Anda di halaman 1dari 7

Format Gugatan PHI

Alamat, tanggal-bulan-tahun Kepada Yth, Ketua Pengadilan Hubungan Industrial Pada Pengadilan Negeri ... Di Tempat Perihal: Gugatan Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja

Dengan hormat, Nama penerima kuasa, alamat, berdasarkan tertanggal, bertindak untuk dan atas nama: kuasa khusus

Identitas seluruh Pemberi kuasa (nama, Pekerjaan, Alamat) Untuk selanjutnya PARA PENGGUGAT disebut sebagai.

PARA PENGGUGAT baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, dengan ini mengajukan Gugatan Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja . terhadap NAMA PERUSAHAAN, bergerak dibidang.., beralamat.. Untuk selanjutnya . TERGUGAT disebut sebagai..

Adapun yang menjadi dasar gugatan ini adalah sebagai berikut: DASAR GUGATAN 1. Bahwa gugatan diajukan sebelum lewat batas waktu 1 (satu) tahun sejak awal perselisiahan PHK dimana merupakan batas baktu akhir penajuan gugatan oleh PARA PENGGUGAT terhadap TERGUGAT yaitu satu tahun sejak dimulai PHK yakni ..,

sehingga gugatan dapat diperiksa oleh Pengadilan Hubungan Industrial .; 2. Bahwa gugatan diajukan setelah melewati proses biparteit dan mediasi triparteit, sebagaimana disyarakatkan oleh UU PPHI. Yakni dengan dikeluarkannya nota anjuran oleh Dinas Tenaga Kerja ; 3. Bahwa para penggugat telah bekerja pada Tergugat dengan status pekerja tetap dengan masa kerja .. tahun dan menerima upah sejak pertama kali masuk kerja sampai dengan bulan . ; 4. Bahwa para tergugat adalah pihak yang dirugikan dengan adanya Pemutusan Hubungan Kerja secara sepihak yang dilakukan oleh tergugat; 5. Bahwa untuk mendapatkan kepastian hukum, maka para penggugat mengajukan gugatan ini ke pengadilan hubungan industrial pada pengadilan negeri dengan demikian gugatan ini dapat diperiksa oleh pengadilan;

DALAM PROVISI 1. Bahwa sejak bulan . Para Penggugat tidak mendapatkan upah, padahal belum ada putusan berkekuatan hukum tetap dalam perselisihan antara Penggugat dengan Tergugat lagi yanh Para

2.

Bahwa selama belum ada penetapan mengenai pemutuhan hubungan kerja maka pengusaha dan pekerja tetap melaksanakan kewajibannya masing-masing, sebagaimana yang tercantum dalam pasal 155 ayat (2) UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan: Selama putusan lembaga penyelesaian hubungan industrial belum ditetapkan, baik pengusaha maupun pekerja/buruh harus tetap melaksanakan segala kewajibannya.

3. Bahwa berdasarkan pengertian dari pasal 155 ayat (2) UU No. 13 tahun 2003 tersebut, maka Pekerja berkewajiban tetap bekerja dan pengusaha berkewajiban tetap membayar upah pekerja 4. Bahwa oleh karena hal ini bukan merupakan pokok perkara maka sudah selayaknya pengadilan hubungan industrial pada pengadilan negeri memutus terlebih dahulu tuntutan

provisionil ini, yaitu memerintahkan Tergugat untuk membayarkan upah yang sejak bulan yang tidak dibayarkan oleh Tergugat dan untuk tetap membayar upah kepada Para Penggugat untuk selanjutnya; DALAM POKOK PERKARA - Urutan kejadian/kronologis - Hasil biparteit - Isi nota anjuran disnaker Kerugian para penggugat Dengan penghitungan Pasal 165 ayat (2), (3) dan (4) UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disertai dengan perincian: TUNTUTAN Berdasarkan uraian tersebut diatas mohon kiranya pengadilan hubungan industrial pada pengadilan negeri . Dalam hal ini majelis hakim yang terhormat yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara ini dengan amar sebagai berikut: Dalam Provisi 1. Memerintahkan Tergugat untuk membayar upah Para Penggugat yang belum dibayarkan sejak bulan .. atau sejak proses perselisihan ini dimulai sampai saat dikeluarkannya putusan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewisjde); 2. Menyatakan putusan dalam provisi ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu meskipun ada bantahan,maupun upaya hukum lainnya sampai diperolehnya putusan yang berkekuatan hukum tetap mengenai pokok perkara. Dalam Pokok Perkara 1. Menerima seluruhnya; dan mengabulkan gugatan Para Penggugat untuk

2. Memerintahkan Tergugat untuk membayarkan uang pesangon sesuai dengan Pasal 165 ayat (2), (3) dan (4) UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

3. Menghukum Tergugat untuk membayar segala biaya yang timbul dari perkara ini; Menyatakan bahwa putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu, meskipun ada upaya verzet, banding, kasasi, perlawanan dan/atau peninjauan kembali Atau bila Majelis Hakim Yang Terhormat berpendapat lain maka mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono)

PELAYANAN PERKARA PADA PENGADILAN HUBUNGAN INDUSTRIAL (PHI) :

1. Meja Pertama (Panitera Muda PHI)

Menerima Dan Menelaah Surat Gugatan Berdasarkan Check List, Menerima Pendaftaran Perjanjian Bersama (Bipartit, Mediasi, Konsiliasi), Menerima Pendaftaran Akta Perdamaian Dan Putusan Arbitrase, Permohonan Kasasi Dan Permohonan Pk Serta Permohonan Eksekusi. Melakukan Pemeriksaan Persyaratan/Kelengkapan Berkas Dengan Memberikan Tanda Pada Formulir (Check List), Dengan Maksud Apabila Ada Kekurangan Dapat Diidentifikasi. Memberi Penjelasan Pada Penggugat/Kuasanya Untuk Melengkapi Gugatan Yang Belum Lengkap Sebagaimana Tercantum Dalam Formulir Kelengkapan Berkas Perkara Gugatan (Check List). Membuat Skum Untuk Perkara Yang Nilai Gugatannya Rp. 150.000.000,- (Seratus Lima Puluh Juta Rupiah) Atau Lebih Untuk Dibayarkan Kepada Kasir Yang Merupakan Bagian Dari Meja Pertama. Menentukan Nomor Perkara Berdasarkan Pada Tata Urutan Pendaftaran Perkara, Pada Buku Bantu Dan Nomor Tersebut Diterakan Pada Lembar Pertama Kanan Atas Surat Gugatan Dan Salinan-Salinannya. Menyerahkan Surat Gugatan Yang Telah Diberi Nomor Kepada Meja Dua Untuk Dicatat Dalam Register Induk Gugatan. Menerima Pendaftaran Permohonan Kasasi Dan Pk, Membuat Skum Untuk Perkara Yang Nilai Gugatannya Rp. 150.000.000,- (Seratus Limapuluh Juta Rupiah) Atau Lebih Berdasarkan Nomor Perkara Awal (Nomor Perkara Phi), Menyerahkan Surat Permohonan Kasasi Atau Pk Kepada Meja Dua Untuk Dicatat Dalam Register Iniduk Dan Register Kasasi Atau Register Pk. Menyerahkan Akta Bukti Pendaftaran Perjanjian Bersama (Bipartit, Mediasi, Konsiliasi), Akta Bukti Pendaftaran Akta Perdamaian Dan Putusan Arbitrase Kepada Pendaftar Dan Salinannya (Copy) Disimpan Pada File Masing-Masing.

2. Meja Kedua Pendaftaran Dan Pencatatan Perkara.

Mencatat Data-Data Perkara Pada Register Induk Gugatan Berdasarkan Tata Urutan Nomor Perkara Yang Telah Ditentukan Oleh Meja Pertama Pada Lembar Pertama Surat Gugatan. Mencatat Permohonan Kasasi Dan Pk Pada Register Induk Perkara, Register Kasasi Dan Register Pk. Pengisian Kolom-Kolom Pada Buku Register Harus Dilaksanakan Dengan Tertib Dan Cermat Berdasarkan Prosedur Penyelesaian Perkara. Verzet Terhadap Putusan Verstek Tidak Didaftar Sebagai Perkara Baru Tetapi Memakai Nomor Perkara Yang Sama Dengan Tambahan Kode Verzet Sedangkan Perlawanan Pihak Ketiga Didaftar Sebagai Perkara Baru.

3. Meja Ketiga

Menyiapkan Dan Menyerahkan Salinan Putusan Pengadilan Atas Permintaan Dari Para Pihak. Menerima Dan Memberikan Tanda Terima Atas : 1 Penyerahan Memori Kasasi ; 2 Penyerahan Kontra Memori Kasasi; 3 Penyerahan Alasan Pk; 4 Penyerahan Jawaban Alasan Pk; Mengatur Urutan Dan Giliran Penugasan Jurusita/Jurusita Pengganti Yang Akan Melaksanakan Tugas Kejurusitaan. Menerima Berkas Perkara Yang Telah Selesai Diminutasi Untuk Persiapan Pengiriman Apabila Ada Upaya Hukum. Meneliti Kelengkapan Bundel A Dan Bundel B Untuk Dikirim Ke Mahkamah Agung. Mengirimkan Berkas Perkara Yang Terdiri Dari Bundel A Dan Bundel B Ke Mahkamah Agung; Catatan : Bundel A Adalah Merupakan Himpunan Surat-Surat Yang Diawali Dari Surat Gugatan, Dan Semua Kegiatan/Proses Penyidangan/Pemeriksaan Perkara Tersebut Yang Selalu Disimpan di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI). Daftar Isi Bundel A : (Untuk Arsip Pengadilan Negeri/PHI) 1. 2. 3. 4. 5. Surat Gugatan. Penetapan Penunjukan Majelis Hakim. Penetapan Hari Sidang. Relaas-Relaas Panggilan. Berita Acara Sidang (Jawaban/Tanggapan dan bukt-bukti surat dimasukan dalam Berita Acara). 6. Surat Kuasa Khusus Kedua Belah Pihak Yang Berpekara (Kalau Ada). 7. Penetapan-Penetapan Lainnya Yang Berkaitan Dengan Perkara (Kalau Ada). 8. Berita Acara Sita Jaminan (Bila Ada). 9. Lampiran-Lampiran Surat Yang Diajukan Oleh Kedua Belah Pihak. (Bila Ada). 10. Surat-Surat Bukti Penggugat. 11. Surat-Surat Bukti Tergugat. 12. Surat-Surat Lainnya. Catatan : Asli Putusan Tetap Tersimpan Di Arsip Perkara Yang Bersangkutan Daftar Isi Bundel B(Kasasi) : Dikirim ke Mahkamah Agung (Arsip Mahkamah Agung) 1. Relaas-Relaas Pemberitahuan Isi Putusan Pengadilan Negeri/Phi Kepada Kedua Belah Pihak Yang Berperkara. 2. Akta Permohonan Kasasi 3. Surat Kuasa Khusus Dari Pemohon Kasasi (Bila Ada).

4. Memori Kasasi Dan/Atau Surat Keterangan Apabila Pemohon Kasasi Tidak Mengajukan Memori Kasasi. 5. Tanda Terima Memori Kasasi. 6. Relaas Pemberitahuan Kasasi Kepada Termohon Kasasi. 7. Kontra Memori Kasasi. 8. Salinan Putusan P H I Dan Penetapan-Penetapan P H I. 9. Surat-Surat Lainnya Yang Sekiranya Ada. Daftar Isi Bundel B(Peninjauan Kembali) : Dikirim ke Mahkamah Agung (Arsip Mahkamah Agung) 1. Relas-Relas Pemberitahuan Isi Putusan Mahkamah Agung Kepada Kedua Belah Pihak Yang Berperkara 2. Akta Permohonan Pk Berikut Alasan Pk. 3. Surat Kuasa Khusus Dari Pemohon Pk (Bila Ada). 4. Surat Pemberitahuan Pernyataan Pk Dan Alasan Pk. 5. Jawaban Alasan Pk. 6. Salinan Putusan Phi Dan Putusan Mahkamah Agung. 7. Tanda Bukti Setoran Biaya Pk Dari Bank. (Bila Ada) 8. Surat-Surat Lainnya Yang Sekiranya Ada.