Anda di halaman 1dari 59

71

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum Puskesmas Long Ikis

Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Long Ikis Kabupaten Paser. Puskesmas Long Ikis berada di wilayah Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser. Puskesmas Long Ikis di Jl. Negara yang dibangun pada tahun 1985 sedangkan wilayah kerja Puskesmas Long Ikis meliputi 1 (satu) kelurahan dan 11 (sebelas) desa dengan luas wilayah kerja sebesar 544,51 km 2. Puskesmas Long Ikis memiliki batas wilayah yakni : utara berbatasan dengan Puskesmas Long Kali, selatan berbatasan dengan Puskesmas Kuaro, Barat berbatasan dengan Puskesmas Kayungo IC, dan timur berbatasan dengan Puskesmas Krayan IIB. Kondisi geografis (topografi) merupakan daerah hutan sawit karena daerah ini adalah daerah perkebunan sawit dan daerah dataran rendah. Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Long Ikis

pada tahun 2010 berjumlah 20.064 jiwa dengan kepadatan 23 jiwa per km2. Penduduk di sekitar wilayah kerja Puskesmas Long Ikis sangat heterogen dari semua suku di Indonesia ada tapi mayoritas didominasi oleh suku Jawa, Banjar, dan Bugis dengan mata pencaharian bervariatif antara PNS, swasta dan buruh namun sebagian besar dido minasi oleh petani sawit.

72

Puskesmas Long Ikis memiliki visi tercapainya kecamatan sehat menuju terwujudnya kabupaten sehat serta misi

menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan, mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat,

memelihara dan menjaga mutu, mengupayakan pemerataan pelayanan kesehatan serta memelihara dan meningkatkan

kesehatan perorangan, keluarga, masyarakat dan lingkungan. Program kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas terhadap Seluruh karyawan melaksanakan tugas-tugas pokok sesuai job description masing-masing serta untuk lebih meningkatkan efisiensi dan kerja sama yang terpadu antar karyawan mempunyai tugas integrasi. Program pencegahan dan penanggulangan penyakit menular dilaksanakan melalui kegiatan penyediaan jasa pe layanan

pencegahan dan penanggulangan penyakit menular agar dapat menekan angka kesakitan penyakit menular serta mengurangi penyebaran penyakit menular. Khusus untuk penyakit malaria dilakukan melalui penyuluhan penyakit malaria dan pelacakan tersangka penderita malaria.

2. Karakteristik Responden

Hasil penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Long Ikis tentang Hubungan Perilaku Pencegahan Malaria Terhadap

73

Kejadian Malaria, maka diperoleh distribusi sampel yang terlihat pada tabel berikut:
a. Menurut Jenis Kelamin Responden

Jenis

kelamin

adalah

karakteristik

atau

sifat

yang

membedakan manusia. Karakteristik responden menurut usia responden dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1 Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis Tahun 2010
Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Kasus 28 23 51 Kelompok Responden % Kontrol 54,9 30 45,1 21 100 51 % 58,8 41,2 100 Total 58 44 102 % 56,9 43,1 100

Dari tabel 4.1 diatas, menunjukkan bahwa jumlah tertinggi responden berdasarkan jenis kelamin baik penderita malaria maupun bukan penderita malaria sama-sama berjenis kelamin lakilaki dengan persentase masing-masing yaitu sebesar 54,9% dan 58,8% sedangkan jumlah terendah terdapat pada responden yang berjenis kelamin perempuan dengan persentase masing -masing yaitu sebesar 45,1% dan 41,2%.
b. Menurut Umur Responden

Umur

adalah

usia

responden

dihitung

dalam

tahun

berdasarkan ulang tahun terakhir. Karakteristik responden menurut umur responden dapat dilihat pada tabel berikut:

74

Tabel 4.2

Distribusi Responden Menurut Umur Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis Tahun 2010
Kelompok Responden Kasus % Kontrol 1 2,0 0 4 7,8 3 10 19,6 14 12 23,5 17 6 11,8 10 8 15,7 4 8 15,7 3 2 3,9 0 51 100 51 % 0,0 5,9 27,5 33,3 19,6 7,8 5,9 0,0 100 Total 1 7 24 29 16 12 11 2 102 % 1,0 6,9 23,5 28,4 15,7 11,8 10,8 2,0 100

Kelompok Umur 4 11 Tahun 12 19 Tahun 20 27 Tahun 28 35 Tahun 36 42 Tahun 43 50 Tahun 51 58 Tahun 59 66 Tahun Total

Pada tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa jumlah tertinggi kelompok umur responden baik penderita malaria maupun yang bukan penderita malaria yaitu terdapat pada usia 28 - 35 tahun dengan persentase masing -masing sebesar 23,5 % dan 33,3%.
c. Menurut Pendidikan Responden

Pendidikan adalah jenjang pembelajaran formal yang pernah diselesaikan oleh responden. Karakteristik responden menurut pendidikan responden dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis Tahun 2010
Kelompok Responden Kasus % Kontrol 3 5,9 0 18 35,3 6 14 27,5 10 16 31,4 26 0 0,0 2 0 0,0 7 51 100 51 % 0,0 11,8 19,6 51,0 3,9 13,7 100 Total 3 24 24 42 2 7 102 % 2,9 23,5 23,5 41,2 2,0 6,9 100

Tingkat Pendidikan Tidak/Belum Sekolah Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Diploma Sarjana Total

Pada tabel 4.3 di atas dapat diketahui bahwa jumlah tertinggi pendidikan responden untuk penderita malaria adalah Tamat SD dengan persentase sebesar 35,3% dan bukan penderita malaria adalah Tamat SMA dengan persentase sebesar 51,0% sedangkan jumlah terendah pendidikan responden untuk penderita malaria adalah Tidak atau Belum Sekolah dengan persentase sebesar 3%

75

dan bukan penderita malaria adalah Diploma dengan persentase sebesar 3,9%.
d. Menurut Pekerjaan Responden

Pekerjaan adalah profesi yang dimiliki oleh responden. Karakteristik responden menurut pekerjaan responden dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4 Distribusi Responden Menurut Pekerjaan Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis Tahun 2010
Kelompok Responden Kasus % Kontrol 0 0,0 9 7 13,7 4 31 60,8 29 3 5,9 3 3 5,9 0 6 11,8 5 1 2,0 1 51 100 51 % 17,6 7,8 56,9 5,9 0,0 9,8 2,0 100 Total 9 11 60 6 3 11 2 102 % 8,8 10,8 58,8 5,9 2,9 10,8 2,0 100

Pekerjaan PNS Pedagang Petani Buruh Ojek Tidak Ada Lain Lain Total

Pada tabel 4.4 di atas dapat diketahui bahwa jumlah tertinggi pekerjaan responden baik penderita malaria maupun bukan

penderita malaria adalah petani dengan persentase masing-masing sebesar 60,8% dan 56,9% sedangkan jumlah terendah terdapat pada responden yang bekerja sebagai penjahit (lain -lain) dengan persentase masing-masing sama sebesar 1%.

3. Analisis Univariat

Analisis ini digunakan untuk me mperoleh gambaran tentang masing-masing variabel yaitu kejadian malaria, pengetahuan, sikap dan tindakan di Puskesmas Long Ikis dengan mendeskripsikan nilai dari tiap-tiap variabel yang digunakan dalam penelitian. Berikut ini hasil

76

penelitian yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, presentase yang disertai dengan penjelasan berupa deskr iptif terhadap hasil penelitian.
a. Menurut Kejadian Malaria Responden

Berdasarkan

hasil

penelitian

dengan

102

responden

diperoleh distribusi sampel menurut status malaria yang dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.5 Distribusi Responden Menurut Status Malaria Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis Tahun 2010
Frekuensi 51 51 102 Persentase (%) 50 50 100

Kejadian Malaria Malaria Tidak Malaria Jumlah

Pada tabel 4.5 diatas, menunjukkan bahwa responden yang menderita malaria sebanyak 51 orang (50%) dan jumlahnya sama dengan responden yang tidak menderita malaria yakni sebanyak 51 orang (50%).
b. Menurut Pengetahuan Responden

Berdasarkan

hasil

penelitian

dengan

102

responden

diperoleh distribusi sampel menurut pengetahuan responden yang dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.6 Distribusi Responden Menurut Pengetahuan Responden di Wilayah Kerja Puskesma s Long Ikis Tahun 2010
Kelompok Responden Kasus % Kontrol 40 78,4 18 11 21,6 33 51 100 51 % 35,3 64,7 100 Total 58 44 102 % 56,9 43,1 100

Pengetahuan Kurang Baik Total

77

Pada tabel 4.6 diatas, menunjukkan bahwa dari kelompok yang menderita malaria memiliki pengetahuan kurang sebesar 78,4% sedangkan pada kelompok yang tidak menderita malaria (kontrol) hanya 18% yang memiliki pengetahuan kurang. Pada kelompok yang menderita malaria (kasus) pengetahuan kurang lebih tinggi bila dibandingkan dengan menderita malaria (kontrol), Hal ini dapat dilihat dari hasil tingkat pengetahuan responden pada tabel berikut ini:
Tabel 4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Jawaban Pengetahuan Responden Mengenai Malaria di Puskesmas Long Ikis Tahun 2010
Kejadian Malaria Kasus Pertanyaan Pengetahuan n Malaria dapat timbul akibat lingkungan yang kotor Malaria adalah penyakit menular yang dapat menyerang siapa saja mulai dari balita sampai orang tua Pada umumnya penyakit malaria ditularkan ke manusia melalui nyamuk Nyamuk malaria biasanya menggigit manusia pada sore dan malam hari Nyamuk malaria juga menggigit manusia ketika siang hari Kolam,rawa,sawah dan pinggir sungai merupakan tempat tinggal nyamuk malaria Penimbunan dan pengeringan tempat yang tergenang air serta perbaikan aliran air dan pembersihan semak belukar mampu mengurangi nyamuk malaria Gejala awal penyakit malaria berupa demam tinggi, berkeringat, sakit kepala, nyeri pada tulang dan otot, mual dan muntah 24 Ya % 47,1 Tidak n % 27 52,9 Ya n 36 % 70,6 N Kontrol Tidak % 29,4

kelompok yang tidak

15

31

60,8

20

39,2

40

78,4

11

21,6

51

51,0

0,0

51

51,0

0,0

32 2 11

62,7 3,9 21,6

19 49 40

37,3 96,1 78,4

49 16 28

96,1 31,4 54,9

2 35 23

3,9 68,6 45,1

14

27,5

37

72,5

45

88,2

11,8

51

100, 0

0,0

31

60,8

20

39,2

78

Penggunaan kelambu, obat anti nyamuk, lotion, baju lengan panjang jika keluar pada malam hari merupakan cara pencegahan malaria Teratur membersihkan lingkungan serta melakukan penyemprotan merupakan cara pencegahan malaria Seorang ibu hamil yang menderita malaria dapat menularkan malaria kepada bayinya Malaria merupakan salah satu penyakit yang dapat menyebabkan kematian

51

100, 0

0,0

51

100, 0

0,0

5,9 27 52,9 24 47,1 48 94,1 3

0,0

51

100, 0

17,6

42

82,4

50

98,0

2,0

51

100, 0

0,0

Berdasarkan data penelitian di atas didapatkan bahwa pada kelompok kasus responden sudah tahu bahwa malaria merupakan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk berikut tanda dan gejala awal malaria serta cara pencegahan malaria masing -masing 100% namun responden masih kurang tahu sebanyak 100% bahwa seorang ibu hamil yang menderita malaria dapat menularkan malaria kepada bayinya. Sedangkan pada kelompok kontrol responden sudah tahu bahwa penggunaan kelambu, obat nyamuk, lotion dan penggunaan baju lengan panjang merupakan

pencegahan malaria dan malaria dapat menyebabkan kematian masing-masing sebanyak 100% namun responden masih kurang tahu sebanyak 82,4% bahwa s eorang ibu hamil yang mend erita malaria dapat menularkan malaria kepada bayinya .
c. Menurut Sikap Responden

Berdasarkan

hasil

penelitian

dengan

102

responden

diperoleh distribusi sampel menurut sikap responden yang dapat dilihat pada tabel berikut:

79

Tabel 4.8
Sikap Sikap Negatif Sikap Positif Total

Distribusi Responden Menurut Sikap Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis Tahun 2010
Kelompok Responden Kasus % Kontrol 43 84,3 33 8 15,7 18 51 100 51 % 64,7 35,3 100 Total 76 26 102 % 74,5 25,5 100

Pada tabel 4.8 diatas dapat dilihat bahwa

baik pada

responden yang menderita malaria maupun yang tidak menderita malaria jumlah tertinggi terdapat pada responden y ang memiliki sikap negatif yakni dengan persentase masing-masing 84,3% dan 64,7%. Pada kelompok yang menderita malaria (kasus) sikap

negatif lebih tinggi b ila dibandingkan dengan kelompok yang tidak menderita malaria (kontrol), Adapun distribusi tingkat sikap responden dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Jawaban Sikap Responden Mengenai Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis Tahun 2010
Jawaban Kejadian Malaria Kasus Kontrol n % n % 34 66,7 37 72,5 17 33,3 14 27,5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 10 9 27 0 1 37 4 9 0 4 11 0 9,8 19,6 17,6 52,9 0 2,0 72,5 7,8 17,6 0 7,8 21,6 0 1 38 9 3 0 7 40 4 0 0 10 23 0 2,0 74,5 17,6 5,9 0 13,7 78,4 7,8 0 0 19,6 45,1

No.

Pernyataan Sikap

1.

2.

3.

Sangat setuju Setuju Penyakit malaria Ragu-ragu merupakan penyakit Tidak setuju yang harus diwaspadai Sangat tidak setuju Sangat setuju Melakukan pencegahan penularan Setuju malaria dengan Ragu-ragu menjaga kebersihan Tidak setuju rumah dan lingkungan Sangat tidak sekitar setuju Mengikuti penyuluhan Sangat setuju tentang penyakit Setuju malaria dapat Ragu-ragu menambah Tidak setuju pengetahuan Sangat tidak pencegahan malaria setuju Melakukan tindakan Sangat setuju pencegahan terhadap Setuju

80

4.

5.

gigitan nyamuk penyebab malaria daripada mengobati setelah sakit Pencegahan terhadap gigitan nyamuk malaria salah satunya dilakukan dengan menggunakan kelambu

6.

7.

8.

9.

10.

Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju Tindakan pencegahan Sangat setuju penyakit malaria Setuju dilakukan apabila di Ragu-ragu lingkungan tempat Tidak setuju tinggal sudah ada Sangat tidak penderita malaria setuju Sangat setuju Setuju Jika merasakan gejala Ragu-ragu penyakit malaria akan Tidak setuju dibiarkan saja Sangat tidak setuju Membiarkan genangan Sangat setuju air yang berada di Setuju sekitar rumah karena Ragu-ragu bukan faktor penting Tidak setuju penyebab terjadinya Sangat tidak malaria setuju Hanya perlu Sangat setuju membersihkan dan Setuju menjaga lingkungan Ragu-ragu sekitar untuk Tidak setuju menghindarkan diri dari Sangat tidak penyakit malaria setuju Membiarkan adanya Sangat setuju jentik nyamuk di sekitar Setuju rumah karena tidak Ragu-ragu mengganggu Tidak setuju Sangat tidak setuju

9 26 1 6 44 0 1 0 5 37 1 8 0 0 0 0 19 32 6 33 3 8 1 0 6 8 33 4 3 30 6 9 3

17,6 51,0 2,0 11,8 86,3 0 2,0 0 9,8 72,5 2,0 15,7 0 0 0 0 37,3 62,7 11,8 64,7 5,9 15,7 2,0 0 11,8 15,7 64,7 7,8 5,9 58,8 11,8 17,6 5,9

5 13 0 11 40 0 0 0 0 31 0 18 2 0 0 0 13 38 2 31 6 11 1 0 2 10 39 0 0 6 3 26 16

9,8 25,5 0 21,6 78,4 0 0 0 0 60,8 0 35,3 3,9 0 0 0 25,5 74,5 3,9 60,8 11,8 21,6 2,0 0 3,9 19,6 76,5 0 0 11,8 5,9 51,0 31,4

Berdasarkan seluruh pernyataan sikap yang ada diperoleh bahwa untuk sikap positif pada kelompok kasus dari setiap jawaban sangat setuju dan setuju dari 5 pernyataan yaitu p enyakit malaria merupakan penyakit yang harus diwaspadai (66,7% dan 33,3%), melakukan pencegahan penularan malaria dengan menjaga

kebersihan rumah dan lingkungan sekitar (9,8% dan 19,6%), mengikuti penyuluhan tentang penyakit malaria dapat menambah

81

pengetahuan pencegahan malaria (2,0% dan 72,5%), melakukan tindakan pencegahan terhadap gigitan nyamuk penyebab malaria daripada mengobati setelah sakit (7,8% dan 21,6%), pencegahan terhadap gigitan nyamuk malaria salah satunya dilakukan dengan menggunakan kelambu (11,8% dan 86,3%). Jumlah terbanyak pada kelompok kasus yaitu responden menyatakan sangat setuju (66,7%) dengan pernya taan bahwa penyakit malaria merupakan penyakit yang harus diwaspadai dan setuju (86,3%) dengan pernyataan bahwa p encegahan terhadap gigitan nyamuk malaria salah satunya dilakukan dengan

menggunakan kelambu. Pada kelompok kontrol untuk sikap positif dari setiap jawaban sangat setuju dan setuju dari 5 pernyataan yaitu p enyakit malaria merupakan penyakit yang harus diwaspadai (72,5% dan 27,5%), melakukan pencegahan penularan malaria dengan

menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar (2,0% dan 74,5%), mengikuti penyuluhan tentang penyakit malaria dapat menambah pengetahuan pencegahan malaria (13,7% dan 78,4%), melakukan tindakan pencegahan terhadap gigitan nyamuk

penyebab malaria daripada mengobati setelah sakit (19,6% dan 45,1%), pencegahan terhadap gigita n nyamuk malaria salah satunya dilakukan dengan menggunakan kelambu (21,6% dan 78,4%).

82

Jumlah terbanyak pada kelompok kontrol yaitu responden menyatakan sangat setuju (72,5%) dengan pernyataan bahwa penyakit malaria merupakan penyakit yang harus diwaspada i dan setuju (78,4%) dengan pernyataan bahwa m engikuti penyuluhan tentang penyakit malaria dapat menambah pengetahuan

pencegahan malaria dan pencegahan terhadap gigitan nyamuk malaria salah satunya dilakukan dengan menggunakan kelambu . Analisis selanjutnya adalah respon dari responden pada kelompok kasus pada setiap jawaban tidak setuju dan sangat tidak setuju dari 5 pertanyaan negatif yaitu tindakan pencegahan penyakit malaria dilakukan apabila di lingkungan tempat tinggal sudah ada penderita malaria ( 15,7% dan 0%), jika merasakan gejala penyakit malaria akan dibiarkan saja ( 37,3% dan 62,7%), membiarkan genangan air yang berada di sekitar rumah karena bukan faktor penting penyebab terjadinya malaria ( 15,7% dan

2,0%), hanya perlu membersihkan dan menjaga lingkungan sekitar untuk menghindarkan diri dari penyakit malaria ( 64,7% dan 7,8%), membiarkan adanya jentik nyamuk di sekitar rumah karena tidak mengganggu (17,6% dan 5,9%). Respon dari responden pada kelompok kontrol pada setiap jawaban tidak setuju da n sangat tidak setuju dari 5 pertanyaan negatif yaitu tindakan pencegahan penyakit malaria dilakukan apabila di lingkungan tempat tinggal sudah ada penderita malaria (35,3% dan 3,9%), jika merasakan gejala penyakit malaria akan

83

dibiarkan saja (25,5% dan 74,5%), membiarkan genangan air yang berada di sekitar rumah karena bukan faktor penting penyebab terjadinya malaria (21,6% dan 2,0%), hanya perlu membersihkan dan menjaga lingkungan sekitar untuk menghindarkan diri dari penyakit malaria (76,5% dan 0%), membiarkan adanya jentik nyamuk di sekitar rumah karena tidak mengganggu (51,0% dan 31,4%). Berikutnya responden yang menyatakan sikap ragu-ragu dengan jumlah terbanyak yaitu pada pernyata an melakukan pencegahan penularan malaria dengan menjaga kebersihan r umah dan lingkungan sekitar (17,6%) dan hanya perlu membersihkan dan menjaga lingkungan sekitar untuk menghindarkan diri dari penyakit malaria (19,6%).
d. Menurut Tindakan Responden

Berdasarkan

hasil

penelitian

dengan

102

responden

diperoleh distribusi sampel menurut tindakan responden yang dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.10 Distribusi Responden Menurut Tindakan Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis Tahun 2010
Kelompok Responden Kasus % Kontrol 41 80,4 19 10 19,6 32 51 100 51 % 37,3 62,7 100 Total 60 42 102 % 58,8 41,2 100

Tindakan Kurang Baik Total

Pada tabel 4.10 diatas, menunjukkan bahwa dari kelompok yang menderita malaria memiliki tindakan kurang sebesar 80,4% sedangkan pada kelompok kontrol hanya 37,3% yang memiliki tindakan kurang. Pada kelompok yang menderita malaria (kasus)

84

tindakan kurang lebih tinggi b ila dibandingkan dengan kelom pok yang tidak menderita malaria (kontrol) . Hal ini dapat diliha t dari hasil jawa ban responden mengenai tindakan pada tabel berikut:
Tabel 4.11 Distribusi Responden Berdasarkan Jawaban Tindakan Responden Mengenai Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis Tahun 2010
Kejadian Malaria Pernyataan Tindakan n Menggunakan kawat kasa pada ventilasi rumah Menggunakan kelambu pada saat tidur malam hari Menggunakan obat nyamuk pada saat tidur di malam hari Menggunakan baju lengan panjang ketika keluar rumah pada malam hari Memiliki kebiasaan tidak menggantung baju di rumah seperti di belakang pintu Memelihara predator nyamuk Anopheles seperti ikan gambus, nila dan mujair Memiliki hewan ternak besar seperti sapi, kambing, kerbau dan kelinci Tidak ada tempat yang dapat menimbulkan genangan air Aliran air di sekitar lokasi tidak ada yang tersendat Tidak ada tumbuhan liar atau semak belukar 22 Kasus Ya % 43,1 Tidak N % 29 56,9 Ya n 28 % 54,9 n 23 Kontrol Tidak % 45,1

28

54,9

23

45,1

47

92,2

7,8

51

100,0

51

100,0

47

92,2

7,8

49

96,1

3,9

51

100,0

7,8

47

92,2

15,7

43

84,3

17

33,3

34

66,7

42

82,4

17,6

45

88,2

11,8

51

100,0

51

100,0

38

74,5

13

25,5

38

74,5

13

25,5

51

100,0

51

100,0

85

Berdasarkan tabel 4.11 dapat dilihat bahwa secara umum tindakan responden pada kelompok kasus masih kurang mengenai pencegahan malaria, dapat terihat dari persentase ja waban tidak dari pertanyaan tindakan yang diberikan, yaitu pada pertanyaan memiliki kebiasaan tidak menggantung baju di rumah seperti di belakang pintu (100,0%), tidak ada tempat yang dapat menimbulkan genangan air (100,0%) dan tidak ada tumbuhan liar atau semak belu kar (100,0%). Sedangkan pada kelompok kontrol tindakan responden tentang pencegahan malaria sudah baik, hal ini dapat terlihat dari persentase jawaban ya dari pertanyaan tindakan yang diberikan yaitu pada pertanyaan menggunakan kelambu pada saat tidur malam hari (92,2), menggunakan obat nyamuk pada saat tidur di malam hari (100,0%), menggunakan baju lengan panjang ketika keluar rumah pada malam hari (96,1%)

4. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui besarnya hubungan variabel independen dan variabel dependen dengan menggunakan uji statistik Chi-Square dan untuk mengetahui besarnya risiko maka digunakan Odds Ratio. Odds Ratio adalah risiko antara probabilitas terjadinya sesuatu (kejadian) dengan probabilitas tidak terjadinya sesuatu kejadian tersebut. Bila nilai ini dikaitkan dengan peristiwa

penyakit atau gangguan kesehatan lainnya, maka Odds Ratio adalah rasio antara probabilitas untuk terjadinya penyakit tertentu dengan

86

probabilitas untuk tidak terjadinya penyakit tersebut. Dalam hal ini untuk mengetahui ada tidaknya hubungan dan nilai odds ratio antara pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap kejadian malaria, maka dapat dilihat pada tabel berikut:
a. Hubungan Pengetahuan dengan Kejadian Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis

Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan pengetahuan dengan kejadian malaria dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.12
Pengetahuan Kurang Baik Total

Hubungan Pengetahuan dengan kejadian malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis Tahun 2010
PValue Odds Ratio 95% CI Value 0,000 6,667 Lower 2,764 Upper 16,079 Phi Value 0,399

Kelompok Responden Kasus Kontrol Total n % N % N % 40 78,4 18 35,3 58 56,9 11 21,6 33 64,7 44 43,1 51 100 51 100 102 100

Pada tabel 4.12 diatas dapat dilihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan kurang pada kelompok kasus menempati jumlah tertinggi dengan persentase sebesar 78,4% sedangkan pada kelompok kontrol menempati jumlah terendah dengan persentase sebesar 35,3%. Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa pengetahuan kurang lebih besar terdapat pada responden kelompok kasus dibandingkan kelompok kontrol. Selanjutnya, untuk responden yang memiliki pengetahuan baik pada kelompok kasus menempati jumlah terendah dengan persentase sebesar 21,6% sedangkan pada kelompok kontrol menempati jumlah tertinggi dengan persentase sebesar 64,7%. Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa pengetah uan kurang lebih besar terdapat pada responden kelompok kasus dibandingkan kelompok kontrol .

87

Hasil uji statistik Chi-Square diperoleh nilai Pvalue = 0,000 maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Long Ikis Kecamatan Long Ikis Kabupaten Paser dan diperoleh juga nilai Phi sebesar 0,399 yang artinya memiliki hubungan keeratan sedang. Selain itu, diperoleh pula nilai OR=6,667 yang artinya responden yang memiliki pengetahuan kurang mempunyai peluang 6,667 kali menderita penyakit malaria dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan baik. Dari hasil analisis diperoleh nilai OR > 1 dan CI 95% tidak

mencakup nilai 1 yang berarti bahwa variabel pengetahuan merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian malaria.
b. Hubungan Sikap dengan Kejadian Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis

Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan dengan kejadian malaria dapat dilihat pada tabel berikut:

sikap

Tabel 4.13 Hubungan Sikap dengan Kejadian Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis Tahun 2010
Sikap Sikap Negatif Sikap Positif Total Kelompok Responden Kasus Kontrol Total n % n % N % 43 8 51 84,3 15,7 100 33 18 51 64,7 35,3 100 76 26 102 74,5 25,5 100 0,041 2,932 1,136 7,568 0,219 Odds Ratio 95% CI PValue Value Lower Upper Phi Value

Pada tabel 4.13 diatas dapat dilihat bahwa responden yang memiliki sikap negatif pada kelompok kasus menempati jumlah

88

tertinggi dengan persentase sebesar 84,3% sedangkan pada kelompok kontrol juga menempati jumlah tertinggi dengan

persentase sebesar 64,7%. Walaupun keduanya sama-sama menempati jumlah tertinggi tetapi nilai persentase lebih tinggi terdapat pada kelompok kasus diban dingkan dengan kelompok kontrol. Selanjutnya, untuk responden yang memiliki sikap positif pada kelompok kasus menempati jumlah terendah dengan

persentase sebesar 15,7% sedangkan pada kelompok kontrol juga menempati jumlah terendah dengan persentase sebesar 35,3%. Walaupun keduanya sama-sama menempati jumlah terendah tetapi nilai persentase lebih rendah terdapat pada kelompok kasus dibandingkan dengan kelompok k ontrol. Hasil uji statistik Chi-Square diperoleh nilai Pvalue = 0,0 41 maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan kejadian malaria di wilayah kerja Puskesmas Long Ikis Kecamatan Long Ikis Kabupaten Paser dan diperoleh juga nilai Phi sebesar 0,2 19 yang artinya memiliki hubungan keeratan yakni tidak ada hubungan atau hubungan lemah . Selain itu, diperoleh pula nilai OR= 2,932 yang artinya responden yang memiliki sikap negatif mempunyai peluang 2,932 kali menderita penyakit malaria dibandingkan dengan responden yang memiliki sikap positif. Dari hasil analisis didapatkan nilai OR > 1 dan CI 95% tidak mencakup nilai 1 yang berarti bahwa sikap merupakan faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian malaria .

89

c. Hubungan Tindakan dengan Kejadian Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis

Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan dengan kejadian malaria dapat dilihat pada tabel berikut:

tindakan

Tabel 4.14 Hubungan Tindakan dengan Kejadian Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis Tahun 2010
Tindakan Kurang Baik Total Kelompok Responden Kasus Kontrol Total n % N % N % 41 80,4 19 37,3 58 56,9 10 19,6 32 62,7 44 43,1 51 100 51 100 102 100 Odds Ratio 95% CI PValue Value 6,905 Lower 2,823 Upper 16,890 Phi Value 0,401

0,000

Pada tabel 4.14 diatas dapat dilihat bahwa responden yan g memiliki tindakan kurang pada kelompok kasus menempati jumlah tertinggi dengan persentase sebesar 80,4% sedangkan pada kelompok kontrol menempati jumlah terendah dengan persentase sebesar 37,3%. Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa tindakan kurang lebih besar terdapat pada responden kelompok kasus dibandingkan kelompok kontrol. Selanjutnya, untuk responden yang yang memiliki tindakan baik pada kelompok kasus menempati jumlah terendah dengan persentase sebesar 19,6% sedangkan pada kelompok kontrol menempati jumlah tertinggi dengan

persentase sebesar 62,7%. Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa tindakan kurang lebih besar terdapat pada responden kelompok kasus dibandingkan kelompok kontrol. Hasil uji statistik Chi-Square diperoleh nilai Pvalue = 0,0 00 maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tindakan dengan kejadian malaria di wilayah kerja

Puskesmas Long Ikis Kecamatan Long Ikis Kabupaten Paser dan

90

diperoleh juga nilai Phi sebesar 0,401 yang artinya memiliki hubungan keeratan sedang. Selain itu, diperoleh pula nilai OR=6,905 yang artinya responden yang memiliki tindakan kurang mempunyai peluang 6,905 kali menderita penyakit malaria

dibandingkan dengan responden yang memiliki tindakan baik. Dari hasil analisis diperoleh nilai OR > 1 dan CI 95% tidak mencakup nilai 1 yang berarti bahwa variable tindakan merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian malaria.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data

maka

diperoleh hasil penelitian yaitu menurut jenis kelamin, dapat diketahui bahwa responden penderita malaria yang berjenis kelamin laki -laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan yaitu sebanyak 28 responden (54,9%) dan perempuan sebanyak 23 responden (4 5,1%). Meskipun penyakit malaria tidak membedakan jenis kelamin, namun perempuan mempunyai respon yang kuat dibandingkan dengan laki laki. Dan bila menginfeksi ibu hamil dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun janin. Hal ini dapat disebabkan karena hilangnya imunitas saat kehamilan. Menurut kelompok umur didapatkan bahwa proporsi tertinggi umur responden penderita malaria yakni pada kelompok umur 28 - 35 tahun yakni sebanyak 12 responden (23,5%). Hal ini dikarenakan sebagian besar responden bekerja sebagai petani sawit dengan

91

aktivitas yang lebih dominan dilakukan di hutan sawit sehingga berpotensi terkena penyakit malaria dan frekuensi umur 28-35 tahun lebih banyak aktivitas di luar ruma h daripada didalam rumah. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Richard Tarigan, penderita malaria 3,1 kali risikonya dengan pekerjaannya sebagai petani sawit. Adanya perbedaan angka kesakitan malaria menurut umur maupun jenis kelamin tersebut juga disebabkan karena adanya perbedaan aktivitas, imunitas, dan status gizi. Laki -laki kemungkinan memiliki frekuensi aktivitas diluar rumah yang lebih tinggi

dibandingkan dengan perempuan sehingga kemungkinan kontak dengan nyamuk penyebab malaria juga semakin besar. Mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan terakhir yakni Tamat SD baik pada responden penderita malaria. Tingkat pendidikan sebenarnya tidak berpengaruh langsung terhadap kejadian malaria tetapi umumnya mempengaruhi pengetahuan dan perilaku kesehatan seseorang. Pendidikan yang rendah akan mempengaruhi tingkat pengetahuan tentang malaria sehi ngga perilaku pencegahan dan pemberantasan malaria juga kurang. Dari hasil penelitian yang berkaitan dengan pekerjaan

responden, diperoleh sebanyak 6 0,8% penderita malaria yang bekerja sebagai petani. Sebagian besar wilayah kerja Puskesmas Long Ikis terdiri dari perkebunan sawit dan masih berupa hutan yang merupakan tempat masyarakat bekerja. Perkebunan sawit dan hutan merupakan tempat yang cocok bagi nyamu k untuk beristirahat dan

92

berkembangbiak sehingga vektor nyamuk di tempat tersebut cukup tinggi. Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis data maka dilakukan pembahasan hasil penelitian sesuai dengan variabel yang diteliti. Pada penelitian ini semua faktor-faktor terbukti memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis Kecamatan Long Ikis Kabupaten Paser Tahun 2010 dengan menggunakan uji Chi-Square adalah pengetahuan, sikap dan tindakan.
1. Hubungan Pengetahuan dengan Kejad ian Malaria

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi karena adanya pancaindera

manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, p enciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior) (Notoatmodjo, 2003). Menurut teori lawrence Green (1980) dalam Notoatmojo (2005), pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mendukung terjadi perubahan perilaku. Tingkat pengetahuan pada dasarnya terkait dengan kejadian malaria di masyarakat. Pengetahuan tentang penyakit malaria perlu diketahui bahkan sangat diperlukan oleh masyarakat untuk menambah pemahaman yang mendalam mengenai

93

penyakit tersebut. Hal ini bertujuan agar masyarakat memiliki persiapan atau langkah-langkah tertentu dalam mencegah

menangani penyakit tersebut sehingga angka kesakitan dan kematian malaria dapat dikurangi. Pada hubungan pengetahuan dengan kejadian malaria berdasarkan hasil uji statistik diperoleh Pvalue 0,000 maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan terhadap kejadian malaria. Hal ini dapat dilihat pada penelitian ini bahwa ternyata pengetahuan kurang memiliki hubungan terhadap

kejadian malaria dimana p value sebesar 0,000 dan nilai p value <0,05 dan memiliki nilai OR sebesar 6,667. Besarnya risiko responden yang memiliki pengetahuan kurang mem iliki peluang sebesar 6,667 kali untuk terjadinya malaria dibandingkan dengan responden memiliki pengetahuan baik. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Richard Tarigan, 2006 di Kawasan Ekosistem Leuser Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dan kejadian malaria

(p=0,000, pvalue < 0,05) dan pengetahuan kurang memiliki resiko sebesar 5,5 untuk terjadinya penyakit malaria. Dengan kata lain, bahwa pengetahuan kurang berpeluang sebes ar 5,5 untuk terjadinya penyakit malaria dibandingkan jika memiliki

pengetahuan baik.

94

Pada penelitian ini diketahui bahwa responden yang memiliki pengetahuan kurang mengenai malaria pada kelompok kasus lebih banyak dibandingkan dengan responden responden pada kelompok kontrol. Responden yang memiliki pengetahuan kurang pada kelompok yang menderita malaria yaitu sebanyak 40 responden (78,4%). Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya informasi tentang penyakit malaria yang didapatkan oleh

responden, faktor pendidikan responden yang masih kurang sehingga proses pencarian dan penerimaan informasi akan lebih lambat sehingga pengetahuan yang didapat juga semakin sedikit dan sulitnya daya akses kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan kurang pada kelompok kasus berpendidikan tamat SD sebanyak 18 responden (35,3%) dan tamat SMA sebanyak 16 responden (31,4%). Hal ini sependapat dengan penelitian Aten Vincent (2009) yang menyatakan bahwa pendidikan malaria. Selain itu, informasi yang didapatkan masyarakat mengenai penyakit malaria masih sangat kurang terutama dalam hal pencegahan dan pemberantasan malaria baik dari petugas kesehatan maupun dari media-media seperti, televisi, radio, dan poster. Salah satu penyebab kurangnya informasi yang diterima mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang masyarakat terhadap pelayanan

95

oleh masyarakat dari petugas kesehatan dikarenakan sulitnya daya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Selain itu, responden masih memiliki pola p engetahuan yang kurang tepat tentang pencegahan malaria, dimana masih terdapat responden yang memiliki pengetahuan bahwa malaria tidak

dipengaruhi oleh lingkungan. Hal ini dapat dilihat pada jawaban pengetahuan responden tentang lingkungan yakni malaria dapat timbul akibat lingkungan yang kotor responden yang menjawab tidak sebesar 52,9%, nyamuk malaria juga menggigit pada siang hari yang menjawab tidak sebesar 96,1%, kolam, rawa, sawah dan pinggir sungai merupakan tempat tinggal nyamuk malaria responden yang menjawab tidak sebesar 78,4%, penimbunan dan pengeringan tempat yang tergenang air serta perbaikan aliran air dan pembersihan semak belukar mampu mengurangi nyamuk malaria yang menjawab tidak sebesar 72,5%. Menurut Harmendo, 2009 faktor lingkungan cukup memegang peranan penting dalam kejadian malaria. Berdasarkan tempat penelitian diketahui bahwa Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis terdiri dari 12 desa yakni Desa Long Ikis, Desa Krayan Bahagia, Desa Sawit jaya, Desa Lombok, Desa Semuntai, Desa Tajur, Desa Kayungo, Desa Jemparing, Desa Olung, Desa Kayungo Sari, Desa Krayan Jaya dan Desa Pait. Dari kedua belas desa tersebut Desa Long Ikis, Desa Sawit Jaya, sebagian Desa Lombok merupakan daerah yang cukup mudah

96

daya aksesnya terhadap pelayanan kesehatan sedangkan 9 desa lainnya memiliki daya akses yang sulit terhadap pelayanan kesehatan dikarenakan jaraknya yang cukup jauh dengan akses jalan yang cukup jauh dan kurang memadai karena berupa daerah dataran tinggi yang dikelilingi oleh perkebunan s awit dan hutan. Selain itu, masih ada sebagian daerah yang yang belum terdapat listrik sehingga informasi yang diperoleh melalui media masih kurang dan tidak semua masyarakat memiliki media elektronik seperti televisi ataupun radio. Hal ini yang menyebabkan informasi yang didapatkan masyarakat tentang malaria masih sangat kurang. Pada dasarnya semakin tinggi tingkat pengetahuan

seseorang maka semakin baik perilakunya karena telah terjadi proses kesadaran terkaitan terhadap suatu objek sehingga akan lebih memahami hal-hal yang berkaitan dengan p encegahan malaria sehingga semakin kecil pula kejadian kasus malaria. Pengetahuan seseorang dapat berguna sebagai motivasi dalam bersikap dan bertindak sesuatu bagi orang tersebut. Serangkaian pengetahuan selama proses interaksi dalam lingkungannya menghasilkan pengetahuan baru yang dapat bermanfaat b agi dirinya maupun orang lain. Pengetahuan responden mengenai penyebab malaria, tanda malaria, gejala malaria, penyebaran dan penanganannya memegang peranan penting dalam kejadian malaria.

97

Pengetahuan yang baik tidak berarti dapat memprediksikan tindakan yang dilakukan, ketika pengetahuan seseorang baik atau positif tindakan yang diambilnya negatif begitu sebaliknya. Dalam hal penanganan sangat positif tetapi tindakan nya tidak sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dalam Notoadmodjo (2005) dikatakan b ahwa pengetahuan memegang peranan penting dalam menentukan sikap seseorang dan sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. Teori ini membuktikan hasil penelitian yang didapatkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan kurang dan menderita malaria memiliki sikap negatif (84,3%) dan tindakan kurang (80,4%). Berdasarkan hasil penelitian juga didapatkan bahwa terdapat sebanyak 18 responden (35,3%) yang memiliki pengetahuan kurang namun tidak menderita malaria. Hal ini dapat disebabkan karena meskipun responden tidak tahu tentang penyakit malaria tapi responden telah melakukan tindakan pencegahan terhadap penyakit malaria. Dari hasil analisis didapatkan bahwa responden telah melakukan tindakan pencegahan malaria sebanyak 19 orang (37,3%) yang meliputi menggunakan kawat kasa pada ventilasi rumah (54,9%), menggunakan kelambu (92,2%), menggunakan obat anti nyamuk (100%), menggunakan baju lengan panjang ketika keluar rumah pada malam hari (9 6,1%).

98

Menurut Lestari (2007) menyatakan bahwa keluarga yang tinggal di rumah dalam kondisi ventilasi yang tidak terpasang kawat kasa mempunyai risiko untuk terjadinya penyakit malaria 5 kali dibanding keluarga yang tinggal di rumah yang ventilasinya dipasang kawat kasa. Menurut Harmendo (2009) orang yang tidak mempunyai kebiasaan menggunakan kelambu pada saat tidur malam mempunyai resiko untuk terkena malaria 7,8 kali lebih besar dibanding orang yang mempunyai kebiasaan menggunakan kelambu pada saat tidur malam. Penggunaan obat anti nyamuk merupakan salah satu cara pencegahan malaria yang cukup efektif dilakukan. Menurut

Budarja (2001) orang yang tidur tanpa menggunakan obat anti nyamuk mempunyai risiko terjadinya malaria 3,5 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang menggunakan obat anti nyamuk. Hal ini dapat dikarenakan oleh responden pada kelompok kontrol hanya tidak mengetahui pengetahuan pencegahan yang tidak begitu beresiko terhadap kejadian malaria namun untuk pengetahuan pencegahan yang berpotensi mendukung kejadian malaria responden ini sudah mengetahuinya namun tidak

menutup kemungkinan pengetahuan pencegahan yang tidak beresiko juga mempengaruhi. Pengetahuan kurang terdapat pada jawaban pertanyaan pengetahuan mengenai nyamuk malaria juga

99

menggigit manusia ketika siang hari (31,4%), kolam, rawa, sawah dan pinggir sungai merupakan tempat tinggal nyamuk malaria (54,9%), gejala awal malaria berupa demam tinggi, berkeringat, sakit kepala, nyeri tulang dan otot serta mual dan muntah (60,8%) dan seorang ibu hamil yang menderita malaria dapat menularakan malaria kepada bayinya (17,6%). Pengetahuan yang kurang dapat disebabkan karena informasi yang diperoleh belum maksimal. Hal ini sesuai dengan teori Mubarak dkk (2007) yang menyatakan bahwa pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pendidikan, media masa atau informasi, sosial budaya dan ekonomi, lingkungan, pengalaman, usia . Selain itu, pada penelitian ini juga ditemu kan bahwa terdapat 11 responden (21,6%) memiliki pengetahuan baik tetapi menderita malaria. Hal ini bisa saja disebabkan karena meskipun

pengetahuan responden mengenai malari a baik namun jika pengetahuan saja tanpa melakukan tindakan pencegahan, maka responden beresiko menderita malaria. Dari hasil analisis didapatkan responden tersebut memiliki perilaku yang kurang terhadap pencegahan malaria yakni tidak memasang kawat kasa pada ventilasi rumah (56,9%) sehingga nyamuk dapat masuk ke dalam rumah dan menggigit penghuni rumah, memiliki kebiasaan menggantung baju di dalam rumah (100%), tidak memelihara predator nyamuk Anopheles seperti ikan gambus nila dan mujair

100

(84,3%), terdapat tempat yang dapat menimbulkan genangan air (100%) dan terdapat tumbuhan liar atau semak belukar (100%) . Menurut Lestari (2007), Adanya kejadian malaria

disebabkan rumah yang tidak terpasang kawat kasa akan mempermudah masuknya nyamuk ke dalam rumah. Kawat kasa merupakan penghalang bila kawat kasa dalam keadaan baik. Sesuai juga dengan pernyataan subdit malaria bahwa

pemasangan kawat kasa pada ventilasi rumah akan memperkecil kontak dengan nyamuk. Selain itu, responden yang memiliki pengetahuan baik namun terkena malaria dapat juga disebabkan karena responden mengetahui pengetahuan pencegahan malaria tetapi yang tidak terlalu beresiko menyebabkan malaria yakni mengenai malaria merupakan salah satu penyakit yang dapat menyebabkan kematian (100%) serta kolam, rawa, sawah dan pinggir sungai merupakan tempat tinggal nyamuk malaria (54,9%). Akan tetapi dalam penelitian ini juga terdapat sebanyak 64,7% responden memiliki pengetahuan baik dan tidak menderita malaria. Hal ini dapat disebabkan karena responden telah memiliki pengetahuan yang cukup baik terhadap malaria sehingga memiliki perilaku yang baik pula terhadap pencegahan malaria. Dari hasil penelitian didapatkan responden telah menggunakan kawat kasa pada ventilasi rumah (54,9%), menggunakan kelambu (92,2%), menggunakan obat anti nyamuk (100%), menggunakan baju

101

lengan panjang ketika keluar rumah pada malam hari (96,1%), memiliki hewan ternak besar (88,2%) dan aliran air di sekitar lokasi tidak ada yang tersendat (74,5%). Selain itu, Hal ini disebabkan karena adanya beberapa faktor diantaranya adalah pengetahuan baik pada kelompok kontrol di dukung oleh faktor pendidikan yang tinggi yaitu universita s (3,9%), akademi (13,7%) dan SMA (51%). Dengan demikian, tingkat pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi pengetahuan

responden tersebut lebih baik dibandingkan dengan responden yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan responden tentang

pencegahan malaria yakni 64,7% maka risiko terserang penyakit malaria semakin kecil atau semakin baik pengetahuan seseorang tentang penyakit malaria, maka semakin kecil pula kemungkinan orang tersebut menderita malaria dan sebaliknya. Hal ini dikarenakan, jika responden sudah mengetahui pengetahuan pencegahan malaria dengan baik maka responden akan berusaha melakukan tindakan pencegahan malaria. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang dikutip dari Notoatmodjo (2003), bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin tingkat pengetahuannya semakin baik, ini disebabkan karena materi yang didapat ketika belajar dalam pendidikan serta informasi yang diperolehnya.

102

Menurut Y. B Mantra yang dikutip oleh Notoatmojo (2003) pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam motivasi untuk sikap berperan serta dalam pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Makin tinggi tingkat pendidikan sehingga seseorang, makin makin pula mudah menerima yang informasi dimiliki.

banyak

pengetahuan

Berdasarkan pada pengamatan dan asumsi peneliti bahwa semakin rendah tingkat pendidikan seseorang sangat berpotensi untuk seseorang tersebut kurang memahami apa itu penyakit malaria. Pada penelitian ini dapat ditarik kesimpu lan bahwa faktor pengetahuan masyarakat juga sangat penting d alam menjaga kesehatan diri sendiri karena apabila pengetahuan masyarakat baik maka akan semakin baik pula pencegahan malaria. Ini dikarenakan informasi yang diperoleh masyarakat. Hal ini sesuai Notoatmojo (2003) adanya faktor-faktor yang mempengaruhi kurangnya pengetahuan masyarakat dalam suatu lingkungan antara lain kurangnya informasi dari tenaga kesehatan atau kurang jelasnya informasi yang di sampaikan dari tenaga

kesehatan kepada masyarakat, atau kurangnya kemampuan dari masyarakat untuk memahami informasi yang diberikan.

103

Pengetahuan atau aspek kognitif merupaka n dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Sifat dasar manusia adalah keingintahuan tentang suatu dorongan untuk memenuhi keingintahuan manusia tersebut menyebabkan seseorang melakukan upaya pencaharian selama proses interaksi dengan lingkungannya menghasilkan suatu pengetahuan bagi orang tersebut. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Ketika seseorang mengetahui tentang hal negatif dari suatu hal tentu ia akan berusaha menghindarinya (Notoadmodjo, 2005). Pengetahuan yang baik akan menunjang terwujudnya perilaku yang baik pula. Semakin tinggi pengetahuan, semakin luas pula pemahaman tentang sikap dan perilaku individu terhadap apa yang dihadapinya, sehingga diharapkan individu mampu mengambil keputusan dalam setiap tindakan yang akan dilakukan pada saat sakit termasuk dalam hal ini adalah pengambilan keputusan yang tepat dalam pencegahannya. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di

pendidikan formal akan tetapi dapat diperoleh juga dari pendidikan nonformal seperti melalui media masa ataupun media elektronik hal ini dapat meningkatkan pemahaman individ u terhadap masalah yang dihadapinya, hal senada dapat berlaku bagi individu yang mengalami atau pernah terpapar dengan malaria.

104

Pentingnya

pengetahuan

untuk

meningkatkan

kualitas

manusia harus dimulai sedini mungkin. Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas manusia dalam pencegahan malaria. Pencegahan malaria yang benar dapat mengurangi angka kasus malaria dan kematian akibat malaria . Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pengetahuan masyarakat memiliki pengaruh terhadap pencegahan malaria sehingga berdasarkan hal tersebut petugas kesehatan khususnya petugas kesehatan setempat maupun pemerintah daerah setempat diharapkan dapat lebih meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang tindakan pencegahan malaria dan pemberantasan malaria melalui media informasi dan media konseling lainnya seperti penyuluhan.
2. Hubungan Sikap dengan Kejadian Malaria

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap dalam kehidupan sehari-hari adalah merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan (Mubarak dkk, 2007). Sikap adalah merupakan komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka. Sikap adalah ancang -ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka (tindakan). Sehingga dari pernyataan ini dapat disimpulakan bahwa sikap positif belum tentu

105

menghantarkan seseorang untuk bisa bertindak yang positif, karena sikap merupakan rancangan untuk bertindak dan belum terlihat dalam tindakan. Dalam sikap memiliki beberapa tingkatan berdasarkan intensitasnya (responding), yaitu menerima (receiving), menanggapi jawab

menghargai

(valuing),

bertanggung

(responsible) (Notoatmodjo, 2005). Pada penelitian ini tingkatan sikap responden baru pada tahap menerima yaitu bahwa seseorang mau menerima stimulus yang diberikan (objek) dan belum pada tahap-tahap selanjutnya dikarenakan responden belum menanggapi atau responding suatu tindakan. Sikap belum tentu terwujud dalam tindakan, sebab untuk mewujudkan tindakan perlu faktor lain, yaitu antara lain adanya fasilitas atau sarana dan prasarana. Selain itu Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Dalam kata lain, fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi perilaku (tindakan) atau reaksi tertutup) (Notoatmodjo, 2005). Ahmadi (2002) mengungkapkan, bahwa sikap seseorang tidak selamanya tetap. Ia dapat berkembang manakala mendapat pengaruh baik dari dalam maupun luar yang bersifat positif dan mengesan. Antara perbuatan dan sikap ada hubungan timbal

106

balik. Tetapi sikap tidak selalu men jelma dalam bentuk perbuatan atau tingkah laku. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh Pvalue 0,000 maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara sikap terhadap kejadian malaria. Hal ini dapat dilihat pada penelitian ini bahwa ternyata sikap negatif memiliki hubungan terhadap kejadian malaria dimana p value sebesar 0,041 dan nilai p value < 0,05 dan memiliki nilai risiko sebesar 2,932. Artinya responden yang memiliki sikap negatif berpeluang 2,932 kali untuk menderita malaria dibandingkan dengan respo nden memiliki sikap positif. Dengan nilai OR > 1 dan CI 95% tidak mencakup nilai 1 yang berarti bahwa sikap merupakan faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian malaria . Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Aten Vincent, 2009 di Wilayah Kerja Puskesmas Maunori Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara sikap responden

terhadap kejadian malaria (p=0,027, pvalue < 0,05). Berdasarkan teori bahwa Sikap yang positif menghantar orang untuk bertindak positif, walaupun bisa saja sebaliknya, tetapi perasaan untuk melakukan terbaik sudah ada, sehingga bisa dikatakan sikap mendorong orang untuk bertindak secara wajar dalam kondisi normal. Sikap adalah kecenderungan untuk bertind ak (praktik).

107

Pada penelitian ini, didapatkan hasil bahwa terdapat 8 4,3% responden memiliki sikap negatif dan menderita malaria. Hal ini dapat disebabkan karena responden memiliki pengetahuan yang kurang tentang penyakit malaria (78,4%). Pengetahuan respon den yang kurang dapat mempengaruhi sikap responden dan sikap responden yang kurang cenderung akan menyebabkan tindakan yang kurang baik atau kurang mendukung pula. Tindakan yang memungkinkan responden menderita malaria yakni sebagian responden tidak menggunakan kawat kasa (56,9%), tidak

menggunakan kelambu pada saat tidur malam hari (45,1%), memiliki kebiasaan menggantung baju di rumah (100%), tidak memelihara predator nyamuk Anopheles (84,3%). Green (1980) mengatakan pengetahuan dan sikap seseorang terhadap

kesehatan merupakan salah satu faktor predisposisi yang mempengaruhi perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2007) . Hal ini juga dapat dikarenakan responden tidak mengetahui tentang sikap bagaimana cara pencegahan malaria yang benar terutama dalam hal menjaga lingkungan. Hal ini terbukti dengan masih ada responden pada kelompok kasus yang yang menjawab ragu-ragu dan tidak setuju pada pernyataan sikap melakuka n pencegahan penularan malaria dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar yakni sebesar 17,6% dan 52,9%. Selain itu, sikap responden pada kelompok kasus terhadap pernyataan melakukan tindakan pencegahan malaria daripada

108

mengobati setelah sakit yang menjawab tidak setuju sebanyak 51,0% dan ragu-ragu sebanyak 17,6%, pada pernyataan sikap membiarkan genangan air yang berada di sekitar rumah karena bukan faktor penting penyebab malaria masih ada responden yang menjawab sangat setuju dan setuju masin g-masing sebesar 11,8% dan 64,7%. Selain itu, pada pernyataan sikap membiarkan adanya jentik nyamuk disekitar rumah karena tidak mengganggu responden kelompok kasus masih ada yang menjawab sangat setuju serta setuju masing-masing sebesar 5,9% dan 58,8%. Akan tetapi dalam penelitian ini didapatkan has il bahwa terdapat 64,7% responden yang walaupun memiliki sikap negatif namun responden tidak menderita malaria. Hal ini dipengaruhi oleh tindakan responden dalam pencegahan malaria sudah cukup baik yakni dari hasil analisis didapatkan responden menggunakan kawat kasa pada ventilasi rumah (54,9%), menggunakan kelambu pada saat tidur malam hari (92,2%), menggunakan obat nyamuk pada saat tidur malam hari (100%) , menggunakan baju lengan panjang ketika keluar rumah pada malam hari (96,1%) dan tidak memiliki kebiasaan menggantung baju di rumah (7,8%) . Dengan kata lain, sikap tidak selalu mencerminkan perilaku seseorang, meskipun responden responden memiliki memiliki perilaku sikap yang yang cukup negatif baik namun terh adap

pencegahan penyakit.

109

Selain itu, hal ini juga dapat disebabkan karena responden menjawab pernyataan berisiko dengan baik yakni melakukan pencegahan penularan malaria dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar yang menjawab setuju sebanyak 74,5%, penyuluhan dapat menambah pengetahuan pence gahan malaria yang menjawab setuju sebanyak 78,4%, pencegahan terhadap gigitan nyamuk salah satunya dilakukan dengan menggunakan kelambu yang menjawab setuju sebanyak 78,4%, hanya perlu menjaga lingkungan sekitar untuk menghindarkan diri dari penyakit malaria yang menjawab tidak setuju sebanyak 76,5% dan membiarkan jentik nyamuk di sekitar rumah yang menjawab tidak setuju sebanyak 51,0%. Sikap yang negatif belum tentu menyebabkan perilaku yang kurang baik pula, walaupun sikap negatif akan tetapi semua tergantung dari lingkungan tempat tinggalnya yang mendukung seperti pengetahuan yang mereka peroleh dari penyuluhan yang membuat responden berfikir, bersikap dan melakukan dalam perilaku atau tindakan mereka pada waktu mela kukan

pencegahan malaria, oleh karena itu harus ditangani dengan baik. Selain itu, dapat juga dilihat bahwa terdapat 15,7%

responden yang memiliki sikap positif tapi menderita malaria. Hal ini dikarenakan meskipun responden memiliki sikap yang positif terhadap penyakit malaria namun bel um tentu memperlihatkan tindakan yang baik juga. Dari hasil analisis diketahui ba hwa

110

responden mempunyai tindakan pencegahan terhadap penyakit malaria yang masih kurang. Didapatkan bahwa responden tidak menggunakan kawat kasa pada ventilasi rumah (56,9%), ti dak menggunakan kelambu pada saat tidur malam hari (45,1%), tidak menggunakan baju lengan panjang ketika keluar rumah pada malam hari (7,8%) dan tidak memiliki kebiasaan menggantung baju di rumah (100%). Pada pernyataan sikap yang tidak berisiko responden mengetahui bahwa penyakit malaria merupakan penyakit yang harus diwaspadai yang menjawab sangat setuju sebanyak 66,7% dan pernyataan jika merasakan gejala penyakit malaria akan dibiarkan saja yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 62,7% Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Notoatmodjo

(2005) bahwa dalam ranah perilaku perubahan sikap seseorang dipengaruhi oleh Predispossing factors (pengetahuan, norma, budaya), Enabling factors (sarana dan prasarana) dan Reinforcing factors (tekanan orang lain). Walaupun seorang telah memiliki sikap positif terhadap sesuatu obyek atau stimulus yang diperoleh belum tentu hal tersebut dapat terwujud dalam tindakan nyata sehingga responden berpotensi terkena penyakit malaria,

mengingat sikap

mempunyai empat tingkatan berdasarkan

intensitasnya yang mampu mempengaruhi seseorang, bisa saja seseorang telah menerima (receiving) dan menanggapi

(responding) stimulus yang diberikan secara positif, namun tidak

111

mampu menghargai atau mengartikan (valuing) dalam hal ini tidak mampu mempengaruhi dirinya dan orang lain untuk

melaksanakannya serta individu tersebut tidak bertanggung jawab (responsible) terhadap resiko terhadap sesuatu yang dipilihnya. Beberapa penelitian dalam Ahmadi ( 2002) yang mencoba menghubungkan antara sikap dan tingkah laku menunjukkan hasil yang agak berbeda, yaitu menunjukkan hubungan yang kecil saja atau bahkan hubungan yang negatif. Sikap yang tidak seiring dengan perilaku juga disebabkan oleh situasi dan kond isi, akibatnya sikap yang sudah bagus tidak termanifestasi dalam perilaku yang baik seperti sikapnya terhadap sesuatu obyek (Azwar, 2000). Akan tetapi, dalam penelitian ini juga didapatkan 35,3% responden yang memiliki sikap positif namun tidak menderita malaria. Hal ini dapat dikarenakan responden memiliki pendidikan dan pengetahuan yang baik (64,7%) tentang pencegahan malaria sehingga berpengaruh sikap responden. Sikap responden yang positif menyebabkan responden dapat terhindar dari penyakit malaria. Selain itu, hal ini disebabkan karena responden pada kelompok kontrol yang memiliki sikap positif menjawab pernyataan yang berisiko dan tidak berisiko dapat dilihat pada pernyataan penyakit malaria merupakan penyakit yang harus diwaspadai responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 72,5%, pernyataan pencegahan penularan malaria dengan menjaga

112

kebersihan rumah dan lingkungan sekitar yang menjawab setuju sebanyak 74,5%, penyuluhan tentang penyakit malaria dapat menambah pengetahuan pencegahan malaria yang m enjawab setuju sebanyak 78,4%, pencegahan terhadap gigitan nyamuk malaria dapat dilakukan dengan menggunakan kelambu yang menjawab setuju sebanyak 78,4%, hanya perlu membersihkan dan menjaga lingkungan sekitar untuk menghindarkan diri dari penyakit malaria yang menjawab tidak setuju sebanyak 76,5% dan membiarkan adanya jentik nyamuk di sekitar rumah karena tidak mengganggu yang menjawab tidak setuju sebanyak 51,0%. Responden dengan sikap yang baik lebih berpeluang untuk mewujudkan atau berperilaku yang baik . Selain itu hal ini juga dapat disebabkan karena Pengalaman yang dimiliki oleh

responden juga menyebabkan responden dapat m emiliki sikap positif tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat yang

dikemukakan oleh Ajzen (1988) dikutip oleh Azwar yang menyatakan bahwa keyakinan atau sikap seseorang berasal dari pengalaman masa lalu yang dipengaruhi oleh informasi tidak langsung mengenai perilaku dan faktor-faktor lain untuk

melakukan perbuatan atau tindakan secara sistematis. Dari hasil penelitian menunjukan b ahwa responden yang memiliki sikap positif cenderung tidak terkena malaria sedangkan sikap negatif cenderung lebih berpotensi terkena penyakit malaria. Sikap yang baik akan mendorong untuk berperilaku baik pula,

113

sikap

adalah

pandangan

atau

perasaan

yang

di sertai

kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap yang obyektif. Jadi sikap senantiasa searah terhadap suatu hal, suatu objek dan tidak ada sikap tanpa obyek. Tetapi dalam penelitian ini masih terdapat responden yang memiliki sikap positif tetapi ma sih terkena penyakit malaria. Pengetahuan tentang segi negatif dari penyakit malaria akan menyebabkan responden menentukan sikap terhadap penyakit malaria di daerah tempat tinggalnya. Secara teoritis jika penyakit malaria lebih banyak mengandung segi negat if, maka sikap positiflah yang akan muncul dari responden. Bila sikap positif telah tumbuh maka besar kemungkinan seseorang akan mempunyai niat untuk berperilaku sehat terhadap penyakit malaria. Sikap belum tentu diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata tetapi baru prediposisi tindakan suatu perilaku, sesuai yang dinyatakan Notoadmodjo (2003), bahwa sikap juga merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu prilaku seseorang. Sikap merupakan respon evaluatif yang dapat bersifat positif maupun negatif.
3. Hubungan Tindakan dengan Kejadian Malaria

Menurut Notoadmodjo (2005) tindakan adalah sesuatu yang dilakukan atau perbuatan. Sikap belum tentu terwujud dalam

114

tindakan. Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang

memungkinkan antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas, juga diperlukan faktor dukungan atau support dari pihak lain. Sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2005) bahwa

tindakan terdiri dari berbagai aspek yaitu a. Perception (persepsi), mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil dalam hal ini bagaimana masyarakat memilih tindakan yang sesuai dengan pencegahan penyakit malaria. b. Guided Response (respon terpimpin), melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh, dalam hal ini masyarakat mampu melakukan upaya

pencegahan malaria sesuai dengan pedoman yang ada. c. Mechanism (mekanisme), telah terjadi mekanisme dan

melakukan sesuatu secara otomatis dan akan menjadi kebiasaan, dalam hal ini masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Long Ikis Kecamatan Long Ikis menjadikan kegiatan pencegahan penyakit malaria sebagai kebiasaan. d. Adoption (adopsi), tindakan yang sudah berkembang dengan baik dalam hal ini masyarakat sudah terbiasa melakukan kebiasaan pencegahan penyakit malaria .

115

Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh Pvalue <0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tindakan terhadap kejadian malaria. Hal ini dapat dilihat pada penelitian ini b ahwa ternyata tindakan kurang memiliki hubungan terhadap kejadian malaria dimana p value sebesar 0,000 dan nilai p value <0,05 dan memiliki nilai OR sebesar 6,905. Besarnya resiko responden yang memiliki tindakan kurang memiliki peluang sebesar 6,905 kali untuk menderita malaria dibandingkan dengan respond en memiliki tindakan baik. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Richard Tarigan di Kawasan Ekosistem Leuser yang menunjukkan bahwa penderita malaria 6,9 kali lebih besar risikonya dengan tindakan kurang dibanding kan dengan yang tidak menderita malaria. Berdasarkan penelitian yang dilakukan , hasil analisis pada tabel 4.14 diatas dapat diketahui bahwa responden yang memiliki tindakan kurang dan menderita malaria yaitu sebanyak 41 responden (80,4%). Hal ini dapat dikarenakan mereka tidak melaksanakan tindakan cara pencegahan malaria yang baik dan benar serta kebiasaan masyarakat setempat yang kurang memperhatikan perlindungan khusus dari penyakit malaria

terutama dari gigitan nyamuk Anopheles serta kurangnya perhatian responden terhadap lingkungan yang berpotensi menimbulkan penyakit malaria. Selain itu, hal ini dapat

dikarenakan pendidikan responden yang masih rendah yang

116

menyebabkan

kurangnya

pengetahuan

yang

dimiliki

oleh

responden khususnya tentang tindakan penceg ahan malaria. Pendidikan responden yang menderita malaria adalah tidak/belum sekolah (5,9%), tamat SD (35,3%), tamat SMP (27,5%) dan tamat SMA (31,4%). Pada kelompok kasus tindakan berisiko dan tidak berisiko cukup mempengaruhi diantaranya responden yang tidak

menggunakan kawat kasa (56,9%), tidak menggunakan kelambu pada saat tidur malam (45,1%), memiliki kebiasaan menggantung baju di rumah (100%), tidak memelihara predator nyamuk Anopheles (84,3%), ada tempat yang menimbulkan genangan air (100%) dan ada tumbuhan liar atau semak belukar (100%) . Pada dasarnya semakin tinggi tingkat pengetahuan

seseorang maka akan semakin baik tindakannya karena telah terjadi proses kesadaran keterkaitan terhadap suatu objek sehingga akan lebih mudah memahami hal -hal yang berkaitan dengan tindakan pencegahan malaria dan semakin kecil pula seseorang memiliki tindakan yang kurang. Responden yang memiliki tindakan kurang dan menderita malaria dapat dikarenakan kurangnya informa si yang diperoleh responden dari petugas kesehatan maupun media elektronik seperti televisi dan radio. Selain itu masih kurang informasi yang diterima masyarakat dari petugas kesehatan seperti kurangnya media informasi seperti pembagian-pembagian leaflet kepada

117

masyarakat.

Hampir

sebagian

besar

responden

berprofesi

sebagai petani sawit yang menghabiskan sebagian waktunya di kebun sawit dan kurang memperhatikan proteksi dirinya dari gigitan nyamuk Anopheles. Hal ini dapat terlihat pada tabel 4.4 terlihat bahwa pada kelompok kasus responden yang bekerja sebagai petani sebanyak 30 responden (60,8%) dan sebagian besar responden pada kelompok kasus adalah laki-laki yakni sebanyak 28 responden (54,9%). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Richard Tarigan, penderita malaria 3,1 kali risikonya dengan pekerjaannya sebagai petani dibanding dengan yang tidak menderita malaria. Selain itu, dapat juga disebabkan karena responden yang menderita malaria masih bertempat tinggal di daerah yang lingkungannya kurang bersih yaitu di daerah rawa (100%) dan masih terdapat sampah dan hutan serta dipenuhi semak-semak (100%). Berdasarkan hasil pengamatan masih ada responden yang mempunyai kebiasaan tidak baik maka dapat mempengaruhi tindakan responden tentang pencegahan malaria, dimana masih banyaknya masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka seperti masih adanya masyarakat yang membuang sampah di sekitar rawa sehingga semakin berpotensi besar berkembang biaknya nyamuk Anopheles

penyebab penyakit malaria dan tidak adanya kesadaran dari masyarakat sekitar untuk membersihkan lingkungan. Sehingga

118

salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kebersihan lingkungan yaitu dengan mengadakan gotong roy ong yang dapat dilaksanakan secara rutin. Selain itu, kurangnya kesadaran responden untuk melindungi diri mereka dari gigitan nyamuk Anopheles seperti mamakai kelambu pada waktu tidur, menggunakan baju lengan panjang ketika keluar rumah,

kebiasaan menggantung baju di luar yang dapat menjadi tempat hinggapnya nyamuk Anopheles dan lain sebagainya. Pada kelompok kasus sebanyak 29 responden (56,9%) tidak menggunakan kawat kasa pada ventilasi rumah sehingga berpotensi terkena malaria. Berdasarkan penelitian Aprilia

menyatakan bahwa keluarga yang tinggal di rumah dalam kondisi ventilasi yang tidak terpasang kawat kasa mempunyai risiko untuk terjadinya penyakit malaria 5 kali dibanding keluarga yang tinggal di rumah yang ventilasinya dipasang kawat kasa. Adanya kejadian malaria disebabkan rumah yang tidak terpasang kawat kasa aka n mempermudah masuknya nyamuk ke dalam rumah. Kawat kasa merupakan penghalang bila kawat kasa dalam keadaan baik (Lestari dkk, 2007). Sesuai juga dengan pernyataan subdit malaria bahwa pemasangan kawat kasa pada ventilasi rumah akan memperkecil kontak dengan nyamuk. Selain itu, pada kelompok kasus sebanyak 9 responden (17,6%) tidak memelihara hewan ternak besar seperti sapi, kambing, kerbau atau kelinci sedangkan berdasarkan penelitian

119

yang dilakukan Erdinal di Kampar (2006) menyatakan bahwa responden yang disekitar tempat tinggalnya tidak ada memelihara ternak besar mempunyai risiko sebesar 3,3 kali dibandingkan dengan responden yang disekitar tempat tinggalnya ada ternak besar. Akan tetapi ada responden yang memiliki tindakan kurang namun tidak menderita malaria yakni sebanyak 19 responden (37,3%). Hal ini dapat dikarenakan responden sudah melakukan tindakan yang berisiko menyebabkan malaria yakni menggunakan kawat kasa pada ventilasi rumah sebanyak (54,9%),

menggunakan kelambu pada saat tidur malam hari (92,2%), menggunakan obat nyamuk pada saat tidur malam hari (100%), menggunakan baju lengan panjang ketika keluar rumah pada malam hari (96,1%) dan memiliki hewan ternak besar (88,2%). Kurangnya kesadaran responden dalam mencegah penyakit malaria sehingga mereka hanya melakukan sebagian kecil tindakan yang disarankan agar dapat terhindar dari penyakit malaria padahal tindakan lain juga cukup menunjang, namun dengan tindakan kurang tersebut sudah mampu melindungi diri responden dari penyakit malaria. Selain itu, tindakan masyarakat di sekitar responden yang dapat mendukung responden tersebut tidak terkena penyakit malaria seperti kegiatan pembersihan lingkungan dan lain sebagainya sehingga hal ini dapat menjadi

120

salah satu faktor yang menyebabkan responden tersebut tidak terkena penyakit malaria. Selanjutnya responden dengan mempunyai tindakan baik namun menderita malaria sebanyak 10 responden (19,6%). Hal ini dapat disebabkan karena responden yang memiliki tindakan baik mendapat pengaruh dari lingkungan sekitar responden yang masyarakatnya belum melakukan tindakan pencegahan malaria sehingga nyamuk anopheles penyebab malaria masih dapat berkembang biak dengan ba ik. Pengaruh masyarakat di sekitar terhadap responden lebih ke arah lingkungan seperti adanya rawa-rawa, semak belukar, adanya air yang tergenang serta aliran air yang tersendat, responden sudah menjaga lingkungan di sekitar dengan baik namun masyarakat di sekitar responden kurang memelihara lingkungan sekitarnya sehingga responden berpotensi terjangkit malaria. Hal ini juga dapat dikarenakan responden pada kelompok kasus telah melaksanakan tindakan yang tidak berisiko dan berisiko menyebabkan malaria seperti menggunakan obat nyamuk pada saat tidur dimalam hari (100%), menggunakan baju lengan panjang pada saat keluar malam hari (92,2%), memiliki hewan ternak besar seperti sapi, kerbau, kambing, kelinci (82,4%) dan aliran di sekitar lokasi tidak ada yang ters endat (74,5%). Berdasarkan pengamatan tempat penelitian, responden yang memiliki tindakan baik dan menderita malaria dapat

121

dikarenakan tempat tinggal di sekitar responden masih belum dapat di katakan bersih yakni masyarakat di sekitar responden belum terlalu memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar dibuktikan dengan adanya masih adanya rawa -rawa yang terlihat kotor karena banyaknya sampah yang dibuang oleh masyarakat sekitar, banyaknya genangan air, semak belukar dan aliran air yang tersendat. Responden sudah melakukan tindakan preventif individual seperti penggunaan obat anti nyamuk, penggunaan kelambu pada waktu tidur malam, pemakaian kawat kasa,

menggunakan baju lengan panjang pada waktu keluar rumah dan lain sebagainya namun tidak menyadari bahwa responden dan masyarakat di sekitarnya belum melakukan usaha menjaga kebersihan lingkungan disekitarnya dengan baik. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Harmendo pada tahun 2009 lingkungan di sekitar rumah yang masih terdpat genangan air dan berpotensi sebagai sarang nyamuk Anopheles mempunyai risiko terkena malaria 3,1 kali lebih besar

dibandingkan dengan orang yang disekitar rumahnya tidak dijumpai genangan air. Hal ini tentunya sangat berisiko

meningkatkan peluang kontak antara nyamuk sebag ai vektor malaria dengan orang yang rumahnya berada di sekitar genangan air. Berdasarkan teori, nyamuk An.sundaicus bersifat antropofilik yaitu lebih menyukai darah manusia, jika kepadatan nyamuk di sekitar rumah tinggi dan didukung dengan ketersediaan manusia,

122

maka akan meningkatkan kapasitas vektor sehingga kemungkinan orang di sekitar genangan air untuk tertular malaria akan semakin besar. Lingkungan di tempat penelitian yang menyebabkan

tindakan baik pada kelompok kasus sebagian dikarenakan responden bertempat tinggal jauh dari puskesmas yaitu di desa Kayungosari, Krayan, Olung dan Pait dan wilayahnya masih belum dapat dikatakan bersih sehingga berpotensi menyebabkan malaria. Oleh karena itu, informasi tentang pencegahan malaria baik yang menyangkut tentang pengetahuan tentang malaria maupun sikap dan tindakan pencegahan yang perlu dilakukan sehingga terhindar dari penyakit malaria. Selain itu, responden sebaiknya menyampaikan informasi kepada masyarakat

disekitarnya mengenai tindakan invidual maupun ber sama dalam hal pencegahan malaria. Penyampaian informasi mengenai hal hal tersebut dapat dibantu oleh petugas kesehatan melalui penyuluhan. Selain itu, responden dapat terkena malaria

disebabkan kegiatan yang dilakukan pada saat bekerja atau pada saat istirahat di malam hari karena sebagian besar responden bekerja sebagai petani sawit yang kegiatannya banyak dihabiskan di kebun sawit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Afridah (2009) yang menyatakan bahwa tindakan responden dalam upaya pencegahan penyakit malaria belum mampu menurunkan angka kesakitan

123

karena beberapa kegiatan yang dilakukan pada saat bekerja maupun saat istirahat pada malam hari masih berisiko untuk terkena gigitan nyamuk Anopheles. Perilaku atau tindakan responden tersebut terkait dengan lingkungan tempat tinggal yang secara alami merupakan habitat yang cocok untuk

perkembangbiakan nyamuk malaria. Adapun hasil analisis berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa ada responden yang memiliki tindakan baik dan tidak menderita malaria sebanyak 32

responden (62,7%). Hal ini disebabkan karena adanya beberapa faktor diantaranya adalah responden pada kelompok kontrol didukung oleh faktor pendidikan yang tinggi sehingga informasi yang diperoleh tentang pencegahan malaria sudah cukup baik yaitu SMA sebanyak 26 responden (51,0%), Diploma sebanyak 2 responden (3,9%) dan Sarjana sebanyak 7 responden (13,7%). Pernyataan yang dikutip dari Notoatmodjo (2003), ba hwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka tingkat pengetahuannya semakin baik, ini disebabkan karena materi yang didapat ketika belajar dalam pendidikan serta informasi yang diperolehnya. Dengan demikian apabila tingkat pendidikan responden masih rendah maka pengetahuan yang dimiliki responden juga kurang, termasuk dalam hal tindakan dan hal ini menimbulkan tingginya kejadian malaria. Ini dikarenakan terbatasnya informasi yang diperoleh oleh responden.

124

Pada kelompok kontrol yang memiliki tindakan baik dapat dikarenakan responden sudah melakukan tindakan yang berisiko dan tidak berisiko yakni menggunakan kawat kasa pada ventilasi rumah (54,9%), menggunakan kelambu pada saat tidur malam hari (92,2%), menggunakan obat nyamuk pada saat tidur malam hari (100%), menggunakan baju lengan panjang saat keluar rumah pada malam hari (96,1%), tidak memiliki kebiasaan menggantung baju di rumah (7,8%), memelihara predator nyamuk Anopheles (33,3%), memiliki hewan ternak besar (88,2%) dan aliran air di sekitar lokasi tidak ada yang tersendat (74,5%). Dengan demikian tingkat pendidikan yang tinggi a kan mempengaruhi pengetahuan responden termasuk dalam tindakan sehingga lebih baik dibandingkan dengan responden yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Responden yang memiliki tindakan baik pada kelompok kontrol dapat juga dikarenakan adanya informasi dari puskesmas yang mendukung, seperti informasi bagaimana pencegahan malaria dan apa sebenarnya malaria sehingga dapat menuru nkan angka kejadian dan kematian akibat malaria di masyarakat. Responden mempunyai pendidikan formal yang lebih tinggi sehingga lebih mudah menerima dan mempraktekan suatu pengetahuan yang mereka miliki. Selain itu, pola pikir responden yang tahu bagaimana pencegahan malaria dan adanya tindakan pencegahan yang dilakukan responden sepe rti menggunakan

125

obat anti nyamuk ketika malam hari serta

pergi ke tempat

pelayanan kesehatan seperti puskesm as untuk memperoleh informasi tentang malaria. Namun tidak menutup kemungkinan orang yang berpendidikan rend ah tidak melakukan hal serupa. Pada semua kelompok kasus dan kontrol di sekitar rumah responden ada semak-semak yang menurut penelitian Aprilia responden yang tinggal di rumah yang disekitarnya terdapat semak-semak mempunyai risiko untuk tertular penyakit malaria 0,18 kali lebih besar dibanding dengan responden yang tinggal di rumah yang di sekitarnya tidak terdapat semak-semak dan responden yang tinggal di rumah yang di sekitarnya terdapat parit atau selokan mempunyai risiko untuk tertular penyakit malari a 0,06 kali lebih besar dibanding dengan responden yang tinggal di rumah yang disekitarnya tidak terdapat parit atau selokan. Hal ini disebabkan semak-semak yang rimbun dan tidak bisa ditembus oleh sinar matahari berada dekat di sekitar rumah. Dilihat dari bionomik nyamuk Anopheles bahwa pada siang hari Anopheles maculatus dan Anopheles balabacensis ditemukan istirahat di semak-semak. Keberadaan semak-semak yang rimbun akan menghalangi sinar matahari menembus permukaan tanah,

sehingga adanya semak-semak yang rimbun berakibat lingkungan menjadi teduh serta lembab dan keadaan ini merupakan tempat istirahat yang disenangi nyamuk Anopheles, sehingga jumlah populasi nyamuk di sekitar rumah bertambah dan menyebabkan

126

keluarga yang tinggal di rumah yang terdapat sem ak di sekitarnya mempunyai risiko untuk terjadi penularan penyakit malaria dibanding dengan keluarga yang tinggal di rumah tidak ada semak-semak di sekitarnya (Lestari dkk, 2007). Tindakan responden berpengaruh secara nyata terhadap kejadian malaria. Semakin baik tindakan dalam upaya

pencegahan dan pemberantasan terhadap penyakit malaria maka akan semakin berkurang risiko untuk terjadinya penularan

penyakit malaria, dan sebaliknya. Tindakan nyata dari responden berupa penggunaan kelambu pada saat tidur mala m hari dan pemakaian obat nyamuk untuk menghindari gigitan nyamuk, pemasangan kasa nyamuk pada ventilasi rumah serta melakukan kegiatan untuk mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk disekitar lingkungan tempat tinggal seperti pembersihan semaksemak yang dapat menjadi tempat hinggap nyamuk malaria dan rawa-rawa yang dipenuhi dengan sampah maupun tidak . Hal ini sesuai dengan penelitian Prabowo (2004) yang menyatakan bahwa untuk pencegahan penyakit malaria dilakuka n dengan upaya menghindari gigitan nyamuk dengan memakai baju lengan panjang dan celana panjang pada saat keluar rumah terutama pada malam hari, menggunakan kelambu pada waktu tidur, mengurangi tempat perindukan nyamuk dengan kegiatan

pembasmian sarang nyamuk disekitar lingkungan tempat tinggal, membunuh jentik dan nyamuk dewasa.

127

Hampir

semua

responden

pada

kelompok

kontrol

menggunakan kelambu pada waktu tidur yakni sebanyak 47 responden (92,2%). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Harmendo menyatakan bahwa orang yang tidak mempunyai kebiasaan menggunakan kelambu pada saat tidur malam mempunyai resiko untuk terkena malaria 7,8 kali lebih besar dibanding orang yang mempunyai kebiasaan menggunakan kelambu pada saat tidur malam. Demikian pula secara umum nyamuk Anopheles sp aktif mencari darah pada malam hari dan mulai menggigit pada waktu senja sampai tengah malam dan kadang -kadang sampai

menjelang pagi. Kondisi ini memungkinkan risiko tertular malaria tidak hanya didalam rumah, tetapi juga diluar rumah. Tindakan pencegahan berupa pembuatan kasa nyamuk, pemakaian

kelambu, serta pemberantasan sarang nyamuk yang proporsinya secara signfikan lebih rendah pada kasus harus diupayakan. Dengan demikian upaya yang dapat dilakukan dalam

pemberantasan penyakit malaria haruslah bersifat terpadu dan diadvokasi dengan peraturan. Untuk itu , sebaiknya

ditetapkan/dibuat suatu peraturan daerah yang dapat melibatkan semua masyarakat, instansi terkait secara kontinu dan

berkesinambungan baik lintas sektor maupun lintas program agar membersihkan setiap lingkungan rumahnya yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk penyebar malaria.

128

Pencegahan bagi keluarga/rumah tangga dapat dianjurkan menutup ventilasi dengan kawat kasa dan menggunakan kelambu pada tempat tidur. Dengan adanya kasanisasi maka diharapkan keluarga yang tinggal di dalam rumah dapat terlindung dari gigitan nyamuk malaria. Penggunaan obat nyamuk bakar juga diperlukan saat tidur maupun berkumpul di dalam/luar rumah. Obat nyamuk bakar berguna untuk mengusir dan membunuh nyamuk penular penyakit malaria, sehingga kejadian penyakit malaria dapat berkurang. Penelitian Budarja (2001) di Kecamatan Kupang Timur mendapatkan risiko tertular malaria bagi orang yang tidak menggunakan obat nyamuk pada malam hari sebesar 3,5 kali. Pencegahan penyakit malaria secara personal dapat dilakukan dengan baju lengan panjang. Pemakaian baju lengan panjang sangat efektif untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk malaria, saat melakukakan aktifitas di luar rumah pada malam hari. Sosialisasi pemakaian baju lengan panjang sangat diperlukan karena merupakan perlindungan dini untuk mencegah dari gigitan nyamuk penular penyakit malaria. Kemauan masyarakat dalam melakukan tindakan

pencegahan malaria sesuai dengan uraian dalam Depkes (2000) yang menyatakan dalam menurunkan angka kejadian penyakit malaria, sangat dibutuhkan partisipasi masyarakat untuk

mendukung program yang dilaksanakan pemerintah. Partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan adalah keadaan dimana

129

individu,

keluarga

maupun

masyarakat

umum

ikut

bertanggungjawab terhadap kesehatan diri, keluarga maupun kesehatan masyarakat dan lingkungannya. Pada penelitian ini dapat ditarik kes impulan bahwa faktor tindakan pencegahan responden juga sangat penting dalam terjadinya penyakit malaria karena apabila tindakan responden baik maka akan mempengaruhi kejadian malaria. Hal ini sesuai Notoatmojo (2003) adanya faktor-faktor yang mempengaruhi kurangnya pengetahuan responden tentang tindakan pencegahan malaria yang baik sehingga dapat berdampak pada kejadian malaria dalam suatu lingkungan antara lain kurangnya informasi dari tenaga kesehatan atau kurang jelasnya informasi yang di sampaikan dari tenaga kesehatan kepada masyarakat, atau kurangnya kemampuan dari masyarakat untuk memahami

informasi yang diberikan.