiarkan. b. Farmakologi Bertujuan memperbaiki defekasi dan meredakan atau menghilangkan keluhan dan gejala. Obat-obat farmakologis hemoroid dapat dibagi atas empat macam, yaitu: 1. Obat yang memperbaiki defekasi. Terdapat dua macam obat yaitu suplement serat (fiber suplement) dan pelicin tinja (stool softener). Suplemen bekerja dengan cara membesarkan

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

16

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

volume tinja dan meningkatkan peristaltik usus. Efek samping antara lain ketut dan kembung. Obat kedua adalah laxant atau pencahar. 2. Obat simptomatik. Bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi keluhan rasa gatal, nyeri, atau kerusakan kulit di daerah anus. Sediaan yang mengandung kortikosteroid digunakan untuk mengurangi radang daerah hemoroid atau anus. 3. Obat penghenti perdarahan. Perdarahan menandakan adanya luka pada dinding anus atau pecahnya vena hemoroid yang dindingnya tipis. Psyllium, citrus bioflavanoida yang berasal dari jeruk lemon dan paprika berfungsi memperbaiki permeabilitas dinding pembuluh darah. 4. Obat penyembuh dan pencegah serangan. Pengobatan ini dapat memberikan perbaikan terhadap gejala inflamasi, kongesti, edema, dan prolaps. c. Minimal Invasif Bertujuan untuk menghentikan atau memperlambat perburukan penyakit dengan tindakan-tindakan pengobatan yang tidak terlalu invasif antara lain skleroterapi hemoroid atau ligasi hemoroid atau terapi laser. Dilakukan jika pengobatan farmakologis dan non-farmakologis tidak berhasil. Penatalaksanaan Tindakan Operatif Ditujukan untuk hemoroid interna derajat IV dan eksterna atau semua derajat hemoroid yang tidak berespon terhadap pengobatan medis. Rubber band ligation terbuat dari karet dan ditempatkan di sekitar dasar Sclerotherapy adalah salah satu bentuk pengobatan tertua. Suatu larutan wasir dalam dubur. kimia disuntikkan langsung ke dalam wasir atau daerah di sekitarnya. Larutan ini menyebabkan reaksi lokal yang merusak aliran darah dalam wasir.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

17

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

Teknik laser atau teknik elektrokoagulasi kedua teknik ini menggunakan Cryotherapy teknik ini menggunakan suhu dingin untuk menghilangkan

perangkat khusus untuk membakar jaringan hemoroid. vena dan menyebabkan inflamasi dan jaringan parut. Hal ini memakan waktu lebih lama, terkait dengan rasa sakit setelah terapi, dan kurang efektif dibanding perawatan lainnya. Oleh karena itu, prosedur ini tidak umum digunakan. Hemorrhoidectomy Kadang-kadang, wasir meluas atau parah, entah itu hemoroid internal atau hemoroid eksternal, yang mungkin memerlukan operasi untuk menghilangkannya, operasi ini disebut sebagai hemorrhoidectomy. Metode ini adalah yang terbaik untuk menghilangkan hemoroid secara permanen. Hemorrhoidectomy adalah pengobatan untuk hemoroid derajat tingkat tiga dan empat. Penatalaksanaan Tindakan non-operatif o mendasarinya. o Injeksi larutan sklerosan juga efektif untuk hemoroid berukuran kecil dan berdarah. Membantu mencegah prolaps.1,4 Pencegahan Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya hemoroid antara lain: 1. Jalankan pola hidup sehat 2. Olah raga secara teratur (ex.: berjalan) 3. Makan makanan berserat 4. Hindari terlalu banyak duduk 5. Jangan merokok, minum minuman keras, narkoba, dll. 6. Minum air yang cukup 7. Jangan menahan kencing dan berak 8. Jangan menggaruk dubur secara berlebihan
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

Fotokoagulasi inframerah, diatermi bipolar, terapi laser adalah

tekhnik terbaru yang digunakan untuk melekatkan mukosa ke otot yang

18

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

9. Jangan mengejan berlebihan 10. Duduk berendam pada air hangat Prognosis Dengan terapi yang sesuai, semua hemoroid simptomatis dapat dibuat menjadi asimptomatis. Pendekatan konservatif hendaknya diusahakan terlebih dahulu pada semua kasus. Hemoroidektomi pada umumnya memberikan hasil yang baik. Sesudah terapi penderita harus diajari untuk menghindari obstipasi dengan makan makanan serat agar dapat mencegah timbulnya kembali gejala hemoroid.1 III.B. FISURA ANUS Fisura ini merupakan luka epitel memanjang sejajar sumbu anus. fisura biasanya tunggal dan terletak digaris tengah posterior. Kadang terjadi infeksi disebelah oral dikripta antara kolumna rektum pada muara kelenjar rektum. Papila di kolumna menunjukkan udem yang berkembang sampai merupakan hipertropi papila. Keadaan ini harus dibedakan dari polip rektum. Daerah disebelah aboral fisura kulit juga mengalami radang kronik dengan bendungan limf dan akhirnya fibrosis. Kelainan kronik dikulit ini disebut umbai kulit (skin tag) yang menjadi tanda pengenal fisura anus. Fisura anus dengan papilla hipertropik disebelah dalam dan umbai kulit di sebelah luar merupakan trias. Fisura anus dapat terjadi karena iritasi akibat diare, penggunaan laksans, cedera partus, atau latrogenik. Sering penyebabnya tidak jelas. Gambaran klinis dan diagnosis. Biasanya anamnesis didapatkan konstipasi, feses keras, setiap defekasi nyeri sekali, dan darah segar dipermukaan tinja. Umumnya ada spasmesfingter: konstipasi desebabkan ketakutan defekasi sehingga ditunda terus menerus. Umbai kulit dapat dilihat pada inspeksi. Colok dubur dapat dilakukan dengan menekan sisi di seberang fisura setelah pemberian anestesi topik berulang kali. Proktoskopi juga dilakukan dengan cara yang sama yaitu anestesi topik dan tekanan pada sisi kontralateral.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

19

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

Gambar II.3. Fisura anus Diagnosis banding terdiri atas luka atau rekah anus lainnya, seperti tuberkulosis, sifilis, aids, atau proktitis. Fisura anus kadang disertai hemoroid intern. Bila ada keluhan nyeri pada penderita hemoroid biasanya ada fisura, sebab hemoroid intern tidak menyebabkan nyeri. Penatalaksanaan Agar defekasi lancar dengan feses lunak dianjurkan diet makanan kaya serat dengan minum cukup banyak. Obat topikal yang mengandung anestetik dapat berguna. Bila pengobatan ini tidak berhasil dapat dilakukan sfingterotomi intern, tanpa mengganggu sfingter ekterna. Sfingter dalam dibelah disisi samping kiri atau kanan. Fisura biasanya dibiarkan, sedangkan umbai kulit dikeluarkan. Dilatasi sfingter seluruhnya (termasuk sfingter ekstern) menurut Lord tidak dianjurkan sebab kadang mengakibatkan inkontinensia. Fisura anus merupakan kelainan yang kronik, yang sering kambuh atau menunjukan eksaserbasi. Penanganan konservatif berhasil baik, sedangkan tindakan sfingterektomi intern akan bermanfaat bila terapi konservatif tidak berhasil. III.C. ABSES ANOREKTAL Abses anorektal disebabkan oleh radang di ruang para rektum akibat infeksi kuman usus. Umumnya pintu infeksi terdapat dikelenjar rektum di kripta antar kolumna rektum. Penyebab lain adalah infeksi dari kulit anus, hematom, fisura anus, dan skleroterapi.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

20

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

Abses diberikan nama sesuai dengan letak anatomik seperti pelvirektal, iskiorectal, antarsfingter, marginal, yaitu disaluran anus dibawah epitel, dan perianal. Dalam praktek sehari-hari abses perianal paling sering ditemukan. Gambaran klinis. Nyeri timbul bila abses terletak atau di sekitar anus atau kulit perianal. Gejala dan tanda sistemik radang biasanya cukup jelas seperti demam, leukositosis, dan mungkin kadang toksik. Tanda dan gejala lokal tergantung pada letaknya. Pada colok dubur atau pemeriksaan vagina dapat dicapai gejala dalam seperti abses iskiorektal atau pelvirektal. Umumnya tidak ada gangguan defekasi.

Gambar II.4. Lokasi terjadinya abses Abses perianal biasanya jelas karena tampak pembengkakan yang mungkin biru, nyeri, panas, dan akhirnya berflluktuasi. Penderita demam dan tak dapat duduk di sisi pantat yang sakit. Komplikasi terdiri dari perluasan ke ruang lain dan perforasi kedalam, ke anorektum, atau keluar melalui kulit perianal.4 Penatalaksanaan. Penanganan abses terdiri dari penyaliran. Umumnya sudah ada pernanahan sewaktu penderita datang. pemberian antibiotik kurang berguna karena efeknya hanya untuk waktu terbatas dengan risiko keluhan dan tandanya tersamarkan. Rendam duduk dan
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

21

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

analgesik memberikan pertolongan paliatif. Umumnya setelah perforasi spontan atau insisi abses untuk disalirkan, atau terbentuk fistel.

III.D. FISTEL ANUS Hampir semua fistel anus, yang biasanya disebut fistel perianal atau fistel perianal, disebabkan oleh perforasi atau penyaliran abses anorektum, sehingga kebanyakan fistel mempunyai satu muara di kripta di perbatasan anus dan rektum dan lubang lain di perineum di kulit perianal. Kadang fistel disebabkan oleh kolitis yang disertai proktitis, seperti tuberkulosis, amubiasis, atau morbus crohn. Fistel dapat terletak disubkutis, submukosa, antar sfingter, atau menembus sfingter. Mungkin fistel terletak, anterior, lateral, atau posterior. Bentuknya mungkin lurus, bengkok, atau mirip sepatu kuda. Umumnya sfingter bersifat tunggal, kadang ditemukan yang kompleks. Fistel dengan lubang kripta disebelah anterior umumnya berbentuk lurus. Fistel dengan lobang yang berasal dari kripta di sebelah dorsal umumnya tidak lurus, tetapi bengkok kedepan karena radang dan pus terdorong ke anterior di sekitar m. puborektalis dan dapat membentuk satu lobang perforasi atau lebih di sebelah anterior, sesuai hukum goodsall. Gambaran klinis. Dari anamnesa biasanya ada riwayat kambuhan abses perianal dengan selang waktu diantaranya, disertai pengeluaran nanah sedikit-sedikit. Pada colok dubur umumnya fistel dapat diraba antara telunjuk di anus (bukan direktum) dan ibu jari di kulit perineum sebagai tali setebal 3mm (colok dubur bidigital). Jika fistel agak lurus dapat disonde sampai sonde keluar di kripta asalnya. fistel perineum jarang menyebabkan gangguan sistemik. Fistel kronik yang lama sekali dapat mengalami degenerasi maligna menjadi karsinoma planoseluler kulit. Pemeriksaan harus dilengkapi dengan rektoskopi untuk menentukan adanya penyakit direktum seperti karsinoma atau proktitis TBC, amuba, atau morbus crohn. Fistulografi kadang berguna pada keadaan kompleks.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

22

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

Diagnosa banding. Hidrandenitis supuratif merupakan radang kelenjar keringat apokrin yang biasanya membentuk fistel multiple subkutan yang kadang ditemukan di perineum dan perianal. Penyakit ini biasanya ditemukan di ketiakdan umumnya tidak meluas ke struktur yang lebih dalam. sinus pilonidalis terdapat hany dilipatan sakrokoksigeal dan berasal dari sarang rambut dorsal dari tulang koksigeus atau ujung tulang sakrum. Fistel proktitis dapat terjadi pada morbus crohn, TBC, amubiasis, infeksi jamur, dan divertikulitis. Kadang fistel koloperineal disebabkan oleh benda asing atau trauma. Penatalaksanaan. Pada fistel dapat dilakukan fistulotomi atau fistulectomi. Dianjurkan sedapat mungkin dilakukan fistulotomi, artinya fistel dibuka dari lubang asalnya sampai ke lubang kulit. Luka dibiarkan terbuka sehingga menyembuh mulai dari dasar per sekendam intertionem. Lukanya biasanya akan sembuh dalam waktu agak singkat. Kadang dibutuhkan operasi dua tahap untuk menghindari terpotongnya sfingter anus. Prognosisnya pada fistel dapat kambuh kembali bila lubang dalam tidak turut dibuka atau dikeluarkan, cabang fistel tidak turut dibuka, atau kulit sudah menutup luka sebelum jaringan granulasi mencapai permukaan.

III.E. PROLAPSUS REKTUM Prolapsus Rektum adalah turunnya rektum melalui anus. Prolapsus yang bersifat sementara dan hanya mengenai lapisan rektum (mukosa), sering terjadi pada bayi normal, mungkin karena bayi mengedan selama buang air besarnya dan jarang berakibat serius. Pada orang dewasa, prolapsus lapisan rektum cenderung menetap dan bisa memburuk, sehingga lebih banyak bagian dari rektum yang turun. Prosidensia adalah prolapsus rektum yang lengkap. Paling sering terjadi pada wanita di atas usia 60 tahun.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

23

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

Penyebab dari prolapsus rektum seringkali berhubungan dengan berbagai keadaan berikut: Enterobiasis Trikuriasis Fibrosis kistik Malnutrisi dan malabsorbsi (misalnya penyakit seliak) Sembelit.

GEJALA Prolapsus rektum menyebabkan rektum berpindah keluar, sehingga lapisan rektum terlihat seperti jari berwarna merah gelap dan lembab yang keluar dari anus.

Gambar II.5. Prolapsus ani (kiri) dan prolapsus rektum (kanan) DIAGNOSA Untuk menentukan luasnya prolapsus, dilakukan pemeriksaan pada saat penderita berdiri atau jongkok dan mengedan. Melalui perabaan otot melingkar anus (otot sfingter ani) dengan menggunakan sarung tangan, sering ditemukan adanya penurunan dari tonus (ketegangan) otot. Melalui pemeriksaan sigmoidoskop dan barium enema usus besar, bisa ditemukan penyakit yang mendasarinya (misalnya adanya kelainan pada saraf dari otot sfingter ani). Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah 24
Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

PENGOBATAN Pada bayi dan anak-anak, pelunak tinja akan mengurangi kebutuhan mengedan selama buang air besar. Melilit bokong dengan tali pengikat diantara waktu buang air besar, biasanya membantu prolapsus sembuh dengan sendirinya. Pada orang dewasa, diperlukan pembedahan untuk mengatasi masalah ini. Pembedahan sering menyembuhkan prosidensia. Pada pembedahan perut, rektum diangkat, ditarik dan ditempelkan pada tulang ekor. Pada jenis pembedahan yang lainnya, sebagian dari rektum dibuang.

Gambar II.6. Prolapsus rektum pasca pembedahan Untuk orang yang terlalu lemah untuk menjalani operasi karena usia lanjut atau kesehatan yang buruk, lingkaran dari kawat atau plastik dapat dimasukan mengelilingi otot sfingter ani, cara ini disebut prosedur Thiersch.

III.F. INKONTINENSIA FESES


Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

25

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

Segala kelainan yang disertai dengan gangguan sensibilitas rektum dan anus dan faal otot anorektal dapat menyebabkan inkontinensia. Pada inkontinensia neurologik terdapat hipotoni atau otot sfingter anus dan otot panggul, dan hilangnya refleks anus. Pada inkontinensia traumatik atau latrogenik, sfingter anus rusak. Defek sfingter biasanya dapat diraba dan dilihat sebab gambaran pengerutan kulit disekitar anus juga hilang. Fungsi otot anorektum dapat ditentukan dan diukur dengan manometri didalam anus dan rektum. Penatalaksanaan inkontinensia neeurologik parsial atau ringan dapat diatasi dengan latihan sfingter, diit kurang serat, dan lavamen urus-urus sehari-hari. ruptur atau kerusakan sfingter harus dijahit kembali segera setelah traumaatau secara sekunder. Bila ujung otot tidak dapat ditemukan karena lesi lama, dapat dilakukan plastik dengan pita fasia lata sekitar anus atau transplantasi m. grasilis.

III.G. INFEKSI Radang pada rektum dan atau anus dapat disebabkan oleh gonore, sifilis, amuba dan berbagai virus. Proktitis gonore menimbulkan iritasi, gatal, pengeluaran mukus dan pus, dan nyeri. Sifilis menyebabkan ulkus durum yang agak keras dan tidak nyeri. Kondiloma akuminata juga termasuk penyakit venerik yang disebabkan oleh virus. Kondiloma ini mungkin tunggal tertabur disekitar anus dan atau vulva, atau banyak yang rapat sehingga bersatu dan berbentuk bunga kol. Sebagai tandanya ditemukan iritasi kulit, bau dan perdarahan. Penanganan kondiloma dengan podofilum atau tindakan bedah seperti eksisi, koagulasi, atau bedah beku. aids mungkin disertai dengan berbagai akibat imunosupresi seperti tumor kaposi, limfoma, karsinoma kulit, berbagai infeksi jamur, dan TBC.

III.H. TRAUMA DAN BENDA ASING Cedera tiang yang merupakan luka tembus melalui anus dapat menyebabkan perforasi rektum atau buli-buli tanpa adanya luka luar. Cedera biasanya disebabkan jatuh kena tiang atau kayu dari tempat tinggi. Pada permulaan mungkin keluhannya tidak terlalu Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah 26
Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

berat, tapi umumnya berat sekali dan memerlukan tindakan bedah darurat termasuk pemasangan anus preterbaturalis sementara untuk mencegah terbentuknya radang akut ekstraperitoneal di panggul. Benda asing yang dimasukkan dengan sengaja sering memerluka anestesi untuk mengeluarkannya. Jarang diperlukan laparatomi untuk pengeluaran secara rektomi.

III.I. STENOSIS ANUS ATAU REKTUM Stenosis dapat disebabkan oleh hemoroidektomi dengan pembuangan mukosa atau daerah linea dentata terlalu luas, atau skleroterapi yang salah. Disamping itu stenosis disebabkan oleh spasme pada fisura anus, lomfogranuloma venerum. kolitis ulserosa, morbus crohn, karsinoma rektum, penyinaran, dan kelainan bawaan. Tandanya berupa gangguan defekasi dengan feses berbentuk pensil atau pita. Stenosis sedang dapat ditangani dengan dilatasi. Kadang digunakan operasi eksisi jaringan parut, sfingterotomi, atau anoplastik, dengan syarat tidak ada penyakit aktif.4,5 III.J. IMPAKSI FESES Pada orang tua yang kurang gerak dan mengalami konstipasi dapat mengalami impaksi tinja. Pada keadaan ini feses direktum menjadi keras seperti batu sehingga tertahan ditempatnya, umumnya direktum. Kadang ada diare sebab feses cair dapat mengalir melewati feses keras. Keadaan ini dapat diatasi dengan obat pencahar peroral dan peranus, dan pengeluaran digital.4,5

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

27

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

BAB IV TUMOR GANAS ANUS

TUMOR GANAS Sekitar linea muko kutan (linea dentata) terdapat beberapa tumor ganas yang harus dibedakan dari kelainan jinak seperti hemoroid, kondiloma, leukoplakia, fisura dan limfogranuloma venerum. IV.A. KARSINOMA PLANOSELULARE Karsinoma ini merupakan tumor yang sering ditemukan di anus (75% dari segala malignitas), tetapi jarang jika dibandingkan dengan adenokarsinoma rektum (3-5%). Pada awalnya tumor ini merupakan tonjolan yang mudah digerakkan, tetapi pada tahap lanjut ada indurasi jauh kedalam dinding anorektum dan ulserasi. Mungkin ditemukan tumor satelit di kulit dan metastase di kelenjar limf inguinal. Sering tumor ini menjalar masuk rektum dan sfingter sehingga selain ke kelenjar limf inguinal ada penyebaran ke kelenjar limf perirektal dan mesenterium. Tumor lokal dan kecil dapat ditangani dengan eksisi lokal. terapi radiasi dapat berguna sebagai upaya paliatif bila tumor bersifat radiosensitif. Pembedahan radikal harus dianjurkan untuk tumor invasif tanpa penyebaran di luar daerah lokoregional.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

28

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

Walaupun lebih jarang, melanoma malignum dapat ditemukan di anorektum, baik yang melanotik maupun amelanotik. Metastase limfe maupun sistemik terjadi pada tahap agak dini. Prognosis disebut tidak baik walaupun dilakukan pembedahan.1,4

IV.B. KARSINOMA BASOSELULARE Karsinoma ini jarang ditemukan, biasanya dipinggir anus. Sifatnya sama dengan ulkus rodens dimuka. Eksisi lokal memberikan prognosis baik, sebab metastasis hampir tidak pernah ada. 1,5

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

29

Kelainan di Anus

Marcelle Yulianne (406091013)

DAFTAR PUSTAKA
1. de Jong, Wim, Sjamsuhidajat R. (ed.). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. EGC. Jakarta. 1997. 615-681 2. Carter DC, Russel RC (eds). Rob & Smith's Operative Surgery, 4th eds. London: Butterworths, 2008; 721-792. 3. Pena, A. Imperforate Anus and Cloacal Malformation. Pediatric Surgery. 3rd edition. WB Saunders. 2000. page 473-92. 4. Doherty, Gerard. Current Surgical Diagnosis & Treatment, 12th eds. USA: The McGraw-Hill Companies, 2006. 615-681. 5. EllisH, Calne R, Watson C. The Rectum and Anakl Canal. Lecture Notes General Surgery, 11th ed. London: Blackwell Publishing, 2006.541-559.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Sumber Waras Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011 - 28 Mei 2011

30