Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN KIMIA KLINIK

PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH

NAMA KELOMPOK :

1. Ida Ayu Putu Yuni Kartika P07134017056


2. Ni Made sukma wijayanti P07134017058
3. Ni putu devi dana anggreani P07134017063
4. Ni Kadek Mini Rustini P07134017074
5. Ida Ayu Putu Sri Agung Bhaswari P07134017081

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JJURUSAN ANALIS KESEHATAN

2019
I. PENDAHULUAN

Kolesterol merupakan lemak yang berwarna kekuningan dan berbentuk seperti lilin
yang diproduksi oleh tubuh manusia terutama di dalam hati. Darah mengandung 80%
kolesterol yang diproduksi oleh tubuh sendiri dan 20% berasal dari makanan (Harefa, 2011).
Kolesterol yang ada di dalam darah berikatan dengan protein dan ditransportasi ke seluruh
tubuh. Kolesterol sangat penting bagi tubuh, namun bila kadar kolesterol dalam darah
berlebihan juga berbahaya bagi kesehatan (Djojodibroto, 2001). Kadar kolesterol normal
sekitar 140-200 mg/dL. Kadar kolesterol yang tinggi 200-400 mg/dL (Yatim, 2010).
Kolesterol berperan penting terhadap fungsi tubuh sehari-hari. Kolesterol merupakan
komponen terbesar membran sel, membantu untuk mengontrol pergerakan zat ke dalam dan
ke luar sel, membuat hormon steroid (progesteron dan estrogen pada wanita, testosteron pada
pria), membuat vitamin D, dan memastikan sistem pencernaan bekerja dengan baik dengan
membentuk garam empedu (Elleanor & Jonathan, 2002).
Kadar kolesterol merupakan salah satu indikasi bagi kesehatan tubuh. Nilai normal
kadar kolesterol total di dalam darah adalah < 200 mg/dL. Kadar kolesterol yang melampaui
batas normal disebut sebagai hiperkolesterolemia. Hiperkolesterolemia biasanya terdapat
pada penderita obesitas, diabetes melitus, hipertensi, perokok dan orang yang sering minum-
minuman beralkohol. Kelebihan kolesterol juga dapat menyebabkan menyempitnya
pembuluh darah dan meningkatkan faktor resiko penyakit jantung. Beberapa faktor yang
mempengaruhi kadar kolesterol.
a. Faktor genetik
b. Faktor gaya hidup dan pola makan
c. Faktor usia
d. Faktor aktivitas fisik

II. PROSEDUR

1. Siapkan serum yang akan diperiksa


2. Ambil 3 tabung reaksi dan masing-masing tabung diberi label “blanco”,
“kalibrator”, “test”.
3. Masing-masing tabung diberi larutan sebagai berikut:

blanko kalibrator Sampel/test


Reagen glukosa 500µl 500 µl 500µl
Water 5µl - -
Standar - 5µl -
Sampel - - 5µl

4. Campuran dalam masing-masing tabung dihomogenkan


5. Campuran diinkubasi pada 37°C selama 10 menit
6. Absorbansi campuran dibaca dengan spektrofotometer pada Panjang gelombang
546nm dengan titik nol sebagai blanco.

Cara pemipetan :
1. Siapkan mikropipet dan tipnya yang akan di pakai
2. Sediakan reagen, water, standar dan sampel
3. Masukkan bahan yang sudah disediakan sesuai dengan urutan yang diberikan
4. Sebelumnya atur volume mikropipet sesuai dengan kebutuhan dan di
lanjutkan dengan memasang tip. Peganglah mikropipet dengan baik dan
benar.
5. Tekan mikropipet dengan jempol untuk memasukkan reagen dan lepaskan
pelan-pelan untuk menghidari adanya gelembung.
6. Lakukan hal yang sama pada pemipetan bahan yang diperlukan

III. HASIL
Identitas Probandus
Nama : Dayu Bhaswari
Usia : 19 tahun
JK : perempuan

Hasil yang tertera pada alat spekstrofotometer:


Reagen/ Blanco :
- absorbansi 0,0266 mg/dl
- NF 736,65
Standar :
- Absorbansi 0,7863 mg/dl
- NF 263,26 mg/dl
Sampel :
- Absorbansi 0,8733mg/dl
- Konsentrasi 222,9 mg/dl

IV. PEMBAHASAN

Kolesterol merupakan satu-satunya steroid yang ada dalam konsentrasi yang bisa dinilai di
seluruh tubuh, kolesterol sebagian disintesis secara endogen dari asetil Ko-A melalui ß-hidroksi,
ß metil glutamil Ko-A, dan sebagian besar diproduksi oleh hepar (Baron, 2010). Perubahan pola
dan gaya hidup salah satunya adalah banyak restoran makanan cepat saji yang menjual makanan
mengandung kolesterol tinggi dan sedikit mengandung nutrisi. Mengonsumsi makanan yang
mengandung kolesterol tinggi berisiko meningkatkan kadar kolesterol darah atau
hiperkolesterolemia (Brata, 2009). Kenaikan kolesterol darah sangat berhubungan dengan
terjadinya penyakit jantung. Hiperkolesterolemia biasanya terjadi pada orang gemuk atau lanjut
usia tetapi tidak menutup kemungkinan gangguan metabolisme ini dapat terjadi pada orang kurus
bahkan usia muda. Pada penyakit ini fungsi dan struktur dari jaringan atau organ tertentu dapat
memburuk dari waktu ke waktu. Penyakit yang termasuk dalam kelompok ini antara lain
penyakit jantung koroner (PJK) dan kardiovaskuler (Brata, 2009).

Kolesterol dihubungkan dengan metabolisme lipid dan merupakan sumber untuk sintesa
hormon steroid. Kolesterol diserap dari usus dan masuk ke dalam aliran darah dalam bentuk
kilomikron. Setelah kilomikron melepaskan trigliserida, sisa kilomikron akan membawa
kolesterol menuju hati. Hati sendiri juga memproduksi kolesterol. Sebagian kolesterol
diekskresikan ke dalam empedu sebagai asam kolat atau asam kenodeosikolat (asam empedu)
atau sering disebut kolesterol yang tak berubah (Marks, D. B., 2000). Kolesterol darah salah satu
faktor penting yang memberikan tanda – tanda paling jelas akan timbulnya penyakit jantung.
Semakin tinggi kadar kolesterol dalam darah, semakin besar pula resiko kematian sebagai akibat
pengerasan pembuluh darah koroner. Kadar kolesterol yang diinginkan adalah < 200 mg/dl,
resiko sedang 200 –240 mg/dl dan resiko tinggi 240 mg/dl (Heslet, L., 2002).

Dalam melakukan pemeriksaan kolesterol total dapat digunakan plasma atau serum pasien.
Plasma adalah cairan kekuningan yang masih mengandung fibrinogen, faktor pembekuan dan
protrombin karena adanya penambahan antikoagulan sedangkan serum adalah bagian darah yang
tersisa setelah darah membeku. Pembekuan mengubah semua fibrinogen menjadi fibrin dengan
menghabiskan faktor VIII, V dan protrombin. Faktor pembekuan lain dan protein yang tidak ada
hubungannya dengan hemostasis tetap ada dalam serum dengan kadar sama seperti dalam
plasma. Bila proses pembekuan tidak normal serum mungkin masih mengandung sisa fibrinogen,
produk perombakan fibrinogen atau protrombin yang tidak diubah (Widmann et al., 2005).

Pada praktikkum hitung kolesterol total yang telah dilakukan, sampel diambil dan ditampung
di dalam tabung merah yang mana tabung ini tidak memiliki antikoagulan di dalamnya. Tabung
ini digunakan karena kita memerlukan serum darah untuk melakukan pemeriksaannya. Untuk
mendapatkan serum darah, darah perlu dibiarkan menggumpal terlebih dahulu agar tidak lisis
ketika disentrifus. Untuk mempercepat proses penggumpalan darah ini maka digunakan tabung
merah untuk menampungnya. Pemeriksaan kadar kolesterol total menggunakan serum darah
seringkali mendapatkan kesulitan karena volume darah yang tidak mencukupi atau kondisi serum
yang lisis akibat pengambilan yang kurang tepat. Kondisi sampel yang tidak baik tentu akan
mempengaruhi hasil pemeriksaan, oleh karena itu apabila hal itu terjadi, pemeriksaan kolesterol
dapat menggunakan sampel plasma EDTA (Cijregina, 2014).

Penggunaan plasma biasanya digunakan dalam pemeriksaan karena menghemat waktu yaitu
sampel plasma dapat disentrifuge langsung tanpa menunggu sampel menggumpal dan tidak
seperti serum, perlu menunggu sampai koagulasi selesai dengan volume minimal darah lebih
sedikit dan yang diperlukan untuk pembuatan plasma, akan tetapi penambahan antikoagulan
yang dapat mengganggu beberapa analitis yaitu dapat mempengaruhi hasil (Cijregina, 2014).
Pemakaian antikoagulan yang tepat dan benar merupakan hal yang sangat penting untuk
diperhatikan. Pemilihan antikoagulan EDTA juga harus mempertimbangkan jenis pemeriksaan
yang akan dilakukan sehingga bahan tersebut tidak akan mempengaruhi hasil analisa. Kelemahan
dalam penelitian seringkali mendapatkan kesulitan karena pemeriksaan kadar kolesterol harus
dilakukan dengan teliti terutama pada sampel plasma EDTA dengan adanya penambahan
antikoagulan yang bertujuan untuk mencegah pembekuan dengan cara mengikat kalsium.
Apabila pada penambahan antikoagulan yang kurang tepat dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan menyebabkan hasil tersebut dapat rendah palsu pada pengukuran kadar kolesterol.

Pada praktikum hitung kolesterol total yang dilakukan pada tanggal 18 Februari 2019
digunakan metode CHOD-PAP. Metode CHOD-PAP atau metode kolorimetrik enzimatik
(Cholesterol Oxidase Methode/CHOD PAP) adalah metode yang disyaratkan sesuai standar
WHO/IFCC. Prinsip pemeriksaan kadar kolesterol total metode kolorimetrik enzimatik adalah
kolesterol ester diurai menjadi kolesterol dan asam lemak menggunakan enzim kolesterol
esterase. Kolesterol yang terbentuk kemudian diubahmenjadi Cholesterol-3-one dan hidrogen
peroksida oleh enzim kolesterol oksidase. Hidrogen peroksida yang terbentuk beserta fenol dan
4-aminophenazone oleh peroksidase diubah menjadi zat yang berwarna merah. Intensitas warna
yang terbentuk sebanding dengan konsentrasi kolesterol total dan dibaca pada λ 500 nm
(Permenkes RI, 2010; Stanbio laboratory, 2011). Dengan menggunakan sampel atas nama Ida
Ayu Putu Sri Agung Bhaswari (19) dengan jenis kelamin perempuan didapat hasil kolesterol
total sebesar 222.9 mg/dl, jika disesuaikan dengan standar, kadar pasien termasuk kadar
kolesterol total resiko sedang dan diharapkan bahwa pasien selanjutnya untuk mengurangi
konsumsi makanan dan minuman tinggi kolesterol dan memperbanyak kegiatan seperti
melakukan olahraga minimal 30 menit setiap harinya.

Kadar kolesterol total dapat dipengaruhi oleh asupan zat gizi, yaitu dari makanan yang
merupakan sumber lemak. Peningkatan konsumsi lemak sebanyak 100 mg/hari dapat
meningkatkan kolesterol total sebanyak 2-3mg/dl. Keadaan ini dapat berpengaruh pada proses
biosintesis kolesterol. Sintesis kolesterol dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya
penurunan aktivitas HMG KoA reduktase yang dapat menurunkan sintesis kolesterol. Penyebab
naiknya kadar kolesterol diduga karena beberapa faktor yaitu misalnya Very Low Density
Lipoprotein (VLDL) dan Low Density Lipoprotein (LDL) adalah ; riawayat keluarga, obesitas,
terlalu banyak mengonsumsi makanan mengandung lemak dan kolesterol, kurangnya asupan
serat, kurang melakukan olah raga, penggunaan alkohol dan merokok, diabetes dan kelenjar
tyroid yang kurang aktif. Selain faktor makanan, kolesterol yang tinggi juga bisa disebabkan oleh
faktor keturunan, perubahan gaya hidup dan faktor stres (Muhammad Yani, 2015).
V. KESIMPULAN
Kolesterol merupakan lemak yang berwarna kekuningan dan berbentuk seperti
lilin yang diproduksi oleh tubuh manusia terutama di dalam hati. Darah mengandung
80% kolesterol yang diproduksi oleh tubuh sendiri dan 20% berasal dari makanan
(Harefa, 2011). Faktor-faktor yang dapat memengaruhi kadar kolesterol di dalam
tubuh adalah riwayat keluarga, obesitas, terlalu banyak mengonsumsi makanan
mengandung lemak dan kolesterol, kurangnya asupan serat, kurang melakukan olah
raga, penggunaan alkohol dan merokok, diabetes dan kelenjar tyroid yang kurang
aktif. Selain faktor makanan, kolesterol yang tinggi juga bisa disebabkan oleh faktor
keturunan, perubahan gaya hidup dan faktor stres (Muhammad Yani, 2015).
DAFTAR PUSTAKA

Setyaningrum .2017. Kolesterol. Semarang. Diakses pada 23 Februari 2019 pada


https://www.google.com/search?client=firefox-b-d&q=pemeriksaan+colesterol+total+pdf

Baron, D.N. 2010. Kapita Selekta Patologi Klinik. ( terjemahan ). Ed. 10. Jakarta: EGC.

Brata HW, 2009.Hubungan Pola Makan, Obesitas, Keteraturan Berolahraga dan Kebiasaan

Merokok Dengan Kejadian Hiperkolesterolemia. Universitas Muhammadiyah Semarang.

Diunduh tanggal 24 Februari 2019.

Heslet. L. 2002. Kolesterol. Kesaint Blanc. Jakarta.

Marks, D.B. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar. ( terjemahan ). Jakarta: EGC.

Widmann, Frances K, 2005. Tinjauan Klinis atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Penerbit :
EGC Jakarta.

Muhammad Yani. 2015. MENGENDALIKAN KADAR KOLESTEROL PADA


HIPERKOLESTEROLEMIA. Sumber : https://media.neliti.com/media/publications/115737-ID-
mengendalikan-kadar-kolesterol-pada-hipe.pdf. Diakses pada tanggal 24 Februari 2019.