Anda di halaman 1dari 9

PROTOKOL KYOTO

Kita bisa merasakan bahwa saat ini iklim yang ada di sekitar kita semakin lama semakin mencemaskan, di samping mengganggu keseimbangan alam perubahan iklim juga memberikan dampak yang buruk bagi keberlangsungan hidup setiap mahluk hidup di bumi, untuk mengantisipasi hal tersebut maka perlu formula yang baik, maka Jika kita membahas tentang isu perubahan iklim maka pada point terakhir kita pasti akan membahas tentang bagaimana mengantisipasi perubahan iklim global yang semakin hari semakin buruk, dalam pembahasan iklim global sangat tidak mungkin hanya jika di lakukan oleh satu Negara saja, karna tidak akan maksimal untuk menekan perubahan iklim tersebut, maka di perlukan dukungan oleh semua Negara di dunia ini, yang secara langsung dan tidak langsung juga berperan dalam terjadinya perubahan iklim, karena kita ketahui bahwa sebagaian besar factor terjadinya perubahan iklim tersebut adalah akibat manusia, maka semua orang / Negara harus bertanggung jawab, munculah kesadaran dari berbagai Negara untuk merubah keadaan ini Terdapat banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa pemanasan global, sebagai pemicu terjadinya perubahan iklim, terjadi akibat emisi yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia (emisi antropogenik).Menyadari permasalahan perubahan iklim merupakan masalah bersama dan perlu pula ditangani secara global, masyarakat dunia pun mulai melakukan perundingan dan negosiasi untuk mencegah dan mengantisipasi atau setidaknya mengurangi dampak terburuk dari perubahan iklim. Conference of Parties (CoP) adalah otoritas tertinggi dalam kerangka PBB dalam kaitannya dengan Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC). CoP merupakan asosiasi para pihak dalam meratifikasi konvensi yang bertanggung jawab menjaga konsistensi upaya internasional dalam mencapai tujuan utama konvensi. Secara rutin, CoP akan meninjau komitmen para pihak, terutama yang berhubungan dengan strategi komunikasi nasional dan pengalamannya menerapkan kebijakan nasional yang terkait dengan isu perubahan iklim. 1. CoP ke-1, (Berlin, Jerman, 1995) 2. CoP ke-2 (Jenewa, Swiss, Juli 1996) 3. CoP ke-3 (Kyoto, Jepang, Desember 1997)

Menghasilkan Adopsi Protokol Kyoto yang diterbitkan di Kyoto 11 Desember 1997. Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan yang sah. Ditegaskan bahwa Negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca secara kolektif sebesar 5,2 % dibandingkan dengan tahun 1990. Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara tahun 2008 dan 2012. 14. CoP ke-13/CoP/MoP ke-3 (Bali, Indonesia, Desember 2007) Gagasan dan program untuk menurunkan emisi GRK secara internasional telah dilakukan sejak tahun 1979. Program itu memunculkan sebuah gagasan dalam bentuk perjanjian internasional, yaitu Konvensi Perubahan Iklim, yang diadopsi pada tanggal 14 Mei 1992, dikenal dengan sebutan KTT Bumi di Rio de Janeiro, dan berlaku sejak tanggal 21 Maret 1994.Pemerintah Indonesia turut menandatangani perjanjian tersebut dan telah mengesahkannya melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994. Konvensi di Brazil tahun 1992 merupakan batu loncatan yang penting bagi perkembangan diskusi mengenai perubahan iklim selanjutnya. Salah satunya pada saat dilaksanakannya Konferensi Para Pihak III (Conference of Parties, COP III) yang diselenggarakan di Kyoto, Jepang, pada bulan Desember tahun 1997, dimana sebuah perangkat peraturan yang bernama Protokol Kyoto, Protokol Kyoto adalah protokol kepada Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim Menjadikan Protokol Kyoto sebagai hukum internasional merupakan langkah pertama yang paling penting dalam menghadapi masalah perubahan iklim.Protokol ini adalah satu-satunya persetujuan global untuk membatasi polusi pemanasan global. Ini juga adalah dasar dari aktifitas global yang efektif dalam mengatasi perubahan iklim di waktu yang akan datang. Protocol kyoto diadopsi sebagai pendekatan untuk mengurangi emisi GRK.Protokol Kyoto mengatur dan mengikat Para Pihak negara industri (Negara Annex I) secara hukum untuk melaksanakan upaya penurunan emisi GRK yang dapat dilakukan secara individu atau bersama-sama.Protokol Kyoto bertujuan menjaga konsentrasi GRK di atmosfer agar berada pada tingkat yang tidak membahayakan sistem iklim bumi.Untuk mencapai tujuan itu, Protokol mengatur pelaksanaan penurunan emisi oleh negara industri sebesar 5% di bawah tingkat emisi tahun 1990.Bagi negara berkembang (Non-Annex I) Protokol Kyoto tidak mewajibkan penurunan emisi GRK, tetapi mekanisme partisipasi untuk penurunan emisi tersebut terdapat di dalamnya, prinsip tersebut dikenal dengan istilah tanggung jawab bersama dengan porsi yang berbeda (common but differentiated responsbility).Protokol Kyoto mengatur semua ketentuan tersebut selama periode komitmen pertama yaitu dari tahun 2008 sampai dengan 2012.

Beberapa mekanisme dalam Protokol Kyoto yang mengatur masalah pengurangan emisi GRK adalah mekanisme Implementasi Bersama (Joint Implementation), Perdagangan Emisi (Emission Trading), dan Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism). Bagi negara-negara Annex I mekanisme-mekanisme di atas adalah perwujudan dari prinsip mekanisme fleksibel (flexibility mechanism), yang memungkinkan negara-negara Annex I mencapai target penurunan emisinya.

Joint Implementation Joint Implementation (JI) adalah mekanisme penurunan emisi yang dapat dilaksanakan antar negara maju (Annex I) yang diuraikan dalam Pasal 6 Protokol Kyoto. Melalui JI, suatu negara maju dapat melakukan upaya penurunan emisinya dengan cara membangun proyek penurunan atau penyerapan emisi GRK yang dilaksanakan di negara maju lainnya. Joint Implementation merupakan salah satu dari tiga mekanisme fleksibel dari Protokol Kyoto yang bertujuan untuk membantu negara maju (Annex I Countries) memenuhi komitmennya dalam menurunkan emisi GRK. Mekanisme JI dapat dilakukan sebagai salah satu alternatif penurunan emisi secara domestik. Melalui mekanisme ini, negara maju dapat meminimalkan biaya yang dikeluarkan bila dibandingkan melakukan proyek penurunan emisi di negaranya sendiri, sedangkan negara pelaksana proyek mendapatkan keuntungan berupa tersedianya investasi melalui bantuan pendanaan ataupun transfer teknologi.Kebanyakan proyek-proyek JI dilakukan di negara yang sedang mengalami transisi ekonomi (dalam Protokol Kyoto Annex B disebut economies in transition). Saat ini, Rusia dan Ukraina merupakan negara tuan rumah (host country) dari JI yang terbesar.

Clean Development Mechanism Clean Development Mechanism (CDM) atau Mekanisme Pembangunan Bersih, adalah mekanisme yang memungkinkan negara non-Annex I (negara-negara berkembang) untuk berperan aktif membantu penurunan emisi GRK melalui proyek yang diimplementasikan oleh sebuah negara maju, yang diuraikan pada pasal 12 Protokol Kyoto. Tujuan dari CDM adalah sebagai berikut: - Membantu negara berkembang mencapai pembangunan yang berkelanjutan - Berkontribusi terhadap pelaksanaan tujuan akhir Konvensi, yaitu menstabilkan konsentrasi GRK di atmosfer

- Membantu negara maju memenuhi komitmennya dalam mengurangi emisi GRK sesuai yang ditargetkan dalam Protokol Kyoto Satuan dari kredit penurunan emisi dalam mekanisme CDM dikenal dengan Certified Emission Reduction (CER), dimana satu CER merepresentasikan penurunan emisi (atau penyerapan oleh sink) sebesar satu ton CO2 ekivalen. Satuan kredit ini dapat digunakan sebagai bukti penurunan emisi oleh negara maju yang diwajibkan sesuai Protokol Kyoto. Setiap kegiatan yang dapat menghasilkan pengurangan atau penyerapan emisi GRK dapat didaftarkan sebagai proyek CDM, selama pengurangan atau penyerapan emisi GRK dapat terukur secara nyata dan tidak akan terjadi jika proyek tersebut tidak dilaksanakan (additional). Dengan kata lain, supaya proyek tersebut dapat dikatakan menghasilkan kredit karbon proyek tersebut harus menunjukkan adanya pengurangan emisi jika dibandingkan dengan kondisi awal (baseline scenario), dimana kondisi awal merupakan kondisi yang terjadi saat ini pada proses yang normal.Aspek penting lainnya adalah proyek yang akan dijadikan proyek CDM harus sejalan dengan kebijakan lingkungan yang berlaku di negara yang bersangkutan, atau sesuai dengan kriteria pembangunan berkelanjutan yang ditetapkan oleh Negara tersebut. Kegiatan/proyek yang memanfaatkan aktivitas nuklir, proyek yang mendapatkan bantuan resmi (ODA Official Development Assistance), dan proyek penyerapan (sekuestriasi) selain aforestasi dan reforestasi, tidak dapat didaftarkan sebagai proyek CDM. Secara umum, beberapa prinsip utama proyek CDM adalah sebagai berikut: - Additionality: proyek CDM harus dapat mendemonstrasikan bahwa pengurangan emisi yang dihasilkan proyek adalah additional. - Mendukung pembangunan berkelanjutan: proyek CDM harus sejalan dengan kebijakan yang berlaku di negara tuan rumah dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan. - Hasil yang terukur: proyeksi pengurangan emisi yang dihasilkan proyek harus dapat diprediksi dan dapat divalidasi dan verifikasi menggunakan metodologi yang telah ditetapkan dan disetujui Badan Eksekutif. - Analisis dampak lingkungan: proyek CDM harus sejalan dengan peraturan nasional yang berlaku di negara tuan ruamh, salah satunya mengenai kewajiban AMDAL bagi setiap proyek CDM. - Komentar para pemangku kepentingan (stakeholders): Partisipan proyek CDM harus melakukan sosialisasi terhadap para pemangku kepentingan termasuk masyarakat lokal serta dapat merespon komentar-komentar tersebut dengan baik.

- Persetujuan Negara Tuan Rumah: Negara tuan rumah akan menilai dan memerikan persetujuan terhadap proyek CDM berdasarkan kriteria pembangunan berkelanjutan. Negara tuan rumah terlebih dahulu harus sudah meratifikasi Protokol Kyoto dan mendirikan Otoritas Nasional untuk CDM di negaranya.

Emission Trading Emission Trading (ET), merupakan mekanisme yang memungkinkan sebuah negara maju untuk menjual kredit penurunan emisi GRK kepada negara maju lainnya, yang diuraikan pada Pasal 17 Protokol Kyoto. ET dapat dimungkinkan ketika negara maju yang menjual kredit penurunan emisi GRK memiliki kredit penurunan emisi GRK melebihi target negaranya. Semua kredit penurunan emisi yang ditetapkan Protokol Kyoto dapat diperjualbelikan melalui mekanisme perdagangan karbon ini. Pada dasarnya, ET merupakan perdagangan biasa dengan komoditas yang berupa kredit karbon yang hanya dapat dilakukan antar negara maju (Annex I). Ini berbeda dengan JI dan CDM yang merupakan mekanisme berbasis proyek, dimana kredit penurunan emisi dihasilkan melalui proyek yang spesifik.

Hambatan
Protokol Kyoto mendapat perlawanan sengit dari sejumlah negara maju yang pada awalnya enggan meratifikasi protokol ini dengan alasan belum jelasnya pengaturan mekanisme pendanaan dalam CDM, penyerapan penggunaan gas-gas rumah kaca serta konsekuensi dari ketidaktaatan serta berbagai benturan kepentingan yang harus dibayar jika melaksanakannya. Antara lain sektor industri akan mengalami penurunan karena diharuskan memberikan kontribusi sejumlah dana untuk membantu pemulihan sistem. Setelah melalui perdebatan dan negosiasi yang panjang dan alot, Protokol Kyoto akhirnya resmi memiliki kekuatan hukum secara internasional pada 16 Februari 2005. Sayangnya, Amerika Serikat sebagai kontributor emisi terbesar dunia belum bersedia meratifikasi protokol ini. Pada gilirannya, sikap ini akan mempengaruhi sikap negara-negara penghasil emisi lainnya seperti Kanada, Australia dan Jepang sehingga pelaksanaan semua ketentuan dalam protokol tersebut akan mengalami kepincangan. Maklum saja jika mengacu pada protokol tersebut, AS musti memberi kompesasi atas kelebihan GHGs yang dihasilkannya lewat CDM sehingga merugikan industri-industri di negara Paman Sam tersebut yang akan berimbas pada peta politik negara adidaya ini. Pelaksanaan ketetapan Protocol Kyoto pada akhirya akan berkaitan erat dengan bidang ekonomi dan politik negara. Sebagai contoh apabila AS meratifikasi protokol ini berarti sektor industri akan

terpukul sehingga dukungan terhadap politisi yang sedang berkuasa kemungkinan akan menurun. Secara ekonomi dan politik, kebijakan ini akan memberikan dampak negatif sehingga mau tak mau ini merupakan the last option yang harus ditempuh sebagaimana diungkapkan dalam An Inconvenient Truth di mana sejumlah fakta ilmiah disamarkan demi kepentingan politik kekuasaan. Sebaliknya bagi negaranegara berkembang yang memiliki hutan sebagai sumber penyerap GHGs akan diuntungkan karena mendapat kompesansi dana lewat CDM serta praktik jual beli emisi GHGs. Namun, kerugian ekonomi dan politik in hanya bersifat jangka pendek. Apabila semua mekanisme telah dijalankan secara baik, keuntungan jangka panjang dapat dicapai dengan terlestarikannya sumber energi dan kondisi bumi yang lebih sehat dan aman untuk ditempati. Eksistensi manusia di muka bumi dapat terjaga. Bukankah para pakar telah memaparkan kerusakan lapisan ozon yang melindungi bumi dari serangan radiasi sinar matahari akibat berlebihnya GHGs? Akhirnya timbul pesimisme apakah GHGs dapat dikurangi apabila Protokol Kyoto tidak menyentuh negara penghasil emisi terbesar. Kembali lagi ini berkaitan dengan perang antara dua kepentingan dua dunia yakni kepentingan negara-negara maju vs. kepentingan negara-negara berkembang dan dunia ketiga.Penolakan Amerika Serikat Penolakan AS atas PK Maret 2001 sempat menggoyahkan keteguhan anggota konvensi lainnya. Alasan AS, implementasi PK akan membebani pertumbuhan ekonominya karena teknologi sektor energi memerlukan pembaruan besar-besaran. Selain itu, AS beranggapan, negara berkembang yang emisinya tinggi, seperti India dan China, harus diberi tanggung jawab menurunkan emisi. Alasan itu tidak bisa diterima karena selama ini negara-negara maju yang menikmati penggunaan energi (kotor dan boros) hingga tingkat kemajuan seperti sekarang.

Bagaimana dengan Indonesia


Indonesia telah meratifikasi Protokol Kyoto melalui Undang-Undang No. 17 Tahun 2004. Dengan ratifikasi ini, terbuka peluang investasi di Indonesia dalam rangka pemenuhan target negaranegara industri melalui mekanisme Protokol Kyoto tersebut. Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mengambil langkah strategis dalam meningkatkan kapasitasnya, termasuk dalam menganalisis pasar dan mengidentifikasi proyek-proyek di sektor energi dan kehutanan melalui beberapa studi. Belakangan, pemerintah berusaha mematangkan lembaga yang menangani implementasi PK melalui MPB dengan membentuk Otoritas Nasional Pelaksana MPB yang disyaratkan Konvensi. Peran lembaga ini perlu disosialisasikan agar dikenal pengembang dan memperoleh pengalaman dalam menangani proyek.

Dari studi-studi itu, tiap tahun Indonesia berpeluang menjual minimal 25 juta ton karbon dioksida. Angka ini amat elastis, tergantung situasi pasar. Banyak proyek energi yang diidentifikasi studi di atas yang bisa segera diimplementasikan. Bahkan beberapa di antaranya dapat menikmati "jalur cepat" dengan prosedur sederhana karena berskala kecil. Tentu saja proyek-proyek energi terbarukan, efisiensi energi pada berbagai instalasi industri dan transportasi berskala besar perlu segera dipromosikan.

TUGAS MATA KULIAH ILMU ALAMIAH DASAR PROTOKOL KYOTO

Mahasiswa :

Andhika Frederick marcurius Hamdy Maulana M.zia Anggi Sukmana Maratus Solihah

200 20080510035 20080510076 20080510118 20080510119

Prodi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu sosial dan Politik

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta