Anda di halaman 1dari 12

Analisis Faktor Risiko Kejadian Abortus Di RSIA Siti Fatimah Makassar Tahun 2006.

Sumarni STIKES Mega Resky

Abstrak
Tingginya jumlah kejadian abortus yang dialami oleh wanita baik disengaja maupun tidak disengaja dan setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup memprihatinkan. Konsekuensinya, jumlah kematian ibu cenderung mengalami peningkatan yang cukup signifikan, akibat komplikasi dari pada abortus merupakan sebab utama kematian ibu yang mengalami abortus. Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian abortus, yaitu umur ibu, paritas, kadar Hb
Kata kunci : Abortus, umur ibu, paritas, kadar Hb

Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, tingginya jumlah kejadian abortus yang dialami oleh wanita baik disengaja maupun tidak disengaja dan setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup memprihatinkan. Sebagai

konsekuensinya, jumlah kematian ibu cenderung mengalami peningkatan yang cukup signifikan, akibat komplikasi dari pada abortus yaitu, perdarahan

yang terus-menerus serta infeksi pada jalan lahir merupakan sebab utama kematian ibu yang mengalami abortus.

Kejadian abortus yang

dilakukan baik secara sengaja maupun tidak

disengaja disebabkan beberapa faktor yaitu; pertama umur ibu yang terlalu muda ataupun terlalu tua dapat meningkatkan risiko terjadinya abortus pada saat ibu hamil. RSIA Siti Fatimah disamping sebagai pusat rujukan yang mempunyai fasilitas lengkap, juga khusus melayani pasien kebidanan dari berbagai kalangan. Berdasarkan fakta yang telah dikemukakan di atas membuat

peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang faktor risiko kejadian abortus di RSIA Siti Fatimah Makassar tahun 2006 dengan menganalisis besar faktor risiko umur ibu, paritas, kadar HB ibu sebagai variabel independent terhadap kejadian abortus sebagai variabel dependent. Rumusan Masalah 1. Berapa besar risiko umur ibu terhadap kejadian abortus ? 2. Berapa besar risiko paritas ibu terhadap kejadian abortus ? 3. Berapa besar risiko kadar HB ibu terhadap kejadian abortus? TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian

abortus

menurut

Varneys

(1998)

adalah

pengakhiran

kehamilan dengan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin mampu untuk bertahan hidup yaitu sampai dengan kehamilan 22 minggu 2. Klasifikasi abortus menurut Manuaba (2002 dibagi berdasarkan dari beberapa aspek yaitu: a) berdasarkan kejadiannya secara spontan dan buatan, b) berdasarkan pelaksanaanya secara buatan terapeutik dan buatan ilegal, c) Berdasarkan gambaran kliniksnya

3. Etiologi yaitu penyebab abortus sebagian besar tidak diketahui secara pasti, akan tetapi ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi terjadinya abortus 4. Patofisiologi abortus yaitu pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan di sekitarnya. 5. Komplikasi abortus: perdarahan, Perforasi uterus, infeksi, dan syok

6. Penanganan dengan cara abortus imminens, obortus insipiens, obortus inkomplit, dan obortus komplit 7. Pencegahan dengan cara Pengajaran tentang norma-norma, budi pekerti dan moralitas, pendidikan seksual, konseling, penyulungan dan abortus dilakukan atas indikasi medis yang jelas

Hipotesis Penelitian

1. Umur ibu merupakan faktor risiko terhadap kejadian abortus. 2. Paritas ibu merupakan faktor risiko terhadap kejadian abortus. 3. Kadar HB ibu merupakan faktor risiko terhadap kejadian abortus. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Hasil Penelitian 1. Analisis Deskriptif Pada tahap ini dilakukan analisis distribusi frekuensi yang merupakan karakteristik umum responden seperti kelompok umur, agama, pendidikan ibu, pekerjaan suami, paritas, kadar Hb dan jenis abortus seperti tampak pada tabel-tabel berikut ini:

Tabel 2 Distribusi Responden Menurut Kelompok Umur Di RSIA Siti Fatimah Makassar Sulawesi SelatanTahun 2006 Kelompok umur <20 20-24 25-29 30-35 >35 jumlah Abortus 3 18 15 19 18 73 Persen 4,1 24,7 20,5 26,0 24,7 100 Non abortus 1 24 25 17 6 73 Persen 1,4 32,9 34,2 23,3 8,2 100

Sumber : Data Sekunder dari Rekam Medik RSIA Siti Fatimah Makassar

Tabel 3 Distribusi Responden Menurut Agama/Kepercayaan Di RSIA Siti Fatimah Makassar Sulawesi Selatan Tahun 2006 Jenis agama Islam Kristen Jumlah Abortus 67 6 73 Persen 91,8 8,2 100 Non abortus 68 5 73 Persen 93,2 6,8 100

Sumber : Data Sekunder dari Rekam Medik RSIA Siti Fatimah Makassar Tabel 3 diatas menunjukkan bahwa agama atau kepercayaan

yang mengalami abortus yang paling banyak dianut adalah agama islam sebanyak 67 orang (91,8%) sedangkan yang kurang adalah agama kristen hanya 6 orang (8,2%). Dan yang tidak terkena abortus agama yang paling banyak dianut adalah agama islam sebanyak 68 orang

(93,2%) sedangkan yang sedikit dianut adalah agama kristen hanya 5 orang (6,8%). Tabel 4 Distribusi Responden Menurut Pendidikan Ibu Di RSIA Siti Fatimah Makassar Sulawesi Selatan Tahun 2006 Pendidikan ibu SD SMP SMA PT jumlah Abortus 19 12 38 4 73 Persen 26,0 16,4 52,1 5,5 100 Non abortus 19 12 38 4 73 Persen 26.0 16,4 52,1 5,5 100

Sumber : Data Sekunder dari Rekam Medik RSIA Siti Fatimah Makassar Tabel 5 Distribusi Responden Menurut Pekerjaan suami Di RSIA Siti Fatimah Makassar Sulawesi Selatan Tahun 2006 Jenis pekerjaan Tani Nelayan B.harian Swasta PNS jumlah Abortus 2 2 30 28 11 73 Persen 2,7 2,7 41,1 38,4 15,1 100 Non abortus 2 11 48 12 73 Persen 2,7 15,1 65,8 16,4 100

Sumber : Data Sekunder dari Rekam Medik RSIA Siti Fatimah Makassar

Tabel 5 diatas menunjukkan bahwa jenis pekerjaan suami pada kasus abortus terbanyak adalah B.harian dan terendah adalah Petani dan Nelayan, sedangkan pada non abortus terbanyak adalah Swasta .

Tabel 6 Distribusi Responden Menurut Jenis Abortus Di RSIA Siti Fatimah Makassar Sulawesi Selatan Tahun 2006 Jenis abortus Imminens Insipiens Inkomplit Komplit Missed abortion jumlah n 19 1 50 1 2 73 Persen 26,0 1,4 68,5 1,4 2,7 100

Sumber : Data Sekunder dari Rekam Medik RSIA Siti Fatimah Makassar

2. Analisis Besar Risiko Variabel Penelitian a. Analisis besar risiko umur ibu terhadap kejadian abortus. Tabel 7 Distribusi Umur Ibu Terhadap Kejadian Abortus Di RSIA Siti Fatimah Makassar Sul-Sel Tahun 2006 Kejadian Abortus Total 95 % CI Kasus Kontrol n Persen OR Lower Upper n Persen n Persen 21 28,8 7 9,6 28 19,2 52 71,2 66 90,4 118 80,8 3,808 1,503 9,645

Umur ibu Risiko tinggi Risiko Rendah Jumlah

73

100

73

100

14

100

Sumber : Data Sekunder dari Rekam Medik RSIA Siti Fatimah Makassar

Berdasarkan hasil analisis statistik pada table 7 diatas diperoleh nilai Odds Ratio (OR) =3.808. Ini berarti bahwa kelompok umur risiko tinggi mempunyai risiko 3,808 kali lebih besar untuk mengalami abortus dibandingkan dengan kelompok umur risiko rendah. Karena lower limit dan upper limit tidak mencakup nilai satu maka hipotesis penelitian diterima, yang berarti umur ibu <20 atau >35 tahun berisiko dan bermakna terhadap kejadian abortus. Tabel 8 Distribusi Paritas Ibu Terhadap Kejadian Abortus Di RSIA Siti Fatimah Makassar Sulawesi Selatan Tahun 2006 Kejadian Abortus Kasus Kontrol n Risiko tinggi Risiko Rendah Jumlah 73 100 73 100 146 100 46 63,3 66 90,4 112 76,7 5,534 2,222 13,78 27 Persen 37,0 n 7 Persen 9,6 34 23,3 Total Persen 95 % CI Lower

Paritas

OR

Upper

Sumber : Data Sekunder dari Rekam Medik RSIA Siti Fatimah Makassar

Berdasarkan hasil analisis statistik pada tabel 8 diatas diperoleh nilai Odds Ratio (OR) = 5,534. Ini berarti bahwa paritas >3 mempunyai risiko 5,534 kali lebih besar untuk mengalami abortus dibandingkan dengan kelompok paritas < 3. Karena lower limit dan upper limit tidak mencakup nilai satu maka hipotesis penelitian diterima, yang berarti paritas >3 berisiko dan bermakna terhadap kejadian abortus.

Tabel 9 Distribusi Kadar Hb Ibu terhadap Kejadian Abortus Di RSIA Siti Fatimah Makassar Sul-Sel Tahun 2006 Kejadian Abortus Kasus Kontrol n Persen n Persen 41 56,2 18 24,7 Total n Persen 59 40,4 95 % CI Lower Upper

Kadar Hb Risiko Tinggi Risiko Rendah Jumlah

OR

32

43,8

55

75,3

87

59,6

3,915

1,934

7,923

73

100

73

100

146

100

Sumber : Data Sekunder dari Rekam Medik RSIA Siti Fatimah Makassar Berdasarkan hasil analisis statistik pada table 9 diatas diperoleh nilai Odds Ratio (OR) =3,915. Ini berarti bahwa kadar Hb risiko tinggi mempunyai risiko 3,915 kali lebih besar untuk mengalami abortus dibandingkan dengan kadar Hb risiko rendah. Karena lower limit dan upper limit tidak mencakup nilai satu maka hipotesis penelitian diterima, yang berarti kadar Hb <11 gram % berisiko dan bermakna terhadap kejadian abortus. B. Pembahasan

Diperoleh beberapa penyebab dan hal-hal yang dapat mempengaruhi kejadian abortus akan dibahas lebih lanjut dibawah ini: 1. Hubungan umur ibu dengan kejadian abortus

Hasil penelitian ini juga menggambarkan bahwa ada ibu hamil dengan resiko rendah yang mengalami abortus. Hal ini disebabkan karena faktor predisposisi terjadinya abortus adalah

multidimensi yang artinya ada beberapa faktor yang bisa memicu terjadinya abortus. Misalnya walaupun ibu hamil dengan umur berada antara 20-35 tahun tapi tetap mengalami abortus karena mungkin mempunyai paritas lebih dari 3 , kadar Hb <11 gr % atau mempunyai sosial ekonomi menengah kebawah. 2. Hubungan paritas dengan kejadian abortus

Dalam penelitian ini ditemukan bahwa ada ibu dengan risiko rendah yang mengalami abortus. Karena faktor faktor yang dapat mempengaruhi abortus bukan cuma faktor paritas >3 akan tetapi walaupun mempunyai paritas <3 tetap terjadi abortus karena mungkin saja mempunyai umur <20 atau >35 tahun, Hb <11gr % dan mempunyai sokial ekonomi yang menengah kebawah atau faktor lain yang bisa memperberat terjadinya abortus.

3.

Hubungan Kadar Hb Terhadap Kejadian Abortus

Hasil penelitian ini juga menggambarkan bahwa ada ibu hamil dengan resiko rendah yang mengalami abortus. Hal ini disebabkan karena faktor predisposisi terjadinya abortus adalah multidimensi yang artinya ada beberapa faktor yang bisa berperan terhadap kejadian abortus. Misalnya walaupun ibu hamil dengan kadar Hb > 11 gr % tetap mengalami abortus karena mungkin mempunyai paritas lebih dari 3, umur <20 atau >35 bahkan mempunyai sosial ekonomi menengah kebawah, hal ini dapat memicu terjadinya abortus.

KESIMPULAN

1. Ibu dengan umur <20 atau >35 tahun berisiko dan bermakna terhadap kejadian abortus dimana mempunyai risiko 3,808 kali lebih besar mengalami abortus dibanding dengan ibu yang risiko rendah yaitu umur 20-35 tahun. 2. Ibu dengan paritas >3 berisiko dan bermakna terhadap kejadian abortus dimana mempunyai risiko 5,534 kali lebih besar mengalami abortus dibanding dengan ibu yang resiko rendah yaitu paritas < 3. 3. Ibu dengan kadar Hb ibu <11 gram % berisiko dan bermakna terhadap kejadian abortus dimana mempunyai risiko 3,915 kali lebih besar mengalami abortus dibanding dengan ibu yang risiko rendah yaitu yang mempunyai Hb >11 gram %.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, W. P. 1999. Dasar-dasar Metode Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Amriana.2004. Beberapa Faktor Resiko Terhadap Kejadian Abortus di kabupaten Soppeng. Makassar: Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas. Bani Syaifuddin. 2000. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Edisi Satu, Penerbit Bina Pustaka Sarwono, Jakarta.

Bani Syaifuddin. 2000. Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Edisi Satu, Jakarta. Cuningham, M. D, Gant 1998, Obstetri Williams. Edisi 18, Penerbit Buku Kedokteran EGC,Yogyakarta. Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Edisi Dua, Yayasan Bina Pustaka Sarwono, Jakarta. Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Edisi Dua,Yayasan Bina Pustaka Sarwono, Jakarta. Hasnah, M.Noor. 2006-2007. Panduan Penulisan Skripsi, Program D.IV Bidan Pendidik Poltekes Makassar. Helen Varney.1997. Varneys Midwifery.Boston, London, Singapore.

Iqbal.M.2005.Analisis Faktor Risiko Terhadap Kejadian Abortus di Sulawesi Tenggara. Karya Tulis Tidak Terpublikasikan. Makassar: Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas. Lemeshow. 1997. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan,Edisi pertama, Gajdah Majda Mada University Press,Yogyakarta. Manuaba. 1998. Ilmu kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB. Edisi Satu, Penerbit buku Kedokteran EGC, Jakarta. Murti.1997.Prinsip dan Metode Riset Epidekiologi,Edisi pertama,Gajdah Mada University Press,Jakarta. Rustam Mochtar.1998. Sinopsis Obstetri. Kedokteran EGC,Jakarta. Edisi Dua, Penerbit buku

Theresia.2001. Beberapa Faktor Risiko Terhadap Kejadian Abortus di Rs Umum Palopo.Skripsi tidak terpublikasikan. Makassar: Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas.

Widodo,dkk.1999. Metode Penelitian dan Statistic Terapan. Airlangga University Press, Surabaya. _______Aborsi Di Indonesia, Dua juta kasus/th, http:l//www gatra.com, diakses tanggal 25 maret 2006. _______Aturan Aborsi Menekan Angka Kematian Ibu,http://www.bkkbn.go.id, diakses tanggal 28 oktober 2006. _______Manajemen Pelayanan Kesehatan Diakses tanggal 26 April 2006. , http://www.depkes.com,