Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

Beberapa waktu yang lalu masalah euthanasia mulai sering dibicarakan oleh masyarakat Indonesia. Euthanasia secara sederhana dapat diartikan sebagai bentuk pengakhiran hidup kepada seseorang yang mengalami sakit berat atau parah dengan kematian tenang dan mudah atas nama perikemanusiaan. Berkembangnya polemic di masyarakat antara masalah hak asasi manusia dengan kepercayaan bahwa awal dan akhir hidup manusia ada di tangan Tuhan. Tindakan ini dilakukan secara legal menurut undang-undang untuk pertama kali adalah di negara Belanda, negara pertama di dunia yang telah secara hukum menyetujui euthanasia. Meskipun begitu, tindakan tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati dan dengan berbagai perhitungan terlebih dahulu. Di Indonesia, euthanasia masih merupakan perdebatan nilai-nilai moral yang selama ini dianut masyarakat. Sementara itu, bunuh diri merupakan suatu upaya yang disadari dan bertujuan untuk mengakhiri kehidupan, individu secara sadar dan berhasrat dan berupaya melaksanakan hasratnya untuk mati. Perilaku bunuh diri meliputi isyarat-isyarat, percobaan atau ancaman verbal, yang akan mengakibat kan kematian, luka atau menyakiti diri sendiri . Angka kasus bunuh diri pada kalangan anak hingga remaja di Indonesia termasuk tinggi di Asia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO, pada 2005 tercatat 50 ribu penduduk Indonesia bunuh diri setiap tahun.

BAB II SKENARIO KASUS Skenario 1 Mino, 27 tahun, diantar tetangganya berobat di sebuah rumah sakit pemerintah karena demam dan batuk-batuk sudah lama dan tidak kunjung sembuh. Pasien tampak tidak terawat dengan baik, pucat, lemah dan kurus. Pada pemeriksaan diketahui pasien menderita pneumonia dan positif menderita HIV/AIDS. Skenario 2 Dari riwayat kehidupan peribadinya diketahui, pasien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Keluarganya cukup harmonis dan kondisi sosial ekonomi juga cukup baik. Dari sejak kecil, pasien terkenal sebagai anak yang sulit diatur. Ketika pasien duduk di kelas 5 sekolah dasar, sudah biasa merokok dan bahkan sudah menggunakan obat-obat terlarang. Pada saat duduk di SMP, pasien sudah berani pergi ke prostitusi, melakukan hubungan seks dengan psk, dan pasien sudah kecanduan heroin. Di lengannya tampak bekas-bekas tusukan jarum suntik. Beberapa kali pasien ditangkap polisi dan dimasukkan ke panti rehabilitasi, namun pasien kembali menggunakan heroin. Skenario 3 Keluarga pasien merasa kewalahan mengurus pasien. Sesudah pasien diberi warisan yang menjadi haknya, keluarganya tidak mau lagi berurusan dengan pasien. Segala perbuatannya harus ia tanggung sendiri dan keluarganya sudah lepas tangan. Uang dari warisan sudah habis digunakan untuk membeli heroin dan berfoya-foya dengan psk. Sebelum dirawat, pasien sering tampak mengemis di jalan untuk menyambung hidupnya. Kepada dokter yang

merawat, pasien berkali-kali minta agar disuntik saja obat yang mematikan karena hidupnya sudah tidak ada manfaatnya lagi bahkan sering menyusahkan orang lain. Skenario 4 Pasien tampak begitu sedih dan kecewa ketika dokter tidak kunjung mau menyuntikkan obat yang mematikan. Dengan sisa tenaga yang masih ada, pasien lalu terjun bebas dari lantai 5 tempat ia dirawat. Beruntung pasien masih bias diselamatkan, namun ia menderita cedara kepala parah dan tidak sadarkan diri. Tiga hari kemudian pasien meninggal dunia.

BAB III PEMBAHASAN

Identitas Pasien Nama : Mino

Jenis Kelamin : Laki-laki Usia Alamat Pekerjaan Status : 27 tahun ::: Belum Menikah : Demam dan batuk-batuk yang lama dan tidak sembuh

Keluhan utama

Keluhan tambahan : Tampak pucat, lemah, kurus dan tidak terawat dengan baik Riwayat kehidupan pribadi : - Anak ketiga dari tiga bersaudara -Punya keluarga yang harmonis dan kondisi sosial ekonomi cukup baik -Merupakan anak yang sulit diatur sejak kecil -Punya kebiasaan merokok dan penggunaan obat terlarang ketika kelas 5 sekolah dasar -Sudah pernah berhubungan seks dengan psk dan kecanduan heroin saat SMP -Terdapat bekas-bekas tusukan jarum suntik di lengan -Pernah beberapa kali ditangkap polisi dan dimasukkan ke panti rehabilitasi, namun kembali menggunakan heroin Hasil pemeriksaan: Menderita pneumonia dan positif HIV/AIDS

Berdasarkan anamnesis dan hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap pasien, antara masalah-masalah yang dapat disimpulkan adalah:
1. Demam dan batuk yang lama dan tidak sembuh pneumonia

2. HIV/AIDS positif
3. Tidak mempunyai motivasi hidup pasien meminta untuk disuntik mati 4. Tampak tidak terawat dengan baik, pucat, lemah dan kurus pasien hidup

bersendirian dan tidak berkeluarga. Diantar ke rumah sakit oleh tetangganya


5. Anak yang sulit diatur 6. Riwayat penggunaan obat-obat terlarang

7. Melakukan seks bebas dan kecanduan heroin 8. Ada kontak dengan cairan dari obat terlarang 9. Statusnya tetap dalam kecanduan narkoba (heroin) 10. Tidak ada dukungan dari keluarga
11. Punya masalah keuangan yang parah

Dalam pelaksanaan upaya kesehatan pada pasien ini, sikap dokter haruslah seperti memproteksi diri terlebih dahulu untuk mencegah terjadinya keadaan yang boleh meyebabkan dirinya tertular penyakit pasien. Karena mengetahui HIV/AIDS tidak dapat disembuhkan, dokter haruslah menenangkan pasien dan tidak memojokkan pasien. Dalam pada itu, dokter harus memotivasi pasien tentang penyakitnya seperti dijelaskan bahwa HIV/AIDS dapat dikontrol dengan obat dan beri harapan pada pasien untuk mempertahankan

hidup. Sebagai dokter, harus juga dijelaskan pada pasien bagaimana cara hidup yang sehat seperti membuang semua penyebab HIV/AIDS, jangan pernah menularkan penyakit kepada orang lain dan lain-lain. Harus juga diberitahu kepada pasien bahwa terdapat program dari pemerintah yang menyediakan sarana obat retroviral gratis untuk mengontrol HIV/AIDS. Setelah itu, dokter harus mengobati penyakit pneumonia pada pasien dan menganjurkan untuk mengikuti program rehabilitasi dan kaunseling dalam usaha memperbaiki hidupnya. Sewajarnya dokter turut menghubungi dan memberi informasi kepada keluarga pasien supaya memberi dukungan sepenuhnya pada pasien dan memperhatikan pasien karena proses pengobatannya terus menerus.

Pandangan Mengenai Sakit Penyakit Hasil dari pemeriksaan, didapatkan pasien menghidap positif HIV/AIDS dan pneumonia. Adapun pandangan mengenai sakit diuraikan oleh berbagai aspek, meliputi perspektif medis, bioetika, hukum, dan agama. Antara lain sebagai berikut: Medis: Dari sudut pandangan medis, penyakit HIV/AIDS bisa disebabkan oleh pemakaian jarum suntik yang bergantian pada narkoba, bisa akibat dari berhubungan seks bebas dan juga dari transfusi darah yang mengandungi virus HIV. Virus HIV akan menginfeksi tubuh pasien dan akibat pajanan yang lama terhadap virus akan mengakibatkan daya tahan tubuh menurun dan meyebabkan timbulnya gejala-gejala penderita AIDS. Daya tahan tubuh pasien yang menurun juga meningkatkan risiko infeksi opportunistik seperti pneumonia. Bioetika: Sakit adalah simptom penyakit, epifenomena yang secara obyektif (RCT) dapat dibuktikan (EBM) dimana terdapat gangguan (disorder) dan perasaan subyektif (psikosomatik). Hubungan antara manusia dengan sakit dapat dibagi menjadi :

a. Manusia yang sehat b. Manusia yang merasa sehat tetapi sakit c. Manusia yang merasa sakit tapi sehat d. Manusia yang sakit Jadi dapat disimpulkan dari sudut pandang bioetika bahwa merasa sehat atau sakit sangat tergantung persepsi manusia, tidak semata-mata ada atau tidaknya penyakit. Seperti kasus Mino, beliau tergolong dalam manusia yang sakit. Sementara itu, pandangan dari berbagai ajaran agama mengenai sakit adalah seperti berikut: Agama Islam: Sakit merupakan ujian iman dan cobaan. Juga diuraikan mengenai sikap dalam menghadapi penyakit yakni : a. Ikhlas dan sabar b. Berdoa
c. Berobat (wajib, karena setiap penyakit ada obatnya).

Pasien juga turut melakukan perbuatan menzalimi diri sendiri seperti merokok dan penggunaan obat-obat terlarang. Jadi harus bertaubat kepada Allah karena akhlaknya yang buruk. Agama Kristen Protestan: Sakit terjadi akibat dua sebab, yaitu : a. First caused, yakni dosa (pemberontakan manusia terhadap Allah) b. Second caused , yakni : Ulah manusia sendiri Ulah orang lain

Dari kuasa roh jahat Tujuan dari sakit penyakit menurut pandangan Kristen Protestan adalah: Proses pemurniaan Allah sebagai didikan yang membuahkan damai sejahtera melalui sakit/penyakit (Ayb, 5:17-18; Ibr, 2:11; 2 Kor 1:5) Penderitaan dari sakit/penyakit membawa kebaikan bagi jemaat sakit ditengah penderitaannya membagi sukacita dalam Tuhan, membawa berkat bagi orang lain. (Kol, 1:24 ; 2 Kor 1:5) Sakit penyakit diizinkan Allah untuk kesaksian khususnya bagi iblis, bahwa ditengah penderitaan si sakit tetap mengasihi Allah. (Ayb, 1,2) Dari kasus, sakit penyakit yang dideritai Mino adalah akibat ulah sendiri. Agama Hindu: Sakit berhubungan dengan karmaphala, bukan kutukan Tuhan. Sakit merupakan sebagai tanda mereka yang datang dari neraka. Oleh karena itu maka manusia harus membuang jauh-jauh segala pikiran yang jahat demikian akan membawa kembali manusia ke dunia yang sengsara. Agama Katolik: Sakit merupakan konsekuensi logis manusia sebagai makhluk yang memiliki tubuh. Bukan Tuhan yang menyebabkan manusa sakit, tapi akibat kelalaian manusia dalam menjaga tubuh. Penyakit tidak berasal dari Tuhan karena Allah MahaBaik. Agama Buddha: Sakit adalah perasaan subjektif yang tidak menyenangkan (dukkha) yang disebabkan oleh banyak hal antaranya infeksi. Sakit, cacad dan penderitaan adalah buah atau akibat dari perbuatan buruk yang dilakukan di masa lalu (termasuk di kehidupan-kehidupan yang lalu) hukum Kamma. Manfaat dari sakit parah adanya kesempatan kepada pasien untuk merenungkan perjalanan hidupnya, lalu menganjurkan pasien untuk berbuat baik seperti berdana, melepaskan hewan, baca paritta, meditasi, melepaskan kemelekatan terhadap dunia ini, sehingga batinnya

menjadi tenang dan bahagia, dan apabila kematian tiba maka is kelak akan terlahir di alam bahagia. Jadi pada pasien ini harus terus diberikan perawatan dan terapi dengan sebaik-baiknya.

Pandangan Mengenai Euthanasia dan Bunuh Diri Berbantuan Akibat dari sakit dan masalah-masalah yang dihadapi, Mino meminta dokter yang merawat agar disuntik saja obat yang mematikan karena hidupnya sudah tidak ada manfaatnya lagi bahkan sering menyusahkan orang lain. Tindakan untuk menyuntik mati dikategorikan dalam euthanasia. Menurut pandangan bioetika, euthanasia bermaksud tindakan mengakhiri kehidupan pasien terminal dengan sengaja yang dilakukan oleh dokter atas permintaan pasien sendiri. Permintaan untuk euthanasia harus dilakukan dengan bebas oleh pasien. Persyaratan pasien yang bebas adalah seperti berikut :o Pasien harus kompeten o Sudah memperoleh informasi lengkap yang relevan tentang diagnosis, prognosis, dan terapi paliatif yang tersedia o Pasien tidak dipaksa atau dimanipulasi Prinsip-prinsip dari bioetika adalah menghormati otonomi pasien, berbuat baik, tidak merugikan dan prinsip keadilan. Mempersetujui euthanasia berarti menghormati hak dan otonomi pasien (right to die, right to die with dignity) dan menghilangkan penderitaannya (mercy killing). Tidak mempersetujui euthanasia karena ia bertentangan dengan sifat dasar profesi medis yaitu berpihak kepada

kehidupan, bahaya wujudnya slippery slope dan ditambah dengan kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran sekarang yang mampu membuat pasien merasa aman dan nyaman. Dari pandangan dasar hukum tentang euthanasia disebutkan: 1. Dalam KUHP, euthanasia dikategorikan kejahatan terhadap nyawa, maka euthanasia tidak dapat dilakukan di Indonesia
2. KUHP pasal 304 yaitu Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan

seorang dalam keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan, dia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu, diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
3. KUHP pasal 306 (2) yaitu Jika mengakibatkan kematian, perbuatan tersebut

dikenakan pidana penjara maksimal 9 tahun.


4. KUHP pasal 344 yaitu Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan

orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.
5. KUHP pasal 345 yaitu Barang siapa dengan sengaja membujuk orang supaya

membunuh diri atau menolongnya dalam perbuatan itu, atau memberi ikhtiar kepadanya untuk itu, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 4 tahun, kalau jadi orangnya membunuh diri.
6. Bentuk pelanggaran disiplin Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), yaitu melakukan

perbuatan yang dapat mengakhiri kehidupan pasien atas permintaan sendiri dan atau keluarganya. Dijelaskan seperti:
Setiap dokter tidak dibenarkan melakukan perbuatan yang bertujuan mengakhiri

kehidupan manusia, karena selain bertentangan dengan sumpah kedokteran dan

atau etika kedokteran dan atau tujuan profesi kedokteran, juga bertentangan dengan aturan hukum pidana.
Pada kondisi sakit mencapai terminal, di mana upaya kedokteran kepada pasien

merupakan kesia-siaan (futile) menurut state of the art (SOTA) ilmu kedokteran, maka dengan persetujan pasien dan atau keluarga dekatnya, dokter dapat menghentikan pengobatan, tapi dengan tetap memberikan perawatan yang layak (ordinary care). Dalam keadaan tersebut, dokter dianjurkan untuk berkonsultasi dengan sejawatnya atau komisi etik rumah sakit yang bersangkutan. Dalam pandangan hukum, euthanasia bisa dilakukan jika pengadilan mengijinkan dengan pertimbangan ahli hukum, etika, dan agama. Tanpa dasar hukum, maka dokter dan rumah sakit bisa dianggap melanggar pasal 345 KUHP (menghilangkan nyawa orang lain dengan sarana).

Pandangan dari berbagai ajaran agama mengenai euthanasia adalah seperti berikut: Agama Islam: Diharamkan menurut hukum Islam. Hidup adalah anugerah Allah s.w.t. Jangankan mengakhiri hidup orang lain, mengakhiri hidup sendiripun dilarang dan diancam oleh Nya dengan sangsi yang amat berat. Aku didahului oleh hambaku sendiri. Kuharamkan untuknya syurga. Agama Buddha: Tidak dapat dibenarkan, oleh karena si pelaku melanggar sila pertama (tidak membunuh) dan mencegah si penderita melunasi hutang kamma buruknya. Euthanasia tergolong Akala-marana yaitu kematian yang belum waktunya. Dalam agama Buddha tidak ada hak, termasuk hak untuk mati. Yang ada adalah kewajiban. Agama Kristen Protestan: Tidak dibenarkan karena dijelaskan bahwa manusia tak berhak mengambil hidupnya sendiri (suicide) atau mengambil hidup orang lain (homicide). Allah yang mempunyai hidup manusia; manusia bukanlah pemilik absolut dari kehidupannya;

manusia hanya penjaga dan administrator hidupnya. Jadi pasien tetap dibiarkan untuk dilakukan pengobatan. Agama Katolik: Tidak dibenarkan karena nyawa manusia diberikan oleh Allah. Oleh karena itu manusia berkewajiban untuk menjaganya dan tidak seorang pun memiliki hak untuk mati. Agama Hindu: Tidak dapat dibenarkan menurut ajaran sastra karena berlawanan dengan ajaran ahimsa (tidak membunuh). Hanya Tuhan ( Sang Hyang Widhi Wasa) yang berwenang menentukan lahir, hidup, dan mati manusia (utpati, sthiti, dan pralina).

Pandangan Mengenai Bunuh Diri Setelah ditolak dokter untuk menyuntikkan obat yang mematikan, pasien tampak begitu sedih dan kecewa. Dengan sisa tenaga yang masih ada, pasien lalu bunuh diri dengan terjun bebas dari lantai 5 tempat ia dirawat. Tindakan yang dilakukan Mino dipandang dari berbagai aspek, antara lain: Dari sudut medis:
Pasien termasuk dalam keadaan depresi dengan kriteria-kriteria seperti merasakan

hidupnya sudah tidak ada manfaatnya, harga diri dan kepercayaan diri kurang, motivasi untuk hidup sudah tidak ada, rasa diri tidak berguna, dan gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri Kekurangan dari dokter dalam menangani pasien. Si dokter mungkin kurang memperhatikan keadaan pasien yang sudah kehilangan motivasi untuk hidup. Seharusnya si dokter coba untuk menaikkan lagi semangat hidup pasien dengan menyatakan progresivitas HIV/AIDS bisa ditekan dangan ARV dan obat-obatan lain yang bisa memperpanjang umurnya.

Tapi seandainya dokter telah memberikan motivasi kepada pasien, tetapi dengan keadaan pasien yang telah menyerah itu tetap sulit untuk menerima nasehat dari dokter. Dari sudut agama: i) Islam a. Tidak diperbolehkan bunuh diri b. Bunuh diri atau membunuh orang lain diharamkan masuk ke syurga c. Setiap jiwa akan merasa kamatian tetapi tidak ada sesiapa yang bisa mempercepatkan atau melambatkan kematian walau sedetik pun. d. Selagi manusia itu bernyawa, rezeki pasti masih ada untuknya. Jadi manusia tidak layak menuntukan kematian sendiri hanya karena merasa putus asa dengan kesempitan hidup. ii) Kristen a. Tidak boleh membunuh diri karena bunuh diri bukanlah satu-satunya jalan keluar. iii) Katolik
a. Hukum emas dilarang membunuh

b. Orang yang bunuh diri tidak semestinya masuk neraka karena motivasinya untuk nekad bunuh diri itu hanya tuhan yang maha tahu sahaja yang mengetahui. iv) Hindu

a. Tidak dibenarkan karena perbuatan membunuh diri itu satu dosa v) Buddha a. Tidak dibenarkan karena malangar sila pertama b. Tidak ada hak untuk mati, melainkan adanya kewajiban untuk

mempertahankan kehidupan.

Letting Die ~ pasien yang terminal jika diberi terapi menjadi suatu yang sia-sia (futile treatment) ~ diberikan terapi paliatif sahaja untuk mengurangi penderitaan pasien atau tidak diterapi

Assisted Suicide ~ dokter hanya membantu, pasien sendiri yang melaksanakan ~ pasien yang menentukan kapan mau meninggalnya ~ pasien harus dalam keadaan stabil saat

Euthanasia ~ mengakhiri kehidupan pasien terminal dengan sengaja ~ dilakukan oleh dokter, tetapi atas permintaan pasien sendiri

Pembunuhan ~ melakukan tindakan sehingga menyebabkan seseorang meninggal ~ melakukan mercy killing tetapi bukan atas kehendak atau permintaan pasien

melakukan

Pro dan kontra apabila euthanasia dilaksanakan :PRO KONTRA

1 ) memenuhi hak dan otonomi si pasien 1) dokter bisa terkena tindak pidana (pasal (right to die with dignity) 344)

2) menghilangkan penderitaan pasien (mercy 2) manusia tidak punya hak untuk bunuh diri killing) 3) keadaan pasien sendiri yang sudah tidak maupun membunuh orang lain. Nyawa adalah hak si pencipta (tuhan)

punya motivasi untuk hidup, serta dukungan 3) kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran yang tidak memungkinkan pasien kembali mampu membuat pasien merasa aman dan bersemangat untuk meneruskan kehidupan 4) kualitas hidup pasien yang menurun nyaman 4) melanggar etika dan sumpah kedokteran 5) bahaya slippery slope meningkat

Kelompok kami menyokong argument kontra kepada euthanasia karena :i) Pasien masih punya harapan hidup dengan pengobatan. a. ARV, melambatkan progresivitas HIV/AIDS b. Antibiotik, mengatasi infeksi-infeksi yang menyertai

ii) iii)

Bertentangan dengan hukum, agama, dan moral. Pasien tetap tidak meninggal dengan aman dan tenang karena masih dibebani dengan dosa-dosa yang masih belum terampunkan. Sebaliknya, dosa semakin bertambah akibat dari perbuatan bunuh diri.

iv)

Dokter juga bisa terkena tindak pidana

Faktor-faktor yang menyebabkan pasien terjerumus ke dalam penggunaan obat-obat terlarang dan prostitusi :i) Meskipun keluarga pasien dikatakan harmonis, tetapi ternyata penanaman nilai-nilai moral kurang ii) Pasien juga kemungkinan kurang mendapat didikan agama dari orang tuanya iii) Pola asuh yang kurang baik. Si pasien mungkin terlalu diberi kebebasan oleh orang tuanya sehingga seawal usia remaja juga sudah merokok dan pergi ke prostitusi.
iv) Pendidikan tentang seks, sebab akibat dari suatu perhubungan seksual, safe sex dan

hal-hal terkait kurang diajarkan atau dibahaskan oleh orang tua kepasa si pasien. Begitu juga mengenai obat-obatan terlarang. v) Orang tua kurang memperhatikan kegiatan sekolah si pasien sehingga si pasien cenderung lebih bebas kemana saja atas alasan pembelajaran. Peran keluarga, terutama ibu bapa terhadap seorang anak :i) Memberikan pendidikan seks dan agama sejak kecil dan disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan umur anak-anak.

ii) Melindungi anak. Dalam arti kata lainnya, ibu bapa haruslah mengawasi pergaulan,

pergerakan dan kegiatan anak-anak dan mereka juga harus memberikan perhatian yang lebih kepada anak-anak untuk membina perhubungan yang baik. iii) Mendukung sacara spiritual. Ahli keluarga terutama ibu bapa tidak seharusnya bersikap lepas tangan terhadap anak-anak yang sudah terjerumas ke dalam masalah sosial, sebaliknya merekalah yang berperan untuk membawa anak kembali ke pangkal jalan. Peran pendidikan agama dalam keluarga :i) Anak-anak dididik sejak kecil sesuai tahap pemahamannya.