Anda di halaman 1dari 75

MATA KULIAH

MALARIA
PERTEMUAN KE-4

BAHAYA MALARIA

ANITA SRIWATY PARDEDE, SKM., M.KES., QHIA


MANIFESTASI KLINIK
• Gejala yang khas : trias malaria, yaitu
menggigil, panas, dan keringat yang banyak.
• Gejala dan tanda yang dapat ditemukan adalah :
1.Demam
Demam periodik berkaitan dgn saat pecahnya
skizon matang (sporulasi).
Malaria tertiana (P.vivax dan P.ovale)  tiap
48 jam maka periodisitas demamnya setiap
hari ke-3
Malaria kuartana (P.malariae) pematangannya tiap
72 jam dan periodisitas demamnya tiap 4 hari.
Demam khas malaria terdiri atas 3 stadium :
menggigil (15 menit – 1 jam), puncak demam
(2 – 6 jam) dan berkeringat (2 – 4 jam).

2. Splenomegali , anemia, ikterus


Gejala dan Tanda klinis Malaria
• Trias malaria : demam, menggigil, berkeringat
• Sakit kepala, mual-muntah, diare, nyeri otot, pegal
• Riwayat bepergian dan bermalam dalam 1-4 minggu
di daerah malaria
• Tinggal/berdomisili di daerah endemis malaria
• Pernah menderita malaria
• Riwayat mendapat transfusi darah
• Pemeriksaan fisik :
Suhu 37,5-40oC, anemia, splenomegali, hepatomegali,
penurunan kesadaran
Diagnosis Laboratoris Malaria

1. Dengan mikroskop cahaya


a. Pemeriksaan hapus darah tebal
b. Pemeriksaan hapus darah tipis

2. ICT (Immuno Chromatographic Test)

3. PCR
Diagnosis Laboratoris Malaria
• Pemeriksaan tetes tebal darah tepi:
(-) = negatif tidak ditemukan parasit dalam 100 LP
(+) = positif 1 ditemukan 1-10 parasit/100 LP
(++) = positif 2 ditemukan 11-100 parasit/100 LP
(+++) = positif 3 ditemukan 1-10 parasit/1 LP
(++++) = positif 4 ditemukan > 10 parasit/ 1LP

• Hapusan tipis
Terutama untuk melihat jenis spesies
Dapat dilakukan hitung parasit berdasarkan jumlah
parasit/1000 eritrosit
Diagnosis Malaria Berat
Ditemukan P. falciparum bentuk aseksual ditambah minimal satu
keadaan berikut :
• Malaria serebral (penurunan kesadaran, kejang, koma)
• Anemia berat (Hb<5 g/dl atau hematokrit < 15) pada hitung
parasit > 10.000/ul
• Gagal ginjal akut
• Udema paru/ARDS
• Hipoglikemia
• Renjatan
• Perdarahan spontan atau disertai KID
• Kejang berulang
• Asidosis
• Makroskopik hemoglobinuria
• Hiperparasitemia >5% pada daerah hipoendemis (non imun)
• Ikterus (Bilirubin >3 mg/dl)
• Hiperpireksia
• Kelemahan otot/gangguan neurologis
• Diagnosis post-mortem dengan ditemukannya parasit yg padat
pada pembuluh darah kapiler jaringan otak
Pengobatan Malaria
Klasifikasi Biologi Obat Malaria
1. Skizontisida jaringan primer:
Proguanil, pirimetamin
2. Skizontosida jaringan sekunder:
Primakuin
3. Skizontisida darah:
Kuinin, klorokuin, amodiakuin
4. Gametositosida:
Primaquin (V, F, M, O)
Kuinin, klorokuin, amodiakuin (V, M, O)
5. Sporontosida:
Primakuin, proguanil
Pengobatan
◼ P falciparum
lini pertama : Artesdiaquin
(Amodiaquin,Artesunat) 8 tab 3
hari tambah primaquin 3 tab
lini kedua : Kina + primaquin
◼ P vivax/ovale
Lini I : Artesdiaquin (Amodiaquin,Artesunat) 8
tab 3 hari tambah primaquin 3 tab +
primaquin 0,25 mg/kg/hari 14 hari
Lini II : Kina + primaquin 3 tab +
primaquin 0,25 mg/kg/hari 14 hari
Pengobatan kombinasi
◼ Bila sudah ada studi tentang pola resistensi
◼ Bila resistensi untuk suatu obat > 25% maka tidak
dianjurkan untuk digunakan
◼ Tujuan kombinasi untuk menghambat resistensi
dan melindungi potensi obat antimalaria
◼ Kombinasi rasional:
- cara kerja obat dan mekanisme resistensi
berbeda
- batas efektivitas obat minimal 75%
Derajat resistensi parasit aseksual P.falcifarum
terhadap obat skizontisida darah :
Respon Derajat Keterangan
Pengobatan Resistensi
Sensitif s Hilangnya semua parasit aseksual dari darah
perifer dalam waktu 7 hari dihitung setelah hari
pertama minum obat, tanpa rekrudesensi
Resisten R1 Hilangnya semua parasit aseksual dari darah
perifer seperti halnya S, tetapi selalu ada
rekrudesensi dalam kurun waktu 28-42 hari
R2 Penurunan yang jelas (75% atau lebih) dari
jumlah parasit aseksual dalam darah perifer,
tetapi tidak pernah hilang sama sekali
R3 Tidak ada perubahan yg berarti (<75%) atau
jumlah parasit bertambah dibanding jumlah
parasit aseksual darah perifer sebelumnya
Pengobatan kombinasi P. falciparum
1. Resisten K3 <25% & SP1 <25%
K3-SP1-P1
2. Resisten K3 >25% & SP1 <25%
SP1-P1-Kina7
3. Resisten K3 <25% & SP1 >25%
K3-P1-T/D7
4. Resisten K3 >25% & SP1 >25%
Kina7-P1-T/D7

Keterangan: K3=Klorokuin Fosfat 250 mg 3 hari (4-4-2)


SP1=Sulfadoksin pirimetamin 3 tab 1x
P1=Primakuin 3 tab 1x
Kina7=Kina Sulfat 3x10 mg/kgBB 7 hari
T/D7=Tetrasiklin/Doksisiklin 7 hari
Pengobatan kombinasi P. vivax
1. Resisten K3 <25%
K3-P14-T/D7
2. Resisten K3 >25%
Kina7-P14-T/D7

Keterangan: P14=Primakuin 15 mg 14 hari


Pemantauan Pengobatan
◼ Gagal obat dini (early treatment failure)
Hari pertama (H1-3) terjadi gejala malaria berat
H-2 hitung parasit >Ho
H-3 hitung parasit > 25% Ho
H-3 parasit bentuk aseksual masih positif disertai panas
◼ Gagal obat kasep (late treatment failure)
a. Late clinical and parasitological failure
H4-28 terjadi gejala malaria berat
masih terdapat parasit bentuk aseksual+demam
b. Late parasitological failure
Terdapat parasit bentuk aseksual pada hari ke 7, 14,
21, dan 28 tanpa demam
Pengobatan malaria berat
1. Tindakan umum/suportif
Oksigenisasi, cairan, nutrisi, monitoring
2. Pengobatan simtomatik
Antipiretik
Bila kejang diberi antikonvulsan
3. Antimalaria
Kina iv dengan cara 1 ampul kina 500 mg dilarutkan dalam
500 cc D5 diberikan dalam 8 jam terus menerus sampai
penderita dapat minum obat
4. Mengatasi penyulit/komplikasi
Malaria serebral
Anemia berat
Hipoglikemia
Renjatan
Gagal ginjal akut
Pengobatan Pencegahan
1. Klorokuin Basa 5 mg / kg BB / minggu
2. Doksisiklin 1.5 mg / Kg BB / hari :
Untuk daerah yg efikasi P. Falcifarum terhadap klorokuin < 75 %
Maksimal untuk 3 bulan
Kontra Indikasi anak < 8 thn dan ibu hamil
Diberikan 1 minggu sebelum berangkat ke daerah endemis s.d
4 minggu setelah meninggalkan daerah endemis malaria
Prinsip pengobatan malaria
1. Penemuan penderita secara dini
2. Melakukan pengobatan yg efektif
mengurangi/membasmi
parasitemia
3. Mencegah komplikasi & kematian
4. Menemukan & mengobati
rekrudensi/relaps
5. Mengurangi penularan penyakit
malaria
◼ Obat untuk program pemberantasan
1. Klorokuin
2. Pirimetamin

3. Primakuin

4. Kina

5. Kombinasi sulfadoksin dan

pirimetamin
6. Kombinasi berbasis artemisin

(ACT)
SASARAN OBAT MENURUT STADIA
PARASIT
◼ Sizontosida Jaringan
* Utk tujuan profilaksis kausal
* Bekerja pada stadium preeritrosit
dpt mencegah parasit
menyerang eritrosit

◼ Sizontosida Jaringan Sekunder


(Hipnozoit)
* Dapat mencegah terjadinya relaps
◼ Sizontosida Darah
Bekerja pada bentuk eritrositer
penyembuhan klinis/penekanan
infeksi sub-paten
◼ Gametosida

Ditujukan utk membunuh semua


bentuk seksual eritrositer
◼ Sporontosida

Ditujukan utk mencegah


pembentukan oosista dan sporozoit
tidak terjadi penularan
SPEKTRUM OBAT
1. Klorokuin
◼ Sisontosida darah efektif utk
semua spesies malaria klinis
◼ Pada infeksi P. falciparum & P.
malariae penyembuhan radikal
◼ Digunakan pada malaria akut
◼ Efektif untuk stadium gametosit
hanya pada infeksi P. falciparum
2. Pirimetamin
◼ Sizontosida jaringan bukti
belum jelas
◼ Sizontosida darah aktif
terhadap semua spesies
kesembuhan klinis
P. falcip. kesembuhan radikal
Kerja lambat kesembuhan
akut
◼ Gametosida menghalangi
terjadinya sporogoni
3. Primakuin
◼ Sizontosida jaringan aktif thdp
P. vivax dan P. falciparum
◼ Sizontosida jaringan sekunder
sangat aktif (penyembuhan radikal pd
infeksi P. vivax obat pilihan utk
mencegah relaps)
◼ Sizontosida darah aktif terhadap
P. vivax dan P. falciparum (dosis yg
dibutuhkan besar shg tdk boleh
digunakan secara rutin bahaya)
◼ Gametosida efektif utk semua
spesies
4. Kina
◼ Sizontosida darah sangat aktif
penyembuhan klinis (P. falciparum
penyembuhan radikal walaupun lama
dan mrpk obat pilihan utk infeksi
akut/utk P. falciparum yg resisten
klorokuin)
◼ Gametosida efektif utk semua
spesies kecuali P. falciparum
◼ Resistensi parasit malaria thdp kina
belum pernah dilaporkan di
Indonesia
5. Sulfonamida
◼ Sizontosida darah efektif
hanya utk P. falciparum (obat
tunggal yg efeknya lambat & cepat
resisten tdk digunakan untuk
pencegahan
◼ Gametosida obat tunggal pd
infeksi P. falciparum jumlah
gametosit meningkat tdk
efektif
6. Kombinasi berbasis artemisin (ACT)
Rekomendasi WHO : untuk mengatasi
parasit malaria yang sudah resisten
terhadap klorokuin dan sulfadoksin-
pirimetamin
ACT merupakan kombinasi artemether
dan lumefantrine. Artemether
adalah turunan artemisin yang
diekstrak dari tanaman Artemisia
annua yang dibudidayakan di CHina
ANOPHELES MANUSIA MANUSIA
(DARAH) (JARINGAN)
SPOROZOIT SIZON JARINGAN

PROFILAKSIS
KAUSAL H
SPORONTOSIDA SIZON I
P
MEROZOIT
N
TROF. MEROZOIT EKSOERITROSIT
O
Z
GAMET. O
I
OOKIST T
GAMETOSIDA

HIPNOZOIT
RESISTENSI OBAT
MALARIA
◼ DIFINISI
Kemampuan parasit malaria utk
terus hidup dlm tubuh manusia,
berkembang biak dan menimbulkan
penyakit, meskipun telah diobati
secara teratur dg dosis standar/dosis
yg lebih tinggi yg masih dpt ditolerir
oleh pemakai obat
Dilaporkan pertama kali:
◼ Di Venezuela (1959)
◼ Di Columbia (1960)
◼ Di Indonesi (1973) Yogyakarta
Proses terjadinya resistensi
◼ Importasi
◼ Secara spontan dari parasit lokal
mutasi genetik
Indikasi kemungkinan adanya
resistensi
1. Ditemukan sediaan darah (SD)+ P. falcp.
pd:- penduduk dari daerah resisten
- penduduk dari daerah yg dicurigai resisten
- penduduk dari luar Jawa & Bali
2. Sediaan darah + P. falcp. meningkat 2-3
kali dari biasanya
3. Ada kenaikan jml penderita infeksi P. falcp
dlm 3 bln pertama masa follow up
penyelidikan epidemiologi
4. Ada penderita infeksi P. falcp yg sering
kambuh dlm jarak 2 minggu setelah
pengobatan dg klorokuin
PENENTUAN RESISTENSI
IN VITRO
(bbrp obat dpt dites bersama-sama)
Prinsip kerja
◼ Stadium eritrosit dpt dikultur in
vitro pd suhu 38,50 C – 400 C
◼ Pd parasit yg rentan pembentukan
sizon akan terhenti bila media
dicampur dg sizontosida dg dosis
tertentu
◼ Sterilitas harus di jaga
IN VIVO
(dpt menunjukkan tingkat resistensi)
Prinsip kerja
Membandingkan kepadatan parasit
aseksual dlm darah tepi sebelum &
selama 7 hari sesudah pemberian
klorokuin dosis tertentu (jika perlu
sampai 28 hari):
* dpt diketahui tingkat reaksi parasit pd
penderita thdp pengobatan
* dpt digambarkan sebagai suatu
spektrum, dimulai tingkat yg sangat
rentan s/d yg sangat resisten
IN VIVO
(dpt menunjukkan tingkat resistensi)
Prinsip kerja
Membandingkan kepadatan
parasit aseksual dlm darah tepi
sebelum & selama 7 hari sesudah
pemberian klorokuin dosis tertentu
(jika perlu sampai 28 hari) dpt
diketahui tingkat reaksi parasit pd
penderita thdp pengobatan
Syarat Penderita utk Tes Invivo
◼ Bisa berkomunikasi (umur > 6
tahaun & tdk terlalu tua)
◼ Sediaan darah hanya mengandung P.
falciparum (tdk campuran)
◼ Kepadatan parasit aseksual 1.000 -
10.000 / mm3
◼ Gejala klinik tdk berat & keadaan
umum baik
◼ Penderita bebas dari obat2 malaria
lain dalam 6 minggu
Derajat Resistensi P. falciparum thdp Klorokuin

Reaksi Derajat Ciri-ciri


Sensitif S Semua prst aseksual hilang
(rentan) dari darah perifir, 7 hari
setelah pengobatan (tanpa
rekrudensi)
Semua prst aseksual hilang
dari darah perifir, 7 hari
RI
setelah pengobatan (tetapi
Resisten selalu ada rekrudensi)
(kebal) Penurunan yg jelas jml. Prst
RII aseksual dlm drh perifir, tetapi
tdk pernah negatif
RIII Tdk ada perubahan yg berarti
dari jml parasit aseksual dlm
drh perifir
Derajat Resistensi P. falcp. thdp
Klorokuin
SENSITIF (S) Batas ambang mikroskopis

RI KASEP

RI DINI

0 1 2 3 4 5 6 7 14 21 28
Derajat Resistensi P. falcp. thdp Klorokuin

RII Batas ambang mikroskopis

0 1 2 3 4 5 6 7 14 21 28

Standar tes (tes 7 hari) Hari dihitung saat mulai minum obat

Extended test (tes 28 hari)


Kecurigaan klinis yg kuat adanya malaria
➢ Demam akut (riwayat demam akut, dengan atau
tanpa gejala klinis lain), tetapi bisa a-simtomatik
seperti pada orang dewasa di daerah endemik
malaria yg stabil

➢ Tinggal di daerah endemik malaria

➢ Riwayat baru berkunjung ke daerah malaria


termasuk kunjungan singkat atau hanya transit

➢ Riwayat transfusi darah


Pendekatan Terbaru
Penanganan Kasus Malaria

• Berdasarkan diagnosa pasti


• Terapi Kombinasi (ACT = Artemisinin-based
Combination Therapy)
- Artesunate + Amodiaquine
- Dihydroartemisinin + Piperaquine
• Pengobatan radikal
ACT YANG ADA DI INDONESIA
⚫ Artesunate + amodiaquine :
❑ Artesdiaquine
❑ Arsuamoon
⚫ Dihydro-Artemisinin + Piperakuin :
❑ Artekom
❑ Artekin
❑ Arterakin
❑ Darplex
⚫ Artemether-lumefantrine (Co-artem) → swasta
⚫ Arco → TNI
TATA LAKSANA MALARIA DI LAPANGAN

KUNJUNGAN LAPANGAN PENGAMBILAN SD

LABORAT PUSKESMAS

APOTIK / BP

POSITIF NEGATIF

PF PV

ACT 3, PQ 14

ACT 3, PQ 1

FU : 14,21,28,30
FU : 4,7, 14, 28

RESISTEN RESISTEN RELAPSE

KINA 7, AB 7, PQ 1 KINA 7, PQ 14 ACT 3, PQ14


TATA LAKSANA MALARIA DI PUSKESMAS

PASIEN DATANG PENDAFTARAN

APOTIK BP : ANAMNESA, PERIKSA FISIK, RUJUK LAB

LAB : PERIKSA SD / RDT

POSITIF NEGATIF

PF PV
- RDT
BAIK BURUK ACT 3, PQ 14 - ULANG MIK
STL 4 JAM

ACT 3, PQ 1 RUJUK

ULANG LAGI
FU : 14,21,28,30 JIKA MASIH
FU : 4,7, 14, 28 ADA GEJALA

RESISTEN RESISTEN RELAPSE

KINA 7, AB 7, PQ 1 KINA 7, PQ 14 ACT 3, PQ14


IBU HAMIL KUNJUNGAN PERTAMA dan
Kunjungan berikutnya dengan gejala
malaria

PEMERIKSAAN ANC, KONSELING &


SKRINING MALARIA
Dengan RDT atau MIKROSKOP

POSITIF P.falcifarum atau P.vivax atau NEGATIF


Mix (P.falcifarum dan P.vivax)

TRIMESTER 1 TRIMESTER 2-3


DENGAN GEJALA TANPA GEJALA
Kina 3x2 (7 hari) ACT* (3 hari)

PERIKSA ULANG • LANJUTKAN ANC


SEDIAAN DARAH • LLIN
• ZAT BESI/FOLAT
• NUTRISI

TAK ADA MEMBAIK


PERBAIKAN

POSITIF NEGATIF

RUJUK SEGERA

*Artesunate (4 – 4 -4) + Amodiaquin (4-4-4) atau • LANJUTKAN ANC


• LLIN
Dihydroartemisinin + Piperaquin (DHP) 3-3-3
• ZAT BESI/FOLAT
• NUTRISI
KEMOPROFILAKSIS
• Untuk mengurangi resiko terinfeksi
malaria, sehingga bila terinfeksi maka
gejala klinisnya tidak berat

• Bila bepergian ke daerah endemis


malaria dalam waktu yang tidak terlalu
lama (peneliti, pegawai kehutanan, turis
dll)
PROFILAKSIS P.FALCIPARUM

Doksisiklin diberikan tiap hari dengan dosis 2


mg/kgbb/hari (orang dewasa : 2 x 50 mg atau
1 x 100 mg) selama tidak lebih dari 12 minggu.

Diminum 1-2 hr sebelum berangkat , selama di


daerah endemis sampai 4 mg setelah kembali

Obat ini tidak boleh diberikan kepada anak < 8


tahun dan bumil.
Malaria tanpa komplikasi Terapi antimalaria
Malaria Lini pertama Lini pertama Lini kedua
Malaria AS3 + AQ3+ PQ1 DH3+ P3 + PQ1 Q7 + D/T7+ PQ1
falciparum Artesunate +Amodiaquin Dihydroartemisinin +Piperaquin Quinine + Doxycycline +
+ Primaquine + Primaquine Primaquine

Doxy atau Tetracycline


Malaria AS3 + AQ3+ PQ14 DH3+P3+PQ14 Q7 + PQ14
Dihydroartemisinin (DH)
vivax + Piperaquin (P)

Malaria falciparum berat / dengan komplikasi


Lama Baru
Kinin dihidroklorida drip Artesunate iv Artemether im
Pengobatan Malaria Falciparum dan Malaria Vivax
ACT + Primakuin Lini pertama
DHP + Primakuin
Pengobatan Malaria Falciparum
Kina + Doksisiklin / Tetrasiklin + Lini kedua
Primakuin
Pengobatan Malaria Vivax
Lini kedua
Kina + Primakuin
Malaria pada ibu hamil

Malaria berat pada Ibu Hamil


Trimester II dan III : Artesunate iv atau Arthemeter im
Trimester I: Kina dihidroklorida drip
Obat antimalaria
◼ Obat standar: Klorokuin dan Primakuin. Klorokuin
efefktivitasnya sangat tinggi terhadap Plasmodium vivax
dan Plasmodium falciparum.

◼ Obat alternatif: Kina dan Sp (Sulfadoksin + Pirimetamin).


Kombinasi SP sangat efektif untuk mengobati penderita
malaria oleh Plasmodium falciparum yang sudah resisten
kloroluin.

◼ Obat penunjang: Vitamin B Complex, Vitamin C dan SF


(Sulfas Ferrosus).

◼ Obat malaria berat: Kina HCL 25% injeksi (1 ampul 2 cc).

◼ Obat standar dan Klorokuin injeksi (1 ampul 2 cc)


sebagai obat alternatif.
◼ Obat malaria yang ideal adalah yang memenuhi
syarat:

• Membunuh semua stadium dan jenis parasit

• Menyembuhkan infeksi akut, kronis dan kambuh

• Toksisitas dan efek samping sedikit

• Mudah cara pemberiannya

• Harga murah dan terjangkau oleh semua lapisan


masyarakat
Klasifikasi antimalaria
◼ Skizontosid jaringan dan darah,
gametosid dan sporontosid.
◼ Untuk serangan klinik : skizontosid
darah (fase eritrosit). Cth :
klorokuin, kuinin dan meflokuin.
◼ Pengobatan supresi : skizontosid
darah dalam waktu lama.
◼ Pencegahan kausal : skizontosid jaringan
yang bekerja pada skizon yang baru
memasuki jaringan hati. Cth :pirimetamin
dan primakuin
◼ Pengobatan radikal : skizontosid darah
dan jaringan (faseeritrosit dan
eksoeritrosit).
◼ Gametositosit :
• - P.vivax dan P.malariae → kloroquin dan
kuinin
• - P.falciparum →primaquin
• - Sporontosid →primaquin dan kloroguanid
Klorokuin
◼ Efektif untuk fase eritrosit P.vivax dan,
P.falciparum, gamet P.vivax
◼ Efek supresi terhadap P.vivax lebih kuat
dibandingkan kina dan kuinakrin.
◼ Absorpsi kloroquin oral lengkap dan cepat,
metabolisme lambat, ekskresi lewat urine.
◼ Metabolisme kloroquin dihambat oleh SKF 525 -
A, amodiakuin, hidroksiklorokuin dan pamakuin.
◼ Kontra indikasi : penyakit hepar
◼ Digunakan sebagai terapi supresi dan
pengendalian serangan klinik malaria.
pirimetamin
◼ Untuk pencegahan dan terapi supresi.
◼ - Kombinasi pirimetamin dengan sulfonamid dan
kuinin merupakan regimen terpilih untuk
serangan akut malaria oleh plasmodia yang
resisten terhadap kloroquin.
◼ - Absorpsi di saluran cerna lambat tapi lengkap.
◼ Obat ini ditimbun di ginjal, paru, hati dan limpa
◼ ekskresi lambat lewat urine.
◼ - Tersedia sebagai tablet 25mg dan sediaan
kombinasi tetap dengan sulfadoksin 500mg
(Fansidar).
Primakuin
◼ Untuk penyembuhan radikal malaria vivax
dan ovale.
◼ Memperlihatkan efek gametosidal
terhadap 4 jenis plasmodium terutama
plasmodium P. falciparum.
◼ - Absorbsi segera setelah pemberian oral,
metabolisme cepat, hanya sedikit yang
diekskresi dalam bentuk utuh.
◼ Efek samping : anemia hemolitik akut
pada pasien dengan defisiensi enzim
G6PD.
primakuin
◼ Kontraindikasi : pasien dengan penyakit
sistemik yang berat yang cenderung
mengalami granulositopenia, misal artritis
reumatoid & lupus eritomatosus.
◼ Indikasi : penyembuhan radikal malaria
vivaks (malaria tersiana) dan malaria lain
yang menimbulkan relaps.
◼ Mencegah timbulnya galur yang resisten
primakuin
◼ diberikan bersama skizontosid 4-
aminokuinolin dalam dosis penuh
Kuinin
◼ Diberikan oral menyebabkan nyeri
lambung, mual & muntah muntah
◼ Kina bersama pirimetamin dan sulfonamid
masih merupakan regimen terpilih untuk
P. falciparum yang resisten terhadap
klorokuin
◼ Kina terutama berefek skizontosid,
terhadap P. vivax
◼ & P. malariae juga berefek gametosid
◼ Kina dan turunannya diserap baik
terutama melalui usus halus bagian atas.
◼ Untuk pengobatan radikal dan mengatasi
kambuhnya malaria tersiana, kuinin
diberikan bersama primakuin.
◼ Untuk pengobatan malaria tropika yang
resisten terhadap klorokuin, diberikan
kombinasi pirimetamin & sulfonamid
Proguanil
◼ Merupakan turunan biguanid, dalam
tubuh diubah menjadi metabolit
triazin yang berefek skizontosid
melalui mekanisme antifolat
Meflokuin
◼ Dapat menghilangkan demam dan
parasitemia pada
◼ pasien yang terinfeksi P. falciparum
strain resisten didaerah endemik.
◼ Menyebabkan penyembuhan supresi
terhadap malaria oleh berbagai
strain P. falciparum . Juga pada P.
vivax
Halopantrin
◼ Diindikasikan pada malaria oleh P.
falciparum yang sudah resisten
terhadap obat lain termasuk
skizontosid darah kerja cepat (
(rapidly -acting blood schizontocides)
◼ Serangan akut malaria oleh P.
falciparum yang sudah resisten obat
Tetrasiklin
◼ Tetrasiklin & oksitetrasiklin berguna
untuk
◼ mengobati penyakit malaria oleh P.
falciparum yang sudah resisten
terhadap klorokuin maupun
kombinasi pirimetamin sulfadoksin.
◼ Kombinasi Pirimetamin
Sulfadoksin - Sangat efektif untuk
mengobati penderita malaria oleh
oleh P. falciparum yang sudah
resisten klorokuin
artemisin
◼ Menunjukkan sifat skizontosid yang
cepat in vitro maupun in vivo
sehingga digunakan untuk malaria
yang berat
◼ Obat ini mungkin cukup bermanfaat
pada malaria serebral oleh P.
falciparum
Terapi malaria
◼ Obat untuk serangan akut oleh 4
plasmodium umumnya sama yaitu
klorokuin (bersifat skizontosid)
sedangkan P. falciparum yang
resisten terhadap klorokuin
digunakan kuinin
◼ - Serangan akut oleh plasmodium
yang sensitif terhadap klorokuin
umumnya teratasi dengan 3 hari
pengobatan, untuk mencegah
kambuh & untuk mencapai
penyembuhan radikal pada infeksi P.
vivax dan P. ovale perlu
penambahan primakuin selama 2.
minggu.
◼ Kambuhnya serangan akut pada infeksi
serangan akut pada infeksi P. vivax P.
ovale dan P. malariae, dapat diatasi
dengan mengulang terapi klorokuin yg
pada malaria vivax dan ovale harus
dikombinasi dengan primakuin.
◼ Kambuhnya malaria tropika menunjukkan
terjadi infeksi oleh galur yang resisten,
pengobatannya dengan kuinin dan
fansidar.
◼ Obat yg aman untuk wanita hamil & anak
usia < 1 th→ klorokuin & proguanil
◼ - Doksisiklin tidak boleh diberikan untuk
anak < 8 th
◼ Pada penderita defisiensi enzim G6PD,
penggunaan obat seperti kombinasi
pirimetamin-sulfadoksin & pirimetamin-
dapson menimbulkan hemolisis
intravaskuler
Pengobatan
◼ Skizontosida jar primer:
proguanil&pirimetamin
◼ Skizontosida jar sekunder:primakuin
◼ Sikontosida darah:klorokuin,
amodikuin
◼ Gametosida:primakuin, klorokuin
◼ Sporontosida: primakuin, proguanil
Protokol terapi dg klorokuin
hr Jml tb 1-4th 5-9th 10- >15th
0-11bl 14th

Hr 1 ½ 1 2 3 4

Hr 2 ½ 1 2 3 4

Hr 3 ½ ½ 1 11/2 2
TERIMA KASIH