Anda di halaman 1dari 8

FILSAFAT PANCASILA 1.

1 Pengertian Filsafat Pancasila Secara etimologis, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philcin yang berarti cinta dan sophos yang berarti kebijaksanaan. Jadi filsafat berdasar asal katanya berarti cinta pada kebijaksanaan, cinta dalam arti yang luas sebagai keinginan sungguh-sungguh terhadap sesuatu, sedangkan kebijaksanaan dapat diartikan sebagai kebenaran sejati. Oleh karena itu, secara sederhana pemahaman filsafat adalah keinginan yang sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran sejati. Menurut Notonegoro (1975), pengertian filsafat Pancasila mempunyai sifat mewujudkan ilmu filsafat yaitu, ilmu yang memandang Pancasila dari sudut hakikat. Pengertian hakikat adalah unsur-unsur yang tetap dan tidak berubah pada suatu objek. Sifat tidak berubah akan terlepas dari perubahan keadaan, tempat, dan waktu yang disebut pengertian hakikat abstrak. Pengertian hakikat abstrak dimungkinkan atau bahkan diharuskan pada rumusan sila-sila Pancasila. Secara etimologis, kata ideologi juga berasal dari bahasa Yunani, idea yang berarti gagasan atau cita-cita dan logos yang berari ilmu sebagai hasil pemikiran. Jadi secara sederhana pemahaman ideologi adalah suatu gagasan atau cita-cita yang berdasarkan hasil pemikiran. Sedangkan dalam arti luas ideologi dapat diartikan sebagai keseluruhan cita-cita, keyakinan, dan nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi sebagai pedoman. Dalam arti sempit ideologi diartikan sebagai gagasan atau teori yang menyeluruh tentang makna hidup dan nilai-nilai yang menyeluruh tentang makna hidup dan nilai-nilai yang hendak menentukan dengan mutlak bagaimana manusia harus berpikir, bersikap, dan bertindak. Pancasila sebagai ideologi diartikan sebagai, keseluruhan pandangan, cita-cita, dan keyakinan bangsa Indonesia mengenai sejarah, masyarakat, hukum, dan Negara Indonesia sebagai kristalisasi nilai-nilai yang sudah ada di Bumi Indonesia bersumber pada adatistiadat, budaya, agama, dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
1.2 Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

Bangsa Indonesia sebelum mendirikan Negara Indonesia sudah memiliki nilai-nilai luhur yang diyakini sebagai suatu pandangan hidup, jiwa, dan kepribadian dalam pergaulan. Nilai-nilai luhur yang diyakini, sebagi suatu pandangan hidup yang berkembang dalam masyarakat Indonesia sebelum bernegara itulah yang kemudian oleh para pendiri Negara digali kembali, ditemukan, dirumusskan, dan selanjutnya disepakati dalam rapat BPUPKI

sebagai dasar filsafat Negara (filosofische grondslag) dari Negara yang akan didirikan. Nilainilai luhur yang diyakini sebagai suatu pandangan hidup masyarakat Indonesia itu terdiri atas nilai keimanan dan ketaqwaan, nilai keadilan dan keberadaban, nilai persatuan dan kesatuan, nilai mufakat, dan nilai kesejahteraan. Nilai-nilai luhur tersebut kemudian disepakati oleh para pendiri Negara sebagai dasar filsafat Negara Indonesia merdeka yang oleh Ir. Soekarno diusulkan sebagai Pancasila. Pancasila adalah filksafat Negara yang lahir sebagai cita-cita bersama dari seluruh bangsa Indonesia. Dikatakan sebagai filsafat, karena Pancasila merupakan hasil perenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan oleh para pendiri Negara. Dalam pengertian inilah maka sebelum masyarakat Indonesia menjadi bangsa yang bernegara, nilai-nilai luhur Pancasila telah menjadi bagian dari kehidupan pribadi masyarakatnya. Nilai-nilai Pancasila itu lalu dikembangkan dan dilembagakan sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia dan juga dilembagakan sebagaipandangan hidup Negara. Pandangan hidup bangsa dapat disebut sebagai ideologi dan pandangan hidup Negara dapat disebut sebagai ideologi Negara. 1. Dasar Ontologis Ontologi adalah cabang filsafat yang mengkaji tentang hakikat segala sesuatu yang ada atau untuk menjawab pertanyaan apakah kenyataan itu. Pancasila terdiri dari lima lima sila yang saling mengikat, sedangkan subjek pendukung pokok Pancasila adalah manusia. Secara filsafat, Pancasila merupakan dasar filsafat Negara. Oleh karena itu, pendukung pokok Negara adalah rakyat dan unsur rakyat adalah manusia. Dengan demikian, hakikat dasar ontologism sila-sila Pancasila adalah manusia. Manusia sebagai subjek hukum utama dan sila-sila Pancasila secara ontologis memiliki hakikat mutlak monopluralis, yaitu memiliki susunan kodrat : jiwa dan raga; rohani dan jasmani, sifat kodrat mahkluk individu dan mahkluk social, dan kedudukan kodrat : makhluk pribadi dan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Maka dari itu, secara hierarkis sila pertama mendasari dan menjiwai keempat sila Pancasila (Kaelan, 2003).
2.

Pancasila sebagai system filsafat memiliki dasar

ontologism, dasar epsitomologis, dan dasar aksiologis.

Dasar Epistomologis Epistomologis adalah cabang filsafat yang mengkaji tentang apakah kebenaran atau

apakah hakikat ilmu pengetahuan. Upaya untuk mendapatkan jawaban tentang kebenaran dilakukan pembuktian melalui ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kajian epistomologis filsafat Pancasila dimaksudkan sebagai upaya untuk mencari hakikat Pancasila sebagai suatu system pengetahuan. Oleh karena hakikat dasar ontologis Pancasila adalah manusia, maka kajian epistomologis Pancasila tidak dapat dipisahkan dengan dasar ontologisnya.

Ada tiga persoalan mendasar dalam kajian epistomologis, yaitu (1) tentang sumber pengetahuan manusia; (2) tentang teori kebenaran pengetahuan manusia; (3) tentang watak pengetahuan manusia. Pancasila sebagai objek kajian epistomologis mencakup peersoalan sumber dan susunan pengetahuan Pancasila. Sumber Pengetahuan Pancasila adalah nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia sendiri yang dirumuskan oleh wakil-wakil bangsa Indonesia ketika mendirikan Negara. Hal ini berarti bahwa nilai-nilai tersebut menjadi kausa materialis Pancasila.oleh karena sumber pengetahuan Pancasila adalah manusia Indonesia dengan nilai-nilai yang dimiliknya (adatistiadat, budaya, dan religious) maka antara manusia Indonesia sebagai pendukung sila-sila Pancasila dan Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan terdapat kesesuaian yang bersifat korespondensi. Pancasila sebagai suatu sistem susunan pengetahuan memiliki susunan bersifat normal logis baik dalam arti susunan sila-sila Pancasila maupun isi arti sila-sila Pancasila. Susunan kesatuan sila-sila Pancasila bersifat hirarkis dan berbentuk pyramidal, dimana (1) sila pertama Pancasila mendasari dan menjiwai keempat sila lainnya; (2) sila kedua dijiwai oleh sila pertama serta mendasari dan menjiwai sila ketiga, keempat, dan kelima; (3) sila ketiga dijiwai oleh sila pertama dan kedua serta mendasari dan menjiwai sila keempat dan kelima; (4) sila keempat dijiwai sila pertama, kedua, dan, ketiga serta mendasari dan menjiwai sila kelima; (5) sila kelima dijiwai oleh sila pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Sebagai suatu paham epistomologis, Pancasila mendasarkan pandangan bahwa ilmu pengetahuan pada hakikatnya tidak bebas nilai karena harus diletakkan pada kerangka moralitas kodrat manusia serta moralitas religious dalam upaya untuk mendapatkan suatu tingkatan pengetahuan dalam hidup manusia. Itulah sebabnya Pancasila dalam kajian epistomologis harus menjadi dasar moralitas bangsa dalam membangun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Syarbaini, 2006). 3. Dasar Aksiologis Aksiologi adalah cabang ilmu filsafat yang mengkaji tentang nilai praktis atau manfaat suatu pengetahuan. Kajian aksiologi filsafat Pancasila pada hakikatnya mengkaji tentang nilai praktis atau manfaat suatu pengetahuan tentang Pancasila. Karena sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat memiliki satu kesatuan dasar aksiologis, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakikatnya juga merupakan satu kesatuan. Dengan demikian, dasar aksiologis Pancasila mengandung arti bahwa pembahasan tertuju pada filsafat nilai Pancasila.

1.3

Asal Mula Pancasila Sebagai Ideologi Asal mula terbenntuknya Pancasila sebagai ideologi bangsa dan Negara Indonesia

dapat ditelusuri dari proses pembentukannya, yaitu: 1. Kausa Materialis Pancasila yang ada sekarang menjadi ideologi Negara bersumber pada bangsa Indonesia. Artinya bangsa Indonesia sebagai kausa materialis (asal mula bahan) daari adanya Pancasila. 2. Kausa Formalis Kausa formalis (asal mula bentuk) Pancasila sebagai ideologi Negara merujuk kepada bagaimana proses Pancasila itu dirumuskan menjadi Pancasila yang terkandung pada pembukaan UUD 1945, yaitu berasal mula bentuk pada pidato Ir.Soekarno yang selanjutnya dibahas dalam sidang BPUPKI khususnya bentuk rumusan dan nama. 3. Kausa Efisien Kausa efisien adalah asal mula karya yang menjadikan Pancasila dari calon ideologi Negara menjadi ideologi Negara yang sah. Asal mula karya Pancasila menjadi ideologi Negara adalah PPKI yang berperan sebagai pembentuk Negara. Sebagai pemegang kuasa pembentuk Negara, PPKI mengesahkan Pancasila menjadi ideologi Negara yang sah setelah melalui pembahasan mendalam pada sidang BPUPKI. 4. Kausa Finalis Kausa finalis (asal mula tujuan) mewujudkan Pancasila sebagai ideologi Negara yang sah adalah para anggota BPUPKI dan panitia Sembilan. 1.4 1.4.1 Hakikat dan Fungsi Ideologi Pancasila Hakikat Ideologi Pancasila Pada hakikatnya ideologi Pancasila tidak lain adalah refleksi bangsa Indonesia terkait kemampuannya terhadap dunia kehidupannya. Antara keduanya, yaitu ideologi dan kenyataan hidup bangsa terjadi hubungan dialektis, sehingga berlangsung pengaruh timbale balik yang terwujud dalam interaksi yang disatu pihak memacu ideologi makin realistis dan dilain pihak mendorong bangsa Indonesia untuk terus berusaha mendekati bentuk yang ideal. 1.4.2 Fungsi Pancasila Sebagai Ideologi Negara Pancasila sebagai ideologi Negara memberikan orientasi yang lebih eksplisit, lebih terarah kepada keseluruhan sistem masyarakat dalam beerbagai aspeknya dan dilakukan dengan cara dan penjelasan yang lebih logis dan sistematis.

Pancasila sebagai ideologi Negara berawal dalam fungsinya sebagai pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia kemudian oleh para pendiri Negara prinsip-prinsip dasarnya dieksplisitasi lebih lanjut ke dalam kondisi hidup modern dan dibersihkan dari unsur-unsur magis atau mistik agar mampu memberikan orientasi yang jelas dalam mencapai tujuan dan memecahkan persoalan yang dihadapi. 1.5 1.5.1 adalah, a. Kenyataan bahwa dalam proses pembangunan Nasional, dinamika masyarakat Indonesia berkembang dengan sangat cepat sehingga memerlukan kejelasan sikap secara ideologis. Contohnya dalam menyikapi globalisasi ekonomi. b. c. d. Kenyataan menunjukkan bahwa bangkrutnya ideologi tertutup seperti komunisme cenderung mengisolasi diri dari perkembangan lingkungan sekitarnya. Pengalaman sejarah politik Indonesia masa lalu, seperti pada waktu besarnya pengaruh komunisme, Pancassila pernah menjadi doktrin yang kaku. Tekad untuk membangkitkan kembali kesadaran Indonesia terhadap nilai-nilai dasar Pancasila yang bersifat abadi dan hasrat mengembangkannya secara kreatif dan dinamis dalam rangka mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional. 1.5.2 Tiga Dimensi Ideologi Pancasila Pancasila sebagai ideologi memiliki dimensi-dimensi realistis, idealistis, dan fleksibilitas. a. Dimensi Realistis Nilai yang terkandung dalam Pancasila bersumber dari nilai-nilai yang riil dan hidup didalam masyarakat sehingga nilai-nilai dasar ideologi Pancasila yang tertanam dan berakar dalam masyarakat. Ideologi Pancasila bersumber pada pandangan hidup yang terpelihara dalam aadaat-istiadat, budaya, agama, dan kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha Esa. b. Dimensi Idealistis Ideologi Pancasila mengandung cita-cita yang ingin dicapai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka Prinsip dan Faktor Pendorong keterbukaan Pancasila Ada beberapa faktor yang mendorong Pancasila sebagai ideologi terbuka antara lain

c.

Dimensi Fleksibilitas Ideologi Pancasila bersifat terbuka dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia sebab memiliki kemampuan berinteraaksi dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan pemikiran-pemikiran baru yang relevan dengan perubahan dan kemajuan jaman.

1.5.3 a.

Tingkatan Nilai Ideologi Pancasila Ada tiga tingkatan nilai dalam ideologi Pancasila yaitu,

Nilai Dasar Nilai atau norma dasar Pancasila merupakan wujud dari isi srti Pancasila yang abstrak umum universal, bersifat tiidak berubah, tidak terikat dengan tempat dan waktu.

b.

Nilai Instrumental Nilai instrumental menjadi sarana dalam mewujudkan nilai dasar. Nilai instrumental merupakan wujud dari isi arti Pancasila yang umum kolektif, penetapannya secara kontekstual disesuaikan dengan tuntutan jaman, akan terkristalisasi dalam lembagalembaga yang sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu.

c.

Nilai Praktis Nilai praktis merupakan wujud ari isi arti Pancasila yang khusus kongkrit. Nilai praktis merupakan wahana pelaksanaan nilai dasar dan instrumental secara yang sesungguhnya. Nilai praktis sebagai wahana untuk menunjukkan bahwa nilai dasar berfungsi dalam kehidupan sebagai sarana mengevaluasi atas keberhassilan atau kegagalan pelaksanaan nilai dasar dalam sesuatu bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

TUGAS PENDIDIKAN PANCASILA FILSAFAT PANCASILA

Oleh: Ngakan Made Purnama Yasa (0704105049)

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Udayana Bukit Jimbaran 2010