Anda di halaman 1dari 12

Limbah Padat adalah Buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik

industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water). Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah, yang seringkali tidak dikehendaki kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia Senyawa organik dan Senyawa anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.

Sumber Limbah Padat


Pabrik Gula

Pulp

Kertas

Rayon

Plywood

Limbah Nuklir

Secara garis besar, Limbah Padat terdiri dari :

Limbah Padat yang mudah terbakar

Limbah Padat yang sukar membakar

Limbah padat yang mudah membusuk

Lumpur

Limbah yang dapat didaur ulang

Limbah Radioaktif

Bongkaran Bangunan

Dampak Pencemaran Limbah Padat


Dengan adanya Limbah Padat dalam lingkungan , maka akan timbul : 1. Gas Beracun yang dapat ditimbulkan oleh adanya limbah padat, antara lain : Asam Sulfida, Amoniak, Methana. Gas ini akan timbul bila limbah padat ditimbun dan membusuk karena adanya mikroorganisme. Dengan adanya musim hujan dan kemarau, akan terjadi proses pemecahan bahan organik oleh bakteri penghancuran dalam suasana aerob/anaerob. 2. Penurunan Kualitas Udara sampah yang ditumpuk akan terjadi reaksi kimia seperti gas , metana yang bisa melebihi nilai ambang batas. 3. Penurunan Kualitas Air karena limbah padat biasanya langsung dibuang dalam perairan/ bersama-sama air limbah, maka akan menyebabkan air menjadi keruh dan rasanya berubah. 4. Kerusakan Permukaan Tanah berdasarkan kualifikasi limbah padat serta akibat-akibat yang ditimbulkan sistem pengelolaan dilakukan menurut: - Limbah padat yang dapat ditimbun tanpa membahayakan. - Limbah padat yang dapat ditimbun tetap berbahaya. - Limbah padat yang tidak dapat ditimbun.

Pengelolaan Limbah Padat


Menurut sifatnya pengolahan limbah padat dibagi menjadi 2 cara yaitu: Limbah Padat tanpa pengolahan Limbah padat yang tidak mengandung unsur kimia yang beracun dan berbahaya, bila langsung dibuang ketempat tertentu seperti TPA. Limbah Padat dengan pengolahan Limbah padat yang mengandung unsur kimia yang beracun dan berbahaya, harus diolah dahulu sebelum dibuang ditempat tertentu.

Mekanisme Pengolahan Limbah

Faktor faktor yang perlu diperhatikan sebelum mengolah Limbah Padat :


1. Jumlah limbah
Sedikit Banyak : mudah ditangani sendiri : membutuhkan penanganan khusus (tempat & sarana pembuangan) 4

m3 limbah padat/hari

2.

Sifat fisik dan kimia limbah


Sifat fisik Sifat kimia : : mempengaruhi pilihan tempat pembuangan, sarana pengangkutan & sifat kimia dari limbah padat akan merusak dan mencemari pilihan pengolahan. lingkungan dengan cara membentuk senyawa-senyawa baru.

3.

Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Karena lingkungan ada yang peka/tidak peka terhadap pencemaran, perli diperhatikan: a. Tempat pembuangan akhir (TPA) b. Unsur yang akan terkena c. Tingkat pencemaran yang akan timbul 4. Tujuan akhir dari pengolahan Ada dua tujuan akhir: Bersifat ekonomis lain Bersifat non-ekonomis lingkungan Bagi limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis dapat ditangani dengan berbagai cara antara lain ditimbun pada suatu tempat, diolah kembali kemudian dibuang dan dibakar. Perlakuan limbah padat yang tidak punya nilai ekonomis sebagian besar dilakukan sebagai berikut: 1. Ditumpuk pada Areal Tertentu : Untuk mencegah pencemaran dan kerusakan : Meningkatkan efisiensi pabrik secara menyeluruh dan mengambil kembali bahan yang masih berguna untuk didaur ulang/dimanfaatkan

Penimbunan limbah padat pada areal tertentu membutuhkan areal yang luas dan merusakkan pemandangan di sekeliling penimbunan. Penimbunan. ini mengakibatkan pembusukan yang menimbulkan bau di sekitarnya, karena adanya reaksi kimia yang rnenghasilkan gas tertentu.Dengan penimbunan, permukaan tanah menjadi rusak dan

air yang meresap ke dalam tanah mengalami kontaminasi dengan bakteri tertentu yang mengakibatkan turunnya kualitas air tanah.Pada musim kemarau timbunan mengalami kekeringan dan ini mengundang bahaya kebakaran. 2. Pembakaran

Limbah padat yang dibakar menimbulkan asap, bau dan debu. Pembakaran ini menjadi sumber pencemaran melalui udara dengan timbulnya bahan pencemar baru seperti NOR,hidrokarbon, karbon monoksida, bau, partikel dan sulfur dioksida. 3. Pembuangan

Pembuangan tanpa rencana sangat membahayakan lingkungan.Di antara beberapa pabrik membuang limbah padatnya ke sungai karena diperkirakan larut ataupun membusuk dalam air. Ini adalah perkiraan yang keliru, sebab setiap pembuangan bahan padatan apakah namanya lumpur atau buburan, akan menambah total solid dalam air sungai

Proses Pengolahan Limbah Padat


Ada 4 proses yaitu: Pemisahan Karena limbah padat terdiri dari: ukuran yang berbeda-beda dab kandungan bahan yang berbeda maka harus dipisahkan dahulu supaya peralatan pengolahan menjadi awet. Pemisahan ada 3 sistem, yaitu: a. b. Sistem Balistik adalah sistem pemisahan untuk mendapatkan keseragan ukuran/ berat/volume Sistem Gravitasi adalah sistem pemisahan berdasarkan gaya berat Misal: - Barang yang ringan/terapung - Barang yang berat/tenggelam c. Sistem Magnetis adalah sistem pemisahan berdasarkan sifat magnet. Yang bersifat magnet, akan langsung menempel. Misal : - Untuk memisahkan campuran logam dan non logam Penyusutan Ukuran Penyusutan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil, supaya pengolahannya menjadi mudah Pengomposan Pengomposan dilakukan terhadap buangan /limbah yang mudah membusuk, sampah

kota, buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik. Supaya hasil pengomposan baik limbah padat harus dipisah dan disamakan ukurannya/volumenya. Pembuangan Limbah Proses akhir dari pengolahan limbah padat adalah pembuangan limbah, yang dibagi menjadi dua, yaitu: a. Pembuangan di laut Pembuangan limbah padat di laut, tidak boleh dilakukan di sembarang tempat dan perlu diingat bahwa tidak semua limbah padat dapat dibuang ke laut. Hal ini disebabkan: Laut sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan Laut sebagai tempat rekreasi & lalu lintas kapal Laut menjadi dangkal Limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya (misal: limbah B3/limbah radioaktif) dapat membunuh biota laut. b. Pembuangan di darat (canitary landfill) Untuk pembuangan di darat perlu dilakukan pemilihan lokasi yang harus dipertimbangkan sebagai berikut: Pengaruh iklim, temperatur dan angin Struktur tanah Jaraknya jauh dari pemukiman Pengaruh terhadap sumber air, perkebunan, perikanan, peternakan, flora atau fauna. Jadi pilih lokasi yang benar-benar tidak ekonomis lagi untuk kepentingan apapun. Pembuangan di darat/tanah dibagi: 1) 2) 3) Penebaran di atas tanah Penimbunan/penumpukan Pengisian tanah yang cekung (landfill)

Klasifikasi struktur penimbunan limbah


Lokasi penimbunan limbah digolongkan ke dalam 5 jenis menurut struktur sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1 dan Gambar 1. Dari segi mutu lindi dan gas yang ditimbulkan dari lokasi penimbunan limbah, baik metode penimbunan limbah semi-aerobik maupun aerobik yang dikehendaki. Penimbunan limbah anaerobik Limbah padat harus ditimbun kedalam galian di area tanah datar atau lembah. Limbah berisi air dan dalam keadaan Penimbunan limbah saniter anaerobik anaerobik. Penimbunan limbah anaerobik dengan penutup berbentuk "sandwich". Kondisi limbah padat sama dengan penimbunan limbah anaerobik. Penimbunan limbah saniter anaerobik yang telah disempurnakan (penimbunan limbah saniter yang telah disempurnakan). Memiliki sistem penampungan lindi di dasar lokasi penimbunan limbah. Sedangkan yang lainnya sama seperti penimbunan limbah saniter anaerobik. Kondisinya tetap anaerobik dan kadar air jauh lebih sedikit dibandingkan dengan penimbunan limbah saniter anaerobik. Penimbunan limbah semi-aerobik Saluran penampungan lindi lebih besar dari pada saluran penimbunan limbah saniter yang telah disempurnakan. Lubang saluran dikelilingi udara dan salurannya ditutupi batu yang telah dihancurkan kecil-kecil. Kadar air pada limbah padat kecil. Oksigen disediakan bagi limbah padat dari saluran penampungan lindi Penimbunan limbah aerobik Di samping saluran penampungan lindi, pipa persediaan udara dipasang dan udara didorong agar memasuki limbah padat sehingga kondisinya menjadi lebih aerobik dibandingkan dengan penimbunan limbah semi-aerobik.

Gambar 1. Klasifikasi struktur penimbunan limbah

Struktur penimbunan limbah semi-aerobik


Sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 2, penimbunan limbah semi-aerobik memungkinkan terjadinya proses masuknya udara melalui pipa penampung lindi yang dipasang di dasar penimbunan limbah, yang membantu memperbesar terjadinya proses aerobik, dan membuat bakteri aerobik menjadi aktif, serta mempercepat terjadinya dekomposisi limbah. Gambar 2. Jenis Penimbunan limbah dan Sistem Penampungan Lindi

Selanjutnya kegiatan ini akan membuat mutu dari lindi menjadi lebih baik dengan terjadinya penurunan kepekatan lindi, juga mengurangi terbentuknya gas berbahaya, yang seluruhnya dapat menimbulkan stabilisasi lokasi dari penimbunan limbah menjadi lebih cepat. Lihat Gambar 3. Gambar 3. Perubahan Kadar Kepekatan Lindi dalam BOD sesuai dengan jenis Penimbunan