Anda di halaman 1dari 41

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
1. Pengertian Demam Berdarah Dengue
Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit menular
yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes
Aegepty, yang ditandai dengan demam mendadak 2 sampai dengan 7
hari tanpa sebab yang jelas, lemah dan lesu, gelisah, nyeri ulu hati
disertai tanda pendarahan di kulit berupa bintik pendarahan
(petechiae), lebam (ecchymosis) atau ruam (purpura) kadang-kadang
mimisan, bercak darah, muntah darah, kesadaran menurun atau
rejatan (syock) menyerang baik orang dewasa maupun anak-anak
tetapi lebih banyak menimbulkan korban pada anak berusia dibawah
15 tahun. (Depkes R, 2007).
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemoragic
Fever (DHF) adalah demam dengue yang disertai pembesaran hati
dan tanda-tanda pendarahan. Pada keadaan yang lebih parah bisa
terjadi kegagalan sirkulasi darah dan penderita jatuh dalam keadaan
syock akibat kebocoran plasma keadaan ini disebut Dengue syock
Syndrom.


10

2. Etiologi
Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD)
disebabkan oleh virus dengue yang termasuk kelompok B arthropod
Borne Virus (Arboviruses) yang sekarang dikenal sebagai genus
flavivirus, famili flavividae, dan mempunyai 4 jenis serotype, yaitu :
DEN-1 (Dengue 1), DEN-2 (Dengue 2), DEN-3 (Dengue 3), DEN-4
(Dengue 4), nfeksi salah satu serotype akan menimbulkan antibody
terhadap serotype yang bersangkutan, sehingga tidak dapat
memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotype lain
tersebut. Seseorang yang tinggal di daerah endemis dengue dapat
terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya. Keempat serotype
virus dengue dapat ditemukan di berbagai daerah ndonesia. Di
ndonesia, pengamatan virus dengue yang dilakukan sejak tahun 1975
di beberapa rumah sakit menunjukkan bahwa keempat serotype
ditemukan dan bersikulasi sepanjang tahun. Serotype DEN-3
merupakan serotype yang dominan dan diasumsikan banyak yang
menunjukkan manifestasi klinik yang berat. (Depkes R, Dirjen PPM &
PL, 2006).
DBD merupakan penyakit tropis dan virus penyebabnya
bertahan dalam suatu siklus yang melibatkan manusia dan nyamuk
aedes aegepty. Aedes Aegepty adalah sejenis nyamuk rumah yang
senang menggigit manusia di siang hari. Dengue ditularkan oleh
nyamuk Aedes Aegepty betina yang lebih menyukai untuk menyimpan
11

telurnya di dalam wadah yang berisi air bersih dan terletak di sekitar
habitat manusia telur dapat hidup kurang lebih enam bulan di tempat
kering. (Depkes R, Dirjen PPM & PL, 2007).

3. Epidemiologi
Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara,
Pasifik Barat dan Karibia. ndonesia merupakan wilayah endemis
dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air. nfeksi virus dengue
telah ada di ndonesia sejak abad ke -18, seperti yang dilaporkan oleh
David Bylon seorang dokter berkebangsaan Belanda. Saat itu infeksi
virus dengue menimbulkan penyakit yang dikenal sebagai penyakit
demam lima hari (;ijfdaagse koorts) kadang-kadang disebut juga
sebagai demam sendi (knokkel koorts). Disebut demikian karena
demam yang terjadi menghilang dalam lima hari, disertai dengan nyeri
pada sendi, nyeri otot, dan nyeri kepala. Pada masa itu infeksi virus
dengue di Asia Tenggara hanya merupakan penyakit ringan yang tidak
pernah menimbulkan kematian. Tetapi sejak tahun 1952 infeksi virus
dengue menimbulkan penyakit dengan manifestasi klinis berat, yaitu
DBD yang ditemukan di Manila, Filipina. Kemudian ini menyebar ke
negara lain seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, dan ndonesia. Pada
tahun 1968 penyakit DBD dilaporkan di Surabaya dan Jakarta dengan
jumlah kematian yang sangat tinggi .
12

nsiden DBD di ndonesia antara 6 hingga 15 per 100.000


penduduk (1989 hingga 1995); dan pernah meningkat tajam saat
kejadian luar biasa hingga 35 per 100.000 penduduk pada tahun 1998,
sedangkan morbiditas DBD cenderung menurun hingga mencapai 2%
pada tahun 1999 (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam
ndonesia, 2006). Sampai saat ini DBD telah ditemukan di seluruh
propinsi di ndonesia, dan 200 kota telah melaporkan adanya kejadian
luar biasa.
Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk
genus Aedes (terutama A. Aegypti dan A. Albopictus). Peningkatan
kasus setiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi lingkungan dengan
tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana yang
berisi air jernih (bak mandi, kaleng bekas dan tempat penampungan
air lainnya) (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam ndonesia,
2006).
Beberapa faktor diketahui berkaitan dengan peningkatan
transmisi virus dengue yaitu : 1). vektor : perkembang biakan vektor,
kebiasaan menggigit, kepadatan vektor di lingkungan, transportasi
vektor dari satu tempat ke tempat lain; 2). pejamu : terdapatnya
penderita di lingkungan / keluarga, mobilisasi dan paparan terhadap
nyamuk, usia dan jenis kelamin; 3). lingkungan : curah hujan, suhu,
sanitasi dan kepadatan penduduk (Perhimpunan Dokter Spesialis
Penyakit Dalam ndonesia, 2006).
13

Lingkungan merupakan salah satu faktor yang sangat berperan


dalam timbulnya dan penyebaran penyakit DBD ini, terutama
dipengaruhi oleh iklim dan kelembaban udara. Pada suhu yang panas
(28-32C) dengan kelembaban yang tinggi, nyamuk Aedes akan tetap
bertahan hidup untuk jangka waktu lama. Di ndonesia, karena suhu
udara dan kelembaban tidak sama di setiap tempat, maka pola waktu
terjadinya penyakit agak berbeda untuk setiap tempat. Di Jawa pada
umumnya infeksi virus dengue terjadi mulai awal Januari, meningkat
terus sehingga kasus terbanyak terdapat pada sekitar bulan April-Mei
setiap tahun (Depkes, 2007).
ambar 2.1 Virus Dengue

Sumber : Wikipedia
Kehidupan nyamuk Aedes aegypti memang sangat dipengaruhi
oleh lingkungan, baik biologis maupun fisik. Pengaruh lingkungan
biologik misalnya berupa air yang lama disimpan dalam kontainer,
14

biasanya akan terdapat patogen dan parasit yang mempengaruhi


pertumbuhan larva nyamuk. Sedangkan pengaruh fisik dapat berupa
tata rumah, macam kontainer, ketinggian tempat dan iklim. Pengaruh
yang lain misalnya berupa pengaruh hujan, yang dapat menyebabkan
kelembaban naik dan menambah jumlah tempat perindukan. Kasus
demam berdarah dengue lebih cenderung meningkat selama musim
hujan (Yudhastuti, 2005).

4. Vektor
Vektor utama virus dengue di ndonesia adalah nyamuk Aedes
aegypti. Aedes aegypti merupakan spesies nyamuk yang hidup dan
ditemukan di negara-negara yang terletak antara 35
0
Lintang Utara
dan 35
0
Lintang Selatan pada temperatur udara paling rendah sekitar
10
0
C. Pada musim panas, spesies ini kadang-kadang ditemukan di
daerah yang terletak sampai sekitar 45
0
Lintang Selatan. Selain itu
ketahanan spesies ini juga tergantung pada ketinggian daerah yang
bersangkutan dari permukaan laut. Biasanya di daerah dengan
ketinggian lebih dari 1000 m di atas permukaan laut (Djunaedi, 2006).
Nyamuk Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil jika
dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain. Nyamuk ini mempunyai
warna dasar hitam. Tubuh dan tungkainya ditutupi sisik dengan garis-
garis putih keperakan. Di bagian punggung (dorsal) tubuhnya tampak
dua garis melengkung vertikal di bagian kiri dan kanan yang menjadi
15

ciri dari spesies ini. Sisik-sisik pada tubuh nyamuk pada umumnya
mudah rontok atau terlepas sehingga menyulitkan identifikasi pada
nyamuk-nyamuk tua. Ukuran dan warna nyamuk jenis ini kerap
berbeda antar populasi, tergantung dari kondisi lingkungan dan nutrisi
yang diperoleh nyamuk selama perkembangan. Nyamuk jantan dan
betina tidak memiliki perbedaan dalam hal ukuran nyamuk jantan yang
umumnya lebih kecil dari betina dan terdapatnya rambut-rambut tebal
pada antena nyamuk jantan. Kedua ciri ini dapat diamati dengan mata
telanjang. Aedes aegypti bersifat diurnal atau aktif pada pagi hingga
siang hari. Penularan penyakit dilakukan oleh nyamuk betina karena
hanya nyamuk betina yang mengisap darah. Hal itu dilakukannya
untuk memperoleh asupan protein yang diperlukannya untuk
memproduksi telur. Nyamuk betina akan menghisap darah manusia
setiap 23 hari sekali, selama pagi sampai sore hari pada waktu-waktu
tertentu seperti pukul 08.0012.00 dan 15.0017.00. Setelah kenyang
menghisap darah, nyamuk betina memerlukan waktu istirahat selama
23 hari untuk mematangkan telur. Nyamuk jantan tidak membutuhkan
darah, dan memperoleh energi dari nektar bunga ataupun tumbuhan.
Jenis ini menyenangi area yang gelap dan benda-benda berwarna
hitam atau merah. Demam berdarah kerap menyerang anak-anak
karena anak-anak cenderung duduk di dalam kelas selama pagi
hingga siang hari dan kaki mereka yang tersembunyi di bawah meja
menjadi sasaran empuk nyamuk jenis ini. Nyamuk ini mendapatkan
16

virus dengue sewaktu menggigit atau menghisap darah orang yang


sakit DBD dan tidak sakit DBD, tetapi dalam darahnya terdapat virus
dengue (Depkes R, 2007).
nfeksi virus dalam tubuh nyamuk dapat mengakibatkan
perubahan perilaku yang mengarah pada peningkatan kompetensi
vektor, yaitu kemampuan nyamuk menyebarkan virus. nfeksi virus
dapat mengakibatkan nyamuk kurang handal dalam mengisap darah,
berulang kali menusukkan probosis nya, namun tidak berhasil
mengisap darah sehingga nyamuk berpindah dari satu orang ke orang
lain. Akibatnya, risiko penularan virus menjadi semakin besar
(Wikipedia, 2008).
Di ndonesia, nyamuk A. aegypti umumnya memiliki habitat di
lingkungan perumahan, di mana terdapat banyak genangan air bersih
dalam bak mandi ataupun tempayan. Oleh karena itu, jenis ini bersifat
urban, bertolak belakang dengan A. albopictus yang cenderung
berada di daerah hutan berpohon rimbun (syl;an areas) (Wikipedia,
2008).
Kalau dilihat dari siklusnya, nyamuk ini mempunyai fase
menjadi telur, jentik, pupa dan nyamuk dewasa. Nyamuk A. aegypti,
seperti halnya culicines lain, meletakkan telur pada permukaan air
bersih secara individual. Telur berbentuk elips berwarna hitam dan
terpisah satu dengan yang lain. Setiap kali bertelur, nyamuk betina
dapat mengeluarkan sekitar seratus butir telur dengan ukuran sekitar
17

0,7 milimeter perbutir. Telur nyamuk ini tidak berpelampung, sehingga


satu per satu akan menempel ke dinding penampungan air bersih.
Telur menetas dalam 1 sampai 2 hari menjadi larva. Jentik yang
berbentuk sifon dengan satu kumpulan rambut yang saat istirahatnya
akan membentuk sudut yang hampir tegak lurus dengan permukaan
air. Terdapat empat tahapan dalam perkembangan larva yang disebut
instar. Perkembangan dari instar 1 ke instar 4 memerlukan waktu
sekitar 5 hari. Setelah mencapai instar ke-4, larva berubah menjadi
pupa di mana larva memasuki masa dorman. Jentik nyamuk setelah 6
8 hari akan tumbuh menjadi pupa nyamuk. Pupa yang berbentuk
terompet panjang dan ramping, sebagian kecil tubuhnya kontak
dengan permukaan air. Pupa bertahan selama 2 hari sebelum
akhirnya nyamuk dewasa keluar dari pupa. Nyamuk dewasa dengan
panjang 34 milimeter, mempunyai bintik hitam dan putih pada badan
dan kepala serta ring putih di kakinya. Perkembangan dari telur hingga
menjadi nyamuk dewasa membutuhkan waktu 7 hingga 10 hari
(Depkes R, Dirjen PPM & PL,2007).
Telur Aedes aegypti mampu bertahan hidup dalam keadaan
kering selama beberapa bulan (Djunaedi, 2006). Jika terendam air,
telur kering dapat menetas menjadi larva. Sebaliknya, larva sangat
membutuhkan air yang cukup untuk perkembangannya. Kondisi larva
saat berkembang dapat mempengaruhi kondisi nyamuk dewasa yang
dihasilkan. Sebagai contoh, populasi larva yang melebihi ketersediaan
18

makanan akan menghasilkan nyamuk dewasa yang cenderung lebih


rakus dalam mengisap darah.
ambar 2.2 SikIus hidup vektor (Aedes aegypti)







Adapun vektor tersebut berhubungan erat dengan beberapa
faktor, antara lain : kebiasaan masyarakat menampung air bersih
keperluan sehari-hari, sanitasi lingkungan yang kurang baik dan
penyediaan air bersih yang langka. Daerah yang terjangkit demam
berdarah dengue adalah wilayah yang ada penduduk, karena antar
rumah jaraknya berdekatan yang memungkinkan penularan karena
jarak terbang nyamuk Aedes aegypti sekitar 100 meter, nyamuk Aedes
aegypti betina mempunyai kebiasaan menggigit berulang yaitu
menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu singkat.
Kasus demam berdarah dengue cenderung meningkat pada musim
hujan, kemungkinan disebabkan perubahan musim mempengaruhi
frekuensi pertumbuhan jentik-jentik nyamuk, frekuensi gigitan siang
1

dan sore hari dan sikap manusia yang hanya berdiam di rumah selama
musim hujan (Wikipedia, 2011).
ambar 2.3 : Jenis-jenis nyamuk







5. Cara Penularan
Transmisi virus dengue dari manusia ke manusia yang lain atau
dari kera ke kera yang lain berlangsung melalui gigitan nyamuk betina
Aedes (terutama Aedes aegypti) yang terinfeksi oleh arbo;iruses.
tulah sebabnya virus dengue disebut sebagai arthropod-borne
;iruses. Sekali nyamuk terinfeksi oleh arbovirus, sepanjang hidupnya
nyamuk tersebut tetap terinfeksi dan dapat mentransmisikan virus
kepada manusia atau kera. Nyamuk betina yang terinfeksi juga dapat
menyalurkan virus kepada generasi berikutnya melalui proses
transmisi transovarian. Namun proses transmisi semacam ini jarang
terjadi dan tidak mempunyai arti signifikan bagi transmisi virus kepada
manusia. Artinya, transmisi ini tidak mempunyai arti signifikan bagi
penyebaran infeksi dengue kepada manusia (Djunaedi, 2006).
20

Manusia merupakan host utama bagi virus meskipun temuan


penelitian menunjukkan bahwa di beberapa belahan dunia jenis kera
tertentu dapat pula terinfeksi virus dengue dan selanjutnya menjadi
sumber virus bagi nyamuk ketika nyamuk menghisap darah kera yang
bersangkutan. Virus yang masuk ke tubuh manusia melalui gigitan
nyamuk selanjutnya beredar dalam sirkulasi darah selama periode
sampai timbul gejala demam. Periode di mana virus beredar dalam
sirkulasi darah manusia disebut sebagai periode viremia. Apabila
nyamuk yang belum terinfeksi menghisap darah manusia dalam fase
viremia, maka virus akan masuk ke tubuh nyamuk dan berkembang
selama periode 8-10 hari sebelum virus siap ditransmisikan kepada
manusia lain. Rentang waktu yang diperlukan untuk inkubasi ekstrinsik
tergantung pada kondisi lingkungan terutama temperatur sekitar
(Djunaedi, 2006).
Siklus penularan virus dengue dari manusia nyamuk
manusia dan seterusnya (ecological of dengue infection) dapat dilihat
pada gambar.
ambar 2.4 SikIus penuIaran virus dengue (Djunaedi, 2006).




21

6. Patogenesis
Patogenesis terjadinya demam berdarah dengue hingga saat ini
masih diperdebatkan. Berdasarkan data yang ada, terdapat bukti yang
kuat bahwa mekanisme imunopatologis berperan dalam terjadinya
demam berdarah dengue dan sindrom renjatan dengue (Perhimpunan
Dokter Spesialis Penyakit Dalam ndonesia, 2006).
Respon imun yang diketahui berperan dalam patogenesis DBD
adalah:
a) Respon humoral berupa pembentukan antibodi yang berperan
dalam proses netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi komplemen
dan sitotoksisitas yang dimediasi antibodi. Antibodi terhadap virus
dengue berperan dalam mempercepat replikasi virus pada monosit
atau makrofag. Hipotesis ini disebut antibody dependent
enhancement (ADE);
b) Limfosit T baik T-helper (CD4) dan T-sitotoksik (CD8) berperan
dalam respon imun seluler terhadap virus dengue. Diferensiasi T-
helper yaitu TH1 akan memproduksi interferon gamma, L-2 dan
limfokin, sedangkan TH2 akan memproduksi L-4, L-5, L-6 dan L-
110;
c) Monosit dan makrofag berperan dalam fagositosis virus dengan
opsonisasi antibodi. Namun proses fagositosis ini menyebabkan
peningkatan replikasi virus dan sekresi sitokin oleh makrofag;
22

d) Selain itu aktivasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan


terbentuknya C3a dan C5a (Perhimpunan Dokter Spesialis
Penyakit Dalam ndonesia, 2006).
Halstead pada tahun 1973 mengajukan hipotesis secondary
heterologous infection yang menyatakan bahwa DHF terjadi bila
seseorang terinfeksi ulang virus dengue dengan tipe yang berbeda.
Re-infeksi menyebabkan reaksi anamnestik antibodi sehingga
mengakibatkan konsentrasi kompleks imun yang tinggi (Perhimpunan
Dokter Spesialis Penyakit Dalam ndonesia, 2006).
Kurane dan Ennis pada tahun 1994 merangkum pendapat
Halstead dan peneliti lain; menyatakan bahwa infeksi virus dengue
menyebabkan aktivasi makrofag yang memfagositosis kompleks virus-
antibodi non netralisasi sehingga virus bereplikasi di makrofag.
Terjadinya infeksi makrofag oleh virus dengue menyebabkan aktivasi
T-helper dan T-sitotoksik sehingga diproduksi limfokin dan interferon
gamma. nteferon gamma akan mengaktivasi monosit sehingga
disekresi berbagai mediator inflamasi seperti TNF-q, L-1, PAF
(Platelet Acti;ating Factor), L-6 dan histamin yang mengakibatkan
terjadinya disfungsi sel endotel dan terjadi kebocoran plasma.
Peningkatan C3a dan C5a terjadi melalui aktivasi oleh kompleks virus-
antibodi yang juga mengakibatkan terjadinya kebocoran plasma
(Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam ndonesia, 2006).
23

Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi melalui


mekanisme supresi sumsum tulang dan destruksi serta pemendekan
masa hidup trombosit. Gambaran sumsum tulang pada fase awal
infeksi (<5 hari) menunjukkan keadaan hiposeluler dan supresi
megakariosit. Setelah itu akan terjadi peningkatan proses
hematopoiesis termasuk megakariopoiesis. Kadar trombopoetin dalam
darah pada saat terjadi trombositopenia justru menunjukkan kenaikan,
hal ini menunjukkan terjadinya stimulasi trombopoiesis sebagai
mekanisme kompensasi terhadap keadaan trombositopenia. Destruksi
trombosit terjadi melalui pengikatan fragmen C3g, terdapatnya antibodi
VD, konsumsi trombosit selama proses koagulopati dan sekuestrasi di
perifer. Gangguan fungsi trombosit terjadi melalui mekanisme
gangguan pelepasan ADP, peningkatan kadar b-tromboglobulin dan
PF-4 yang merupakan petanda degranulasi trombosit (Perhimpunan
Dokter Spesialis Penyakit Dalam ndonesia, 2006).
Koagulopati terjadi sebagai akibat interaksi virus dengan
endotel yang menyebabkan disfungsi endotel. Berbagai penelitian
menunjukkan terjadinya koagulopati konsumtif pada demam berdarah
dengue stadium dan V. Aktivasi koagulasi pada demam berdarah
dengue terjadi melalui aktivasi jalur ekstrinsik (tissue factor pathway).
Jalur intrinsik juga berperan melalui aktivasi faktor Xia namun tidak
melalui aktivasi kontak (kalikrein C1-inhibitor complex) (Perhimpunan
Dokter Spesialis Penyakit Dalam ndonesia, 2006).
24

7. Manifestasi Klinis
Kriteria klinis DBD menurut WHO adalah :
a) Demam akut, yang tetap tinggi selama 2-7 hari (38 C-40 C),
kemudian turun secara lisis. Demam disertai gejala tidak spesifik,
seperti anoreksia, malaise, mual, muntah, sakit perut, diare kejang,
nyeri pada punggung, tulang, persendian, dan sakit kepala.
b) Manifestasi pendarahan :
- Uji Torniquet positif.
Uji Torniquet adalah salah satu cara untuk mengetahui
perdarahan dini. nterpretasi positif; bila terdapat < 20 petechiae
(Depkes R, 2001).
- Perdarahan di bawah kulit, selain petechiae dapat juga berupa
echimosis dan seterusnya (Depkes R, 2001).
- Bentuk-bentuk perdarahan lain yang dapat dijumpai pada pasien
Demam Berdarah Dengue adalah : perdarahan hidung, gusi,
berak darah, muntah darah, kadang-kadang kencing bercampur
darah.
c) Hepatomegali (pembesaran hati) dan nyeri tekan tanpa ikterus.
d) Dengan / tanpa renjatan. Renjatan yang terjadi pada saat demam
biasanya mempunyai prognosis yang buruk, dimana jika terjadi
renjatan, tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang,
tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah.
e) Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai Hematokrit.
25

f) Trombositopeni, pada hari ke 3 - 7 ditemukan penurunan trombosit


sampai 100.000 /mm3 (Depkes R, 2001).
Penyakit DBD terdiri dari tiga fase :
1. Fase demam.
Demam ini akan berlangsung dari hari 1 sampai 3. Biasanya
ditandai dengan demam yang cukup tinggi secara mendadak dan
sakit kepala. Pasien terlihat lemah, muka kemerahan, hilangnya
nafsu makan, rasa mual, nyeri otot, dan muncul bintik-bintik merah di
dalam kulit, hingga mimisan akan terjadi (Retno, 2008). Adakalanya
peningkatan temperatur tubuh mencapai 40
0
41
0
C disertai dengan
kejang demam (febrile con;ulsion) terutama pada kasus bayi
(Djunaedi, 2006).
2. Fase kritis.
Fase ini jatuh pada hari ke-4 selama 24-48 jam, akan ditandai
dengan turunnya demam pada anak, denyut nadi yang tidak teratur,
kaki dan tangan terasa dingin seperti es dan berkeringat, perut
terasa mual. Apabila fase ini anak tidak diberi cairan yang cukup,
maka akan terjadi pendarahan yang bisa berakibat kematian (Retno,
2008).
3. Fase penyembuhan.
Fase penyembuhan umumnya berlangsung singkat. Pada
fase ini biasanya dijumpai sinus bradikardia. Selain itu, pada
ekstremitas bawah seringkali dijumpai manifestasi khas berupa
26

bercak merah yang dikelilingi oleh kulit yang pucat. Tanpa


komplikasi, penyakit ini biasanya berlangsung sekitar 7-10 hari
(Djunaedi, 2006).
Pola temperatur penyakit DBD sebagaimana diuraikan di
depan dikaitkan dengan estimasi masa inkubasi, masa akut, masa
kritis dan masa penyembuhan selama perjalanan penyakit tersebut
dapat dilihat pada gambar.
ambar 2.5 PoIa temperatur tubuh seIama perjaIanan penyakit
akibat infeksi virus dengue (Djunaedi, 2006)





Derajat penyakit DBD secara klinis dibagi sebagai berikut :
a. Derajat (ringan), terdapat demam mendadak selama 2-7 hari
disertai gejala klinis lain dengan manifestasi perdarahan teringan,
yaitu uji torniquet positif.
b. Derajat (sedang), ditemukan pula perdarahan kulit dan
manifestasi perdarahan lain.
c. Derajat , ditemukan tanda-tanda dini renjatan, berupa
kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lambat, tekanan nadi
27

menurun (20mmHg atau kurang) atau hipptensi, sianosis disekitar


mulut, kulit dingin, lembab dan tampak gelisah.
d. Derajat V, terdapat DSS (engue Shock Syndrome) dengan nadi
dan tekanan darah yang tak terukur.

8. nkubasi
Masa inkubasi terjadi selama 5-9 hari (Djunaedi, 2006).

9. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan DBD tanpa penyulit adalah :
a. Tirah baring
b. Makanan lunak dan bila belum nafsu makan diberi minum 1,5-2
liter dalam 24 jam (susu, air dengan gula, atau sirop) atau air tawar
ditambah garam.
c. Medikamentosa yang bersifat simptomatis. Untuk hiperpireksia
diberi kompres, antipiretik golongan asetaminophen, eukinin, atau
dipiron dan jangan diberikan asetosal karena bahaya perdarahan.
d. Antibiotik diberikan bila terdapat kemungkinan terjadi infeksi
sekunder. (Mansjoer A dkk, 2001)
Ada berbagai metode lain dalam penanganan yang tepat
seperti memberi cairan yang cukup untuk menghindari dehidrasi (air
putih, teh manis, jus, susu), turunkan demam dengan memberi obat
penurun demam yang mengandung parasetamol (Retno, 2008).
28

Dalam pergantian cairan harus diberikan dengan bijaksana dan


berhati-hati. Kebutuhan cairan awaldihitung untuk 2-3 jam pertama,
sedangkan pada kasus syok mungkin lebih sering (setiap 30-60 menit)
(Depkes R Dirjen PPM dan PL, 2001)
Pada pasien dengan tanda renjatan dilakukan :
a. Pemasangan infus dan dipertahankan selama 12-48 jam setelah
renjatan diatasi.
b. Observasi keadaan umum, nadi, tekanan darah, suhu, dan
pernapasan tiap jam,serta Hb dan Ht tiap 4-6 jam pada hari
pertama selanjutnya tiap 24 jam (Mansjoer A dkk, 2001).
Pada pasien DSS (engue Shock Syndrome) diberi cairan
intravena yang diberikan dengan diguyur, seperti NaCl, Ringer Laktat
yang dipertahankan selama 12-48 jam setelah renjatan teratasi. Bila
tak tampak perbaikan dapat diberikan plasma atau plasma ekspander
atau dekstran atau preparat hemasel sejumlah 15-29 ml/kgBB dan
dipertahankan selama 12-48 jam setelah renjatan teratasi. Bila pada
pemeriksaan didapatkan penurunan kadar Hb dan Ht maka diberi
transfusi darah (Mansjoer A dkk, 2001).

10. Pencegahan
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung dari
pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian
2

nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa


metode yang tepat, yaitu:
1. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut
antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN),
pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan
nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain
rumah. Sebagai contoh :
a. Menguras bak mandi / penampungan air sekurang-kurangnya
sekali seminggu.
b. Mengganti / menguras vas bunga dan tempat minum burung
sekali seminggu.
c. Menutup dengan rapat tempat penampungan air.
d. Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan bekas di sekitar
rumah dan lain sebagainya (Badan Litbang Kesehatan Depkes
R, 2004).
2. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan
ikan pemakan jentik (ikan adu / ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14)
(Badan Litbang Kesehatan Depkes R, 2004).
3. Kimiawi
Cara pengendalian kimiawi ini antara lain dengan :
30

a. Pengasapan / fogging dengan menggunakan malathion dan


fenthion, berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan
sampai batas waktu tertentu.
b. Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat
penampungan air seperti gentong air, vas bunga, kolam, dan
lain-lain (Badan Litbang Kesehatan Depkes R, 2004).
c. Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah
dengan mengkombinasikan cara-cara tersebut di atas, yang
disebut dengan "3M, yaitu menutup, menguras, menimbun.
Selain juga dapat dilakukan beberapa tambahan seperti
memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida
(larvasidasi) yaitu menaburkan bubuk pembunuh jentik kedalam
tempat-tempat penampungan air, menggunakan kelambu pada
waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida,
menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa
jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat (Badan
Litbang Kesehatan Depkes R, 2004).

B. Tinjauan Umum tentang variabeI yang diteIiti.
1. Sanitasi Lingkungan.
Sanitasi merupakan salah satu komponen dari kesehatan
lingkungan, yaitu perilaku yang disengaja untuk membudayakan hidup
bersih untuk mencegah manusia bersentuhan langsung dengan
31

kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya, dengan harapan


dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.
Sanitasi juga merupakan suatu cara untuk mencegah
berjangkitnya suatu penyakit menular dengan jalan memutuskan mata
rantai dari sumber. Sanitasi merupakan usaha kesehatan masyarakat
yang menitikberatkan pada penguasaan terhadap berbagai faktor
lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan.
Sanitasi lingkungan adalah Suatu keseimbangan ekologi yang
harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin
keadaan sehat dari manusia (WHO). Sanitasi lingkungan juga
merupakan status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup
perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan
sebagainya (Notoadmojo, 2003).
Sanitasi lingkungan meliputi aspek-aspek yang sangat luas
yang hampir mencakup sebagian besar kehidupan manusia. Secara
umum defenisi sanitasi menurut WHO adalah tindakan pencegahan
penyakit dengan memutus atau mengendalikan faktor lingkunganyang
menjadi mata rantai penularan penyakit.
Dalam penerapannya di masyarakat, sanitasi meliputi
penyediaan air, pengelolaan limbah, pengelolaan sampah, kontrol
vektor, pencegahan dan pengontrolan pencemaran tanah, sanitasi
makanan, serta pencemaran udara.
32

Dalam penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)


sanitasi lingkungan sangat berperan penting. Apabila sanitasi
lingkungannya buruk maka akan memicu penyebaran penyakit
tersebut.
Adapun hal hal yang dapat memicu timbulnya penyebaran
penyakit DBD jika dilihat dari kondisi sanitasi lingkungan yaitu
kebersihan lingkungan, penyediaan air bersih, dan sampah.
a. Kebersihan lingkungan
Lngkungan adalah Tempat pemukiman dengan segala
sesuatunya dimana organismenya hidup beserta segala keadaan
dan kondisi yang secara langsung maupun tidak dpt diduga ikut
mempengaruhi tingkat kehidupan maupun kesehatan dari
organisme itu.
Lingkungan juga berperan besar dalam penyebaran DBD,
dimana penyebaran habitat nyamuk, disebabkan meningkatnya
mobilitas penduduk dan transportasi dari suatu daerah serta
adanya perubahan lingkungan misalnya banyaknya tanaman yang
ditebang sehingga suhu udara menjadi tinggi, dan penduduk makin
padat, sehingga keadaan tersebut sesuai dengan habitat nyamuk
Aedes aegypti, sedangkan lingkungan biologik yang
mempengaruhi penularan penyakit DBD ialah banyaknya tanaman
hias dan tanaman pekarangan, yang mempengaruhi kelembaban
dan pencahayaan didalam rumah dan halamannya. Banyaknya
33

tanaman hias dan pekarangan berarti akan menambah tempat


yang disenangi nyamuk untuk hinggap, istirahat dan juga
menambah umur nyamuk.
Kesadaran kebersihan lingkungan yang rendah, sebagian
besar memberikan tempat bagi nyamuk Aedes aegepty untuk
berkembang biak, populasi penduduk yang padat serta mobilitas
manusia yang tinggi juga menyebabkan penularan penyakit
demam berdarah dengan cepat (Depkes, 2005).
Dalam hal ini pula lingkungan adalah semua faktor luar dari
suatu individu atau seseorang yang dapat berupa lingkungan fisik,
biologis dan sosial. Menurut Mukono (2002), faktor penting yang
perlu diperhatikan pada epidemiologi lingkungan adalah
mengidentifikasi masalah lingkungan untuk mempelalajari interaksi
antara lingkungan dengan terjadinya penyakit yang ditimbulkan. Di
dalam epidemiologi lingkungan alasan untuk melihat penyebab
terjadinya penyakit adalah penting sehingga diketahui hubungan
antara asosiasi antara lingkungan dan penyakit.
Bahwasanya kontribusi lingkungan berpengaruh terhadap
kejadian penyakit tentu sudah sangat lama diketahui. Epidemiologi
bahkan secara spesifik telah dapat menggambarkan peran
lingkungan terhadap terjadinya penyakit dan wabah, Akan tetapi
manusia yang berakal dan berpengetahuan akan mempunyai
34

kemampuan untuk memanipulasi lingkungan sehingga dapat


mendukung kesejahteraannya.
Menurut WHO, (2002), cara yang paling efektif dalam
pengendalian vektor DBD adalah penatalaksanaan lingkungan
termasuk perencanaan, pengorganisasian, pemantauan aktifitas
untuk memodifikasi atau memanipulasi lingkungan dengan suatu
pandangan untuk mencegah atau paling tidak mengurangi
perkembangan vektor dan kontak antara manusia-vektor dan virus
dengue.
Menurut Nawi, (2005) bahwa faktor lingkungan yang buruk
telah menciptakan kondisi yang sangat baik bagi penyebaran
penyakit DBD. Dalam penelitiannya di Kota Makassar, Arsin
(2003), bahkan menyimpulkan bahwa keadaan lingkungan
memang merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian
DBD.
Kondisi lingkungan yang berkaitan dengan siklus kehidupan
nyamuk Aedes menurut Sutomo (2005), termasuk geografis, iklim,
curah hujan, kelembaban, temperatur, penyediaan air,dan sanitasi
ikut mempengaruhi adanya tempat kehidupan jentik Aedes.
Geografis, iklim, curah hujan, kelembaban dan temperatur
mempengaruhi siklus kehidupan nyamuk Aedes tetapi di luar
jangkauan kita karena terkait dengan sistem alam dan cuaca
35

global. Penyediaan air, sanitasi yang jelek dan tidak terpelihara


mendukung kehidupan jentik dan nyamuk Aedes.

b. Penyediaan Air Bersih
Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air
yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk
dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari
termasuk diantaranya adalah sanitasi. Air bersih adalah air yang
layak dikonsumsi oleh manusia setelah dilakukan pengolahan dan
memiliki kualitas minimal sebagaimana yang dimaksud dalam
Permenkes R No. 1 tahun 1975, baik dari segi fisik, kimiawi dan
mikrobiologis dan radioaktif.
Air adalah salah satu kebutuhan esensial manusia yang ke
dua setelah udara untuk keperluan keperluan hidupnya. Manusia
hanya bisa bertahan hidup selama kurang lebih tiga hari tanpa air.
Untuk menciptakan suatu lingkungan hidup manusia yang bersih
dan sehat tanpa persediaan air yang cukup, mustahil akan
tercapai. Kondisi sanitasi lingkungan hidup manusia akan selalu
dikaitkan dengan tersedianya air di daerah manapun di ndonesia
bahkan di negara manapun di dunia ini selalu
mempermasalahkannya. Persediaan air yang banyak dan dengan
kualitas yang lebih baik, lebih cepat dan akan lebih cepat
meningkatkan kemajuan derajat kesehatan masyarakat (Daud. A &
36

Rosman, 2003). Dalam penyediaan air bersih terdapat sumber dan


Karakteristik Air Bersih.
1. Sumber air
a). Air hujan
Air hujan adalah uap air yang sudah terkondensasi dan jatuh
ke bumi. Air hujan jatuh ke bumi tidak selalu berupa zat cair
tapi mungkin juga sebagai zat padat.
b). Air Permukaan
Air permukaan adalah air yang terdapat dipermukaan bumi
baik dalam bentuk cair maupun padat.
c). Air tanah
Air tanah adalah air hujan atau air permukaan yang meresap
ke dalam tanah dan bergabung membentuk lapisan air tanah
yang disebut "aquifer (Daud & Rosman, 2003).
2. Sumber air bersih
Berbagai sumber air bersih yang dapat digunakan untuk
kepentingan aktivitas dengan ketentuan harus memenuhi
syarat yang sesuai dari segi konstruksi sarana pengolahan,
pemeliharaan dan pengawasan kualitasnya. Urutan sumber-
sumber air bersih berdasarkan kemudahan pengolahan dapat
berasal dari :
1) Perusahaan air minum (PAM) dimana rumah sakit berada.
2) Air tanah (sumur pompa, sumur bor dan artesis).
37

3) Air hujan.
3. Karakteristik sumber air
1). Perusahaan air minum (PAM), dari segi kualitas relatif
sudah memenuhi syarat (fisik, kimia dan bakteriologis).
2). Air tanah, mutu air sangat dipengaruhi keadaan
geologis setempat.
3). Air hujan, biasanya bersifat asam, CO
2
bebas tinggi,
minera rendah, kesadahan rendah (Daud. A & Rosman,
2003).

c. Sampah
Menurut American Public Health Association, sampah adalah
sesuatu yang tidak diinginkan, tidak disenangi atau sesuatu yang
dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi
dengan sendirinya.
Sampah adalah segala sesuatu yang tidak lagi dikehendaki
oleh yang punya dan bersifat padat (Slamet. J.S,2000).
Dengan demikian sampah mengandung prinsip-prinsip
sebagai berikut:
a. Adanya suatu benda atau bahan padat.
b. Adanya hubungan langsung/tak langsung dengan kegiatan
manusia.
c. Benda atau bahan tersebut tidak dipakai lagi.
38

Dalam hal ini sampah berasal dari beberapa sumber. Pada


umumnya sumber sampah diklasifikasikan dihubungkan dengan
aktivitas manusia dan penggunaan (tata guna) yaitu: (Slamet. J.S,
2000)
a. Sampah yang dapat membusuk, yaitu sampah ini terdiri dari
sisa makanan, daun, sampah kebun, pertanian dan lain lain.
b. Sampah yang tidak mudah membusuk, yaitu sampah yang
berasal dari kertas, plastic, karet, gelas, logam dan lainnya.
c. Sampah yang berupa debu atau abu.
d. Sampah yang bebahaya terhadap kesehatan, seperti sampah
sampah industri yang mengandung zat zat kimia maupun
zat fisis berbahaya.

d. Keberadaan Jentik
Jentik adalah tahap larva dari nyamuk. Jentik hidup di air dan
memiliki perilaku mendekat atau "menggantung" pada permukaan
air untuk bernafas. Nama "jentik" berasal dari gerakannya ketika
bergerak di air.
Jentik menjadi sasaran dalam pengendalian populasi nyamuk
yang berperan sebagai vektor penyakit menular melalui nyamuk,
seperti malaria dan demam berdarah dengue.
Jentik nyamuk aedes aegypti merupakan jentik kecil yang
menetas dari telur nyamuk aedes aegypti. Jentik kecil yang
3

menetas akan tumbuh menjadi besar yang panjangnya 0,5-1 cm.


Jentik nyamuk aedes aegypti selalu bergerak aktif dalam air.
Gerakannya berulang-ulang dari bawah keatas permukaan air
untuk bernafas (mengambil udara) kemudian turun, kembali ke
bawah dan seterusnya. Pada waktu istirahat, posisinya hampir
tegak lurus dengan permukaan air. Biasanya berada di sekitar
dinding tempat penampungan air. Setelah 6-8 hari jentik tersebut
akan berkembang/berubah menjadi kepompong (Depkes R,2007)
Salah satu cara dalam penanggulangan penyakit DBD yaitu
melakukan pemeriksaan jentik. Pemeriksaan tersebut dapat
dilakukan secara berkala. Hal tersebut dilakukan oleh Juru
Pemantau Jentik (jumantik). Para jumantik tersebut sebelumnya
diberi pelatihan sehingga dapat melakukan pemeriksaan jentik.
Adapun hal- hal yang dilakukan dalam memeriksa jentik
antara lain yaitu :
a. Memeriksa bak mandi / WC, tempayan, drum dan tempat
tempat penampungan air lainnya.
b. Menunggu 0,5 1 menit, jika ada jentik ia akan muncul
kepermukaan air untuk bernapas.
c. Menggunakan senter untuk melihat ditempat yang gelap.
d. Memeriksa vas bunga, tempat minum burung, kaleng-kaleng
plastik,ban bekas dan lain-lain.
40

Jentik yang ditemukan di tempat tempat penampungan air


yang tidak beralaskan tanah ( bak mandi / WC, drum, tempayan
dan sampah sampah / barang barang bekas yang dapat
menampung air hujan) dapat dipastikan bahwa jentik tersebut
adalah nyamuk aedes aegepty penular demam berdarah (DBD).
Namun jentik jentik yang terdapat di got / comberan / selokan
bukan jentik nyamuk aedes aegepty.
Pemeriksaan jentik berkala (PJB) merupakan pemeriksaan
tempat penampungan air dan tempat perkembangbiakan nyamuk
aedes aegypti untuk mengetahui adanya jentik nyamuk, yang
dilakukan dirumah dan tempat umum secara teratur setiap bulan
sekali untuk mengetahui keadaan populasi jentik nyamuk penular
penyakit demam berdarah dengue.(Depkes R, 2007). Kegiatan ini
dilakukan dirumah - rumah dan tempat - tempat umum untuk
memeriksa tempat penampungan air dan tempat yang menjadi
perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti. Biasanya petugas
selain melakukan pemeriksaan jentik berkala juga sambil
memberikan penyuluhan tentang pemberantasan sarang nyamuk
kepada masyarakat atau pengelola tempat. Dengan kunjungan
yang berulang - ulang yang disertai dengan penyuluhan tersebut
diharapkan masyarakat dapat termotivasi untuk melaksanakan
pemberantasan sarang nyamuk secara teratur, sehingga dapat
mengurangi keberadaan jentik.
41

Dalam pemeriksaan jentik berkala terdapat beberapa metode


dalam pemeriksaan jentik. Adapun metode yang digunakan yaitu
metode single larva (single larva method) dan metode visual (visual
method).
a. Metode Single Larva yaitu pada setiap koteiner / tempat
penampungan air yang ditemukan jentik diambil satu dengan
menggunakan cidukan (gayung plastik) atau menggunakan
pipet panjang jentik sebagai sampel untuk dilakukan identifikasi
jentik. Jentik yang diambil ditempatkan dalam botol / vial bottle
dan diberi label sesuai dengan nomor tim survei, nomor
lembaran formulir berdasarkan nomor rumah yang disurvei dan
nomor konteiner dalam formulir.
b. Metode Visual yaitu pengamatan yang dilakukan hanya dengan
melihat dan mencatat ada tidaknya jentik di dalam konteiner
tetapi tidak dilakukan pengambilan dan identifikasi jentik. Survei
ini dilakukan pada survey lanjutan untuk memonitor indek-indek
jentik atau menilai hasil PSN (pemberantasan sarang nyamuk)
yang dilakukan. Setelah dilakukan survey jentik didapatkan hasil
indeks -indeks larva / jentik. Adapun tiga indeks yang biasa
dipakai untuk memantau tingkat gangguan aedes aegepty yaitu:
- House index (H) yaitu persentase rumah yang terjangkiti
larva / jentik

42

Jumlah rumah yang terjangkit


H = x 100
Jumlah rumah yang diperiksa

- Container ndex (C) yaitu persentase penampungan air
yang terjangkiti larva / jentik
Jumlah konteiner yang terjangkit
C = x 100
Jumlah penampung yang diperiksa

- Breteau ndex (B) yaitu jumlah penampung air yang positif
per 100 rumah yang diperiksa
Jumlah penampung yang positif
B = x 100
Jumlah rumah yang diperiksa

Apabila House ndek (H) disuatu wilayah lebih dari 10 %
maka wilayah tersebut merupakan daerah potensial untuk
terjadinya penularan DBD (Depkes R,2002). Sedangkan menurut
WHO (1998) daerah yang mempunyai House ndex (H) lebih besar
dari 5% dan B lebih besar dari 20 % umumnya merupakan daerah
yang sensitive atau rawan demam dengue
Untuk pemantauan hasil pelaksanaan pemeriksaan jentik
berkala dilakukan secara teratur sekurang- kurangnya 3 bulan
dengan menggunakan indikator Angka Bebas Jentik (ABJ) yaitu
prosentase rumah / TTU yang tidak ditemukan jentik. Menurut
Sutomo (2005), angka bebas jentik (ABJ) dapat dijadikan sebagai
43

indikator pelaksanaan 3M. Standar ABJ bagi setiap daerah adalah


minimal 95% yaitu setiap 100 rumah minimal 95 rumah harus
bebas dari jentik nyamuk Aedes aegypti.
Jumlah Rumah / Bangunan Tidak Ditemukan Jentik
ABJ = x 100
Jumlah Rumah Di periksa


2. Tindakan 3M ( Menguras, Menutup, Mengubur).
Dalam mengatasi penyakit DBD hingga kini tidak ada
vaksinnya, sehingga satu-satunya cara untuk memberantas penyakit
ini adalah dengan memberantas nyamuk Aedes aegypti sebagai salah
satu vektornya. Cara tepat untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti
adalah dengan memberantas jentik-jentiknya di tempat berkembang
biaknya yaitu tempat-tempat penampungan air dan barang-barang
yang memungkinkan air tergenang di rumah-rumah dan tempat-tempat
umum. Kegiatan ini dikenal dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk
Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) atau dikenal dengan singkatan
3M (Menguras, Menutup, Mengubur) (Kep.Dirjen PPM-PLP, 2001).
Menurut Sutomo (2005), Morbiditi yang tinggi dari penyakit DBD
disebabkan oleh tindakan penduduk tentang 3M rendah, kondisi
lingkungan yang mendukung siklus kehidupan nyamuk Aedes, dan
program kurang efektif.
Pencegahan demam berdarah dengue juga sangat ditentukan
dengan pencegahan nyamuk Aedes aegypti yang berkembang biak di
44

dalam dan di sekitar rumah. Setiap rumah dapat melakukan


pencegahan dengan cara sangat sederhana, diantaranya untuk
mencegah nyamuk agar tidak berkembang biak, bisa dilakukan
dengan cara mengalirkan air keluar dari penampung AC (Air
Conditioning) window, bak air, tong air, dan sebagainya. Juga dapat
dilakukan dengan mengumpulkan dan menghancurkan benda-benda
yang dapat menampung air seperti botol-botol, bambu-bambu,
bungkusan atau tempat plastik, kaleng, ban bekas, dan lain-lain
(dionline, 2007).
Untuk mencegah DBD, setiap keluarga dianjurkan untuk
melaksanakan PSN-DBD / 3M di rumah-rumah dan halaman masing-
masing dengan melibatkan ayah, ibu, anak-anak dan penghuni rumah
lainnya, dengan cara-cara antara lain; menguras bak mandi sekurang-
kurangnya seminggu sekali, menutup rapat-rapat tempat
penampungan air, mengganti air vas bunga / tanaman air seminggu
sekali, mengganti air tempat minum burung, dan menimbun barang-
barang bekas yang dapat menampung air (Kep.Dirjen PPM-PLP,
2001).
Adapun keterangan pelaksanaan kegiatan-kegiatan 3M yang
benar:
1) Kegiatan membersihkan atau menguras tempat-tempat
penampungan air bersih dengan cara menyikat dasar dan dinding
45

bagian dalam dan dibilas dengan air bersih minimal seminggu


sekali (Soegijanto, 2004).
2) Untuk kegiatan menutup rapat dan benar tempat-tempat
penampungan air bersih (sesuainya ukuran penutup & tidak
berlubang/retak) sehingga tidak dapat diterobos oleh nyamuk
dewasa Aedes aegypti (Soegijanto, 2004).
3) Kegiatan untuk menyingkirkan benda-benda yang dapat menjadi
tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti yaitu dengan cara
menimbun dalam tanah barang-barang bekas/sampah yang dapat
menampung air hujan (Soegijanto, 2004).
Sebenarnya ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk
memberantas nyamuk Aedes aegypti ini, salah satunya adalah dengan
cara penyemprotan dengan insektisida. Namun insektisida hanya
mampu membunuh nyamuk dewasa, sedangkan telur-telur dan jentik
nyamuk yang biasa menempel pada wadah seperti bak mandi dapat
dibasmi dengan menyikat/membersihkan bak mandi. Tidak hanya di
lingkungan, upaya pemberantasan sarang nyamuk ini pun sudah
digalakkan di sekolah-sekolah dengan mengadakan program antar
sekolah. Kerjasama pemerintah dan masyarakat penting untuk
membebaskan ndonesia dari demam berdarah dengue (Scientific
Medicastore, 2008).
Mengingat demam berdarah dengue merupakan penyakit yang
dapat berakibat fatal, upaya pencegahan memegang peranan yang
46

sangat penting. Pencegahan yang dilakukan dengan tindakan


pemberantasan sarang nyamuk 3M, dalam hal ini merupakan cara
yang terbaik, ampuh, murah, mudah dan dapat dilakukan (Agustini,
2007).
Hal-hal yang berkaitan dengan pemberantasan sarang nyamuk
demam berdarah dengue diantaranya adalah peran serta masyarakat
dalam pelaksanaannya secara swadaya dan dikoordinasikan oleh
kepala desa/kepala kelurahan dibantu kelompok kerja pemberantasan
penyakit demam berdarah dengue di semua wilayah rawan demam
berdarah dengue. Disamping itu adanya kegiatan kunjungan ke rumah
dengan pemeriksaan jentik secara berkala oleh kader atau tenaga lain
sesuai kesepakatan masyarakat setempat serta adanya pembinaan
pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk yang dilaksanakan
secara berjenjang oleh kelompok kerja operasional pemberantasan
penyakit demam berdarah dengue (Depkes, 2001).
ambar 2.6 Berantas sarang nyamuk dengan 3M
1. MENGURAS
dan menyikat dinding tempat-tempat
penampungan air, seperti bak
mandi/WC, drum, dll seminggu sekali.


2. MENUTUP
Rapat-rapat tempat penampungan air
(gentong air/tempayan, dll)
47


3. MENGUBUR
atau menyingkirkan barang-barang
bekas yang dapat menampung air hujan



PLUS cara lainnya :




Ganti air vas bunga seminggu sekali Perbaiki saluran dan talang
air yang tidak lancar/rusak




Tutup lubang-lubang pada Bubuhkan bubuk pembunuh jentik
potongan (dengan tanah, dll) (Abate bambu atau pohon atau
Altosid) di tempat-tempat yang sulit
dikuras atau di daerah yang sulit air




- Pasang Kawat kasa,
48

ST
Agent Environment
- Sediakan pencahayaan dan ventilasi memadai,
- Jangan membiasakan menggantung pakaian dalam kamar
- Tidur menggunakan Kelambu






Pelihara ikan pemakan jentik
(kan Cupang, dll)
C. Kerangka Teori
Kerangka Teori (Notoatmojo, 2003).
Suatu penyakit timbul akibat dari beroperasinya berbagai faktor
baik dari host, agent dan lingkungan. Para ahli telah membuat model-
model timbulnya penyakit dan atas dasar model tersebut dilakukan
eksperimen terkendali untuk menguji sampai mana kebenaran dari model
tersebut. Model karakteristik tersebut dikenal dengan segitiga
epidemiologi. (Notoatmodjo, 2003).

ambar 2.7 Kerangka Teori





4


Faktor faktor yang dapat menimbukan penyakit tergantung pada
host (penjamu), agent dan environment (lingkungan). Dalam hal ini faktor
faktor yang dapat menimbulkan penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) pada host dipengaruhi karena buruknya sanitasi lingkungan yang
meliputi kebersihan lingkungan, penyediaan air bersih, dan keberadaan
sampah. Selain itu juga dipengaruhi oleh adanya keberadaan jentik dan
tindakan 3M yang kurang efektif sehingga mempermudah dalam
penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
faktor lingkungan yang buruk tentunya telah menciptakan kondisi
yang sangat baik bagi penyebaran penyakit DBD. Adapun kondisi
lingkungan yang berkaitan dengan siklus kehidupan nyamuk Aedes
Aegepty meliputi geografis, iklim, curah hujan, kelembaban, temperatur,
penyediaan air,dan sanitasi sehingga mempengaruhi kehidupan
jentik/nyamuk aedes aegepty. Dimana geografis, iklim, curah hujan,
kelembaban dan temperatur mempengaruhi siklus kehidupan nyamuk
Aedes tetapi hal tersebut di luar jangkauan kita karena terkait dengan
sistem alam dan cuaca global. Dan adanya Penyediaan air serta sanitasi
yang jelek dan tidak terpelihara mendukung kehidupan jentik dan nyamuk
Aedes aegepty sehingga memudahkan dalam penyebaran penyakit
demam berdarah dengue (DBD).

Anda mungkin juga menyukai