Anda di halaman 1dari 5

Dasar teori

Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan heme dari hemoglobin
dalam proses pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel. Di samping itu sekitar 20%
bilirubin berasal dari perombakan zat-zat lain. Sel retikuloendotel membuat bilirubin tidak
larut dalam air, bilirubin yang disekresikan dalam darah harus diikatkan albumin untuk
diangkut dalam plasma menuju hati. Di dalam hati, hepatosit melepaskan ikatan dan
mengkonjugasinya dengan asam glukoronat sehingga bersifat larut air, sehingga disebut bilirubin direk atau
glukoroniltransferase, selain dalam bentuk diglukoronida dapat juga dalam bentuk bilirubin terkonjugasi.
Proses konjugasi melibatkan enzim glukoroniltransferase, selain dalam bentuk diglukoronida dapat juga
dalam bentuk monoglukoronida atau ikatan dengan glukosa, xylosa dan sulfat. terkonjugasi dikeluarkan
melalui proses energi kedalam sistem bilier. (Nurmansyah, 2018)

Bilirubin berikatan dengan albumin sehingga zat ini dapat diangkut ke seluruh tubuh.
Dalam bentuk ini, spesies molekular disebut bilirubin tak terkonjujgasi. Sewaktu zat ini
beredar melalui hati, hepatosit melakukan fungsi sebagai berikut : (Nurmansyah, 2018)

1. Penyerapan bilirubin dan sirkulasi.


2. Konjugasi enzimatik sebagai bilirubin glukuronida.
3. Pengangkutan dan ekskresi bilirubin terkonjugasi ke dalam empedu untuk
dikeluarkan dari tubuh.

Konjugasi intrasel asam glukoronat ke dua tempat di molekul bilirubin menyebabkan


bilirubin bermuatan negatif, sehingga bilirubin terkonjugasi ini larut dalam fase air. Apabila
terjadi obstruksi atau kegagalan lain untuk mengekskresikan bilirubin terkonjugasi ini zat ini
akan masuk kembali ke dan tertimbun dalam sirkulasi. Selain bilirubin masuk ke dalam usus,
bakteri kolon mengubah bilirubin menjadi urobilinogen yaitu beberapa senyawa tidak
berwarna yang kemudian mengalami oksidasi menjadi pigmen coklat urobilin. Urobilin
diekskresikan dalam feses tetapi sebagian urobilinogen direabsorpsi melalui usus, dan
melalui sirkulasi portal diserap oleh hati dan direekskresikan dalam empedu. Karena larut air,
urobilinogen juga dapat keluar melalui urin apabila mencapai ginjal. (Nurmansyah, 2018)

Dalam keadaan fisiologis, masa hidup eritrosit manusia sekitar 120 hari, eritrosit
mengalami lisis 1-2×108 setiap jamnya pada seorang dewasa dengan berat badan 70 kg,
dimana diperhitungkan hemoglobin yang turut lisis sekitar 6 gr per hari. Sel-sel eritrosit tua
dikeluarkan dari sirkulasi dan dihancurkan oleh limpa. Apoprotein dari hemoglobin
dihidrolisis menjadi komponen asam-asam aminonya. Katabolisme heme dari semua
hemeprotein terjadi dalam fraksi mikrosom sel retikuloendotel oleh sistem enzim yang
kompleks yaitu heme oksigenase yang merupakan enzim dari keluarga besar sitokrom P450.
Langkah awal pemecahan gugus heme ialah pemutusan jembatan α metena membentuk
biliverdin, suatu tetrapirol linier. Besi mengalami beberapa kali reaksi reduksi dan oksidasi,
reaksi-reaksi ini memerlukan oksigen dan NADPH. Pada akhir reaksi dibebaskan Fe3+ yang
dapat digunakan kembali, karbon monoksida yang berasal dari atom karbon jembatan metena
dan biliverdin. Biliverdin, suatu pigmen berwarna hijau akan direduksi oleh biliverdin
reduktase yang menggunakan NADPH sehingga rantai metenil menjadi rantai metilen antara
cincin pirol III – IV dan membentuk pigmen berwarna kuning yaitu bilirubin. Perubahan
warna pada memar merupakan petunjuk reaksi degradasi ini. (Nurmansyah, 2018)
Bilirubin bersifat lebih sukar larut dalam air dibandingkan dengan biliverdin. Dalam
setiap 1 gr hemoglobin yang lisis akan membentuk 35 mg bilirubin dan tiap hari dibentuk
sekitar 250 – 350 mg pada seorang dewasa, berasal dari pemecahan hemoglobin, proses
erytropoetik yang tidak efekif dan pemecahan hemprotein lainnya. Bilirubin dari jaringan
retikuloendotel adalah bentuk yang sedikit larut dalam plasma dan air. Bilirubin ini akan
diikat nonkovalen dan diangkut oleh albumin ke hepar. Dalam 100 ml plasma hanya lebih
kurang 25 mg bilirubin yang dapat diikat kuat pada albumin. Bilirubin yang melebihi jumlah
ini hanya terikat longgar hingga mudah lepas dan berdifusi ke jaringan. Bilirubin yang
sampai dihati akan dilepas dari albumin dan diambil pada permukaan sinusoid hepatosit oleh
suatu protein pembawa yaitu ligandin. Sistem transport difasilitasi ini mempunyai kapasitas
yang sangat besar tetapi penggambilan bilirubin akan tergantung pada kelancaran proses yang
akan dilewati bilirubin berikutnya. Bilirubin nonpolar akan menetap dalam sel jika tidak
diubah menjadi bentuk larut. Hepatosit akan mengubah bilirubin menjadi bentuk larut yang
dapat diekskresikan dengan mudah kedalam kandung empedu. Proses perubahan tersebut
melibatkan asam glukoronat yang dikonjugasikan dengan bilirubin, dikatalisis oleh enzim
bilirubin glukoronosiltransferase. Hati mengandung sedikitnya dua isoform enzym
glukoronosiltransferase yang terdapat terutama pada retikulum endoplasma. Reaksi konjugasi
ini berlangsung dua tahap, memerlukan UDP asam glukoronat sebagai donor glukoronat.
Tahap pertama akan membentuk bilirubin monoglukoronida sebagai senyawa antara yang
kemudian dikonversi menjadi bilirubin diglukoronida yang larut pada tahap kedua.
(Nurmansyah, 2018)
Hati merupakan organ terbesar, terletak di kuadran kanan atas rongga abdomen. Hati
melakukan banyak fungsi penting dan berbeda-beda dan trgantung pada sistem darahnya
yang unik dan sel-selnya yang sangat khusus. Hati tertutupi kapsul fibroelastik berupa kapsul
glisson. Kapsul glisson berisi pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf. Hati terbagi
menjadi lobus kanan dan lobus kiri. Tiap lobus tersusun atas unit-unit kecil yang disebut
lobulus. Lobulus terdiri sel-sel hati, disebut hepatosit yang menyatu dalam lempeng.
Hepatosit dan jaringan hati mudah mengalami regenerasi. (Lubis et al., 2017)
Hati menerima darah dari 2 sumber, yaitu arteri hepatika (banyak mengandung
oksigen) yang mengalirkan darah ±500 ml/mnt dan vena porta (kurang kandungan oksigen
tapi kaya zat gizi, dan mungkin berisi zat toksik dan bakteri) yang menerima darah dari
lambung, usus,  pankreas dan limpa; mengalirkan darah ±1000 ml/mnt. Kedua sumber
tersebut mengalir ke kapiler hati yang disebut sinusoid lalu diteruskan ke vena sentralis ditiap
lobulus. Dan dari semua lobulus ke vena hepatika berlanjut ke vena kava inferior. Tekanan
darah di sistem porta hepatika sangat rendah, ±3 mmHg dan di vena kava hampir 0 mmHg.
Karena tidak ada resistensi aliran melalui vena porta dan vena kava sehingga darah mudah
masuk dan keluar hati. Hati menjalankan berbagai macam fungsi terutama metabolisme, baik
anabolisme atau katabolisme molekul-molekul makanan dasar (gula, asam lemak, asam
amino) dilakukan oleh sel-sel hati. (Lubis et al., 2017)
Bilirubin merupakan suatu senyawa tetrapirol yang dapat larut dalam lemak maupun
air yang berasal dari pemecahan enzimatik gugus heme dari berbagai heme protein seluruh
tubuh. Sebagian besar ( kira- kira 80 % ) terbentuk dari proses katabolik hemoglobin, dalam
proses  penghancuran eritrosit oleh RES di limpa, dan sumsum tulang. Disamping itu sekitar
20 % dari  bilirubin berasal dari sumber lain yaitu non heme porfirin, prekusor pirol dan lisis
eritrosit muda. Dalam keadaan fisiologis pada manusia dewasa, eritrosit dihancurkan setiap
jam. Dengan demikian bila hemoglobin dihancurkan dalam tubuh, bagian protein globin
dapat dipakai kembali baik sebagai protein globin maupun dalam bentuk asam- asam
aminonya. (Lubis et al., 2017)
Metabolisme bilirubin diawali dengan reaksi proses pemecahan heme oleh enzim
hemoksigenase yang mengubah biliverdin menjadi bilirubin oleh enzim bilirubin reduksitase.
Sel retikuloendotel membuat bilirubin tak larut air, bilirubin yang sekresikan ke dalam darah
diikat albumin untuk diangkut dalam plasma. Hepatosit adalah sel yang dapat melepaskan
ikatan, dan mengkonjugasikannya dengan asam glukoronat menjadi bersifat larut dalam air.
Bilirubin yang larut dalam air masuk ke dalam saluran empedu dan diekskresikan ke dalam
usus . Didalam usus oleh flora usus bilirubin diubah menjadi urobilinogen yang tak berwarna
dan larut air, urobilinogen mudah dioksidasi menjadi urobilirubin yang berwarna. Sebagian
terbesar dari urobilinogen keluar tubuh bersama tinja, tetapi sebagian kecil diserap kembali
oleh darah vena porta dikembalikan ke hati. Urobilinogen yang demikian mengalami daur
ulang, keluar lagi melalui empedu. Ada sebagian kecil yang masuk dalam sirkulasi sistemik,
kemudian urobilinogen masuk ke ginjal dan diekskresi bersama urin. (Seswoyo, 2016)

Bilirubin terkonjugasi /direk adalah bilirubin bebas yang bersifat larut dalam air
sehingga dalam pemeriksaan mudah bereaksi. Bilirubin terkonjugasi (bilirubin glukoronida
atau hepatobilirubin ) masuk ke saluran empedu dan diekskresikan ke usus. Selanjutnya flora
usus akan mengubahnya menjadi urobilinogen. (Seswoyo, 2016)
Bilirubin terkonjugasi bereaksi cepat dengan asam sulfanilat yang terdiazotasi
membentuk azobilirubin. Peningkatan kadar bilirubin direk atau bilirubin terkonjugasi dapat
disebabkan oleh gangguan ekskresi bilirubin intrahepatik antara lain Sindroma Dubin Johson
dan Rotor, Recurrent (benign) intrahepatic cholestasis, Nekrosis hepatoseluler, Obstruksi
saluran empedu. Diagnosis tersebut diperkuat dengan pemeriksaan urobilin dalam tinja dan
urin dengan hasil negatif. (Seswoyo, 2016)
Bilirubin tak terkonjugasi (hematobilirubin) merupakan bilirubin bebas yang terikat
albumin, bilirubin yang sukar larut dalam air sehingga untuk memudahkan bereaksi dalam
pemeriksaan harus lebih dulu dicampur dengan alkohol, kafein atau pelarut lain sebelum
dapat bereaksi, karena itu dinamakan bilirubin indirek. Peningkatan kadar bilirubin indirek
mempunyai arti dalam diagnosis penyakit bilirubinemia karena payah jantung akibat
gangguan dari delivery bilirubin ke dalam peredaran darah. Pada keadaan ini disertai dengan
tanda-tanda payah jantung, setelah payah jantung diatasi maka kadar bilirubin akan normal
kembali dan harus dibedakan dengan chardiac chirrhosis yang tidak selalu disertai
bilirubinemia. Peningkatan yang lain terjadi pada bilirubinemia akibat hemolisis atau
eritropoesis yang tidak sempurna, biasanya ditandai dari anemi hemolitik yaitu gambaran
apusan darah tepi yang abnormal,umur eritrosit yang pendek. (Seswoyo, 2016)
Daftar Pustaka

Lubis, B. M., Rasyidah, R., Syofiani, B., Sianturi, P., Azlin, E., & Tjipta, G. D. (2017). Rasio
Bilirubin Albumin pada Neonatus dengan Hiperbilirubinemia. Sari Pediatri, 14(5), 292.
https://doi.org/10.14238/sp14.5.2013.292-7

Nurmansyah, L. (2018). UV LIGHT EXPOSURE DECREASE THE LEVEL OF INDIRECT


BILIRUBIN IN SERUM MEASURED BY SPECTROPHOTOMETRIC METHON IN
SRAGEN GENERAL EFFECT OF LIGHT EXPOSURE TO THE DECREASE OF
INDIRECT SPECTROPHOTOMETRIC METHOD IN RSUD SRAGEN 2014 JURNAL
ILMIAH Oleh : PROGRAM STU. (August 2014).

Seswoyo. (2016). Pengaruh Cahaya Terhadap Kadar Bilirubin Total Serum Segera dan
Serum Simpan Pada Suhu 20-25 0 c Selama 24 jam Skripsi. 1–49.