Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN AUTISME BAB I PENDAHULUAN 1.

LATAR BELAKANG Kata autis berasal dari bahasa Yunani "auto" berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala "hidup dalam dunianya sendiri". Pada umumnya penyandang autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya). Pemakaian istilah autis kepada penyandang diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) pada tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11 penyandang yang menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh. Autis dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia. Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik. Jumlah anak yang terkena autis makin bertambah. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40% sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Dengan adanya metode diagnosis yang kian berkembang hampir dipastikan jumlah anak yang ditemukan terkena Autisme akan semakin besar. Jumlah tersebut di atas sangat mengkhawatirkan mengingat sampai saat ini penyebab autisme masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia. Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autisme 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka

kejadian autisma meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autis. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 - 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penyandang namun diperkirakan jumlah anak austime dapat mencapai 150 - 200 ribu orang. Berdasarkan hal diatas, maka kami sebagai penulis tertarik untuk lebih memahami konsep anak dengan autisme, dimana konsep ini saling terkait satu sama lain. Semoga Askep ini dapat membantu para orang tua, masyarakat umum dan khusnya kami (mahasiswa keperawatan) dalam memahami anak dengan autisme, sehingga kami harapkan kedua anak dengan kondisi ini dapat diperlakukan dengan baik. 1.2 TUJUAN Tujuan Penulisan a. Tujuan Umum Agar mahasiswa dapat mengetahui Asuhan Keperawatan pada anak dengan autisme b. Tujuan Khusus a) Mahasiswa memahami pengertian Autisme. b) Mahasiswa memahami etiologi dan manifestasi klinik Autisme. c) Mahasiswa memahami cara mengetahui autis pada anak. d) Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan anak dengan Autisme.

BAB II TINJAUAN TEORI A. DEFINISI Autisme adalah gangguan perkembangan kompleks pada fungsi otak yang disertai dengan defisit intelektual dan perilaku dalam rentang dan keparahan yang luas. Autisme dimanifestasikan selama masa bayi dan awal masa kanak-kanak terutama sejak usia 18 sampai 30 bulan. Autisme menurut Rutter 1970 adalah Gangguan yang melibatkan kegagalan untuk mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan), hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan konvulsif.(Sacharin, R, M, 1996: 305) Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan kontak dengan realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala. (Sacharin, R, M, 1996 : 305) Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan non verbal, aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi sebelum usia 30 bulan. (Behrman, 1999: 120) Menurut Isaac, A (2005) autisme merupakan gangguan perkembangan pervasive dengan masalah awal tiga area perkembangan utama yaitu perilaku, interaksi sosial dan komunikasi. Gangguan ini dicirikan dengan gangguan yang nyata dalam interaksi sosial dan komunikasi, serta aktivitas dan minat yang terbatas. Autisme adalah kelainan yang mempunyai dampak besar terhadap kehidupan penderita, keluarga dan masyarakat sekitarnya. Kadang keadaan ini membuat kebingungan dan sangat menyakitkan hati orang tua penderita. Definisi Autisme adalah kelainan neuropsikiatrik yang menyebabkan kurangnya kemampuan berinteraksi sosial dan komunikasi, minat yang terbatas, perilaku tidak wajar dan adanya gerakan stereotipik, dimana kelainan ini muncul sebelum anak berusia 3 tahun (Teramihardja, J, 2007).

Suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks, yang secara klinis ditandai oleh adanya 3 gejala utama berupa : kualitas yang kurang dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional, kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas, perilaku tak wajar, disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipik). Selain itu tampak pula adanya respon tak wajar terhadap pengalaman sensorik, yang terlihat sebelum usia 3 tahun. B. ETIOLOGI Sepuluh tahun yang lalu penyebab autisme belum banyak diketahui dan hanya terbatas pada faktor psikologis saja. Tetapi sekarang ini penelitian mengenai autisme semakin maju dan menunjukkan bahwa autisme mempunyai penyebab neurobiologist yang sangat kompleks. Gangguan neurobiologist ini dapat disebabkan oleh interaksi faktor genetik dan lingkungan seperti pengaruh negatif selama masa perkembangan otak. Banyak faktor yang menyebabkan pengaruh negatif selama masa perkembangan otak, antara lain; penyakit infeksi yang mengenai susunan saraf pusat, trauma, keracunan logam berat dan zat kimia lain baik selama masa dalam kandungan maupun setelah dilahirkan, gangguan imunologis, gangguan absorpsi protein tertentu akibat kelainan di usus (Suriviana, 2005). Individu penderita autisme dapat memiliki elektroensefalogram abnormal, kejang epileptik, keterlambatan perkembangandomonansi tangan, refleks primitif menetap, abnormalitas metabolik (serotinin darah meningkat), dan hipoplasia vermal serebalar (bagian otak yang terlibat dalam regulasi gerakan dan beberapa aspek memori). Terdapat juga bukti kuat berbasis genetik bahwa terdapat 3% sampai 8% resiko kejadian autisme pada keluarga jika ada salah satu anak yang terkena. Selain itu, antara 516% lelaki penderita autisme positif memiliki kromosom x fragile.(Donal L. Wong, 2009) Menurut Dewo (2006) gangguan perkembangan pervasive autisme dapat disebabkan karena beberapa hal antara lain: 1. Genetis, abnormalitas genetik dapat menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel sel saraf dan sel otak 2. Keracunan logam berat seperti mercury yang banyak terdapat dalam vaksin imunisasi atau pada makanan yang dikonsumsi ibu yang sedang hamil, misalnya ikan dengan

kandungan logam berat yang tinggi. Pada penelitian diketahui dalam tubuh anak-anak penderita autis terkandung timah hitam dan merkuri dalam kadar yang relatif tinggi. 3. Terjadi kegagalan pertumbuhan otak karena nutrisi yang diperlukan dalam pertumbuhan otak tidak dapat diserap oleh tubuh, ini terjadi karena adanya jamur dalam lambungnya, atau nutrisi tidak trpenuhi karena faktor ekonomi 4. Terjadi autoimun pada tubuh penderita yang merugikan perkembangan tubuhnya sendiri karena zat zat yang bermanfaat justru dihancurkan oleh tubuhnya sendiri. Imun adalah kekebalan tubuh terhadap virus/bakteri pembawa penyakit. Sedangkan autoimun adalah kekebalan yang dikembangkan oleh tubuh penderita sendiri yang justru kebal terhadap zat zat penting dalam tubuh dan menghancurkannya. Menurut sumber lain autisme dapat disebabkan karena :
1. Genetik (80% untuk kembar monozigot dan 20% untuk kembar dizigot) terutama

pada keluarga anak austik (abnormalitas kognitif dan kemampuan bicara).


2. Kelainan kromosim (sindrom x yang mudah pecah atau fragil). 3. Neurokimia (katekolamin, serotonin, dopamin belum pasti). 4. Cidera otak, kerentanan utama, aphasia, defisit pengaktif retikulum, keadaan tidak

menguntungkan antara faktor psikogenik dan perkembangan syaraf, perubahan struktur serebellum, lesi hipokompus otak depan.
5. Penyakit otak organik dengan adanya gangguan komunikasi dan gangguan sensori

serta kejang epilepsi


6. Lingkungan terutama sikap orang tua, dan kepribadian anak.

C. MANIFESTASI KLINIS Keterlambatan atau fungsi abnormal pada ketrampilan berikut, muncul sebelum umur 3 tahun. 1. Hambatan kualitatif dalam interaksi social Interaksi social pada anak autisme dibagi dalam 3 kelompok, yaitu : a Menyendiri ( aloof ) : banyak terlihat pada anak-anak yang menarik diri, acuh tak acuh, dan akan kesal bila diadakan pendekatan sosial serta menunjukkan perilaku serta perhatian yang terbatas ( tidak hangat ).

Pasif : dapat menerima pendekatan social dan bermain dengan anak lain jika pola permainannya disesuaikan dengan dirinya.

Aktif tapi aneh : secara spontan akan mendekati anak lain, namun interaksi ini sering kali tidak sesuai dan sering hanya sepihak.

Hambatan sosial pada anak autisme akan berubah sesuai dengan perkembangan usia. Biasanya, denagn bertambahnya usia maka hambatan tampak semakin berkurang. 2. Hambatan kualitatif dalam komunikasi verbal/nonverbal dan dalam bermain Keterlambatan dan abnormalitas dalam berbahasa serta berbicara merupakan keluhan yang sering, diajukan para orang tua, sekitar 50% mengalami hal ini : Bergumam yang biasanya muncul sebelum dapat mengucapkan kata-kata, mungkin tidak tampak pada autisme. Sering mereka tidak memahami ucapan yang ditujukan pada mereka. Biasanya mereka tidak menunjukkan atau memakai gerakan tubuh untuk menyampaikan keiginannya, tetapi denagn mengambil tangan orang tuanya untuk mengambil objek yang di maksud. Mengalami kesukaran dalam memahami arti kata-kata serta kesukaran dalam menggunakan bahasa dalam konteks yang sesuai dan benar. Bahwa satu kata mempunyai banyak arti mungkin sulit untuk dapat mengerti oleh mereka. Anak autisme sering mengulang kata-kata yang baru saja mereka dengar atau yang pernah mereka dengar sebelumnya tanpa maksud untuk berkomunikasi. Bila bertanya sering menggunakan kata ganti orang dengan berbalik, seperti saya menjadi kamu dan menyebut diri sendiri sebagai kamu . Mereka sering berbicara pada diri sendiri dan mengulang potongan kata atau lagu dari televise dan mengucapkannya dimuka orang lain dalam suasana yang tidak sesuai. Penggunaan yang aneh atau dalam arti kiasan, seperti seorang anak berkata sembilan setiap ia melihat kereta.

Anak- anak ini juga mengalami kesukaran dalam berkomunikasi walaupun mereka dapat berbicara dengan baik, karena tidak tau kapan giliran mereka giliran berbicara, memilih topik pembicaraan atau melihat kepada lawan bicaranya. Mereka akan terus mengulang-ulang pertanyaan biarpun mereka telah mengetahui jawabannya atau memperpanjang pembicaraan tentang topik yang mereka sukai tanpa memperdulikan lawan bicaranya. Bicaranya sering dikatakan monoton, kaku, dan memjemukan. Mereka juga sukar mengatur volume bicaranya. Kesukaran dalam mengekspresikan perasaan atau emosinya melalui nada suara Komunikasi non-verbal juga mengalami gangguan. 3. Aktivitas dan minat yang terbatas Abnormalitas dalam bermain terlihat pada anak autisme, seperti pada kebanyakan stereotip, diulang-ulang, dan tidak kreatif. Beberapa anak tidak mengguanakan mainannya dengan sesuai, juga kemampuannya untuk menggantikan suatu benda dengan benda lain yang sejenis sering tidak sesuai. Anak autisme menolak adanya perubahan lingkungan dan rutinitas baru. Mereka juga sering memaksa orangtua untuk mengulang suatu kata atau potongan kata. Dalam hal minat : terbatas, sering aneh, dan diulang-ulang. Misalnya mereka sering membuang waktu berjam-jam hanya untuk memainkan saklar lampu, memutar-mutar botol, atau mengingat-ingat rute kereta api. Mereka mungkin sulit dipisahkan dari suatu benda yang tidak lazim dan menolak meninggalkan ruamah tanpa benda tersebut, misalnya seorang anak laki-laki yang selalu membawa penghisap debu kemanapun dia pergi. Stereotip tampak pada hampir semua anak autisme, termasuk melompat turun naik, memainkan jari-jari tangannnya di depan mata, menggoyang-goyang tubuhnya atau menyeringai

Mereka juga menyukai objek yang berputar, seperti mengamati putaran kipas angin atau mesin cuci. 4. Gangguan kognitif Hampir 75-80% anak mengalami retardasi mental dengan derajat rata-rata sedang. Menarik untuk diketahui bahwa beberapa anak autisme menunjukkan kemampuan memecahkan masalah yang luar biasa, seperti mempunyai daya ingat yang sangat baik dan kemampuan membaca yang diatas batas penampilan intelektualnya. Sebanyak 50% dari idiot savants, yakni orang dengan retardasi mental yang menunjukkan kemampuan luar biasa, seperti menghitung kalender, memainkan satu lagu hanya dari sekali mendengar, mengingat nomor-nomor telepon yang ia baca dari buku telepon, adalah seorang penyandang autisme. 5. Gangguan prilaku motorik Kebanyakan anak autisme menunjukkan adanya stereotip, seperti bertepuktepuk tangan dan menggoyang-goyangkan tubuh. Hiperaktif biasa terjadi terutama pada anak prasekolah. Namun, sebaliknya, dapat terjadi hipoaktif. Beberapa anak juga menunjukkan gangguan pemusatan perhatian dan impulsivitas. Juga didapatkan adanya koordiansi motorik yang terganggu, tiptoe walking, clumsiness, kesulitan belajar, menyikat gigi, memotong makanan, dan mengancingkan baju. 6. Respon abnormal terhadap perangsangan indera Beberapa anak menunjukkan hipersensitivitas terhadap suara ( hiperakusis) dan menutup telinganya bila mendengar suara keras seperti suara petasan, gonggongan anjing, dan sirine polisi. Anak yang lain mungkin justru lebih tertarik dengan suara jam tangan atau remasan kertas. Sinar yang terang, termasuk sinar lampu sorot di ruang praktek dokter gigi, mungkin membuatnya tegang walaupun pada beberapa anak malah menyukai sinar. Mereka mungkin sangat sensitive pada sentuhan, memakai baju yang terbuat dari serat yang kasar seperti wol, atau baju dengan label yang masih menempel, atau berganti baju dari lengan pendek mengganti lengan panjang, semua iti dapat membuat mereka tempertantrums. Di lain pihak ada juga yang tidak pejka terhadap rasa sakit dan tidak menangis saat mengalami lika yang

parah.anak mungkin tertarik pada rangsangan indera tertentu seperti objek yang berputar. 7. Pola tidur terbalik dan gangguan makan. Gangguan tidur berupa terbaliknya pola tidur, terbangun tengah

malam.gangguan makan berupa keengganan terhadap makanan tertentu karena tidak menyukai tekstur atau baunya, menuntut hanya makan jenis makanan yang terbatas, menolak mencoba makanan baru, dapat snagat menyulitkan orang tua.

8. Gangguan afek dan mood Beberapa anak menunjukkna perubahan mood yang tiba-tiba mungkin menangis atau tertawa tanpa alasan yang jelas.sering juga tampak tertawa sendiri, dan beberapa anak tampak mudah menjadi emosional. Rasa takut yang kadang-kadang muncul terhdap objek yang sebetulnya tidak menakutkan. Cemas perpiusahan yang berat, juga depresi berat mungkin ditemukan pada anak autisme. 9. Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan agresvitas melawan orang lain Kemungkinan mereka mengigit tangan atau jari sendiri sampai berdarah, membentur-benturkan kepala, mencubit, menarik rambut sendiri, atau memukul diri sendiri. 10. Gangguan kejang Dapat kejang epilepsi pada sekitar 10-25% kena autisme. Ada korelasi antara serangan kejang dengan beratnya retardasi mental dan derajat disfungsi susunan saraf pusat Diagnosis harus memenuhi kriteria DSM IV (Diagnostic And Statistical Of Manual Disorders 1992 Fourth Edition). DSM IV ini memuat 3 bidang impairment (kerusakan /kesulitan) utama pada anak autisme : 1. impairment dalam interaksi sosial 2. impairment dalam komunikasi

3. munculnya suatu pola tertentu yang dipertahankan atau diulang-ulang (Stereotyped & repetitive) dalam hal perilaku. D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan medis yang dilakukan pada anak autisme adalah pemeriksaan fisik, pemeriksaan neuorologis, tes psikologis, tes pendengaran, tes ketajaman penglihatan, MRI (Magnetic Resonance Imaging), EEG (Electro Encephalogram), pemeriksaab sitogenetik untuk abnormalitas kromosom, pemeriksaan darah, dan pemeriksaan air seni.

E. PENATALAKSANAAN MEDIS Kimia otak yang kadarnya abnormal pada penyandang autis adalah serotonin 5hydroxytryptamine (5-HT), yaitu neurotransmiter atau penghantar sinyal di sel-sel saraf. Sekitar 30-50 persen penyandang autis mempunyai kadar serotonin tinggi dalam darah. Kadar norepinefrin, dopamin, dan serotonin 5-HT pada anak normal dalam keadaan stabil dan saling berhubungan. Akan tetapi, tidak demikian pada penyandang autis. Terapi psikofarmakologi tidak mengubah riwayat keadaan atau perjalanan gangguan autistik, tetapi efektif mengurangi perilaku autistik seperti hiperaktivitas, penarikan diri, stereotipik, menyakiti diri sendiri, agresivitas dan gangguan tidur. Sejumlah observasi menyatakan, manipulasi terhadap sistem dopamin dan serotonin dapat bermanfaat bagi pasien autis. Antipsikotik generasi baru, yaitu antipsikotik atipikal, merupakan antagonis kuat terhadap reseptor serotonin 5-HT dan dopamin tipe 2 (D2). Risperidone bisa digunakan sebagai antagonis reseptor dopamin D2 dan serotonin 5HT untuk mengurangi agresivitas, hiperaktivitas, dan tingkah laku menyakiti diri sendiri. Olanzapine, digunakan karena mampu menghambat secara luas pelbagai reseptor, olanzapine bisa mengurangi hiperaktivitas, gangguan bersosialisasi, gangguan reaksi afektual (alam perasaan), gangguan respons sensori, gangguan penggunaan bahasa,

perilaku menyakiti diri sendiri, agresi, iritabilitas emosi atau kemarahan, serta keadaan cemas dan depresi. Untuk meningkatkan keterampilan sosial serta kegiatan sehari-hari, penyandang autis perlu diterapi secara nonmedikamentosa yang melibatkan pelbagai disiplin ilmu. Menurut dr Ika Widyawati SpKJ dari Bagian Ilmu Penyakit Jiwa FKUI, antara lain terapi edukasi untuk meningkatkan interaksi sosial dan komunikasi, terapi perilaku untuk mengendalikan perilaku yang mengganggu/membahayakan, terapi wicara, terapi okupasi/fisik, sensoriintegrasi yaitu pengorganisasian informasi lewat semua indera, latihan integrasi pendengaran (AIT) untuk mengurangi hipersensitivitas terhadap suara, intervensi keluarga, dan sebagainya. Untuk memperbaiki gangguan saluran pencernaan yang bisa memperburuk kondisi dan gejala autis, dilakukan terapi biomedis. Terapi itu meliputi pengaturan diet dengan menghindari zat-zat yang menimbulkan alergi (kasein dan gluten), pemberian suplemen vitamin dan mineral, serta pengobatan terhadap jamur dan bakteri yang berada di dinding usus. Dengan pelbagai terapi itu, diharapkan penyandang autis bisa menjalani hidup sebagaimana anak-anak lain dan tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri dan berprestasi.

F. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN Penatalaksanaan pada autisme bertujuan untuk: 1. Mengurangi masalah perilaku. Terapi perilaku dengan memanfaatkan keadaan yang terjadi dapat meningkatkan kemahiran berbicara. menagement perilaku dapat mengubah perilaku destruktif dan agresif.
2. Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan terutama bahasa.

Latihan dan pendidikan dengan menggunakan pendidikan (operant conditioning yaitu dukungan positif (hadiah) dan dukungan negatif (hukuman).

3. Anak bisa mandiri dan bersosialisasi. Mengembangkan ketrampilan sosial dan ketrampilan praktis. Selain itu, ada 2 metode terapi yang paling sering diberikan pada anak autis (Nakita 2002) 1. Metode Lovaas atau Applied Behavioral Analysis (ABA) ABA adalah salah satu metode modifikasi tingkah laku (behavioral modificarion), yang digunakan untuk menangani anak-anak penyandang autism. Metode ini mendasarkan diri pada reward dan punishment. Dalam aturannya metode lovaas harus dilakukan selama 40 jam/minggu. Kurikulum metode lovaas ini menekankan pada kemampuan bahasa, sosial, emosional, akademis, dan bantu diri. Berbagai masalah perilaku yang terlihat pada anak kemudian ditangani kasus per kasus. Metode ini memiliki struktur yang disebut DTT (Discreate Trial Training). Dengan struktur ini, tehnik pengajaran yang diberikan harus jelas serta dapat dimengerti anak. Metode ini juga dilengkapi dengan lembar penilaian pada sistem programnya. Sehingga terapis bisa terus memantau kemajuan anak dan juga dapat menjadi laporan bagi orang tua. 2. Sensori Integration Therapy (Terapi SI) Terapi Si didasarkan pada penningkatan kemampuan integrasi sensori. Kemampuan integrasi sensori adalah kemampuan untuk memproses implus yang diterima dari bebbagai indra secara simultan. Pelaksanaan terapi ini menggunakan berbagai stimulus yang bervariasi. Antara lain ayunan, bola, trampolin, sikat, dan baaju yang lembut, parfum, lampu-lampu berwarna, pemijatan, dan barang-barang dengan tekstur bervariasi. Beberapa laporan tentang keberhasilan terapi ini menunjukkan bahwa perilaku stereotype dan kecenderungaan menyakiti diri dapat dikontrol atau dikurangi. Ada pula pendapat yang menyatakan terapi ini dapat menekan stress dan kecemasan pada anak autis.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN KEPERAWATAN DITINJAU DARI KEPERAWATAN ANAK Pengkajian data focus pada anak dengan gangguan perkembangan pervasive menurut Isaac, A (2005) dan Townsend, M.C (1998) antara lain:

Tidak suka dipegang Rutinitas yang berulang Tangan digerak-gerakkan dan kepala diangguk-anggukan Terpaku pada benda mati Sulit berbahasa dan berbicara 50% diantaranya mengalami retardasi mental Ketidakmampuan untuk memisahkan kebutuhan fisiologis dan emosi diri sendiri dengan orang lain Tingkat ansietas yang bertambah akibat dari kontak dengan dengan orang lain Ketidakmampuan untuk membedakan batas-batas tubuh diri sendiri dengan orang lain Mengulangi kata-kata yang dia dengar dari yang diucapkan orang lain atau gerakkangerakkan mimik orang lain

Penolakan atau ketidakmampuan berbicara yang ditandai dengan ketidakmatangan stuktur gramatis, ekolali, pembalikan pengucapan, ketidakmampun untuk menamai benda-benda, ketidakmampuan untuk menggunakan batasan-batasan abstrak, tidak adanya ekspresi nonverbal seperti kontak mata, sifat responsif pada wajah, gerak isyarat.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN Menurut Townsend, M.C (1998) diagnosa keperawatan yang dapat dirumuskan pada pasien/anak dengan gangguan perkembangan pervasive autisme antara lain:
1. Gangguan interaksi sosial berhubungan dengan:

a. Gangguan konsep diri b. Tidak adanya orang terdekat c. Tugas perkembangan tidak terselsaikan dari percaya versus tidak percaya d. Perubahan-perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisikondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu fenilketonuria tidak teratasi, ensefalitis, tuberous sclerosis, anoksia selama kelahiran sindrom fragilis X) e. Stimulasi sensorik yang tidak sesuai
2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan:

a. Ketidakmampuan untuk mempercayai b. Penarikan diri dari diri c. Perubahan patofisiologis yang terjadi sebagai respons terhadap kondisi-kondisi fisik tertentu seperti rubella pada ibu fenilketonuria tidak teratasi, ensefalitis, tuberous sclerosis, anoksia selama kelahiran sindrom fragilis X) d. Stimulasi sensorik yang tidak sesuai
3. Risiko tinggi cidera : menyakiti diri berhubungan dengan kurang pengawasan

4. Kecemasan pada orang tua behubungan dengan perkembang anak.

3. PERENCANAAN DAN RASIONALISASI Menurut Townsend, M.C (1998) perencanaan dan rasionalisasi untuk mengatasi masalah keperawatan pada anak dengan gangguan perkembangan pervasife autisme antara lain:
1. Gangguan interaksi sosial

Tujuan : Anak akan mendemonstrasikan kepercayaan pada seorang pemberi perawatan yang ditandai dengan sikap responsive pada wajah dan kontak mata dalam waktu yang ditentukan dengan criteria hasil:
o o

Anak mulai berinteraksi dengan diri dan orang lain Pasien menggunakan kontak mata, sifat responsive pada wajah dan perilakuperilaku nonverbal lainnya dalam berinteraksi dengan orang lain Pasien tidak menarik diri dari kontak fisik dengan orang lain Jalin hubungan satu satu dengan anak untuk meningkatkan keper-cayaan

Intervensi
o

Rasional : Interaksi staf dengan pasien yang konsisten meningkatkan pembentukan kepercayaan

Berikan benda-benda yang dikenal (misalnya: mainan kesukaan, selimut) untuk memberikan rasa aman dalam waktu-waktu tertentu agar anak tidak mengalami distress

Rasional : Benda-benda ini memberikan rasa aman dalam waktu-waktu aman bila anak merasa distres

Sampaikan sikap yang hangat, dukungan, dan kebersediaan ketika anak berusaha untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan dasarnya untuk meningkatkan pembentukan dan mempertahankan hubungan saling percaya

Rasional: Karakteristik-karakteritik ini meningkatkan pembentukan dan mempertahankan hubungan saling percaya

Lakukan dengan perlahan-lahan, jangan memaksakan interaksi-interaksi, mulai dengan penguatan yang positif pada kontak mata, perkenalkan dengan berangsur-angsur dengan sentuhan, senyuman , dan pelukan

Rasional : Pasien autisme dapat merasa terncam oleh suatu rangsangan yang gencar pada pasien yang tidak terbiasa

Dengan kehadiran anda beri dukungan pada pasien yang berusaha keras untuk membentuk hubungan dengan orang lain dilingkungannya

Rasional :Kehadiran seorang yang telah terbentuk hubungan saling percaya dapat memberikan rasa aman

2. Gangguan komunikasi verbal dan non verbal

Tujuan : Anak akan membentuk kepercayaan dengan seorang pemberi perawatan ditandai dengan sikap responsive dan kontak mata dalam waktu yang telah ditentukan dengan kriteria hasil:
o o o

Pasien mampu berkomunikasi dengan cara yang dimengerti oleh orang lain Pesan-pesan nonverbal pasien sesuai dengan pengungkapan verbal Pasien memulai berinteraksi verbal dan non verbal dengan orang lain Pertahankan konsistensi tugas staf untuk memahami tindakan-tindakan dan komunikasi anak

Intervensi
o

Rasional: Hal ini memudahkan kepercayaan dan kemampuan untuk memahami tindakan-tindakan dan komunikasi pasien

Antisipasi dan penuhi kebutuhan-kebutuhan anak sampai kepuasan pola komunikasi terbentuk

Rasional : Pemenuhan kebutuhan pasien akan dapat mengurangi kecemasan anak sehingga anak akan dapat mulai menjalin komunikasi dengan orang lain dengan asertif

Gunakan tehnik validasi konsensual dan klarifikasi untuk menguraikan kode pola komunikasi ( misalnya : Apakah anda bermaksud untuk mengatakan bahwa..? )

Rasional: Teknik-teknik ini digunakan untuk memastikan akurasi dari pesan yang diterima, menjelaskan pengertian-pengertian yang tersembunyi di dalam pesan. Hati-hati untuk tidak berbicara atas nama pasien tanpa seinzinnya

Gunakan pendekatan tatap muka berhadapan untuk menyampaikan ekspresiekspresi nonverbal yang benar dengan menggunakan contoh

Rasional: Kontak mata mengekspresikan minat yang murni terhadap dan hormat kepada seseorang

3. Risiko tinggi cidera : menyakiti diri berhubungan dengan kurang pengawasan

Tujuan : Klien tidak menyakiti diriya. Kriteria hasil : klien tampak tenang, kliem menunjukan koping individu yang baik Intervensi : Bina hubungan saling percaya.

R : kepercayaan anak sangat berpengaruh terhadap kelancaran interaksi dan komunikasi Alihkan prilaku menyakiti diri yang terjadi akibat respon dari peningkatan kecemasan R : agar anak dapat mengetahui koping individu yang efektif Alihkan/kurangi penyebab yang menimbulkan kecemasan. R : mencegah anak menjadi cemas Alihkan perhatian dengan hiburan/aktivitas lain R : untuk mengurangi kecemasan anak Lindungi anak ketika prilaku menyakiti diri terjadi. R : perlindungan orang tua sangat penting bagi keamanan anak Siapkan alat pelindung/proteksi. R : mengantisipasi terjadinya peilaku menyakiti diri, atau dari lingkungan yang dapat membahayakan anak Pertahankan lingkungan yang aman. R : anak tidak akan merasa cemas bila ia tidak merasa adanya ancaman dari lingkungannya. 4. Kecemasan pada orang tua behubungan dengan perkembang anak. Tujuan : Kecemasan berkurang/tidak berlanjut. Kriteria hasil : orang tua tampak tenang orang tua mengerti mengenai autis dan cara penanganannya Intervensi : Tanamkan pada orang tua bahwa autis bukan aib/penyakit. R : memberi pemahaman orangtua mengenai autis dan mengurangi kecemasan. Anjurkan orang tua untuk membawa anak ke tempat terapi yang berkwalitas baik serta R : terapi dapat perkembangannya Berikan motivasi kepada orang tua agar dapat menerima kondisi anaknya yang spesial. R : untuk melihat sisi positif dari anaknya dan tidak menelantarkannya melakukan secara konsisten. membantu anak untuk mengejar ketrlambatan

Anjurkan orang tua untuk mengikuti perkumpulan orang tua dengan anak autis, seperti kegiatan Autis Awareness Festifal. R : menambah pengetahuan klien mengenai metode penanganan yang efektif untuk anak dengan autis Berikan informasi mengenai penanganan anak autis. Beritahukan kepada orang tua tentang pentingnya menjalankan terapi secara konsisten dan kontinue

BAB IV PENUTUP KESIMPULAN Autis suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks, yang secara klinis ditandai oleh gejala gejala diantaranya kualitas yang kurang dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional, kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas, perilaku tak wajar, disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipik). Selain itu tampak pula adanya respon tak wajar terhadap pengalaman sensorik, yang terlihat sebelum usia 3 tahun. Sampai saat ini penyebab pasti autis belum diketahui, tetapi beberapa hal yang dapat memicu adanya perubahan genetika dan kromosom, dianggap sebagai faktor yang berhubungan dengan kejadian autis pada anak, perkembangan otak yang tidak normal atau tidak seperti biasanya dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada neurotransmitter, dan akhirnya dapat menyebabkan adanya perubahan perilaku pada penderita. Dalam kemampuan intelektual anak autis tidak mengalami keterbelakangan, tetapi pada hubungan sosial dan respon anak terhadap dunia luar, anak sangat kurang. Anak cenderung asik dengan dunianya sendiri. Dan cenderung

suka mengamati hal hal kecil yang bagi orang lain tidak menarik, tapi bagi anak autis menjadi sesuatu yang menarik. Terapi perilaku sangat dibutuhkan untuk melatih anak bisa hidup dengan normal seperti anak pada umumnya, dan melatih anak untuk bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

DAFTAR PUSTAKA

Wong, Donna L.2009.Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Volume 1.Jakarta:EGC Indah Rifai Blogs.2010.Askep Anak dengan Autis. askep-anak-dengan-autisme.html Asuhan keperawatan anak dengan autisme -Warta Warga.htm.2010
Sacharin, r.m.1996.Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi 2.Jakarta:EGC Behrman, Kliegman, Arvin.1999.Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15, Alih Bahasa Prof. DR. Dr. A. Samik Wahab, Sp. A (K).Jakarta:EGC