Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

INFEKSI TRAKTUS GENETALIA

Disusun Oleh : Kelompok 5

Alfi Aldisa M.R (ST221002)

Dwi Yanti (ST221008)

Novita Siti Fatimah (ST221017)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA


FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS
KUSUMA HUSADA SURAKARTA 2022/2023
MAKALAH
INFEKSI TRAKTUS GENETALIA

Disusun Oleh : Kelompok 5

Alfi Aldisa M.R (ST221002)

Dwi Yanti (ST221008)

Novita Siti Fatimah (ST221017)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA


FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS
KUSUMA HUSADA SURAKARTA 2022/2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga kami bisa
menyelesaikan makalah tentang “INFEKSI TRAKTUS GENETALIS”, dengan
tepat dengan tepat pada waktunya.
Banyak rintangan Banyak rintangan dan hambatan yang kami hadapi dalam
penyusunan makalah ini. Namun berkat bantuan dan dukungan dari teman-teman
serta bimbingan dari dosen pembimbing, sehingga kami bisa menyelesaikan
menyelesaikan makalah makalah ini. Dengan adanya makalah makalah ini di
harapkan harapkan dapat membantu dalam membantu dalam proses pembelajaran
proses pembelajaran dan dapat dan dapat menambah pengetahuan menambah
pengetahuan para pembaca. Penulis pembaca. Penulis juga tidak lupa
mengucapkan banyak mengucapkan banyak terima kasih kepada semua kepada
semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan dan doa.Tidak lupa pula
kami mengharap kritik dan saran untuk memperbaiki makalah kami ini, di
karenakan banyak kekurangan dalam mengerjakan makalah ini.

Surakarta ,14 November 2022

penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR .......................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................ iii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan............................................................................. 2

BAB 2 KONSEP DASAR TEORI


A. Pengertian ....................................................................................... 3
B. Klasifikasi ....................................................................................... 3
C. Pathway .......................................................................................... 13
D. Pemeriksaan Diagnostik .................................................................. 14

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN INFEKSI


TRAKTUS GENITALIS

A. Pengkajian ...................................................................................... 15
B. Diagnosa ......................................................................................... 17
C. Intervensi ........................................................................................ 17
D. Implementasi .................................................................................. 26
E. Evaluasi .......................................................................................... 26

BAB 4 PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................................................... 27
B. Saran............................................................................................... 27

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah kesehatan pada ibu pasca persalinan menimbulkan dampak
yang dapat meluas ke berbagai aspek kehidupan dan menjadi salah satu
parameter kemajuan bangsa dalam pelayanan kesehatan. Persalinan
merupakan suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari
dalam uterus melalui vagina ke dunia luar (Wiknjosastro, 2010). Dalam
persalinan sering terjadi perlukaan pada perineum baik itu karena robekan
spontan maupun episiotomi. Di Indonesia laserasi perineum dialami oleh
75% ibu melahirkan pervaginam. Pada tahun 2013 menemukan bahwa
dari total 1951 kelahiran spontan pervaginam, 57% ibu mendapat
jahitan perineum (28% karena episiotomi dan 29% karena (Depkes RI,
2013).
Infeksi post partum terjadi di traktus genetalia setelah kelahiran
yang diakibatkan oleh bakteri, hal ini akan meningkatkan resiko infeksi
post partum yang salah satunya oleh bakteri, hal ini akan meningkatkan
resiko infeksi post partum yang salah satunya disebabkan oleh
penyembuhan luka laserasi perineum yang tidak optimal dan dapat
menyebabkan syok septic. (Bahiyatun,(2009) menyatakan bahwa luka
pada perinieum tidak mudah untuk dijaga agar tetap bersih dan kering.
Jika proses penyembuhan luka tidak tertangani dengan baik akan
menyebabkan tidak sempurnanya penyembuhan luka rupture tersebut. Hal
ini menyebabkan perdarahan tidak berhenti dengan baik dan menyebabkan
terjadinya infeksi yang akhirnya dapat menyebabkan kematian pada ibu.
Prevalensi infeksi traktus genetalia wanita yang masih cukup tinggi di
Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu ditangani
secara serius agar tercapai peningkatan pada kesehatan wanita.

1
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi infeksi traktus genetalia?
2. Bagaimana etiologi infeksi traktus genetalia?
3. Bagaimana klasifikasi infeksi traktus genetalia?
4. Bagaimana manifestasi klinis infeksi traktus genetalia?
5. Bagaimana pencegahan infeksi traktus genetalia?
6. Bagaimana penatalaksanaan infeksi traktus genetalia?
7. Bagaimana asuhankeperawatan pasien dengan infeksi traktus genetalis.

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk dapat menjelaskan tentang definisi infeksi traktus genetalia
2. Netalia untuk dapat mengetahui tentang etiologi infeksi traktus genetalia
3. Untuk dapat mengetahui tentang klasifikasi infeksi traktus genetalia
4. Mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinis infeksi traktus genetalia.
5. Untuk dapat mengetahui cara pencegahan infeksi traktus genetalia
6. Untuk dapat mengetahui bagaimana penatalaksanaan infeksi traktus
genetali

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI
Infeksi saluran genital atau infeksi puerperal merupakan infeksi
saluran genital yang terjadi pada paska partum yang dikaitkan dengan
kelahiran anak, biasanya terjadi akibat masuknya bakteri yang naik dari
saluran kemih. Bakteri tersebut mungkin umum ditemukan di dalam saluran
genital atau berasal dari luar (Reeder, 2011).
Radang atau infeksi pada alat-alat genetal dapat timbul secara akut dengan
akibat meninggalnya penderita atau penyakit bisa sembuh sama sekali tanpa
bekas atau dapat meninggalkan bekas seperti penutupan lumen tuba. Penyakit
ini bisa juga menahun atau dari permulaan sudah menahun. Salah satu dari
infeksi tersebut adalah pelviksitis, serviksitis, adneksitis dan
salpingitis.Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia, terjadi
sesudah melahirkan, ditandai kenaikan suhu sampai 38 derajat selsius atau
lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan.

B. KLASIFIKASI INFEKSI TRAKTUS GENETALIA


1. Servisitis
a. Pengertian Servisitis
Servisitis merupakan infeksi pada serviks uteri. Infeksi uteri
sering terjadi karena luka kecil bekas persalinan yang tidak dirawat
dan infeksi karena hubungan seks. Servisitis yang akut sering
dijumpai pada sebagian besar wanita yang pernah melahirkan.
Servisitis ialah radang dari selaput lendir canalis cervicalis. Karena
epitel selaput lendir cervicalis hanya terdiri dari satu lapisan sel
silindris maka mudah terkena infeksi dibandingkan dengan selaput
lendir vagina.

3
b. Etiologi
Servisitis disebabkan oleh kuman-kuman seperti : trikomonas
vaginalis, kandida dan mikoplasma atau mikroorganisme aerob dan
anaerob endogen vagina seperti streptococcus, enterococus, e.coli,
dan stapilococus . Dapat juga disebabkan oleh robekan serviks
terutama yang menyebabkan ectropion, alat- alat atau alat
kontrasepsi, tindakan intrauterine seperti dilatasi, dan lain-lain.
c. Manifestasi klinis
1) terdapatnya keputihan (leukorea)
2) mungkin terjadi kontak berdarah (saat hubungan seks
terjadi perdarahan)
3) pada pemeriksaan terdapat perlukaan serviks yang berwarna
merah
4) pada umur diatas 40 tahun perlu waspada terhadap keganasan
serviks.
d. Patofisiologi
Proses inflamasi atau peradangan merupakan bagian dari
respons imun untuk melawan agen penyebab infeksi atau zat
berbahaya yang masuk ke dalam tubuh. Proses ini melibatkan sel
leukosit dan produk darah lain seperti protein plasma. Migrasi sel
leukosit ke tempat inflamasi diikuti dengan vasodilatasi pembuluh
darah serta peningkatan aliran darah.Aktivasi proses inflamasi
dimulai ketika reseptor yang berada di sel imun mendeteksi molekul
patogen yang diikuti dengan produksi mediator inflamasi seperti
sitokin Interferon (IFN)-tipe I. Setelah respon imun alamiah muncul,
tubuh akan membentuk respon imun adaptif yang lebih spesifik
dengan melibatkan sel limfosit T dan sel limfosit B. Berdasarkan
jenis antigennya, limfosit T yang naif akan berubah menjadi sel
limfosit T helper (Th)-1,2 dan 17 atau sel limfosit T sitotoksik.
Sedangkan sel limfosit B akan membentuk antibodi yang dapat
melawan patogen atau zat berbahaya tersebut.Proses inflamasi akan
mereda setelah patogen atau zat berbahaya hilang. Namun, bila
stimulus menetap, proses inflamasi akan terjadi terus-menerus dan
bersifat kronis.

4
e. Penatalaksanaan
Kauterisasi radial. Jaringan yang meradang dalam dua
mingguan diganti dengan jaringan sehat. Jika laserasi serviks
agak luas perlu dilakukan trakhelorania. Pinggir sobekan dan
endoserviks diangkat, lalu luka baru dijahit. Jika robekan dan
infeksi sangat luas perlu dilakukan amputasi serviks.
f. FaktorResiko
Beberapafaktoryangmempengaruhiinsidenkankerserviksyaitu:
1) Usia
2) Jumlah perkawinan
3) Hygiene dan sirkumsisi
4) Status sosial ekonomi
5) Pola seksual
6) Terpajan virus terutama virus HIV
7) Merokok
g. Pencegahan terhadap kanker serviks dapat dilakukan dengan
program skrinning dan pemberian vaksinasi. Di negara maju,
kasus kanker jenis ini sudah mulai menurun berkat adanya
program deteksi dini melalui pap smear. Vaksin HPV akan
diberikan pada perempuan usia 10 hingga 55 tahun melalui
suntikan sebanyak tiga kali, yaitu pada bulan ke nol, satu, dan
enam(Sarwono, 2012)
h. Komplikasi
1) Radangpinggul
2) Infertilitas
3) Kehamilanektopik
4) Nyeri panggul kronik
2. Adnexitis
a. Pengertian adnexitis
Adnexitis adalah radang pada tuba fallopi dan
ovarium yang biasanya terjadi bersamaan.Adnexitis adalah
suatu radang pada tuba fallopi dan radang ovarium yang
biasanya terjadi bersamaan. Radang ini kebanyakan akibat
infeksi yang menjalar keatas dari uterus, walaupun infeksi ini
bisa datang dari tempat ekstra vaginal lewat jalan darah atau

5
menjalar dari jaringan sekitarnya.Adnex tumor ini dapat
berupa pyosalpinx atau hidrosalpinx karena perisalpingitis
dapat terjadi pelekatan dengan alat alat disekitarnya.
b. Etiologi
Peradangan pada adneksa rahim hampir 90 persen
disebabkan oleh infeksi beberapa organisme, biasanya adalah
Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis.
Melakukan aktifitas seks tanpa menggunakan kondom.
1) Ganti-ganti pasangan seks.
2) Pasangan seksnya menderita infeksi Chlamidia ataupun
gonorrhea (kencing nanah).
3) Sebelumnya sudah pernah terkena pelvic inflammatory
disease.
Dengan demikian penyakit ini termasuk penyakit yang
ditularkan melalui aktifitas seksual. Meskipun tidak tertutup
kemungkinan penderitanya terinfeksi lewat cara lain.

c. Manifestasi Klinis.
1) Kram atau nyeri perut bagian bawah yang tidak berhubungan
dengan haid(bukan pre menstrual syndrome)
2) Keluar cairan kental berwarna kekuningan dari vagina.
3) Nyeri saat berhubungan intim
4) Demam
5) Nyeri punggung.
6) Keluhan saat buang air kecil
d. Patofisiologi
Organisme Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia
trachomatis naik ke rahim, tuba fallopi, atau ovarium sebagai
akibat dari hubungan seksual, melahirkan, masa nifas,
pemasangan IUD (alat KB), aborsi, kerokan, laparatomi dan
perluasan radang dari alat yang letaknya tidak jauh seperti
appendiks. Sehingga menyebabkan infeksi atau radang pada
adneksa rahim. Adneksa adalah jaringan yang berada di
sekitar rahim. Ini termasuk tuba fallopi dan ovarium alias
indung telur, tempat dimana sel telur diproduksi.

6
e. Penatalaksanaan
Pengobatan penyakit ini disesuaikan dengan
penyebabnya. Misalnya akibat chlamydia, maka
pengobatannya pun ditujukan untuk membasmi chlamydia.
Secara umum, pengobatan adnexitis ini umumnya berupa
terapi antibiotik. Jika dengan terapi ini tidak terjadi
kemajuan, maka penderita perlu dibawa ke rumah sakit untuk
diberikan terapi lainnya. Rawat inap menjadi sangat
diperlukan apabila: a. keluar nanah dari tuba fallopi b.
kesakitan yang amat sangat (seperti: mual, muntah, dan
demam tinggi) c. penurunan daya tahan tubuh.
f. Komplikasi
1) Radang panggul berulang
2) Abses
3) Nyeri panggul jangka panjang
4) Kehamilan ektopik
5) Inertilitas
g. Pencegahan
Pencegahan tidak hanya dari pihak wanita saja, pihak
laki - laki juga perlu membantu agar pasangan tidak tertular.
Penangan ini antara lain dapat dilakukan dengan :
1) Setia pada pasangan, penyakit ini sebagian besar
ditularkan melalui hubungan seks bebas.
2) Segera hubungi dokter apabila gejala - gejala penyakit ini
muncul.
3) Rutin memriksakan diri dan pasangan ke dokter ahli
kandungan
4) Penggunaan kondom saat berhubungan seksual.
5) Menjaga kebersihan organ genital(Sarwono, 2012).
3. Endometrisis
a. Pengertian endometrisis
Endometritis adalah infeksi pada endometrium
(lapisan dalam dari rahim). Infeksi ini dapat terjadi sebagai
kelanjutan infeksi pada serviks atau infeksi tersendiri dan
terdapat benda asing dalam rahim. Endometritis adalah

7
peradangan pada dinding uterus yang umumnya disebabkan
oleh partus. Dengan kata lain endometritis didefinisikan
sebagai inflamasi dari endometrium.

b. Etiologi
Kuman-kuman memasuki endometrium, biasanya
pada luka bekas insersio plasenta, dan dalam waktu singkat
mengikutsertakan seluruh endometrium. Pada infeksi dengan
kuman yang tidak seberapa pathogen, radang terbatas pada
endometrium. Jaringan desidua bersama-sama dengan bekuan
darah menjadi nekrotis dan mengeluarkan getah berbau dan
terdiri atas keeping- keping nekrotis serta cairan Terjadinya
infeksi endometrium pada saat
1) Persalinan, dimana bekas implantasi plasenta masih
terbuka, terutama pada persalinan terlantar dan persalinan
dengan tindakan.
2) Pada saat terjadi keguguran.
3) Saat pemasangan alat rahim (IUD) yang kurang legeartis.
c. Manifestasi Klinis
1) Endometritis akut.
a) Demam.
b) Lochia berbau, pada endometritis postabortum
kadang-kadang keluar fluor yang purulent.
c) Lochia lama berdarah, malahan terjadi metrorrhagi.
d) Jika radang tidak menjalar ke parametrium atau
perimetrium tidak ada nyeri.
e) Nyeri pada palpasi abdomen (uterus) dan sekitarnya.
2) Endometritis Kronik
a) pada tuberkulosis.
b) jika tertinggal sisa-sisa abortus atau partus
c) jika terdapat korpus alienum di kavum uteri.
d) pada polip uterus dengan infeksi.
e) pada tumor ganas uterus.
f) pada salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvik.
g) Fluor albus yang keluar dari ostium

8
h) Kelainan haid seperti metrorrhagi dan menorrhagi
d. Patofiologi
Pada keadaan normal, kavum uterus dalam kondisi
steril. Mekanisme alamiah yang melindungi kavum uteri di
antaranya adalah adanya sumbatan mukus pada mulut rahim,
komponen sistem imun alamiah (sel neutrofil, makrofag dan
sel natural kliller) dan peptida antimikrobial pada
endometrium.Gangguan pada sistem imun serta invasi bakteri
patogen dapat menyebabkan endometritis.
e. Komplikasi
1) Infertilitas
2) Kanker ovarium
3) Adhesi
4) Kista ovarium
f. Penatalaksanaan
1) Endometritis Akut Terapi:
a) Pemberian uterotonika
b) Istirahat, posisi/letak Fowler
c) Pemberian antibiotika.
2) Endometritis senilis, perlu dikuret untuk
mengesampingkan diagnosa corpus carcinoma. Dapat
diberi estrogen.
3) Endometritis Kronik Terapi: Perlu dilakukan kuretase untuk
diferensial diagnosa dengan carcinoma corpus uteri, polyp atau
myoma submucosa. Kadang-kadang dengan kuretase
ditemukan emndometritis tuberkulosa. Kuretase juga bersifat
terapeutik(Sarwono, 2012).
4. Parametritis
a. Pengertian parametritis
Parametritis adalah radang dari jaringan longgar di
dalam lig.latum. Radang ini biasanya unilatelar. Parametritis
adalah infeksi jaringan pelvis yang dapat terjadi beberapa
jalan.Secara rinci penyebaran infeksi sampai ke parametrium
memalui 3 cara yaitu:
1) Penyebaran melalui limfe dari luka serviks yang

9
terinfeksi atau dari endometritis.
2) Penyebaran langsung dari luka serviks yang meluas
sampai ke dasar ligamentum.
3) Penyebaran sekunder dari tromboflebitis pelvika. Proses
ini dapat tinggal terbatas pada dasar ligamentum latum
atau menyebar ekstraperitoneal ke semua jurusan. Jika
menjalar ke atas , dapat diraba pada dinding perut sebelah
lateral di atas ligamentum inguinalis, atau pada fossa
iliaka.
b. Etiologi
Parametritis dapat terjadi:
1) Dari endometritis dengan 3 cara :
a) Per continuitatum : endometritis → metritis → parametitis.
b) Lymphogen.
c) Haematogen : phlebitis → periphlebitis → parametritis.
2) Dari robekan serviks.
3) Perforasi uterus oleh alat-alat ( sonde, kuret, IUD)
c. Manifestasi klinik
1) Suhu tinggi dengan demam tinggi.
2) Penderita tampak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri.
3) Nyeri unilateral tanpa gejala rangsangan peritoneum, seperti
muntah.
d. Patofisiologi
Endometritis → Infeksi meluas → Lewat jalan limfe atau
tromboflebitis → Infeksi menyebar ke miometrium →
Miometritis → Infeksi meluas lewat jalan
limfe/tromboflebitis → Parametritis
e. Komplikasi
1) Parametritis akut dapat menjadi kronis dengan eksa
serbasi yang akut, terjadi paritenitis ke rectum / ke
kencing.
2) Dapat terjadi tromboflebitis pelvika dapat menimbulkan
Emboli
3) Dapat timbul abses dalam parametrium
4) Kalau infeksi tidak segera diketahui bisa menyebabkan

10
bertambah.
f. Penatalaksanaan.
1) Pencegahan
a) Selama kehamilan
Oleh karena anemia merupakan predisposisi untuk
infeksi nifas, harus diusahakan untuk
memperbaikinya. Keadaan gizi juga merupakan factor
penting, karenanya diet yang baik harusdiperhatikan.
Coitus pada hamil tua sebaiknya dilarang karena
dapat mengakibatkan pecahnya ketuban dan
terjadinya infeksi.
b) Selama persalinan
Usaha-usaha pencegahan terdiri dari membatasi
sebanyak mungkin kuman-kuman dalam jalan lahir,
menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut,
menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit
mungkin, dan mencegah terjadinya perdarahan
banyak. Semua petugas dalam kamar bersalin harus
menutup hidung dan mulut dengan masker, alat-alat,
kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci
hama. Pemeriksaan dalam hanya boleh dilakukan jika
perlu,terjadinya perdarahan harus dicegah sedapat
mungkin dan transfusi darah harus diberikan menurut
keperluan.

11
c) Selama nifas
Sesudah partus terdapat luka-luka dibeberapa tempat
pada jalan lahir. Pada hari pertama postpartum harus
dijaga agar luka- luka ini tidak dimasuki kuman-
kuman dari luar. Tiap penderita dengan tanda-tanda
infeksi nifas jangan dirawat bersama dengan wanita-
wanita dalam nifas sehat.
2) Pengobatan Antibiotika
Pemberian antibiotika (antibiotik seperti benzilpenisilin
ditambah gentamisin dan metronidazol) memegang peranan
yang sangat penting dalam pengobatan infeksi nifas. Karena
pemeriksaan-pemeriksaan ini memerlukan waktu, maka
pengobatan perlu dimulai tanpa menunggu hasilnya. Terapi
pada parametritis yaitu dengan memberika antibiotika
berspektrum luas. Dalam hal ini dapat diberikan penicillin
dalam dosis tinggi atau antibiotika dengan spectrum luas,
seperti ampicillin dan lain- lain.

12
C. PATHWAY

ENDOMETRITIS

Secsio sesarea Pecahnya ketuban

MK: Nyeri akut Luka bekas insersio


placenta

Kuman masuk pada MK: Resiko infeksi


endometrium

Terjadi peradangan pada


endometrium

Infeksi pada decidua MK: Hipertermi


MK: Inkontenensia
urine
Terjadi penurunan BAK pada
saluran kemih

Endometritis Kronis

Terjadi neutrofil dalam


kelenjar endometrium

Endometritis akut

Terjadi plasma sel dan


limfosit dalam stroma

13
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Sel darah putih
2. LED dan SDM
3. HB / HT
4. Kultur dari bahan intra uterus / intra servikal / drainase luka /
perawatan gram dari lochea servik dan uterus
5. Ultra sonografi

14
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
a. Identitas pasien berupa nama, tanggal lahir, umur, jenis kelamin,
agama, status pendidikan, pendidikan, pekerjaan, alamat, nomor RM,
diagnose medis.
b. Identitas penanggungjawab berupa nama, tanggal lahir, jenis kelamin,
agama, status pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan pasien.
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
b. Riwayat kesehatan sekarang
c. Riwayat kesehatan dahulu
d. Riwayat kesehatan keluarga
3. Pengkajian Fungsional Gordon
a) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
b) Pola nutrisi
c) Pola eliminasi
d) Pola istirahat dan tidur
e) Pola personal hygiene
f) Pola aktivitas
g) Pola kognitif dan persepsi
h) Pola konsep diri
i) Pola hubungan dan peran
j) Pola seksual dan reproduksi
k) Pola penanganan masalah stres
l) Pola keyakinan dan nilai-nilai

15
4. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala
Rambut : warna, distribusi, kebersihan, kutu, ketombe
b. Muka : kelopak mata, warna, kebersihan, jerawat, luka
c. Mata : kelopak mata, konjungtiva, pupil, sclera, lapang pandang,
bola mata, dan ketajaman penglihatan
d. Hidung : kebersihan, sekresi, dan pernapasan cuping hidung
e. Mulut : bibir, mukosa mulut, lidah, dan tonsil
f. Gigi : jumlah, karies, gusi, dan kebersihan
g. Telinga : kebersihan, sekresi, dan pemeriksaan pendengaran
h. Leher : Pembesaran kelenjar limfe, tiroid, posisi trakea, distensi vena
jugolaris, kaku kuduk
i. Dada
Inspeksi : bentuk dada, ekspansi dada, gerakan dada, ictus cordis,
penggunaan otot bantu pernapasan
Palpasi : nyeri, bengkak, ekspansi dinding dada, dll
Perkusi : perhatikan intensitas, nada, kualitas, bunyi, dan vibrasi
yang dihasilkan
Auskultasi : suara napas, suara napas tambahan, dan suara jantung
j. Abdomen
Inspeksi : warna, jaringan perut, lesi, kemerahan, umbilikus, dan
garis bentuk abdomen
Auskultasi : frekuensi, nada, dan intensitas bising usus
Palpasi : rasakan adanya spasme otot, nyeri tekan, dan adanya massa
Perkusi : dengarkan bunyi yang dihasilkan
k. Ekstremitas : Kekuatan otot, Range of motion, Perabaan akral,
Perubahan bentuk tulang , Capillary refill time (normal >3
detik) , Edema pitting dengan derajat kedalaman

16
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2016) masalah yang lazim muncul:
1. Nyeri akut b.d luka bekas insersio plasentad.dmengeluh nyeri,
tampak meringis, bersikap protektif, gelisah, frekuensi nadi
meningkat, sulit tidur.
2. Rresiko Infeksi d.d kuman masuk pada endometrium
3. Hipertermia b.d infeksi pada deciduad.dsuhu tubuh
4. Inkontinensia urin urgensi b.dpenurunan kapasitas kandung kemih
d.dkeinginan berkemih yang kuat disertai dengan inkontinensia.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Menurut (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2016) masalah yang lazim muncul:
1. Nyeri akutb.d luka bekas insersio plasentad.dmengeluh nyeri, tampak
meringis, bersikap protektif, gelisah, frekuensi nadi meningkat, sulit
tidur.
Luaran:
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka
tingkat nyeri menurun, dengan kriteria hasil:
a. Keluhan nyeri menurun
b. Meringis menurun
c. Sikap protektif menurun
d. Gelisah menurun
e. Kesulitan tidur menurun
f. Frekuensi nadi membaik

Intervensi:

1) Manajemen Nyeri (I.08238)


Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen nyeri
berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

a. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,


intensitas nyeri
b. Identifikasi skala nyeri

17
c. Idenfitikasi respon nyeri non verbal
d. Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
e. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
f. Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
g. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
h. Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
i. Monitor efek samping penggunaan analgetik

Terapeutik

a. Berikan Teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (mis:


TENS, hypnosis, akupresur, terapi music, biofeedback, terapi
pijat, aromaterapi, Teknik imajinasi terbimbing, kompres
hangat/dingin, terapi bermain)
b. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis: suhu
ruangan, pencahayaan, kebisingan)
c. Fasilitasi istirahat dan tidur
d. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi
meredakan nyeri

Edukasi

a. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri


b. Jelaskan strategi meredakan nyeri
c. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
d. Anjurkan menggunakan analgesik secara tepat
e. Ajarkan Teknik farmakologis untuk mengurangi nyeri

Kolaborasi

Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

Pemberian Analgesik (I.08243)

Tindakan yang dilakukan pada


intervensipemberiananalgesikberdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

18
a. Identifikasi karakteristik nyeri (mis: pencetus, pereda, kualitas,
lokasi, intensitas, frekuensi, durasi)
b. Identifikasi Riwayat alergi obat
c. Identifikasi kesesuaian jenis analgesik (mis: narkotika, non-
narkotik, atau NSAID) dengan tingkat keparahan nyeri
d. Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian
analgesik
e. Monitor efektifitas analgesik

Terapeutik

a. Diskusikan jenis analgesik yang disukai untuk mencapai analgesia


optimal, jika perlu
b. Pertimbangkan penggunaan infus kontinu, atau bolus opioid
untuk mempertahankan kadar dalam serum
c. Tetapkan target efektifitas analgesik untuk mengoptimalkan
respons pasien
d. Dokumentasikan respons terhadap efek analgesik dan efek yang
tidak diinginkan

Edukasi

Jelaskan efek terapi dan efek samping obat

Kolaborasi

Kolaborasi pemberian dosis dan jenis analgesik, sesuai indikasi

2. Rresiko Infeksi d.d kuman masuk pada endometrium


Luaran :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka
tingkat infeksi menurun, dengan kriteria hasil:

a. Demam menurun
b. Kemerahan menurun
c. Nyeri menurun
d. Bengkak menurun

19
e. Kadar sel darah putih membaik

Intervensi :

Manajemen Imunisasi/Vaksinasi (I.14508)

Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen


imunisasi/vaksinasi berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

a. Identifikasi Riwayat Kesehatan dan Riwayat alergi


b. Identifikasi kontraindikasi pemberian imunisasi (mis: reaksi
anafilaksis terhadap vaksin sebelumnya dan/atau sakit parah
dengan atau tanpa demam)
c. Identifikasi status imunisasi setiap kunjungan ke pelayanan
kesehatan

Terapeutik

a. Berikan suntikan pada bayi di bagian paha anterolateral


b. Dokumentasikan informasi vaksinasi (mis: nama produsen, tanggal
kadaluarsa)
c. Jadwalkan imunisasi pada interval waktu yang tepat

Edukasi

a. Jelaskan tujuan, manfaat, reaksi yang terjadi, jadwal, dan efek


samping
b. Informasikan imunisasi yang diwajibkan pemerintah (mis: hepatitis
B, BCG, difteri, tetanus, pertussis, H. influenza, polio, campak,
measles, rubela)
c. Infromasikan imunisasi yang melindungi terhadap penyakit namun
saat ini tidak diwajibkan pemerintah (mis: influenza,
pneumokokus)
d. Informasikan vaksinasi untuk kejadian khusus (mis: rabies, tetanus)
e. Informasikan penundaan pemberian imunisasi tidak berarti
mengulang jadwal imunisasi Kembali

20
f. Informasikan penyedia layanan Pekan Imunisasi Nasional yang
menyediakan vaksin gratis

Pencegahan Infeksi (I.14539)

Tindakan yang dilakukan pada intervensi pencegahan infeksi


berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik

Terapeutik

a. Batasi jumlah pengunjung


b. Berikan perawatan kulit pada area edema
c. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan
lingkungan pasien
d. Pertahankan teknik aseptic pada pasien berisiko tinggi

Edukasi

a. Jelaskan tanda dan gejala infeksi


b. Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar
c. Ajarkan etika batuk
d. Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi
e. Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
f. Anjurkan meningkatkan asupan cairan

Kolaborasi

Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu

3. Hipertermia b.d infeksi pada deciduad.dsuhu tubuh 38°C.


Luaran :
Termoregulasi membaik diberi kode L.14134 dalam SLKI.
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam, maka
termoregulasi membaik, dengan kriteria hasil:

21
a. Suhu tubuh membaik
b. Suhu kulit membaik
c. Menggigil menurun

Intervensi:

Manajemen Hipertermia (I.15506)

Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen hipertermia


berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

a. Identifikasi penyebab hipertermia (mis: dehidrasi, terpapar


lingkungan panas, penggunaan inkubator)
b. Monitor suhu tubuh
c. Monitor kadar elektrolit
d. Monitor haluaran urin
e. Monitor komplikasi akibat hipertermia

Terapeutik

a. Sediakan lingkungan yang dingin


b. Longgarkan atau lepaskan pakaian
c. Basahi dan kipasi permukaan tubuh
d. Berikan cairan oral
e. Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami
hyperhidrosis (keringat berlebih)
f. Lakukan pendinginan eksternal (mis: selimut hipotermia atau
kompres dingin pada dahi, leher, dada, abdomen, aksila)
g. Hindari pemberian antipiretik atau aspirin
h. Berikan oksigen, jika perlu

Edukasi

Anjurkan tirah baring

Kolaborasi

22
Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu

Regulasi Temperatur (I.14578)

Tindakan yang dilakukan pada intervensi regulasi temperatur


berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

a. Monitor suhu tubuh bayi sampai stabil (36,5 – 37,5°C)


b. Monitor suhu tubuh anak tiap 2 jam, jika perlu
c. Monitor tekanan darah, frekuensi pernapasan dan nadi
d. Monitor warna dan suhu kulit
e. Monitor dan catat tanda dan gejala hipotermia atau hipertermia

Terapeutik

a. Pasang alat pemantau suhu kontinu, jika perlu


b. Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adekuat
c. Bedong bayi segera setelah lahir untuk mencegah kehilangan panas
d. Masukkan bayi BBLR ke dalam plastic segera setelah lahir (mis:
bahan polyethylene, polyurethane)
e. Gunakan topi bayi untuk mencegah kehilangan panas pada bayi
baru lahir
f. Tempatkan bayi baru lahir di bawah radiant warmer
g. Pertahankan kelembaban incubator 50% atau lebih untuk
mengurangi kehilangan panas karena proses evaporasi
h. Atur suhu incubator sesuai kebutuhan
i. Hangatkan terlebih dahulu bahan-bahan yang akan kontak dengan
bayi (mis: selimut, kain bedongan, stetoskop)
j. Hindari meletakkan bayi di dekat jendela terbuka atau di area aliran
pendingin ruangan atau kipas angin
k. Gunakan matras penghangat, selimut hangat, dan penghangat
ruangan untuk menaikkan suhu tubuh, jika perlu
l. Gunakan Kasur pendingin, water circulating blankets, ice pack,
atau gel pad dan intravascular cooling cathetherization untuk
menurunkan suhu tubuh

23
m. Sesuaikan suhu lingkungan dengan kebutuhan pasien

Edukasi

a. Jelaskan cara pencegahan heat exhaustion dan heat stroke


b. Jelaskan cara pencegahan hipotermi karena terpapar udara dingin
c. Demonstrasikan Teknik perawatan metode kanguru (PMK) untuk
bayi BBLR

Kolaborasi

Kolaborasi pemberian antipiretik, jika perlu

4. Inkontinensia urin urgensi b.dpenurunan kapasitas kandung kemih


d.dkeinginan berkemih yang kuat disertai dengan inkontinensia.

Luaran :

Kontinensia urin membaik diberi kode L.04036 dalam SLKI.

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka


kontinensia urin membaik, dengan kriteria hasil:

a. Kemampuan mengontrol urin meningkat


b. Kemampuan menunda pengeluaran urin membaik

Intervensi:

1). Latihan Berkemih (I.04149)

Tindakan yang dilakukan pada intervensi latihan berkemih berdasarkan


SIKI, antara lain:

Observasi

a. Periksa kembali penyebab gangguan berkemih (mis: kognitif,


kehilangan ekstremitas/fungsi ekstremitas, kehilangan penglihatan)
b. Monitor pola dan kemampuan berkemih

24
Terapeutik

a. Hindari penggunaan kateter indwelling


b. Siapkan area toilet yang aman
c. Sediakan peralatan yang dibutuhkan dekat dan mudah dijangkau
(mis: kursi komode, pispot, urinal)

Edukasi

a. Jelaskan arah-arah menuju kamar mandi/toilet pada pasien dengan


gangguan penglihatan
b. Anjurkan intake cairan adekuat untuk mendukung output urin
c. Anjurkan aliminasi normal dengan beraktivitas dan olahraga sesuai
kemampuan

2). Perawatan Inkontinensia Urin (I.04163)

Tindakan yang dilakukan pada intervensi perawatan inkontinensia


urinberdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

a. Identifikasi penyebab inkontinensia urin (mis: disfungsi neurologis,


gangguan medulla spinalis, gangguan refleks destrusor, obat-obatan,
usia, Riwayat operasi, gangguan fungsi kognitif
b. Identifikasi perasaan dan persepsi pasien terhadap inkontinensia urin
yang dialaminya
c. Monitor keefektifan obat, pembedahan, dan terapi modalitas
berkemih

Terapeutik

a. Bersihkan daerah genital dan kulit sekitar secara rutin


b. Berikan pujian atas keberhasilan mencegah inkontinensia
c. Buat jadwal konsumsi obat-obat diuretik
d. Ambil sampel urin untuk pemeriksaan urin lengkap atau kultur
e.

25
Edukasi

a. Jelaskan definisi, jenis inkontinensia, penyebab inkontinensia urin


b. Jelaskan program penanganan inkontinensia urin
c. Jelaskan jenis pakaian dan lingkungan yang mendukung proses
berkemih
d. Anjurkan membatasi konsumsi cairan 2-3 jam menjelang tidur
e. Ajarkan memantau cairan keluar dan masuk serta pola eliminasi urin
f. Anjurkan minum minimal 1500 cc/hari, jika tidak ada kontraindikasi
g. Anjurkan menghindari kopi, minuman bersoda, teh dan cokelat
h. Anjurkan konsumsi buah dan sayur untuk menghindari konstipasi

Kolaborasi

Rujuk ke ahli inkontinensia, jika perlu

D. IMPLEMENTASI
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan
Rencana keperawatan oleh perawat dan pasien. Implementasi
keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Setiadi,
2012).
E. EVALUASI
Evaluasi keperawatan adalah mengkaji respon pasien setelah
dilakukan intervensi keperawatan dan mengkaji ulang asuhan
keperawatan yang telah diberikan.Evaluasi keperawatan adalah
kegiatan yang terus menerus dilakukan untuk menentukan apakah
rencana keperawatan efektif dan bagaimana rencana keperawatan
dilanjutkan,merevisi rencana atau menghentikan rencana keperawatan
(Setiadi, 2012).

26
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Infeksi traktus genitalius yang disebabkan oleh bakteri
(bakteri vaginalis) pada wanita bisa terjadi dengan prevalensi
yang bervariasi pada kelompok wanita remaja, hamil, pekerja
seks komersial dan penderita HIV. Menurut beberapa penelitian
prevalensi infeksi traktus genitalis banyak ditemukan pada
kelompok wanita pekerja seks komersial. Infeksi ini terjadi
sebagai akibat pertukaran lactobacillus Spp penghasil 𝐻2𝑂2
(Hidrogen Peroksida) yang merupakan flora normal vagina dengan
bakteri anaerob dalam konsentrasi tinggi. Faktor–faktor pendukung
terjadinya infeksi traktus genitalius bakteri pada wanita antara lain;
asupan gizi yang kurang, kurangnya menjaga kebersihan genitalia,
perilaku seks bebas, dan kurangnya perawatan luka episiotomy pada
ibu post partum.
Masalah keperawatan yang sering ditemukan pada wanita
yang mengalami infeksi traktus genitalis antara lain ; hipertermia,
nyeri, kurangnya pengetahuan, dan ketidakefektifan pola seksual.

B. SARAN
Mengingat komplikasi yang serius dari infeksi traktus
genitalius, diharapkan masyarakat dapat waspada dan menghindari
faktor – faktor risiko yang memicu terjadinya masalah infeksi
traktus genitalius .

27
DAFTARPUSTAKA

Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC.

Depkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan
pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.

Prawirohardjo,Sarwono, 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka


Prof.Dr.I.B.G Manuaba, S.p.O.G (k), dr.I.A Chandranita
Manuaba,S.p.O.G dkk. Pengantar Kuliah Obtetri.2010.Jakarta: Buku
Kedokteran EGC

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar diagnosis keperawatan


indonesia:Definisi dan indikator diagnostik (Edisi 1). DPP PPNI.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar luaran keperawatan


indonesia:Definisi dan kriteria hasil keperawatan (Edisi 1). DPP PPNI.

Lilis Lisnawati, S.ST.,M.Keb. Asuhan kebidanan terkini kegawatdaruratan


maternal dan neonatal. 2014. Jakarta : CV. Trans info Media

Prof.Dr. Hanifah Wikjoksastro Sp.OG, Prof.Dr. Sarwono Prawirohardjo Sp.OG.


Ilmu Kandungan. 2010. Jakarta : Yayasan bina pustaka sarwono

Setiadi. (2012). Konsep & penulisan dokumentasi asuhan keperawatan teori dan

praktik.Yogyakarta: Graha Ilmu.