Anda di halaman 1dari 7

Seminar on Air - PPI Tokyo Institute of Technology 1999-2000 No1. Hal.

79-85

Zemi On Air No 31 6-11 Mei 2000; Moderator: Rahmat Satoto; Penyaji: Dedy H.B. Wicaksono

Mengenal Biosensor dan Generasi Terbaru Biosensor


Dedy Hermawan Bagus Wicaksono Dept. of Biological Information. Tokyo Institute of Technology Ringkasan Pada Zemi On Air giliran ini, akan diperkenalkan secara singkat tentang biosensor dengan bahasa yang mudah dipahami oleh awam. Kemudian rencana riset yang diajukan oleh penulis untuk meneliti biosensor generasi baru pun akan dijelaskan secara ringkas. Biosensor adalah suatu devais atau perangkat analitik yang memanfaatkan molekul-molekul makhluk hidup dan atau meniru cara kerjanya. LATAR BELAKANG Pada ZoA ini, insya Allah, saya akan membeberkan beberapa yang saya pelajari selama menjadi kenkyuusei di TIT. Di antaranya dari proposal-proposal yang pernah saya ajukan ke sensei saya (yang belum diterima penuh), kemudian beberapa kemungkinan yang bisa dikerjakan di masa depan, hingga ke mimpi yang secara iptek belum bisa direalisasikan saat ini. Bagian Awal ZoA saya adalah ttg pengantar Biosensor. Apa itu biosensor? Mengapa menarik? dan beberapa hal mendasar lainnya. Kemudian, insya Allah, akan disusul dengan contoh riil riset biosensing yang saya rencanakan. MENGENAL BIOSENSOR Jadi Ketiga Bagian Pokok Biosensor: Biosensor, menurut definisi klasiknya (hingga sekitar pertengahan dekade 90an) didefinisikan kira-kira sebagai berikut.: "Suatu perangkat/instrumen analitik yang menggunakan biomolekul (molekul dari makhluk hidup) seperti enzim, antibodi, jaringan, sel, mikroba, dan lain-lain untuk melakukan pengenalan/deteksi/rekognisi (recognition) akan suatu zat (bio)kimia tertentu, yang kemudian perubahan sifat fisika-kimia pada biomolekul itu yg merepresentasikan informasi ditransduksikan dengan transduser fisis menjadi besaran elektronik untuk bisa diolah selanjutnya." Definisi di atas dpt digambarkan dengan diagram berikut ini. atau antigen yang diinginkan. Karena itu, pada bagian depan, yaitu biomolekul mesti ditambahkan dengan biomimetic molecule. Kemudian pada teknik deteksi-(transduksi fisis)-nya pun, definisi konvensional seperti di atas menurut saya pribadi sudah agak ketinggalan zaman, dan untuk membuat biosensor generasi baru, pendekatan dan paradigma baru transduksi harus diperkenalkan. KONFIGURASI BIOSENSOR Sebenarnya selain dua bagian di atas, ada bagian yang ketiga yang terletak di antara bagian biomolekul dengan bagian transduser fisik. Bagian tersebut adalah bagian Interfacing, yang biasanya adalah "Immobilisasi dari BioMolekul pada transduser Fisik".

Bio-/Biomimetic Recognition Molecule Enzim adalah biomolekul yang sering digunakan sebagai komponen biosensor. Prinsip penggunaan enzim adalah dengan memanfaatkan reaksi katalitiknya, dan mendeteksi reaksi tersebut. Jika reaksinya adalah reaksi reduksi-oksidasi, maka ada elektron yang dihasilkan yang bisa dideteksi dengan metode elektrokimia seperti Amperometry, Voltametry dan lain-lain. Jika reaksinya menghasilkan hidrogen atau oksigen atau ion K+, dan lain-lain, maka bisa dideteksi dengan Ion-Selective Electrode. Contoh: Reaksi H2O2 H20 + O2, yang dikatalitisi oleh enzim peroxidase. Dengan mengimmobilisasi peroxidase pada electrode Oksigen, kita bisa mensensing kadar H2O2.

Gambar 1. Skema umum sistem biosensor Definisi di atas rupanya saat ini sudah tidak cocok lagi, dengan ditemukannya teknologi polymer imprinting yang bisa meniru (mimetic) sifat enzim atau antibodi dengan men"cetak" polimer tersebut terhadap substrat

Antibodi Jika, enzim dibatasi oleh reaksi-reaksi yang sudah diketahui (kecuali dengan enzyme engineering akhirakhir ini), antibodi secara teoritis bisa dibuat untuk

79

Seminar on Air - PPI Tokyo Institute of Technology 1999-2000 No1. Hal. 79-85

merekognisi berbagai macam molekul. Antibodi bisa dibuat dengan berbagai cara: v menyuntikkan zat analyte secara in vivo pada kelinci/tikus misalnya untuk mendapatkan antibodinya v dengan phage display, menseleksi antibodi monoklonal dari suatu librari antibodi, memanfaatkan bacteriophage, sejenis virus yang menyerang bakteri. Tetapi, dengan antibodi biasa, suatu reaksi tidak menghasilkan adanya aliran elektron yang bisa dideteksi secara elektrokimia. Yang terjadi adalah perubahan massa akibat reaksi antibodi-antigen. Karena itu sistem transduksi yang bisa diterapkan adalah yang mendeteksi perubahan massa, seperti: Quartz Crystal Microbalance dan Acoustic Wave, yang mana sifat akustik bahan berubah karena adanya perubahan massa di permukaan/surface bahan; kemudian Surface Plasmon Resonance atau Evanescent Wave yang mendeteksi perubahan indeks bias dan sifat optik pada surface bahan karena adanya reaksi antibodi-antigen. Cell atau Jaringan/Tissue Dengan enzim atau antibodi tertentu saja, biasanya zat yang bisa disensing dibatasi oleh kemampuan reaksi "satu" enzim atau antibodi tertentu saja. Dengan Cell atau Jaringan, reaksi metabolisme berantai bisa dimanfaatkan untuk mendeteksi suatu zat yang tidak bisa disensing hanya dengan satu reaksi katalisi saja, tetapi melalui dua, tiga atau lebih rangkaian berantai katalisi dari sistem metabolisme sel/jaringan. Kekurangan sistem ini adalah responnya lambat, kemudian terlalu berlebihan, dalam arti ada banyak reaksi kimia dalam cell/jaringan yang tidak terkait dengan zat yang ingin dideteksi atau malah bisa mempengaruhi hasil/informasi yang dihasilkan. Mikroorganisme/ Plasmid Mikoroorganisme seperti bakteri bisa dimanfaatkan misal untuk mendeteksi BOD/COD atau adanya zat toxic tertentu. Dengan merekayasa DNA (plasmid) si bakteri, bisa dibuat agar keberadaan suatu zat tertentu memicu ekspresi genetik suatu protein tertentu (misal protein reporter seperti GFP-Green Fluorescent Protein, Luciferase, dan sebagainya) sedemikian hingga jika kadar zat tertentu naik, maka luminesensi/fluoresensi yang dihasilkan lebih tinggi. Kekurangan sistem ini sama dengan sistem cell/jaringan Immobilisasi Immobilisasi biomolekul dilakukan agar biomolekul dapat dipakai berulang kali untuk proses sensing, dan tentu saja agar reaksi yang terjadi pada biomolekul tersebut memberi pengaruh langsung secara fisik pada transduser. Ada beberapa cara yang biasa digunakan untuk mengimmobilisasi biomolekul pada transduser:

1. Physical Adsorption Ini cuma memanfaatkan gaya Van der Waals antar materi saja. 2. Covalent Bonding ini sering digunakan untuk mendapatkan immobilisasi yang bertahan lama. Masalahnya adalah pada reversibilitas. Tapi reversibilitas bisa didapatkan dengan memanfaatkan teknik tertentu seperti Metal-chelating. 3. Matrix-Entrapment misalnya proses immobilisasi suatu biomolekul dibarengi dengan elektropolimerisasi sehingga biomolekul akan dikungkung oleh electropolymer yang terbentuk. 4. Membrane-entrapment dengan menyelubungi biomolekul dengan membran yang misalnya hanya bisa melewatkan analyte tapi tidak melewatkan si biomolekul. 5. dengan hydrogel dengan proses sol-gel, biomolekul dikungkung dengan keramik Transduser Seperti telah disinggung sedikit sebelumnya, beberapa jenis biosensor dijelaskan di bawah ini berdasarkan besaran fisis yg ditransduksi. Elektrokimia Pada sistem biologis, sering terdapat reaksi redoks pada enzim, yang mana pertukaran elektronnya bisa dideteksi dengan metode elektrokimia untuk mendapatkan hubungan dengan konsentrasi zat yang terkait dalam reaksi redoks tersebut. Metode elektrokimia yang bisa dipakai misal: - Voltammetry, dengan mengukur tegangan terhadap arus yang tetap - Amperometry, tegangan tetap, arus diukur - Cyclic Voltametry, arus diukur terhadap suatu tegangan yang berubah dengan fungsi segitiga terhadap waktu. Selain itu, ada pula metode baru yang memanfaatkan bilayer lipid membrane (mimetic dari sistem membran sel) untuk mendeteksi aliran ion pada ion channel atau ligand-gated receptor ion channel yang diimobilisasi di lipid membran tersebut. Aliran/fluks ion yang berubah karena diikatnya suatu ligand oleh receptor dideteksi dengan elektrode atau dengan metode optik. Optik Terjadinya reaksi seperti antara antibodi-antigen akan mengubah sifat optik seperti turbiditasnya, atau indeks bias di bahan yang ditempeli biomolekul tersebut. Perubahan sifat-sifat optik ini bisa dideteksi: - ELISA, Enzyme-linked Immunosorbent Assay, biasanya protein luminesensi seperti Luciferase di"ikat" ke antibodi, yang jika bereaksi dengan antigen akan bercahaya. Intensitas cahaya bergantung pada konsentrasi zat (antibodi/antigen)

80

Seminar on Air - PPI Tokyo Institute of Technology 1999-2000 No1. Hal. 79-85

SPR dan Evanescent Wave yang memanfaatkan Sifat Optik near-field yang berubah di permukaan bahan. Akustik Dengan menempelnya suatu analyte dan bereaksi dengan biomolekul yang diimmobilisasi di permukaan transduser, maka massanya berubah, dan sifat akustik pun berubah. Misal pada QCM (Quartz Crystal Microbalance) frekuensi resonansi Crystal akan bergeser karena adanya "tempelan" itu. Demikian kira-kira detail mekanisme kerja biosensor. APLIKASI Setelah membahas apa itu biosensor, dan bagaimana mekanisme kerjanya. Lalu untuk apa, dan di mana biosensor bisa diaplikasikan? Biosensor memiliki aplikasi yang amat luas. Kedokteran, Pengolahan makanan, Industri, Pertanian /Peternakan /Perikanan, Lingkungan Hidup, Militer/ Pertahanan-Keamanan, dan lain-lain. Medis-Kedokteran Biosensor yang pertama dibuat adalah untuk aplikasi deteksi kadar glukosa darah, dengan memanfaatkan enzim glucose peroxidase, yang diimmobilisasi pada elektroda yang selektif terhadap H2O2. Bahkan hingga saat ini penelitian glucose sensor masih terus aktif, dan produknya telah banyak yang beredar di pasaran. Tentu saja aplikasinya tidak terbatas di situ. Mimpinya adalah bagaimana analisis kesehatan bisa dibawa dari laboratorium klinis yang mahal dan rumit ke rumah masing-masing pasien. Artinya bagaimana dengan biosensor, si pasien bisa ambil sampel darah sendiri, periksa sendiri, lalu tahu kadar HbOnya, kadar glukosanya, kadar ..., dan bahkan tahu jika ada tandatanda kanker. Kemudian si pasien tinggal mengontak dokternya via internet, dan kirim data-datanya via email dan seterusnya. Mimpi yang lebih muluk lagi adalah membuat molecular nanobiosensor, suatu nanomachine biosensor berukuran beberapa puluh hingga beberapa ratus nm yang diinjeksikan ke tubuh pasien masing-masing, lalu melakukan pencatatan otomatis kesehatan pasien, mendeteksi secara dini perubahan genetik pada sel pasien yang bisa menjadi calon sel tumor, bahkan bisa melakukan operasi kecil seperti DNA repairing di saat mekanisme tubuh melemah, dan sebagainya. Pengolahan Makanan Sampai sekarang memasak adalah suatu seni. Kalau saya tanya pada Bapak/Ibu Zeily misalnya, "Berapa banyak merica yang harus saya masukkan? " Jawabannya pasti bisa ditebak, "Ya, kira-kira saja, kalau utk orang Indonesia banyakin, kalau untuk orang Jepang sedikitin" Sebetulnya apa ukuran kuantitatif rasa? Biosensor bisa berperan mengkuantisasikan "asinnya"

orang Indonesia dan "asinnya" orang Jepang, memasak pun bisa lebih terkontrol. Makanan di restoran pun bisa dibuat betul-betul bervariasi bergantung selera tiap orang dengan memanfaatkan biosensor dan feedback control. Bagaimana mendeteksi buah yg manis? Ini pun bisa dibuat biosensornya dengan misalnya memanfaatkan receptor yang dimiliki hewan "kalong" yang terbiasa memilih buah-buahan yang manis. Industri Di industri proses kimia, untuk menghasilkan produk tertentu secara efisien dan ekonomis, jalannya suatu proses harus dikontrol secara ketat. Terutama industri bioproses yang mengandalkan proses fermentasi. Di sini biosensor bisa berperan penting mnghasilkan informasi tentang konsentrasi suatu zat tertentu pada saat tertentu pada tempat tertentu dari reaktor. Misalnya pada industri tempe, sudah berapa banyak enzyme yang dihasilkan si saccharomyces, yang merepresentasikan berapa banyak tempe yang bisa diproduksi. Pertanian/Peternakan/Perikanan Saat ini di dunia pertanian/peternakan, sistem produksinya bisa dianggap sebagai suatu sistem yang open-loop (meminjam istilah ilmu kontrol). Kadar pupuk atau makanan ternak yang harus diberikan sudah ditentukan sebelumnya dengan frekuensi yang tertentu pula. Padahal, belum tentu kondisi di lapangan selalu tetap seperti kondisi di mana kadar-kadar tersebut ditentukan. Tempatnya ganti, tentu ada variasi. Jenis tanaman/ternaknya ganti, tentu ada variasi. Demikian pula terhadap cuaca dan iklim. Biosensor bisa diaplikasikan dalam suatu sistem kontrol loop tertutup untuk memberikan air/pupuk/makanan ternak pada saat memang dibutuhkan. Biosensor mngambil data tentang misalnya kadar zat tertentu dalam tumbuhan atau si binatang ternak. Kemudian informasi ini diteruskan ke prosesor dan aksi yang tepat ditetapkan dan diteruskan ke aktuator, misalnya penyiram air otomatis di sawah, dan lain-lain. Sistem pertanian/peternakan bisa dibuat lebih efisien. Perikanan bisa mengambil manfaat dari biosensor seperti misalnya untuk mengetahui tingkat "kesegaran" ikan. Lingkungan Hidup Seperti telah disinggung sebelumnya, biosensor dengan mikroba sebgai ujung tombak, telah diteliti untuk menentukan kadar BOD dalam air. Selain itu, kadar toxisitas tertentu dalam sungai juga bisa ditentukan. BAPEDAL pun tidak perlu bingung lagi. Militer/Hankam Di dunia pertahanan keamanan, aplikasi yang paling sering diteliti orang saat ini adalah untuk anti senjata (bio)-kimia. Dengan membuat antibodi yang spesifik terhadap bakteri anthrax, misalnya, yang kemudian diimmobilisasi pada suatu sistem transduksi yang

81

Seminar on Air - PPI Tokyo Institute of Technology 1999-2000 No1. Hal. 79-85

praktis, sistem biosensor ini bisa dibawa oleh setiap prajurit di medan tempur kimia-biologis. Demikian, antara lain beberapa prospek biosensor di dunia nyata. Melihat prospek-prospek itu, tentu saja Indonesia dapat mengambil keuntungan yang besar jika mau berkecimpung pula di dunia riset dan produksi biosensor.

NEW GENERATION BIOSENSOR PENDAHULUAN Setelah sebelumnya, saya menjelaskan tentang apa itu biosensor, bagaimana mekanisme kerjanya, dan aplikasinya. Mulai posting ini, saya akan menjelaskan apa yang selama ini sebagai kenkyusei, telah saya amati dari bidang ini, dan kemudian saya cari arah pengembangan barunya. Apa yang akan saya presentasikan ini, sudah saya buat proposal penelitiannya, dan saya ajukan ke sensei saya, tetapi alhamdulillah, belum mendapat persetujuan 100%. Insya Allah, akan saya perbaiki lagi. Tapi, paling tidak saya ingin membaginya dengan teman-teman sekalian, dan mengharapkan masukan dan ide dari rekan-rekan yg terhormat. LATAR BELAKANG Biosensor seperti yang telah dijelaskan sebelum ini, pada dasarnya memiliki teknologi yang lahir sejak kirakira 20-30 tahun yang lalu. Cukup tua, tapi bagi kita di Indonesia, masih baru. Teknologi biosensor yang ada sekarang, seperti kebanyakan teknologi di kimia dan ilmu analitik, mengandalkan pada fenomena ensemble dari molekul, atau grup dari molekul. Artinya informasi yang terambil adalah statistik dari perilaku molekulmolekul itu sebagai suatu grup. Misalnya enzim yang dipakai sebagai biomolekul adalah dalam konsentrasi beberapa mikro molar atau mili molar, yang berarti ada 10-6 mol/l atau sekitar 10+17 molekul dalam satu liter. Jika terjadi satu reaksi pada satu molekul saja, tentu saja tidak akan terlihat, karena probabilitas terlihatnya adalah satu dalam 10+17, amat kecil. Akhirnya secara statistik, perubahan itu diabaikan. Masih bingung? Ok, misal dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat atau DPR. Penentuan keputusan dinyatakan dengan suara terbanyak 'kan? Atau malah dengan mufakat. Padahal dalam penentuan keputusan itu, mungkin ada 1-2 atau 5 orang yang memiliki pendapat yg berbeda. Tapi, karena suara diwakilkan ke fraksi, atau kalau dihitung pun 5/1000 adalah amat kecil, maka pendapat mereka diabaikan (dianggap tidak berpengaruh), walaupun mungkin justru pendapat merekalah yang benar. Demikian pula dengan ensemble biomolekul di atas. Celakanya lagi, perata-rataan (averaging) secara statistik ini, pada biosensor tidak hanya terjadi di bagian depan (biomolekul), tapi juga terjadi di bagian

transdusernya. Kebanyakan transduser yang ada sekarang bekerja berdasarkan prinsip "averaging surface properties". Misal pada transduser optik "Surface Plasmon Resonance" (lihat gambar 2), walaupun transduser ini "katanya" sangat sensitif, tetapi kalau perubahan yang terjadi di atas permukaannya hanya 1-2 molekul saja, tidak akan terdeteksi. Repotnya lagi, transduser-transduser yang bekerja berdasarkan prinsip permukaan ini juga mendeteksi ikatan tidak spesifik karena adhesi (non-specific binding) sebagai derau/noise, padahal yang diinginkan hanyalah mendeteksi ikatan yang spesifik (enzim-substrat, antibodi-antigen).

Gambar 2. Prinsip Surface Plasmon Resonance Untuk itu diperlukan metodologi baru, terobosan baru dalam pensensingan.

Gambar 3. Prinsip One-to-one sensing

Gambar 4. Respon stokastik: cepat-sensitif Yang diperlukan dalam metode sensing baru, adalah bukan lagi mendeteksi secara ensemble tetapi mendeteksi molekul per molekul. Inilah yang dalam dunia kimia analitik ramai disebut "Single Molecule Detection". Bagaimana caranya agar reaksi yang terjadi di tiap molekulnya bisa dideteksi dan informasi ini pun diteruskan ke bagian berikutnya secara one-to-one pula. (Lihat gambar 3). Sensing yang terjadi pun bersifat diskrit, bukan sinyal kontinyu, tapi memiliki respon

82

Seminar on Air - PPI Tokyo Institute of Technology 1999-2000 No1. Hal. 79-85

yang sensitif, sekalipun stochastik. (Lihat gambar 4). Menurut saya, justru mekanisme sensing seperti inilah yang mendekati mekanisme sensing sesugguhnya pada makhluk hidup. Nah, bagaimana ini bisa diwujudkan dlm penelitian ini?? DESAIN dan KONSTRUKSI Desain dan konstruksi biosensor yang diusulkan adalah meniru sistem reseptor di biomembran sel makhluk hidup. Sistem reseptor, ion channel, dan bilayer membran sel inilah yang sehari-hari bekerja keras menerima "input" dari luar (berupa ligand-molekul yang harus dikenali), meneruskannya sebagai informasi dengan suatu sistem transduksi sinyal yang sangat cantik ke inti sel, untuk selanjutnya mengaktifkan protein yang men-switch aktivasi gene tertentu, transkripsi, dan translasi produksi protein dan enzime sebagai "output"/respon dari input yang diterima reseptor tadi. Secara diagram, sistem biosensor yang dibuat dengan konstruksi bilayer lipid membrane ini digambarkan di gambar 5. Lapisan lipid yang bawah di"tether" (disangga) dengan misalnya thiolalkane (SH-(CH2)nlipid) ke suatu alas, yang bisa berupa electrode (untuk pengukuran secara elektrokimia), atau suatu gelas/SiO2, untuk pengukuran optik, misalnya. Dengan memakai ligand-gated receptor-ion channel, adanya suatu ligand (sekalipun hanya satu molekul) yang terikat pada receptor akan menimbulkan perubahan alosteric/struktural pada ion channel, yang akan meneruskan ion (seperti Na+/K+) lebih banyak, seakan-akan seperti suatu amplifier. Perubahan aliran/fluks ion inilah yang bisa dideteksi secara elektrokimia, atau secara optik dengan "menanam" zat fluoresensi yang dapat dipengaruhi oleh beda potensial membran. (lihat gambar 6).

Gambar 6. Optical Ion-Channel Biosensor Selain dengan memakai receptor alami, dengan memodifikasi dimeric ion channel (seperti gramycidin) dengan antibodi, suatu reaksi antibodi-antigen akan "menggerakkan" (nanomachine) komponen gramycidin bagian atas, dan memblok aliran ion. Perubahan fluks ion ini bisa dideteksi dengan elektrokimia atau optik. (Lihat gambar 7)

Gambar 7. Ion-Channel Biosensor Yang menjadi masalah, adalah untuk bisa meneruskan informasi itu per molekul, dibutuhkan konstruksi yang khusus pula dari transdusernya. Seperti, untuk mendeteksi secara elektrokimia per molekul, dibutuhkan elektrode dengan dimensi beberapa puluh nm. Dan untuk mendeteksi secara optik, dibutuhkan pula teknik deteksi seperti SNOM (Scanning Near Field Optical Microscopy), atau near field optics lainnya. Gambar 5. Bilayer Lipid Membrane Biosensor Karena itu, mungkin proposal ini belum disetujui 100% hehe.

83

Seminar on Air - PPI Tokyo Institute of Technology 1999-2000 No1. Hal. 79-85

EXPERIMENT PLAN METODE Rencana eksperimen yang akan dilakukan adalah spt yang tergambar di gambar 8. Di situ saya tulis ada beberapa masalah teknikal yang harus diatasi: 1. Menaruh molekul-molekul itu secara rapi dan teratur; 2. Deteksi dengan Linear Optical reaksi yang terjadi, 3. Deteksi dengan Non Linear Optik.

Gambar 10. Langkah pembuatan array reseptor Demikian secara singkat rencana eksperimennya. KESIMPULAN Demikianlah apa yang setidaknya telah saya pelajari dan rencanakan semasa menjadi kenkyuusei (research student) di TIT ini. Jelas, insya Allah, bidang biosensor ini memiliki banyak aplikasi yang dapat diterapkan di Indonesia. DISKUSI Rahmat Widyanto: Just Curious, bisa nggak kira-kira untuk suatu aplikasi bisosensor, dibuat electronic sensornya ? to any application apa saja. If it could be made, so what is the weaknesses of electronic sensor comparing to biosensor and vice versa ? Dedy Wicaksono: Maksud Pak Rahmat dengan electronic sensor itu, apakah sensor biasa yang tidak memakai biomolekul? Jika itu yang dimaksud, maka jawabannya ya dan tidak. Maksud saya, untuk beberapa aplikasi memang biosensor bisa digantikan dengan perangkat analitik elektronik biasa. Tapi biasanya analisisnya tidak "to the point". Biasanya kalau dalam bentuk alat analitik elektronik, maka informasi yang didapat adalah spektrum.

Gambar 8. Rencana eksperimen Untuk membuat suatu array seperti yang ditunjukkan gambar 9, langkah eksperimen yang diusulkan adalah seperti yang tergambar di gambar 10. 1. substrat disiapkan (Au atau gelas) 2. dengan prinsip Self Assembled Monolayer, dibuat pattern di atas substrat, dan di situ, biomolekul reseptor-ion channel diimmobilisasi. 3. dengan prinsip Self Assembly juga, bilayer lipid membrane dibuat di atas substrat yang melingkupi reseptor-reseptor itu. Sebelumnya larutan membran dimodifikasi dengan zat fluoresensi yg dapat dipengaruhi beda potensial membran.

Gambar 9. Array reseptor

84

Seminar on Air - PPI Tokyo Institute of Technology 1999-2000 No1. Hal. 79-85

Contohnya pada Infra-red visual spectrophotometer, atau Raman spectrometer, dll. Untuk menganalisis dan mengenali molekul jenis biasa seperti molekul organik dengan berat molekul yang kecil, memang dengan spektrum bisa langsung didapat hasilnya. Tapi, untuk biomolekul yang rumit, misal mensensing protein tertentu, dengan spektrometer didapat data yang amat rumit karena si protein terdiri atas banyak rentetan asam amino dengan masing-masing punya gugus-gugus kimia tersendiri. Dengan biosensor, untuk mendeteksi protein ini cukup dengan misalnya membuat antibodi yang bisa langsung mengenali struktur protein tersebut. Kelebihan biosensor karena dia mengandalkan biomolekul dan atau bio-mimetic molekul, adalah builtin intelligence untuk mengenali molekul tertentu secara langsung. Kelemahan biosensor adalah stabilitas biomolekul itu yang mungkin tidak sestabil komponen elektroniknya. Karena itu, yang sering dibuat adalah biosensor sekali pakai yang murah. REFERENSI Beberapa paper penting yang menjadi acuan utamarencana riset biosensor saya adalah sebagai berikut: 1. B.A. Cornell, et. al. 1997. A biosensor that uses ionchannel switches. Nature. 387. pp. 580-583. 2. B. Raguse, et. al. 1998. Tethered lipid bilayer membranes: formation and ionic reservoir characterization. Langmuir. 14. 648-659. 3. L. Gu, et. al. 1999. Stochastic sensing of organic analytes by a pore-forming protein containing a molecular adapter. Nature. 398. pp. 686-690. 4. H. Bayley. 1999. Designed membrane channels and pores. Current Opinion in Biotechnology. 10. pp. 94-103. 5. Y. Xia and G.M. Whitesides. 1998. Soft Lithography. Angew. Chem. Int. Ed. 37. pp. 550-575. 6. R. D. Piner, et. al. 1999. Dip-Pen Nanolithography. Science. 283. pp. 661-663. Untuk biosensor secara umum, bisa mengikuti dari jurnal Biosensor and Bioelectronics yang diterbitkan oleh Elsevier Science.

PERKENALAN DENGAN PRESENTER Nama: Dedy Hermawan Bagus Wicaksono Tempat, tgl Lahir: Surabaya, 20-8-1974 Alamat di Indonesia: Jl. Menur I/29 Surabaya 60118 Alamat di Jepang: T215-0023, Kawasaki-shi Asao-ku Katahira 5-11-11 Amikura-sou 11 telp. 090-63009482 email address: dedyhbw@lycos.com dedyhbw@yahoo.com dedy@bio.titech.ac.jp Riwayat Pendidikan: 1981- 1987 : SDN Ketabang III No. 290 Surabaya. 1987- 1990 : SMP Negeri 1 Surabaya 1990- 1993 : SMA Negeri 5 Surabaya 1993- 1998 : Jurusan Teknik Fisika Insitut Teknologi Bandung, Sarjana Teknik 1998- 1999 : Kokusai Kotoba Gakuin (Bahasa Jepang) Okt 1999 - .: Research Student (Kenkyusei) di AizawaKobatake Lab, Dept. of Biological Information, Grad. School of Bioscience and Biotechnology, TIT Riwayat Kerja: 1997-1998 : asisten mata kuliah dan praktikum di Teknik Fisika, dan asisten proyek dosen di Lab Bahan Teknik Fisika 1998 (Mei-Agu): arubaito buruh di Pabrik Pengepakan Kertas TAmiya, Shizuoka 1998(Agu)-1999 (Sept): arubaito buruh di Pabrik Komponen Mekanik Suruga Seiki Kabushiki Kaisha 2000 : arubaito di Gaimusho Kenshujo Minat Penelitian: Biosensor, Molecular Nanotechnology, Biomolecular electronic and photonic. KESAN dan PESAN TERHADAP ZOA Zoa sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan menulis dan mempresentasikan hasil penelitian. Tapi partisipasi anggota PPI harus lebih aktif. Khususnya memberi masukan dari berbagai sudut kepada penyaji menurut latar belakang keahlian masingmasing.

85