Anda di halaman 1dari 12

TUGAS REVIEW JURNAL

PENGARUH VARIASI KECEPATAN POTONG DAN KEDALAMAN


POTONG PADA MESIN BUBUT TERHADAP TINGKAT KEKASARAN
PERMUKAAN BENDA KERJA ST 41

Oleh

Abdullah Hanif Ridho

200211633258

OFFERING E22

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS TEKNIK
TAHUN AJARAN 2020/2021
JURNAL TEKNIK MESIN, TAHUN 24, NO. 1, APRIL 2016

PENGARUH VARIASI KECEPATAN POTONG DAN KEDALAMAN


POTONG PADA MESIN BUBUT TERHADAP TINGKAT KEKASARAN
PERMUKAAN BENDA KERJA ST 41

Oleh:
Raul, Widiyanti, Poppy
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang
Email: antoniuslieraul@gmail.com; widi_66@yahoo.com; poppy_phd@gmail.com

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perbedaan tingkat kekasaran permukaan
benda kerja hasil pembubutan pada variasi kecepatan potong mesin bubut, (2) perbedaan tingkat
kekasaran permukaan benda kerja hasil pembubutan pada variasi kedalaman potongmesin bubut,
dan (3) perbedaan tingkat kekasaran permukaan benda kerja hasil pembubutan pada variasi
kecepatan potong dan kedalaman potong mesin bubut. Penelitian ini dilaksanakan dengan
menggunakan metode eksperimental yang melibatkan beberapa variabel. Variabel tersebut
diantaranya adalah variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah (a) variasi kecepatan
potong dan (b) kedalaman potong, sedangkan variabel terikat merupakan hasil kekasaran per-
mukaan benda kerja hasil pembubutan rata. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan:
(1) kecepatan potong berpengaruh terhadap hasil kualitas permukaan benda kerja. Semakin tinggi
kecepatan potong yang digunakan maka hasil kualitas semakin baik. Kecepatan potong yang tinggi
mengakibatkan menurunnya gaya potong dan luas penampang bidang geser, (2) pada hasil
kedalaman potong yang digunakan ada perbedaan tingkat kekasaran permukaan benda kerja.
Semakin besar kedalaman potong yang digunakan akan menyebabkan pembentukan tatal yang
akan tersambung atau kontiniu dan sebaliknya kedalaman potong yang semakin rendah, akan
menghasilkan tatal yang terputus-putus atau terpisah, (3) dalam gabungan antara kecepatan potong
dan kedalaman potong ditemukan bahwa hasil kekasaran yang paling baik (paling halus) adalah
kecepatan putar 2000 rpm pada kecepatan potong 170 m/menit dan perbandingan kedalaman
potong 0,6. Semakin tinggi kecepatan putar, kecepatan potong dan perbandingan kedalaman potong
yang besar maka nilai hasil kekasaran yang dihasilkan akan semakin rendah (halus).
Kata Kunci: kecepatan potong, kedalaman potong, kekasaran permukaan

Abstract. This research aims to know: (1) the difference of surface roughness level for work piece
of lathe product to the cutting speed variance of lathe, (2) the difference of surface roughness level
for work piece of lathe product to the cutting depth variance of lathe, and (3) the difference of
surface roughness level for work piece of lathe product to the cutting speed and depth variance of
lathe. This research was conducted by experimental method which includes many variables. The
variables were independent variable and dependent variable. Independent variable was (a) cutting
speed variance and (b) cutting depth variance. Meanwhile, dependent variable was surface
roughness of flat lathe product work piece. Based on data analysis result, it was obtained the
conclusion as follow: (1) cutting speed had influenced to the result of work piece surface quality.
The high cutting speed was used, the better quality resulted. High cutting speed caused the
decrease of cutting style and cross-sectional area of sliding surface, (2) result of depth cutting that
used in this research was the difference level of work piece surface roughness. The bigger cutting
depth was used, then it would produce continued wood shaving and contrarily the lower cutting
depth was used, then it would produce separated wood shaving, (3) in the combination between
cutting speed and cutting depth, it was found that the best roughness (the finest grinding) was
rotating speed for 2000 rpm and cutting speed for 170 m/minute and comparison of cutting depth
for
0.6. The higher rotating speed, cutting speed, and the bigger comparison of cutting depth, then the
lower roughness produced.
Keywords: cutting speed, cutting depth, surface roughness.
JURNAL TEKNIK MESIN, TAHUN 24, NO. 1, APRIL 2016 3

1. PENDAHULUAN 2. METODE

Pada masa kini, pengerjaan dengan Penelitian ini menggunakan metode


mesin sudah menjadi kebutuhan pada eksperimental yang melibatkan beberapa variabel,
industri manufaktur. Mesin sudah variabel tersebut yaitu variabel bebas (X) dan
memiliki peran utama dalam variabel terikat (Y). Dalam penelitian ini variabel
membantu manusia dalam proses bebas adalah variasi kecepatan potong (X1) dan
produksi, karena dengan mengguna- kedalaman potong (X2), sedangkan variabel terikat
kan mesin, pekerjaan manusia menjadi adalah kekasaran permukaan benda kerja hasil
lebih mudah dan baik dalam segi pembubutan rata (Y) dan variabel kontrolnya gerak
kecepatan dan hasilnya yang tentu makan (feed).
sesuai dengan yang dikehendaki. Secara umum, desain penelitian dapat dilihat
Pekerjaan yang dimaksud be- rupa pada Tabel 1 berikut.
proses pembubutan, pengefraisan,
pengeboran, penyekrapan dan proses- Tabel 1 Desain Penelitian
proses pemesinan yang lain. Kedalaman Potong (X2)
Kecepatan 0.2 0.4 0.6
Pemesinan juga meru- pakan salah satu Potong(𝜇𝑚)
teknologi proses produksi yang banyak (X1)
110 m/min   
dijumpai dan digunakan mulai dari 140 m/min   
bengkel kecil, bidang pendidikan keju- 170 m/min   
ruan (SMK, Universitas, dan lain-lain)
sam- pai industri pembuatan Analisis data yang digunakan dalam penelitian
komponen-kompo-nen mesin. ini adalah uji statistik analisis

Proses pemesinan yang biasanya digu- nakan Anova dan univariate analysis of variance.
dalam proses produksi membutuhkan Pengujian ini merupakan salah satu uji
ketelitian yang tinggi untuk mendapatkan statistik parametrik yang terpercaya dan
hasil yang baik. berfungsi untuk membandingkan beberapa
kelompok sampel dengan satu kali pengujian
Hasil permukaan benda kerja yang baik salah (Wendhi, 2012). Tujuan menggunkan uji ini
satu yang di- harapkan dari setiap pengerjaan.
adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat
Tingkat kepresisian dan kekasaran permukaan
benda kerja yang dihasilkan harus sesuai kekasaran permukaan benda kerja hasil
dengan kebutuhan. pembubutan pada variasi kecepatan potong
dan keda- laman potong mesin bubut.
Karena akan terjadi gesekan yang antara
permukaan benda kerja jika memiliki 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
kekasaran permukaan tinggi dapat
mempercepat proses keausan diantara kedua A. Perbedaan Tingkat Kekasaran
benda pasangan. Permuka- an Benda Kerja Hasil
Pembubutan pada Variasi Kecepatan
Semakin panas suhu pahat bubut dan benda Potong
kerja sangat berpengaruh pada kualitas
kekasaran per- mukaan benda kerja.... Dari hasil penelitian yang diperoleh
bahwasanya kecepatan potong berpengaruh
Jika pendingin yang digunakan tingkat terhadap hasil kualitas permukaan benda
penyerap- an panasnya baik maka hasil kerja. Ada perbedaan hasil tingkat kekasaran
permukaan benda kerja akan semakin baik
permukaan pada variasi kecepatan potong.
dan sebalik- nya jika tingkat penyerapan
panas pada pendingin kurang baik maka Semakin tinggi kecepatan potong yang
hasil permuka- an benda kerja akan kurang digunakan maka hasil kualitas semakin baik.
baik....
4KecepRaatauln, Wipdioytaonntig, Popypayn, PgengtainrughgVi ariasi Kecepatan PotonSgc..h. mid R. Steven,
2002). Roc- him (1993)
mengaki- batkan menurunnya gaya kecepatan potong (Kal- pakjian dan
potong dan luas penampang bidang
geser. Pada saat putaran spindel
tinggi maka kecepatan potong juga
akan ikut tinggi pula dan
mengakibatkan luas penampang
semakin sempit, penyem- pitan luas
penampang yang dihasilkan akan
berpengaruh semakin baik hasil
kualitas permukaan. Disini sudah
terlihat bahwasan- nya pada variasi
kecepatan putar dan kecepatan
potong ada perbedaan kualitas
permukaan.
Pada variasi kecepatan
potong yang digunakan ini terdapat
perbedaan tingkat kekasaran yang
jelas sehingga hasil yang diperoleh
dari kekasaran permukaan yang
paling rendah adalah dengan
menggunakan kecepatan putar 2000
rpm pada kecepatan potong 170
m/menit, namun ketika variasi
kecepatan potong dan putar menggunakan
parameter yang lebih rendah, hasil keka-
sarannya bertambah menjadi lebih tinggi.
Kondisi variasi kecepatan potong dan putar
memiliki keterbatasan, artinya semakin ting-
gi kecepatan potong dan putar yang diguna-
kan maka akan dapat mengakibatkan pe-
nyempitan luas penampang pemakanan dan
penurunan gaya potong. Penyempitan luas
penampang pemakanan dan penurunan gaya
potong akan berpengaruh terhadap kualitas
permukaan. Hal ini diperkuat dengan adanya
pernyataan Setiyana (2005: 23) bahwa
kecepatan potong yang tinggi akan me-
nurunkan rasio pemampatan geram dan
penyempitan luas penampang pemakanan.
Pemampatan geram dan penyempitan luas
penampang pemakanan berpengaruh pada
kualitas permukaan.
Parameter yang sangat
menentukan kekasaran permukaan
adalah kedalaman pe- makanan (depth
of cut), laju pemakanan (feed rate) dan
mengatakan juga bahwa pemampatan ge- ram sendiri merupakan
hasilkomponen proses pembubutan perbandingan tebal geram yang dihasilkan
terutama kekasaran permukaan sangat dengan tebal geram mula-mula (Setiyana,
dipengaruhi oleh sudut potong pahat, 2005). Hal tersebut sesuai dengan pernyataan
kecepatan makan (feeding), kecepatan Rochim. Semakin tinggi kecepatan potong
potong (cutting speed), tebal geram maka gaya potong akan
(depth of cut) dan lain-lain. mengalami penurunan.
Kecepatan putar (n) (speed)
selalu dihubungkan dengan spindel
(sumbu utama)dan benda kerja.
Karena kecepatan putar diekspresikan
sebagai putaran per menit (revolutions
per minute/ rpm), hal ini meng-
gambarkan kecepatan putarannya.
Akan tetapi yang diutamakan dalam
proses bubut adalah kecepatan potong
(Cutting speed atau Cs) atau
kecepatan benda kerja yang dilalui
oleh pahat/ keliling benda kerja. Pada
dasarnya pada waktu proses bubut
kecepatan
potong ditentukan berdasarkan
bahan benda kerja dan pahat (Widarto,
2008).
Kualitas permukaan salah
satunya dipengaruhi oleh
kecepatan potong karena gaya
potong mengalami penurunan dengan
semakin besar nilai kecepatan
potong itu. Per- nyataan itu sesuai
dengan teori (Rochim, 1993) yaitu
semakin besar nilai kecepatan potong
maka gaya potong akan mengalami
penurunan. Semakin tinggi
kecepatan potong akan berdampak
juga pada penurunan rasio pe-
mampatan geram. Hal ini karena
kecepatan potong yang tinggi justru
akan menurunkan gaya
pemotongan. Menurunnya
gaya pe- motongan akan
berpengaruh terhadap penu- runan
luas penampang bidang geser.
Dengan demikian kecepatan potong
yang tinggi akan menurunkan gaya
pemotongan. Gaya pemo- tongan
akan berpengaruh pada kualitas per-
mukaan benda kerja. Rasio
4 Raul, Widiyanti, Poppy, Pengaruh Variasi atan PotonTgi..g.a parameter utama pada setiap pro-ses
Kecep bubut adalah kecepatan putar spindel (speed), gerak
makan (feed) dan kedalaman potong (depth of cut).
Faktor yang lain seperti bahan benda kerja dan jenis
pahat sebenarnya juga memiliki pengaruh yang
cukup besar, tetapi tiga parameter di atasadalah bagian
yang dapat diatur oleh operator langsung pada mesin
bubut. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan
variasi dari salah satu parameter dari potong diatas,
yakni
Gambar 2 Gaya-Gaya PadaUjung Pahat kedalaman potong.Temuan pada penelitian ini
MesinBubut (Sumber: Nafsan
Upara, 262)
menjelas- kan bahwa adanya pengaruh kedalaman
potong terhadap hasil kekasaran. Artinya pada variasi
Menurut Syamsir (1989) juga kedalaman potong yang diguna- kan ini terdapat
me- ngatakan bahwa kualitas perbedaan kekasaran yang jelas. Kalpakjian dan
permukaan potong tergantung pada Schmid R. Steven (2002) mengatakan bahwa
kondisi pemotongan, missalnya parameter yang sangat menentukan kekasaran
kecepatan potong rendah dengan feed permukaan adalah kedalaman pemakanan (potong)
dan depth of cut yang besar akan (depth of cut), laju pemakanan (feed rate) dan
meng- hasilkan permukaan kasar kecepatan potong.
(roughing) se- baliknya kecepatan Hal ini dimungkinkan penelitian yang
potong tinggi dengan feed dan depth dilakukan, penggunaan kedalaman po- tong
of cut kecil menghasilkan permukaan yang berbeda ketebalannya. Yaitu
yang halus. Pernyataan tersebut menggunakan kedalaman potong 0,2 mm,0,4
sejalan dengan hasil penelitian yang mm, dan 0,6 mm. Penelitian ini men-
sudah dilakukan. dapatkan hasil bahwa perbedaan tingkat
Hasil penelitian terdahulu dari ketebalan menghasilkan kekasaran yang
Ganjar (2005) juga menyatakan bahwasanya berbeda pula.
kecepatan potong, laju pemakanan, keke-
rasan benda kerja dan kedalaman pemo- B. Perbedaan Tingkat Kekasaran
tongan secara statistik mempunyai pengaruh Permuka- an Benda Kerja Hasil
yang signifikan terhadap kekasaran per- Pembubutan pada Variasi Kecepatan
mukaan. Kecepatan potong dan laju pema- Potong dan Kedalam- an Potong
kanan serta kecepatan potong dan keda- Dalam penelitian ini kecepatan po-
laman pemotongan juga tampak berpe- tong/putar disesuaikan dengan tebel kece-
ngaruh. Secara khusus ditemukan bahwa patan putar pada jenis mesin yang digu-
kecepatan putar 2000 rpm pada kecepatan nakan, yaitu mesin bubut merk ANNN
potong 170 m/menit menghasilkan keka- YANG MACHINERY dengan model DV-
saran permukaan yang lebih baik diban- 410X1100G dan kedalaman potong yang
dingkan kecepatan putar 920 rpm pada kece- bervariasi.
patan potong 110 m/menit. Dapat dilihat Dimana menghasilkan data hasil
pada hasil penelitian yang didapatkan bah- eksperimen diambil berdasarkan prosedur
wasanya semakin naik variabel kecepatan yang telah direncanakan sesuai azas pada
potong maka semakin baik kualitas permu- Bab III. Pengambilan data dilakukan di
kaan yang dihasilkan. Laborato- rium Jurusan Teknik Mesin
Universitas Ne- geri Malang dengan
C. Perbedaan Tingkat Kekasaran menggunakan Surface Roughness Table.
Permuka- an Benda Kerja Hasil Hasil ditulis dalam bentuk nilai rata-rata
Pembubutan pada Variasi Kedalaman kekasaran permukaan, karena pada
Potong
4penguRkauurla, nWidiyanstai,tPuoppy, PsepnegsairmuhenVariasi Kecepatan Po2to5n0g0... rpm dan 3250 rpm
angka kekasaran
dilakukan 3 kali pengukuran agar permukaan semakin menurun seiring dengan
data yang diperoleh lebih akurat. kedalaman pemotongan. Hal ini serupa de-
Data yang di ambil adalah hasil ngan penelitian yang telah dilakukan, bahwa
pengukuran tingkat kekasaran adanya pengaruh kecepatan potong dan
permukaan untuk variabel kedalaman potong pada mesin bubut ter- hadap
kecepatan putar, kecepatan potong hasil kekasaran. Artinya pada variasi kecepatan
dan kedalaman potong hasil bubut potong dan kedalaman potongyang digunakan
rata dengan mengambil rata-ratanya. ini terdapat perbedaan
Hasil nilai rata-rata kekasaran yang tingkat kekerasan
diperoleh dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 1 Nilai Rata-Rata Kekasaran
PermukaanBenda Kerja Variasi
Kecepatan Potong
Dengan Kedalaman Potong
.
Kedalaman Potong
Kecepatan 0,2 m/min 0,4 m/min 0,6 m/min
Potong (𝜇𝑚) (𝜇𝑚) (𝜇𝑚)
(𝜇𝑚)
110 m/min 5,794 5,623 kekasaran permukaan, sedangkan kedalaman
6,199
140 m/min 4,907 4,114 potong tidak berpengaruh terhadap kekasaran per-
2,949 mukaan. Hal
170 m/min 3,612 3,358
2,784

Pada Tabel 1 di atas telah


diketahui nilai rata-rata kekasaran
permukaan baja ST 41 yang sudah
didapatkan. Berdasarkan data tesebut
diketahui bahwa kecepatan potong 170
m/min memiliki nilai rata-rata tingkat
kekasaran yang paling rendah (3,251 𝜇
𝑚), serta nilai rata-rata kedalaman
potong yang paling rendah yaitu 0,2
mm (4,771 𝜇𝑚), sedangkan hasil rata-
rata kekasaran yang paling tinggi
terdapat pada kecepatan potong 110
m/min (5,772 𝜇𝑚), serta nilai rata-rata
kekasaran yang paling tinggi pada
kedalaman potong 0,6 mm (3,977 𝜇𝑚).
Menurut Pragnesh (2012) laju
pema- kanan adalah hal yang sangat
berpengaruh terhadap kekasaran
permukaan dibanding- kan kedalaman
potong dan kecepatan po- tong.
Sudhansu (2013) mengatakan bahwa
kecepatan potong saja yang merupakan
hal yang sangat berpengaruh terhadap
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat
diambil kesimpulan sebagai
berikut. Dari hasil
ini dibuktikan dengan meng-
gunakan Design of Experiment
(DOE). Demikian pula dengan
Natarajan (2011) yang mengatakan
bahwa pada kecepatan

penelitian yang diperoleh bahwasanya


ke- cepatan potong berpengaruh
terhadap hasil kualitas permukaan
benda kerja. Ada per- bedaan tingkat
kekasaran permukaan hasil pembubutan
pada variasi kecepatan potong. Semakin
tinggi kecepatan potong yang digunakan
maka hasil kualitas semakin baik.
Kecepatan potong yang tinggi
mengakibat- kan menurunnya gaya
potong dan luas penampang bidang
geser. Pada saat putaran spindel tinggi
maka kecepatan potong akan sejalan dan
mengakibatkan luas penampang
semakin sempit, penyempitan luas
penam- pang yang dihasilkan akan
berpengaruh se- makin baik hasil
kualitas permukaan. Sepe- rti yang
diketahui bahwa pada
kecepatan potong 170 m/min
menghasilkan tingkat kekasaran paling
rendah, yakni 2,784 𝜇𝑚.

Dalam gabungan antara kecepatan


potong dan kedalaman potong ditemukan
bahwa hasil kekasaran yang paling baik
(paling halus) adalah kecepatan
8putar R2a0u0l0, Wrpidmiyanptai,dPaopkpeyc, ePpeantgaanruhpoVtaorniagsi 1K7ec0epatansePmotaoknign...
kecilnya gaya pemotongan dan
m/menit dan perbandingan kedalaman tidak putusnya tatal pada proses pembu-
potong 0,6. Dari hasil pengukuran butan yang berpengaruh pada tingkat keka-
didapatkan dengan menggunakan kecepatan saran permukaan benda kerja
potong yang ren- dah dan kedalaman potong
yang besarmenghasilkan kualitas permukaan
yang kurang baik karena karena DAFTAR RUJUKAN
mengakibatkangaya pemotongan dan beban Ichlas Nur & Andriyanto. 2009. Pengaruh Variabel
pemotongan yang menjadi tinggi. Semakin Pemotongan Terhadap Ku- alitas Permukaan.
tinggi gaya dan beban pemotongan yang Produk dalam Me- ningkatkan Produktifitas.
terjadi maka hasil dari permukaan akan Poiteknik Negeri Padang. (Online). diakses 27
maret 2014.
semakin tidak baik. Semakin tinggi
kecepatan putar, ke- cepatan potong dan Kalpakjian, Serope and Scmid R Steven. 2002.
Manufacturing Engineering and Technologi
perbandingan keda- laman potong yang
Fourth edition. London: Prentice Hall.
besar maka nilai hasil kekasaran yang
dihasilkan akan semakin rendah (halus) Kiswanto, Ganjar. 2005. Pengaruh Parame-
karena disebabkan oleh ter Pemesinan Terhadap Kualitas Per-
mukaan Baja DF-3 (AISI 01) Yang Di-
keraskan, Jurnal Teknologi Edisi No.
3. ISSN 0215-1685. (Online), (http://
www.scribd.com/document_download
s/direct/25351973?extension=pdf&ft=
1368424489&lt=1368428099&user_i
d=95387972&uahk=GrqiGWVOeyJx
4XIsQx738+4VVSE), diakses 11
April 2014.

Muin, Syamsir, A. 1989. Dasar-dasar pe-


rancangan perkakas dan mesin per-kakas.
Jakarta: Rajawali.
Munadi, Sudji. 1988. Dasar-dasar Metro- logi.
Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga
Pendidikan Tenaga Pendi- dikan.
Natarajan, dkk. 2011. Investigation of Cut- ting
Parameters of Surface Roughness for a
Non-Fereous Material Using Ar- tificial
Neural Network in CNC Turn- ing.
(Online), (http://www.academic-
journals.org/jmer) diakses 15 Juli 2014.
Patel, Pragnesh. R. 2012. Effect of Machi- ning
Parameters on Roughness and Power
Consumption for 6063 al Alloy TiC
Composites (MMCs). (Online),
(www.ijera.com) diakses 15 Juli 2014.
Prayogo, Wendhi. 2012. Pengaruh Variasi
Sudut Potong Dan Sudut Buang Pahat
Baja Assab Asp 23/Vanadis 23 Terha- dap
Tingkat Kualitas Permukaan Ben- da
Kerja. Skripsi tidak diterbitkan. Malang:
Universitas Negeri Malang
ANALISIS JURNAL MINGGU -
8

Nama : Abdullah Hanif Ridho


NIM : 200511633258
Mata Kuliah : Pendidikan Bahasa Indonesia / E22

1. Beberapa Teknik dalam Mengenali Identitas Referensi dan Memilih Bahan Tulisan
pada Jurnal

1.1. Teknik Mengenali Identitas Referensi


Referensi adalah cara standar untuk mengakui sumber informasi dan ide-ide yang
telah digunakan dalam karya ilmiah yang dibuat oleh peneliti. Didalam karya ilmiah,
penulisan referensi (citation mark, citation) harus dilakukan dengan baik karena pembaca
harus dapat mengecek sumber aslinya mengenai ide atau informasi yang digunakan
didalam karya ilmiah tersebut. Penulis harus menulis daftar referensi yang ada didomain
publik yang dapat dibaca oleh pembaca, baik dalam letter, paper, proseding, jurnal,
skripsi, thesis, disertasi (Bayu, 2001).

Banyaknya bahan ditentukan oleh bentuk dan tujuan penulisan. Dalam tulisan ilmiah,
bentuk tulisan yang relevan adalah tulisan ekspositori atau eksposisi yang bertujuan
menjelaskan konsep dan gagasan secara terperinci. Bahan-bahan tulisan dapat digali dari
sumber-sumber dokumen, baik berupa buku, jurnal, majalah, koran, maupun informasi
yang diakses melalui internet.

1.2. Cara menelaah buku yang telah ditemukan


Ada cara yang dapat dilakukan, yakni cara daftar isi. Teknik daftar isi, misalnya
Masalah Peningkatan Gairah Belajar di Perguruan Tinggi. Judul buku belajar di
Perguruan Tinggi. Langkah yang ditempuh (1) membuka daftar isi, (2) mencari bab dan
subbab yang membahas hal belajar, misalnya ditemukan di bab II, (3) membaca dengan

cermat bab II yang berkaitan dengan masalah belajar, dan bab lain diabaikan (Bayu,
2001).
2. Teknik Pengolahan Informasi

2.1. Pengolahan Informasi dengan Teknik Parafrase


Cara penyajian informasi pada sumber rujukan tentu sangat beragam. Terkadang
seorang penulis lebih memilih menjabarkan informasi secara singkat dan padat,
sehingga pembaca perlumelakukan proses interpretasi lebih lanjut untuk
memaknai substansi informasi yang disajikan dalam sebuah buku. Meskipun demikian,
informasi yang lebih rinci tentang suatu pembahasan tentu diperlukan agar
pemahaman pembaca lebih menyeluruh dan spesifik. Seorang penulis karya
ilmiah yang hendak merujuk informasi singkat dari sebuah buku, harus cerdas
mengolah informasi tersebut agar pembaca dapat memahami pembahasan yang
disajikan secara mendalam. Hal tersebut dapat direalisasikan dengan memanfaatkan
teknik parafrase. Di tataran sekolah dasar dan menengah, teknik parafrase
telah diajarkan dalam pembelajaran menulis. Parafrase dapat diartikan sebagai
penguraian kembali informasi tertentu secara lebih spesifik, tanpa mengubah
makna atau substansi informasi tersebut.
Contoh :
Borba (2008: 4) Kecerdasan moral adalah kemampuan memahami hal yang benar dan
yang salah.
Parafrase :
Dengan meningkatkan kecerdasan moral siswa SD, mereka tidak hanya berpikir
dengan benar tetapi juga bertindak dengan benar dan terbangunnya karakter yang
kuat (Borba, 2008: 4).

2.2. Pengolahan Informasi dengan Teknik Perangkuman


Sebagaimana yang telah dikemukakan pada bagian (a), cara penyajian informasi
pada sumber rujukan dapat sangat bervariasi. Seorang pembaca dapat menemukan
penjabaran informasi secara singkat dan padat dalam buku tertentu, namun mungkin
juga pernah menemukan penjabaran informasi yang sangat mendetail—dalam
buku yang sama atau buku yang berbeda—mengenai suatu hal. Pengolahan
informasi yang berasal dari pembahasan mendetail tentang suatu hal dapat
dilakukan dengan teknik perangkuman. Langkah perangkuman yang perlu
dilakukan adalah menyimpulkan hasil analisis dan mempertimbangkan
kesesuaiannya dengan informasi yang akan dikaitkan dalam karya ilmiah yang

ditulis. Penulisan kalimat-kalimat rangkuman tentu saja akan berbeda dengan


redaksi asli. Para penulis dapat memanfaatkan istilah-istilah pendek yang
dapat mewakili paparan panjang dalam sebuah sumber rujukan. Selain itu,
informasi penunjang yang tidak terlalu berkaitan dengan fokus penulisan karya ilmiah
yang tengah dilakukan tidak perlu dicantumkan. Jika informasi penunjang
dibutuhkan sebagai pembuktian atau penguat, maka penulis cukup memilih
satu informasi saja yang paling relevan sebagai pembuktian/penguat dari fokus
informasi. Pengolahan informasi dengan teknik perangkuman tetap harus
dilengkapi dengan pencantuman identitas sumber rujukan sesuai dengan tata
pengutipan yang dipilih. Apabila tata pengutipan yang dipilih adalah innote,
maka penulisan nama belakang penulis sumber rujukan, tahun terbit sumber, dan
halaman yang dikutip harus dicantumkan sesuai konvensi dan dilengkapi dengan
daftar rujukan yang merupakan keterangan identitas lengkap sumber rujukan.

2.3. Pengolahan Informasi dengan Teknik Pembandingan


Para penulis karya ilmiah pemula, umumnya mengalami kesulitan saat hendak
mengolah beberapa informasi yang saling berkaitan. Berdasarkan hasil pengamatan
tim penulis selama mengajar beberapa matakuliah di perguruan tinggi,
pengolahan beberapa informasi yang saling berkaitan seringkali hanya dilakukan
dengan penambahan frasa hubung antar kalimat atau antar paragraf, seperti: berbeda
dengan pendapat A, senada dengan pendapat B, dan C juga berpendapat.
Penggunaan frasa hubung tersebut pada dasarnya sah dalam pengolahan informasi,
namun harus disertai dengan hasil analisis keterkaitan antara masing-masing
informasi (teknik pembandingan) serta diakhiri dengan kalimat simpulan dari
penulis. Teknik pembandingan dapat dimanfaatkan untuk menjabarkan dan
membandingkan beberapa pendapat, teori, atau informasi mengenai suatu hal
yang dibahas dalam beberapa sumber rujukan. Teknik ini sangat penting
untuk menunjukkan bahwa karya ilmiah yang dihasilkan telah melalui proses telaah
berbagai sumber rujukan ilmiah yang berisi informasi dengan topik serupa.

Anda mungkin juga menyukai