Oleh kelompok 13 :
Cindy Octavia Manopi 1610532012
Shintya Alvenia 1610533006
Yolla Oktavia Putri 1610532032
Wirasetya Ravanelli 1610532010
Fakultas Ekonomi
UNIVERSITAS ANDALAS
2017
PENGANTAR
Desentralisasi fiskal merupakan sebuah instrumen untuk mencapai pelayanan publik yang
lebih baik dalam menciptakan proses pengambilan keputusan yang lebih demokratis. Menurut
Ivar Kolstad dan Odd-Helge Fjeldstad, desentralisasi fiskal adalah pemberian wewenang belanja
dan pengelolaan sumber-sumber pendapatan kepada pemerintah daerah.
Bachrul Elmi mengatakan bahwa desentralisasi fiskal dapat diartikan sebagai pelimpahan
kewenangan dibidang penerimaan yang sebelumnya tersentralisasi, baik secara administrasi dan
pemanfaatannya diatur atau dilakukan oleh pemerintah pusat. Namun demikian ada yang
mengartikan desentralisasi fiskal lebih luas dari sekedar pelimpahan kewenangan dibidang
penerimaan. Dalam persspektif ilmu ekonomi desentralisasi fiskal diartikan dalam ukuran-
ukuran keuangan seperti expenditure (pengeluaran/belanja)
atau revenue (penerimaan/pendapatan).
Pengertian desentralisasi fiskal yang tidak hanya pada aspek penerimaan, namun juga
pada aspek pengeluaran, berhubungan dengan adanya kewenangan daerah atas sumber-sumber
penerimaan daerah digunakan untuk membiayai pengeluaran atau belanja sesuai dengan
kewenangan daerah. Di Indonesia desentralisasi fiskal yang terjadi adalah desentralisasi disisi
pengeluaran yang berasal dari transfer ke daerah, sehingga pada esensinya pengelolaan fiskal
didaerah dititik beratkan pada diskresi (kebebasan) untuk membelanjakan dana sesuai kebutuhan
masing-masing daerah.
Pendapatan dan pembiayaan yang efisien dan efektif. Jika Indonesia ingin menuju
desentralisasi fiskal dengan penguatan kapasitas daerah, maka penguatan pajak
daerah adalah suatu syarat penting yang harus dilaksanakan. Penguatan pajak
daerah ini tidak berarti memberikan suber fiskal tanpa mempertimbangkan
dampaknya terhadap daerah dan nasional melainkan melalui penelaahan bebrapa
faktor dengan mengacu pada prinsip efisiensi dan efektivitas.
Siklus dan proses belanja daerah yang efisien dan efektif. Siklus dan proses
belanja daerah dapat semakin ditingkatkan efisiensi dan efektivitasnya, dalam hal
teknis administrasi dan kualitas penganggaran. Terkait dengan teknis administrasi,
proses belanja daerah diupayakan 1). Tercpainya siklus anggaran yang tepat
waktu. 2). Cakupan rencana kerja dari dokumen pelaksanaan anggaran (DPA)
tidak hanya menggambarkan kebijakan umum pemerintah daerah tetapi juga
sudah mencakup detail program yang komprehensif termasuk dalam hal estimasi
pembiayaannya. Serta 3). Penetapan mekanisme penyaluran dan administrasi dana
tersisa (SILPA) yang juga dikaitkan dengan perubahan rencana kerja agar
penyesuaian APBD dan realisasi budget dapat menghilangkan pemborosan
pengeluaran dan juga untuk menjaga keberlanjutan dari suatu program
pembangunan (program pemerintah).
Harmonisasi belanja pusat dan daerah. Satu hal yang pasti diharapkan akan terjadi
dimasa yang akan datang adalah agar sinkronisasi dan koordinasi antar unit dan
antar tingkatan pemerintah tidak lagi menjadi barang mewah yang sulit diperoleh.
Sinkronisasi dan koordinasi antar unit dan antar tingkatan, terutama dalam
program-program dan kegiatannya, haruslah diwujudkan melalui sistem
perencanaan nasional yang mendukungnya. Sistem tersebut harus mempunyai alat
atau regulasi untuk menjamin kepastian dan kejelaasan pembagian urusan
diantara berbagai tingkatan, sehingga tidak terjadi lagi tumpang tindih belanja
antar unit dan antar tingkatan.
Efisiensi ekonomis.
Anggaran daerah untuk pelayanan publik bisa lebih mudah disesuaikan dengan preferensi
masyarakat setempat dengan tingkat akuntabilitas dan kemauan bayar yang tinggi.
Peluang meningkatkan penerimaan pajak dari pajak daerah.
Pemerintah daerah bisa menarik pajak dengan basis konsumsi dan aset yang tidak bisa ditarik
oleh pemerintah pusat.
2) DAK
Semenjak dilakukannya kebijakan desentralisasi fiskal pada tahun 2001, sangat dirasakan tidak
jelasnya peran dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dalam membiayai otonomi daerah. Euforia
terhadap desentralisasi dan otonomi daerah pada tahun 2000 tampaknya mengakibatkan
pengambil keputusan untuk lebih memberikan prioritas kepada alokasi dana transfer, seperti
DAU dan DBH, yang memberikan diskresi yang luas bagi pemda untuk mengatur
penggunaannya.
Sebagai akibatnya, peran DAK yang dapat dijadikan stimulus tercapainya target pembangunan
nasional dan mengedepankan eksternalitas dari pelayanan public daerah menjadi terabaikan. Hal
ini tampak dari alokasi DAK yang hanya sebesar 700,9 Milyar Rupiah pada tahun 2001. Alokasi
DAK inipun pada dasarnya adalah alokasi dana reboisasi, yang seperti diamanatkan oleh
Undang-undang pada saat itu (UU No.25/1999) sebagian didaerahkan kembali dalam bentuk
alokasi DAK.
Namun sejalan dengan waktu dan menguatnya kebutuhan untuk pemenuhan berbagai program
prioritas nasional, maka peran DAK menjadi meningkat. Besarnya alokasi DAK pada tahun 2008
telah menjadi 21.202 Milyar Rupiah, suatu peningkatan sangat signifikan dibandingkan dengan
alokasi DAK tahun 2001. Namun demikian, alokasi DAK yang pada saat ini hanya sebesar 8,05
% dari total dana perimbangan, relatif masih rendah peranannya dalam mendukung kebijakan
desentralisasi fiskal.
Selain itu, DAK masih dirasakan belum jelas arah dan kegunaannya. Seperti diketahui, jenis-
jenis DAK saat ini meliputi 12 (dua belas) bidang, yaitu : Pendidikan, kesehatan, jalan,irigasi,air
bersih, kelautan dan perikanan, pertanian, prasarana pemerintahan, lingkungan
hidup,kependudukan dan kehutanan. Dengan demikian, jumlah alokasi DAK yang meningkat
pada dasarnya terbagi atas alokasi untuk banyak bidang, sehingga efektivitas alokasi DAK per
bidang menjadi sangat minimal.
3) DBH
Untuk melihat kondisi saat ini dari kebijakan DBH dapat ditinjau dari beberapa segi:
Formula alokasi DBH
Persentase yang dibagi-hasilkan dengan daerah relative tidak mengalami perubahan semenjak
ditetapkan kebijakan tersebut pada tahun 2001. Pengecualian terjadi untuk besarnya persentase
bagi-hasil minyak dan gas bumi, yang mengalami kenaikan sebesar 0,5% pada tahun 2004.
Rumusan bagi hasil untuk setiap jenis pajak dan juga penerimaan sumber daya alam sangat
bervariasi satu dengan yang lain, selain itu, semenjak ditetapkan rumusan alokasi ini pada tahun
2001, tidak ada argumentasi yang jelas tentang formula bagi hasil tersebut. Formula DBH
menjadi makin kompleks karena pemberlakuan formula yang berbeda untuk daerah otonomi
khusus, yaitu Nanggro Aceh Darussalam dan Papua.
Dasar nilai penetapan bagi hasil
Selain dari beragamnya formula, yang juga menambah rumit alokasi DBH adalah beragamnya
dasar penetapan untuk bagi hasil.Saat ini, untuk minyak dan gas bumi, yang dibagi-hasilkan
kepada daerah adalah nilai net-operating income setelah dikurangi berbagai jenis pajak (PPh,
PPN, dan PBB), dengan formula yang berbeda untuk minyak bumi dan gas alam.Sedangkan
untuk Pertambangan, Kehutanan dan Perikanan, nilai yang dibagi-hasilkan pada dasarnya ada
dua jenis, yaitu biaya sewa perijinan usaha dan royalti untuk produksi yang dihasilkan.
Pemanfaatan DBH di daerah
Bagi pemerintah daerah yang memperoleh alokasi DBH yang cukup signifikan, seyogyanya
pemanfaatan dana tersebut dilakukan secara optimal dalam rangka meningkatkan pelayanan
publik dan pengembangan infrastruktur dasar di daerah. Namun demikian, arah penggunaan
DBH tampaknya belum jelas di daerah, bahkan terkadang terjadi tumpang tindih program
kegiatan antara Provinsi dan Kabupaten/Kota, misalnya pembangunan lapangan udara pada
lokasi yang berdekatan dengan anggaran berbeda, yaitu dari provinsi dan yang satunya dari
kabupaten.
Mekanisme penyaluran DBH
Permasalahan klasik yang terus terjadi semenjak tahun 2001 sampai dengan sekarang adalah
keterlambatan penyaluran DBH ke daerah, khususnya untuk DBH yang berasal dari sumber daya
alam. Seharusnya penyaluran dilakukan pada setiap akhir kuartal, dimana nilai yang disalurkan
pada 3 kuartal pertama adalah nilai yang didasarkan kepada angka yang disepakati di APBN,
sedangkan nilai yang disalurkan pada kuartal terakhir sudah memperhitungkan berbagai
penyesuaian terhadap realisasi yang terjadi.Jumlah yang bisa dibagi-hasilkan untuk realisasi
minyak dan gas bumi adalah maksimum 130% dari harga asumsi awal di APBN.Berbagai upaya
telah dilakukan untuk mengatasi keterlambatan penyaluran DBH ke daerah, sehingga alokasi
DBH ini mulai lebih baik pada tahun 2008.
2. Pendapatan dan Pembiayaan Daerah yang Efektif dan efisien
Dalam skema desentralisasi fiskal di Indonesia, pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk
memungut dan menentukan tarif secara terbatas (tariff maksimum telah ditentukan oleh UU)
untuk beberapa jenis pajak daerah yang ditentukan oleh UU. Hal ini menyebabkan daerah hanya
memiliki instrumen yang sangat terbatas untuk mengelola sisi fungsi pendapatan.
3. Siklus dan Proses Belanja Daerah yang Efektif dan efisien
Proses penganggaran yang berjenjang antar tiap tingkatan pemerintahan, merupakan salah satu
faktor yang menyebabkan panjangnya proses penganggaran. Kondisi saat ini, dimana terdapat
sekitar 3 bulan rentang waktu antara penetapan APBN dan APBD berpengaruh pada lambatnya
timing eksekusi dari anggaran pemerintah daerah seperti tercantum dalam UU No. 17 Tahun
2003. Selain itu, penerimaan pemerintah daerah yang sebagian besar disalurkan oleh pemerintah
pusat melalui dana perimbangan, juga menunjukkan bahwa smoothing out dari alokasi dana
perimbangan oleh pemerintah pusat akan sangat membantu efektifitas pengeluaran pemerintah
daerah.
4. Harmonisasi Belanja Pusat dan Daerah
Sampai saat ini masih terjadi tumpang tindih belanja antar unit maupun antar tingkatan. Masih
sering terjadi belanja pemerintah pusat melalui anggaran kementerian, baik secara langsung ke
daerah maupun melalui mekanisme dekonsentrasi dan tugas pembantuan, digunakan untuk
mendanai kegiatan-kegiatan yang seharusnya menjadi urusan daerah yang telah
didesentralisasikan. Hal ini juga diperparah dengan rendahnya mekanisme koordinasi antara
pusat dan daerah dalam pengalokasian dana-dana tersebut, sehingga tidak hanya tidak tepat guna
tapi juga tumpang tindih. Di samping itu, sistem perencanaan nasional juga belum sepenuhnya
dapat mengkoordinasikan program-program di pusat maupun daerah. Hal ini didorong oleh
adanya ego sektoral dari masing-masing unit di semua tingkatan. Yang masih kadang terjadi
adalah ketidakjelasan siapa mengerjakan apa, sehingga berbagai program saling berbenturan.
Komitmen untuk menjaga kejelasan pembagian urusan dari masing-masing pihak menjadi salah
satu penyebab carut marut perencanaan tersebut, di samping belum adanya SPM yang jelas untuk
semua urusan.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/10667459/DESENTRALISASI_FISKAL_INDONESIA
http://digilib.unila.ac.id/5330/15/BAB%20II.pdf
http://eprints.ums.ac.id/25949/3/BAB_I.pdf
http://www.wikiapbn.org/desentralisasi-fiskal/