Anda di halaman 1dari 16

Tingkat Kejadian Toksoplasmosis Kongenital Pada Ibu Hamil Yang Hobby Memelihara Kucing

Disusun Oleh : Novianus Erik Gibson (I11110063)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan atas segala limpahan rahmat, bimbingan, dan kebaikan-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas paper ini yang berjudul Tingkat Kejadian Toksoplasmosis Kongenital Pada Ibu Hamil Yang Hobby Memelihara Kucing. Dalam judul ini saya membahas bagaimana mekanisme penularan dan kaitan pemeliharaan kucing dengan kejadian toksoplasmosis kongenital ini. Tugas ini berdasarkan penelitian saya di Puskesmas Daerah Sekadau, Kabupaten Sekadau. Dan tidak menutup kemungkinan terdapat kesalahan, oleh karena itu mohon masukan untuk memperbaiki tugas ini. Kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi demi terwujudnya Buku Pedoman ini saya ucapkan terima kasih.

Pontianak, 22 Juli 2011

Penulis

DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi BAB 1. PEMBAHASAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan 1.4 Manfaat BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Toksoplasmosis 2.2 Morfologi 2.3 Siklus Hidup 2.4 Diagnosa Klinik 2.5 Cara Penularan 2.6 Patogenesis 2.7 Menifestasi Klinis 2.8 Pencegahan Toksoplasmosis BAB 3. PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.2 Pembahasan KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... ii ...................................................................................... iii ...................................................................................... 1 ...................................................................................... 1 ...................................................................................... 2 ...................................................................................... 2 ...................................................................................... 3 ...................................................................................... 4 ...................................................................................... 4 ...................................................................................... 4 ...................................................................................... 5 ...................................................................................... 5 ...................................................................................... 6 ...................................................................................... 7 ...................................................................................... 8 ...................................................................................... 9 ...................................................................................... 11 ...................................................................................... 11 ...................................................................................... 11 ...................................................................................... 12 ...................................................................................... 13

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Toksoplasmosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii, merupakan golongan Protozoa yang bersifat parasit obligat intraseluler. Toxoplasma gondii pertama kali ditemukan oleh Nicole dan Splendore pada tahun 1908 pada limfa dan hati hewan pengerat Ctenodactylus gundii di Tunisia Afrika dan pada seekor kelinci di Brazil (Gandahusada, 2003). Di Indonesia, toksoplasmosis mulai diteliti oleh Durfee sejak tahun 1971 dan 1972 yang dilaporkan pada tahun 1976 (Sasmita, 2006). Diperkirakan 30-60% penduduk dunia terinfeksi oleh Toxoplasma gondii (Hendri, 2008). Menurut Rasmaliah (2003), infeksi ini tersebar di seluruh dunia, dimana manusia berperan sebagai hospes perantara, kucing dan famili Felidae lainnya merupakan hospes definitif. Angka kejadian toksoplasmosis di Indonesia ditunjukkan dengan adanya zat anti T. gondii, pada manusia adalah 2-63%, pada kucing 35-73%, babi 11-36%, kambing 11-61%, anjing 75% dan pada ternak lain kurang dari 10% (Gandahusada, 2003). Menurut Maruf dan Soemantri (2003), angka kejadian infeksi toksoplasmosis di Sumatera Utara mencapai 69,86%. Infeksi penyakit ini mempunyai prevalensi yang cukup tinggi, terutama pada masyarakat yang mempunyai kebiasaan makan daging mentah atau kurang matang. Di Indonesia faktorfaktor tersebut disertai dengan keadaan sanitasi lingkungan dan banyaknya sumber penularan terutama kucing dan famili Felidae (Hendri, 2008). Berbagai penelitian ada mengungkapkan bahwa wanita yang dalam usia reproduksinya bila terkena toksoplasmosis dapat menimbulkan aborsi dan gangguan fertilitas. Menurut Maruf dan Soemantri (2003), diperkirakan 72.3% dari ibu-ibu hamil terinfeksi toksoplasmosis pada periode organ reproduksi aktivitas tinggi yaitu sekitar umur 20-35 tahun. Namun, akibat yang lebih fatal bila tertular ke janin yang dikandungnya. Menurut Gilbert (2001) dalam Indrawati (2002) bahawa ibu hamil yang menderita toksoplasmosis 25% akan menular ke janinnya. Penularan toksoplasmosis kongenital terjadi

apabila infeksi pada saat gestasi dan menyebabkan abortus pada trimester pertama kehamilan (Smith dan Rebuck, 2001). Resiko penularan terhadap janin pada trimester pertama adalah 15%, 25% pada trimester kedua dan 65% pada trimester ketiga (Widjanarko, 2009). Namun derajat infeksi terhadap janin paling besar adalah bila infeksi terjadi pada trimester pertama. Sekitar 75% kasus yang terinfeksi tidak memperlihatkan gejala saat persalinan namun 25-50% bayi yang dilahirkan akan mengalami hidrosefalus, korioretinitis, mikrosefali, mikroptalmia, hepatosplenomegali, kalsifikasi serebral, adepati, konvulsi dan perkembangan mental terganggu. Menurut Maruf dan Soemantri (2003) penyuluhan terhadap masyarakat untuk lebih hygiene sangat penting terutama bagi ibu-ibu hamil muda (pada kehamilan 3 bulan pertama) bagi menghindari sumber-sumber penularan seperti vektor kucing dan makanan yang tidak dimasak. Namun, untuk menyusun model penyuluhan toksoplasmosis pada wanita usia subur, penyuluh harus terlebih dahulu mengidentifikasi karakteristik dan tingkat pengetahuan masyarakat sasaran (Padri, 2002).

1.2. Rumusan Masalah Wanita yang hobby memelihara kucing dengan kejadian toksoplasmosis kongenital pada masa kehamilan di Puskesmas Daerah Sekadau, Kabupaten Sekadau Hilir. 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui pengaruh memelihara kucing dengan kejadian toksoplasmosis kongenital pada masa kehamilan. 1.3.2 Tujuan Khusus Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah: 1. Mengetahui mekanisme penularan Toxoplasma gondii dari kucing kepada ibu hamil. 2. Mengetahui proses infeksi toksoplasmosis gondii pada organ dan sistem syaraf terutama pada janin. 3. Mengetahui manifestasi dari toksoplasmosis kongenital pada janin.

1.4. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai: 1. Sebagai bahan informasi bagi ibu dalam masa kehamilannya untuk meminimalisir kejadian kelainan kongenital pada janinnya 2. Menambahkan wawasan pengetahuan bagi para tenaga kesehatan dalam penanganan terhadap toksoplasmosis kongenital. 3. Sebagai informasi tambahan mengenai cara penularan, tanda dan gejala serta cara pencegahan terhadap toksoplasmosis kongenital bagi peneliti lain.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Toksoplasmosis Toksoplasmosis, suatu penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii, merupakan penyakit parasit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia (Hiswani, 2005). Parasit ini merupakan golongan Protozoa yang bersifat parasit obligat intraseseluler. Menurut Wiknjosastro (2007), toksoplasmosis menjadi sangat penting karena infeksi yang terjadi pada saat kehamilan dapat menyebabkan abortus spontan atau kelahiran anak yang dalam kondisi abnormal atau disebut sebagai kelainan kongenital seperti hidrosefalus, mikrosefalus, iridosiklisis dan retardasi mental. 2.2 Morfologi Toxoplasma gondii merupakan protozoa obligat intraseluler, terdapat dalam tiga bentuk yaitu takizoit (bentuk proliferatif), kista (berisi bradizoit) dan ookista (berisi sporozoit) (Hiswani, 2005). Bentuk takizoit menyerupai bulan sabit dengan ujung yang runcing dan ujung lain agak membulat. Ukuran panjang 4-8 mikron, lebar 2-4 mikron dan mempunyai selaput sel, satu inti yang terletak di tengah bulan sabit dan beberapa organel lain seperti mitokondria dan badan golgi (Sasmita, 2006). Bentuk ini terdapat di dalam tubuh hospes perantara seperti burung dan mamalia termasuk manusia dan kucing sebagai hospes definitif. Takizoit ditemukan pada infeksi akut dalam berbagai jaringan tubuh. Takizoit juga dapat memasuki tiap sel yang berinti. Kista dibentuk di dalam sel hospes bila takizoit yang membelah telah membentuk dinding. Ukuran kista berbeda-beda, ada yang berukuran kecil hanya berisi beberapa bradizoit dan ada yang berukuran 200 mikron berisi kira-kira 3000 bradizoit. Kista dalam tubuh hospes dapat ditemukan seumur hidup terutama di otak, otot jantung, dan otot bergaris. Di otak bentuk kista lonjong atau bulat, tetapi di dalam otot bentuk kista mengikuti bentuk sel otot (Gandahusada, 2003). Ookista berbentuk lonjong, berukuran 11-14 x 9-11 mikron. Ookista mempunyai dinding, berisi satu sporoblas yang membelah menjadi dua sporoblas. Pada perkembangan selanjutnya ke dua sporoblas membentuk dinding dan menjadi sporokista. Masing-masing sporokista tersebut berisi 4

sporozoit yang berukuran 8 x 2 mikron dan sebuah benda residu. Toxoplasma gondii dalam klasifikasi termasuk kelas Sporozoasida, berkembang biak secara seksual dan aseksual yang terjadi secara bergantian. 2.3 Siklus hidup Daur hidup T. gondii melalui dua siklus yaitu siklus enteroepitel dan siklus ekstraintestinal. Siklus enteroepitelial di dalam tubuh hospes definitif seperti kucing. Siklus ekstraintestinal pula di dalam tubuh hospes perantara seperti manusia, kambing dan domba. Pada siklus ekstraintestinal, ookista yang keluar bersama tinja kucing belum bersifat infektif. Setelah mengalami sporulasi, ookista akan berisi sporozoit dan menjadi bentuk yang infektif. Manusia dan hospes perantara lainnya akan terinfeksi jika tertelan bentuk ookista tersebut. Di dalam ileum, dinding ookista akan hancur sehingga sporozoit bebas. Sporozoitsporozoit ini menembus mukosa ileum dan mengikuti aliran darah dan limfa menuju berbagai organ tubuh seperti otak, mata, hati dan jantung. Sporozoit bebas akan membentuk pseudokista setelah berada dalam sel organ-organ tersebut. Pseudokista tersebut berisi endozoit atau yang lebih dikenal sebagai takizoit. Takizoit akan membelah, kecepatan membelah takizoit ini berkurang secara berangsur kemudian terbentuk kista yang mengandung bradizoit. Bradizoit dalam kista biasanya ditemukan pada infeksi menahun (infeksi laten). 2.4 Diagnosa Klinik Diagnosis infeksi protozoa ini dilakukan dengan mendapatkan antibodi IgM dan IgG anti T. gondii dalam tes serologi (Hiswani, 2005). Untuk memastikan diagnosis toksoplasmosis kongenital pada neonatus perlu ditemukan zat anti IgM. Tetapi zat anti IgM tidak selalu dapat ditemukan. Zat anti IgM cepat menghilang dari darah, walaupun kadang-kadang dapat ditemukan selama beberapa bulan. Bila tidak dapat ditemukan zat anti IgM, maka bayi yang tersangka menderita toksoplasmosis kongenital harus di follow up. Zat anti IgG pada neonatus yang secara pasif didapatkan dari ibunya melalui plasenta, berangsur-angsur berkurang dan menghilang pada

bayi yang tidak terinfeksi T. gondii. Pada bayi yang terinfeksi T. gondii, zat anti IgG mulai dibentuk sendiri pada umur 4-6 bulan, dan pada waktu ini titer zat anti IgG naik. Untuk memastikan diagnosis toksoplasmosis akuista, tidak cukup bila hanya sekali menemukan titer zat anti IgG T. gondii yang tinggi, karena titer zat anti T. gondii yang ditemukan dengan tes-tes tersebut diatas dapat ditemukan bertahun-tahun dalam tubuh seseorang. Diagnosis toksoplasmosis akut dapat dibuat, bila titer meninggi pada pemeriksaan kedua kali dengan jangka waktu 3 minggu atau lebih atau bila ada konversi dari negatif ke positif. Diagnosis juga dapat dipastikan bila ditemukan zat anti IgM, disamping adanya titer tes warna atau tes IFA yang tinggi. 2.5 Cara penularan Manusia dapat terinfeksi oleh T. gondii dengan berbagai cara. Pada toksoplasmosis kongenital, transmisi toksoplasma kepada janin terjadi melalui plasenta bila ibunya mendapat infeksi primer waktu hamil. Pada toksoplasmosis akuista, infeksi dapat terjadi bila makan daging mentah atau kurang matang ketika daging tersebut mengandung kista atau trofozoit T. gondii. Tercemarnya alat-alat untuk masak dan tangan oleh bentuk infektif parasit ini pada waktu pengolahan makanan merupakan sumber lain untuk penyebaran T. gondii. Pada orang yang tidak makan daging pun dapat terjadi infeksi bila ookista yang dikeluarkan dengan tinja kucing tertelan. Kontak yang sering terjadi dengan hewan terkontaminasi atau dagingnya, dapat dihubungkan dengan adanya prevalensi yang lebih tinggi di antara dokter hewan, mahasiswa kedokteran hewan, pekerja di rumah potong hewan dan orang yang menangani daging mentah seperti juru masak (Chahaya, 2003). Juga mungkin terinfeksi melalui transplantasi organ tubuh dari donor penderita toksoplasmosis laten kepada resipien yang belum pernah terinfeksi T. gondii. Infeksi juga dapat terjadi di laroratorium pada orang yang bekerja dengan binatang percobaan yang diinfeksi dengan T. gondii yang hidup. Infeksi dengan T. gondii juga dapat terjadi waktu mengerjakan autopsi.

Gambar 2.1 Cara Penularan Toksoplasmosis Sumber: American Family Physician (2003)

2.6 Patogenesis Setelah terjadi infeksi T. gondii ke dalam tubuh akan terjadi proses yang terdiri dari tiga tahap yaitu parasitemia, di mana parasit menyerang organ dan jaringan serta memperbanyak diri dan menghancurkan sel-sel inang. Perbanyakan diri ini paling nyata terjadi pada jaringan retikuloendotelial dan otak, di mana parasit mempunyai afinitas paling besar. Pembentukan antibodi merupakan tahap kedua setelah terjadinya infeksi. Tahap

ketiga rnerupakan fase kronik, terbentuk kista-kista yang menyebar di jaringan otot dan saraf, yang sifatnya menetap tanpa menimbulkan peradangan lokal. Infeksi primer pada janin diawali dengan masuknya darah ibu yang mengandung parasit tersebut ke dalam plasenta, sehingga terjadi keadaan plasentitis yang terbukti dengan adanya gambaran plasenta dengan reaksi inflamasi menahun pada desi dua kapsularis dan fokal reaksi pada vili. Inflamasi pada tali pusat jarang dijumpai. Kemudian parasit ini akan menimbulkan keadaan patologik yang manifestsinya sangat tergantung pada usia kehamilan. 2.7 Manifestasi Klinis Pada garis besarnya sesuai dengan cara penularan dan gejala klinisnya, toksoplasmosis dapat dikelompokkan atas: toksoplasmosis akuisita (dapatan) dan toksoplasmosis kongenital. Baik toksoplasmosis dapatan maupun kongenital, sebagian besar asimtomatis atau tanpa gejala. Keduanya dapat bersifat akut dan kemudian menjadi kronik atau laten. Gejalanya nampak sering tidak spesifik dan sulit dibedakan dengan penyakit lain. Toksoplasmosis dapatan biasanya tidak diketahui karena jarang menimbulkan gejala. Tetapi bila seorang ibu yang sedang hamil mendapat infeksi primer, ada kemungkinan bahwa 50% akan melahirkan anak dengan toksoplasmosis kongenital. Gejala yang dijumpai pada orang dewasa maupun anak-anak umumnya ringan. Gejala klinis yang paling sering dijumpai pada toksoplasmosis dapatan adalah limfadenopati dan rasa lelah, disertai demam dan sakit kepala (Gandahusada, 2003). Pada infeksi akut, limfadenopati sering dijumpai pada kelenjar getah bening daerah leher bagian belakang. Gejala tersebut di atas dapat disertai demam, mialgia dan malaise. Bentuk kelainan pada kulit akibat toksoplasmosis berupa ruam makulopapuler yang mirip kelainan kulit pada demam titus, sedangkan pada jaringan paru dapat terjadi pneumonia interstisial. Gambaran klinis toksoplasmosis kongenital dapat bermacam-macam. Ada yang tampak normal pada waktu lahir dan gejala klinisnya baru timbul setelah beberapa minggu sampai beberapa tahun. Ada gambaran eritroblastosis, hidrops fetalis dan triad klasik yang terdiri dari hidrosefalus, korioretinitis dan perkapuran intrakranial atau tetrad sabin yang disertai kelainan psikomotorik (Gandahusada, 2003). Toksoplasmosis kongenital dapat

menunjukkan gejala yang sangat berat dan menimbulkan kematian penderitanya karena parasit telah tersebar luas di berbagai organ penting dan juga pada sistem saraf penderita. Gejala susunan syaraf pusat sering meninggalkan gejala sisa, misalnya retardasi mental dan motorik. Kadang-kadang hanya ditemukan sikatriks pada retina yang dapat kambuh pada masa anak-anak, remaja atau dewasa. Korioretinitis karena toksoplasmosis pada remaja dan dewasa biasanya akibat infeksi kongenital. Akibat kerusakan pada berbagai organ, maka kelainan yang sering terjadi bermacam-macam jenisnya. Kelainan pada bayi dan anak-anak akibat infeksi pada ibu selama kehamilan trimester pertama, dapat berupa kerusakan yang sangat berat sehingga terjadi abortus atau lahir mati, atau bayi dilahirkan dengan kelainan seperti ensefalomielitis, hidrosefalus, kalsifikasi serebral dan korioretinitis. Pada anak yang lahir prematur, gejala klinis lebih berat dari anak yang lahir cukup bulan, dapat disertai hepatosplenomegali, ikterus, limfadenopati, kelainan susunan syaraf pusat dan lesi mata. 2.8 Pencegahan Toksoplasmosis Peranan kucing sebagai hospes definitif merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi timbulnya toksoplasmosis, karena kucing mengeluarkan berjuta juta ookista dalam tinjanya, yang dapat bertahan sampai satu tahun di dalam tanah yang teduh dan lembab. Untuk mencegah hal ini, maka dapat di jaga terjadinya infeksi pada kucing, yaitu dengan memberi makanan yang matang sehingga kucing tidak berburu tikus atau burung. Lalat dan lipas dapat menjadi vektor mekanik yang dapat memindahkan ookista dari tanah atau lantai ke makanan (Gandahusada, 2003). Untuk mencegah terjadinya infeksi dengan ookista yang berada di dalam tanah, dapat diusahakan mematikan ookista dengan bahan kimia seperti formalin, amonia dan iodin dalam bentuk larutan serta air panas 70oC yang disiramkan pada tinja kucing Universitas Sumatera Utara (Gandahusada, 2003). Anak balita yang bermain di tanah atau ibu-ibu yang gemar berkebun, juga petani sebaiknya mencuci tangan yang bersih dengan sabun sebelum makan. Di Indonesia, tanah yang mengandung ookista T. gondii belum diselidiki (Chahaya, 2003). Sayur-mayur yang dimakan sebagai lalapan harus dicuci bersih, karena ada

kemungkinan ookista melekat pada sayuran, makanan yang matang harus di tutup rapat supaya tidak dihinggapi lalat atau kecoa yang dapat memindahkan ookista dari tinja kucing ke makanan tersebut. Kista jaringan dalam hospes perantara (kambing, sapi, babi dan ayam) sebagai sumber infeksi dapat dimusnahkan dengan memasaknya sampai 66 0C. Daging dapat menjadi hangat pada semua bagian dengan suhu 650C selama empat sampai lima menit atau lebih, maka secara keseluruhan daging tidak mengandung kista aktif, demikian juga hasil daging siap konsumsi yang diolah dengan garam dan nitrat (Chahaya, 2003). Setelah memegang daging mentah (tukang potong, penjual daging, tukang masak) sebaiknya cuci tangan dengan sabun sampai bersih. Yang paling penting dicegah adalah terjadinya toksoplasmosis kongenital, yaitu anak yang lahir cacat dengan retardasi mental dan gangguan motorik, merupakan beban masyarakat. Pencegahan dengan tindakan abortus artefisial yang dilakukan selambatnya sampai kehamilan 21-24 minggu, mengurangi kejadian toksoplasmosis kongenital kurang dari 50 %, karena lebih dari 50 % toksoplasmosis kongenital diakibatkan infeksi primer pada trimester terakhir kehamilan (Chahaya, 2003). Pencegahan dengan obat-obatan, terutama pada ibu hamil yang diduga menderita infeksi primer dengan Toxoplasma gondii, dapat dilakukan dengan spiramisin. Vaksin untuk mencegah infeksi toksoplasmosis pada manusia belum tersedia sampai saat ini.

BAB 3 PEMBAHASAN

3.1 Hasil Penelitian dilakukan di Puskesmas Daerah Sekadau, Kabupaten Sekadau dengan sampel 10 wanita hamil. Usia (tahun) Usia Kehamilan (bulan) 25 27 30 25 27 29 33 28 28 30 5 6 6 4 8 8 3 4 5 6 ya ya tidak ya ya tidak tidak ya tidak ya Memelihara Kucing (Ya/Tidak) Menderita Toksoplasmosis (Ya/Tidak) ya ya ya ya ya tidak tidak ya ya ya

3.2 Pembahasan Dari data diatas didapat bahwa, rata-rata ibu hamil yang memelihara kucing positif menderita toksoplasmosis kongenital pada janinnya. Namun, ada juga ibu yang tidak memelihara kucing, janinnya juga menderita toksoplasmosis kongenital. Karena

toksoplasmosis kongenital ini juga menular karena mengkonsumsi daging yang kurang masak ataupun transplantasi organ. Namun, terbukti bahwa ibu yang hobby memelihara kucing rata-rata janinnya mengalami toksoplasmosis kongenital.

KESIMPULAN

Wanita hamil yang memelihara kucing memiliki resiko janinnya menderita toksoplasmosis kongenital lebih tinggi daripada wanita yang tidak memelihara kucing dikarenakan kucing merupakan Host Definitive dari toksoplasmosis gondii, sehingga wanita yang memelihara kucing lebih mudah tertular dari virus tersebut sehingga resiko mengalami toksoplasmosis kongenital pada janinnya juga tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Toksoplasmosis . URL : http://www.bluefame.com Ellenby, Miles., Tegtmeyer, Ken., Lai, Susanna., and Braner, Dana. 2006. Lumbar Puncture. The New England Journal of Medicine. 12 http://content.nejm.org/cgi/reprint/355/13/e12.pdf Harsono. 2003.Toksoplasmosis. Kapita Selekta Neurologi. 2 http://www.uum.edu.my/medic/ Japardi, Iskandar. 2002. Toksoplasmosis Kongenital. USU digital library URL : http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar Quagliarello, Vincent J., Scheld W. 1997. Treatment of toxoplasmosis. The New England Journal of Medicine. 336 : 708-16 http://content.nejm.org/cgi/reprint/ Yayasan Spiritia. 2006. Meningitis Kriptokokus. Lembaran Informasi 503. URL : http://spiritia.or.id/li/bacali.php www.respitory.usu.id www.wikipedia.com