Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN Appendisitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis, dan

merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan. Apendiks disebut juga umbai cacing. Fungsi organ ini tidak diketahui namun sering menimbulkan masalah kesehatan. Peradangan akut apendiks memerlukan tindak bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm (lebih kurang 3 15 cm), dan berpangkal di caecum. Apendiks menghasilkan lender 1 2 ml per hari. Lendir secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke caecum. Hambatan dalam pengaliran lendir tersebut,tampaknya merupakan salah satu penyebab timbulnya apendisitis. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks, ialah IgA. Immunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan limfe di sini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna dan seluruh tubuh(De Jong, 2005). Apendisitis dapat terjadi pada semua umur.insiden apendisitis di negara maju lebih tinggidaripada di negara berkembang namun dalam tiga-empat dasawarsa terjadi peningkatan. Penyakit ini sering ditemukan pada anak-anak dabn dewasa muda.insidensi pada laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Insidensi tertinggi pada laki-laki usia 10 14 tahun, sedangkan pada perempuan usia 15 19 tahun. Penyakit ini jarang ditemukan pada anak-anak usia di bawah 2 tahun (Rahmawati, 2001). Diagnosis appendicitis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada data-data yang terkumpul. Tak jarang kasus-kasus apendisitis yang lolos dari diagnosis bahkan ada yang salah diagnosis. Kadang-kadang untuk menegakkan diagnosis apendisitis sulit
1

karena letak appendix di abdomen sangat bervariasi (De Jong, 2005). Penatalaksanaan apendisitis dilakukan dengan apndektomi, yaitu suatu tindakan bedah denganmengangkat appendiks. Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena setiap keterlambatan akan menimbulkan penyulit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas, seperti dapat menyebabkan terjadinya perforasi atau ruptur pada apendiks (Rahmawati, 2001)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA Anatomi dan Fisiologi Apendiks merupakan organ berbentu tabung dengan panjang kurang lebih 10 cm (3 15 cm), berpangkal di caecum. Letak apendiks dapat bermacam-macam, yaitu retrocaecal intraperitoneal atau retroperitoneal dan antecaecal, pelvical. Seperti halnya bagian usus yang lain, apendiks juga mempunyai mesenterium. Mesenterium ini merupakan selapis membrane yang melekatkan apendiks pada struktur lain pada abdomen. Kedudukan ini memungkinkan apendiks dapat bergerak. Selanjutnya ukuran apendiks dapat lebih panjang daripada normal. Gabungan dari luasnya mesenterium dengan apendiks yang panjang menyebabkan apendiks bergerak masuk ke pelvis (antara organ-organ pelvis pada wanita). Hal ini juga dapat menyebabkan apendiks bergerak ke belakang colon yang disebut apendiks retrocolic. Apendiks dipersarafi oleh persarafan parasimpatis yang berasal dari cabang N. vagus dan persarafan simpatis yang berasal dari N. thoracalis X. Vaskularisasi apendiks berasal dari A. appendicularis, cabang dari A. iliocecalis, cabang dari A. mesenterica superior (De Jong, 2005). Darah venosa akan dibawa oleh V. appendicularis yang akan bersatu dengan V. coecalis posterior (Guidance to Anatomy II, 2003). Appendiks menghasilkan lendir sebanyak 1 - 2 ml per hari. Lendir ini normalnya dicurahkan ke dalam lumen lalu mengalir ke dalam caecum. Hambatan aliran lender di muara apendiks tampaknya berperan dalam terjadinya appendicitis. Imunoglobin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) di sepanjang saluran cerna termasuk appendiks adalah IgA, yang berfungsi sebagai pelindung terhadap infeksi. Lima tipe lokasi appendiks berdasarkan frekuensi : Retrocecal-retrocolic (bebas dan terfiksasi) Pelvic atau descending Subcecal (lurus ke bawah atau kanan) Ileocecal (lurus ke atas dan ke kiri depan ileum)
3

Ileocecal (di belakang ileum) Menurut penelitian, no. 1 dan 2 adalah yang paling sering terjadi (Skandalakis, 1995)

Etiologi Apendisitis akut merupakan infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetusnya. Salah satu faktor pencetus dari apendisitis adalah sumbatan yang terjadi pada lumen apendiks yang biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang kras (fecalith),hyperplasia jaringan limfoid, tumor apendiks, striktur, benda asina dalam tubuh, dan cacaing asakaris yang dapat pula menyebabkan terjadinya sumbatan. Penyebab lain yang diduga menimbulkan apaendisitis adalah ulserasi mukosa apendiks oleh parasit E. histolytica. Penelitian epidemiologi menunjukkan peranan kebiasaan mengkonsumsi makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Tinja yang keras dapat menyebabkan konstipasi. Konstipasi akan menyebabkan meningkatnya tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semua ini akan mempermudah timbulnya apendisitis (De Jong, 2005). Patofisiologi Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendik oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah

terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses di atas berjalan lambat, omrntum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke atas apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang (Mansjoer,2005). Manifestasi Klinik Symptoma Gejala utama apendisitis akut adalah nyeri abdominal. Secara klinis nyeri dimulai di daerah umbilicus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2 12 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi, tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual, dan muntah. Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah aka semakin progresif, dan dengan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan nyeri maksimal. Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri. Nyeri lepas dan spasme biasanya juga muncul. Hal ini begitu konstan sehingga pada pemeriksaan perlu ditanyakan pada pasien. Vomitus terjadi pada 75 % kasus, umumnya hanya satu dua kali. Umumnya ada riwayat obstipasi sebelum onset nyeri abdominal.
5

Diare terjadi pada beberapa pasien. Urutan kejadian symtoms mempunyai kemaknaan diagnosis banding yang besar, lebih dari 95 % apendisitis akut, anoreksia merupakan gejala pertama,diikuti oleh nyeri abdominal dan baru diikuti oleh vomitus, bila terjadi. Signa Tanda vital tidak berubah banyak. Peninggian temperatur jarang lebih dari 1oC, frekuensi nadi normal atau sedikit meninggi. Adanya perubahan atau peninggian yang besar bearti telah terjadi komplikasi atau diagnosis lain perlu diperhatikan. Nyeri kuadran kanan bawah secara klasik ada bila apendiks yang meradang terletak di anterior. Tahanan muskuler terhadap palpasi abdomen sejajar dengan derajat proses peradangan. Seiring dengan peningkatan iritasi peritoneal terjadi peningkatan spasmus otot.iritai muskuler ditunjukkan oleh adnya Psoas Sign dan Obturator sign. Penyulit Menjadi penyulit untuk mendiagnosis apendisitis bila posisi dari apendiks dalam perut bervariasi. Kebanyakan apendiks terdapat di perut kanan bawah. Apendiks seperti bagian lain dari usus, memiliki mesenterium yang melekatkan apendiks pada struktur lain di dalam abdomen. Jika mesenterium lebar, memungkinkan apendiks untuk bergerak. Sebagai tambahan, apendiks dapat lebih panjang dari normal. Kombinasi dari mesenterium yang lebar dan apendiks yang panjang memeungkinkan apendiks untyk bergerak ke bawah ke dalampelvis (diantara organ-organ pelvis pada wanita). Ini juga memungkinkan apndiks untuk berpindah ke belakang kolon (disebut apendiks retrokolika). Pada kasus lain, inflamasi pada apendiks dapat tampak sebagai inflamasi pada organ lain, sebagai contoh, organ-organ pelvis pada wanita. Pemeriksaan Pemeriksaan Fisik Inspeksi : pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal

swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi perut. Palpasi : pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa nyeri. Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosis dari apendisitis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah. Ini disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). Dan apabila tekanan di perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah. Ini disebut Blumberg (Blumberg Sign). Pemeriksaan colok dubur :pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis, untuk menentukan letak apendiks, apabila letaknya sulit diketahui. Jika saat dilakukan pemeriksaan ini dan terasa nyeri,maka kemungkinan apendiks yang meradang terletak di daeah pelvis. Pemeriksaan ini merupakan kunci iagnosis pada apendisitis pelvika. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator : pemeriksaan ini juga dilakukan untuk mengetahui letak apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan denan rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila apendiks yang meradang menempel di m. psoas mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji obturator dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Bila apendikls yang meradang kontak dengan m.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri. Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis pelvika. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium : terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.000 20.000/ml (leukosit) dan neutrofil di atas 75 %, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serm yang meningkat. Pemeriksaan urin juga perlu dilakukan untuk membedakan dengan kelainan pada ginjal dan saluran kemih. Pemeriksaan USG dilakukan
7

bila telah terjadi infiltrate apendikularis (Mansjoer, 2005). Radiologi : terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-Scan. Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat yang tewrjadi inflamasi pada apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan CT-Scan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendikalit serta perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Rontgen foto polos, tidak spesifik, secara umum tidak cost effective. Kurang dari 5 % pasien akan terlihat adanya gamaran opak fekalith yang Nampak di kuadran kanan bawah abdomen. USG : pada kasus apendisitis akut akan nampak adanya, struktur yang aperistaltik, blind ended, keluar dari dasar caecum. Dinding apendiks namapak jelas, dapat dibedakan, diameter luar lebih dari 6 mm, adanya gambaran target, adanya apendicolith, adanya timbunan cairan periapendicular, Nampak lemak pericecal echogenic prominent. CT Scan : diameter apendik akan Nampak lebih dari 6 mm, ada penebalan dinding apendiks, setelah pemberian perubahan kontras inflamasi akan Nampak enhancement gambaran dinding appendix. CT Scan juga dapat menampakkan gambaran periapendicular, termasuk diantaranya inflammatory fat stranding, phlegmon, free fluid, free air bubbles, abces, dan adenophaty.

Diagnosis Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti, diagnosis klinis apendisitis masih mungkin salah pada sekitar 15 20 % kasus. Kesalahan diagnosis lebih sering terjadi pada perempuan dibanding laki-laki. Hal ini dapat disadari mengingat pada perempuan terutama yang masih muda sering mengalami gangguan yang mirip apendisitis. Keluhan itu berasal dari genitalia interna karena ovulasi, menstruasi, radang di pelvis, atau penyakit ginekologi lain. Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis apendisitis meragukan, sebaiknaya

dilakukan observasi penderita di rumah sakit dengan pengamatan setiap 1 2 jam. Ultrasonografi dan laparoskopi bisa meningkatkan akurasi diagnosis pada kasus yang meragukan. Diagnosis Banding Gastroenteritis akut Adenitis mesenterikum Diverticulitis Meckeli Enteritis Regional Amubiasis Ileitis akut Perforasi ulkus duodeni Kolik ureter Salpingitis akut Kehamilan ektopik terganggu Kista ovarium terpuntir Penatalaksanaan Bila dari hasil diagnosis positif apendisitis akut, maka tindakan yang paling tepat adalah segera dilakukan apendiktomi. Apendiktomi dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu cara terbuka dan laparoskopi. Apabila apendisitis baru diketahui setelah terbentuk massa periapendikuler, maka tindakan yang pertama kali harus dilakukan adalah pemberian/terapi antibiotik kombinasi terhadap penderita. Antibiotik ini merupakan antibiotik yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. Setelah gejala membaik, yaitu sekitar 6 8 minggu, barulah apendiktomi dapat dilakukan. Namun, apabila ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun dan pemeriksaaan klinis serta pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses setelah dilakukan terapi antibiotic, maka dapat dipertimbangakan untuk membatalkan tindakan bedah. Teknik Operasi
9

Apendiktomi Penderita dalam posisi terlentang, dalam general anestesi. Dilakukan tindakan aseptic dan antiseptic pada daerah perut kanan bawah, kemudian lapangan operasi dipersempit dengan kain steril. Dilakukan insisi mid transversal umbilical kanan. Irisan diperdalam dengan memotong lemak dan mencapai aponeurosis muskulus Oblikus Abdominis Eksternus (MOE), MOE dibuka sedikit dengan scalpel searah dengan seratnya, kemudian diperlebar ke lateral dan ke medial dengan pertolongan pinset anatomi. Selanjutnya dilakukan sayatan secara tumpul menurut arah serabut otot berturut-turut m. oblikus abdominis eksternus, m. oblikus abdominis internus, m. tranversus abdominis, sampai akhirnya tampak peritoneum. Peritoneum disayat sehingga cukup lebar untuk eksplorasi. Caecum dan apendiks diluksasi keluar. Mesoapendiks dibebaskan dan dipotong dari apendiks secara biasa dari puncak ke arah basis. Semua perdarahan dirawat. Disiapkan tabac sac mngelilingi basis apendiks dengan sutra, basis apendiks kemudian dijahit dengan catgut. Puntung apendiks diolesi betadin. Jahitan tabac sac disimpulkan dan puntung ditanamkan dalam simpul tersebut. Mesoapendiks diikat dengan benang sutera 3/0. Dilakukan pemeriksaan terhadap rongga peritoneum dan organ-organ di dalamya, semua perdarahan dirawat. Caecum dikembalikan ke dalam abdomen. Sebelum ditutup, peritoneum dijepit dengan minimal 4 klem dan didekatkan untuk memudahkan penutupannya. Peritoneum dijahit jelujur dengan chromic catgut dan otot-otot dikembalikan. Dinding perut ditutup/dijahit lapis demi lapis, fasia dengan sutera, subcutis dengan cat gut dan akhirnya kulit dengan sutera. Luka operasi dibersihkan dan ditutup dengan kassa steril. Komplikasi Durante Operasi : perdarahan intraperitoneal, dinding perut, robekan pada caecum atau usus lain. Pasca bedah dini : perdarahan, infeksi, hematom, paralitik ileus, peritonitis, fistel usus, abces intraperitoneal. Pasca bedah lanjut : Streng ileus, hernis sikatrikalis.

Sistem Skor Alvarado Vomitus/nausea Anoreksia NT Mc Burny Nyeri lepas Nyeri alih Demam > 37,2o C AL > 10.000 Segmen > 70 Nilai Perawatan Pasca Bedah Pada hari operasi penderita diberi infus menurut kebutuhan sehari kurang lebih 2 sampai 3 liter cairan Ringer Laktat dan Dekstrosa. Pada apendisitis tanpa perforasi : antibiotika diberikan hanya 1 x 24 jam. Pada apendisitis dengan perforasi : antibiotika diberikan hingga jika gejala klinis infeksi reda dan laboratorium normal. Mobilisasi secepatnya setelah penderita sadar dengan menggerakkan kaki, miring ke kiri dan ke kanan bergantian dan duduk. Penderita boleh jalan pada haripertama pasca bedah. Pemeberian makan per oral dimulai dengan memberi minum sedikkit-sedikit (50 cc) tiap jam apabila sudah ada aktifitas usus yaitu adanya flatus dan bising usus. Bilamana dengan pemberian minum bebas penderita tidak kembung maka pemberian makanan peroral dimulai. Jahitan diangkat pada hari kelima sampai hari ketujuh pasca bedah. 1 1 2 1 10 1 1 2 1 Nilai : < 4 47 kronis ragu-ragu >7 akut

BAB III
11

KESIMPULAN Apendiks merupakan taenia coli. organ berbentuk tabung dengan panjang kurang yaitu retrocaecal

lebih 10 cm (3 15 cm), berpangkal di caecum dan merupakan pertemuan ketiga Letak apendiks dapat bermacam-macam, intraperitoneal atau retroperitoneal dan antecaecal, pelvical. Apendiks dipersarafi oleh persarafan parasimpatis yang berasal dari cabang N. Vagus dan persarafan simpatis yang berasl dari N. Thoracalis X. Vaskularisasi apendiks berasal dari A. apendicularis, cabang dari A. iliocecalis, cabang dari A. mesenterica superior. Darah venosa akan dibawa oleh V. appendicularis yang akan bersatu dengan V. coecalis posterior (Guidance to Anatomy II, 2003). Lima tipe lokasi appendiks berdasarkan frekuensi : Retrocecal-retrocolic (bebas dan terfiksasi) Pelvic atau descending Subcecal (lurus ke bawah atau kanan) Ileocecal (lurus ke atas dan ke kiri depan ileum) Ileocecal (di belakang ileum) Menurut penelitian, no. 1 dan 2 adalah yang paling sering terjadi (Skandalakis, 1995). Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendik oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Kebiasaan mengkonsumsi makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis adalah ulserasi mukosa apendiks oleh parasit E. histolytica. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan

menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Pemeriksaan apendisitis : Pemeriksaan Fisik Inspeksi : pada apendisitis akut sering ditemukan adanya abdominal swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi perut. Palpasi : pada daerah perut kanan bawah apabila ditekan akan terasa nyeri. Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosis dari apendisitis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah. Ini disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). Dan apabila tekanan di perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah. Ini disebut Blumberg (Blumberg Sign). Pemeriksaan colok dubur :pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis, untuk menentukan letak apendiks, apabila letaknya sulit diketahui. Jika saat dilakukan pemeriksaan ini dan terasa nyeri,maka kemungkinan apendiks yang meradang terletak di daeah pelvis. Pemeriksaan ini merupakan kunci iagnosis pada apendisitis pelvika. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator : pemeriksaan ini juga dilakukan untuk mengetahui letak apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan denan rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila apendiks yang meradang menempel di m. psoas mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji obturator dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Bila apendikls yang meradang kontak dengan m.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil, maka
13

tindakan ini akan menimbulkan nyeri. Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis pelvika. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium : terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.000 20.000/ml (leukosit) dan neutrofil di atas 75 %, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serm yang meningkat. Pemeriksaan urin juga perlu dilakukan untuk membedakan dengan kelainan pada ginjal dan saluran kemih. Pemeriksaan USG dilakukan bila telah terjadi infiltrate apendikularis (Mansjoer, 2005). Radiologi : terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-Scan. Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat yang tewrjadi inflamasi pada apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan CTScan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendikalit serta perluasan dari apndiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Penatalaksanaan Apendisitis Bila dari hasil diagnosis positif apendisitis akut, maka tindakan yang paling tepat adalah segera dilakukan apendiktomi. Apendiktomi dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu cara terbuka dan laparoskopi. Apabila apendisitis baru diketahui setelah terbentuk massa periapendikuler, maka tindakan yang pertama kali harus dilakukan adalah pemberian/terapi antibiotik kombinasi terhadap penderita. Antibiotik ini merupakan antibiotik yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. Setelah gejala membaik, yaitu sekitar 6 8 minggu, barulah apendiktomi dapat dilakukan. Namun, apabila ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun dan pemeriksaaan klinis serta pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses setelah dilakukan terapi antibiotic, maka dapat dipertimbangakan untuk membatalkan tindakan bedah.

DAFTAR PUSTAKA

Grace, Pierce. A., Neil R. Borley., 2007. At a Glance. Edisi 3. Jakarta : Erlangga, pp.106 107. Mansjoer, A, Suprohaita, Wardani, W.I., Setiowulan W., 2005. Bedah Digestif, dalam Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius, pp. 307 313. Rahmawati, Diana., Appendicitis. Medical Study Club (MiSC) Uropoetika & Digestiva fkui. Maret 2001. Sjamsuhidayat, R., Jong, W.D., 2005. Usus Halus, Apendiks, Kolon, Dan Anorektum, dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC, pp. 639 645 Skandalakis, John E., Panajiotis N. Skandalakis, Lee John Skandalakis., 1995. Appendix, dalam Surgical Anatomy and Technique Appendicitis. Berlin : Springer Verlag, pp. 389 399.

15