Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Kasus kematian ibu melahirkan di Indonesia masih tergolong cukup tinggi.

Pada 2015 mendatang angka kematian ibu melahirkan ditargetkan menurun menjadi 103 per 100.000 kelahiran.Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia saat ini tergolong masih cukup tinggi yaitu mencapai 228 per 100.000 kelahiran. Walaupun sebelumnya Indonesia telah mampu melakukan penurunan dari angka 300 per 100.000 kelahiran pada tahun 2004. Padahal berdasarkan Sasaran Pembangunan Milenium atau Millenium Development Goal (MDG), kematian ibu melahirkan ditetapkan pada angka 103 per 100.000 kelahiran. Angka kematian ibu merupakan salah satu masalah besar di negeri ini. Pasalnya, angka kematian ini menunjukkan gambaran derajat kesehatan di suatu wilayah, sebagai gambaran indeks pembangunan manusia Indonesia. Angka kematian ibu di Indonesia paling tinggi di Asia Tenggara 307/100.000 kelahiran. Hal ini menjadi pemicu pengaruh terhadap pertumbuhan penduduk. Kematian ibu melahirkan masih menjadi persoalan yang cukup pelik di negeri ini. Tahun demi tahun masih panjang daftar wanita yang menjadi korban takdirnya. Dan, kita bukan sedang mempersoalkan angka secara statistik, tapi kenyataan bahwa angka kematian ibu di Indonesia masih yang tertinggi di Asean. Data terakhir dari BPS adalah sebesar 262 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2005. Sedangkan Laporan Pembangunan Manusia tahun 2000 menyebutkan angka kematian ibu di Malaysia jauh di bawah Indonesia yaitu 41 per 100 ribu kelahiran hidup, Singapura 6 per 100 ribu kelahiran hidup, Thailand 44 per 100 ribu kelahiran hidup, dan Filiphina 170 per 100 ribu kelahiran hidup. Padahal, tahun 2000 itu angka kematian ibu masih berkisar di angka 307 per 100 ribu kelahiran hidup. Bahkan Indonesia kalah dibandingkan Vietnam, Negara yang belum lama merdeka, yang memiliki angka kematian ibu 160 per 100 ribu kelahiran hidup. Pembuat kebijakan bukannya tidak menyadari arti angka-angka tersebut. Apalagi, angka kematian ibu merupakan salah satu indikator derajat kesehatan sebuah Negara. Masalah tinggi-

nya angka kematian ibu telah lama diupayakan pemecahannya. Berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan level ini. Namun sepertinya upaya yang keras itu, seperti melempar bola ke dinding, karena kembali terpantul, meski dengan ketinggian yang sedikit lebih rendah. B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa penyebab meninggi nya angka kematian ibu di indonesia? 2. Bagaimana pernan pemerintah dalam menangani atau menekan angka kematian ibu di indonesia?

BAB II PEMBAHASAN

A.

DASAR TEORI Gaya hidup yang tidak aktif dalam jangka panjang memancing akan datangnya penyakit,

kebanyakan orang memilih menghabiskan waktu luang dengan bersantai, rebahan di depan televisi atau mengganti waktu tidur yang disabotase pekerjaan. Menurut data Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan Indonesia tahun 2007, saat ini 48,2 persen masyarakat berusia lebih dari 10 tahun kekurangan aktivitas fisik. Di dunia, menurut WHO 60-80 persen populasi dewasa tidak aktif secara fisik. Ketidakaktifan fisik merupakan istilah untuk mengidentifikasi orang-orang dengan tingkat kegiatan fisik teratur yang rendah, atau tidak ada sama sekali. Akibatnya pembakaran energinya tidak lebih dari 1,5 kali pembakaran energi saat beristirahat. Ketidakaktifan fisik ini dalam jangka panjang akan menyebabkan kegemukan atau obesitas Padahal, untuk menjaga kebugaran tubuh, WHO merekomendasikan agar kita berolahraga minimal 30 menit setiap hari. Olahraga yang dimaksud adalah aktivitas fisik yang teratur. Hal ini ternyata dapat memicu kematian ibu ketika melahirkan. Karena terjadi obesitas pada ibu hamil sehingga menyulitkan sang ibu ketika melahirkan. Angka kematian ibu bersalin dan angka kematian perinatal umunya dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menilai keadaan gizi dan kesehatan ibu, tingkat pelayanan kesehatan ibu pada waktu hamil, melahirkan dan masa nifas, serta kondisi kesehatan lingkungan. Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT ) tahun 1986, angka kematian ibu bersalin di Indonesia masih sangat tinggi, berkisar 450 per 100.000 kelahiran hidup. Bila kita bandingkan dengan negara Asean lainnya, dimana angka kematian ibu bersalin berkisar 5-60 per 100.000 kelahiran hidup, maka angka tersebut jelas sangat tinggi. Sebagian besar kematian ibu tersebut yaitu sekitar 67% ternyata terjadi pada masa kehamilan 7 bulan ke atas, masa bersalin, atau masa nifas. B. FAKTOR PENYEBAB KEMATIAN IBU

Diduga angka kematian ibu yang tinggi ini erat hubungannya dengan :

1. Status wanita Indonesia yang masing rendah. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya diskriminasi terutama dalam soal makanan dan pendidikan terhadap wanita, yang pada akhirnya akan menyebabkan keadaan gizi yang kurang memadai dan pendidikan yang tertinggal terutama pada wanita pedesaan. 2. Pekerjaan wanita terutama di pedesaan yang terlalu berat dan tidak didukung oleh gizi yang cukup. 3. Proses reproduksi yang berlangsung terlalu giat, terlalu dini, terlalu banyak dan terlalu rapat, dan umumnya semua ini berhubungan dengan kemiskinan, ketidaktahuan dan kebodohan. 4. Pelayanan obstetri masih sangat terbatas cakupannya sehingga belum mampu

menaggulangi ibu hamil resiko tinggi dan kasus gawat darurat pada lini terdepan. Disamping itu transportasi yang sulit, ketidakmampuan membayar pelayanan yang baik dan pantangan tertentu pada wanita hamil juga ikut berperan. Dari uraian di atas terlihat faktor yang multi komplek yang masih ikut berperan dan arus ditanggulangi untuk menurunkan angka kematian ibu bersalin. Umunya sebagian besar faktorfaktor di ataslah yang akan menyebabkan terjadinya gangguan dan penyulit pada kehamilan, persalinan dan nifas. C. KEHAMILAN RESIKO TINGGI Gangguan dan penyulit pada kehamilan umumnya ditemukan pada kehamilan resiko tinggi. Yang dimaksud dengan kehamilan resiko tinggi adalah kehamilan yang akan

menyebabkan terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar baik terhadap ibu maupun terhadap janin yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun nifas bila dibandingkan dengan kehamilan persalinan dan nifas normal. Secara garis besar, kelangsungan suatu kehamilan sangat bergantung pada keadaan dan kesehatan ibu, plasenta dan keadaan janin. Jika ibu sehat dan didalam darahnya terdapat zat-zat makanan dan bahanbahan organis dalam jumlah yang cukup, maka pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan akan berjalan baik. Dalam kehamilan, plasenta akan befungsi sebagai alat respiratorik, metabolik,

nutrisi, endokrin, penyimpanan, transportasi dan pengeluaran dari tubuh ibu ke tubuh janin atau sebaliknya. Jika salah satu atau beberapa fungsi di atas terganggu, maka janin seperti tercekik, dan pertumbuhannya akan terganggu. Demikian juga bila ditemukan kelainan pertumbuhan janin baik berupa kelainan bawaan ataupun kelainan karena pengaruh lingkungan, maka pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan dapat mengalami gangguan. Menurut penelitian telah diketahui bahwa umur reproduksi sehat pada seorang wanita berkisar antara 20-30 tahun, artinya ; melahirkan setelah umur 20 tahun jarak persalinan sebaiknya 2-3 tahun dan berhenti melahirkan setelah umur 30 tahun. Berarti anak cukup 2-3 orang. Telah dibuktikan bahwa kelahiran ke empat dan seterusnya akan meningkatkan kematian ibu dan janin. Abortus (keguguran), prematuritas dan dismaturitas (bayi kecil untuk masa kehamilan) dan postdatisme (kehamilan lewat waktu) kadang-kadang masih sulit di deteksi dengan baik. Dengan pengenalan dan penanganan dini, gangguan dan penyulit kehamilan dapat dikurangi. Penyakit yang diderita ibu baik sejak sebelum hamil ataupun sesudah kehamilan, seperti : penyakit paru, penyakit jantung sianotik, penyakit ginjal dan hipertensi, penyakit kelenjar endokrin (gondok, diabetes mellitus, penyakit hati), penyakit infeksi (virus, bakteri parasit), kelainan darah ibu-janin ataupun keracunan obat dan bahan-bahan toksis, juga merupakan penyabab yang mengakibatkan terjadinya gangguan dan penyulit pada kehamilan. Disamping itu, kehamilan sendiri dapat menyebabkan terjadinya penyakit pada ibu hamil. Penyakit yang tergolong dalam kelompok ini antara lain : toksemia gravidarum (keracunan hamil), perdarahan hamil tua yang disebabkan karena plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir), dan solusio plasenta (plasenta terlepas sebelum anak lahir). Penyebab kematian ibu bersalin di Indonesia masih di dominasi oleh perdarahan, infeksi dan toksemia gravidarum. Seperti diuraikan sebelumnya, lingkungan dimana ibu hamil bertempat tinggal secara tidak langsung juga berperan dalam timbulnya penyulit pada kehamilan. Tempat tinggal yang pengap, kurang udara segar, lingkungan yang kotor, ibu yang tidak dapat beristirahat cukup dan gizi yang jelek dapat merupakanfaktor penyebab. Dalam kehamilan, pertumbuhan dan perkembangan janin sebaiknya harus dapat diikuti dengan baik. Adanya kelainan pertumbuhan janin seperti KMK (kecil untuk masa kehamilan),

BMK (besar untuk masa kehamilan), kelainan bawaan seperti hidrosefalus, hidramnion, kehamilan ganda ataupun adanya kelainan letak janin sedini mungkin harus segera dapat di deteksi. Bila keadaan ini baru di diagnosa pada kehamilan lanjut, maka penyulit pada kehamilan dan persalinan akan sering dijumpai. Kemiskinan, kebodohan, ketidaktahuan, dan budaya diam wanita Indonesia, ditambah lagi oleh transportasi yang sulit dan ketidakmampuan membayar pelayanan yang baik akan menyebabkan pelayanan antenatal di Indonesia masih kecil cakupannya. Pada ibu hamil pemeriksaan antenatal memegang peranan penting dalam perjalanan kehamilan dan persalinannya. Penelitian pada ibu hamil di Jawa Tengah pada tahun 19891990 menemukan bahwa ibu hamil dan bersalin yang tidak memeriksakan kehamilannya pada tenaga medis akan mengalami resiko kematian 3- 7 kali dibandingkan dengan ibu yang memeriksakan kehamilannya. Menurut Hanafiah pada penelitiannya di RS.Dr.Pirngadi Medan, ditemukan kematian maternal pada 93,9% kelompok tidak terdaftar. Pada tahun 1984-1989 ditemukan kematian maternal pada 67,9% kelompok tidak terdaftar. Yang dimaksud dengan kelompok tidak terdaftar adalah kelompok ibu hamil yang memeriksakan dirinya kurang dari 4 kali selama kehamilannya. Akibat kurangnya pemeriksaan antenatal yang dilakukan oleh tenaga medis terlatih (bidan dokter dan dokter ahli) banyak kasus dengan penyulit kehamilan tidak terdeteksi. Hal ini tentu saja akan menyebabkan terjadinya komplikasi yang lebih besar dalam perjalanan kehamilan dan persalinannya sehingga pada akhirnya akan mengakibatkan

morbiditas dan mortalitas yang lebih besar pada ibu dan janin. Disamping itu karena pelayanan obstetri di lini terdepan masih sangat terbatas cakupannya dan belum mampu menanggulangi kasus gawat darurat, ditambah dengan transportasi yang masih sulit dan tidak mampu membayar pelayanan yang baik, banyak kasus rujukan yang diterima di Rumah Sakit sudah sangat terlambat dan gawat sehingga sulit ditolong.

D.

USAHA PENCEGAHAN PENYULIT PADA KEHAMILAN DAN PERSALINAN

Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa usaha untuk pencegahan penyakit kehamilan dan persalinan tergantung pada berbagai faktor dan tidak semata-mata tergantung dari sudut medis atau kesehatan saja. Faktor sosial ekonomi diduga sangat berpengaruh. Karena pada umunya seseorang dengan keadaan sosial ekonomi rendah seperti diuraikan di atas, tidak akan terlepaa dari kemiskinan, kebodohan dan ketidaktahuan sehingga mempunyai kecenderungan untuk menikah pada usia muda dan tidak berpartisipasi dalam keluarga berencana. Disamping itu keadaan sosial ekonomi yang rendah juga akan megakibatkan gizi ibu dan perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan yang jelek. Transportasi yang baik disertai dengan ketersediaannya pusat-pusat pelayanan yang bermutu akan dapat melayani ibu hamil untuk mendapatkan asuhan anenatal yang baik, cakupannya luas, dan jumlah pemeriksaan yang cukup. Di negara maju setiap wanita hamil memeriksakan diri sekitar 15 kali selama kehamilannya. Sedangkan di Indonesia pada kehamilan resiko rendah dianggap cukup bila memeriksakan diri 4-5 kali. Jadi secara garis besar dapat disimpulkan bahwa usaha yang dapat dilakukan untuk pencegahan penyulit pada kehamilan dan persalinan adalah : 1. Asuhan antenatal yang baik dan bermutu bagi setiap wanita hamil. 2. Peningkatan pelayanan, jaringan pelayanan dan sistem rujukan kesehatan. 3. Peningkatan pelayanan gawat darurat sampai ke lini terdepan. 4. Peningkatan status wanita baik dalam pendidikan, gizi, masalah kesehatan wanita dan reproduksi dan peningkatan status sosial ekonominya. 5. Menurunkan tingkat fertilitas yang tinggi melalui program keluarga berencana.

E. PERAN PEMERINTAH DALAM MENEKAN ANGKA KEMATIAN IBU

Tak lelah untuk mengempiskan angka kematian ibu, tahun 2005 hingga 2009, pemerintah kembali menitikberatkan perhatian pada kesehatan ibu. Departemen kesehatan dalam periode tersebut menempatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak sebagai prioritas pertama pembangunan kesehatan. Sesudahnya menyusul pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin, pendayagunaan tenaga kesehatan, penanggulangan penyakit menular, gizi buruk, dan krisis kesehatan akibat bencana, serta peningkatan pelayanan kesehatan di daerah terpencil, tertinggal, daerah perbatasan, dan pulau-pulau terluar. Program-program tersebut, sangat berkaitan untuk meningkatkan kesehatan rakyat. Realisasinya, Menteri Kesehatan mengatakan Program Asuransi Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (Askeskin) sejak tahun 2005 dan 2006 dapat mencakup 60 juta penduduk miskin dan hampir miskin, dibanding tahun 2005 yang hanya mencakup 36,1 juta penduduk miskin. Dan pada tahun 2007, telah mencakup 76,4 juta masyarakat miskin. Masalah keterlambatan ibu melahirkan dibawa ke fasilitas kesehatan banyak karena alasan biaya. Kini, hal itu menjadi urusan pemerintah Puskesmas, sebagai garda terdepan fasilitas kesehatan di daerah, punya peranan penting Tenaga kesehatan menjadi faktor penting untuk menurunkan angka kematian. Pemerintah ngebut untuk menambah tenaga ini Menjawab ketiadaan tenaga bidan di desa, tahun 2006 lalu telah ditempatkan 12.000 bidan, dan tahun 2007 sebanyak 30.000. Hingga akhir tahun 2008, ditargetkan ada 70.000 bidan ditempatkan di desa. Untuk daerah terpencil bidan diberikan insentif yang lebih besar. Berbagai program tadi, setidaknya mampu mengurangi jumlah wanita yang meninggal ketika menjalani takdirnya. Angka kematian ibu telah menurun, dari 390 per 100.000 kelahiran hidup menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1994 menjadi 334 menurut SDKI tahun 1997, dan 307 menurut SDKI 2002-2003. Lalu tahun 2005 angka itu menurun menjadi 262, lalu 253 pada 2006. Penurunan angka kematian ibu memiliki korelasi langsung dengan program-program yang dilakukan pemerintah. Maka, depkes pun pasang ancang-ancang lagi. Tahun 2007 target angka kematian ibu turun menjadi 244 per 100.000 kelahiran hidup. Tahun 2008 menjadi 235 per kelahiran hidup. Hingga akhir tahun 2009 diharapkan angka kematian ibu mencapai 226 per 100.000 kelahiran hidup. Desa Siaga setidaknya menjadi tumpuan harapan untuk pembangunan

kesehatan Sebelumnya telah bergulir berbagai program seperti suami siaga dan bidan siaga. Fokus pengembangan desa siaga diarahkan yang pertama untuk upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi. Data tahun 2006 menyebutkan telah terdapat 12.942 desa siaga dari 12.000 yang ditargetkan. Desentralisasi di bidang kesehatan akan menjadi tantangan penting dalam pembangunan ksehatan. Laporan Bapenas mengatakan bahwa perubahan dan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah belum secara jelas terdefinisikan dan dipahami. Dengan penganggaran yang juga didesentralisasikan, daerah dengan kemampuan keuangan yang rendah akan mengalami kesulitan untuk mengalokasikan anggaran kesehatannya karena harus pula memperhatikan prioritas-prioritas pembangunan lain.

BAB III

PENUTUP A. KESIMPULAN

Dapat disimpulakan bahwa faktor yang menyebabkan kematian ibu diIndonesia adalah 1.
y y

Faktor mendasar Status ibu : pendidikan, pekerjaan, kemandirian sosial, kebiasaan berunding Status keluarga : kemiskinan (gakin/ nyaris gakin), peran suami/ mertua, budaya pasrah/fatalistik

Status masyarakat : adat setempat yg tidak menunjang, peran dukun bayi

1. Faktor langsung
y

Status kesehatan dan gizi : prevalensi penyakit infeksi, parasit, BBLR, kurang gizi, anemia

Status reproduksi : GPA Perilaku kesehatan & gizi : PHBS yg belum optimal, pola asuh, intake makanan

y y

Perilaku penggunaan yankes : KB, ANC, persalinan oleh nakes, rujukan, munisasi Akses pelayanan kesehatan : lokasi sarana yankes, kualitas pelayanan, konseling kesehatan.

Pemerintah sudah mulai membuat program program yang dimulai dari puskesmas dan desa siaga untuk menekan angka kematian ibu di indonesia. B. SARAN

Banyak faktor yang dapat mengakibatkan kematian ibu, namun perlu diperhatikan kondisi ibu ketika hamil, periksakan kehamilan tiap bulannya, konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan yang bisa memberi penjelaskan hamil yang sehat itu seperti apa.

Pengadaan tenaga kesehatan seperti nya perlu ditambah untuk desa- desa yang jangkauannya susah. Pemerintah lebih giat lagi membuat program-program yang berdampak positif bagi ibu hamil dan bisa menekan angka kematian ibu melahirkan.

DAFTAR PUSTAKA http://duniaebook.net/?s=angka+kematian+ibu+melahirkan http://www.sapu-lidi.com/search/makalah-angka-kematian-ibu-di-rumah-sakit/ http://www.antarasumut.com/berita-sumut/angka-kematian-ibu-indonesia-tertinggi-diasean/ http://obstetriginekologi.com/artikel/tabel+data+angka+kematian+ibu+di+indonesia.html http://www.bahankuliah.info/pdf/jumlah-kematian-ibu-di-indonesia.html

TUGAS PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN Pengaruh Pertumbuhan Penduduk Terhadap Tingkat Kematian Ibu

NAMA

: DELILA OKTAFIANUS

NIM

: 0803031995

JURUSAN

: SOSIOLOGI

SEMESTER

: VI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG 2011