Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF

BERDASARKAN ANESTESI
Disusun Guna Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Perioperatif
Dosen pembimbing : Kunaryanti S,Kep,.Ns,.M.K.M

Disusun Oleh Kelompok 3 :


1. Iham Aji Nur Syahid (20009)
2. Intan Dinda S (20011)
3. Kharisma Ismi S (20012)
4. Muh Nur Hidayat (20013)
5. Pramita Ran Lestari (20014)

HALAMAM JUDUL

AKADEMI KEPERAWATAN YAPPI


SRAGEN JAWA TENGAH
2022

1
DAFTAR ISI

HALAMAM JUDUL.......................................................................................................1
DAFTAR ISI....................................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................3
A. Latar Belakang.......................................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................5
A. Konsep Dasar Perioperatif.....................................................................................5
1. Pengertian Perioperatif.......................................................................................5
2. Aspek Legal dalam Pembedahan........................................................................5
3. Tahap-tahap Perioperatif.....................................................................................5
B. ASUHAN KEPERAWATAN PREOPERATIF....................................................9
1. PRABEDAH.......................................................................................................9
2. Pembagian anstesi regional.................................................................................9
3. Obat analgetik lokal/regional..............................................................................9
4. Komplikasi obat anestesi local.........................................................................10
C. Macam-macam anestesi.......................................................................................11
1. Anestesi umum.................................................................................................11
2. Anestesi local....................................................................................................12
3. Anestesi regional...............................................................................................13
BAB III TINJAUN KASUS..........................................................................................15
1. Pengkajian...........................................................................................................15
A.Identitas pasien.................................................................................................15
B. Penanggung Jawab............................................................................................15
C. Riwayat Kesehatan...........................................................................................15
D.Fokus pengkajian fungsional menurut Virnia Handersoon..............................16
E. Keadaan umum.................................................................................................16
F. Pemeriksaan fisik..............................................................................................16
G.Pemeriksaan Penunjang....................................................................................17
H.Asuhan Keperawatan Pre Operasi....................................................................18
I. Asuhan Keperawatan Intra Bedah..............................................................................19

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tindakan operasi atau pembedahan, baik elektif maupun kedaruratan adalah
peristiwa kompleks yang menegangkan. Kebanyakan prosedur bedah dilakukan di
kamar operasi rumah sakit, meskipun beberapa prosedur yang lebih sederhana tidak
memerlukan hospitalisasi dan dilakukan di klinik-klinik bedah dan unit bedah
ambulatori. Individu dengan masalah kesehatan yang memerlukan intervensi
pembedahan mencakup pula pemberian anastesi atau pembiusan yang meliputi
anastesi lokal, regional atau umum. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang
kian maju.
Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk
menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman
pembedahan pasien. Istilah perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang
mencakup tiga fase pengalaman pembedahan, yaitu? preoperative phase,
intraoperative phase dan post operative phase. Masing- masing fase di mulai pada
waktu tertentu dan berakhir pada waktu tertentu pula dengan urutan peristiwa yang
membentuk pengalaman bedah dan masing-masing mencakup rentang perilaku dan
aktivitas keperawatan yang luas yan dilakukan oleh perawat dengan menggunakan
proses keperawatan dan standar praktik keperawatan.
Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hapir
semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan
membahayakan bagi pasien. Maka tak heran jika seringkali pasien dan keluarganya
menunjukkan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan yang mereka alami.
Tingkat keberhasilan pembedahan sangat tergantung pada setiap tahapan yang
dialami dan saling ketergantungan antara tim kesehatan yang terkait (dokter bedah,
dokter anstesi dan perawat) di samping peranan pasien yang kooperatif selama
proses perioperatif.
Ada tiga faktor penting yang terkait dalam pembedahan, yaitu penyakit pasien,
jenis pembedahan yang dilakukan dan pasien sendiri. Dari ketiga faktor tersebut
faktor pasien merupakan hal yang paling penting, karena bagi penyakit tersebut

3
tidakan pembedahan adalah hal yang baik/benar. Tetapi bagi pasien sendiri
pembedahan mungkin merupakan hal yang paling mengerikan yang pernah mereka
alami. Mengingat hal terebut diatas, maka sangatlah pentig untuk melibatkan pasien
dalam setiap langkah – langkah  perioperatif.  Tindakan perawatan perioperatif yang
berkesinambungan dan tepat akan sangat berpengaruh terhadap suksesnya
pembedahan dan kesembuhan pasien.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Perioperatif
1. Pengertian Perioperatif
Perioperatif atau perioperasi merupakan tahapan dalam proses
pembedahan yang dimulai dari prabeda (preoperatif), bedah (intraoperatif), dan
pascabedah (postoperatif). Praoperatif merupakan masa sebelum dilakukannya
tindakan pembedahan yang dimulai sejak ditentukannya persiapan pembedahan
dan berakhir sampai pasien berada dimeja bedah.
2. Aspek Legal dalam Pembedahan
Aspek legal adalah hal yang penting dalam melaksanakan pembedahan
untuk mengantisipasi kemungkinan dampak yang terjadi. Melalui surat
persetujuan dilakukannya tindakan (informed consent),berbagai informasi
mengenai sifat, prosedur yang akan dilakukan, adanya pilihan terhadap
prosedur pembedahan, serta resiko terhadap pilihan dari pembedahan dapat
diketahui oleh pasien. Informed consent pada dasarnya bertujuan untuk
melindungi pasien dari tindakan yang dilakukan, serta melindungi tim
pembedah dari pengaduan atau tuntutan hukum.
3. Tahap-tahap Perioperatif
1. Fase Preoperatif
Fase preoperatif merupakan tahap pertama dari perawatan
perioperatif yang dimulai ketika pasien diterima masuk di ruang terima
pasien dan berakhir ketika pasien dipindahkan kemeja operasi untuk
dilakukan tindakan pembedahan (Brunner & Suddarth, 2015).
Asuhankeperawatan pre operatif pada prakteknya akan dilakukan secara
berkesinambungan, baik asuhan keperawatan pre operatif di bagian rawat
inap, poliklinik, bagian bedah sehari (oneday care), atau di unit gawat
darurat yang kemudian dilanjutkan di kamar operasi oleh perawat kamar
bedah (Muttaqin & Sari, 2016).
Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut
dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien di tatanan klinik ataupun
rumah, wawancara preoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang

5
diberikan pada saat pembedahan.Tujuan diberikan asuhan keperawatan
preoperatif untuk mencegah kegagalan operasiakibat ketidak stabilan kondisi
pasien. Untuk itu perlu dilakukan persiapan pembedahan dapat dibagi
menjadi 2 bagian, yang meliputi persiapan psikologi baik pasien mau pun
keluarga dan persiapan fisiologi (khusus pasien).
1) Persiapan psikologi
Terkadang pasien dan keluarga yang akan menjalani operasi emosinya
tidak stabil. Halini dapat disebabkan karena takut akan perasaan sakit,
narcosa atau hasilnya dankeeadaan sosial ekonomi dari keluarga. Maka
hal ini dapat diatasi dengan memberikan penyuluhan untuk mengurangi
kecemasan pasien. Meliputi penjelasan tentang peristiwa operasi,
pemeriksaan sebelum operasi (alasan persiapan), alat khusus
yangdiperlukan, pengiriman ke ruang bedah, ruang pemulihan,
kemungkinan pengobatanpengobatan setelah operasi, bernafas dalam dan
latihan batuk, latihan kaki,mobilitas dan membantu kenyamanan.
2) Persiapan fisiologi, meliputi :Diet (puasa) pada operasi dengan
anaesthesi umum, 8 jam menjelang operasi pasientidak diperbolehkan
makan, 4 jam sebelum operasi pasien tidak diperbolehkan minum.Pada
operasai dengan anaesthesi lokal /spinal anaesthesi makanan
ringandiperbolehkan.Tujuannya supaya tidak aspirasi pada saat
pembedahan, mengotori mejaoperasi dan mengganggu jalannya
operasi.Persiapan perut, yaitu pemberian leuknol/lavement sebelum
operasi dilakukan pada bedah saluran pencernaan atau pelvis daerah
periferal. Tujuannya mencegah ciderakolon, mencegah konstipasi dan
mencegah infeksi.Persiapan kulit, yaitu daerah yang akan dioperasi harus
bebas dari rambut. Tujuannyamencegah terjadinya infeksi.Hasil
pemeriksaan, yaitu hasil laboratorium, foto roentgen, ECG, USG dan
lain-lain.Tujuannya untuk mencegah kesalahan lokasi yang akan
dioperasi.Persetujuan operasi / Informed Consent, yaitu izin tertulis dari
pasien / keluarga harus tersedia.

6
2. Fase Intraoperatif
Fase intraoperatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindahkan ke
instalasi bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan
(Brunner & Suddarth, 2015). Padafase ini lingkup aktivitas keperawatan
mencakup pemasangan IV keteter, pemberianmedikasi intaravena,
melakukan pemantauan kondisi fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur
pembedahan dan menjaga keselamatan pasien.Contoh : memberikan
dukungan psikologis selama induksi anastesi, bertindak sebagai perawat
scrub, atau membantumengatur posisi pasien di atas meja operasi dengan
menggunakan prinsip-prinsip dasar kesimetrisan tubuh. Tujuan diberikan
asuhan keperawatan intraoperatif agar operasi berjalan dengan aman, sesuai
prosedur, dan tidak ada komplikasi saat di meja operasi.Prinsip tindakan
keperawatan selama pelaksanaan operasi yaitu pengaturan posisi karena
posisi yang diberikan perawat akan mempengaruhi rasa nyaman pasien dan
keadaan psikologis pasien. Faktor yang penting untuk diperhatikan dalam
pengaturan posisi pasien adalah :
1) Letak bagian tubuh yang akan dioperasi.
2) Umur dan ukuran tubuh pasien.
3) Tipe anaesthesia yang digunakan.
4) Sakit yang mungkin dirasakan oleh pasien bila ada pergerakan (arthritis).
5) Prinsip-prinsip didalam pengaturan posisi pasien : Atur posisi pasien
dalam posisi yang nyaman dan sedapat mungkin jaga privasi pasien,
buka area yang akan dibedahdan kakinya ditutup dengan duk.
Anggota tim asuhan pasien intra operatif biasanya di bagi dalam dua bagian.
Berdasarkan kategori kecil terdiri dari anggota steril dan tidak steril :
a) Anggota steril, terdiri dari: ahli bedah utama / operator, asisten ahli
bedah, Scrub Nurse / Perawat Instrumen.
b) Anggota tim yang tidak steril, terdiri dari: ahli atau pelaksana anaesthesi,
perawat sirkulasi dan anggota lain (teknisi yang mengoperasikan alat-alat
pemantau yangrumit).
3) Fase Postoperatif Fase Post operatif merupakan tahap lanjutan dari perawatan
pre operatif dan intra operatif yang dimulai ketika klien diterima di ruang

7
pemulihan (recovery room) / pasca anaestesidan berakhir sampai evaluasi
tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah (Brunner &Suddarth, 2015).
Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan mencakup rentang aktivitas yang
luas selama periode ini. Pada fase ini fokus pengkajian meliputi efek agen
anastesi dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas
keperawatan kemudian berfokus pada peningkatan penyembuhan pasien dan
melakukan penyuluhan, perawatan tindak lanjut danrujukan yang penting
untuk penyembuhan mdan rehabilitasi serta pemulangan ke rumah.
Tujuan diberikan asuhan keperawatan postoperatif untuk mempertahankan
kepatenan jalan nafas akibat efek anastesi yang mempengaruhi depresi
pernapasan. Fase post operatif meliputi beberapa tahapan, diantaranya
adalah:
a) Pemindahan pasien dari kamar operasi ke unit perawatan pasca anastesi
(recoveryroom) Pemindahan ini memerlukan pertimbangan khusus
diantaranya adalah letak insisi bedah, perubahan vaskuler dan
pemajanan. Pasien diposisikan sehingga ia tidak berbaring pada posisi
yang menyumbat drain dan selang drainase. Selama
perjalanantransportasi dari kamar operasi ke ruang pemulihan pasien
diselimuti, jaga keamanandan kenyamanan pasien dengan diberikan
pengikatan diatas lutut dan siku serta siderail harus dipasang untuk
mencegah terjadi resiko injury. Proses transportasi inimerupakan
tanggung jawab perawat sirkuler dan perawat anastesi dengan
koordinasidari dokter anastesi yang bertanggung jawab.
b) Perawatan post anastesi di ruang pemulihan atau unit perawatan pasca
anastesi.Setelah selesai tindakan pembedahan, pasien harus dirawat
sementara di ruang pulihsadar (recovery room : RR) atau unit perawatan
pasca anastesi (PACU: post anasthesiacare unit) sampai kondisi pasien
stabil, tidak mengalami komplikasi operasi danmemenuhi syarat untuk
dipindahkan ke ruang perawatan. PACU atau RR biasanyaterletak
berdekatan dengan ruang operasi. Hal ini disebabkan untuk
mempermudahakses bagi pasien untuk:

8
 Perawat yang disiapkan dalam merawat pasca operatif (perawat
anastesi).
 Ahli anastesi dan ahli bedah.
 Alat monitoring dan peralatan khusus penunjang lainnya.
B. ASUHAN KEPERAWATAN PREOPERATIF
1. PRABEDAH
a. Pengkajian Keperawatan
Beberapa hal yang perlu dikaji dalam tahap prabedah adalah
pengetahuan tentang persiapan pembedahan dan pengalaman masa lalu,
kesiapan psikologis, pengobatan yang mempengaruhi kerja obat dan
anestesi, seperti anti biotika yang berpontensi dalam istirahat otot,
antikoagulan yang dapat meningkatkan perdarahan, antihipertensi yang
mempengaruhi anestesi yang dapat menyebabkan hipotensi, diuretika yang
berpengaruh pada ketidak seimbanganpotasium, dan lain-lain. Selain itu
terdapat juga pengkajian terhadap riwayat alergi obat atau lainnya, status
nutrisi, ada atau tidaknya alat protesa seperti gigi palsu dan sebagainya.
Pemeriksaan lainnya yang dianjurkan sebelum pelaksanaan bedah
adalah radiografi thoraks, kapasitas vital, fungsi paru, dan analisis gas
darah pada pemautan sistem respirasi, kemudian pemeriksaan
elektroradiogram, darah, leukosit, eritrosit, hematokrit, elektrolit,
pemeriksaan air kencing, albumin, blood urea nitrogen (BUN), kreatin, dan
lain-lain untuk menentukan gangguan sistem renal dan pemeriksaan kadar
gula darah atau lainnya untuk mendeteksi gangguan metabolisme.
2. Pembagian anstesi regional
1. Blok sental (blok neuroaksial), meliputi spinal, epidural dan kauda
2. Blok perifer (blok saraf) misalnya anestesi topikal, infiltrasi lokal, blok
lapangan, blok saraf, dan blok regional intravena
3. Obat analgetik lokal/regional
Secara kimia, anestesi lokal digolongkan sebagai berikut :
1. Senyawa ester
Adanya ikatan ester sangat menentukan sifat anestesi lokal sebab pada
degradasi daninaktivasi di dalam tubuh, gugus tersebut akan dihidrolisis.

9
Karena itu golongan esterumumnya kurang stabil dan mudah mengalami
metabolisme dibandingkan golonganamida. Contohnya: tetrakain,
benzokain, kokain, prokain dengan prokain sebagai prototip.
2. Senyawa amida
Contohnya senyawa amida adalah dibukain, lidokain, mepivakain dan
prilokain.
Absorbsi obat:
1) Absorbsi melewati mukosa, tapi tidak dapat melewati kulit yang utuh,
harus disuntikkejaringan subkutis.
2) Obat vasokonstriktor yang ditambahkan pada larutan analgetik lokal
memperlambat absorbsi sistemik dengan akibat memperpanjang masa
kerja dan mempertinggi dosis maksimum.
3) Mempengaruhi semua sel tubuh, dengan pedileksi khusus memblokir
hantaran sarafsensorik
4) Kecepatan detoksikasi tergantung jenis obat berlangsung dengan
pertolongan enzimdalam darah dan hat. Sebagian dikeluarkan dalam
bentuk bahan-bahan degradasi dansebagian dalam bentuk asal
melalui ginjal (urin)
5) Untuk daerah yang diperdahari oleh arteri buntu (end artery) seperti
jari dan penisdilarang menambah vasokonstriktor. Penambahan
vasokonstriktor hanya dilakukanuntuk daerah tanpa arteri buntu
umumnya digunakan adrenalin dengan konsentrasi1:200 000.
4. Komplikasi obat anestesi local
Obat anestesi lokal, melewati dosis tertentu merupakan zat toksik,
sehingga untuk tiap jenis obat anestesi lokal dicantumkan dosis maksimalnya.
Komplikasi dapat bersifat lokalatau sistemik
1. Komplikasi local
1) Terjadi ditempat suntikan berupa edema, abses, nekrosis dan
gangrene.
2) Komplikasi infeksi hampir selalu disebabkan kelainan tindakan
asepsis dan antisepsis.

10
3) Iskemia jaringan dan nekrosis karena penambahan vasokonstriktor
yangdisuntikkan pada daerah dengan arteri buntu
2. Komplikasi sistemik
1) Manifestasi klinis umumnya berupa reaksi neurologis dan
kardiovaskuler.
2) Pengaruh pada korteks serebri dan pusat yang lebih tinggi adalah
berupa perangsangan sedangkan pengaruh pada pons dan batang otak
berupa depresi.3. Pengaruh kardiovaskuler adalah berupa penurunan
tekanan darah dan depresimiokardium serta gangguan hantaran listrik
jantung.
C. Macam-macam anestesi
1. Anestesi umum
Menurut Soenardjo (2015), anestesi umum adalah menghilangkan rasa
sakit seluruh tubuh secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat
reversible. Perbedaan dengan anestesi lokal antara lain, pada anestesi lokal
hilangnya rasa sakit setempat sedang pada anestesi umum seluruh tubuh. Pada
anestesi lokal yang terpengaruh syaraf perifer, sedang pada anestesi umum
yang terpengaruh syaraf pusat dan pada anestesi lokal tidak terjadi kehilangan
kesadaran.
Di dalam praktek obat-obat anestesi dimasukkan ke dalam tubuh melalui
inhalasi, atau parental, ada pula yang dimasukkan melalui rektal tetapi jarang
dilakukan. Yang melalui inhalasi antara lain: N20, halothan, enflurane, ether,
isoflurane, sevoflurane, metoxiflurane, trilene. Faktor yang mempengaruhi
anestesi antara lain:
a. Faktor respirasi (untuk obat inhalasi).
b. Faktor sirkulasi.
c. Faktor jaringan.
d. Faktor obat anestesi.
Pemberian anestesi dimulai dengan induksi yaitu memberikan obat se-
hingga penderita tidur. Tergantung lama operasinya, untuk operasi yang
waktunya pendek mungkin cukup dengan induksi saja. Tetapi untuk operasi
yang lama, kedalaman anestesi perlu dipertahankan dengan memberikan obat

11
terus menerus dengan dosis tertentu, hal ini disebut maintenance atau
pemeliharaan, setelah tindakan selesai pemberian obat anestesi dihentikan dan
fungsi tubuh penderita dipulihkan, periode ini disebut pemulihan/recovery.
Untuk operasi-operasi tertentu diperlukan anestesi umum sampai tingkat
kedalamannya mencapai trias anestesi yaitu penderita tidur, analgesi cukup
dan terjadi relaksasi otot. Pada penderita yang tingkat analgesinya tidak
cukup dan tidak mendapat pelemas otot, maka bila mendapat rangsang nyeri
dapat timbul:
a. Gerakan lengan atau kaki.
b. Penderita akan bersuara, suara tidak timbul pada penderita yang me-
makai pipa endotrakeal.
c. Adanya lakrimasi.
d. Pernafasan tidak teratur, menahan nafas, stridor laringeal,
broncospasme.
e. Tanda-tanda adanya adrenalin release, seperti denyut nadi bertambah
f. cepat, tekanan darah meningkat, berkeringat.

2. Anestesi local
Menurut Soenardjo (2015). anestesi lokal (atau mungkin lebih tepat analgesi
lokal) menunjukkan anestesi pada sebagian tubuh, keadaan bebas nyeri tanpa
kehilangan kesadaran kecuali digunakan teknik anestesi gabungan anestesi umum dan
anestesi lokal atau digunakan sedasi. Absorpsi anestetik lokal dari tempat penyuntikan
ke dalam sirkulasi sistemik dipengaruhi oleh:
a. Tempat penyuntikan dan dosis.
b. Penggunaan epinefrin.
c. Karakteristik farmakologik.
Tindakan anestesi lokal diindikasikan pada keadaan-keadaan sebagai berikut:
1) Setiap prosedur, di mana anestesi lokal akan menghasilkan kondisi operasi
yang nyaman/memuaskan. Misalnya pada operasi "Trans Urethral Resection"
Prostat, bila dilakukan anestesi regional hasilnya tidak banyak perdarahan
karena tensi tidak meningkat, disamping itu bila ada komplikasi hipo- natremi
akibat tertariknya Na+ oleh air irrigator dapat cepat dikenali dengan adanya

12
penurunan kesadaran, mual, kejang.
2) Penyakit paru, di mana posisi operasi masih dapat ditolerir oleh pasien.
Misalnya operasi tumor paha depan pada pasien paru yang sikap terpaksanya
tidur setengah duduk (agar napas tidak sesak).
3) Riwayat reaksi yang tidak baik dengan anestetik umum. Kadang-kadang
pasien setelah anestesi umum, muntah-muntah cukup lama, pulih sadar
terlambat dan lain-lain.
4) Operasi darurat tanpa puasa yang adekuat.
Ini dimaksudkan untuk menghindari aspirasi isi lambung (bila terjadi muntah,
pasien.
Adapun teknik/cara pemberian anestesi lokal adalah sebagai
berikut:
1)Topikal :anestetik lokal disemprotkan pada mukosa/kulit.
2)Infiltrasi :anestetik lokal di infiltrasikan di bawah kulit.
3)Blok Syaraf :anestetik lokal disuntikkan sekitar syaraf perifer.
4)Blok Epidural :anestetik lokal disuntikkan pada ruang epidural.
Blok subdural/spinal: anestetik lokal disuntikkan pada ruang subdural.
5) Intravena regional : anestetik lokal disuntikkan pada i. v. anggota atas/
bawah, setelah terlebih dahulu vena dikosongkan dan pangkal anggota
dibebat.

3. Anestesi regional
Anestesi regional merupakan suatu metode yang lebih bersifat sebagai analgesik.
Anestesi regional hanya menghilangkan nyeri tetapi pasien tetap dalam keadaan sadar.
Oleh sebab itu, teknik ini tidak memenuhi trias anestesi karena hanya menghilangkan
persepsi nyeri saja (Pramono, 2017). Menurut Black (2019), ada beberapa tipe anestesi
regional, yaitu spinal, epidural, kaudal, topikal, infiltrasi lokal, blok area, blok saraf tepi,
dan blok regional intravena. Keuntungan anestesi regional menurut Arvianty (2015):
a. Alat minim dan teknik relatif sederhana
b. Relatif aman
c. Tidak ada komplikasi jalan nafas dan respirasi
d. Perawatan post OP lebih ringan.

13
Menurut Arvianty (2015), ada beberapa kerugian anestesi regional:
1) Tidak semua penederita mau dilakukan
anastesi regional.
2) Butuh kerjasama pasien kooperatif.
3) Sulit diterapkan pada anak-anak.
4) Terdapat kemungkinan kegagalan pada teknik anestesi regional.

14
BAB III
TINJAUN KASUS
1. Pengkajian
Hari/tanggal                : Sabtu, 4 Januari 2014
Tempat                        : Ruang IBS RSUD Kebumen
Jam                              : 09.00 WIB
Metode                        : Observasi dan anamnesa
Sumber                        : Pasien dan Rekam  medic

A. Identitas pasien
a. Nama                                       : Ny. P
b. Umur                                       : 45 tahun
c. Jenis kelamin                           : Perempuan
d. Alamat                                      : Sadang wetan 4/1, Kebumen
e. Pekerjaan                                 : IRT
f. Status                                      : Menikah
g. No. RM                                   : 249744
h. Tgl. Masuk                              : 3 Januari 2014

B. Penanggung Jawab
a. Nama                                       : Tn. S
b. Umur                                       : 50 tahun
c. Alamat                                     : Sadang Wetan 4/1, Kebumen
d. Hubungan dengan pasien        : Suami

C. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama
Pasien mengeluh  nyeri pada benjolan dilehernya
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluh nyeri dirasakan 2 bulan yang lalu,nyeri dirasakan hilang
timbul, dan  teraba benjolan dileher.
3. Riwayat penyakit dahulu
Pasien belum pernah menjalani operasi pada daerah leher
4. Riwayat penyakit keluarga

15
Pasien mengatakan tidak ada satupun keluarganya yang mengalami penyakit
yang diderita pasien.

D. Fokus pengkajian fungsional menurut Virnia Handersoon


1. Kebutuhan bernafas dengan normal
Baik sebelum dan selama di rumah sakit pasien dapat bernafas spontan,
sesak nafas (-).
2.  Kebutuhan nutrisi
Pasien mengatakan sebelum dan selama di rumah sakit nafsu makannya
baik, dan tidak ada anoreksia maupun vomitus, frekuensi makan teratur.
3. Kebutuhan eliminasi
Pasien mengatakan baik BAB/BAK selama dirumah maupun dirumah sakit
tidak ada keluhan
4. Kebutuhan istirahat dan tidur
Pasien mengatakan sering terbangun tidurnya apabila merasakan nyeri pada
lehernya
5. Kebutuhan rasa aman dan nyaman
Pasien mengatakan nyeri yang dirasakan dan perubahan pada lehernya
membuat cemas terhadap kondisi fisik tubuhnya.

E. Keadaan umum
1. Suhu                            : 36,5 C
2. Nadi                            : 105 kali/menit
3. Tekanan darah             : 170/100 mmHg
4. RR                               : 20 kali/menit
5. Berat badan                 : 65 kg

F. Pemeriksaan fisik
1. KU                              : cukup
2. Kesadaran                   : Compos mentis (E4,V5,M6)
3. Cepalo – caudal          :
4. Kepala : mesochepal, konjungtiva ananemis, skelera
anikterik,

16
5. Leher : tidak terdapat pembesaaran kelenjar getah bening,
tidak terdapat peningkatan JVP, terdapat benjolan diameter ± 7 cm, benjolan
teraba lunak dan mobile.
6. Thoraks:
Auskultasi          : vesicular semua lapang paru. BJ 1-2 murni.
7. Abdomen:
1. Inspeksi                   : tak tampak kelainan
2. Auskultasi               : peristaltic (+) 15 x/m
3. Palpasi                     : tidak terdapat pembesaran hepar maupun limpa
4. Perkusi                    : timpani (+). 
5. Inguinalis: tidak ada pembesaran inguinalis.
6. Ekstremitas (kulit dan kekuatan)
7. Turgor kulit baik, acral hangat, pengisian kapiler < 3 detik, terpasang
IV line di lengan sebelah kiri, tidak ada edema maupun varises,
kekuatan keempat ekstremitas baik.

G. Pemeriksaan Penunjang
Data laboratorim tanggal 17 Desember 2013
Jenis Hasil Satuan Normal
Pemeriksaan
Darah
-          Hb 11,5 g/dl 11,7-15,5
-          Leukosit 8,7  /ul 3,6-11
-          HT 35 35-47
-          Eritrosit /ul 3,3-5,2
-          Trombos 4,6  /ul 150-400
it 260  Menit 1-3
-          BT 3 Menit 3-6
-          CT 3
Kimia klinik
-          GDS 104 mg/dl 70-120
-          Ureum 25 mg/dl 15-50
-          Kreatinin 0,49 mg/dl 0,4-0,9
-          SGOT 17 u/l 0-35
-          SGPT 18 u/l 0-35

17
H. Asuhan Keperawatan Pre Operasi
1. Analisa Data

No Hari/ tgl/jam Data Masalah Etiologi


1 Sabtu, 4 Ds : Nyeri Agen injuri
januari 2014 - P:  pasien mengatakan nyeri
akut biologis
pada payudara kirinya
- Q: nyeri seperti ditusuk-tusuk
- R: regio mamae sinistra pars
superior
- S: skala nyeri 5
- T: hilang timbul
Do:
- Pasien tampak sesekali
mengerutkan dahi ketika
menahan nyerinya
- Pasien tampak sesekali
memegangi benjolan pada
lehernya
-  HR : 105 kali/menit

2. Rumusan Diagnosa Keperawatan


Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis
3. Rencana Pre Operasi
Dx Tujuan Intervensi Rasional
Setelah diberikan - Tentukan - Data-data mengenai
tindakan pengalaman klien pengalaman klien
keperawatan selama sebelumnya terhadap sebelumnya akan
1x 5 menit penyakit yang memberikan dasar
diharapkan cemas dideritanya. untuk penyuluhan dan
berkurang dengan - Berikan informasi menghindari adanya
criteria hasil : tentang prognosis duplikasi.
- Klien dapat secara akurat. - Pemberian informasi
mengurangi rasa - Beri kesempatan dapat membantu klien
cemasnya pada klien untuk dalam memahami
- Rileks dan dapat mengekspresikan rasa proses penyakitnya.
melihat dirinya marah, takut, - Dapat menurunkan
secara obyektif. konfrontasi. Beri kecemasan klien.
- Menunjukkan informasi dengan - Membantu klien dalam
koping yang emosi wajar dan memahami kebutuhan
efektif serta ekspresi yang sesuai untuk pengobatan dan
mampu - Jelaskan pengobatan, efek sampingnya.
berpartisipasi tujuan dan efek - Mengetahui dan

18
dalam samping. Bantu klien menggali pola koping
pengobatan. mempersiapkan diri klien serta
dalam pengobatan. mengatasinya/memberi
- Catat koping yang kan solusi dalam upaya
tidak efektif seperti meningkatkan
kurang interaksi kekuatan dalam
sosial, ketidak mengatasi kecemasan.
berdayaan - Agar klien
- Anjurkan untuk memperoleh dukungan
mengembangkan dari orang yang
interaksi dengan terdekat/keluarga.
support system. - Klien mendapatkan
- Pertahankan kontak kepercayaan diri dan
dengan klien, bicara keyakinan bahwa dia
dan sentuhlah dengan benar-benar ditolong
wajar.

4. 32`1323`3Pelaksanaan Dan  Evaluasi Preoperasi

Dx Tanggal/jam Implementasi Evaluasi


04/01/2014, jam - Tentukan riwayat - Nyeri masih dirasakan
09.00 nyeri, lokasi, durasi hilang timbul pada daerah
dan intensitas benjolan
- Berikan pengalihan - Pasien mampu merespon
seperti reposisi dan ketika ditanya,
aktivitas berkomunikasi terbuka
menyenangkan seperti menceritakan kondisi
mendengarkan musik kesakitanya
atau berkomunikasi - Pasien mampu
- Menganjurkan tehnik melakukan tekhnik
penanganan stress relaksasi secara mandiri,
(tehnik relaksasi, nyeri masih hilang timbul
visualisasi,
bimbingan), gembira,
dan berikan sentuhan
therapeutik

I. Asuhan Keperawatan Intra Bedah


1. Analisa data intra operasi

19
No Hari/ tgl/jam Data Masalah Etiologi
1 Selasa, 17 Ds :      - Resiko Kehilangan
Desember Do: kekurangan cairan aktif
2013 - Input :
volume
Makan : puasa
Minum :puasa cairan
Infuse   : 400 cc
AM       : 5 ml/Kgbb/hari,
jadi 325 cc/hari = 14
ml/jam, 2 jam = 28 ml/jam.
- Output
Urin       :
0,5-1ml/Kgbb/jam, jadi
32,5-65 cc/jam, 2 jam = 110
cc
Perdarahan  : ± 100 cc
Iwl         : 15ml/kgbb/hari,
jadi 975 ml/hari =  40,5
ml/jam, 2 jam 90 cc.
- Bc : intake – output
      : 425- 250
      : + 175
- Kebutuhan cairan : 30-
40 ml/kg bb/hari =
1950-2600 ml/hari =
162 – 216 cc/2jam
2. Rumusan Diagnosa Keperawatan
Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan kenilangan cairan aktif
3. Rencana intra operasi
Dx Tujuan Intervensi Rasional
Setelah diberikan - Monitor status - Mengetahui tanda-
tindakan keperawatan hidrasi tanda syok
diharapkan tidak - Monitor status hipovolemik
terjadi perdarahan hemodinamik - Mengetahui respon
berlebih dengan pasien organ vital akibat
kriteria hasil: - Monitor balance kehilangan cairan aktif
- Urin output dalam cairan - Mempertahankan
rentang normal - Monitor pemberian keseimbangan cairan
- Status cairan melalui intra normal
hemodinamik vena - Memenuhi kebutuhan

20
dalam rentang - Monitor perdarahan cairan elektrolit tubuh
normal selama operasi - Bernanfaat untuk
- Tidak terdapat terapi resusitasi cairan
tanda-tanda syok
hipovolemik

4. Pelaksanaan Dan Evaluasi Intra Operasi

Dx Tanggal/jam Implementasi Evaluasi


04/01/2014, jam - Memonitor status - Tak tampak tanda-
11.00 WIB hidrasi tanda syok
- Memonitor status hipovolenik
hemodinamik pasien - Tekanan darah :
- Memonitor balance 130/80 mmHg, nadi
cairan 75 x/menit, RR :20
- Memonitor kali/menit, SpO2 : 98
pemberian cairan %.
melalui intra vena - Status cairan adekuat,
- Memonitor - Bc : intake – output
perdarahan selama       : 425- 250
operasi       : + 175
- Kebutuhan cairan : 30-
40 ml/kg bb/hari =
1950-2600 ml/hari =
162 – 216 cc/2jam
- Cairan Rl 400 ml,
masuk via intra vena
selama operasi
- Perdarahan aktif
selama operasi (-)
J. Asuhan Keperawatan Paska Operasi
1. Analisa Data Pasca Operasi
No Hari/ tgl/jam Data Masalah Etiologi
1 Selasa, 18 Ds :  - Gangguan Efek
Desember Do:  Respirasi rate  : 22 pertukaran gas samping
2013 kali/menit penggunaan
- SpO2 :  95% obat anastesi
- Pucat
- Nafas spontan
- Nadi : 74 x/menit
- Tekanan darah : 150/90

21
mmHg
- Akral hangat
- RT <2 detik
- Stewart score 3
- Terpasang  mayo

2. Rumusan Diagnosa Keperawatan


Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan efek samping penggunaan
obat anastesi
3. Rencana Pasca Operasi
Dx Tujuan Intervensi Rasional
Setelah diberikan - Pertahankan jalan nafas - Mencegah obstruksi
tindakan pasien adekuat dengan jalan nafs dan
keperawatan 1 kali memringkan kepala atau mencegah aspirasi
15 menit hiperekstensi rahang - Memaksimalkan
diharapkan - Letakan klien pada ventilasi paru bagian
pertukaran gas posisi yang sesuai, bawah dan
adekuat dengan tergantung pada menurunkan tekanan
kriteria hasil: kekuatan pernafasan pada diafragma
- Tanda-tanda dan jenis pembedahanya - Mengidentifikasi
vital dalam - Pantau tanda-tanda vital adanya tanda-tanda
rentang normal - Menstimulasi pasien hipoksi
- Tidak terdapat untuk melakukan - Meningkatkan
sianosis mobilisasi dini sirkulasi
- Tidak terdapat - Berikan oksigen sesuai - Memenuhi kebutuhan
hipoksia indikasi oksigen tubuh
- Monitor status - Mengevaluasi sejauh
kesadaran pasien mana intervensi yang
dibeikan

22
4. Pelaksanaan Dan Evaluasi Pasca Operasi

Dx Tanggal/jam Implementasi Evaluasi


04/01/2014, - mertahankan jalan nafas - nafas spontan, posisi kepala
jam 10.15 pasien adekuat dengan ekstensi, mampu menelan
WIB memringkan kepala atau ludah
hiperekstensi rahang - posisi pasien supinasi
- meletakan klien pada dengan diganjal bantal
posisi yang sesuai, dibawah bahu, jalan nafas
tergantung pada lebih adekuat , SpO2 98%
kekuatan pernafasan dan - Tekanan darah : 150/900
jenis pembedahanya mmHg, nadi 80 kali/menit,
- memantau tanda-tanda RR 20 kali/menit
vital\menstimulasi - Pasien masih lemah, respon
pasien untuk melakukan gerak minimal
mobilisasi dini - Oksigen 3 LPM masuk via
- memberikan oksigen kanul, kesadaran meningkat
sesuai indikasi - Nilai stewart score 4
- memonitor status
kesadaran pasien

23
DAFTAR PUSTAKA

Arvianty, Intan. (2015). Anestesi Regional. Bandung: P3D Fakultas Kedokteran UNISBA
Black, Joyce. (2019). Medical Surgical Nursing. Singapore: Elsevier
Brunner and Suddarth. (2015). Text Book Of Medical Surgical Nursing Definisi dan Indikator
Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI
Kozier (2020). Buku Ajr Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan
Muttaqin, A & Sari, K (2016), Asuhan Keperawatan Perioperatif: Konsep, Proses,
Padila, (2017). BukuAjar :Keperawatan Medikal Bedah. Praktik. Jakarta. EGC
Pramono, A. (2017). Buku Kuliah Anestesi. Jakarta: EGC
Soenardjo., Marwoto., Witjaksono., dkk. (2015). Anestesiologi. Semarang: Perhimpunan Dokter
Spesialis Anestesi Terapi Intensif.
TimPokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
Yogyakarta :Nuha Medika

24

Anda mungkin juga menyukai