Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional 2007

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb. Puji syukur kepada Allah SWT kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karuniaNYA, kita bisa menyelesaikan Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang kita persiapkan sejak tahun 2006 dan dilaksanakan pada tahun 2007 di 28 provinsi dan tahun 2008 di 5 provinsi wilayah Indonesia Timur. Perencanaan Riskesdas dimulai tahun 2008, dimulai oleh tim kecil yang berupaya menuangkan gagasan dalam proposal sederhana, kemudian secara bertahap dibahas tiap Kamis-Jum’at di Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor. Pembahasan juga dilakukan dengan para pakar kesehatan masyarakat, para perhimpunan dokter spesialis, para akademisi dari Perguruan Tinggi termasuk Poltekkes, lintas sektor khususnya Badan Pusat Statistik, jajaran kesehatan di daerah dan tentu saja seluruh peneliti Balitbangkes sendiri. Dalam setiap rapat atau pertemuan, selalu ada perbedaan pendapat yang terkadang sangat tajam, terkadang disertai emosi, namun didasari niat untuk menyajikan yang terbaik bagi bangsa. Setelah cukup matang, dilakukan uji coba bersama BPS di Kabupaten Bogor dan Sukabumi untuk menghasilkan penyempurnaan instrumen penelitian. Selanjutnya bermuara pada “launching” Riskesdas oleh Menteri Kesehatan pada tanggal 6 Desember 2006. Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas dilakukan dua tahap, tahap pertama dimulai pada awal Agustus 2007 sampai dengan Januari 2008 di 28 provinsi, tahap kedua pada Agustus-September 2008 di 5 propinsi (NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat). Kami mengerahkan 5.619 enumerator, seluruh (502) peneliti Balitbangkes, 186 dosen Poltekkes, Jajaran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, Labkesda dan Rumah Sakit serta Perguruan Tinggi. Untuk kesehatan masyarakat, kami berhasil menghimpun data dasar kesehatan dari 33 provinsidan dan 440 kabupaten/kota. Untuk biomedis, berhasil menghimpun 36,357 spesimen dari sampel anggota rumah tangga usia satu tahun keatas yang berasal dari 540 blok sensus perkotaan di 270 kabupaten/kota terpilih. Proses editing, entry, dan data cleaning sebagai bagian dari manajemen data Riskesdas dimulai pada awal Januari 2008, yang secara paralel dilakukan pula pembahasan rencana pengolahan dan analisis. Proses manajemen data, pengolahan dan analisis ini sungguh memakan waktu, stamina dan pikiran, sehingga tidaklah mengherankan bila diwarnai dengan protes, dari sindiran melalui jargon-jargon Riskesdas sampai protes keras. Kini kami menyadari, telah tersedia data dasar kesehatan yang meliputi seluruh kabupaten/kota di Indonesia meliputi hampir seluruh status dan indikator kesehatan termasuk data biomedis, yang tentu saja amat kaya dengan berbagai informasi di bidang kesehatan. Kami berharap data itu bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk para peneliti yang sedang mengambil pendidikan master dan doktor. Kami memperkirakan akan muncul ratusan doktor dan ribuan master dari data Riskesdas ini. Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf Balitbangkes, rekan sekerja dari BPS, para pakar dari Perguruan Tinggi, para dokter spesialis dari Perhimpunan Dokter Ahli, Para Dosen Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh enumerator serta semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan Riskesdas. Simpati mendalam disertai doa kami haturkan kepada mereka yang mengalami kecelakaan sewaktu melaksanakan Riskesdas, termasuk mereka yang wafat selama Riskesdas dilaksanakan.

i

Kami telah berupaya maksimal, namun sebagai langkah perdana pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan Riskesdas ke-2 yang Insya Allah akan dilaksanakan pada tahun 2010 nanti. Billahit taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb.

Jakarta, Desember 2008
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

Dr. Triono Soendoro, PhD

ii

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan bimbinganNya, Departemen Kesehatan saat ini telah mempunyai indikator dan data dasar kesehatan berbasis komunitas, yang mencakup seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dihasilkan melalui Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas. Riskesdas telah menghasilkan serangkaian informasi situasi kesehatan berbasis komunitas yang spesifik daerah, sehingga merupakan masukan yang amat berarti bagi perencanaan bahkan perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terarah, lebih efektif dan lebih efisien. Selain itu, data Riskesdas yang menggunakan sampling Susenas Kor 2007, menjadi lebih lengkap untuk mengkaitkan dengan data dan informasi sosial ekonomi rumah tangga. Saya minta semua pelaksana program untuk memanfaatkan data Riskesdas dalam menghasilkan rumusan kebijakan dan program yang komprehensif. Demikian pula penggunaan indikator sasaran keberhasilan dan tahapan/mekanisme pengukurannya menjadi lebih jelas dalam mempercepat upaya peningkatan derajat kesehatan secara nasional dan daerah. Saya juga mengundang para pakar baik dari Perguruan Tinggi, pemerhati kesehatan dan juga peneliti Balitbangkes, untuk mengkaji apakah melalui Riskesdas dapat dikeluarkan berbagai angka standar yang lebih tepat untuk tatanan kesehatan di Indonesia, mengingat sampai saat ini sebagian besar standar yang kita pakai berasal dari luar. Dengan berhasilnya Riskesdas yang baru pertama kali dilaksanakan ini, saya yakin untuk Riskesdas dimasa mendatang dapat dilaksanakan dengan lebih baik. Karena itu, Riskesdas harus dilaksanakan secara berkala 3 tahun sekali sehingga dapat diketahui pencapaian sasaran pembangunan kesehatan di setiap wilayah, dari tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun nasional. Untuk tingkat kabupaten/kota, perencanaan berbasis bukti akan semakin tajam bila keterwakilan data dasarnya sampai tingkat kecamatan. Oleh karena itu saya menghimbau agar Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota ikut serta berpartisipasi dengan menambah sampel Riskesdas agar keterwakilannya sampai ke tingkat Kecamatan. Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada para peneliti Balitbangkes, para enumerator, para penanggung jawab teknis dari Balitbangkes dan Poltekkes, para penanggung jawab operasional dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, jajaran Labkesda dan Rumah Sakit, para pakar dari Universitas dan BPS serta semua yang teribat dalam Riskesdas ini. Karya anda telah mengubah secara mendasar perencanaan kesehatan di negeri ini, yang pada gilirannya akan mempercepat upaya pencapaian target pembangunan nasional di bidang kesehatan. Khusus untuk para peneliti Balitbangkes, teruslah berkarya, tanpa bosan mencari terobosan riset baik dalam lingkup kesehatan masyarakat, kedokteran klinis maupun biomolekuler yang sifatnya translating research into policy, dengan tetap menjunjung tinggi nilai yang kita anut, integritas, kerjasama tim serta transparan dan akuntabel. Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

iii

Jakarta, Desember 2008

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K).)

iv

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 berhasil mengumpulkan sebanyak 258. dan 17. Khusus untuk lima provinsi (Papua. Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh pelosok Republik Indonesia. Untuk tes cepat yodium. provinsi dan kabupaten/kota. tekanan darah.473 sampel anak berumur 6-12 tahun yang tinggal di 30 kabupaten/kota dengan berbagai kategori tingkat konsumsi yodium. Penyakit menular. Riskesdas 2007 juga mengumpulkan 36. 10. 12.205 sampel anggota rumah tangga untuk pengukuran berbagai variabel kesehatan masyarakat. Akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. sementara 28 provinsi lainnya telah selesai dilaksanakan pada tahun 2007. Pengukuran biomedis. Mortalitas. Imunisasi dan pemantauan pertumbuhan. dirumuskan tujuan antara lain yaitu penyediaan data dasar status kesehatan dan faktor penentu kesehatan. Papua Barat. 7. Disain Riskesdas 2007 merupakan survei cross sectional yang bersifat deskriptif. merepresentasikan gambaran wilayah nasional. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error. 3. Maluku Utara dan NTT) baru dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2008. berhasil dikumpulkan sebanyak 19. Maluku. relative standard error. 11. Disabilitas. Hasil pemeriksaan biomedis akan dilaporkan tersendiri. Status gizi. lingkar perut dan lingkar lengan atas. 6.RINGKASAN A. Konsumsi makanan. 14. Khusus untuk pengukuran gula darah. blok sensus tidak terjangkau. Sanitasi lingkungan. Pemeriksaan visus. 13.366 sampel rumah tangga dan 987. 8. berhasil dilakukan pengukuran pada 8. 4. rumah tangga tidak dijumpai. 2. Kesehatan mental. Kesehatan bayi. v . Bagaimana status kesehatan dan faktor penentu kesehatan. 9. estimasi tingkat kabupaten tidak bisa berlaku untuk semua indikator. confidence interval. Ringkasan Eksekutif Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 merupakan salah satu wujud pengejawantahan dari 4 (empat) grand strategy Departemen Kesehatan. Keterbatasan Riskesdas mencakup non-random error antara lain: pembentukan kabupaten baru.065 sampel rumah tangga. Berbagai autopsi verbal peristiwa kematian. Pemeriksaan gigi. Apakah terdapat masalah kesehatan yang spesifik? Untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut. berhasil dilakukan pengukuran pada 257. dengan ruang lingkup sebagai berikut: 1. 2. Ketanggapan pelayanan kesehatan. yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based melalui pengumpulan data dasar dan indikator kesehatan. Pengetahuan. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2007 dirancang identik dengan daftar sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Susenas 2007. sedangkan untuk pengukuran yodium di dalam urin. Pengukuran anthropometri. baik di tingkat nasional. dan data biomedis yang hanya mewakili blok sensus perkotaan. penyakit tidak menular dan riwayat penyakit keturunan. sikap dan perilaku. dan 3. baik di tingkat rumah tangga maupun tingkat individual. Bagaimana hubungan antara kemiskinan dan kesehatan. Pertanyaan penelitian yang menjadi dasar pengembangan Riskesdas 2007 adalah: 1. 15.357 sampel untuk pengukuran berbagai variabel biomedik dari anggota rumah tangga yang berumur lebih dari 1 tahun dan bertempat tinggal di desa/kelurahan dengan klasifikasi perkotaan.114 sampel yang diambil dari anggota rumah tangga berusia lebih dari 15 tahun. provinsi dan kabupaten/kota. design effect dan jumlah sampel tertimbang menyertai setiap estimasi variabel. 16. periode waktu pengumpulan data yang berbeda. 5. Indikator yang dihasilkan berupa antara lain status kesehatan dan faktor penentu kesehatan yang bertumpu pada konsep Henrik Blum.

0%). ditimbang 1-3 kali dan yang tidak pernah ditimbang berturut-turut adalah 45.penggunaan oralit sudah di atas 50%.4%) ditemukan pada 21 provinsi dan 216 kabupaten/kota. sembilan kali lebih besar dari prevalensi nasional atau 145 kali lebih besar dari prevalensi yang terendah. sedangkan di perdesaan yang dominan adalah dukun bersalin (45. Riskesdas 2007 menggambarkan kesadaran masyarakat untuk berobat dan akses terhadap obat malaria program secara nasional sebesar 47. campak (81. obese dan penyakit jantung dengan status sosial ekonomi masyarakat (pendidikan. Untuk diare.5% pada 2015. misalnya prevalensi gizi buruk yang berada diatas rerata nasional (5. target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi yang diproyeksikan sebesar 20%. Demikian halnya vi . Namun demikian.7%). penelusuran hubungan kausal-efek.Seluruh hasil Riskesdas ini bermanfaat sebagai asupan dalam pengembangan kebijakan dan perencanaan program kesehatan. Penolong persalinan yang dominan di perkotaan adalah bidan (61.18%. proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11.5%) dan kuintil 5 (33. PMT (45. kecuali pada kelompok balita –di mana prevalensinya tertinggi. telah dapat dicapai pada 2007. Secara keseluruhan. Maluku. cakupan imunisasi pada anak usia 12 – 23 bulan menurut jenisnya yang tertinggi sampai terendah adalah untuk BCG (86.9%).1%) dibanding kuintil 1 (4. tidak berkaitan dengan tingkat sosial ekonomi (kuintil pengeluaran) seperti pada kuintil 1 (30. dan pemodelan statistik.1%).1%. Riskesdas menghasilkan berbagai peta masalah kesehatan.3%). Secara keseluruhan.0%). kemiskinan.5%).8%).5%.6%).7%.1%) dan penimbangan berat badan ibu (94.9%). pengobatan (41.4%).7%) dan terendah hepatitis B (62. 29. dan ibu hamil yang memeriksaan kehamilan sebanyak 84. Selain itu. Penyakit hipertensi misalnya. Dengan 900 variabel. Khusus untuk provinsi Nusa Tenggara Timur. Dari pemetaan penyakit menular. Sedangkan berdasarkan gabungan hasil pengukuran Gizi Buruk dan Gizi Kurang Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional sebesar 18. Maluku Utara.3%.417 orang (usia > 15 tahun) menunjukkan gambaran lebih tinggi pada kuintil 5 (7.5%. balita yang ditimbang secara rutin (4 kali atau lebih).7%).8%). tampak keberhasilan program pengendalian malaria di Jawa-Bali (prevalensi <0. walaupun beberapa provinsi sudah menunjukkan tingkat pengobatan malaria dalam 24 jam pertama cukup tinggi. strok. Sedangkan jenis pemeriksaan kehamilan yang jarang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan hemoglobin (33. Untuk mencegah penyebaran malaria diperlukan program pengobatan yang cepat dan tepat. maka hasil Riskesdas 2007 telah dan dapat digunakan antara lain untuk pengembangan riset dan analisis lanjut. Di lain pihak. Papua Barat dan Papua ditemukan sebanyak 60% melahirkan bayinya di rumah. DPT tiga kali (67. dan 25. polio tiga kali (71.6%). dan mulai banyak dijumpai pada kelompok usia muda 15 – 17 tahun (8.14%. dan target Millenium Development Goals sebesar 18. yaitu 0. Sedangkan kegiatan di posyandu untuk pemberian suplemen gizi (47. melainkan pada kelompok dewasa muda (25-34 tahun). Hasil utama Riskesdas 2007 menggambarkan hubungan penyakit degeneratif seperti sindroma metabolik.4%.2%) dan imunisasi (55. ketimpangan juga terlihat jelas dengan adanya prevalensi malaria yang mencapai 26.4%. contohnya demam berdarah dengue. yang prevalensi tertinggi tidak lagi dijumpai pada anak-anak. penggunaan oralit dalam 24 jam pertama juga masih di bawah 50%.8%) dan pemeriksaan urine (36.8%). dll). Pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan tekanan darah (97. pengembangan nilai standar baru berbagai indikator kesehatan. Posyandu merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi untuk penimbangan balita yaitu sebesar 78. hipertensi.5% (berdasarkan catatan yang ada). Sebaliknya patut diduga penyakit diabetes yang diambil dari 356 kab/kota daerah perkotaan mencakup 24. Riskesdas 2007 juga memperlihatkan perubahan epidemiologis penyakit.

6%.2% menurut SKRT 2001.9%) dan premature (32. Sedangkan untuk penyebab kematian anak balita sama dengan bayi.0%). Sumatera Utara. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita tertinggi berturut-turut adalah Aceh Tenggara (48. B. Dari ketanggapan rawat inap.2%) dan pnemonia (15. Bantul • vii . maupun target Millenium Development Goals pada 2015 (18. Tidak ada perbedaan perilaku merokok antara status sosial ekonomi rendah dan tinggi. dan Buru (37.2%). Kalimantan Barat.9%).9% (Riskesdas. Sulawesi Tengah. Simeulue (39.7%).9%). sedangkan untuk usia (728 hari) penyebab kematian yang terbanyak adalah sepsis neonatorum (20.4% (Riskesdas. Sulawesi Barat. Tapanuli Utara (38. Sumatera Barat.1%). baik di perkotaan maupun di perdesaan. Kota Madiun (6. Maluku Utara. Papua Barat dan Papua. Jambi.0% (Susenas 2003) menjadi 33.8%) yang meningkat dari 1. Gorontalo. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.5%). Kupang (38.4% dan domain ‘kebersihan ruangan’ (82.dengan Toleransi Glukosa Terganggu (TGT).8%).6%). Kepulauan Aru (40.3% (SKRT.0%. kebutaan 0. Kalimantan Selatan. Nusa Tenggara Barat. dari 12.9% dan katarak (1. Tabanan (7. Minahasa (6. dari 32. masing-masing sebesar 10.1%). kejelasan informasi (75.3%). Timor Tengah Selatan (40. Kalimantan Timur. sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional.3% (Riskesdas 2007). Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah diare (31.8%).3%). Penyebab kematian perinatal (0-7 hari) yang terbanyak adalah respiratory disorders (35. dan Gizi Kurang pada Balita adalah 13.8%). Nusa Tenggara Timur. Aceh Barat Daya (39. dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Riau. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita terendah adalah Kota Tomohon (4.1%). Demikian halnya dengan perilaku merokok kelompok penduduk >15 tahun cenderung meningkat. dari 10.7% (SKRT 2004) menjadi 21. 2001) menjadi 11.1 tahun) dibanding periode 2000-2005 (66.5% (kuintil 5). Secara nasional. Penyebab kematian untuk semua umur telah terjadi pergeseran. Sulawesi Tenggara. Mamuju Utara (39. 3 domain seperti ‘waktu tunggu’ tercatat 84. 2007).1%).8%) dan kebersihan ruangan (78. penyeban kematian yang terbanyak adalah stroke. Ringkasan Hasil Status Gizi Balita • Prevalensi nasional Gizi Buruk pada Balita adalah 5. 2007) Proporsi low vision di Indonesia adalah sebesar 4. ‘kejelasan informasi’ 85.8%. Rote Ndao (40. Maluku. yaitu terbanyak adalah diare (25.8%).8%). Namun demikian.2%).4%) dan pnemonia (23. dan 8. Patut diduga bahwa peningkatan jumlah kasus katarak ini berkaitan erat dengan peningkatan umur harapan hidup penduduk Indonesia pada periode 2005-2010 (69. Ditemukan peningkatan proporsi usia mulai merokok pada umur <20 tahun. Terdapat 8 (delapan) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat inap dan 7 (tujuh) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan.2 tahun).8% (kuintil 1) Prevalensi disabilitas menunjukkan peningkatan yang berarti.3%). Gianyar (6. Kalimantan Tengah.7%).5%) telah tercapai pada 2007. Sedangkan untuk usia > 5 tahun. Prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun adalah 11.5%) dan congenital malformations (18. Keadaan ini lebih baik dibanding dengan hasil Surkesnas 2004 yaitu waktu tunggu (78.4%.0%).3%). Keduanya menunjukkan bahwa baik target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi (20%).8% (Asia 5% .

dan Papua Barat. Tapanuli Selatan (31. Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek terendah adalah Sarmi (16. Sebanyak 25 provinsi mempunyai prevalensi Balita Kurus diatas prevalensi nasional. Maluku. Kalimantan Tengah. dan Papua.7). Sumatera Barat. Sumatera Selatan. Bengkulu.2%).2%).5%). Tapanuli Utara (61. Nusa Tenggara Barat. Aceh Barat Daya (60. Kalimantan Barat. DKI Jakarta.2%. Nusa Tenggara Timur. dan Aceh Utara (29. Bengkulu. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek tertinggi adalah Seram Bagian Timur (67. DI Yogyakarta. Aceh Tenggara (66. Gorontalo. dan Bangka (5. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Sangat Kurus dan Kurus terendah adalah Minahasa (0%).7%). Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Balita Pendek dan Balita Sangat Pendek di atas prevalensi nasional. Kota Magelang (5. Gorontalo. Kalimantan Tengah. prevalensi nasional Balita Pendek dan Balita Sangat Pendek (stunting) adalah 36. Sumatera Utara.4%). Sulawesi Tengah.3%). dan Bondowoso (8. Kalimantan Selatan. Kalimantan Selatan. Manggarai (33. Kalimantan Barat. Secara nasional. Sumatera Selatan. Sumatera Barat.2% (wasting-kritis). Sulawesi Selatan.4%).6%).6%). Kota Sukabumi (3. Banten. Sulawesi Barat. yaitu DI Aceh.7%). Nusa Tenggara Barat. DKI Jakarta. Maluku. Kampar (20.5%). Banten. Gayo Lues (59. Riau.3%). Kota Bogor (4.1%). Simeulue (63. Bangka Belitung. Sulawesi Selatan. Banten. Kota Tanjung Pinang (19. Sorong Selatan (60. Kota Salatiga (4.9%). Kalimantan Barat.4%).3%).1%).5%). Kota Magelang (8. dan Kapuas Hulu (59.4% (wasting-serius) dan Balita Sangat Kurus adalah 6. Jawa Timur. Timor Tengah Utara (59.6%). Secara nasional.7%). Riau.0%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Sangat Kurus dan Kurus tertinggi adalah Solok Selatan (41. dan Luwu Timur (21.6%).(7. Sulawesi Tenggara. Wajo (18. Riau. Kalimantan Timur. Kalimantan Selatan. Kalimantan Timur. Prevalensi nasional Balita Kurus adalah 7. Kota Bekasi (21. Jawa Timur. Gorontalo. Maluku Utara. Seruyan (41. Bandung (4. yaitu DI Aceh. Papua Barat. Sulawesi Tengah. Kepulauan Riau.1). yaitu DI Aceh. Kalimantan Tengah. Kepulauan Riau. Jambi.0%). Nusa Tenggara Timur. DKI Jakarta. Prevalensi nasional Balita Gemuk adalah 12. Sulawesi Barat. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Lebih Pada Balita diatas prevalensi nasional. Bali. • Prevalensi nasional Gizi Lebih Pada Balita adalah 4. Jambi.4%).0%). Jambi.8%. dan Papua Barat. Seram Bagian Barat (31. Lampung. • • • • • • • viii . Kota Jakarta Selatan (8. Sumatera Utara. Kota Jakarta Selatan (20. Badung (7.9%). Secara bersama-sama.9%). Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 21 provinsi mempunyai prevalensi Balita Sangat Kurus diatas prevalensi nasional. Asmat (30. yaitu Sumatera Utara. Banten. Sumatera Selatan.0%). Kota Tomohon (2. Sumatera Utara. Sumatera Selatan.6%). Bengkulu. Timor Tengah Utara (59. Maluku dan Papua. Jambi. Jawa Timur. Nias Selatan (67. Buru ( 30.8%).9%).7%). Lampung. Kota Batam ( 20. Kalimantan Barat.3%). Maluku Utara. Sorong Selatan (60.2%). Lampung. Sulawesi Tengah.9%). yaitu DI Aceh.6%).7%). Sulawesi Tenggara. Cianjur (5.3%). Sumatera Selatan. Maluku. Riau. Kota Madiun (21. Kota Mojokerto (19. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Barat. Sebanyak 18 provinsi mempunyai Balita Gemuk diatas prevalensi nasional.9%). Kalimantan Timur. Sumatera Utara.0%). Nagan Raya (30.9%).3%.2%).

Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) diatas prevalensi nasional. Kalimantan Timur. Jambi. Lampung. Sulawesi Selatan. Sulawesi Tengah. Sumatera Selatan.5%. Kepulauan Riau. Sulawesi Selatan. Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) diatas prevalensi nasional. Maluku Utara. Bali. Banten. Nusa Tenggara Barat. dan Maluku. bahwa prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Laki-Laki Umur ≥ 15 Tahun adalah 13. Sulawesi Barat. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Gemuk (Laki-laki) diatas prevalensi nasional. DKI Jakarta. Kepulauan Riau. Jawa Tengah. Sumatera Selatan. Jambi. Gorontalo. dan Papua. Bangka Belitung. dan Maluku Utara. Prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 10.8%. Sulawesi Tenggara. sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) adalah 10. Jawa Timur. Maluku Utara. Papua Barat. Kalimantan Timur. Nusa Tenggara Barat. Jawa Barat. Sulawesi Selatan. Riau.3%.8%. yaitu DI Aceh. Kalimantan Timur. sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) adalah 6. Riau. Jawa Timur. Kalimantan Barat. Maluku.9%. Bengkulu. Bangka Belitung. DKI Jakarta. Banten. Kepulauan Riau. Jawa Timur. Jambi. DKI Jakarta. Kalimantan Barat. DKI Jakarta. Kalimantan Tengah. yaitu Bangka Belitung. Sebanyak 10 provinsi • • • • • Status Gizi Penduduk Umur ≥ 15 Tahun • • • Status gizi Wanita Usia Subur 15-45 tahun • ix . Bali. Kalimantan Tengah. Bengkulu. Sumatera Barat. Papua Barat. Sulawesi Tengah. Kalimantan Barat. Riau. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional.4%. Sulawesi Tenggara. Sumatera Selatan. Nusa Tenggara Timur. Sumatera Selatan. Banten. Berdasarkan perbedaan menurut jenis kelamin menunjukkan. Kalimantan Selatan. Maluku. Kalimantan Timur. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) diatas prevalensi nasional. Jawa Tengah. Sulawesi Barat. Kalimantan Tengah. Prevalensi nasional Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 18. yaitu DI Aceh. Kalimantan Timur. Lampung. Sumatera Utara. Gorontalo. dan Papua. Bengkulu. Prevalensi nasional Kurang Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur (berdasarkan LILA yang disesuaikan dengan umur) adalah 13. Nusa Tenggara Barat. yaitu DI Aceh. Riau.6%. Kalimantan Selatan. dan Maluku. Sulawesi Utara. Jambi. Sulawesi Utara. yaitu DI Aceh. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Obesitas Umum Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional.Bali. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Barat. Sumatera Utara. Kalimantan Timur. Lampung. Kepulauan Riau. Kalimantan Tengah.3%. Maluku Utara. Bangka Belitung. Sulawesi Utara. dan Papua. dan Papua. Kepulauan Riau. DKI Jakarta.9%. DKI Jakarta. Kalimantan Barat. Jawa Timur. sedangkan prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Perempuan Umur ≥ 15 Tahun adalah 23. Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Laki-laki) adalah 9. Jawa Barat. yaitu Sumatera Utara. Status Gizi Penduduk Umur 6-14 Tahun (Usia Sekolah) • Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) adalah 13.

yaitu Sumatera Barat. Bali. dan Sulawesi Barat.8%). Maluku. Aceh Utara (12.8%). Kalimantan Tengah. Secara nasional. DI Yogyakarta. Nusa Tenggara Barat. Gorontalo. Kalimantan Selatan. Sumatera Barat. Persentase nasional Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 71. Jawa Tengah. Secara nasional. Jawa Tengah. DI Yogyakarta. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Barat. Bangka Belitung. Nusa Tenggara Timur.5%). Jawa Tengah. Maluku. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. dan Bima (12. Nusa Tenggara Timur. Bengkulu.9%). Rerata nasional Konsumsi Protein per Kapita per Hari adalah 55.3% rumah tangga Indonesia mempunyai garam cukup iodium. Jawa Barat.9%.1%). Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Barat. Banten. Dompu (11. Bengkulu. Banten. Bangka (100%). Sulawesi Tengah. Papua Barat. Jambi. Sumatera Selatan. Sulawesi Selatan. Sumatera Barat. Tolikara (100%). Flores Timur (11. Kalimantan Tengah. dan Sulawesi Barat. Kalimantan Selatan. Kepulauan Riau. Sebanyak 16 provinsi mempunyai rerata konsumsi Protein per Kapita per Hari dibawah rerata nasional. dan Rokan Hulu (99. Jawa Barat. Sumatera Selatan. Kalimantan Barat. ternyata persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia (30-80 ppm KIO3) adalah 24. Persentase nasional Imunisasi BCG Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 86. Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase Imunisasi BCG Pada Anak Umur 1223 Bulan dibawah persentase nasional. yaitu Sumatera Barat.8%).4%). Waropen (100%). Gorontalo. Jawa Timur. Sulawesi Barat.mempunyai prevalensi Kurang Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur diatas prevalensi nasional. Banten. Maluku Utara. yaitu Riau. Kalimantan Barat. Banten. Konsumsi Energi Dan Protein • Rerata nasional Konsumsi Energi per Kapita per Hari adalah 1. dan Papua.0%). Bali. Merangin (100%).5%). Sulawesi Utara.0%. Seram Bagian Timur (10. yaitu DKI Jakarta. Sulawesi Tenggara. Dari sampel 30 kabupaten/kota. Siak (100%). Jambi. Sulawesi Tenggara. Rote Ndao (11. Sulawesi Utara. DI Yogyakarta. Kalimantan Timur.1%).5%). • Konsumsi garam beriodium • • • Status Imunisasi • • x . Gorontalo dan Papua Barat.5 kkal. sebanyak 62. Kepulauan Bangka Belitung.735. Sulawesi Tengah. Tabanan (11. Papua Barat dan Papua. 10 kabupaten/kota dengan persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia terendah adalah Pidie (1.5%. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Lampung.7%). DKI Jakarta. Kepualauan Mentawai (100%). Jeneponto (11. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 1223 Bulan dibawah persentase nasional.3%). Papua Barat dan Papua. Maluku Utara. Bangka Belitung. Karo (99. Maluku. Sebanyak 21 provinsi mempunyai rerata Konsumsi Energi per Kapita per Hari dibawah rerata nasional. Lampung. Sumatera Utara. Musi Banyuasin (99. Sumatera Utara. Kalimantan Tengah. Sumatera Selatan. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia tertinggi adalah Nagan Raya (100%). Jawa Barat. Sebanyak 6 provinsi telah mencapai target Universal Salt Iodization 2010 (90%). Sulawesi Selatan. Jambi.5 gram. Kalimantan Selatan. Gorontalo. Bireuen (5.

0%). Jambi. Maluku.7%). Sebanyak 19 provinsi mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang ≥ 4 Kali Selama 6 Bulan Terakhir dibawah persentase nasional.5%). Gayo Lues (1. Jawa Barat. Sulawesi Tengah. Riau. Kalimantan Tengah. dan Sulawesi Barat. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 1223 Bulan dibawah persentase nasional. Sulawesi Selatan.8%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Barat. Gorontalo.6%.7%).3%). Jawa Barat. Pegunungan Bintang (2. Sulawesi Tengah. Bengkulu. Kalimantan Barat.3%). Sebanyak 15 provinsi mempunyai persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A dibawah persentase nasional. Keerom (86.1%). Maluku. Nusa Tenggara Barat. Papua Barat dan Papua. Sumatera Selatan. Gorontalo. Bengkulu. Sumatera Selatan. • • • Pemantauan Pertumbuhan Balita • • Distribusi Kapsul Vitamin A • xi . Sulawesi Barat.0%). Nusa Tenggara Timur. Banten. DKI Jakarta. Papua Barat dan Papua. Sumatera Utara. Gowa (1.1%). dan Jayawijaya (4. Grobogan (85. Maluku. Maluku.7%).4%). 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap terendah adalah Waropen (0%).0%). Kalimantan Tengah. Pangkajene Kepulauan (2.0%). Sulawesi Selatan.8%. Timor Tengah Utara (84. Nias Selatan (4.9%). Kalimantan Tengah. Pinrang (1. Sulawesi Tenggara. Sidenreng Rappang (0. Kalimantan Barat.6%).0%). Kalimantan Barat. Jeneponto (1. Sulawesi Barat. Riau.7%. Persentase nasional Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 62. Papua Barat dan Papua. Nusa Tenggara Barat. Bantaeng (1. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap tertinggi adalah Gianyar (93. Sumatera Barat. Wonogiri (80. Papua Barat dan Papua.1%).6%).0%). Jambi. Berau (79.9%).3%). Karanganyar (83. Wonogiri (84. Keerom (88. Persentase nasional Balita Yang Ditimbang ≥ 4 Kali Selama 6 Bulan Terakhir adalah 45. Sumatera Barat.5%). Raja Ampat (96.6%). Sumatera Utara. Bangka Belitung. Malinau (78. Sulawesi Selatan. Sulawesi Tenggara. Lampung. 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang Rutin terendah adalah Maros (0. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Yahukimo (0%). Maluku.5%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kota Metro (80. Banten. Persentase nasional Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 81. dan Wajo (2. Bangka Belitung. yaitu Sumatera Utara. Jawa Barat. dan Wonosobo (78. Nusa Tenggara Timur. yaitu Sumatera Utara. Bone (1.3%). Maluku Utara. Puncak Jaya (0%).6%). Sikka (86. Kalimantan Selatan.4%.2%). Kota Bontang (81. Sulawesi Barat. Kalimantan Tengah. Bangka Belitung. Secara nasional. Badung (81. Kalimantan Tengah.8%). Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang Rutin tertinggi adalah Kepulauan Seribu (100. Tolikara (0%). Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 1223 Bulan dibawah persentase nasional. Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Sulawesi Tenggara.7%).7%).• Persentase nasional Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 67. Lembata (93. Persentase nasional Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A adalah 71.0%). Banten. Secara nasional. Sumatera Utara. Sulawesi Barat. Banten.2%). Asmat (4. Lampung.9%).5%. Sulawesi Tengah. dan Gunung Kidul (83. Jawa Timur. Kepulauan Riau. Flores Timur ( 85. Sulawesi Tenggara.9%). Paniai (0%). Takalar (2. Papua Barat dan Papua. Kepulauan Riau.

Gorontalo. Banten. Sulawesi Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Prevalensi nasional Filariasis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Gorontalo.11%. dan Kepulauan Seribu (100. Bengkulu. Nusa Tenggara Timur. Bangkulu. Maluku. Papua Barat. Maluku. Nusa Tenggara Timur.0%).500 gram) adalah 11. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Kepulauan Riau. yaitu Sumatera Selatan. Maluku. Bintan (93. Kalimantan Tengah. Sulawesi Tenggara. Maluku Utara. Kalimantan Barat. Bengkulu. Sumatera Utara. Bangka Belitung. Banten. Dairi ( 35. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tengah.8%). Papua Barat dan Papua. Semarang (94. Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase Bayi Berat Lahir Lahir Rendah diatas persentase nasional. Maluku Utara. Bangka Belitung. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Filariasis diatas prevalensi nasional. Gorontalo. Jawa Barat.0%). Maluku. Papua Barat dan Papua adalah di rumah (berkisar antara 65. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Demam Berdarah Dengue diatas prevalensi nasional. Mamasa (26.3%). Riau. Maluku Utara. DI Yogyakarta. Jambi. Maluku Utara.1%). Papua Barat dan Papua. Keerom (94. 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A terendah adalah Yahukimo (5. Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak • • • Penyakit Menular – Ditularkan Vektor • • • Penyakit Menular – Ditularkan Melalui Udara • xii . DKI Jakarta.3. Nusa Tenggara Barat. Hanya sebagian kecil ibu di 5 provinsi ini memilih tempat melahirkan di polindes/poskesdes (berkisar antara 0. Sulawesi Tengah. Persentase nasional Bayi Berat Lahir Rendah (< 2. Sulawesi Tengah. Kalimantan Timur.• Secara nasional.85%. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Selatan.9%).5% . Temanggung (93. Kalimantan Tengah.2%). Bangka Belitung. Tolikara ( 28.5%. Kapuas (32. Nusa Tenggara Barat. Kepulauan Sula (26.4%).3%).6%). Sulawesi Tengah. Kota Surakarta (93. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A tertinggi adalah Landak (92. Prevalensi nasional Demam Berdarah Dengue (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Prevalensi nasional Malaria (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 2.9%).62%. Papua Barat dan Papua Persentase tempat melahirkan tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur. Tempat Melahirkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Paniai (16. dan Papua. Papua Barat dan Papua.9%). Kulon Progo (92. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Malaria diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tengah. Kalimantan Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jawa Tengah. Buru (23.6%). Nusa Tenggara Barat. Sumatera Barat. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut diatas prevalensi nasional.8%).4% 85. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Prevalensi nasional Infeksi Saluran Pernafasan Akut (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 25. dan Papua. Maluku. Maluku Utara. dan Mandailing Natal (36. Nusa Tenggara Timur.0%). Sabang (96.8%). Sulawesi Barat.0%). DKI Jakarta. Nusa Tenggara Barat.8%). Kepulauan Riau. Papua Barat.5%).50%.4%). Sumedang (92. Nusa Tenggara Timur. Labuhan Batu (34.5%).0%).

Nusa Tenggara Barat. Manggarai Barat (63. provinsi mempunyai prevalensi Tifoid diatas prevalensi nasional. Kota Palembang (6. Nusa Tenggara Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Lembata (62.0%). Prevalensi nasional Pnemonia (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 2. Banten.00%. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Manggarai (61. Nusa Tenggara Timur. Jawa Tengah. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Pnemonia diatas prevalensi nasional.18%. Sulawesi Tengah. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Sendi diatas persentase nasional. dan Pontianak (8. Gorontalo. Papua Barat dan Papua. Nusa Tenggara Timur. Bengkulu. Sebanyak . Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Campak diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Barat. Sumatera Barat. Sumatera Barat. Sumatera Barat.0%). Nusa Tenggara Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.8%). Gorontalo. Sulawesi Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.60%. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Gorontalo.. Gorontalo. Prevalensi nasional Tifoid (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 1.13%. Maluku Utara. Prevalensi nasional Diare (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 9. Sulawesi Utara. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut terendah adalah Seram Bagian Barat (3. Prevalensi nasional Campak (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 1. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Selatan. dan Papua. Maluku Utara. dan Puncak Jaya (56. Sumatera Barat. Gorontalo. Papua Barat. Kalimantan Selatan. Jambi. Sulawesi Tengah.1%).6%). Nusa Tenggara Timur.99%.1%). Sulawesi Selatan.6%).7%). Kalimantan Selatan.7%). Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Tuberkulosis Paru diatas prevalensi nasional. Sumatera Barat. Riau. Papua Barat dan Papua. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Diare diatas prevalensi nasional. Ogan Komering Ulu (6. Riau. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Hepatitis diatas prevalensi nasional. Raja Ampat (55. Kota Denpasar (4. DKI Jakarta. Sulawesi Tengah. Kota Binjai (5. Banten. Sulawesi Tengah. Kota Pasuruan (8. Papua Barat. Langkat (7. dan Papua. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sumatera Barat. Pulang Pisau (6. Sorong Selatan (56. Banten.1%). Kalimantan Timur. Papua Barat dan Papua. Prevalensi nasional Hepatitis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut tertinggi adalah Kaimana (63. Nusa Tenggara Barat. Jawa Barat. Kalimantan Selatan. DKI Jakarta. Jawa Barat. Riau.3%). Banten. Sulawesi Tengah. Sulawesi Selatan.8%).4%). Banten. Gorontalo. Sulawesi Tenggara. Prevalensi nasional Penyakit Sendi adalah 30.9%).3% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Jawa Tengah. Sulawesi Selatan.8%). DI Yogyakarta.7%). Jawa Barat.60%.5%). Riau. Sikka (55.• Secara nasional. Pegunungan Bintang (59. Kalimantan Selatan. Jawa Tengah. Kalimantan Timur.3%).5%). Nusa Tenggara Timur. Kota Pagar Alam (7. Sulawesi Tengah. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tenggara. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tenggara. • • • Penyakit Menular – Ditularkan Melalui Makanan dan Minuman • • • Penyakit Tidak Menular • xiii . yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Papua Barat dan Papua. Ngada (58. Nusa Tenggara Barat. Prevalensi nasional Tuberkulosis Paru (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0.8%).

0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala).2%). Tasikmalaya (56. yaitu Riau. Bangka Belitung. Lampung Tengah ().2%). Katingan (49.7%).4%). Jawa Barat. Prevalensi nasional Penyakit Jantung adalah 7.1%). Jawa Barat.5%). Sulawesi Tengah. Mamasa (50. Gorontalo.2%). Buol (13. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Stroke diatas prevalensi nasional. Kuantan Senggigi (46.5%). Tolikara (12.2%). Sulawesi Selatan. Banjar (9. Kalimantan Tengah. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma terendah adalah Yakuhimo (0. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun tertinggi adalah Natuna (53.6%). Pohuwato (13. Karo (0.6%). DI Yogyakarta. Tolikara ( 53.7%). Hulu Sungai Selatan (48.6%). Nusa Tenggara Barat. Rokan Hilir (47. Kota Payakumbuh (11.6%). Wonogiri (49. dan Kota Salatiga (45.1% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala).3%). DKI Jakarta. Kota Makassar (12. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Asma diatas prevalensi nasional.6%). Kepulauan Riau. Sorong Selatan (10. Jawa Barat. Langkat (0. Kediri (0. dan Manggarai (9. Prevalensi nasional Strok adalah 0.5%). dan Kota Binjai (0. Secara nasional. dan Sulawesi Barat.7%).8% (berdasarkan pengukuran). Sumatera Barat.9%).6%).6%). Tana Toraja (9. Kepulauan Riau. Kaimana (10.8%). Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun terendah adalah Jayawijaya (6. Jawa Barat. Cianjur (56.1%). Jawa Tengah.2%). Gorontalo. Jawa Timur. Serdang Bedagai (0. Sulawesi Utara. Nusa Tenggara Barat.2% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala).1%). Majalengka (51.8%).6%).5%). Prevalensi nasional Penyakit Asma adalah 4.3%). Prevalensi nasional Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun adalah sebesar 29.5%). dan Tulang Bawang (15.0%).5%). Manggarai (54.5%).5%). Lampung Utara (0. Sarmi (14. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Selatan. Ogan Komering Ulu Timur (10. Bengkulu Selatan (11.9%). Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Diabetes Melitus diatas prevalensi nasional. Jawa Timur. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Selatan. Kota Binjai (10.1%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Sendi terendah adalah Yakuhimo (0.5%).7%). Tapin (46.1%). Seluma (14. dan Papua Barat. Yahukimo (13.9%). Sumatera Barat. Siak (9. Nusa Tenggara Timur. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Sendi tertinggi adalah Sampang (57. Kalimantan Selatan.9%). DI Yogyakarta.9%). Gorontalo. Teluk Wondama (9. dan Papua Barat.8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Garut (55.9%). Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Jantung diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Timur. Pegunungan Bintang (13. Barito Timur (11.6%).7%). Soppeng (0. Bener Meriah (46. dan Sulawesi Barat. Tapanuli Selatan (0. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tenggara.6%). Bali. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma tertinggi adalah Aceh Barat (13. Sulawesi Utara.7%).1%). Prevalensi nasional Penyakit Diabetes Melitus adalah 1. Jawa Tengah. Secara nasional. dan Papua Barat. Sulawesi Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Boalemo (11. Kepulauan Mentawai (11. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. • Secara nasional. yaitu Nanggroe Aceh • • • • • • • xiv . Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun diatas prevalensi nasional. Sumba Barat (11.9%).4%).2%).5%).0%).6%).Bengkulu.6%). Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Selatan. DKI Jakarta. Karo (11. dan Jeneponto (51. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Selatan.7%). Riau. Sulawesi Tengah. Ogan Komering Ulu (8. Lembata (57. Sulawesi Tengah. Sumedang (55.0%).5%).0%).

dan Gorontalo. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Utara. Nusa Tenggara Barat. Kepulauan Riau. Sumatera Barat. Kepulauan Riau. Prevalensi nasional Talasemia adalah 0. Sumatera Barat. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Dermatitis diatas prevalensi nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kepulauan Riau. Sumatera Barat. Sebanyak 6 provinsi mempunyai prevalensi Buta Warna diatas prevalensi nasional. Bangka Belitung.4% (berdasarkan keluhan responden). Jawa Tengah.Darussalam. Kalimantan Tengah. Gorontalo.4% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). DKI Jakarta. DKI Jakarta. Sumatera Selatan. Bangka Belitung.7% (berdasarkan keluhan responden). Jawa Barat. Nusa Tenggara Timur. Sumatera Selatan. Prevalensi nasional Bibir Sumbing adalah atau observasi pewawancara). Kalimantan Timur. DI Yogyakarta.7% (berdasarkan keluhan responden). Sumatera Selatan. dan Sulawesi Selatan. Jawa Timur. Sulawesi Utara. Bangka Belitung. Sebanyak Sumbing diatas prevalensi nasional. DI Yogyakarta. DKI Jakarta. Sulawesi Selatan. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat. DKI Jakarta. Maluku. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tengah. yaitu Sumatera Barat. Jawa Barat. Sulawesi Tengah. • • • xv . Kalimantan Selatan. Nusa Tenggara Barat. Bangka Belitung. dan Gorontalo. Bali. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. 0. yaitu Utara. Kalimantan Timur. Sumatera Barat. Bengkulu. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Glaukoma diatas prevalensi nasional. Kepulauan Riau. Jawa Tengah. Sumatera Kepulauan Riau. Bengkulu. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.5% (berdasarkan keluhan responden). Jawa Barat. Sumatera Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. dan Nusa Tenggara Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Barat. DKI Jakarta. dan Nusa • • • • • Prevalensi nasional Dermatitis adalah 6. Prevalensi nasional Glaukoma adalah 0. Prevalensi nasional Gangguan Jiwa Berat adalah 0. Sulawesi Tengah. Prevalensi nasional Rhinitis adalah 2. DKI Jakarta. • Prevalensi nasional Penyakit Tumor/Kanker adalah 0. Prevalensi nasional Hemofilia adalah 0. Sulawesi Tengah. Sumatera Barat. Riau.8% (berdasarkan keluhan responden). Kalimantan Tengah. Sumatera Barat. dan Papua Barat. dan Papua Barat. Sumatera Selatan. dan Gorontalo. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Hemofilia diatas prevalensi nasional. DI Yogyakarta. Papua Barat dan Papua. Sulawesi Utara. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Rhinitis diatas prevalensi nasional. Jawa Tengah. Kepulauan Riau. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Talasemia diatas prevalensi nasional. Sebanyak 7 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Jiwa Berat diatas prevalensi nasional. Gorontalo. DKI Jakarta. DI Yogyakarta. Kepulauan Riau. Sumatera Selatan. Bangka Belitung. Banten. Kalimantan Selatan. Jawa Timur.2% (berdasarkan keluhan responden 7 provinsi mempunyai prevalensi Bibir Nanggroe Aceh Darussalam. DKI Jakarta. Sumatera Selatan. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Tumor/Kanker diatas prevalensi nasional. Jawa Barat. Bangka Belitung. Nusa Tenggara Timur. DKI Jakarta. Prevalensi nasional Buta Warna adalah 0. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.5% (berdasarkan keluhan responden atau observasi pewawancara). Sulawesi Utara. Tenggara Barat.1% (berdasarkan keluhan responden). Sulawesi Tengah. Sumatera Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. DKI Jakarta. Gorontalo.

9% (berdasarkan hasil pengukuran. Madiun (2. Jawa Barat.2%).4%). Banjarnegara (30. Jawa Tengah. DKI Jakarta. Sulawesi Barat. Jombang (3. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun tertinggi adalah Aceh Selatan (53.4%). Maluku. Prevalensi nasional Kebutaan adalah 0. Sulawesi Utara. Boalemo (29. Jawa Tengah.1%). Secara nasional.0%).4%).3). Sumatera Barat.8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional.5%. DKI Jakarta. Aceh Selatan (32. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional tertinggi adalah Luwu Timur (33. Bengkulu. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun diatas prevalensi nasional. Jawa Barat. Banten.2%). Kepulauan Riau.7%). Belitung Timur (31. Jeneponto (40.9%). Boalemo (47. Jambi.9%).0%).5%). Kalimantan Selatan. Sulawesi Selatan. Pulang Pisau (1. Sumatera Utara. Kota Magelang (2. Sumatera Barat. Bengkulu. Prevalensi nasional Masalah Gigi-Mulut adalah 23. dan Luwu Utara (35. Pasaman (39. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak dibawah persentase nasional.6%).6% (berdasarkan Self Reported Questionnarie). Prevalensi nasional Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun 1.1%). Maluku Tengah (2. Bengkulu. Secara nasional. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Selatan.8% (berdasarkan hasil pengukuran. Jawa Barat. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun terendah adalah Yahukimo (1.9%) dan Kota Malang (29. dan Muaro Jambi (2. Nusa Tenggara Barat. Jawa Tengah.6%). Lampung.6%). visus <20/60 – 3/60). Jawa Tengah. Riau. yaitu Nanggroe Aceh Darusalam. Bondowoso (3.8%). Jambi. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. DI • • • • • • • xvi .7%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Bangka Belitung. Gorontalo. Kalimantan Selatan. Kota Baru (2.6%). Nusa Tenggara Barat. Papua Barat dan Papua. dan Karo (3. Sumatera Selatan.6%). Bengkulu. Karimun (1. Sulawesi Tengah. Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Masalah Gigi-Mulut diatas prevalensi nasional.8%). Jayapura (1. Jawa Timur.0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional terendah adalah Yahukimo (1.1%).9%). Mojokerto (3. Maluku Tenggara (38. Kudus (2. Kota Metro (1. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Selatan. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Kebutaan diatas prevalensi nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Lampung Utara (3. Pidie (40. Riau.5%). Nusa Tenggara Timur. Cirebon (29.6%).5%). Bali. Timor Tengah Utara (36. Aceh Barat Daya (41.1%). dan Papua Barat. Manggarai (32. Jambi. Jawa Tengah. visus < 3/60). dan Sulawesi Barat. Persentase nasional Low Vision adalah 4. Tabalong (2. Jawa Timur. Sidoarjo (1. Bengkulu.7%).4%). Sumatera Selatan. Lampung.• Prevalensi nasional Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 11.6%). Karanganyar (2. Sulawesi Tenggara. DI Yogyakarta. Persentase nasional penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak adalah 18.4%).5%).5%).5%). Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Low Vision diatas prevalensi nasional. Kampar (35. dan Papua Barat.6%).0%). Purwakarta (32.9%). Gorontalo. Bali. Nusa Tenggara Timur.

Jawa Timur. Bali. Sumatera Utara. dan Papua Barat. Maluku Utara. dan Maluku. Prevalensi nasional Karies Aktif adalah 43. Sumatera Selatan.67 g/dl. Bangka Belitung. dan Papua Barat. Kalimantan Selatan. yaitu Riau. Sebanyak 14 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Anak-Anak Umur < 14 Tahun dibawah nilai rerata nasional. yaitu Sumatera Utara. Kalimantan Barat. Sulawesi Barat. Jambi. Gorontalo. Kalimantan Barat. Sebanyak 21 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Laki-Laki Dewasa dibawah nilai rerata nasional. Sebanyak 14 provinsi memiliki prevalensi Karies Aktif diatas prevalensi nasional. Kalimantan Barat. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tengah. Sulawesi Utara. dan Maluku Utara. Sulawesi Tenggara. Maluku. yaitu Sumatera Barat. Sulawesi Utara. Banten. Kalimantan Timur. Kalimantan Tengah. Maluku. dan Maluku Utara. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Selatan. Lampung. Kalimantan Barat. Sulawesi Tenggara. DKI Jakarta. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Barat. Maluku Utara. Kalimantan Selatan. Papua Barat dan Papua. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Selatan. Sumatera Barat. Riau. DKI Jakarta. Bangka Belitung. Maluku. Sulawesi Tengah. Bangka Belitung. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Gosok Gigi Setiap Hari dibawah prevalensi nasional. Gorontalo.4%. Jawa Tengah. Bangka Belitung. Sulawesi Selatan. Gorontalo. Sulawesi Selatan. Kalimantan Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Prevalensi nasional Diabetes Melitus (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur > 15 tahun bertempat tinggal di perkotaan) adalah 5. DI Yogyakarta. Maluku Utara. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Timur. DKI Jakarta. Sulawesi Tenggara. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Tengah. Papua Barat dan Papua. Kalimantan Timur. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Utara. Kalimantan Selatan.00 g/dl. Kalimantan Timur. Jawa • Pengukuran Biomedis (Anemia dan Diabetes Mellitus) • • • • • Cedera dan Disabilitas • xvii .Yogyakarta. Nusa Tenggara Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.1%. DKI Jakarta. Sulawesi Tenggara. DI Yogyakarta. Jawa Tengah. untuk berbagai penyebab cedera). Jawa Tengah. dan Maluku Utara. Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Anak-Anak Umur < 14 Tahun adalah 12. Gorontalo. Sumatera Selatan. Nusa Tenggara Barat. Prevalensi nasional Cedera adalah 7. Maluku.2%. Jawa Timur. Sulawesi Selatan. Sulawesi Barat. Riau. DKI Jakarta. Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa adalah 13. Sumatera Utara. Jawa Barat. Sulawesi Tengah. Kalimantan Selatan. Riau.7%. Bangka Belitung. • Prevalensi nasional Gosok Gigi Setiap Hari adalah 91. Sulawesi Utara. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Diabetes Melitus diatas prevalensi nasional. Di Yogyakarta. Sulawesi Barat.67 g/dl. DI Yogyakarta. Lampung. DKI Jakarta. Sulawesi Tengah. Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Laki-Laki Dewasa adalah 14. Bangka Belitung.5% (berdasarkan pengakuan responden. Prevalensi nasional Toleransi Glukosa Terganggu (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur > 15 tahun. bertempat tinggal di perkotaan) adalah 10. Sulawesi Selatan. yaitu Bengkulu. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Barat. Sumatera Barat. Jawa Tengah. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Cedera diatas prevalensi nasional. Kalimantan Tengah. Jawa Tengah. Sebanyak 17 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa dibawah nilai rerata nasional. Banten. Kepulauan Riau. Jawa Timur. Lampung.

Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Minum Alkohol Selama 12 Bulan Terakhir diatas prevalensi nasional. dan gangguan berjalan jauh (11.6%.6%). Bali. Temanggung (36. Prevalensi nasional Kurang Makan Buah dan Sayur Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 93. gangguan penglihatan jarak dekat (11. Secara nasional. yaitu Sumatera Barat. Pontianak (13. Wonosobo (34. Kalimantan Tengah. Kepulauan Riau. Sedangkan jenis rokok yang paling diminati adalah kretek dengan filter (64. Mappi (44. kecelakaan transportasi darat (25.0%). Sumatera Utara. Jawa Timur. Riau.7%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Tengah. yaitu Sumatera Barat. 85. Kalimantan Selatan.2%). Jawa Tengah.2%). Kalimantan Barat. Disability and Health) yang paling menonjol adalah gangguan penglihatan jarak jauh (11. Melawi (34. Jawa Barat. DI Yogyakarta. Bali. Bangka Belitung.6%). Kepulauan Riau. Jawa Barat.5%. Banten. Nusa Tenggara Barat. Manokwari (13.4%). dan Lampung Barat (33. Banten. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional. Gorontalo. Karo (40. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun diatas prevalensi nasional.9%).6%). dan Papua Barat. Kota Ambon (15. Bali. Barru (15. dan Sulawesi Barat.6%. Sumatera Selatan. yaitu Sumatera Utara.8%). Jawa Barat. Kota Kupang (11. Sidoarjo (14. Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan. Bangka Belitung. Kalimantan Selatan. Probolinggo (34. Gorontalo.6%). Bengkulu.Barat. Riau. Gorontalo.5%).5%). Kalimantan Barat. yaitu Sebanyak 21 provinsi mempunyai prevalensi Balita Sangat Kurus diatas prevalensi nasional.2%). Bangka Belitung. Prevalensi nasional Minum Alkohol Selama 12 Bulan Terakhir adalah 4.9%) dan terluka benda tajam (20.0%). Sebanyak 22 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional. Prevalensi nasional Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun (berdasarkan International Classification of Functioning. dan Tabalong (15.9%). Sulawesi Tenggara. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tengah. DKI Jakarta. Nusa Tenggara Timur. Banten.3%).6%). Sulawesi Utara.4%).3%). • Persentase nasional 3 penyebab cedera terbanyak adalah jatuh (58. Sulawesi Barat. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun tertinggi adalah Asmat (53. Jawa Tengah. Maluku. Secara nasional. Sumatera Barat.8%). Pegunungan Bintang (35. Nusa Tenggara Timur. • • Perilaku Merokok • • • Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur • Perilaku Minum Minuman Beralkohol • xviii . dan Maluku Utara. Sulawesi Selatan. Kalimantan Selatan. Boven Digul (36. Sumatera Selatan.5%).4% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain. Jawa Timur. Prevalensi nasional Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun adalah 19. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun terendah adalah Puncak Jaya (8.5%). Jawa Timur. Sulawesi Utara. Jambi. Buton (15. Sulawesi Tengah.8%).5%). Nusa Tenggara Timur. Lampung. Persentase nasional Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 23. Jawa Tengah.7%. dan Maluku Utara.2%). Yapen Waropen (15. Sulawesi Tengah.

Kalimantan Selatan.0).5%). Prevalensi nasional Berpengetahuan Benar Tentang Flu Burung (diantara penduduk yang pernah mendengar Flu Burung) adalah 78. Sumatera Selatan. Sulawesi Tenggara. Jawa Tengah.8%). Jawa Barat. dan Papua Barat.4%). dan Papua. Papua Barat. Papua Barat. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional.9%).3%). Sulawesi Tengah. Kota Payakumbuh (13. Sumatera Selatan. Jawa Timur. Kalimantan Selatan. Sulawesi Utara. Bali.3%). Jawa Tengah. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun tertinggi adalah Pacitan (68. • Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung • • Pengetahuan dan Sikap tentang HIV/AIDS • • Perilaku Higienis xix . Kepulauan Riau. Lampung. Kalimantan Timur. Banten. Kalimantan Selatan. yaitu Sumatera Barat. Sumatera Utara.Sulawesi Tengah. Sumatera Barat. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Berpengetahuan Benar Tentang Flu Burung (diantara penduduk yang pernah mendengar Flu Burung) dibawah prevalensi nasional. Ogan Komering Ulu Timur (62. Sekadau (62. Jawa Barat.2%. Bangli (62. Bangka Belitung.3%). Maluku Utara.9%.9%). Sulawesi Utara. Nusa Tenggara Timur. Maluku. yaitu Bengkulu. Sulawesi Barat.3%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Timur. Prevalensi nasional Pernah Mendengar Flu Burung adalah 64. Banten. Sulawesi Selatan. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Pernah Mendengar HIV/AIDS dibawah prevalensi nasional. Sulawesi Selatan. Gorontalo. Kota Bukit Tinggi (17.7%). Jawa Barat. Maluku Utara. Magetan (63. Perilaku Aktifitas Fisik • Prevalensi nasional Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 48.9%). Dairi (61. Jawa Tengah. Riau. Jawa Barat. DI Yogyakarta. Kalimantan Tengah. Langsa (17. Lampung.0). Jambi. Secara nasional. Banten. Bangka Belitung. Bali. DKI Jakarta. Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Barat.8%).4%). Gunung Kidul (65.4%. dan Seram Bagian Barat (19. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Pernah Mendengar Flu Burung dibawah prevalensi nasional. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Utara. DI Yogyakarta. DKI Jakarta.7%. Sulawesi Tengah. Sulawesi Selatan. Jawa Timur. Kalimantan Timur. Maluku Utara. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Maluku. Lampung. Bungo (18. Nusa Tenggara Timur. Prevalensi nasional Pernah Mendengar HIV/AIDS adalah 44. Prevalensi nasional Berpengetahuan Benar Tentang Penularan HIV/AIDS (diantara penduduk yang pernah mendengar HIV/AIDS) adalah 13. Humbang Hasundutan (62. Nusa Tenggara Barat. Kepulauan Riau. Bangka Belitung. Sulawesi Tenggara. DKI Jakarta. Gorontalo. dan Papua.4%).1%). Kalimantan Selatan. Kota Tomohon (61. Gorontalo. dan Toba Samosir (61. Jawa Timur. Sulawesi Barat. Kalimantan Selatan. dan Sulawesi Tengah. Kalimantan Tengah. Kota Samarinda (18. DI Yogyakarta. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Berpengetahuan Benar Tentang Penularan HIV/AIDS (diantara penduduk yang pernah mendengar HIV/AIDS) dibawah prevalensi nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.9%). Maluku.7%). Riau. Kota Lubuk Linggau (12. Aceh Timur (19. Sumatera Barat. Sedangkan 10 kabupaten/kota mempunyai dengan prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun terendah adalah Kota Padang (11.7%. Kota Balikpapan (19.4%).

Sulawesi Selatan. Kota Kendari (62. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Selatan. Lampung. Nias Selatan (1. dan Sulawesi Barat.1% rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu sarana pelayanan kesehatan dan sebanyak 90. Gorontalo. Kalimantan Tengah. Bengkulu. Maluku. dan Papua. Sulawesi Tengah. Nias (3.1%). Prevalensi nasional Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat adalah 38.• Prevalensi nasional Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar adalah 71. Kalimantan Tengah. Kota Batu ( 67. Manis (68. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sumatera Barat. Sulawesi Tengah.7%.2%). Bangka Belitung. Maluku Utara. Gorontalo. Sulawesi Utara. Kalimantan Barat. Dokter Praktek.8%). Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Berperilaku Benar Dalam Cuci Tangan dibawah prevalensi nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Barat.3%). Lampung. Gorontalo.0%). Sulawesi Utara. Riau. Jawa Barat. Sumatera Barat. Sukoharjo (61. Jambi.8%). Sumatera Selatan. Banten. Sebanyak 18 provinsi mempunyai persentase rumah tangga berada lebih dari 5 km dari sarana pelayanan kesehatan diatas persentase nasional. Riau. Kepulauan Mentawai (1. • Pola Konsumsi Makanan Berisiko • • Perilaku Hidup Bersih dan Sehat • • Akses Ke Sarana Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit. Sulawesi Tengah. Kalimantan Barat. Kalimantan Selatan. Papua Barat. Kalimantan Barat. Sebanyak 22 provinsi mempunyai prevalensi Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat dibawah prevalensi nasional. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dibawah prevalensi nasional.1%. Secara nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Timur. Bengkulu.8%). Maluku. Bangka Belitung.7%). Jambi. Banten. Sulawesi Tenggara.1%).4%). Jambi. Bengkulu. Gayo Lues (1. Jawa Timur. Riau. Papua Barat. Kalimantan Timur. Jawa Timur. Papua Barat. • xx . Sulawesi Selatan. Sulawesi Barat. Sulawesi Tengah. Soppeng (64. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Selatan. DKI Jakarta. Sulawesi Barat. Nagan Raya (2. Bangka Belitung. Nusa Tenggara Barat. dan Papua. dan Timor Tengah Selatan (3. Nusa Tenggara Timur. Jambi. Maluku Utara. Jawa Tengah.1%). sebanyak 94. Sumatera Utara. Maluku. Supiori (0%). Jayawijaya (2. Bali. Pustu. Secara nasional. Lampung. Kepulauan Riau. Badung (100%).2%.8%). Gorontalo. Kalimantan Tengah. Sulawesi Barat.5%). Sulawesi Tenggara. Banten.8% rumah tangga dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 30 menit. Sulawesi Tenggara. Sumedang (68. Gorontalo. Bidan Praktek) • Secara nasional.4%). Sulawesi Tenggara. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat tertinggi adalah Klungkung (100%). Kepulauan Riau. Sumatera Selatan. Puskesmas. Jawa Barat. Nusa Tenggara Barat. dan Papua. Gianyar (66. Prevalensi nasional Berperilaku Benar Dalam Cuci Tangan adalah 23. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Selatan. prevalensi makanan berisiko yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk umur > 10 tahun adalah Penyedap (77. dan Kuningan (60. Paniai (2. Kota Tomohon (63. dan Kafein (36.5%). Sebanyak 22 provinsi mempunyai penduduk umur > 10 tahun yang mengkonsumsi Penyedap diatas prevalensi nasional.7%).3%). Banten. Sumatera Barat.1%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat terendah adalah Raja Ampat (0%). dan Papua Barat. Sulawesi Tengah. yaitu Sumatera Selatan. Sumatera Barat.1%).

Sumatera Utara. Sulawesi Barat. Papua Barat. Riau. Kalimantan Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sumatera Barat. dan sebanyak 96.3% rumah tangga memanfaatkan posyandu. • • Rawat Inap • • • • • Rawat Jalan • • xxi . Lampung. yaitu Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Selatan. Kalimantan Selatan. Sulawesi Barat. dan 10. Bangka Belitung. Maluku. Secara nasional.6%).3% rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu untuk alasan lainnya. Kalimantan Tengah.0%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Papua Barat. Sulawesi Tengah. dan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (14. dan Maluku. Riau. Sebanyak 15 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat diatas persentase nasional. Kalimantan Tengah. Bangka Belitung. Bengkulu. dan Rumah Sakit Pemerintah (1. Bali. DI Yogyakarta. Lampung. Nusa Tenggara Barat. yaitu Nangroe Aceh Darussalam.Akses Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (Posyandu. Sumatera Utara. Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih Rumah Sakit Pemerintah untuk tempat rawat inap dibawah persentase nasional. Sumatera Utara. Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih tenaga kesehatan sebagai tempat untuk rawat jalan diatas persentase nasional. Kepulauan Riau. dan Papua. Sulawesi Tenggara. Secara nasional. Nusa Tenggara Timur. Maluku. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jambi.8%). dan Papua. Sumatera Barat. Poskesdes. Sumatera Selatan. Jawa Tengah. Tenaga Kesehatan (13. Secara nasional. Gorontalo. Papua Barat. Polindes) • Secara nasional. persentase tertinggi tempat rawat inap yang dipilih rumah tangga adalah Rumah Sakit Pemerintah (3. Jambi. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Utara. Rumah Sakit Swasta (2. Sulawesi Barat. Sumatera Utara. Sebanyak 6 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih Puskesmas untuk tempat rawat inap diatas persentase nasional. 62.4% rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat. Kalimantan Barat. sumber utama pembiayaan yang digunakan oleh rumah tangga untuk rawat inap adalah Dari Kantong Sendiri (71. Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Timur. Secara nasional. Sumatera Selatan.1%).3%). Kalimantan Tengah. Banten. Bengkulu.8%). Jambi. Sulawesi Utara. sebanyak 98. Gorontalo. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pembiayaan rawat inap diatas persentase nasional.5% rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu karena tidak membutuhkan. Kalimantan Barat. Bangka Belitung.9%). Sulawesi Utara.5% rumah tangga dapat mencapai Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat kurang atau sama dengan 30 menit. sebanyak 27.0%) dan Puskesmas (0. persentase tertinggi yang dipilih rumah tangga untuk tempat rawat jalan adalah Rumah Sakit Bersalin (14. Sulawesi Tengah.6%). Lampung. dan Papua. Banten. Lampung. DI Yogyakarta. Jawa Timur. Askes/Jamsostek (15.

Bengkulu. Jawa Tengah. Maluku. Banten. Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Barat. Gorontalo. Kalimantan Timur. Sulawesi Tengah. Lampung. Gorontalo. Maluku Utara. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Tengah.8%). Sulawesi Barat. Bangka Belitung. Sulawesi Tengah. Bali. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Tengah. Persentase nasional rumah tangga yang tidak mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah adalah 24. sumber utama pembiayaan yang digunakan oleh rumah tangga untuk rawat jalan adalah Dari Kantong Sendiri (74. Jawa Tengah. Sulawesi Selatan. Sulawesi Utara. Persentase nasional rumah tangga dengan rerata pemakaian air bersih per orang per hari < 20 liter adalah 14. Jawa Barat. Nusa Tenggara Barat. Maluku Utara.8%). dan Askes/Jamsostek (9. Persentase nasional rumah tangga yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah adalah 72.0%. Nusa Tenggara Barat. Sumatera Barat.9%). Riau.4%. Bengkulu. Kalimantan Tengah. Bali. Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (10. Sulawesi Tenggara. Papua Barat. dan Papua. Maluku Utara. Sulawesi Tenggara. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri dibawah persentase nasional. Kepulauan Riau. Papua Barat. Sulawesi Tengah. Sulawesi Utara.5%). Sumatera Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Banten. Kalimantan Selatan. Maluku. Sebanyak 22 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memberikan penilaian baik atas Kebersihan Ruangan dibawah persentase nasional. Bangka Belitung. Sulawesi Selatan.9%.8%). Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pembiayaan rawat jalan diatas persentase nasional. Kebebasan Memilih Sarana (84. Maluku. Kalimantan Barat. Kalimantan Barat. Kalimantan Barat. Nusa Tenggara Barat. Gorontalo. Persentase nasional rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri adalah 60. Secara nasional. Sulawesi Barat. Kalimantan Tengah. Sulawesi Tengah. Sumatera Selatan. Maluku Utara.5%). Maluku. dan Papua Barat. DKI Jakarta. Bengkulu. Kalimantan Timur.9%. Sulawesi Tenggara. Bangka Belitung. yaitu Sumatera Utara. Papua Barat. Kalimantan Selatan. Kalimantan Selatan.• Secara nasional. 3 aspek Ketanggapan Pelayanan Kesehatan yang memperoleh penilaian baik terendah dari rumah tangga adalah Kebersihan Ruangan (82. Papua Barat. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Barat. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Barat. Kepulauan Riau. Jambi. Nusa Tenggara Timur. Sumatera Selatan. Sulawesi Selatan. Kalimantan Selatan. Kalimantan Timur. Bali. Banten. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Timur. Kalimantan Barat. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga • Ketanggapan Pelayanan Kesehatan • • Air Bersih • Fasilitas buang air besar • Sarana Pembuangan Air Limbah • Pembuangan sampah • xxii . Sebanyak 23 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang tidak mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah diatas persentase nasional. Maluku Utara. Jawa Timur. DI Yogyakarta. dan Papua. dan Waktu Tunggu (84. dan Papua. Sebanyak 20 provinsi mempunyai rerata pemakaian air bersih per orang per hari < 20 liter dibawah persentase nasioal. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. dan Papua. Sumatera Barat. Jambi. Lampung. Jawa Timur.

Secara nasional terdapat 39. Kalimantan Barat. masa nifas perlu terus menerus ditingkatkan untuk menurunkan kematian maternal dan perinatal.5% memelihara binatang jenis anjing.6% memelihara ternak sedang. Maluku Utara. Kalimantan Tengah. Selanjutnya. Di lain pihak. Pemeliharaan Ternak • Mortalitas • • • xxiii . Maluku. Dengan demikian Pemerintah khususnya Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan menghadapi beban ganda. Transisi epidemiologi ditandai dengan pergeseran penyebab kematian dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. persalinan. Dari rumah tangga yang memelihara ternak sekitar 10-20% memeliharanya di dalam rumah. Maluku. Maluku Utara. yaitu Lampung. Gambaran nasional selama 12 tahun (1995–2007) menunjukkan bahwa proses transisi epidemiologi telah berlangsung seiring dengan transisi demografi. Jawa Timur. Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 7 provinsi mempunyai persentase rumah tangga dengan rumah berlantai tanah diatas persentase nasional. Jawa Barat. Gorontalo. Sumatera Utara. Papua Barat. Lampung. Penurunan proporsi penyakit menular sebagai penyebab dasar kematian tahun 2001-2007 tidak terlalu besar dibandingkan dengan periode sebelumnya (19952001).4% rumah tangga yang memelihara unggas. Jawa Timur. Perumahan • Persentase nasional rumah tangga dengan rumah berlantai tanah adalah 13. Sumatera Selatan. Banten. dan Papua. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. proporsi penyakit/gangguan yang berhubungan dengan kematian maternal serta kematian perinatal tidak berubah dalam periode terakhir (2001-2006). Nusa Tenggara Timur. peningkatan proporsi penyakit tidak menular selama periode tahun 1995-2001 dan periode tahun 2001-2007 hampir sama. Sulawesi Barat.0% memelihara ternak besar dan 12. Nusa Tenggara Timur. 11. Bali. 9. Transisi demografi ditandai dengan pergeseran proporsi kematian dari struktur penduduk umur muda ke arah penduduk umur yang lebih tua. Jawa Tengah. dan Papua. Upaya-upaya peningkatan pelayanan berkualitas untuk kehamilan. yaitu ancaman penyakit menular yang penurunannya melambat dan cenderung menetap.8%. Jambi. serta peningkatan penyakit tidak menular yang melaju cukup cepat. Riau. kucing atau kelinci.yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah diatas persentase nasional.

.............6 Manajemen Data....................................................................................13 2...8 2..................................1 Latar Belakang...........................2 Lokasi...........................................................................................................................................................5 Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data..........9 Persetujuan Etik Riskesdas..................................................................................................................................................1 Editing.........18 xxiv .......................................................................................7 2............3............................................................xliii BAB 1........ 8 2..............................................................9 2...............................................................xxiv Daftar Tabel........................... 3 1....... xxvii Daftar Singkatan.....3 Pertanyaan Penelitian......................................................... 2 1.... 18 2.............v Daftar isi...................................................................................................................................3............................................................................. 5 1.............................................2 1.............................................................................................................................1 1..........................4 Penarikan Sampel Biomedis............................3.......5 Kerangka Pikir.......................1 Disain.....7 2....................................................................................................................5 Penarikan Sampel Iodium.................................DAFTAR ISI kata pengantar..........................................i sambutan menteri kesehatan republik indonesia...................................................8 Manfaat Riskesdas..................................................3 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga.........iii ringkasan .................................2 Ruang Lingkup Riskesdas 2007.....3..............6 BAB 2............9 2.....................7 Pengorganisasian Riskesdas.7 2...............................................................3 Populasi dan Sampel...............................................................1 Penarikan Sampel Blok Sensus.......................4 1.....................6.............................................................................................. dan grafik...................................... Metodologi Riskesdas.3 1.................6 1.14 2......................................................................1 1.8 2..........................3..............2 Penarikan Sampel Rumah Tangga........ 8 2....................................................................................................................................................................................................................................6 Alur Pikir Riskesdas 2007.............xl Daftar Lampiran..... gambar..................................................................................... Pendahuluan ......................4 Variabel.......4 Tujuan Riskesdas.

............2.................................................................................... Pnemonia.........1 Status Imunisasi...71 3.................147 3.173 3......1 Perilaku Merokok.........98 3.......34 3.....................4 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak................................2 Pemantauan Pertumbuhan Balita........147 3..3 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas....... 160 3.....3 Penyakit Menular..1.........................1......7 Keterbatasan Riskesdas.................2 Diabetes Mellitus..............7...........................................18 2..................................... 48 3..................................................2 Kesehatan Ibu dan Anak..............................6 Cedera dan Disabilitas..........65 3............................................... 65 3...........................79 3.................1 Prevalensi Filariasis........................6..........4.... Demam Berdarah Dengue dan Malaria........3 Prevalensi Tifoid........ 20 BAB 3..19 2............................................................................................. 160 3.............................................5 Biomedis................6........ Hasil dan Pembahasan......................4 Penyakit Tidak Menular........................................................................3.............................................. Diare............ 129 3..2 Entry................ 102 3.......................................... Hepatitis....................................4 Kesehatan Gigi.......................................2 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah)..3 Distribusi Kapsul Vitamin A........81 3........ 56 3...........2 Prevalensi ISPA..........1 Penyakit Tidak Menular Utama......................2.7 Pengetahuan................................................3 Cleaning................................................3 Penyakit Mata..............................................................................................60 3.............1 Gizi.....4.1 Anemia........... dan Penyakit Keturunan........4 Konsumsi Energi dan Protein....................106 3.4.............. Sikap dan Perilaku.......34 3......4....................... 174 xxv ...............1 Cedera......3...1 Status Gizi Balita...............109 3.........2..........5 Konsumsi Garam Beriodium.........................................................155 3........2 Status Disabilitas / Ketidakmampuan...............1....................18 2...................1....... 45 3..........................1........ 118 3............................................................................................................3...........2...........................................................................................................................5.................................8 Pengolahan dan Analisis Data.......................................5. Penyakit Sendi...............6.....................................6......................................................................................2 Gangguan Mental Emosional...... Tuberkulosis (TB).....34 3......................................................................2....................................................................98 3........................................ dan Campak............................................................................109 3.. 170 3................. 121 3................................

..............7 Pola Konsumsi Makanan Berisiko.........10...........9.............8........................................286 Lampiran...7....................................................3.............192 3...............................9.....................................7........6 Perilaku Higienis...............................211 3...1 Air Keperluan Rumah Tangga.. 243 3............... 230 3.............................................................267 3.......................265 3........9 Kesehatan Lingkungan.....275 3.....1 Distribusi Kasus Kematian.......................2 Kematian Semua Umur....8...... 202 3.................................7....................................................................................276 3........2 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan.....10 Mortalitas............................10......................................275 3..............10.8 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat....................270 3...............2 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur.................. 91 2 xxvi ................................................7......8 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan...7..........3 Kematian Menurut Kelompok Umur...................... 211 3...............4 Pembuangan sampah.9..............................4 Perilaku Aktifitas Fisik.....................7.............................................................................3 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan .........................9...........................................................................9................................ 189 3........................................1 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan..........5 Perumahan....................3 Perilaku Minum Minuman Beralkohol...................8.....................................................2 Fasilitas Buang Air Besar. 205 3.................................243 3........3 Sarana pembuangan air limbah.. 186 3.................................................5 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS.....................194 3..... 238 3.....................7.........................................207 3................................278 Daftar Pustaka........257 3............................................................

2 Tabel 2.7 Tabel 3. Riskesdas 2007 74 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke 75 Atas) Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)*dan Karakteristik Responden. Tabel 3. 61 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)* dan Provinsi. DAN GRAFIK Nomor Tabel Tabel 1.6 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Status Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Karakteristik Responden. 2007 Jumlah Sampel Anggota Rumah tangga (ART) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas. 64 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)*dan Karakteristik 65 Responden. Umur dan Jenis Kelamin.2. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)*dan Karakteristik 67 Responden. 2007 Hal Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)* dan Provinsi.11 Tabel 3.9 Tabel 3.3.5 Tabel 3.3. Riskesdas 2007 68 Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Provinsi. WHO 2007 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 tahun menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.10 Tabel 3. 63 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)* dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Provinsi.13 Nama Tabel Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel Jumlah Blok Sensus (BS) menurut Susenas 2007 dan Riskesdas 2007 Jumlah Sampel Rumah tangga (RT) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.DAFTAR TABEL.8 Tabel 3. GAMBAR. Tabel 3.1. Tabel 3. 69 Riskesdas 2007 Standar Penentuan Kurus dan Berat Badan (BB) Lebih menurut 70 Nilai Rerata IMT.12 Tabel 3.1 Tabel 2.4. Riskesdas 2007 71 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 Tahun menurut 72 Karakteristik.1. Tabel 3. Tabel 3. Riskesdas 2007 76 xxvii . Tabel 2.

Riskesdas 2007 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita . Riskesdas 2007 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional.23 Tabel 3.25 Tabel 3.18 Tabel 3.17 Tabel 3.14 Tabel 3.28 Persentase Anak 6-12 Tahun Dengan Ekskresi Iodium Dalam Urine < 100 µg/L Di 30 Kabupaten/Kota. Riskesdas 2007 Nilai Median Ekskresi Iodium dalam Urin Anak Sekolah 6-12 Tahun di 30 Kabupaten/ Kota.29 Tabel 3.20 Tabel 3.19 Tabel 3.22 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden. Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Iodium menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15-45 Tahun Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun. Riskesdas 2007.27 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah mengandung Iodium Tangga yang mempunyai Garam Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium Menurut Karakteristik Responden.24 < 30 ppm (part per million) di 30 Kabupaten/ Kota.Tabel 3.21 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke 77 Atas menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita per Hari menurut Provinsi.26 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Perempuan Umur 15-45 Tahun menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden. Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.30 xxviii . Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.15 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Tabel 3.16.

38 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Jenis Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Provinsi.35 Tabel 3.46 Tabel 3.36 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Kepemilikan Buku KIA pada Balita Menurut Provinsi.43 Tabel 3. xxix .33 Tabel 3.45 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Karakteristik Responden.Tabel 3.42 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Provinsi.48 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Provinsi. Riskesdas 2007 Sebaran Balita Menurut Kepemilikan Buku KIA dan Karakteristik Responden.44 Tabel 3.41 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden.34 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.37 Tabel 3.32 Tabel 3.40 Tabel 3. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Pemeriksaan Kehamilan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Karakteristik.47 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Provinsi.39 Tabel 3.31 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.

Riskesdas 2007 Prevalensi ISPA. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Persendian. dan Strok menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Karakteristik Responden. Diabetes* Dan Tumor** menurut Provinsi. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi. Demam Berdarah Dengue.51 Tabel 3. Pneumonia.64 Tabel 3.50 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Tifoid. Riskesdas 2007 Diare menurut Karakteristik Tabel 3.55 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Provinsi.59 Tabel 3. Riskesdas 2007 menurut Karakteristik Tabel 3.58 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Provinsi. dan Campak menurut Provinsi.62 Tabel 3.60 Tabel 3.Riskesdas 2007 Tabel 3. Hipertensi. Demam Berdarah Dengue. Jantung*. Riskesdas 2007 Prevalensi Tifoid. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Asma*.65 Prevalensi Penyakit Persendian.56 Tabel 3. Hipertensi.54 Tabel 3. TB. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Provinsi. Riskesdas 2007 xxx . Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Frekuensi Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Neonatus Responden.49 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Provinsi.63 Tabel 3. Pneumonia. TB. Hepatitis.61 Tabel 3.52 Tabel 3. Hepatitis.53 Tabel 3.57 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Filariasis. Riskesdas 2007 Prevalensi ISPA. dan Campak menurut Karakteristik Responden. Diare menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Filariasis. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Karakteristik Responden. Responden. dan Strok menurut Karakteristik Responden.62 Tabel 3.

80 Tabel 3.71 Tabel 3.67 Prevalensi Penyakit Asma. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk Provinsi. Glaukoma.69 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Keturunan*:Gangguan Jiwa Berat. Rhinitis.74 Tabel 3. Dan Tumor menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Provinsi. Jantung.76 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Provinsi Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Karakteristik Responden Proporsi Penduduk Usia 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.68 Tabel 3.70 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Provinsi. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Provinsi Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.66 Tabel 3.81 xxxi .75 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak Menurut Karakteristik Responden. Diabetes Mellitus.72 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Karakteristik Responden.Riskesdas 2007 Bermasalah Gigi-Mulut menurut menurut Tabel 3. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Karakteristik Responden.73 Tabel 3. Hemofili (Permil) Menurut Provinsi. Buta Warna. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Karakteristik Responden. Talasemi.77 Tabel 3. Sumbing. Dermatitis.78 Tabel 3.79 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut Karakteristik Responden.Tabel 3.

Riskesdas 2007 Persentase Kadar Glukosa Darah Responden DDM Setelah Dua Jam Pemberian Makanan Cair 300 Kalori. Anak-anak dan Ibu Hamil.95 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi TGT dan DM Menurut Karakteristik Responden.88 Tabel 3. F dan Index DMF-T menurut Karakteristik Responden. DM.99 Tabel 3.92 Tabel 3.91 Tabel 3. M.101 Tabel 3. Riskesdas 2007 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Dewasa PerkotaanMenurut Tabel 3.98 Tabel 3.96 Tabel 3. Protesa dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Provinsi.84 Tabel 3.94 Tabel 3.83 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi TGT dan DM Menurut IMT. M. Riskesdas 2007 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Nilai Rerata Kadar Hemoglobin Penduduk Perkotaan menurut Provinsi Riskesdas 2007 Rentang Nilai Normal Kadar Hemoglobin Perempuan dan Lakilaki Dewasa.90 Tabel 3.103 Proporsi Berbagai Jenis Anemia Pada Orang Dewasa Dan AnakAnak Nilai Rerata ± 1SD Hasil Pemeriksaan Hematologi Lain Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Menurut Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Prevalensi TGT.86 Tabel 3.Tabel 3. Protesa dan Provinsi.102 Tabel 3.85 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi. Riskesdas 2007 Komponen D.93 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi.89 Tabel 3. Riskesdas 2007 Komponen D. Edentulous.82 Tabel 3.87 Tabel 3.97 Tabel 3. Riskesdas 2007 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Penduduk Provinsi.100 Tabel 3. DDM dan UDDM pada penduduk perkotaan di Indonesia Riskesdas 2007 Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu dan Diabetes Mellitus menurut Provinsi di Daerah Perkotaan. Edentulous. F dan Index DMF-T Menurut Provinsi. Obesitas Abdominal dan xxxii .

Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Karakteristik Responden.119 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.107 Tabel 3. Prevalensi Cedera Menurut Bagian TubuhTerkena dan Karakteristik Responden.106 Tabel 3.118 Tabel 3.Hipertensi Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun KeatasMenurut Status dan Provinsi.120 Tabel 3.114 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Karakteristik Responden.115 Tabel 3. Riskesdas 2007.110 Tabel 3. Prevalensi Jenis Cedera Menurut Provinsi.112 Tabel 3. Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Yang Bermasalah Dalam Fungsi Tubuh/Individu/Sosial. Riskesdas 2007 Prevalensi Cedera Menurut Bagian Tubuh Terkena dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok Saat ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.108 Tabel 3.105 Tabel 3.106. Riskesdas 2007 Tabel 3.117 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Karakteristik Responden.104 Tabel 3.116 Tabel 3.111 Prevalensi DM dan TGT Menurut Kebiasaan Makan Sayur Buah dan Aktifitas Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/ Mengunyah Tembakau dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/Mengunyah Tembakau dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi.113 Tabel 3.109 Tabel 3.121 xxxiii .

Tabel 3.135 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Provinsi.137 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut.132 Tabel 3.124 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden di Indonesia.140 xxxiv .129 Tabel 3.133 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3.128 Tabel 3.130 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Andaikata Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.126 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi.127 Tabel 3.Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Karakteristik Responden di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap Tentang Flu Burung dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Karakteristik Responden.122 Tabel 3.138 Tabel 3.136 Tabel 3.131 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Provinsi.123 Prevalensi Perokok Dalam Rumah Ketika Bersama Anggota Rumah Tangga menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi.134 Tabel 3.125 Tabel 3.139 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Bila Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung dan Provinsi.

Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat*) dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Provinsi.157 xxxv . Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Karakteristik Rumah Tangga.153 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.154 Tabel 3.141 Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Baik menurut Provinsi.147 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Provinsi.151 Tabel 3. Tabel 3.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Posyandu/Poskesdes Riskesdas 2007 Tangga Menurut Pemanfaatan dan Karakteristik Rumah Tangga.148 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.149 Tabel 3.156 Tabel 3.150 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Karakteristik Rumah Tangga.155 Tabel 3.152 Tabel 3. Kurang Aktifitas Fisik.143 Tabel 3.145 Tabel 3. Kurang Aktifitas Fisik dan Merokok) pada Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat* dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) dan Karakteristik Rumah Tangga.144 Tabel 3.142 Tabel 3. dan Merokok) pada Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.146 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.

Riskesdas 2007 Persentase Responden yang Rawat Jalan Satu tahun terakhir Menurut Tempat dan Provinsi.169 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Responden Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Karakteristik Rumah Tangga.167 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.165 Tabel 3.172 Tabel 3.166 Tabel 3. Riskesdas xxxvi .176 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.173 Tabel 3.162 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi.174 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Provinsi di Indonesia.170 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi.160 Tabel 3.171 Tabel 3.175 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Menurut Tempat dan Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3.159 Tabel 3.168 Tabel 3.158 Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa Menurut Alasan Lain dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Karakteristik Rumah Tangga.163 Tabel 3.161 Tabel 3.164 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Provinsi.

193 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Karakteristik Rumah Tangga. Ketersediaan Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Ketersediaan Air Bersih dan Provinsi di Indonesia. Tabel 3.188 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Provinsi di Indonesia.182 Tabel 3.186 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.187 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air.184 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Anggota Rumah Tangga yang Biasa Mengambil Air dan Karakteristik Rumah Tangga.189 Tabel 3.180 Tabel 3. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga.2007 Tabel 3.183 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap xxxvii . Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Individu yang Biasa Mengambil Air Dalam Rumah Tangga dan Provinsi di Indonesia.192 Tabel 3. Susenas 2007 Tabel 3.177 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Karakteristik Rumah Tangga. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan dan Pengolahan Air Minum Digunakan/Diminum dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Provinsi di Indonesia.185 Tabel 3.190 Tabel 3.191 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Provinsi. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.181 Tabel 3.179 Tabel 3.178 Tabel 3.194 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan dan Pengolahan Air Minum Digunakan/Diminum dan Karakteristik Rumah Riskesdas 2007 Tempat Sebelum Tempat Sebelum Tangga.

Riskesdas 2007 Distribusi Kasus Kematian menurut Kelompok Umur dan Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Rumah.210 . Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Rumah Dan Kepadatan Hunian Dan Karakteristik Rumah Tangga.204 Tabel 3. Riskesdas 2008 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Karakteristik Rumah Tangga. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Provinsi.197 Tabel 3.206 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.199 Tabel 3.201 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 hari dan 7-28 ha xxxviii Tabel 3. Susenas 2007 Tabel 3.Sanitasi dan Provinsi. Riskesdas 2007 Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok Penyakit. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 Proporsi Penyakit menular dan Tidak Menular pada Semua Umur.196 Tabel 3. Riskesdas 2007 Distribusi Kasus Kematian Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin.195 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Karakteristik Rumah Tangga. Kepadatan Hunian dan Provinsi. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Provinsi.207 Tabel 3.202 Tabel 3.198 Tabel 3.209 Tabel 3.208 Tabel 3.200 Tabel 3.205 Tabel 3.203 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Provinsi.

218 Tabel 3.210 Tabel 3.211 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Jenis Kelamin.212 Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian Bayi 0-6 hari.219 Tabel 3.211 Tabel 3.216 Tabel 3.213 Tabel 3.217 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok umur 15-44 Tahun menurut Tipe Daerah.214 Tabel 3.215 Tabel 3.212 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 65 Tahun ke atas enurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut jenis kelamin. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 5-14 tahun menurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 5 tahun ke Atas menurut Tipe Daerah.Riskesdas 2007 Proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari-4 tahun. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun enurut Jenis Kelamin. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun enurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 65 Tahun ke atas menurut Jenis Kelamin xxxix .Tabel 3.

Teeth Daerah Khusus Ibukota Diptheri Pertusis Tetanus Daerah Istimewa Yogyakarta Decay Missing Filling . Disability and Health International Council for the Control of Iodine Deficiency Disorders International Unit Joint National Committee Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Kepulauan Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat xl .DAFTAR SINGKATAN ART AFP ASKES ASKESKIN BB BB/U BB/TB BUMN BALITA BABEL BCG BBLR BATRA CPITN D DG DM DDM D-T DKI DPT DIY DMF-T DEPKES F-T G HB IDF IMT ICF ICCIDD IU JNC JABAR JATENG JATIM KEPRI KALTIM KALTENG KALSEL KALBAR Anggota Rumah Tangga Acute Flaccid Paralysis Asuransi Kesehatan Asuransi Kesehatan Miskin Berat Badan Berat Badan Menurut Umur Berat Badan Menurut Tinggi Badan Badan Usaha Milik Negara Bawah Lima Tahun Bangka Belitung Bacillus Calmete Guerin Berat Bayi Lahir Rendah Pengobatan Tradisional Community Periodental Index Treatment Needs Diagnosis Diagnosis dan Gejala Diabetes Mellitus Diagnosed Diabetes Mellitus Decay .Teeth Departemen Kesehatann Filling Teeth Gejala klinis Hemoglobin International Diabetes Federation Indeks Massa Tubuh International Classification of Functioning.

KK Kg KEK KKAL KEP KMS KIA KLB LP LILA mmHg mL MI M-T MTI MDG Malut Nakes NAD NTT NTB O Poskesdes Polindes Pustu Puskesmas PTI POLRI PNS PT PPI PD3I PIN Posyandu PPM RS RSB RTI RPJM Riskesdas SRQ SKTM SPAL Sumbar Sumsel Sulut Sulbar Sulsel Sulteng Kepala Keluarga Kilogram Kurang Energi Kalori Kilo Kalori Kurang Energi Protein Kartu Menuju Sehat Kesehatan Ibu dan Anak Kejadian Luar Biasa Lingkar Perut Lingkar Lengan Atas Milimeter Air Raksa Mili Liter Missing index Missing Teeth Missing Teeth Index Millenium Development Goal Maluku Utara Tenaga Kesehatan Nanggroe Aceh Darussalam Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Obat atau Oralit Pos Kesehatan Desa Pondok Bersalin Desa Puskesmas Pembantu Pusat Kesehatan Masyarakat Performed Treatment Index Polisi Republik Indonesia Pegawai Negeri Sipil Perguruan Tinggi Panitia Pembina Ilmiah Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi Pekan Imunisasi Nasonal Pos Pelayanan Terpadu Part Per Million Rumah Sakit Rumah Sakit Bersalin Required Treatment Index Rencana Pembangunan Jangka Menengah Riset Kesehatan Dasar Self Reporting Questionnaire Surat Keterangan Tidak Mampu Saluran Pembuangan Air Limbah Sumatera Barat Sumatera Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah xli .

Sultra SD SD SLTP SLTA TB TB TB/U TT TDM TGT UNHCR UNICEF UCI UDDM WHO WUS µl Sulawesi Tenggara Standar Deviasi Sekolah Dasar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Tinggi Badan Tuberkulosis Tinggi Badan/Umur Tetanus Toxoid Total Diabetes Mellitus Toleransi Glukosa Terganggu United Nations High Commissioner for Refugees United Nations Children's Fund Universal Child Immunization Undiagnosed Diabetes Mellitus World Health Organization Wanita Usia Subur Mikro Liter xlii .

2. Struktur organisasi Riskesdas (Kepmenkes) Persetujuan Etik Kuesioner Riskesdas xliii . 1.DAFTAR LAMPIRAN 1.1.2.1.

.

yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based di seluruh Indonesia.BAB 1. Penyelenggaraan Riskesdas 2007 dimaksudkan pula untuk membangun kapasitas peneliti di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riskesdas 2007 dirancang dengan pengendalian mutu yang ketat. serta manajemen data yang terkoordinasikan dengan baik. Untuk mewujudkan visi “masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat”. Pada tahap disain. status gizi. Informasi yang valid. perilaku kesehatan. Sehingga dapat dikatakan bahwa survei yang ada belum memadai untuk perencanaan kesehatan di tingkat kabupaten/kota. Dengan demikian. belum sepenuhnya dibuat berdasarkan informasi komunitas yang berbasis bukti. Riskesdas 2007 diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). selain validitas dan reliabilitas. Data dasar yang dihasilkan Riskesdas 2007 terdiri dari indikator kesehatan utama tentang status kesehatan. sampel yang memadai. Sampai saat ini belum tersedia peta status kesehatan (termasuk data biomedis) dan faktor-faktor yang melatarbelakangi di tingkat kabupaten/kota. asupan. kesehatan lingkungan.PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) adalah sebuah policy tool bagi pembuat kebijakan kesehatan diberbagai jenjang administrasi. Pengalaman menunjukkan bahwa komparabilitas dari suatu survei rumah tangga seperti Riskesdas 2007 dapat dicapai dengan efisien melalui disain instrumen yang canggih dan ujicoba yang teliti dalam pengembangannya. reliable dan comparable dari suatu proses pemantauan dan penilaian sesungguhnya dapat berkontribusi bagi ketersediaan evidence pada skala nasional. tetapi juga menggambarkan berbagai indikator kesehatan minimal sampai ke tingkat kabupaten/kota. Pelaksanaan Riskesdas 2007 adalah upaya mengisi salah satu dari 4 (empat) grand strategy Departemen Kesehatan. agar mampu mengembangkan dan melaksanakan survei berskala besar serta menganalisis data yang kompleks. Lebih jauh lagi. bukan saja berskala nasional. baik untuk tingkat individual maupun rumah tangga menjadi isu yang sangat penting. reliable dan comparable dari Riskesdas 2007 dapat digunakan untuk mengukur berbagai status kesehatan. Susenas Modul Kesehatan dan Sjurvei Kesehatan Rumah Tangga hanya menghasilkan estimasi yang mewakili tingkat kawasan atau provinsi. Departemen Kesehatan RI mengembangkan misi: “membuat rakyat sehat”. informasi yang valid. Pengalaman menunjukkan bahwa berbagai survei berbasis komunitas seperti Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia. sebagai salah satu unit utama di lingkungan Departemen Kesehatan yang berfungsi menyediakan informasi kesehatan berbasis bukti. maka kewenangan yang lebih besar dalam perencanaan kesehatan kini berada di tingkat pemerintahan kabupaten/kota. 1 . dan berbagai aspek pelayanan kesehatan. Rencana pembangunan kesehatan yang appropriate dan adequate membutuhkan data berbasis komunitas yang dapat mewakili populasi (rumah tangga dan individual) pada berbagai jenjang administrasi. provinsi dan kabupaten/kota. Data dasar ini. Sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. proses serta luaran sistem kesehatan. untuk meningkatkan manfaat Riskesdas 2007 maka komparabilitas berbagai alat pengumpul data yang digunakan. baik di pusat maupun di daerah. Pelaksanaan Riskesdas 2007 mengakui pentingnya komparabilitas. perumusan dan pengambilan kebijakan di bidang kesehatan.

J: Jawa-Bali. Sampel 35. Apa dan bagaimana faktor-faktor yang melatarbelakangi status kesehatan masyarakat di tingkat nasional. Gizi & Pola Konsumsi -S/J/KTI 5.Atas dasar berbagai pertimbangan di atas. provinsi dan kabupaten/kota? b. Perilaku -S/J/KTI 4. Sanitasi lingkungan -S/J/KTI 6. Riskesdas 2007 menyediakan informasi kesehatan dasar termasuk biomedis.1.000 -Kabupaten Provinsi Kabupaten ------ Riskesdas 2007 280. provinsi dan kabupaten/kota? c. KTI: Kawasan Timur Indonesia 1. Apa masalah kesehatan masyarakat yang spesifik di setiap provinsi dan kabupaten/kota? 2 . tingkat keterwakilan Riskesdas adalah sebagai berikut : Tabel 1.000 2. Bagaimana status kesehatan masyarakat di tingkat nasional. Dibandingkan dengan survei berbasis komunitas yang selama ini dilakukan. 1. Disabilitas -S/J/KTI 9. Cedera & Kecelakaan Nasional S/J/KTI 8. Riskesdas 2007 mencakup sampel yang lebih besar dari survei-survei kesehatan sebelumnya. dan mencakup aspek kesehatan yang lebih luas.3 Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian dalam Riskesdas 2007 dikembangkan berdasarkan pertanyaan kebijakan kesehatan yang sangat mendasar terkait upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel Indikator SDKI SKRT Susenas 2007 280. Biomedis --S: Sumatera. Balitbangkes melaksanakan Riskesdas untuk menyediakan informasi berbasis komunitas tentang status kesehatan (termasuk data biomedis) dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya dengan keterwakilan sampai tingkat kabupaten/kota.000 10. Gigi & Mulut --10.2 Ruang Lingkup Riskesdas 2007 Riskesdas 2007 adalah riset berbasis komunitas dengan sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga yang dapat mewakili populasi di tingkat kabupaten/kota. dengan menggunakan sampel Susenas Kor.000 Nasional Kabupaten Kabupaten Kabupaten Prov/Kab Prov/Kab Prov/Kab Prov/Kab Nasional perkotaan 1. Sesuai dengan latar belakang pemikiran dan kebutuhan perencanaan. Penyakit -S/J/KTI 7. maka pertanyaan penelitian yang harus dijawab melalui Riskesdas adalah: a. Pola Mortalitas Nasional S/J/KTI 3.

provinsi dan kabupaten/kota. Faktor yang mempengaruhi Status Kesehatan (Blum 1974) Pada Riskesdas tahun 2007 ini tidak semua indikator dikumpulkan baik yang terkait dengan status kesehatan maupun ke empat faktor penentu dimaksud.4 Tujuan Riskesdas Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut diatas.1. 1981).1. Bagan kerangka pikir Blum dapat dilihat pada Gambar 1. pelayanan kesehatan dan keturunan. c. Konsep ini terfokus pada status kesehatan masyarakat yang dipengaruhi secara simulatn oleh empat faktor penentu yang saling berinteraksi satu sama lain.5 Kerangka Pikir Pengembangan Riskesdas 2007 didasari oleh kerangka pikir Henrik Blum (1974. Keempat faktor penentu tersebut adalah: lingkungan.1. maka tujuan Riskesdas 2007 adalah sebagai berikut : a. d. Menyediakan peta status dan masalah kesehatan di tingkat nasional. perilaku. Status kesehatan mencakup variabel: 3 . Berbagai indikator yang ditanyakan. Gambar 1. Menyediakan informasi berbasis bukti untuk perumusan kebijakan pembangunan kesehatan di berbagai tingkat administratif. Menyediakan informasi untuk perencanaan kesehatan termasuk alokasi sumber daya di berbagai tingkat administratif. b. diukur atau diperiksa adalah sebagai berikut : a. Membandingkan status kesehatan dan faktor-faktor yang melatarbelakangi antar provinsi dan antar kabupaten/kota 1.

meliputi konsumsi energi. comparable. Dengan demikian. pengukuran lingkar perut untuk penduduk dewasa 15 tahun keatas.6 Alur Pikir Riskesdas 2007 Alur pikir (Gambar 1. Faktor lingkungan mencakup variabel: • c. Substansi pertanyaan. Faktor perilaku mencakup variabel: • • • • • • • • • • d. HIV/AIDS Akses terhadap pelayanan kesehatan. Ketanggapan pelayanan kesehatan. Keenam tahapan ini terkait erat dengan ide dasar Riskesdas untuk menyediakan data kesehatan yang valid. maka pada setiap tahapan Riskesdas 2007 dilakukan upaya penjaminan mutu yang ketat. Perilaku konsumsi sayur dan buah. hasil Riskesdas 2007 bukan saja harus mampu menjawab pertanyaan kebijakan. Perilaku gosok gigi. meliputi air minum. pengukuran dan pemeriksaan Riskesdas 2007 mencakup data kesehatan yang mengadaptasi sebagian pertanyaan World Health Survey yang dikembangkan oleh the World Health Organization.• • • • Mortalitas (pola penyebab kematian untuk semua umur) Morbiditas. Siklus yang dimulai dari Tahapan 1 hingga Tahapan 6 menggambarkan sebuah system thinking yang seyogyanya berlangsung secara berkesinambungan dan berkelanjutan. kabupaten/kota Perilaku merokok/konsumsi tembakau dan alkohol. meliputi tingkat pendidikan. berbagai instrumen yang dikembangkan untuk Riskesdas 2007 mengacu pada berbagai instrumen yang telah ada dan banyak 4 . termasuk untuk upaya kesehatan berbasis masyarakat. meliputi prevalensi penyakit menular dan penyakit tidak menular Disabilitas (ketidakmampuan) Status gizi (berdasarkan pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk semua umur. Perilaku aktivitas fisik. perbandingan kota – desa dan perbandingan antar provinsi. Perilaku higienis (cuci tangan. dan pengukuran lingkar lengan atas untuk wanita usia 15-45 tahun) Kesehatan jiwa Konsumsi gizi. namun harus memberikan arah bagi pengembangan pertanyaan kebijakan berikutnya. reliable. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan. buang air besar) Pengetahuan. protein. polusi dan sampah Lingkungan sosial. reliable dan comparable. Untuk menjamin appropriateness dan adequacy dalam konteks penyediaan data kesehatan yang valid. Dengan demikian. Cakupan program KIA (pemeriksaan kehamilan. vitamin dan mineral Lingkungan fisik. sikap dan perilaku terhadap flu burung. sanitasi. serta dapat menghasilkan estimasi yang dapat mewakili rumah tangga dan individu sampai ke tingkat kabupaten/kota. pemeriksaan bayi dan imunisasi). tingkat sosial-ekonomi. • • • b. Pelayanan kesehatan mencakup variabel: 1.2) ini secara skematis menggambarkan enam tahapan penting dalam Riskesdas 2007.

7 Pengorganisasian Riskesdas 5 . pe m eriksaan • Valid tas i • R eliab l t iias R is kes das 2007 5. pe n gukuran. Laporan • Tabel Dasar • Hasil Pendahuluan Nasional • Hasil Pendahuluan Provinsi • Hasil Akhir Nasional 2. diuji dan dipergunakan untuk mengukur berbagai aspek kesehatan termasuk didalamnya input. process. Statistik • Deskript f i • Bivar a it • Mult va i t i ra • Uji Hipotesis 3. Disain Alat Pengumpul Data • Kuesioner wawancara. Manajemen Data Riskesdas 2007 • Edit ing • Entry • Cleaning  follow up • Perlakuan terhadap missing data • Perlakuan terhadap outlie rs • Consistency check 1. Pelaksanaan Riskesdas 2007 • Pen g e mban ga n manual Riskesdas • Pen g e mban ga n m o dul pelatihan • Pelat ihan pelaksana • Pen elusuran sampel • Pen g organisasia n 4.2. Gambar 1.digunakan oleh berbagai bangsa di dunia (61 negara). Instrumen dimaksud dikembangkan. Indikator • Morb i as id t • Mortal t i as • Ketanggapan • Pembiayaan • Sistem Kesehatan • Ko m p osit var iabellainnya Policy Ques tions R es earch Ques tions 6. Alur Pikir Riskesdas 2007 1. output dan outcome kesehatan.

perguruan tinggi.9 Persetujuan Etik Riskesdas Riskesdas ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Lampung. untuk perencanaan pembangunan kesehatan yang 1. Koordinator Wilayah 3 dengan penanggung-jawab Puslitbang Sistem dan d.2)) 6 . Sulawesi Tenggara. c. DI Yogyakarta. Gorontalo. Papua Barat. Stratifikasi indikator kesehatan menurut status sosial-ekonomi sesuai hasil Susenas 2007. dan Kalimantan Barat Kebijakan Kesehatan untuk: Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 877 Tahun 2006. Jambi. Jawa Barat.Sulawesi Utara.8 Manfaat Riskesdas Riskesdas memberikan manfaat bagi perencanaan pembangunan kesehatan berupa : • • • Tersedianya data dasar dari berbagai indikator kesehatan di berbagai tingkat administratif. 1. Kalimantan Barat. Jawa Tengah.Riskesdas direncanakan dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. antara lain Badan Pusat Statistik. Nusa Tenggara Timur. dan Kepulauan Riau b. dan Sulawesi Barat. Sulawesi Tengah. d. pemerintah daerah. Maluku. Kalimantan Selatan. Maluku Utara. b. Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Barat. Tersedianya informasi berkelanjutan. (Lampiran 1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia dengan melibatkan berbagai pihak.1. koordinator wilayah dan jadwal pengumpulan data per wilayah disusun sebagai berikut: a.) : a. dan partisipasi masyarakat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. pengorganisasian Riskesdas 2007 dibagi menjadi berbagai tingkat dengan rincian sebagai berikut (Lihat Lampiran 1.jawab Puslitbang Biomedis dan Farmasi untuk: Provinsi DKI Jakarta. Daftar provinsi. Koordinator Wilayah 4 dengan penanggung-jawab Puslitbang Gizi dan Makanan untuk: Provinsi Bengkulu. Riau. Bangka Belitung. Sumatera Barat. Tingkat pusat Tingkat wilayah (empat wilayah) Tingkat provinsi (33 Provinsi) Tingkat kabupaten (440 Kabupaten/Kota) Tim pengumpul data (disesuaikan dengan kebutuhan lapangan) Pengumpulan data Riskesdas 2007 direncanakan untuk dilakukan segera setelah selesainya pengumpulan data Susenas 2007. e. Sumatera Utara. Bali. Sumatera Selatan. lembaga penelitian. organisasi profesi. Kalimantan Tengah. Koordinator Wilayah 2 dengan penanggung. Koordinator Wilayah 1 dengan penanggung-jawab Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan untuk: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). dan Papua c. Banten.

secara menyeluruh. 5) Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat). 13) Kabupaten Gorontalo Utara (Provinsi Gorontalo). Kabupaten dimaksud adalah sebagai berikut: 1) Kab. Dengan demikian. Riskesdas 2007 menyediakan data dasar yang dikumpulkan melalui survei berskala nasional sehingga hasilnya dapat digunakan untuk penyusunan kebijakan kesehatan bahkan sampai ke tingkat kabupaten/kota. para pembentuk kebijakan dan pengambil keputusan di bidang pembangunan kesehatan dapat menarik manfaat yang optimal dari ketersediaan data Riskesdas 2007. 11) Kabupaten Buton Utara. diukur atau diperiksa. 2) Kota Subussalam (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam).METODOLOGI RISKESDAS 2. data Riskesdas 2007 mudah dikorelasikan dengan data Susenas 2007. relative standard error. 15) 7 . Dengan disain ini. sementara Susenas 2007 sudah mengikuti jumlah kabupaten/kota yang ada. akurat dan berorientasi pada kepentingan para pengambil keputusan di berbagai tingkat administratif. 9) Minahasa Tenggara. Sebanyak 16 (enam belas) kabupaten tidak termasuk dalam sampel Riskesdas 2007 karena merupakan pengembangan kabupaten baru yang pada saat perencanaan Riskesdas belum diperhitungkan. 7) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. atau dengan data survei lainnya seperti data kemiskinan yang menggunakan metodologi yang sama. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error. design effect dan jumlah sampel tertimbang akan menyertai setiap estimasi variabel. 14) Kabupaten Sumba Barat Daya. 2. 8) Kabupaten Kepulauan Siao Tagolandang Biaro. confidence interval. Disain Riskesdas 2007 dikembangkan dengan sungguh-sungguh memperhatikan teori dasar tentang hubungan antara berbagai penentu yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat. 4) Kabupaten Empat Lawang (Provinsi Sumatera Selatan). dengan catatan sebagai berikut: a. sedangkan di tingkat provinsi. karena metodologinya hampir seluruhnya sama dengan Susenas 2007 (lihat penjelasan pada seksi berikut). Pidie Jaya. 12) Kabupaten Konawe Utara (Provinsi Sulawesi Tenggara). 3) Kabupaten Batubara (Provinsi Sumatera Utara). Lebih lanjut. 6) Kabupaten Kayong Utara (Provinsi Kalimantan Barat). Disain Riskesdas terutama dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan penduduk di seluruh pelosok Indonesia. maka setiap pengguna informasi Riskesdas dapat memperoleh gambaran yang utuh dan rinci mengenai berbagai masalah kesehatan yang ditanyakan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa Riskesdas 2007 didisain untuk mendukung pengembangan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah. dapat menggambarkan masalah kesehatan di tingkat provinsi dan variabilitas antar kabupaten/kota.2 Lokasi Sampel Riskesdas 2007 di tingkat kabupaten/kota berasal dari 440 kabupaten/kota (dari jumlah keseluruhan sebanyak 456 kabupaten/kota) yang tersebar di 33 (tiga puluh tiga) provinsi Indonesia. 10) Kota Mobagu (Provinsi Sulawesi Utara). Laporan Hasil Riskesdas 2007 akan menggambarkan berbagai masalah kesehatan di tingkat nasional dan variabilitas antar provinsi.BAB 2.1 Disain Riskesdas adalah sebuah survei yang dilakukan secara cross sectional yang bersifat deskriptif.

Diluar itu. seluruh anggota rumah tangga dari setiap rumah tangga yang terpilih dari kedua proses penarikan sampel tersebut diatas diambil sebagai sampel individu. b. 2.3 Populasi dan Sampel Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh pelosok Republik Indonesia. Kemungkinan sebuah blok sensus masuk kedalam sampel blok sensus pada sebuah kabupaten/kota bersifat proporsional terhadap jumlah rumah tangga pada sebuah kabupaten/kota (probability proportional to size). Riskesdas menggunakan sepenuhnya sampel yang terpilih dari Susenas 2007. yaitu: 1) Kabupaten Puncak Jaya dan 2) Kabupaten Pegunungan Bintang (Provinsi Papua). Pada Riskesdas.357 (tujuh belas ribu tiga ratus lima puluh tujuh) sampel blok sensus. pada Riskesdas 2007.2 Penarikan Sampel Rumah Tangga Dari setiap blok sensus terpilih kemudian dipilih 16 (enam belas) rumah tangga secara acak sederhana (simple random sampling).225 (satu juta seratus tiga puluh empat ribu dua rtus dua puluh lima) sampel anggota rumah tangga. terkumpul 182 rumah tangga tambahan dari dua (2) kabupaten di Papua.2).3.134.1 Penarikan Sampel Blok Sensus Seperti yang telah diuraikan sebelumnya. 16) Kabupaten Nagekeo (Provinsi Nusa Tenggara Timur).3. berdasarkan sampel blok sensus dalam Susenas 2007 yang berjumlah 17. Bila dalam sebuah blok sensus terdapat lebih dari 150 (seratus lima puluh) rumah tangga maka dalam penarikan sampel di tingkat ini akan dibentuk sub-blok sensus. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2007 identik dengan daftar sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Susenas 2007.150 blok sensus dari 438 jumlah kabupaten/kota. 2. terdapat 15 blok sensus dari 2 kabupaten di Papua yang dikeluarkan Susenas 2007 (Lihat Tabel 2.1).989 individu yang sama dengan 8 . jumlah sampel rumah tangga dari 438 kabupaten/kota Susenas 2007 adalah 277. Dengan begitu. yang menjadi sampel rumah tangga dengan jumlah rumah tangga di blok sensus tersebut.3. Riskesdas berhasil mengunjungi 17. (Lihat Tabel 2. Secara keseluruhan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metodologi penghitungan dan cara penarikan sampel untuk Riskesdas 2007 identik pula dengan two stage sampling yang digunakan dalam Susenas 2007. 2.3 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga Selanjutnya.284 rumah tangga. Riskesdas 2007 berhasil mengumpulkan 972. Berikut ini adalah uraian singkat cara penghitungan dan cara penarikan sampel dimaksud. walaupun tidak masuk kedalam sampel Susenas 2007. Dari setiap kabupaten/kota yang masuk dalam kerangka sampel kabupaten/kota diambil sejumlah blok sensus yang proporsional terhadap jumlah rumah tangga di kabupaten/kota tersebut. Secara keseluruhan. 2. dalam 438 kabupaten/kota pada Susenas 2007 terdapat 1.Kabupaten Sumba Tengah. Sebanyak 2 (dua) kabupaten masuk kedalam sampel Riskesdas 2007.630 (dua ratus tujuh puluh tujuh enam ratus tiga puluh). sedang Riskesdas 2007 berhasil mengumpulkan 258.

bab.Susenas. Dari jumlah tersebut. Sedangkan pengukuran iodium dalam urin adalah untuk menilai kemungkinan kelebihan konsumsi garam iodium pada penduduk.4 Penarikan Sampel Biomedis Sampel untuk pengukuran biomedis adalah anggota rumah tangga berusia lebih dari 1 (satu) tahun yang tinggal di blok sensus dengan klasifikasi perkotaan. 10 (sepuluh) kabupaten dengan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga sedang dan 10 (sepuluh) kabupaten dengan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga rendah. Secara nasional. 2. Secara keseluruhan.3). 26. dari dua (2) kabupaten di Papua yang dikeluarkan Susenas. Pertama. Riskesdas 2007 mengumpulkan 36. (Lihat Tabel 2. Pemilihan 30 kabupaten berdasarkan hasil survei konsumsi garam beriodium pada Susenas 2005 dengan memilih secara acak 10 (sepuluh) kabupaten dimana tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga tinggi. dan juga sampel urin dari anak usia 6-12 tahun yang selanjutnya dikirim ke laboratorium Universitas Diponegoro. adalah pengukuran kadar iodium dalam garam yang dikonsumsi rumah tangga. Untuk pengukuran kedua. 30 Kabupaten yang terpilih dapat dilihat pada sub. Pengukuran kadar iodium dalam garam dilakukan dengan test cepat menggunakan “iodina” dilakukan pada seluruh sampel rumah tangga. sampel garam rumah tangga diambil. Pengukuran kadar iodium dalam garam dimaksudkan untuk mengetahui jumlah rumah tangga yang menggunakan garam beriodium.114 orang. Dalam Riskesdas 2007 dilakukan test cepat iodium dalam garam pada 257. berhasil digabung dengan sampel anggota rumah tangga Rikesdas sejumlah.3. 9 . Pada Riskesdas 2007. dipilih secara acak dua (2) rumah tangga yang mempunyai anak usia 6-12 tahun dari 16 RT per blok sensus di 30 kabupaten yang dapat mewakili secara nasional.065 sampel rumah tangga dari 438 kabupaten/kota.2. dan 8473 anak usia 6-12 tahun yang dilakukan pengukuran kadar iodium dalam urin.5 Penarikan Sampel Iodium Ada 2 (dua) pengukuran iodium.919. Khusus untuk pengukuran gula darah. Bogor. Balai GAKI-Magelang. dan 182 rumah tangga dari dua (2) kabupaten di Papua. 2674 sampel garam beriodium rumah tangga dikumpulkan untuk dilakukan pemeriksaan kadar iodium pada garam.3. sampel diambil dari anggota rumah tangga berusia lebih dari 15 tahun yang berjumlah 19.357 (tiga puluh enam ribu tiga ratus limapuluh tujuh) anggota rumah tangga berusia lebih dari satu (1) tahun. terkumpul 673 sampel anggota rumah tangga. terpilih sampel anggota rumah tangga berasal dari 971 blok sensus perkotaan yang dari 294 kabupaten/kota dalam Susenas 2007. dan Puslitbang Gizi dan Makanan. yang berasal dari 272 kabupaten/kota dan 540 blok sensus. 2. Dari rumah tangga yang terpilih. dan kedua adalah pengukuran iodium dalam urin.5.

Dengan demikian 17. 10 .1 Jumlah Blok Sensus (BS) menurut Susenas 2007 dan Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua*) Indonesia Jml BSSusenas 2007 687 1054 692 434 380 540 342 438 230 230 427 1282 1578 216 1872 304 358 360 608 456 534 494 474 354 388 918 416 210 196 215 209 146 315 17357 Jml BSRiskesdas 2007 683 1045 689 426 379 538 337 424 230 230 409 1267 1576 215 1872 303 357 360 605 455 533 471 461 325 376 909 416 200 191 215 208 144 301 17150 Jml BS yang tidak ada 4 9 3 8 1 2 5 14 0 0 18 15 2 1 0 1 1 0 3 1 1 23 13 29 12 9 0 10 5 0 1 2 14 207 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan Peg. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.165 BS berhasil dikumpulkan.Tabel 2. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 15 BS.

359 3.664 4.578 6.680 3.490 92.074 81.864 4. 11 .241 93.375 95.0 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan Peg.386 97.959 86.543 7.821 78.9 Jawa Tengah 25.9 Sulawesi Tengah 6.134 2.8 Nusa Tenggara Barat 5.2 Papua*) 5.630 258.469 94.8 Gorontalo 3.890 71.078 5.578 97.9 Sumatra Utara 16.640 8. Jumlah Sampel Rumah Tangga (RT) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.6 Jambi 6.4 Banten 4.Tabel 2.402 92.4 Maluku Utara 3.472 5.329 1.1 Indonesia 277.2.5 Sumatra Selatan 8.0 Riau 6.512 19. 2007 Jumlah Sampel RTSusenas 2007 Jumlah Sampel RTRiskesdas 2007 % Sampel RT Riskesdas /Susenas Provinsi NAD 10.420 92.8 Jawa Timur 29.680 3.792 91.831 94.9 Kalimantan Timur 7.0 Nusa Tenggara Timur 9.421 97.760 5.634 96.664 85.6 Jawa Barat 20.705 88.832 4.064 92.498 95.1 Bali 5.1 Kepulauan Riau 3.952 28.3 DI Yogyakarta 3.585 80.431 91.072 10.447 87.206 94.728 9.687 13.090 92.728 5.456 3. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 182 RT.430 94.0 Sulawesi Barat 3.008 6.2 Sumatra Barat 11.294 6.366.6 Kalimantan Barat 7.861 16.5 Lampung 7.021 4.7 Sulawesi Selatan 14.904 7.8 Kalimantan Tengah 8.208 5.284 93.5 Sulawesi Utara 5.769 92.418 94.6 Bangka Belitung 3.5 Bengkulu 5.647 98.656 6.424 2.248 24.915 87.2 Papua Barat 2.981 10.563 95. Dengan demikian rumah tangga yang dikumpulkan berjumlah 258.806 95.2 Kalimantan Selatan 7.0 Maluku 3.263 91.933 6.344 2.2 Sulawesi Tenggara 6. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.4 DKI Jakarta 6.

164 100.570 26.4 83.5 83.349 10.532 %Sampel ART Riskesdas /Susenas 88.412 20.966 24.4 85.603 21.3 85.646 29.661 13.754 21.361 13.148.250 28.119 10.8 82.021 25. Jumlah Sampel Anggota Rumah Tangga (ART) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.397 21.870 27.512 54.189 6.553 63.530 22.514 16.7 67.2 61.648 47.085 986.9 73.5 84.048 29.570 14.056 22.521 95.2 92.046 74.4 83.591 45.156 17.892 69.205 orang 12 .297 38.358 19.2 81.418 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua*) Indonesia Jumlah Sampel ARTRiskesdas 2007 40.1 60.3.833 13.848 22.7 91.2 90.7 69.856 36.4 82.9 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan peg.3 92.8 89.8 92. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.645 12.269 11.460 87. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 673 ART).4 81.952 21.557 28.898 15.276 20. Dengan demikan ART yang berhasil di wawancarai adalah sejumlah 987. 2007 Jumlah Sampel ARTSusenas 2007 46.044 23.152 9.002 39.9 93.015 25.970 68.Tabel 2.7 89.2 85.624 29.486 1.954 33.637 14.7 87.9 84.928 14.256 42.3 70.3 86.245 10.435 33.064 22.136 16.687 14.548 45.2 91.5 81.756 31.4 88.966 17.465 110.706 25.4 94.410 26.519 78.642 11.0 85.

Blok X-A tentang identifikasi responden (4 variabel). Blok VII tentang sanitasi lingkungan (17 variabel). dan riwayat penyakit turunan (50 variabel). Blok X-F tentang kesehatan mental untuk semua anggota rumah vi. Kuesioner gizi (RKD07. dengan rincian variabel pokok sebagai berikut: a. yang terdiri dari: i. ii.RT) yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (9 variabel). tangga ≥ 15 tahun (20 variabel). Dalam Riskesdas 2007 terdapat kurang lebih 900 variabel yang tersebar dalam 6 (enam) jenis kuesioner. Blok VIII tentang konsumsi makanan rumah tangga 24 jam lalu. iii. Kuesioner rumah tangga (RKD07. Blok III tentang keterangan pengumpul data (6 variabel). v. Blok X-C tentang ketanggapan pelayanan kesehatan  Pelayanan rawat inap (11 variabel)  Pelayanan berobat jalan (10 variabel iv. Blok X-B tentang penyakit menular. Blok X-G tentang imunisasi dan pemantauan pertumbuhan untuk semua anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan (11 variabel). viii. Blok II tentang keterangan rumah tangga (7 variabel). Maluku. Papua (6 variabel).GIZI).Maluku Utara.2. Kuesioner individu (RKD07. vii.AV1). • • Blok XI tentang pengukuran dan pemeriksaan (14 variabel). tidak menular. Blok X-E tentang disabilitas/ketidakmampuan untuk semua anggota rumah tangga ≥ 15 tahun (23 variabel). Blok V tentang mortalitas (10 variabel). yang terdiri dari: 13 . Blok X tentang keterangan individu dikelompokkan menjadi: • • • • • • b. Blok X-I tentang kesehatan reproduksi – pertanyaan tambahan untuk 5 provinsi: NTT. Kuesioner autopsi verbal untuk umur <29 hari (RKD07. d. Blok IV tentang anggota rumah tangga (12 variabel).4 Variabel Berbagai pertanyaan terkait dengan kebijakan kesehatan Indonesia dioperasionalisasikan menjadi pertanyaan riset dan akhirnya dikembangkan menjadi variabel yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai cara. Blok VI tentang akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (11 variabel). Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). yang terdiri dari: • • • c. Papua Barat.IND). Blok X-H tentang kesehatan bayi (khusus untuk bayi berumur < 12 bulan (7 variabel). Blok IX tentang keterangan wawancara individu (4 variabel).

Blok IV tentang resume riwayat sakit untuk umur 5 tahun keatas (5 variabel). yang terdiri dari: • • • • dari: • • • • • • • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel).AV2). Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel).< 5 tahun (RKD07. Blok IIIC tentang autopsi verbal untuk perempuan pernah kawin umur 10-54 tahun (19 variabel).1 Kuesioner Riskesdas 2007. Blok IIIA tentang autopsi verbal untuk umur 5 tahun keatas (44 variabel). Kuesioner autopsi verbal untuk umur 5 tahun keatas (RKD07.RT adalah Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga atau Anggota Rumah Tangga yang dapat memberikan informasi 14 . terdapat dua (2) formulir yang digunakan untuk pengumpulan data tes cepat iodium garam (Form Garam) dan data iodium didalam urin (Form Pemeriksaan Urin). Pengumpulan data rumah tangga menggunakan Kuesioner RKD07. Blok VIB tentang keadaan ibu (8 variabel).AV3).RT dilakukan dengan teknik wawancara • Responden untuk Kuesioner RKD07. Lihat Lampiran 2.<5 tahun (35 variabel). Blok II tentang keterangan yang meninggal (7 variabel). Blok IV tentang resume riwayat sakit bayi/balita (6 variabel) f. dengan rincian sebagai berikut: a. yang terdiri Catatan Selain keenam kuesioner tersebut diatas. Blok III tentang autopsi verbal riwayat sakit bayi/balita berumur 29 hari . Kuesioner autopsi verbal untuk umur <29 hari . Blok II tentang keterangan yang meninggal (7 variabel).• • • • • • • Blok II tentang keterangan yang meninggal (6 variabel). Blok IIID tentang autopsi verbal untuk laki-laki atau perempuan yang berumur 15 tahun keatas (1 variabel). Blok III tentang karakteristik ibu neonatal (5 variabel). Blok IVA tentang keadaan bayi ketika lahir (6 variabel). e. Blok IVB tentang keadaan bayi ketika sakit (12 variabel). Blok IIIB tentang autopsi verbal untuk perempuan umur 10 tahun keatas (4 variabel). 2.5 Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data Pelaksanaan Riskesdas 2007 menggunakan berbagai alat pengumpul data dan berbagai cara pengumpulan data. Blok V tentang autopsi verbal kesehatan ibu neonatal ketika hamil dan bersalin (2 variabel). Blok VIA tentang bayi usia 0-28 hari termasuk lahir mati (4 variabel).

Tumor / Kanker dan Penyakit Keturunan. Anggota rumah tangga berumur ≥ 15 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai Penyakit Sendi. Anggota rumah tangga berumur ≥ 10 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai pengetahuan. Stroke. responden untuk Kuesioner RKD07. sikap dan perilaku terkait Penyakit Flu Burung. serta pengukuran lingkar lengan atas (khusus untuk wanita usia subur 1545 tahun.IND • Secara umum. serta pengukuran berat badan. Anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai imunisasi dan pemantauan pertumbuhan. disabilitas. Campak. pengukuran lingkar perut. Malaria.• Dalam Kuesioner RKD07. serta perilaku terkait dengan konsumsi buah-buahan segar dan sayur-sayuran segar. Pnemonia.AV yang sesuai dengan umur anggota rumah tangga yang meninggal dimaksud. dalam kondisi sakit atau orang tua maka wawancara dilakukan terhadap anggota rumah tangga yang menjadi pendampingnya. tinggi badan / panjang badan. Hepatitis. kesehatan mental.IND adalah setiap anggota rumah tangga. Penyakit Kencing Manis. Tuberkulosis Paru. • b. Anggota rumah tangga berumur < 12 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai kesehatan bayi. termasuk ibu hamil). Untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kematian yang terjadi dalam 12 bulan sebelum wawancara dilakukan eksplorasi lebih lanjut melalui autopsi verbal dengan menggunakan kuesioner RKD07.AV3. Anggota rumah tangga berumur > 5 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan visus. RKD07. Penyakit Tekanan Darah Tinggi.RT terdapat verifikasi terhadap keterangan anggota rumah tangga yang dapat menunjukkan sejauh mana sampel Riskesdas 2007 identik dengan sampel Susenas 2007. Anggota rumah tangga berumur 6-12 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan iodium dalam urin.AV1. Cedera. Demam Tifoid. termasuk di dalamnya kejadian bayi lahir mati. • • • • • • • • • c. penggunaan alkohol. Penyakit Jantung. penggunaan tembakau. 15 . aktivitas fisik. Gigi dan Mulut. HIV/AIDS. Filariasis. Pengumpulan data individu pada berbagai kelompok umur dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD07. Asma. Informasi mengenai kejadian kematian dalam rumah tangga di recall terhitung sejak 1 Juli 2004. perilaku higienis. pengukuran tekanan darah.AV2 dan RKD07. Khusus untuk anggota rumah tangga yang berusia kurang dari 15 tahun. Anggota rumah tangga semua umur menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai penyakit menular. penyakit tidak menular dan penyakit keturunan sebagai berikut: Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Anggota rumah tangga berumur ≥ 30 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai Penyakit Katarak. Diare. Pengumpulan data kematian dengan teknik autopsi verbal menggunakan Kuesioner RKD07. Anggota rumah tangga berumur ≥ 12 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan gigi permanen. Demam Berdarah Dengue.

1999) yang digunakan adalah sebagai berikut: • • • Normal (Non DM) < 140 mg/dl Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) 140 . dengan melakukan pengumpulan garam beriodium pada rumah tangga bersamaan dengan pemeriksaan kadar iodium dalam urin pada anggota rumah tangga yang sama. kuesioner untuk usia lima (5) tahun ke atas (RKD. Sampel darah diambil dari seluruh anggota rumah tangga (kecuali bayi) yang menanda-tangani informed consent. hanya diberi pembebanan sebanyak 300 kalori (alasan medis dan etika). Sampel 30 kabupaten/kota dipilih untuk pengamatan ini berdasarkan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga hasil Susenas 2005: 16 . Pengambilan darah vena dilakukan setelah 2 jam pembebanan. gejala sakit sebelum seorang individu meninggal dengan teknik autopsi verbal (AV) melalui wawancara kepada keluarga almarhum/ah yang merawatnya ketka sakit. f. Pengumpulan data biomedis berupa spesimen darah dilakukan di 33 provinsi di Indonesia dengan populasi penduduk di blok sensus perkotaan di Indonesia. e. kuesioner AV2 untuk balita berumur 28 hari-<5 tahun (RKD. Rangkaian pengambilan sampelnya adalah sebagai berikut: • • Dari Blok sensus perkotaan yang terpilih pada Susenas 2007. Pengumpulan data konsumsi garam beriodium rumah tangga untuk seluruh sampel rumah tangga Riskesdas 2007 dilakukan dengan tes cepat iodium menggunakan “iodina test”.AV1 – AV3) dirancang untuk mengumpulkan tanda. dipilih sejumlah 15% dari total blok sensus perkotaan.< 200 mg/dl Diabetes Mellitus (DM) > 200 mg/dl. d. Serum segera diperiksa dengan menggunakan alat kimia klinis otomatis. Untuk pemeriksaan kadar glukosa darah. Ada tiga (3) macam kuesioner AV yang dipakai yaitu: kuesioner AV1 untuk neonatal berumur 0-<28 hari (RKD. dengan total sampel 15.AV2). Darah didiamkan selama 20–30 menit. Nilai rujukan (WHO. Responden terpilih memperoleh pembebanan sebanyak 75 gram glukosa oral setelah puasa 10–14 jam. Khusus untuk responden yang sudah diketahui positif menderita Diabetes Mellitus (berdasarkan konfirmasi dokter). data dikumpulkan dari anggota rumah tangga berumur ≥ 15 tahun. Pengamatan tingkat nasional pada dampak konsumsi garam beriodium dinilai berdasarkan kadar iodium dalam urin. riwayat perdarahan dan menggunakan obat pengencer darah secara rutin. disentrifus sesegera mungkin untuk dijadikan serum. Pengambilan sampel darah dilakukan pada seluruh anggota rumah tangga berumur di atas satu (1) tahun dari rumah tangga terpilih di blok sensus perkotaan terpilih sesuai Susenas 2007.Model kuesioner Riskesdas-mortalitas 2007 (RKD07. Pembagian ini dimaksudkan untuk memenuhi kepraktisan ketika dilakukan wawancara agar tetap terarah pada penyebab kematian secara spesifik pada setiap kelompok usia. kecuali wanita hamil (alasan etika). Pengambilan darah tidak dilakukan pada anggota rumah tangga yang sakit berat. Kuesioner dilengkapi dengan lembar khusus untuk pembuatan resume riwayat patofisiologi perjalanan penyakit sampai terjadi kematian dan penegakan diagnosis penyebab kematian.AV3).536 RT. yang keduanya akan dikerjakan oleh dokter reviewer dengan mengacu pada ketentuan International Classification of Diseases 10 (ICD-10) dari WHO. Jumlah blok sensus di daerah perkotaan yang terpilih berjumlah 971.AV1).

sehingga waktu pengumpulan data pada provinsi di wilayah III dan sangat bervariasi (akhir Juli 2007 . Papua Barat. Sedang – meliputi Kota Tangerang. perlu dilakukan pelatihan yang intensif untuk petugas pengambil spesimen dan manajemen spesimen. Petugas dimaksud adalah para analis atau petugas laboratorium dari rumah sakit atau laboratorium daerah. Kabupaten Toba Samosir. sehingga bisa melaksanakan pengumpulan data lebih awal (akhir Juli 2007). Kabupaten Jember. Bahkan untuk lima (5) provinsi daerah sulit (Papua. Kabupaten Solok Selatan. Kota Kendari. Kabupaten Karawang. Maluku. Situasi ini disebabkan oleh beberapa hal berikut ini: a. ketersediaan tenaga pendamping dan ketersediaan biaya operasional yang memadai tepat pada waktunya. Kesiapan daerah untuk berperanserta dalam pelaksanaan Riskesdas 2007 amat bervariasi. • • Catatan Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007 tidak dapat dilakukan serentak pada pertengahan 2007. Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur).• Tinggi – meliputi Kabupaten Blitar. Kabupaten Karo. Koordinator Wilayah I dan II bisa mencairkan anggaran sebelum terjadinya perubahan kebijakan anggaran dimaksud. Di daerah kepulauan dan daerah terpencil di seluruh wilayah Indonesia. Kabupaten Bondowoso. Kabupaten Donggala. Kabupaten Bantul. Kabupaten Balangan dan Kabupaten Mappi. pelaksanaan pengumpulan data dalam berbagai situasi amat tergantung pada ketersediaan alat transpor. Kabupaten Tapin.January 2008). d. b. Kabupaten Nganjuk. Sedangkan Koordinator Wilayah III dan IV lebih lambat. Kota Salatiga. sehingga dalam analisis perlu beberapa penyesuaian agar komparabilitas data dari satu periode pengumpulan data yang satu dengan periode pengumpulan data lainnya dapat terjaga dengan baik. sehingga pelaksanaan dari satu lokasi pengumpulan data ke lokasi lainnya memerlukan koordinasi dan manajemen logistik yang rumit. 17 . Kabupaten Klungkung. Kondisi geografis dari sampel blok sensus terpilih amat bervariasi. Kota Tarakan dan Kabupaten Jeneponto. c. Kota Metro. Kota Pasuruan. Kabupaten Grobogan. Buruk – meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah. Kota Dumai. Kabupaten Semarang. Pelatihan dilaksanakan di tiap provinsi. Untuk pengumpulan data biomedis. Pelatihan dilakukan oleh peneliti dari Puslitbang Biomedis dan Farmasi dan petugas Labkesda setempat. pengumpulan data baru dapat dilaksanakan pada AgustusSeptember 2008. Perubahan kebijakan anggaran internal Departemen Kesehatan pada tahun anggaran 2007 menyebabkan gangguan ketersediaan dana operasional untuk pengumpulan data. Kota Semarang. Kabupaten Sikka. Kabupaten Katingan. Kabupaten Konawe dan Kota Gorontalo).

6. 2. outliers amat menentukan akurasi dan presisi dari estimasi yang dihasilkan Riskesdas 2007.6. 18 . Fokus perhatian Ketua Tim Pewawancara adalah kelengkapan dan konsistensi jawaban responden dari setiap kuesioner yang masuk.1 Editing Editing adalah salah satu mata rantai yang secara potensial dapat menjadi the weakest link dalam pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007.6. PJT Kabupaten dan PJT Provinsi bertugas untuk melakukan supervisi pelaksanaan pengumpulan data. Di lapangan. Buku kode disiapkan dan digunakan sebagai acuan bila menjumpai masalah entry data. Ketua Tim Pewawancara harus mengkonsultasikan seluruh masalah editing yang dihadapinya kepada Penanggung Jawab Teknis (PJT) Kabupaten dan / atau Penangung Jawab Teknis (PJT) Provinsi. Ketua Tim Pewawancara harus dapat membagi waktu untuk tugas pengumpulan data dan editing segera setelah selesai pengumpulan data pada setiap blok sensus. Perlakuan terhadap missing values. Hasil pelaksanaan entry data ini menjadi bagian yang penting bagi petugas manajemen data yang bertanggungjawab untuk melakukan cleaning dan analisis data. no responses. Kegiatan ini seyogyanya dilaksanakan segera setelah diserahkan oleh pewawancara.2 Entry Tim manajemen data yang bertanggungjawab untuk entry data harus mempunyai dan mau memberikan ekstra energi berkonsentrasi ketika memindahkan data dari kuesioner / formulir kedalam bentuk digital. Kuesioner Riskesdas 2007 mengandung pertanyaan untuk berbagai responden dengan kelompok umur yang berbeda.2. Prasyarat pengetahuan dan keterampilan ini menjadi penting untuk menekan kesalahan entry. Petugas entry data Riskesdas merupakan bagian dari tim manajemen data yang harus memahami kuesioner Riskesdas dan program data base yang digunakannya.3 Cleaning Tahapan cleaning dalam manajemen data merupakan proses yang amat menentukan kualitas hasil Riskesdas 2007. Editing mulai dilakukan oleh pewawancara semenjak data diperoleh dari jawaban responden. Tim Manajemen Data menyediakan pedoman khusus untuk melakukan cleaning data Riskesdas. Peran Ketua tim Pewawancara sangat kritikal dalam proses editing. 2.6 Manajemen Data Manajemen data Riskesdas dilaksanakan oleh Tim Manajemen Data Pusat yang mengkoordinir Tim Manajemen Data dari Korwil I – IV. 2. Kuesioner yang sama juga banyak mengandung skip questions yang secara teknis memerlukan ketelitian petugas entry data untuk menjaga konsistensi dari satu blok pertanyaan ke blok pertanyaan berikutnya. pewawancara bekerjasama dalam sebuah tim yang terdiri dari tiga (3) pewawancara dan seorang Ketua Tim. memeriksa kuesioner yang telah diisi serta membantu memecahkan masalah yang timbul di lapangan dan juga melakukan editing. Urutan kegiatan manjemen data dapat diuraikan sebagai berikut.

Pelaksanaan pengumpulan data mencakup periode waktu yang berbeda sehingga ada kemungkinan beberapa estimasi penyakit menular yang bersifat seasonal pada beberapa provinsi atau kabupaten/kota menjadi under-estimate atau over-estimate.) b. Besaran numerator dan denominator dari suatu estimasi yang mengalami proses data cleaning merupakan bagian dari laporan hasil Riskesdas 2007 Bila pada suatu saat data Riskesdas 2007 dapat diakses oleh publik. 2. Berbagai keterlambatan tersebut memberikan kontribusi penting bagi berbagai keterbatasan dalam Riskesdas 2007.7 Keterbatasan Riskesdas Keterbatasan Riskesdas 2007 mencakup berbagai permasalahan non-random error. Pelaksanaan pengumpulan data mencakup periode waktu yang berbeda sehingga estimasi jumlah populasi pada periode waktu yang berbeda akan berbeda pula. loka.2. seperti terlihat pada Tabel 2. Proses pengadaan logistik untuk kegiatan Riskesdas 2007 terkait erat dengan ketersediaan biaya. terutama kejadian-kejadian yang frekuensinya jarang. sebagaimana uraian berikut ini: a. Rumah tangga yang terdapat dalam DSRT Susenas 2007 ternyata tidak dapat dijumpai oleh Tim Pewawancara Riskesdas 2007. 19 . Pembentukan kabupaten/kota baru hasil pemekaran suatu kabupaten/kota yang terjadi setelah penetapan blok sensus Riskesdas dari Susenas 2007. Pengorganisasian Riskesdas 2007 melibatkan berbagai unsur Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Bisa juga terjadi anggota rumah tangga dari rumah tangga yang terpilih dan bisa dikunjungi oleh Riskesdas. Meski Riskesdas dirancang untuk menghasilkan estimasi sampai tingkat kabupaten/kota. serta perguruan tinggi setempat. maka informasi mengenai imputasi (proses data cleaning) dapat meredam munculnya pertanyaan-pertanyaan mengenai kualitas data.Petugas cleaning data harus melaporkan keseluruhan proses perlakuan cleaning kepada penanggung jawab analisis Riskesdas agar diketahui jumlah sampel terakhir yang digunakan untuk kepentingan analisis. c. Perubahan kebijakan pembiayaan dalam tahun anggaran 2007 dan prosedur administrasi yang panjang dalam proses pengadaan barang menyebabkan keterlambatan dalam kegiatan pengumpulan data. atau karena kondisi alam yang tidak memungkinkan seperti ombak besar. f.1. sampel rumah tangga. Blok sensus tidak terjangkau.2) d. Total rumah tangga yang tidak berhasil dikunjungi Riskesdas adalah sebanyak 19. Riskesdas tidak berhasil mengumpulkan 207 blok sensus yang terpilih dalam sampel Susenas 2007. e. Keterlambatan pada fase ini telah menyebabkan keterlambatan pada fase berikutnya.3). Pada Riskesdas. pusat-pusat penelitian. Tercatat sebanyak 159. balai/balai besar. karena ketidak-tersediaan alat transportasi menuju lokasi dimaksud. sehingga tidak menjadi bagian sampel kabupaten/kota Riskesdas (Lihat Sub Bab 2. variabel tanggal pengumpulan data bisa digunakan pada saat melakukan analisis. tetapi tidak semua estimasi bisa mewakili kabupaten/kota. Banyaknya sampel blok sensus. sampel anggota rumah tangga serta luasnya cakupan wilayah merupakan faktor penting dalam pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007. g. Kejadian yang jarang seperti ini hanya bisa mewakili tingkat provinsi atau bahkan hanya tingkat nasional.566 anggota rumah tangga yang tidak bisa dikumpulkan datanya (Lihat Tabel 2. pada saat pengumpulan data dilakukan tidak ada di tempat. tersebar di seluruh kabupaten/kota (Lihat Tabel 2.346.

Terutama kabupaten/kota dimana jumlah sampel teranalisis pada Riskesdas 2007 kurang dari 80% sampel Susenas 2007. Jumlah sampel Riskesdas 2007 cukup untuk kepentingan analisis yang menberikan gambaran nasional maupun provinsi. ada yang dimulai pada bulan Juli 2007. Akan tetapi untuk kepentingan analisis kabupaten/kota maka jumlah sampel akhir yang digunakan untuk masing-masing varibel perlu diperhatikan.8 Pengolahan dan Analisis Data Isu terpenting dalam pengolahan dan analisis data Riskesdas 2007 adalah sampel Riskesdas 2007 yang identik dengan sampel Susenas 2007. ketepatan waktu kejadian kematian. Maluku. Aplikasi statistik ini memungkinkan penggunaan two stage sampling design seperti yang diimplementasikan di dalam Susenas 2007. anak 6 – 14 tahun.5 mencantumkan jumlah sampel anggota rumah tangga dan rumah tangga berdasarkan: 1) variabel pengukuran dari kelompok umur <5 tahun. Tabel 2. Papua Barat. Hasil pengukuran yang diperoleh dari two stage sampling design memerlukan perlakuan khusus yang pengolahannya menggunakan paket perangkat lunak statistik konvensional seperti SPSS. Jumlah sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Riskesdas 2007 yang terkumpul seperti tercantum pada tabel 2. dewasa ≥ 30 tahun. i. yaitu mengeluarkan missing values dan outlier serta dilakukan pembobotan sesuai dengan jumlah masing-masing sampel. dewasa ≥ 18 tahun. Hasil pengolahan dan analisis data dipresentasikan pada Bab Hasil Riskesdas. Pada laporan ini seluruh analisis dilakukan berdasarkan jumlah sampel rumah tangga maupun anggota rumah tangga setelah missing values dan outlier dikeluarkan. anak ≥6 tahun. Disain penarikan sampel Susenas 2007 adalah two stage sampling.3. beberapa kelemahan menggunakan teknis autopsi verbal akan mempengaruhi kualitas informasi yang diberikan oleh responden.2. (Tabel 2.4). dewasa ≥15 tahun. Selain itu kemungkinan under-reporting. estimasi yang dihasilkan hanya mewakili sampai tingkat perkotaan nasional. karena tidak diperolehnya jawaban (missing values) maupun kemungkinan kesalahan hasil pengukuran (outlier) dari rumah tangga atau anggota rumah tangga. 2) variabel hasil wawancara konsumsi tingkat rumah tangga. j. serta wanita usia sunur 1545 tahun. 20 .h. serta kualitas pewawancara untuk bisa menggali penyebab kematian. Penyebabnya antara lain. Untuk data mortalitas. tetapi ada pula yang dilakukan pada bulan Februari tahun 2008. Riskesdas yang terdiri dari 6 Kuesioner dan 11 Blok Topik Analisis akan tergantung dari jawaban responden dan jumlahnya terhadap Susenas 2007. Seluruh variabel Riskedas yang berjumlah hampir 900 pada saat analisis dilakukan prosedur yang sama. Aplikasi statistik yang tersedia didalam SPPS untuk mengolah dan menganalisis data seperti Riskesdas 2007 adalah SPSS Complex Samples. 2. Maluku Utara dan NTT) baru melaksanakan pada bulan Agustus-September 2008. Khusus untuk data biomedis. maka validitas hasil analisis data dapat dioptimalkan. Terbatasnya dana dan waktu realisasi pencairan anggaran yang tidak lancar. dan tabel 2. menyebabkan pelaksanaan Riskesdas tidak serentak. Dengan penggunaan SPSS Complex Sample dalam pengolahan dan analisis data Riskesdas 2007. dan 3) variabel hasil pengujian garam iodium dirumah tangga. bahkan lima provinsi (Papua. pada akhirnya akan berkurang untuk analisis masingmasing variabel yang dikumpulkan.ketepatan umur kematian juga akan mempengauhi mutu data yang dikumpulkan.

2 203 46.7 151 34.5 118 26.9 103 23.3 160 36.9 187 42.Rincian jumlah kabupaten/kota setiap provinsi menurut jumlah sampel anggota rumah tangga dan sampel rumah tangga yang bisa di analisis Riskesdas 2007 terhadap jumlah sampel Susenas 2007 dapat dilihat pada Tabel 2.2 37 8.5 100 22.7 Total Kab/Kota*) 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 *)Total Kabupaten/Kota 438 adalah Kabupaten/Kota Riskesdas 2007 yang sama dengan Sampel Susenas 2007 21 .5 58 13.7 163 37. Tabel 2.6 95 21.6 105 24.9 60 13.7 >90% 332 75.4 Jumlah Kabupaten menurut Persen Sampel Teranalisis dari Variabel Hasil Pengukuran/Pemeriksaan.7 169 38.9 129 29.4 45 10.9% 56 12.2 80-89.2 85 19.0 129 29.5 62 14.7 50 11.6 98 22. Riskesdas 2007 Variabel Pengukuran/Pemeriksaan pada Riskesdas Pengukuran BB/U (Balita) Pengukuran TB/U (Balita) Pengukuran BB/TB (Balita) Pemeriksaan Visus (Anak >=6 tahun) Pengukuran IMT (Anak 614tahun) Pengukuran IMT (Dewasa >=15 tahun) Pengukuran Lingkar Perut (Dewasa >=15 tahun) Pengukuran LILA (Wanita usia15-45 tahun) Pengukuran Tensi (Dewasa >=18 tahun) Pemeriksaan Katarak (Dewasa >=30 tahun) Penilaian Konsumsi Rumah Tangga Penilaian Konsumsi garam Iodium pada Rumah Tangga Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Persen Sampel Teranalisis <70% 25 5.4 223 50.5 65 14.8 87 19.4 55 12.5 70-79.3 11 2.7 106 24.4 111 25.9 81 18.16.8 77 17.6 122 27.5 – Tabel 2.3 59 13.3 241 55.9% 25 5.7 47 10.5 73 16.0 20 4.2 87 19.7 47 10.6 213 48.8 73 16.7 27 6.7 95 21.5 327 74.8 264 60.

9% 80-89.Tabel 2.5 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen sampel Balita hasil Pengukuran BB/U dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 2 0 1 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 2 0 0 0 0 1 4 2 2 5 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 5 0 1 0 0 1 3 4 1 2 1 2 1 2 1 3 5 1 0 1 2 1 1 0 0 1 0 0 5 0 3 0 4 2 1 8 1 1 0 1 1 3 4 17 23 17 9 9 11 4 6 7 5 1 24 34 5 37 4 9 9 11 10 10 12 8 0 9 14 9 4 3 0 1 3 7 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 25 25 56 332 438 22 .

9% >=90% 4 2 2 0 0 1 0 3 0 1 3 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 2 4 0 2 0 0 1 7 5 3 6 3 0 0 2 1 2 4 2 0 0 2 0 1 0 1 1 0 0 1 2 4 0 2 4 0 4 1 1 1 0 2 3 3 3 4 1 5 1 2 3 2 0 2 0 3 1 0 3 1 1 1 6 3 3 1 3 1 4 10 2 0 3 1 1 2 4 11 19 16 4 8 9 2 3 7 3 1 22 33 5 34 3 8 8 8 6 7 11 6 0 6 7 7 4 0 0 0 1 5 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 50 47 77 264 438 23 .9% 80-89.6 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.

Tabel 2.7 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
4 1 2 2 0 3 0 3 0 1 4 0 0 0 0 1 0 0 1 2 1 1 2 3 0 1 0 0 2 7 5 3 6 1 1 0 2 2 1 5 2 0 0 1 1 1 0 2 1 0 0 2 2 3 0 2 5 1 1 2 0 0 0 2 4 3 7 7 3 6 1 3 3 3 1 3 0 4 3 0 7 1 1 1 7 3 4 2 3 1 4 4 2 1 3 1 1 1 4 9 16 14 1 7 7 1 2 6 2 1 20 31 5 29 3 8 8 6 5 6 10 6 0 5 17 6 4 0 0 0 1 5

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

55

47

95

241

438

24

Tabel 2.8 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak ≥ 6 tahun hasil Pemeriksaan Visus Mata dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
2 1 3 3 0 1 2 4 0 1 5 5 2 1 1 2 1 0 1 3 2 2 4 7 2 4 0 3 4 6 5 7 14 6 4 11 5 3 3 2 3 3 4 0 12 14 2 13 0 1 1 11 2 5 2 8 2 8 8 7 1 1 1 3 2 3 12 17 4 3 7 5 5 3 3 1 1 8 18 2 23 4 5 8 3 5 7 9 1 0 0 10 3 1 0 1 0 0 0 1 3 1 0 0 5 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 2 0 1 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

98

151

169

20

438

25

Tabel 2.9 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak 6-14 tahun hasil Pengukuran BB/TB dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007
Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
1 0 2 1 0 1 0 0 0 0 5 1 1 0 0 1 0 0 0 2 3 2 2 2 0 0 0 0 2 5 2 3 9 1 2 0 4 0 0 2 4 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 3 2 1 1 2 6 2 3 0 2 3 1 5 4 5 7 1 3 4 6 4 4 5 1 4 0 5 4 2 8 1 2 1 7 4 5 2 8 1 8 13 4 1 0 2 1 1 3 12 22 14 2 4 9 3 1 6 1 1 18 30 2 29 3 7 8 6 4 5 8 1 0 0 7 6 2 0 0 0 1 1

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

45

58

122

213

438

26

Tabel 2.10 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 15Tahun Pengukuran IMT dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007
Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
1 1 2 1 0 0 1 0 0 0 5 1 0 0 0 2 0 0 0 2 2 1 3 5 0 1 0 1 3 6 4 6 11 3 0 1 3 1 1 4 3 2 3 0 4 3 1 2 0 1 0 8 1 4 2 4 3 7 6 4 2 2 1 3 3 5 8 12 8 5 6 4 3 7 0 3 1 19 20 4 23 3 3 1 7 5 6 6 6 1 3 14 4 2 0 1 1 0 1 9 12 8 2 3 9 1 0 5 0 0 1 12 0 13 1 5 8 1 4 2 4 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 1

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

59

87

187

105

438

27

Tabel 2.11 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 15Tahun hasil Pengukuran Lingkar Perut dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007
Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
1 1 4 3 0 1 1 0 0 1 6 1 0 0 0 2 0 0 0 3 2 1 3 4 0 1 0 1 2 6 4 6 11 6 1 1 2 1 1 4 3 0 3 0 3 1 1 1 0 1 0 7 1 2 2 2 4 7 6 3 2 3 2 3 3 5 8 13 7 4 7 4 4 5 2 2 0 19 16 1 12 1 2 1 8 5 7 2 7 1 3 13 5 2 0 0 1 0 1 6 10 7 2 2 8 0 2 5 0 0 2 18 3 25 3 6 8 1 3 3 8 1 0 0 3 2 0 0 0 0 0 1

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

65

81

163

129

438

28

Tabel 2.12 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Wanita Usia 15-45 Tahun hasil Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007
Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
2 1 2 1 0 1 2 1 0 0 5 2 0 0 1 2 0 0 1 3 2 1 2 8 0 1 0 1 3 6 5 6 14 3 3 1 4 2 2 3 5 1 3 0 6 4 2 3 0 1 1 11 1 2 2 4 0 8 9 4 2 2 2 3 3 3 13 16 8 6 6 5 4 4 2 3 1 17 25 3 25 4 2 7 4 6 8 5 7 1 2 12 5 2 0 0 0 0 0 3 5 8 0 2 6 0 0 4 0 0 0 6 0 9 0 6 1 0 2 2 5 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

73

100

203

62

438

29

Lampiran 2.13 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 18 Tahun hasil Pengukuran Tensi Darah dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007
Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
3 4 2 4 1 1 2 1 0 1 5 3 4 0 1 2 0 0 2 3 3 3 5 8 6 4 1 2 3 6 6 6 14 3 2 2 1 0 1 4 7 0 3 1 5 4 2 3 1 1 0 11 1 4 1 4 1 4 6 3 3 2 1 1 3 2 6 5 6 5 5 2 3 2 2 2 0 16 24 2 24 3 4 2 3 7 7 5 4 0 0 13 5 0 0 1 1 0 1 9 14 9 1 4 10 0 0 5 0 0 1 3 1 10 0 4 7 0 1 0 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

106

87

160

85

438

30

Tabel 2.14 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 30 Tahun hasil Pemeriksaan Katarak dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007
Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 1 0 0 0 1 0 0 0 1 2 1 1 3 0 0 0 0 1 5 2 4 7 1 0 2 2 0 1 3 3 0 0 0 3 1 1 1 1 0 0 0 2 1 2 3 5 4 4 1 3 2 1 4 3 6 2 2 4 2 2 3 3 5 2 6 0 11 9 0 8 1 1 0 11 3 5 1 5 1 6 8 5 2 2 1 2 2 3 17 22 12 7 8 10 3 2 5 0 1 10 25 4 29 3 8 9 5 6 6 9 4 0 0 11 4 0 0 1 0 0 2

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

37

60

118

223

438

31

Tabel 2.15 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga hasil Penilaian Konsumsi Energi dan Protein dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007
Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
1 2 1 0 2 1 0 0 0 1 5 0 6 1 27 4 3 9 6 1 2 3 5 1 2 0 0 0 0 4 3 6 15 5 3 3 6 6 1 1 0 1 4 1 4 4 3 10 0 5 0 3 3 1 2 7 1 3 3 3 0 2 1 3 3 3 8 11 10 4 2 7 4 1 4 0 0 5 8 1 1 0 1 0 7 5 10 6 1 1 5 11 6 3 2 3 2 0 0 7 9 5 1 0 5 4 9 2 1 0 16 17 0 0 2 0 0 0 3 1 2 0 6 0 9 1 2 1 0 0 0 0

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

111

95

129

103

438

32

16 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga Hasil Penilaian Konsumsi Garam Iodium dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 2 3 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 1 1 0 0 0 2 1 0 2 1 0 0 0 1 1 3 1 3 5 2 1 3 1 0 0 2 2 1 1 0 2 2 2 1 1 2 0 2 1 4 0 7 4 7 4 1 1 3 3 3 4 6 18 24 16 9 10 14 7 8 6 5 1 23 33 3 35 4 7 9 14 9 9 12 4 2 3 19 9 3 1 2 4 0 4 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 11 27 73 327 438 33 .9% 80-89.Tabel 2.

0 >=-3.0 s/d Z-score <-2. Berdasarkan indikator BB/U : Kategori Kategori Kategori Kategori Gizi Gizi Gizi Gizi Buruk Kurang Baik Lebih Z-score Z-score Z-score Z-score < -3.0 Z-score < -3.0 Perhitungan angka prevalensi dilakukan sebagai berikut: gizi buruk = (Jumlah balita gizi buruk/jumlah seluruh balita) x 100% gizi kurang = (Jumlah balita gizi kurang/jumlah seluruh balita) x 100% gizi baik = (Jumlah balita gizi baik/jumlah seluruh balita) x 100% gizilebih = (Jumlah balita gizi lebih/jumlah seluruh balita) x 100% a.1. Berat badan anak ditimbang dengan timbangan digital yang memiliki presisi 0. Tinggi rendahnya prevalensi gizi buruk atau gizi buruk dan kurang mengindikasikan ada tidaknya masalah gizi pada balita.1 cm.0 >=-3.0 >2. panjang badan diukur dengan length-board dengan presisi 0.HASIL DAN PEMBAHASAN 3. yaitu: berat badan menurut umur (BB/U).0 s/d Z-score <=2.1 kg. berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). dan tinggi badan diukur dengan menggunakan microtoise dengan presisi 0.0 Z-score >=-3. tinggi badan menurut umur (TB/U). tetapi tidak memberikan indikasi apakah masalah gizi tersebut bersifat kronis atau akut.1 Gizi 3.0 s/d Z-score <-2.0 >2. maka angka berat badan dan tinggi badan setiap balita dikonversikan ke dalam bentuk nilai terstandar (Z-score) dengan menggunakan baku antropometri WHO 2006.1. Untuk menilai status gizi anak.0 Z-score >=-2.0 s/d Z-score <-2.0 >=-2. Indikator BB/U memberikan gambaran tentang status gizi yang sifatnya umum.0 b.0 s/d Z-score <=2.0 >=-2. 34 .BAB 3. Berdasarkan indikator TB/U: Kategori Sangat Pendek Kategori Pendek Kategori Normal c.1 cm. Selanjutnya berdasarkan nilai Z-score masing-masing indikator tersebut ditentukan status gizi balita dengan batasan sebagai berikut : a. Variabel BB dan TB anak ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/U Tabel 3. menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/U. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Berdasarkan indikator BB/TB: Kategori Kategori Kategori Kategori Prevalensi Prevalensi Prevalensi Prevalensi Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk Z-score Z-score Z-score Z-score < -3.1 Status Gizi Balita Status gizi balita diukur berdasarkan umur. tidak spesifik.

5 2.3 5.2 4. Prevalensi nasional untuk gizi buruk dan kurang adalah 18.4 14.7 24.8 14.6 3.1 67.1 9. Namun pencapaian tersebut belum merata di 33 provinsi.1 11.4 81. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)* dan Provinsi.8 6.4 75.6 81.6 12.2 13.1.6 3.3 12.4 10.5%.0 79.3 80.3 6.5 3.7 4.3 72.0 2.2 16.6 71. Sebanyak 21 provinsi masih memiliki prevalensi gizi buruk di atas prevalensi nasional.5 18. Bila mengacu pada target MDG maka 14 provinsi yang sudah melampaui target.4 5.3 2.0 2.4% dan gizi kurang 13.7 9. Kepulauan Riau.3 76.5 8.0 8.4 8. Duabelas provinsi lainnya sudah berada di bawah prevalensi nasional.5 4.3 Indonesia *)BB/U= Berat Badan menurut Umur 5.0 4.2 14.4 6.5 12.3 6.3 6.Tabel 3.2 8.2 73.9 17. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.1 6.5 3.7 6.4 3.1 6.9 71.1 73.5 15.4 4.3 3.5 72.4 Gizi lebih 4.4 73.3 Secara umum prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 5.9 5.0 11.3 13.7 3.7 5.0 3.8 4.5 3. 35 .9 3.6 Gizi baik 69.9 7. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kategori status gizi BB/U Gizi buruk 10. Bila dibandingkan dengan target pencapaian program perbaikan gizi pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2015 sebesar 20% dan target MDG untuk Indonesia sebesar 18.0 9. yaitu seluruh provinsi Jawa-Bali dan lima provinsi lain: Bengkulu.4 3.0 9.9 83.7 11.3 74.8 5.7 6.7 8.4 6.4 18.7 77.5 80.7 12.7 69.6 Gizi kurang 15.7 2.1 8.1 70.5 6.4%.7 4.9 12.3 14.4 85.4 13.6 3.2 4. maka secara nasional target-target tersebut sudah terlampaui.0 2.4 4.6 4.6 3.0 78.2 72.1 18.2 15.4 72.0 5.8 13.3 8.4 4.8 5.0 16.9 11.4 64.5 16.0%.9 3.0 77.0 4.8 75.2 78.3 75.0 77.3 74.6 11.0 73.1 16.2 5.0 5.2 10.5 80.2 4.2 8. Bangka Belitung.8 8.

Status gizi balita berdasarkan indikator BB/TB Tabel 3. Dua provinsi lainnya yaitu Jambi dan Kalimantan Timur hanya melampaui target RPJM. Sulawesi Utara. seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit atau karena menderita diare.sedangkan untuk target RPJM sudah 16 provinsi yang melampaui target. Prevalensi balita sangat kurus secara nasional masih cukup tinggi yaitu 6.1% . Bangka Belitung. DI Yogyakarta. Salah satu indikator untuk menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah indikator sangat kurus yaitu anak dengan nilai Z-score < -3. Jawa Timur. Bengkulu. Kegemukan ini dapat terjadi sebagai akibat dari pola makan yang kurang baik atau karena keturunan. Masalah kekurusan dan kegemukan pada usia dini dapat berakibat pada rentannya terhadap berbagai penyakit degeneratif pada usia dewasa (Teori Barker). Ke 12 provinsi tersebut adalah: Bangka Belitung. Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kurus antara 10.8%. Kepulauan Riau. Status gizi balita berdasarkan indikator TB/U Tabel 3. b.2 menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator TB/U. Sulawesi Selatan. Di samping mengindikasikan masalah gizi yang bersifat akut. 18 provinsi di antaranya masuk dalam kategori kategori 36 . dari 33 provinsi. Secara nasional prevalensi kurus pada balita adalah 13.15. Lampung. Hal ini berarti bahwa masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. indikator BB/TB juga dapat digunakan sebagai indikator kegemukan. Bali. sering menderita penyakit secara berulang karena higiene dan sanitasi yang kurang baik. Jawa Tengah.0%.2%. yaitu Sumatera Utara. Masalah pendek pada balita secara nasional masih serius yaitu sebesar 36. artinya muncul sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama seperti kemiskinan. DKI Jakarta. Kepulauan Riau. Sulawesi Selatan. Dalam hal ini berat badan anak melebihi proporsi normal terhadap tinggi badannya. Indikator TB/U menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis. Kepulauan Riau. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Sumatera Selatan. Jambi. Ke 14 provinsi yang telah memenuhi kedua target adalah: Sumatera Selatan. Sulawesi Tenggara. Bangka Belitung.0% (UNHCR). menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/TB. DKI Jakarta. Maluku Utara dan Papua. dan dianggap kritis bila prevalensi kurus sudah di atas 15. Dalam keadaan demikian berat badan anak akan cepat turun sehingga tidak proporsional lagi dengan tinggi badannya dan anak menjadi kurus.3%. Dalam diskusi selanjutnya digunakan masalah kurus untuk gabungan kategori sangat kurus dan kurus. Jawa Timur. Indikator BB/TB menggambarkan status gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek. Terdapat 15 provinsi dengan prevalensi melebihi angka nasional.3. Jawa Tengah. Terdapat 12 provinsi yang memiliki prevalensi balita sangat kurus di bawah angka prevalensi nasional.6%. Jawa Timur. Kalimantan Barat. Bali. Bali. Besarnya masalah kurus pada balita yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat (public health problem) adalah jika prevalensi kurus > 5%. Riau. Delapan belas provinsi menghadapi prevalensi pendek di atas angka nasional. Kalimantan Timur. perilaku pola asuh yang tidak tepat. Jawa Barat. Jawa Barat. Prevalensi gizi lebih secara nasional adalah 4. Banten. Di Yogyakarta.0 SD. Bahkan. Bengkulu. c. Status pendek dan sangat pendek dalam diskusi selanjutnya digabung menjadi satu kategori dan disebut masalah pendek. Maluku dan Papua.

6 3.4 63.9 7.4 16.6 37 .9 7.0 8.4 8.1 9.8 5.8 78.3 7.2%.6 66.7 73.4 20.7 10.6 73.4 14.3 8.6 7.9 6.7 69.2.8 5.5 9.6 7.6 4.8 8.3 9.4 7. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)* dan Provinsi.3.2 8.5 5.2 7.7 8.5 76.6 10.5 9.3 76.5 66.5 10.6 12.7 9.5 3.9 14.2 10.4 10.6 11.7 7.0 Gemuk 15.1 9.5 12.9 6.7 6.9 9. Delapan belas provinsi memiliki masalah kegemukan pada balita di atas angka nasional Tabel 3.2 9.4 70. dapat dilihat bahwa prevalensi kegemukan di Indonesia adalah 12.4 7.6 7.1 8.9 66.5 8.2 3.4 6.8 74.9 8.8 7.7 11. Pada Tabel 3.3 76.1 10.3 75.2 9.5 15.3 12. DI Yogyakarta dan Bali.6 4. Riskesdas 2007 *) TB/U= Tinggi Badan menurut Umur Tabel 3.8 6.7 3.3 8.2 9.8 70.2 78.9 71.8 78.4 71.4 8.9 7.0 8.0 13.1 7.9 15.2 10.0 9.9 6.1 5.7 5.9 14. Berdasarkan indikator BB/TB juga dapat dilihat prevalensi kegemukan di kalangan balita.9 77.6 70.9 74.9 13.4 8.3.9 7.3 4.0 68.8 6.8 68.9 81.2 70.5 5.5 73.4 5.0 75.9 7.5 9.4 72.1 7.8 12.5 8.2 16.1 8. 12 provinsi pada kategori serius (prevalensi kurus antara 10-15%).2 7.9 76.4 6.6 13.3 14.4 12. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Kategori status gizi BB/TB Sangat kurus Kurus Normal 9.8 69. Hanya 3 (tiga) provinsi yang tidak termasuk dalam kategori serius ataupun kritis adalah: Jawa Barat. Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)* dan Provinsi.5 12.8 62.kritis (prevalensi kurus >15%).1 12.

4 6.4 74. pekerjaan KK.3 14.9 3. tempat tinggal dan pendapatan per kapita (sebagai variabel bebas).4.9 3. jenis kelamin.5 4.4 4.4 13. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/U Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih 8. TB/U dan BB/TB (sebagai variabel terikat) dengan karakteristik responden meliputi kelompok umur.9 12.0 3.7 5.8 5.3 75.6 Karakteristik Responden Gizi buruk 6.5 9.7 75.3 78.8 4.2 76. Tabel 3. pendidikan KK.2 4.7 4.4 77.1 4.2 78.4 5.1 76.7 14.7 5.7 4.8 12.Papua 5.4 8.8 8.8 14.1 11.3 4.3 11.3 5.2 13.9 5.6 3.4 7.6 3.5 Indonesia 6.0 76.1 73.1 12.9 11.9 6.0 6.3 14.5 4.9 4.7 7.6 13. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi BB/U balita dengan variabel-variabel karakteristik responden. Status gizi balita menurut karakteristik responden Untuk mempelajari kaitan antara status gizi balita yang didasarkan pada indikator BB/U.3 7.7 74.7 82.2 4.3 12.2 *) BB/TB= Berat Badan menurut Tinggi Badan d.8 5.6 4.9 77.9 78.8 77.8 75.2 78.0 5.5 3.6 12.4.7 4.7 78.8 76.7 76.9 3.7 5.9 3.5 4.7 78.0 15.1 10.8 3.9 80. telah dilakukan tabulasi silang antara variabel bebas dan terikat tersebut.8 5.7 14.7 3.4 9.0 6.8 13.6 4.9 3.5 14.0 81.8 11.9 3.8 5.2 6.2 75.8 79.2 4.0 77. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)*dan Karakteristik Responden.2 8.8 13.9 3.0 4.2 7.7 Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 38 . Tabel 3.7 80.

tetapi pada keluarga dengan KK berpendidikan tamat PT. yaitu: a. baik maupun lebih antara balita laki-laki dan perempuan.5. Semakin bertambah umur. b. d. prevalensi gizi kurang cenderung meningkat.6. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi BB/TB dengan karakteristik responden. c. kurang.4 5. e. Kajian deskriptif kaitan antara status gizi BB/TB dengan karakteristik responden menunjukkan: a. Prevalensi kurus balita pada kelompok dengan KK sebagai petani/nelayan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan KK yang memiliki pekerjaan lain.1 9. tidak tampak adanya pola masalah pendek pada balita. b. Tidak ada pola yang jelas pada masalah kurus menurut tingkat pendidikan KK. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi TB/U dengan karakteristik responden. d. Prevalensi pendek cenderung lebih rendah seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan. Prevalensi pendek di daerah perdesaan relatif lebih tinggi dibanding daerah perkotaan. Menurut umur. Kelompok dengan KK berpenghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Pegawai Swasta) memiliki prevalensi gizi buruk dan gizi kurang yang relatif rendah. sebaliknya terjadi peningkatan gizi baik dan gizi lebih. Tabel 3. Seperti halnya dengan status gizi BB/U. Tidak nampak adanya perbedaan yang mencolok pada prevalensi gizi buruk. Pada kelompok keluarga yang memiliki pekerjaan berpenghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Swasta). Sedangkan prevalensi balita kegemukan tertinggi ditemui pada kelompok dengan KK yang 39 . Menurut jenis kelamin. d. Masalah kurus cenderung semakin rendah seiring dengan bertambahnya umur. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumahtangga per kapita per bulan semakin rendah prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balitanya. prevalensi kekurusan relatif lebih rendah dan prevalensi kegemukan relatif tinggi. f. Tidak tampak adanya perbedaan masalah kurus yang mencolok antara balita laki-laki dan perempuan. dan sebaliknya. Makin tinggi pendidikan KK prevalensi pendek pada balita cenderung makin rendah. untuk gizi baik dan gizi lebih semakin meningkat. Semakin tinggi pendidikan KK semakin rendah prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita.Kuintil 5 *)BB/U= Berat Badan menurut Umur 4. f.9 Dapat dilihat bahwa secara umum ada kecenderungan arah yang mengaitkan antara status gizi BB/U dengan karakteristik responden. Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang daerah perkotaan relatif lebih rendah dari daerah perdesaan. prevalensi pendek relatif lebih rendah dari keluarga dengan pekerjaan berpenghasilan tidak tetap. c. kaitan antara status gizi BB/TB dan karakteristik responden menunjukkan kecenderungan yang serupa : a.6 80. Tabel 3. sedangkan untuk gizi lebih cenderung menurun. tidak tampak adanya perbedaan masalah pendek yang mencolok pada balita. e. c. b.

Tidak ada perbedaan mencolok antara masalah kurus di daerah perdesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan.mempunyai pekerjaan dengan penghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Pegawai Swasta). e. 40 . Tidak ada pola pada masalah kurus menurut tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan. namun masalah kegemukan cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran. f.

1 62.8 15.8 16.0 19.1 22.2 59.5 20.1 17.5 17.2 19.6 62.7 19.3 19.5 14.5 61.0 20.7 70.1 21.6 18.0 15.9 19.2 17.9 21.5 58.8 19.2 22.2 Pendek 14.2 19.7 Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & Tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 *)TB/U= Tinggi Badan menurut Umur 41 .7 14.0 58.8 19.0 22.8 14.8 65.1 59.1 64.8 19.7 13.Tabel 3.8 67.3 18.0 20.6 72.6 61.2 62.2 15.1 65.2 17.6 17.7 17.5 18.0 13.9 21.5 67.9 69.3 64.9 65.3 59.8 17.0 18.6 17.7 14.4 18.3 17.4 60.7 16.6 18.1 15.2 19.8 60.1 Normal 68.5 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)*dan Karakteristik Responden.8 60.1 70. Riskesdas 2007 Kategori status gizi TB/U Karakteristik Responden Sangat pendek 17.9 16.3 15.9 18.3 67.8 17.

2 75.0 6.0 5.6 11. yang masalah gizi kronisnya lebih kecil dari angka nasional dan masalah gizi akutnya belum mencapai kondisi serius.0 7.8 68.6 5.4 13.5 7.4 12.9 10.5 4.5 5.9 72.0 10.7 74.1 5.7 8.8 6.9 11.6 6. yaitu Jawa Barat.7 7.8 12.4 73.0 64.3 7.9 7.6 7.0 76. Tabel 3.2 11.9 15.9 74.4 7.7 72.2 6.7 10.0 4.1 7.9 6.7 7.2 6.0 7.3 7.1 73.7 7.8 6.1 73.8 11.4 12.9 6.7 12.2 6.6 6.7 6.6 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)*dan Karakteristik Responden.0 Gemuk 19.5 7. BB/TB (kurus).5 7.9 72.0 76.7 6. Indikator TB/U memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya kronis dan BB/TB memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya akut.3 73.4 12.5 73.6 7.1 7.7 14.9 12.4 11.9 12.Tabel 3.9 15. Hanya tiga provinsi.4 7.2 73.9 73.9 7.2 10.3 73. Tigapuluh provinsi masih menghadapi permasalahan gizi akut dan 18 provinsi menghadapi permasalahan gizi akut dan kronis. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/TB Kurus Normal 7.3 74.2 74.4 7.0 11.3 74.0 7.9 7.6 7.0 7.0 Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran perkapita perbulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Tabel 3.7.3 6.3 75.3 7.8 14.2 74.0 7.8 6. DI Yogyakarta dan Bali.8 6.8 11.5 6.8 12. TB/U (pendek).0 7.7 77.1 74.7 di bawah ini menyajikan gabungan prevalensi balita menurut ke tiga indikator status gizi yang digunakan yaitu BB/U (Gizi Buruk dan Kurang).1 5. 42 .5 74.0 Karakteristik Responden Sangat kurus 8.9 12.

5 22.3 29.7 25.0 43.5 18.5 dapat dilihat jumlah kabupaten/kota dimana data balita untuk status gizi hampir sebagian besar kabupaten/kota dengan jumlah sampel Riskesdas 2007 teranalisis >80% darisampel 43 .0 17.4 18.7 36.4 12.4 36.7 14.6 43.2 42.2 14.1 19.6 12.1 10. Riskesdas 2007 BB/U Buruk & Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua TB/U Kronis (Pendek) 44.8 41.9 15.5 20.9 16.0 36.4 44.4 BB/TB Akut (Kurus) 18. Seperti pada tabel 2.0 9.4 √ Indonesia 18.7 35.4 27.2 21.8 17.7 39.8 22.1 36.4 27.0 15.2 15.4 16. uraian berikut ini mengkaji urutan (rangking) dari yang terbaik sampai yang terburuk terhadap seluruh 440 kabupaten/kota.9 44.6 34.9 18.0 16.0 13.5 45.2 15.9 17.8 40.6 19.5 39.5 24.6 √ * Permasalahan gizi akut adalah apabila BB/TB >10% (UNHCR) **Permasalahan gizi kronis adalah apabila TB/U di atas prevalensi nasional Memperhatikan jumlah sampel balita yang bisa dianalisis sampai tingkat kabupaten/kota.7 35.5 17.9 10.8 14.4 25.8 35.8 9.0 15.0 11.7 17.8 23.7 20.0 38.4 36.2 13.8 38.3 12.8 13.0 10.6 26.2 31.3 22.4 16.8 13.2 37.2 26.6 16.4 Akut* Kronis** Kurang 26.6 22.3 17.4 24.9 16.2 40.2 39.6 17.3 15.2 16.1 40.7 46.2 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 21.1 26.7 16.8 33.7 10.8 27.6 11.Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Provinsi.3 15.7 14.6 22.9 31.5 13.5 33.

6.7% 18. 8. kemungkinan tidak mewakili kabupaten/kota. 7.6% 59. 5.4% 20.2% 20. 6. Terburuk Aceh Tenggara Rote Ndao Kepulauan Aru Timor Tengah Selatan Simeulue Aceh Barat Daya Mamuju Utara Tapanuli Utara Kupang Buru 48. Sarmi Wajo Kota Mojokerto Kota Tanjung Pinang Kota Batam Kampar Kota Jakarta Selatan Kota Madiun Kota Bekasi Luwu Timur 16.0% Berdasarkan BB/TB (gabungan sangat kurus dan kurus) gambaran 10 kabupaten/kota terbaik dan terburuk adalah sebagai berikut: Terbaik Terburuk 44 . 4.1% 66.2% 39. 3.0% 6.2% 40.8% 40. 3.8% 6.8% 63.1% 7.9% 21.3% 38.2% 60.3% 8.3% 20.6% 19.1% 38.5% 8.9% 61. 5. 3.4% 67. Terburuk Seram Bagian Timur Nias Selatan Aceh Tenggara Simeulue Tapanuli Utara Aceh Barat Daya Sorong Selatan Timor Tengah Utara Gayo Lues Kapuas Hulu 67. 3. 7.7% 59.0% 19. gambarannya adalah sebagai berikut Terbaik 1. 10. 4. 8.0% 21. 2. Terbaik Kota Tomohon Minahasa Kota Madiun Gianyar Tabanan Bantul Badung Kota Magelang Kota Jakarta Selatan Bondowoso 4. Contohnya untuk status gizi balita bisa diambil indikator: • Berdasarkan BB/U: underweight (gabungan gizi buruk + gizi kurang berdasarkan BB/U). 8. Secara kasar bisa dipilih indikator dengan prevalensi / persentase yang tidak terlalu sedikit.7% 39.6% Berdasarkan TB/U (gabungan sangat pendek + pendek).Susenas 2007.8% 7. 9. 2. 10. 8.7% 1. setelah dilakukan rangking antar kabupaten/kota.5% 59. 7. 2. 4.9% 60. 4. 6. 9.0% 37. Berdasarkan TB/U: stunting (gabungan antara sangat pendek dan pendek) Berdasarkan BB/TB: wasting (gabungan antara sangat kurus dan kurus) • • Sebagai gambaran. 5.7% 1. 5. 7.5% 21. 10.2% 8. 2. kemudian diambil 10 kabupaten/kota yang terbaik dan terburuk sebagai berikut: Berdasarkan BB/U. 9.8% 6. daftar 10 kabupaten/kota dengan underweight paling banyak dan paling sedikit adalah: 1.1% 39.7% 40.4% 7. 10. bila diambil gizi buruk saja prevalensinya terlalu kecil. 6. 9.

4.6% 3.9 -2SD 13.5 13.8 19.6% 1.1 14.8).4% 5. (Tabel 3. Sedangkan prevalensi kurus terendah di Bali. 10.9% 30.2% 5.3 Berdasarkan standar WHO di atas.1 16.9 17.7 14.9% 29.1 16.4%.3% 30. 6.2 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah) Status gizi penduduk umur 6-14 tahun dapat dinilai berdasarkan IMT yang dibedakan menurut umur dan jenis kelamin. Menurut provinsi.1%) maupun pada anak perempuan (19.0% 2.3% 5. WHO 2007 Umur (Tahun) 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Laki-laki Rerata IMT 15. 9.4 22. 2.9% 31.2 27. Tabel 3.3% 4.9% pada anak perempuan.8 20.9 15. 3.2 19.4 14.3 18.6 21.6% 4.1.9 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 tahun menurut Jenis Kelamin dan Provinsi. Sebagai rujukan untuk menentukan kurus. 2.7 20. 5. 6. apabila nilai IMT kurang dari 2 standar deviasi (SD) dari nilai rerata.9% pada perempuan.2 19.5 22.5 Rerata IMT 15.5 +2SD 19. 3.3% 31. Solok Selatan Seruyan Manggarai Tapanuli Selatan Seram Bagian Barat Asmat Buru Nagan Raya Aceh Utara Bengkalis 41.7 12. 10.1. Nusa Tenggara Timur mempunyai prevalensi kurus tertinggi baik pada anak laki-laki (23.5 18.9 26. 9.9 14.3% pada laki-laki dan 10. Sedangkan prevalensi BB lebih pada laki-laki 9.1% 33.3 13.4 15. Minahasa Kota Tomohon Kota Sukabumi Kota Bogor Bandung Kota Salatiga Kota Magelang Magelang Cianjur Bangka 0.5 21. 4.9% 5.5% dan perempuan 6.6 -2SD 12.1% 29.8 25.1 13.0 Perempuan +2SD 18.5 13.6 23.8 Standar Penentuan Kurus dan Berat Badan (BB) Lebih menurut Nilai Rerata IMT.5% 41.5 23.5 19. yaitu 8.3 15.0% 30.7 16.7 12.4 16.0 13.2 13.0% 4. 8.1%). Umur dan Jenis Kelamin. 5.5 15. dan berat badan (BB) lebih jika nilai IMT lebih dari 2 SD nilai rerata standar WHO 2007 (Tabel 3.8% 3.3 15. 7. 7.7 24.6 17.7 16.0 19.0 18.5 14.9) . Riskesdas 2007 45 . Tabel 3.9 13.3% pada anak laki-laki dan 6. 8. secara nasional prevalensi kurus adalah 13.9 15.6 24.

1 17.1 7.9 13.9 6.4 13.6 7.7 10.4%).4 14.1%).1 12.8 14.4 13.4 13.9 10.6 7.4%).7 15.8 6. Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun tertinggi di Sumatera Selatan untuk anak laki-laki (16.6 4.9 6.2 18.0 8.4 9.4 11.1 9.2 6.2%).3 12.5 8.5 14.2 7.2 9.0%) dan untuk anak perempuan di NAD (12.5 6.7 11.5 12.3 10.6 9.0 7.3 9.0%).7 13. Lima provinsi dengan prevalensi BB-lebih pada 46 .4 15.6 15.4 16.5 11.8 8.9 10.2 12.8 5.4 11.1%).4 6.8%.9 12.3 6.9 10.0 12.3 11.4 6.3 12.4 Lima provinsi dengan prevalensi kurus tertinggi pada anak laki-laki adalah NTT (23.0 14.7 7.8 4.5 9.5 6.2 12.3 3.6 4.6 10.0 4. Kalimantan Barat (17. Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun terendah ditemukan di NTT baik pada anak laki-laki (4.0 10.5 10.1 11.5 7.9 11.7 7.9 15.6 10.2 5.2 6.1 9. Riau (13.0 11.8 6.1 8. dan Kalimantan Tengah (16.6 11.5 13.0 16.7 9.7 9. Banten (14.2 7.2 13.6%) maupun pada anak perempuan (3.9 13. Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan masing-masing 13.1 23.6 12.8 10.4 12.1%).2 11.6 8.4 9.9%).4 12.1 4.5 8.3 9.7 19.9%).8 8.1 11.8 15.1 9.0 8.5 13. Maluku (18.8 9.3 6. NTB (17.3%).5 6.2 15.2%). Sedangkan untuk anak perempuan terdapat di Provinsi NTT (19.8 13. Kalimantan Tengah (15.1 12.2 12.5 10.3 4.7 Perempuan Kurus BB-Lebih 12.4 4.0 6.2 14.6 11.7 10.0 4.3 4.2 6.8 6.8 14.4 9.8 12.8 10.4 9.5 3.9 8.3 17.8 10.Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Laki-laki Kurus BB-Lebih 14.8 Indonesia 13.9 13.7 10.

3 10.3 10. sedangkan untuk prevalensi kurus tidak menunjukkan pola yang jelas. Tampak adanya kecenderungan positip antara tingkat pengeluaran per kapita dengan BB lebih baik pada laki-laki maupun perempuan.1 7.9 13.7 3.8 5.6 12.7 5.8%).5 10.8 12.3 13.7 10. Menurut tipe daerah.3 13.5 13.1 10.5 2.1%). Papua (9. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 12.5 1.9 10.0 11.0 8.0 10.2%).10 menggambarkan prevalensi kurus dan BB lebih menurut karakteristik responden.7%).6 9.4 9.4 10.4 11.9 6.0 9.2 12.5%) Tabel 3.0 7.8 8. 47 .6 11.1 9. dan Kepulauan Riau (9.anak laki-laki adalah Sumatera Selatan (16%).9 12.3 13.0 13.6 14. dan Papua (12.2 11.8%).7 15.3 9.1 10. sebaliknya prevalensi BB lebih sedikit lebih tinggi di perkotaan. prevalensi kurus sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan.6 8. Sumatera Utara (14.5 13.3 10. Sumatera Selatan (11%). Bengkulu (14.1 7.3 12.5 13.6 11.1 8.6 3. Tabel 3.6 4. Riau (15.1 12.10 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 Tahun menurut Karakteristik.0 5.8 6.7 14. Sedangkan untuk anak perempuan terdapat di Provinsi NAD (12%).4 13. Hal ini terjadi baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan.2 12.5 12.8 2. semakin bertambah umur semakin kecil prevalensi BB lebih.6 14.9 13.9%).5 Laki-laki Kurus BB-Lebih Perempuan Kurus BB-Lebih Tingkat Pengeluaran perkapita perbulan Menurut umur tampak adanya kecenderungan. Sedangkan prevalensi kurus tidak menunjukkan pola yang jelas menurut umur.1 6.0 11. Sumatera Utara (11.3 8.

0 .13 menyajikan hasil tabulasi silang status gizi penduduk dewasa menurut IMT dengan beberapa variabel karakteristik responden.3 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas Status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas dinilai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Prevalensi obesitas umum lebih tinggi di daerah perkotaan dibanding daerah perdesaan. Nusa Tenggara Barat. Sedangkan lima provinsi dengan prevalensi obesitas umum tertinggi adalah: Kalimantan Timur.9% dan 23.3.0 Indikator status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas yang lain adalah ukuran lingkar perut (LP) untuk mengetahui adanya obesitas sentral.11 menyajikan prevalensi penduduk menurut status IMT di masingmasing provinsi.8%).1 cm. Prevalensi obesitas umum menurut jenis kelamin disajikan pada Tabel 3.1% (8.45 tahun dinilai dengan mengukur lingkar lengan atas (LILA). Dari tabel ini terlihat bahwa : a. Status gizi wanita usia subur (WUS) 15 . Status gizi dewasa berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT) Tabel 3. Berikut ini adalah batasan IMT untuk menilai status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas: Kategori kurus Kategori normal Kategori BB lebih Kategori obese IMT < 18. Istilah obesitas umum digunakan untuk gabungan kategori berat badan lebih (BB lebih) dan obese. Secara nasional prevalensi obesitas umum pada laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan perempuan (masing-masing 13. Gorontalo. a.8% BB lebih dan 10.<24. b.<27. Lingkar perut diukur dengan alat ukur yang terbuat dari fiberglass dengan presisi 0. Tabel 3.3% obese). ini berlaku juga untuk prevalensi BB lebih dan obese. Prevalensi obesitas umum secara nasional adalah 19. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumahtangga per kapita per bulan cenderung semakin tinggi prevalensi obesitas umum. Ada 14 provinsi memiliki prevalensi obesitas umum di atas angka prevalensi nasional.0 IMT >=27.9 IMT >=25. Lima provinsi yang memiliki prevalensi obesitas umum terendah adalah Nusa Tenggara Timur.12. Batasan untuk menyatakan status obesitas sentral berbeda antara laki-laki dan perempuan. Indeks Massa Tubuh dihitung berdasarkan berat badan dan tinggi badan dengan rumus sebagai berikut : BB (kg)/TB(m)2.1. Sulawesi Barat dan Sumatera Selatan.5 IMT >=18. 48 . DKI Jakarta dan Sulawesi Utara.5 . Maluku Utara.1 cm. Kalimantan Barat. Pengukuran LILA dilakukan dengan pita LILA dengan presisi 0.

3 7.7 11.1 5.2 7.4 7.1 6.8 7.3 7.5 9.5 67.9 11.7 9.5 14.4 11.6 9.0 14.7 11.7 8.7 Indonesia 14.1 16.9 67.7 71.3 65.2 66.8 69.7 10.0 9.1 8.1 16.3 66.4 7.2 11. Riskesdas 2007 Kategori IMT Kurus 13.2 7.1 11.6 15.2 62.6 72.1 68.8 11.7 67.5 7.1 15.4 6.2 8.2 67.3 15.6 15.4 64.0 17.9 9.2 11.5 8.1 9.9 63.2 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Normal 69.0 70.5 60.7 10.9 7.4 14.6 63.4 13.1 8.9 7.3 8.8 11.6 16.3 13.9 12.6 12.6 17.2 10.3 70.7 7.8 9.0 12.Tabel 3.8 17.1 6.9 12.5 70.8 10.0 68.5 7.8 69.3 11.7 5.4 11.9 15.7 60.3 72.6 14.4 7.1 9.8 6.0 10.8 10.3 49 .9 9.0 18.9 23.2 67.1 73.5 BB-Lebih 7.11 Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Provinsi.9 9.9 10.2 11.8 64.9 64.4 9.7 12.0 7.6 9.3 14.1 6.9 19.4 66.6 7.3 66.1 7.6 15.5 12.0 8.8 66.5 13.7 Obese 8.2 14.8 68.1 9.7 64.5 10.6 4.0 10.3 8.4 7.2 71.4 12.

4 18.6 19.3 15.3 11.4 11.0 22.1 26.9 24.4 23.7 14.2 22.6 15.2 13.4 19.3 14.4 Indonesia 13.7 20.4 29.1 12.7 14.6 12.6 20.0 15.6 18.9 27.6 24.3 16.8 19.0 10.1 17.7 11.5 33.3 38.9 10.8 18.1 Tabel 3.9 22.5 14.4 13.0 26.6 14.9 23.1 13.9 7.3 18.9 24.6 14.12 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.7 18.Tabel 3.5 Laki-laki dan Perempuan 16.0 22.1 33.7 20.3 8.2 16.4 10.9 27.0 18.4 17.4 15.9 16.2 11.3 16.5 25.9 30.0 18.5 18.7 29.9 17.8 21.9 23. Riskesdas 2007 Prevalensi obesitas umum (%) Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Laki-laki 11.2 11.1 15.7 20.0 20.8 26.5 11.8 10.3 28.5 20.0 22.7 8.6 27.3 22.5 20.7 16.4 11.2 14.6 20.2 20.8 9.2 15.3 18.1 21.2 22.2 19.1 Perempuan 20.5 20.13 Persentase Status Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) 50 .7 10.4 19.3 22.4 16.7 23.

8%.2 11.5 9. semakin tinggi prevalensi obesitas sentral.7%).2 67.Menurut IMT dan Karakteristik Responden.6%) dibandingkan daerah perdesaan (15. Demikian juga semakin meningkat tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan. Tidak tampak pola kecendrungan antara obesitas sentral menurut tingkat pendidikan.7 Kategori IMT Normal 64.7 13.3 8. Status gizi dewasa berdasarkan indikator Lingkar Perut (LP) Tabel 3.7 12.4 13.2 13.5 7.15 menyajikan prevalensi obesitas sentral menurut provinsi.5 19. jenis kelamin dan karakteristik responden. Tabel 3. Menurut kelompok umur.7 16.9 67.7 11. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurus Pendidikan Tdk Sekolah & Tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Tipe daerah 13.8 67.7 Obese 8.9 63.6 15. 17 di antaranya memiliki prevalensi obesitas sentral di atas angka prevalensi nasional (Tabel 3.14 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Provinsi. Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang erat kaitannya dengan beberapa penyakit degeneratif.9 b.1 7.3 66.3 67.1 13. 2005). Sedangkan menurut pekerjaan.4 Perkotaan 15.7 9.8 7.5 15.9 8.9 10.2 66.8 8.8 11.8 68. Menurut tipe daerah tampak lebih tinggi di daerah perkotaan (23.15). prevalensi obesitas sentral cenderung meningkat sampai umur 45-54 tahun.9 7.0 62. Prevalensi obesitas sentral untuk tingkat nasional adalah 18. Dari 33 provinsi.7%).4 7.4 65.9 7. prevalensi obesitas sentral paling tinggi pada ibu rumah tangga (Tabel 3.3 9.7 9.6 63. selanjutnya berangsur menurun kembali.14 dan Tabel 3.3 15.8 BB-Lebih 7.1 10. Riskesdas 2007 51 .9 12. Untuk laki-laki dengan LP di atas 90 cm atau perempuan dengan LP di atas 80 cm dinyatakan sebagai obesitas sentral (WHO Asia-Pasifik.4 7.9 Perdesaan Tingkat pengeluaran RT per kapita per bulan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 17. Prevalensi obesitas sentral pada perempuan (29%) lebih tinggi dibanding laki-laki (7.14).8 10.

L =Laki-laki .4 11.6 13.0 19.Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Obesitas Sentral (LP.6 25.2 15.8 20.1 18.4 17. Riskesdas 2007 52 .6 19.8 16.0 15.5 23.0 23.15 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.7 14.1 27.8 .2 19.9 10.5 31. P = Perempuan 18.L>90.5 22.3 13.1 19.4 19.9 15.1 15. Tabel 3.1 21.4 18.0 17.0 19.9 23.2 Indonesia Catatan: *) LP= lingkar perut .1 27.0 27.1 18. P>80) * 14.

7 15.2 Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Catatan: *) LP= lingkar perut .7 20.9 24.5 7. Status gizi Wanita Usia Subur (WUS) 15-45 tahun berdasarkan indikator Lingkar Lengan Atas (LILA) Tabel 3.3 18.0 19.17.9 15.1 23.9 23.3 25.0 19.0 36. L =Laki-laki .7 15.9 15. P>80) * 8.1 18.7 16.16.8 17. P = Perempuan c. Tabel 3.8 10.8 7.7 23.0 16.8 19.7 29.3 20.8 19.Karakteristik Responden Kelompok Umur (Tahun) 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Obesitas Sentral (LP.0 17.18 menyajikan gambaran masalah gizi pada WUS 53 .6 15.L>90.4 26. dan Tabel 3.

4 26. Sulawesi Tenggara.7 24.78 2. Tabel 3.6 26.8 24. 54 . Untuk menggambarkan adanya risiko kurang enegi kronis (KEK) dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi pada WUS digunakan ambang batas nilai rerata LILA dikurangi 1 SD.0 27.23 3. Jawa Timur.6 24.16.62 2.3 26.57 2.2 27.33 3.60 2. Jawa Tengah.35 3.62 2.16 3.4 27.6 25.2 27.2 Standar Deviasi (SD) 2.2 24.2 27.17 menunjukkan 10 provinsi dengan prevalensi risiko KEK di atas angka nasional (13.35 3.6%) yaitu DKI Jakarta.04 3. Maluku. Papua Barat.4 27.3 27.98 2.32 3.32 3. dan Papua. Hasil pengukuran LILA ini disajikan menurut provinsi dan karakteristik responden. Kalimantan Selatan.8 26. NTT.72 2.37 3.53 2.9 25.1 25.1 26.1 27.0 25.4 24.37 3.24 3.22 3.7 26. Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun.8 25. Tabel 3.80 2.14 3.0 27. DI Yogyakarta.16 menggambarkan prevalensi KEK tingkat nasional berdasarkan umur.9 27.2 27.17 3.94 2.17 3. Nampak adanya kecenderungan dengan meningkatnya umur nilai rerata LILA juga meningkat.92 2. Riskesdas 2007 Nilai Rerata LILA Umur (Tahun 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Rerata (cm) 23.98 3.9 26. yang sudah disesuaikan dengan umur (age adjusted).4 25.10 3.3 27. Tabel 3.yang diukur dengan LILA.29 3.31 3.41 Untuk menilai prevalensi risiko KEK dilakukan dengan cara menghitung LILA lebih kecil 1 SD dari nilai rerata untuk setiap umur antara 15 sampai 45 tahun.

0 17.2 20.18.8 10.0 11. adalah: a.5 15.8 10. gambaran nasional menunjukkan pada tingkat pendidikan terendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD).2 5.6 23.9 12. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Risiko KEK* (%) 12.3 16.1 11.Tabel 3. Berdasarkan tingkat pendidikan.6 10.0 12.17 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15-45 Tahun Menurut Provinsi.6 12.1 8.6 8.2 10.3 7.4 12.1 9.6 12. 55 .5 14.6 Kecenderungan risiko KEK berdasarkan tabulasi silang antara prevalensi risiko KEK dengan karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 3.2 14.9 8.1 19.4 24.8 12.1 Indonesia 13.5 9. risiko KEK cenderung lebih tinggi dibanding tingkat pendidikan tertinggi (tamat PT).2 15.9 10.9 12.4 9.

7 kkal) dan provinsi dengan angka konsumsi energi tertinggi adalah provinsi Jawa Timur (2175. Provinsi dengan rerata konsumsi protein terendah adalah Bengkulu (45. Secara nasional.5 Kkal untuk energi dan 55.0 14.5 13.8 gram) dan provinsi dengan rerata konsumsi protein tertinggi adalah Kepulauan Riau (69.6 13. Rumah tangga dengan konsumsi ”energi rendah” adalah bila RT dengan konsumsi energi di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007.1.5 kkal). dan pada Tabel 3.19 disajikan angka rerata konsumsi energi dan protein per kapita per hari.1 16. menunjukkan risiko KEK cenderung tinggi pada kelompok pengeluaran terendah.8 13. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita.1 14.5 gram untuk protein.0 gram). Prevalensi RT yang mengkonsumsi energi dan protein di atas rerata konsumsi energi dan protein tidak disajikan.21.b. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Pendidikan Tdk Sekolah & Tdk Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil – 1 Kuintil – 2 Kuintil – 3 Kuintil – 4 Kuintil – 5 KEK 15. Sedangkan RT dengan konsumsi ”protein rendah” adalah bila RT dengan konsumsi protein di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007.5 12. prevalensi risiko KEK lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan.4 Konsumsi Energi dan Protein Prevalensi rumah tangga dengan masalah konsumsi ”energi rendah” dan ”protein rendah” dari data Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan jawaban responden untuk makanan yang di konsumsi anggota rumah tangga (ART) dalam waktu 1 x 24 jam yang lalu.4 11. merupakan data prevalensi RT dengan konsumsi ”energi rendah” dan konsumsi ”protein rendah”. Responden adalah ibu rumah tangga atau anggota rumah tangga lain yang biasanya menyiapkan makanan di rumah tangga (RT) tersebut. Tabel 3.18 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Perempuan Umur 15-45 Tahun menurut Karakteristik Responden.4 12. c. Pada tabel 3.4 13.8 12. 56 . Data pada Tabel 3.5 3.20 dan Tabel 3. Provinsi dengan angka konsumsi energi terendah adalah provinsi Sulawesi Barat (1384.19 menunjukkan bahwa rerata konsumsi per kapita per hari penduduk Indonesia adalah 1735. Semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan cenderung semakin rendah risiko KEK.

Sulawesi Tengah. Secara nasional persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” adalah 59.6 653. Lampung. Jawa Barat. Kalimantan Selatan.0 58.0 741.8 56.3 57 .0 Protein Rerata SD 69.3 45. Banten.1 641. yaitu semakin tinggi tingkat pengeluaran RT per kapita. Sulawesi Utara.8 677. Kalimantan Timur.7 1602. Tabel 3. Kalimantan Tengah. Papua Barat.0 59.20 memperlihatkan persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “protein rendah” yang berarti di bawah angka rerata nasional (1735. Tabel 3. Sebanyak 16 provinsi dengan prevalensi konsumsi “protein rendah” di atas angka prevalensi nasional (58. Sulawesi Utara. Kalimantan Timur. DI Yogyakarta.0 %) yaitu Provinsi Riau.8 21. dan Sulawesi Barat. Kep. semakin rendah persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “protein rendah”. DKI Jakarta.6 1806.3 1683. Bengkulu. dan Papua. Sumatera Barat.Provinsi dengan rerata konsumsi energi di atas rerata nasional sebanyak 11 provinsi yaitu: NAD. Jawa Barat. Jawa Timur. Jawa Tengah. Kalimantan Tengah.9 28. Jawa Timur. Sulawesi Barat. Maluku.1 28.2 26. Jawa Tengah. Sebanyak 21 provinsi dengan persentase konsumsi “energi rendah” di atas angka nasional (59. dan Papua Barat. NTB.5%) yaitu Provinsi Bengkulu.3 602.5 28. Sumatera Utara.3 1371. Sulawesi Selatan.0 % dan konsumsi “protein rendah” sebesar 58.1 28. Jambi. Sulawesi Tengah. Gorontalo. Sulawesi Selatan. Bangka Belitung.21 menunjukkan bahwa persentase RT di perkotaan dengan konsumsi “energi rendah” lebih tinggi dari RT di perdesaan. Persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “ protein rendah” menurut tingkat pengeluaran RT per kapita menunjukkan pola yang spesifik. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Barat.7 1682. dan Papua. Kalimantan Barat.5 691. NTT. DI Yogyakarta.5 485.0 60. Riau. Kalimantan Selatan. Gorontalo. Sulawesi Tenggara.5 Kkal dan 55. Riau. Bali. NTB. Sedangkan provinsi dengan rerata konsumsi protein di atas rerata nasional sebanyak 19 provinsi yaitu: NAD.19 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita per Hari menurut Provinsi. Sumatera Utara. Maluku Utara.6 24. Bangka Belitung. Tabel 3. Lampung. Jambi. Maluku Utara. Sumatera Barat. Sumatera Selatan.3 1861. Kalimantan Timur.5 %. DKI Jakarta. sebaliknya persentase RT di perdesaan dengan konsumsi “protein rendah” lebih tinggi dari RT di perkotaan.3 65. Maluku Utara. NTT. Bali. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Energi Rerata SD 1805. Banten. Maluku.5 gram).

Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

1375,7 1692,8 1672,9 1592,5 1636,7 1703,3 1623,7 2182,4 1371,5 1706,5 1644,7 1884,6 1594,9 1534,7 1532,2 1362,7 1381,3 1764,2 1504,6 1803,4 1451,4 1385,6 1828,1 1752,1 1865,6 1823,2

460,2 618,2 610,6 653,3 615,7 705,1 739,9 923,1 618,3 609,9 678,6 772,0 596,3 608,6 615,3 585,0 493,8 709,2 586,6 744,4 568,8 506,8 781,6 807,7 791,5 922,7

47,7 66,6 69,2 60,5 53,8 51,3 50,2 57,6 51,6 56,5 52,4 51,3 57,6 59,5 58,7 55,6 45,6 53,7 54,0 68,3 47,7 53,4 56,7 56,4 62,1 53,8

21,1 28,1 29,1 28,5 24,3 24,5 24,5 28,3 24,9 24,8 25,3 26,3 27,1 26,9 25,6 27,5 18,7 24,4 23,9 30,0 20,8 22,5 27,2 28,7 32,1 30,5

Indonesia

1735,5

748,1

55,5

26,4

Tabel 3.20 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional, Riskesdas 2007 Persentase RT Energi Protein
51,4 50,4 53,6 64,8 59,6 61,4 35,6 42,8 54,0 51,2 51,9 56,1

Provinsi
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan

58

Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

81,4 82,3 59,9 58,9 63,9 63,1 61,6 67,1 37,5 76,8 59,6 62,9 48,4 66,8 69,8 69,3 78,4 80,5 56,5 71,7 53,8 77,4 80,3 53,8 57,7 52,0 57,9

74,9 72,5 39,1 35,8 50,3 61,1 65,9 66,9 55,2 64,0 57,7 63,1 65,6 55,5 51,5 53,0 59,1 75,9 60,6 61,7 38,8 72,2 62,3 57,2 58,6 49,4 60,9

Indonesia

59,0

58,5

Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735,5 kkal) dan Protein (55,5 gram) dari data Riskesdas 2007

Tabel 3.21 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita , Riskesdas 2007.
Karakteristik Responden
Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Per Kapita Kuintil – 1 Kuintil – 2 Kuintil – 3 Kuintil – 4

Persentase RT Energi Protein
61,4 57,3 64,1 60,9 59,0 57,4 56,1 60,4 66,8 62,4 59,3 55,3

59

Kuintil – 5 53,7 48,0 Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735,5 kkal) dan Protein (55,5 gram) dari data Riskesdas 2007

3.1.5 Konsumsi Garam Beriodium
Informasi mengenai konsumsi garam beriodium pada Riskesdas 2007 diperoleh dari hasil isian pada kuesioner Blok II No 7 yang diisi dari hasi tes cepat garam iodium. Tes cepat dilakukan oleh petugas pengumpul data dengan mengunakan kit tes cepat (garam ditetesi larutan tes) pada garam yang digunakan di rumah-tangga. Rumah tangga dinyatakan mempunyai “garam cukup iodium (≥30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu tua; mempunyai “garam tidak cukup iodium (≤30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu muda; dan dinyatakan mempunyai “garam tidak ada iodium” bila hasil tes cepat garam di rumah-tangga tidak berwarna. Disamping itu, secara nasional juga dikumpulkan sampel garam dari 30 kabupaten/kota yang dkonsumsi oleh rumah tangga untuk dilakukan pengecekan kadar iodiumnya dengan metode titrasi. Bersamaan dengan sampel garam rumah tangga tersebut, dikumpulkan urin dari anak usia 6-12 tahun untuk dilakukan pengecekan kadar iodium dalam urin. Pada penulisan laporan ini yang disajikan adalah hasil tes cepat, dan hasil pemeriksaan kadar iodium dalam garam melalui titrasi serta hasil pemeriksaan urin. Dari hasil tes cepat yang disajikan hanya yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3). Tabel 3.22 memperlihatkan persentase rumah tangga yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3) menurut provinsi. Secara nasional, baru sebanyak 62,3% RT Indonesia mempunyai garam cukup iodium. Pencapaian ini masih jauh dari target nasional 2010 maupun target ICCIDD/UNICEF/WHO Universal Salt Iodization (USI) atau “garam beriodium untuk semua” yaitu minimal 90% rumah-tangga menggunakan garam cukup iodium. Ada enam provinsi yang telah mencapai target garam beriodium untuk semua yaitu Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Gorontalo dan Papua Barat. Tabel 3.23 memperlihatkan persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium (≥30 ppm) menurut menurut karakteristik responden. Berdasarkan tempat tinggal, persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.

Tabel 3.22 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Iodium menurut Provinsi, Riskesdas 2007
Rumah-tangga Provinsi
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi

mempunyai garam cukup iodium (%)
47,3 89,9 90,3 82,8 94,0

60

Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tanggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

93,0 69,7 76,8 98,7 89,1 68,7 58,3 58,6 82,7 45,1 46,4 45,1 27,9 31,0 84,4 88,7 76,2 83,8 89,2 62,3 61,0 43,5 90,1 34,2 45,1 83,0 90,9 86,2

Indonesia

62,3

Ditinjau dari kuintil pengeluaran rumah tangga per kapita, semakin tinggi kuintil semakin tinggi persentase yang mempunyai garam cukup iodium. Demikian pula menurut pendidikan, semakin tinggi pendidikan kepala keluarga semakin tinggi persentase yang mempunyai garam cukup iodium. Berdasarkan pekerjaan, persentase yang mempunyai garam cukup iodium pada kepala keluarga yang mempunyai pekerjaan tetap seperti PNS/TNI/Polri/BUMN dan swasta lebih tinggi dibandingkan yang pekerjaannya tidak tetap.

Tabel 3.23 Persentase Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium Menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007
Rumah tangga Karakteristik responden
Pendidikan Kepala Keluarga Tidak tamat SD & Tidak sekolah

mempunyai garam cukup iodium (%)
50,9

61

Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Kepala Keluarga Tidak bekerja/Sekolah/Ibu rumah tangga PNS/TNI/Polri/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/Pedagang/Pelayanan Jasa Petani/Nelayan Buruh/Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5

59,5 68,8 75,1 80,8 60,7 79,2 75,7 67,1 56,9 56,5 70,4 56,3 56,7 59,3 61,8 64,1 70,0

Dari hasil pemeriksaan kadar iodium dalam garam yang dikonsumsi rumah tangga dengan metode titrasi dapat dilihat pada tabel 3.24. Gambaran nasional yang diwakili 30 kabuapten/kota dapat dilihat bahwa kandungan iodium dalam garam yang dikonsumsi RT hanya 24,5% yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI): 30-80 ppm KIO3, atau 75,5% garam yang dikonsumsi rumah tangga kandungan iodiumnya tidak memenuhi SNI.

Tabel 3.24 Persentase Rumah Tangga yang mempunyai Garam mengandung Iodium < 30 ppm (part per million) di 30 Kabupaten/ Kota, Riskesdas 2007
KABUPATEN/KOTA Persentase RT mempunyai Garam Iodium < 30 ppm
Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga 77,6 68,3 72,5 84,2 69,3 66,7 90,7 96,0 72,7 69,9

62

Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA

75,2 56,8 83,0 86,0 63,2 76,8 80,0 75,3 100,0 81,4 41,9 57,7 59,2 57,8 50,0 97,7 92,3 84,6 67,1 37,5 75,5

Dari tabel 3.35 dapat dilihat, sebanyak 12.9% anak 6-12 tahun di 30 kabupaten/kota dengan ekskresi iodium dalam urine (EIU) atau kadar iodium < 100 µg/L. Kadar iodium dalam urin merupakan petunjuk yang baik dari asupan (konsumsi) iodium terkini. Jika lebih 50% anak 6-12 tahun mempunyai kadar iodium urin < 100 µg/L maka pada populasi tersebut kemungkinan besar ada masalah kekurangan iodium. Dari 30 kabupaten/kota, tidak ada satupun dengan persentase kadar iodium urin < 100 µg/L yang mencapai 50%.

Tabel 3.25 Persentase Anak 6-12 Tahun Dengan Ekskresi Iodium Dalam Urine < 100 µg/L Di 30 Kabupaten/Kota, Riskesdas 2007
KABUPATEN/KOTA
Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul

Persentase Anak dengan EIU < 100 µg/L
12,4 6,4 10,1 4,4 7,4 11,9 12,7 8,0 10,5 5,7 9,8 23,3

63

9 23.1 8. Riskesdas 2007 NILAI MEDIAN EIU KABUPATEN/KOTA Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember (µg/L) 225 230 221 229 237 290 229 365 244 304 288 192 208 214 64 .26 menunjukkan bahwa nilai median kadar iodium urin anak 6-12 tahun di 30 kabupaten/kota adalah 224 µg/L atau masuk kategori ‘diatas angka kecukupan yang dianjurkan’. Konawe Selatan dan Kota Gorontalo. ada 6 kabupaten/kota dengan nilai median kadar iodium urin antara 100-199 µg/L yaitu Bantul. Tabel 3.5 16.5 20. Klungkung.6 13.9 3. Sementara itu. Catatan khusus untuk Grobogan.9 Tabel 3.1 10. Nilai median antara 100-199 µg/L menunjukkan asupan iodium di populasi tersebut telah dapat memenuhi kecukupan yang dianjurkan sedangkan nilai median diatas 300 µg/L masuk kategori asupan yang berlebih.2 15. Dari 30 kabupaten/kota.2 20.3 8. Jeneponto.Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA 10. nilai median kadar iodium urin anak 6-12 tahun di Kota Salatiga dan Kabupaten Grobogan diatas 300 µg/L.8 13.4 13.3 22.9 5.0 34. Bondowoso.4 17.7 14.26 Nilai Median Ekskresi Iodium dalam Urin Anak Sekolah 6-12 Tahun di 30 Kabupaten/ Kota.9 12. tanah dan sumber air minumnya mengandung tinggi iodium.

Program imunisasi untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang dicakup dalam PPI adalah satu kali imunisasi BCG. Informasi tentang imunisasi dikumpulkan dengan tiga cara yaitu: • • • Wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah-tangga yang mengetahui. Bila salah satu dari ketiga sumber tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi. disimpulkan bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis tersebut.2 Kesehatan Ibu dan Anak 3. empat kali imunisasi polio. dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan. anak disebut sudah mendapat imunisasi lengkap bila sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu kali BCG. dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu. 65 . informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu yang mempunyai balita umur 0 – 59 bulan. imunisasi DPT/HB pada bayi umur dua.2. tiga kali polio. tiga kali DPT.Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA 164 246 236 186 157 209 296 270 257 219 221 181 213 187 199 211 224 3. Catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). empat bulan dengan interval minimal empat minggu. satu kali imunisasi campak dan tiga kali imunisasi Hepatitis B (HB).1 Status Imunisasi Departemen Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. cakupan imunisasi yang dianalisis hanya pada anak usia 12 – 23 bulan. tiga kali imunisasi DPT. imunisasi polio pada bayi baru lahir. Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan. dan Catatan dalam Buku KIA. tiga kali HB dan satu kali imunisasi campak. tiga. Dalam Riskesdas. Oleh karena jadwal tiap jenis imunisasi berbeda. Selain untuk tiap-tiap jenis imunisasi.

9%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (96.1 89.27 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.2 75.2 74.5 66.3 77. DPT tiga kali terendah juga di Sulawesi Barat (47.4 48.7%) dan terendah hepatitis B (62. yaitu ibu lupa anaknya sudah diimunisasi atau belum.8 62.4 71.8 95.0 66 .7 79.Cakupan imunisasi pada anak umur 12 – 23 bulan dapat dilihat pada empat tabel (Tabel 3.1 78. atau ketidakakuratan pewawancara saat proses wawancara dan pencatatan.27 s/d Tabel 3.6 76.8 77. tiga kali polio.3 95.3 58.3 93.7 85. cakupan imunisasi menurut jenisnya yang tertinggi sampai terendah adalah untuk BCG (86.9%) dan tertinggi juga di DI Yogyakarta (89. catatan dalam KMS tidak lengkap/tidak terisi.27 dapat dilihat secara keseluruhan.7 64. ibu lupa berapa kali sudah diimunisasi.7 100.8 51.5 96.2%) dan tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (100.5 54. tidak dapat menunjukkan KMS/ Buku KIA karena hilang atau tidak disimpan oleh ibu.9%).7 64.9 89.5 95.3 71.27 dan Tabel 3.1 74.7 64.0 89. catatan dalam Buku KIA tidak lengkap/tidak terisi. Cakupan imunisasi yang lebih bervariasi antar provinsi terlihat pada imunisasi polio tiga kali yaitu terendah di Sulawesi Barat (47.3 77. subyek yang ditanya tentang imunisasi bukan ibu balita.0 77. ibu tidak mengetahui secara pasti jenis imunisasi.9 62.2 83.7 78.9 85.0%).4 76.3 Jenis imunisasi Polio 3 DPT 3 HB 3 63.0 59.1 88. yang merupakan gabungan dari tiap jenis imunisasi yang didapatkan oleh seorang anak.8 79.0 83.4 67.8 66.7 85.1 73.7 69.1 81.7 93.3 96.9 79.0 53. DPT tiga kali (67.9 85. polio tiga kali (71.2 88.3 83. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat BCG 77.8 96.2 52. Tidak semua balita dapat diketahui status imunisasi (missing).3 62. tiga kali DPT.8 70.5 83. campak (81. tiga kali HB.3 67.4 78. Tabel 3.7 67.6 61.7 77.1 99. Bila dilihat masingmasing imunisasi menurut provinsi.6 81.3 59.28 menunjukkan cakupan tiap jenis imunisasi yaitu BCG.6%).1%).7 74.5 98. Tabel 3.9 59. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan.3 87.6 77.0 88. untuk imunisasi BCG yang terendah di Sulawesi Barat (73.0%).3 60.1 68. dan campak menurut provinsi dan karakteristik responden.5 54.0 69. Tabel 3.1 88.5 71.2 70.8%). Dari tabel 3.9 65.1 Campak 69.5 58.0 90.3 71.9 64.6 96.30).3 89.8 65.29 dan 3.4 70.8%).2 67.0 64.7 94.7 49.4 84.3 83.6 74.30 adalah cakupan imunisasi lengkap pada anak.7 84.4 83.

Pada tahun 2006 PIN diulang kembali dua kali/ dosis polio saja yang dilakukan pada bulan September dan Oktober 2006.8 79.3 81.9 71.1 94. Walaupun demikian.2 63.7 90.3 75.6 Untuk mempercepat eliminasi penyakit polio di seluruh dunia. 1996.0 67.8 67.1 88.5 77.6 66. frekuensi imunisasi polio bisa lebih dari seharusnya.28 menunjukkan cakupan tiap jenis imunisasi menurut karakteristik anak. dan 1997.3 72.28 juga menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat pendidikan.9 68. Tetapi WHO menyatakan bahwa polio sebanyak tiga kali cukup memadai untuk imunisasi dasar polio.7% di daerah perkotaan dibandingkan di daerah perdesaan.27) Tabel 3.1 83.3 67.4 51.1 78.6 51.1 73.9 57.7 73. Perbedaan cakupan imunisasi 67 .9 84.8 62.9 47. PIN dilaksanakan kembali dengan menambahkan imunisasi campak di beberapa daerah.9 55. Tetapi sejak tahun 2004 hepatitis B disatukan dengan pemberian DPT menjadi DPT/HB yang didistribusikan untuk 20% target. Perbedaan cakupan imunisasi anak menurut pendidikan antara kepala keluarga yang tidak sekolah dan kepala keluarga dengan pendidikan perguruan tinggi antara 17.3 68.7 Indonesia 86.8 81. Cakupan untuk tiap jenis imunisasi selalu lebih tinggi antara 7.6 42. Tabel 3.8 59.8 85. semakin tinggi cakupan tiap jenis imunisasi. terendah di Banten (62. bila dilihat menurut provinsi masih terdapat 12 provinsi yang belum mencapai UCI (Tabel 3.3 47.4 89.7 56.2 – 13. tingkat pengeluaran per kapita dengan cakupan tiap jenis imunisasi.4%) dan tertinggi di Bali (85. Indonesia melakukan PIN dengan memberikan satu dosis polio pada bulan September 1995. terendah di Sulawesi Barat (42.1 77.2%).5 85.8 75.4 65.1 90.2 64.8 79.1 85.4 50. Setelah adanya kejadian luar biasa (KLB) acute flacid paralysis (AFP) pada tahun 2005. Pada tahun 2002.5%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (99.3 64.9 72.5 80. dan tahun 2006 mencakup 100% target DPT/HB. Dengan adanya PIN tersebut.7 62.3 67. WHO membuat rekomendasi untuk melakukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN).4 65.0 46. tetapi pelaksanaan di daerah dapat berbeda tergantung dari stok vaksin DPT dan HB yang masih terpisah di tiap daerah.6 71.9 66. Oktober. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga atau makin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan.8 68.8 93.3 83. Untuk imunisasi campak variasi cakupan juga terjadi menurut provinsi. Tidak terdapat perbedaan cakupan tiap jenis imunisasi menurut jenis kelamin. yaitu jenis imunisasi yang diprogramkan terakhir. tahun 2005 untuk 50% target.5 72.1 64. tetapi terdapat perbedaan menurut daerah. Cakupan imunisasi hepatitis B.5 85.4 93.0 68. PIN tahun 2005 dilakukan kembali dengan memberikan tiga kali/ dosis polio saja pada bulan September.8 58.1 – 25.6 89.Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 82.5 84.2 81. Walaupun vaksin DPT/HB sudah didistribusikan untuk seluruh target. Imunisasi hepatitis B awalnya diberikan terpisah dari DPT. Bila cakupan imunisasi campak digunakan sebagai indikator imunisasi lengkap.7 56. orangtua dan daerah. dan November. secara keseluruhan Indonesia sudah mencapai Universal Child Immunization (UCI).2%).2 73.5 60.4%.4 87.

hampir sama dengan yang tidak lengkap yaitu sebesar 45.1 71.8 64.0 90.0 57.3 88.1 81.9 64.4 71.9 57.5 78.5 68 .5% anak 12-23 bulan yang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali.3 71.6 93. keluarga dan daerah.5 83.3 84.7 Jenis imunisasi Polio 3 DPT 3 HB 3 71.1 79.3 68.7 76.8 75.9 63. Cakupan imunisasi menurut jenis pekerjaan terlihat bahwa untuk tiap jenis imunisasi. Cakupan imunisasi lengkap yaitu semua jenis imunisasi yang sudah didapatkan anak umur 12-23 bulan dapat dilihat pada Tabel 3.3 86.2 61.4 67.9 58. masih terdapat 8.9 83. Cakupan imunisasi lengkap di perkotaan lebih tinggi (54.3%) dan masih terdapat 11.29.1 68.6 68.0 85.0 95.1% anak 12-23 bulan di perdesaan yang belum diimunisasi sama sekali.9 62.2 83.2 86.9%).7 63.8 72.3 62.5 75.anak tingkat pengeluaran per kapita terendah (kuintil 1) dan tertinggi (kuintil 5) antara 8.0 70.1 65.5%) dan terendah di DI Yogyakarta (0.4 92.9 77.5 62.7 59.1 78.2%. Tabel 3.1 78.2 82.7 67.3%) dan tertinggi di Bali (73.5 53.5 71.7 57.5 62.6 79.6 78.28 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden.0 66. Tabel 3.4 83. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 BCG 87. walaupun masih terdapat 35. Selain perbedaan yang lebar untuk cakupan imunisasi lengkap antar provinsi.7 Campak 82.0%) yaitu tidak ada anak umur 12-23 bulan yang belum diimunisasi.6 74.1 63.1 54. cakupan tertinggi bila pekerjaan kepala keluarga sebagai pegawai negri/TNI/POLRI dan cakupan terendah pada kepala keluarga dengan pekerjaan petani/nelayan/buruh. cakupan imunisasi lengkap terendah di Sulawesi Barat (17.6 79.8 71.4% yang imunisasinya tidak lengkap.8 85.0%) dibanding di perdesaan (41.2 62.4 83.6 71.3 50.2 76.30 menunjukkan cakupan imunisasi lengkap menurut karakteristik anak. Terlihat bahwa secara keseluruhan cakupan imunisasi lengkap sebesar 46.5 66.0 81.3%.1 67.7 91.1 80.0 78. Persentase tertinggi anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali adalah di Maluku (21.1 78.7 86. Terdapat variasi yang lebar antar provinsi.7 91.7 82.6 74.5 92.8 88.0 87.7 – 12.9 81.0 58.0 59.3 75.7 66.9 69.4 95.9 69.3 66.2%.

Persentase anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali terbanyak pada kelompok anak yang orangtuanya tidak sekolah.3 1.0 51.3 9. demikian juga makin tinggi pengeluaran per kapita.1 13.1 84.6 43. Demikian juga menurut tingkat pengeluaran per kapita.6 2.4 6.1%).7 46.9 47.5%. dan pada kuintil terendah.4 44.3 11.3 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Lengkap 35.8 73.0 7. menunjukkan kecenderungan yang sama.5 70.0 74.8 69 .1 13.0 53.7 63.5 41.4 48.5 1.8 57.3 45.6 46.6 91.3 86.7 60.9 38. Tingkat cakupan imunisasi lengkap dengan kepala keluarga berpendidikan terendah 35.9 15.2 52.2 65.7 9.4 35.8 53.9 47.4 35.1 48.0 43.3 0. cakupan imunisasi lengkap terdapat pada kepala keluarga sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (57. Tingkat cakupan imunisasi lengkap pada kuintil terendah 41.1% dan pendidikan tertinggi sebesar 60.0 45.4%.7 42.7 44.1 31.0 38.9%) dan terendah pada kelompok petani/nelayan/buruh (41.3 34.Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 87.6 59.6 77.7 30.2 89.7 41.6 73.5 2.9 52.8 1.9 72.0 47.3 49.6 24.29 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.9 83.3 64. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua.2 8. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga makin tinggi cakupan imunisasi lengkap.5 5.4 46.4 64.9 5. makin tinggi cakupan imunisasi lengkap. di daerah perdesaan. semakin sedikit anak yang tidak di imunisasi sama sekali.6 69.9 Tidak sama sekali 13. Riskesdas 2007 Imunisasi dasar Tidak lengkap 52.5 11. Menurut pekerjaan kepala keluarga. dari kalangan petani/nelayan/buruh.0 41.6% dan kuintil tertinggi 53.0 15.1 71.8 Terdapat hubungan positif antara tingkat pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita dengan cakupan imunisasi lengkap.4 45.1 34.0 4. Tabel 3.

3 17.7 32.9 7.4 47.2 44.7 54. Hepatitis B minimal 3 kali.7 54.9 14.7 8.2 45.3 5.0 11.3 49.0 41. Tabel 3.30 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Imunisasi dasar Tidak lengkap Karakteristik responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Lengkap Tidak sama sekali 46.6 Indonesia Catatan: 46.2 4.5 Imunisasi lengkap: BCG.6 7.0 58.2 14.6 17.5 65.1 41.3 9.1 4.0 46.6 44.9 44.4 44.8 55.7 2.1 11.2 41.8 42.3 32.0 2.2 32.1 46. DPT minimal 3 kali.6 39.2 8.1 70 .Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 57.1 50.9 36.0 7.9 6.3 7.3 57.4 47.6 54.4 35.4 44.1 46.3 5.0 60.4 41.3 35.8 44.1 15.3 47.0 46.2 49.4 38.1 7.5 11.7 44.5 6.3 41.9 37.6 45.3 40.1 47.6 48.3 45.9 7.4 55.3 21.0 51.6 43.5 11.1 6.5 8.4 45.5 47.7 47.2 48.1 39.1 39.7 9.7 36.2 45.6 7.7 49.9 49. menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA.9 4. Campak.0 43. Polio minimal 3 kali.3 8.7 41.0 62.2 17.

9 23.2 69.8 37.9 34. ditimbang 1-3 kali yang berarti “penimbangan tidak teratur”.6 30. ditanyakan frekuensi penimbangan dalam 6 bulan terakhir yang dikelompokkan menjadi “tidak pernah ditimbang dalam 6 bulan terakhir”.7 58.5 39.4 38. Dalam Riskesdas 2007.0 34.9 8.8 29.1 14.9 10.Kuintil 5 53.8 39.5 28. dan 4-6 kali yang diartikan sebagai “penimbangan teratur”.7 15. Untuk mengetahui pertumbuhan tersebut.6 31.4 23.31 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.9 29. Campak.5 26.3 29.4 20.0 13.1 15.4 21.9 36.5 Catatan: Imunisasi lengkap: BCG.3 27.5 62.4 22.2. Polio minimal 3 kali. Data pemantauan pertumbuhan balita ditanyakan kepada ibu balita atau anggota rumahtangga yang mengetahui.5 41. 3.0 28.1 35.0 5.9 31.0 17.7 32.7 30.1 39.9 16.7 26.2 57.6 56. penimbangan balita setiap bulan sangat diperlukan.1 26.9 35.0 45. DPT minimal 3 kali.5 35.4 46.0 78.6 33.0 60.6 32.4 24. polindes.5 42. Hepatitis B minimal 3 kali.3 28.2 30.0 33.0 20.6 16.6 57.4 36.6 38. puskesmas atau sarana pelayanan kesehatan yang lain.3 22. Penimbangan balita dapat dilakukan di berbagai tempat seperti posyandu.9 34. Tabel 3.6 35.5 Provinsi 71 . Riskesdas 2007 Frekuensi penimbangan > 4 kali 1-3 kali Tidak pernah NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara 47.5 57.8 38.6 14.9 40.4 30. menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA.8 37.0 5.5 21.2 Pemantauan Pertumbuhan Balita Pemantauan pertumbuhan balita sangat penting dilakukan untuk mengetahui adanya hambatan pertumbuhan (growth faltering) secara dini.1 46.

5 Pada Tabel 3.3 28.5 19.6 46. rumah tangga dan daerah dapat dilihat pada tabel 3.2 Karakteristik responden 72 .1 42.1 52.9 48.2 33.8 29.9 36.1 67.7 48.3 29.1 18.9 25. ditimbang 1-3 kali dan yang tidak pernah ditimbang berturut-turut 45.1 25.7 42.2 38.9 28.9 34.9 29.7 23.31 terlihat bahwa secara keseluruhan dalam enam bulan terakhir balita yang ditimbang secara rutin (4 kali atau lebih).7 29.2 33.4 28.8 56.1%.1 48.7 16.7 28.5 26.4%.7 23.7 36.7 24.8 36.6 45. dan 25.8 45.1 21.7 17.5 39.Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 31.1 31.9 32.3 8.6 54.7 33.8 39.5 27.7 33.2 27.1 Indonesia 45.2 26. 29.0 37.5%). Tabel 3.32 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.3 25.5 44.0 27.4 29.9 28.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (78.2 44.5%.2 18.3 34.8 32.3 44.5 26.6 22.0 45.8 45.4 52.3 29.32. Riskesdas 2007 Frekuensi penimbangan (kali) Tidak 1-3 kali > 4 kali pernah Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI 8.3 26.1 39.4 29.8 39.8 25.7 31.9 17.4 26.0 45. Cakupan penimbangan rutin bervariasi menurut provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (21.5 37.7 28.8 47.0 21.7 22.0 29. Cakupan penimbangan balita menurut karakteristik anak.6 34.

5 28.1 29.0 2.9 44.Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 23.3 44.3 65.1 76.2 6.3 2.5 44.5 2.9 1.1 1.8 28.1 11.1 2.9 14.4 34.9 8.5 4.9 Lainnya 5.6 Tempat penimbangan anak Puskesmas Polindes Posyandu 11.6 22.8 2.0 12.9 73 .7 10.5 11.1 4.3 31.2 1.2 4.6 2.6 83.8 3. Sebaliknya semakin tinggi umur anak semakin tinggi pula persentase anak yang tidak pernah ditimbang.5 45.0 12.5 7.1%).6 31.0 26. makin rendah cakupan penimbangan rutin (≥ 4 kali).2 2.7 3. Perbedaan hanya 6.3 60.9 3.8 3.0 13.8 3. Cakupan penimbangan balita tidak berbeda antar jenis kelamin.1 2.4 1.4 2.2 2. Pada tabel 3.3%.33 terlihat bahwa posyandu secara keseluruhan merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi untuk penimbangan balita yaitu sebesar 78.2 1.4 5.3 3.1 45.3 30.3 27.3 5.1 77.1 Terlihat ada kecenderungan makin tinggi umur anak.33 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.0 67.8 1.1 12.2 74.9 75.7 6.9 66.0 84.7 46.3 47.4 7.3 15.1 1. Cakupan penimbangan rutin (>4 kali dalam 6 bulan) tidak banyak berbeda menurut tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita.4 5.2 2.1 23.9 24.7 25.7 9.9 27.4 6.1 6.7 1.6 85.5%) dibanding di daerah perdesaan (44.0 5.5 4.3 6.9 11.7 72.0 5.4 4.1 6.1 7.9 61.7 2.0 45. tetapi sedikit berbeda menurut tipe daerah dengan cakupan penimbangan empat kali atau lebih dalam enam bulan terakhir sedikit lebih tinggi di daerah perkotaan (47.2 30. Tabel 3.2 5.2 2.4 2.0 86.1 9.9 85.8 23.4 5.4 5.3 15.5 3.3 1.5 12.1 46.8 6.2 6.2 2.5 4.0 5.8 91.9 67.1 3.8 3.5 4.1 2.6% untuk tingkat pengeluaran per kapita.7% untuk tingkat pendidikan dan 1.9 14.6 6.2 87.6 28.3 89. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah RS 2.0 65.6 14.

1 73.3 7.1 86.1 4.1 1.7 3.7 3.9 2.1 78.6 2.8 11.4 2.9 7.3 7.34 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.2 79.7 4. dan tipe daerah.8 3.1 2.3%).3 10.6 2.2 5.5 8.4 3.7 2.3 8.0 6. Papua (22.1 3.6 83.9%).4 2.4 8.0 1.2 2.1 9.3 83.2 83.0 3.8 5.1 59.6 74.8 78.8 0.8 6.0 2.1 1.0 7.9 62.4 2.3 2.2 81.1 1.9 8.9 7.4 16.6 92.6 78.5 9.2 22.6%).6 78.8 8.5 Indonesia 3.8 0.6 2.6 1.7 Tempat penimbangan anak Puskesmas Polindes Posyandu 8.3 8.9 10.1 1.0 Posyandu sebagai sarana penimbangan balita paling banyak terdapat di Maluku Utara (95.5 1.0 9.0 2.8 0.3 7. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja RS 3.2 4.7 5.5 81.0 1.3 Lainnya 6.0 6.7 4.6 2.6 2.4 9.6 4.5 2.4 13.2 6.2 17.8 7.1 3.8 78.6 4.9 10.8 78.0 2. Tempat penimbangan selain posyandu yang cukup tinggi antara lain Puskesmas seperti yang terdapat di Kalimantan Tengah (24.3 3.8 2.8 5.1 71.3 8.4 3.5 6.6 3.7 2.1 1.5 77.1 84.6 3.6 95.0 0.3 7.2 8. Tabel 3.3 3.8 7. rumah tangga.7 8.6 78.2 12.9 2.9 1.9 18.0 7.5 79.3 0.1 2.2 3.2 2.5 10.9 81.0 2.9 3.6 82.7 4.0 3.34 menunjukkan tempat penimbangan balita menurut karakteristik anak.Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2.5 8.2 3. dan Sulawesi Selatan (18.0 4.5%).0 4.1 1.0 16.7 80.3 74 . Pada tabel tersebut terlihat bahwa untuk setiap jenis tempat penimbangan balita tidak ada pola kecenderungan baik menurut umur maupun jenis kelamin.3 1.2%) dan terendah di Kepulauan Riau (47.4 72.2 68.3 3. Tabel 3.

5 7.9 45. di mana secara keseluruhan hanya 23.0 2.8 32. sedangkan 41.9 44. Tabel 3.8 34.0 55.2 2.3 2.6 43.5 13.6 9.3 7.4 Menurut tipe daerah persentase penimbangan balita di RS dan Puskesmas lebih banyak di perkotaan dari pada di perdesaan.4 22.9 83.5 49.1 18.7 8.9%) dan tertinggi di DKI Jakarta (39.9 22.1 39.1 2.9 22.8 5.7 3.6 41.0 22.1 2.2 41.6 49. Ada hubungan negatif antara tingkat pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita dengan persentase penimbangan balita di posyandu.7% mengatakan punya KMS tetapi tidak dapat menunjukkan.2 29.2%).35 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Provinsi.9 75 .4 25.4 31.4 76. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah 1 18.3 43.8 2.8 38.0 8.3 6.5 38.3 32.8 27.3 77.2 22.9 8.0 8.1 10.0 44.6 2.6 23.6 28.7 70. terendah di Sulawesi Barat (10.7 83.7 55.4 4.9 1.6 19.8 68.7 9.8 18.2 27.6 9.9 2.3% balita yang mempunyai KMS dan dapat menunjukkan.8 2.8 18.9 16. Sisanya sebesar 35.8 Kepemilikan KMS* 2 41.1 8.2 3 39.1 9. Kepemilikan KMS dan dapat menunjukkan bervarisasi menurut provinsi.8 24.2 26.5 78.Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 4.6 3.4 21.9 37. Namun sebaliknya persentase penimbangan di polindes dan posyandu lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan.6 37.0 43.8 35.6 12.35 menunjukkan kepemilikan KMS menurut provinsi.9 3.1 8.8 5. Tabel 3.3 3.8 39.0 2.6 26.1 51.9 12.5 28.2 80. Persentase penimbangan di posyandu pada balita dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai petani/nelayan/buruh atau ibu rumah tangga lebih tinggi dari pada kepala keluarga dengan jenis pekerjaan yang lain.4 3.3 29.1 37.2 32.7 3.5 18.0 22.3 2.4 48.3 74.6 31.2 38.5 80.1 5.7 27.4 52.8 26.9 45.4 25.9 49.0% tidak mempunyai KMS.6 5.

5 38.0 34.7 35.3 41.5 22.3 38.3 10.9 43.2 22.9 33.4 23.36 menunjukkan karakteristik responden.6 45.9 33.0 35.4 34.7 46.4 25.7 42.4 23.1 20.4% pada anak 48-59 bulan.8 32.8 23.9 76 .9 54.6 27.3 27.3 24. dan hanya 12.7 45.2 20. Tabel 3.7 26.4 36.0%).9 23.2 28.2 20.4 39.2 31.36 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Karakteristik Responden.6 46.0 45.5 34.5 47.1 35.7%) lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan (20.8 49.6 22.9 35.0 42.8 35.1 38.9 48.6 41.6 41.8 44.5 40.2 32.4 Kepemilikan KMS* 2 19.3 36.6 43.6 16.8 49.6 3 40.6%). Menurut kelompok umur persentase kepemilikan KMS lebih tinggi pada anak umur di bawah 12 bulan (36.3 25.2 31.3 14.4 32.0 45.3 31.9 17.9 38.4 28.0 18.4 41. di perkotaan persentase kepemilikan KMS (28.0 22.1 38.8 38.7 20. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Umur (bulan) 0– 5 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI 1 36.0 * Catatan : 1 = Memiliki KMS dan dapat menunjukkan 2 = Memiliki KMS.6 22.7 – 42.4 24.4 23.Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 25.7 33.1 47. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak memiliki KMS Tabel 3.8 49.3 48.9 39.0 27.8 25.3 43.5 Indonesia 23.9 12.6 30. Menurut tipe daerah.9 28. Tidak ada perbedaan kepemilikan KMS menurut jenis kelamin.0 30.1 43.6 48.3 23.2 34.7 27.

0 9.3 17.6 76.9 26.1 45.6 Kuintil 4 25. Pada Tabel 3.1%.0 43.1 33.1 32.7 11.1 51.4 40.4 21.5 57.5 68.6 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 21.1 5.8 25.5 14.5 22.3 37.3 13.3 39. Tabel 3.5 * Catatan : 1 = Punya KMS dan dapat menunjukkan 2 = Punya KMS.3 41.6 7.5 40.0%.4 29. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Kepemilikan buku KIA* 1 2 3 11.1 44.2 29.37 Persentase Kepemilikan Buku KIA pada Balita Menurut Provinsi.8 5.5 30.1 82.5 34.7 37.1% dan tingkat pengeluaran per kapita sebesar 4.3 24.1 63.8 3.3 13.9 34.5 8.8 88.2 7.1 55.6 50.37 menunjukkan bahwa kepemilikan Buku KIA lebih rendah dari kepemilikan KMS yaitu sebesar 13.0 39. Perbedaan kepemilikan KMS menurut tingkat pendidikan sebesar 10. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak punya KMS Sedangkan menurut karakteristik rumah tangga terlihat bahwa ada kecenderungan hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga dengan kepemilikan KMS.2 12.7 43.2 15.5 60.5 31.9 61.3 67.7 42.6 18.1 14.1 43.2 33.6 25.4 43.3 Kuintil 5 25.0 Kuintil 2 22.3 31.6 81.9 16.8 46.8 22.0 85.7 35.7 22.5 2.5 77 .2 18.0 27.4 Petani/nelayan/buruh 20.3 28.9 72.6 62.2 27.9 34.8 39.0 36.8 9.8 41. Tidak ada perbedaan kepemilikan KMS menurut pekerjaan kepala keluarga.6 22.9 Lainnya 24.3 Kuintil 3 23.2 17.0 40.1 25.2 26.5 25.Wiraswasta 25.3 4.2 74.6 4.2 40.

7 62.38 kepemilikan Buku KIA dirinci menurut karakteristik anak.2 13. rumah tangga dan tipe daerah.9 13.4 67. Tabel 3.4 65.9 13.4 56.Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 9.2 4.7 62.6 27.4 73.1 Kepemilikan buku KIA* 2 3 14.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (42.9 14.0 24.9 19.38 Sebaran Balita Menurut Kepemilikan Buku KIA dan Karakteristik Responden.7 34.2 74.1 26.7 7.4 12.8 63.2 57.1 23.8 59.3 62.1 5. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak memiliki Buku KIA Kepemilikan buku KIA tersebut bervariasi antar provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (2.2 62.6 11.4 8.2 61.7 60.1 12.9 18.3 61.8 22.1 20.1 26.8 13.6 78 .6 62.1 63.0 37.7 12.8 9.8 23.6 * Catatan : 1 = Memiliki Buku KIA dan dapat menunjukkan 2 = Memiliki Buku KIA.3 62.8 36.6 57.3 14.6 25.7 12.7 24.4 61.3 12.2 57.1 16. Pada Tabel 3.1 63.9 25.9 8.5 13.9 24.0 29.8 12.3 13.7 64.4 17.7 16.1 5.7%).1 12.5 23.7 7.0 32.8 24.4 12.9 26.0 64.9 62.8 22.0 78.5 Indonesia 13.3 61.7 20.3 82.9 23.7 60.1 25.8 73.2 22.5 26.8 23.0 66.5 21.4 24.2 11. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Umur (bulan) 0– 5 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya 1 23.8 17.

39 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Provinsi. tetapi tidak ada perbedaan menurut jenis kelamin.4 79 .8 72. Tabel 3.1 78.2 23. Tidak ada perbedaan kepemilikan Buku KIA menurut tipe daerah.7 79.9 58.8 25.4 65. sejak anak berusia enam bulan.3 81.8 82.2 82.000 IU) untuk anak umur 12 – 59 bulan. pendidikan.1 62. 3.2 65.3 Distribusi Kapsul Vitamin A Kapsul vitamin A diberikan setahun dua kali pada bulan Februari dan Agustus.1 74.9 73.7 73. pekerjaan kepala keluarga.4-23.3 Kuintil 2 13.2 63.9%).000 IU) diberikan untuk bayi umur 6 – 11 bulan dan kapsul biru (dosis 200.0 73.5 66.3 26. dan tingkat pengeluaran per kapita.5 62.5 81.6 79.1 61.0 Kuintil 4 13.3 84. Kapsul merah (dosis 100.9 79.2.2 73.6 Kuintil 3 13.Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 11.5 23.1 Kuintil 5 14. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Menerima kapsul vitamin A 74.0 67.5 69.5 24.9 51.8 * Catatan : 1 = Punya Buku KIA dan dapat menunjukkan 2 = Punya Buku KIA. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak punya Buku KIA Cakupan Buku KIA yang tertinggi pada kelompok umur di bawah 12 bulan (23.7 67.9 62.

6 57.3 80 .3 65.2 70. Tabel 3.9 77. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Menerima kapsul vitamin A 66.7 64.8 71.0%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (84.2 61.Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 69.4 77.5 70.8 76.9 Indonesia 71.2 66.5% seperti terlihat dalam tabel 3.0 75.8 76.3 71.2 74.40 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Karakteristik Responden.7 74.4 69.39 Cakupan tersebut bervariasi antar provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (51.2 67.9 70.7%).6 59.3 73.8 71.4 69.2 69.6 72.5 Secara keseluruhan cakupan distribusi kapsul vitamin A untuk anak umur 6 .4 77.4 71.5 74.5 69.59 bulan sebesar 71.

8 16.7 70. Tabel 3.8 16.0 73.1 14.9 21.3 52.5 10. Bila dilihat menurut pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita.3 9.5 76.5 14.6 12.5 13.1 17.1 19.41 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Provinsi. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga atau makin tinggi tingkat pengeluaran per kapita.5 61.2 19.7 73.8 15. 3. makin tinggi cakupan pemberian kapsul vitamin A.6 14.5 10.0 19. rumah tangga dan tipe daerah.Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 70. nampak cakupan tertinggi pada kelompok umur 12-23 bulan (77.1 27.3%).7 12.4%) dibandingkan dengan di perdesaan (69.8 68.2 13.1 19.4 73.3 18.0 10. pemeriksaan neonatus pada ibu yang mempunyai bayi.7 11.5 47.6 72.1 35.3 18. jenis pemeriksaan kehamilan.3 7.4 75.8 75.2 73.1 13.6 59.7 7.7 11.3 21.1 61. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu Kecil Normal Besar 18.40 menunjukkan perbedaan cakupan distribusi kapsul vitamin A menurut karakteristik anak.8 72.9 76. dan dikonfirmasi dengan catatan Buku KIA/KMS/catatan kelahiran. Cakupan pemberian kapsul vitamin A menurut kelompok umur cukup bervariasi. terlihat adanya hubungan positif dengan cakupan kapsul vitamin A.2 57.5 6.5 74.2 17. penimbangan bayi lahir.1 16.9 78.8 55.0 13.2 23.4 12.1 69.7%).0 71.4 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Dalam Riskesdas 2007.5 71.1 10.8 14. dikumpulkan data tentang pemeriksaan kehamilan.7 36. Cakupan lebih tinggi terdapat di perkotaan (74. Data tersebut dikumpulkan dengan mewawancarai ibu yang mempunyai bayi umur 0 – 11 bulan.2 9.3 29.2 57.9 14.6 68.0 15.1 24.7 81 .1 Tabel 3. Sedangkan menurut jenis kelamin anak tidak nampak adanya perbedaan.2. ukuran bayi lahir.2 18.

9 15.4 69.4 20.4%).2 13.41 memperlihatkan persepsi ibu tentang ukuran bayi saat dilahirkan.4 66. Persentase ukuran bayi kecil bervariasi antar provinsi. Tabel 3.0 68.5 11.8 83.0 Tabel 3.5 67.6 65.6 66.4 67.4 66.0 23.7 17.1 14.0 19.6 67.1 67.7 67.3 12.3 20.5 21. lebih banyak ibu di perdesaan (14.42.5 20.2 15.4 5.5%) yang mempunyai persepsi bayi yang dilahirkan berukuran kecil dibanding di perkotaan (11.9 13.1 20.1 14.8 16.9 28.6 66.5% mempunyai persepsi ukuran bayi normal dan 20.8 9.0 71.9 71.4 20.1 19.4%) dan tertinggi di Nusa Tenggara Timur (21.5 13.4 20.1 64. terendah di Maluku (5.7 57.9 Indonesia 13.4 64.2 69.0 82 .0 65.9 24. bahwa ukuran bayinya kecil (14.9 21.7 20. Pada tabel tersebut terlihat bahwa lebih banyak persentase ibu yang mempunyai bayi perempuan menyatakan. Secara keseluruhan terdapat 13.5 14. Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu dapat dilihat pada Tabel 3.7 82.7 66.8%).7 7.9 15. Sedangkan menurut tipe daerah.5%) dibandingkan persentase ibu yang mempunyai bayi laki-laki berukuran (12.6 12.5 18. 66.4 6.4 62.0 22.0 65.5 20.0%).6 66.2 11.3 10.2 18. walaupun berat badan bayi lahir tidak diketahui.Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 11.0% mempunyai persepsi ukuran bayinya besar.1 14.2 11.4 14.3 10.42 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Karakteristik.8 11.8 14.2 17.4% ibu yang mempunyai persepsi bahwa bayi yang dilahirkan berukuran kecil.4 65.8 18. Riskesdas 2007 Karakteristik Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu Kecil Normal Besar 12.2 19.5 17.3 19.

5 8.Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 13.6 80.0 14.0 84.1 77.8 82.0 3.7 88.2 17.5 20.0 83.8 20.8 7.7 2.9 68.3 16.5 85.6 16.4 11.2 12.9 86.8 9.4 10.2 21. nampak ada kecenderungan hubungan negatif persepsi yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga.1 78.5 64.5 4.9 84.5 19.4 80.7 83.3 83.5 67.1 11.5 5.6 82.9 5.1 19.2 7.3 7.2 3.8 3.7 69. semakin kecil persentase ibu yang menyatakan ukuran bayi yang dilahirkan kecil.5 8.5 75.8 88.6 21.5 7.5 8.6 14.7 9.0 4.1 85.43 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Provinsi.9 15.2 Persentase persepsi ibu tentang ukuran bayinya dikaitkan dengan pekerjaan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita tidak tampak adanya pola kecenderungan.8 12.9 84.0 67.4 3.8 14.6 11.43.6 78.8 82.6 7.5 6.0 10.1 8.6 8.0 7.5 8.7 6.3 77.0 80. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Berat badan bayi lahir (gram) < 2500 2500-3999 >= 4000 11.9 5.7 0.2 25.1 8.4 7. Hanya sebagian bayi yang mempunyai catatan berat badan lahir.9 12.6 83.0 20.7 14.4 80.5 11.3 13. Tabel 3. Berat badan lahir dari hasil penimbangan dapat dilihat pada Tabel 3.3 5.2 19.3 84.5 83 .7 9. Namun bila persepsi ibu tentang ukuran bayinya dikaitkan dengan tingkat pendidikan kepala keluarga.8 2.7 5.5 8.9 13.7 61.3 5.9 10.3 65.2 11.1 75.9 10.5 74.

1 85.6%).5 87.0 83.1%) dan terendah bila kepala keluarga bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (8. Sumatera Selatan (19.5 6. proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11.4 5. Tabel 3.0 10.0%).0 11.4% (Tabel 3.1 10. Papua Barat (23.2 71.7 82.7 10.7 81.8 8. Jambi (7. dan Kalimantan Barat (16.7 81.1 5.8 12. Pada Tabel 3.8%).7 13.41).3 23.6 6.1 80.2%).9 6.3 79.1 8.6 4.2 80.2 80.2 7.4 67.5 82.5 84. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan (12.4 8.8 2.2 Indonesia 11.3 75.6 13.0%) dibanding laki-laki (10.0 7. Sedangkan 5 provinsi dengan persentase BBLR terendah adalah Bali (5.44 terlihat bahwa persentase BBLR lebih tinggi pada bayi perempuan (13.8 5.6%).5%). Sulawesi Barat (7.0 12. Riau (7.8 17.2 6. Menurut karakteristik rumah tangga.0 11.1 9. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Berat badan bayi lahir (gram) < 2500 2500-3999 >= 4000 10.3 6.9%).8 27.3 84 .0%). proporsi BBLR tertinggi pada kelompok keluarga yang kepala keluarga tidak bekerja (17.9 78.2 5.7 83.5%.5 80. dan Sulawesi Utara (7.0 7.2 5.8 7.1 74. Lima provinsi mempunyai persentase BBLR tertinggi adalah Provinsi Papua (27.8 9.3 5. NTT (20.4 8.0 13.8%).5%).6 85.0 83.4 81.44 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden.8 86.6 9.Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 7.2 15.5 5.3%).2 80. Proporsi ini sebanding dengan persentase ibu yang mempunyai persepsi bahwa ukuran bayi pada saat lahir kecil yaitu sebesar 13.6 14.2 6.8 12. Tidak tampak adanya pola kecenderungan hubungan antara persentase BBLR dengan pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita.3 Secara keseluruhan.7%).2%) dibanding di perkotaan (10.7 11.3 5.8%).2 13.

2 81. pemeriksan tinggi fundus (perut).9 95.6 90. dan h.2 91. d.5 84.1 95.45 yang memperlihatkan secara keseluruhan 84. pemberian tablet Fe.4 79.1 95. Cakupan pemeriksaan kehamilan terendah di Provinsi Papua (67. Pemeriksaan hemoglobin.2 97.1 94. penimbangan berat badan.3 71. Diidentifikasi ada 8 jenis pemeriksaan kehamilan yaitu : a.9 90.4 69. pengukuran tinggi badan.8 92.1 83. e.5% ibu memeriksakan kehamilan.1 90.3 90.6 85 .9 71. f.9 Untuk mendapatkan informasi tentang riwayat pemeriksaan kehamilan ibu untuk bayi yang lahir dalam 12 bulan terakhir.6 97.9 11.4 93.0%) dan tertinggi di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta (97.8 89.5 83. ibu ditanya tentang jenis pemeriksaan kehamilan apa saja yang pernah diterima. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Periksa hamil 72. pemeriksaan tekanan darah. b.1 74.6 6.6 5.3 87. pemberian imunisasi TT.1%).5 80. pemeriksaan urin. g.6 5. Riwayat pemeriksaan kehamilan pada ibu yang mempunyai bayi terdapat pada Tabel 3.4 87. c.7 75. Tabel 3.8 92.5 81.Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 11.9 85.45 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Provinsi.2 83.3 10.

1 75. Tabel 3. semakin tinggi pula cakupan pemeriksaan kehamilan.9 87.9 90.1%) dibanding di perdesaan (78.1%) dan 86 .46).2 94.5 81. Cakupan periksa kehamilan tertinggi terdapat pada kelompok keluarga dengan perkerjaan kepala keluarga sebagai pegawai negri (92.9 95.4 86.5 Menurut karakteristik rumah tangga dan tipe daerah (Tabel 3.46 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Periksa hamil 94.47 menunjukkan delapan jenis pemeriksaan (seperti yang diuraikan sebelumnya) yang dilakukan pada ibu hamil.2 89. Secara keseluruhan pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan tekanan darah (97.6 90.1 78.Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 84. Semakin tinggi pendidikan kepala keluarga atau semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita.2%).9 92.0 67.3 Terdapat kecenderungan hubungan positif antara cakupan pemeriksaan ibu hamil dengan tingkat pendidikan kepala keluarga dan pengeluaran per kapita.3 89.7 83.5 85. tampak bahwa cakupan pemeriksaan kehamilan lebih tinggi di perkotaan (94.5 77.6 79.1 78.1%).0 Indonesia 84.4 79. Tabel 3.2 82.4 86.9%) dan terendah pada kelompok keluarga petani/nelayan/ buruh (78.

0 26.2 95.4 79.3 94.5 30.3 87.9 87.5 90.2 98.5 94.5 97.8 65.5 84.1 65.8 26.0 35.7 61.3 81.9 55.3 98.8 91.1 30. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua a b c Jenis pelayanan* d e f 89.4 93.2 86.1 85.1 92.2 27.4 47.9 97.1 96.3 94.0 83.6 93.9 97.4 56.5 96.1 52.1 91.2 95.9 88.5 62.2 86.9 39.2 42.4 95.9 67.9 95.7 89.2 80.2 94.8 56.6 34.9 95.1 91.3 42.0 98.6 75.5 24.7 97.2 91.4 68.5 95.8 96.3 88.5 97.8 96.1 88.5 85.7 37.4 95.2 98.5 94.5 86.7 38.6 97.1 19.0 36.8 97.1 h 40.3 14.7 25.9 86.4 88.7 13.4 91.9 44.7 47.3 35.5 84.8 95.8 99.4%).0 75.7 92.6 25.6 34.1 48.2 97.7 95.7 28.5 32.7 17.0 98.8 36.5 92.3 45.3 92.5 93.2 88.1 95.3 75.1 42.5 86.2 47.9 97.2 22.7 95.0 45.5 90.1 27.0 77.2 90.8 96.7 86.2 34.7 66.3 96.2 98.3 96.8 33.8 87.3 95.3 82.2 45.7 84.2 Indonesia 58.9 89.3 95.1 96.5 63.0 38.5 10 0.4 95.2 95.0 37.8%). Sedangkan jenis pemeriksaan kehamilan yang jarang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan hemoglobin (33.9 79.0 38.7 98.1 91.8 38.5 95.4 94.3 91.3 97.0 97.0 41.1 85.6 41.1 33.2 98.4 97.0 91.9 47.5 32.7 97.2 86.8 98.6 52.1 85.2 93.7 10 0.9 96.3 29.0 54.9 57.8 92.7 98.5 86.9 95.3 95.6 52.1 85.9 98.4 91.6 97.5 85.4 22.2 92.2 39.7 83.5 93.1 77.6 g 38.3 94.3 95.7 38.9 71.5 78.7 57.4 95.1 57.0 96.8 96.5 89.0 46.1 90.6 83.8 89.5 97.1 97.6 24.7 66.6 23.2 81.9 93.9 41.2 91.penimbangan berat badan ibu (94.8 94.8 73.5 15.5 79.4 94.5 92.3 94. Variasi tiap jenis pemeriksaan menurut provinsi dapat dilihat lebih lanjut di Tabel 3.8%) dan pemeriksaan urine (36.3 56.9 98.7 87.2 19.8 62.4 76.7 88.0 85.3 96.7 51.2 96.4 25.0 83.9 96.5 94.47 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Provinsi.3 99.8 43.1 88.8 69.9 10 0.4 48.47.3 91.3 95.3 97.9 90.9 82.2 91.1 97.2 89.8 98.3 64.3 98.7 66.6 59.5 97.0 95.1 87.5 42.8 49.0 26.4 Jenis pelayanan kesehatan: a = pengukuran tinggi badan e = pemberian imunisasi TT 87 .2 95. Tabel 3.4 97.6 56.5 94.5 89.5 42.6 92.8 95.

4 96.0 85.9 90.3 87.9 95.4 97.9 89. pemeriksaan hemoglobin dan urine. Tabel 3.4 91.4 85. 88 .0 93.3% ibu menerima 3 – 5 jenis pemeriksaan kehamilan.6 54.1 37.7 92. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Jenis pelayanan kesehatan: a = pengukuran tinggi badan b = pemeriksaan tekanan darah c = pemeriksan tinggi fundus (perut) d = pemberian tablet Fe a 63.8 49.7 91.6 91.1 96.1 93.2 98.6 c Jenis pelayanan* d e f 93.7 35.4 57.9 97.1 25.3 85.0 98.0 85.3 85.9 96.2 86.5 89.0 68.b = pemeriksaan tekanan darah c = pemeriksan tinggi fundus (perut) d = pemberian tablet Fe f = penimbangan berat badan g = pemeriksaan hemoglobin h = pemeriksaan urine Jenis pemeriksaan menurut tipe daerah dan rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 3.0 29.1 31.8 32.2 97.0 35.6 87.7 39.7 92.7 93.8% yang hanya menerima 1-2 jenis pemeriksaan selama kehamilan.2 28.4 38.6 g H 89.3 97.8 90.5 95.9 60.2 88.8 46.5 86.8 62.8 55.1 b 98.8 94.4 87. Namun sebaliknya tidak terdapat pola kecenderungan cakupan untuk tiap jenis pemeriksaan kehamilan dengan pekerjaan kepala keluarga.1 32.8 95.3 84.5 30.1 92.7 84.4 90.0 97.6 85.2 30.1 40.1 88. Terdapat kecenderungan hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga dan tiap jenis pemeriksaan kehamilan terutama pada pemeriksaan hemoglobin dan urine.9 87.6 58.1 87.6 38.3 29.0 96.0 32.0 97.0 90.0 40.2 97.1 98.3 59.6 37.2 94.4 37.6 63.0 94.1 55.9 92.7 96.9 94.5 92.7 97.6 85.7 57.1 39.4 58.1 89.5 63.8 91.49).8 36.4 88.0 87.6 95.9 88.8 94.4 86.2 32.8% ibu yang menerima 6-8 jenis pemeriksaan selama kehamilan.48 Secara umum terlihat dalam tabel tersebut bahwa cakupan tiap jenis pemeriksaan kehamilan lebih tinggi di perkotaan dibanding di perdesaan.9 e = pemberian imunisasi TT f = penimbangan berat badan g = pemeriksaan hemoglobin h = pemeriksaan urine Semakin banyak jenis pemeriksaan kehamilan yang diterima ibu hamil semakin lengkap pemeriksaan kehamilan yang diterima (Tabel 3.5 92.0 96.7 48.2 89.5 93.0 92.6 97.1 97. Secara keseluruhan 61.6 33.8 56.2 45.8 25.8 28.7 41.4 92.5 93.9 56.3 94.1 41. 35.8 87.3 91.8 83.48 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden.5 61.7 88.5 91.2 88.6 87.9 48. Demikian juga ada kecenderungan hubungan positif antara tingkat pengeluaran rumah tangga dengan pengukuran tinggi badan.0 98.1 38.5 36.8 27.6 43.4 96.0 94.4 99.6 87.3 97. dan hanya 2.2 43.4 90.9 86.8 56.9 91.0 59.

0 58.4 48.0 68.7 16.0 1.7 63.0 21.3 4.3 28.5 2.0 55.0%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (83.2 1.4 2.0 37.0 60.0 59.8 61.3 58.8 29.7 24.8 46.8 89 .0 5.8 33.2 28.3 0.7 2.3 61.0 3.2 39.1 2.1%).8 jenis) persentase terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Tenggara (41.8 0.2 76.8 35.8 39.1 28.6 66.6 24.3 79.7 68.0 1. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pemeriksaan kehamilan 1-2 jenis 3-5 jenis 6-8 jenis 3.6 34.8 Indonesia 2.6 20.4 20.9 5.1 39.0 0.8 69.6 3.5 38.6 68.49 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Provinsi.3 3.2 39.9 33.1 67.4 28.5 37.2 2.0 76.6 56.6 2.9 37.8 2.2 3.3 61.1 56.5 83.2 7.3 20.3 21.3 1.8 50.2 48.8 1.4 2.0 2.5 62.3 75.0 45.9 31.9 26.9 62.1 48.5 3.5 60.4 31.8 38.5 4.9 0.0 2.1 71.9 58.6 35.2 0.0 2.6 75.5 78.7 60.8 77.8 4. Tabel 3.Ibu yang mendapat pemeriksaan kehamilan relatif lengkap (6 .1 41.

7%).6 64. yaitu semakin tinggi tingkat pengeluaran RT per kapita semakin besar persentase ibu yang mendapatkan pemeriksaan kehamilan lebih lengkap.9%).7 31.50 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Karakteristik Responden. Untuk neonatus umur 8-28 hari cakupan pemeriksaan kesehatan terendah di Kalimantan Barat (19.9 67.4 1.3 61.3 34.6 0.6 62. 90 .8%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (66.1 33.9 3.2 58.6 67.4 73.2 69.5 40.8 35.6 43.9 31.7 39.1 2.1 67.1 35. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Skor jenis pemeriksaan kehamilan 1-2 jenis 3-5 jenis 6-8 jenis 1.5% neonatus umur 8-28 hari mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan.50 menunjukkan kelengkapan pemeriksaan kehamilan menurut karakteristik daerah dan rumah tangga.8 40.2 4.7 3.2 29.8 38.5 2.2 69. Persentase pemeriksaan kehamilan yang lebih lengkap lebih banyak di perkotaan (69.9 3.4 55.7 34.5 30.4 2.5 63.4%) dibanding dengan di perdesaan (55.6% neonatus umur 0-7 hari dan 33.3 4. Dalam Tabel 3. Kelengkapan pemeriksaan kehamilan berhubungan secara positif tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 2.8 3.3 3.Tabel 3.51 terlihat bahwa secara keseluruhan 57.6 57.3 60.1 2.5 28.5 61.8 28.0 Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas ditanyakan pada ibu yang mempunyai bayi.7 64.6 3.0 25.8 38.8 35.2%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (81.7 54.6 1. Tabel 3.7 1.2 58.8%).4 55. Pemeriksaan neonatus umur 0-7 hari terendah di Papua (27.8 2.

0 62. tipe daerah dan rumah tangga.0 53.3 29.5 66.0 25.51 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Provinsi.3 44.7 49.3 45.7 44.1 25.9 33.1 29.2 59.8 35.9 43.9 55.9 54.6 31.5 35.8 21.5 23.1 39.2 50.2 27.6 30.2 36.2 28.2 66.7 47.8 39.7 50.9 41.2 66.1 58.6 37.7 49.9 70.1 19.2 22.4 69.9 39.7 26.8 63.5 Tabel 3.8 42.4 28.3 64. 91 .7 65.9 34.0 41.0 32.0 26. Terlihat bahwa persentase cakupan baik pemeriksaan neonatus umur 0-7 hari dan 8-28 hari tidak berbeda menurut jenis kelamin bayi. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pemeriksaan neonatus Umur 0-7 hari Umur 8-28 hari 56.4 45.8 Indonesia 57.6 81.8 27.5 58.5 63.1 64.0 42.5 35.4 30.4 54.1 58.52 memberi gambaran tentang pemeriksaan neonatus menurut karakteristik bayi.6 68.Tabel 3.1 28.6 33.2 62.

4%).0 69. yaitu Nusa Tenggara Timur. Maluku. Riskesdas mengumpulkan data tentang tempat melahirkan.7 29. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan neonatus dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita.53 sampai dengan Tabel 3.1 60.1 41.9 Selain penjelasan tersebut di atas.53 menunjukkan pada umumnya di lima provinsi sebagian besar ibu (di atas 60%) melahirkan bayinya di rumah.0 58.9 64. Tabel 3.2 46.3 57. Tempat persalinan dikelompokkan menjadi 7 yaitu: RS Pemerintah.3 46.8 55. Tabel 3.2 37. Tabel 3. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Pemeriksaan neonatus Umur 0-7 hari Umur 8-28 hari 65.7 32. dan penolong persalinan.9 37. khusus pada lima provinsi. Puskesmas/Pustu. RS Swasta.5 30.5 52.Menurut tipe daerah di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan. dan lainnya. Persentase terbesar ibu yang melahirkan di rumah adalah di Maluku (85.3 33.8 63.4 65.2 28.7 40.8 41.5 62.0 60. semakin tinggi persentase cakupan pemeriksaan kesehatan pada neonatus.2 28. RB/RBIA/Klinik.2 59.6 33.0 31.3 54.58 memberikan gambaran tentang informasi tersebut. rumah. 92 . jumlah pemeriksaan kehamilan.7 51.0 59.4 50.7 52.8 65.52 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Karakteristik Responden.0 37. Maluku Utara. Polindes/Poskesdes. Papua Barat.5 37.1%) dan terkecil di Papua (65. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun pengeluaran per kapita.5 42.8 24.2 33. dan Papua.4 36.9 27.5 63.

2 3. tenaga kesehatan lain. Terlihat kecenderungan hubungan positif antara jumlah pemeriksaan kehamilan yang memadai di tiap trimester dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun pengeluaran per kapita.7 0. Di Nusa Tenggara Timur. Puskesmas/Pustu. trimester2. Tabel 3.7%.53 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Provinsi.0 0.4 g 0. Menurut tipe daerah. Selama trimester-1 ibu yang tidak pernah melakukan pemeriksaan di lima provinsi berkisar antara 25.34.9% -50. Puskesmas/Pustu d.6 0. dan Maluku Utara penolong persalinan yang dominan adalah dukun bersalin dibanding 93 .2 3. Namun bila dibandingkan antara persentase penolong persalinan pertama dan penolong persalinan terakhir untuk masing-masing jenis penolong.4% .50.9 4.1 85.5 71. Hal ini menunjukkan penolong persalinan pertama umumnya sama dengan penolong terakhir. Pada Tabel 3. Persentase ibu yang melahirkan di RS Pemerrintah paling banyak kelompok RT dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI.5 1. Selama kehamilan jumlah minimal pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali yaitu minimal 1 kali pada trimestes I. polindes/ Poskesdes Pada Tabel 3.2% . sedangkan pada trimester-2 berkisar antara 15. RB/RBIA/Klinik dibanding di perdesaan.1 0. nampak tidak banyak perbedaan.4 e: RB/ RBIA/ Klinik f: Rumah g: Lainnya 3.7 Papua Barat 14.5% .5 Papua 18.6 0.56 menunjukkan penolong persalinan pertama dan terakhir pada ibu yang mempunyai balita.5 3.Tabel 3.0 4. trimester-3.2 65.54 terlihat bahwa terdapat perbedaan yang besar tempat melahirkan di lima provinsi tersebut menurut tipe daerah. bidan.0 1.8%. dan trimester seluruhnya. Terdapat hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita dengan RS Pemerintah sebagai tempat ibu melahirkan.1 5.1 82.9 4.2 1. Penolong persalinan dikelompokkan menjadi 6 (enam) yaitu: dokter.5 0. Terlihat dalam tabel tersebut adanya variasi persentase antar provinsi untuk masing-masing jenis penolong.0 Nusa Tenggara Timur 6. Riskesdas 2007 Provinsi a b 2.5% telah melakukan pemeriksaan lebih dari dua kali seperti yang dianjurkan.55 menunjukkan jumlah pemeriksaan selama kehamilian trimester-1. Sebaliknya tampak ada hubungan negatif antara tempat ibu yang melahirkan di rumah dengan pendidikan KK maupun tingkat pengeluaran per kapita. Di perkotaan.0 Maluku Utara 7. cakupan pemeriksaan kehamilan yang memadai untuk masingmasing trimester dan ketiga trimester menunjukkan lebih banyak ibu periksa kehamilan di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.37.0 f 77. famili/keluarga. dan lainnya.9 2.0 Keterangan: a: RS Pemerintah b.9 2. Ternyata baru 30.9 Maluku 7. ibu lebih banyak melahirkan di RS Pemerintah. Terlihat adanya variasi pemeriksaan kehamilan antar provinsi.5 7. Maluku. Sedangkan di perdesaan. RS Swasta. Pada trimester-3 sebanyak 24.2 Tempat melahirkan c d e 6.8 2.8 1. RS swasta c. ibu lebih banyak melahirkan di rumah dan di Polindes/Poskesdes. dukun bersalin. minimal i kali pada trimester II dan minimal 2 kali pada trimester III.7% ibu yang periksa hamil empat kali atau lebih. sedangkan menurut anjuran selama trimester-1 dan trimester-2 minimal periksa kehamilian satu kali.

7 Keterangan: a: RS Pemerintah b.0 1.6 35.7 e: RB/ RBIA/ Klinik f: Rumah g: Lainnya 94 .0 Tidak tamat SD 3.7 7.5 1.0 2.5 4.7 4.6 5.5 3.6 2.8 0.4 6.3 kapita Kuintil-2 5.1 6.6 2.4 56.7 3.0 2. Bila penolong persalinan dikaitkan dengan tingkat pengeluaran per kapita nampak adanya pola yang jelas.8 Tipe daerah Perkotaan 29.0 1.9 0.2 1.7 Perdesaan 4.dengan provinsi Papua Barat da Papua.7 42.1 Pekerjaan KK Tidak bekerja 12. Tabel 3.4 1.7 Tamat SD 4.1 1.0 0.9 91.1 Kuintil-3 8.7%.5 5.3 55.5 2.3 .8 11.5 0.2 85.6 0.6 g 1.4 1. Namun kurang nampak adanya pola kecenderungan menurut tingkat pendidikan KK.1 6.4 4.4 6.0 2.1 1.7 2.3 7. Pada tabel 3.2 6.3 9.2 2.6 2.9 6.0 7.3 4.3 PNS/POLRI/TNI 30.5 2.2 Pendidikan KK Tidak sekolah 2.1 5.9 4.2 1.5 4.2 Tamat PT 35.8 84.8 60.0 8.7 2.4 1.7 1.5 2.2 4.2 6.0 1.6 2.3% dan 61. Persentase penolong persalinan oleh bidan dan dukun baik sebagai penolong pertama maupun terakhir lebih besar bila dibanding dengan tenaga penolong jenis lain.3 3.4 1. sedangkan di Papua yang dominan dua penolong persalinan yaitu bidan dan famili/keluarga.7 Kuintil-4 12.7 f 43.4 2.8 0. RS swasta c.2 2.5 4.6 Wiraswasta 21.0 0.9 Petani/ buruh/ nelayan 3.8 0.1 5.4 2.9 68.57 di lima provinsi terlihat bahwa penolong persalinan baik untuk penolong persalingn pertama maupun terakhir yang dominan di perkotaan adalah bidan (masingmasing 60. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden a b 8.54 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Karakteristik Responden.7 3.5 2.3 4. Puskesmas/Pustu d: Polindes/ Poskesdes Tempat melahirkan c d e 6. Di Papua Barat yang dominan adalah bidan.8 0.9 Tingkat pengeluaran per Kuintil-1 5.2 1.2 4.1 8.9 1.1 6.3 Ibu rumah tangga 18.6 3. Sedangkan di perdesaan yang dominan baik untuk penolong persalinan pertama maupun terakhir adalah dukun bersalin (masing-masing 43.2 Tamat SMA 19.9 84.6 0.3 76. Sebaliknya semakin meningkat pengeluaran per kapita semakin sedikit persalinan yang ditolong oleh dukun dan famili/keluarga. Untuk penolong persalinan oleh famili/keluarga.1 71.8 1.2 86.6 7.1 77.4 2.3 Kuintil-5 20.3 0.6 2.1 59.5 1.2 85.2 70.4 0.6 7.4 2.2 1.9%).3 Tamat SMP 9. nampak ada pola kecenderungan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga semakin sedikit persalinan yang ditolong famili/keluarga.7% dan 45.3 1. yaitu semakin meningkat pengeluaran per kapita semakin banyak persalinan yang ditolong oleh dokter dan bidan.5 83.1 8.0 Lainnya 16.0 4.

2 43.6 42.8 23.1 23.3 20.Tabel 3.1 21.2 25.5 15.1 28.5 36.8 55.3 21.0 38.7 35.9 16.0 21.0 22.4 34.9 26.0 35.7 26.8 32.9 23.8 38.8 42.9 25.9 15.7 42.6 59.3 23.2 21.4 37.2 36.7 36.3 71.3 37.6 24.2 25.8 28.9 29.5 32.2 15.8 24.6 43.8 28.5 38.6 46.8 44.2 50.5 21.8 36.6 29.8 38.3 61.0 34.3 29.8 48.3 42.1 32.8 32.9 10.4 36.2 13.0 22.1 Trimester-1 Tidak 1 kali >1 kali Trimester-2 Tidak 1 kali >1 kali Tidak Trimester-3 1 kali 2 kali >2 kali Trimester 123 Tidak 1-3 kali >4 kali 95 .2 11.0 62.2 17.2 20.6 30.9 20.9 41.4 26.2 21.5 23.1 49.9 26.6 26.2 17.3 25. Riskesdas 2007 Provinsi/Karakteristik Responden Provinsi Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per Kuintil-1 kapita Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 25.8 34.0 18.8 49.5 9.3 17.6 39.1 3.0 22.8 19.1 37.7 33.5 10.2 32.6 20.6 52.7 29.3 28.1 22.0 31.6 26.9 20.2 53.5 21.1 37.7 15.3 50.5 61.7 45.8 30.7 51.0 31.2 12.8 21.3 36.5 11.8 36.0 34.3 12.4 21.0 50.4 25.2 32.1 13.9 30.9 6.7 41.6 24.5 46.4 16.1 29.5 23.2 19.55 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Frekuensi Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.4 7.4 49.6 24.8 39.6 18.8 31.7 39.6 20.5 55.2 32.6 25.2 18.0 33.6 49.1 38.5 30.8 24.8 30.2 48.6 39.5 49.8 39.7 55.0 16.3 26.0 33.3 53.2 29.8 9.1 65.7 18.0 4.0 54.2 23.4 58.4 28.7 33.6 28.7 20.6 20.1 38.5 38.6 20.3 25.1 37.0 26.1 32.5 34.4 18.3 12.0 16.5 44.4 22.8 33.6 26.5 40.7 13.7 20.1 26.8 28.4 32.1 66.0 35.9 34.6 16.4 5.5 22.4 20.8 29.9 64.5 29.3 36.6 21.2 41.9 22.7 37.2 63.2 21.3 18.2 22.6 19.4 32.7 63.4 8.7 19.3 37.1 56.6 11.1 50.9 28.0 15.9 25.3 17.5 42.4 19.6 43.1 34.9 34.7 21.1 45.1 40.8 35.9 40.7 22.3 33.9 30.5 13.1 42.5 27.1 46.2 29.7 47.7 14.8 21.3 43.9 33.4 28.9 25.7 24.9 17.7 38.7 14.1 15.3 23.9 33.0 18.6 26.0 29.3 28.7 26.2 56.2 51.5 41.4 73.5 39.7 61.8 51.2 19.9 31.9 15.7 41.9 23.5 15.3 40.3 40.0 72.1 25.8 17.0 15.1 20.3 33.7 8.4 17.3 29.3 29.9 39.3 23.3 43.2 30.5 21.6 23.6 50.3 36.0 24.5 6.2 28.3 22.9 22.5 8.0 29.9 15.1 23.1 15.9 16.8 20.0 33.8 30.1 23.7 47.3 34.

4 14.7 2.5 a 3.7 3.5 39.6 22.2 0.2 36.3 Penolong persalinan pertama b c d e 36.5 0. Riskesdas 2007 Provinsi Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Keterangan: a 4.6 1.3 35.3 0.1 2.6 6.3 1.9 0.7 1.5 0.7 11.3 50.1 35.0 34.4 51.1 12.6 3.8 43.Tabel 3.2 f 0.0 56.6 3.9 1.4 3.8 31.6 0.7 1.56 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Provinsi.1 19.8 1.1 20.6 2.0 f 0.2 0.9 55.8 7.2 40.9 5.7 47.7 1.1 a: Dokter d: Dukun bersalin b: Bidan e: Famili/keluarga c: Tenaga kesehatan lain f: Lainnya 96 .2 56.9 32.4 12.4 4.4 3.0 46.5 1.7 21.2 Penolong persalinan terakhir b c d e 38.9 4.6 10.2 9.

4 19.9 8.2 0.2 1.6 19.2 2.1 47.8 45.0 4.9 3.0 37.0 16.6 15.3 65.9 Kuintil-4 6.7 0.0 1.5 1.5 46.2 65.9 1.2 24.1 20.5 38.6 27.4 44.9 60.5 Petani/ buruh/nelayan 2.6 f 0.7 1.5 0.5 3.0 Pekerjaan KK Tidak bekerja 4.2 a 13.2 0.6 1.0 30.9 f 0.9 40.1 41.6 1.0 1.6 2.3 27.9 21.8 46.1 8.7 18.9 2.7 0.8 9.3 2.5 Tamat SMA 10.9 30.3 57.3 12.6 2.3 17.1 2.6 2.7 Pendidikan KK Tidak sekolah 1.7 50.6 18.7 1.6 1.2 37.9 51.9 5.4 2.5 0.2 41.2 0.8 1.2 13.57 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.2 1.0 55.2 Tamat PT 20.8 49.1 4.4 18.3 Perdesaan 2.7 2.6 5.0 1.3 0.9 21.4 35.4 Tipe daerah Perkotaan 14.9 Kuintil-2 2.7 0.4 2.1 48.9 17.6 8.0 63.4 Tamat SMP 4.9 32.8 43.4 1.7 1.6 2.8 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 2.6 37.8 53.7 43.3 10.0 Tamat SD 2.6 1.9 Kuintil-3 4.8 17.7 37.9 Penolong persalinan terakhir b c d e 61.2 18.8 1.5 42.4 11.7 45.3 1. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden a Penolong persalinan pertama b c d e 60.6 1.5 63.6 22.3 Ibu rumah tangga 5.6 1.2 5.7 1.6 1.1 34.2 39.5 15.3 51.1 2.7 7.1 7.2 28.2 4.8 37.9 36.3 1.5 12.8 13.1 Lainnya 6.7 12.9 Wiraswasta 9.5 18.0 52.2 10.6 1.9 16.3 1.2 1.0 2.0 15.6 1.7 44.4 1.8 Tidak tamat SD 2.2 1.7 2.1 25.5 1.Tabel 3.4 16.9 1.4 2.8 1.7 32.2 6.0 15.9 43.5 3.0 1.0 23.6 13.8 3.3 48.4 1.0 9.0 6.7 Keterangan: a : Dokter d: Dukun bersalin b: Bidan e: Famili/keluarga c: Tenaga kesehatan lain f: Lainnya 97 .1 35.3 31.9 1.4 Kuintil-5 10.4 4.2 14.9 7.9 10.6 4.9 38.6 10.0 16.2 PNS/POLRI/TNI 16.5 1.9 1.1 2.6 1.9 29.3 34.3 1.6 62.3 0.4 1.2 13.6 1.9 6.8 30.1 31.7 4.7 2.5 0.1 23.9 42.9 51.3 17.8 2.0 0.9 1.1 1.9 29.1 11.7 15.9 35.1 1.3 0.8 18.6 28.2 1.2 38.6 1.

sedangkan prevalensi penyakit kronis dan musiman ditanyakan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir (lihat kuesioner RKD07. ditanyakan lagi apakah pernah/sedang menderita gejala klinis spesifik penyakit tersebut (G). dan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air. sedangkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air adalah penyakit tifoid.IND). Penyakit menular yang ditularkan oleh vektor adalah filariasis. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis DBD oleh tenaga kesehatan” dalam 12 bulan terakhir ditanyakan apakah pernah menderita demam/panas. Demikian pula diare. Penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). mual dan muntah. Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis. tanpa konfirmasi pemeriksaan laboratorium. laten atau kronis. serta dapat mengakibatkan kematian. 3. Demam Berdarah Dengue dan Malaria Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit kronis yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. hepatitis. Penyakit ini dapat bersifat akut. pembengkakan payudara dan pembengkakan tungkai bawah atau atas.IND: Blok X no B01-22). panas naik turun secara berkala. Penyakit ini bersifat musiman yaitu biasanya pada musim hujan yang memungkinkan vektor penular (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) hidup di genangan air bersih.3 Penyakit Menular Penyakit menular yang diteliti pada Riskesdas 2007 terbatas pada beberapa penyakit yang ditularkan oleh vektor. Untuk responden yang menyatakan 98 . Khusus malaria. sakit kepala atau tanpa gejala malaria tetapi sudah minum obat antimalaria. demam berdarah dengue (DBD). Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit infeksi tular vektor yang sering menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). kadang-kadang disertai bintik-bintik merah di bawah kulit dan atau mimisan. pembengkakan alat kelamin. berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi. Malaria merupakan penyakit menular yang menjadi perhatian global. pneumonia dan campak.3. dan tidak sedikit menyebabkan kematian. dinilai proporsi kasus diare yang mendapat pengobatan oralit (O). Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena sering menimbulkan KLB. selain prevalensi penyakit juga dinilai proporsi kasus malaria yang mendapat pengobatan dengan obat antimalaria program dalam 24 jam menderita sakit (O). penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur.3. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis filariasis oleh tenaga kesehatan” dalam 12 bulan terakhir ditanyakan gejala-gejala sebagai berikut: adanya radang pada kelenjar di pangkal paha. lemas. berkeringat. Prevalensi penyakit akut dan penyakit yang sering dijumpai ditanyakan dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Kepada responden ditanyakan apakah pernah didiagnosis menderita penyakit tertentu oleh tenaga kesehatan (D: diagnosis). Jadi prevalensi penyakit merupakan data yang didapat dari D maupun G (DG).1 Prevalensi Filariasis. sakit kepala/pusing disertai nyeri di ulu hati/perut kiri atas. Umumnya penyakit ini diketahui setelah timbul gejala klinis kronis dan kecacatan. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis malaria oleh tenaga kesehatan” dalam satu bulan terakhir ditanyakan apakah pernah menderita panas tinggi disertai menggigil (perasaan dingin). Data yang diperoleh hanya merupakan prevalensi penyakit secara klinis dengan teknik wawancara dan menggunakan kuesioner baku (RKD07. kaki/tangan dingin. dan diare. dan malaria. dan dapat menyebabkan kecacatan dan stigma.

Dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Kalimantan Timur. hanya kurang dari 50% kasus malaria mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam menderita sakit.4%) dan NTT (12. Papua (18.5%. Pada 12 provinsi didapatkan prevalensi DBD klinis lebih tinggi dari angka nasional. Kep Riau. Papua (0.“pernah didiagnosis malaria oleh tenaga kesehatan” ditanyakan apakah mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam pertama menderita panas. yaitu Nusa Tenggara Timur (2. Bengkulu dan DKI Jakarta (1. Nusa Tenggara Barat.2%).4‰).9%). Demikian pula proporsi pengobatan dengan obat program sangat rendah (<35%) terdapat di provinsi di Jawa. Ada 8 provinsi dengan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (>50%) yaitu Papua. Sedangkan di beberapa provinsi sebagian besar hanya berdasarkan gejala klinis yaitu Bengkulu. Dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Penyakit malaria tersebar di seluruh Indonesia dengan angka prevalensi yang beragam.6‰). Jambi. Ada delapan provinsi yang mempunyai prevalensi (DG) filariasis melebihi angka prevalensi nasional. kasus malaria lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan (NAD.5‰). Kep Riau. Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.2‰). Jawa Tengah. Papua Barat.5%). Banten.7%.26. Kalimantan Barat. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Selatan. Di NTT.2% .3‰ . Papua. kasus DBD klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi (DG) 0. Di Provinsi DKI Jakarta. Tabel 3. Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat serta NAD (1. Provinsi di Jawa-Bali merupakan daerah dengan prevalensi malaria klinis terendah yaitu ≤0. Bangka Belitung. prevalensi malaria klinis nasional adalah 2.1 ‰ (rentang : 0. Sulawesi Tenggara (1.8%).4‰). dan Bengkulu. Bengkulu. Sumatera Selatan.7%). Bengkulu. Papua (2. Meskipun demikian yang perlu menjadi perhatian adalah sebagian besar kasus malaria klinis di Jawa-Bali terdeteksi bukan berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan.0%). Kepulauan Riau. DI Yogyakarta.58.5‰). yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (6. Sulawesi Tenggara. Papua Barat (2. DKI Jakarta dan Sulawesi Tengah (1. Bangka Belitung. Sebaliknya beberapa provinsi dengan prevalensi malaria klinis rendah (<10%) menunjukkan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (>50%) yaitu Kalimantan Timur.0%). sehingga dapat menghambat program eliminasi malaria. Kalimantan Timur.4‰). Hal ini disebabkan gejala klinis DBD menyerupai penyakit infeksi virus lainnya.1%). Responden yang terdiagnosis sebagai malaria klinis dan mendapat pengobatan dengan obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit hanya 47. Kepulauan Riau (1. menunjukkan bahwa dalam 12 bulan terakhir filariasis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi klinis sebesar 1.6% (rentang: 0. dan Sulawesi Barat (0. Papua Barat.1%). 99 .0%). Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi malaria klinis di atas angka nasional. dan Papua). Riau dan Maluku Utara (0.1%). dan Gorontalo (1. Kalimantan Barat.2. sebagian besar berada di Indonesia Timur. Data ini bermanfaat untuk menilai kesiapan daerah dan mengevaluasi pelaksanaan eliminasi malaria di Jawa-Bali. Nusa Tenggara Timur (2.5%). dan Jawa Timur kasus DBD klinis lebih banyak didapatkan berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan. Papua Barat (4. Tiga provinsi dengan prevalensi malaria klinis tinggi adalah Papua Barat (26.3‰ .6.9‰). walaupun kasus malaria klinis tinggi. Di 11 provinsi. Sulawesi Tengah.9% (rentang: 0. Riau dan Sulawesi Barat. Bangka Belitung.

43 0.05 Malaria DG 1.79 0.65 2.13 0.10 0.03 0.63 7.03 0.75 12.12 0.19 0.17 0.24 0.32 0.01 0.42 7.01 0.11 0.10 0.57 43.85 47.11 0.32 0.08 0.25 0.10 2.58 0.42 0.69 60.09 0.33 65.21 0.52 Indonesia 0.12 7.09 0. Riskesdas 2007 Provinsi Filariasis D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.04 0.03 0.41 0.03 0.23 0.44 24.10 39.22 5.06 7.16 2.10 0.08 0.89 1.62 36.09 0.10 41.08 48.05 0.33 0.22 0.05 0.04 0.99 30.14 DBD D 0.05 0.03 0.84 0.23 26.16 0.04 0.07 0.57 46.07 0.70 0.07 0.26 3. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Provinsi.26 0.09 0.31 1.00 0.87 3.77 26.03 20.30 0.45 2.39 2.09 0.58 Prevalensi Filariasis.88 0.43 0.37 47.30 0.41 1.33 43.04 0.90 49.30 0.14 0.02 0.09 0.10 0.65 12.60 0.14 1.12 0.55 42.15 0.18 0.64 0.09 0.43 0.54 0.87 2.31 15.59 0.26 0.03 0.37 2.01 0.55 0.03 0.51 0.32 0.41 27.18 0.09 0.04 0.04 0.20 0.37 1.03 0.42 0.02 0.83 28.36 1.02 0.04 0.03 0.04 0.01 0.23 1.82 1.41 0.03 0.29 1.06 0.15 0.27 59.42 1.00 34. Demam Berdarah Dengue.41 42.25 0.09 DG 3.02 0.12 0.12 0.78 53.08 0.88 0.52 0.29 D 1.73 1.46 0.66 49.07 0.81 0.06 0.00 0.46 23.29 0.04 0.02 6.16 0.06 0.96 0.34 44.07 0.68 100 .09 1.15 0.35 51.05 0.14 18.05 0.37 1.78 23.10 0.38 1.16 0.85 1.36 39.21 0.04 0.06 0.27 5.02 0.10 2.15 0.66 2.45 0.67 2.51 0.35 0.27 0.06 0.45 0.07 0.08 0.78 0.03 3.10 0.07 0.06 0.Tabel 3.14 0.28 43.73 1.16 0.07 0.58 0.04 0.06 0.62 1.41 O 36.45 0.07 0.11 0.41 0.50 0.08 0.93 DG 0.77 2.04 3.86 2.86 1.53 36.32 64.31 3.01 4.33 0.27 0.18 0.67 58.21 0.

52 0.63 0.10 >75 0.88 1.09 0.12 0.03 25-34 0.63 51.90 2.23 0.11 0.84 49.06 35-44 0.Tabel 3.31 1.43 1.62 0.21 0.04 Tamat SMA 0.15 0.07 Pekerjaan Tidak kerja 0.73 47.16 0.38 39.17 0.23 57.95 4.38 1.68 0.96 46.15 0.66 2.44 48.37 1. Demam Berdarah Dengue.39 44.12 2.24 Malaria DG 0.17 0.16 0.11 0.03 Pegawai 0.04 15-24 0.18 0.20 0.87 43.47 47.09 3. dan tidak ada perbedaan prevalensi menurut tingkat pengeluaran rumah tangga (RT) per kapita.06 Kuintil 5 0.59 0.05 Tamat SMP 0.19 0.12 0.83 1.49 2.05 Perempuan 0.08 Jenis kelamin Laki-laki 0.22 35.56 0.37 1.05 1.74 0.21 0.04 2.11 0.68 0.59 0.32 45.19 42.08 53. Tabel 3.42 1.72 2.05 Ibu RT 0.04 45-54 0.85 1.57 0.19 1.16 0.03 47.56 0.05 Kuintil 2 0.66 0.51 0.11 0.55 1.12 0.61 0.10 0.02 5-14 0.15 0.05 2.13 0.08 65-74 0.14 0.53 1.61 0.10 1.29 41.34 0.06 Pendidikan Tidak sekolah 0.20 0.26 0.92 51.08 0.05 Tamat PT 0.14 1.10 0.28 1.08 0.51 0.83 2.07 0.83 2.97 2.25 0.75 3.10 Tidak tamat SD 0.06 Tamat SD 0.80 50.52 O 57.63 0.02 0.07 Lainnya 0.25 0.70 2.41 1.08 1.14 1.40 53.46 3. DBD dan Malaria menurut karakteristik responden.78 48.56 0.65 48.09 0.89 46.83 3.59 Prevalensi Filariasis.05 0.12 0.02 2.69 2.14 0.75 1.62 3.14 0.25 47.66 D 0.05 Kuintil 4 0. tidak ada perbedaan prevalensi antara laki-laki dan perempuan. Filariasis klinis dijumpai pada semua kelompok umur dan sudah ditemukan pada kelompok umur ≤5 tahun.62 0.11 0.19 0.05 Tipe daerah Perkotaan 0.09 DBD D 0.38 1.20 3.50 1.06 55-64 0.25 41.59 1.22 1.05 Kuintil 3 0.61 0.48 1.05 2.35 1.05 Wiraswasta 0.54 3.59 0.19 46.18 0.06 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 0.53 0.19 0.57 1.64 2. tidak bekerja dan petani/nelayan/buruh.08 1.70 0.61 0.67 0.31 1.36 1.30 0.78 Kelompok umur (tahun) <1 0.07 Petani/Nelayan/ 0. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Karakteristik Responden.74 0.17 0.08 0.57 1.19 1.24 0.01 1-4 0.59 0.12 0.07 0.57 0.16 0.03 Perdesaan 0.69 3.65 0.05 101 .74 3.12 0.12 0.42 2.59 adalah gambaran Filariasis.08 Sekolah 0.12 0.10 0.10 0.12 0.64 0.74 49.14 0. Filariasis klinis lebih tinggi didapati pada responden di perdesaan dan responden yang tidak sekolah.72 46.83 46.85 46.35 DG 1.66 1.20 0.27 0.10 0.13 2.08 43.19 0.09 0.15 0. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Filariasis D DG 0.13 54.75 1.

diagnosis klinis sangat menunjang untuk diagnosis dini terutama pada penderita TB anak. Tuberkulosis (TB). ditanyakan apakah menderita gejala batuk lebih dari dua minggu atau batuk berdahak bercampur darah. dan cenderung tinggi pada responden dengan pendidikan rendah. Prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 25 . namun kini banyak ditemukan pada penderita dewasa. sehingga risiko terkena infeksi relatif lebih besar. Prevalensi malaria klinis di perdesaan dua kali lebih besar dari prevalensi di perkotaan. kelompok pendidikan tinggi. Dalam Riskesdas ini dikumpulkan data ISPA ringan dan pneumonia. Bagi responden yang menyatakan tidak pernah. serta sering mengakibatkan kematian.2 Prevalensi ISPA.2%). Hal ini mungkin berhubungan dengan tingkat kesadaran penderita dalam mengenali penyakit dan mencari pengobatan yang lebih baik di kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita yang lebih tinggi tersebut. DBD klinis relatif lebih tinggi di perdesaan.54 tahun). Temuan yang juga perlu menjadi perhatian adalah DBD klinis relatif lebih banyak ditemukan pada responden dengan tingkat pendidikan rendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD). Prevalensi penyakit ini juga relatif lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. dan bila tidak. Campak merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Walaupun prevalensi malaria klinis pada anak (<15 tahun) relatif lebih rendah dari orang dewasa. Di Indonesia penyakit ini termasuk salah satu prioritas nasional untuk program pengendalian penyakit karena berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi. responden sekolah dan petani/nelayan/buruh.DBD dahulu dikenal hanya sebagai penyakit pada anak-anak. Di Indonesia masih terdapat kantong-kantong penyakit campak sehingga tidak jarang terjadi KLB. Tidak terlihat perbedaan prevalensi DBD pada laki-laki dan perempuan. Pengobatan dengan obat malaria program juga relatif lebih baik (≥50%) di daerah perkotaan.34 tahun (0. Hal ini mungkin disebabkan kelompok tersebut lebih banyak terpapar (exposed) dengan nyamuk malaria. dan relatif tinggi pada kelompok umur produktif (25 . Kepada respoden ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah didiagnosis TB oleh tenaga kesehatan. dan Campak Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering dijumpai dengan manifestasi ringan sampai berat.7%) dan terendah pada bayi (0. Kepada responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis campak oleh tenaga kesehatan. Keadaan ini menunjukkan kewaspadaan dan kepedulian penanganan penyakit malaria pada anak sudah cukup baik di mana >50% malaria klinis mendapat obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit. Pneumonia merupakan penyakit infeksi penyebab kematian utama. 102 . ISPA yang mengenai jaringan paru-paru atau ISPA berat. Kepada responden ditanyakan apakah dalam satu bulan terakhir pernah didiagnosis ISPA/pneumonia oleh tenaga kesehatan. 3. Prevalensi DBD klinis juga cenderung meningkat pada kelompok dengan tingkat pengeluaran rumah tangga (RT) per kapita yang lebih tinggi. Pnemonia. pegawai dan wiraswasta. kelompok petani/nelayan/buruh dan kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah. namun kasus yang terdeteksi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan lebih banyak di perkotaan. dan kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita tinggi. Walaupun diagnosis pasti TB berdasarkan pemeriksaan sputum BTA positif. dapat menjadi pneumonia. Malaria tersebar merata di semua kelompok umur. ditanyakan apakah pernah menderita gejala ISPA dan pneumonia. terutama pada balita. tetapi proporsi pengobatan dengan obat malaria program cenderung lebih baik pada anak dibandingkan orang dewasa.3. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular kronis yang menjadi isu global. prevalensi pada bayi relatif rendah.

90 0.75 0.4%) dengan 16 provinsi di antaranya mempunyai prevalensi di atas angka nasional.28 1.44 0.56 0.22 1.73 29.44 9.89 Campak DG 1.16 0.8% .05 0.20 6.00 0.73 9.87 22.77 1.50 0.73 DG 3.47 30.92 2.63 1.39 26.32 0.56 Pneumonia D 1.25 0.15 0.24 2.47 1.78 6.37 0.65 17.58 0.47 2.01 DG 1.91 0.37 0.98 6.12 0.50 0.12 1.20 0.32 25.19 1.76 0.04 0.64 0.37 0.06 12.08 22.92 0.43 0.73 0.44 0.90 22.43 2.71 0.28 1.81 1.40 0.59 5.36 1.63 2.64 5.19 2. Kasus ISPA pada umumnya terdeteksi berdasarkan gejala penyakit.04 0.53 1.27 0.83 1.14 0.69 1.77 0.62 1.5% .53 0.10 0. kecuali di Sumatera Selatan lebih banyak didiagnosis oleh tenaga kesehatan.78 0.47 0.31 0.1% (rentang: 0.71 0.54 2.02 0.13 D 1.37 0.58 0.02 0.58 0.35 0. serta ruam pada kulit terutama di leher dan dada.38 0.38 0.56 0.84 0.53 1.40 25.68 4.20 0.38 9.43 0.29 0.47 0.99 0.23 0.61 0. TB.75 33.84 18.54 29.20 36.85 2.05 5.48 18.78 1.36 0.29 1.24 1.50 0.09 2.18 103 .75 0.98 5.60 24.41 1.06 27.18 0. dan Campak menurut Provinsi.41.59 1.68 0.36 1.04 5.48 1.65 20.65 0.34 0.58 0.52 28.10 25.11 0.50 2.01 0.33 2. Prevalensi ISPA satu bulan terakhir di Indonesia adalah 25.56 0.98 2.31 0.29 1.98 1.18 0.6%).73 0.81 1.80 0.11 0.55 1.55 28.70 0.20 30.21 0.23 0. Tabel 3.61 1.39 1.08 14.79 3.10 10.86 0. Riskesdas 2007 Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 11.67 2.47 0.59 1.88 1.66 0.80 6.17 2.36 0.78 1.58 0.97 2.10 1.59 5.40 0.95 8.ditanyakan apakah pernah menderita gejala demam tinggi dengan mata merah dan penuh kotoran.87 1.44 1.40 12.23 0.67 4.26 0. Pneumonia.50 1.63 0.64 22.78 22.76 2.72 0.08 1.65 2.39 0.00 1.49 26.38 22.07 2.78 0.45 4.03 1.37 0.74 8.31 0.49 1.50 4.98 8.60 Prevalensi ISPA.24 0.32 0.53 4.22 1.36 22.28 7.06 2.22 0.36 17.54 0.95 2.06 0.41 2.45 0.40 0.29 0.33 0.82 0.77 1.72 0.97 24.36 0.47 0.56 0.98 TB D 0.60 0.69 1.40 5.26 8.31 0.54 10.24 0.13 0.27 1.41 1.52 41.26 0.03 27.54 0.77 0.01 0.13 0.22 6.84 0.43 0.80 30.63 Indonesia 8.42 0.53 1.27 1.34 0.42 0.99 0.5.99 22.88 9.49 0.37 0.39 21.94 7.63 0.52 0.52 20. Prevalensi pneumonia satu bulan terakhir di Indonesia adalah 2.03 1.42 0.52 ISPA DG 36.43 0.38 7.5% (rentang: 17.07 2.60 2.42 0.90 19.

4%). tertinggi di Provinsi Gorontalo (3. Prevalensi campak tertinggi pada anak balita (3. Pada umumnya kasus campak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Sebagian besar (26 provinsi) kasus TB terdeteksi berdasarkan gejala penyakit. Sulawesi Selatan. Maluku Utara. Prevalensi ISPA tertinggi pada balita (>35%).5%) dan terendah di Provinsi Lampung (0. Prevalensi ISPA cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah. Lampung. Karakteristik responden pneumonia serupa dengan karakteristik responden ISPA.Empat belas dari 33 provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional.3%).2%) dan terendah di Provinsi Lampung dan Bali (0. Banten. Prevalensi campak klinis 12 bulan terakhir di Indonesia adalah 1. Sulawesi Tengah. kecuali di Provinsi Bengkulu. Papua Barat. sedangkan terendah pada kelompok umur 15 . Dua belas provinsi di antaranya dengan prevalensi di atas angka nasional. Maluku. kecuali pada kelompok umur ≥55 tahun (>3%) pneumonia lebih tinggi. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan. Pneumonia. Tuberkulosis paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi 12 bulan terakhir adalah 1. tiga kali lebih tinggi di pedesaan dibandingkan perkotaan dan empat kali lebih tinggi pada pendidikan rendah dibandingkan pendidikan tinggi.4%) dan masih cukup tinggi ditemukan pada usia di bawah 15 tahun. Prevalensi cenderung meningkat lagi sesuai dengan meningkatnya umur.2%. Nusa Tenggara Barat. Gorontalo. Sulawesi Tenggara. dan relatif sama menurut tingkat pengeluaran RT per kapita. kecuali di Sumatera Selatan dan Papua. antara lain Nusa Tenggara Timur. dan Papua Barat. Pneumonia klinis terdeteksi relatif lebih tinggi pada laki-laki dan satu setengah kali lebih banyak di perdesaan dibandingkan di perkotaan.0%. DKI Jakarta. Prevalensi TB paru 20% lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. dan Campak menurut karakteristik responden. Prevalensi TB paru cenderung meningkat sesuai bertambahnya umur dan prevalensi tertinggi pada usia lebih dari 65 tahun. Prevalensi campak lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dibandingkan dengan pendidikan tinggi. Empat belas provinsi mempunyai prevalensi lebih tinggi dari angka nasional. dan Papua. Kalimantan Tengah. Provinsi dengan prevalensi ISPA tinggi juga menunjukkan prevalensi pneumonia tinggi. 104 . Tabel 3. tertinggi di Provinsi Papua Barat (2. Nusa Tenggara Timur. Jawa Barat. dan Papua. Nanggroe Aceh Darussalam. Bali. kecuali di Provinsi Sumatera Selatan. Kasus pneumonia pada umumnya terdeteksi berdasarkan diagnosis gejala penyakit. Pneumonia cenderung lebih tinggi pada kelompok yang memiliki pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah.24 tahun. TB.61 adalah gambaran ISPA. Kalimantan Selatan. Prevalensi antara laki-laki dan perempuan relatif sama. Sulawesi Barat. Prevalensi relatif sama pada laki-laki dan perempuan demikian pula di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.

82 0.92 20.83 1.65 0.69 2.01 26.62 0.49 0.7 65-74 8.57 1.74 0.1 35-44 6.60 26.84 Kelompok umur (tahun) <1 14.70 1.56 0.07 1.02 1.42 0.66 0.14 0.27 1.76 0.47 0.17 25.26 0.82 23.07 20.37 Petani/Nelayan/ 6.37 0.84 2.30 30.57 25.76 1.26 0.4 >75 9.73 2.48 25.77 1.56 0.59 0.71 21.64 0.08 1.85 Lainnya 6.81 17.58 0.96 1.20 27.40 0.1 5-14 9.79 Tidak tamat SD 7.26 2.67 Pekerjaan Tidak kerja 6.99 105 .26 2.20 3.98 0.13 2.72 0.50 DG 2.37 0.60 0.43 Pneumonia D 0.9 1-4 16.27 0.61 0.42 1.6 25-34 6.89 1.13 Perdesaan 8.69 0.82 DG 2.40 2.83 1.69 5.21 0.70 0.43 0.69 DG 0.04 0.08 0.17 22.21 Tamat PT 6.60 1.77 Ibu RT 6.2 15-24 5.09 0.18 0.89 19.56 0.80 1.49 23.44 3.40 0.27 0.60 0.27 0.39 0.21 0.84 1.00 0.20 Tamat SMA 6.44 0.36 0.94 0.31 0.62 0.61 0. Riskesdas 2007 Karakteristik responden D ISPA DG 35.04 Tipe daerah Perkotaan 8.51 23.96 21.02 0.81 1.57 22.55 TB D 0.42 1.21 0.11 Kuintil 4 7.35 0.47 0.73 0.50 0.33 1.34 1.53 0.10 1.17 1.73 23.32 1.87 27.33 0.18 0.42 0.61 0.42 0.34 0.67 1.44 0.17 1. dan Campak menurut Karakteristik Responden.60 1.17 1.49 18.33 2.30 26.94 1.0 Jenis Kelamin Laki-laki 8.91 20.09 Kuintil 2 8.10 0.79 0.80 0.70 2.68 24.60 0.45 1.17 1.34 0.38 4.08 2.30 0.63 2.15 0.33 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 8.88 0.81 2.00 Pendidikan Tidak sekolah 7.73 0.Tabel 3.92 42.42 0.62 0.70 0.53 0.45 1.69 0.47 24.86 0.13 0. Pneumonia.12 2.07 22.59 1.01 1.42 0.18 0.26 0.55 0.04 1.61 0.90 0.6 45-54 7.68 0.38 0.84 0.39 0.66 0.39 0.40 0.46 0.67 0.38 0.59 1.27 0.23 0.75 18.47 0.07 1.75 1.51 0.36 1.22 1.91 2. TB.46 1.53 28.24 0.73 0.77 28.41 1.40 0.62 0.29 0.98 Kuintil 5 7.17 0.56 0.92 1.42 3.40 0.43 0.26 25.40 Tamat SD 6.00 Kuintil 3 8.27 0.61 Prevalensi ISPA.55 0.43 4.34 Campak D 1.58 Wiraswasta 6.56 0.46 Tamat SMP 6.35 0.29 0.21 2.06 Perempuan 8.60 0.04 2.42 Pegawai 6.62 2.49 0.21 0.0 55-64 7.99 Sekolah 6.48 0.32 0.53 0.01 0.00 1.67 0.94 0.

Riau. serta kulit dan mata berwarna kuning. ditanya apakah dalam satu bulan tersebut pernah menderita buang air besar >3 kali sehari dengan kotoran lembek/cair.3%). Kalimantan Timur. Papua Barat dan Papua). Sulawesi Tenggara. terendah ditemukan di Provinsi Banten (29. Sulawasi Selatan. Papua Barat. Sulawesi Barat. Banten. kencing warna air teh. Hepatitis. Nusa Tenggara Barat. Kasus hepatitis ini umumnya terdeteksi berdasarkan gejala klinis. Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis hepatitis dalam 12 bulan terakhir. Sulawesi Tengah. lidah kotor dan tidak bisa buang air besar.9%).18. dan Papua.9%). Diare Prevalensi demam tifoid diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosis tifoid oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir. Nusa Tenggara Barat.2%.6% (rentang: 0.1. Jawa Tengah.6% (rentang: 0.4%). tertinggi di Provinsi NAD dan terendah di DI Yogyakarta. Hanya di tujuh provinsi (Banten. Dua belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Sulawesi Utara. Dehidrasi merupakan salah satu komplikasi penyakit diare yang dapat menyebabkan kematian. Kalimantan Selatan. Sumatera Selatan. Kalimantan Selatan. Prevalensi hepatitis diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosis hepatitis oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir. Responden yang menyatakan tidak pernah. kecuali di Provinsi Jawa Timur. nyeri perut sebelah kanan atas.3% . Sumatera Barat. Beberapa provinsi mempunyai prevalensi diare klinis >9% (NAD.2% . Tiga belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Gorontalo.3 Prevalensi Tifoid. Banten. muntah. Jawa Barat. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur. Dua belas provinsi mempunyai proporsi pemberian oralit kurang dari proporsi nasional. ditanyakan apakah dalam kurun waktu tersebut pernah menderita mual. dan Sulawesi Selatan) kasus diare lebih banyak dideteksi berdasarkan gejala klinis.3. Hepatitis klinis terdeteksi di seluruh provinsi di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0. sakit kepala. Prevalensi diare klinis adalah 9. Gorontalo. Nusa Tengara Timur. kasus tifoid sebagian besar terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan.2% . Di 18 provinsi. Sulawesi Tengah. Prevalensi diare diukur dengan menanyakan apakah responden pernah didiagnosis diare oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir. tidak nafsu makan. Responden yang menderita diare ditanya apakah minum oralit atau cairan gula garam. Kasus hepatitis yang dideteksi pada survei Riskesdas adalah semua kasus hepatitis klinis tanpa mempertimbangkan penyebabnya. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Tengah. ditanya apakah satu bulan terakhir pernah menderita gejala tifoid. seperti demam sore/malam hari kurang dari satu minggu. Secara nasional. Jawa Barat. Kalimantan Tengah dan Sulawesi Utara lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. proporsi responden diare klinis yang mendapat oralit adalah 42. Tabel 3. Bengkulu.0% (rentang: 4. Kasus diare di sebagian besar provinsi (75%) terdeteksi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan. yaitu Provinsi NAD.62 menunjukkan bahwa prevalensi tifoid klinis nasional sebesar 1. sedang di provinsi lainnya terutama berdasarkan gejala klinis. Responden yang menyatakan tidak pernah. Kalimantan Selatan. 106 .3.

9 5.1 0.8 30.66 0.9 7.8 DG 18.8 4.1 0.1 43.4 54.5 9.40 0.99 1. terendah pada bayi (0. Diare menurut Provinsi.42 0.3 8.7 44.6 7.4 0.4 16.35 1.48 1.1 44.16 0.6 5.3 10.2 0.67 1.11 Hepatitis D 0.7 5. Prevalensi tifoid ditemukan cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah.5 7.8 5.3 5.36 0. 107 .9 5.62 adalah gambaran Tifoid.5 0.60 0.87 1.2 0.3 0.68 0.7 29. dan Diare menurut karakteristik responden.32 2.4 0.03 1.20 2.4 0.90 1.1 0.3 0.96 0.7 0.0 8.2 47.3 0. Prevalensi tifoid klinis banyak ditemukan pada kelompok umur sekolah (5 .3 0.2 8.9 O 42.5 7.6 4.2 0.35 0.4 35.2 0.7 1.24 0.8 2.6 0.19 1.54 0.80 1.5 Indonesia 0.8 1.4 0.88 0.33 1.5 0.7 56.1 0.87 0.3 36.2 0.6 2.0 49.2 40.8%).5 5.4 12.7 1.1 0.62 Prevalensi Tifoid.7 4.1 0.3 0.2 47.0 10.90 1.6 6.7 51.3 13.8 9.0 43.1 0.8 0.56 0.2 0.80 0.3 Diare D 11.4 0.5 2.3 0.2 3.7 30.4 7.94 0.4 3.1 5.44 2.2 0.9 0.2 0.8 4.1 0.5 4.9 5.2 7.9 0.2 0.7 0.8 10.14 1.8 0.13 2.44 0.79 1.61 0.85 Tifoid DG 2.1 0.2 0.30 0.7 41.2 Tabel 3.2 10.3 0.4 43.91 1.2 0.03 1.3 0.31 0.2 3.0 8.1 0.7 4.1 0.0 29.5 3.95 1.8 45.43 0.4 53.01 0.98 0.Tabel 3.60 0.5 0.60 0.0 42.53 0.3 0.3 0.4 41.0 53.65 1.69 0.14 tahun) yaitu 1.6 5.2 9.96 0.70 0.0 37.1 0.3 0.8 3.6 0.75 1.46 1.9 3. Hepatitis.1 0. Tifoid klinis tersebar di seluruh kelompok umur dan merata pada umur dewasa.0 5.44 0.4 47.2 0.5 7.0 5.39 2.12 0.1 2.9 52. Riskesdas 2007 Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1.1 9.27 2.25 1.1 6.86 1.1 49.53 0.2 0.77 1.3 4.9 8.6 50.9 7.3 0.1 8.7 4.4 9.7 1. Hepatitis.1 48.5 43.8 2.93 2.5 0.3 0.51 1.2 6.2 0.2 4.9 47.1 0.4 0.28 1.06 0.58 0.16 1.4 5.6 0.1 5.9%.8 DG 1.2 0. dan relatif lebih tinggi di wilayah perdesaan dibandingkan perkotaan.9 9.6 39.2 11.2 2.

7 9.9 4.0 41.2 0.5 0.8 38.8 8.5 1.7 55-64 0.1 37.7 11.6 1.7 45-54 0.7 0.9 9.2 1.4 5.8 1.8 41.7 7.2 0.6 0.6 DG 0.9 4.0 9.2 0.0 7.2 0.1 37.9 3.9 Tidak tamat SD 0.8 41.7 Pegawai 0.6 5.0 10.0 1.3 1.2 0.2 1.1 5-14 0.1 5.1 39.1 0.8 55.3 0.9 Kelompok umur (tahun) 0.8 Kuintil -3 0.7 0.3 0.7 >75 Jenis Kelamin 0.6 7.2 0.6 0.8 Perempuan Tipe daerah 0.3 8.1 3.5 0.7 Tamat SMA 0.2 0.3 0.0 Sekolah 0.2 0.2 0. Riskesdas 2007 Karakteristik responden D Tifoid DG 0.7 0.9 4.3 37.2 0.1 1.7 Tidak sekolah 0.8 0.2 7.9 Kuintil -2 0.4 39.7 5.4 0.4 3.7 1.6 0.7 1. Diare menurut Karakteristik Responden.5 3. Hepatitis.7 Tamat PT Pekerjaan 0.8 Kuintil -4 0.9 1.4 1.8 42.8 0.2 0.4 1.7 25-34 0.6 0.5 38.0 40.2 4.2 0.2 0.3 37.6 Ibu RT 0.3 0.4 36.1 0.3 5.6 0.5 1.6 0.4 9.9 0.3 0.2 5.9 O 52.7 35-44 0.7 Wiraswasta 0.8 1.0 0.5 16.6 1.5 1.8 3.3 0.9 0.3 5.3 <1 0.8 1.7 1.8 4.4 8.2 0.2 41.4 4.0 4.9 9.7 0.5 1.7 36.8 1.7 Perkotaan 0.8 0.6 0.4 1.4 0.5 0.0 0.5 42.9 0.4 6.3 36.6 0.4 8.6 1.6 7.8 Kuintil -5 Prevalensi hepatitis klinis paling tinggi terdeteksi pada umur > 55 tahun.9 5.6 41.3 7.8 4.5 4.5 Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita 0.5 39.9 Tidak kerja 1.4 Hepatitis D 0.5 10.0 36.4 10.2 5.6 65-74 0.6 37.8 1.5 43.4 8.3 3.8 Tamat SMP 0.8 Petani/nelayan/buruh 0.8 Kuintil -1 0.1 7.6 8.1 40.7 1.2 0.7 0.9 Tamat SD 0.5 41.9 Laki – laki 0.7 8.9 10.7 42.3 0.8 43.0 38.2 0.9 15-24 0.5 9.6 1.1 4.2 0.6 1.9 0.9 Perdesaan Pendidikan 0.4 1.2 0.Tabel 3.2 0.2 4.1 4.0 37.62 Prevalensi Tifoid.3 5. dan cenderung lebih tinggi pada 108 .2 4.0 8.7 0.7 0.8 1-4 1.5 1.3 0.6 4.2 7.5 1.7 7.2 0.1 1.2 1.5 37.2 Diare D 11.2 0. hampir 2 kali lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan.3 0.0 5.6 DG 16.9 5.

hipertensi. talasemiaa. Cakupan atau jangkauan pelayanan tenaga kesehatan terhadap kasus PTM di masyarakat dihitung dari persentase setiap kasus PTM yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan dibagi dengan persentase masingmasing kasus PTM yang ditemukan.5%. jika hasil pengukuran ke dua berbeda lebih dari 10 mmHg dibanding pengukuran pertama. baik berdasarkan diagnosis maupun gejala (D dibagi DG). Setiap responden diukur tensinya minimal 2 kali. Data hipertensi didapat dengan metode wawancara dan pengukuran. ditetapkan menggunakan alat pengukur tensimeter digital. dan untuk jenis PTM lainnya kurun waktu riwayat PTM adalah selama hidupnya. hipertensi dan stroke ditanyakan kepada responden umur 15 tahun ke atas. Penyakit Sendi. angina. Hipertensi berdasarkan hasil pengukuran/pemeriksaan tekanan darah/tensi. yaitu hasil pengukuran tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. riwayat pernah mengalami gejala penyakit jantung dinilai dari 5 pertanyaan dan disimpulkan menjadi 4 gejala yang mengarah ke penyakit jantung. stroke dan asma ditanyakan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. buta warna. dermatitis.1 Penyakit Tidak Menular Utama.8% dan 55. Responden dikatakan memiliki gejala jantung jika pernah mengalami salah satu dari 4 gejala termaksud.7%). Dua data pengukuran dengan selisih terkecil dihitung reratanya sebagai hasil ukur tensi. cenderung lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah. DM. Pengukuran tensi dilakukan pada responden umur 15 tahun ke atas. 3.4. proporsi yang mendapat oralit pada ke dua kelompok umur tersebut berturut-turut 52. Untuk kasus penyakit jantung. bibir sumbing. Kriteria hipertensi yang digunakan pada penetapan kasus merujuk pada kriteria diagnosis JNC VII 2003. Prevalensi PTM adalah gabungan kasus PTM yang pernah didiagnosis tenaga kesehatan dan kasus yang mempunyai riwayat gejala PTM (dinotasikan sebagai DG pada tabel). Penyakit sendi. Prevalensi hepatitis klinis merata di semua tingkat pengeluaran RT per kapita. dan hemofilia dianalisis berdasarkan jawaban responden “pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan” (notasi D pada tabel) atau “mempunyai gejala klinis PTM”. maka dilakukan pengukuran ke tiga. Mengingat pengukuran tekanan darah dilakukan pada penduduk 15 tahun ke atas maka temuan kasus hipertensi pada usia 15-17 tahun sesuai kriteria JNC VII 2003 akan dilaporkan secara garis besar sebagai tambahan informasi. tumor/kanker. Kriteria JNC VII 2003 hanya berlaku untuk usia 18 tahun keatas. yaitu penyakit jantung kongenital. aritmia. 109 . Prevalensi diare 13% lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan. stroke.4 Penyakit Tidak Menular 3. dan dekompensasi kordis. dan Penyakit Keturunan Data penyakit tidak menular (PTM) yang disajikan meliputi penyakit sendi. Riwayat penyakit sendi. gangguan jiwa berat.pendidikan rendah. Tensimeter digital divalidasi dengan menggunakan standar baku pengukuran tekanan darah (sfigmomanometer air raksa manual). asma. glaukoma. rinitis. sedangkan PTM lainnya ditanyakan kepada semua responden. jantung. hipertensi. Prevalensi diare yang tinggi pada bayi dan anak balita tidak selalu diberi oralit. Diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada balita (16. maka prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tensi dihitung hanya pada penduduk umur 18 tahun ke atas.

9 7.0 12.8 29.0 8.1 5.0 26.1 5.9 19.4 22.6 14.7 7.4 8.1 14.5 25.3 7.2 10.5 6.1 29.0 31.3 8.3 17.1 32.2 20.1 4.4 8.7 20.6 9.7 (%) D/G 34.6 7.1 4.7 6.6 33.1 8.1 14.6 31.6 7.2 33.4 8.1 7.8 Indonesia 14.8 37.8 4.3 28.4 7.6 8.2 29.7 6.3 5.5 6.1 9.5 4.8 23.8 19.1 35.9 31.4 9.9 5.5 7.2 34.4 D/O 10.8 12.9 4.8 10.3 31.4 5.8 7.2 7.4 15.1 5.4 17.1 6.4 9.8 5.6 5.9 32. Hipertensi.7 5.4 6.0 5.7 9.0 11.7 12.4 37.6 5.3 7.1 11.7 4.9 8.0 6.6 9.5 8.7 7.3 9.9 38.0 4.4 7.8 7.7 9.2 11.0 5.6 29.1 7.7 25.1 37.4 10. Riskesdas 2007 Penyakit Sendi Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 23.6 19.5 8.2 5.3 11.0 8.0 7.6 26.0 14.1 9.4 7.1 30.6 8.4 7.5 6.8 5.6 7.3 13.5 5.7 11.3 7.6 8.9 3.4 5.8 9.2 2.6 31.2 5.4 10.4 U 30.5 6.5 9.8 23.63 Prevalensi Penyakit Persendian.9 7.8 29.0 10.0 6.3 6. dan Stroke menurut Provinsi.1 24.6 39.8 8.6 6.6 38.0 D/G 16.9 3.2 7.0 29.7 36.1 Hipertensi (%) D 9.9 5.0 6.8 33.0 8.9 5.5 4.4 20.7 6.0 30.3 28.6 29.6 29.0 9.9 8.3 4.1 4.8 5.3 Catatan : D = Diagnosa oleh Tenaga Kesehatan D/G = Didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala D/O = Kasus minum obat atau didiagnosis oleh tenaga kesehatan U = Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah *) Penyakit Hipertensi dinilai pada penduduk berumur >=18 tahun 110 .Tabel 3.6 15.4 28.3 Stroke (‰) D 10.1 6.2 9.2 26.6 23.6 11.3 8.7 5.0 12.8 11.7 9.3 6.4 8.5 29.0 30.3 31.3 10.2 36.4 27.9 12.6 31.0 28.0 9.2 4.1 22.6 5.8 9.3 9.5 6.2 7.4 5.8 27.5 5.0 35.2 6.5 33.9 29.5 15.2 30.9 30.9 4.2 5.9 28.4 7.0 27.0 10.3 41.4 8.7 28.6 6.2 12.7 26.1 24.9 26.2 7.5 3.0 3.1 13.3 8.3 7.3 19.8 27.6 5.0 8.7 2.5 12.

prevalensi penyakit sendi. Sedangkan prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 7. dan gabungan kasus hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dengan kasus hipertensi berdasarkan riwayat minum obat hipertensi diberi istilah diagnosis/minum obat dengan inisial DO. prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan (39. prevalensi penyakit sendi pada Petani/Buruh/Nelayan ditemukan lebih tinggi daripada kelompok pekerjaan lainnya. Berdasarkan pekerjaan responden. Sedangkan untuk hipertensi dan stroke. Prevalensi penyakit sendi secara nasional (Tabel 3. Kalimantan Tengah. Prevalensi stroke di Indonesia ditemukan sebesar 8. 111 .7%.6%) dan terendah di Papua Barat (20.4%) responden umur 15-17 tahun yang telah mengalami hipertensi. prevalensi ditemukan lebih tinggi pada kelompok tidak bekerja. hipertensi. Provinsi Jawa Timur. responden juga diwawancarai tentang riwayat didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau riwayat meminum obat anti-hipertensi. Riau.8‰). dan yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 6 per 1000 penduduk. Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah.64 juga dapat dilihat bahwa prevalensi penyakit sendi. Sedangkan pola prevalensi stroke menurut jenis kelamin tidak tampak perbedaan yang mencolok. Apabila kriteria hipertensi sesuai JNC VII 2003 juga diterapkan untuk penduduk 15-17 tahun. prevalensi penyakit sendi tertinggi dijumpai di Provinsi Papua Barat (28.0% kasus hipertensi dalam masyarakat belum terdiagnosis. Sulawesi Barat.0%. namun meningkat kembali pada kelompok pendidikan tamat PT. prevalensi penyakit sendi cenderung lebih tinggi pada perempuan.63) sebesar 30.Selain pengukuran tekanan darah. Dengan demikian cakupan diagnosis hipertensi oleh tenaga kesehatan hanya mencapai 24.3 per 1000 penduduk.3% dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 14%.5%). Menurut provinsi. Terdapat 13 provinsi dengan prevalensi stroke lebih tinggi dari angka nasional. hipertensi maupun stroke tampak meningkat sesuai peningkatan umur responden. atau dengan kata lain sebanyak 76. demikian pula prevalensi hipertensi. Prevalensi stroke tertinggi dijumpai di NAD (16. kasus hipertensi berdasarkan hasil pengukuran diberi inisial U.3% kasus stroke di masyarakat telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan. Bangka Belitung. Cakupan diagnosis penyakit sendi oleh tenaga kesehatan di setiap provinsi umumnya sekitar 50% dari seluruh kasus yang ditemukan.6‰) dan terendah di Papua (3. Terdapat 11 provinsi dengan prevalensi penyakit sendi lebih tinggi dari angka nasional.4%). Menurut jenis kelamin. prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31. Jawa Tengah.1%). Hal ini menunjukkan sekitar 72. Sulawesi Tengah.6% (kasus yang minum obat hipertensi hanya 0. baik pola prevalensi penyakit sendi maupun hipertensi dan stroke tampak tidak ada perbedaan yang mencolok. dan stroke cenderung tinggi pada tingkat pendidikan rendah dan menurun sesuai dengan peningkatan tingkat pendidikan. dan Nusa Tengah Tenggara Barat. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. kasus hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan diberi inisial D.8%) dan terendah di Sulawesi Barat (7. Menurut karakteristik responden. maka terdapat 4050 (8. Dalam penulisan tabel. ditambah kasus yang minum obat hipertensi prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara ini adalah 7. Menurut provinsi. merupakan provinsi yang mempunyai prevalensi hipertensi lebih tinggi dari angka nasional. DI Yogyakarta. Pada Tabel 3. namun ada kecenderungan peningkatan prevalensi sesuai dengan peningkatkan tingkat pengeluaran rumah tangga.2%.

6 9.7 11.0 6.2 5.9 17.1 0.9 39.1 9.2 18.1 14.8 25. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur 18-24 Tahun 25-34 Tahun 35-44 Tahun 45-54 Tahun 55-64 Tahun 65-74 Tahun 75+ Tahun Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuinti 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 11.3 0.6 18.8 29.8 31.7 11.6 1.0 7.8 8.9 23.0 14.0 2.3 4.9 3.6 8.9 8.8 12.7 7.2 32.5 6.2 13.8 7.0 15.1 4.3 2.2 31.8 33.3 1.0 6.3 23.9 27.5 8.1 15.4 31.8 32.0 12.7 14.9 33.0 29.8 33.3 7. dapat pula dilakukan analisis sampai ke tingkat 112 .0 8.4 8.8 4.9 2.9 41.9 28.4 20.9 5.8 13.1 6.8 9.7 6. dan Stroke menurut Karakteristik Responden.9 8.0 7.2 31.8 46.1 7.1 1.2 5.2 6.9 65.9 4.7 63.7 Penyakit Sendi (%) D D/G Hipertensi (%) D D/0 U Stroke (‰) D D/G Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita Untuk penyakit tidak menular.1 25.4 0.4 6.7 3.8 17.4 14.5 35.5 4.4 16.1 1.6 6.7 1.8 8.6 7.3 56.2 32.1 37.6 32.2 30.4 53.3 7.5 6.5 67.9 2.9 7.6 53.0 9.3 20.1 6.7 8.6 7.4 5.0 6.2 22.5 11.9 31.2 7.3 8.1 5.1 7.7 20.1 29.9 8.0 7.1 24.7 2.5 11.3 30.5 15.3 6.3 6.5 25.9 33.6 2.8 33.9 8.9 8.5 22.7 44.4 11.5 4.6 6.4 30. Hipertensi.1 22.9 6.9 42.3 5.7 15.1 5.5 5.9 15.3 31.5 31.6 8.7 19.5 5.5 30.7 9.9 19.9 6.3 8.3 16.3 0.8 4.2 19.7 7.7 12.6 31.2 5.5 9.1 13.5 17.1 5.2 28.4 7.0 8.6 7.7 14.9 10.0 29.7 13.7 7.0 31.5 0.3 11.Tabel 3.0 32.1 28.6 6.4 6.3 7.0 18.7 30.2 9.6 28.1 14.6 13.4 4.4 62.3 0.6 4.7 9.64 Prevalensi Penyakit Persendian.7 7.7 13.8 7.1 11.2 12.6 7.2 4.

38 11. diabetes.45 13.65 menunjukkan prevalensi asma. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis DM oleh tenaga kesehatan mencapai 63. sepuluh kabupaten/kota terbaik dan terburuk adalah sebagai berikut: Terbaik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jayawijaya Teluk Wondama Bengkulu Selatan Kepulauan Mentawai Tolikara Yahukimo Pegunungan Bintang Seluma Sarmi Tulang Bawang 6. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia sebesar 7. sementara berdasarkan riwayat didiagnosis tenaga kesehatan hanya ditemukan sebesar 0.74 46. 113 .56 49.6% di DKI Jakarta. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis asma oleh tenaga kesehatan sebesar 54.94 14.5% di Indonesia dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 1.96 45. lebih tinggi dibandingkan cakupan penyakit asma maupun penyakit jantung.64 13.29 46. Terdapat 17 provinsi dengan prevalensi asma lebih tinggi dari angka nasional. Dalam hal ini harus dipilih indikator kesehatan yang prevalensinya cukup besar.5% dari semua responden yang mempunyai gejala subjektif menyerupai gejala penyakit jantung. berkisar antara 0.58 15.11 12.55 49.7% sedangkan prevalensi DM (D/G) sebesar 1.09 45. Menurut provinsi.2% di Gorontalo.3‰.29 50. Setelah ditentukan urutan (ranking) dari yang paling sedikit sampai yang paling banyak kasus hipertensi untuk usia ≥ 18 tahun. yaitu dengan membuat urutan (ranking) dari yang terbaik sampai yang terburuk. Prevalensi menurut provinsi. Prevalensi penyakit DM di Indonesia berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 0.6% di NAD. Sebagai contoh bisa dipilih penyakit hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah. berkisar antara 2.2% berdasarkan wawancara. dan tumor menurut provinsi.23 47. Prevalensi penyakit tumor berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia sebesar 4.4% di Lampung hingga 2.86 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Terburuk Natuna Mamasa Katingan Wonogiri Hulu Sungai Selatan Rokan Hilir Kuantan Singingi Bener Meriah Tapin Kota Salatiga 53.5‰ di Maluku hingga 9. Prevalensi penyakit jantung menurut provinsi. berkisar antara 1.9%.3% (D dibagi DG).19 Tabel 3. Terdapat 16 provinsi dengan prevalensi penyakit jantung lebih tinggi dari angka nasional. Terdapat 11 provinsi yang mempunyai prevalensi tumor lebih tinggi dari angka nasional.6%. Terdapat 17 provinsi yang mempunyai prevalensi DM lebih tinggi dari angka nasional. jantung.5% di Provinsi Lampung hingga 7.9%.48 48.kabupaten/kota. Cakupan kasus jantung yang sudah didiagnosis oleh tenaga kesehatan sebesar 12. prevalensi asma berkisar antara 1. Penyakit asma ditemukan sebesar 3.00 11. Prevalensi DM menurut provinsi.76 9.6‰ di DI Yogyakarta.56 14.6% di Lampung sampai 12.1%.

0 3.3 2.4 0.3 2.3 1.8 0.3 7.4 0.5 0.6 0.7 1. Riskesdas 2007 Asma Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 3. jantung.3 0.2 7.5 1.8 0.3 0.6 DM (%) D 1.0 5.8 0.7 2.5 4.3 1.7 0.9 0.5 8.4 1.0 11.5 0.9 5.4 5.1 4.2 1.7 4.8 1.2 2.1 4.4 0.7 0.7 0.6 0.6 5.9 6.7 5.5 3.2 1. dan tumor menurut karakteritik responden.1 1.8 0.2 0.7 0.8 3.6 0.2 11.7 5.8 4.66 menunjukkan prevalensi penyakit asma.0 0.4 1.3 2.6 2.2 2.6 1.5 3.3 Catatan: D=Diagnosa oleh tenaga kesehatan.5 1.3 1.8 3.4 0.1 8.8 1.3 1.9 7.9 0.5 4.4 1.Tabel 3. jantung.4 8.8 1.7 3.4 7.6 0.4 6.4 1.7 4.9 3.1 2.0 2.6 0.7 D/G 12.6 5.5 2.5 1.8 0.8 0.0 0.5 Tumor (‰) D/G 1.4 1.7 5.7 6.1 2.7 4.4 6.4 3.5 0.4 Jantung (%) D/G 4.6 1.8 1.9 5.8 7.6 0.4 6.3 1.8 1.2 1.8 0.5 0.1 2.6 3.9 3.5 0.2 0.6 1.4 8.3 0.0 0.0 7.0 0.4 3.8 2.8 9.3 3.8 1.3 D 2.7 0. DM.2 0.3 2.8 2. Jantung*.7 0.8 1.5 0.6 0.1 4.5 0. 114 . Diabetes* Dan Tumor** menurut Provinsi.8 3.7 0.8 3.4 4.8 0.0 1. diabetes ditetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita penyakit atau mengalami gejala **) Penyakit tumor ditetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita tumor/kanker Tabel 3.6 2.5 0.7 8.8 0.9 1.6 1.8 1.2 2.8 5.8 1.8 5.9 4.8 2.4 4.0 3.7 0.8 8.7 2.6 3.9 2.3 7.0 1.0 3.6 0.9 1.1 1.6 1. D/G = Diagnosa oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala *) Penyakit Asma.6 4.3 1.8 0.9 2.5 2.8 4.8 1.6 2.3 2.0 1.2 4.65 Prevalensi Penyakit Asma*.7 3.7 0.1 9.8 1.1 2.6 3.6 0.3 2.3 1.0 0.3 5.0 4.8 0.3 1.6 0.5 1.7 1.5 1.3 0.3 0.6 3.0 2.6 1.5 0.3 0.6 7.5 4.8 0.6 0.5 0.9 1.8 (%) D 2.1 2.4 3.5 0.4 0.0 1.6 11.4 8.7 0.7 0.1 3.1 1.9 1.9 2.0 1.9 3.6 3.3 0.1 0.4 2.2 8.4 Indonesia 1.3 3.

8 4.8 1.1 Tempat tinggal Kota 1.8 2.7 0.6 1.9 3.8 2.9 0.2 0.0 0.1 1.7 0.9 3.4 2.9 3.2 0.3 2.4 2.4 10.0 1.7 Kuintil-3 1.8 6.2 0.9 1.9 9.4 1.2 8.0 4.4 Sekolah 1.5 Perempuan 1.7 6.2 1.2 4.5 5.0 0.4 0.1 4.6 1.0 8.2 8.1 1.8 Tamat SMP 1.7 8.2 6.8 3.6 3.3 1.3 0.7 0.4 Kuintil-5 1.6 1.9 10.2 4.7 Tamat SMA 1.3 1.2 1 1.1 Ada kecenderungan prevalensi penyakit asma.6 2.0 3.4 2.7 1.6 1.2 20.5 2.0 0.5 8.8 Desa 2.4 2.2 0.0 1.2 1.1 11.7 6.4 6.1 3.0 Tamat SD 2.7 4.1 1. Dan Tumor menurut Karakteristik Responden.9 2.5 1.9 Kuintil-2 1.9 3.4 0.1 1.7 2. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur (tahun) <1 1-4 5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Asma (%) D D/G 0.1 6.7 3.1 7.5 Kuintil-4 1.7 1.2 0.3 Diabetes (%) D D/G Tumor (‰) D 0.1 Lainnya 2.4 1.0 0.8 3.1 1.9 1.0 Ibu RT 2.6 0.8 6.2 1.7 1.9 0.6 5.8 7.0 Pegawai 1.8 7.5 0.0 1.5 1.0 2.4 8.2 2.4 2.2 3.8 1.5 0.3 3.7 3.6 1.8 5.3 0.8 0.4 3.8 3.2 7.2 1.4 1. jantung.3 2.5 3.3 1.2 1.8 1.2 2.8 0.5 1.3 0.7 3.2 1.5 1.5 3.3 7. Diabetes Mellitus.0 2.8 1.7 Jenis kelamin Laki-Laki 1.8 0.9 6.9 1.3 0.2 1.1 8.0 3.1 2.0 3.5 4.1 19. Jantung.8 6.7 0.7 2.6 6. namun untuk DM prevalensi cenderung menurun kembali 115 .3 12.4 12.5 16.8 5.1 10.1 1.5 Pendidikan Tidak Sekolah 4.4 1.5 2.4 4.2 1.4 Jantung (%) D D/G 0.8 0.9 5.8 1.3 Pekerjaan Tidak Kerja 2.1 0.7 5.0 8.5 1. DM dan tumor meningkat dengan bertambahnya umur.4 0.8 2.1 4.0 1.7 1.0 2.8 8.6 0.9 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perkapita Kuintil-1 2.3 6.2 0.66 Prevalensi Penyakit Asma.4 6.4 5.3 10.2 7.3 Wiraswasta 1.3 1.2 7.2 7.0 2.5 10.2 2.5 0.1 14.1 4.7 5.8 9.Tabel 3.1 0.7 3.3 1.4 5.3 Tidak Tamat SD 2.9 5.2 Tamat PT 1.2 Petani/Nelayan/Buruh 2.

Gorontalo (3. menempati urutan sesudahnya.6‰).3‰).0‰). Jawa Barat (36.9‰). jantung. Untuk Talasemia.1‰).0‰). dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0.8‰).1‰).6‰ dan tertinggi di Provinsi DKI Jakarta (18. Prevalensi rinitis di Indonesia sebesar 24. Tabel 3. yaitu sebesar 13.7‰). DKI Jakarta (99. DM. Prevalensi terendah terdapat di Riau (0. Prevalensi penyakit tumor tertinggi pada kelompok ibu rumah tangga.7‰). Riau (9. Prevalensi penyakit asma dan jantung lebih tinggi di daerah perdesaan.9‰). sedangkan DM dan tumor lebih tinggi di daerah perkotaan. Provinsi DKI Jakarta ternyata menduduki peringkat teratas untuk prevalensi bibir sumbing.0‰). Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Lampung.9‰). Sumatera Barat (11. Sumatera Barat (16. Prevalensi glaukoma di Indonesia sebesar 4. dan Sulawesi Barat masingmasing sebesar 0. Kalimantan Barat. antara lain Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (13. Nanggroe Aceh Darussalam (7. sedangkan provinsi lain seperti Sumatera Selatan (10.8‰). Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Jambi.2‰). Nusa Tenggara Timur (99. Menurut jenis pekerjaan utama. Prevalensi terendah terdapat di Sumatera Utara(1. Prevalensi buta warna di Indonesia sebesar 7.4‰). Nusa Tenggara Barat (8. Sulawesi Tengah (38.4‰). Prevalensi DM paling banyak terdapat pada kelompok pegawai. DM. Kep.3‰.3‰) yang kemudian secara berturut turut diikuti oleh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (18. Sumatera Barat (19. tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan (113. dan tumor terendah pada kelompok responden yang masih sekolah.2‰).9‰ jauh di atas angka nasional (2.9‰).6‰). Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat (25. tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (24.setelah umur 64 tahun.Tampak bahwa prevalensi penyakit asma meningkat dengan menurunnya tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.9‰).4‰.6‰. diikuti kelompok petani/nelayan/buruh dan tidak bekerja.7‰).4‰).5‰).4‰.1‰. sebaliknya prevalensi penyakit jantung. DKI Jakara (12. dan tumor meningkat dengan meningkatnya tingkat pengeluaran. Prevalensi penyakit asma.8‰).7‰).5‰). Prevalensi dermatitis di Indonesia cukup tinggi (67. Riau (21. 116 . Kalimantan Barat. Riau (3.8‰).9‰). terdapat 8 provinsi dengan prevalensi lebih tinggi dari prevalensi nasional.8‰) dan berturut-turut disusul DI Yogyakarta (40. tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (49. Sumatera Selatan (5. Nanggroe Aceh Darussalam (98.6‰).1‰). Sumatera Selatan (9.2‰). prevalensi penyakit asma tertinggi terdapat pada kelompok tidak bekerja. Sulawesi Tengah (12.Riau (12. Nanggroe Aceh Darussalam (15.3‰) yang diikuti berturut-turut oleh Provinsi Kep. Menurut tingkat pendidikan.5‰). disusul kelompok petani/nelayan/buruh. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (20. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Sumatera Utara (5.5‰). DKI Jakarta (37.4‰). Gorontalo (15. Prevalensi terendah terdapat di Maluku (0.6‰). prevalensi asma dan jantung paling tinggi pada kelompok tidak sekolah sedangkan prevalensi DM dan tumor paling tinggi terdapat pada kelompok tamat perguruan tinggi. diikuti Sulawesi Tengah (105. berturut-turut diikuti Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (12.4‰).67 memperlihatkan bahwa prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia adalah sebesar 4. Nusa Tenggara Barat (9. Prevalensi penyakit jantung paling tinggi ditemukan pada kelompok ibu rumah tangga. Prevalensi asma dan DM tidak berbeda menurut jenis kelamin. Kep.9‰). sedangkan prevalensi penyakit jantung dan tumor dijumpai lebih tinggi pada perempuan. Kep.

9 1.4 22.8 1.5 Hemofili 5.4 0.7 0.2 6.3 3.0 64.9 0.6 12.2 105.5‰).0 17.2 22.8 0.6 5.5 1.4 5.5 2.8 12.1 0. Dermatitis.4 0.8 3.4 0.0 13.3 84.2 62. atau hemofilia Jiwa 18. Riskesdas 2007 Provinsi DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Catatan: *) Penyakit keturunan ditetapkan menurut jawaban pernah mengalami salah satu dari riwayat penyakit gangguan jiwa berat (skizofrenia).1 2.3 15.0‰).0 27.2 0.0 24.4 1.9 4.Tabel 3.7 2.5 0.1 2.8 0. Hemofili (Permil) Menurut Provinsi.2 3.3 3.5 3.2 0.6 0. buta warna.4 0.8 2.3 0.7 1.5 37.9 13.8 1.8 13.6 1.4 4.8 26.9 3.3 0.4 21.4 90.9 20.3 Talasemi 13.3 Demikian juga prevalensi Hemofilia masih terlihat tinggi.7 6.6 39.5 73.9 9.3 0.0 12.6 0.9‰).2 1.6 4.8 40.3 2.1 5. Rhinitis.9 15.1 1.2 0.1 0.4 10.9 30.2 1.0 2.1 1.3 2.6 2.5 19.5 1.0 9.0 62.7 26.6 18.8 3.4 Dermatitis 98.2 1.1 99.9 1.8 6.0 32.5 113.4 10.6 Buta warna 15.9 6.4 0.5 2. glaukoma.1 48.2 2.4 0. Glaukoma.9 1. terutama di Provinsi DKI Jakarta (24.3‰).4 0.2 2.1 0.4 0.6 7. bibir sumbing.4 0.5 0.5 0.7 26.1 0.5 0. Buta Warna.9 1.3 2.9 9.8 0.2 18.3 92.6 4. Sumbing.1 1.5 67. Talasemi.1 0.8 49.5 0.8 35.5 0.8 21.1 2.8 0.5 0.2 2.6 11.6 11.5 0.5 0.9 34.4 1.1 0.6 0.2 25.0 3. Sumatera Barat (19.5 99.3 0.2 1.5 0.6 1.9 8. Kep.8 6.0 21.8 Rhinitis 49. dermatitis.4 2.7 1.7 12.5 0.6 6.2 0.8 5.1 23.6 0.6 0.9 8.4 47.6 S umbing 7.3 0.5 0.0 40.1 0.8 0.8 0.8 0.6 53.0 1.6 0.4 3.0 1.4 20.9 39.9 0.9 1.2 29.8 3.4 0.1 0.7 79.2 11.9 92.9 32.5 73.9 2.9 14.6 1. Riau (21.8 5.4 2.4 0.2 6.4 1.0 0.9 1.5 10.4 16.3 1.5 9.4 Glaukoma 12.5 24.7 7.4 11.7 38.1 2.9 6.6 0.4 1.9 7.7 0.4 0.5 43.2 1. Gorontalo (15.3 4.4 9.5 1.3 7. talasemia.4 8.3 0.7 6.6 0.3 5.1 94.6 3.8 8.3 2.1 0.5 4.1 0. rinitis.3 34.5 1. dan 117 .5 3.4 2.0 0.3 0.8 1.8 53.2 26.4 1.3 67.3 5.3 58.8 38.8 2.4 7.2 27.5 4.7 36.4 0.2 1.1 5.5 3.9 6.5 27.4 8.7 0.4 0.4 13.0 5.8 89.2 3.8 0.67 Prevalensi Penyakit Keturunan*:Gangguan Jiwa Berat.0 3.

Lima dari 8 penyakit keturunan yang ditanyakan. Riau (5. pertanyaaan mengenai kesehatan mental terdapat di dalam kuesioner individu F01 –F20. serta pada kelompok tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita terendah (pada Kuintil 1: 12. SKRT 1995 juga menggunakan SRQ sebagai alat ukur. Berdasarkan umur. bibir sumbing.6%). Kesehatan mental dinilai dengan Self Reporting Questionnaire (SRQ) yang terdiri dari 20 butir pertanyaan. SRQ memiliki keterbatasan karena hanya mengungkap status emosional individu sesaat (± 2 minggu) dan tidak dirancang untuk diagnostik gangguan jiwa secara spesifik.Nanggroe Aceh Darussalam (15.0%) dan yang terendah terdapat di Provinsi Kep. Dalam Riskesdas 2007 pertanyaan dibacakan petugas wawancara kepada seluruh responden.5‰).2 Gangguan Mental Emosional Di dalam kuesioner Riskesdas. Prevalensi terendah di Provinsi Sumatera Utara (1.6%. dan hemofilia 3. Pertanyaan-pertanyaan SRQ diberikan kepada anggota rumah tangga (ART) yang berusia ≥ 15 tahun. 118 . Gangguan mental emosional merupakan suatu keadaan yang mengindikasikan individu mengalami suatu perubahan emosional yang dapat berkembang menjadi keadaan patologis apabila terus berlanjut. Nilai batas pisah tersebut sesuai penelitian uji validitas yang pernah dilakukan (Hartono. Tabel 3. glaukoma. tinggal di perdesaan (12.2‰).68 di bawah ini menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berumur ≥ 15 tahun. buta warna. yaitu 21. 1995). Nilai batas pisah yang ditetapkan pada survei ini adalah 6 yang berarti apabila responden menjawab minimal 6 atau lebih jawaban “ya”. Tabel 3.3%).1%). prevalensi tertinggi terdapat di DKI Jakarta yaitu gangguan jiwa berat. menunjukkan 140 dari 1000 Anggota Rumah Tangga yang berusia ≥ 15 tahun mengalami gangguan mental emosional. Badan Litbangkes.1%). tertinggi pada kelompok umur 75 tahun ke atas (33. Prevalensi ini bervariasi antar provinsi dengan kisaran antara 5. kelompok yang memiliki pendidikan rendah (paling tinggi pada kelompok tidak sekolah. Ke-20 butir pertanyaan ini mempunyai pilihan jawaban “ya” dan “tidak”. Dari tabel ini dapat dilihat bahwa prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun adalah 11.0%). kelompok yang tidak bekerja (19.4.1% sampai dengan 20. maka responden tersebut diindikasikan mengalami gangguan mental emosional.0% Prevalensi tertinggi di Provinsi Jawa Barat (20.7%).6%). Hasil SKRT yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes tahun 1995. Individu dinyatakan mengalami gangguan mental emosional apabila menjawab minimal 6 jawaban “Ya” kuesioner SRQ.69 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional meningkat sejalan dengan pertambahan usia. Kelompok yang rentan mengalami gangguan mental emosional adalah kelompok dengan jenis kelamin perempuan (14.

8 10.0 9.3 6.1 14.6 12.2 9.1 6.5 8.9 13.0 16.8 14.7 Kabupaten/kota DI Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irian Jaya Barat Papua Indonesia *Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6 11.2 16.5 9.3 10.5 7.5 5.0 12.9 13.8 12.68 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Provinsi Gangguan mental emosional 14.1 6.4 7.9 9.3 6.Tabel 3.3 11.8 14.7 7.7 11.0 13.9 11.7 10.5 7.6 119 .1 20.

2 Petani/nelayan/buruh 11.6 Tidak kerja 8.4 Kota 12.0 Laki-laki 14.9 35-44 12.1 Kuintil 4 10.0 25-34 9.7 15-24 9.4 Kuintil 2 11.0 Sekolah 13.0 Lainnya Tempat tinggal 10.1 Kuintil 5 *Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6 120 .8 Tidak tamat SD 12.0 Tamat SD 9.0 Perempuan Pendidikan 21.7 Tamat PT Pekerjaan 19.3 Desa Tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita 12.9 Kuintil1 12.5 Tamat SMA 6.9 55-64 23.4 Ibu RT 6.0 Tamat SD 7.7 Tidak sekolah 15.7 75+ Jenis kelamin 9.3 Pegawai 9.Tabel 3.0 45-54 15.2 65-74 33.2 Wiraswasta 11.69 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Karakteristik Responden Karakteristik Responden Gangguan Mental Emosional Kelompok umur (tahun) 8.8 Kuintil 3 11.

riwayat katarak.4.6% (di Provinsi Sulawesi Selatan).3. Secara keseluruhan.70 menunjukkan bahwa proporsi low vision di Indonesia adalah sebesar 4. makin rendah tingkat pendidikan makin tinggi proporsinya. mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding angka nasional. dan pemeriksaan segmen anterior mata menggunakan pen-light. Sementara itu proporsi terbesar juga berada pada kelompok penduduk yang tidak bekerja.8%).4%). dengan kisaran 1. Keterbatasan pada pengumpulan data katarak adalah kemampuan pengumpul data (surveyor) yang bervariasi dalam menilai lensa mata menggunakan alat bantu pen-light. tetapi dilakukan pemeriksaan visus tanpa pin-hole.71 menunjukkan bahwa proporsi low vision makin meningkat sesuai pertambahan umur dan meningkat tajam pada kisaran umur 45 tahun ke atas. Proporsi low vision dan kebutaan pada perempuan cenderung lebih tinggi dibanding laki-laki. sehingga pemakaian lensa intra-okular pada responden yang mengaku telah menjalani operasi katarak tidak dapat dikonfirmasi. Proporsi kebutaan tertinggi di Sulawesi Selatan diikuti oleh Provinsi NTT (1. Sedangkan proporsi penduduk yang mengaku memiliki gejala utama katarak (penglihatan berkabut dan silau) ditambah dengan yang pernah didiagnosis dalam 12 bulan terakhir secara nasional sebesar 17. Terdapat 11 provinsi dengan proporsi lebih tinggi dibanding angka nasional.72 memperlihatkan bahwa proporsi penduduk usia 30 tahun ke atas yang pernah didiagnosis katarak sebesar 1.9% dengan kisaran antara 0.2% di DI Yogyakarta hingga 28.7% (di Provinsi Papua) hingga 10.1% di Provinsi NTT. operasi katarak.1% di Provinsi Sulawesi Barat hingga 3. dua kali lipat lebih dibanding kelompok umur 35-44 tahun.7% di Provinsi NAD. dan jika visus lebih kecil dari 20/20 dilanjutkan dengan pin-hole. sehingga proporsi tersebut mungkin tidak mewakili keadaan wilayah provinsi terkait secara keseluruhan. tetapi tidak pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan.8%. diikuti kelompok petani/nelayan/buruh. Proporsi kebutaan tingkat nasional adalah sebesar 0. Keterbatasan pengumpulan data visus adalah tidak dilakukannya koreksi visus.3%.8% dengan kisaran antara 1. diikuti peningkatan proporsi kebutaan.73 adalah proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir. sedangkan DG adalah proporsi D ditambah proporsi responden yang mempunyai gejala utama katarak (penglihatan berkabut dan silau). tetapi terdistribusi hampir merata di semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3% (di Provinsi Kalimantan Timur) sampai 2. riwayat glaukoma.1% (di Provinsi Bengkulu). Delapan dari 33 provinsi masih memperlihatkan proporsi low vision lebih tinggi dari angka nasional. Prevalensi katarak dihitung berdasarkan jawaban responden berusia 30 tahun ke atas sesuai empat butir pertanyaan yang tercantum dalam kuesioner individu. Tabel 3. Rendahnya proporsi low vision di Papua berkaitan dengan respons rate individu yang rendah. Prevalensi low vision dan kebutaan dihitung berdasarkan hasil pengukuran visus pada responden berusia enam tahun ke atas. Notasi D pada tabel 3. Proporsi low vision tertinggi di Provinsi Bengkulu diikuti oleh Provinsi Sulawesi Selatan (9. Proporsi low vision dan kebutaan pada penduduk berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan. Tabel 3.3 Penyakit Mata Data yang dikumpulkan untuk mengetahui indikator kesehatan mata meliputi pengukuran tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen (dengan atau tanpa pinhole).5 kali lipat angka nasional. masing-masing hampir 3 dan 1. Data ini 121 . tabel 3. dengan kisaran 10.72 dan 3. Proporsi riwayat operasi katarak didapatkan dari responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak dan pernah menjalani operasi katarak dalam 12 bulan terakhir. Proporsi low vision dan kebutaan cenderung lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan.

4 3.4 5.7 0.5 5.1 3.1 0.0 1.6 0.6 2.4 1.8 0.4 0.8% dari 17.1 2.6 0.5 1.9 10.2 2.8 0.9 2.0 1.3 1.menggambarkan rendahnya cakupan diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan secara nasional (1.8 4.4 Indonesia 4.0 4.8 4.9 0.9 5.6 2.4 3.8 3.5 0.7 3.5 0.9 4.6 0.2 3.1 3.9 *)Kisaran visus: 3/60 < X < 6/18 (20/60) pada mata terbaik **)Kisaran visus <3/60 pada mata terbaik 122 .5 4.5 1.9 0.3 0.5 0.6 0.3% atau hanya 1/10nya).9 6.70 Proporsi Penduduk Usia 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.2 3.5 4.7 Kebutaan** (%) 1.2 4.7 3.4 2.7 9.4 1.6 0.0 0.3 1.0 4.0 0.3 5.5 0.7 3. Gambaran ini juga tampak di seluruh provinsi.2 1.1 1.4 1.7 0.0 0. Tabel 3.1 0. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Provinsi Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Low vision* (%) 5.4 0.

3 0.6 0.72 123 .71 Proporsi Penduduk Umur 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.7 1.1 Laki-laki 5.0 0.7 6.4 1.0 Wiraswasta 6.6 Tidak tamat SD 4.8 1.2 Perkotaan 5.7 Kuintil 5 *)Kisaran visus: 3/60 < X < 6/18 (20/60) pada mata terbaik **)Kisaran visus <3/60 pada mata terbaik Tabel 3.5 Tidak kerja 1.8 Kebutaan* (%) 0.2 Tamat PT Pekerjaan 11.0 1.9 0.3 0.1 Lainnya Tipe Daerah 4.6 Kuintil 1 4.2 0.1 Tidak sekolah 6.9 1. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 6 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Low vision* (%) 1.6 Tamat SD 2.0 Kuintil 3 5.8 Jenis kelamin 4.1 5.0 13.7 Pegawai 4.3 Sekolah 5.1 1.1 Tamat SD 2.0 1.3 Ibu RT 2.8 0.7 37.4 Perempuan Pendidikan 19.5 0.7 27.1 14.3 6.7 0.3 0.8 2.2 0.8 2.4 Petani/nelayan/buruh 6.Tabel 3.3 3.8 0.3 0.1 0.6 1.1 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 4.0 1.3 0.0 Kuintil 4 4.7 Tamat SMA 3.6 Kuintil 2 5.3 0.2 0.

3 17.5 17.0 23.5 13. Tabel 3.5 3.3 2.8 2.4 2.9 1.6 27.4 1.4 Indonesia 1.4 2.73 menunjukkan bahwa proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan meningkat sesuai pertambahan usia.0 1.8 17.0 19.Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak menurut Provinsi.0 20.7 20. 124 .3 1. **)DG= proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan atau mempunyai gejala penglihatan berkabut dan silau dalam 12 bulan terakhir. Proporsi katarak menurut umur yang dikelompokkan dengan interval 10 tahun memberikan gambaran adanya kecenderungan peningkatan proporsi katarak untuk tiap kelompok umur kurang lebih dua kali lipat dalam tiap periode 10 tahunan.7 1.2 10.9 14.6 1.2 1.3 2.6 1.2 17.2 1.6 28.4 1.0 20.6 10.0 2.1 15.0 11.1 1.1 1.4 1.3 1.6 15.0 16.5 2.0 1.8 2.1 14.2 12.3 1.2 18.7 2. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D* (%) 3.1 28.6 2.3 24.0 16.5 1.7 1.4 18.6 20.3 21.3 11.0 1.5 DG** (%) 27.2 1.5 16.0 16.3 *)D = proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir.6 1.5 18.2 12.

Proporsi operasi katarak pada laki-laki cenderung lebih tinggi dibandingkan perempuan.4%) dan tertinggi di Provinsi Papua (91. Pemberian kacamata pasca operasi katarak bertujuan mengoptimalkan tajam penglihatan jarak jauh maupun jarak dekat. Proporsi terendah ditemukan di Provinsi Papua Barat (5.2%) dan tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara (31.1%). Kemungkinan lain adalah hasil operasi katarak yang cukup baik. Proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan hampir merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.5%). Tabel 3.74 menggambarkann proporsi operasi katarak dan pemakaian kacamata pasca operasi pada penduduk umur 30 tahun ke atas. sehingga visus pasca operasi mendekati normal dan hanya sedikit penderita yang memerlukan kacamata pasca operasi. Secara nasional cakupan operasi ini masih sangat rendah. Berdasarkan pekerjaan dan tipe daerah.9%) dan sedikit lebih besar di daerah perkotaan (2. proporsi operasi katarak terbesar dijumpai pada kelompok yang sedang sekolah dan tinggal di daerah perkotaan. terdapat penumpukan kasus katarak pada tahun terkait (2007) sebesar 82%. tetapi tampak bahwa proporsi diagnosis katarak tertinggi ditemukan pada tingkat pengeluaran tertinggi (2%).73 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 125 . Proporsi operasi katarak dalam 12 bulan terakhir untuk tingkat nasional adalah sebesar 18% dari penduduk yang pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan. Tampak pula bahwa proporsi gejala katarak cenderung menurun pada tingkat pengeluaran rumah tangga yang lebih tinggi. Proporsi operasi katarak meningkat seiring dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga per kapita. Seperti halnya low vision dan kebutaan. proporsi diagnosis katarak pada kelompok penduduk yang tidak bekerja lebih tinggi. proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan lebih besar pada penduduk dengan latar pendidikan enam tahun atau kurang dibanding dengan yang memperoleh pendidikan tujuh tahun lebih.7%). Proporsi operasi katarak makin meningkat sesuai dengan meningkatnya lama pendidikan.75 menunjukkan bahwa proporsi operasi katarak makin meningkat sejalan dengan meningkatnyan umur. Tabel 3. Pemakaian kacamata pasca operasi katarak di tingkat nasional adalah sebesar 58.Proporsi katarak berdasarkan riwayat diagnosis cenderung lebih besar pada perempuan (1. Dari aspek pekerjaan.1% dengan kisaran terendah di Provinsi Sulawesi Tenggara (21. sehingga tidak semua penderita pasca operasi merasa memerlukan kacamata untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Tabel 3.

5 1.1 D (%) DG (%) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 1.1 2.6 Kuintil 2 1.1 1.1 17.5 7.5 1.0 9.9 17.7 17.0 22.3 16.4 13.4 5.7 1.1 8.74 126 .Menurut Karakteristik Responden.6 1.9 Kuintil 4 2.8 41.1 1.9 2.6 18.3 1.8 Kuintil 3 1.6 19.7 18.2 28.2 8.3 16.5 19.8 19.6 4.3 3.6 1.3 1.3 17. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 30 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Lama Pendidikan < 6 Tahun 7-12 Tahun >12 Tahun Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 0.6 15.6 8.8 17.3 0.6 Kuintil 1 1.4 11.0 Kuintil 5 Tabel 3.8 38.9 51.4 3.4 1.7 1.2 5.

8 43. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Operasi Katarak (%) 13.7 15.0 18.7 Indonesia 18.5 61.2 13.0 26.1 8.1 21.0 58.8 66.7 63.8 71.8 8.4 71.9 10.9 13.75 127 .9 21.4 49.0 76.9 27.7 66.4 47.7 62.5 8.7 31.5 50.3 14.0 62.9 10.1 Tabel 3.Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Provinsi.4 65.8 22.2 46.1 25.8 14.4 65.3 17.6 22.3 21.8 Pakai Kacamata Pasca Operasi (%) 55.9 66.9 20.5 90.9 27.5 20.7 91.7 81.1 20.6 5.0 23.2 12.0 50.1 47.7 27.0 54.9 20.7 46.0 54.0 50.5 72.1 16.0 49.5 70.2 18.2 34.5 20.6 11.

8 18.7 60.2 20.7 14 24.2 55.4 50.2 11.8 31.7 63.9 22.6 65.4 66.9 18.2 56.4 52.2 13.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 128 .5 46.9 72.5 17.4 19.5 17.1 16.7 59.2 48 72 59.3 19.9 46.Persentase Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Karakteristik Responden.4 54 65.5 56.2 15.2 19.3 56.3 18. Riskesdas 2007 Operasi katarak (%) Pakai kacamata pasca operasi (%) Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 30 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Lama pendidikan ≥ 6 Tahun 7-12 Tahun >12 Tahun Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 13.4 21.9 57.7 14.2 15.5 35.3 78.6 21.3 17 21.9 58.8 64.2 22.1 59.

penduduk umur 18 tahun bebas gigi yang dicabut (komponen M=0). karena untuk penilaian CPITN ini diperlukan alat ( hand instrument ) yang spesifik.4. antara lain anak umur 5 tahun 90% bebas karies. penduduk umur 65 tahun ke atas masih mempunyai gigi berfungsi sebesar 75% dan penduduk tanpa gigi ≤5% (WHO.1995). 2005 Performed Treatment Index(PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T. kuratif maupun rehabilitatif. yaitu: Sehat/Promotif (Prevalensi) % bebas karies pada umur 5 tahun DMF-T 12 th Rawan (protektif) (Insiden) Expected incidence Kecenderungan DMF-T menurut umur DMF-T 15 th DMF-T 18 th MI CPITN RTI MI Laten/Deteksi dini dan terapi (% dentally Fit) PTI RTI Sakit/kuratif (% keluhan) % dentally fit PTI Cacat/ Rehabilitatif (% 20 gigi berfungsi) % edentulous % protesa • • • Sumber WHO. Analisis untuk dentally fit tidak bisa dilakukan. perawatan yang diterima dari tenaga medis gigi. Penilaian dan pemeriksaan status kesehatan gigi-mulut dilakukan oleh pengumpuldata dengan latar belakang yang bervariasi. Wawancara dilakukan terhadap semua kelompok umur. dan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi. 129 . anak umur 12 tahun mempunyai tingkat keparahan kerusakan gigi (indeks DMF-T) sebesar 1 (satu) gigi. meliputi data masyarakat yang bermasalah gigi-mulut. telah dilakukan berbagai program. Pemeriksanan ini dilakukan pada kelompok umur 12 tahun ke atas dengan cara observasi (hanya yang terlihat) menggunakan instrumen genggam (kaca mulut) dengan bantuan penerangan senter.4 Kesehatan Gigi Menuju target pencapaian pelayanan kesehatan gigi 2010. baik promotif. baik melalui wawancara maupun pemeriksaan gigi-mulut.3. karena pemeriksaan perlu menggunakan instrumen genggam lengkap. PTI menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap Required Treatment Index (RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap angka DMF-T. hilang seluruh gigi asli. Berbagai indikator telah ditentukan WHO. dan penduduk umur 35-44 tanpa gigi (edentulous) ≤2%. Penilaian untuk kebutuhan perawatan penyakit periodontal Community periodontal index treatment need (CPITN) tidak dilakukan. Hasil wawancara dan pemeriksaan gigimulut tersebut dapat terlihat pada tabel-tabel berikut. penduduk umur 35-44 tahun memiliki minimal 20 gigi berfungsi sebesar 90%. Terdapat lima langkah program indikator terkait penilaian keberhasilan program dan pencapaian target gigi sehat 2010. preventif. Dalam Riskesdas 2007 ini dikumpulkan berbagai indikator kesehatan gigi-mulut masyarakat. RTI menggambarkan besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan. protektif. Sedangkan pertanyaan tentang perilaku pemeliharaan kesehatan/kebersihan gigiditanyakan kepada masyarakat 10 tahun keatas. dan jenis perawatan yang diterima dari tenaga medis gigi.

5 0.8 0.4 21.7 21.4 30.5 24.6 22. Riskesdas 2007 Menerima Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Bermasalah Gigi – mulut 30.2 25.6 29.3 22.5 25.7 35.4 31.3 25.4 Indonesia 23.7 1.9 30.2 0.5 25.5 33.1 1.0 39.8 0.5 27.0 24.76 menggambarkan prevalensi penduduk dengan masalah gigi-mulut dan yang menerima perawatan dari tenaga medis gigi dalam 12 bulan terakhir menurut provinsi.7 23.3 4.1 20.2 39.2 28.1 23.6 130 .Tabel 3.0 23.1 0.7 15.4%.7 2.2 2.2 42.1 34.7 18. Prevalensi penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir adalah 23.2 2.6 1.5 2. Dari penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut terdapat 29.2 1.9 34.6 30.7 0.6% penduduk yang telah kehilangan seluruh gigi aslinya.2 25.4 1.76 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut menurut Provinsi.4 29.4 2.8 36.1 26.5 1.3 31.0 3. Tabel 3.6 29.9 21.1 17.9 20.9 1.0 25.8 23.6 20.6% yang menerima perawatan atau pengobatan dari tenaga kesehatan gigi.1 26.7 0.6 1.9 2.1 30.7 0.0 0.7 perawatan dari tenaga medis gigi 44.5 33.0 28. dan terdapat 1.3 25.6 0.1 24.8 2.4 19.5 22.4 24.3 27.7 1.7 1.6 22.0 1.1 19.7 19.0 2.0 23.5 23.1 26.4 37.7 1.9 0.8 31.5 16.5 31.9 20.8 25.0 Hilang seluruh gigi asli 1.2 21.

provinsi dengan persentase yang menerima perawatan/pengobatan gigi dari tenaga kesehatan gigi tertinggi di Nanggroe Aceh Darussalam (44.6%).79 menjelaskan jenis perawatan yang diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir menurut karakteristik responden. Mulai umur 65 tahun ke atas persentase yang melakukan penambalan / 131 .5%).2%). Tetapi ada kecenderungan.6%. Sumatera Selatan (17.5%)..78 menggambarkan jenis perawatan yang diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir menurut provinsi.0%). dan Sumatera Selatan (10. 54 diantaranya mendapat perawatan dan 6 yang mendapat perawatan pencabutan/bedah mulut oleh karena sebab yang tidak diketahui. namun terlihat tinggi di Sulawesi Selatan (4.9%) dan terendah di NTT (23.6% Menurut provinsi.9%).9% (6/54) didapatkan dari 16. Pemasangan gigi tiruan lepas/cekat terlihat tinggi di tiga provinsi yaitu di Kepulauan Riau (12.7%). Sulawesi Utara (29.3%). Data tentang persentase pencabutan/penambalan/bedah mulut pada bayi (<1 tahun) sebesar 10.2%).6%.747 bayi yang diwawancara (orang tuanya). Kesadaran untuk melakukan konseling relatif sedikit di semua provinsi (13. yaitu ‘pengobatan’ (87. semakin meningkat prevalensi masalah gigi-mulut. Sulawesi Tengah (31.5%) dan terendah di Maluku Utara (19. 175 bayi mempunyai masalah gigi/mulut. sedangkan menerima perawatan/pengobatan gigi di perdesaan lebih rendah dibandingkan dengan di perkotaan.9%). Tabel 3.0%) dan Kepulauan Bangka Belitung (19. Penambalan/pencabutan/bedah gigi tertinggi di Kepulauan Riau (55.5%). prevalensi masalah gigi dan mulut. disusul ‘penambalan/pencabutan/bedah gigi’ (38. Lampung (18.8%) dan Kalimantan Selatan (29.1%).8% hilang seluruh gigi asli.3% dan 4. Kepulauan Riau (19. Dapat dilihat bahwa jenis perawatan yang paling banyak diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut.6%). pengobatan paling tinggi di Nanggroe Aceh Darussalam (94. Konseling perawatan/ kebersihan gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan atau gigi tiruan cekat relatif kecil. Sedangkan yang menerima perawatan/pengobatan gigi tidak menunjukkan pola yang jelas menurut umur. Prevalensi masalah gigi-mulut dan kehilangan gigi asli menunjukkan kecenderungan menurut umur. semakin meningkat umur. Tidak ada pola yang jelas jenis perawatan gigi yang diterima menurut kelompok umur. Aceh (30. DI.Lima provinsi dengan prevalensi masalah gigi-mulut tertinggi. tetapi mulai kelompok umur 55 tahun prevalensi masalah gigi-mulut menurun kembali. semakin besar persentase penduduk yang menerima perawatan/pengobatan gigi. Sulawesi Barat (11. masing-masing sebesar 13. jauh di atas target WHO 2010.77 menunjukkan bahwa prevalensi masalah gigi-mulut bervariasi menurut karakteristik responden. Tabel 3. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.1%). Tabel 3. Meskipun prevalensi penduduk yang mengalami hilang seluruh gigi asli terlihat relatif kecil 1.0%) dan Bangka Belitung (3. dan pada kelompok umur 65 tahun ke atas hilangnya seluruh gigi mencapai 17. Semakin tinggi umur. Pada kelompok umur 45-54 tahun sudah ditemukan 1.2%). serta persentase penduduk yang mengalami kehilangan seluruh gigi asli sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.3%). Prevalensi masalah gigi-mulut dan yang menerima perawatan/pengobatan gigi sedikit lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Dari yang mengalami masalah gigi-mulut. yaitu Gorontalo (33.4%). Prevalensi masalah gigi-mulut ini tidak menunjukkan hubungan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Provinsi dengan prevalensi gigi-mulut terendah adalah Sumatera Utara (16. dan terendah di DKI Jakarta (74. kecuali dalam hal perawatan/pengobatan gigi.9%).2%). semakin besar persentase yang melakukan penambalan / pencabutan / bedah gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat. Menurut tipe daerah..

dan melakukan konseling gigi. yang melakukan pengobatan cenderung menurun. Tabel 3.7 0 0 0 0 0 0.4 1. semakin tinggi persentase penduduk yang melakukan penambalan/pencabutan gigi. Pemasangan gigi tiruan sudah ditemui pada kelompok umur anak sekolah dan meningkat seiring dengan bertambahnya umur.5 30.3 Tipe daerah Perkotaan 21.8 1.5 26. jenis perawatan penambalan/pencabutan gigi.6 20.1 27. Menurut tipe daerah.8 26.9 26.9 21.9 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ 1.8 5.1 28.7 28.1 29.3 1.5 Perempuan 24.6 Bermasalah Gigi-mulut Menerima perawatan Hilang seluruh gigi asli Jenis kelamin Laki-laki 22.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 22. pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat dan konseling perawatan gigi lebih tinggi di perkotaan.6 31. sedangkan pengobatan lebih tinggi di perdesaan.4 30.4 1.6 29. pemasangan gigi tiruan lepasan. tidak ada perbedaan persentase pemanfaatan jenis perawatan gigi yang mencolok antara laki-laki dan perempuan.6 Tabel 3.3 30. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur ( tahun) <1 1 .7 1.2 28.9 17.5 Kuintil-4 23.9 Perdesaan 24.4 5 .8 31. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 Kuintil-5 23.77 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut menurut Karakteristik Responden.7 37 25.6 1.5 23.5 24. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 1.6 1.7 32 31.1 22.8 1. Menurut jenis kelamin.1 6.7 Kuintil-2 23.pencabutan gigi mengalami penurunan. Sebaliknya untuk pengobatan.1 0.78 132 .3 29.6 1.4 Kuintil-3 23.6 26.6 21.3 37.

9 43.7 25.7 34.3 11.6 12.6 86.7 90.8 28.3 2.4 83.5 16.2 13.5 93.6 12.6 2.6 12.7 11.5 45.5 2.1 83.79 133 .2 2.5 88.8 52.6 6.3 0.2 87.0 2.9 5.9 2.3 36.3 3.0 2.6 2.9 4.7 20.0 2.7 42.9 4.9 89.7 91.9 11.6 5.5 25.2 89.3 48. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tengga Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pengobatan 94.0 Konseling perawatan/ kebersihan gigi 13.5 2.0 86.2 Pemasangan gigi lepasan / tiruan 4.5 53.8 81.6 38.3 2.6 87.2 13.6 92.9 1.3 0.0 3.4 14.0 0.3 6.4 4.9 54.1 20.6 Lain nya 0.5 74.4 16.0 2.1 Penambalan/ Pencabuatan/ bedah gigi 32.5 10.8 1.5 15.0 43.2 40.4 46.3 84.9 35.2 85.9 4.8 55.Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Provinsi.1 2.6 81.9 32.0 2.7 5.1 1.2 15.8 9.8 91.0 86.2 12.8 9.0 1.0 2.6 21.2 13.4 37.7 7.2 5.6 13.7 14.3 4.5 3.3 10.8 23.8 5.9 83.1 3.2 4.6 21.3 4.8 42.0 1.0 2.1 47.9 12.0 1.8 34.6 45.5 10.3 22.2 2.8 4.3 2.1 4.9 3.0 39.0 1.6 82.0 5.8 88.3 44.5 42.3 85.1 39.7 89.1 85.8 18.4 2.2 85.8 9.2 36.5 35.0 4.9 7.2 2.9 2.6 11.9 1.8 6.2 Indonesia 87.0 81.4 14.4 9.5 21.8 0.5 4.1 3.5 91.3 6.0 37.2 Tabel 3.0 80.9 92.6 1.5 4.7 10.9 32.7 90.

6 32.7%) dan Papua (58.5%).8 45. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan gigi-mulut.2 43.9 36.1 2.80 berikut ini menggambarkan perilaku penduduk umur 10 tahun ke atas yang berkaitan dengan kebiasaan menggosok gigi.7 1.9 87.0 0.4 2. sedangkan yang terendah di Provinsi NTT (74.8%).5 44.1%) mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari.6 14.8 2.2 4.4 87.7%.4 13.3 2.1 2.8 12.4 9.5 88.0 0.0 89.5 13.6 2.4 88.7 93.2 2. Sebagian besar penduduk umur 10 tahun ke atas (91. dan Kalimantan Timur (95.2 89.5 84.2 3. Riskesdas 2007 Karakterisktik Responden Pengobatan Penambalan/ Pencabuatan/ bedah gigi Pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat 0.0 3.2 2. Tabel 3.7%.6 10. Proporsi masyarakat yang menggosok gigi setiap hari sesudah makan pagi hanya 12.4 11. Tiga provinsi yang mempunyai persentase tertinggi dalam hal menggosok gigi adalah DKI Jakarta (98.7 13.9 32.3 87.5 13.0 2.3 2. Didapatkan bahwa pada umumnya masyarakat menggosok gigi setiap hari pada waktu mandi pagi dan atau sore 90.4 4.2 11.8 39.4 37.7 11.7 1.2 10.5 2. menggosok gigi yang benar adalah menggosok gigi setiap hari pada waktu pagi hari sesudah makan dan malam sebelum tidur.6 4.1 12.0 1–4 5–9 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 + Jenis Kelamin Laki – laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 84.4 39.8 2.Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Karakteristik Responden.5 90.4 3.3 Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 83.6 30.0 4.80 134 .9 12.4 46. Untuk mendapatkan hasil yang optimal.4 4.6 7.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Tabel 3.7 29.7 39.6 89.8 5.4%).5 35.6% dan sebelum tidur malam hanya 28.2 15.1 Konseling perawatan/ kebersihan gigi 6.4 84.3 14.4 87.9 9.5%).0 88. juga adanya wilayah yang masih sulit terjangkau informasi akibat keadaan geografi yang bervariasi.0 1.4 13. dan kapan waktu menggosok gigi dilakukan. Jawa Barat (95.7 86.3 2.6 4.2 12.5 2.0 33.0 0.2 14.5 6.7 41.1 43.1 88.2 2.5 4.8 1.2 11.8 16.7 81.

2 24.9 3.0 11.4 2.8 2.2 Sebelum tidur malam 20.7 34.7 93.2 23.0 87.1 58.0 3.2 24.5 95.3 86.8 2.6 22.5 95.8 94.8 1.5 15.1 11.2 95. Maluku (26.3%).0 94.1 15.2 9.9 84.6 90.4 2.3 5.9 92.4 94.3 19.9 48.8 92.8 14.4 91.6 93.4 4.7 3.9 46.7 Sesudah makan pagi 10.7 89.6 28.7 19.3 10.2 17.3 25.7%) dan Sulawesi Tenggara (26.8 86.2 4.9 37.4%).7 Provinsi dengan persentase tertinggi menggosok gigi setelah makan pagi adalah Papua Barat (30.7 20.5 34.9 31.9 95.9 96.7 86.0 84.3 27.3 93.8 11.3 26.2 20.6 42.4 95.0 38.9 50.8 42.8 3.7 31.9 91.7 25.9 16.5 90.9 95.9 1.4 89.1%) dan Sumatera Utara (6.1 18.3 16.4 3.7 23.5 1.6 9.6 31.3 80.5 2.3 30.3 22.0 95.1%).2 1.1 2.0 98.7 85. Sedangkan persentase yang terendah di Provinsi Sumatera Barat (5.9 91.1 Waktu menggosok gigi Saat Mandi pagi/sore 88.0 84.2 26.6 Sesudah bangun pagi 27.4 28. Bali 135 .7 2.7 1.3 92.3 12.1 31.6 11.4 90.4 92. Sulawesi Selatan (48.9 2.3%) .5 35.8 13.8 18.0 92.6 20.0 25.0 3.7 92.8 9.9 34.5 3.2 88.4 41.7 48.7 13.7 32.1 4.7 94.1 42.9 22.6 94.3 17.9 24.7 32.9 44.2 86.3 20.7 6.7 74.5 74.7 88.9 26.7 12.5 94.2 2.4 17.9 89.9 12.1 31.9 27.8 94.7 9.5 94.1 40.0 9.2 94.8 15.8 44.2 90.8 92.3 15.6 92.7 40.4 13.0 32.4 27.6 9.5 6.7 Lainnya Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2.6 3.8 89.Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Provinsi.9 2.5 94.9 14.5 92.7 1.2 12.7 94.7 1.0 95.2 25.4 26.5 96.0 37.0%).5 2. Lampung (5.7 3.0 16.0 6.6 34.2 68.0 88.0 16. Adapun provinsi dengan persentase tertinggi menggosok gigi sebelum tidur malam adalah Kepulauan Riau (50.3 97. Riskesdas 2007 Gosok Gigi setiap hari 87.3 25.0 5.4 28.6%).6 26.8 94.4 35.3 94.4 13.7 32.5 22.1 91.9 27.

5 3.6 Menurut tipe daerah.3 3. Tabel 3.7 92. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 26.0 Lainnya Karakteristik Responden Kelompok umur ( thn) 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ Jenis Kelamin Laki-laki 90.7 27.0 90..8 Kuintil 4 92. Tabel 3.6 Sesudah bangun pagi 25.8 13.3 Kuintil 3 91.9 29.6 80.2 89.9 3.4 93. Begitu pula menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 24.0 33. Persentase penduduk menggosok gigi saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.8 13. Menurut umur.4 27.3 10.2 85.2 28.9 3.5 28. persentase penduduk yang mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya umur.1 Tipe daerah Perkotaan 95.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga/kapita Kuintil 1 88.8 3.3 4.7 4.8 25.0 94.0 4.5 Sesudah makan pagi 11.9 96.8 21.3 15.4 11.8 13.8 11.6 31. sedangkan yang terendah Provinsi Lampung (14.4 27.8 38. persentase penduduk menggosok gigi setiap hari maupun semua jenis waktu menggosok gigi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.2 11.0 91.1%). persentase penduduk menggosok gigi saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.4%).6 11.4 3.0 27.0 4.0 26. Riskesdas 2007 Gosok Gigi setiap hari Waktu menggosok gigi Saat Mandi pagi/sore 90.0 26.6 3.5 3.2 58. terutama di perkotaan.7 10.dan Kalimantan Selatan masing-masing (44.5 26. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi penduduk yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.0 Kuintil 5 93. Sedangkan menurut jenis kelamin tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok.8 3.8 90.3 Perempuan 91.2 28.4 3.8 91.7 92.5%).81 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Karakteristik Responden.9 11.3 14.5 91.5 90.4 88. NTT (16.9 Sebelum tidur malam 25.0%) dan Jambi (17.2 25.2 12.0 11.9 21.1 25.1 90.5 90. terutama mulai umur 15 tahun ke atas .9 25.3 91.2 26.0 2.7 89.9 30.5 Perdesaan 88.5 18.5 22.3 25.9 Kuintil 2 90.7 13. 136 . hanya kebiasaan menggosok gigi sebelum tidur malam terlihat lebih banyak pada perempuan.81 menunjukkan perilaku penduduk dalam menggosok gigi bervariasi menurut karakteristik responden.7 89.1 30.8 96.5 31.9 3.6 38.

8 2.5 84.1 95.9 4.0 6.82 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Provinsi.8 94.1 8.9 7.8 91.5 92.2 17.7 87.9 7.9 92.1 10.5 15.2 5.3 94.3 94.5 3.1 7. yaitu dilakukan pada saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam.2 15. Riskesdas 2007 Berperilaku benar menggosok gigi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Ya 4.4 9.3 93.7 5.2 97. 137 .8 2.8 82.9 91.1 92. Dikategorikan berperilaku benar dalam menggosok gigi bila seseorang mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari dengan cara yang benar.4 88.8 8.3 9.8 10.7 5.6 8.0 10.9 89.3 12.3 92.5 17.1 4.7 91.7 Tidak 95.9 3.6 90.1 96.5 7.2 8.82 disajikan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.9 95.4 5.7 6.8 84.5 96.6 95.2 97. Tabel 3.3 Indonesia 7.7 90.6 11.0 93.0 89.5 82.Pada Tabel 3.1 92.2 89.4 91.2 91.3 9.7 Catatan : Berperilaku benar menyikat gigi adalah orang yang menyikat gigi setiap hari dengan cara yang benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam).

terutama mulai umur 15 tahun ke atas. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. ada kecenderungan persentase penduduk berperilaku benar dalam menggosok gigi mengalami penurunan seiring dengan peningkatan umur.Tampak persentase penduduk yang berperilaku benar menggosok gigi masih sangat rendah.6 Perdesaan 5.2 8.8 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil-1 5.8 91.7 6.4 94.4 Perempuan 8. Sedangkan yang terendah di Provinsi Lampung (2. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. persentase perilaku benar dalam menggosok gigi lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan lakilaki.6 96. dan F-T yang menunjukkan banyaknya kerusakan gigi yang pernah dialami seseorang baik berupa Decay/D (gigi karies atau gigi berlubang).8 8. semakin tinggi persentase yang berperilaku benar dalam menggosok gigi. dan Filling/F 138 .4 92.3%.5 93.1 89.2 94.83 menggambarkan perilaku benar menggosok gigi menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.9 Kuintil-5 10.2 Kuintil-2 5.3 93. Sedangkan menurut jenis kelamin.6 92. persentase penduduk berperilaku benar menggosok gigi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan. Tabel 3.1%). Sumatera Barat (2. Indeks DMF-T sebagai indikator status kesehatan gigi.3%) dan Sulawesi Tenggara (15.2 93. Missing/M (gigi dicabut).8 94. Begitu pula menurut tipe daerah.4 94.0 Tipe daerah Perkotaan 9.6 Kuintil-4 7.4 3. Provinsi dengan persentase penduduk tertinggi dalam berperilaku benar menggosok gigi adalah Papua Barat (17.4 Catatan : Berperilaku benar menyikat gigi adalah orang yang menyikat gigi yang benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam). M-T.84 menyajikan komponen DMF-T menurut provinsi.4%).6 setiap hari dengan cara 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ Jenis Kelamin Laki-laki 6. yaitu 7.5 7.7%). Menurut umur.9%).5 93.83 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Karakteristik Responden.2 91. Tabel 3. merupakan penjumlahan dari indeks D-T.7%) dan Jambi (3. Tabel 3.6 5. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10 – 14 Berperilaku benar menyikat gigi Ya Tidak 6. Kepulauan Riau (17.0 90.5 92.8 Kuintil-3 6.

18 4.46 4.80 1.05 0.22 3.(gigi ditumpat).25 4. F dan Index DMF-T Menurut Provinsi.38 0.04 1.50 1.16 0.86.61 4.02 0.02 0.68 1.19 Indonesia 1.83%).04 1.60 3.36 1.38 1.13 1.34 1.44 3.02 5.27 4.85 5.83 5.19 1.02 0.04 0.38). DMF-T yang ditemukan pada Riskesdas ini lebih rendah dari temuan SKRT 1995 139 .83).08 0. dan Sulawesi Tengah (5.04 0.08 0.77 1.03 5.16 4.44). Jawa Timur (6.53 4.05 0.05 0.09 0.35 1.05 0.85 DMF-T di lima provinsi sangat tinggi.05 Index DMF-T (X) 4.06 0.95 1.09 0.66 2.84 3.25 4.66 3.06 0.35 1.02 3.83 5.01 2.08 0.08 5.52 3.53 3.08 5.71 4.73 3. Kalimantan Barat (6. M.06 1.92 4.28 3.43 5.50 1.31 1.22 6.55 3.38 5.47 2. Komponen yang terbesar adalah gigi dicabut/M-T sebesar 3.04 0.27 0.35 1.88 1. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D-T (X) 1.21 2.90 3.08 0.60 4.24 1.01 5.73 3.84 4.12 0.06 0. dapat dikatakan rata-rata penduduk Indonesia mempunyai 4 gigi yang sudah dicabut atau indikasi pencabutan.04 0.84 0.37 3.02 0.43 5.06 0.73 4. Ini berarti rata-rata kerusakan gigi pada penduduk Indonesia 5 buah gigi per orang.11 M-T (X) 3.94 3.86 0.39 3.66 4.11 0.05 0.93 3. Indeks DMF-T secara nasional sebesar 4.05 4.34 4.43 1. yaitu Kalimantan Selatan (6.92 3.89 1.01 6.68 3.77 0. Tabel 3.98 4.25 3.08 0.00 1.08 4.60 2.01 2.42 1.53 6.00 1.70 3.18 0.84 Komponen D.59 4.69 3.52 3.92 2.98).96 F-T (X) 0.60 3.41 1.82 2.05 0.85.08 0.05 0.92 0. DI Yogyakarta (6.06 0.11 6.05 0.

Pada kelompok umur 35-44 tahun DMFT tinggi (4.26 3.41 0.46). 2002) Tabel 3.06 Kuintil-2 1. DMF-T : Rata2 jumlah kerusakan gigi per orang (baik yg masih berupa decay.55 5.3. hal ini mungkin berkaitan dengan cara dan alat pemeriksaan yang digunakan.07 12 0. Riskesdas 2007 D-T (X) M-T (X) F-T (X) Karakteristik responden Index DMF-T 0.27 buah per orang.90 0. Bahkan komponen yang terbesar adalah M-T (rata-rata gigi dicabut) sebesar 16.08 35 – 44 1.12 Kuintil-5 Catatan D-T : Rata2 jumlah gigi gigi berlubang per orang.10 Perkotaan 1. F dan Index DMF-T menurut Karakteristik Responden.89 0. Tabel 3.02 15 0. dicabut maupun ditumpat).4 dan SKRT 2001 sebesar 5.09 Perempuan Tipe daerah 1.46 18.44 2. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita .14 65 + Jenis Kelamin 1.89 4.33 4.88 0.22 4.86 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Provinsi.13 3. M. Tabel 3. yang berarti kerusakan gigi rata-rata 18.74 0.14 0. 1997 dan Kristanti dkk.85 di atas menunjukkan jumlah kerusakan gigi meningkat seiring dengan peningkatan umur berdasarkan Indeks DMF-T. M-T : Rata2 jumlah gigi dicabut/indikasi pencabutan.06 Perdesaan Tingkat pengeluaran/ kapita 1.06 Laki-laki 1.47 0.90 0.91 0.11 3.41 4.22 3.87 4.04 18 1.05 Kuintil-1 1.86 menyajikan prevalensi karies aktif dan pengalaman karies penduduk umur 12 tahun ke atas menurut provinsi.72 0. bahkan pada kelompok umur di atas 65 tahun DMF-T sudah menjadi 18. Dikategorikan karies aktif bila memiliki indeks D-T >0 atau karies yang belum tertangani dan mempunyai pengalaman karies bila indeks DMFT >0.91 1.07 Kuintil-3 1.13 0.92 4. DMF-T lebih tinggi pada perempuan dan di perdesaan.36 5.24 3.16 16.22 3.57 0.90 0.13 4.27 3.24 0.DMF-T hampir sama pada kelompok penduduk dengan semua umur tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.85 Komponen D.77 Kelompok umur ( tahun) 0. F-T : Rata2 jumlah gigi ditumpat.29 4.sebesar 6.57 0.15 4.08 Kuintil-4 1.33 0. Tabel 3.27.79 4.14 1.97 per orang. (Kristanti dkk.99 0. Riskesdas 2007 140 .

1 67.9 54. Lampung (54.6 40.4 48.2 51.1 58.1 50.8%).2%).4 62. Sedangkan sepuluh provinsi dengan prevalensi pengalaman karies tertinggi.8 65.0 40.6 75.9 76.3 47. Yogyakarta (52. Kalimantan Selatan (84.4%).8 40. Menurut provinsi. Maluku (54.5 60.9%).4 39.3%).5 83.6 47.Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Karies aktif 41.8 37.9 71.7%).5 55.7%) Kalimantan Timur (50.9 62.9 Indonesia 43.7 55.8 40.6%).0 59.0 51.8 43.4 67.5 86.8%).2 68.9 34.0 34.3 60.2 55.8%).1 52. .1 41.0 37.4 75.0 43.1%. adalah Bangka Belitung (86.5 68.6 30. DI 141 .1 72.3 37.1 43.1 70.9 77.4 50. Riau (53.8 40. Dari tabel di atas menunjukkan prevalensi karies sebesar 46. Bangka Belitung (50.6 53.8 39.6 44.3 Pengalaman karies 62. Orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memilki memiliki DMFT >0.2 Catatan : Orang dengan karies aktif adalah orang yang memiliki D>0 atau Karies yang belum tertangani.0 42.4 67.2 61.3%).4 64.4 75.6 39.4 77.7 49.1 71.9 78.4%.3 56.2 49. Kalimantan Selatan (50.8 77. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan masing-masing 50.5% dan yang mempunyai pengalaman karies sebesar 72. prevalensi karies aktif tertinggi (lebih dari 50%) ditemukan di Jambi (56.2 58. Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara (57. Sulawesi Utara (82.1%).

9%). dan Jawa Timur (76.5 Kuintil-3 44. Sedangkan prevalensi karies tidak menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.5%). Dari tabel di atas menunjukkan prevalensi pengalaman karies (DMF-T>0) sedikit lebih tinggi pada kelompok perempuan dan di perdesaan.88 142 .5 65 + 32.6%) dan Kalimantan Tengah (76.87 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies menurut Karakteristik Responden. Pengalaman karies sedikit lebih tinggi pada perempuan dan di perdesaan. Sedangkan prevalensi karies. semakin meningkat yang mempunyai pengalaman karies.87.7%). seperti tersaji pada Tabel 3.2 50.8 36.2 65.9%). Tabel 3. Prevalensi karies aktif dan pengalaman karies menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.7 66. Kalimantan Barat (78.Jambi (77. tetapi di perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan di peran.3 67..6 Kuintil-1 43.7 Laki-laki 43.2 Kuintil-2 43. Maluku (77. Kalimantan Timur (76. Riskesdas 2007 Pengalaman karies Karakteristik responden Karies aktif Kelompok umur ( tahun) 12 29.9 Kuintil-5 Catatan : Orang dengan karies aktif adalah orang yang memiliki D>0 atau Karies yang belum tertangani. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.4 Jenis Kelamin 43. ada kecenderungan semakin meningkat umur.6 68.4).4 Kuintil-4 42.5 64.8 67.6 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 42.1 43.5 Perempuan Tipe daerah 42.88 di bawah ini menyajikan persentase gigi tetap yang ditumpat dan persentase gigi tetap yang karies menurut provinsi. Tabel 3.1 15 36. Tabel 3. Orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memilki memiliki DMFT >0. Namun prevalensi karies tidak menunjukan pola tertentu pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8 80.0 66.8 35 – 44 53.0 68.5 Perkotaan 44.5 94.Yogyakarta (78. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin banyak yang mempunyai pengalaman karies.8 68. Menurut kelompok umur. meningkat sampai umur 35-44 tahun dan menurun kembali pada umur 65 tahun ke atas.2%).6 18 41.

8 102.7 (D/DMF-T)x100% (F/DMF-T)x100% (M/DMF-T)x100% Indonesia 25.3 77.6 29.1 0.2 69.2 1.0 27.6 0.89 menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.5 69.8 74.Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Provinsi.2 76.0 1.6 0.2 MTI 75.1 92.9 1.3 1.0 86.6 76.1 22.9 26.4 72.0 1.7 3.4 31.6 67.8 33.2 35. namun menurun 143 .4 1.8 35. mulai umur 15 tahun nilai RTI cenderung menurun seiring meningkatnya umur.5 26.4 1.7 22.6 79.2 33.2 79.6 32.8 1.9 28.9 0.9 0.2 83.1 22.2 0.0 35.8 24.6 74.6 81.5 32.9 80. sedangkan RTI (besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan) sebesar 25.4 77.0 71.7 77. Persentase PTI dan RTI pada tabel 3.7 2.2%. Menurut umur.7 16.1 76. Terdapat 20 provinsi yang angka RTI-nya diatas rerata nasional dan terdapat 18 provinsi yang mempunyai nilai PTI di bawah rerata nasional.9 76.6 88. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RTI 23.3 20.6 1.2 27. sedangkan nilai PTI tinggi pada umur 18 tahun.8 75.9 71.2 21.5 18.8 19.9 25.8 19.6 4.4 1.9 1.0 70.7 26.8 24.7 2.5 28.0 70.6 Dari tabel di atas tampak PTI (motivasi seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap) sangat rendah hanya 1.7 1.2 1.1 65.2 0.7 27.6 1.3 1.8 77.7 76.6%.9 83.8 25.6 1.3 22.4 8.2 1.6 1.5 PTI 1.7 1.7 91.1 1.7 19.8 1.8 68.

Tabel 3.pada umur yang lebih tinggi. Nilai PTI di perkotaan dua kali lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.0 1.8 92. tetapi semakin menurun nilai RTI-nya.6 2.2 80.0 Kuintil-5 23. Berarti semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 0.4 78.7 26. Tabel 3.9 28.90 di bawah ini menyajikan proporsi fungsi gigi normal.7 Kuintil-2 26.8 1.6 Jenis Kelamin Laki-laki 26.8 1.90 144 . RTI pada laki-laki lebih tinggi dan PTI-nya lebih rendah dari pada perempuan.2 80.5 2.6 18 63.8 1. sedangkan nilai RTI kurang lebih sama.1 81.6 78. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi pula nilai PTI. Tabel 3.3 1. semakin baik motivasi penduduk untuk merawat kesehatan giginya.4 2.3 1.9 64.3 1. Riskesdas 2007 RTI (D/DMF-T)x100% PTI (F/DMF-T)x100% MTI (M/DMF-T)x100% Karakteristik responden Kelompok umur ( tahun) 12 62. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. PTI menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap Required Treatment Index (RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap angka DMF-T.9 65 + 6. dan penggunaan protesa pada responden yang umur 12 tahun ke atas menurut provinsi.3 1..0 35 – 44 32.3 0.2 Perdesaan 25. Sedangkan menurut jenis kelamin. gigi tetap yang hilang semua (edentulous).3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 26.89 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Karakteristik Responden.7 79.1 1. RTI menggambarkan besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan.8 80.6 Perempuan 23.0 Catatan: Performed Treatment Index(PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T.5 79.7 Kuintil-4 24.4 Tipe daerah Perkotaan 25.2 15 65.6 33.4 78.1 Kuintil-3 25.

1%).6 0.3 85.2%).5 2.5 4.3 6.9 92.9 1.7 1.6 94.9 93.5 2.2 84.0 2.9 7.1 93.2 88.6 Edentulous 2.2 2.9 4. tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan (4.6 2.0 1. tertinggi ditemukan di Kepulauan Riau (12.2%).7 1.7 5.9 3.4 2.8 6.9 5.7 3. Proporsi edentulous atau hilang seluruh gigi sebesar 2.4 4.1 3.3 95.9 2.0 95.0%) dan Keppulauan Riau (3.7 10.9 94.9 91.0 1.3 95.8 2.1 86.8 9.6%).2 2.5 0.0 3.3 3. Secara umum 4.1 0.4 90. lebih tinggi daripada hasil SKRT 2001 (86.0 0.5 3.4 1. dan Gorontalo (95.0 2.9 2.0% penduduk umur 12 tahun ke atas memiliki fungsi normal gigi (mempunyai minimal 20 gigi berfungsi).5 Protesa 4.6 89. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Fungsi Normal 92. 145 .3 0.8 88.0 Indonesia 91.7 0.5 94. Proporsi penduduk dengan fungsi gigi normal tertinggi di Provinsi Banten (95.2 94.6 3.0 93.3 2.1 92.7%). Edentulous.5% penduduk telah memakai protesa atau gigi tiruan lepas atau gigi tiruan cekat.2 91.8 4.0 86.8 5.3%) dan Sulawesi Barat (11.4 0.7 0.5 88.1 1.0 0.6 3.9 11.3 1.0 92.5 Dari tabel di atas terlihat 91.0 4.4 1.5 2.0 91.2 93.0 2. Protesa dan Provinsi.5%).Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi.2 4.0 2.7 1.9 4.2 90. (95.1 4.0 91.3 90.5 91.5 91.0 4.9 2.0%).6 12.0 5.1 91.5 2.3 4.0% sedikit lebih rendah daripada hasil SKRT 2001 (2.0 2.

9 89.4 2.3 91.3 89.3 1.2 90.9 2. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Dari tabel 3.4 91.9 41.0 Edentulous 0.3 90.7 2.2 2.4%).9 95.9 99.91 tampak proporsi responden umur 35 – 44 tahun dengan fungsi gigi normal sebesar 95.7 1.1 90.2 4. lebih tinggi dari target WHO pada tahun 2010 (90%) dan SKRT 2001 (91. Riskesdas 2007 Karakteristik Fungsi Normal 99.91 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi.9 Kelompok umur ( tahun) 12 15 18 35 – 44 65 + Jenis kelamin Laki – laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 146 .Proporsi penduduk dengan fungsi normal gigi. Adapun proporsi edentulous penduduk umur 65 tahun ke atas sebesar 17.1 2.5 1.9 5.9%. Sedangkan pada usia 65 tahun ke atas hanya 41.4 17. Edentulous lebih banyak dijumpai pada perempuan dan lebih tinggi di perdesaan.5 5.0 5. Tabel 3.3 6.6 1.2%).6 14.2 91. Edentulous.1 0. masih jauh di bawah target WHO (75%) namun masih lebih tinggi daripada hasil SKRT 2001 (30. fungsi normal gigi dan edentulous tersebar merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga.9 99. Protesa dan Provinsi. masih jauh di atas target WHO pada tahun 2010 (5%).0 0.2%.2 2.1 5.9 4.1 2.6 5.0 0.0 90. edentulous dan penggunaan protesa bervariasi menurut karakteristik responden.6%.4 5. Proporsi penduduk yang edentulous dan penggunaan protesa meningkat seiring dengan bertambahnya umur.0 4.0 Protesa 0. namun penggunaan protesa miningkat seiring dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita. Proporsi fungsi gigi normal sedikit lebih tinggi pada laki-laki dibanding dengan perempuan.

11. dan ibu hamil 11.67g/dl. anak-anak 12. MCH (mean corpuscular haematocrit).810 spesimen darah. laki-laki dewasa 14. Dengan nilai-nilai tersebut di atas dan simpangan baku (standard deviation) untuk masing-masing rerata. 736a/Menkes/XI/1989. yaitu : Hb laki-laki dewasa : >13 g/dl Hb perempuan dewasa : >12 g/dl Hb anak-anak : >11 g/dl Hb ibu hamil : >11 g/dl Seseorang dikatakan anemi bila kadar Hb nya kurang dari nilai baku tersebut di atas. dan anak-anak) dikurangi 1 SD (Χ – 1SD). dengan perincian 13. Tabel 3. yang mungkin dapat memperkirakan penyebab anemia tersebut. dan 278 spesimen darah ibu hamil.93).1 Ke tiga nilai yang terakhir ini diukur untuk menentukan jenis anemia. Telah diperiksa 34.3.92 1 MCV = Ht/Σ eritrosit MCH = Hb/Σ eritrosit MCHC = Hb/Ht 147 . umumnya digunakan nilai-nilai batas normal yang tercantum dalam SK Menkes RI No. Untuk menentukan apakah seseorang menderita anemia atau tidak. Secara nasional diperoleh nilai rerata Hb untuk perempuan dewasa sebesar 13. laki-laki dewasa. anak-anak dan ibu hamil di perkotaan menurut provinsi.92 memperlihatkan hasil pemeriksaan berupa nilai rerata Hb untuk perempuan dan laki-laki dewasa. seseorang dikatakan anemi bila Hb nya lebih kecil dari nilai rerata Hb nasional untuk kelompoknya (perempuan dewasa. MCV (mean corpuscular volume).67g/dl.972 spesimen darah perempuan dewasa (>15 tahun) yang tidak hamil.809 spesimen darah laki-laki dewasa (>15 tahun). Nilai yang diukur adalah kadar Hemoglobin (Hb).81g/dl.00g/dl.751 spesimen darah anak-anak (<15 tahun). ditetapkan rentang nilai Hb normal versi Riskesdas untuk ke empat kelompok di atas (Tabel 3. 8. Bila menggunakan nilai rerata Hb yang diperoleh dalam Riskesdas.5 Biomedis 3. Pemeriksaan anemia terhadap spesimen darah responden semua umur dilakukan di laboratorium kabupaten/kota setempat.5. Tabel 3.1 Anemia Data biomedis diperoleh dari pemeriksaan darah vena yang diambil dari 8% responden penduduk perkotaan. Salah satu hasil biomedis adalah data anemia. dan MCHC (mean corpuscular haematocrit concentration).

76 14.28 12.58 14.22 14.54 14.13 13.54 11.35 13.16 15.Nilai Rerata Kadar Hemoglobin Penduduk Perkotaan menurut Provinsi Riskesdas 2007 Perempuan dewasa Provinsi ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) 13.972 13.48 13.9 13.76 13.11 12.03 14.05 Laki-laki dewasa ∑ specimen Nilai rerata Hb (g/dl) 14.6 13.66 12.91 13.63 15.26 12.12 12.53 13.74 13.00 11.62 13.83 12.27 11.97 12.67 8.17 14.06 12.59 12.8 14.82 12.77 13.45 14.11 12.06 10.79 12.1 12.17 12.36 14.43 12.48 13.75 13.56 14.25 14.55 12.67 278 11.81 Tabel 3.18 15.73 12.5 13.14 13.93 148 .85 15.01 15.809 14.44 15.07 12.9 12.76 12.74 14.15 13.23 13.8 13.06 12.07 Anak-anak (< 14 tahun) ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) 13.1 Ibu hamil ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 288 691 483 73 178 246 229 313 232 48 685 1631 1841 253 2236 327 833 359 184 239 268 295 405 265 157 594 205 86 70 83 95 41 39 168 533 322 39 157 219 221 305 226 57 485 1471 1617 207 1953 307 736 337 160 182 218 253 331 220 125 483 157 75 58 47 70 28 42 115 433 315 41 77 103 175 199 147 20 366 1136 1075 115 1299 169 556 286 170 173 123 181 323 198 123 396 144 57 66 45 57 44 24 1 15 8 1 10 5 2 4 0 0 15 50 37 4 28 5 6 8 4 2 11 11 6 7 1 20 10 0 3 0 3 0 1 Indonesia 13.751 12.53 14.8 14.52 15.36 13.25 13.37 14.33 13.51 14.76 12.97 12.53 12.79 12.21 14.96 12.87 12.61 12.21 14.54 15.65 12.41 12.79 12.02 14.67 12.69 12.07 13.75 12.48 14.31 12.32 14.78 12.86 12.22 12.17 12.78 13.49 12.82 12.

Selanjutnya dari total 33 provinsi. laki-laki dan anak-anak (adjusted for group).72 12. Prevalensi anemi secara umum.00 14.8% untuk anak-anak.26 – 13.72 1.5%) di antaranya menderita anemia menurut acuan nilai SK Menkes.Rentang Nilai Normal Kadar Hemoglobin Perempuan dan Laki-laki Dewasa.2% dan 13. menurut provinsi.9% (menurut acuan Riskesdas). dapat dilihat pada Tabel 3. untuk kedua acuan nilai di atas. serta 12. setelah disesuaikan untuk perempuan. 68 orang (24.36 Tabel 3. Prevalensi anemia ditemukan sangat tinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara.67 12.95.94).67 11. menurut provinsi. Berturut-turut mengacu pada batas nilai normal Riskesdas dan SK Menkes adalah 11.0%) menderita anemia. Tampak bahwa terdapat perbedaan prevalensi anemia menurut kedua acuan baku di atas.58 1.8% (menurut acuan SK Menkes) dan 11.94 memperlihatkan prevalensi anemia pada perempuan (tidak hamil) dan lakilaki dewasa serta anak-anak. 12. 149 .1% untuk laki-laki dewasa perkotaan. ibu hamil yang menjadi responden biomedis (diambil darahnya) adalah sebanyak 278 orang (tidak tampak dalam Tabel 3.55 Rerata ± 1SD (g/dl) 11.736a tahun 1989.84 1.09 – 14.8% dan 9. dan menurut acuan nilai Riskesdas 39 orang (14.25 10.28 – 14.3% dan 19. Anak-anak dan Ibu Hamil. Terdapat 20 provinsi yang mempunyai prevalensi anemia lebih besar dari prevalensi nasional. Tampak bahwa secara nasional prevalensi anemia sebesar 14.83 – 16.81 Nilai SD (g/dl) 1. Riskesdas 2007 Kelompok Nilai rerata Hb (g/dl) Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak (< 14 thn) Ibu hamil 13.51 11.7% untuk anemia perempuan dewasa perkotaan. berdasarkan nilai rerata Riskesdas dikurangi 1SD dan berdasarkan nilai baku SK Menkes No.

4 21.2 12.0 18.3 20.Tabel 3.1 19.5 27.4 19.9 20.6 16.1 8.6 13.8 20.6 17.8 13.2 25.6 17.5 10.3 4.4 2.7 5.1 7.5 18.2 8.4 11.2 14.3 5.8 10.9 43.4 19.6 5.0 16.8 26.1 17.9 23.9 31.3 10.1 5.2 12.2 12.9 12.6 16.3 21.8 13.6 19.4 6.7 13.8 10.9 15.1 5.0 5.6 4.9 14.6 19.9 8.1 23.28g/dl 20.8 27. Riskesdas 2007 Perempuan Laki-laki Anemia (%) SK Menkes <13g/dl Anemia (%) Riskesdas <12.6 8.0 10.8 7.7 11.5 14.8 10.1 26.8 28.6 13.8 15.9 21.7 19.5 25.8 15.3 7.0 31.8 12.5 10.0 17.5 5.4 9.83g/dl NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Anak-anak Anemia (%) SK Menkes <11g/dl Anemia (%) Riskesdas <11.8 12.8 5.3 16.8 5.7 11.09g/dl Provinsi Anemia (%) SK Menkes <12g/dl Anemia (%) Riskesdas <11.3 4.5 9.1 9.1 16.1 16.2 2.3 9.0 13.1 34.4 27.1 12.0 19.9 19.5 17.9 8.6 18.8 9.5 17.1 8.3 21.1 13.4 8.7 24.0 19.4 12.8 26.9 23.9 24.3 6.94 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi.6 10.4 9.5 8.0 14.8 20.7 13.6 9.4 9.9 4.1 12.0 16.3 19.2 17.4 14.3 16.2 19.7 5.3 25.5 12.9 28.5 16.4 22.7 5.8 8.4 10.4 15.7 19.8 23.7 38.8 5.8 5.9 8.4 13.8 14.6 13.4 14.4 11.2 12.3 14.8 Indonesia 150 .7 12.8 16.3 9.5 24.3 14.5 7.6 17.3 17.3 12.3 17.7 10.6 6.1 15.9 11.8 7.0 9.7 5.9 24.8 11.5 12.2 10.0 12.6 17.7 18.4 12.4 18.1 13.2 7.2 14.4 11.4 12.2 7.1 25.4 12.2 17.9 8.9 3.0 8.3 14.6 8.6 7.6 8.0 8.2 14.1 3.3 13.6 8.7 10.7 5.1 7.0 29.7 11.5 16.

3 24.8 7.2 31.9 13.7 10.8 11.4 22.1 9.8 12.4 15.8 12.4 21.7 25.9 12.0 8.6 11.2 13.2 15.5 18.1 19.0 16.0 12.0 19.95 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi.5 9.1 25.7 14.9 4.4 16.7 10.6 12.2 18.9 14.6 18.2 10. Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua laki-laki dewasa dan anak-anak) Menurut SK Menkes Menurut Riskesdas 16.0 5.2 15.3 9.1 14.6 15.9 12.0 9.6 29.3 9.2 15.6 16.5 19.9 11.0 11.1 18.9 11.9 Indonesia 151 .7 13.5 6.2 19.7 14.7 17.8 12. Riskesdas 2007 Prevalensi anemia (%) (disesuaikan menurut kelompok perempuan dewasa.1 6.4 17.2 21.7 14.0 10.6 17.1 9.5 23.4 10.8 5.6 16.Tabel 3.

Jika dibandingkan antara anak-anak dan dewasa. penyakit kronis tingkat lanjut. dikenal beberapa jenis anemia2. Sedangkan anemia jenis normositik normokromik lebih banyak dijumpai pada laki-laki dewasa.97). Tabel 3.96 2 Mikrositik = ukuran sel darah merah <normal Normositik = ukuran sel darah merah normal Makrositik = ukuran sel darah merah >normal Hipokrom = warna sel darah merah lebih muda dari normal Normokrom = warna sel darah merah normal Hiperkrom = warna sel darah merah lebih tua dari normal 152 . anemia mikrositik hipokromik ini lebih besar proporsinya pada anak-anak.96 memperlihatkan jenis anemia terbanyak pada orang dewasa dan anak-anak adalah anemia mikrositik hipokromik (60. kadar lekosit ibu hamil cenderung lebih tinggi. Sebaliknya. biasanya karena kekurangan zat besi.Sesuai bentuk dan warna (morfologi) sel darah merah. Anemia normositik. yaitu : Perempuan : Anemia Mikrositik : Anemia Normositik : Anemia Makrositik : Laki-laki : Anemia Mikrositik : Anemia Normositik : Anemia Makrositik : Perempuan dan laki-laki : Anemia Hipokromik : Anemia Normokromik : Anemia Hiperkromik : MCHC <33 % MCHC = 33 – 36% MCHC >36 % MCV <96 fl (fitoliter) MCV = 96 – 108 fl MCV >108 fl MCV <96 fl (fitoliter) MCV = 96 – 108 fl MCV >108 fl serta kombinasi dari jenis-jenis di atas. Jenis anemia pada ibu hamil sebagian besar adalah anemia mikrositik hipokromik (59% dari ibu hamil yang anemia). atau keracunan timbal. Selain kadar Hb dan jenis anemia. eritrosit. juga dilakukan pemeriksaan hematokrit.normokromik biasanya karena penyakit kronis fase awal atau perdarahan akut. Anemia makrositik biasanya karena kekurangan vitamin B12. Hasil pemeriksaan Ht dan eritrosit ibu hamil cenderung lebih rendah dibanding kelompok dewasa lainnya.2%). lekosit dan trombosit (Tabel 3. Tabel 3. Anemia mikrositik-hipokromik.

7 5.5 1.8 KELOMPOK Anak 1 – 4 tahun 5 – 14 tahun Dewasa Laki-laki Perempuan Ibu Hamil Eritrosit (juta/µl) 4.7 – 11.5 187.8 21.2 – 5.3 14.9 153 .2 30.3 4.1 – 342.3 – 9.0 38.3 11.3 14.2 – 46.7 33.7 – 10.2 27.2 Trombosit (ribu/µl) 221.1 – 48.1 6.8 30.4 Anemia Makrositik Anemia lainnya *Anemia menurut nilai baku Riskesdas Tabel 3.3 – 6.6 – 321.5 Lekosit (ribu/µl) 6.1 – 12.5 10.1 59 60.9 20.2 Anemia Normositik Normokromik 0.0 – 10.7 5.4 3.2 3.9 33.4 193.0 – 40.9 24.1 0 4.1 6.1 4.8 – 43.97 Nilai Rerata ± 1SD Hasil Pemeriksaan Hematologi Lain Riskesdas 2007 Hematokrit (%) 31.5 – 4.2 259.7 – 39.5 – 354.9 174.0 – 379.4 70.8 – 444.8 4.8 31.Proporsi Berbagai Jenis Anemia Pada Orang Dewasa Dan Anak-Anak N Kelompok Anemia* Anemia (%) Mikrositik Hipokromik Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak Ibu hamil TOTAL 1581 1445 1118 39 4183 59.0 – 5.0 29.4 – 5.

4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 154 .1 4.98 menggambarkan prevalensi anemia berdasarkan kelompok umur. Makin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.1 6.9 7. tertinggi dijumpai pada kelompok usia anak balita yaitu 27. diikuti dengan kelompok usia lanjut (75 tahun ke atas) (17.9 5.7 9.5 6.9 6.5 5.4 17.4 6.0 6. makin rendah prevalensi anemia. tampak bahwa ibu rumah tangga mempunyai prevalensi anemia tertinggi.6 10.3 5. Menurut pendidikan. kelompok kuintil 1 mempunyai prevalensi anemia tertinggi (11%).4 8.Tabel 3.5 8. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. pekerjaan dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.0 5. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin rendah prevalensi anemia.7 10.7 10.6 7.6 7.2 6.98 Prevalensi Anemia Menurut Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 1-4 5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Pendidikan Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Anemia 27. Menurut pekerjaan.0 7.7%. pendidikan. Tabel 3. Menurut umur.0 11 10 9 7.7%).

2 Diabetes Mellitus Pengambilan darah vena untuk pemeriksaan glukosa darah dilakukan pada responden usia 15 tahun keatas yang berjumlah 24.417 responden dari sampel perkotaan saja. kemudian diberi pembebanan glukosa oral 75 gram (300 kalori). Responden dipersiapkan puasa 10 – 14 jam sebelum diambil darah.5. Kriteria inklusi pemeriksaan glukosa darah adalah usia 15 tahun keatas.3. kecuali pasien yang mempunyai riwayat Diabetes Mellitus (DM) (dikonfirmasi oleh dokter koordinator 155 . tidak hamil (alasan medis dan etika).

tim laboratorium). DDM dan UDDM pada Penduduk Perkotaan. diberi makanan cair 300 kalori. Untuk menegakkan diagnosis DM dipergunakan rujukan menurut WHO 1999 dan American Diabetic Association 2003. Prevalensi DM terendah di Papua (1.99 Prevalensi TGT. Prevalensi DM tertinggi terdapat di Kalimantan Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11. Prevalensi TGT tertinggi di Papua Barat (21. Pengambilan darah vena sebanyak 15 cc dilakukan setelah dua (2) jam pembebanan.99 memperlihatkan prevalensi TGT dan total DM pada penduduk perkotaan Indonesia.100 Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu dan Diabetes Mellitus menurut Provinsi di Daerah Perkotaan. Prevalensi total DM 5.5%).7%. tetapi responden yang telah mengetahui dirinya menderita DM (DDM) hanya 1. segera disentrifus dan diambil serumnya. diikuti Sulbar (17. dan Sulut (17.5% UDDM** 4. darah didiamkan selama kurang dari 30 menit. Riskesdas 2007 156 . dan persentase responden yang belum mengetahui bahwa dirinya menderita DM – baru terdiagnosis dalam Riskesdas ini – yang dalam laporan ini disebut Undiagnosed Diabetes Mellitus (UDDM).9%) .7%).8%). Riskesdas 2007 TGT Penduduk perkotaan Indonesia 10. DM. Secara umum prevalensi TGT yang didapat dalam penelitian ini hampir dua (2) kali prevalensi DM.6%).5% (kira-kira 26% dari total DM). atau dalam laporan ini disebut Diagnosed Diabetes Mellitus (DDM). Tabel 3.2% DDM* 1. yaitu kadar glukosa darah dua jam pembebanan: < 140 mg/dl 140 . sedangkan terendah di Jambi (4%).< 200 mg/dl > 200 mg/dl : Tidak DM : Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) : Diabetes Mellitus (DM) Tabel 3.2% Total DM*** 5.8%). baru terdiagnosis saat pemeriksaan Riskesdas) ***Total DM = DDM + UDDM Tabel 3. diikuti NTT (4. Setelah diambil. diikuti NTT (1. Angka total DM merupakan gabungan dari persentase responden yang sudah mengetahui bahwa dirinya menderita DM.100 menunjukkan prevalensi TGT dan DM pada penduduk urban Indonesia menurut provinsi. Tabel 3. Sisa darah dikirim ke Laboratorium Balitbangkes Jakarta untuk pemeriksaan variabel lainnya.4 %) dan NAD (8.1%).3%). Serum (300 µl) segera diperiksa (< 4 jam) untuk mengetahui kadar glukosa darah menggunakan alat kimia klinis otomatis atau fotometri.7% *DDM = Diagnosed Diabetes Melltus (Responden sudah mengetahui dirinya DM) **UDDM = Undiagnosed Diabetes Mellitus (Responden belum mengetahui dirinya menderita DM. diikuti Riau (10.

0 8.0 4.2 3.7 Total DM (%) 8.4 5.0%).0 11.9 6. DM lebih banyak dijumpai pada perempuan (6. Ditinjau dari segi pendidikan.3 4.4 6.1 5.9.4 3.5 8.4 4. Menurut jenis pekerjaan.7 10.3 9.7 Indonesia 10. Riskesdas 2007 157 .7 Tabel 3.8 7.8 5.6 6.1 8.3 3. Tabel itu menunjukkan DM dan TGT meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.5 1.6 4.5%) lebih tinggi dibanding lakilaki (8.8 5. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 3.6 4.2 17.3 7. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok ibu rumah tangga dan tidak bekerja.0 6.1 10.1 5.2 5.5 12.0 6.6 3. demikian juga TGT pada perempuan (11.9 12. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok tidak sekolah dan tidak tamat SD.6 10.2 5.6 10.4%) dibanding lakilaki (4. prevalensi DM danTGT meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkat pengeluaran.2 14.8 13.7%).7 17.6 3.1 1. diikuti pegawai dan wiraswasta.2 7.1 10.0 7. Tabel 3.3 9.Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua TGT (%) 12.3 9.2 8.3 6.5 5.3 6.8 11.3 8.9 21.3 8.1 4.101 Prevalensi TGT dan DM Menurut Karakteristik Responden.8 6.2 6.101 menggambarkan prevalensi TGT dan DM berdasarkan karakteristik responden.5 4.8 11.0 7.3 8.7 3.4 11.7 4.

9 8.3% Kadar Glukosa Darah 140 .0 Petani/nelayan/buruh 10.9 6.0 12.1% 17.102 Persentase Kadar Glukosa Darah Responden DDM Setelah Dua Jam Pemberian Makanan Cair 300 Kalori.9 5.0 10.7 Perempuan 11.1 Kelompok umur (tahun) 5.1 4.5 4.6 1.9 Tamat SMA 9.102 memperlihatkan persentase kadar glukosa darah responden yang telh mengetahui dirinya menderita DM.5 35 – 44 12.8 Tamat PT Pekerjaan 12.4 Kuintil-3 10.9 Tidak sekolah 12.5 Sekolah 11. yaitu 75.0 5.3 5.8% 158 .6 6.3 Lainnya Tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita per bulan 8.8 45 – 54 15. setelah dua jam pemberian makanan cair 300 kalori.3 15 – 24 6.9 5.6 Pegawai 9.8 9.9 25 – 34 11.0 7.4 8.5 Kuintil-5 Tabel 3.< 200 mg/dl >= 200 mg/dl 17.9 1.0 5.6 Tamat SMP 8. Riskesdas 2007 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan < 140 mg/dl 33.3 55 – 64 17.8 5.0 4.0 5.9 Wiraswasta 6.8 65 – 74 21.5 14.1% 15.9% (kadar glukosa > 140 mg/dl).7 75 ke atas Jenis kelamin Laki-laki 8.4 Tamat SD 9.5 Pendidikan 13.9% 66. Tampak bahwa masih banyak di antara mereka yang kadar gula darahnya tidak terkontrol.1 Kuintil-4 10.5 13.5 4.8% 49.8 Kuintil-1 8.Karakteristik TGT (%) Total DM (%) 0.7 Ibu rumah tangga 10.6 Tidak bekerja 6.9 2.3 Tidak tamat SD 10.9 Kuintil-2 10.3 7. atau disebut Diagnosed Diabetes Mellitus (DDM).4 4. Tabel 3.

7 5.3 9.1 9.104 Prevalensi DM dan TGT Menurut Kebiasaan Makan Sayur Buah dan Aktifitas Karakteristik Sayur Buah > 5 porsi/hari < 5 porsi/hari TGT 10. Tabel 3.1 11.7% 59.3 9.1 8.1 15.3 16. juga pada responden dengan obesitas sentral.3 10. Obesitas Abdominal dan Hipertensi Karakteristik Responden IMT Kurus Normal BB lebih Obesitas Obesitas sentral Tidak obesitas sentral Hipertensi Tidak hipertensi TGT 10.9 9.7 4.1% 16.0 9.7 Aktifitas Fisik Cukup Kurang 159 . Prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan yang tidak hipertensi.5 10.103 menunjukkan bahwa prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada yang mempunyai berat badan lebih dan obesitas.9 5.103 Prevalensi TGT dan DM Menurut IMT. juga pada responden dengan obesitas sentral. Prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan yang tidak hipertensi.2% Tabel 3.4 Perut Hipertensi Tabel 3.4 7.1 12.4 DM 3.Total 24.2 DM 4. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok yang mempunyai aktifitas fisik kurang Tabel 3.3 15.0 3. Menurut aktifitas fisik.0 4.103 menunjukkan bahwa prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada yang mempunyai berat badan lebih dan obesitas.7 4. Tabel 3.104 menunjukkan prevalensi DM dan TGT kurang lebih sama pada kelompok yang mengkonsumsi sayur buah < 5 dan ≥5 porsi/hari.

Pembagian katagori bagian tubuh yang terkena cedera didasarkan pada klasifikasidari ICD-10 (International Classification Diseases) yang mana dikelompokkan ke dalam 10 kelompok yaitu bagian kepala. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Bengkulu 44.2% kemudian Provinsi DI Yogyakarta 43.9%.8% . leher. Prevalensi jatuh paling besar terdapat di Provinsi DKI Jakarta 67.6%. Ada 14 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional.punggung. Sedangkan untuk penyebab cedera yang lain bervariasi tetapi prevalensinya rata-rata kecil atau sedikit. panggul). dada. Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Nusa Tenggara Timur (12. pergelangan tangan dan tangan.0% yang diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur 64. diperoleh prevalensi cedera secara keseluruhan antara 3. Nusa Tenggara Timur. Jumlah responden yang ditanyakan tentang cedera sebesar 973. Tabel 3.7% melebihi angka prevalensi Nasional yaitu 20. Banten. Urutan penyebab cedera terbanyak adalah jatuh. Papua Barat. Penyebab cedera yang sedikit menonjol adalah penyerangan.8%). Sedang prevalensi yang terkecil terdapat di Provinsi DI Yogyakarta yaitu 45.1%). Sulawesi Barat.2%).1%).2% di mana reratanya 25. Ditemukan prevalensi kecelakaan transportasi di darat antara 14. Cedera yang ditanyakan adalah yang dialami responden selama 12 bulan terakhir dan kepada semua umur. siku dan sekitarnya (siku dan lengan bawah). Adapun untuk penyebab cedera jatuh menunjukkan prevalensi meningkat pada umur muda kemudian menurun dan merambat meningkat lagi di umur tua. tumit dan kaki.1%).44. Tabel 3.6% dan terendah ditemukan di Provinsi DKI Jakarta 8. Kalimantan Selatan (12. Ada 11 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional yaitu DKI Jakarta. Penyebab cedera lain hampir merata di setiap provinsi. menunjukkan angka prevalensi tertinggi sekitar 5. Ada 15 provinsi yang prevalensi cederanya di atas angka prevalensi Nasional antara lain Nusa Tenggara Timur (12.8%.525 orang.106 menunjukkan bahwa untuk prevalensi cedera menurut kelompok umur yang menduduki peringkat tertinggi adalah umur 5-14 sekitar 9. Maluku.0%).9%.4%. Responden pada umumnya mengalami cedera di beberapa bagian tubuh (multiple injury).0%.9%). Gorontalo (11.105 memberikan gambaran bahwa dari 33 provinsi di Indonesia. Rerata penyebab cedera karena jatuh 58. Jawa Timur.6. perut dan sekitarnya (perut.3.1% dan diikuti oleh kelompok 15-24 (9.0%).3%. Ada 18 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional.5%.8%-12. sedang yang terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur 14. Prevalensi penyebab karena jatuh tertinggi terdapat pada kelompok umur di bawah 14 160 . Jawa Tengah. kecelakaan transportasi darat dan terluka benda tajam/tumpul. DKI Jakarta (10. dan Jawa Barat. Kelompok umur lainnya hampir merata kecuali pada bayi (kelompok umur < 1 tahun). Sulawesi Tenggara.1 Cedera Kasus cedera Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan wawancara.9%) sedangkan yang terendah terdapat pada Provinsi Sumatera Utara (3. Yang dimaksud cedera dalam Riskesdas 2007 adalah kecelakaan dan peristiwa yang sampai membuat kegiatan sehari-hari responden menjadi terganggu.9%. lutut dan tungkai bawah. dan Papua Barat (10.6 Cedera dan Disabilitas 3. selebihnya di bawah 10 %.2% terdapat di Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Papua 4. Sulawesi Tengah (10. bahu dan sekitarnya (bahu dan lengan atas). Adapun untuk prevalensi terluka karena benda tajam/tumpul paling tinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Tengah 33.9% dengan rerata 7.

Bila dilihat dari jenis pekerjaan.9% di provinsi Kepulauan Riau.tahun kemudian di atas 75 tahun.8% di Provinsi Nusa Tenggara Barat.4% di Provinsi Papua Barat. Prevalensi cedera yang disebabkan oleh kecelakaan transportasi di darat tertinggi pada mereka yang pegawai (53.6% di Provinsi Kalimantan Barat. Penyebab cedera lainnya merata pada laki-laki dan perempuan. diperoleh sebanyak 9.9%) terdapat pada kelompok umur 15-24 tahun. prevalensi cedera merata pada semua tingkat pendidikan hanya sedikit lebih banyak pada responden yang tidak tamat SD.6%) ditemukan pada responden yang bertempat tinggal di desa.5% di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Jika ditinjau dari lokasi tempat tinggal prevalensi cedera tidak ditemukan perbedaan yang berarti antara perkotaan dan pedesaan. Prevalensi cedera yang disebabkan benda tajam/tumpul tertinggi terdapat pada kuintil 2 (21.3% di Provinsi Nusa Tenggara Barat. bagian dada 8. Prevalensi cedera tertinggi karena kecelakaan transportasi di darat terdapat pada kuintil 5 (34. bagian bahu/lengan atas 14. 161 . Prevalensi tertinggi terdapat pada mereka yang tamat perguruan tinggi (50.106 juga menampilkan prevalensi cedera menurut tingkat pengeluaran perkapita per bulan. Hal tersebut menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan besaran prevalensi cedera menurut status ekonomi. bagian tumit dan kaki 30.5% di Provinsi Kalimantan Selatan.3%). Jika dilihat dari tingkat pendidikan. cedera terbanyak pada laki-laki dan penyebab cedera karena kecelakaan transportasi di darat juga terdapat pada laki-laki sedangkan penyebab cedera jatuh dan karena benda tajam terbanyak pada perempuan.6% di Provinsi NAD. bagian leher 3.5%) dan terendah pada yang tamat perguruan tinggi (36.9%).0%) dan terendah pada yang bekerja sebagai pegawai 37. Prevalensi tertinggi pada responden yang tidak sekolah (64. Sedang penyebab cedera karena jatuh berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan yaitu semakin meningkat tingkat pendidikan maka prevalensi jatuh semakin menurun. Prevalensi penyebab cedera akibat kecelakaan transportasi di darat mengelompok pada umur antara 15 – 54 tahun dan prevalensi yang lebih tinggi (47.4%.3% cedera terdapat pada mereka yang masih sekolah dan yang terendah pada ibu rumah tangga (4. Namun jika dilihat dari penyebab kecelakaan maka didapatkan bahwa prevalensi cedera karena kecelakaan transportasi di darat terdapat di kota sekitar 30.0%) dan terendah pada mereka yang tamat perguruan tinggi.4%) sedangkan penyebab cedera tertinggi karena jatuh terdapat pada kuintil 1 (63.7%).5% di Provinsi Papua. bagian pergelangan tangan dan tangan 38. Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa prevalensi cedera hampir sama atau seimbang tingkat pengeluaran antara kuintil 1 sampai dengan kuintil 5. Akan tetapi prevalensi cedera karena jatuh (58.2%) dan terendah pada yang tidak sekolah (13. bagian pinggul/tungkai atas 11. bagian lutut dan tungkai bawah 47. Secara umum.2%) yang diikuti pada mereka yang bekerja sebagai wiraswasta (45.2% dan terendah pada pegawai 15.4%). Prevalensi cedera yang disebabkan benda tajam atau benda tumpul terdapat pada mereka yang berpendidikan tamat SD (26.107 menunjukkan prevalensi tertinggi bagian tubuh yang terkena cedera berdasarkan provinsi sebagai berikut: bagian kepala 18.8%). Tabel 3.5%) dan terluka benda tajam dan tumpul (23.7%. Prevalensi cedera karena terluka benda tajam atau tumpul tertinggi pada ibu rumah tangga 32.5% di Provinsi DKI Jakarta. bagian perut/punggung/panggul 14.6%) dan terendah pada ibu rumah tangga (19. Penyebab cedera karena jatuh terdapat pada mereka yang masih sekolah (63. bagian siku/lengan bawah 29. Tabel 3. Penyebab cedera yang lain hampir sama pada semua tingkat pendidikan. Penyebab cedera karena kecelakaan transportasi di darat meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkat pendidikan.3%.7%).

Berdasarkan tabel 3. Prevalensi tertinggi sekitar 33. Selanjutnya untuk cedera di bagian pinggul dan tungkai atas kebanyakan diderita oleh kelompok 75 tahun keatas (15. Sulawesi Utara (16.4%.Beberapa provinsi yang prevalensi cedera di bagian kepala dan di atas angka prevlensi Nasional adalah Provinsi Kepulauan Riau (18. dada. dada. Prevalensi bagian tubuh yang mengalami cedera di kepala. Sekitar 19 provinsi yang prevalensi jenis cedera luka lecet di atas angka rerata Nasional. siku. kelompok umur 15-24 tahun dan yang dialami oleh kelompok 75 tahun ke atas . perut (7.0% dan 20.4%).3%) kebanyakan mempunyai tingkat pendidikan tamat SMA yang diikuti responden yang tamat SMP (11. hanya prevalensi tertinggi bagian tubuh terkena cedera untuk bahu dan siku pada kuintil 5. (15. Rerata prevalensi jenis cedera luka terbuka sebesar 25. Untuk cedera di bahu seimbang antara umur < 1 tahun. Maluku. Sedang cedera pada lutut dan tungkai bawah terdapat pada responden yang masih sekolah (43. Adapun untuk cedera di lutut sebagian besar dialami kelompok umur 5-14 tahun (46. (6. Gorontalo.3% terdapat pada Provinsi Sulawesi Tengah. bahu.108 menggambarkan bahwa cedera di bagian kepala. Cedera pada dada (3. NAD (17. DI Yogyakarta (16.1% .109 memperlihatkan bahwa rerata prevalensi jenis cedera karena benturan adalah 42.2%). tumit dan kaki kebanyakan pada laki-laki dibanding perempuan. (3. pergelangan (28.7%). lutut/tungkai bawah.7%).8%. (11.6%).7%). Untuk cedera di dada (3. Tabel 3. Sedang prevalensi tertinggi cedera pada pinggul terdapat pada kuintil 3 dan cedera pada lutut pada kuintil 4.1%).2%.3%). Ditinjau dari lokasi tempat tinggal responden. Papua Barat (18. Perbedaan yang agak menyolok terdapat pada cedera di bagian siku/lengan 20.1%).9%).5%. Sulawesi Utara. masing-masing 12.4%. Papua (16.8%) terbanyak pada jenis pekerjaan petani/nelayan/buruh sedangkan prevalensi cedera di bagian perut kebanyakan pada ibu rumah tangga (9. Untuk dicedera di bagian perut kebanyakan pada responden yang tidak sekolah (11. bahu/lengan atas didominasi oleh kelompok umur < 1 tahun masing-masing sebanyak (50. Jika dilihat dari tingkat pendidikan ditemukan bahwa prevalensi responden yang mengalami cedera di kepala (12.8%.8%).3%) dan pada mereka yang bekerja sebagai petani/buruh (9.0%). Rerata prevalensi cedera akibat luka lecet sebesar 50. Prevalensi responden yang mengalami cedera di kepala. cedera lainnya hampir berimbang di setiap tingkat pendidikan.6%) dan pinggul (6. Sedangkan cedera di bagian tangan tertinggi di kelompok 25-34 tahun sebesar 34.7%).6%). dan Papua.6%).0%). Leher. Prevalensi cedera di kepala tertinggi dialami oleh responden yang bekerja lainnya (13.6% dibanding 14. leher seimbang antara perkotaan dan perdesaan.9%. Prevalensi tertinggi 60.5%). dada dan perut menurut tingkat pengeluaran perkapita per bulan menunjukkan bahwa untuk kuintil 1 sampai dengan kuintil 5 terlihat hampir seimbang.2 % yang terdapat Provinsi Kalimantan Barat.1%). Sumatra Selatan (16.9%). Selebihnya provinsi-provinsi yang lain prevalensinya di bawah 15%. Cedera pada pinggul/tungkai atas terbanyak pada ibu rumah tangga 36. Prevalensi cedera di bagian siku tertinggi diderita oleh responden yang berusia 15-24 tahun dan kelompok umur 5-14 tahun masing-masing 24.7%) dan kelompok umur 1-4 tahun (43.5%). Prevalensi jenis cedera karena benturan tertinggi adalah 47. perut/punnggung/panggul.0%) diikuti yang tidak bekerja dan wiraswasta. Ada 5 provinsi yang angka prevalensi jenis cedera benturan di atas angka rerata secara Nasional yaitu di Provinsi Sulawesi Selatan. prevalensi cedera pada kepala.3%).9%).1% terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan yang diikuti oleh Provinsi Maluku (46. leher.3%) kebanyakan pada responden yang bermukim di perdesaan. Ditemukan sebanyak 13 provinsi yang angka prevalensinya di atas 162 . Jambi (16.

dan lebih banyak di perdesaan. Ditemukan sebanyak 14 provinsi yang angka prevalensinya di atas angka rerata Nasional. Rerata prevalensi jenis cedera anggota gerak terputus (amputasi) 1.3%).0%. keracunan 1. dan lainnya 1. Menurut kelompok umur. Sebanyak 16 provinsi mempunyai angka prevalensi di atas angka rerata Nasional. Tabel 3. Kejadian keracunan lebih sering dijumpai pada kelompok umur 75 tahun ke atas. 163 .0%.angka prevalensi Nasional. Rerata prevalensi jenis cedera luka bakar relatif kecil yaitu 2.0%.110 menunjukkan jenis cedera berdasarkan karakteritik responden. prevalensi luka bakar paling banyak dijumpai pada kelompok umur di bawah satu tahun/bayi (3. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi NAD dan Kepulauan Riau sama-sama 3.6%.9%. lebih sering pada laki-laki.8% . Rerata prevalensi jenis cedera yang lain relatif kecil. Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Maluku Utara yaitu 9. Rerata prevalensi jenis cedera patah tulang 4. Rerata prevalensi jenis cedera terkilir/teregang 20. Tertinggi terdapat pada Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 36.2%.5%.5%.

6 0.7 54.0 0.0 0.1 0.9 21.2 0.1 0.3 24.8 24.6 0.5 1.0 0.8 61.2 0.8 1.0 0.1 0.1 0.0 0.3 1.4 0.3 0.8 0.0 0.0 0.7 3.9 0.2 35.1 19.1 0.9 4.0 0.8 33.0 0.2 6.2 0.2 1.0 1.2 0.5 64.3 4.1 0.3 0.0 0.2 0.0 0.9 1.2 0.1 0.0 4.1 0.0 0.0 0.2 0.7 18.1 0.4 1.2 Asfik0.2 3.9 15.1 55.I Y Jatim Banten Bali N.1 Kontak racun 1.0 0.9 10.3 0.2 2.0 6.0 0.6 Terbakar 2.5 0.7 0.2 0.7 4.1 0.9 55.0 12.0 0.0 0.8 0.7 14.2 30.4 1.5 0.0 0.5 7.1 0.7 19.3 31.1 0.5 0.4 9.3 64.9 22.7 1.2 radia si 1.2 0.1 0.2 21.5 0.6 57.2 0.4 10.6 58.8 16.7 1.7 9.9 0.1 0.0 0.7 57.0 0.1 0.5 1.2 8.6 0.0 0.7 0.9 0.1 0.1 2.1 56.3 1.1 0.0 3.7 1.1 0.0 0.0 0.4 0.0 0.T.0 1.1 0.9 laut 0.2 0.0 0.8 0.1 0.4 31.5 0.2 1.T Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Malut Papua Barat Papua Indonesia Cedera 5.0 14.2 0.7 0.1 2.5 1.1 0.5 0.5 Jatuh 48.6 0.5 darat 35.1 0.0 0.4 0.3 0.0 0.1 53.5 0.2 0.4 7.0 0.2 0.0 0.9 1.0 2.1 0.3 0.6 15.6 0.2 udara 1.2 Bunuh diri 0.3 1.5 22.0 0.8 1.0 0.0 0.0 0.1 0.2 0.5 0.6 23.2 0.6 Serangan 2.1 16.9 0.1 0.4 0.7 2.8 0.3 5.0 0.7 27.1 Lainnya 2.1 0.4 0.4 1.2 0.1 1.2 0.7 4.3 58.1 0.6 2.0 0.7 164 .5 4.0 0.1 56.2 60.1 53.8 7.5 0.4 0.1 0.Tabel 3.4 0.4 0.6 0.1 0.9 4.4 67.0 0.8 25.3 0.2 0.6 22.7 5.8 1.9 1.2 0.2 0.3 0.4 0.0 1.105 Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera Menurut Provinsi.1 0.0 0.0 0.1 9.6 0.4 0.2 0.0 0.2 0.1 10.1 3.0 0. Riskesdas 2007 Penyebab cedera Karakter si it k R es p o n d e n NAD Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Ba-Bel Kep.7 7.0 0.0 0.1 44.3 15.1 0.8 17.1 0.2 0.1 0.0 0.2 2.2 3.8 0.0 0.3 0.0 0.3 0.6 0.5 7.9 0.4 senja ta api 0.0 4.7 9.8 9.7 0.4 21.4 0.2 3.4 0.4 0.2 0.3 0.0 28.2 0.0 0.0 0.5 0.0 0.0 0.2 1.1 Tenggelam 0.1 0.1 0.0 1.8 3.2 1.1 3.2 0.8 1.5 0.4 12.2 15.7 56.8 17.1 0.8 27.0 0.6 17.6 0.3 25.0 0.3 3.3 0.0 0.1 0.2 0.3 64.9 1.4 29. Riau DKI Jabar Jaten D.3 0.4 0.4 31.0 0.0 16.2 0.0 0.0 0.1 0.0 2.5 1.0 0.9 3.0 8.6 1.7 24.1 0.2 0.5 19.5 31.9 4.3 0.7 0.1 0.6 9.7 61.1 0.3 0.0 0.2 1.7 12.4 0.0 0.4 0.9 0.3 6.8 3.1 0.0 0.5 11.6 5.8 62.2 3.9 15.0 0.1 0.2 0.0 16.1 0.3 0.9 0.8 0.8 1.3 0.2 1.5 0.1 0.5 8.9 20.8 1.5 0.7 50.0 0.1 9.7 22.6 0.1 0.6 0.1 0.3 0.4 1.4 45.2 0.2 0.9 1.4 0.4 1.2 0.3 1.2 0.2 0.1 0.1 0.1 0.1 0.4 0.9 4.8 0.1 30.2 0.1 0.2 0.1 0.9 33.5 1.2 0.4 1.2 0.3 0.0 0.7 1.1 0.7 2.0 0.9 0.2 0.1 0.9 30.8 49.1 0.7 0.9 Bencana alam 1.7 0.4 3.6 0.1 0.0 0.3 0.3 0.3 5.1 51.2 0.1 0.6 56.4 1.3 0.7 0.B N.4 0.1 0.1 0.0 63.0 0.0 0.9 0.4 0.1 1.0 0.2 0.5 0.4 1.4 0.1 0.3 0.0 0.7 32.2 0.8 23.2 0.8 0.0 0.2 30.7 1.0 27.7 0.3 0.1 0.3 57.4 0.3 0.1 0.2 0.1 0.1 0.0 0.8 0.0 0.0 0.3 0.2 8.9 0.2 0.1 0.4 0.2 0.1 0.0 0.4 6.0 0.1 0.5 0.6 1.8 1.2 0.0 0.1 0.1 0.1 0.2 0.2 5.4 0.0 0.3 0.7 0.0 0.0 0.1 4.3 3.5 0.9 2.1 0.3 0.1 0.6 1.3 2.5 25.2 0.1 0.0 0.0 4.4 62.1 0.2 24.0 58.1 50.9 1.0 0.0 0.0 0.1 7.9 0.T.1 0.0 0.2 2.0 0.3 0.9 24.7 43.3 53.6 12.1 25.8 30.1 0.2 0.9 1.2 5.0 Sajam /tumpul 18.3 0.4 57.1 0.6 29.7 30.8 1.0 0.0 31.9 0.8 0.8 29.1 0.5 0.1 0.1 Komplikasi 0.0 0.9 4.1 7.1 0.1 50.2 0.8 16.9 7.1 0.2 0.8 5.

3 0.7 13.4 4.4 31.5 62.5 67.6 78.6 0.5 2.2 0.2 0.5 50.3 Tamat SMP 7.3 0.0 0.3 0.1 1.0 0.1 0.1 0.3 0.0 0.1 0.1 0.0 0.3 0.1 0.1 0.5 1.0 24.1 0.1 0.3 0.0 3.0 0.1 0.3 1.4 19.106.3 1.3 1.5 Sekolah 9.0 0.4 0.5 1.1 0.2 3.4 0.3 0.0 0.3 34.6 0.5 0.3 0.1 1.4 Pegawai 6.9 76.1 0.3 0.3 0.9 1.9 1.5 41.3 1.8 3.2 0.5 63.1 0.1 0.1 0.1 1.1 0.1 0.1 1.9 19.1 1.1 0.9 1.8 Kelompok umur (tahun) <1 2.0 0.5 Tingkat Pengeluaran rumah tangga perkapita Kuintil 1 7.1 0.5 1.3 senjata api 0.1 0.5 Lainnya 8.1 Tenggelam 0.1 36.2 0.7 1.5 1.8 0.9 0.8 0.6 19.4 0.4 88.1 1.1 0.2 0.2 0.4 4.1 0.8 Bencana alam 0.1 0.3 0.1 Penyebab cedera Kontak racun 0.5 4.1 19.1 0.2 0.8 1.7 59.1 0.2 0.1 0.2 45.107 Prevalensi Cedera Menurut Bagian Tubuh Terkena dan Provinsi.4 4.2 0.0 0.0 0.3 1–4 7.0 1.3 17.0 52.8 0.2 0.1 0.2 0.2 1.0 1.9 49.1 0.1 0.1 0.8 4.2 0.1 0.1 1.6 0.7 62.1 0.6 23.1 0.1 12.3 0.2 0.6 3.1 0.5 0.0 4.2 0.7 21.5 0.4 1.2 0.6 20.3 0.2 15.2 0.2 0.1 63.0 0.0 0.4 27.7 0.2 0.1 0.4 Kuintil 2 7.4 22.3 1.2 0.1 0.7 0.2 0.6 2.0 0.2 0.8 19.9 64.2 2.6 0.1 0.3 0.7 0.1 0.3 26.7 1.2 0.2 0.5 1.1 0.2 0.8 0.0 1.4 0.1 0.6 25.1 0.3 0.1 0.5 Pendidikan Tidak sekolah 7.1 0.8 1.1 0.8 1.9 Tabel 3.1 0.0 0.6 Kuintil 4 7.1 0.7 28.3 0.1 0.2 41.2 0.1 0.6 1.5 3.5 28.6 Kuintil 5 7.5 Kuintil 3 7.7 23.1 0.1 0.5 0.1 0.1 0.3 0.1 0.3 0.1 1.5 0.9 0.2 0.7 9.7 75+ 7.0 0.2 0.1 0.7 1.0 0.0 3.2 0.7 0.1 0.4 0.1 0.2 0.1 1.2 0.5 0.2 0.6 42.8 0.1 0.0 13.1 1.2 0.1 0.5 0.2 1.5 3.4 1.9 37.0 47.5 1.2 1.0 0.9 25.1 0.2 0.6 0.0 2.4 42.7 0.0 19.2 0.0 0.3 56.0 0.2 Terradiasi bakar Asfiksia 0.9 4.2 0.7 0.4 58.1 0.1 0.4 55 – 64 6.8 3.1 0.4 5 – 14 9.1 0.1 0.9 0.1 0.2 28.4 14.1 0.1 0.2 4.Tabel 3.6 35 – 44 6.2 4.4 16.4 1.6 0.8 0.1 0.1 0.5 Serangan 0.1 Komplikasi medis 0.8 Wiraswasta 7.2 0.6 15 – 24 9.3 uruh Tempat tinggal Kota 7.2 0.4 0.0 8.7 56.0 0.2 0.5 0.1 0.7 18.1 0.9 3.2 65 – 74 7.8 0.4 0.5 0.0 3.1 0.0 1.5 0.2 0.3 0.4 0. 165 .3 0.0 0.9 0.5 46.2 0.6 Tamat SMA 6.2 31.4 0.9 3.4 1.2 0.1 0.2 0. Riskesdas 2007.3 39.2 0.7 0.5 3.9 20.7 0.0 0.1 0.9 24.2 0.5 27.7 4.1 0.1 0.1 0.0 0.7 1.6 0.5 0.2 0.7 1.5 0.6 Tamat SD 7.2 30.6 21.5 Perempuan 6.1 0.1 1.7 4.5 0.1 0.6 15.9 37.6 1.3 0.3 0.1 0.9 57.0 0.2 0.1 0.1 4.8 19.5 0.0 0.2 0.1 0.4 20.1 0.1 0.7 1.1 1.6 1.3 4.4 19.0 1.6 Tamat PT 5.3 28.1 0.7 3.2 0.3 18.6 0.5 0.1 0.2 0.8 58.1 0.7 36.2 0.0 49.3 51.1 0.6 3.1 Lainnya 5.7 1.1 0.1 0.9 4.2 18.3 1.2 0.4 1.0 0.1 3.1 0.3 1.0 0.5 0. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Cedera darat laut udara Jatuh Sajam /tumpul 3.7 1.2 0.3 0.3 0.3 0.4 1.0 0.7 1.4 Tdk tamat SD 8.5 53.1 0.3 0.4 0.5 0.6 0.2 Bunuh diri 0.2 42.7 54.0 0.9 1.5 Desa 7.5 Petani/nelayan/b 7.0 0.2 0.0 0.4 0.7 15.3 0.6 0.1 21.0 0.1 0.3 0.9 87.3 45.8 0.1 0.2 0.1 0.8 29.1 0.2 11.5 0.2 0.4 45 – 54 6.2 0.0 0.1 0.5 1.2 0.9 1.4 1.6 0.3 1.2 0.1 0.3 0.6 26.9 1.4 42. Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera menurut Karakteristik Responden.2 0.2 0.0 0.8 Jenis kelamin Laki-laki 9.9 4.6 1.1 0.0 3.9 31.3 1.0 21.4 0.1 0.8 Pekerjaan Tidak kerja 8.0 1.6 Ibu RT 4.2 0.6 4.3 40.4 1.2 0.0 0.4 0.1 0.0 0.1 0.2 0.6 25 – 34 6.1 0.7 30.0 0.2 0.9 1.0 0.4 58.1 0.9 0.7 0.7 32.3 0.0 0.1 0.1 0.6 1.1 1.1 0.

4 47.9 5.6 7.4 9.7 20.4 13.4 27.1 7.6 1.9 11.9 6.6 6.6 9.1 7.7 7.6 6.7 29.2 6.0 3.4 166 .4 11.7 20.1 22.5 7.6 5.8 1.7 13.3 5.8 6.7 14.9 14.6 2.8 26.4 5.9 31.8 28.6 1.7 5.0 1.4 1.8 24.9 8.6 25.5 10.7 8.4 15.2 6.2 3.1 1.8 26.9 8.5 1.2 7.3 4.5 2.7 25.0 15.0 23.1 15.3 24.2 4.1 24.3 28.9 25.3 8.5 16.4 0.7 2.8 11.5 23.3 4.4 5.7 23.6 7.3 28.2 7.2 1.0 2.6 6.9 16.1 1.5 24.9 30.6 5.0 21.4 21.6 3.5 24.0 13.3 4.0 0. lengan atas Bagian Tubuh Terkena Cedera Siku.3 6.2 44.0 4.6 5.3 4.2 11.5 7.5 7.3 36.2 35.9 6.2 25.1 3.1 0.8 23.2 11.8 10.4 21.3 5.6 23.9 10.4 9.4 11.5 2.0 36.8 6.1 4.7 22.5 10.8 11.3 27.8 6.0 0. punggung.7 34.6 2.9 15.2 32.9 11.7 45.3 33.6 4.7 10.1 7.3 21.7 5.9 35.4 21.3 23.8 1.0 28.5 5.7 9.6 4.8 2.5 29.6 15.2 18.6 13.4 25.1 6.2 1.1 6.8 38.2 5.7 31.5 34.1 7.2 2.8 27.7 11.3 3.0 19.1 6.5 5.1 3.6 8.2 17.7 7.5 35.8 2.0 21.0 17.8 12.2 1.0 34.0 5.0 4.9 5.1 1.3 8.8 11.0 36.1 4.3 12.3 24.7 17.5 3.8 14.3 7.1 11.6 18.6 17.5 27.9 1.7 31.3 5.1 5.5 6.4 35.2 22.3 37.1 1.3 9.8 20.1 22.5 21.3 26.7 21.0 3.9 32.9 14.7 35.5 7.8 23.5 5.3 6.9 13.8 9.0 23.5 25.2 11.4 23.6 8.9 2.1 2.4 25.6 29.7 30.5 7.0 5.9 23.5 4.4 43.6 39.3 11.7 10.2 3.1 8.1 34.6 36.0 4.6 1.6 9.7 7.4 14.5 28.3 15.8 35.2 1.0 4.6 10.3 12.8 2.8 22.1 12.4 19.7 38.9 0.1 1.1 18.4 26.7 27.2 1.0 16.1 5.7 5.5 0.2 28.0 33.7 6.6 31.5 32.5 6.2 1.9 0.7 13.0 17.1 18.1 6.1 16.8 13. panggul Bahu.8 21.6 24.3 13.9 6.5 3.5 43.1 6.6 4.7 38.7 17.4 9.2 40.3 6.0 27.9 27.0 1.0 18.Kepala Karakteristik Responden Leher Dada Perut.8 13. lengan Pergelangan bawah benda tangan tangan dan tajam/tumpul Pinggul.6 19.7 28.7 21. tungkai atas Lutut tungkai bawah dan Bagian dan kaki tumit NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 17.6 13.4 7.8 1.0 27.0 14.5 5.8 5.5 5.4 2.5 5.7 18.3 37.2 36.3 1.4 1.5 21.6 16.4 28.5 14.7 22.2 15.5 9.4 4.0 2.7 30.5 45.1 37.7 1.1 3.3 14.7 26.6 28.7 15.6 14.0 12.3 30.2 6.

5 Kuintil 2 12.6 Tempat tinggal Kota 13. tungkai atas Lutut tungkai bawah dan Bagian tumit dan kaki Kelompok umur (tahun) <1 50.5 29.1 6.9 2.4 27.2 8.2 17.9 5.3 26.4 17.2 10.3 13.7 31.8 1.1 9.0 6.1 11.5 4.1 35 – 44 10.7 11.2 11.4 55 – 64 11.6 31.6 6.4 wiraswasta 12.5 6.8 Tamat SMP 11. punggung.0 Tidak tamat SD 10.4 28.5 6.1 27.6 6.9 20.7 Lainnya 13.3 5.3 9.2 3.9 31.9 31.2 26.8 6.5 3.0 Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 13.2 Ibu RT 9.0 6.6 20.6 1.9 1.4 29.4 11.3 1.8 8.5 35.5 7.4 6.8 29.0 25.7 24.5 1.6 Pegawai 12.2 2.1 3.2 20.8 20. Riskesdas 2007.7 9.8 27.3 20.3 6.2 18.5 3.6 11.1 3.9 7.8 28.3 13.8 35.0 21.0 31.0 1.4 13.3 3.4 21.2 9.1 37.8 75+ 14.3 46.8 3.9 7.7 3.9 6.6 3.4 Jenis kelamin Laki-laki 14.6 18.4 7.7 15 – 24 11.8 13.5 4.3 5.4 0.6 36.3 6.3 7.3 20.9 5.2 7.3 26.3 29. panggul Bahu.3 8.5 24.7 5.9 3.2 65 – 74 12.5 8.1 2.9 17.5 43.6 19.1 6.7 8.4 18.1 9.8 18.3 26.9 25.3 26.3 25.8 27.6 7.3 1.1 8.8 30.0 26.1 32.9 4.1 9.3 43.7 9.9 26.4 0.9 6.7 Desa 13.7 7.6 1.2 Pekerjaan Tidak kerja 12.1 167 .0 6.3 8.5 32.3 3.4 1.0 18.4 1.4 9.1 8.Tabel 3.3 6.9 3.6 38.1 18. Kepala Karakteristik Responden Leher Dada Perut.5 1.5 1.3 35.4 3.9 16.6 15.7 1.8 36.8 9.6 9.5 1.1 34.2 24.0 1.2 7.5 1.6 2.7 15.7 37.5 6.6 6.4 29.3 5.0 1–4 26.8 23.2 1.7 24.8 23.2 15.5 28.9 25. lengan Pergelangan bawah benda tangan tangan dan tajam/tumpul Pinggul.6 24.2 1.3 6.0 7.6 14.5 25.3 7.5 3.1 17.6 14.0 Kuintil 4 13.9 10.0 7.8 35.6 27.4 1.2 1.4 8.2 29.9 21.3 11.5 Kuintil 5 13.1 11.6 3.8 3.0 3.8 25 – 34 11.4 1.9 13.2 27.4 35.5 2.6 3.4 9.5 2.9 11.4 33.6 14.3 10.8 26.8 45 – 54 11.3 Tamat PT 11.8 12.0 9.4 17.5 3.3 22.7 7.9 8.0 6.9 35.6 5.6 Tamat SD 10.7 Tamat SMA 12.7 Kuintil 3 13.6 3.7 28.9 26.1 27.7 4.3 6.0 6.5 25.9 8.8 27.7 10.6 3.0 6.1 22.7 24.5 1.6 27.6 2.4 33.0 27.9 Pendidikan Tidak sekolah 11.2 5.6 32.7 36.5 7.108 Prevalensi Cedera Menurut Bagian TubuhTerkena dan Karakteristik Responden.2 27.1 3.9 30.1 Perempuan 11.2 8.3 5.4 25.4 26.4 18.4 26.9 25.5 1.0 29.5 35.3 12.7 9.4 1.9 1.9 Petani/nelayan/buruh 10.9 10.1 5 – 14 12.0 17.9 Sekolah 10.6 7.0 7.3 1.3 6.9 26.0 32.0 28.4 1.8 26.5 27.2 9.8 9.3 36.3 25.4 19.6 26.9 37.4 3.1 3.2 3.7 11.5 3.1 27.4 6.8 6.3 1. lengan atas Bagian Tubuh Terkena Cedera Siku.2 2.

6 0.6 3.6 35.4 0.0 1.0 49.8 3.5 3.0 3.9 1.5 35.5 39.8 2.7 0.2 42.4 39.5 0.0 1.5 0.8 2.0 24.7 35.2 2.2 1.4 60.3 .2 0.9 2.9 4.2 0.0 1.1 50.1 21.0 0.4 0.9 2.7 47.2 1.4 47.4 2.7 2.0 1.2 3.7 21.9 0.3 1.5 13.2 19.8 2.3 2.2 57.9 22.4 Luka bakar 3.0 1.6 14.7 31.9 55.1 31.2 0.7 29.9 1.1 22.7 5.7 2.7 1.1 42.3 2.8 22.8 2.9 1.8 19.110 168 .0 14.7 19.5 44.1 15.1 30.5 2.7 7.7 35.7 44.9 2.0 1.7 2.8 53.8 0.0 2.0 3.1 1.2 6.6 4.9 22.9 Patah tulang 8.1 19.2 0.1 2.1 52.9 0.6 46.1 23.4 1.3 3.4 39.7 20.7 23.0 18.4 24.7 4.5 20.5 59.2 2.9 28.7 4.0 5.8 40.7 39.4 4.4 24.4 0.6 1.4 21.6 56.9 40.7 0.4 0.5 58.2 39.0 7.7 1.2 35.1 24.1 29.2 53.7 2.4 0.7 3.5 23.5 5.4 0.3 21.7 0.0 2.5 22.5 0.1 19.3 3.4 16.6 2.0 59.4 1.8 25.8 2.6 1.0 30.7 4.5 35.109 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Provinsi.2 39.7 13.3 0.1 2.7 49.6 4.8 2.6 0.2 33.6 42.5 0.0 28.2 29.6 12. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Bentu ran 35.6 1.2 35.1 30.3 1.8 40.5 0.6 0.6 1.0 3.0 2.8 34.0 2.0 37.4 0.1 14.4 Luka lecet 50.6 2.9 2.2 2.8 23.4 31.5 20.6 3.0 1.3 1.6 2.6 54.8 13.1 7.6 0.2 23.4 4.3 1.6 29.4 9.5 Anggota gerak terputus 1.5 56.5 0.7 .0 0.7 9.6 1.7 0.8 3.5 30.1 17.1 7.5 0.3 1.5 21.4 0.8 1.5 3.3 0.9 0.5 Tabel 3.8 Luka terbuka 23.6 25.6 0.1 0.2 39.3 2.0 0.0 30.0 45.6 53.4 1.1 15.5 38.9 4.2 12.2 5.3 1.9 49.4 20.0 Lainnya 1.6 1.1 4.7 23.3 16.7 12.6 1.3 55.9 11.5 27.9 1.8 1.0 37.2 3.7 1.8 2.8 46.5 0.5 2.Tabel 3.2 2.6 2.1 29.9 58.2 35.1 1.0 3.4 23.7 28.1 2.6 1.4 28.1 1.1 36.6 4.6 53.2 45.3 4.3 51.5 39.5 0.9 1.5 18.5 0.0 0.4 53.0 Keracunan 0.5 4.5 45.6 0.8 3.4 2.3 29.3 49.4 27.6 0.2 Terkilir / teregan g 31.8 45.9 2.6 3.6 26.6 4.3 55.

7 1.6 2.5 52.9 1.3 1.9 4.1 28.8 2.3 62.2 2.3 2.4 34.4 0.7 0.5 23.3 1.3 169 .4 0.0 13.1 2.6 2.0 0.8 3.8 22.4 2.2 1.8 2.1 3.5 22.5 2.0 24.8 1.1 2.5 41.1 5.0 5.6 35.7 0.1 22.3 0.3 2.3 Ibu RT 33.5 52.9 25.8 25 – 34 36.0 34.2 47.2 13.8 1.1 1.0 1.9 53.9 57.1 24.8 0.4 2.8 Tamat SMA 39.7 21.6 2.0 2.8 23.8 20.4 Anggota gerak terputus 0.6 20.7 0.7 0.1 0.4 2.5 2.7 33.1 1.9 7.1 29.1 2.1 3.4 Luka bakar 3.9 1.8 1.1 1.5 4.7 26.7 27.0 0.6 2.7 0.1 27.7 0.7 1—4 39.5 49.4 47.0 22.2 2.9 1.2 2.2 1.1 23.3 20.2 2.1 Tamat PT 41.0 46.4 4.7 1.0 Tidak tamat SD 36.8 1.5 1.3 22.8 48.2 2.0 Perempuan 36.8 Keracunan Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 49.3 16.2 Jenis kelamin Laki-laki 37.7 Kuintil 4 37.5 6.1 32.1 4.5 0.8 29.6 2.3 22.0 20.1 0.0 31.7 22.1 6.3 0.8 23.3 Lainnya 40.1 61.5 30.7 Terkilir.8 5.0 1.1 2.1 0. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Benturan Luka lecet Luka terbuka 3.6 0.5 51.2 2.2 50.3 21.4 2.5 wiraswasta 39.6 Kuintil 2 37.5 1.5 28.0 1.3 22.0 1.8 28.3 0.9 21.4 21.8 2.7 45 – 54 37.3 25.8 8.3 2.1 23.3 Kuintil 3 36.4 Pekerjaan Tidak kerja 39.3 7.1 1.0 0.3 28.4 23.7 Pegawai 42.9 1.1 24.2 4.5 22.7 Patah tulang 1.8 Sekolah 36.1 50.0 2.5 5.0 1.5 0.1 28.9 2.9 2.7 3.Prevalensi Jenis Cedera Menurut Karakteristik Responden.0 Tamat SD 36.7 Pendidikan Tidak sekolah 39.3 0.2 2.4 2.6 5.5 58.2 Desa 36.0 23.5 22.3 47.1 4.4 4.6 1.6 0.5 2.8 5 – 14 35.7 21.1 1.2 21.2 20.3 54.4 52.4 27.0 6.0 5.4 27.2 40.5 3.4 2.8 5.6 1.3 35 – 44 36.9 5.2 31.8 1.8 0.0 51.5 5.6 Tempat tinggal Kota 38.4 1. teregang 25.1 2.5 25.8 3.6 27.6 47.4 13.5 2.3 6.9 0.3 2.2 1.4 55 – 64 37.4 25.9 51.1 2.8 2.5 1.7 Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 37.9 25.5 2.0 2.8 1.1 27.0 3.5 21.8 0.7 2.4 26.4 5.7 37.7 0.0 0.4 1.0 Kuintil 5 38.3 1.3 26.5 2.7 0.8 65 – 74 40.5 15 – 24 38.4 4.3 1.6 22.4 46.6 2.8 3.6 75+ 44.8 2.2 2.1 2.7 2.1 0.9 20.4 Tamat SMP 36.2 4.1 2.7 2.1 28.6 1.7 Petani/nelayan/buruh 36.2 1.2 0.6 4.2 1.8 52.4 0.

8 2.2 2.9 6. dan 5) Sangat sulit/tidak dapat melakukan. melakukan aktivitas/gerak atau berkomunikasi.2 Melihat jarak jauh (20 m) Melihat jarak dekat (30 cm) Mendengar suara normal dalam ruangan Mendengar orang bicara dalam ruang sunyi Merasa nyeri/rasa tidak nyaman Nafas pendek setelah latihan ringan Batuk/bersin selama 10 menit tiap serangan Mengalami gangguan tidur Masalah kesehatan mempengaruhi emosi Kesulitan berdiri selama 30 menit Kesulitan berjalan jauh (1 km) Kesulitan memusatkan pikiran 10 menit Membersihkan seluruh tubuh Mengenakan pakaian Mengerjakan pekerjaan sehari-hari Paham pembicaraan orang lain Bergaul dengan orang asing Memelihara persahabatan Melakukan pekerjaan/tanggungjawab Berperan di kegiatan kemasyarakatan *) Bermasalah.8 11. Dalam analisis. dan 5) Sangat berat.7 6. Riskesdas 2007 Fungsi Tubuh/Individu/Sosial Bermasalah* (%) 11.4 atau 5 Dari tabel 3. Tiga pertanyaan tambahan terkait dengan kemampuan responden untuk merawat diri.6 5.3 11.6 9.3 8. 4 atau 5 untuk keduapuluh pertanyaan termaksud. penglihatan jarak dekat.9 5. merasa nyeri/merasa 170 . individu dan sosial.8 8.9 8. Sebelas pertanyaan pada kelompok pertama terkait dengan fungsi tubuh bermasalah. 2) Ringan. yaitu “Tidak bermasalah” atau “Bermasalah”.4 6. 4) Sulit. 4) Berat.2 10.3.111 Persentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Yang Bermasalah Dalam Fungsi Tubuh/Individu/Sosial.7 11. sehingga memerlukan bantuan orang lain. yaitu 1) Tidak ada.5 5. dengan pilihan jawaban 1) Ya dan 2) Tidak. berjalan jauh.6. 3) Sedang. bila responden menjawab 3. penilaian pada masing-masing jenis gangguan kemudian diklasifikasikan menjadi 2 kriteria.111 tampak bahwa penduduk umur 15 tahun ke atas yang bermasalah dalam hal penglihatan jarak jauh. 2) Ringan. Disability and Health (ICF). Tabel 3. Disebut “Tidak bermasalah” bila responden menjawab 1 atau 2 pada 20 pertanyaan inti.2 Status Disabilitas / Ketidakmampuan Status disabilitas dikumpulkan dari kelompok penduduk umur 15 tahun ke atas berdasarkan pertanyaan yang dikembangkan oleh WHO dalam International Classification of Functioning. Responden diajak untuk menilai kondisi dirinya dalam satu bulan terakhir dengan menggunakan 20 pertanyaan inti dan 3 pertanyaan tambahan untuk mengetahui seberapa bermasalah disabilitas yang dialami responden. Sembilan pertanyaan terkait dengan fungsi individu dan sosial dengan pilihan jawaban sebagai berikut.2 4. Tujuan pengukuran ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai kesulitan/ketidakmampuan yang dihadapi oleh penduduk terkait dengan fungsi tubuh.5 5. dengan pilihan jawaban sebagai berikut 1) Tidak ada.5 5. 3) Sedang. Disebut “Bermasalah” bila responden menjawab 3.

Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tertinggi terdapat pada responden yang tidak bekerja.112) Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa prevalensi disabilitas menunjukkan variabilitas menurut karakteristik responden. Prevalensi disabilitas “Bermasalah” tertinggi ditemukan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (27. sedangkan yang terendah pada responden yang sekolah.4%).2%).tidak nyaman. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” ternyata bervariasi menurut pekerjaan responden. Bengkulu (2. Kalimantan Tengah.7%).5%. Semakin rendah tingkat pendidikan penduduk ternyata diikuti dengan prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” yang semakin tinggi. Dalam menilai status disabilitas kriteria “Bermasalah” dirinci menjadi “Bermasalah” dan “Sangat bermasalah”.112 171 . dan napas pendek setelah latihan ringan merupakan disabilitas yang menonjol.3%). Sedangkan yang bermasalah dalam hal membersihkan seluruh tubuh. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Sedangkan provinsi dengan prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” terendah adalah Maluku (1.2%). dan Sulawesi Selatan (2. dan Sumatera Utara masing-masing 1.6%). Kriteria “Sangat bermasalah” apabila responden menjawab ya untuk salah satu dari tiga pertanyaan tambahan. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tidak berbeda menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran perkapita per bulan. dan mengenakan pakaian hanya sekitar 3%. Secara nasional ternyata status disabilitas dengan kriteria “Sangat bermasalah” adalah sebesar 1.113) Tabel 3.9%).5%). Sedangkan provinsi dengan prevalensi disabilitas “Bermasalah” terendah adalah di Provinsi Maluku Utara dan Kepulauan Riau yaitu masing-masing sekitar 10%.8% dan “Bermasalah” 19. Gorontalo (2. Nusa Tenggara Barat (27. Kalimantan Timur. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tertinggi terdapat di Provinsi Papua Barat (2. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” pada perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi disabilitas pada laki-laki. (Tabel 3.4%). Nusa Tenggara Barat (2. (Tabel 3. Sulawesi Tengah (26. Jawa Barat (25.3%.7%).

6 12.8 16.1 1.0 21.5 Tabel 3.8 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1.3 1.8 18.Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Provinsi.5 1.2 1. Riskesdas 2007 Status Disabilitas Sangat Bermasalah Bermasalah (%) (%) 2.9 1.2 17.4 2.1 21.0 2.4 1.4 1.6 26.7 1.6 21.6 23.7 1.6 1.3 17.1 1.0 15.1 14.1 14.1 1.7 1.9 1.7 1.9 15.2 1.4 2.8 25.9 10.3 1.8 19.5 14.9 23.9 2.4 1.7 19.3 1.7 19.1 27.7 18.6 15.7 21.5 2.1 20.9 2.0 1.6 10.6 1.0 27.5 2.3 2.7 14.9 1.4 1.0 10.1 18.113 172 .3 12.7 2.4 22.9 20.

7 17.5 23.4 47.3 20.8 19.6 20.7 1.0 1.2 1.2 2.8 62.2 1.1 30.5 1.8 1.9 .7 30.3 37. Sikap dan Perilaku Pengetahuan.0 4.6 1.7 20.Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Karakteristik Responden.7 26.9 19.8 1.4 21. Swasta.3 50.7 1.4 2.0 29.7 5.8 Bermasalah 14.4 31.4 10.0 1.8 18.5 2.8 1.0 1.1 1.8 23. sikap dan perilaku dalam Riskesdas 2007 ditanyakan kepada penduduk umur 10 tahun ke atas.3 25.0 20. Pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan penyakit flu burung dan HIV/AIDS ditanyakan melalui wawancara individu.5 8.1 19.2 1.0 17.2 1.7 3.8 1.1 20.1 61. Polri) Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Sangat bermasalah 1. Demikian juga perilaku 173 .9 3.8 7.8 18.7 2. Riskesdas 2007 Status Disabilitas Karakteristik Kelompok umur: 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun >75 tahun Jenis kelamin: Laki-laki Perempuan Pendidikan: Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan: Tidak bekerja Sekolah Mengurus RT Pegawai (Negeri.7 Pengetahuan.4 1.9 25.8 18.

Perokok saat ini adalah perokok setiap hari dan perokok kadang-kadang.8%) penduduk laki-laki umur 10 tahun ke atas merupakan perokok tiap hari.0%).1%) dan Gorontalo (32. Persentase tertinggi ditemukan di Provinsi Bengkulu (29. 3.9%) 10 kali lebih banyak dibandingkan perempuan (1.114 menunjukkan bahwa secara nasional persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok tiap hari 24%. Rerata batang rokok yang dihisap per hari paling tinggi di NAD (19 batang). dan porsi konsumsi buah dan sayur. DKI Jakarta dan Jawa Tengah masingmasing 9 batang. klasifikasi aktivitas fisik. Tabel 3.higienis yang meliputi pertanyaan mencuci tangan pakai sabun. Sulawesi Selatan (25. Sulawesi Barat (25.3%). Prevalensi perokok saat ini tertinggi di Provinsi Lampung (34. Hampir separuh (45. Menurut pendidikan.5%).114 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 174 . diikuti dengan Lampung (28.6%). Bagi penduduk yang merokok setiap hari. Juga ditanyakan apakah merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain.8%) dan perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan.116 menunjukkan perilaku merokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap menurut provinsi. Pada perokok kadang-kadang. ditanyakan berapa umur mulai merokok setiap hari dan berapa umur pertama kali merokok. kebiasaan buang air besar. sedangkan yang paling sedikit adalah Bali. mantan perokok atau tidak merokok. Tabel 3.4%).9%).2%).115 menggambarkan perilaku merokok penduduk umur 10 tahun ke atas menurut karakteristik responden. Secara nasional prevalensi perokok saat ini 29. pada saat melakukan wawancara mengenai satuan standar minuman beralkohol. Sedangkan mantan perokok proporsi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 75 tahun ke atas (12. Tidak tampak perbedaan antara rumah tangga yang tingkat pengeluarannya rendah dan tinggi. Bagi mantan perokok ditanyakan berapa umur ketika berhenti merokok. selanjutnya adalah Kepulauan Riau dan Bangka Belitung masing-masing 16 batang. dengan rentang rerata 29% sampai 32%. perilaku konsumsi buah dan sayur. Secara nasional. merokok kadang-kadang. termasuk penduduk yang belajar merokok. Bali (24. Tabel 3. dan pola konsumsi makanan berisiko. digunakan kartu peraga.2% dengan rerata jumlah rokok yang dihisap 12 batang per hari.7% dan kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 17%. disusul Bengkulu (34. proporsi tinggi dimulai pada kelompok umur 15-24 tahun (7. proporsi tertinggi dijumpai pada penduduk tamat SMA (26. persentase penduduk merokok tiap hari tampak tinggi pada kelompok umur produktif (25-64 tahun).3%).7. aktivitas fisik. Pada penduduk yang merokok.8%) dan Jawa Barat (26.3%). Tabel 3.8%). Nusa Tenggara Barat. minum minuman beralkohol.5%) dan Maluku (25. ditanyakan berapa rata-rata batang rokok yang dihisap per hari dan jenis rokok yang dihisap.2%). Sedangkan penduduk kelompok umur 10-14 tahun yang merokok tiap hari sudah mencapai 0. Sedangkan persentase terendah dijumpai di Provinsi Maluku (19. Untuk mendapatkan persepsi yang sama.6%). penggunaan tembakau/ perilaku merokok. pada laki-laki (9. yaitu yang merokok setiap hari dan merokok kadang-kadang.1 Perilaku Merokok Pada penduduk umur 10 tahun ke atas ditanyakan apakah merokok setiap hari. Provinsi-provinsi yang prevalensinya di bawah angka nasional adalah Provinsi Kalimantan Selatan (24.

6 3.8 Tabel 3.6 71.1 2.1 20.1 2.1 2.5 3. Riskesdas 2007 175 .0 3.9 6.8 5.2 69.5 71.8 6.7 24.6 64.3 3.8 26.3 6.8 4.0 23.7 64.0 5.0 3.4 67.1 25.115 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden.8 24.5 2.6 69.6 24.0 3.8 20.9 3.6 22.0 69.3 1.5 5.7 6.6 5.0 3.5 25.5 4.1 4.7 65.0 Perokok kadangkadang 6.5 3.4 24.9 19.9 67.8 1.8 67.8 27.0 63.5 28.1 19.3 64.2 2.8 65.4 67.8 73.4 Perokok setiap hari 23.3 68.9 3.3 23.8 71.9 1.2 69.4 4.1 65.1 4.3 25.6 5.7 64.0 4.8 Bukan perokok 68.6 7.0 5.6 20.3 25.8 4.6 68.3 4.5 70.8 2.8 2.2 64.8 67.3 69.7 5.1 21.8 24.5 22.Perokok saat ini Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tidak merokok Mantan perokok 2.3 7.5 5.5 66.6 5.0 6.4 20.6 6.0 67.2 5.2 21.2 22.2 68.1 20.5 6.1 2.2 23.4 29.5 2.7 23.0 2.1 65.2 3.4 6.6 4.3 3.6 24.9 19.5 71.1 72.5 5.4 5.5 2.6 6.5 5.4 71.3 2.9 2.7 1.8 Nasional 23.5 3.4 24.4 5.7 5.5 4.

3 23.6 4.5 67.3 Tidak merokok Mantan perokok Bukan perokok Perokok setiap hari Perokok kadangkadang 0.7 67.8 27.4 2.6 69.116 Prevalensi Perokok Saat ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.9 Tabel 3.0 30.8 5.4 68.4 5.8 28.4 0.3 1.5 2.7 4.4 3.0 69.6 68.7 74.8 3.4 31.8 2.6 5.1 67.4 24.4 67.7 17.3 6.6 5.Perokok saat ini Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 0.0 65.9 23.0 97.9 12.6 67.7 5.0 9.6 7.9 6.4 5.4 3.3 7.7 2.3 29.9 55.1 6.6 2.5 2.2 23.3 21.6 3.9 3.3 5.2 32.3 5.1 1.1 3.2 25.6 5.8 9.3 72.5 5.0 26.1 5.6 55.8 20.9 66.0 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 21.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 23.0 4.2 61.0 62.9 Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT 26.8 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 45.4 5.7 38.8 1.2 57.6 5.2 6.8 4.5 54.9 94.8 5.3 63.9 1.7 2.4 24. Riskesdas 2007 176 .9 23.8 2.

8 Indonesia 29.7 34.4 32.4 29.3 10.4 14. Prevalensi perokok saat ini mulai meningkat pada kelompok umur 15-24 tahun sampai kelompok umur 55-64 tahun.5 14.7 25. Tabel 3. tetapi rerata jumlah batang rokok yang dihisap 16 batang per hari.1 10.4 13.4 13.9 9. Riskesdas 2007 177 .9 10.2 28.6 25.117 menggambarkan prevalensi perokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap per hari menurut karakteristik responden.4 13.7 13.5 9. walaupun prevalensi hanya 2%.2 26.8 30.8 32.4 11.8 30.4 8.2 27.3 13.9 14.5 14.0 12.2 30.7 30.9 24.1 9.1 16.2 14 saat ini 29.117 Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.2 25.0 27.2 24.7 27.0 12.7 15.3 30.4 31.3 28. kemudian menurun pada umur lebih lanjut.8 9.7 28.1 31.8 29.1 28.0 Tabel 3.7 29.9 30.2 12.5 8.0 13.9 11.4 11.8 12.1 11.4 30.9 27.5 12.3 10.5 26. Berbeda dengan kelompok umur 10-14 tahun.1 34.9 9.Perokok Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Rerata jumlah batang rokok /hari 18.3 25.

7 11.4%). tetapi rerata rokok yang dihisap oleh perokok perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki (16 batang dan 12 batang).7% dan 4.7 11.7 12. yaitu 36.0 27.6 11.4 2.5 28.3 28.7 33.6 12.7 4.7 15.1 12. Tidak tampak adanya perbedaan antara penduduk dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita tinggi dan rendah.0 29. serta di daerah perdesaan.1 12.1 55.3%.6 35.Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Perokok saat ini (%) Rerata jumlah batang rokok /hari 10 12 13 14 13 13 10 13 11.0 26.9 12. Usia mulai merokok tiap hari ini penting diketahui untuk melihat lamanya paparan rokok pada penduduk. Prevalensi perokok saat ini lebih tinggi pada penduduk tamat SMA dan penduduk tidak sekolah.0 36.0 37. Secara nasional persentase usia mulai merokok tiap hari umur 15-19 tahun menduduki tempat tertinggi.4 30.5 34.9 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 29.5 11. Riskesdas 2007 Provinsi Usia mulai merokok tiap hari (tahun) 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 ≥30 Tidak tahu 178 .118 menunjukkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia mulai merokok tiap hari.6 11.0 24.3 12.7 Prevalensi perokok saat ini pada laki-laki 11(sebelas) kali lebih tinggi dibandingkan perempuan (berturut-turut 55.0 11.5 29.6 30.3 30.118 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi.7 12.6 34. Tabel 3. Tabel 3.9 25.6 29.0 38.

4 13.3 2.7 1.7 3.4 22.0 33.2 1.0 38.0 36.2 9. Riskesdas 2007 179 .2 2.7 15.119 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Karakteristik Responden.9 39.2 35.7 32.7 3.7 1.8 15.4 3. Papua menduduki tempat tertinggi (3.1 9.0 5.0 3.0 13. Tabel 3.4% mulai merokok tiap hari pada usia 5-9 tahun.0 9.8 11.6 36.4 36.5 3.1 34.1 27.9 2.6 33.0 13.6 9.9 5.0 3.0 18.4 26.8 2.5 3.8 37.7 39.0 0.0 0.7 36.4 10.5 4.2 26.6 26.1 3.5 46.4 24.0 39.6 19.6 28.9 4.4 20.3 3.2 39.6 9.8 36.1 14.6 29.1 2.9 5.2 5.5 43.0 0.1 27.0 0.9 4. bahkan 1.4 5.3 2.0 Untuk kelompok usia muda (5-9 tahun).6 3.0 0.0 12.0 0.0 30.8 19.9 4.0 0.1 39.4 18.2 6.3 16.0 12.2 3.0 0.6 36.3 12.2 0.4 16.6 38.4 0.9 17.0 8.1 2.0 0.4 3.1 17.2 6.3 1.9 6.0 0.0 0.0 7.3 9.3 40.7 24.0 0.0 0.9 2.9 12.8 0.4 3.3 12. 19% penduduk umur 10-14 tahun sudah mulai merokok tiap hari pada usia 10-14 tahun.7 44.2 8.2 Indonesia 0.3 13.9 35.0 37.119 menunjukkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia mulai merokok tiap hari dan karakteristik responden.3 46.4 6.6 34.6 5.7 5.7 2. Berdasarkan kelompok umur.3 5.3 1.9 1.9 15.6 18.4 3.7 17.1 30.0 0.7 1.5 17.8 17.2 6.7 3.7 59. Tabel 3.6 33.4 35.5 34.4 2.3 36.1 34.0 18.0 0.3 35.4 8.2 5. 30 kali lebih besar dibandingkan dengan angka nasional (0.3 4.3 3.0 24.7 1.5 52.5 29.6 4.2 30.2%).0 0.8 10.4 33.5 26.3 14.4 1.5 28.6 1.0 0.4 21.3 10.8 2.4 13.2 7.6 2.0 10.4 4.2 29.6 11.0 0.0 2.1%).0 0.8 6.0 0.NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.5 44.5 17.4 31.5 2.1 3.3 3.5 40.8 14.7 18.6 10.3 6.4 27.6 0.0 0.1 14.3 33.8 5.8 2.9 10.2 3.8 8.6 36.9 4.3 18.0 0.1 10.9 1.8 24.4 11.8 1.9 11.6 4.5 2.5 29.9 12.3 12.0 0.0 0.8 7.0 18.2 4.8 36.5 3.8 12.8 6.5 1.2 38.8 3.0 0.4 13.1 34.

6 17.0 30.4 40.6 5.1 0.5 21.3 6.3 14.3 29.1 0.5 16.3 44. Riskesdas 2007 Usia pertama kali merokok/kunyah tembakau (tahun) Provinsi 5-9 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau 0.0 57.1 0.6 9.5 10.4 3.5 5.2 27.4 15.1 3.7 10.6 15.7 1.1 0.1 0.2 24.1 0.1 0.0 1.7 7.2 3.9 1.2 180 .5 4.7 9.9 2.0 5.5 18.7 55.0 36.4 4.0 27.1 0.4 ≥30 2.2 9.6 19.1 24.2 19.1 16.2 0.2 15.3 0.8 17.7 34.1 4.6 3.1 8.8 10.4 0.7 25-29 2.8 20-24 11.9 19.0 0.6 34.1 3.5 6.0 17.0 6.1 0.9 8.5 11.1 33.4 0.9 30.6 18.2 14.2 2.1 0.5 4.0 43.9 4.0 3.9 29.5 1.1 35.3 10-14 7.3 8.5 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 ≥30 Tidak tahu Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Untuk setiap kelompok usia mulai merokok tiap hari pada umumnya persentase laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.7 7.9 10.5 3.3 2.2 4.0 4.0 9.1 46.0 3.1 0.9 6.1 0.9 36.0 14.6 10.2 5. Tabel 3.2 11.2 0.9 55.3 22.8 43.7 28.4 4.4 48.6 0.1 0.9 29.3 29. kecuali pada usia 5-9 tahun dan 30 tahun ke atas.0 21.4 9.2 35.1 1.Tidak tampak perbedaan usia mulai merokok tiap hari dilihat dari tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.1 0.4 8.0 10.5 16.1 34.1 7.0 7.7 4.Usia mulai merokok tiap hari (tahun) Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 1.9 38.6 9.1 18.8 7.1 0.8 9.3 16.8 4.6 18.0 0.2 4.4 4.0 45.2 0.3 3.6 4.3 24.2 0.1 3.2 1.9 2.8 2.6 19.9 3.0 7.8 37.9 35.2 4.1 48.2 12.4 15-19 26.0 0.9 6.0 15.5 79.9 0.7 34.5 4.4 7.3 37.1 16.9 29.7 39.5 31.1 11.6 22.7 21.9 0.3 14.120 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/Mengunyah Tembakau dan Provinsi di Indonesia.1 2.3 Tidak tahu 49.1 7.0 33.3 6.1 38.0 32.7 10.1 0.8 1.2 1.

Perokok yang mulai merokok pertama kali pada usia 10-14 tahun terbanyak di Provinsi Sumatera Barat (16.2 16.0 3.4 32.8 3.8 45.0 0.9 2.6 10.4 2. Sulawesi Utara (39.7 3.0 40.8 2.2 9.8 13.9 2.9%).1 37.4 33.8 4.0%).7 10.4 13.8 10.4 11.9 13.5 1. perokok yang mulai merokok pada usia 15-19 tahun tertinggi dijumpai di Bangka Belitung (42. Secara nasional.5 32.5 33.0 11.2 1.8 3.4 1.3 10.4 39.1 2. Bangka Belitung.7%). Menurut provinsi.4 11.8%).5 8. Usia mulai merokok atau mengunyah tembakau mencakup juga penduduk yang baru pertama kali mencoba merokok atau mengunyah tembakau.3 2.2 1.4 27.7 4.9 44.5 13.6 2.1% yang mulai merokok pada usia 5-9 tahun.1 24.7 38.0%).0 8.2 42.9 2.4 1. disusul oleh DKI Jakarta (39.2 Tabel 3.3 32. 181 .7 28.5 6. Jawa Tengah (13. disusul usia 20-24 tahun (11.8 1.3 12.0 12.9%).5 33. disusul Kepulauan Riau (2.1 11.3 46.8 39.7 28.0 4.2 28.0 7.9 1. selanjutnya Bangka Belitung (16.1 39.0 0.8 37.3 3.7 0.9 35.7 1.9 11.1 35.121 menggambarkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia pertama kali merokok/mengunyah tembakau dan karakteristik reponden.6 26.9 0.0 27.3 12.8 1.6 4.6 2.2 6.6 2.6 16.4 2.9 3.6 3.9 1.5 2.2 31.0 34.8 14.9 9.3 28. Perokok umur 10-14 tahun umumnya mulai merokok pertama kali pada usia 10-14 tahun (31.5%) dan Jawa Barat (35.2 7.0 2.1 0.2 12.8 1.0 32.7 1.Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.1 31.7 1.3 4.1 3. DI Yogyakarta dan Sulawesi Tengah masingmasing 1.0 10.5 12.5 32.8 40.8 8.6%) dan Kalimantan Selatan (12.5 36.4 41.8%).0 4.5 6.2 59.1 8.0%).8 34.9 2.120 memperlihatkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia pertama kali merokok/mengunyah tembakau.2 33.3 1.2 40.2 2.6 3. Menurut jenis kelamin.3 1.7 3.3 10. Tabel 3.6 28.7 1.1 14.3 33.3 6.6 2.3 0.4 34.2%).3 4. persentase tertinggi usia pertama kali merokok terdapat pada kelompok usia 15-19 tahun (32.7 5.6 0.6 10.9 35.3 11.5 1.7 11.7 1.3 34.3 51.9 1.2 1.0 22.5 10.1 1.1 42.6 0.1 13.9%.3 3.8 4.5 13.5 3. Gorontalo (2.0 13.3 11.4 4. tetapi ada 5.4 1.6 32.1 0.6 9.5 1.9 33. Sedangkan perokok dengan umur mulai merokok pada umur 5-9 tahun tertinggi di Papua (4.1 1.3 2.6 44.9 1.9 9.4 11.7 14.0 Nasional 1.1 13.9 1.3 0.2 2.2 42.6 33.9%).4 34.8 4.1%).5 2.4 13.5 12.3 6.0 50.6 1.2 3.3 38.6 33.1 1.5 1.6 11.0 9.2 8.6 7.6 43.2 8.2 1.7 1.9 0.7 1.5 43.3%).1 31.6 13.4%).5 6.8 3. DKI Jakarta (13.9 2.9 22.6 2.

122 menunjukkan prevalensi perokok yang merokok dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga menurut provinsi. Terdapat 18 provinsi dengan prevalensi di atas angka nasional.123). dan pada jenjang pendidikan lainnya didominasi oleh penggunaan kretek dengan filter.4% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain. pada umumnya jenis rokok yang diminati adalah kretek dengan filter. Demikian juga rokok linting dan tembakau kunyah. tertinggi dijumpai di Provinsi Sulawesi Tengah (93. 182 . banyak diminati oleh penduduk berumur 55 tahun ke atas.1%) (lihat Tabel 3. kemudian kretek tanpa filter (35. 85. penduduk tidak sekolah lebih banyak menggunakan rokok linting atau tembakau kunyah dibandingkan jenis rokok lainnya. Secara umum jenis rokok yang paling banyak diminati adalah rokok kretek dengan filter (64. persentase mulai merokok tertinggi dijumpai pada kelompok usia 15-19 tahun. Secara nasional.pendidikan. Tabel 3.124).5%). Menurut kelompok umur. dan tingkat pengeluaran per kapita. laki-laki lebih dominan pada semua jenis rokok dibandingkan perempuan. demikian juga halnya menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran per kapita (Tabel 3. 3%).4%) dan rokok linting (17. Menurut jenis kelamin. kecuali penggunaan tembakau kunyah pada perempuan 19 kali lebih banyak dibandingkan laki-laki. kecuali pada kelompok umur 55 tahun ke atas kretek tanpa filter merupakan pilihannya. tipe daerah. Menurut pendidikan.

7 2.121 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/ Mengunyah Tembakau dan Karakteristik Responden.3 13.4 1.3 36.6 9.1 10.3 2.2 Kuintil-2 1.2 5.4 30.4 2.2 3.0 3.0 26.8 8.6 2.5 7.6 2.4 1.9 3.4 1. Riskesdas 2007 Usia pertama kali merokok/kunyah tembakau (tahun) Karakteristik responden Kelompok umur 10-14 (tahun) 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 5.4 32.3 1.122 183 .4 38.1 3.5 3.9 38.9 63.1 13.2 14.3 33.1 33.8 34.1 1.3 31.0 0.3 10.7 1.3 47.3 1.6 32.6 2.2 17.2 0.3 13.0 4.0 40.9 2.5 3.5 42.2 44.1 4.3 11.9 1.4 41.6 3.8 3.0 0.9 10.0 40.1 10.6 10.0 0.5 61.2 25.5 4.3 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 ≥30 Tidak tahu Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil-1 1.5 5.6 4.0 34.6 1.2 12.4 11.2 10.8 2.7 13.5 33.5 38.0 4.2 9.4 7.3 11.7 3.1 1.3 30.6 12.2 1.2 10.8 9.4 6.0 13.1 12.4 5.1 8.1 7.4 3.0 2.1 32.3 1.2 59.1 55.5 Kuintil-4 1.1 3.8 Kuintil-5 1.2 3.0 3.4 10.7 1.6 3.2 0.7 4.2 Kuintil-3 1.9 11.8 11.9 6.8 2.7 2.5 2.8 12.1 1.5 10.9 11.3 41.7 6.7 10.2 25.2 53.2 Tabel 3.7 0.3 36.6 36.9 11.8 17.Tabel 3.8 12.9 10.1 4.2 14.2 31.0 49.1 32.5 2.1 1.7 13.2 2.2 0.1 1.5 1.4 0.9 38.2 1.4 37.5 1.1 7.0 18.6 37.0 20.0 6.0 31.3 32.8 19.6 31.

7 82.7 87.9 86.7 86.4 86.9 91.7 77.1 85.4 87.4 79.9 84.2 83.8 93.0 88.1 88.7 83. Riskesdas 2007 Perokok merokok Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua dalam rumah ketika bersama ART 82.4 78.1 82.0 84.7 92.3 90.3 90.4 84.2 89.0 83.Prevalensi Perokok Dalam Rumah Ketika Bersama Anggota Rumah Tangga menurut Provinsi.3 90.2 89.4 Tabel 3.8 80.1 64.123 184 .7 89.4 Indonesia 85.7 86.5 91.

9 21.5 35.2 51.3 0.6 25.5 0.2 0.7 10.9 Rokok putih 16.1 Lain nya 0.9 2.6 23.2 14.5 1.4 46.7 24.5 13.9 1.8 23.0 0.7 0.5 0.4 0.4 0.0 9.0 4.3 72.3 0.2 28.4 25.9 0.5 1.9 1.4 Tabel 3.5 0.1 24.1 46.7 32.5 0.0 59.5 51.1 65.5 0.2 0.4 0.1 3.2 0.9 14.9 2.9 14.9 0.2 11.8 82.1 5.3 0.1 0.6 6.0 63.8 85.5 0.2 0.3 1.3 0.2 70.8 55.9 75.0 Rokok linting 7.6 0.5 1.7 57.3 72.2 11.9 10.7 0.1 3.9 27.4 0.2 13.5 0.8 37.4 13.9 6.8 18.6 0.7 45.8 2.2 0.4 1.8 74.4 0.9 67.0 13.3 0.1 0.6 4.0 9.1 11.5 5.0 16.7 46.3 16.6 0.4 12.6 0.8 28.8 0.2 84.124 185 .1 0.0 6.4 0.4 69.1 Cangklong 0.7 4.7 1.3 7.9 6.7 Tembakau dikunyah 6.2 0.9 30.8 0.1 0.6 21.2 0.3 14.0 1.2 16.9 1.9 60.1 0.3 3.7 26.5 0.1 70.6 8.2 21.5 21.2 3.9 77.7 9.3 2.3 62.2 7.9 1.5 Cerutu 0.4 0.3 0.6 1.2 9.4 0.0 0.2 Indonesia 64.2 16.2 20.1 14.9 18.3 0.6 6.7 9.7 0.4 14.1 0.7 0.7 0.6 55.1 60.3 0.8 14.7 0.6 22.4 1.6 18.3 76.9 12.8 17.9 43.3 19.3 3.2 0.6 0.4 31. Riskesdas 2007 Jenis rokok yang dihisap Provinsi Kretek dengan filter NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Nusa Tenggara Barat Kalimantan Barat Timur Kalimantan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Gorontalo Tenggara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 55.9 24.2 30.7 1.3 0.5 1.7 0.8 8.0 1.3 64.4 0.4 1.5 20.0 0.1 4.6 59.7 1.9 12.6 0.6 3.Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Provinsi.2 0.0 15.3 75.1 12.2 0.8 56.0 42.4 22.7 1.8 0.9 80.3 0.6 0.2 0.2 3.4 0.9 60.7 24.4 0.1 Kretek tanpa filter 38.2 0.9 0.5 20.5 10.2 0.2 0.6 18.3 0.3 10.3 0.1 0.3 2.2 0.8 38.7 0.0 2.9 26.4 52.6 0.6 16.6 25.0 1.8 25.2 0.7 20.5 5.4 20.5 1.7 59.5 4.4 14.8 5.2 0.4 1.7 80.3 55.4 0.4 0.4 29.2 0.4 5.4 1.7 0.4 1.4 0.2 0.1 1.1 33.2 0.5 20.0 13.7 85.9 17.

0 24.4 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita 3.8 0.3 59.6 41.8 11.3 9.0 0.Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Karakteristik Responden di Indonesia.5 0.1 1.5 0.7 33.2 6.7 0.6 0.7 13.0 5.4 20.3 62.5 37.8 7.7 0.4 14.3 34.9 72.7 0.8%.7 0.7 0.9 17.6 7. masing-masing 97.4 38.3 1.6 0.8 77.2 4.7 0.6%.6 0.0 36.5 0.3 23. penduduk umur 10 tahun ke atas kurang konsumsi buah dan sayur sebesar 93.5 7.5 1.5 51.6 0.5 1.5 0.1 31.9 14.6 3.6 0.4 4.6 0.4 0. Konsumsi buah dan sayur paling rendah terdapat di Provinsi Riau dan Sumatera Barat.8 12.9 27.8 35.0 17.5 33.7 28.7 18.8 35.2 36.6 0.6 66.7 41.3 60.8 0.4 0.5 0.6 0.9% dan 97.8 79.6 44.6 0.8 15.7 0.4 10.4 22.3 3.6 0.7 37.3 16.7 77.6 Rokok putih Rokok linting Cangklong Cerutu Tembakau dikunyah Lain nya umur 73.125 menunjukkan bahwa secara keseluruhan.3 0.8 5.1 1.9 0.5 1.5 0.3 15. Dikategorikan ’kurang’ apabila konsumsi sayur dan buah kurang dari ketentuan di atas.5 0.3 0.3 41.7 0.7 0.8 35.7 3.5 0.3 0.0 37.3 0.5 19.6 4.3 33.6 15.8 0.7 2.5 0.8 38.3 20.2 70. Tabel 3.5 0.6 0.7 74.4 40.6 68.0 12. 186 .0 14.1 33.0 63.9 1.9 12.8 12.6 0.5 18.9 1.8 17.0 7. Riskesdas 2007 Jenis rokok yang dihisap Karakteristik responden Kretek dengan filter Kelompok 10-14 (tahun) 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Kretek tanpa filter 23.7 0.4 0.7 62.6 0.7 0.6 40.5 0.5 24.8 29.5 0.4 24.7.6 0.2 10.7 6.6 19. Penduduk dikategorikan ‘cukup’ konsumsi sayur dan buah apabila makan sayur dan/atau buah minimal 5 porsi per hari selama 7 hari dalam seminggu.0 0.1 37.8 4.3 2.9 0.6 0.4 8.4 18.4 9.2 13.6 30.6 0.9 34.3 12.4 20.5 17.7 0.6 0.4 57.0 1.4 0.6 0.6 74.5 4.4 0.6 31.7 66.2 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur Data frekuensi dan porsi asupan sayur dan buah dikumpulkan dengan menghitung jumlah hari konsumsi dalam seminggu dan jumlah porsi rata-rata dalam sehari.7 4.9 1.3 14.5 30.7 9.5 0.0 0.6 2.5 0.4 0.3 0.2 22.4 0.3 0.

5 96.7 96. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang makan buah dan sayur*) 95. Tabel 3.5%).7%).4 92.7 96.1 91.9 93.4 96.1 87.6 94.3%).1%).8 91.2 94.125 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi.2 91.7 91.7 92.5 96.9 83.9 94.6 96.7 Indonesia 93.4 96. dan Lampung (87.9 92.4 94. Tidak ada perbedaan konsumsi buah dan sayur antara laki-laki dan perempuan.Sedangkan yang berada di bawah rata-rata nasional adalah Provinsi Gorontalo (83.4 97.6 *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu Pada tabel 3. Sementara berdasarkan pendidikan.8 97. DI Yogyakarta (86.3 89.0 86.1 90. Tidak tampak adanya 187 .6 96.126 tampak bahwa kelompok umur yang paling kurang konsumsi buah dan sayur adalah 75 tahun ke atas (95. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin baik konsumsi buah dan sayur.5 95.5 96.9 91.2 92.5 93.

6 Tamat SMA 92.5 55-64 93.6 15-24 93.3 Jenis Kelamin Laki-laki 93. semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita perbulan.3 Tamat SD 94.3 Kuintil-5 92. dengan perkataan lain.perbedaan mencolok antara perilaku konsumsi buah dan sayur di perkotaan dan perdesaan.9 Tidak tamat SD 94.0 Perdesaan 94.7 65-74 94.2 Kuintil-3 93.8 Tamat PT 90.4 *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu 188 .6 Kuintil-2 94.7 75+ 95. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurang makan buah dan sayur*) Kelompok Umur (Tahun) 10-14 93.4 35-44 93.126 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.3 Tempat Tinggal Perkotaan 93.1 Tamat SMP 93. Berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita. semakin tinggi konsumsi buah dan sayur.9 Kuintil-4 93.7 Pendidikan Tidak sekolah 94. dengan meningkatnya strata juga tampak pengurangan prevalensi kurang konsumsi buah dan sayur. Tabel 3.0 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perkapita Kuintil-1 94.5 Perempuan 93.8 25-34 93.3 45-54 93.

0%. Tabel 3. Pada tabel 3. Beberapa provinsi mempunyai prevalensi minum alkohol tinggi.3 Perilaku Minum Minuman Beralkohol Salah satu faktor risiko kesehatan adalah kebiasaan minum alkohol. juga diikuti dengan prevalensi perilaku minum alkohol dalam satu bulan terakhir di atas angka nasional. sehingga didapatkan ukuran standar. dan Gorontalo (12. Pada umumnya provinsi dengan prevalensi perilaku minum alkohol dalam 12 bulan terakhir di atas angka nasional. yang selanjutnya meningkat menjadi 6. Tidak tampak perbedaan prevalensi peminum alkohol menurut tingkat pengeluaran per kapita per bulan. Sulawesi Utara (17. prevalensi peminum alkohol lebih besar laki-laki dibanding perempuan. prevalensi minum alkohol tinggi tampak pada yang berpendidikan tamat SMP dan tamat SMA. seperti di Provinsi Nusa Tenggara Timur (17. jenis minuman dan rata-rata satuan minuman standar. Karena perilaku minum alkohol seringkali periodik maka ditanyakan perilaku minum alkohol dalam periode 12 bulan dan satu bulan terakhir. Prevalensi peminum alkohol di perdesaan lebih tinggi dari perkotaan. namun kemudian turun dengan bertambahnya umur. termasuk frekuensi. Dilakukan kalibrasi terhadap berbagai persepsi ukuran yang digunakan responden. sedangkan yang masih minum dalam satu bulan terakhir 3.7% dan 4.7%). Untuk penduduk yang menjawab “ya” ditanyakan dalam 1 bulan terakhir.3. 189 .7.5% dan 3. Wawancara diawali dengan pertanyaan apakah minum minuman beralkohol dalam 12 bulan terakhir.3%).127 memperlihatkan secara nasional prevalensi peminum alkohol 12 bulan terakhir sebanyak 4. Informasi perilaku minum alkohol didapat dengan menanyakan kepada responden umur 10 tahun ke atas. Sedangkan menurut pendidikan. yaitu sebesar 5.6%.4%).5%. yaitu satu minuman standar setara dengan bir volume 285 mililiter.3% pada umur 25-34 tahun.128 dapat dilihat bahwa prevalensi peminum alkohol 12 bulan dan satu bulan terakhir mulai tinggi pada umur antara 15-24 tahun. Menurut jenis kelamin.

8 2.5 6.3 1.0 190 .6 6.4 2.8 3.4 2.9 2.4 2.3 1.4 4.0 8.7 1.Tabel 3.4 4.2 13.5 1.2 1.8 1.1 1.2 3.3 4.7 12.7 2.2 4.9 4.7 Indonesia 4.7 1.7 8.4 5.0 17.0 4.5 3.5 0.0 2.7 14.9 6.4 8.4 8. Riskesdas 2007 Konsumsi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Konsumsi alkohol 1 Bulan terakhir 0.9 4.9 5.5 4.2 7.4 0.5 3.6 2.5 1.1 1.2 3.127 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Provinsi.4 3.1 6.7 2.0 0.8 6.9 5.1 1.4 17.7 2.6 1.9 4.9 7.7 2.8 10.6 5.9 1.6 3.4 alkohol 12 Bulan terakhir 1.7 1.

6 75+ 1.7 15-24 5.9 Tipe Daerah Perkotaan 3.5 3.3 3.8 Perempuan 0.0 Kelompok Umur (Tahun) 10-14 0.7 0.5 3.0 3.5 25-34 6. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Pernah minum alkohol dalam 12 bulan terakhir Masih minum alkohol dalam 1 bulan terakhir 0.128 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden di Indonesia.5 Tamat SMA 6.9 Perdesaan 5.8 2.Tabel 3.0 Tamat PT 3.7 Kuintil-3 4.6 Kuintil-4 4.1 2.8 55-64 3.3 2.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 4.5 Tamat SMP 5.8 Tamat SD 4.5 3.4 2.3 2.9 5.5 45-54 4.8 0.0 3.0 3.7 Kuintil-5 4.4 2.6 65-74 2.0 3.7 3.7 Pendidikan Tidak sekolah 3.5 Jenis Kelamin Laki-laki 8.7 191 .1 Tidak tamat SD 3.7 35-44 5.3 3.4 1.9 3.5 4.4 Kuintil-2 4.

5%) lebih tinggi dibanding laki-laki (41. dan perempuan (54. Pada tabel 3. ’sedang’ dan ’berjalan’. Selain frekuensi. yaitu jumlah hari melakukan aktifitas ’berat’.4%).6%) lebih tinggi di banding perdesaan (42. dan Bengkulu (40.3%).4%).2%). Perhitungan jumlah menit aktifitas fisik dalam seminggu mempertimbangkan pula jenis aktifitas yang dilakukan. Kegiatan aktifitas fisik dikategorikan ‘cukup’ apabila kegiatan dilakukan terus-menerus sekurangnya 10 menit dalam satu kegiatan tanpa henti dan secara kumulatif 150 menit selama lima hari dalam satu minggu. semakin tinggi pendidikan semakin tinggi prevalensi kurang aktifitas fisik. Sulawesi Tengah (39. 192 .4%).129 tampak bahwa secara nasional hampir separuh penduduk (48. aktifitas ‘sedang’ dua kali terhadap aktifitas ‘ringan’ atau jalan santai. Prevalensi kurang aktifitas fisik di bawah rata-rata nasional terdapat di Nusa Tenggara Timur (27. Kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat di Provinsi Kalimantan Timur (61.9%).4 Perilaku Aktifitas Fisik Aktifitas fisik secara teratur bermanfaat untuk mengatur berat badan dan menguatkan sistem jantung dan pembuluh darah.130 terlihat bahwa menurut kelompok umur. di mana aktifitas diberi pembobotan. dilakukan pula pengumpulan data intensitas.7. Prevalensi kurang aktifitas fisik penduduk perkotaan (57.1%).3. masing-masing untuk aktifitas ‘berat’ empat kali. Berdasarkan tingkat pendidikan. dan semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan semakin meningkat prevalensi kurang aktifitas fisik.0%) dan umur 10-14 tahun (66. kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat pada kelompok 75 tahun ke atas (76.7%) dan Provinsi Riau (60.2%) kurang melakukan aktifitas fisik. Pada tabel 3. Dikumpulkan data frekuensi beraktifitas fisik dalam seminggu terakhir untuk penduduk 10 tahun ke atas.

6 47.4 49.2 48.2 *) Kurang aktifitas fisik adalah kegiatan kumulatif kurang dari 150 menit dalam seminggu Tabel 3.7 49.0 Indonesia 48.1 54.1 45.1 54.7 47.7 52.4 61.8 48.8 49.1 47.3 46.9 43.3 42.8 60.3 52.7 55.8 27.3 46.2 39.4 43.2 50.Tabel 3.1 40.4 44.2 57.2 45.3 44.129 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang Aktifitas Fisik 53.0 44.130 193 .6 48.4 53.

atau membersihkan kandang unggas.1 Kuintil-5 53.9 45-54 38.5 75+ 76. apabila ada unggas yang sakit dan mati mendadak. Flu Burung Data mengenai pengetahuan dan sikap penduduk tentang flu burung dikumpulkan dengan didahului pertanyaan saringan: apakah pernah mendengar tentang flu burung. Tabel 3.3 Tipe daerah Perkotaan 57.5 Kuintil-3 47.8 Tidak tamat SD 48.131 194 .4 Tamat SMP 47. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurang aktifitas fisik Kelompok umur 10-14 66.4 Perempuan 54. Penduduk dianggap memiliki pengetahuan tentang penularan flu burung yang benar apabila menjawab cara penularan melalui kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang.0 25-34 42.4 Tamat SMA 52.6 Perdesaan 42.4 55-64 44.4 65-74 58. atau mengubur/membakar unggas sakit.9 35-44 38.5 Pendidikan Tidak sekolah 48.8 Kuintil-2 45.9 (Tahun) 15-24 52.7.5 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS a.1 Kuintil-4 49.9 3.Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.6 Tamat PT 60.1 Tamat SD 43. Penduduk dianggap bersikap benar bila menjawab salah satu : melaporkan kepada aparat terkait.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 44. Untuk penduduk yang pernah mendengar.0 Jenis Kelamin Laki-laki 41. ditanyakan lebih lanjut pengetahuan tentang penularan dan sikapnya apabila ada unggas yang sakit atau mati mendadak.

9 91. Di antara mereka.4 80.7 70.7% memiliki pengetahuan yang benar dan 87.4 Berpengetahuan benar* 81.1 67.7 86.2 63.1 86. Provinsi yang penduduknya mempunyai pengetahuan yang 195 .7 *) Berpengetahuan benar apabila menjawab “Ya” kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang **) Bersikap benar apabila menjawab “Ya” melaporkan pada aparat terkait.7 69.2 81.4 69.3 74.1 91.2 70.0 85.8 51.8 83.7 77.7 74.5 92. Secara nasional.7 63.6 82.9 66.2 84.7 94.9 83.7 63.7 87.3 74.1 66.3 96.1 87. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pernah mendengar 61.6 74.9 52.3 82.2 74.1 44.6 68.6 92.131 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan dan sikap tentang flu burung dan provinsi.7 41.6 85.9 56.6 87.8 Indonesia 64.4 74.9 74.2 35.6 69.8 61.8 Bersikap benar** 88.3 87.9 79.7 80.9 54.9 88.8 55.8 70.7 80.2 92.2 76.6 77.6 71.8 73.2 84. atau mengubur/membakar unggas yang sakit dan mati mendadak.2 71.2 81.6 75.0 83.3 84.7% penduduk pernah mendengar tentang flu burung. 64.9%).9%) dan Papua (44.1 82. Tabel 3.0 74.5 84.9 85.9 86.7 87.9 71.1 55.7% memiliki sikap yang benar.7 78.6 67. Tiga provinsi yang penduduknya kurang mendengar tentang flu burung adalah Nusa Tenggara Timur (35.2 73.2 85.Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung dan Provinsi.9 93.4 84.2 86.8 81.2 92.6 89. membersihkan kandang unggas.8 66.1 91.0 70.1 81.4%).9 57.2 75.2 81. Maluku Utara (41. 78.4 87.6 79.8 52.7 63.3 85.7 79.7 83.

9 85.8 59.2 86.4 15-24 tahun 79.9 80.3 88.8 88.6 76.0 84.3 35-44 tahun 70.2 93. Kelompok umur 15-24 tahun 196 .3 Wiraswasta 78.0 83. membersihkan kandang unggas.9 66.4 Tipe daerah Perkotaan 78.4 75.3 86.4 84.7 60.0 Kuintil 2 60.0 25-34 tahun 75.7 81.2%) dan yang sikapnya terbaik Provinsi Bali (96.7 79.132 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan dan sikap tentang flu burung dan karakteristik responden.1 Tamat SMA 89.7 78. Tabel 3.0 Kuintil 4 67.8 Perdesaan 56.6 79.4 82.1 82.2 89.1%).2 80.6 82.2 75.0 45-54 tahun 60.8 55-64 tahun 47.0 Tamat SMP 79.2 91.9 86.5 Kuintil 3 64.5 *) Berpengetahuan benar apabila menjawab “Ya” kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang **) Bersikap benar apabila menjawab “Ya” melaporkan pada aparat terkait.1 81.3 77.5 Pendidikan Tidak sekolah 26.5 95.6 Lainnya 73.2 75.2 Petani/nelayan/buruh 54.1 88.1 PNS/Polri/TNI/BUMN 91.3 90.7 74.5 Tamat SD 61.3 Ibu RT 65.9 Sekolah 65.3 Tidak tamat SD 44.7 Jenis kelamin Laki-laki 68.4 64.1 90.7 Pekerjaan Tidak kerja 53.6 65-74 tahun 33.6 77.1 90.5 76.5 75+ tahun 19.3 77. atau mengubur/membakar unggas yang sakit dan mati mendadak.7 86.9 86.baik tentang flu burung tertinggi di Lampung (86.7 89.4 Umur 10-14 tahun 52.0 Tamat PT 93.5 95.4 95.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan Kuintil 1 56.6 71.4 90.4 82.8 84.6 Bersikap benar** 82.1 79. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Pernah mendengar Berpengetahuan benar* 73.9 73.7 75.3 79.9 86.8 86.4 89.132 Persentase Penduduk10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap Tentang Flu Burung dan Karakteristik Responden.5 86.3 86. Tabel 3.2 Perempuan 61.7 Kuintil 5 74.

penduduk usia produktif (15-45 tahun) paling banyak mendengar dan berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS. Sedangkan dari segi tipe daerah.9%).134 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan tentang HIV/AIDS dan karakteristik responden. 13. Penduduk dianggap berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS apabila menjawab benar masing-masing 60%.3%) dan Nusa Tenggara Timur (30. berpengetahuan benar dan bersikap benar.9% di antaranya berpengetahuan benar tentang penularan HIV/AIDS dan 49.6%) dan Banten (6. dan lebih banyak yang memiliki pengetahuan dan sikap yang benar terhadap flu burung dibanding perdesaan.9%).0%). yang berpengetahuan benar tentang penularan HIV/AIDS terendah adalah di Jawa Barat (6.2% dibanding 61. 197 . mengikuti konseling dan pengobatan. b.4% penduduk sudah pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Pada umumnya. HIV/IADS Berkaitan dengan HIV/AIDS. dan sikap apabila ada anggota keluarga yang menderita HIV/AIDS (lima pertanyaan). Dari yang pernah mendengar. penduduk yang berpenghasilan tetap lebih banyak yang berpengetahuan benar tentang HIV/AIDS. penduduk di perkotaan lebih banyak yang telah mendengar tentang flu burung.133 menggambarkan persentase penduduk berumur 10 tahun keatas menurut pengetahuan tentang HIV/AIDS dan provinsi. Menurut jenis kelamin. tampak adanya peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS seiring dengan peningkatan umur. Secara nasional. Dari segi pekerjaan. demikian juga lebih banyak laki-laki memiliki pengetahuan dan sikap benar. Tiga provinsi yang penduduknya paling sedikit mendengar tentang HIV/AIDS adalah Maluku Utara (28. Selanjutnya penduduk yang pernah mendengar ditanyakan lebih lanjut mengenai pengetahuan tentang penularan virus HIV ke manusia (tujuh pertanyaan). penduduk perkotaan lebih banyak yang sudah mendengar tentang HIV/AIDS dan berpengetahuan benar tentang pencegahan. Persentase laki-laki yang pernah mendengar tentang flu burung lebih tinggi dari perempuan (68. Untuk sikap ditanyakan: bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS apakah responden merahasiakan. sedangkan yang berpengetahuan benar tentang pencegahan HIV/AIDS terendah adalah Sulawesi Barat (29. Menurut tipe daerah.3% berpengetahuan benar tentang pencegahan HIV/AIDS. 44. pencegahan HIV/AIDS (enam pertanyaan). semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi presentase penduduk yang telah pernah mendengar tentang flu burung. mencari pengobatan alternatif ataukah mengucilkan penderita. laki-laki umumnya lebih banyak mendengar dan berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS dibandingkan perempuan.2%). disusul Jawa Timur (6. penduduk ditanyakan apakah pernah mendengar tentang HIV/AIDS.8%) dan Sulawesi Selatan (38. Tabel 3. Secara umum. Tabel 3.merupakan kelompok tertinggi untuk kategori pernah mendengar. Sulawesi Barat (29. disusul Lampung (37. dan yang mempunyai pengetahuan serta sikap yang benar tentangnya. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4%). membicarakan dengan ART lain. Selanjutnya semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin baik pengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS.5%).2%).

1 33.Tabel 3.4 56.9 53.0 40.8 52.8 13.2 17. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pernah mendengar 44.2 58.1 46.5 7.5 53.8 61.9 49.1 16.8 51.6 49.1 42.9 37.5 29.7 10.7 29.2 9.5 35.1 26.6 46.9 41.0 54.9 46.3 45.7 28.3 47.2 43.1 40.5 49.4 59.9 30.0 55.8 37.1 67.2 12.7 17.8 44.0 64.3 61.2 42.8 10.6 33.2 6.3 19.3 55.0 Berpengetahuan benar tentang pencegahan** 41.4 13.2 8.133 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Provinsi.4 39.7 50.3 59.4 6.7 46.1 16.2 60.2 46.9 44.4 29.3 * ) Berpengetahuan benar tentang penularan adalah bila menjawab benar 4 dari 7 pertanyaan **) Berpengetahuan benar tentang pencegahan adalah bila menjawab benar 4 dari 6 pertanyaan 198 .5 21.4 40.6 7.9 7.8 21.9 61.0 40.6 6.1 45.3 Berpengetahuan benar tentang penularan* 17.6 15.5 41.8 45.7 14.6 46.0 34.2 38.3 35.6 38.3 40.4 51.3 12.8 53.9 12.1 13.2 52.9 17.7 52.5 14.5 57.9 Indonesia 44.6 45.5 44.9 71.4 9.3 46.6 40.8 14.

7 37.8 15.0 57.1 89.4 10.134 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.6 40.1 45.1 62.6 13.2 Berpengetahuan benar tentang penularan* 11.8 34.6 Berpengetahuan benar tentang pencegahan** 34.4 61.3 14.0 14.9 33.5 14.7 30.2 80.1 9.2 14.5 51.9 43.3 25.9 20.2 46.0 14.9 58.7 50.2 51.9 11.9 47.7 17.0 14.0 38.3 11.5 12.2 84.2 47.2 13.0 11.9 8.3 11.9 39.4 14.6 12.0 13.7 37.2 58.Tabel 3.0 42.5 11.9 56.9 64.2 40.1 53.9 47.2 33.4 38.7 17.3 55.9 12.2 14.1 33.9 46.7 7.9 50.3 13.8 63.6 50.0 40.5 32. Riskesdas 2007 Karakteristik Pernah mendengar 21.1 48.3 57.6 60.4 68.1 48.6 26.3 47.135 199 .4 51.5 33.7 44.8 48.2 Umur 10-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT PNS/Polri/TNI/BUMN Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perper kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 * ) Berpengetahuan benar tentang penularan adalah bila menjawab benar 4 dari 7 pertanyaan **) Berpengetahuan benar tentang pencegahan adalah bila menjawab benar 4 dari 6 pertanyaan Tabel 3.8 49.5 11.4 42.2 14.4 12.1 48.8 14.

1 59.Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Bila Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Provinsi.9 85.5 24.5%) dan Sulawesi Tengah (18.0%.2 62.7 95. penduduk yang bersikap merahasiakan dan mengucilkan apabila ada ART yang menderita HIV/AIDS sebesar 34. Secara nasional.5 6.8 67.4 Mengucilkan Indonesia 28.5 75.7 93.1 71.5 28.4 28.0 76. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Merahasiakan 33.6 58. Sulawesi Selatan (17.8 50.2 67.4 67.8 59.7 60.2 5.7 62.1 19.6 90.3 62. Provinsi-provinsi yang penduduknya bersikap baik (sedikit yang merahasiakan dan mengucilkan) adalah Sulawesi Barat (12%).3 64.1 89.2 5.9 29.3 12.4 82.7 63.7 5.1 38.1 43.9 8.2 87.0 62.7 8.4 6.2 86.8 5.3 5.0 88.4 58.1 5.3 57.2 5.3 29.4 3.5 51.7 89.3 40.0 5.1 74.0 83.5 92.9 10.3 Konseling dan pengobatan 84.3 15.3 5.7 24.6 63.8 26.7 68.6 6.1 5.8 60.9 89.7 10.9 43.4 79.3 30.7 57.7 68.0 87.3 65. Sedangkan melakukan konseling dan pengobatan merupakan persentase tertinggi.6 34.8 34.3 70.5 3. Sedangkan provinsi yang penduduknya bersikap baik dalam hal akan melakukan 200 .9 34.3 91.4 65.7 23.3 Tabel 3.2 62.0 24.8 64.7 37.5 57.1 60.8 23.135 di atas memperlihatkan persentase penduduk di atas 10 tahun menurut sikap bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS dan provinsi.2 73.3 35.7 76.6 9.6 52.1 93.7 23.9 92.2 66.5 48.1 4.2 69.7 87.3 7.3 72.3 50.6 6.9 76.9 93.3 67.7 70.5 6.2 63.9 59.2% dan 6.5 88.4 54.9 44.0 76.4 85.1 5.0 51.7 85.0 5.3 64.2 75.2 87.8 30.8 67.2 64.7 76.8 20.3 26.5% (masing-masing 28.7 Bicarakan dgn ART lain 58.8 5.8 19.1 55. sebesar 89.7 21.4 85.2 6.3%).4%).4 56.6 6.1 90.8 8.9 55.9 Cari pengobatan alternatif 60.0 58.7 88.9 64.2 78.8 61.7 90.3 57.2 85.0 8.0 83.1 2.3 89.1 61.8 27.4 7.8 87.0 51.5 48.9 13.9 5.3 5.8 60.

4 6.9 87.7 5.4 72.8 5.7 5.8 59.136 menggambarkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut sikap bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS dan karakteristik responden.5 6.8 75+ 24.3 6.5 Kuintil-2 28.0 68.7 Kuintil-3 28.konseling dan pengobatan adalah Jawa Timur dan Jawa Tengah (masing-masing 93.3 89.1 66.5 6.0 52.0 70.9 71.1 Tamat SMP 29.5 61.5 Lainnya 26.7 57.3 56.1 90.6 55.2 Tabel 3.6 89.6 56.9 93.6 53.5 59. Tabel 3. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Merahasiakan Bicarakan dengan ART lain 58.1 76.8 68.6 6.9 57.8 90.0 78.4 45-54 27.1 PNS/Polri/TNI/BUMN 27.2 94.8 58.9 87.9 62. Menurut 201 .3 90.5 88.8 78.1 Cari pengobata n alternatif 49.9 85.5 Tipe Daerah Perkotaan 28.1 69.0 6.7 57.6 6.9 63.8 58.6 67.0 85.1 Tidak tamat SD 28.8 74.2 77.6 6.5 58.1 6.6 70.3 88.0 Tamat PT 26.3 56.3 52.7 Wiraswasta 28.6 6.9 7.9 6.9 6.0 60.0 70.5 Pendidikan Tidak sekolah 30.0 Jenis Kelamin Laki-laki 28.4 60.5 90.4 89.4 15-24 30.9 58.2 69.3 Kuintil-5 27.0 Perempuan 28.8 6.9 58.0 Konseling dan pengobatan 79.2 66.8 7.7 72.6 89.2 5.4%).8 88.0 Kelompok umur (tahun) 10-14 29.4 69.5 6.1 60.7 69.6 50.7%) dan Bangka Belitung (93.6 69.7 64.7 89.6 64.5 Mengucilkan 6.7 55.4 71.7 86.3 6.3 Tamat SMA 28.6 6.7 81.6 59.3 6.7 58.7 85.1 92.3 Sekolah 29.0 55-64 25.1 Petani/Nelayan/Buruh 27.9 86.4 60.3 6.3 56.9 Perdesaan 27.3 5.1 35-44 26.1 74.6 91.8 65-74 25.7 6.2 Kuintil-4 28.136 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Andaikata Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.3 87.4 6.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 29.7 Pekerjaan Tidak bekerja 29.2 59.6 71.5 86.8 Ibu RT 28.0 Tamat SD 28.5 91.9 6.7 59.4 5.4 25-34 28.2 59.7 60.7 69.

2% dibanding 70. tetapi tampak menurun lagi pada umur 55 tahun ke atas. Semakin tinggi usia semakin berperilaku benar dalam BAB dan cuci. Perilaku BAB yang dianggap benar adalah bila penduduk melakukannya di jamban. semakin tinggi semakin kecil sikap merahasiakan dan mengucilkan ini.6%). Secara nasional.4%). sebesar 71. demikian pula dengan penduduk perkotaan.2%) dan Sumatera Barat (59. Menurut pendidikan. petani/buruh/ nelayan memiliki persentase perilaku baik BAB dan cuci tangan terendah (56. yang tidak memiliki pekerjaan relatif lebih banyak yang bersikap merahasiakan dan mengucilkan anggota keluarganya yang menderita HIV/AIDS.6%) adalah provinsiprovinsi yang perilaku cuci tangan benarnya rendah. Dari aspek pekerjaan.5%) dan Riau (14.4%). dan setelah memegang unggas/binatang. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin sedikit sikap merahasiakan dan mengucilkan.1% dan 18. Sumatera Utara (14.1% berperilaku benar dalam hal BAB. Semakin tinggi pendidikan. setelah menceboki bayi/anak. Provinsi Sulawesi Barat (57. namun hanya 23. 202 .kelompok umur. semakin muda umur penduduk semakin tinggi persentase sikap merahasiakan dan mengucilkan. sebelum menyiapkan makanan. dan 27.8%). Tabel 3. DKI Jakarta menduduki tempat tertinggi untuk perilaku baik dalam hal BAB dan cuci tangan.3%) adalah provinsi-provinsi yang perilaku BAB benarnya rendah. Penduduk perkotaan berperilaku baik lebih tinggi dari perdesaan. Tidak ada perbedaan sikap antara laki-laki dan perempuan. perilaku baik dalam BAB dan cuci tangan semakin tinggi.8% dibanding 18. Gorontalo (59.138 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam hal BAB dan cuci tangan menurut karakteristik. Persentase perempuan yang berperilaku benar dalam BAB dan cuci tangan lebih tinggi dari laki-laki (berturut-turut 71.7.2% yang berperilaku cuci tangan benar. 3.9%. Menurut tingkat pengeluaran. setelah buang air besar. Sedangkan Provinsi Sumatera Barat (8. Dari segi pekerjaan. Tabel 3. Mencuci tangan yang benar adalah bila penduduk mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. Sedangkan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi persentase perilaku baik dalam BAB dan cuci tangan.137 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam hal BAB dan cuci tangan menurut provinsi.6 Perilaku Higienis Perilaku higienis yang dikumpulkan meliputi kebiasaan/perilaku buang air besar (BAB) dan perilaku mencuci tangan.

2 59.9 83.0 81.2 72.3 44.2 20.9 22.2 *) Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban **) Perilaku benar dalam cuci tangan bila cuci tangan pakai sabun sebelum makan.7 59.1 69.9 29.4 15.1 72.3 84. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Berperilaku benar dalam hal BAB* 61. dan setelah menceboki bayi/anak. dan setelah memegang unggas/binatang.3 80.1 32.9 Berperilaku benar dalam hal cuci tangan** 16.4 14.7 27.4 20.6 60.2 59.9 20.6 18.9 18.2 89.5 8.0 68.0 14.0 23.2 57.0 98.3 24.6 76.6 14.3 68.5 73.4 63.2 86.8 38.4 82.9 15.6 79.5 19.5 35.1 23.3 68.3 59.5 30.0 30.7 60.0 36.7 71.1 32. sebelum menyiapkan makanan. 203 .0 65.8 26.2 25.9 73.7 67.6 29.3 25.1 59.8 24.6 Indonesia 71.9 68. setelah buang air besar.8 72.4 43.137 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Provinsi.9 17.Tabel 3.

9 24.9 71.3 83.2 52.8 84.0 70.8 18.6 68.9 73.7 88.1 71.4 71.7 28.4 22.6 69.0 36.8 17.1 65.0 64.9 30.6 23.7 31.7 93. dan setelah memegang unggas/binatang. dan setelah menceboki bayi/anak.2 23.1 18.1 14.9 94.7 69.6 75.1 77.0 21.2 72.1 18.8 29.6 21.5 68.138 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Karakteristik Responden.8 19.6 73.7 58.4 24.8 76.2 59.6 26.6 19.4 27.4 27. setelah buang air besar.Tabel 3.1 18.7 56.5 Berperilaku benar dalam hal cuci tangan** 17. Riskesdas 2007 Berperilaku Karakteristik responden benar dalam hal BAB* Umur 10-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT PNS/Polri/TNI/BUMN Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 68.4 59.8 24.5 22.7 19.7 *) Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban **) Perilaku benar dalam cuci tangan bila cuci tangan pakai sabun sebelum makan.8 24.1 25.3 70.9 20. sebelum menyiapkan makanan.8 72. 204 .8 89.

makanan dibakar/panggang.2 78.4 1.0 79.0 Diawet kan 6.1 4.5 19.3 9.9 38.8 2.2 15.1 9.7 Pola Konsumsi Makanan Berisiko Penduduk yang “sering” makan makanan/minuman manis.8 12. makanan minuman makanan penduduk Tabel 3.5 44.7 Dipang gang 5.1 21.8 3.5 89.8 18.2 11.1 10.3 84.6 7.8 19.5 89.7 17.1 22.2 68.2 8.9 65.6 23.0 39.7.1 59.7 28.4 3.7 31.6 30.1 4.7 1.6 2.9 60.4 44.7 5.0 3.3 3.3 10.1 3.9 59.8 5.8 1.8 4.3 36.5 82.4 8.2 10.9 Berka fein 45.2 5.3 16.6 6.2 11.3 29.4 5.4 16.8 2.0 18.3 21.2 34.9 69.7 3.3 5.3 71.6 2.2 Asin 22.7 90.1 9.5 4.4 2. makanan yang diawetkan.4 8.4 23.4 2.8 7.6 5.7 47.6 70.2 1.6 1.8 Indonesia 65.4 8.8 71.3 83.2 19.7 47.1 71.6 86.2 5.6 6.4 21.6 10.7 85.2 1.3 15.9 2.0 75.8 205 .7 14.0 79.2 3.1 6.4 2.0 5.8 14.8 39.9 6.5 25.8 11.5 28.9 8.3 41.6 38.4 2.4 7.1 55.2 9.2 Jeroan 3.7 52.0 0.2 81.1 72.5 5.9 7.9 79.3 87.3 5.2 24.3.2 43.2 27.6 24.2 3.8 27.2 2.6 74.0 8.0 Penyedap 33.5 92.4 83.6 9.9 13. Perilaku konsumsi makanan berisiko dikelompokkan “sering” apabila mengonsumsi makanan tersebut satu kali atau lebih setiap hari.7 18.5 2.8 73.2 1.2 7.3 11.8 54.7 8. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Manis 69.5 8.3 72.1 1.0 31.0 68.3 85.0 6.4 86.2 9.6 13.5 6.5 45.3 57.5 5.3 58.9 4.0 1.4 7.8 63.4 60.8 89.3 15.3 76.7 3.0 29.2 4.6 43.1 90.6 2.5 58.7 1.7 2.9 7.5 2.7 4.1 0.5 19.5 4.9 1.6 67. makanan asin.5 1.8 23.9 69.0 4.4 84.8 Berle mak 15.7 40.9 30.3 21.9 83.9 27.2 50.5 85.6 61. berlemak.6 2.2 11.2 86.5 79.4 4. berkafein.6 4.3 7.2 59.9 1.8 52.4 35.1 64.6 68.6 2.1 20.5 12.6 47. jeroan.0 2.6 4.6 24.4 35.6 23.2 10.4 14.7 7.0 2.1 9.0 4.1 13.4 3.139 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Provinsi.7 4.3 19.9 29.8 34.6 24.6 1.6 77.2 62.6 45.2 87.7 24.2 30.6 84.9 5.0 46.8 4.8 17.1 1.0 3.0 8.4 1.2 80.0 4.0 76.3 1.8 19.5 77.3 2.1 56.6 55. dan bumbu penyedap dianggap sebagai berperilaku konsumsi berisiko.1 4.1 74.1 25.7 15.

6 39.3 3.7 72.6 26.8 24.5 25.0 5.4 Kuintil-5 68. tertinggi di Provinsi Bali (62.9 11.1 Tabel 3.4 4. tertinggi di Provinsi Gorontalo (25.7 5.5 3.9 78.6 4.8 6.5% penduduk secara nasional.5 79.1 12. Riskesdas 2007 Karakteristik Manis Asin Berle mak 13.1 2.1 Kuintil-4 66.7 77.2 24.7 62.6%).2 5.0 5.6 23.5 4.2 25.6 5.5 Berka fein 16.1 35.0 4.8 11.2 78.4 6.5 2.0 Tamat SMP 66.9 55-64 63.3 6.5 78.7 46.2 6.4 Kuintil-2 63.7 5.8 Kuintil-3 65.3 12.5 25.140 menggambarkan prevalensi penduduk 10 tahun ke atas dengan konsumsi makanan berisiko menurut karakteristik responden.7 77.3 Diawet kan 8. Penyedap sering dikonsumsi oleh 77.8%) dan terendah di Provinsi Bangka Belitung (5.8%).0 2.7 2.8% penduduk Indonesia sering mengonsumsi makanan berlemak.1 5.7%).9 6.7 2.8 1.9 2.9 21.7 1.3 6.4 12.2 79.8 12.7 78.4 43.8 1.4 24.9 1.4 35.0 71.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 62.1 2.7 14.4 62.4 25-34 66.1 1.5 4.0%) dan terendah di Provinsi DI Yogyakarta (11.7 35-44 66.8 11.5 Kelompok umur 10-14 63. Sedangkan kafein sering dikonsumsi oleh 36.8 65.5 77. Tabel 3.1 36.7 23.5 6.0 75+ 60.9 74.7 42.8 24.8 4.2 12.4 68.9 24.1 65.1 5.8 Tamat PT 71.3 6.9 12.2% penduduk Indonesia yang berusia ≥10 tahun.5 Perempuan 63.2%).5 79.6 6.6 14.5 3.8 3.139 menggambarkan prevalensi penduduk 10 tahun ke atas dengan konsumsi makanan berisiko menurut provinsi.3 78.1 68. Menurut umur.6 4.0 4.5 11.1 38.3 37. Sedangkan prevalensi sering mengonsumsi makanan asin secara nasional ditemukan 24.5 13.7 6.140 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Karakteristik Responden. 12.4 66.0 4.1 Jeroan 2.2 77.1 78.0 Perdesaan 62.5 Tidak Tamat SD 62.6 6.4 13.8% penduduk secara keseluruhan.1 13.0 Tipe daerah Perkotaan 69.9 45-54 66.0 36.5 46.5 21.4 Tamat SD 64.5 24. tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Selatan (83.8 77.8 63.4 5.6%) dan terendah di Provinsi NAD (33.3 1.6 26.7 4.1 24.3 35. Sering mengonsumsi makanan manis dilakukan oleh 65.7 4.4 2. perilaku sering 206 .8 1.5 76.1 24.2 4.3 6.7 36.4 63. Secara nasional.0 2.5 21.9 1.8 4.7 6.1 Tamat SMA 69.1 7.6 7. tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan (41.0 37.3 Dipang gang 5.Tabel 3.5%.1 39.8 1.0 10.8 5.1 Penyedap 75.6 13.8 1.2 65-74 61.0 1.4 Pendidikan Tidak Sekolah 57.0 4.2 78.8 37.7 32.7 78.5%) dan terendah Provinsi Bali (44.3 24.4 (tahun) 15-24 65.4 5.1 45.1 66. tertinggi di Provinsi Kalimantan Tengah (92.6%) dan terendah di Provinsi Sulawesi Tengah (5.9 42.6 31.9 1.9 76.9 Jenis kelamin Laki-Laki 67.3 76.2%).2 2.3 28.

sehingga nilai tertinggi adalah 10. Secara nasional. bayi 0-6 bulan mendapat ASI eksklusif. Bali (51. sedangkan untuk rumah tangga tanpa balita terdiri dari 8 indikator. Sementara pola prevalensi jenis konsumsi lainnya nampak tidak berbeda menurut tempat tinggal.7% ). bina suasana dan pemberdayaan masyarakat. untuk meningkatkan pengetahuan.7%. dan Sulawesi Utara (46. Kalimantan Timur (49. Sementara untuk makanan asin dan minum minuman berkafein pola prevalensi berbanding terbalik dengan meningkatnya pendidikan. jeroan. Sedangkan untuk makanan yang dipanggang. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. makanan berlemak. Untuk rumah tangga dengan balita digunakan 10 indikator. ekonomi. makanan berlemak. Menurut jenis kelamin. jeroan dan makanan yang dipanggang cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan kuintil ekonomi. keluarga. Indikator individu meliputi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. minum minuman berkafein dan makanan dipanggang cenderung lebih tinggi di perdesaan dibanding perkotaan. namun setelah usia 55 tahun prevalensi cenderung menurun. dan makanan yang diawetkan ditemukan lebih tinggi di perkotaan dibanding perdesaan. yaitu rumah tangga dengan balita dan rumah tangga tanpa balita. diawetkan dan penyedap makanan pola prevalensi menurut tingkat pendidikan nampak tidak beraturan. 207 . kelompok dan masyarakat. Sedangkan provinsi dengan pencapaian PHBS rendah 3 Program PHBS adalah upaya untuk memberi pengalaman belajar atau menciptakan kondisi bagi perorangan. Jawa Tengah (47%). Terdapat lima provinsi dengan pencapaian di atas angka nasional. memberikan informasi dan melakukan edukasi. makanan asin. kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni (≥8m2/ orang). Sedangkan pola prevalensi sering mengonsumsi makanan asin. Sedangkan untuk konsumsi jenis makanan berisiko lainnya pola prevalensi antara laki-laki dan perempuan hampir sama.mengonsumsi makanan manis cenderung menurun setelah usia 45 tahun. Pola yang sama ditemukan untuk konsumsi penyedap makanan menurut umur. sikap dan perilaku hidup bersih dan sehat. sehingga nilai tertinggi delapan (8). Indikator Rumah Tangga meliputi rumah tangga memiliki akses terhadap air bersih. yaitu DI Yogyakarta (58. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. Dalam penilaian PHBS ada dua macam rumah tangga. 3. akses jamban sehat. Menurut tipe daerah. Menurut tingkat pendidikan.7. dan jeroan cenderung meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan.8%).8 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Riskesdas 2007 mengumpulkan 10 indikator tunggal Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)3 yang terdiri dari enam indikator individu dan empat indikator rumah tangga. dan penyedap makanan nampak berbanding terbalik dengan peningkatan kuintil.9% ). PHBS diklasifikasikan “kurang” apabila mendapatkan nilai kurang dari enam (6) untuk rumah tangga mempunyai balita dan nilai kurang dari lima (5) untuk rumah tangga tanpa balita. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis.2% ). penduduk tidak merokok. laki-laki cenderung lebih sering mengonsumsi makanan yang manis-manis dan minum minuman berkafein dibandingkan perempuan. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. makanan berlemak.141 memperlihatkan proporsi rumah tangga yang memenuhi kriteria PHBS baik menurut provinsi. dan rumah tangga dengan lantai rumah bukan tanah. penduduk cukup beraktifitas fisik. dengan membuka jalur komunikasi. berlemak. melalui pendekatan pimpinan. kepemilikan/ketersediaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. dan penduduk cukup mengonsumsi sayur dan buah. demikian halnya perilaku sering mengonsumsi makanan asin. Sedangkan perilaku sering minum minuman berkafein nampak meningkat sesuai peningkatan usia. makanan dipanggang dan diawetkan. Sementara pola prevalensi sering minum minuman berkafein. penduduk yang telah memenuhi kriteria PHBS baik sebesar 38. Tabel 3.

Gorontalo (27.8 46. Tabel 3.4 35.142 208 .8 30.8%).8 37.8%).8 32.9 34.0 33.2 28.0 58.1%) dan Sumatera Barat (28.8 29.1 26.4 38.4%).0 40.6 49.7 Tabel 3.2 35.141 Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Baik menurut Provinsi.8 51.4 42. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia RT dengan PHBS Baik 34.3 33.7 47.1 33.9 33. Riau (28.3 28.2 45.0 24.4 37.3 27.9 32.7 41.2%).8 28.7 34.9 44. Nusa Tenggara Timur (26.8 33.6 47.berturut-turut adalah Papua (24.

5 96.0 23.2 23.1 54.7 91.1 21.7 92.8 24.1 20.0 Indonesia 93.9 19.4 20. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang konsumsi sayur buah* 95.8 27.7 52.4 96.6 24.7 96.8 20.9 19.4 61.2 21.1 25.6 96.9 83.8 60.2 57.2 45.1 19.3 42.5 95.7 55.4 53.6 47.2 92.0 44.1 20.3 25.2 23.7 49.9 92. dan Merokok) pada Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.4 43.6 48.3 89.4 94.4 24.8 24.7 23.5 28.2 22.7 Kurang aktifitas fisik** 53.3 46.8 91.6 22.9 91.2 48.8 49.2 94.1 90.0 86.1 40.5 25.3 44.5 96.5 93.4 96.3 46.6 24.1 45.3 52.7 24.8 26. Kurang Aktifitas Fisik.6 94.0 Merokok*** 23.8 97.3 23.9 43.4 92.8 27.1 54.2 39.4 44.2 50.7 96.4 49.6 48.6 96.8 48.1 47.Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.4 24.3 25.4 97.7 47.6 20.1 91.7 * Penduduk umur 10 tahun ke atas yang makan sayur dan/atau buah <5 porsi/hari ** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan kumulatif <150 menit/minggu *** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok setiap hari 209 .9 93.9 94.5 96.1 87.2 91.5 22.4 29.

6 Tamat SMP 92.0 24.1 75+ Jenis Kelamin 93. yaitu perilaku kurang mengonsumsi sayur dan/atau buah (<5 porsi per hari).5 Kuintil-5 92.3 48.4 38.5 Kuintil-4 93.2 45.0 35-44 93.9 47.9 2.6 26.5 4.0 Tamat SMA 90.5 29.7 * Penduduk umur 10 tahun ke atas yang makan sayur dan/atau buah <5 porsi/hari ** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan kumulatif <150 menit/minggu *** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok setiap hari konsumsi sayur buah* Kurang aktifitas fisik** Merokok*** Tabel 3.1 29.8 52.142 tabel 3.3 27. kurang aktifitas fisik (<150 menit/minggu) dan merokok setiap hari.6 Perkotaan 94.4 53.0 10-14 93.5 34.5 38.0 25-34 93.0 33.8 30.3 49.6 Kuintil-3 93.6 47.3 Tamat SD 93.Tabel 3.0 Tamat PT Tipe daerah 93.0 57. stroke.4 30.6 34. 210 . Kurang Aktifitas Fisik dan Merokok) pada Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.7 58.1 29.7 65-74 95.1 25. diabetes mellitus.9 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 94.8 52.9 36.1 43.9 Tidak Sekolah 94.4 37.0 42.3 Tidak Tamat SD 94.9 28.0 Kuintil-2 94.3 38.7 Laki-Laki 93.5 55-64 94.143 di atas merupakan gabungan dari beberapa perilaku yang menjadi faktor risiko untuk penyakit tidak menular utama (penyakit kardiovaskular.4 Perempuan Pendidikan 94.4 28.9 35.143 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.9 48.4 55.7 44.6 15-24 93.3 76.6 66.0 45-54 93.7 54. penyakit paru obstruktif kronik).8 29.4 42.6 44. Riskesdas 2007 Kurang Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 93. kanker.3 60.5 41.4 30.

Dengan demikian secara nasional. Papua (12. Sarana pelayanan kesehatan rumah sakit.4%).8%) serta Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur (4. Nusa Tenggara Timur (14.8%). puskesmas. poskesdes. DI Yogyakarta (4.8%). DKI Jakarta (4. dan semakin singkat waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan. 211 . Tabel 3.4%) dan Maluku (10.6%).7%). dan polindes/bidan di desa.0%).2% penduduk dapat mencapai ke sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 15 menit dan sebanyak 23.5%).8. termasuk alasan apabila responden tidak memanfaatkan UKBM dimaksud. Begitu pula proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh >30 menit. Daerah dengan proporsi tertinggi RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (30. puskesmas pembantu.0% RT berada lebih dari 5 km. Provinsi dengan proporsi RT bertempat tinggal lebih dari 5 km ke sarana pelayanan kesehatan tertinggi. Nanggroe Aceh Darussalam (10.6% penduduk dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan dimaksud antara 16-30 menit. pos obat desa.7%).4%). Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1% RT di Indonesia berada kurang atau sama dengan 5 km dari sarana pelayanan kesehatan dan hanya 6. Berdasarkan tipe daerah. Dari segi waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan nampak bahwa 67. berturut-turut adalah sebagai berikut: Provinsi Kalimantan Barat (16. Kalimantan Barat (19. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin dekat jarak. Papua (30. yaitu: 1.9%) Tabel 3.2%). masih ada sekitar 9. serta status sosial-ekonomi dan budaya. Sulawesi Barat (14. antara lain jarak tempat tinggal dan waktu tempuh ke sarana kesehatan. di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan. Sulawesi Barat (17.1 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Kemudahan akses ke sarana pelayanan kesehatan berhubungan dengan beberapa faktor penentu. Dalam analisis ini. dokter praktek dan bidan praktek Upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) yaitu pelayanan posyandu.3.144 menunjukkan bahwa sebanyak 94. di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan.3%). Untuk masing-masing kelompok pelayanan kesehatan tersebut dikaji akses rumah tangga ke sarana pelayanan kesehatan tersebut.9%). Sulawesi Tenggara (10. sarana pelayanan kesehatan dikelompokkan menjadi dua. Selanjutnya untuk UKBM dikaji tentang pemanfaatan dan jenis pelayanan yang diberikan/diterima oleh rumah tangga/RT (masyarakat). 2. Sedangkan proporsi terendah RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Kepaulauan Bangka Belitung (3.8 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan 3.2% RT yang memerlukan waktu lebih dari setengah jam untuk mencapai sarana kesehatan.145 menyajikan informasi tentang jarak dan waktu tempuh rumahtangga terhadap sarana pelayanan kesehatan menurut karakteristik rumah tangga. warung obat desa.7%). Sulawesi Tenggara (13. proporsi rumahtangga dengan jarak ke sarana pelayanan kesehatan >5 kilometer.

4 16.4 3.8 31.6 65.7 48.1 70.3 25.2 7.5 44.2 18.4 7.6 0.2 1.1 6.3 19.8 7.9 1.1 48.144 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) Menurut Provinsi.6 48.3 20.3 4.6 2.4 40.5 27.2 67.7 58.9 6.3 55.7 6.0 10.4 1.6 79.5 40.2 52.7 3.4 6.3 5.6 3.5 6.3 7.1 14.4 72.0 67.5 24.4 5.8 39.6 4.5 9.7 12.0 60.6 0.1 69.6 2.7 26.8 9.8 10.1 57.6 75.2 48.8 6.2 2.2 36.8 2.4 61.1 50.2 5.0 20.6 6.5 6.4 11.9 50.9 7.6 2.8 61.3 37.8 4.2 2.4 0.4 44.0 0.0 3.5 4.0 27.2 46. Puskesmas.0 69.3 74.9 4.2 45.8 3.4 47.5 58.5 49.4 39.8 1.7 6.6 47.4 66.9 47.0 4.6 7.9 3.Tabel 3.6 57.3 45.2 65.5 23.3 3.2 16.4 17.8 7.6 46.9 12.0 42.6 31.6 45.7 31.6 2.7 6.8 52.7 51.4 46.3 8.9 30.7 54.9 37.9 5.1 36.9 1.2 28.2 23.2 19.1 24.4 4.0 52.5 47.8 17.6 5.5 8.4 37.3 72.3 22.1 50.9 2.4 38.6 2.5 4.4 75.6 2. Dokter Tabel 3.5 66.2 3.7 WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 16'-30' 31'-60' >60' 55.5 17.8 76.3 3.4 50.7 76.1 27.8 6.0 7.9 1.6 16.4 5. Praktek dan Bidan Praktek Puskesmas Pembantu.6 57.0 52.7 1.6 43.7 52.3 47.9 51.9 44.3 24.0 20.8 10.6 14.0 Indonesia Catatan: 47.3 6.0 4.0 3.0 10.9 42.0 19.7 5.4 29.0 20.6 7.8 58.6 41.8 4.4 3.2 10.2 50.5 5.5 74.2 6.0 3.9 4.5 44.5 0.5 27.4 69.2 69.8 54.8 3.0 76.8 73.4 23.7 1.145 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak dan Waktu Tempuh Ke 212 .1 44. Riskesdas 2007 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua JARAK KE YANKES < 1 KM 1 .6 24.7 52.1 14.7 73.7 1.3 23.0 47.6 41.6 36.4 55.5 KM > 5 KM 27.6 7.6 0.6 72.5 64.7 21.4 72.4 54.8 40.7 35.0 19.1 37.6 35.6 1.4 64.3 1.6 3.7 *) Sarana Pelayanan Kesehatan: Rumah Sakit.0 48.5 22.2 22.4 3.

5 km > 5 km WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 78. tertinggi adalah Provinsi Papua (15.4%).8 48.4 74.147) Tabel 3. dan Polindes.3 61. proporsi rumah tangga dengan jarak ke UKBM >5 kilometer. di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan.4% rumah tangga di Indonesia dapat mencapai UKBM dalam waktu kurang dari atau sama dengan 15 menit.4 6. dan 3. di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan.3 23. Berdasarkan tipe daerah.146 menjelaskan akses rumah tangga ke UKBM.5 46.5 7.9% rumah tangga berjarak kurang dari 1 km dan 19.6 26.2 4.3%).4 Kuintil 2 45. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga JARAK KE YANKES < 1 km 1 .5 6.1 Kuintil 4 48. meliputi Posyandu.5 25.8 45. Dari segi jarak.4 16'-30' 18.8 43.6 5.5 2.9 Tingkat Pengeluaran rumahtangga per kapita Kuintil 1 43.3 >60' 0.1 69.6 50. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 9.8 22. Sebanyak 11.4 48. dan semakin singkat waktu tempuh ke UKBM. Begitu pula proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh >30 menit.1 2.0 6. Riskesdas 2007 PROVINSI JARAK KE YANKES < 1 km 1 . Provinsi dengan proporsi rumah tangga tertinggi berjarak lebih dari 5 km ke UKBM adalah Kalimantan Barat (6.6 Kuintil 5 52.3 1. nampak bahwa 78.3%) dan Riau (5.8 39.5 4.5 19.7 5.0 Catatan: *) Sarana Pelayanan Kesehatan: Rumah Sakit.6% rumah tangga yang tersisa memerlukan waktu lebih dari 30 menit.4 Perdesaan 40. Berdasarkan waktu tempuh ke UKBM nampak bahwa 85. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin dekat jarak.146 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat* dan Provinsi. Poskesdes.5% berjarak 1-5 km dari UKBM. (Tabel 3.0 67. Praktek dan Bidan Praktek Puskesmas Pembantu.1% rumah tangga memerlukan waktu antara 16-30 menit.7 31'-60' 2.Sarana Pelayanan Kesehatan*) dan Karakteristik Rumah Tangga.0 3.6 Tipe Daerah Perkotaan 58.9 1.6 3. Puskesmas.8 26.1 60.5 km > 5 km WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 16'-30' 31'-60' >60' 213 .5 8.1 8.6 Kuintil 3 47.8 4.6%). disusul Provinsi Nusa Tenggara Timur (11. Provinsi dengan proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke UKBM.7 7. Dokter Tabel 3.4 64.

2 74.2 16.3 7.6 66.3 0.8 5.5 91.6 Nusa Tenggara Barat 85.7 85.3 0.3 Nusa Tenggara Timur 70.3 88.9 1.7 6.4 3.6 6.1 1.1 84.3 16.0 7.0 3.2 1.2 13.1 84.6 Sulawesi Tenggara 80.NAD 69.4 1.8 2.7 9.7 11.4 0.1 1.4 2.5 Sumatera Barat 75.5 1.9 1.3 0.5 18.6 25.1 3.6 0.2 0.1 7.2 27.2 6.6 1.4 DI Yogyakarta 87.8 15.0 84.5 Bali 81.5 0.9 15.7 1.0 Jawa Barat 90.6 0.2 Tabel 3.5 6.1 2.7 22.5 14.9 15.9 4.9 2.4 2.1 Indonesia 78.1 Jawa Timur 82.3 8.3 13.4 92.7 23.2 3.3 Kalimantan Barat 62.9 8.1 0.5 1.8 Sumatera Selatan 73.9 9.8 0.9 92.5 Sulawesi Barat 68.9 8.7 0.8 1.4 Maluku 88.4 Jambi 69.6 22.9 5.1 3.3 24.5 0.6 31.6 3.6 1.3 3.0 16.3 2.6 18.3 82.1 23.5 1.9 7.7 7.6 93. Poskesdes.9 89.8 13.5 1.9 Gorontalo 72.2 17.4 0.2 0.7 1.4 Maluku Utara 91.2 0.5 1.3 Sulawesi Selatan 74.2 Kalimantan Timur 83.9 83.9 11.2 4.7 2.3 93.1 21.2 9.4 Bengkulu 78.5 90.0 6.5 21.6 2.2 0.1 3.4 0.4 1.3 13.6 *) UKBM meliputi Posyandu.3 8.1 1.5 20. Polindes 80.7 89.8 1.2 79.1 68.3 2.4 14.3 1.4 0.9 2.7 Sulawesi Tengah 77.9 29.5 0.3 27.3 24.1 81.9 21.7 2.5 9.2 0.0 11.6 2.4 1.9 86.9 4.6 12.0 16.0 88.1 1.2 7.0 Papua 66.8 86.7 80.2 83.6 8.4 Papua Barat 88.1 Lampung 76.7 3.1 9.1 1.7 3.4 8.8 2.7 0.4 2.0 1.5 9.0 2.8 Bangka Belitung 76.5 0.8 79.9 DKI Jakarta 86.5 0.9 11.8 0.3 1.0 0.1 9.8 12.5 0.7 81.4 Kalimantan Selatan 75.6 15.7 2.9 2.7 90.3 24.2 Kepulauan Riau 79.4 1.3 1.8 67.5 2.5 Sumatera Utara 74.1 0.1 Sulawesi Utara 83.0 3.0 27.0 87.1 91.6 14.7 22.0 5.4 Jawa Tengah 86.6 4.6 0.7 1.2 1.4 87.3 28.2 0.2 0.6 0.4 0.3 2.2 1.9 19.9 0.3 Kalimantan Tengah 74.7 88.7 Riau 64.3 29.147 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat*) dan Karakteristik Rumah Tangga.0 20.7 Banten 93. Riskesdas 2007 214 .

0 1.3% rumah tangga.4 1.7 Kuintil 4 79. sedangkan terendah di Provinsi Jawa Tengah (5.Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan JARAK KE UKBM < 1 km 88. Provinsi dengan persentase rumah tangga memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (42.9%) dan terendah adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (19.0 85.8%).3 2.9 10.4 >60' 0.5 1. Polindes Tabel 3.4 24.6 88.0 64.0 Kuintil 2 77. Secara keseluruhan. Tampak bahwa persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes di perdesaan lebih besar dibandingkan dengan perkotaan.4 1.8 18. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Tidak Alasan lain membutuhkan NAD Sumatera Utara 30.4 24. Bila ditinjau dari tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. seperti tidak ada anggota rumah tangga (ART) yang sakit.7 21.7%).7 11. Tabel 3. nampak ada kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin kurang memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes. Poskesdes.7 1.4 <15' 92.148 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes Menurut Provinsi. Sedangkan yang sebetulnya membutuhkan tetapi tidak memanfaatkan posyandu atau poskesdes adalah sebanyak 10.2 73. Tabel 3.5 1.4 2.149 menggambarkan pemanfaatan posyandu/poskesdes berdasarkan karakteristik rumah tangga.7 86. tidak ada yang hamil atau tidak mempunyai bayi/balita.9%).4 Provinsi Memanfaatkan 215 .7 3.4 2. Provinsi dengan persentase rumah tangga tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/ poskesdes tertinggi adalah Provinsi Maluku (20.5 19.5% rumah tangga menyatakan tidak membutuhkan pelayanan di posyandu atau poskesdes karena berbagai alasan.1 82. memberikan gambaran persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan posyandu atau poskesdes di tiap provinsi selama tiga bulan terakhir.8 Kuintil 3 78.6 Kuintil 5 81.9 10.3 84.8 20.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 76.5 WAKTU TEMPUH KE UKBM 16'-30' 6.8%) dan Jawa Barat (5.1 50.2 81.1 *) UKBM meliputi Posyandu.4 1. di Indonesia sebanyak 27.5 km 11.1 31'-60' 0.1 1. Sebanyak 62.1 2.9%) dan Nanggroe Aceh Darussalam (19.5 > 5 km 0.5 17.3% rumah tangga memanfaatkan pelayanan di posyandu atau poskesdes.4 9.7 13.148.6 1.9 19.4 3.8 12.1 1.9 11.1 1 .8 2.6 1.

2 12.5 10.6 67.4 61.0 7.0 11.4 59.1 7.2 26.9 5.4 56.8 11.Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 28.1 60.5 57.149 Persentase Rumah Tangga Menurut Pemanfaatan Posyandu/Poskesdes dan Karakteristik Rumah Tangga.3 62.9 27.8 54.2 11.7 23.6 22.6 20.3 Indonesia 27.8 30.1 62.7 36.5 61.4 19.4 25.4 25.3 11.4 70.0 6.9 Perdesaan 29.2 Karakteristik rumah tangga Memanfaatkan Tipe Daerah Perkotaan 24.9 30.2 31.3 58.9 7.4 51.6 12.3 42.3 Tabel 3.3 42.1 66.0 8.2 17.4 10.7 52.6 12.7 64.0 27.8 5.7 Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita Per Bulan 216 .0 55.8 7.8 20.9 27.4 27.7 65.8 23.4 28.3 15.8 25.3 66.9 9.4 68.9 69.9 5.2 13.9 33.3 25.4 11.0 26. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Tidak Alasan lain membutuhkan 8.1 59.8 11.7 27.2 60.8 31.0 30.4 8.8 33.5 28.3 68.6 64.8 26.0 23.7 67.1 7.5 13.8 22.9 6.2 64.5 60.6 66.5 16.3 48.5 22.4 68.6 58.2 11.8 18.9 58.

PMT dan suplemen gizi. untuk pelayanan penimbangan.4 31. Tampak secara keseluruhan di Indonesia jenis pelayanan yang banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga adalah penimbangan (85.0 71. Sedangkan pelayanan KB dan pengobatan di perdesaan lebih banyak daripada di perkotaan.152 menggambarkan alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes dalam tiga bulan terakhir (di luar yang tidak membutuhkan).3 23.2%). Menurut tipe daerah. Sedangkan yang menjawab letak jauh dan tidak ada posyandu persentasenya hampir sama.6%). semakin sedikit yang menerima pelayanan penimbangan.1% dan 24. di perkotaan alasan ’jenis layanan posyandu/poskesdes tidak lengkap’ lebih mendominasi.3%.7%) dan pelayanan KB (28. PMT.4 10. imunisasi.1%). Hampir separuh rumah tangga (49. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. Untuk alasan ’letak posyandu/poskesdes jauh’ tertinggi di Provinsi Riau (52. Tabel 3. sedangkan untuk alasan ’tidak ada posyandu/poskesdes’ tertinggi di Papua Barat (71.6%) dan terendah adalah Papua Barat (17. Tabel 3.1 10. Riskesdas 2007 Provinsi Penimbangan Penyuluhan Imunisasi KIA KB Pengobatan PMT Suplemen Gizi Konsultasi Risiko 217 . Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.150 menggambarkan jenis pelayanan posyandu/poskesdes yang pernah dimanfaatkan rumah tangga dalam tiga bulan terakhir.0 27. yaitu masing-masing 26. imunisasi.150 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.9 18.3 Tabel 3.2%).8 62. sedangkan di perdesaan alasan yang banyak dipakai adalah ’letak jauh’.6%) tidak memanfaatkan pelayanan di posyandu/poskesdes karena dianggap tidak lengkap.8%).4 66. Pada rumah tangga yang sebetulnya membutuhkan pelayanan posyandu/poskesdes dalam tiga bulan terakhir tetapi tidak memanfaatkan diminta untuk menyebutkan alasannya. Berdasarkan tipe daerah.5%) dan terendah di DI Yogyakarta (6. Tabel 3.1 10. semakin banyak yang menerima pelayanan tersebut.4%) dan terendah di Provinsi DI Yogyakarta (5.5 54.3 10.0%) dan imunisasi (55. Sebaliknya untuk pelayanan pengobatan dan konsultasi risiko penyakit semakin tinggi tingkat pengeluaran. Tabel 3. Ketidakberadaan posyandu / poskesdes disebut sebagai alasan untuk tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes oleh rumah tangga dengan persentase yang tidak berbeda antara perkotaan dan perdesaan.Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 35.1 10. penyuluhan.151 menggambarkan jenis pelayanan posyandu/poskesdes yang pernah dimanfaatkan rumah tangga dalam tiga bulan terakhir menurut karakteristik rumah tangga. dan suplemen gizi lebih banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga di perkotaan daripada di perdesaan. Provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi menjawab ’layanan tidak lengkap’ adalah DI Yogyakarta (88.153 menggambarkan alasan utama (di luar tidak membutuhkan) tidak memanfaatkan posyandu/poskesdes menurut karakteristik rumah tangga. Hanya sedikit rumah tangga yang memanfaatkan posyandu/poskesdes untuk konsultasi risiko penyakit (13.1 58.

9 64.7 37.3 29.9 35.2 35.3 33.1 27.1 9.8 52.9 52.7 54.2 27.5 46.7 37.9 45.2 20.5 30.9 33.2 54.4 50.2 36.5 46.7 47.5 42.0 40. Tabel 3. Provinsi Gorontalo menempati persentase tertinggi (76.0 23.7 79.0 51. sedangkan yang terendah adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat (13.5 27.2 46.4%).9 34.3 36.2%).9 30. Sedangkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa di perdesaan (25.2 17.3 59.1 89.7 28.7 28.2 27.1 43.9 25.2 22.9 22.1 34.4 88.0 62.3 65.9 58.5 25.7%).6 27.0%) dan Papua Barat (54.6 31.151 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.3 23.7 22.7 31. Secara keseluruhan lebih dari separuh rumah tangga.2 42.6 41.7 28.0 34.1 67.7 37.2 20.5 67.2 23.1 62.2 48.2 22.1 27.2 15.2 25.9 56.4 31.2 80.5 28. Riskesdas 2007 218 .0 32.1 58.7 30.9 43.8%) lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan (15.3 69.5 17.6 62.9 48. sedangkan terendah adalah Provinsi Papua (30.8 46.3 46.4 49.0 56.6 38.6 30.4 47.0 82.1 30.5 12.3 27.8 28.3 25.9 19.5 56.5 71.7 76.0 11.3 25.6 35.8 59.6 30.3 40.7 9.2 8.2 47.6 16.3 94.4 26.9 55.8 55.7 88.4 33.9 58.8 58.8 64.4 37.4 37.5 16.1 36.2 60.4 51.2 50.3 56.1 39.0%) dan terendah DKI Jakarta (6.6 42.3 45.2 10.0 39.6 59.2 11.5 13.0 22.4 16.0 53.0 30.8 92.4 42.2 33.5 85.1 46.4 35.6 55.7 39.6 17.1 52.2 50.3 61.1 48. baik yang tinggal di daerah perdesaan maupun perkotaan.1 55.6 24.0 78.3 28.4 55.3 37.2 95.6 25.6 80.2 54.4 46.5 40.7 92.155 menggambarkan pemanfaatan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir menurut karakteristik rumah tangga.9 94.8 34.6 50.2 55.9 52.2 98.8 56.0 24.2 48.6 68.0 24.9 38.0 34.9 61. Sedangkan provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi yang tidak memanfaatkan dengan alasan lain (diluar tidak membutuhkan) adalah Provinsi Papua (55.1 52.4 27.5 49. Untuk alasan tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan di desa.2 60.Penyakit NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 92.5 14.2 24.2 60.5 31.0 25.6 28.2 32.2 46. tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan di desa.7 39.0 44.5 34.7 24.8 55.4 53.0 36.4 32.8 96.0 20.3 28.6 25.7 25.9 78.6 62.2 84.7 37.3 40.7 16.5 70.5 81.0 10.4 67.1 18.3 33.3 85.7 49.3 12.8 38.5 37.2 11.7 37.9 72.1 46.8 9.8 30.3 29.6 85.9 54.5 91.7 14.5 47.0 47.8 33.9 48.8 29. Tabel 3.2 80.0 24.7 20.3%).9 68.2 26.9 15.1 90.9 24.9 60.3 60.0 14.1 10.1 54.9 32.9 28.8 51.4%).3 38.5 33.5 78.2 34.1 83.7 24.9 28.7 33.9 34.7 32.3 49.6%).9 36.3 10.6 12.7 46.4 46.4 53.0 40.2 32.7 13.6 77.7 42.8 74.5 32.1 88.9 40.9 46.6 12.1 93.1 50.8 37.0 24.1 40.4 14.2 35.7 Provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa adalah Provinsi Sumatera Barat (34.8 41.6 27.9 35.6 42.0 43.9 46.1 18.5 32.4 59.5 51.2 36.7 39.7 56.2 9.0 64.3 51.5 89.5 41.3 50.

8 42.7 32.6 25.4 44.1 53.5 39.1 44.7 13.5 48.7 35.7 26.9 15.1 28.9 40.6 30.8 219 .6 47.6 29.2 41.7 Kuintil 5 81.3 35.7 Tipe Daerah Perkotaan 89.6 27.8 33.8 30.152 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Provinsi.3 30.6 55.2 51.9 14.1 54.6 30.4 43.0 20.5 45.3 13.2 30.7 54.7 62.2 20.0 45.7 43.2 52.2 29.2 36.7 30.8 46.8 30.7 43.8 Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita Kuintil 1 87.2 39.7 37.0 28.2 56.9 36.2 35.1 posyandu 20.1 46.6 Kuintil 2 85.6 42.0 47.3 43.2 49.4 Perdesaan 82.7 52.1 lengkap 63.0 37.3 Tabel 3.1 24.Tipe Daerah Penimbangan Penyuluhan Imunisasi KIA KB Pengobatan PMT Suplemen Gizi Konsultasi Risiko Penyakit 13.4 23.2 8.5 40.1 25.5 14.4 13.2 58.5 Kuintil 3 84.9 38. Riskesdas 2007 Alasan utama tidak memanfaatkan Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan posyandu/poskesdes Tdk ada Layanan tdk Letak jauh 16.6 38.6 Kuintil 4 83.7 12.9 39.

0 37.2 88.8 17.5 60.5 21.3 20.1 39.3 10.0 17.9 19.7 18.2 46.6 30.4 26.1 22.3 24.7 26.9 61.0 10.1 24.4 11.8 29.6 Tabel 3.1 51.3 12.7 44.1 42.6 31.5 25.7 50.4 43.7 37.0 34.7 71.9 44.8 5.5 22.8 67.8 9.8 22.9 39.2 29.7 69.0 6.9 38.153 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Karakteristik Rumah Tangga.2 19.9 50.4 6.6 55.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 33.8 51.6 32.2 24.2 22.4 70.Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 23.0 25.4 44.6 18.3 58.0 50.0 52.3 10.4 8.9 220 .5 30.7 26.5 50.9 27. Riskesdas 2007 Alasan utama tidak memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Letak jauh posyandu/poskesdes Tdk ada Layanan tdk posyandu lengkap 60.6 19.8 25.2 41.5 47.8 27.4 35.0 17.5 49.3 37.6 12.4 38.1 17.6 16.3 24.6 Kuintil 3 26.2 66.5 25.4 16.6 39.6 33.6 60.3 Tipe Daerah Perkotaan 15.6 50.1 Perdesaan 31.3 8.7 Kuintil 2 29.4 36.1 56.1 44.5 13.9 16.

Kuintil 4 Kuintil 5

22.8 18.2

24.3 22.8

52.9 59.0

Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran, semakin sedikit yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dan semakin banyak yang tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan desa. Dari rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir, jenis pelayanan yang diterima dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pelayanan KIA dan pengobatan. Pelayanan KIA meliputi pemeriksaan kehamilan, persalinan, pemeriksaan ibu nifas, pemeriksaan neonatus, dan pemeriksaan bayi/balita. Tabel 3.156 menggambarkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut jenis pelayanan dan provinsi. Jenis pelayanan yang paling banyak dimanfaatkan adalah pengobatan (82,9%). Adapun pelayanan KIA yang terbanyak dimanfaatkan adalah pemeriksaan bayi/balita (29,2%), disusul pemeriksaan kehamilan (22,5%). Persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan persalinan, pemeriksaan ibu nifas dan pemeriksaan neonatus masing-masing di bawah 10%. Menurut provinsi, pemanfaatan polindes/bidan di desa sebagai tempat pengobatan paling tinggi di Provinsi Sulawesi Tengah (90,1%) dan terendah di DKI Jakarta (56,6%). Untuk pelayanan KIA, pemeriksaan bayi/balita terbanyak dimanfaatkan di Provinsi Maluku Utara (69,1%) dan terendah Bengkulu (17,7%). Pemeriksaan kehamilan tertinggi dimanfaatkan di Provinsi Maluku Utara (97,0%) dan terendah di Bengkulu (11,3%). Pertolongan persalinan terbanyak dimanfaatkan di Provinsi Jambi (42,1%) dan terendah di Riau (4,7%).

Tabel 3.154 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Provinsi, Riskesdas 2007
Tidak Memanfaatkan Tidak Alasan lain membutuhkan
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah 23,4 24,0 34,0 19,9 23,9 26,0 33,1 26,8 21,4 11,3 6,4 21,9 25,3 48,8 54,3 42,4 57,5 45,5 51,2 46,2 50,8 46,4 43,4 49,4 56,9 58,2 27,8 21,6 23,6 22,5 30,7 22,8 20,7 22,4 32,2 45,3 44,2 21,2 16,5

Provinsi

Memanfaatkan

221

DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

8,7 25,6 20,5 23,5 15,8 29,2 17,2 13,3 19,3 9,8 8,2 29,1 19,2 19,9 9,9 19,0 14,1 27,7 10,8 14,3

50,4 52,5 45,3 50,1 71,0 39,0 52,9 64,5 63,3 51,7 67,4 45,6 56,1 54,3 76,4 62,2 45,0 45,4 34,9 30,7

40,9 21,8 34,3 26,3 13,2 31,8 29,9 22,1 17,3 38,5 24,4 25,3 24,7 25,8 13,7 18,8 41,0 27,0 54,3 55,0

Indonesia

21,9

52,9

25,2

Tabel 3.155 Persentase Rumah Tangga yang memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Karakteristik Rumah Tangga, Riskesdas 2007
Tidak Memanfaatkan Tidak Alasan lain membutuhkan
57,0 50,3 49,6 50,7 52,5 54,0 58,2 27,4 23,8 25,6 24,8 24,9 25,2 25,1

Karakteristik rumah tangga

Memanfaatkan

Tipe Daerah Perkotaan 15,6 Perdesaan 25,8 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 24,8 Kuintil 2 24,5 Kuintil 3 22,6 Kuintil 4 20,8 Kuintil 5 16,7

222

Tabel 3.157 menggambarkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut jenis pelayanan dan karakteristik rumah tangga. Menurut tipe daerah, nampaknya rumah tangga di perkotaan lebih banyak memanfaatkan polindes/bidan di desa untuk pelayanan KIA, sedangkan di perdesaan lebih banyak yang memanfaatkan untuk pelayanan pengobatan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak kecenderungan, semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga, semakin sedikit yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa untuk pemeriksaan bayi/balita, dan semakin meningkat yang memanfaatkan pemeriksaan kehamilan. Tabel 3.158 menggambarkan alasan utama rumah tangga (di luar yang tidak membutuhkan) tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut provinsi. Rumah tangga yang tidak memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir diminta untuk menyampaikan alasannya. Alasan utama yang mengemuka meliputi ’tidak ada polindes/bidan di desa’ (39,3%), ’letak jauh’ (8,9%), dan ’layanan tidak lengkap’ (7,9%). Persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ’tidak ada polindes/bidan desa’ tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Timur (77,7%) dan terkecil di Provinsi Jawa Tengah (15,3%). Provinsi Sulawesi Barat merupakan provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi (23,8%) yang tidak memanfaatkan polindes/bidan desa dengan alasan ‘letak polindes/bidan di desa jauh’, dan persentase terendah Provinsi DKI Jakarta (1,1%). Sedangkan untuk alasan ’layanan tidak lengkap’ persentase tertinggi adalah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (26,5%) dan terendah Provinsi Bangka Belitung (2,1%).

Tabel 3.156 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi, Riskesdas 2007
Pemeriksaan Pemeriksaan Persalinan Ibu Nifas Pemeriksaan Neonatus Pemeriksaan Bayi/Balita Pengobatan

Provinsi
DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat

Kehamilan

29.6 17.5 15.0 29.8 75.2 15.3 11.3 18.4 20.0 16.2 38.2 23.2 15.6 33.5 38.2 24.6 72.0 92.2

20.0 11.6 4.7 19.1 42.1 6.3 5.3 7.4 5.9 6.8 14.2 10.2 6.4 21.3 24.2 10.7 26.3 40.9

17.8 10.0 4.6 16.9 26.3 5.5 4.1 7.6 4.2 4.5 14.0 10.3 6.0 20.9 24.8 11.0 16.7 15.9

16.0 10.3 5.8 19.3 27.8 5.6 5.3 6.7 5.6 6.9 12.6 9.7 5.6 17.5 6.2 11.7 15.8 18.2

42.8 23.1 28.4 30.7 39.4 25.4 17.7 24.8 23.9 33.1 34.7 29.4 20.5 36.2 34.4 30.8 47.2 49.8

76.9 86.8 89.7 80.1 77.8 86.7 88.6 84.3 77.3 86.8 56.6 78.8 84.7 78.6 85.8 82.5 85.2 71.9

223

Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

20.5 20.3 20.8 21.2 21.4 23.8 35.5 24.8 24.1 40.8 19.9 26.9 97.0 49.5 30.2

8.7 8.1 6.3 8.1 7.3 9.7 12.4 6.2 8.5 25.8 6.6 11.1 11.6 25.7 13.6

8.6 7.4 5.6 6.6 8.7 14.1 10.7 6.1 9.8 27.4 4.6 9.1 16.4 23.3 13.6

7.2 7.3 5.1 5.6 4.8 10.7 9.1 4.1 7.8 19.9 3.5 8.6 20.6 22.8 11.6

30.9 30.2 20.7 20.6 22.7 44.1 32.8 23.8 39.0 48.3 30.4 24.1 69.1 45.1 34.3

88.6 79.4 77.1 80.5 73.2 72.7 90.1 80.3 81.4 68.7 78.5 78.4 77.9 59.7 72.1

Indonesia

22.5

9.8

9.2

8.2

29.2

82.9

Tabel 3.157 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga, Riskesdas 2007
Kuintil 1 Karakteristik Kuintil 2 rumah Kuintil 3 Kuintil 4 tangga Kuintil 5 Tipe Daerah 20.1 21.7 Pemeriksaan 22.2 23.5 Kehamilan 26.1 10.3 9.7 9.5 10.3 Persalinan 8.8 9.3 9.2 Pemeriksaan 9.2 9.9 Ibu Nifas 8.2 10.5 8.8 8.0 8.2 Pemeriksaan 8.2 8.7 Neonatus 8.0 9.3 7.8 32.9 30.2 Pemeriksaan 28.9 26.5 Bayi/Balita 25.2 33.2 27.7 83.3 83.0 Pengo83.1 83.4 batan 81.5 77.9 84.8

Perkotaan 27.7 10.9 Perdesaan 20.6 9.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita

Tabel 3.159 menggambarkan persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan utama (di luar yang tidak membutuhkan) menurut karakteristik rumah tangga. Menurut tipe daerah, persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ‘letak jauh’ dan ‘layanan tidak lengkap’ lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan. Sedangkan alasan ‘tidak ada polindes/bidan di desa’ lebih banyak ditemukan di perkotaan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak kecenderungan, semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga,

224

semakin sedikit yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ‘letak jauh’, dan semakin banyak yang mengajukan alasan ‘pelayanan tidak lengkap’. Tabel 3.160 menyajikan informasi tentang pemanfaatan Pos Obat Desa (POD) atau Warung Obat Desa (WOD) dalam tiga bulan terakhir. Secara keseluruhan sebagian besar rumah tangga (79,6%) tidak memanfaatkan POD/WOD. Persentase rumah tangga yang memanfaatkan POD/WOD tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (24,4%) dan terendah di Kepulauan Bangka Belitung (0,5%). Sedangkan persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD karena tidak membutuhkan tertinggi di Provinsi Riau (16,8%) dan terendah di Lampung (0,4%). Kajian pemanfaatan POD/WOD menurut karakteristik rumah tangga tersaji pada Tabel 3.161 Persentase rumah tangga yang memanfaatkan POD/WOD lebih banyak di perdesaan (11,3%) daripada di perkotaan (8,7%), sebaliknya untuk rumah tangga yang tidak membutuhkan lebih banyak di perkotaan (11,6%). Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan bahwa ada kecederungan, semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga, semakin tinggi pula persentase rumah tangga yang tidak membutuhkan POD/WOD.

Tabel 3.158 Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa Menurut Alasan Lain dan Provinsi, Riskesdas 2007
Alasan Lain Tidak Memanfaatan Poslindes/Bidan Letak Tidak ada Layanan tdk jauh 7.8 13.1 9.5 17.8 8.5 14.6 9.0 12.2 4.1 5.6 1.1 10.9 6.2 2.0 7.7 5.6 5.9 18.8 13.4 20.7 7.1 7.6 polindes/bidan 39.5 46.2 30.3 27.1 19.2 19.9 31.5 22.8 27.0 71.1 81.9 28.3 15.3 70.1 19.3 53.9 39.6 26.3 53.7 35.6 53.9 25.4 lengkap 26.5 7.2 4.6 12.4 15.0 10.2 10.6 4.9 2.1 6.2 6.2 4.7 7.9 7.5 6.4 3.3 6.3 16.1 4.9 7.3 5.9 9.3 Lainnya 26.2 33.5 55.6 42.7 57.3 55.3 48.9 60.1 66.8 17.2 10.9 56.1 70.6 20.5 66.6 37.2 48.1 38.7 28.0 36.5 33.1 57.7

PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan

225

Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia

3.4 1.4 8.5 11.3 12.3 12.3 23.8 6.3 1.6 1.2 5.7 8.9

77.7 58.3 24.6 38.2 26.3 20.0 31.5 56.9 29.7 64.7 64.4 39.3

4.7 7.5 12.4 4.9 7.5 9.1 15.0 8.7 2.5 2.3 10.4 7.9

14.2 32.9 54.5 45.6 53.9 58.5 29.7 28.0 66.3 31.8 19.6 43.9

Tabel 3.159 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa dan Karakteristik Rumah Tangga, Riskesdas 2007
Karakteristik rumah Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/BDD Tidak ada Layanan Lainnya 39.9 46.8 42.1 42.9 43.0 45.0 47.3

tangga Letak jauh polindes/bidan tdk lengkap Tipe Daerah Perkotaan 3.4 49.7 7.0 Perdesaan 12.8 31.8 8.6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 11.8 39.2 6.9 Kuintil 2 10.1 39.7 7.3 Kuintil 3 9.4 40.0 7.6 Kuintil 4 7.8 38.7 8.5 Kuintil 5 5.5 37.9 9.3

Rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD diminta untuk menyebutkan alasannya. Sebagian besar rumah tangga (94,8%) tidak memanfaatkan POD/WOD dengan alasan utama ‘tidak ada POD/WOD’. Tabel 3.162 menunjukkan rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD dengan alasan ‘letak jauh’ tertinggi Provinsi Riau (3,5%) dan terendah di Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara (masing-masing 0,1%). Yang menyatakan alasan ‘tidak ada POD/WOD’, tertinggi di Provinsi Lampung (98,2%) dan terendah di Papua Barat (90,1%). Sedangkan untuk alasan ‘obat tidak lengkap’, tertinggi di Provinsi Maluku Utara (7,1%) dan terendah di Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, dan DI Yogyakarta (0,0%). Tabel 3.163 menyajikan informasi tentang alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan POD/WOD menurut karakteristik rumah tangga. Alasan utama terbanyak

226

1 90.5 10.1 69.0 5.4 21.1 77.2 3.6 69.9 4.1 79.6 4.160 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/ Warung Obat Desa dan Provinsi.3 81.5 11.5 14.1 9.4 0.4 17.0 15. begitu pula menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 11.6 10.2 75.7 10.1 9.2 71.2 96.8 85.0 89.7 8.9 15.8 10.9 85.0 21. Tidak tampak perbedaan antara daerah perdesaan dan perkotaan dalam hal alasan utama untuk tidak memanfaatkan POD/WOD.1 13.2 11.4 3.4 69.6 6.1 11.5 84.2 88.1 5.1 80.3 82.5 10.9 64.7 15.3 3.0 92.5 12.6 13.8 11.2 10.0 18.1 88.4 7.6 12.4 9.2 3.7 74.4 9.7 4. Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Memanfaatkan 24.6 8.yang dikemukakan adalah tidak adanya POD/WOD.0 membutuhkan 11.1 66.5 76.5 0.1 227 .9 4.2 16.4 7.2 13. Tabel 3.9 3. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Tidak Alasan lain Provinsi Nanggroe Aceh D.3 9.9 7.6 86.4 0.7 6.6 7.1 80.4 12.0 85.3 76.6 80.4 12.

3 10.7 79.2 10.2 79.0 79.0 Indonesia 10.4 79.161 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/ Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.5 7.5 79.2 Kuintil 5 9.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 10.2 85.2 9.3 12.7 Perdesaan 11.8 88.6 228 .0 5.0 15.3 10.8 79.6 5.6 80. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Tidak Alasan lain membutuhkan 11.6 Tabel 3.1 5.Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 3.6 89.6 6.1 9.6 7.4 Kuintil 4 10.9 78.6 78.6 9.2 7.5 80.4 Karakteristik rumah tangga Memanfaatkan Tipe Daerah Perkotaan 8.4 Kuintil 2 10.4 14.9 Kuintil 3 10.

0 0.6 0.1 91.1 0.1 0.1 0.8 1.2 95.2 1.1 3.2 0.5 0.1 1.2 3.5 Lainnya 1.3 96.1 0. Riskesdas 2007 Alasan Utama Tidak Memanfaatkan POD/WOD Lokasi Tidak ada Obat tidak jauh 1.2 1.6 0.0 0.Tabel 3.4 2.3 2.2 97.7 1.1 0.5 2.6 93.5 0.3 0.4 2.5 0.3 96.3 0.6 93.7 8.3 0.8 98.5 1.4 1.5 0.1 92.1 0.4 0.7 4.5 2.5 1.3 0.3 0.8 2.1 3.0 90.8 89.5 0.5 1.7 0.3 5.0 7.162 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi.3 2.5 96.0 1.6 2.6 93.4 2.0 3.5 98.6 0.5 91.0 0.0 1.7 2.0 2.7 0.1 97.2 0.9 94.9 2.9 96.0 96.9 4.1 96.3 lengkap 4.0 0.7 0.2 98.0 2.0 97.3 4.7 91.0 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku 229 .2 0.2 1.6 3.0 2.0 96.2 POD/WOD 93.7 3.2 0.8 3.5 0.0 1.2 0.0 97.2 93.8 96.2 2.9 3.8 3.5 0.8 0.9 98.8 1.6 0.8 1.4 0.5 0.2 2.8 96.4 0.5 0.7 0.

5 Perdesaan 1.0 1.2 94.4 3.9 2.4 3.6 7.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 1.0 95.0 8.163 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.0 94.5 89. Pada bagian ini dikumpulkan informasi tentang jenis sarana dan sumber pembiayaan yang paling sering dimanfaatkan oleh responden Pembiayaan kesehatan meliputi untuk perawatan kesehatan rawat inap dan rawat jalan.0 94.7 Kuintil 5 0.7 2.1 Kuintil 3 1.0 Kuintil 4 1. Riskesdas 2007 Alasan Utama Tidak Memanfaatkan POD/WOD Lokasi Tidak ada Obat tidak jauh POD/WOD lengkap 0. Seluruh penduduk diminta untuk memberikan informasi tentang apakah yang bersangkutan pernah menjalani rawat inap dalam 5 (lima) tahun terakhir dan atau rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir.0 0. Jamsostek.9 1.7 2.8 94.7 90.0 1.1 5.9 1. Dana Sehat. termasuk penggunaan Askeskin/SKTM yang salah sasaran.8 2. Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Sumber biaya dibedakan menjadi sumber biaya sendiri/keluarga.0 3.Maluku Utara Papua Barat Papua 0.8 1.6 Tipe Daerah Perkotaan 0.2 Karakteristik rumah tangga Lainnya 3.1 95. serta dari 230 .1 90.1 1. Asuransi (Askes PNS.0 3. Mereka yang pernah rawat jalan maupun rawat inap diminta untuk menjelaskan dimana terakhir menjalani perawatan kesehatan. Asabri. Askes Swasta.1 1.1 95. Dari data ini diperoleh gambaran tentang seberapa besar persentase rumah tangga yang telah tercakup oleh asuransi kesehatan. dan lainnya.1 Tabel 3.1 1.2 0. di samping peningkatan derajat kesehatan (health status) dan keadilan dalam pembiayaan pelayanan kesehatan (fairness of financing).2 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Salah satu tujuan sistem kesehatan adalah ketanggapan (responsiveness).8.5 Indonesia 1. dan JPK Pemerintah Daerah).1 3.9 94.9 Kuintil 2 1.9 3.

0 0.5 0.0 0.9 2.3 90.9% dan 5.5 0. Demikian pula dengan pemanfaatan Rumah Sakit Swasta sebagai tempat rawat inap.8 2.8 0.5 1.0 0.2 0. Pihak-pihak yang menanggung biaya perawatan kesehatan tersebut bisa lebih dari satu.8 0.8 3.4 0.2 87.2 0.0 RSLN 0. Pemanfaatan RS Swasta terbesar di Provinsi DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara yaitu masing-masing sebesar 5.1 93. Puskesmas sebagai tempat rawat inap secara nasional menempati urutan ketiga setelah RS Pemerintah dan RS Swasta.1%) kemudian disusul RS Swasta (2.4 3.9 92.2 Batra 0.8 1.1 0.4 0. paling banyak masyarakat masih memanfaatkan RS Pemerintah (3.2 2. Untuk rawat inap (Tabel 3.4 1.1 0. masing-masing sebesar 2.4 1.2 2.0 0.2 0.1 0.6 0.1 0.1 0.3 2.1 95.7 4.7 3.1 0.6 0. Persentase tertinggi terdapat di Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Barat.1 0.1 0.2 0.5 96.0 0.6 89.0 0.5 0.0 0.3 0.8 0.1 0.0 0.5 0.1 0.9 0.1 0.3 0.2 2.2 0.4 0.1 3.6 0.4 0.1 0.9 2. Sedangkan terendah di Provinsi Sulawesi Barat yaitu 1.2 0. terdapat 11 provinsi yang persentase pemanfaatan di atas persentase nasional.9 0.2 Puskesmas 0.2 1.1 0.0 0.4 0.0 0.6 0.1 0.2 3.5%.3 0.1 90.1 0.5 0.8 2.3 0.2 3.1 0.3 3.5 0.1 0.2 95.9 0.2 0.1 94.0 0.0 93.8 0.8 4.3 0.1 0.6 0.0 0.0 0.0 Lainnya 0.1 0. Tabel 3.2 95.2 95.8 1.1 0.5 1.1 0.3 231 .1% dan 5.2 0.0%).0 0.0 0.7 93.0 0.6 0.0 95.6 0.3 0.9 1.1 0.mana sumber biaya perawatan kesehatan tersebut.7 2.4 90.0 0.8 0.5 0.1 94.2 0.4 2.1 0.3 0.8 1.5 0.8 5.1 0.2 0.1 0.5%.0%.4 0.2 0.1 4.0 5.4 0.7 5.3 91.2 0.1 0.0 0.0 0.0 0.0 0.2 0.1 0.1 0.7% dan 2.0 0.6 0.6 1.2 0.1 0.5 0.164 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Provinsi. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan RS Pemerintah 2.7 1.0 1.9 91.9 2.3 0.1 1.8 91.5 92.0 0.5 0.1 0.0 0. Persentase terbanyak pemanfaatan RS Pemerintah untuk rawat inap di Provinsi Kalimantan Timur dan Papua Barat yaitu masing-masing sebesar 5.6 1.5 1.0 0.3 0.2 1.8 3.3 0.8 3.0 0.1 0.4 0.1 0.8 0.5 0.9 0.3 0.1 3.0 RSB 0.1 Tidak rawat Inap 94.3 91. Terdapat 16 provinsi dari 33 provinsi yang memanfaatkan RS Pemerintah sebagai tempat rawat inap masih di bawah persentase nasional.9 93.1 0.0 0.3 3.5 0.8 0.1 0.0 2.7 4.1 96.9 1.1 0.2%.0 0.8 0.1 0.0 0.5 0.0 93.0 0.0 0.5 0.8 Tenaga 0.8 3.7 1.9 3.0 0.2 0.3 0.164).1 3.5 RS Swasta 1.0 0.1 0.4 0.0 0.4 0.1 0.1 0.2 0.7 0.0 0.3 0.

Sedangkan untuk pembiayaan rawat inap dengan memanfaatkan Askeskin/SKTM lebih banyak ditemukan di perdesaan.3 0.3 0.3 0.0 Kuintil 2 2. RS Bersalin.7 90.6%).0 0.5 94.0 Batra Lainnya 0.1 Kuintil 4 3.0 96.9%).1 0.1 0.6 ah Tipe daerah Perkotaan 4.1 93.4 2. sedangkan puskesmas lebih banyak dimanfaatkan masyarakat perdesaan.2 0.8 0.1 0.5 1.1 0.1 0.1 0.1 0. pembiayaan rawat inap oleh Askes/Jamsostek lebih banyak dimanfaatkan di perkotaan.4 0.8 0.0 0.0 0.9 95.4 1. Namun apabila dicermati masih ada 232 . RS Swasta.5 1.1 93.3 0. Tabel 3.2 0.2 0.2 0.7 0.2 INDONESIA 3.1 Menurut tipe daerah (tabel 3.4 Tabel 3.4 95.167 memperlihatkan bahwa menurut tipe daerah.0 90.0 2.9 0.2 0. Pemanfaatan sarana lain tersebar hampir merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga.4 0.3 0.0 Kuintil 3 2.9 0.5 90.4 0.1 0.1 5. maka sekitar 30% responden yang pernah rawat inap dalam kurun waktu 5 tahun terakhir telah mempunyai ‘sejenis asuransi kesehatan’.165 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.8 95.1 0.0 0.3 0.9 2.6 1.3 3.0 0.6 0.0 0.1 0.3 3.5 0. RS lain. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. tampak kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan RS Pemerintan dan RS Swasta.5 0.4 0.9 0.6 0.0 0.1 0.9 1. Riskesdas 2007 Tempat berobat rawat inap Karakteristik rumah tangga RS Pemerint RS Swasta RS LN RSB Puske s-mas 0.1 0.0%) pembiayaan yang dibayar oleh pasien sendiri atau keluarga (out of pocket’).1 0.8 0.1 Tidak rawat Inap 90.7 0.7 0.165).0 0.7 Tenaga kesehat an 0.0 0.1 0.1 Kuintil 5 4.1 0.1 0.1 0. Kalau pembiayaan oleh Askeskin/Jamsostek.7 0.0 0. Askeskin/SKTM dan Dana Sehat diperhitungkan sebagai ‘sejenis asuransi kesehatan’.1 0.4 0.1 0.1 0.1 0.0 0.0 4.3%).8 0. Tabel 3.7 0.8 0.Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2.4 0.1 Perdesaan 2.5 2.1 0. dan Dana Sehat (2.1 0. kemudian berturut-turut disusul oleh pembiayaan oleh Askes/Jamsostek (15.7 1.4 92.4 1. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8 94.4 0. terlihat bahwa RS Pemerintah.2 4.6 0.0 0.0 0. semakin rendah tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan Askeskin/SKTM dan Dana Sehat.1 2.0 0. Askeskin/SKTM (14. dan tempat praktek tenaga kesehatan lebih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat perkotaan.0 0.8 0.5 0.1 0.3 1.1 0.9 94.4 0.4 0.4 0.6 94.0 0.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 2.166 memperlihatkan bahwa sumber pembiayaan rawat inap secara keseluruhan untuk Indonesia masih didominasi (71.4 0. terlihat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak perawatan inap yang dibiayai Askes/Jamsostek. Sebaliknya.1 0.4 0.2 0.1 3.

5 1.5 2.4 0.7 1.8 12.9 Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.3 1.2 5.9 17.9 8.1 76.0 11.5 75.7 6.3 7.3 Sehat 4.3 22.8 29.7 49.8 8.0 75.9 13.6 1.8 4.0 59.9 66.6 3.3 18.5 68.8 70.4 25.5 74.3 6. Askes swasta.6 4.1 18.6 SKTM 28.3 5.2 12.7 1.4 3.0 1.3 0.0 2.2 3.1 14.9 7.5 72.4 15.6 15.9 4.6 79.9 74.5 4.0 73.8 11.2 7.1 8.5 19.9 23.7 14.9 16.3 5.6 Sendiri/ Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Keterangan : keluarga 62.6 26.7 14.9 15.1 19.5 68.5 17.7 7.7 16.8 18.4 9.2 2.2 3.6 10.2 3.7 11. Jamsostek.2 4.4 10.9 65.9 11.1 18.0 1.166 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Provinsi.9 4.3 3.5 7.4 15.5 0.9 1.1 76.2 12.9 5.5 17.2 65. Tabel 3.8 17.4 5. Asabri.0 15.6 67.4 8.9 3.6 3.0 4.9 3.3 76.7 10.0 10.7 3.9 2.1 19.2 10.4 67.3 13.2 13.1 3.5 19.3 2.7 19.8 5.1 60.5 15.0 9.2 19.1 11.8 76.7 71.7 63.6 58.8 0.sekitar 10% masyarakat yang mampu secara ekonomi (kuintil 5 dan 4) masih menggunakan Askeskin/SKTM.9 18.8 65.5 25.9 12.4 19.5 63.2 7.0 20.4 10.3 5.1 3.4 11.0 1.9 8.0 2.1 13.6 1. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Askes/ Askeskin/ Dana Jamsostek 13.4 12.5 72.9 10.0 68.9 33. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM 233 .6 11.2 5.8 13.4 17.2 71.1 17.0 Lainlain 6.3 8.0 3.4 27.7 14.2 76.1 2.1 67.1 7.7 0.8 19.0 23.5 81.

7 Kuintil 3 72.8 Kuintil 2 71.9 17. Jamsostek.7 3.3 Sehat 2.168 menunjukkan bahwa secara nasional RS Bersalin/RSB (14.0 18. Sedangkan persentase tertinggi pemanfaatan tenaga kesehatan untuk rawat jalan ditemukan di Provinsi Bali (25.9%).167 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Karakteristik Rumah Tangga. Askes swasta.4 3.8 5.8 Kuintil 5 71.4 Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.3 6.4 12.5 4. tertinggi di Provinsi Papua Barat (38. Asabri.8%) dan terendah di Papua (3.9%) merupakan sarana kesehatan yang paling banyak dimanfaatkan untuk rawat jalan.6 11.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 66.8 7.6%) pada urutan ketiga.3%) menempati urutan keempat setelah RS Pemerintah (1.5 9. Pemanfaatan Puskesmas (1.7 21. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Sumber pembiayaan Askes/ Askeskin/ Dana Jamsostek SKTM 10.9 6.5%) dan terendah di Sumatera Utara (7. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Tabel 3.2 3.2 2.Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Tabel 3. Persentase pemanfaatan RSB sebagai tempat rawat jalan.2 Kuintil 4 72.8 Sendiri/ Keluarga LainLain 7.0 Perdesaan 72.5 5.9 6.5 1.9 25.5 16.5 6.6%).0 25.8%) dan Tenaga Kesehatan (13.5 Tipe daerah Perkotaan 69.9 15.4 10. 234 .7 6.

4 0.2 0.6 61.8 1.8 0.0 0.1 0.3 0.5 0.2 73.2 1.3 1.2 0.3 3.2 3.3 10.6 1.168 Persentase Responden yang Rawat Jalan Satu tahun terakhir Menurut Tempat dan Provinsi.3 0.1 7.3 0.9 11.2 0.3 0.9 5.2 0.5 80.1 0.4 11.7 5.1 12.8 16.0 0.2 1.4 1.7 Tidak rawat Inap 46.6 0.8 11.4 0.0 12.5 56.2 0.1 17.3 0.2 4.5 0.1 81.9 1.2 0.5 35.5 2.0 70.Tabel 3.6 1.6 66.4 0.5 0.4 1.8 0.3 0.4 68.3 15.2 0.1 0.0 1.2 13.4 66.2 0.0 0.1 0.0 1.2 0.3 0.2 0.2 0.0 1.1 0.1 1.8 0.4 0.2 0.4 0.8 0.2 53.1 13.3 2.1 0.2 0.0 15.6 13.7 0.3 0.0 0.4 67.1 1.1 0.6 12.8 69.4 2.4 1.6 74.1 0.5 60.7 0.9 19.2 0.3 1.1 0.1 0.3 13.4 1.4 0.4 4.9 1.1 1.0 25.9 0.3 2.1 0.6 1.6 0.4 0.7 0.8 0.1 1.1 0.2 2.1 0.3 17.1 4.6 1.7 1.3 0.2 1.2 0.0 7.0 0.5 0.7 0.2 71.1 0.5 16.8 1.9 15.5 61.1 Lainnya 0.3 0.5 1.9 2.3 0.0 14.6 1.6 0.0 12.6 1.3 0.9 0.1 0.4 0.2 14.9 235 .7 16.6 13.0 64.5 0.8 1.7 0.4 68.0 0.1 14.5 0.8 2.8 0.1 0.6 54.9 0.2 0.0 0.6 14.1 2.1 1.3 0.4 0.0 RSB 26.8 1.3 0.2 12.4 1.7 1.4 1.6 9.8 10.2 0.3 0.4 0.4 0.3 0.3 0.6 50.9 0.3 0.0 0.5 0.2 0.1 0.2 0.2 1.9 1.4 1.3 1.6 38.4 0.3 0.6 0.8 11.1 0.9 Batra 0.9 Puskesmas 1.0 0.1 1.5 33.7 5.9 1.2 10.6 14.0 0.5 0.1 1.9 1.5 58.4 1.0 0.3 0.9 1.3 70.5 7.7 0.1 67.7 Di Rumah 1.0 1.0 11.1 0.1 0.9 3.3 1.7 20.1 54.7 1.6 0.7 1.3 66.1 12.3 0.0 0.8 19.1 71.0 0.6 14.9 0.8 1.3 0.4 2.7 67.3 1.5 0.5 4.3 0.7 0.8 0.1 4.1 17.4 0.7 0.6 2. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RS Pemerintah 3.4 1.8 67.9 0.2 0.7 10.2 1.0 1.5 15.5 0.0 0.6 73.4 1.4 2.0 0.7 18.0 1.2 Nakes 19.8 14.5 0.2 0.2 1.4 0.1 0.0 RSLN 0.4 19.7 17.1 0.1 0.3 3.0 0.5 0.2 0.2 0.2 0.4 0.1 0.0 1.8 11.1 4.7 70.7 1.1 0.4 0.6 17.7 RS Swasta 0.2 11.4 0.2 62.4 0.0 4.7 0.2 0.7 0.7 61.3 22.7 0.2 2.3 19.

5 0. Secara nasional.9 1.2 16.3 12.2 1.4 0.5%).169 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga. RS Swasta.9 0.2 16.9 0.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 1.9 13. dan Tenaga Kesehatan.3 14 Kuintil 5 2.7 0. dan Puskesmas.169). Sumber biaya dari Askeskin/SKTM secara nasional mencapai 10.5 0.4 0.7 0.8 2.7 65. Sedangkan responden di perdesaan lebih memanfaatkan RSB.9 63. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 1.6 1.9 0. 236 .8%) dan terendah di Papua Barat (40.0%).8 Kuintil 2 1.5 0.6 Menurut tipe daerah (Tabel 3. tampak kecenderungan responden di perkotaan lebih banyak memanfaatkan RS Pemerintah.5 0.1 Perdesaa n 1.9 0.7 0. Tenaga Kesehatan.5 0.3 0.5 0.4 0.INDONESIA 1.4 65. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi RS Pemerintah RS Swasta R SLN RSB Puskesmas Nakes Batra Lainnya Di Rumah Tidak rawat Inap Tipe Daerah Perkotaan 2.8 Kuintil 3 1.7 0.5 0.4 0.3 0.5 1.3 14.0 0.6 64.4 1.2 Kuintil 4 1.7 0.2 15. tampak adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan RS Pemerintah.5 1.4%). Sumber biaya rawat jalan juga didominasi oleh pembiayaan sendiri/keluarga (74.0 11.4 0.8 13.3 15.8 1.4 0.8% untuk rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir dan menurut provinsi.7 66.0 0.3 11.3 12. RS Swasta. Tabel 3.6 14.8 0. persentase terbesar ditemukan di Provinsi Papua Barat (37.2 0. dan pengobat tradisional untuk rawat jalan.3 13.3 1.1 0.4 0. di Provinsi Lampung persentase terbesar pembiayaan rawat jalan berasal dari biaya sendiri/keluarga dan yang terendah adalah pembiayaan oleh Askes/Jamsostek.5 0.8 15 16.6%) dan terkecil di DKI Jakarta (2.6 66. Persentase sumber biaya sendiri/keluarga tertinggi ditemukan di Provinsi Lampung (88. tetapi semakin sedikit yang memanfaatkan RSB untuk rawat jalan.5 0.8 Gambaran tentang sumber pembiayaan rawat jalan dan rawat inap tampak tidak berbeda (Tabel 3.8 0.0 67.4 0.1 0.170). sedangkan di Provinsi Papua Barat persentase tertinggi untuk pembiayaan rawat jalan berasal dari Askeskin/SKTM dan terendah dari biaya sendiri/keluarga.0 0.5 0.6 65.4 0. Puskesmas.

3 3.8 2.7 8.1 13.3 4.5 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Keterangan : Sendiri/ Keluarga 58.6 28.3 2.4 78.9 6.1 33.0 23.4 12.5 Lain-Lain 5.1 2.9 2.7 11.3 10.3 7.2 5.6 4.2 16.8 SKTM 32.6 3.5 1.9 61.9 3.7 1.Tabel 3.9 60.7 2.1 6. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Askes/ Askeskin/ Dana Jamsostek 6.2 4.5 6.5 4.6 87.6 0.9 0.5 47.1 1.4 5.4 46.9 4.9 4.2 86.2 21. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat 237 .8 77.5 49.3 5.6 1.1 85.1 37.6 1.5 5.1 8.1 9.9 3.6 6.5 1.1 80.8 0.5 75. Jamsostek.0 9.3 0.3 20.1 10.0 80.1 10.4 70.6 17.3 88.1 60.3 13.2 0.3 3.9 2.3 6.7 3.2 83.4 6.3 77.7 18.7 7.5 40.4 12. Asabri.6 0.9 83.4 3.5 3.9 11.0 10.9 6.0 72.2 1.1 22.3 15.2 3.6 1.9 1.6 12.1 1.3 11.1 81.3 8.0 5.8 5.4 17.3 1.9 9.5 7.4 5.2 74.6 2.8 Sehat 2.1 88.9 13.6 0.0 1.5 11.170 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Provinsi.2 1.9 2.8 84.8 4.5 64.8 73.6 3.4 6.0 71.2 4.4 Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.4 11.7 85.9 10.9 11.9 1.4 4.2 3.9 1.2 0.2 1.9 4.1 2.4 3.3 11.8 3.2 3.8 79.9 9.9 2.2 4.1 5.1 2.3 5.6 15. Askes swasta.7 5.9 7.4 15.5 6.5 6.6 4.6 4.8 8.5 9.8 2.0 78.3 9.7 66.5 8.3 15.9 9.7 78.

5 2.9 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 72.3 Sehat 1.9 7.5 8.9 Lain-Lain 5.0 Kuintil 2 74.8 1.8 4.5 2. Pembiayaan dari Askes/Jamsostek tampak lebih banyak dimanfaatkan di perkotaan (13.6%).3 Kuintil 4 76.8 14. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Sendiri/ Keluarga 73. terbanyak dari biaya sendiri/keluarga.3 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan Persepsi masyarakat pengguna pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan non-medis dapat digunakan sebagai salah satu indikator ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan. Pembiayaan dari Dana Sehat semakin sedikit dimanfaatkan responden dengan tingkat pengeluaran yang makin tinggi.5 2.8 2. Jamsostek. Tampaknya Askeskin/SKTM belum sepenuhnya diperuntukkan bagi masyarakat tidak/kurang mampu. Asabri.0 Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.1 10.8. berdasarkan pengalamannya waktu memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan untuk rawat inap dan rawat jalan. 3. Ada 8 (delapan) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat inap dan 7 (tujuh) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan. Penilaian untuk masing-masing domain ditanyakan kepada responden. tidak tampak berbeda antara daerah perkotaan dan perdesaan.4 8.1 74.7 12.3 4.1 Kuintil 3 75.6 4. Delapan domain ketanggapan untuk rawat inap terdiri dari: • • Lama waktu menunggu untuk mendapat pelayanan kesehatan Keramahan petugas dalam menyapa dan berbicara 238 .0 14.0 6.171 Persentase Responden Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Karakteristik Rumah Tangga.3 Kuintil 5 75.8 6.8 3. Tabel 3.5 7.1 4.5 10.8%).7 Sumber pembiayaan Askes/ Askeskin/ Dana Jamsostek 13. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Gambaran sumber biaya rawat jalan dikaitkan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan Askes/Jamsostek dan Askeskin/SKTM untuk pembiayaan rawat jalan.6 5.6 7. sebaliknya pembiayaan dari Askeskin/ SKTM lebih banyak ditemukan di perdesaan (12.6 SKTM 7.171).8 3.Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Sumber biaya rawat jalan menurut tipe daerah (Tabel 3. Askes swasta.

• • Tujuh domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan sama dengan domain rawat inap. sangat buruk. Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspek-aspek: kejelasan informasi. kerahasiaan informasi. Tabel 3. buruk. buruk dan sangat buruk).9%). Penduduk diminta untuk menilai setiap aspek ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan di luar medis selama menjalani rawat inap dalam 5 (lima) tahun terakhir dan atau rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir. cukup.0%). Masing-masing domain ketanggapan dinilai dalam 5 (lima) skala yaitu: sangat baik. Provinsi Jambi mempunyai presentasi terendah untuk semua aspek ketanggapan kecuali aspek waktu tunggu. kecuali domain ke delapan (kemudahan dikunjungi keluarga/teman).• • • • Kejelasan petugas dalam menerangkan segala sesuatu terkait dengan keluhan kesehatan yang diderita Kesempatan yang diberikan petugas untuk mengikutsertakan klien dalam pengambilan keputusan untuk memilih jenis perawatan yang diinginkan Dapat berbicara secara pribadi dengan petugas kesehatan dan terjamin kerahasiaan informasi tentang kondisi kesehatan klien Kebebasan klien untuk memilih tempat dan petugas kesehatan yang melayaninya Kebersihan ruang rawat/pelayanan termasuk kamar mandi Kemudahan dikunjungi keluarga atau teman. Menurut provinsi. Untuk memudahkan penilaian aspek ketanggapan rawat jalan dan rawat inap pada sistem pelayanan kesehatan tersebut.172 menggambarkan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut provinsi. WHO membagi menjadi dua bagian besar yaitu ‘baik’ (sangat baik dan baik) dan ‘kurang baik’ (cukup.5%) dan ‘keramahan petugas’ (87. tidak terlihat adanya variasi yang tidak terlampau tajam dari setiap aspek ketanggapan. Secara nasional penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dengan persentase tinggi adalah aspek ‘mudah dikunjungi’ (87. Persentase terendah adalah aspek ‘kebersihan ruangan’ (82. 239 . turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki. Penyajian hasil analisis/tabel selanjutnya hanya mencantumkan persentase yang ’baik’ saja. dan kebebasan memilih sarana pelayanan. baik.

1 90.8 74.9 91.8 85.0 93.8 85.6 80.0 81.2 84.1 90.6 89.4 82.7 92.4 88.0 72.6 84.2 89.4 86.8 86.7 87.4 92.5 88.0 Kejelasan informasi 81.7 87.7 89.0 81.6 88.4 79.4 77.4 81.9 92.2 95.7 85.6 88.9 92.9 84.8 91.6 85.3 82.6 87.6 82.9 86.0 75.7 85.1 86.9 77.5 PROVINSI Waktu tunggu 84.2 76.5 87.2 79.0 85.8 88.7 94.7 88.2 78.0 84.1 81.2 79.1 88.1 72.4 86.7 87.6 84.0 80.8 82.6 85.2 72.1 87.9 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 240 .9 84.4 90.7 84.6 78.4 87.6 72.7 92.3 84.1 83.5 86.4 91.6 88.4 93.9 85.1 87.2 82.8 70.7 84.4 84.5 94.4 77.2 86.8 Kerahasiaan 82.1 69.6 87.8 82.8 83.2 95.9 79.172 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.2 87.1 88.0 80.4 82.6 73.4 86.8 78.7 88.8 86.1 Kebebasan pilih sarana 81. Riskesdas 2007 Muda h dikunjungi 83.4 83.6 78.1 86.5 85.8 85.2 72.3 89.8 86.4 82.3 91.4 87.5 81.1 84.5 91.5 92.4 91.4 84.2 79.8 Keramah an 86.2 91.1 79.0 86.2 84.4 Ikut ambil keputusan 81.0 81.5 80.7 84.6 69.7 81.1 84.2 89.9 90.8 77.5 86.2 90.8 85.4 92.0 68.2 88.4 81.9 74.6 86.5 80.4 82.4 81.9 89.7 84.4 88.1 92.4 67.8 83.4 92.7 92.7 87.5 86.1 81.0 79.2 86.0 83.9 91.6 81.7 83.1 89.0 93.9 72.1 84.2 71.9 90.4 80.2 94.8 89.3 84.0 82.8 80.5 91.2 84.0 79.5 83.2 85.9 84.0 72.6 87.6 85.6 78.6 84.8 88.1 81.7 78.0 89.6 88.0 83.1 86.2 94.1 87.0 84.5 83.7 80.0 85.7 80.3 82.2 82.5 93.5 93.8 87.8 87.8 79.3 83.8 77.0 86.5 81.0 82.4 90.8 80.0 83.8 92.2 76.9 84.7 92.0 82.6 83.6 78.0 76.Tabel 3.0 88.5 Kebersihan ruangan 78.7 85.0 85.5 84.2 83.0 81.2 87.3 88.4 86.9 88.6 74.5 84.8 84.7 94.9 80.9 85.4 84.0 90.2 85.3 82.1 85.7 91.6 91.5 80.9 84.6 79.6 92.5 93.2 82.1 81.9 68.5 85.7 82.7 87.8 84.2 81.0 83.8 78.0 78.0 90.1 89.

2 85. kebebasan memilih fasilitas pelayanan.0 86.0 Kuintil 5 85. nampak ada kecenderungan semakin tinggi tinggkat pengeluaran rumah tangga.5 82.6 83.2 85.7 84. Riskesdas 2007 Kebebasan pilih sarana Kebersihan ruangan Muda h dikunjungi Karakteristik Reponden Waktu tunggu Keramahan Kejelasan informasi Ikut ambil keputusan Kerahasiaan Tipe Daerah Perkotaan 84.7 85. kerahasiaan informasi.175).5 84.4 86.6 86.2 85.4 83.4%). dan kebebasan memilih sarana pelayanan.2 83.6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 84.4 84. Menurut tipe daerah (tabel 3.6 84. 3. tidak menunjukkan adanya variasi yang terlampau tajam.1 85.173 menyajikan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut karakteristik rumah tangga.7 87. sedangkan persentase terendah adalah aspek kebersihan ruangan (85.174 menunjukkan secara nasional aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan dengan persentase nilai ‘baik’ tertinggi adalah keramahan petugas (90. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.173 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga.0 85. Provinsi Banten mempunyai persentase terendah untuk semua aspek ketanggapan rawat jalan. Tabel 3. dan kebersihan ruangan. semakin banyak yang memberikan penilaian ‘baik’ pada semua aspek ketanggapan palayanan rawat jalan.8 83.4 86.7 84.6 84. persentase penduduk dengan penilaian ‘baik’ tinggi pada aspek waktu tunggu dan keramahan petugas.7 83.7 86. dan kebersihan ruangan. Sedangkan di daerah perdesaan. Sedangkan Provinsi Gorontalo mempunyai persentase tertinggi untuk aspek lama waktu menunggu.6 86. Menurut provinsi. terdapat perbedaan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dalam beberapa aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan antara perkotaan dan perdesaan. tidak terdapat perbedaan mencolok persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap seluruh aspek ketanggapan antara di perkotaan dan perdesaan. Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspekaspek: turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki. kerahasian informasi.3 81.4 Kuintil 2 83. kebebasan memilih fasiltas pelayanan.5 Kuintil 4 84.1 82. dan kemudahan dikunjungi keluarga/teman.1%). semakin banyak yang menyatakan keanggapan pelayanan kesehatan ‘baik’ pada aspek: kebersihan ruangan pelayanan. Menurut tipe daerah.7 84.8 84.9 86.3 Kuintil 3 84. Di daerah perkotaan aspek ketanggapan ‘baik’ yang persentasenya tinggi adalah kejelasan informasi.5 84.4 87.Tabel.0 86. kejelasan informasi.5 86. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.9 87.5 87.2 83.8 87.6 84.7 88.6 86.2 85.5 86. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan. keramahan petugas.1 86.0 87.5 Perdesaan 85.8 88.6 82.9 82. 241 . turut serta dalam p[engambilan keputusan memilih jenis perawatan.2 86.7 Tabel 3.

5 88.2 93.4 86.9 82.2 81.4 88.5 86.8 76.6 94.8 92.2 92. Riskesdas 2007 Wakt PROVINSI u tungg u NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 87.9 87.2 79.0 85.9 65.8 91.5 81.1 93.8 96.1 87.2 84.7 92.2 83.0 95.6 93.9 80.4 89.3 94.8 89.0 87.6 82.8 87.8 90.9 93.8 90.8 65.3 90.174 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.4 87.6 81.0 85.5 93.3 84.3 94.9 79.1 242 .7 88.1 91.0 94.3 Ikut ambil keputusa n 84.3 85.0 67.5 86.5 85.8 83.0 92.7 68.8 89.0 86.0 87.8 91.1 92.5 78.9 91.6 93.4 88.0 85.3 85.5 85.3 87.8 93.3 91.3 81.1 83.1 91.1 87.0 88.3 95.7 84.7 67.4 87.0 88.2 86.2 84.7 90.6 83.6 89.1 73.5 83.6 93.6 86.6 93.2 83.3 77.7 78.7 92.6 95.9 71.6 82.7 85.Tabel 3.2 78.6 91.9 83.8 93.1 86.1 82.1 89.2 94.9 83.4 83.1 65.5 93.7 92.7 INDONESIA 86.1 96.8 78.2 91.2 95.1 86.2 84.0 70.9 80.2 92.9 86.9 93.0 87.1 88.4 89.6 84.9 90.8 77.2 84.9 90.8 88.4 87.5 83.8 87.4 80.2 88.3 80.6 91.0 95.6 86.9 65.6 93.9 82.2 82.2 Kejelasa Kerama h-an n informas i 84.8 81.6 92.1 84.4 90.9 77.8 84.3 84.0 86.2 85.5 85.1 92.2 84.3 86.2 83.4 83.4 84.0 96.3 70.0 88.8 85.8 94.5 83.7 87.5 86.2 82.4 93.2 93.0 88.0 93.4 94.8 85.3 86.9 94.1 93.4 96.3 88.4 95.0 86.3 83.6 88.8 95.7 86.9 83.5 83.7 95.1 94.5 84.1 97.3 79.5 84.0 85.3 93.3 86.5 97.4 81.5 90.6 91.0 85.8 92.1 84.5 90.2 86.0 91.3 Kerahasiaa n Kebebasa n pilih sarana 83.8 89.1 78.9 82.4 83.7 84.7 77.3 68.4 84.5 82.7 93.1 88.4 92.5 86.4 Kebersihan ruangan 79.3 84.7 87.7 80.6 86.8 92.0 88.0 95.6 84.5 83.8 98.2 85.1 91.2 95.

8 Kuint l i5 87. sarana pembuangan kotoran manusia.8 90.8 86. ‘akses menengah’.6 86.9 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuint l i1 86. Rerata pemakaian individu ini kemudian dikelompokkan menjadi ‘<5 liter/orang/hari’.7 Kerahasiaa n Kebebasa n pilih sarana Kebersiha n ruangan 88. ’20-49.9 85.7 n 87. yaitu Riskesdas 2007 dan Kor Susenas 2007.9. Rerata pemakaian air bersih individu adalah rerata jumlah pemakaian air bersih rumah tangga dalam sehari dibagi dengan jumlah anggota rumah tangga.4 86. jumlah pemakaian air bersih rumah tangga per kapita sangat terkait dengan risiko kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan higiene.7 3.1 85. Data tersebut bersifat fisik dalam rumah tangga.5 87.2 90.1 Air Keperluan Rumah Tangga Menurut WHO.6 90.9 85.1 86.5 86. Riskesdas 2007 Kejelasa Waktu tunggu Kerama h-an n informas i 85. Data yang dikumpulkan dalam survei ini meliputi data air bersih keperluan rumah tangga.8 84.9 89.3 84.7 85.6 87.9 87.9 Kuint l i4 87.Tabel 3. pembuangan sampah.4 88.1 Kuint l i2 86. sehingga pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara terhadap kepala rumah tangga dan pengamatan.0 89. 243 .9 Kesehatan Lingkungan Data kesehatan lingkungan diambil dari dua sumber data.1 87. ‘akses kurang’.4 84. ‘5-19.6 86.5 86.7 91. Berdasarkan tingkat pelayanan.6 84.9 liter/orang/hari’.6 85. 3.0 87.1 86.9 86. Kepada kepala rumah tangga ditanyakan berapa rerata jumlah pemakaian air untuk seluruh kebutuhan rumah tangga dalam sehari semalam. ‘akses dasar’. dan ‘akses optimal’.0 84.3 86.9 liter/orang/hari’.5 87.7 84.1 87.175 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga. dan perumahan. ’50-99. sarana pembuangan air limbah (SPAL).7 Karakteristi k rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaa Ikut ambil keputusa n 86. Dengan demikian dalam penyajian beberapa tabel kesehatan lingkungan merupakan gabungan data Riskesdas dan Kor Susenas.9 liter/orang/hari’ dan ‘≥100 liter/orang/hari’. Risiko kesehatan masyarakat pada kelompok yang akses terhadap air bersih rendah (‘tidak akses’ dan ‘akses kurang’) dikategorikan sebagai mempunyai risiko tinggi.2 85.1 89. kategori tersebut dinyatakan sebagai ‘tidak akses’.1 90.9 85.3 Kuint l i3 86.8 86.

9 31.7 11.9 19.7 32.1 8.6 10.1 55.6 20.6 11.7 2.9 21.3 31.7 19.5 36.9 27.9 50-99.6 50.5 14. Sebesar 244 .8 9.0 0. terdapat 16.2 30.2 13.1 26.7 24.0 11.0 23.5 17.0 7.9 25.6 27.9 13.5 33.2 2.1 0.0 24.0 23.5 22.6 35.1 41.0 22.1 43.3 30.2 6.2 41.2 6.2 44.2 4.6 1.5 3.9 20-49.0 3.8 0.2 24.9 20.3 0.8% akses kurang).3 0.2% rumah tangga yang pemakaian air bersihnya masih rendah (5.9 31.6 11.1 4.2 31.4 10.0 30.0 22.8 26.6 34.0 4.9 31.6 17.9 0.1 12.6 21. Riskesdas 2007 Rerata pemakaian air bersih Provinsi <5 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 13.7 28.6 32.7 28.7 8.0 5.3 2.9 8.7 42.5 23.4 13.7 10.0 9.1 47.6 Tabel 3.3 0.8 26.6 1.6 42.5 17.0 40.2 1.7 8.4 37.6 29.2 17.9 15.4 19.6 1.0 21.4 29.1 41.3 16.3 11.5 29.6 36.4 30.5 27. berarti mempunyai risiko tinggi untuk mengalami gangguan kesehatan/penyakit.7 13.1 28.3 21.9 23.1 12.4 32.8 ≥100 32.1 9.4 0.176 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Provinsi.8 34.1 29.4 32.3 28.6 0.9 63.7 31.5 31.2 9.7 1.5 17.1 17.4 0.7 24.7 39.7 22.6 21.5 42.8 10.3 31.1 15.3 0.6 0.7 40.0 25.2 13.2 14.2 19.Tabel 3.0 8.9 7.8 43.2 21.5 6.4 33.1 10.6 23.3 0.9 15.8 26.6 13.2 Indonesia 5.5 4.4 2.2 7.4% tidak akses dan 10.6 6.176 menunjukkan secara nasional.9 14.7 37.0 per orang per hari (dalam liter) 5-19.3 1.5 36.6 16.7 17.7 32.4 4.5 41.2 27.

5 13.6 Kuintil-2 5.8 11.9 26. Riskesdas 2007 Karakteristik tangga <5 rumah Rerata pemakaian air bersih per orang per hari (dalam liter) 5-19.26.4 25. Sedangkan provinsi yang proporsi akses air bersih optimalnya tinggi adalah DKI Jakarta. Sulawesi Tenggara. Ketersediaan Air Bersih dan Provinsi. atau mengalami penurunan dibandingkan data tahun 2004 sebesar 88. Sulawesi Barat.9 50-99.6 29. Kepulauan Riau.6 Kuintil-1 5.0 23.0 29.9% rumah tangga mempunyai akses dasar (minimal).177).5%) dibandingkan dengan di perkotaan (11.2%) berturutturut adalah Gorontalo. Di samping jumlah pemakaian air bersih untuk keperluan rumah tangga. rerata pemakaian air bersih per orang per hari menunjukkan perbedaan.4 26. Papua.6% akses optimal.0 Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah tangga per kapita 6. maka secara nasional akses terhadap air bersih menurut jumlah pemakaian air per orang per hari adalah 83. NTT.9 20-49.8%. Maluku. Jawa Barat. baik menurut tipe daerah maupun menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 Proporsi rumah tangga yang aksesnya rendah terhadap air bersih lebih tinggi di perdesaan (19. berapa jarak antara rumah dengan sumber air.2 Tipe daerah 3. dan NTB.0 25.0 33. dan bagaimana kemudahan dalam memperoleh air bersih.%).6 8. Riskesdas 2007 245 .6 25.6 38.8 26.5 24. Sulawesi Utara. Tabel 3. Kepada kepala rumah tangga ditanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau sumber air bersih pulang pergi. Banten.3 10. Bila mengacu pada kriteria Joint Monitoring Program WHO-Unicef.7%.2 12.177 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Karakteristik Rumah Tangga.3% akses menengah.178 Tabel 3.3 29. Dilihat dari karakteristik rumah tangga (Tabel 3.178 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air. dan 31. ditanyakan juga tentang jarak dan waktu tempuh ke sumber air.0 31.9 ≥100 23.6 28. Hasil tersaji pada Tabel 3.1 Kuintil-4 Kuintil-5 4.7 26. Provinsi-provinsi yang akses terhadap air bersih masih rendah (di atas 16.3 26. dan Jambi.5 25. Sumatera Barat. 25.9 Kuintil-3 4.9 10. Riau.9 25.8 7. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi akses terhadap air bersih optimal. NAD.2 Perkotaan 6.1 39. DI Yogyakarta. di mana batasan minimal akses untuk konsumsi air bersih adalah 20 liter/orang/hari. serta persepsi tentang ketersediaan sumber air. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.

8 0. Terdapat 16 provinsi dengan persentase di atas 3.2 10.4 6.5 94.3 2.6 95.3 95.5 87.5 94.4 0.9 99. secara nasional terdapat 5.5 97.4 4.7 11.9 0.8 38.3 66.0 94.0 71.6 96.8 89.4 97.7 97.4 97.7 97. Dilihat dari jarak.8 68.7 95.4 7. 246 .3 40.4 1.9%).2 68.0 13.8 95.5 74.3 2.8 2.2 4.3 6.2 93.4 0.0 89.4 2.4 5.4 64.3 2.3 1.6 6.1 Indonesia 3.1 14.4%).7 99.9 1.4 3.7 2.1 3.6 92.3%) dan Sulawesi Tenggara (14.7 98.5% rumah tangga yang jarak tempuh ke sumber airnya lebih dari satu kilometer.3 12.4 5.5 70.0 10.5 95.3 88.5 98.5 4.8 59.3 0.5 0.5 0.9 85.6 7. Provinsi dengan proporsi jarak ke sumber air lebih dari satu kilometer terbesar adalah Provinsi Riau (18.1 2.9 0.5 2.2 1.7 85.8 1.2 3.0 25.3 97.4 5.5 26.6 83.6 16.9 57.6 85.6 29.2 98.5%).8 89. disusul oleh NTT (10.8 67.3 6.6 87.8 6.6 30.7%).9 5. tertinggi Provinsi Kepulauan Riau (14.2 3.4 8.7 50.4 14.1 82.8 0.8 18.Lama waktu dan jarak Provinsi menjangkau sumber air Waktu (mnt) Jarak (km) >30 ≤30 >1 ≤1 Ketersediaaan Sulit Sulit sepansepanpada jang jang musim Mudah tahun NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2.0 10.1 1.6 2.4 42.4 92.8 97.5 93.5%).3 1.3 20.4 1.8 98.3 2.8 35.6 28.0 1.0 32.7 93.5 85.7 11.6 29. dan Riau (10.8 87.4 1.2 2.6 2.9 24.1 2.9 25.4 90.6 93.0 89.9 83.6 9.6 79.5 1.0 5.7 1.8 97.7 1.7 3.3 kemarau 21.6 tahun 1.8 98.6 94.6 97.5 5.2 2.7 93.3 96.9 32.9 78.5 52.2 12.2 1.6 98.4 89.1 72.7 5.4 48.4 73.9 4.1 99.1 4.2 1.7 0.8 1.3 44.0 9.6 92.4 59.5 69.7 68.0 30.1 4.2 81.2 0.5 72.1% rumah tangga memerlukan rerata waktu tempuh ke sumber air lebih dari 30 menit.6 2.8 26.2 5.7 84.6 97.9 39.6 10.3 89.9 0.3 0.9 96.0 19.3 66.4 31.6 0.1 96.8 96.5 96.1%.1 16.8 26.2 Tabel di atas menunjukkan secara nasional sebanyak 3.5 3.8 1.2 85.4 2.4 53.6 94.9 98.0 14.6 94.5 6.1 95.3 1.9 95.8 97.6 99.8 70.6 99. disusul oleh Kepulauan Riau (16.7 97.3 0.6 0.4 0.0 90.5 15.2 0.4 77.3 4.8 98.4 10.7 72.0 1.8 25.2 94.2 97.8 5.2 10.7 0.8 14.2 7.3 2.8 94.

3%) dan NTT (4.6 94.4 28.7 1.4 1. ada kecenderungan proporsi waktu tempuh mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.8 Proporsi rumah tangga yang waktu tempuh ke sumber airnya lebih dari 30 menit lebih tinggi di perdesaan (3.9%) merupakan dua provinsi yang paling tinggi proporsi rumah tangga dengan ketersediaan air bersih sulit sepanjang tahun.4 97. secara nasional terdapat 72. Akses air bersih menurut waktu.6 97. Terdapat 18 provinsi dengan proporsi ketersediaan air bersih sepanjang tahun lebih kecil dari 72.5%) dibandingkan dengan di perkotaan (4. Riskesdas 2007 247 .0%).180 Persentase Rumah Tangga menurut Individu yang Biasa Mengambil Air Dalam Rumah Tangga dan Provinsi di Indonesia.6 4.4%) dibandingkan dengan di perkotaan (2. Begitu pula proporsi rumah tangga yang ketersediaan airnya mudah sepanjang tahun lebih tinggi di perkotaan (82.0 78.9 Kuintil-2 3.0 Perkotaan 3. Kepulauan Riau (6.8 94.0 93.3 75.4 96.4%) dibandingkan dengan di perdesaan (66.5 93. (Tabel 3. Riskesdas 2007 Lama waktu dan jarak menjangkau sumber air Karakteristik rumah Waktu (mnt) Jarak (km) tangga >30 ≤30 >1 ≤1 Mudah sepanjang tahun Tipe daerah 2.5 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 3. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 96. ada kecenderungan proporsi jarak tempuh mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.8 68.9 97.8% rumah tangga yang air bersihnya tersedia sepanjang waktu.5 96. ada kecenderungan proporsi rumah tangga yang ketersediaan airnya mudah sepanjang waktu mengalami peningkatan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.2 Kuintil-1 3.1 96.2 26.4 1.9 5.5 6.8 31.1 5. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8%).4 66.7 30. Ketersediaan Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.1 94.5 24.4 Kuintil-3 2.1 0.Dilihat dari ketersediaan air bersih dalam satu tahun.4 Sulit sepanjang tahun 0.179 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air.0 70.0 97.4 82.7 Ketersediaaan Sulit pada musim kemarau 16. jarak dan ketersediaan air bersih bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 20. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 6.8%. Tabel 3.8 95.179) Tabel 3.4 72. Proporsi rumah tangga yang jarak tempuh ke sumber airnya lebih dari satu kilometer lebih tinggi di perdesaan (6.4%).0 5.4 4.2 1.9 1.2 Kuintil-4 Kuintil-5 2.

7 34.7 3.2 0.5 7.6 51.7 2.9 46.4 5.4 3. ditanyakan siapa yang biasanya mengambil air dalam rumah tangga tersebut.8 4.6 3.0 4.4 47.5 Laki-laki Dewasa Anak-anak (<12 thn) 23.7 65.4 Indonesia 49.6 2.9 19.4 23.9 48.3 54.3 38.4 4.3 42.9 32.3 1.4 1.0 64.6 72.1 6.0 2.4 0.0 Dalam rangka memperoleh air untuk keperluan rumah tangga bila sumbernya berada di luar pekarangan.4 38.4 1. Persentase perempuan yang bertanggung jawab dalam pengambilan air di rumah tangga lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.5 47.8 52. Provinsi-provinsi di mana anak-anak ikut berperan dalam pengambilan air untuk kebutuhan rumah tangga adalah Papua.2 1.7 0.3 2.5 5.9 16.0 1. NAD.3 48.1 1.2% wanita dan 4.7 34.2 4.3 40.180 Tabel di atas menunjukkan.0 2.5 48.6 7.0 54.7 44.1 6.1 48.2% rumah tangga yang anakanaknya mempunyai beban untuk mengambil air keperluan rumah tangga (3.0 23.1 5.8 48.4 6.7 0.0 2.5 46.8 3.6 77.4 2.5 1.0 5.2 2.9 27.7 29.Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Perempuan Dewasa Anak-anak (<12 thn) 65.2 67.2 43.7 4. sebagai upaya untuk melihat aspek gender dan perlindungan anak.3 2.6 1.5 1.7 41.5 44.8 29.0 5.8 7. secara nasional terdapat 7.4 2. Sedangkan provinsi-provinsi yang pengambilan airnya banyak dilakukan 248 .8 60. Kepulauan Riau dan Sumatera Utara.3 72.9 1.7 53.1 1.3 3.9 2.2 54.8 5.4 7.5 2.7 4. Maluku.1 2.7 49.2 36.0% anak laki-laki). NTT.4 60.7 44.2 3.4 10.0 63.7 55.9 28.6 3.9 41.7 46.3 47.5 59.3 2.8 55.9 61.2 57.9 2.7 3.6 4.9 33.0 4.2 49.4 50.9 43.4 51.5 2.4 25. Aspek gender dalam pengambilan air bersih dapat dilihat pada Tabel 3.9 4.1 51.6 38.3 52.0 2.3 3.9 1.1 2.8 1.1 49.6 41.4 2.

meliputi kekeruhan.4 3.181). Kategori kualitas fisik air minum baik bila air tersebut tidak keruh.2% dan 7.9 6.9 249 . Riskesdas 2007 Kualitas fisik air minum Berwarna Berasa 12. warna dan busa.4 44.2 9.3 84. Ada 15 provinsi yang proporsi kualitas fisik air minumnya baik di bawah rerata nasional. NTT. Proporsi individu yang mengambil air bersih di rumah tangga menunjukkan variasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 7.2 43. rasa.8 Tenaga perempuan dan anak-anak yang mengambil air di rumah tangga lebih tinggi di perdesaan (51.4%) dibandingkan dengan di perkotaan (44.8 3.8 3. Sulawesi Selatan dan NAD.5 Kuintil 2 49.9 4. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin rendah proporsi perempuan dan anak-anak yang bertugas mengambil air bersih untuk keperluan rumah tangga.1%). tidak berwarna dan tidak berbusa.6 5.2 3.3 41.6%).6 9.5 1.1 Berbau 4.5 9.3 3.1 Laki-laki Dewasa Anak-anak (<12 thn) 3. Data kualitas fisik air untuk keperluan minum rumah tangga dikumpulkan dengan cara wawancara dan pengamatan.1 3. terendah adalah Provinsi Kalimantan Tengah (58.2 84. Riskesdas 2007 Perempuan Karakteristik rumah tangga Dewasa Anak-anak (<12 thn) Tipe daerah 44.4 49.182 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Provinsi di Indonesia.6 3.2 Perdesaan Tkt pengeluaran rumah tangga per kapita 50. proporsi rumah tangga dengan air minum berkualitas fisik baik sebesar 86.3 4.181 Persentase Rumah Tangga menurut Anggota Rumah Tangga yang Biasa Mengambil Air dan Karakteristik Rumah Tangga. Tabel 3.8 41. Tabel 3.9 2. Sumatera Barat.4 Kuintil 4 Kuintil 5 46.0 9. (tabel 3.3 90. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. tidak berbau.1% dan 6. tidak berasa.6 7.1 Perkotaan 51.8 3.8 0.6 Kuintil 3 49.6 42.kaum perempuan adalah di Provinsi NTB.0 6.0 47.182 menunjukkan secara nasional.3 Baik*) 75.9 3.7 2.2 2.5 Kuintil 1 50.0 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Keruh 17.8 2.0%. bau.3 3.5 Berbusa 1. Tabel 3.0 4.9 1.

5 90.4 3.6 1.2 6.1 3.9 1.9 3.5 10.0 3.6 5. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang kualitas fisik air minumnya baik.5 6.7 86.6 5.6 71.9 1.4 0.1 4.3 10.3 0.9 89.5 0.1 2.9 82.7 1.6%) dibandingkan dengan di perdesaan (84.5 2.6 Keruh Berbau Kualitas fisik air minum Berwarna Berasa Berbusa Baik*) 250 .2 4.7 1.0 92.9 3.8 15.4 3.3 2.4 6.1 6.0 91.8 2.9 4.8 5.9 1.3 9.1 2.3 88.8 1.7 3.0 6. Secara umum.7 0.9 6.4 3.8 87.7 7.1 7.3 2.0 3.4 1.0 0.4 1.8 82.2 17.5 80. tidak berbusa dan tidak berbau Proporsi kualitas fisik air minum rumah tangga yang baik bervariasi menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 6. Tabel 3.6 2.4 22.9 11. tidak berasa.9 6.7 92.9 4.5 0.8 1.5 34.6 2.4 87.2 1.2 0.5 75.9 3.8 3. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan 6.6 2.3%).4 2.6 4.0 3.7 1.0 88.1 86.8 4. terutama dalam hal kekeruhan dan warna.3 6.5 18.9 13.7 0.4 1.2 3. (Tabel 3.6 2.8 3.5 58.2 95.3 88.6 1.1 84.8 Indonesia 9.8 7.3 2.5 8.4 15.2 10.4 3.1 1.7 6.0 1.3 3.2 81.8 2.7 4.2 5.1 5.0 11.4 3.9 6.2 6.4 79.2 90.5 15.6 6.0 80.2 5.0 * baik = tidak keruh.3 3.3 11.7 12.6 88.7 9.0 1.4 15.7 5.7 0.6 89.2 9.6 1.9 1.6 8.8 1.6 6.5 2.1 1.7 0.4 90.9 3.2 5.3 1.7 0.0 3.8 4.8 0.0 4.0 1.6 0.0 5.1 0.7 4.8 4.0 7.6 3.8 93.2 9.6 0. tidak berwarna.4 2.5 7.4 7.183).7 1.2 10.1 4.9 1.5 26.Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 8. proporsi rumah tangga dengan kualitas fisik air minum baik di perkotaan sedikit lebih tinggi (88.6 7.4 0.5 4.8 6.7 1.183 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.2 11.5 0.6 79.5 84.5 95.8 3.4 10.8 1.5 9.

0 85. 251 .8 85. Papua.3 83.1 * baik = tidak keruh.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 10.5.7 1. Bila dibandingkan data Susenas 2004. yaitu dari 2.1 7.3 6.0 0. Sementara yang menggunakan air perpipaan/ledeng tidak mengalami peningkatan/tetap (masing-masing 17. Bali. tidak berwarna. dan DI Yogyakarta. Riau.5 Kuintil-2 9. air sungai 3. tidak berasa. DKI Jakarta. tidak berbusa dan tidak berbau 11.4 4.1 3.7 Kuintil-1 10.7 7.8%). penggunaan air kemasan di rumah tangga mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat.3 3.9 86. Pada tabel 3.8% dan lainnya 0. Banten.9 3.9 84.5 Data jenis sumber air minum utama yang digunakan rumah tangga diambil dari data Kor Susenas 2007.2 1.3 2.5 6. Provinsi-provinsi yang proporsi penggunaan air kemasannya tinggi antara lain Kepulauan Riau.5 4.9 4.6% menjadi 6. DKI Jakarta. mata air tidak terlindung 5.0 Perdesaan 3.0%.9 8.1 5. Provinsi yang banyak menggunakan air hujan sebagai sumber air minum antara lain Kalimantan Barat. Provinsi-provinsi yang cakupan air perpipaannya di atas rerata nasional antara lain Kalimantan Selatan.0%. dan Papua Barat.6 3.184 Secara nasional masih banyak rumah tangga yang menggunakan air minum dari sumber tidak terlindung (sumur tidak terlindung 12.5%).8 6.0 1. dan Papua Barat.1 Kuintil-3 8.1 1. Jambi.4 5.3 1.4%.7 88.0 Kuintil-4 Kuintil-5 7.

3 7.1 8.9 0.5 0.9 16.8 11.2 2.1 11.4 0.1 7.4 1.7 11.2 1.3 0.4 17.4 10.2 2.3 3.9 10.9 4.1 0.0 0.2 1.8 6.0 2.2 2.9 19.2 5.1 28.0 0.0 3.9 7.8 11.7 25.3 10.6 19.2 15.0 0.9 0.7 4.7 0.9 3.2 3.2 0.7 0.5 0.4 5.9 2.8 8.7 1.0 11.4 5.9 0.5 12.6 11.9 23.8 6.9 12.2 2.5 11.2 2.6 18.2 14.0 3.8 19.1 49.7 1.6 2.7 7.1 4.4 4.9 18.3 8.3 23.8 7.1 25.6 0.5 5.0 252 Lainnya 0.1 2.8 6.8 13.1 41.2 20.5 11.6 40.4 2.7 19.Tabel 3.3 9.7 3.2 5.2 0.2 0.0 1.0 1.0 1.4 6.9 3.7 1.0 7.1 7.3 1.5 21.6 5.8 11.0 3.6 2.4 57.9 1.9 7.9 0.0 1.0 21.0 8.6 3.1 8.4 4.8 9.5 4.7 34.2 8.2 2.7 7.0 0.6 14.2 26.8 4.5 5.6 46.4 6.2 35.1 17.4 13.5 21.5 0.5 7.4 11.9 0.3 1.9 1.2 9.3 3.2 2.0 9.7 9.1 2.9 1.0 9.6 11.6 4.4 1.3 6.5 0.7 29.5 5.2 5.2 2.9 5.4 7.5 0.4 34.7 14.7 0.7 0.5 55.5 29.2 14.3 1.1 0.9 22.6 6.2 7.1 0.6 0.2 1.9 22.0 1.0 2.3 6.1 Sumur .0 0.7 14.2 20.2 36.1 0.6 7.9 22.4 0.8 3.5 0.7 13.3 0.9 8.8 0.9 11.1 15.6 16.6 3.3 1.4 Terlindung Pompa Provinsi terlindung terlindung 3.0 3.7 0.8 9.5 3.6 0.6 20.4 0.9 0.2 0.1 43.5 10.3 0.1 42.1 0.7 2.3 3.0 0.4 3.5 1.3 5.1 13.2 0.7 5.6 6.3 1.6 25.9 18.9 0.4 13.0 8.1 7.3 13.1 5.0 0.6 11.7 27.5 0.3 1.2 15.9 34.184 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Provinsi di Indonesia.9 15.8 2.9 11.8 3.9 14.0 43.6 34.4 29.8 15.8 28.5 0.8 14.2 2.6 1.5 0.1 2.9 29.8 Terlindung NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 7.7 5.5 10.4 0.0 4.3 4.6 7.6 0.9 12.7 12.2 8.6 47.7 3.1 18.8 21.2 10.1 2.6 1.7 10.1 1.4 7.9 1.0 3.4 11.8 10.7 1.9 1.3 1.2 34.7 0.8 2.7 4.8 1.9 5.3 0.9 0.7 21.9 3.6 7.4 .4 3.4 0.2 6.6 0.9 28.8 33.1 2.7 0.2 4.4 8.9 10.8 9.1 0.7 0.1 1.4 10.6 11.1 0.4 10.3 1.2 24.1 30.3 3. Susenas 2007 Jenis sumber air minum Ledeng meteran Air kemasan Ledeng eceran Air sungai Sumur bor / Sumur tdk Mata air tdk Mata air Air hujan 1.8 0.1 24.3 1.2 0.4 13.6 1.0 5.2 8.7 14.3 1.9 2.3 33.6 15.1 10.0 3.5 15.5 5.3 2.2 0.5 13.2 1.3 5.3 1.7 1.4 0.9 3.7 7.5 7.1 21.3 0.1 8.0 13.4 2.5 3.0 0.6 5.4 9.4 4.8 17.8 3.6 10.3 5.3 41.

air sungai dan air hujan.8 4. Di daerah perdesaan sumber air minum yang menonjol digunakan dibandingkan di perkotaan adalah jenis sumur (terlindung dan tidak terlindung).6 5.2 4.0 3.8 0.0 28.1 14. dan sumur pompa.5 24.7 7.7 7.0 31.1 5.8 16.7 3.1 16. ledeng meteran.0 5. sedangkan yang menggunakan wadah terbuka sebesar 12.9 Penggunaan air kemasan.3 10.8%.0 7.1 Kuintil-2 4.2 Perkotaan 1.2 30.185 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.3 12.9 9.5 3.Indonesia 6.9 21.2 14.2 3. Tempat penampungan air di rumah tangga sebagian besar menggunakan wadah tertutup (69.6 6.4 5.4 0.0 6.1 8.2 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 2.9 12.9 2.7 10.2 3.1 3.3 4. Tabel 3.8 5.0 14.9 29.5 Kuintil-4 Kuintil-5 12.0 Sumur bor / Mata air tdk Sumur tdk Mata air Lainnya 0.3 2.0 28. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.6 4. mata air.7 7.8 17.8 5. provinsi-provinsi dengan proporsi 253 .6 terlindung 0.5 0.9 7.4 Kuintil-1 3.6 0. ledeng eceran.8 2.4 0.9 Kuintil-3 6.9 16.186 menggambarkan jenis tempat penampungan air untuk keperluan minum yang digunakan rumah tangga dan jenis pengolahan air minum yang dilakukan rumah tangga sebelum air tersebut dikonsumsi.9 25.9 13.4 7. dan sumur bor lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.0 5.3 13. Susenas 2007 Jenis sumber air minum Ledeng meteran Ledeng eceran Air kemasan Air sungai Air hujan 2.5 0. Bila melihat sebarannya. ledeng eceran.7 7.9 4.5 Tipe daerah 13.3 10.1 14. (Tabel 3.0%) dan tidak menggunakan penampungan (18.2 3.1 12.0 3. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin menurun proporsi rumah tangga yang menggunakan sumber air tidak terlindung.2%).8 5.1 11.8 13.3 4.5 Sebaran proporsi penggunaan jenis sumber air minum bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 8. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang menggunakan air kemasan.4 Sumur Terlindung terlindung Karakteristik rumah tangga Pompa terlindung 2.1 4.4 5.3 27.0 0.185) Tabel 3.8 11.7 30.4 0.

2 11.6 9.8 79.5 1.8 10.3 7.4 17.0 2.0 8.3 1.7 95.9 30.6 6.4 90.7 wadah diminum digunakan DiDimaBahan sasak kimia ring 89.8 0.2 11.8 84.0 4.4 8.0 78.6 21.6 70.9 2. Riskesdas 2007 Pengolahan air minum sebelum Langsung 12.7 94.3 15.1 70. NAD.6 33.5 62.7 Lain nya 4. Papua Barat.9 14.8 11.8 7.7 4.6 15.5 Tempat penampungan Provinsi Wadah terbuka NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara 21.4 3.8 93.3 11.186 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Tempat Penampungan dan Pengolahan Air Minum Sebelum Digunakan/Diminum dan Provinsi.4 13.6 88.7 54.8 0.0 75.4 0.1 17.7 81.2 0.5 10.2 4.4 56.4 93.0 80.3 94.0 78.1 3.5 1.2 1.3 9.7 84.1 7.1 0.9 2.5 0.3 97.2 254 .3 8.6 79.7 76.2 5.1 8.0 16.3 5.1 14.2 23.7 4.6 48.2 3.2 28.3 7.0 77. Sumatera Barat.9 7.7 5.5 4.9 5.5 13.8 60.1 9.1 97.1 14.6 55.6 27.9 10.4 26.6 54.7 5.3 7.8 86.3 92.8 12.4 5.7 4.9 7.6 0.1 12.4 2.3 9.7 96.7 0.8 6.1 0.9 45.3 12.6 4.1 24.5 1.0 1.7 26.3 0.5 2.1 56.7 93.2 96.7 12.1 3.1 72.0 22.4 5.7 14.6 6.2 0.4 96.9 0.5 0.5 95.9 34.8 96.1 9.6 16.7 Tdk ada 37.1 2.3 69.8 23.4 2.1 5.9 94. dan Sumatera Utara.4 8.8 0.8 1.8 81.1 10.6 2.0 30.2 10.5 4.0 5.0 5.2 2.1 97.7 0.3 12.8 95.9 11.0 12.1 17.5 Wadah tertutup 41.9 4.4 1.3 11.6 0.5 6.0 5.1 92.6 7.7 94.2 16.1 26.6 62.8 81.8 19.1 25.6 7.3 72.0 92.0 0.4 0.penampungan air terbuka tinggi antara lain Papua.7 6.4 93.9 2.3 4.6 64.5 0.1 3.0 12.4 70.1 9.8 0.1 2.1 76.1 2.2 3.3 21.6 24.8 12.4 1.3 5.4 14.3 5.3 72.5 14.0 6.1 96.8 0.7 5.4 1.3 5.3 8.6 98.0 7.1 0.7 1.3 2.5 9.1 0.6 84.6 5.2 8.3 86.8 12.3 5.7 7.7 0.2 1.7 1.0 5.8 7.3 7.4 10.4 4.3 6.9 1.5 9. Tabel 3.2 5.5 18.8 7.5 89.9 40.6 17.

0 4.8 17.4 17.5 12.Papua Barat Papua 20.9 Lain nya 7. Proporsi penggunaan tempat penampungan air dan pengolahan air sebelum dikonsumsi bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 18.3 Proporsi yang menggunakan wadah terbuka lebih banyak di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.4 5.187 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Tempat Penampungan dan Pengolahan Air Minum Sebelum Digunakan/Diminum dan Karakteristik Rumah Tangga.3 12.5 15.0 69.0% dengan membubuhkan bahan kimia.8 7.7 Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 13.1 12.6 18.4 12.8 92.3% yang melakukan pengolahan dengan cara penyaringan dan 2.9 69. Tabel 3.1 1.3%).9 0.2 7. tampak cara memasak dan disaring sedikit lebih tinggi di perdesaan.1 12.9 13. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Dalam hal pengolahan air sebelum dikonsumsi.7 2.4 Bahan kimia 1. Data konsumsi air dan jarak ke sumber air berasal dari Riskesdas 2007. Kalimantan Selatan.2 92.7 Indonesia 12.9 68. sedangkan data jenis 255 .8 7.9 7.3 2. sedangkan provinsi dengan proporsi pembubuhan bahan kimia tinggi adalah Kalimantan Tengah.4 89. Provinsi dengan proporsi penyaringan tinggi adalah NTT.8 69.9 1.7 terbuka tertutup Tipe daerah Perkotaan 9.2 Secara nasional pengolahan air minum yang dilakukan rumah tangga sebelum digunakan sebagian besar dengan cara dimasak (91. Maluku dan Jawa Timur.187).3 Karakteristik rumah tangga Tempat penampungan Wadah Wadah Tdk ada Disaring 10.6 31. Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef.6 14.6 68. (Tabel 3.3 3. Terdapat 12.4 12.6 6.9 92.0 5. dan sarana sumber air berada dalam radius 1 kilometer dari rumah.9 4. dan Kalimantan Timur.1 12.0 16.4 67.7 3.8 12.6 12. akses terhadap air bersih ‘baik’ apabila pemakaian air minimal 20 liter per orang per hari.1 69.5 15.8 3.1 69. sarana sumber air yang digunakan improved.3 2.2 10.2 8.1 2. Riskesdas 2007 Pengolahan air minum sebelum digunakan Langsung Dimasak 88.0 31.5 7.9 2.3 94.3 69.7 9.2 2.1 wadah diminum 22.0 2.0 10.4 37. sedangkan yang tidak menggunakan penampungan lebih banyak di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.7 0.9 8. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin kecil proporsi yang menggunakan wadah terbuka.3 92.4 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 14. sedangkan yang langsung diminum (tanpa pengolahan) lebih tinggi di perkotaan. tetapi semakin meningkat yang tidak menggunakan tempat penampungan air.0 91.2 68.9 20.1 91.0 41.

2 44.6 37.sarana air minum berasal dari Kor Susenas 2007.5 22.7 48.188 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Provinsi. Provinsi dengan proporsi akses baik 256 .4 62.8 34.8 37. sumur bor/pompa.3 57.5 53.4 49.8 31. Tabel 3. Sarana sumber air yang improved menurut WHO/Unicef adalah sumber air jenis perpipaan/ledeng.1 23. selain dari itu dikategorikan not improved.9 76.5 46.7 38. tabel 3.9 25.7 51.5 53.5 36.2 65.2 62.3 60.2 67.2 65.1 36.3 51. 2007) Berdasarkan kriteria tersebut.1 74.4 31.5 46.9 63.9 73.6 59.5 77.8 33.7 39. dan sarananya dalam radius 1 km (Riskesdas.7% yang mempunyai akses baik terhadap air bersih.188 menunjukkan secara nasional terdapat 57.9 64.4 40.7 38. 2007). Susenas dan Riskesdas 2007 Akses air bersih Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang 51.6 68.1 43.3 61.7 46.3 61.1 60.0 31.3 Baik*) 48.2 44.5 63.8 55.9 39.0 61.4 62. dan air hujan.7 *) 20 ltr/org/hari (Riskesdas.0 38.3 48.2 68. dari sumber terlindung (Susenas.0 68.7 Indonesia 42.2 62. 2007). mata air terlindung.6 37.9 56.8 37.1 26.8 55.8 35.1 35. sumur terlindung.6 50.3 53.

disusul oleh Riau (31.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 47.9%) dibandingkan dengan di perdesaan (51. dan sarananya dalam radius 1 km (Riskesdas. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9. terendah Papua (26. Tabel 3.0 53. 2007) Tabel di atas menunjukkan di perkotaan akses baik terhadap air bersih lebih tinggi (67.7 51.7 60. semakin tinggi tingkat pengeluaran cenderung semakin besar proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap air bersih.3 Kuintil-5 38.0 Kuintil-2 43. Data ini diambil dari data rumah tangga Kor Susenas 2007.4%). Proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap air bersih bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. 3.4 56.7%). 2007).terhadap air bersih di bawah rerata nasional sebanyak 18 provinsi.4 Kuintil-4 39.5 CATATAN : *) 20 ltr/org/hari (Riskesdas.5 61. 2007).3%) dan Kepulauan Riau (31.6 Kuintil-3 41.3%).6 58.189 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga. dari sumber terlindung (Susenas.9 Perdesaan 48. 257 .2 Fasilitas Buang Air Besar Data fasilitas buang air besar meliputi penggunaan atau pemilikan fasilitas buang air besar dan jenis jamban yang digunakan.1 67. Susenas dan Riskesdas 2007 Akses air bersih Karakteristik rumah tangga Kurang Baik*) Tipe daerah Perkotaan 32.

5 3.1 45.2 17.8 20.4 25.8%).4 64.5 0.6 8.7 31.1 60.1 59.1 9.1 12.0 7.3 12.1 53.5% (tahun 2004 sebesar 60.0 20.2 47.7 65.4 58.4 57.4 42.3 76.7 16.8 72.9 38.3 6.6 11.6 7.0 7. 258 .9 12.7 1.8 59.8 57.7 13.1 12.2 8.4 31.0 42.9 36.190 menunjukkan rumah tangga yang menggunakan/memiliki jamban sendiri sebesar 58.2 3.6 14.0 4.1 4.6 2.7 12.7 8.0 32.4 3.4 8.1 7.9 16.2 19.3 9.0%).8 43.0 0.0 46.9 Bersama 8.8 49.2 24.1 18.8 6.9 27.0 13.4%).8 2.4 4.7 77.1 4.8 Tabel 3.2 23.2 7.8 12.2 9.8 63.8 7.2 49.0 12.0 5.9 23.2 26. Beberapa provinsi dengan proporsi penggunaan jamban sendiri rendah antara lain Gorontalo (31.1 1.8 15.8 2.1 6.3 1.9 51.190 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia. Susenas 2007 Jenis penggunaan Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sendiri 51.5 36. NTB (35.5 36.4 20.9 11.8 27.2 6.4 31.1 28.7 1.2 71.3 47.8 58.3 8.3 59.5 16.2 Tidak ada 32.2 25.6 60.4 57.4 8.5 8.1 25. dibandingkan dengan hasil Susenas 2004 mengalami penurunan sebesar 1.3 65.5 13.9 25.1 18.5 16.0 14.6 Umum 8.5 32.0 2.3 2.2 42.5 35.6%) dan Maluku Utara (36.5 64.6 61.7 4.9%.6 3.7 3.0 1.5 9.3 Indonesia 58.0 .1 79.1 11.1 5.1 19.4 9.8 32.Tabel 3.4 1.

6 Sendiri Bersama Umum Tidak ada Persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri di perkotaan lebih tinggi (73. DKI Jakarta (86.8 11. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi proporsi yang menggunakan jamban sendiri.1%).3 10.191 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Karakteristik Rumah Tangga.2 3.2 Perdesaan 49.0 Kuintil 4 Kuintil 5 75.191) Tabel 3. Dibandingkan dengan data tahun 2004 sebesar 49.0 14.2 19.4%) dan Papua (11.6 Kuintil 1 52. Tabel 3.9 Tingkat pengeluaran rumah tanggaper kapita 43. 259 .3%).3 Kuintil 2 58.5 2. Secara nasional rumah tangga yang menggunakan jamban jenis leher angsa sebesar 68.7%). Susenas 2007 Jenis penggunaan Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan 73.Cakupan penggunaan jamban sendiri menunjukkan variasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 4.5 Kuintil 3 65.5 37. Jenis sarana pembuangan kotoran dianggap ‘saniter’ bila menggunakan jenis leher angsa.4 9.2 4.8 6.2%) dibandingkan dengan di perdesaan (49. Sulawesi Utara (85.6 12.2 34. dan DI Yogyakarta (83. Gorontalo (87.0 3.9 4. Banten (87.7%).8 11.192 menggambarkan berbagai jenis sarana pembuangan kotoran.1 30.0 12.2%). Provinsi dengan proporsi rumah tangga tidak pakai jamban tinggi antara lain Kalimantan Tengah (14. Maluku Utara (84.1 25.8%). Provinsi dengan cakupan penggunaan jamban saniter tinggi antara lain Bali (95. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3%).2 11. (Tabel 3.9%).3%.2%).7 13. penggunaan jamban saniter ini mengalami peningkatan yang signifikan.9%.2%). Kalimantan Selatan (13.

0 17.3 24.6 4.1 1.3 13.5 85.4 25.0 1.2 2.5 66.0 30.5 70.4 2.0 68.0 8.5 62.0 7.9 14.5 6.3 11.9 2.3 12.6 Tidak pakai 7.7 95.7 0.192 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi.4 3.0 18.7 9.1 49.6 1.8 11.4 1.6 13.5 9.4 3.7 2.8 15.0 43.7 5.7 0.6 21.7 5.Tabel 3.0 7.3 67.8 24.2 Indonesia 68.7 79.3 1.3 7.0 Plengsengan 8.8 5.6 67.2 25.4 60.8 4.2 83.1 87.5 4.2 53.8 6.2 7.8 15.2 75.5 29.6 2.4 39.9 0.8 4.2 86.2 13.2 31.7 8.0 4.5 Proporsi penggunaan tempat buang air besar bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita (Tabel 3.9 9.6 2.1 75.193) 260 .2 75. Susenas 2007 Jenis tempat buang air besar Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Leher angsa 59.9 76.8 60.9 4.1 15.7 3.9 66.5 5.0 16.8 22.1 8.6 11.5 18.5 6.6 4.1 19.3 7.4 7.2 9.8 68.7 0.9 6.9 18.0 24.1 9.6 2.7 87.2 Cemplung/ cubluk 24.2 5.5 7.4 4.8 14.9 17.6 6.7 26.6 9.8 8.9 72.3 13.8 6.3 58.4 0.6 14.7 59.8 11.8 12.7 16.3 16.4 14.6 84.8 6.9 4.0 78.4 10.8 1.0 6.3 5.5 63.8 69.

3 9.7 5.6 9.0%). Berdasarkan kriteria tersebut.6 7.6 2.9%).4 Kuintil-2 61.1 Proporsi rumah tangga yang menggunakan jamban jenis leher angsa lebih tinggi di perkotaan (83. 261 .8 10.5 Kuintil-3 68.8 Perdesaan 56. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 7.4 22.9 8.9 Kuintil-4 73.0 10.5 27.0 8.8 1. disusul oleh Papua Barat (25. Terdapat 18 provinsi dengan akses baik terhadap sanitasi di bawah rerata nasional. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi yang menggunakan jamban jenis leher angsa.3 3. terendah adalah Papua (17. akses sanitasi disebut ‘baik’ bila rumah tangga menggunakan sarana pembuangan kotoran sendiri dengan jenis sarana jamban leher angsa.5 7. Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef.6 4.9%) dibandingkan dengan di perdesaan (56. pada tabel 3.Tabel 3.193 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 53.1%).194 dapat dilihat secara nasional rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi sebesar 43.2 Kuintil-5 82.0%. Susenas 2007 Jenis tempat buang air besar Karakteristik rumah tangga Leher angsa Plengsengan Cemplung/ cubluk Tidak pakai Tipe daerah Perkotaan 83.2 5.8 26.1 17.5 11.5%) dan Maluku Utara (31.5 13.

6 69.3%).8 39.Tabel 3.4 58.0 *) menggunakan jamban sendiri.8 31.2 63.1 40.3 44.0 50. jenis latrin (Susenas.1 53.1 58.5 77.194 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Provinsi.6 45.9 44.8 53.3 55.2 46. Proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 44.6 70.1 46.0 43.0 33.6 41.4 29.0 65.5 17.7 42.9 Indonesia 57.9 42.0 66.1 57.0 41.5 27.3%) dibandingkan dengan di perdesaan (30.195 menunjukkan proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi.9 46.0 58.7 50.0 70.4 55.0 49.2 60.8 36.9 41. Susenas 2007 Akses sanitasi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang 66.9 60. Tabel 3. 262 .2 68.5 58.0 30.0 34.1 50.5 82. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi.5 41. 2007).3 57.0 25.7 44.1 Baik*) 33.9 49.1 55.7 55.5 73.6 51.0 74.5 22.4 48.7 35.9 54.3 64. di perkotaan lebih tinggi dua kali lipat (63.5 55.4 31.3 49.

Provinsi-provinsi yang proporsi pembuangan akhir tinja saniternya di bawah rerata nasional adalah NTT.0%) dan Bali (76.9 25.4 34. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang menggunakan tangki/SPAL.1 Kuintil-2 65.5 63. jenis latrin (Susenas.5 50.5 Kuintil-5 36. Untuk pembuangan akhir tinja. Susenas 2007 263 .3 Perdesaan 69.7 63. Proporsi rumah tangga yang menggunakan tangki/SPAL sebagai tempat pembuangan akhir tinja dua kali lebih tinggi di perkotaan (71.7 42.196) Proporsi penggunaan sarana pembuangan akhir tinja saniter tertinggi ditemukan di Provinsi DKI Jakarta (86. Papua Barat. lobang tanah. NAD. Jambi.6 Kuintil-3 57. kolam/sawah. NTB. data diambil dari Kor Susenas 2007.5%). Tempat pembuangan akhir tinja dikategorikan saniter adalah bila menggunakan jenis tangki/sarana pembuangan air limbah (SPAL). proporsi rumah tangga dengan tempat pembuangan akhir tinja menggunakan tangki/SPAL (saniter) sebesar 46. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Barat.6%) dibandingkan dengan di perdesaan (30. Lampung.195 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Karakteristik Rumah Tangga. Sumatera Barat. Kalimantan Tengah.3%). dan Gorontalo. Secara nasional. 2007).5 *) menggunakan jamban sendiri. Maluku.3 Kuintil-4 49. (Tabel 3.(Tabel 3. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.Tabel 3. sisanya dibuang ke sungai/laut.197) Tabel 3. Proporsi rumah tangga dengan penggunaan tempat pembuangan akhir tinjanya jenis tangki/SPAL (saniter) bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Kalimantan Barat.7 30. Kalimantan Selatan.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 74.196 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Provinsi. dan pantai/tanah.3%. Sulawesi tengah. Susenas dan Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Akses sanitasi Kurang Baik*) Tipe daerah Perkotaan 36. Papua. Bengkulu.

5 11.7 3.6 1.4 33.3 1.3 0.0 1.9 12.Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tangki/ SPAL 36.9 21.0 53.0 0.8 24.7 22.2 5.1 21.3 33.5 38.6 35.3 14.4 1.2 4.3 1.7 1.6 0.4 8.2 55.7 2.1 5.8 21.4 76.7 14.2 2.0 20.7 69.7 26.0 21.0 0.2 4.9 86.0 1.9 2.6 18.7 tanah 12.1 50.0 Tabel 3.0 0.6 1.8 2.2 14.2 18.4 35.1 1.6 20.4 18.1 7.2 31.7 53.1 4.0 0.5 34.6 4.9 22.5 3.6 21.3 34.0 26.2 /laut 22.7 Indonesia 46.7 12.9 1.3 41.1 2.0 4.1 6.8 2.2 20.2 5.7 1.1 11.4 5.2 22.0 25.8 4.9 3.9 45.6 0.1 0.9 0.5 2.4 0.7 7.7 15.5 1.0 49.2 11.4 3.0 1.0 1.8 16.5 11.4 30.4 26.3 23.0 14.1 20.6 0.7 39.3 55.197 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.7 6.9 3.3 3.4 0.1 28.1 1.7 14.6 7.3 2.7 38.5 31.1 42.2 6.3 33.0 2.1 57.9 7.7 Tempat pembuangan akhir tinja Kolam/ Sungai Lobang Pantai/ sawah 63.6 2.6 0.4 54.7 0.4 0.6 1.3 17.5 1.4 2.1 0.4 42.1 30.9 15.8 8.9 22.6 16.2 1.6 2.6 21.1 46.1 4.5 49.7 11.1 25.1 2.8 47.4 36.4 11.6 2.3 0.3 43.8 32.3 15.2 13.3 32.4 1.1 0.1 22.9 2.9 46.2 29.0 0.6 40.1 3.3 16.0 14.7 31.8 61.4 21.8 1.2 48.4 0.0 24.9 22.7 69.5 1.6 6.6 24.1 12.6 1.7 22.3 2.1 15.8 9.1 21.9 0. Susenas 2007 264 .0 25.2 1.0 1.8 1.3 30.3 8.3 1.6 0.4 1.5 tanah 22.1 7.2 Lainnya 3.

baik SPAL jenis tertutup maupun terbuka. proporsi rumah tangga yang tidak menggunakan SPAL hampir tiga kali lipat (42.3 3.5 19. disusul oleh Kalimantan Selatan (75.8% menjadi 32.198 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Provinsi. semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin rendah proporsi rumah tangga yang tidak memiliki SPAL.7 11. Secara nasional.2 2.5 4.2 2. Riskesdas 2007 265 .9%).3 Sarana pembuangan air limbah Data penggunaan saluran pembuangan air limbah (SPAL) rumah tangga didapatkan dengan cara wawancara dan pengamatan.3 16.8 12.3 3.199) Tabel 3.9 6.8 20.0 4.6 3.1 10.7% rumah tangga yang menggunakan SPAL di rumahnya.9.1 1. yaitu dari 25.Karakteristik rumah tangga Tangki/ SPAL Tempat pembuangan akhir tinja Kolam/ Sungai Lobang Pantai/ sawah /laut tanah tanah Lainnya Tipe daerah 71.9 2.6 1.5 2. Proporsi rumah tangga yang tidak menggunakan SPAL bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 Kuintil 3 52. Dibandingkan dengan data Susenas tahun 2004.2 3.8 1.9%).9%) dibandingkan dengan di perkotaan (15.8 Kuintil 2 45.198) Terdapat 16 provinsi dengan proporsi rumah tangga tidak memiliki SPAL lebih tinggi dari rerata nasional. terdapat 67.6 27.2 16.5 26.5 9. terdapat peningkatan rumah tangga yang tidak memiliki SPAL. tertinggi adalah NTT (77.7 1.7%). Di daerah perdesaan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 11.8 2.(Tabel 3.7 7.6 3.2 2.3 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 30.5 21.0 Kuintil 4 Kuintil 5 65.3 Kuintil 1 38.9 Perkotaan 30.3 23.7%) dan Kalimantan Tengah (65.5% (Tabel 3.1 22.4 24.2 11.6 23.

7 13.6 65.8 14.2 5.6 37.5 22.2 48.0 17.2 21.2 Indonesia 42.7 23.9 47.5 46.8 21.5 23.0 27.0 27.1 43.Saluran pembuangan air limbah Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Terbuka 56.3 18.7 Tdk ada 26.9 44.6 30.1 Tertutup 17.7 44.5 34.7 20.8 6.1 43.2 17.1 37.7 16.4 30.6 46.8 42.5 Tabel 3.5 25.7 12.2 10.7 31.0 50.1 24.3 24.1 25.4 47.3 4.5 47.0 16.2 34.5 69.3 11.7 33.7 11.7 46.6 25.0 38.7 52.8 10.5 41.1 17.1 27.7 27.4 9.6 37.0 11.3 77.1 14.1 52.199 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.0 49.9 8.9 75.1 57.5 55.4 8.2 32.6 39. Riskesdas 2007 266 .3 60.3 52.9 41.1 20.0 48.3 25.0 46.4 17.3 16.6 53.5 33.9 34.9 43.4 48.6 26.9 10.4 42.7 4.6 51.2 71.3 25.3 40.3 38.4 69.

5 17. Riskesdas 2008 267 .200 menunjukkan secara nasional terdapat 26.3% dalam rumah dan 56. Tabel 3.3 35.9.2 14.4 20.4 33.9 40.Karakteristik rumah tangga Saluran pembuangan air limbah Terbuka Tertutup 42.1 36. Tabel 3. Provinsi dengan persentase rumah tangga tidak memiliki tempat sampah tertinggi adalah Gorontalo (dalam rumah) dan Kalimantan Selatan (luar rumah). Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Tabel 3.5% rumah tangga memiliki tempat sampah di luar rumah.201 menunjukkan di perkotaan proporsi rumah tangga yang memiliki tempat sampah lebih tinggi (36.9 Tdk ada 15.5 Kuintil-1 42.6 3.0 Kuintil-4 Kuintil-5 41. Proporsi rumah tangga yang memiliki tempat sampah bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 Tipe daerah 41.8 28.0 Kuintil-3 42. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin banyak yang memiliki tempat sampah.7 22.4 Pembuangan sampah Data pembuangan sampah meliputi ketersediaan tempat penampungan/ pembuangan sampah di dalam dan di luar rumah.5% dalam rumah dan 38.200 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Provinsi.9% di luar rumah).8 Kuintil-2 43.2% di luar rumah) dibandingkan dengan di perdesaan (20.9 42.6 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 42.9 Perkotaan 42.2 29.8 23.6% rumah tangga yang memiliki tempat sampah di dalam rumah dan 45. baik di dalam maupun di luar rumah.

0 55.1 34.0 11.Penampungan sampah dalam Provinsi Tertutup NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan 5.2 10.3 268 .4 Tidak ada 77.9 rumah Terbuka 17.2 17.1 8.8 6.0 16.5 10.4 Penampungan sampah di luar rumah Tidak ada 65.1 83.7 8.8 Terbuka 25.6 77.0 17.3 49.7 54.3 65.9 69.9 35.0 11.1 75.0 80.1 Tertutup 9.9 5.5 17.0 8.4 14.0 42.4 5.5 37.6 56.2 15.

1 6.4 28.8 5.3 4.9 31.1 34.5 9.1 23.1 34.9 10.0 3.4 80.3 48.3 13.8 18.6 85.1 64.5 7.7 7.5 27.7 34.9 81.4 8.1 8.201 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Karakteristik Rumah Tangga.5 Kuintil-1 6.1 10.9 23.3 21.7 13. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Penampungan sampah dalam rumah Tertutup Terbuka Tidak ada 63.8 83.0 Indonesia 8.7 76.4 Terbuka 40.0 27.7 Penampungan sampah di luar rumah Tertutup 15.2 77.4 3.7 71.8 7.4 11.4 47.2 12.7 26.1 44.9 11.0 63.0 Kuintil-2 269 .9 53.9 5.5 12.1 41.0 11.3 7.7 13.1 60.1 73.9 62.2 6.1 72.0 33.9 17.2 3.9 72.1 26.4 86.6 68.0 39.6 Tipe daerah 15.8 6.5 4.6 80.5 Tabel 3.5 3.8 36.8 5.9 15.3 80.1 28.8 22.0 51.6 18.2 54.0 Perkotaan 4.7 19.0 65.4 36.5 6.6 3.5 37.6 73.5 7.5 55.3 65.3 63.5 3.3 72.9 8.0 7.1 32.2 31.3 7.0 33.3 54.4 79.4 34.3 3.8 23.6 56.7 79.1 66.9 3.9 61.0 10.6 23.2 16.0 29.3 17.8 15.1 4.7 76.5 15.2 21.4 6.1 36.0 85.9 24.9 42.3 16.9 56.0 29.0 7.5 8.0 76.9 64.9 35.4 35.5 18.2 54.6 3.3 60.3 63.0 29.0 2.2 28.2 66.8 73.7 5.8 4.2 37.4 15.2 60.0 Tidak ada 43.5 65.0 9.3 13.5 8.5 14.4 3.4 66.5 59.3 30.8 61.6 2.8 5.8 6.8 24.8 5.1 58.3 73.3 24.1 57.8 74.0 23.8 58.5 16.8 36.7 14.5 61.2 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 4.4 3.5 81.2 77.3 30.Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 5.2 6.4 18.2 5.6 65.2 5.1 58.5 74.0 21.3 14.

9%).5 Perumahan Data perumahan yang dikumpulkan dan menjadi bagian dari persyaratan rumah sehat adalah jenis lantai rumah.5 38.9.6% rumah tangga dengan jenis lantai rumah tanah dan 17.5%). luas lantai rumah dan jumlah anggota rumah tangga diambil dari Kor Susenas 2007.8 16.5 80.5 19.2 52.3 9. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 Tanah < 8 m2 / kapita 20. sedangkan data pemeliharaan ternak diambil dari Riskesdas 2007.0 3. yaitu memenuhi syarat bila ≥8m2/kapita (tidak padat) dan tidak memenuhi syarat bila <8m2/kapita (padat).0 94.1 79.2 83.3 86.0 5.8%).4%) dan Papua (27.7 96.9 74.4%). Hasil perhitungan dikategorikan sesuai kriteria Permenkes tentang rumah sehat.5 55.0 18. Papua Barat (40.7 94.202 menunjukkan secara nasional masih terdapat 12.0%) dibandingkan dengan di perkotaan (5.1 65. Data jenis lantai.9 20.9 89.1 7.0 14. kepadatan hunian. dan DKI Jakarta (37.3 8. Tabel 3.1 76. Kepadatan hunian diperoleh dengan cara membagi luas lantai rumah dalam meter persegi dengan jumlah anggota rumah tangga.3 5. Sedangkan provinsi dengan proporsi hunian padat lebih tinggi dari rerata nasional antara lain Papua (51.3 17. Tabel 3.4 40.Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 7.0 71. ada kecenderungan semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin menurun proporsi rumah tangga yang lantai rumahnya tanah dan tingkat huniannya padat.2 19.9 13. sedangkan proporsi rumah dengan kepadatan hunian tinggi tidak menunjukkan perbedaan antara di perkotaan dan perdesaan.1 10.9 23.4 270 . Tabel 3.5 96.3 4.0%). disusul oleh Jawa Tengah (28.203 memperlihatkan proporsi rumah tangga dengan jenis lantai tanah di perdesaan lebih tinggi (17.8 10. Proporsi rumah tangga dengan jenis lantai rumah tanah dan tingkat hunian padat bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Kepadatan Hunian dan Provinsi.7 13.5 37. dan keberadaan hewan ternak dalam rumah. terdapat delapan provinsi dengan proporsi jenis lantai rumah tanah lebih dari rerata nasional.202 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Rumah.5% dengan tingkat hunian padat.7 82.7 46.5 3. Susenas 2007 Jenis lantai Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Kepadatan hunian >= 8 m2/ kapita 13.8 79.6 Bukan tanah 86.7 90. tertinggi NTT (44.7%). Dilihat dari provinsi.0 20.

6 80.5 26.7 83.6 271 .3 5.9 19.1 10.0 10.7 95.5 Tabel 3.2 49.2 8.3 82.9 89.1 66.3 18.4 12.1 19.4 79.9 2.8 94.6 21.0 17.7 6.4 4.0 Indonesia 87.1 7.1 84.6 82.1 15.8 9.9 21.3 16.0 69.7 2.3 84.6 95.4 19.7 Kuintil 3 87.4 Kuintil 4 90.Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 80.5 6.6 65.4 27.7 94.3 12.1 9.2 92.5 93.7 17.3 97.5 73.9 89.9 92.4 11.7 21.8 17.1 Kuintil 2 85.7 87.9 84.2 25.8 15.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 80.6 22.6 96.4 6.0 30.3 14.4 88.1 78.0 88.6 20.8 28.0 11.7 4.6 63.2 5.1 97.203 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Rumah Dan Kepadatan Hunian Dan Karakteristik Rumah Tangga.8 62.1 91.6 88.2 84.2 6.8 93.9 8.3 11.4 78.1 89.8 74.4 96.7 88.6 89.6 11.4 78.8 91.6 12.9 15.4 36.3 96.2 82.2 90.6 44.8 72.5 5.5 20.7 81.4 55.8 51.5 79.7 15.1 82.4 34.6 72. Susenas 2007 Jenis lantai Karakteristik rumah tangga Bukan tanah Tanah Kepadatan hunian >= 8 m2/ kapita 82.9 17.9 10.3 4.4 59.2 27.5 < 8 m2 / kapita 17.5 Perdesaan 83.9 Kuintil 5 93.2 37.1 78.6 3.6 40.9 33.5 17.4 3.3 78.2 2.4 10.5 Tipe daerah Perkotaan 94.8 7.2 71.3 93.9 21.8 97.

204 tampak secara nasional terdapat 41. Bila di rumah tangga memelihara ternak. Pada Tabel 3. 12. ternak sedang (kambing. kucing dan kelinci. Dari rumah tangga yang memelihara ternak sekitar 10%-20% memeliharanya di dalam rumah. anjing atau kelinci.205). domba.8% memelihara ternak besar dan 16. Provinsi-provinsi dengan proporsi rumah tangga yang memelihara ternak tinggi antara lain Provinsi NTT. kucing atau kelinci. maupun binatang kucing. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. kemudian ditanyakan dan diamati apakah dipelihara di dalam rumah. kerbau.9% memelihara binatang jenis anjing. 8. dll) atau binatang peliharaan seperti anjing. Bali dan Papua. data dikumpulkan dengan menanyakan kepada seluruh kepala rumah tangga apakah memelihara binatang jenis unggas.7% rumah tangga yang memelihara unggas.Dalam hal pemeliharaan ternak. ternak besar (sapi. 272 .3% memelihara ternak sedang. baik jenis unggas. ternak besar. ternak sedang. babi. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin sedikit memelihara ternak. Proporsi rumah tangga yang memelihara ternak di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan. dll). kuda. Proporsi rumah tangga yang memelihara ternak bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita (Tabel 3.

9 97.2 94.3 99.4 34.7 0.5 33.1 12.2 5.6 79.1 91.5 2.9 Luar rmh 3.8 92.5 71.6 64.5 27.3 94.6 0.1 0.8 17.8 0.6 0.9 68.0 89.3 40.9 3.0 7.7 0.3 8.1 2.7 31.5 78.9 3.7 4.3 0.0 0.7 94.9 82.1 83.4 0.3 56.9 4.5 96.5 3.1 6.3 97.8 31.5 95.8 91.7 81.9 2.7 0.4 57.7 15.1 66.2 95.0 87.3 0.8 29.0 273 .5 Luar rmh 51.7 0.6 87.0 0.3 26.6 46.3 1.2 18.4 0.9 92.0 Tdk dipelihara 86.7 69.4 0.9 88.4 9.9 8.9 2.8 89.9 13.6 0.8 0.7 26.0 95.0 3.8 10.3 10.6 69.1 69.4 3.0 9.4 4.7 66.7 83.1 71.6 93.5 1.4 84.6 11.3 98.9 59.4 2.1 5.3 44.0 1.6 0.0 0.2 2.3 9.7 3.7 0.7 0.5 3.0 89.1 73.6 90.1 90.7 0.7 94.2 Tdk dipelihara 44.8 48.9 2.9 56.9 0.5 87.7 93.2 5.0 2.8 26.6 10.3 23.4 11.9 22.8 2.3 29.4 95.1 97.3 83.5 5.6 0.8 25.3 98.1 11.2 0.6 57.8 18.8 0.0 90.8 19.3 16.3 13.2 96.0 0.3 98.4 16.1 93.7 76.5 83.4 64.8 23.4 9.2 1.8 52.3 4.5 6.6 3.0 91.8 85.5 0.5 83.8 94.4 11.4 15.6 86.9 2.9 32.1 7.8 66.1 54.6 91.1 0.0 51.9 14.1 4.5 27.3 90.6 85.7 3.2 0.5 0.8 8.4 49.0 33.8 33.6 7.8 8.8 0.4 78.8 2.2 0.1 47.0 3.1 2.2 30.1 99.7 Ternak Besar (sapi/kerbau/kuda dll) Dlm Luar Tdk rmh rmh dipelihara 0.0 70.8 6.7 6.3 40.2 80.4 Ternak Sedang (kambing/domba/babi dll) Dlm Luar Tdk rmh rmh dipelihara 1.2 69.6 15.6 99.1 61.7 40.1 4.7 67.8 5.5 16.0 11.9 0.2 4.4 4.1 5.1 21.6 92.0 90.8 36.9 4.9 82.1 36.2 6.9 1.6 5.3 63.3 57.2 26.7 63.3 0.0 50.3 12.2 25.8 2.5 1.8 54.3 84.8 93.0 0.0 65.0 93.4 3.7 0.1 83.8 47.4 3.0 82.1 0.5 12.9 91.2 4.0 0.4 7.7 95.1 3.2 35.2 4.2 13.8 96.0 18.1 Anjing/kucing/kelinci Dlm rmh 9.9 0.1 7.7 6.3 65.0 2.1 10.2 6.2 2.3 6.1 70.3 17.0 6.1 31.6 1.3 6.0 0.1 94.6 8.4 0.6 2.1 0.1 2.7 0.3 8.6 0.8 62.4 84.7 39.2 7.2 0.0 14.6 52.1 91.7 1.4 10.4 10.9 7.8 95.9 14.9 0.1 0.5 42.3 0.9 9.6 2.1 1.3 83.9 66.8 6.6 1.6 4.0 0.1 3.6 94.3 48.0 6.5 58.5 11.1 27.7 2.4 5.5 2.3 1.5 1.3 8. Riskesdas 2007 Ternak Unggas Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Dlm rmh 3.3 29.1 4.3 92.6 3.8 0.9 3.3 12.4 17.8 3.7 77.Tabel 3.4 8.1 0.7 94.7 9.9 88.6 2.7 4.6 85.4 62.3 11.2 2.2 6.3 96.8 5.1 35.9 97.7 1.9 80.4 4.2 95.2 3.1 0.3 5.0 0.5 96.4 77.9 94.9 17.0 0.4 8.8 50.1 2.7 16.0 0.9 13.8 45.6 26.204 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Provinsi.0 0.0 0.2 99.9 99.7 99.1 1.0 13.8 1.3 5.7 14.8 45.8 1.4 2.1 2.8 3.0 12.7 6.8 29.2 5.1 75.8 88.2 25.9 85.6 7.3 67.

7 39 38.8 19.7 96 82.9 67.7 1.8 89.4 1.3 1.5 10.3 7.4 36.6 12 4.2 79.6 15.0 89.2 4.8 7.6 82.0 94.0 4.Tabel 3.3 1. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Ternak Unggas Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Ternak Sedang (kambing/domba/babi dll) Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Ternak Besar (sapi/kerbau/kuda dll) Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Anjing/kucing/kelinci Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 4.7 83.2 8.5 0.7 6.6 85.5 90.5 11.1 6.2 54.8 53.4 92.6 92.2 6.8 7.3 34.5 9.9 59.8 3.5 86 87.2 0.0 0.1 27.4 7.1 11.7 7.3 9.0 84.6 1.0 6.6 13.3 1.8 12.8 0.7 10.2 0.4 1.205 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Karakteristik Rumah Tangga.4 89.8 6.6 7.3 47.3 1.3 274 .5 1.1 82.2 8.0 81.4 56.2 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 7.5 2.3 7.3 9.8 8.8 89.4 97.4 45 76.5 10.6 9.6 87.

5 4. termasuk di dalamnya 75 kasus lahir mati.0 Perempuan n % 144 48 27 48 89 124 213 251 316 454 8.7 23.5 2.8 5. Tabel 3. Kematian yang terjadi dalam kurun waktu 1 tahun sebelum survei (terletak pada rentang waktu 1 Juli 2006-31 Januari 2008) ditindaklanjuti dengan wawancara kepada anggota keluarga almarhum/ah menggunakan kuesioner AV.4 14.7 21.0 5.5 Total n 354 103 76 137 178 250 511 632 776 922 % 9.0%.3.207 membandingkan proporsi kematian menurut tipe daerah.2 persen).0 2. sedangkan pada kelompok umur 45-74 tahun di perkotaan lebih besar daripada di perdesaan.1 20. yang anggota keluarganya berhasil diwawancarai secara lengkap.5 rata-rata jumlah ART).0 4.552 kejadian kematian.163.6 18.488 RT yang berhasil diwawancarai x 4.3 13.1 Distribusi Kasus Kematian Diantara 4. sedangkan pada umur 75 tahun ke atas lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.4 2.4 2.014 kasus (88.4 Distribusi kematian menurut umur dan jenis kelamin pada tabel 3.206 Distribusi Kasus Kematian Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin. Pada kelompok umur muda (di bawah 15 tahun).2 7.4 17.0 16.2 4. Proporsi kematian pada umur 45-74 tahun pada laki-laki lebih besar daripada perempuan.10 Mortalitas Pewawancara menanyakan kejadian kematian selama kurun waktu tiga (3) tahun sebelum pelaksanaan pengumpulan data.9 3.552 kasus kematian di atas.10.196 (=258.552 per 1.2 12. Riskesdas 2007 Kelompok umur Di bawah 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75 tahun ke atas Laki-Laki n % 210 55 49 89 89 120 298 381 460 468 9. dan proporsi kematian umur 15 tahun ke atas semakin meningkat. hanya 4.6 1. proporsi kematian pada umur 5-14 tahun terendah. proporsi kematian di perdesaan lebih besar daripada di perkotaan.8 1. Data mortalitas satu tahun yang terkumpul dari 33 provinsi dalam kurun waktu tersebut sebanyak 4.206 menunjukkan bahwa proporsi kematian pada umur di bawah 1 tahun adalah 9.6 2.5 6.7 13. 275 . Tabel 3.0 19. yaitu 4.4 26. Dengan demikian angka kematian kasar adalah 4 per 1000. 3.

Tabel 3. diabetes mellitus. Bila dibandingkan dengan hasil SKRT 1995 dan SKRT 2001. sedangkan penyakit tidak menular didominasi oleh strok.1 6.209 menunjukkan urutan penyakit menular dan tidak menular pada semua umur.5 4. Kondisi maternal/perinatal dalam kurun waktu tujuh (7) tahun tidak berubah dan kematian karena cedera tidak mengalami perubahan. tampak bahwa selama 12 tahun (1995-2007) telah terjadi transisi epidemiologi yang diikuti dengan transisisi demografi.4%).3 1.3 13. Di lain pihak. Tabel 3.7 23.9 3.207 Distribusi Kasus Kematian menurut Kelompok Umur dan Tipe Daerah. proporsi penyakit menular telah menurun.7 11.6 23. sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam menanganinya.9 15.8 n 354 103 76 137 178 250 511 631 776 922 Total % 9. Proporsi kematian karena penyakit tidak menular semakin meningkat.0 16. Penyakit menular didominasi oleh TB penyakit hati (termasuk hepatitis kronik).9 19.5 6.5%).4 3. dan tumor ganas.1 2. Grafik 3.0 2.0 3.9 1.1 memperlihatkan bahwa proporsi penyakit menular di Indonesia dalam 12 tahun telah menurun sepertiganya dari 44 persen menjadi 28 persen. walaupun dalam enam (6) tahun terakhir penurunan hanya sedikit. Hipertensi (6. dan proporsi penyakit tidak menular mengalami peningkatan cukup tinggi dari 42 persen menjadi 60 persen.8%) dan Cedera (6.8 22.4 4. menurut empat (4) kelompok penyebab kematian.1 5.10. Riskesdas 2007 Penyebab kematian Strok Proporsi kematian (%) 15. Pada tabel 3.208 memperlihatkan bahwa penyebab kematian utama untuk semua umur adalah strok (15. yang disusul oleh TB (7.6 1.5%).3 3.2 Kematian Semua Umur Tabel 3. pnemonia.4 276 .0 19.9 n 250 72 53 78 94 153 259 336 449 544 Perdesaan % 11. hipertensi. Proporsi gangguan maternal/perinatal dalam 6 tahun terakhir tidak mengalami penurunan. dan diare. Proses ini diprediksi akan berjalan terus. Riskesdas 2007 Kelompok umur n Di bawah 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75 tahun ke atas 104 31 23 59 84 97 252 295 327 378 Perkotaan % 6.3 17.208. Pola penyebab kematian semua umur.3 14.7 19.6 5.4 3.

6 3.7 5. Riskesdas 2007 No Penyakit menular % Penyakit tidak menular % 277 .8 3.5 0.1 5.8 0.1 Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok Penyakit. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 Tabel 3.8 6.3 0.6 1.5 0.5 1.TB Hipertensi Cedera Perinatal Diabetes Mellitus Tumor ganas Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit sal nafas bawah Penyakit jantung Pnemonia Diare Ulkus lambung dan usus 12 jari Tifoid Malaria Meningitis Ensefalitis Malformasi kongenital Dengue Tetanus Septikemi Malnutrisi 7.6 0.3 0.0 5.7 5.1 4.209.5 6.5 6.7 1.1 5. Proporsi Penyakit menular dan Tidak Menular pada Semua Umur.2 . Grafik 3.

Bila dibandingkan dengan seluruh kematian neonatal ini. faktor kesehatan ibu ketika ia hamil dan bersalin kemungkinan berkontribusi terhadap kondisi kesehatan bayi yang dikandungnya. Proporsi lahir mati cukup tinggi yaitu 34. Proporsi bayi prematur yang meninggal cukup tinggi (32.9 1. Dari sejumlah 217 kasus kematian perinatal. dan hipertensi maternal (22%) (Table 3. selanjutnya urutan ke 2 dan 3 disebabkan oleh prematuritas dan sepsis (Tabel 5.5%.0 0.6 3.2 6.10. kematian bayi neonatal dini (0-6 hari) adalah sebesar 78.4 3. komplikasi ketika bersalin (partus macet) sebesar 17.3 10.2 10.2 9.2 7. jumlah kematian neonatal. Bayi yang dilahirkan dengan lahir mati/still birth atau yang mengalami kematian neonatal dini (umur 0-6 hari).4%) menunjukkan bahwa penanganan bayi prematur belum memuaskan. tercatat 181 kasus kematian.6% (75 kematian) dari seluruh kematian perinatal. Kematian bayi neonatal lanjut (7-28 hari) tercatat 39 kasus.4 1.9 12. pewawancara menanyakan apakah ibu bayi tersebut mengalami gangguan kesehatan ketika mengandung bayi tersebut. 96. Penanganan bayi baru lahir harus terfokus pada peningkatan kemampuan bidan desa untuk menangani asfiksia pada bayi baru lahir.3 9.8 19. Untuk kematian perinatal.3 Kematian Menurut Kelompok Umur a.285) Strok Penyakit Hipertensi Diabetes mellitus Tumor ganas Penyakit jantung Iskemik Penyakit saluran nafas kronik Penyakit jantung lain Ulkus lambung dan usus 12 hari Malformasi congenital Malnutrisi 26. Tabel 3. Dengan mengetahui penyakit/gangguan kesehatan ibu ketika hamil.5%.0 4.210 Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 hari dan 7-28 hari No 0-6 hari (n=142) % 7-28 hari (n=39) % 278 .4 13. Di lain pihak. Terbanyak karena sepsis (20%) (Tabel 3. yaitu kematian bayi 0-28 hari.210).211). Penyakit yang banyak dialami ibu hamil pada bayi yang lahir marti secara berturut-turut adalah hipertensi maternal (24%). seperti terlambat membawa atau terlambat menerima pelayanan kesehatan. yaitu kematian bayi umur 0-6 hari (disebut juga kematian bayi neonatal dini). atau karena alasan lainnya.1 14. Kematian Berumur 0-28 hari (Neonatal) Jumlah kematian perinatal di 33 provinsi.8% ibu dari bayi perinatal terganggu kesehatannya ketika hamil.2 (n=2.1 1. Sisanya. maka tindakan pencegahan maupun pengobatan harus ditujukan terhadap ibu ketika hamil. Sedangkan gangguan kesehatan ibu hamil dari bayi meninggal berumur 0-6 hari adalah ketuban pecah dini (23%).2 2.080) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TB Penyakit hati Pnemonia Diare Tifoid Malaria Meningitis/ ensefalitis Demam berdarah Dengue Tetanus Septikemia 27. yaitu lahir mati ditambah kematian bayi umur 0-6 hari tercatat sebesar 217 kasus kematian.5 3.2).(n=1. Poporsi terbesar disebabkan karena gangguan/kelainan pernafasan (respiratory disorders). sebesar 142 kasus kematian.

8 1.8 16.6 2.5 12.6 2.7 8.5 Tabel 3.8 12.6 1.0 6.8 6.4 12.9 32.9 6.212 Proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari-4 tahun. Untuk bayi postneonatal penyebab kematian yang juga perlu diperhatikan adalah kelainan kongenital jantung dan hidrocefallus (6%). Kematian Berumur 29 hari-4 tahun Kematian bayi postneonatal dan anak balita didominasi oleh penyakit menular.0 21. TB 4% (Tabel 3. dan pnemonia.5 18.3 6.1 b.5 3.5 10.9 5.0 10.9 5.4 Sepsis Malformasi kongenital Pnemonia Sindrom gawat pernafasan (RDS) Prematuritas Kuning Cedera lahir Tetanus Defisiensi nitrisi Sindrom kematian bayi mendadak (Sudden infant death) 20.8 1-4 tahun (n=103) Diare Pnemonia Necroticans Entero Collitis (NEC) Meningitis/ensefalitis Demam berdarah dengue % 25.6 3.7 10. sedangkan untuk anak balita penyebab kematian yang perlu diperhatikan adalah karena campak 6%.6 2. Proporsi penyakit penyebab kematian pada bayi postneonatal (29 hari-11 bulan) dan anak balita (14 tahun) untuk tiga penyakit terbesar mempunyai pola yang sama yaitu diare.6 2.6 17.8 2.8 9.1 15.3 1.3 6.212).8 0-6 hari (n=142) Ketuban pecah dini Hipertensi maternal Komplikasi kehamilan dan kelahiran Kelainan nutrisi maternal Multiple pregnancy Perdarahan antepartum Persalinan sungsang Infeksi intrapartum Lilitan tali pusat Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran % 23. Tabel 3.7 3.2 15.211 Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian Bayi 0-6 hari.4 12.6 3.8 dan 279 .7 12.4 2.1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Gangguan/kelainan pernafasan Prematuritas Sepsis Hipotermi Kelainan perdarahan dan kuning Postmatur Malformasi kongenitas 35. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 29 hari-11 bulan (n=173) Diare Pnemonia Meningitis/ensefalitis Kelainan saluran pencernaan Kelainan jantung congenital % 31.3 5.6 2. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Lahir mati (n=75) Hipertensi maternal Komplikasi kehamilan dan kelahiran Ketuban pecah dini Perdarahan antepartum Cedera maternal Persalinan sungsang Kehamilan ganda Infeksi intrapartum Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran Lilitan tali pusat % 23.4 5.4 23. tenggelam 5%.

3 4.4 9. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Perkotaan (n=23) Demam berdarah dengue Tifoid Meningitis Pnemonia Jatuh Tumor ganas Kecelakaan lalu lintas Campak Infeksi lain dan penyakit parasit % 30. Proporsi kematian karena TB menempati urutan ke empat di perkotaan.3 5.1 8.5 5.1 6.8 5.5 3.5 7.9 2.7 7.1 2.5 7. 214 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 5-14 tahun menurut Tipe Daerah.0 8.3 9.4 13.2 Campak Tenggelam TB Malaria Leukemia 5.7 Perdesaan (n=1.9 2.7 4.6 6.4 nafas bawah kronik Tumor ganas Penyakit hati Penyakit jantung iskemik NEC Penyakit jantung lain Diabetes mellitus Proporsi kematian pada kelompok umur 5-14 tahun di daerah perkotaan berbeda dengan di perdesaan.4 7.2 1.7 8.8 4.1 9.9 3. Selain itu.0 5. Di perdesaan. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perkotaan (n=1.9 2. Kematian karena kecelakaan lalu lintas di perdesaan 2 kali lebih besar daripada di perkotaan.9 c. diabetes mellitus.8 280 .6 4.4 9. Di perkotaan proporsi kematian yang terbesar adalah demam berdarah dengue (30%).213).3 1.3 4.6 5.3 6.214). di perdesaan banyak kematian akibat jatuh dan tenggelam.0 13. yaitu sebesar 16% dan 9% (Tabel 3. Tabel 3.5 7.6 7 8 9 10 hidrosefalus Sepsis Tetanus Malnutrisi TB Campak 4.1 4.515) Strok Diabetes mellitus Hipertensi TB Penyakit jantung iskemik Tumor ganas Penyakit hati NEC Penyakit jantung lain Penyakit saluran nafas bawah kronik % 19. Kematian Berumur 5 Tahun ke atas Proporsi penyebab kematian tiga terbesar pada kelompok umur lima (5) tahun ke atas di perkotaan adalah penyakit tidak menular yaitu: stroke.5 5.3 11.5 7.213 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 5 tahun ke Atas menurut Tipe Daerah.0 13. hypertensive diseases.4 4.966) Strok TB Hipertensi Penyakit saluran % 16. masingmasing sebesar 8% (Tabel 3. sedangkan di perdesaan adalah diare dan pnemonia (masing-masing 11%). Tabel 3.3 7.3 Perdesaan (n=53) Diare Pnemonia Malaria Kecelakaan lalu lintas Penyakit hati Jatuh Tenggelam NEC Tifoid % 11.strok dan TB menempati urutan pertama dan kedua.

2 4.0 6. Tabel 3.7 5.4 10. leher rahim.6 Perempuan (n=261) Penyakit hati TB Penyebab obstetrik lain Tumor ganas leher rahim dan payudara Ulkus lambung dan usus 12 jari Kecelakaan lalu lintas Malaria Diabetes mellitus Hipertensi Tifoid % 9. hati) Penyakit jantung iskemik Ulkus lambung dan usus 12 jari Strok Tifoid Penyakit saluran nafas bawah kronik Di perkotaan. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Laki-Laki (n=298) Kecelakaan lalu lintas TB Penyakit hati Malaria Strok Penyakit jantung iskemik Tifoid Penyakit jantung lain Diabetes mellitus Jatuh % 16. Proporsi yang terbesar pada laki-laki adalah kecelakaan lalu lintas.3 2.215) Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun pada laki-laki maupun perempuan karena tuberculosis masih tinggi (11% pada laki-laki. Proporsi TB sebagai penyebab kematian hamper sama di perkotaan maupun di perdesaan (Tabel 3. Di perdesaan proporsi penyakit infeksi sebagai penyebab kematian sama dengan di perkotaan (19%). hati. paru-paru.4 5.0 4.3 4.6 4.1 rahim.3 3.2 4.7 11.9 9.7 7.5 4.2 3.0 2.216). penyakit hati dan TB. rahim) Diabetes mellitus Strok Ulkus lambung dan usus 12 jari Hipertensi Penyakit jantung lain % 13. Pada perempuan.10 Gagal ginjal 3.2 3. Tabel 3.7 7.2 4. proporsi penyakit tidak menular seperti strok.9 9. Pada kelompok umur tersebut.5 281 . proporsi kematian karena other direct obstetric deaths di urutan ke tiga sebesar 8% (Tabel 3.8 5. proporsi kematian karena penyebab obstetrik lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.5 8.1 9.6 2. payudara.4 3. penyakit jantung iskemik sudah cukup tinggi sebagai penyebab kematian di perkotaan dan perdesaan.9 Perdesaan (n=325) Penyakit hati Kecelakaan lalu lintas TB Malaria Tumor ganas (leher % 9. rahim.0 3.0 5.2 4.0 5.4 4. 8% pada perempuan).9 4. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perkotaan (n=240) Kecelakaan lalu lintas TB Penyakit hati Kematian karena penyebab obstetrik Tumor ganas (payudara.3 4.8 Proporsi penyakit penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut tipe daerah menunjukkan bahwa perkotaan dan perdesaan mempunyai pola yang sama yaitu tempat teratas diduduki oleh kecelakaan lalu lintas.215 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok umur 15-44 Tahun menurut Tipe Daerah.216 Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut jenis kelamin.7 3.6 7.3 4.

Tabel 3. penyakit jantung iskemik) mendominasi sebagai penyebab kematian.3 282 .5 9. rahim. diabetes mellitus. Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 55-64 tahun menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa pada laki-laki maupun perempuan penyakit tidak menular (strok. hipertensi. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perkotaan (n=252) Strok Diabetes mellitus Penyakit jantung iskemik TB Hipertensi Penyakit jantung lain diseases Penyakit hati Kecelakaan lalu lintas Tumor ganas (payudara. Proporsi tumor ganas pada perempuan secara mencolok lebih besar dari laki-laki (Tabel 3. pola penyakit penyebab kematian di perkotaan dan perdesaan tidak berbeda.5 5.2 4.1 6.7 7. Pada perempuan penyakit tidak menular yang terbanyak menimbulkan kematian adalah diabetes mellitus (16 persen). % 15.9 14. rahim) Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Tabel 3.Menurut tipe daerah. proporsi penyebab kematian karena penyakit infeksi pada kelompok umur 45-54 tahun lebih tinggi di perdesaan (25%) dibandingkan di perkotaan (14%). leher payudara.4 4.220).7 Perempuan (n=213) Diabetes mellitus % 16. keduanya didominasi oleh penyakit tidak menular. Penyakit menular yang masih banyak menyebabkan kematian adalah TB.218 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Jenis Kelamin.8 3.2 8.3 5.9 7. pada laki-laki proposinya sama dengan perempuan. sedangkan proporsi penyakit tidak menular lebih besar di perkotaan (62%) dibandingkan di perdesaan (48%). Pada kelompok umur 55-64 tahun.8 hati.2 Perdesaan (n=259) TB Strok Hipertensi Penyakit jantung iskemik Penyakit hati Diabetes mellitus Tumor ganas (paru-paru.217 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Tipe Daerah. Di perkotaan kecelakaan lalau lintas termasuk dalam 10 penyakit penyebab kematian (Table 3. (Tabel 3. sedangkan pada laki-laki terbesar adalah strok (16%).8 4.3 11.2 3.217). Riskesdas 2007 No 1 Strok Laki-Laki (n=298) % 15.2 4. Untuk penyakit menular. Proporsi penyakit TB pada kelompok umur 45-54 tahun pada laki-laki lebih besar (11%) dari pada pada perempuan (9%). Pada kelompok umur 45-54 tahun pada laki-laki maupun perempuan proporsi penyakit tidak menular lebih tinggi secara mencolok dibandingkan penyakit menular.7 8. % 12.218). prostat) Ulkus lambung Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Tifoid rahim. proporsi TB lebih besar di perdesaan.8 8.1 7.219).(Tabel 3.

9 3.3 3.7 Strok Penyakit jantung iskemik Hipertensi TB Tumor ganas (paru-paru.220 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun menurut Jenis Kelamin.8 Pnemonia Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Tabel 3.8 8.3 3. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Laki-Laki (n=381) Strok Diabetes mellitus TB Hipertensi Penyakit hati Penyakit jantung iskemik % 22.8 3.5 8. payudara.1 8.219 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun menurut Tipe Daerah.6 7.2 6.1 7. prostat) NEC Tabel 3. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perkotaan (n=295) Strok Hipertensi TB Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Penyakit jantung lain NEC Tumor ganas (hati.2 5.1 7.5 9.7 8.0 5.3 bawah kronik Tumor ganas (hati. paru-paru.0 4.6 9.8 5.0 8.7 3. leher rahim.2 8. paru-paru.8 3. payudara.2 3 4 5 6 7 8 9 10 TB Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Hipertensi Diabetes mellitus Kecelakaan lalu lintas Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Tifoid Ulkus lambung 11.0 2.7 5.1 6.2 2. paru-paru.0 6.4 10.1 4.6 Perempuan (n=251) Strok Diabetes mellitus Hipertensi TB Penyakit hati Tumor ganas (hati.0 283 .5 10.4 6. leher rahim. rahim) % 20. rahim.1 5.7 3.7 12. leher rahim.1 4. rahim.1 6.6 8.0 9. 11.0 11. payudara.4 11. prostate) Penyakit lain % 26. payudara.6 8. rahim) Penyakit jantung lain Penyakit hati hati. leher rahim.7 Perdesaan (n=337) Strok Hipertensi TB Penyakit hati Penyakit lain Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain Penyakit saluran pernafasan % 17.4 3.0 9.4 6.

0 Proporsi penyebab kematian pada umur 65 tahun ke atas pada laki-laki maupun perempuan sebagian besar disebabkan oleh penyakit tidak menular.1 7. dan pnemonia.5 8.0 3.9 7.8 kronik Penyakit jantung lain NEC Penyakit jantung iskemik Proporsi kematian pada umur 65 tahun ke atas karena penyakit tidak menular sedikit lebih tinggi di perkotaan (59. Tabel 3.7 3.0 3.8 4.5%) dari pada di perdesaan (57%).0 7.4 4.5 6. prostat. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Strok NEC Hipertensi Penyakit jantung iskemik Diabetes mellitus Penyakit saluran pernafasan bawah kronik TB Penyakit jantung lain Penyakit hati Pnemonia Perkotaan (n=705) % 23.6 6.8 7.3 5. Proporsi kematian karena penyakit tidak menular lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki (Tabel 3.9 284 . Pola penyakit sama dibandingkan kelompok umur yang lebih muda.5 4.6 6.6 3. Proporsi penyakit infeksi di perkotaan tidak jauh berbeda dengan di perdesaan (Tabel 3.7 8 9 10 Penyakit jantung lain Penyakit saluran pernafasan bawah kronik NEC Tumor ganas (hati.2 9.222 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 65 Tahun ke atas menurut Jenis Kelamin.5 3.0 6. penyakit hati.3 5.5 9.2 9.4 2.221).2 9.7 7.8 10.9 5.3 Penyakit saluran pernafasan bawah 5. Proporsi penyakit infeksi di perkotaan yang menyebabkan kematian adalah penyakit sistem pernafasan seperti TB. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 Strok Penyakit kronik TB Hipertensi NEC Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain Laki-Laki (n=928) saluran pernafasan bawah % 20.3 6.0 6.6 3.222).4 11.3 Perdesaan (n=993) Strok Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Hipertensi TB NEC Penyakit jantung lain Penyakit jantung iskemik Diabetes mellitus Pnemonia Penyakit hati % 21.5 8.0 5.221 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 65 Tahun ke atas menurut Tipe Daerah.6 6.9 Perempuan (n=770) Strok Hipertensi NEC Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Diabetes mellitus Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain % 24. paru-paru. Tabel 3. otak) 5.6 2.9 10.

8 TB Pnemonia Penyakit hati 5.9 4.0 2.2 285 .4 3.6 3.8 9 10 Diabetes mellitus Penyakit hati Pnemonia 4.

Surveillance of risk factors for non-communicable diseases: The WHO STEP wise approach. Winkelmann. Departemen Kesehatan R.medem. Bonita R. Operational Study an Integrated Community-Based Intervention Program on Common Risk Factors of Major Non-communicable Diseases in Depok Indonesia. ORC Macro 2002-2003. 9/20/2002 Hipertensi. Departemen Kesehatan. de Courten. Laporan Data Susenas 2001: Status Kesehatan Pelayanan Kesehatan. 11. 2001 15.htm.1999). Basuki. Laporan SKRT 2001: Studi Morbiditas dan Disabilitas. p. Departemen Kesehatan R. Badan Pusat Statistik. 2001. Survei Demografi dan Kesehatan 2002-2003. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Bonita. 2000. 6. Atmarita. Geneva: World Health Organization. T. R.I. K. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Summary. M. Status gizi balita di Indonesia sebelum dan selama krisis (Analisis data antropometri Susenas 1989 . Daily Working Load.com/datatopik /hipertensi. Surveillance Noncommunicable Diseases and Mental Health. 8.2 Maret 2000.com/MedLB/article_ID=ZZZUKQQ9EPC&sub_cat=73 8/24/2002. 2006. 13. Perilaku Hidup Sehat dan Kesehatan Lingkungan. http://www. Balitbangkes. Age. Laporan SKRT 2001: Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular. 12. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 7. AMA (American Medical Association). The WHO Stepwise Approach to Surveillance (STEPS) of NCD Risk Faktors.I..344-348. The WHO STEPwise Approach to Surveillance (STEPS) of NCD Risk Factors. Depkes RI. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.com/penyakit/hiperten.Geneva World Health Organization. -----------------Faktor Resiko Terjadinya pria. Jakarta 29 Februari . 3. Tahun 2002. Bedirhan Ustun. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. The International Classification Of Functioning. 2005 Hipertensi. Jamrozik. Past Antihypertensive drugs and Risk of Hypertension : A Rural Indonesia Study. Body Posture. Disability And Health – A Common Framework For Describing Health States. Departemen Kesehatan R. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional.I. Dini Latief.. Tahun 2002. Sandjaja. Soekirman. Tahun 2002 10. ------------------- http://www.klinik 2. 4. 2001. 286 . Jahari. B.. Herman Sudiman. Bonita R et al. http://www. Idrus Jus'at. de Courten M. 2002. Departemen Kesehatan R. Dwyer T et al. Fasli Jalal.I.. R. Laporan SKRT 2001: Studi Kesehatan Ibu dan Anak. Depression Linked With Increased Risk of Heart Failure Among Elderly With Hypertension. Laporan SKRT 2001: Studi Tindak Lanjut Ibu Hamil. 5.medicastore. B & Setianto. Geneva: World Health Organization 16. Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII.I. Departemen Kesehatan R.DAFTAR PUSTAKA 1.htm. Dwyer. 9. Studi Morbiditas dan Disabilitas. 2000 14. Abas B.

Panduan Manajemen PHBS Menuju Kabupaten/Kota Sehat. Nagasawa H. Panduan Pengembangan Sistem Surveilans Perilaku Berisiko Terpadu. Glucose Intolerance is Common in Japanese Patients With Acute CoronarySyndrome Who Were Not Previously Diagnosed With Diabetes.Depkes RI Jakarta. SKRT 1995. Psychiatric morbidity among patients attending the Bangetayu community health centre in Indonesia. 1991 – 1999. Mengamati Penelitian Epidemiologi Hipertensi di Indonesia. Dineen B. Jakarta. 1995 34. 29. 51 (20). 2003. 35. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. International Classification Of Functioning. Departemen Kesehatan RI.I. Prevalence of Blindness and Visual Impairment in Pakistan: 287 . 79/10: 907. 31.Depkes RI Jakarta 2004. 20. 2005. Mohammad Z. Jakarta: Departemen Kesehatan.17. S dkk. Brotoprawiro. Geneva. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat. Jakarta: Depkes RI 23. Kelompok Kerja Serebro Vaskular FK UNPAD/RSHS “ . 30.. Diabetes Care 28: 1182 -1186. Mochizuki S.I. 1999. 2002. Statistik Penyakit Penyebab Kematian.P. Laporan. Departemen Kesehatan R. CDC. Departemen Kesehatan R. Imamoto S. Bagian I. Hashimoto K. 2002. Non Communicable Disease.. Ikewaki K. Departemen Kesehatan R. Series 11. George Alberty. 51 (21) : 456. Survey Kesehatan Nasional.. Pemantauan Pertumbuhan Balita. Departemen Kesehatan R. 25. Number 246. 2002. Pusat Promosi Kesehatan. Tomorrow’s pandemic. et al. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat. Prevalensi Hipertensi pada Karyawan Salah Satu BUMN yang menjalani pemeriksaan kesehatan.J.. Darmojo. Program Imunisasi di Indonesia. MMWR. Departemen Kesehatan. Tahun 2002 27. Shah S. Direktorat Epim-Kesma. Departemen Kesehatan. MMWR. Disampaikan pada seminar hipertensi PERKI. Tahun 2002 26. State – Specific Trend in Self Report 3d Blood Pressure Screening and High Blood Pressure – United States. Hartono IG. Shibata T. 2000. Survey Kesehatan Nasional. B. 22. 2003. Jadoon. Disability And Health (ICF). et al.I.I. Yagi H. 1997 28. 2001 36. Bourne R. Vital and Health Statistics. Laporan. 33. 21. SKRT 1995 32. Depkes. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Depkes RI 24. Khan. Mohammad A.. Department of Health and Human Services. 1999. CDC Growth Charts for the United State : Methods and Development.R. 2001. Bulletin WHO 2001. 2003. Departemen Kesehatan R.. : 429 .World Health Organization. May 2002 19. State-Specific Mortality from Stroke and Distribution of Place of Death United States. Johnson G. CDC.I. 18. Djaja.A. Disampaikan pada seminar hypertensi PERKI . S. Departemen Kesehatan.

and health. Clinicians Pocket Reference. 2004 50. 2006. 49. M. 1998 : 41-132 40. 2002 38.D. In:Fiftyseventh World Health Assembly. Rose Men’s. Kristanti CM.physical activity. NY. Analisis Data .47:4749-55. 1997. Mc. Ph. Faktor-faktor yang berhubungan Dengan Hipertensi Tidak Terkendali Pada Penderita Hipertensi Ringan dan Sedang yang berobat di poli Ginjal Hipertensi.. Muchtar & Fenida. The New England Journal of Medicine.43. 19-28 May 2003.phtml. 45. 2006.surya. Report of WHO. 2007 57. Bisher Kawar. 48. Jan 18. 8th Ed. World Health Organization. 37. In: Fiftysixth World Health Assembly.D. News Health Recource. dkk. Leonard G Gomella.co. Depkes RI. and Meguid El Nahas. 1998. Pradono J dan Soemantri S. pp 9. Parvez Hossain.D. International edition. Jakarta: Badan Litbangkes. Resolution WHA56. Obesity and Diabetes in the Developing World — A Growing Challenge 46. http://www. Perkeni. A. 2007 47.43. Resolution WHA57. Report of WHO. Baltimore : Williams and Wilkins Inc. Diet Obesitas dan hipertensi. World Health Organization.D.. 2006.id /31072002 /10a. Grawhill Medical Publishing division. 2004 43. Lippincott :Williams & Wilkins 2002.Kapita Selekta Kedokteran 1999 :518 – 521. Jakarta: Perkeni. 2006.The Pakistan National Blindness and Visual Impairment Survey. Clinical Hipertension. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.Geneva. 2004 56.. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 53. Mansjoer. 2002. Geneva: WHO. pp 9. Pedoman Pewawancara Petugas Pengumpul Data. Kaplan NM. Kaplan NM.Global Strategy on diet. Geneva: WHO. Status Kesehatan Mulut dan Gigi di Indonesia. Suhardi. 44. Rencana Strategis Departemen Kesehatan 2005-2009. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006. Hipertensi di Indonesia . Steven A Haist. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006.17. Survei Kesehatan Rumah Tangga 41. M. 2005 52.. June 2002 51. Investigative Ophthalmology and Visual Science. 39. Departemen Kesehatan RI. 54. M. Dwi Hapsari. 1999 288 . 42. dan Soemantri S. 17-12 May 2004. AS. 7 th Ed. Status Kesehatan Mulut dan Gigi di Indonesia. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycaemia. 2003 55. Janet. Perkeni.WHO Framework Convention on Tobacco Control. Vol 356: 213 – 215. Jakarta: Perkeni. How To Keep Your Blood Pressure Under Control. Primary Hypertention Phatogenesis In : Clinical Hypertention. Policy Paper for Directorate General of Public Health. Kristanti CM.1. Petunjuk Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal. Seri Survei Kesehatan Rumah Tangga. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycaemia. 2006.Geneva.

W. BJ.ISN = 724 62.87:1075-8. Volume 53. No. Ann Intern Med. Causes of low vision and blindness in rural Indonesia. The WHO STEPwise approach to Surveillance of Noncommunicable Diseases 2003. Sudikno. Pola Penyakit Penyebab Kematian Di Indonesia. Titiek Setyowati. Makalah disajikan pada Simposium Nasional Litbang Kesehatan. 289 . ISSN: 0854-7971. ISSN 0377-1121 63. Indicators of Health Risk Factors: The AIHW view. 29 (4).3. Tan D. Saw S-M. No 8. Tim survei Depkes RI. Koh D. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. P. 66. dkk. 20-22 November 2005. Disampaikan pada Konggres Nasional ke 5. 1984. 73.H. 61.. 7-8 Desember 2005. Survei Kesehatan Rumah Tangga 1992.8. PHE 47. Pedoman Klinik Diagnosis & Terapy. Canberra: AIHW. Trend Pola Penyakit Penyebab Kematian Di Indonesia. Analisis lanjut Data Susenas – Surkesnas 2001. The Journal of the Indonesian Medical Association. Jakarta. 1999 65. Cakupan penimbangan balita di Indonesia. Lisa Mulyono. Soemantri. 1993 : 119. & Bakris GL. Volume 31. 69. British Journal of Ophthalmology 2003. Denpasar. M. Sarimawar Djaja. S. Sandjaja. Depkes RI. Suradi & Sya’bani. SK Menkes RI Nomor : 736a/Menkes/XI/1989 tentang Definisi Anemia dan batasan Normal Anemia 67.I.58.. Prosiding temu Ilmiah dan Kongres XIII Persagi. Sarimawar Djaja dan S. ISSN: 0125 – 9695 . Sandjaja. Sudikno. B. et al. 2001 59. Bandung 9 – 13 April 2000 (SX111-1) 70.Soemantri. 72. 1999 : 13 68. Laju Konversi Toleransi Glukosa Terganggu menjadi Diabetes di Singaparna. Sobel. Agustina Lubis. Joko Irianto. Hipertensi Borderline “White Coat” dan sustained “ : Suatu Studi Komperatif terhadap Normotensi para karyawan usia 18 – 42 tahun di RSUP Dr.2.Jakarta. Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1993-1996. S. Sinaga.) 75. 1995.3. Pola Sikap Penderita Hipertensi Terhadap Pengobatan Jangka Panjang. 74. 60. Sunyer FX. Depkes R. Gazzard G. Bulletin of Health Studies. Sarimawar Djaja. Cakupan viramin A untuk bayi dan balita di Indonesia. Titiek Setyowati. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Medical hazard of obesity.T.. Husain R. Berkala Ilmu Kedokteran Vol. 64. 2002. dalam Naskah Lengkap KOPAPDI VI.M. SKRT 2001. Widjaja D. The Australian Institute of Health and Welfare 2003. Nomor 3 – 2003. Perjalanan Transisi Epidemiologi di Indonesia dan Implikasi Penanganannya. STEPS Instrument for NCD Risk Factors (Core and expanded Version 1.. Sonny P. 1997. Hipertensi. AIHW Cat.1997.. 71. Gambaran Rumah Sehat di Berbagai Provinsi Indonesia Berdasarkan Data SUSENAS 2001. Syah. Studi Mortalitas Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001. Penerbit UI-PRESS : 1439. Sarjito Yogyakarta. Sri Hartini KS Kariadi.. Non-communicable Disease Surveillance and Prevention in South-East Asia Region. No. 15 Th. Seri Survei Kesehatan Rumah Tangga DepKes RI. Jawa Barat.

WHO/SEARO. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee. Arterial Hypertension. 1999 83. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. April 2004 80. volume 1. The World Health Survey Programme. World Health Organization. Geneva: WHO. 1999. Laasar. Dalam: Julian Rosenthal. Guidelines of The Management of Hypertension Journal of Hypertension. 82. WHO-ISH. 2003. and Therapy. 2001. WHO. A Public Health Report. U. WHO. World Health Organization. Department of Haematology. 290 . Injuries and Causes of Death. 85. p. Univ. Depkes RI. 79. Geneva. Based on The Recommendation of The Ninth Revision Conference 1975 and Adopted by The Twenty Ninth WHA. World Health Organization: International Classification of Diseases. Guidelines of The Management of Hypertension Journal of Hypertension. Jakarta: Badan Litbangkes. Needs of the Community. Haematology: An Aproach to Diagnosis and Management. WHO-ISH. 2005. Cape town. SpringerVerlag. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee.15. 78. 1995. WHO. Surveillance of Risk Factors related to noncommunicable diseases: Current of global data. 2003. 77. Pathogenesis. The Surf Report 1. Oral Health Care. 86. Report of an Inter-country Consultation. 2003 84. New York Heidelberg Berlin. Surveillance of Major Non-communicable Diseases in South – East Asia Region. 1999. Switzerland. 2001.1994. The Risk of Hypertension : Genesis and Detection. Assessing the iron status of populations: Report of a joint World Health Organization/Centers for Disease Control and Prevention technical consultation on the assessment of iron status at the population level . 1997. Geneva. Cape town. Diagnosis.76. 81.Geneva. Auser’s guide to the self reporting questionnaire. Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) 2001. 1984 : 44.

Kuesioner 291 . Struktur Organisasi 2. Etik 3.LAMPIRAN 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful