Anda di halaman 1dari 13

Tugas MK

: :

Kelompok Pend. Agama Islam

SISTEM EKONOMI ISLAM

OLEH:

KELOMPOK VI
Dhani Awalia Surki Yuli Istuti Supri Idhan (104404010) (104404027) (074404014) (074404007)

PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
1

KATA PENGANTAR
Assalamu Alaikum Wr.Wb.

Syukur Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT. Atas segala nikmat dan karunia-Nya. Shalawat dan salam yang tak lupa pula kita panjatkan kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan/jahiliyah kea lam terang benderang sekarang ini. Akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah dengan daya dan upaya yang terbatas maka makalah ini dapat diselesaikan. Adapun judul makalah ini adalah SISTEM EKONOMI ISLAM. Akhir kata penulis berharap apa yang penulis tulis ini dapat bermamfaat bagi pembaca dan terkhusus bagi penulis untuk digunakan sebagai pembelajaran dalam membuatkan karya-karya naru lainnya. Semoga Allah Swt senantiasa tetap memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya kepada penulis menuju jalan lurus yang penuh dengan Ridha-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin.

Wassalamu alaikum Wr.Wb.

Makassar, 28 Oktober 2010

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI 1 2 3

BAB I

PENDAHULUAN
I. II. Latar belakang Rumusan Masalah


. ...

4
4 4 4

III. Tujuan Penulisan

BAB II

PEMBAHASAN
I. II.

5
5 7

Pengertian Sistem Ekonomi Islam Ciri-ciri Sistem Ekonomi Islam

. . .

III. Tujuan Sistem Ekonomi Islam IV. Asas Sistem Ekonomi Islam

10 10 10 12 12 12 13

V. Larangan-larangan dalam Perdagangan Islam

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah satu-satunya agama yang sempurna yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia dan alam semesta. Kegiatan perekonomian manusia juga diatur dalam Islam dengan prinsip illahiyah. Harta yang ada pada kita, sesungguhnya bukan milik manusia, melainkan hanya titipan dari Allah swt agar dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kepentingan umat manusia yang pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah swt untuk dipertanggungjawabkan. Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum dalam rukun iman dan rukun Islam.
Sistem Ekonomi Islam atau syariah sekarang ini sudah banyak diperbincangkan di Indonesia. Banyak kalangan masyarakat yang mendesak agar Pemerintah Indonesia segera mengimplementasikan Sistem Ekonomi Islam dalam Sistem Perekonomian Indonesia seiring dengan hancurnya Sistem Ekonomi Kapitalisme.

B.

Rumusan Masalah
1. 2. 3. 4. 5. Apa pengertian Sistem Ekonomi Islam ? Apa ciri-ciri Sistem Perekonomian Islam ? Apa tujuan Sistem Ekonomi Islam ? Bagaimana asas dalam Sistem Ekonomi Islam ? Apa Larangan-larangan berdagang dalam Ekonomi Islam ?

C.

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah bagaimana agar kita mengetahui Sistem Ekonomi Islam yang ada di Indonesia. Sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam islam.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Sistem Ekonomi Islam
Salah satu aspek kehidupan manusia adalah ekonomi, yaitu upaya manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagai makhluk ekonomi manusia memerlukan pemenuhan kebutuhannya melalui proses-proses tertentu. Ajaran Islam memberikan petunjuk dasar berkenaan dengan masalah ekonomi tersebut. Diantaranya: 1. Barang dan Jasa Barang dan jasa yang diproduksi dalam ekonomi Islam didasarkan kepada kaidah pokok dalam muamalah, yaitu apa saja dibolehkan, kecuali yang dilarang. Ini berarti bahwa barang dan jasa yang diproduksi hendaknya barang dan jasa yang halal, bukan yang diharamkan. Adapun jenis-jenis barang yang haram diperjualbelikan diantaranya: a. Menjual/membeli anjing, kecuali anjing pemburu, sabda Nabi: Abu Hurairah meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW, pernah berkata: Harga anjing itu haram, kecuali anjing pemburu. HR. Muslim dan Nasai. b. Bangkai, darah, daging babi dan daging binatang yang disembelih atas nama selain Allah, Allah berfirman: Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembeligh dengan menyebut nama selain Allah. Barang-barang yang disebutkan di atas haram dimakan dan haram pula diperjualbelikannya, sabda Nabi: Sesungguhnya Allah dab Rasul-Nya telah mengharamkan jual beli arak, bangkai, babi dan patung-patung. c. Khamar dan sejenisnya Syariat Islam mengharamkan pula memperjualbelikan minuman yang memabukkan, seperti khamar dan sejenisnya yang memabukkan.

2.

Perhatikan kepada karyawan Tenaga kerja ditempatkan bukan hanya sebatas alat produksi, tetapi ditempatkan dan dihargai sebagai manusia, karena itu sistem pengupahan ditata secara adil, berdasarkan pengalaman dan kemampuan yang dimilikinya sehingga para pekerja dapat merencanakan masa depannya dengan jelas dan sekaligus memacu mereka bekerja keras untuk mengejar prestasi kerjanya. Pemberian hak yang wajar dan manusiawi kepada pegawai akan berdampak terhadap produktifitas kerja mereka, sebaliknya pengabaian terhadap hak-hak pekerja melahirkan inefesiensi yang dapat merugikan perusahaan, seperti pemogokan. Demikian pula dalam hal kewajiban para pekerja, Islam mengajarkan untuk melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan penuh rasa tanggung jawab terhadap kelancaran dan kemajuan perusahaannya, karena kewajiban bekerja bukan hanya kebutuhan memenuhi kebutuhan material saja, melainkan juga tugas hidup sebagai manusia dan sekaligus tugas pengabdian (ibadah) kepada Allah.

3.

Sistem distribusi Distribusi barang dan jasa menurut ajaran Islam hendaknya didasarkan kepada kelancaran untuk segera sampai ke tangan konsumen serta tidak ada yang dirugikan, karena itu aspek keadilan dalam pendistribusian barang dan jasa sangat ditekankan. Upaya-upaya yang dapat merugikan konsumen terutama yang dapat mempermainkan harga akibat distribusi yang tidak lancar, harus dijauhkan. Islam mengajarkan keadilan dan pemerataan ekonomi dan kesempatan berusaha, sehingga setiap orang dapat memperoleh hasil usaha sebagaimana yang mereka usahakan. Hal ini memerlukan iklim usaha yang sehat pula melalui peraturan dan mekanisme pasar yang dapat menjamin terciptanya keadilan ekonomi.

4.

Kepuasan kedua pihak Jual beli dalam keadaan terpaksa atau dipaksakan oleh salah satu pihak, baik pembeli maupun penjual, bukanlah cara yang sesuai dengan ajaran Islam, karena itu tidak sah jual beli di bawah ancaman, ketakutan dan keterpaksaan.

Aspek saling menguntungkan dan saling meridhai merupakan cirri utama dalam konsep Islam, karena itu hal-hal yang dapat mengganggu kedua aspek di atas perlu sekali diperhatikan agar jual beli dapat terhindar dari kekecewaan dan kerugian.

B.

Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Islam


1. Melibatkan Tuhan Orang Islam berekonomi dengan niat kerana Allah dan mengikut peraturan dan hukum-hakam Allah Taala. Matlamatnya ialah untuk mendapat redha dan kasih sayang Allah. Syariat lahir dan batin ditegakkan dan hati tidak lalai dari mengingati Tuhan. Aktiviti berniaga dianggap zikir dan ibadah kepada Allah SWT. Ia adalah jihad fisabilillah dan menjadi satu perjuangan untuk menegakkan Islam dan mengajak manusia kepada Tuhan. Sesibuk manapun berniaga, Allah SWT tidak dilupakan. Berekonomi dan berniaga secara Islam adalah di antara jalan untuk menambah bekalan taqwa. 2. Berlandaskan Taqwa Kegiatan ekonomi dalam Islam merupakan jalan untuk mencapai taqwa dan melahirkan akhlak yang mulia. Ini adalah tuntutan Tuhan. Kalau dalam sistem ekonomi kapitalis, modalnya duit untuk mendapatkan duit, tetapi dalam ekonomi Islam modalnya taqwa untuk mendapatkan taqwa. Dalam Islam, berekonomi adalah untuk memperbesar, memperpanjang dan memperluaskan syariat Tuhan. Ekonomi itu jihad dan ibadah. Oleh itu tidak boleh terkeluar dari konsep dan syarat-syarat ibadah. Niatnya, perlaksanaannya dan natijahnya kena betul. Kegiatan ekonomi atau perniagaan yang dibuat itu tidak haram dan tidak melibatkan perkara-perkara yang haram. Ibadah asas seperti solat, puasa dan sebagainya tidak boleh ditinggalkan. Kalau solat ditinggalkan, ibadah berekonomi sepertimana juga ibadah-ibadah yang lain akan dengan sendirinya tertolak.

Ekonomi Islam lebih mementingkan sifat taqwa daripada modal kewangan yang besar. Ilmu, pengalaman, kemahiran, kekayaan alam semulajadi dan sebagainya. Orang bertaqwa itu dibantu Tuhan seperti dalam firman-Nya maksudnya: Allah itu pembela bagi orang-orang yang bertaqwa (Al Jasiyah: 19). Orang yang bertaqwa itu, usahanya sedikit tetapi hasilnya banyak. Apatah lagi kalau usahanya banyak. Kalau orang yang bertaqwa menghadapi masalah, Allah akan mengadakan baginya jalan keluar dan dia diberi rezeki oleh Allah dari sumbersumber yang tidak disangka-sangka. 3. Penuh Suasana Kekeluargaan Dalam premis perniagaan Islam di mana ada tuan punya atau pengurus dan pekerja, terjalin kemesraan dan kasih sayang seperti dalam satu keluarga. Pengurus seperti ayah. Penyelia-penyelia seperti kakak dan abang. Para pekerja seperti anak. Ayah menjaga keperluan lahir batin anak-anak. Ini termasuk didikan agama, makan minum, keselamatan, kesehatan, pakaian, tempat tinggal, kebajikan dan sebagainya. 4. Penuh Kasih Sayang Islam menganggap berekonomi itu ibadah. Iaitu ibadah menerusi khidmat kita kepada sesama manusia. Manusialah yang Tuhan tuntut supaya kita berkasih sayang dengan mereka. Justru itu, pelanggan dan ahli-ahli masyarakat tidak dilihat seperti orang lain bahkan saudara-mara. Pelanggan yang datang kepada penjual perniagaan dilayani sebaik mungkin seperti tamu. Mereka datang membawa rahmat dan kembalinya menghapuskan dosa. Pelangganlah tempat mereka mencurah bakti dan khidmat. Pelanggan jugalah orang yang membantu mereka memperbaiki dan mendidik hati. Oleh itu, pelanggan sungguh mahal dan sungguh istimewa. Mereka diberi kemesraan dan kasih sayang. Berbakti dan berkhidmat dan memberi pelanggan apa yang mereka mau. Ia termasuk pembelaan dan kebajikan.

Dalam ekonomi kapitalis, tidak ada kasih sayang. Mereka hanya inginkan uang para pelanggan. Jangankan untuk membantu pelanggaan, bahkan mereka sanggup menyusahkan, menekan, menindas dan menipu pelanggan demi untuk mengejar keuntungan. 5. Keuntungan Perniagaan untuk Masyarakat Dalam ekonomi Islam, keuntungan ada dua bentuk. Satu adalah keuntungan maknawi dan satu lagi keuntungan maddi (material). Islam mengajar ahli ekonomi dan peniagaannya untuk mengutamakan untung maknawi daripada untung material. Kalaupun ada keuntungan material, ia perlu dihalalkan semula dan dipergunakan untuk kepentingan masyarakat. Islam tidak menganjurkan keuntungan material di peruntukkan kepada diri sendiri, keluarga, kelompok atau golongan. Keuntungan boleh diambil sekadar perlu tetapi selebihnya mesti dikembalikan kepada Tuhan melalui bantuan kepada fakir miskin dan masyarakat. Inilah apa yang dikatakan bersyukur. Ekonomi Islam lebih mementingkan khidmat kepada masyarakat daripada mengumpulkan keuntungan material yang besar. Keuntungan material kalaupun ada, perlu disalurkan semula kepada masyarakat. 6. Tidak Ada Hutang Berunsur Riba Islam tidak membenarkan riba, yaitu pinjaman berfaedah (berbunga) untuk jangka waktu tertentu. Islam ada cara tersendiri untuk menjaga modal dan keuangan, antara lain ialah mudharabah, musyarakah, berkorban dan sebagainya. Riba dalam ekonomi membuatkan harga barang dan khidmat menjadi tinggi kerana untung lebih terpaksa dicari untuk membayar kadar faedah riba. Usaha ekonomi yang berasaskan riba juga tertakluk kepada tekanan kerana lagi lama pinjaman tidak dibayar, lagi banyak faedah atau bunganya.

C.

Tujuan Sistem Ekonomi Islam


Sistem Ekonomi Islam mempunyai tujuan untuk memberikan keselarasan bagi kehidupan di dunia. Nilai Islam bukan semata-mata hanya untuk kehidupan muslim saja, tetapi seluruh makhluk hidup di muka bumi. Esensi Sistem Ekonomi Islam adalah pemenuhan kebutuhan manusia yang berlandaskan nilai-nilai Islam guna mencapai pada tujuan agama. Sistem Ekonomi Islam menjadi rahmat seluruh alam, yang tidak terbatas oleh ekonomi, sosial, budaya dan politik dari Bangsa. Sistem Ekonomi Islam mampu menangkap nilai fenomena masyarakat sehingga dalam perjalanannya tidak meninggalkan sumber hukum teori Ekonomi Islam.

D.

Asas Sistem Ekonomi Islam


Dengan melakukan istiqra` (penelahaan induktif) terhadap hukum-hukum syara' yang menyangkut masalah ekonomi, akan dapat disimpulkan bahwa Sistem Ekonomi (an-nizham aliqtishady) dalam Islam mencakup pembahasan yang menjelaskan bagaimana memperoleh harta kekayaan (barang dan jasa), bagaimana mengelola (mengkonsumsi dan mengembangkan) harta tersebut, serta bagaimana mendistribusikan kekayaan yang ada. Sehingga ketika membahas ekonomi, Islam hanya membahas masalah bagaimana cara memperoleh kepemilikan harta kekayaan, bagaimana mengelola kepemilikan harta kekayaan yang telah dimiliki, serta cara mendistribusikan kekayaan tersebut di tengah-tengah masyarakat.

Atas dasar pandangan di atas, maka menurut Zallum (1983), Az-Zain (1981), An-Nabhaniy (1990), dan Abdullah (1990), asas-asas yang membangun sistem ekonomi Islam terdiri dari atas tiga asas, yakni (1) (2) bagaimana bagaimana harta diperoleh yakni menyangkut harta kepemilikan fil : (al-milkiyah), serta

pengelolaan

kepemilikan

(tasharruf

milkiyah),

(3) bagaimana distribusi kekayaan di tengah masyarakat (tauzi'ul tsarwah bayna an-naas).

E.

Larangan-Larangan dalam Perdagangan Islam


1. Menyembunyikan kecacatan barang Dalam jual beli kejujuran menjadi sikap yang harus diperlihatkan baik oleh pedagang maupun pembeli, karena itu dalam perdagangan harus jelas, tidak ada yang disembunyikan. Menyembunyikan cacat barang yang dijual merupakan kecurangan
10

yang tidak boleh dilakukan. Sebab barang yang cacat akan mengecewakan pembeli, jika ia mengetahui kecacatannya setelah barang itu di beli. 2. Sumpah dalam jual beli Dalam jual beli hendaklah menghindarkan dari sumpah yang dimaksudkan untuk membuat pembeli tertarik atau mempercayai dan membeli barang yang hendak dijual. Karena sumpah dapat menodai jual beli dan mnghilangkan berkah Allah, Sabda Nabi: Jauhilah banyak sumpah dalam berjual beli, karena ia akan melariskan dagangan kemudian dilenyapkan keberkahannya. 3. Bersaing secara tidak sehat Dan juga tidak diperbolehkan seseorang menjual barang orang lain, atau sengaja menjual barang serupa dengan sengaja untuk mengacaukan proses jual beli yang sedang berlangsung atau mengacaukan harga atau seseorang dengan sengaja menawar harga suatu barang yang sedang ditawar orang lain, baik untuk dimilikinya atau untuk mempengaruhi pembelinya. 4. Spekulasi Speulasi adalah berusaha dengan harapan yang belum jelas, apakah akan untung atau rugi. Apalagi untung ia akan mendapat untung yang besar, apabila rugi ia akan rugi besar pula. Usaha ini termasuk tidak jelas atau samar-samar, karena itu bukan perbuatan yang diajarkan islam. Karena itu dalam melakukan kegiatan ekonomi, hendaknya yang dapat diperhitungkan untung ruginya, sehingga tidak terjebak kepada keadaan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Spekulasi umumnya melahirkan penyesalan dan kesengsaraan, karena itu hendaknya sedapat mungkin dihindarkan.

11

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
 Salah satu aspek kehidupan manusia adalah ekonomi, yaitu upaya manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagai makhluk ekonomi manusia memerlukan pemenuhan kebutuhannya melalui proses-proses tertentu.  Ciri-ciri dari system ekonomi islam yaitu: Melibatkan tuhan, Berlandaskan Taqwa, Penuh Suasana Kekeluargaan, Penuh Kasih Sayang, Keuntungan Perniagaan untuk Masyarakat, Tidak Ada Hutang Berunsur Riba.  Sistem Ekonomi Islam mempunyai tujuan untuk memberikan keselarasan bagi kehidupan di dunia. Nilai Islam bukan semata-mata hanya untuk kehidupan muslim saja, tetapi seluruh makhluk hidup di muka bumi. Esensi Sistem Ekonomi Islam adalah pemenuhan kebutuhan manusia yang berlandaskan nilai-nilai Islam guna mencapai pada tujuan agama.  Dalam sistem ekonomi islam tedapat beberapa asas-asas yang membangun, yakni: Bagaimana
harta diperoleh yakni menyangkut kepemilikan (al-milkiyah), Bagaimana pengelolaan kepemilikan harta (tasharruf fil milkiyah), serta Bagaimana distribusi kekayaan di tengah masyarakat (tauzi'ul tsarwah bayna an-naas).

 Larangan-larangan dalam system ekonomi islam yaitu: Menyembunyikan kecacatan barang yang diperdagangkan, Sumpah jual Beli, Bersaing secara tidak sehat, dan spekulasi.

B.

Saran
Bagi pembaca agar menggunakan makalah ini dengan sebaik-baiknya untuk menambah pengetahuan dan menjadi bahan referensi untuk makalah yang sejenis. Dan semoga anda tidak pernah merasa puas dengan makalah kami sehingga anda dapat mencari referensireferensi lainnya sebagai tambahan dalam mengembangkan ilmu dan pengetahuan yang anda miliki sekarang.

12

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik ed. Agama, Etos Kerja, dan Perkembangan Ekonomi. LP3S. Jakarta. 1993. Faridl, Miftah. Pokok-pokok Ajaran Islam. Penerbit Pustaka. Bandung. 1991. Saefuddin, AM. Islam Untuk Disiplin Ilmu Ekonomi. Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. Departemen Agama RI. Jakarta. 1986. Dalilulfalihin. Pendidikan Agama Islam. Tim Dosen Pendidikan Agama Islam. Universitas Negeri Makassar. 2009. www.google.com

13