Anda di halaman 1dari 22

A. Pengertian umum Berdasarkan pasal 16B UU No.

42 Tahun 2009, disebutkan bahwa Pajak terutang tidak dipungut sebagian atau seluruhnya atau dibebaskan dari pengenaan pajak, baik untuk sementara waktu atau selamanya untuk: a. Kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam daerah pabean b. Penyerahan BKP tertentu atau penyerahan JKP tertentu c. Impor BKP tertentu d. Pemanfaatan BKP tidak berwujud tertentu dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean e. Pemanfaatan JKP tertentu dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean. diatur dengan Peraturan Pemerintah. Berdasarkan pasal 16B ini dapat disimpulkan bahwa pemberian fasilitas perpajakan di bidang PPN dan PPnBM adalah berupa:
y Pajak terutang tidak dipungut y Dibebaskan dari pengenaan pajak

Perlakuan pajak masukan bagi PKP yang melakukan penyerahan BKP/JKP yang atas penyerahannya memperoleh fasilitas perpajakan adalah sebagai berikut: Pajak masukan yang dibayar untuk perolehan BKP/JKP yang atas penyerahannya tidak dipungut PPN, dapat dikreditkan. Pajak masukan yang dibayar untuk perolehan BKP/JKP yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN, tidak dapat dikreditkan. Karena pajak masukan atas fasilitas PPN yang dibebaskan tidak bisa dikreditkan, maka biasanya Penjual atau pengusaha akan

memasukkanya sebagai biaya dan menjadi bagian dari harga pokok penjualan. Sehingga harga jual lebih mahal, sedangkan untuk pajak terutang tapi tidak dipungut, penjual tidak akan membebankan pajak masukannya, karena pajak masukan tersebut bisa dikreditkan.

B. Perkembangan Fasilitas di bidang PPN


y

Sebelum 1 Januari 2001 Fasilitas yang diberikan dalam bidang PPN sebelum masa 1

Januari 1995 meliputi: 1. Penangguhan pembayaran PPN dan PPnBM 2. Penundaan pembayaran PPN dan PPnBM 3. PPN dan PPnBM ditanggung pemerintah 4. PPN dan PPnBM dibayar oleh pemerintah 5. PPN dan PPnBM tidak dipungut 6. Dibebaskan dari pengenaan pajak Selanjutnya, setelah 1 Januari 1995, meskipun sudah ditetapkan dalam dalam Pasal 16B UU PPN 1984 bahwa fasilitas PPN hanya ada 2 macam yaitu dibebaskan dari pengenaan pajak, dan pajak terutang tidak dipungut, namun dalam praktek masih diberlakukan 5 macam fasilitas yaitu : 1. Penangguhan pembayaran PPN yang diberikan atas impor barang modal berupa mesin dan peralatan pabrik yang dilakukan perusahaan modal asing yang Surat Persetujuan Penanaman Modalnya sudah ditandatangani leh pejabat yang berwenang setelah 1 januari 1992 atau selambat-lambatnya 31 Maret 1998. Fasiltas ini dierikan sepanjang kegiatan impor tersebut dilakukan masih dalam janka waktu 3 tahun setelah tanggal penandatanganan tersebut. 2. PPN ditanggung oleh pemerintah berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1986 yang diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 204 Tahun 1998 pada tanggal 31 Desember 1998 yang diberikan atas impor dan penyerahan di dalam daerah pabean untuk BKP dan JKP yang bersifat strategis. 3. Penundaan pembayaran PPN berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1989 jo Keputusan Menteri Keuangan Nomor 572/KMK.04/1989 tertanggal 2 Mei 1989 yang diberikan atas

penyerahan jasa pencaian dan pengeboran sumber minyak, gas bui dan panas bumi kepada perusahan bidang pertambangan

berdasarkan perjanjian kontrak bagi hasil atau kontrak karya. Kebijakan ini berdasarkan Pasal II UU Nomor 11 Tahun 1994 berakhir sesuai denganklausula dalam perjanjian atau selambatlambatnya tanggal 31 Desember 1989. 4. Pajak yang terutang tidak dipungut. 5. Dibebaskan dari pengenaa pajak atas penyerahan BKP atau JKP kepada korp diplomatic berdasarkan asas timbal balik, dan kepada perwakilan organisasi internasional. Padahal menurut ketentuan UU, hanya huruf 4 dan 5 saja yang menjadi fasilitas PPN.
y

Sejak 1 Januari 2001 Dengan Adanya UU 18 tahun 2000 yang telah diubah dengan UU

42 tahun 2009, fasilitas PPN yang berlaku adalah sebagaimana yang disebut di pasal 16B, yaitu: a. Pajak terutang tidak dipungut b. Dibebaskan dari pengenaan pajak

C. Fasilitas Pajak Terutang Tidak Dipungut Fasilitas PPN di Pulau Batam Kawasan Berikat (Bonded Zone) Daerah Industri Pulau Batam adalah Daerah Industri Pulau Batam dan pulau-pulau disekitarnya yang dinyatakan sebagai Kawasan Berikat sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Hal ini diatur dalam KMK Nomor

583/KMK.03/2003 dan PP No. 63 tahun 2003 sebagaimana telah diubah terakhir dengan PP No. 2 tahun 2009. Dalam PP terbarunya, Pulau Batam tidak lagi menjadi kawasan berikat, tapi ditetapkan sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas.

Dalam KMK Nomor 583/KMK.03/2003 mengatur ketentuan tentang perlakuan PPN dan PPnBM di kawasan berikat Pulau Batam diatur sebagai berikut: 1) Pajak Pertambahan Nilai dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut atas: a) Penyerahan Barang Kena Pajak kepada Pengusaha sepanjang Barang Kena Pajak tersebut digunakan untuk menghasilkan Barang Kena Pajak yang diekspor; dan b) Impor Barang Kena Pajak yang dilakukan oleh Pengusaha sepanjang Barang Kena Pajak tersebut digunakan untuk menghasilkan Barang Kena Pajak yang diekspor. 2) Atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau impor Barang Kena Pajak selain yang dimaksud dalam butir 1) dan atas penyerahan Jasa Kena Pajak di/ke Kawasan Berikat (Bonded Zone) Daerah Industri Pulau Batam, terutang Pajak Pertambahan Nilai dan/atau Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, yang pengenaannya dilakukan secara bertahap sebagai berikut: a) Untuk tahap pertama, terhitung mulai 1 Januari 2004, Pajak Pertambahan Nilai dan/atauPajak Penjualan atas Barang Mewah dikenakan atas impor dan/atau penyerahan Barang Kena Pajak berupa: Kendaraan Bermotor, berupa segala jenis kendaraan bermotor baik beroda 2 (dua) atau lebih; Rokok dan hasil tembakau lainnya; dan Minuman yang beralkohol. b) Untuk tahap kedua, terhitung mulai tanggal 1 Maret 2004, Pajak Pertambahan Nilai dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah dikenakan atas impor dan/atau penyerahan Barang Kena Pajak berupa barang-barang elektronik, berupa segala jenis barang elektronik yang menggunakan tenaga baterai maupun listrik. c) Untuk tahap selanjutnya, pengenaan PPN dan PPnBM atau PPN atas penyerahan BKP/JKP lainnya dilakukan dengan Keputusan Menteri Keuangan paling lama setiap 6 (enam) bulan.

3) Atas pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar daerah pabean, di dalam kawasan berikat daerah industri pulau Batam dikenakan PPN sejak 1 Januari 2004. 4) Dalam KMK Nomor 583/KMK.03/2003 antara lain ditetapkan bahwa: a) Bagi PKP yang menyerahkan BKP memperoleh fasilitas, wajib membuat Faktur Pajak yang dibubuhi cap PPN dan atau PPnBM tiak dipungut sesuai PP Nomor 63 Tahun 2003. b) Atas impor BKP yang mendapat fasilitas, pejabat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membubuhkan cap PPN atau PPnBM tidak dipungut sesuai PP Nomor 36 tahun 2003pada setiap lembar Pemberitahuan Impor Barang pada saat penyelesaian dokumen impor. c) Dalam hal BKP dimaksud ternyata tidak digunakan untuk

menghasilkan BKP untuk di ekspor, maka PPN dan PPnBM atau PPN yang diberi fasilitas harus dibayar kembali ke kas Negara ditambah sanksi sesuai dengan ketentuan. Fasilitas Proyek Pemerintah yang Dananya Berasal dari Bantuan Luar Negeri Dasar hukum fasilitas ini adalah Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1995 yang beberapa kali diubah dan diubah terakhir dengan PP 25 tahun 2001. Peraturan ini mengatur tentang Bea Masuk, Bea masuk Tambahan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dalam rangka pelaksanaan proyek pemerintah yang dibiayai dengan hibah atau dana pinjaman luar negeri.Dalam PP ini diatur tentang : 1) Bea Masuk dan Bea Masuk Tambahan yang terutang sejak tanggal 1 April 1995 atas impor dalam rangka pelaksanaan Proyek Pemerintah yang dibiayai dengan hibah atau dana pinjaman luar negeri dibebaskan. 2) Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang terutang sejak tanggal 1 April 1995 atas impor serta penyerahan Barang dan Jasa dalam rangka pelaksanaan Proyek Pemerintah yang dibiayai dengan hibah atau dana pinjaman luar negeri, tidak dipungut.

3) Pajak Penghasilan yang terutang sejak tanggal 1 April 1995 oleh kontraktor, konsultan dan emasok (supplier) atas penghasilan yang

diterima atau diperoleh karena pekerjaan yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan Proyek Pemerintah yang dibiayai dengan hibah atau dana pinjaman luar negeri, ditanggung oleh Pemerintah. Yang dimaksud dengan Proyek Pemerintah adalah proyek yang tercantum dalam Daftar Isian Proyek (DIP) atau dokumen yang dipersamakan dengan DIP, termasuk proyek yang dibiayaidengan Perjanjian Penerusan Pinjaman (PPP)/Subsidiary Loan Agreement (SLA). Pinjaman Luar Negeri adalah setiap penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan/atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan/atau jasa yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu. Sedangkan Hibah Luar Negeri adalah setiap penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan/atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan/atau jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang diperoleh dari pemberi hibah luar negeri yang tidak perlu dibayar kembali. Proyek Pemerintah yang Dananya dari Bantuan Luar Negeri dan Dana Pendamping APBN/APBD/Dana Lain diatur dalam KMK

No.239/KMK.01/1996 yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan KMK 486/ KMK 04/ 2000. Penyerahan/ Pembayaran Termin Proyek yang Dananya dari Luar Negeri: 1) PPN dan PPnBM tidak Dipungut 2) Faktur Dibuat dan DIbubuhi CAP PPN dan PPnBM Tidak Dipungut sesuai PPN No.. 42 Tahun 1995 3) SSP Tidak perlu dibuatPenyerahan/ Pembayaran Termin Proyek yang Dana Pendamping dari APBN/ APBD/ Lainnya: 1) PPN dan PPnBM wajib dipungut 2) Faktur Pajak dibuat 3) SSP dibuat.

Perlakuan PPN di Kawasan Berikat Selain Kawasan Berikat Pulau Batam Perlakuan PPN atas penyerahan BKP dari daerah pabean lainnya kepada pengusaha di kawasan berikat (PDKB) atau antar PDKB, dan dari kawasan berikat yang satu kepada kawasan berikat yang lain, diatur dalam KMK Nomor 291/KMK.05/1997 yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan PMK Nomor 101/KMK.04/2005. Disini perlu digaris bawahi bahwa hanya penyerahan BKP untuk diolah lebih lanjut dari PKP dalam daerah pabean lainnya kepada PDKB atau antar PDKB yang memperoleh fasilitas pajak yang terutang tidak dipungut. JKP yang diserahkan oleh PKP daerah pabean Indonesia lainnya kepada PDKB tidak mendapat fasilitas PPN kecuali JKP untuk menghasilkan BKP berdasarkan pesanan yang bahannya berasal dari dan atas petunjuk pemesan yang dikenal dengan nama jasa makloon. Fasilitas tidak dipungut juga berlaku bagi PKP sub kontraktor yang menyerahkan kembali BKP hasil olahannya, DPP yang dicantumkan dalam Faktur Pajak adalah Harga Kontrak Kerja (Ongkos kerja ditambah oleh PKP sub Kontraktor untuk menyelesaikan pekerjaan itu). Faktur pajak yang dibuat oleh PKP yang menyerahkan BKP tersebut, paling sedikit dibuat rangkap 3 (tiga) dengan dibubuhi cap/stempel Tidak Dipungut PPN/PPnBM eks Keppres No. 96 Tahun 1993. Perlakuan PPN setelah disesuaikan dengan KMK Nomor 583/KMK.03/2003. Atas penyerahan JKP termasuk jasa makloon dan subkontrak adalah sebagai berikut:
y

Oleh PKP di DPIL kepada PKP di kawasan berikat Pulau Batam tidak dikenakan PPN.

Oleh PKP di DPIL kepada Pengusaha di Kawasan Berikat selain Pulau Batam dikenakan PPN.

Oleh PKP di kawasan Berikat kepada PKP di kawasan berikat lainnya selain pulau Batam dikenakan PPN.

Oleh PKP di kawasan berikat selain Pulau Batam kepada PKP di DPIL dikenakan PPN.

Fasilitas PPN Atas Penyerahan BKP untuk Diolah antar Kawasan Berikat, dari Kawasan Berikat kepada PKP EPTE dan sebaliknya, dan antar PKP EPTE Entrepot Produksi Untuk Tujuan Ekspor yang selanjutnya disebut EPTE adalah suatu tempat atau bangunan dari suatu perusahaan industri dengan batas-batas tertentu yang di dalamnya diberlakukan ketentuan-ketentuan khusus di bidang pabean, perpajakan dan tata niaga impor, yang diperuntukkan bagi pengolahan barang dan/atau bahan yang berasal dari luar daerah pabean Indonesia, Kawasan Berikat, EPTE lainnya, atau dari dalam daerah pabean Indonesia lainnya, yang hasilnya terutama untuk tujuan ekspor. Berdasarkan PP Nomor 3 Tahun 1996 tentang perlakuan perpajakan bagi PKP berstatus Entrepot Produksi Untuk Tujuan Ekspor (EPTE) dan perusahaan pengelolaan di kawasan berikat (KB) ditetapkan bahwa: 1) Atas impor barang modal, barang dan/atau bahan dari luar Daerah Pabean ke dalam EPTE/KB diberikan Penangguhan Pembayaran PPN dan PPnBM. 2) Penyerahan BKP antar PKP EPTE, PPN dan PPnBM yang terutang tidak dipungut. 3) Penyerahan BKP oleh produsen dari Daerah Pabean Indonesia lainnya kepada perusahaan berstatus EPTE dan/atau Perusahaan Pengelolaan di Kawasan Berikat untuk diolah lebih lanjut, diberikan perlakuan perpajakan yang sama dengan perlakuan perpajakan terhadap barang yang diekspor. PPN Tidak Dipungut Kawasan Tertentu (Kawasan

Pengembangan Ekonomi Terpadu)

Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu yang selanjutnya dalam Keputusan Presiden ini disebut KAPET, merupakan wilayah geografis dengan batas-batas tertentu yang memenuhi persyaratan: 1) Memiliki potensi untuk cepat tumbuh; dan atau 2) Mempunyai sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya; dan atau 3) Memiliki potensi pengembalian investasi yang besar.
i Kapet Sebagai Kawasan Berikat

Untuk mengembangkan KAPET sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, beberapa wilayah dalam KAPET dapat ditetapkan sebagai Kawasan Berikat.Penetapan Kawasan Berikat ditetapkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Seluruh pengurusan perizinan bagi kepentingan pengusaha yang melakukan kegiatan usaha di Kawasan Berikat, dilakukan oleh Pengusaha Kawasan Berikat.
i PPN dan PPnBM Tidak Dipungut

Kepada Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB) di wilayah KAPET dapat diberikan fasilitas perpajakan berupa Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut atas: 1) Impor barang modal atau peralatan lain yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi PDKB yang semata-mata dipakai di PDKB; 2) Impor barang dan atau bahan untuk diolah di PDKB; 3) Pemasukan BKP dari Daerah Pabean Indonesia Lainnya, untuk selanjutnya disebut DPIL, ke PDKB untuk diolah lebih lanjut; 4) Pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lainnya untuk diolah lebih lanjut; 5) Pengeluaran barang dan atau bahan dari PDKB ke Perusahaan Industri di PDIL atau PDKB lainnya dalam rangka subkontrak; 6) Penyerahan kembali BKP hasil pekerjaan subkontrak oleh PKP di DPIL atau PDKB lainnya kepada PKP PDKB asal;

7) Peminjaman mesin dan atau peralatan pabrik dalam rangka subkontrak dari PDKB kepada Perusahaan Industri di DPIL, atau PDKB lainnya dan pengembaliannya ke PDKB asal.
i Pengusaha Kawasan Berikat di KAPET

Kepada pengusaha yang melakukan kegiatan usaha sebagai Pengusaha Kawasan Berikat (PKB) di dalam wilayah KAPET dapat diberikan fasilitas berupa PPN dan PPnBM tidak dipungut atas impor barang modal atau peralatan untuk pembangunan/konstruksi/perluasan Kawasan Berikat dan peralatan perkantoran yang semata-mata dipakai oleh PKB yang bersangkutan.

D. Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Menurut PP No 146 Tahun 2000 jo. PP No 38 Tahun 2003 a. Barang Kena Pajak Tertentu yang atas impornya dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai adalah:
y

Senjata, amunisi, alat angkutan di air, alat angkutan di bawah air, alat angkutan di udara, alat angkutan di darat, kendaraan lapis baja, kendaraan patroli, dan kendaraan angkutan khusus lainnya, serta suku cadangnya yang diimpor oleh Departemen Pertahanan, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) atau oleh pihak lain yang ditunjuk oleh Departemen Pertahanan, TNI atau POLRI untuk melakukan impor tersebut, dan komponen atau bahan yang belum dibuat di dalam negeri, yang diimpor oleh PT (PERSERO) PINDAD, yang digunakan dalam pembuatan senjata dan amunisi untuk keperluan Departemen Pertahanan, TNI atau POLRI

Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan Program Pekan Imunisasi Nasional (PIN)

Buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama

10

Kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau dan kapal angkutan penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau keselamatan manusia yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional, Perusahaan Penangkapan Ikan Nasional, Perusahaan Penyelenggara Jasa Kepelabuhan Nasional atau Perusahaan Penyelenggara Jasa Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan Nasional, sesuai dengan kegiatan usahanya

Pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional, dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan pesawat udara yang diimpor oleh pihak yang ditunjuk oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional yang digunakan dalam rangka pemberian jasa perawatan atau reparasi pesawat udara kepada Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional

Kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan serta prasarana yang diimpor dan digunakan oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia, dan komponen atau bahan yang diimpor oleh pihak yang ditunjuk oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia, yang digunakan untuk pembuatan kereta api, suku cadang, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan, serta prasarana yang akan digunakan oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia

Peralatan

berikut

suku

cadangnya

yang

digunakan

oleh

Departemen Pertahanan atau TNI untuk penyediaan data batas dan photo udara wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan untuk mendukung pertahanan Nasional, yang diimpor oleh

11

Departemen Pertahanan, TNI atau pihak yang ditunjuk oleh Departemen Pertahanan atau TNI. b. Barang Kena Pajak Tertentuyang atas

penyerahannyadibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai adalah:


y

Rumah sederhana, rumah sangat sederhana, rumah susun sederhana, pondok boro, asrama mahasiswa dan pelajar serta perumahan lainnya, yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah mendengar pertimbangan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah

Senjata, amunisi, alat angkutan di air, alat angkutan di bawah air, alat angkutan di udara, alat angkutan di darat, kendaraan lapis baja, kendaraan patroli dan kendaraan angkutan khusus lainnya, serta suku cadangnya yang diserahkan kepada Departemen Pertahanan, TNI atau POLRI, dan komponen atau bahan yang diperlukan dalam pembuatan senjata dan amunisi oleh PT (PERSERO) PINDAD untuk keperluan Departemen Pertahanan, TNI atau POLRI

Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan Program Pekan Imunisasi Nasional (PIN)

Buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama

Kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau dan kapal angkutan penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau keselamatan manusia yang diserahkan kepada dan digunakan oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional, Perusahaan Penangkapan Ikan Nasional, Perusahaan

Penyelenggara Jasa Kepelabuhan Nasional atau Perusahaan Penyelenggara Jasa Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan Nasional, sesuai dengan kegiatan usahanya

12

Pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan yang diserahkan kepada dan digunakan oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan pesawat udara yang diperoleh oleh pihak yang ditunjuk oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional yang digunakan dalam rangka pemberian jasa perawatan atau reparasi Pesawat Udara kepada Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional

Kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan serta prasarana yang diserahkan kepada dan digunakan oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia dan komponen atau bahan yang diserahkan kepada pihak yang ditunjuk oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia, yang digunakan untuk pembuatan kereta api, suku cadang, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan, serta prasarana yang akan digunakan oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia

Peralatan

berikut

suku

cadangnya

yang

digunakan

untuk

penyediaan data batas dan photo udara wilayah Negara Republik Indonesia untuk mendukung pertahanan Nasional yang diserahkan kepada Departemen Pertahanan atau TNI. c. Jasa Kena Pajak Tertentu yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai adalah: 1) Jasa yang diterima oleh Perusahaan Angkutan Laut Nasional, Perusahaan Penangkapan Ikan Nasional, Perusahaan Penyelenggara Jasa Kepelabuhan Nasional atau Perusahaan Penyelenggara Jasa Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Nasional, yang meliputi:
o Jasa persewaan kapal o Jasa kepelabuhan meliputi jasa tunda, jasa pandu, jasa

tambat, dan jasa labuh

13

o Jasa perawatan atau reparasi (docking) kapal

2) Jasa yang diterima oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional yang meliputi:
o Jasa persewaan pesawat udara o Jasa perawatan atau reparasi pesawat udara;

3) Jasa perawatan atau reparasi kereta api yang diterima oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia 4) Jasa yang diserahkan oleh kontraktor untuk pemborongan bangunan dan pembangunan tempat yang semata-mata untuk keperluan ibadah 5) Jasa persewaan rumah susun sederhana, rumah sederhana, dan rumah sangat sederhana 6) Jasa yang diterima oleh Departemen Pertahanan atau TNI yang dimanfaatkan dalam rangka penyediaan data batas dan photo udara wilayah Negara Republik Indonesia untuk mendukung pertahanan nasional.

PPN Dibebaskan atas Barang yang Bersifat Strategis Hal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah yang beberapa kali diubah yaitu PP No. 12 tahun 2001, PP No. 43 tahun 2002,PP No. 46 tahun 2003, PP No. 7 tahun 2007 dan terakhirPP No. 31 tahun 2007, yang mengatur tentang hal-hal berikut: Barang Kena Pajak Tertentu yang bersifat strategisadalah :
y

Barang modal berupa mesin dan peralatan pabrik, baik dalam keadaan terpasang maupun terlepas, tidak termasuk suku cadang;

makanan ternak, unggas dan ikan dan/atau bahan baku untuk pembuatan makanan ternak, unggas dan ikan;

barang hasil pertanian; Barang hasil pertanian adalah barang yang dihasilkan dari kegiatan usaha di bidang :
o pertanian, perkebunan, dan kehutanan;

14

o peternakan, perburuan atau penangkapan, maupun penangkaran;

atau
o perikanan baik dari penangkapan atau budidaya, yang dipetik

langsung, diambil langsung atau disadap langsung dari sumbernya termasuk yang diproses awal dengan tujuan untuk

memperpanjang; usia simpan atau mempermudah proses lebih lanjut,


y

bibit dan atau benih dari barang pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, penangkaran, atau perikanan;

y y y

air bersih yang dialirkan melalui pipa oleh Perusahaan Air Minum; listrik, kecuali untuk perumahan dengan daya di atas 6600 watt. Rumah Susun Sederhana Milik (RUSUNAMI). PPN Dibebaskan Atas Impor Barang Kena Pajak Tertentu yang

bersifat strategis berupa: a. barang modal yang diperlukan secara langsung dalam

prosesmenghasilkan Barang Kena Pajak, oleh Pengusaha Kena Pajak yangmenghasilkan Barang Kena Pajak tersebut; b. makanan ternak, unggas, dan ikan, dan atau bahan baku untuk pembuatanmakanan ternak, unggas, dan ikan c. bibit dan atau benih dari barang pertanian, perkebunan,

kehutanan,peternakan, penangkaran, atau perikanan. d. barang hasil pertanian. PPN Dibebaskan Atas Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yang bersifat strategis berupa: a. barang modal berupa mesin dan peralatan pabrik, baik dalam keadaan terpasang atau terlepas, tidak termasuk suku cadang, yang diperlukan secara langsung dalam proses menghasilkan Barang Kena Pajak, oleh Pengusaha Kena Pajak yang menghasilkan Barang Kena Pajak tersebut; b. makanan ternak, unggas, dan ikan, dan atau bahan baku untuk pembuatan makanan ternak, unggas, dan ikan;

15

c. d.

barang hasil pertanian; bibit dan atau benih dari barang pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, penangkaran, atau perikanan;

e.
f. g.

air bersih yang dialirkan melalui pipa oleh Perusahaan Air Minum; listrik, kecuali untuk perumahan dengan daya di atas 6600 watt; RUSUNAMI. Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak dan atau Jasa

Kena Pajak sehubungan dengan penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yang bersifat strategis yang dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai, tidak dapat dikreditkan. Dalam hal BKP Tertentu yang bersifat strategis yaitu barang modal berupa mesin dan peralatan pabrikserta Rusunami yang dibebaskan dari pengenaan PPN ternyata digunakan tidak sesuai dengan tujuan semula atau dipindahtangankan kepada pihak lain baik sebagian atau seluruhnya dalam jangka waktu 5 tahun sejak saat impor dan atau perolehan, maka PPN yang dibebaskan wajib dibayar dalam jangka waktu 1 bulan sejak BKP tersebut dialihkan penggunaannya atau di pindah tangankan dengan ditambah sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Lalu jika dalam jangka waktu 1 bulan, PPN yang dibebaskan tidak dibayar, Dirjen Pajak menerbitkan SKPKB ditambah dengan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

Penegasan PP No 7 Tahun 2007 Walaupun sudah disinggung diawal, tetap diperlukan adanya

penegasan bawa pada awal tahun 2007 diundangkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2007 yang berlaku surut mulai 1 januari 2007.Perbedaan yang mendasar antara PP No 12 tahun 2001 dan PP No 7 tahun 2007 adalah :

16

PP No 12 Tahun 2001 Sejak 1 januari 2001 1. Penyerahan barang hasil

PP No 7 Tahun 2007 Sejak 1 januari 2007 1. Penyerahan barang atau impor pertanian

pertanian dilakukan oleh petani atau kelompik petani

hasil

dibebaskan dari PPN 2. Pembebasan diberikan pada jenis tertentu barang hasil pertanian yang disebut dalam lampiran PP

dibebaskan PPN 2. pembebasan tersebut meliputu seluruh hasil pertanian.

Kesimpulan: 1) Setiap PKP menyerahkan/siapapun mengimpor barang hasil pertanian yang tercantum pada lampiran PP No. 7 Tahun 2007 dibebaskan dari pengenaan PPN. 2) Jika barang hasil pertanian yang diserahkan tidak tercantum dalam daftar pada lampiran dimaksud, tidak dibebaskan dari pengenaan PPN. Penegasan PP no 31 tahun 2007 Dalam PP no 31 Tahun 2007 ditambahkan satu barang yang termasuk barang strategis yang dibebastan dari pengenaan PPN yaitu: Rumah Susun Sederhana Milik, yang selanjutnya disebut

RUSUNAMI, adalah bangunan bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang dipergunakan sebagai tempat hunian yang dilengkapi dengan kamar mandi/WC dan dapur, baik bersatu dengan unit hunian maupun terpisah dengan penggunaan komunal, yang perolehannya dibiayai melalui kredit kepemilikan rumah bersubsidi atau tidak bersubsidi, yang memenuhi ketentuan: 1) luas untuk setiap hunian lebih dari 21 m2 (dua puluh satu meter persegi) dan tidak melebihi 36 m2 (tiga puluh enam meter persegi); 2) harga jual untuk setiap hunian tidak melebihi Rp 144.000.000,00 (seratus empat puluh empat juta rupiah);

17

3) diperuntukkan bagi orang pribadi yang mempunyai penghasilan tidak melebihi Rp 4.500.000,00 (empat juta lima ratus ribu rupiah) per bulan dan telah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); 4) pembangunannya mengacu kepada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum yang mengatur mengenai persyaratan teknis pembangunan rumah susun sederhana; dan 5) merupakan unit hunian pertama yang dimiliki, digunakan sendiri sebagai tempat tinggal dan tidak dipindahtangankan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak dimiliki.

Fasilitas PPN ditanggung Pemerintah


y

Fasilitas PPN ditanggung oleh pemerintah atas penyerahan minyak goreng Pada tanggal 29Januari 2010 ditetapkan Peraturan Menteri

Keuangan Nomor 25/PMK.011/2010 tentang PPN ditanggung pemerintah atas penyerahan minyak goreng sederhana di dalam negeri untuk tahun anggaran 2010. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 25/PMK.03/2010 yang mulai berlaku pada 1 Januari 2010 ini ditetapkan: a) PPN ditangggung pemerintah atas penyerahan minyak goreng sawit oleh PKP dalam bentuk Minyak goreng sawitcurah kemasan sederhana dengan merk MINYAKITA, yang diproduksi oleh produsen yang didaftarkan di Departemen Perdagangan dengan model desain dan spesifikasi kemasan yang ditetapkan oleh Menteri Perdagangan. b) PKP yang melakukan penyerahan wajib membuat faktur pajak dengan membubuhkan cap PPN DITANGGUNG PEMERINTAH EKS PMK 25/PMK.011/2010.
y

Fasilitas PPN ditanggung pemerintah atas impor barang yang dipergunakan untuk kegiatan usaha hulu eksplorasi minyak dan gas bumi serta kegiatan usaha eksplorasi panas bumi.

18

PPN terutang atas impor barang yang dipergunakan untuk kegiatan usaha hulu eksplorasi minyak dan gas bumi serta kegiatan usaha eksplorasi panas bumi oleh pengusaha di bidang kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi atau pengusaha di bidang kegiatan usaha panas bumi, ditanggung Pemerintah. Kegiatan usaha hulu eksplorasi minyak dan gas bumi adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh informasi mengenai kondisi geologi untuk menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan minyak dan gas bumi di wilayah yang ditentukan. Kegiatan usaha bumi adalah rangkaian kegiatan yang meliputi penyelidikan geologi, geofisika, geokimia, pengeboran uji, dan

pengeboran sumur eksplorasi yang bertujuan untuk memperoleh dan menambah informasi kondisi geologi bawah permukaaan guna

menemukan dan mendapatkan perkiraan potensi panas bumi. Pajak Pertambahan Nilai ditanggung Pemerintah diberikan terhadap barang yang nyata-nyata dipergunakan untuk kegiatan usaha hulu eksplorasi minyak dan gas bumi serta kegiatan usaha eksplorasi panas bumi dengan ketentuan sebagai berikut: a. barang tersebut belum dapat diproduksi di dalam negeri; b. barang tersebut sudah diproduksi di dalam negeri namun belum memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan; atau c. barang tersebut sudah diproduksi di dalam negeri namun jumlahnya belum mencukupi kebutuhan industri.

PPN Dibebaskan-Kawasan Perdagangan Bebas Dan Pelabuhan Bebas Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas adalah suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum NKRI yang terpisah dari daerah pabean sehingga bebas dari pengenaan Bea Masuk, PPN, PPnBM, dan Cukai.Adapun Pelabuhan adalah Pelabuhan Laut dan Bandar Udara.

19

Batas-batas Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas baik daratan maupun perairannya ditetapkan dalam undang-undang pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Di dalam Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas dilakukan kegiatan-kegiatan di bidang ekonomi, seperti sektor

perdagangan, maritim, industri, perhubungan, perbankan, periwisata, dan di bidang-bidang lain yang ditetapkan dalam UU pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Dengan dibukanya bidang-bidang lain yang akan ditetapkan dalam PERPU tentang pembentukan suatu kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas, memberikan fleksibilitas kepada daerah untuk

mendiversifikasikan kegiatan-kegiatan di bidang lain selain bidang ekonomi.


y

Kedudukan Hukum Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas merupakan wilayah hukum NKRI yang peruntukkannya dengan UU.Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas merupakan bagian integral dari NKRI, sehingga tidak terpisah dari hukum nasional.

Jangka Waktu Jangka waktu suatu Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas adalah 70 (tujuh puluh) tahun terhitung sejak ditetapkan sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Pemberian jangka waktu 70 tahun, dimaksudkan untuk memberikan rangsangan kepada para penanam modal luar negeri maupun dalam negeri untuk melakukan kegiatan ekonomi dan perdagangan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, dan untuk meningkatkan persaingan sehat dalam rangka meningkatkan

pendapatan nasional melalui peningkatan penerimaan devisa dan penanaman modal asing dan dalam negeri.

20

Fungsi Kawasan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas mempunyai fungsi sebagai tempat untuk mengembangkan usaha-usaha di bidang perdagangan, jasa, industri, pertambangan dan energi, transportasi, maritim dan perikanan, pos dan telekomunikasi, perbankan, asuransi, periwisata dan bidang-bidang lainnya.Fungsi kawasan meliputi: 1) Kegiatan manufaktur rancang bangun, perekayasaan, penyortiran, pemeriksaan awal, pemeriksaan akhir, pengepakan, dan

pengepakan ulang atas barang dan bahan baku dari dalam dan luar negeri, pelayanan perbaikan atau rekondisi permesinan, dan peningkatan mutu; 2) Penyediaan dan pengembangan prasarana dan sarana air dan sumber air, prasaran dan sarana perhubungan termasuk pelabuhan laut dan bandar udara, bangunan dan jaringan listrik, pos dan telekomunikasi, serta prasarana dan sarana lainnya.
y

Fasilitas Pembebasan Pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas melalui pelabuhan dan bandar udara yang ditunjuk dan berada di bawah pengawasan pabean diberikan pembebasan bea masuk, PPN, PPnBM ,dan Cukai. Pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas ke daerah pabean diberlakukan tata laksana kepabeanan di bidang ekspor dan impor dan ketentuan di bidang cukai. Pemasukan barang konsumsi dari luar daerah pabean untuk kebutuhan penduduk di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas diberikan pembebasan bea masuk, PPN, PPnBM, dan Cukai.Jumlah dan jenis barang yang diberikan fasilitas ditetapkan oleh Badan Pengusahaan. -

21

Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sampai dengan tahun 2008, telah ditetapkan 4 perdagangan bebas dan pelabuhan bebas di Indonesia, yaitu:
y y y y

Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Bintan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Karimun

22