Anda di halaman 1dari 212

Mohamad Ali Hisyam

MEMBACA BUKU
DI ATAS PERAHU
MEMBACA BUKU DI ATAS PERAHU

Copyright © Mohamad Ali Hisyam


Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved

Penulis: Mohamad Ali Hisyam


Penyunting: M. Iqbal Dawami
Perancang Sampul: Wirastuti
Layout: Afandi

ISBN 978-602-5824-42-5
xiv + 198 hlm.; 20,5 cm.
Cetakan 1: 2019

Maghza Pustaka
Margomulyo, Rt 07 Rw 04 Tayu-Pati 59155
HP/WhatsApp: 085729636582

ii
Untuk cindera hatiku:

Ajmal, Jibril, Nuzul, Nobel

“Kalian disebut juara jika memiliki iman yang


hidup dan terpelihara.”

***

Untuk sahabatku:

Alm. Arief Santosa

“Selamat jalan, Mas. Pengabdianmu di dunia


literasi, di akhirat akan menjadi saksi.”

iii
Sekapur Sirih

B agi saya tiga tahun menjalani masa kuliah magister di


Yogyakarta (2002-2005) saya anggap sebagai “musim semi”
dari keberminatan saya terhadap dunia literasi. Betapa tidak,
pada masa singkat itulah saya secara leluasa berkesempatan
untuk berinteraksi dengan khazanah literasi yang sangat
dinamis. Sejumlah alasan layak disuguhkan untuk melandasi
asumsi ini.
Pertama, lingkungan Kota Gudeg yang dikenal sebagai
sentrum dari kota pendidikan, seni, sastra dan budaya
terkemuka di Indonesia menyodorkan cakrawala literasi yang
penuh warna. Panorama sosial tersebut menjadi faktor esensial
dari keterpikatan banyak orang (termasuk saya) untuk betah
tinggal di wilayah kesultanan ini.
Kedua, pelbagai fasilitas literasi yang memadai dan
terbilang lengkap. Kendati saat ini daerah istimewa tersebut
sudah kian disesaki dengan papan iklan dan dikepung oleh
reklame-reklame “kapitalis” ciri khas bandar metropolitan,
namun dibandingkan dengan kota-kota besar lain di nusantara,
kota di kaki gunung Merapi ini tergolong masih cukup
“nyaman” untuk dihuni dan, yang terpenting, dijadikan kiblat
literasi. Apalagi pada masa-masa awal tahun 2000, saat polusi
peradaban di sana masih belum begitu tercemar. Saya merasa
waktu itu Yogyakarta benar-benar “dipagari” oleh fasilitas
ruang baca yang memanjakan fikiran dan imajinasi semisal
toko-toko buku, perpustakaan, pusat budaya, galeri seni,
komunitas sastra serta kaukus diskusi keilmuan.

iv
Ketiga, gairah kepenulisan. Terus terang saya menyadari
bahwa pada masa tinggal di Yogyakarta saya amat diuntungkan
dengan lingkungan pertemanan yang kondusif dan sanggup
memompa saya untuk bergembira bergumul dengan dunia
tulis-menulis. Komunitas penulis yang berkembang dan hidup
di sana tak ubahnya oase bagi persemaian gagasan-gagasan
di jagad literasi. Walaupun memang mesti diakui kondisi
pada saat itu juga berawal dari ‘desakan’ keterpaksaan karena
secara ekonomi hasil kreativitas menulis (baca: honorarium)
saat itu, setidaknya bagi saya pribadi, menjadi “ransum”
untuk dapat survive hidup di kota berjuluk “Indonesia mini”
tersebut. Semenjak itu, kemandirian ekonomi untuk tidak
selalu bergantung kepada asupan wesel orang tua sudah
mulai diikrarkan. Perkenalan dengan komunitas penulis muda
Yogyakarta seakan menjadi ‘atlas’ peta perjalanan saya untuk
kembali mengasah minat di bidang kepenulisan.
Bersama mereka saya bukan hanya dapat peluang
berdiskusi, bertukar gagasan dan ngopi bareng namun juga
berusaha untuk tekun menyirami bibit semangat literasi agar
terus bersemi. Masih segar dalam ingatan, setiap hari Minggu
pagi seolah menjadi “hari raya” yang mendebarkan bagi saya
dan kawan-kawan penulis karena kebanyakan pada rubrik-
rubrik khusus edisi akhir pekanlah tulisan-tulisan kami dimuat
di media massa. Setiap ada tulisan yang dimuat, maka nafas
kehidupan dan harapan kami menjadi sejenak lebih panjang.
Walaupun saya berkawan dengan mahasiswa dari banyak
perguruan tinggi seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas
Negeri Yogyakarta, Institut Seni Indonesia, Universitas Sanata
Dharma, dan beragam kampus lainnya, sebagai mahasiswa
UIN Sunan Kalijaga saya cukup berbangga karena waktu itu
almamater kami dinobatkan sebagai kampus yang paling

v
produktif melahirkan para mahasiswa penulis yang karyanya
paling sering menghiasi halaman-halaman surat kabar baik lokal
maupun nasional. Kami semakin bersemangat karena bukan
hanya ‘ongkos lelah’ dari media massa yang dapat kami terima,
namun kebaikan hati pihak UIN untuk sudi mengapresiasi
tulisan para mahasiswanya yang turut mengharumkan nama
almamater dalam setiap tulisan mereka.
Lanskap di atas penting diutarakan mengingat pada masa-
masa itulah spirit dan keberminatan saya terhadap dunia baca-
tulis terpupuk secara intens sehingga, salah satunya, menjadi
latar pokok dari hadirnya sekumpulan esai dalam buku ini.
***
Aneka tulisan dalam buku ini merupakan himpunan dari
esai-esai saya yang pernah terbit di pelbagai media massa
selama rentang masa lebih kurang enam tahun, tepatnya
antara tahun 2003 hingga 2009. Ada sebanyak 37 esai yang
semuanya berkelindan dengan tema-tema di seputar literasi,
yakni meliputi dunia kepenulisan, perbukuan, penerbitan dan
dinamika yang berkaitan dengannya.
Dari 37 tulisan tersebut, separuhnya adalah esai yang
pernah ‘tayang’ di rubrik Di Balik Buku yang secara rutin
disediakan khusus oleh harian Jawa Pos pada terbitan edisi
Minggunya. Hal yang amat disayangkan, setelah sempat
berjalan selama lebih kurang 10 tahun, rubrik penting ini kini
sudah ‘almarhum’ alias tak tersedia lagi.
Menarik untuk dikilas balik, pada saat tulisan-tulisan
saya sudah berhasil dimuat di pelbagai media besar nasional
seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia dan Republika, saya
masih dipayungi oleh rasa penasaran: mengapa tulisan saya
tak pernah dimuat di Jawa Pos? Koran yang dibesarkan oleh

vi
Dahlan Iskan ini bagi saya adalah media ‘istimewa’ karena di
Jawa Timur, provinsi asal saya, harian inilah yang terbesar dan
paling banyak dibaca orang.
Karena itulah, saya bertekad dan bertungkus lumus untuk
terus menerus membombardir redaktur Jawa pos dengan
‘serangan-serangan’ tulisan. Setengah bercanda, waktu itu saya
bergumam bahwa “redaktur Jawa Pos harus pernah memuat
tulisan saya walaupun hanya sekali dan walaupun itu hanya
dijadikan penghibur pamungkas agar saya tidak mengirimkan
artikel lagi”. Pucuk dicinta ulampun tiba. Pada hari Minggu,
31 Agustus 2003 tulisan saya akhirnya nongol pertama kali di
Jawa Pos. Semenjak saat itulah beragam tulisan saya kemudian
kerapkali muncul di harian bertiras nasional yang terbit di
Surabaya tersebut. Bahkan, karena keinginan kuat untuk
‘nampang’ di Jawa Pos, pernah suatu saat saya menulis esai
untuk rubrik Di Balik Buku dengan mbonek melampirkan foto diri.
Padahal rubrik ini tidak pernah ada foto penulisnya. Alhasil, di
esai saya bertajuk “Cinta dan Asketisme Seorang Penulis” tulisan
sekaligus ‘hiasan’ foto diri saya tayang di Jawa Pos. Sepanjang
sejarah tercatat hanya di hari itulah satu-satunya esai Di Balik
Buku yang ada foto penulisnya.
***
Secara umum, buku di tangan Anda ini terbagi menjadi
empat bagian. Pada bagian pertama (imajinasi) berisi tentang
uraian perihal sejumlah hal di seputar dunia kepenulisan.
Mengulas mulai dari gugahan untuk senantiasa memelihara
kesadaran dan etos menulis hingga ragam kiat mengemas
gagasan secara genial menyesuaikan dengan kemajuan media
dan zaman. Sejumlah kisah inspiratif para tokoh disuguhkan
sebagai alarm untuk mengingat bahwa dunia menulis sedari

vii
awal tak pernah terlepas dengan dunia membaca. Ibarat pusaka
kembar, keduanya selalu berjalan berkelindan dan beriringan.
Menulis tanpa membaca akan menghadirkan tulisan yang
garing, sementara membaca tanpa menulis bakal menyajikan
memori yang kering.
Pada bagian kedua (literasi) secara khusus mengulik ihwal
belantika perbukuan. Membahas antara lain tentang trend buku,
ragam topik, desain sampul, seluk-beluk pemasaran, hingga
kecenderungan sejumlah orang untuk gemar berpolemik dan
membunuh karakter seseorang melalui karya pustaka. Sebuah
buku tidak hadir dalam ruang hampa intelektual, sebaliknya
ia berlumur dengan tendensi, emosi dan kerap kedap kritik.
Bab ketiga (inisiasi) berisi pemaparan di seputar dinamika
penerbitan buku, meliputi perilaku konsumen, gambaran
peluang pasar buku, kekuatan kapital penerbit, hingga
fenomena polarisasi tajam antara penerbit mayor dan penerbit
indie.
Pada bagian terakhir atau keempat (inspirasi) merupakan
serba-serbi tema yang berkaitan dengan pembahasan di tiga
bagian sebelumnya dalam bingkai yang lebih luas. Di sini
diulas perihal ragam perpustakaan, prakarsa dan peranan
pemerintah lokal dalam memajukan literasi, mulai dari Aceh,
Madura, Kalimantan Selatan dan daerah yang lain. Inspirasi-
inspirasi segar seperti salon buku, keluarga buku hingga renik
unik seputar perbukuan yang berupaya menyentil kesadaran
bagaimana supaya seseorang mampu berinteraksi intim dengan
buku.
Dari sejumlah esai di atas ada beberapa yang dirubah
judulnya karena ‘disesuaikan’ dengan kondisi kekinian,
tanpa membelokkan substansi tulisan. Walaupun titimangsa

viii
pemuatan beragam esai di buku ini terbilang sudah cukup
lama (2003-2009) namun konten literasi dan topik yang
melingkupinya yang relatif awet untuk didiskusikan membuat
sajian tulisan tetap terasa kontekstual dan relevan untuk
keadaan zaman sekarang. Kendati akrobat perkembangan
teknologi demikian gencar, hadirnya inovasi buku digital,
perpustakaan virtual, perilaku pembaca buku, pola penerbitan
dan trend pasar tak begitu banyak berubah hingga zaman
terkini.
Membaca Buku di Atas Perahu (satu di antara 37 judul esai)
akhirnya saya pilih sebagai judul utama dari buku ini karena
alasan sisi keunikan yang dikandungnya serta substansi yang
dirasa cukup mewakili ‘aliran darah’ dan gairah yang melekat
pada sekujur tulisan dari buku ini. Tentu tidak banyak orang
yang memiliki pengalaman ‘sensasional’ membaca buku di atas
sampan kayu yang sedang melaju mengikuti arus air sungai
atau lautan. Saya rasa, di sinilah salah satu titik keunikan dan
ketidaklaziman yang dapat ditangkap dari judul tersebut. Demi
pengayaan inovasi literasi, fenomena di Batola dapat menjadi
kaca benggala.
***
Buku ini tak mungkin hadir tanpa sokongan dan motivasi
dari berbagai pihak. Karenanya saya wajib menyematkan terima
kasih tulus kepada keluarga, khususnya Ummi dan almarhum
Abi. Doa kasih serta dorongan sayang mereka berdua adalah
salah satu alasan asasi dari kecintaan saya terhadap khazanah
baca-tulis. Istri dan anak-anak saya yang menjadi mata air
motivasi yang mengalir tanpa henti.
Ucapan mator sakalangkong juga saya haturkan kepada
segenap sahabat-sahabat di komunitas penulis muda

ix
Yogyakarta. Muhammad Al-Fayyadl, Muhidin M Dahlan, M.
Mushthafa, Ahmad Jauhari, Ahmad Badrus Sholihin, Nur
Mursidi, Kholilurrohman Ahmad, Ahmad Maulani, Nita
Yushoffa, Yuni Makrufah, dan banyak nama-nama lain yang tak
bisa saya kutip satu-persatu. Secara khusus, di antara mereka
ada tiga nama spesial yang mesti disebutkan karena mereka
sudah terlebih dahulu mewariskan karya tulis mereka sebelum
menuju alam keabadian: Almarhum KH. Zainal Arifin Thoha,
Tasyrieq Hifzhillah dan Saiful Amin Ghofur. Semoga ilmu-ilmu
dan karya literasi mereka menjadi titian amal dan tabungan
pahala jariyah yang menempatkan mereka di taman firdaus.
Amin…
Tak lupa pula ucap tulus terima kasih serta ungkapan
bela sungkawa teramat dalam saya tujukan kepada Mas Arief
Santosa, redaktur sastra-budaya Jawa Pos yang supel dan
ramah, yang pada saat kata pengantar buku ini ditulis beliau
dipanggil untuk menghadap Sang Maha Kuasa. Inna lillahi wa
inna ilaihi raji’un. “Selamat jalan, Mas... semoga Anda husnul
khatimah dan dijadikan sebagai penghuni jannah”. Beberapa
minggu sebelum buku ini terbit, saya masih mencoba untuk
menyapa dan berkomunikasi dengan beliau. Cukup lama
pesan singkat saya melalui whatsApp tidak mendapatkan
respons, hingga beberapa hari setelahnya muncul balasan yang
menggodam hati. “Saya istrinya. Mas Arief saat ini sedang
dalam perawatan di HCU Rumah Sakit Graha Amerta Surabaya.
Mohon sambungan doa ya Mas dan mohon dimaafkan kalau ada
kesalahan yang dilakukan oleh beliau. Terima kasih.” Empat
hari setelah balasan singkat dari Mbak Dewi Ratna Nengati,
kabar duka itu datang menyambar dan tersiar di media sosial.
Mas arief Santosa berpulang pada Rabu siang, 13 November

x
2019. Dalam suasana momentum Hari Pahlawan, beliau sangat
layak dikenang sebagai “Pahlawan Literasi”.
Terkhusus kepada Bung M. Iqbal Dawami dan tim
penerbit Maghza yang telah sudi bersabar dan dengan seksama
mengolah tulisan dan menata penampilan buku ini menjadi
cukup menarik dan laik dibaca. Semoga Allah membalasnya
dengan kebaikan yang lebih sempurna.
Last but not least, segala ikhtiar literasi tak akan pernah
basi. Secuil apapun, sebuah upaya dan kontribusi tetaplah layak
untuk diapresiasi. Ketertarikan dan kepedulian masing-masing
kita merupakan uluran peran dan bagian dari partisipasi nyata
untuk senantiasa menghidupkan etos literasi. Di era yang
penuh dengan huru-hara dan hura-hura, kita dituntut untuk
terus menyalakan lentera agar belantara aksara senantiasa
terpelihara.
Sebagai bunga rampai, buku ini tiada terbangun dalam
kerangka pembahasan dengan paradigma konseptual yang
utuh dan kokoh. Namun demikian, kesamaan topik dan narasi
yang menjadi “ruh” dari sejumlah tulisan di dalamnya menjadi
bingkai yang mengikat serta memadukan antara pelbagai anasir
tulisan, yakni berupa keinginan sederhana untuk senantiasa
menggerakkan upaya-upaya pelestarian literasi dalam segala
wujudnya dan dalam beragam skalanya. Khusus untuk buku
ini, tentu urun kritik kontributif dan masukan solutif dari
sidang pembaca senantiasa saya pinta. Selamat membaca.
***

Bangkalan, November 2019


Mohamad Ali Hisyam

xi
DAFTAR ISI

Sekapur Sirih __ iv
Daftar Isi __ xii

BAB I IMAJINASI __ 1
Ayo Jadi Penulis Go Blog! __ 2
Cinta dan Asketisme Seorang Penulis __ 7
Kisah Kutu Menggumuli Buku __ 14
Media Massa dan Vulgaritas Bahasa __ 19
Mengembalikan Tinta Tigris __ 24

BAB II LITERASI __ 31
Biografi dan Sejarawan yang Enggan Berkarya __ 32
Buku, Film dan Selebrasi Dunia Baca __ 38
Buku-Buku Paling Dikecam __ 44
Gus Dur yang Tenang dan Musuh yang Garang __ 48
Kesaktian “The Santri” __ 55
Marhaban, Pustaka Pesantren! __ 61
Melihat Kelebat Buku-Buku Silat __ 65

xii
Mendulang Rezeki dari Buku Siap Saji __ 71
Palestina dalam Segenggam Jurgam __ 75
Pamer Karakter Lewat Cover __ 79
Paras Kasar Radikalisme Agama __ 86
Pustaka Pergunjingan: Mengunci Kebenaran dalam
Kotak Pandora __ 91
Ramadan dan Buku Remaja __ 99
Seputar Buku Pintar __ 105

BAB III INISIASI __ 111


Buku, Tokoh, dan Brand Image __ 112
Dilema Penerbitan, Antara Dana dan Stamina __ 116
Logika Pasar __
Parasit __ 126

BAB IV INSPIRASI __ 131


Asa dari Madura __ 132
Bahasa Madura yang Kian Merana __ 136
Dicari: Perpustakaan Ramah Baca __ 141
Gairah Serambi Mekah __ 145
Internet dan Simalakama Peradaban Digital __ 149
Kata-Kata yang Menyembuhkan __ 154
Keluarga Buku __ 157
Margin, Menghubungkan Mata dengan Aksara __ 162
Membaca Buku di Atas Perahu __ 166

xiii
Memecah Tempurung Sastra Pesantren __ 171
Pada Cerita Kita Terpesona __ 175
“Pahlawan” di Kota Pahlawan __ 179
Salon Buku __ 184
Sumber Pemuatan Tulisan: __ 188

SENARAI PUSTAKA __ 190


SEKERAT RIWAYAT __ 197

xiv
BAB I

I MA JINAS I
Ayo Jadi Penulis Go Blog!
Cinta dan Asketisme Seorang Penulis
Kisah Kutu Menggumuli Buku
Media Massa dan Vulgaritas Bahasa
Mengembalikan Tinta Tigris
Ayo Jadi Penulis Go Blog!

S ejumlah pemerhati dunia pustaka mulai galau dengan masa


depan perbukuan. Tak lain dan tak bukan disebabkan oleh
begitu derasnya perubahan dinamika literasi di zaman digital
kini. Internet dan ponsel cerdas adalah beberapa peranti “biang”
penyebab dari meletupnya rasa risau tersebut. Mencermati
gejala ini, Azrul Ananda, pengusaha media, pernah memekik
bahwa ”Newspaper is Dead!” Muhidin M. Dahlan, seorang esais
kawakan menilai sudah saatnya untuk menggagas Buku TV
sebagai kanal sosialisasi karya pustaka via layar kaya.
Menjuntai seuntai benang merah dari asumsi mendasar
dan perdebatan seputar diskursus ini berupa kecemasan nyata
bahwa masa depan dunia cetak, termasuk di dalamnya dunia
perbukuan, saat ini sedang ada di persimpangan dan terancam.
Beberapa tahun silam Dahlan Iskan, Chairman Jawa Pos Group,
telah meramalkan tentang ihwal meningginya konsumsi
kebutuhan manusia modern terhadap teknologi digital bakal
berimbas secara signifikan pada menurunnya daya tahan
dunia percetakan. Orang sudah demikian dimanjakan oleh
peranti-peranti teknologi yang mampu menyuguhkan pelbagai
keperluan praktis dalam bentuk yang instan dan secepat
kilat. Sementara kian mahalnya biaya operasional percetakan
serta menipisnya stok bahan mentah kertas menjadi alasan

2
rasional dari mulai berpalingnya kalangan media dari di dunia
percetakan. Usia dunia percetakan pun diprediksi akan segera
berakhir.
Hasil temuan Johannes Gutenberg (mesin cetak) dan Tsai
Lun (pengolahan kertas) kini semakin tergilas oleh mobilitas
teknologi digital yang kian akurat dan super cepat melayani
keinginan masyarakat. Walaupun setidaknya dalam beberpa
tahun ke depan, peran dan kebutuhan terhadap media cetak
semisal koran, majalah dan buku, masih belum tergantikan
secara drastis. Artinya, media-media berbahan dasar kertas
sementara waktu masih tetap menjadi penyuplai utama bagi
nutrisi informasi dan kudapan ilmu pengetahuan ke hadapan
khalayak.
Hal penting yang perlu direnungkan bersama dari realitas
semacam ini, apakah lahirnya peranti teknologi berdampak pada
tergerusnya dunia literasi? Rasanya kekhawatiran semacam ini
serta-merta akan terjawab dengan tandas manakala belantika
keilmuan masih setia melahirkan karya-karya. Goresan ide para
penulis yang tiada pernah habis akan berkembang beriringan
dengan teknologi. Tulisan kemudian dikemas dalam bentuk
yang lebih simpel dan fleksibel berupa file-file di dunia maya
yang tidak memakan banyak ruang.
Dulu mungkin tak pernah terlintas di bayangan manusia
bagaimana berjuta-juta arsip mampu dikemas hanya dalam
sekeping mungil flashdisk ataupun sekotak kecil laptop. Tapi
mozaik digital dengan brilian mewujudkan kemustahilan
tersebut menjadi kenyataan. Dengan demikian, masyarakat
literasi -- meminjam istilah Habiburrahman El-Shirazy, penulis
novel Ayat-Ayat Cinta -- rasanya tak perlu cemas berlebihan.

3
Solusi yang kemudian ditawarkan Muhidin M Dahlan di
muka berupa upaya dirintisnya buku TV sebagai hasil kolaborasi
kreatif antara jagad kepenulisan dan telekomunikasi, terasa
cukup menarik walaupun tentu masih menyisakan sejumlah
tanda tanya penting.
Antara lain, apakah dalam waktu dekat ini, di tengah
hunjaman kapitalisme dunia hiburan, masih adakah penguasa
media yang peduli terhadap keberlangsungan belantika
keilmuan (literer) dengan menghibahkan (sebagian) waktu dan
dananya untuk membentuk jaringan buku TV? Lebih jauh lagi,
butuh digagas secara serius apakah suguhan yang kemudian
akan dihadirkan oleh kanal semacam ini dalam jangka waktu
lama akan bertahan dan berhasil menggaet animo publik
yang cenderung lebih gandrung pada aneka tontonan berbau
intertainment dan mistik, yang secara diametral berseberangan
dengan ruh keilmuan literer.
Tak dapat dipungkiri bahwa selama ini fasilitas digital
masih merupakan barang mahal dan mewah. Hanya sedikit saja
kelompok masyarakat yang mampu secara leluasa mengakses
langsung ke jantung dunia maya. Walaupun banyak pihak,
termasuk pemerintah, sudah berusaha keras untuk memompa
semangat dan memperbanyak ruang bagi ketersediaan akses
menuju wilayah cyber, antara lain berbentuk pemasangan
fasilitas-fasilitas hot-spot di banyak tempat strategis.
Belum lagi lumpuhnya kesadaran serta kemampuan untuk
melek teknologi yang dimiliki masyarakat kita. Bukan sekadar
gagap, tapi masih banyak masyarakat yang awam teknologi
sehingga kesadaran berteknologi mereka masih belum kunjung
beranjak dari titik nol.

4
Memang sempat merebak optimisme ketika beberapa acara
TV seperti The Oprah Winfrey Show ataupun Kick Andy berupaya
memulihkan kognisi publik untuk turut berakrab-ria dengan
dunia buku, namun hingga sekarang porsi dari acara kreatif
semacam itu masih sangat kecil dibandingkan berbuntal-buntal
acara yang menyajikan hiburan instan.
Tak ada kelirunya memang ketika kita berandai-andai
untuk membangun “arsitektur” dunia pustaka kita ke depan
dengan beragam konsep yang ideal. Hanya saja, berkaca
dari fenomena lambatnya dinamika kesadaran literer yang
memayungi masyarakat Indonesia tersebut, barangkali yang
mutlak harus dilakukan adalah memperluas kesempatan dan
mempersegar ruang perbukuan yang selama ini telah perlahan
tumbuh dan bergerak. Bila beberapa waktu lampau, di ruang
publik pernah menghangat wacana pentingnya keberadaan
para blogger dan komunitas milis perbukuan, hal itu perlu
untuk terus dipertahankan. Jika perlu dikreasikan secara lebih
cerdas dan inovatif.
Sudah saatnya kini para penulis dan praktisi perbukuan
untuk go blog! Bergegas melangkah ke dunia maya dengan
cara sedemikian rupa menciptakan situs/website pribadi atau
komunal bernama blog. Kalau blog serta ruang milis beraroma
buku selama ini hanya didominasi para kutu buku dengan
serakan resensi serta gumaman kekaguman atau umpatan
kekesalan pada buku-buku tertentu, maka telah waktunya
penulis buku turun bergerak dalam langkah yang sama, yakni
memanfaatkan bilik internet untuk berdialog lebih dekat
dengan pembaca.

5
Di bilik tak bertepi inilah, penulis bisa berpromosi
seputar buku barunya, misalnya, atau urun rembug lewat surat
elektronik (e-mail) dengan calon pembaca yang menginginkan
sumbang usul perihal kisi-kisi tulisan tanpa intervensi yang
berlebihan. Mari kita jadi penulis dan pustakawan yang go blog!
[]

ni
a t n ya ki
hs a n
Suda n u lis da n
p e a
para
i p e rbuku
ti s
prak g!
k g o blo kah
unt u
s m elang n
Berg
ega
y a d enga
a
nia m rupa
ke du demikian
se situs
/
cara a k a n u
ipt i ata
menc i b a d
b s ite p
r
m a blog.
w e ern a
o m u nal b
k

6
Cinta dan Asketisme
Seorang Penulis

“Anak muda, menulislah… jangan pernah takut tidak dibaca atau


dibuang orang. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti
akan ada yang membaca dan (bahkan) menerbitkannya…”
(Pramoedya Ananta Toer).

P rovokasi bernas dari almarhum sastrawan kawakan yang


pernah menjadi kandidat peraih Nobel ini cukup indah dan
menggugah. Sebuah api pemantik semangat yang demikian
heroik dan mengusik. Sejarahlah yang kemudian membuktikan
bahwa menulis merupakan aktivitas utama yang nyaris tak bisa
lepas dari hidup seorang Pram.
Bahkan hingga detik-detik menjelang kematiannya, saat ia
sudah lumpuh dan telah tak mampu lagi menulis, Pram masih
setia mengobarkan semangat kaum muda, generasi di bawahnya
untuk senantiasa menulis dan menulis. Ada teladan sekaligus
dedikasi yang tinggi untuk mengangkat profesi penulis sebagai
tugas luhur dan penuh arti.
Manifesto universal yang ditiupkan oleh Pram terasa
aktual dan senapas dengan ungkapan Kahlil Gibran bahwa

7
kerja menulis tak ubahnya sebuah aktivitas yang berlandaskan
cinta dan kedamaian hidup. Karenanya, ia membutuhkan
kesungguhan tekad yang optimal.
Hal yang kemudian patut diperselisihkan adalah sejauh
mana kesungguhan seorang penulis dalam berkecimpung
dengan jagad aksara yang ditekuninya tersebut. Di sinilah
sukar ditepis bahwa menulis adalah sebuah pilihan. Karena
itulah ia mengandung beban, risiko, pamrih serta kecintaan
dan pengorbanan. Dalam kadar takar yang berbeda, semua itu
mutlak harus ditemui dalam belantika literasi (tulis-menulis).
Oleh karenanya tak berlebihan bila ada yang menyebut
menjadi penulis adalah sebuah pilihan hidup yang asketis. Ia
betul-betul membutuhkan niat dan sikap rela berkorban yang
tak main-main. Hanya kesungguhan dan elan spartan yang
sanggup membuat seorang penulis tetap bertahan dan tidak
tereleminasi oleh onak-duri rintangan di tengah jalan.
Banyak contoh yang dapat disodorkan dalam kerangka
ini. Mohammad Fauzil Adhim adalah salah satunya. Di usia
yang masih remaja, Fauzil sudah bernyali memproklamirkan
diri sebagai orang yang siap “menyambung hidup” dengan
jalan menjadi penulis. Bahkan di awal usia 20 tahun ia pun
membuktikan ikrarnya dengan jalan (berani) menikah. Dan
ternyata pilihannya tak bertepuk sebelah tangan. Pria kelahiran
Mojokerto ini sukses berkarir sebagai kepala rumah tangga
sekaligus penulis buku-buku bertema keluarga (parenting) dan
psikologi Islami. Puluhan karyanya berhasil meraup best seller.
Pengalaman hidup yang berkesan itu kemudian ia abadikan
dalam sebuah bukunya yang sangat laris, Indahnya Pernikahan
Dini.

8
Di samping Fauzil, terdapat sejumlah penulis muda yang
memiliki asketisme kepenulisan yang kokoh dan terpelihara
dengan subur. Sebut saja di antaranya adalah Abu Al-Ghifari,
Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Tere Liye, Pipiet Senja, Eka
Kurniawan, Muhidin M Dahlan, Habiburrhman El-Shirazy,
Andrea Hirata hingga beberap nama penulis fiksi remaja Islami
yang sempat tumbuh bertebaran bak cendawan di musim
hujan. Khusus Abu Al-Ghifari, penulis produktif yang satu ini
hampir seluruh pustaka karangannya merupakan best seller di
Penerbit Mujahid Press bandung. Sebagai pengrajin kata, ia
selalu tampak mempunyai energi yang cukup untuk mengulas
problematika kaum muda populer dari perspektif keislaman.
Dus, penulis-penulis asketis selalu berkreasi dan hidup
dengan “cinta”. Cinta yang luar biasa terhadap kelestarian
habitat aksara dan dunia kepenulisan itu sendiri. Beragam
motivasi diri dan desakan lingkungan telah mendorong mereka
untuk sebisa mungkin survive dalam berkarya. Malah tak jarang
di antara mereka ada yang harus mengasingkan diri di sebuah
tempat khusus. Sehingga dunia tulis, pada derajat tertentu,
kadangkala sama halnya dengan memasuki wilayah yang sepi
dan menyendiri. Acapkali ia dicap sebagai zona inspirasi yang
identik dengan kesunyian dan kesendirian.
Kita bisa melihat bagaimana sastrawan senior Ahmad
Tohari lebih memilih untuk tinggal di Tinggarjaya, sebuah
kawasan sunyi di Banyumas, yang dipandangnya lebih leluasa
memberi peluang berimajinasi. Penyair ‘Celurit Emas’ D.
Zawawi Imron memilih uzlah dan bermukim di pelosok terpencil
Sumenep, Madura. Bagaimana seorang Goenawan Mohammad
juga mengasah pena kreativitasnya melawan kebisingan ibu

9
kota dengan menenggelamkan diri bercengkerama dengan
komunitas-komunitas sastra dan kesenian di Jakarta.
Maka boleh dikata, menulis tidak cukup hanya dengan
bermodalkan minat dan bakat belaka, namun juga mesti
ditopang oleh tradisi, lingkungan dan (bahkan) “tekanan”
keadaan. Pun tak sedikit pula penulis yang menulis karena
dipaksa, kendati akhirnya ia kelak mampu eksis dan menemukan
koridor katarsis di sana.
Simaklah penuturan haru dari Muhidin M Dahlan, “Tenaga
saya terlalu ringkih untuk bekerja, retorika saya terlampau
kaku untuk berbicara, penampilan saya terlalu sederhana
untuk menjadi penampil di layar kaca. Maka, bagi saya, menulis
adalah jalan yang terpaksa dan satu-satunya…”

***

Namun demikian, ada sejumlah penulis yang tetap


produktif kendati sambil nyambi aktivitas-aktivitas lain,
walaupun jumlah kalangan ini tergolong langka. Remy Sylado,
Emha Ainun Nadjib, Jalaluddin Rakhmat, Seno Gumira
Ajidarma, Hermawan Kertajaya, Rhenald Kasali, Ippho Santoso,
Anand Kresna, Andreas Harefa dan lain-lain adalah duta dari
segelintir penulis yang juga dikenal aktif berkerja di profesi
yang lain.
Di kelompok ini kita bahkan cukup kesulitan mencari sosok
yang representatif mewakili dunia kampus atau akademisi. Bila
harus menyebut, mungkin ada nama Abdul Munir Mulkhan
yang secara fenomenal tetap mampu produktif dalam berkarya
sembari mencuri peluang di sela-sela waktu padat kegiatan
perkuliahan.

10
Sekali lagi, dengan cinta, penulis asketis berkarya. Mereka
rela berkorban, memikul risiko, memanggul keberanian,
walaupun kerapkali ada yang harus bertaruh nyawa. Sejarah
mencatat, cukup banyak penulis yang etos menulisnya justru
semakin menyala-nyala tatkala mereka harus menulis di dalam
penjara.
Untuk kasus ini Buya Hamka merupakan teladan yang
laik dikedepankan. Justru dari balik hawa dingin jeruji besi,
penulis dan ulama serba bisa asal Sumatera Barat ini sanggup
menyelesaikan karya monumentalnya berupa senarai tafsir Al-
Azhar sebanyak tak kurang dari sembilan jilid. Demikian pula
Syaikh Syamsuddin As-Syarakhsyi yang berjaya merampungkan
penulisan kitab Al-Mabsuuth sebanyak 15 jilid saat ia menjadi
tahanan politik dan dikurung dalam sebuah sumur yang
pengap nan gelap yang disediakan oleh rezim penguasa waktu
itu. As-Syarakhsy dengan telaten mendiktekan gagasan-
gagasannya pada seorang juru tulis yang setia serta ditunjuk
untuk mendampinginya.
Dalam konteks Indonesia, profil yang paling fenomenal
untuk diungkap adalah Pramoedya Ananta Toer. Masa tahanan
dan isolasinya di Pulau Buru bukan saja membuat nyali
pemberontakan Pram terhadap rezim Orde Baru kian berkobar.
Pengarang kelahiran Blora ini malah menjadikan episode
pengasingannya itu sebagai “waktu terindah” untuk senantiasa
menulis dan merampungkan pelbagai karyanya, mulai dari
memoar kehidupan hingga novel-novel tebal yang mencapai
puluhan jumlahnya.
Beragam contoh kasus dan panorama perbukuan di
atas, seyogiyanya semakin menyadarkan para penulis untuk

11
bersungguh-sungguh sekaligus kritis dan mawas diri dengan
sikap kebersediaan menulisnya sebagai sebuah pilihan dalam
mengabdi pada kelestarian potensi literasi. Di sini, ikrar
‘menulis untuk hidup’ maupun ‘hidup untuk menulis’ tidaklah
berhenti sebatas kredo personal semata melainkan harus
dibuktikan secara nyata dalam bentuk asketisme kepenulisan
yang tahan uji.
Menulis, dengan demikian, setidaknya termotivasi
oleh tiga hal. Pertama, sebagai pengeruk keuntungan finansial.
Lazimnya, motif semacam ini dijadikan sumbu pemicu bagi
para penulis pemula supaya selalu bergairah dalam menekuni
dunia literasi.
Kedua, sebagai bagian dan bentuk dari tanggung jawab,
baik itu secara sosial, moral ataupun tanggung jawab lainnya.
Kecuali dalih dakwah, alasan pelestarian mata rantai sejarah
seringkali disebut-sebut sebagai landasan utama dalam hal ini.
Dapat dibayangkan, seandainya satu generasi saja tidak ada
yang sudi menulis, maka sejarah (literasi) jelas akan terputus.
Tiada heran bila beberapa penulis sampai rela – meminjam
istilah Sindhunata – ber”matiraga”. Demi pentingnya
sosialisasi pesan, kadangkala para penulis harus menyiapkan
nama samaran atau anonim untuk misi penyamaran serta
menjaga keselamatan. Pada titik ini, privasi bisa lebih penting
dari sekadar popularitas dan publisitas sebagai pengarang.
Ketiga, sebagai penyemai nilai. Menulis di sini berfungsi
sebagai medium komunikasi yang sangat menjanjikan untuk
saling bertukar pandang dengan khalayak pembaca.
Barangkali untuk saat ini, salah satu penulis asketis yang
patut diteladani oleh generasi muda kita adalah almarhum

12
Kuntowijoyo. Sejarawan ulung yang saraf motoriknya lumpuh
akibat kanker otak ini dalam sisa-sisa akhir hidupnya masih
tetap setia menulis. Dengan dua telunjuknya (kanan-kiri) yang
lemah Pak Kunto tetap saja menulis. Amat pelan dan begitu
lama. Namun siapa bakal menyangka kita masih saja bisa
bersua dengan tulisan-tulisan beliau di sejumlah surat kabar
terkemuka. Baik berbentuk artikel opini maupun cerita pendek.
Tentu saja Pak Kunto menulis tanpa pamrih apapun, kecuali
aktualisasi diri dan tanggung jawab asketis.
Demikianlah, penulis asketis tak pernah patah arang hanya
karena aral yang menghadang. Ancaman, keterbatasan sarana,
penyakit ataupun cacat tubuh bukanlah rintangan dalam
menelurkan karya. Ajip Rosidi tak putus asa saat perpustakaan
pribadi yang ditinggalkannya di Jakarta atapnya bocor, air hujan
menerobos masuk dan ribuan koleksi bukunya hancur jadi
bubur. Ajip tetap tegar, kembali memburu buku, membaca, dan
tetap berkarya.
Maka pada akhirnya pantaslah kita mengamini kata-kata
Pram. “Menulis adalah tugas nasional. Siapapun anak bangsa,
bila ia mampu menulis, maka – atas nama kecintaan terhadap
budaya tulis – tetap dan teruslah menulis…” []

13
Kisah Kutu
Menggumuli Buku

M embincang seputar kegemaran membaca buku sama


halnya dengan berbicara soal waktu. Tak bisa tidak, minat
seseorang terhadap buku-buku amat bergantung pada sejarah:
semenjak kapan ia mengenal buku dan akhirnya ‘terperangkap’
menggandrunginya. Tidak sedikit orang yang terpompa hasrat
membacanya karena memang sedari usia kanak-kanak ia telah
ditopang oleh lingkungan yang memungkinkannya akrab
dengan buku dan bahan bacaan lainnya. Namun tak jarang pula
seseorang tertarik terhadap buku justru saat ia sudah melewati
gerbang usia muda.
Penyair kenamaan Jerman, Moses Rosenkranz mulai
tertarik menggumuli dunia buku dan menulis syair saat ia
memasuki umur 52 tahun: sebuah ambang umur yang, bagi
umumnya manusia, sudah berangkat uzur. Bagi Lin Che wei,
seorang analis keuangan terkemuka di Indonesia, kecintaannya
pada buku terpantik ketika ia telah menamatkan sekolah
pascasarjananya di Singapura. Baru pada masa itulah ia
menemukan gairah yang luar biasa untuk bergaul intim dengan
dunia buku dan berkecimpung aktif di dalamnya.

14
Sebaliknya, Franz Magnis-Suseno dikenal sebagai kutu-
buku berkat topangan ‘fasilitas’ lingkungan sekitar yang
memanjakannya dengan berbagai bahan-bahan bacaan.
Sehingga tak aneh, bila tokoh filsafat yang tumbuh besar di
Jerman ini, sejak masa kanak-kanak telah mampu melahap
aneka bacaan bermutu kelas berat semisal karya-karya Karl
May, Ernes Junger, Franz Kafka, Albert Camus hingga Nikolai
Gogol.
Demikianlah. Sukar disangkal bahwa faktor ketersediaan
ruang, sarana-prasarana, privilege serta keluangan waktu sangat
berpengaruh terhadap pembentukan minat literasi dan baca-
tulis seseorang. Persoalannya, bagaimana generasi selanjutnya
sudi belajar dan mengambil hikmah dari tapak sejarah para
kutu buku dalam berkelana ke belantara pustaka.
Kisah ketertarikan para tokoh terhadap buku dan dinamika
perbukuan dipotret secara apik dalam sebuah buku bertajuk
Bukuku Kakiku. Di bunga rampai yang memotret pengalaman,
kesan dan harapan tersebut, sebanyak 24 tokoh dihadirkan
untuk bersaksi ihwal keakraban mereka dengan jagad pustaka.
Intinya mereka semua secara personal bertutur seputar
pengalaman dan asal muasal mereka mengenal, membaca dan
“tenggelam” dalam pesona buku.
Satu hal yang sukar disangkal, banyak sekali orang yang
merasa sangat “berhutang budi” pada buku. Bukulah yang telah
menempa dan mengantar mereka menuju mozaik keilmuan baru
yang penuh warna. Beberapa penulis seperti Ariel Heryanto,
Daoed Joesoef, dan Sadli, mengakui bahwa bagaimanapun
budaya baca berpengaruh besar terhadap perkembangan
sebuah komunitas masyarakat. Mereka lantas membandingkan

15
spektrum kesadaran literasi di negara kita dengan fenomena
dinamis yang terjadi di banyak wilayah di mancanegara. Betapa
kita, dalam hal baca-tulis, telah sedemikian tertinggal jauh dari
mereka.
Maka menurut Melanie Budianta, diperlukan ulur-tangan
pemerintah dalam membangkitkan minat baca masyarakat.
Jalannya antara lain dengan menjamin ketersediaan
perpustakaan yang kondusif, merata dan memadai. Asumsi
ini diamini juga oleh Budi Darma. Dalam pandangan cerpenis
senior ini, kemampuan baca-tulis tak cukup hanya ditopang
oleh kuatnya bakat, melainkan juga oleh terciptanya tradisi dan
lingkungan yang dinamis.
Sejumlah tokoh menorehkan kesan yang tak habis-habis
akan kedalaman dan keakrabannya dengan dunia buku. Tentu
saja dengan diiringi dinamika dan bahkan misteri hidup yang
kadang kala tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tengoklah
kisah Azyumardi Azra. Cendekiawan Muslim asal Sumatera
Barat ini sama sekali tak pernah berangan-angan untuk menjadi
pembaca sekaligus penulis buku, kelak di kemudian hari.
Mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini kemudian
ditakdirkan bukan hanya sebagai akademisi dan pembaca buku
melainkan juga seorang penulis buku yang produktif.
Azra kecil terlahir dari keluarga yang sederhana.
Perkenalannya dengan bacaan berawal ketika ayahnya, seorang
guru agama, memiliki koleksi sejumlah buku pelajaran sekolah
di rumahnya. Mulailah saat itu ia membaca Salah Asuhan-nya A.
Moeis, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk-nya Buya Hamka serta
cerita-cerita anak lainnya. Nostalgia serta pengalaman waktu

16
kecil inilah yang telah berpengaruh signifikan bagi kecintaannya
yang luar biasa pada khazanah literasi.
Jika dahulu ia hanya bisa membaca buku dengan cara
meminjam di kedai-kedai baca, kini cendekiawan muslim
tersohor ini hari-harinya tak pernah lepas dari buku. Bahkan
ke manapun pergi, terutama bila perjalanan ke luar negeri,
beliau pasti menyempatkan diri berbelanja buku. Koleksi buku
pribadinya sudah di angka belasan ribu. Kelengkapan koleksi
itulah yang pernah membuat seorang peneliti dari sebuah
badan riset Islam kelelahan dan berhenti di tengah jalan untuk
mencatat judul-judul buku milik Azra.
Cerita-cerita menarik dan fenomenal para bookish ini
memunculkan kesan bahwa buku telah demikian berperan
sebagai sahabat setia sekaligus penolong dan penghibur.
Barangkali jauh dari bayangan kita bagaimana sepotong buku
telah berandil besar dalam karir tinju seorang atlet bernama
Syamsul Anwar Harahap.
Buku cerita tentang Wilma Rudolf yang dengan begitu rajin
dibacakan untuknya oleh sang mama telah membakar adrenalin
dan semangat Syamsul untuk bertekad menjadi petinju besar.
Wilma, anak penderita kelumpuhan akibat penyakit polio telah
membuktikan diri sebagai juara lari cepat pada zamannya.
Maka, kelumpuhan tangan yang juga pernah menimpa Syamsul
kemudian bukanlah menjadi rintangan untuk terus bertinju.
Sejarahpun kemudian membuktikan Syamsul Anwar Harahap
adalah salah seorang petinju terbaik di negeri ini hingga sukses
menggondol sabuk juara berkali-kali.
Begitu dahsyatnya pengaruh yang menyebar dan menular
dari buku. Kita dapat membuka cakrawala dunia dengan buku

17
sebagai jendelanya. Kitapun bisa menyelam ke lautan hikmah
dengan buku sebagai pelampungnya. Alhasil, buku tak sangsi
lagi adalah teman dialog yang senantiasa mampu kita ajak
berkomunikasi dengan baik. Kapanpun dan di manapun ia.
Sejauh mana membaca sudi mengakrabinya.
Dalam ungkapan yang unik dan mengusik, Fuad Hassan
menyerupakan seorang pecandu buku dengan predator. Buku,
kemudian menjelma sebagai mangsa utamanya. Maka, pada
kisah para kutu buku mari kita berkiblat meluruskan niat
menjadi predator buku. Semoga. []

18
Media Massa dan
Vulgaritas Bahasa

S eorang anggota Dewan Perwakilan Rakyak Republik


Indonesia (DPR-RI) pernah mengeluarkan komentar dan
menganalogikan sidang parlemen dengan “onani”. Komentar
ini sontak memicu kehebohan dan sempat ramai dilansir
pelbagai media massa (pers). Selain menarik, nyeleneh dan
vulgar, ungkapan simbolik seperti itu mengandung muatan
insinuatif (bias) yang selama ini kebetulan menjadi bahasa
kegemaran media.
Sebelum ini media massa juga telah berandil
mempopulerkan sejumlah komentar dan istilah yang
dimunculkan oleh para figur publik, antara lain “gitu aja kok
repot!”nya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atau ungkapan
“I don’t care” khas Susilo Bambang Yudhoyono.
Pada saat terjadi silang sengkarut di sidang DPR, para
nyamuk pers langsung menangkap berita buruk itu sebagai
good news. Bagi kalangan pers, kericuhan yang terjadi tersebut
tak cukup hanya dilukiskan lewat gambar-gambar di layar kaca.
Ia akan lebih lengkap, seru sekaligus dramatis bila dijelaskan
pula secara karikatural melalui bahasa jurnalisme yang kritis
dan kadangkala sarkastik. Hanya saja, tak jarang bahasa yang

19
dipergunakan media massa terlampau telanjang (vulgar)
sehingga kerap tak mengindahkan etika berbahasa yang santun
dan bertanggung jawab.
Fenomena ketelanjanga berbahasa ini kian menguat
beberapa tahun belakang ini. Kran dibukanya kebebasan pers
seiring munculnya era reformasi, seringkali ditafsirkan secara
berlebihan dan permisif oleh insan-insan media.
Sebuah lembaga komunal di Surabaya bekerjasama dengan
IKIP PGRI Madiun, beberapa waktu lalu pernah melakukan
penelitian mendalam terhadap penggunaan bahasa oleh
pekerja media massa (jurnalis). Dengan mengambil objek tiga
harian berpengaruh di kawasan Jawa Timur selama rentang tiga
tahun terakhir ini. Riset dari kedua institusi tersebut akhirnya
menelurkan tesis bahwa bahasa media massa saat ini memang
sudah mengarah ke vulgarisme bahasa dalam stadium yang
merisaukan.
Hasil penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa
penggunaan metafora sebagai medium bahasa yang kritis
tapi halus, kini cenderung ditinggalkan oleh banyak media.
Sebaliknya, pemakaian bahasa jurnalistik yang terkenal bebas
dan vulgar justru makin sering tersodor ke haribaan khalayak
umum. Bila ditelisik lebih jauh, realitas ironis ini sebenarnya
dapat terbentuk karena berbagai faktor.

Pertama, Gaya Bahasa


Sukar dipingkiri bahwa selera publik saat ini cenderung
lebih menyukai sajian bahasa yang lugas, langsung (to the
point) dan tanpa basa-basi. Paradigma berbahasa eufemistik
gaya orde baru yang tak lebih hanya sebagai ‘kosmetika’ dari

20
sebuah paradoks dan realitas semu, mulai tak disenangi dan
dihindari oleh masyarakat. Pada masa orba, bahasa yang
sengaja dihaluskan dan diseragamkan terbukti efektif sebagai
retorika pembungkam guna memperlancar proyek (atas nama)
pembangunan yang gencar digalang rezim Soeharto.
Menyitir pendapat Akhmad Zaini Abar (1995), kondisi
yang berlangsung saat itu tak ubahnya hanya ”involusi kata-
kata” yang sengaja dirancang guna memandulkan potensi sosial
yang dimiliki masyarakat. Di samping itu untuk melindungi
keberlangsungan kondisi status quo kepemerintahan dari segala
rongrongan yang membahayakan. Di sisi lain, tayangan media
(terutama televisi dan radio) serta miskinnya keteladanan
berbahasa yang dicontohkan para tokoh publik, turut
berpengaruh pada selera berikut gaya bahasa pada tataran
masyarakat akar rumput.
Dalam pandangan Alfian (1973), jurnalisme yang tak
kenal batas dan jauh dari tata cara kelaziman yang pantas, akan
berakibat pada gagalnya sebuah pesan yang hendak diutarakan.
Sebuah kritik, misalnya, ketika ia dikemas dengan bahasa
yang kasar, bakal kontraproduktif dan bahkan mengundang
kebencian dan sikap antipati.

Kedua, Aspek Psikologi


Di tengah netralitas yang diusungnya, sebuah media tetap
saja memiliki kepentingan dan ideologi tertentu. Karenanya,
dalam banyak hal ia mewakili suatu emosi yang terpendam.
Pada dimensi ini, media tak jarang telah memihak dan bahkan
tak segan bertindak sebagai ”mesin” pembunuh karakter yang

21
agitatif dan keji. Premis Thomas Luckman (1990) perihal
besarnya kemungkinan media massa mengedepankan aspek
pejoratif (merendahkan) terhadap pihak lain, menjadi aktual
dan mudah dijumpai.
Istilah “Ganyang Malaysia!” yang pernah masyhur di
era presiden Soekarno, sempat kembali populer seiring
memanasnya hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia
disebabkan sejumlah kasus seperti perebutan garis wilayah
dan beberapa kasus politis lainnya. Ingat, istilah “ganyang”
merupakan kosa kata yang amat kasar dan karenanya sempat
dilarang keras untuk digunakan.
Pada aras demikian, media massa dengan bahasa-bahasa
vulgarnya berpotensi menjadi alat politik yang resisten dan sarat
“iklan”. Sebagai medium politik ia menjadi bagian dari amunisi
bagi sebuah pertarungan untuk memperebutkan pengaruh dan
kekuasaan. Tepat di titik inilah visi keberimbangan, objektivitas
dan netralitas yang merupakan sumbu utama dari jurnalisme
media, layak digugat dan dipertanyakan.

Ketiga, Pola Komunikasi


Tak bisa disangkal, serbuan peradaban hedonistik dengan
produk budaya-budaya instannya telah serta-merta turut
mendesain pola komunikasi masyarakat ke arah yang demikian
bebas dan nirbatas. Sayangnya kebebasan yang terjadi justru
cenderung menuju ke arah pengabaian dan pergeseran dari
nilai-nilai luhur yang ada semula.
Bahasa manusia mutakhir selain mengaburkan identitass
asal, juga langsung maupun tidak, turut menjerumuskan
mereka dan komunitas budaya tinggi yang masih menjunjung

22
etika menuju budaya rendah yang acuh terhadap tata aturan
sosial.
Panorama vulgarisme berbahasa ini, tak pelak kita rasakan
semakin menambah agenda tuntutan yang selama ini nyaring
disuarakan masyarakat sebagai konsumen utama dari media
massa. Belum tuntas persoalan porografi media yang marak
dan meresahkan, kita masih harus dihadapkan pada persoalan
etika bebahasa yang diterapkan oleh kebanyakan media.
Salah satu solusi yang patut dikedepankan dalam
problema ini adalah menghimbau seluruh elemen masyarakat,
terutama para figur publik, praktisi media, serta kalangan
yang berkompeten dengan dunia jurnalistik dan tulis-menulis,
untuk menyadari dampak dari vulgarisme bahasa yang selama
ini mereka pertontonkan di hadapan publik.
Para tokoh (mulai dari pejabat formal hingga kalangan
selebritas) sudah saatnya mengontrol diri agar tak mudah dan
ceroboh mempertunjukan bahasa tak laik dipakai. Kesadaran
mesti senantiasa dipatrikan bahwa mereka, merasa atau tidak,
adalah sosok yang selalu dipantau dan ditiru oleh khalayak
awam yang tak semuanya mengenyam pendidikan.
Yang lebih penting lagi, media massa hendaknya juga
selektif dan berhati-hati dalam penyuguhan kosa bahasa.
Institusi media seyogiyanya menyadari bahwa bahasa tak
sekadar berfungsi sebagai medium komunikasi. Lebih dari
itu, bahasa juga mampu menggerakkan amarah, memobilisasi
emosi, dan juga menyebarkan kekerasan dalam aneka kemasan
dan dengan pelbagai alasan. []

23
Mengembalikan
Tinta Tigris

N urcholish Madjid (Cak Nur) pernah berkesimpulan bahwa


seandainya tak ada kolonialisasi di Indonesia, sangat
besar kemungkinan sistem pondok pesantren akan menjadi
paradigma pendidikan nasional. Bahkan bukan tak mungkin
menjadi paradigma pendidikan dunia.
Pondok pesantren merupakan komunitas plural dan
multikultur. Di dalamnya terdapat pelangi kehidupan yang
konfiguratif dan sinergis. Pada umumnya pesantren menjadi
heterogen karena terwakili oleh keberadaan santri-santrinya
yang datang dari berbagai daerah yang masing-masing hadir
membawa kekayaan nuansa dan warna tradisi dan budaya.
Dengan semua itu, jadilah pesantren sebagai wahana yang
memiliki ciri dan karakter yang khas. Timbullah di sana boarding
system dengan kentalnya figuritas kiai dan dialektika unik para
santrinya.
Semestinya dengan fenomena tersebut, yang bisa dan
seharusnya dihadirkan oleh pesantren adalah aktivitas,
kreativitas dan totalitas dalam banyak hal dan bukan malah
panorama kusut dan loyo yang tampak dari “mlempem”-nya
ghirrah intelektual serta rapuhnya militansi pikir para santri

24
dan pengelolanya. Dus, kita harus yakin bahwa orang-orang
pesantren sendirilah yang mampu menguatkan daya tawar
pesantren dengan lingkungan luar. Tak lain dan tak bukan.
Jikalau ditelaah, hipotesis Cak Nur di muka terasa cukup
rasional dan bisa diterima nalar. Fakta memaparkan pada kita
akan kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap pesantren.
Sebagai lembaga moral alternatif, ia telah terbukti tegar,
matang dan didewasakan oleh tempaan sejarah. Kontribusinya
terhadap kejayaan bangsa serta keunggulan kader-kadernya tak
perlu disangsikan.
Selama ini salah satu kelemahan paling mencolok dari
institusi pesantren adalah miskin dan lemahnya tradisi budaya
tulis di dalamnya. Kita bisa merasakan sejumlah dampak dan
akibatnya. Pesantren menjadi tidak memiliki media dokumentasi
yang bonafid. Profesionalitas sistem dan kinerjanya menjadi
jauh dari optimal. Dan yang jamak terjadi, komunikasi yang
semestinya terjalin dinamis dengan komunitas-komunitas luar
menjadi mengambang dan tidak komunikatif.
Nah, di sini peran vital literasi, pers dan jurnalisme ala
pesantren menjadi kebutuhan yang niscaya. Dunia junalistik
yang sebelumnya relatif “menjauh” dari atmosfer pesantren
bisa menemukan kekhusyukan visinya manakala berhadapan
face to face dengan dunia majemuk kepesantrenan. Betapa tidak,
kehadiran para santri yang mewakili berbagai entitas kultur
dan tradisi dengan segala khazanahnya tentu merupakan bahan
(referensi) jurnalisme yang tak pernah lekang.
Belum lagi jika pesantren memberdayakan diri melalui
budaya tarjamah (penerjemahan karya ulama) secara intensif
dan elaboratif. Jujur saja, sedemikian banyak literatur-literatur

25
kitab kuning kepesantrenan (berbahasa Arab) yang belum
kita “kenali” sekaligus kita kenalkan pada masyarakat. Karena
harus diakui bahwa dalam hal budaya dan daya transliterasi
intelektual ini kita masih harus banyak belajar dan berproses.
Seakan pesantren merelakan “orang luar” untuk mengacak-
acak dan mengelaborasinya.
Kalau kita mau memutar kaleidoskop peradaban Islam,
secara komunal sepantasnya kita merasa ‘berdosa’. Kaum
muslim generasi kini sesungguhnya memiliki beban intelektual
yang secara susah payah telah diwariskan kader “emas” ilmuan
muslim terdahulu yang telah dirintis oleh Imam As-Syafi’i,
Al-Ghazali, Al-Faraby, Ibnu Sina dan yang lainnya. Merekalah
yang telah mendandani dunia ini dengan aroma “keislaman”.
Merekalah yang telah kukuh dan berdarah-darah memosisikan
Islam sebagai paradigma intelektual (manhaj al-fikr) dengan
kegemilangan pencapaian yang tiada tara.
Naif rasanya jika kita melupakan tapak-jejak sejarah.
Bagaimana kita bisa menutup mata ketika gemilang peradaban
dunia dipuncaki Islam pada era keemasan dinasti Abbasiyah.
Bagaimana pula kita tidak diremukkan oleh kesedihan pada
saat kebiadaban bangsa Tar-tar dengan secepat kilat begitu
saja menghanguskan imperium keilmuan Islam yang sudah
sedemikian hegemonik saat itu. Darul Hikmah, perpustakaan
terbesar dunia pada masa itu menjadi lantak dalam debu.
Literatur-literatur keislaman dihancurkan dan “raib” ditelan
buana. Sungai Tigris pun menghitam karena tumpahan tinta
karya-karya spektakuler ilmuan muslim. Lalu, kini ke manakah
aliran tinta Tigris itu?

26
Naif rasanya jika kita melupakan tapak-
jejak sejarah. Bagaimana kita bisa
menutup mata ketika gemilang peradaban
dunia dipuncaki Islam pada era keemasan
dinasti Abbasiyah. Bagaimana pula kita
tidak diremukkan oleh kesedihan pada
saat kebiadaban bangsa Tar-tar dengan
secepat kilat begitu saja menghanguskan
imperium keilmuan Islam yang sudah
sedemikian hegemonik saat itu.

27
Kita yang harus mengembalikannya; menjawabnya
dengan kesadaran intelektual, tanggung jawab keilmuan dan
keniscayaan moral; dan menjawabnya dengan karya-karya yang
nyata.
Seandainya mereka (para ilmuan muslim) itu masih
hidup, mungkin ia akan menghentak kita dengan perintah:
“kembalikan lautan tinta itu dengan gemilang karyamu!”
Mungkin juga mereka akan mengacung jempol dan menaruh
respek kepada Anwar Ibrahim, seorang cendekiawan Malaysia
yang telah memotivasi dan memprovokasi generasi Islam
dengan guliran gagasannya, “Asian Reinassance”. Mereka dan
Anwar Ibrahim tentu sepakat, kitalah syubban al-yaum yang
wajib mewujudkan harapan itu.

***

Dimensi-dimensi kesejarahan (historisitas) adalah


sebagian dari aspek yang langka dijamah oleh kosmologi
pemikiran kaum pesantren. Padahal kita bisa belajar teramat
banyak dari tapak sejarah. Meminjam istilah Ahmad Tohari,
kita acapkali terjebak dalam “kekonyolan kultural” dengan tidak
mau berpatokan pada falsafah “spion”. Dengan “spion” kita
senantiasa menghadap dan berjalan ke arah depan namun
pada saat yang sama tetap awas dan “hafal” dengan situasi di
belakang.
Dengan begitu akan terbentuk sikap mawas diri dan
kritis. Dalam konteks ini, kita juga bisa mengarifi pesan Zidi
Gazalba, “Posisikan diri kita sebagai penumpang kereta api
yang selalu tahu (melalui jendela) bahwa pohon-pohon di
sekeliling kita senantiasa hidup dan bergerak”. Ternyata benar.

28
Lokomotif tetangga dan orang lain telah jauh meninggalkan
kita. Jauh-jauh hari masyarakat pesantren sudah diwejangi
dengan konsep “Al-‘ilm shaydun wa al-kitaabah qayduh”. Ilmu
ibarat hewan liar, tulisanlah yang menjadi tali kekangnya.
Motto-motto bernada motivasi tersebut sudah tak asing lagi di
telinga insan pesantren. Mereka sebenarnya sudah luar biasa
hafal, mengetahui dan sadar akan akurasi dan autokritik yang
dikandung dan ditimbulkannya.
Namun kesadaran mereka tampaknya masih lebih banyak
dalam landasan teori. Tiada banyak membekas dalam wujud
karya nyata. Komunitas santri sejauh ini masih terkesan
membiarkan khazanah ilmu dan kepesantrenan menguap
begitu saja. Dunia literasi seakan dianggap hal remeh-temeh
dan bahkan mungkin “tabu” bagi mereka. Merekapun seolah
belum mampu secara optimal menerjemahkan nasihat Gus Dur
bahwa gaya “prihatin” ala santri zaman milenial kini lebih pas
dalam bentuk “banyak membaca”. Bukan sekadar aksi ngrowot
dan “banyak berpuasa”.
Dalam wacana nahdliyyah, keteladanan seorang Mahbub
Junaidi yang terlahir dan besar dari rahim Nahdlatul Ulama
dan pernah menjadi figur fenomenal dalam konstelasi pers
nasional, belum menemukan kader-kader yang sepadan yang
memiliki kecakapan untuk mewarisi keilmuan sekaligus ke-NU-
annya. Para khalayak nahdliyyin masih terlalu sulit melepaskan
diri dari cengkeraman budaya kelisanan yang sedemikian lama
menghegemoni kesadaran mereka.
Pertanyaannya kini, apa kabar dunia literasi dan jurnalisme
di pesantren?

29
Sudahkah ia mampu memupus kecenderungan masyarakat
yang cukup lama betah menjadi pembaca yang paling “baik”?
Sudahkah ia berjaya dan berupaya mengubah budaya “sebul
rokok” ala santri menjadi tradisi “gemar membaca”? Sudahkah
kaum santri era kini menjadi pahlawan literasi yang tak hanya
“jago dalam tempurung”?
Kinilah saat yang paling tepat untuk menjawabnya. Kini
saatnya memoles masyarakat pesantren dan membentuknya
menjadi agen yang sudi membaca, menulis dan berkorban
dalam banyak aspek. Saatnya pejuang santri mewujudkan
dinamika literasi serta media jurnalistik pesantren sebagai
wahana alternatif yang “istiqomah”, tidak terganggu hanya
karena fluktuasi harga kertas dan gejolak ekonomi. Lebih
penting lagi, tidak membaiat diri menjadi media “kultus” yang
inklusif dan sektarian. Terakhir, tidak kemudian hanya berputar
pada orbat “terbit-molor-mati”. Mudah-mudahan. []

30
BAB II

LITERAS I
Biografi dan Sejarawan yang Enggan Berkarya
Buku, Film dan Selebrasi Dunia Baca
Buku-Buku Paling Dikecam
Gus Dur yang Tenang dan Musuh yang Garang
Kesaktian “The Santri”
Marhaban, Pustaka Pesantren!
Melihat Kelebat Buku-Buku Silat
Mendulang Rezeki dari Buku Siap Saji
Palestina dalam Segenggam Jurgam
Pamer Karakter Lewat Cover
Paras Kasar Radikalisme Agama
Pustaka Pergunjingan: Mengunci Kebenaran dalam Kotak Pandora
Ramadan dan Buku Remaja
Seputar Buku Pintar
Biografi dan Sejarawan
yang Enggan Berkarya

A ndai kata tak ada paksaan dari almarhum Asrul Sani,


mungkin hingga hari ini kita tak akan pernah membaca
roman biografi tersohor karya KH Saifuddin Zuhri, Guruku
Orang-orang dari Pesantren. Desakan sineas terkemuka itulah
yang membuat semangat menulis KH Saifudin Zuhri memanas
sehingga pada pertengahan tahun 70-an lahirlah buku sederhana
yang diakui banyak kalangan sebagai satu dari amat sedikit
pustaka biografi di Indonesia yang mampu tampil fenomenal
dan memikat.
Sepenggal kisah tersebut barangkali senapas dengan
kondisi perbukuan, terutama genre biografi saat ini.
Kemerebakan penerbitan buku-buku biografi akhir-akhir ini,
kita yakini juga lahir akibat munculnya desakan-desakan dan
kondisi tertentu. Hanya, desakan tersebut sudah dibungkus
oleh beragam motif dan kepentingan yang beraneka-rupa. Sulit
ditepis, beragam buku biografi, autobiografi (biografi yang
ditulis oleh penulisnya sendiri) maupun prosopografi (biografi
kolektif) terkini tersaji dengan latar yang berbeda-beda, antara
lain latar politik serta -- yang paling menonjol -- kepentingan
bisnis (profit oriented).

32
Maka tak terlampau aneh, jika para tokoh serta selebriti
kita seolah “latah” untuk ikut-ikutan mewarnai trend.
Kondisi itu dapat dilihat ketika para figur publik beramai-
ramai memamerkan sejarah hidup mereka lewat lembar-
lembar halaman buku. Mulai artis senior Titiek Puspa, Helmy
Yahya, Krisdayanti, Hedi Yunus, Ki Manteb Sudarsono, Dorce
Gamalama, hingga pebulu tangkis Taufik Hidayat.
Di lapangan politik, kondisinya tak jauh berbeda. Apalagi
kondisi ini ditopang oleh konstelasi sosial politik yang hingar-
bingar biasanya menjelang digelarnya Pemilu atau Pilkada.
Biografi, dalam konteks ini, merupakan senjata ampuh guna
memperkenalkan tokoh-tokoh politik pada masyarakat pemilih.
Ia pun menjadi iklan politik yang cerdas dan gagas untuk
memperkenalkan secara lebih dekat program partai maupun
sosok tertentu ke hadapan publik.
Amien Rais dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bisa
disebut sebagai dua tokoh yang paling banyak menelurkan
buku-buku biografis mereka selama ini. Sejarah dan fenomena
kepribadian kedua tokoh ini seakan tidak pernah lekang dikupas
dari pelbagai sisi. Bahkan biografi terakhir Pak Amien hingga
“harus” diterbitkan di luar negeri (Singapura).

Kepentingan Pasar
Di satu sisi, fenomena kemarakan buku biografi dapat
dibaca sebagai kelihaian sebagian pihak dalam membaca pangsa
pasar buku. Walaupun secara ekonomis, ada beberapa buku
yang tak begitu peduli dengan hitungan untung-rugi (semisal
biografi politik), namun kejelasan segmen dan lingkup pasar
pembaca adalah suatu jaminan yang menggiurkan.

33
Dalam salah satu buku terbarunya, Metodologi Sejarah: Edisi
Kedua (2003), sejarawan Kuntowijoyo menyimpulkan salah
satu faktor di balik fenomena laris manisnya buku biografi
adalah terciptanya segmen pembaca yang jelas dan kuat. Maka
tak begitu mengherankan apabila pembaca rela merogoh saku
lebih dalam, hanya untuk memiliki “panduan” sejarah tentang
idola mereka.
Namun di lain sisi, kondisi menggembirakan tersebut
serta-merta menimbulkan pertanyaan ihwal mutu dan kelayakan
sebuah karya biografi. Kiranya, hal ini bisa dimaklumi sebab
kebanyakan buku biografi yang notabene kisah sejarah itu,
justru tidak ditulis oleh para sejarawan. Para penulis biografi
pada umumnya adalah seorang sastrawan serta jurnalis.
Tentu saja premis semacam ini bukan berarti berpretensi
mengunggulkan ahli sejarah di atas profesi yang lain. Tetapi
manakala sejarah itu diracik oleh tangan sejarawan, tentu hasil
dan sentuhannya akan berbeda.
Asumsi senada ini lantas berimbas pada kekhawatiran
dan kecurigaan akan adanya faktor “proyek” di balik penulisan
sebuah buku biografi. Hal ini pun sesungguhnya memiliki
alasan yang kuat.
Bila John A Garraty dalam karyanya The Nature of Biography
menandaskan biografi tak lebih adalah “catatan tentang hidup
seseorang”, maka patut dipertanyakan jika penulisannya hanya
menonjolkan sisi positif (heroisme) dari sang tokoh belaka
tanpa pemotretan yang lengkap meliputi anasir suka-duka dan
terang-gelap kehidupan dari tokoh yang diceritakan.
Kendati hal itu nantinya akan berdampak pada “risiko
bisnis”, pengungkapan sisi hidup seseorang tokoh secara

34
lengkap, padu dan utuh (koheren) merupakan tugas utama
dari seorang penulis sejarah. Ia semestinya menempatkan diri
sebatas partisipan, bahkan sebagai pihak yang sama sekali
belum tahu (the unknown). Atau bila perlu ia “menyamar”
sebagai detektif yang menelisik dengan penuh selidik.
Lain dari itu, biografi sering dimaknai sebagai “merangkai
sejarah dengan seni”. Karena itu, ia membutuhkan kiat dan
trik tertentu guna menyajikan sejarah secara kokoh, mengalir,
dan featurize. Kecenderungan seperti itu bisa ditengok dari
betapa sedikit sejarawan yang sudi menulis biografi. Kita bisa
mencatat hanyalah Taufik Abdullah dan Anhar Gonggong yang
“barangkali” mewakili secuil penulis dari kalangan sejarawan
“murni”. Adapun nama-nama seperti Muhammad Roem,
Ajip Rosidi, Ramadhan KH, Deliar Noer, Rosihan Anwar, A
Makmur Makka, hingga generasi Ninok Leksono, Alberthiene
Endah ataupun trio Massardi Bersaudara tak lebih adalah
para sastrawan dan jurnalis andal yang “melancong” ke dunia
biografi.

Menggugah Minat
Realitas dilematis serupa ini seharusnya dapat menggugah
minat para sejarawan untuk “turun gunung” dan tidak hanya
mendekam di atas menara gading dunia akademik. Nama
semisal Soebagjo adalah satu di antara teladan yang pantas
mereka tiru. Soebagjo (walaupun bukan sejarawan) hingga
kini telah mampu menghasilkan lebih dari sepuluh biografi
tokoh nasional. Pada titik ini, ia layak digelari “penyelamat”
sejarawan yang dalam terma tertentu, melebih jasa sejarawan
sekalipun.

35
Langkanya buku-buku biografi yang laik mutu, bila ditelisik
lebih jauh, turut dipicu oleh kurangnya keseriusan penulis
sejarah dalam upayanya menyajikan fakta historis dengan
cara yang cakap dan terampil. Di era kini, kita lebih banyak
disuguhi oleh aneka biografi yang lebih banyak menawarkan
kegemerlapan hidup, mendiskreditan pihak lain (sembari pada
saat yang sama menganut pola hero in history), pengaburan fakta
sejarah (historical authenticity) serta kebercerai-beraian latar
kisah.
Pada era sekarang kita sudah demikian sulit menemukan
buku-buku biografi yang turut membuat kesadaran pembaca
geram sekaligus terharu biru sebagaimana dilakukan
Pramoedya Ananta Toer dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, atau
kisah perjuangan sesosok remaja yang hiruk-pikuk dan penuh
keringat dalam novel biografi Soekarno: Kuantar ke Gerbang, roman
sejarah yang melukiskan kebersahajaan sekaligus keteduhan
orang-orang pesantren di pedesaan seperti dituturkan
dengan apik oleh Saifudin Zuhri dalam Guruku Orang-orang
dari Pesantren, ataupun feature romantika kekeluargaan yang
memilukan seperti pengakuan pribadi mendiang Gandhi dalam
An Autobiography-nya yang termasyhur.
Sedemikian hingga, kita acap kali menjadi lebih berselera
jika membaca biografi yang (justru) ditulis oleh para pengamat
luar (Indonesianis). Hal ini disebabkan keyakinan kita yang
boleh jadi berlebihan terhadap kesungguhan, profesionalitas
dan netralitas mereka. Apalagi kondisi tersebut diperparah
dengan sikap malas dan abai para sejarawan kita untuk
“sekadar” menulis buku-buku sejarah yang terkemas secara
populer dan memadai.

36
Dalam banyak hal, kita sungguh merindukan hadirnya
pustaka-pustaka biografi berkualitas mumpuni seperti yang
dihasilkan para penulis luar itu. Kita rindu kehadiran buku-
buku semisal Tan Malaka karya Harry A Poeze, Soekarno dan
Perjuangan Kemerdekaan (Bernhard Dahm) atau bahkan Anak
Desa: Biografi Presiden Soeharto (OG Roeder) hingga Biografi Gus
Dur (Greg Barton). Di bidang penerjemahan pun kita kesulitan
mencari biografi yang betul-betul bagus sekaliber Hayatu
Muhammad tulisan Husein Haykal yang telah di Indonesiakan
sedemikian baik oleh Ali Audah.
Dari segi kualitas, barang kali kita pantas untuk kurang
puas. Namun demikian, hikmah penting yang bisa kita ambil
dari meningkatnya kuantitas karya biografi ini adalah kian
kuatnya kesadaran untuk melestarikan tradisi tulis dalam
komunitas perbukuan kita.
Sebagaimana ditengarai oleh banyak kalangan bahwa
tradisi keberaksaraan di negeri ini lambat laun telah mulai
melunturkan budaya kelisanan yang sedemikian lama
menghegemoni kesadaran kolektif masyarakat.
Pada bingkai tersebut, seburuk apapun “iklan” yang
hendak disuguhkan dalam buku-buku biografi (seperti amat
tampak dalam aneka biografi politik), hal itu sewajarnyalah
disikapi sebagai bagian dari Simptom dan upaya cerdas jagat
literasi kita dalam menembus tradisi lisan yang telah tumbuh
“beranak-pinak” di tengah kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, kesadaran akan pentingnya budaya
tulis, kian mendapat respons positif dari khalayak. []

37
Buku, Film dan Selebrasi
Dunia Baca

T eenlit TV Series. Demikianlah tajuk acara kerjasama yang


pernah diluncurkan oleh Penerbit Gramedia dengan stasiun
televisi TV7. Paket semacam casting dan penggalian bakat (talent
search) tersebut digelar untuk menjaring calon-calon pemain
sinetron remaja yang bakal memerankan tokoh-tokoh dalam
serial “Fairish”, sebuah sinema televisi yang diangkat dari novel
remaja (teen literature) berjudul serupa karya penulis belia, Esti
Kinasih.
Selain terbilang terobosan baru, menu acara semacam itu
tak pelak hadir mewakili potret aktual dari kian lengketnya
hubungan dunia sinema dan dunia pustaka kita, terutama
beberapa tahun belakangan ini. Sebuah pertemanan intim
antara jagad audio-visual dan jagat literer, antara gambar
bergerak dan aksara bermakna.
Semenjak sukses yang pernah diraup film Ada Apa
Dengan Cinta? dunia perfilman nusantara perlahan bangkit dan
menemukan kegairahan berkarya yang luar biasa. Momentum
ini tampak dari menjamurnya produksi film dari berbagai label
dan genre. Apalagi setelah Festival Film Indonesia (FFI) dihelat
kembali setelah sempat vakum sekian lama.

38
Realitas perfilman ini, dalam banyak hal, setali tiga uang
dengan kondisi perbukuan, khususnya penulisan skenario
dan karya fiksi. Keterlelapan yang begitu lama akhirnya
menyadarkan insan film dan buku kita untuk bangun dan
segera berbenah, mengukur diri, menata potensi dan membaca
peluang yang mungkin diraih di masa depan.
Eiffel I’m in Love adalah tonggak mutakhir bagi beriring­
annya kesuksesan sebuah film dengan novel (buku) sekaligus.
Karya Rachmania Arunita yang mulanya beredar dari tangan
ke tangan tersebut terbukti mendulang untung besar ketika
diangkat ke layar lebar. Maka semenjak saat itu, seolah berlaku
asumsi awam bahwa keberhasilan sebuah film tak cukup hanya
dikemas dalam kepingan Compact Disc (CD) semata, namun
hendaknya dilansir pula versi cetaknya (buku).

***

Kondisi demikian terasa menarik diamati, karena


selama ini dunia film dan baca-tulis selalu dikesankan secara
kontradiktif. Keduanya kerap diibaratkan air dan minyak yang
mustahil bersatu. Alih-alih mendukung, satu dengan yang lain
acapkali diposisikan berbalik dan saling menihilkan. Insan
perbukuan cenderung menuding dunia tontonan sebagai
medium hiburan yang tak bermutu dan menumpulkan potensi
kreatif. Sementara orang film terkesan mengabaikan dunia
literer, dan baru menganggapnya penting bilamana ada sebuah
karya (tulis) yang berhasil merebut animo publik, berangkat
dari riset serius dan selaras dengan trend dan selera pasar.
Karenanya, kerukunan semacam ini layak ditindaklanjuti
dengan kerjasama yang saling topang. Dunia buku bagaimanapun
harus menyadari bahwa membudayakan tradisi baca bukanlah

39
proyek garapan yang sebentar dan radikal. Mereka semestinya
sadar pula bahwa ada kebutuhan tertentu yang hanya bisa
terpuaskan lewat medium audio-visual dan tak sepenuhnya
dapat disediakan oleh buku. Adapun di sisi lain, dunia pustaka
harus mampu meyakinkan bahwa buku lebih dari sekadar
film karena kemampuan daya rekamnya yang lengkap, detail,
runtut, imajinatif dan menyediakan ruangan penghayatan yang
lebih lama.
Yang jelas, kondisi dinamis seperti ini bukanlah
“kelahiran” yang sama sekali baru. Jauh sebelum itu dunia
buku dan perfilman sudah melakukan simbiosis mutualisme
yang akrab. Banyak film kita baik di layar gelas maupun layar
perak yang terinspirasi dari karya tulis (fiksi). Kita mencatat
tak sedikit film era 1970-an hingga awal 1990 yang berawal
dari lembaran-lembaran buku. Salah Asuhan, Sengsara Membawa
Nikmat, Cintaku di Kampus Biru hingga serial-serial kegemaran
kaum remaja seperti Lupus, Olga, Catatan Si Boy dan Balada Si
Roy adalah sejumlah karya yang sanggup mengorbitkan para
pengarang lintas zaman, mulai angkatan Balai Pustaka hingga
ke generasi fiksi pop mutakhir semisal Marga T, V. Lestari, Mira
W, La Rose sampai generasi “slank” era Hilman Hadiwijaya dan
Gola Gong.
Lebih dari itu, perkawinan kedua kutub tersebut serta
merta kian mengakrabkan khalayak awam dengan dunia baca-
tulis. Tengoklah rak-rak di toko-toko buku kita beberapa tahun
belakangan ini. Nyaris semua film bioskop bahkan sinetron
(terutama remaja) telah tersedia edisi cetaknya (novel). Tercatat
mulai dari AADC?, Eiffel I’m in Love, Tusuk Jelangkung, Di Sini Ada
Setan hingga Brownies karya Fira Basuki. Setelah itu kemudian

40
dirilis film-film dari novel semi-biografis seperti Gie atau Ketika
Mas Gagah Pergi yang tak lebih merupakan “adaptasi kreatif ”
dari memoar catatan Soe Hok Gie dan Helvy Tiana Rosa. Di
genre yang lain terbit pula karya-karya animasi hasil adaptasi
dari hikayat dan kisah para legenda semisal Mahabharata.
Panorama di mancanegara pun tak jauh beda. Telah jamak
diketahui jikalau tak sedikit dari film-film box office Hollywood
merupakan kelanjutan dari sukses roman-roman pilihan karya
penulis andal. Tak dapat dipungkiri, karena “jaminan” nama-
nama tenar John Grisham, Toni Morrison, Sidney Sheldon,
Agatha Christie, Emile Zola, Mark Twain, Virginia Woolf hingga
Tom Clancy, Dan Brown,Umberto Eco, dan JK Rowling, maka
berimbas positif juga pada meledaknya karya mereka ketika di
angkat ke layar perak.
Kendati, kerangka patok seperti ini tak selamanya bisa diacu
sebab kesuksesan sebuah film tak senantiasa berbanding lurus
dengan keberhasilan yang pernah direngkuh saat ia berbentuk
roman. Sebagai misal, The Lord of The Rings, film terbaik Oscar
2003 tersebut justru jauh lebih sukses dibandingkan edisi
novelnya. Untuk kasus ini, rekor terbaik adalah apa yang pernah
dan sedang dialami oleh “si ratu khayal” JK rowling lewat serial
monumental Harry Potter-nya. Novel dan filmnya, keduanya
tandas diserap pasar. Hal yang barangkali terasa ironis adalah
serbuan film-film Hindustan, sinema telenovela Latin (dan
sekarang drama khas Korea) yang cukup lama menggodam
cakrawala khayal masyarakat kita. Mengapa karya para penulis
(dalam bentuk pustaka cetak) dari ketiga wilayah tersebut amat
jarang menyapa pembaca di Indonesia?
Arus perfilman mereka menghambur jauh lebih deras
ketimbang karya literernya. Padahal kawasan tanah air mereka

41
masyhur sebagai lumbung penulis-penulis fiksi”kelas nobel”.
Segelintir nama semisal Rabindranath Tagore, Arundhati Roy,
Jhumpa Lahiri ataupun Jorge Luis Borges serta Gabriel Garcia
Marquez adalah sisipan kecil di antara buntalan rol-rol besar
karya para senias Bollywood dan Amerika Latin yang hingga
hari ini senantiasa masih menebar ‘magnet’ dan digandrungi
khalayak pemirsa di Tanah Air.
Hikmah yang dapat dipetik dari realitas tersebut, ledakan
penulisan buku-buku teenlit, chicklit, serta tradisi pembukuan
naskah skenario dan roman latar film, pada taraf tertentu, boleh
dibilang sebagai gejala kebangkitan yang cukup melegakan.
Kesemarakan karya fiksi serta menjamurnya penulis-penulis
muda adalah merupakan buah dari bersinggungan kreatif
antara dunia film dan buku.
Keadaan dinamis ini telah pula melahirkan pergeseran
budaya yang signifikan. Belantika baca-tulis yang semula
dipinggirkan perlahan mulai bergerak ke tengah dan diterima
banyak lapisan. Anggapan bahwa dunia perbukuan adalah
”laboratorium” yang pengap dan menjemukan mulai berganti
menjadi sarana aktualisasi gagasan yang segar, cair, asyik dan
menguntungkan.
Remaja, lebih-lebih yang terbiasa dengan tradisi penulisan
buku harian dan majalah dinding, menjadi semakin semangat
berkreasi. Sebagai kanal, penerbit dan rumah produksi ke­
walahan menampung banjir naskah yang datang bak gelombang.
Fenomena ini sesungguhnya layak dibaca sebagai masa-masa
perayaan (selebrasi) dunia baca-tulis yang entah hingga kapan
bisa terus dipertahankan.
Kalaupun selama ini mozaik perfilman terlihat lebih
hinggar-binggar dibandingkan dunia buku, namun dari segi

42
laba kapital (profit) sama-sama menjanjikan keuntungan yang
besar. Hal ini pun tak boleh dipandang dari perspektif kalah-
menang. Keduanya mesti saling sokong. Persoalan bahwa jagat
perfilman lebih mendominasi, hal itu semata hukum alam
yang lumrah diterima. Kognisi sosial masyarakat yang masih
dipayungi pola hidup instan menyebabkan mereka lebih giur
dengan hal-hal yang bersifat permukaan dan glamour. Pasar,
dalam hal ini, menjadi kemudi yang harus direbut dan dikuasai.
Kenyataan serupa ini justru sebisa mungkin melecut
semangat dan kesungguhan insan-insan perbukuan untuk
membawa dinamika perbukuan, paling tidak, sejajar dengan
”prestasi” perfilman. Para pegiat pustaka hendaknya belajar
bagaimana pelaku perfilman mampu bersiasat dan berhitung
dengan kepentingan pasar. Sedangkan orang film juga
selayaknya memberi porsi yang apresiatif dan pantas terhadap
keberadaan karya tulis sembari membimbing publik untuk
memahami bahwa perfilman tak bisa berkibar tanpa eksisnya
dunia baca tulis, baik sebagai data riset maupun dokumentasi.
Kendati tampak tersipu malu, dunia film mulai sudi berjalan
beriringan dengan dunia buku. Kodrat saling membutuhkan di
antara keduanya sukar untuk ditampik. Meski dalam hasrat
terdalam, di antara keduanya sebenarnya tak ada yang mau
untuk ditekan dan dikuasai. Meminjam istilah Goenawan
Mohamad, barangkali mereka “mau untuk tunduk tapi malu
untuk takluk”.
Alhasil, dunia pustaka, pada kenyataannya memang tidak
dikalahkan sekalipun pada saat yang sama tidak juga diberi
kesempatan untuk menang. []

43
Buku-Buku Paling
Dikecam

A sosiasi perpustakaan Amerika beberapa tahun silam pernah


mengadakan polling seputar buku-buku yang paling dikecam
di abad 21. Hasilnya cukup mencengangkan. Betapa tidak,
buku serial Harry Potter karangan JK Rowling berada di urutan
terdepan di kategori ini. Salah satu buku terlaris sepanjang
sejarah ini dianggap banyak orang, terutama para orang tua,
tidak pantas dibaca mengingat di dalamnya mengajarkan ilmu
sihir dengan segala pernak-perniknya pada anak-anak kecil.
Pada daftar berikutnya ada John Steinbeck yang hasil
karyanya Of Mice and Men diprotes karena memasukkan unsur
rasisme dan kata-kata kotor. Selanjutnya terdapat nama Robert
Cormier yang dituding menyebarkan paham antikeluarga
melalui buku senarai Captain Underpants yang dikarangnya.
Fenomena yang terjadi di Negeri Paman Sam itu
merupakan cermin dari tingginya responsibilitas (apresiasi)
khalayak pembaca terhadap hasil karya seorang penulis (buku).
Kita kembali diingatkan bahwa menulis buku bukan melulu
perkara imajinasi dan kreativitas belaka, namun juga harus
dilandasi kesadaran bahwa sebuah buku pada akhirnya akan
dikonsumsi dan dinilai oleh publik. Konsekuensinya, respons

44
masyarakat akan menakar: apakah ia positif atau negatif untuk
dijadikan bahan bacaan. Kendati tak selamanya kecaman
terhadap sebuah karya yang menentukan laris-tidaknya buku
tersebut di pasaran.
Sejarah bahkan membuktikan, ada beberapa buku yang
ramai dikutuk justru kian membuatnya laku terjual di pasaran.
Ada keingintahuan dan rasa penasaran yang besar manakala
sebuah buku didaftarhitamkan oleh pihak tertentu. Kita
masih belum lupa saat rezim Orde Baru mengubur buku-
buku berkarakter revolusioner karya Soekarno dengan cara
melarangnya untuk dijual bebas. Buku sejenis ini, antara lain Di
Bawah Bendera Revolusi makin diburu oleh khalayak meskipun
harus melalui jalur pemasaran “bawah tanah”.
Siasat “tiarap” acapkali menjadi pilihan strategi pasar dalam
menghadapi represi yang diberlakukan pihak-pihak tertentu
termasuk penguasa. Ki Pandji Kusmin dengan karyanya, Langit
Makin Mendung layak digolongkan dalam kategori ini.
Yang jelas, persoalan kecam-mengecam buku seperti
ini sebenarnya adalah langgam lawas yang pasti akan terus
berulang. Sebab, penilaian seseorang atau sebuah pihak
hanyalah mewakili sentimen subjektif dan terkesan sepihak.
Tergantung siapa yang menilai dan apanya yang dinilai. Penting
diingat bahwa setiap penilaian, apapun itu, sah-sah saja sejauh
ia bisa dipertanggung jawabkan alasannya. Karena itu, siapa pun
berhak melakukan pengutukan. Sudah tentu yang diharapkan
adalah mengecam dengan cara yang elegan, yakni karya dilawan
dengan karya. Bukan aksi pengecut yang cenderung hipokrit:
mengecam sebuah karya sementara pengecam tak bisa berbuat
apa-apa.

45
Fenomena yang menimpa penerbit LKiS dan sejumlah
penerbit di Yogyakarta mungkin relevan dengan konteks
ini. Semenjak beberapa tahun lampau, kalangan penerbit di
Kota Gudeg sering dicap sebagai “lumbung” dari mekarnya
pemikiran sosial keagamaan yang kritis, nakal, dan kekiri-
kirian. Buah pena penulis-penulis “oposisi” Timur Tengah
semisal Nasr Abu Zayd, Ali Harb, Abdullah An-Na’im, Abid
Al-Jabiri, Muhammad Syahrur, hingga Mohamed Arkoun,
bisa leluasa dinikmati publik, antara lain berkat keberanian
penerbit-penerbit Jogja dalam memperkenalkan cakrawala
pemikiran baru ke haribaan pembaca.
Bagi sebagian pihak, terutama kalangan muslim tekstualis,
upaya ini dirasa patut dikecam lantaran diartikan sebagai upaya
“sekularisasi Islam”. Sementara di sebagian pihak yang lain,
justru memuji hal itu sebagai dinamisasi pemikiran keislaman
yang kaya warna. Sekadar contoh, buku Fiqih Lintas Agama yang
oleh sebagian pihak diikhtiarkan sebagai peran pembuka bagi
dialog antaragama, justru divonis pihak lain sebagai buku tabu
dan “aurat” yang harus ditutup rapat-rapat.
Membincang pengecaman buku sama halnya dengan
berbicara tentang kontroversi. Sebuah kontroversi menoleransi
munculnya dua sisi penilaian, hitam dan putih. Bergantung dari
terminal pemikiran mana ia mengapresiasinya. Kecaman Taufik
Ismail terhadap maraknya karya sastra yang ia sebut beraliran
SMS (Sastra Mazhab Selangkangan) yang dipunggawai oleh
Hudan Hidayat, Ayu Utami, dan kawan-kawan, tentu tak
akan pernah sealur dengan optik penilaian yang dipakai para
penentangnya.

46
Mereka berpandangan sastra adalah khazanah nirbatas,
termasuk batas moral sekalipun. Tengoklah, beberapa tahun
silam, Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya fenomenal Ahmad
Tohari pun tak luput dari kecaman. Sejumlah guru sekolah
menilai novel sastrawan asal Banyumas ini diwarnai dengan
“visualisasi” adegan mesum yang tak layak untuk dibaca bocah-
bocah usia sekolah. Walaupun kita tahu, karya ini termasuk di
antara salah satu karya terbaik di rimba kesusastraan nusantara,
toh ia pun tak luput dari kecaman.
Awal tahun 2000-an, sebuah kejutan dibuat oleh Hartono
Ahmad Jaiz. Dua seri bukunya bertajuk Bahaya Pemikiran Gus
Dur: Menyakiti Hati Rakyat serta buku Belitan Tasawuf Iblis: Gus
Dur Wali? menghebohkan kaum nahdliyin. Pelbagai kecaman
serta-merta dialamatkan kepada Hartono. Namun ia bergeming
karena merasa apa yang ditulisnya mewakili kebenaran, paling
tidak versi dirinya pribadi. Bahkan tak lama berselang ia
bersama Abdurrahman Al-Mukaffi membidani dilirisnya Buku
Raport Merah Aa Gym: MQ Di Penjara Tasawuf. Sontak, giliran
komunitas pemuja Aa Gym yang berang dan membalas dengan
buku yang menggugat balik kebenaran argumentasi Hartono
cs.
Yang perlu dicermati, kecaman tak selalu berarti genta
kematian bagi para penulis. ‘Aidh Al-Qarni dulu dikecam
habis oleh otoritas ulama Arab Saudi. Ia dianggap sok tahu
dan masih “anak ingusan” untuk menelurkan karya pustaka.
Namun pasar membuktikan, karya-karya Al-Qarni, antara lain
La Tahzan, mampu menjadi karya terlaris di Timur Tengah.
Bahkan melejit menjadi best seller di banyak negara muslim,
termasuk Indonesia. []

47
Gus Dur yang Tenang dan
Musuh yang Garang

B uku, selain berfungsi sebagai pengemas kritik juga bisa


menjadi media desakralisasi terhadap (profil) seseorang.
Menjadi menarik, ketika wacana kritik-mengkritik melalui
buku saat ini tengah menjelma fenomena aktual dalam iklim
perbukuan kita.
Kalau mau ditelisik secara historis, sebenarnya tradisi
seperti ini sudah cukup lama berkembang di negeri berasas
Pancasila ini. Hanya saja, hegemoni rezim orde baru (orba) yang
sedemikian lama menimbun kesadaran kolektif masyarakat
telah menjadi sebab musabab dari tumpulnya daya kritis
masyarakat.
Nah, di saat gerbang reformasi mulai terbuka, kemunculan
suara-suara kritis yang begitu riuh itu memiliki wadah penyalur.
Fenomena ini juga bisa ditelusuri dari maraknya kembali
buku-buku “haluan kiri” maupun yang selama ini distigmasi
“terlarang” oleh rezim Orba.
Hal yang barangkali luput dari pengamatan optik khalayak
adalah bahwa gejala ini dapat kita baca sebagai ekses bercabang
dari ketokohan seseorang. Artinya, semakin melambung figur
seseorang, maka ia akan semakin kencang diterpa “badai”,

48
termasuk badai kritik melalui buku. Sehingga pada kaitan
ini, tergantung pada sejauh mana tokoh atau orang tersebut
mampu menyikapinya dengan cara yang bijak sekaligus cerdas.
Cara cerdas yang dimaksud dalam konteks ini adalah
membalas sebuah kritik dengan pola dan medium yang
sama. Kata orang kampus,”balaslah buku dengan buku”.
Sehingga nanti akan timbul diskusi yang elegan, berimbang,
berkesinambungan dan bertanggung jawab. Pernahkah kita
membaca buku Aa Gym Apa Adanya: Sebuah Qalbugrafi yang
diterbitkan oleh MQ Publishing?
Buku ini, setidaknya menurut saya, merupakan jawaban
cerdas dan tandas atas serangan sebelumnya berwujud
buku Rapor Merah Ada Gym: MQ di Penjara Tasawuf karangan
Abdurrahman Al-Makkafi. Dapat dibilang cerdas karena
walaupun konon ide awal penulisan buku ini jauh sebelum
terbitnya buku Rapor Merah, akan tetapi kemunculannya terasa
tepat waktu dan pada waktu yang tepat.
Aspek kebersahajaan seorang Aa Gym dalam buku ini
mampu “menutup” celah kritik yang dikirim oleh Abdurrahman
dan kawan-kawan yang sealiran dengannya. Dengan lain kata,
Aa Gym tidak menanggapinya secara frontal, emosional dan
“konfliktual”, melainkan dengan cara yang dingin tapi elegan.
Adapun cara bijak yang saya gambarkan adalah apa
yang pernah dipraktikkan oleh mantan presiden kita, KH
Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kendati sebagai sosok populis,
ketika Gus Dur berkali-kali dihantam oleh orang-orang maupun
kelompok yang berseberangan aliran dengan dia (khususnya
Hartono Ahmad Jaiz dan Adian Husaini), mantan presiden
kita ini tetap tenang-tenang saja. Bayangkan, tak kurang dari

49
7 eksemplar buku yang secara terang-terangan menyerang Gus
Dur secara personal maupun dari sisi intelektual (terhadap
pemikirannya).
Mungkin slogan kesederhanaan khas beliau ”gitu aja kok
repot” telah melukiskan dengan tandas pribadi Gus Dur sebagai
orang yang kebal kritik. Kebal kritik tidak bermakna sama
dengan bebal kritik atau kedap kritik. Terpaan hujan kritik yang
menyambar mantan ketua umum PBNU ini dianggap sekadar
angin lalu yang tak bermutu. Bukti konkretnya, dibandingkan
buku-buku kaum nyinyir, buku-buku yang “memuji” Gus Dur
bahkan lebih banyak jumlahnya.
Dengan demikian, fenomena ini menunjukkan bahwa
sekeras dan secanggih apapun kritik, ia tetap akan berhadapan
dengan opini publik. Dalam hal ini pandangan umum
masyarakat secara langsung maupun tidak, indikasinya bisa
kita lihat, antara lain, lewat mekanisme dan daya serap pasar
buku.
Sekali lagi, cara yang dicontohkan Gus Dur berupa bahasa
diam (silent language) dapat dicerna sebagai bentuk pembalasan
dalam kemasannya yang berbeda (lain). Toh, mengalah tak
harus selalu berarti kalah kan? Di sinilah, orang sekaliber Gus
Dur bersedia menjadi” tumbal” bagi tetap lestarinya budaya
saling mengingatkan (tawashaw), termasuk melalui karya
pustaka.
Apabila dicermati lebih jauh, di satu sisi gejala perbukuan
ini menandaskan bahwa budaya saling kritik sudah mulai
mendapat tempat yang dinamis dalam kesadaran khalayak.
Namun pada sisi lain gejala serupa ini bisa kita lihat pula
sebagai adanya ketidakbersediaan sebagian kalangan untuk

50
berbeda dan kegagalan memaknai pluralitas dalam berbagai
bentuknya, baik pendapat, visi, gerakan maupun pemikiran.
Orang-orang yang gemar mengkritik (tepatnya: meng­
hakimi secara sepihak) pemikiran dan sosok orang lain
tersebut, tentu memiliki alasan apologis dan serangkaian alibi
untuk mendukung tindakan mereka. Dalil-dalil retoris semisal
dakwah, tawashaw, amar ma’ruf nahi munkar dan lain-lain selama
ini menjadi senjata mereka untuk membasmi gugus-gugus
pemikiran yang tak senada dan (dianggap) menyimpang.
Bahkan kalangan “hitam dan putih” dengan mazhab
monotafsir ini menyebut bahwa bila keberagaman pemikiran
terus saja didiamkan maka ia akan amat berbahaya karena ia tak
lain adalah serupa setan yang bisu (syaiton akhrash). Menarik
bukan?
Saya lantas teringat ketika Aa Gym (dalam sebuah tayangan
langsung di sebuah stasiun televisi) diminta tanggapannya atas
buku-buku yang selama ini suka mengkritik dirinya. Mubalig
kondang asal Bandung ini dengan ringan menjawab dengan
kalimat kurang lebih begini, ”Semoga buku (kritik) itu menjadi
ilmu bagi saya dan menjadi nafkah bagi penulisnya.” Sebuah
hunjaman jawaban yang telak.
Aa kemudian melanjutkan, “Hanya saja saya bertanya,
kenapa kok harus berbentuk buku? Kenapa misalnya tidak
langsung saja menemui dan menasihati saya. Insya Allah saya
tetap akan menerima masukannya. Dan (anehnya) dalam
buku itu, penulis tidak menyebut identitas dan alamat aslinya,
sehingga saya kesulitan berkomunikasi lebih lanjut dengannya.”
Ada dua hal yang bisa dipungut dari komentar Aa Gym
di atas. Pertama, tak bisa dipungkiri (terlepas dari adanya niat

51
baik dan visi dakwah di dalamnya) penerbitan sebuah buku
tetap bertopang pada aspek ekonomis dan (karenanya) bersifat
komersial (profit). Terbukti, buku ini konon laris manis.
Demikian juga buku” balasan” Aa Gym yang lebih laris lagi. Jadi
pada kerangka ini, motif bisnis tak bisa sama sekali dinafikan.
Kedua, dalam beberapa hal, tersimpan nuansa “ke­
pengecutan” dalam diri penulis buku-buku berwatak menyerang
ini. Tak sedikit buku kritik yang tak menyertakan biodata
maupun alamat penulisnya secara transparan. Hal ini seakan
tampak sepele. Tetapi penting diperhatikan oleh para penerbit
kendati si penulis mungkin namanya (misalnya) belum layak
jual, namun ia bisa dianggap sebagai sikap pengecut yang
seolah tak sudi mengurai kritikannya dalam wujud diskusi
yang sehat dan berimbang.
Tentu bukan perkara sukar jika ada yang hendak menelusuri
hal teknis seperti itu langsung ke penerbitnya. Namun apa
susahnya mencantumkannya di bagian belakang buku. Karena
sejatinya si “tukang kritik” harus bersedia privasinya dibuka
untuk umum apabila ia berniat menggelar diskusi yang dialogis,
bukan monologis.
Perlu dipahami, pada saat kritik telah dikonsumsikan buat
umum, maka ia telah menjadi “lapangan” tafsir yang terbuka.
Karenanya, si penggagas harus bertanggung jawab atas
lontaran kritiknya. Sekadar contoh, kasus tulisan kontroversial
Ulil Abshar-Abdalla yang memicu polemik beberapa waktu lalu
adalah cermin bagi kita untuk berkaca.
Publik tak dapat sepenuhnya menyalahkan Ulil karena ia
semata bermaksud “menggedor” pintu kesadaran banyak orang.
Pun demikian kita juga tak bisa serampangan menyalahkan

52
pihak mengecam Ulil karena bagi mereka pintu kesadaran tak
cukup hanya digedor, melainkan harus dibuka. Dan di sinilah,
secara konseptual, cara pembukaan tersebut tak tersedia.
Hingga di sini, paling tidak ada dua gejala utama yang bisa
kita tangkap dari fenomena perbukuan di atas. Pertama, mulai
bergesernya media kritik. Jika dulu kita lebih suka menularkan
kritik lewat lisan (oral), kini bandul sudah mulai bergerak
perlahan ke arah tulisan (literal) sebagai kemasan yang lebih
akademik dan paradigmatik. Jadi ada semacam pergerakan
ke arah yang lebih ilmiah, konseptual, mendalam dan penuh
kesantunan. Di sinilah buku adalah wadah alternatif bagi
literasi kritik yang elegan.
Serangkai dengan wacana ini, Dahlan Iskan beberapa
tahun lalu pernah menulis bahwa ramalan sebagian futurolog
yang meramalkan era buku telah berakhir dan diganti dengan
abad digital yang serba mesin, ternyata belumlah total terbukti.
Bahkan kian hari kebutuhan akan kertas terus bertambah. Ini
bisa dilihat dari masih eksisnya media massa dan buku.
Kedua, masih kuatnya tradisi konflik serta mulai
hidupnya budaya kritik dalam masyarakat kita. Jika ditelaah,
ini merupakan lanjutan dari kebiasaan para filosof kuno,
ulama-ulama klasik, bahkan para cendekiawan kontemporer
era kini. Sekadar contoh, betapa sengitnya saling balas kritik
yang dilakukan oleh, misalnya, Nasr Hamid Abu Zaid versus
Ali Harb, ataupun antara Hassan Hanafi dan Abid Al-Jabiri.
Sebagai warisan intelektual keadaan dinamis seperti ini amat
berharga bagi generasi anak cucu kita.
Akhirnya, kendatipun kebiasaan ini kita sikapi sebagai hal
positif dan perlu terus dibudayakan, bukan berarti kita lengah

53
dan membiarkan tradisi saling kritik berjalan tanpa arah.
Artinya, ketika ia bergulir membentuk mata rantai yang siklikal
dan memutar, siklus itu tetap harus diarahkan. Bahkan, bila
dirasa perlu (seperti sudah berjalan negatif dan tidak sehat),
rangkaian itu perlu dipotong. Sehingga ia nanti tidak menjadi
gelanggang diskursus yang tak pernah usai (unending discourse).
Lantas, siapa yang bisa bertindak sebagai “mesin”
memotong dimaksud? Jawabannya bisa yang bersangkutan
(pihak pengkritik dan sasarannya) dengan jalan duduk satu
meja menyatukan visi dan menjaring solusi. Kalau tidak,
serahkanlah ia pada selera dan sikap khalayak pembaca buku
lewat mekanisme pasar.
Bagaimanapun mengharap hadirnya pengadil berupa
(misalnya) lembaga penghakiman, dalam kaitan ini, maka
sebersih apapun lembaga itu ia tetap tak akan bisa netral
dan nirkepentingan. Pada kerangka ini, hanya respons dan
kedewasaan pembacalah yang akan ”menghakimi” mana yang
lebih bisa diterima nalar dan mana yang tidak. Karena kalau
sudah masuk urusan “benar dan salah”, itu sudah otoritas dan
wewenang Tuhan. []

54
Kesaktian “The Santri”

K endati banyak pihak memandang sastra pesantren kita selalu


mengalami perkembangan dan fluktuasi yang cukup berarti,
namun jika ditelisik lebih dalam lagi, sesungguhnya tema dan
genre sastra pesantren selama ini masih berjalan di tempat dan
tampak garing (monoton). Kesimpulan sederhana semacam
ini, setidaknya terekam lewat tulisan-tulisan beberapa kritikus
sastra pesantren yang sering menghiasi kolom sastra media-
media cetak, hingga hari ini.
Asumsi ihwal kemonotonan tersebut terasa cukup kuat,
manakala kita bersedia menengok kembali kecenderungan
hegemonik yang akhir-akhir ini menjadi nuansa kental dari
karya sastra santri dan sastrawan pesantren pada umumnya.
Lebih-lebih pada capaian kualitatif karya cerpen -- genre sastra
yang selama ini kurang tergarap dengan baik di pesantren.
Kemandegan dan kemampatan tema yang membelit sastra
pesantren tersebut, di satu sisi kian menampakan gejala masih
“gagap”nya pesantren ketika harus bersitatap dengan dinamika
yang terjadi di dunia luar. Beragamnya nuansa yang disuguhkan
oleh realitas, belum sepenuhnya disikapi masyarakat (sastra)
pesantren sebagai sebuah pilihan yang menggiurkan. Artinya,
cita rasa (dzauq) dan kepekaan mereka masih lebih suka
“berselimut sarung” dan mendekam di lingkungan dalam

55
pesantren sendiri tinimbang mencoba selalu berakrab-akrab
dengan perubahan zaman.
Pada bingkai ini, ada satu tema pokok yang begitu sering
dikarnavalkan oleh sastrawan pesantren untuk diperkenalkan
sebagai sisi lain dari “kelebihan” yang mereka miliki kepada
pihak luar. Yakni seputar hal-hal yang beraroma mistik (magic).
Kecenderungan untuk selalu menampilkan aroma mistik
dalam hampir setiap aspek kepesantrenan ini, bisa dirujuk
dari gemarnya para santri akan roman-roman nostalgik berupa
parade kisah yang melampaui nalar dan “menyimpang” dari
kebiasaan (khariq al-‘adat).
Seorang santri, misalnya, boleh jadi akan tergerus
derajat kekagumannya terhadap sang kiai manakala kyainya
tersebut tidak memiliki (ataupun kurang tampak) daya linuwih-
nya. Parahnya, kondisi semacam ini semakin dipayungi
oleh kecenderungan para kyai, lewat berbagai ceramah,
pidato, pengajian kitab, dan lain-lain, untuk selalu bergairah
menampilkan sisi “magic” dari kaum santri. Bukan hanya
yang pernah dialami dan dijalaninya sendiri secara empiris,
tetapi juga menyangkut epos keteladanan dari para masyayikh
pendahulu maupun kisah-kisah klasik yang terselip dalam
lembaran-lembaran kitab kuning.
Kisah-kisah beraroma “magic” itu lazimnya digunakan
sebagai bumbu-bumbu penyedap guna “menghipnotis”
animo perhatian para santri dan khalayak awam. Dalam
bahasa Sukamto (1999), mitos kesaktian pada diri kyai sudah
demikian berurat akar di kalangan santri. Figur seorang kyai,
karenanya tidak hanya sesosok ilmuan yang alim ilmu-ilmu
agama (ulama), namun juga harus mampu menebar barokah dan

56
mungkin juga karomah. Salah satunya melalui pemenuhan rasa
aman dan tentram dalam kehidupan para santri dan komunitas
masyarakatnya.
Salah satu karya sastra pesantren mutakhir yang masih
cukup kuat menampakan kecenderungan seperti di atas adalah
novel Hari-Hari Bercahaya karangan Mustofa W Hasyim. Dengan
cukup apik, novel ini menampilkan fenomena pesantren dalam
interaksinya dengan masyarakat primitif Jawa (kejawen). Gus
Din, Nining dan keluarga mereka sebagai lakon utama akhirnya
harus bersusah payah menghalau serangan-serangan ilmu
hitam (black magic) yang dilancarkan para musuh dan orang
yang berniat jahat pada mereka. Kendati berakhir dengan happy
ending atau khusnul khatimah dalam bentuk keterhindaran Gus
Din dari kuasa dunia, namun muatan novel ini tetap belum
menunjukkan keberagaman tema (kepesantrenan) ke arah
yang lebih dinamis, baru dan kontekstual.
Di zaman milenial yang melaju kian akrobatik ini, tergurat
harapan kuat untuk melihat sastra (cerpen) pesantren ke
depan, dalam kemasan tata cerita dan tawaran tema yang lebih
mutakhir dan plural. Dalam beberapa hal, barangkali generasi
pesantren perlu meniru cara-cara yang telah ditunjukkan Ayu
Utami, Dewi Lestari, Fira Basuki, Djenar Maesa Ayu serta para
penulis muda lainnya yang dalam banyak hal sudah beberapa
langkah ‘mendahului’ mereka. Baik itu dalam hal eksplorasi
tema, elaborasi bahasa, akurasi cerita, adaptasi media serta
pelbagai aspek penting lainnya.
Pada titik ini, terasa bukan sesuatu yang berlebihan jika
tema-tema khas kepesantrenan itu diolah begitu rupa dengan
melalui sentuhan yang khas pula. Sebagaimana cerpenis

57
Danarto mengolah potensi mistik keislaman pada cerpen-
cerpen ciptaannya dengan kejutan-kejutan yang genial,
nakal, liar, mendebarkan dan (bahkan) sedikit jenaka, tanpa
menghilangkan semilir roh sufisme yang berembus halus
di dalamnya. Hal mana amat tampak pada salah satu karya
monumentalnya Setangkai Melati di Sayap Jibril serta antologi
cerpennya yang lain.
Ketangkasan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), dalam
kaitan ini juga bisa disuguhkan sebagai tamsil. Bagaimana
sastrawan penggagas Komunitas Maiyah kelahiran Jombang ini
dibekali kemumpunannya mengolah bahasa dalam (misalnya)
kumpulan cerpen Yang Terhormat Nama Saya. Di buku ini, tangan
dingin dan cita rasa bahasa (dzauq al-lughah) yang dimiliki Cak
Nun berhasil mengolah tema-tema sederhana tentang kisah
keseharian kaum pesantren dalam sajian kisah yang khas,
lugu namun mampu mengharu-biru perasaan dan kesadaran
pembaca.
Hal krusial yang mesti disadari sepenuhnya oleh
masyarakat sastra pesantren adalah bahwa potensi mistik
bukan melulu “monopoli” dan semata karakter khas dunia
santri. Bahkan boleh dikata, nyaris setiap agama dan entitas
budaya memiliki kekuatan alam inderawi “atas sadar” tersebut.
Meskipun dalam nuansa yang bermacam-macam. Ada yang
putih, remang-remang maupun (banyak yang) hitam.
Di saat pesantren belum kunjung beranjak dari tema-
tema seperti dunia kesaktian (ataupun tema-tema “cengeng”
romantisme asmara ala santri), maka luas kemungkinan ia
akan disalip dan didahului oleh tema dan kecenderungan-
kecenderungan lain yang lebih baru, menarik, ‘canggih’ dan

58
kontekstual. Bukan tak mungkin tema (dan tradisi) semacam
itu dengan sendirinya akan perlahan aus dimakan dinamika
zaman.
Pada saat sastra kepesantrenan masih betah dengan
persoalan seputar alam gaib dengan cara pandang yang
tradisional, maka ia sesungguhnya tak jauh berbeda dengan
fenomena yang melingkupi belantika pertelevisian kita yang
demikian gemar mengolah misteri dengan cara yang naif dan
jauh dari kreatif. Sehingga seabrek acara dan program mereka
hanya terkesan menghidangkan mimpi-mimpi murahan dan
takhayul eceran yang membosankan dan berkepanjangan.
Lain halnya jika kita bisa mengadopsi dan mengadaptasi
potensi tersebut secara inovatif, layaknya masyarakat di
Barat menerima dan memperlakukan dunia mistik. Maka
lahirlah beragam cerita science fiction yang atraktif, memukau,
menghibur dan mencerdaskan. Maka lahirlah tradisi-tradisi
mistik yang berakar dan penuh tenaga seperti halnya JK
Rowling menghadirkan lesatan-lesatan imajinasi tanpa batas
melalui serial Harry Potter-nya yang menakjubkan.
Alhasil, kita ingin problema buram kemonotonan tema-
tema sastra pesantren di era Indonesia modern ini seyogyanya
bisa disikapi dan digarap secara lebih tanggap, serius dan cerdas.
Dengan segugus harapan, karya-karya sastra pesantren kita ke
depan akan mampu melahirkan kecenderungan baru yang lebih
menyegarkan. Dalam konteks inilah, sebagai insan yang peduli
literasi dan khazanah kesusastraan, kiranya kita boleh berharap
wacana sastra kepesantrenan terangkut di dalamnya.
Apalagi jika kita menatap perkembangan terkini, kaum
“the santri” sudah sepantasnya untuk tidak mengurung diri lagi

59
dalam perangkap kemalasan dan inferioritas diri. Sebaliknya
para santri harus semakin percaya diri untuk mengoptimalkan
segala potensi. Pemerintah kini sudah menetapkan setiap
22 Oktober sebagai “Hari Santri”. Kemudian juga telah
diresmikan Undang-Undang (UU) Kepesantrenan. Semua
itu adalah seransum bekal bagi komunitas pesantren untuk
terus berbenah diri agar senantiasa sejajar dengan komunitas
masyarakat yang lain dan demi menyambut masa depan yang
lebih gemilang. []

60
Marhaban, Pustaka
Pesantren!

M asih dominasi fiksi. Barangkali inilah warna utama dari


lanskap dunia perbukuan sepanjang dua dekade ini.
Fenomena hingar-bingar fiksi remaja sukses berlanjut merebut
pasar kendati dalam fluktuasi yang relatif datar. Demikian
pula dengan beberapa penerbit besar yang masih setia dengan
hegemoni pustaka-pustaka terjemahan best-seller-nya. Di
pangkal awal milenium nama-nama semisal Torey Hayden di
Mizan Group atau JK Rowling di Gramedia berhasil menjadi
emblem penarik yang kian mengukuhkan tradisi lahirnya
(terjemahan) buku asing bermutu di pasaran.
Sejumlah fenomena menarik lain yang juga menghiasi
lanskap perbukuan di awal tahun 2000-an adalah masih
diminatinya novel historis-mistik oleh publik, serta mulai
maraknya buku-buku “pemberontakan” yang pro rakyat. Penulis
Agus Sunyoto lewat trilogi Suluk Abdul Jalil-nya sebanyak 7 jilid
(LKiS) membuka kembali budaya dan kreativitas mengarang
karya roman yang berangkat dari khazanah sejarah dan akar
riset ilmiah yang serius.
Upaya seperti ini pernah berdarah-darah dirintis oleh
Pramoedya Ananta Toer. Bedanya, jika Pram memilih latar

61
kondisi sosial kepemerintahan yang karut-marut sejak Orde
Lama hingga Orde Soeharto, karya Agus lebih kental dengan
nuansa mistik keagamaan yang sarat kontroversi dengan sosok
Syekh Siti Jenar sebagai tokoh utamanya.
Sementara pada genre yang lain, penerbit Resist
(Yogyakarta) tampil sebagai icon anyar dari lahirnya senarai
buku-buku “pemberontakan” yang masih setia membela hak-
hak rakyat sipil. Ini adalah bentuk lain dari advokasi publik
yang hendak mendampingi dan memberdayakan potensi kritis
masyarakat yang kian tak tahan dengan pelbagai kebijakan
pemerintah yang selalu menjadikan rakyat kecil sebagai korban
dan lahan penindasan.
Terlepas dari hal itu, entah apa yang terlintas di benak
pelaku usaha penerbitan buku, ketika menjelang penghujung
tahun yang sama pemerintah tiba-tiba mengeluarkan kebijakan
menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Bagi jagat
perbukuan kebijakan ini jelas menggodam konstelasi pasar
buku. Akibat menjulangnya harga BBM dan barang kebutuhan
lainnya, bisa dibayangkan bagaimana tingginya ongkos
produksi buku akan melengkapi kondisi buram lemahnya daya
beli masyarakat serta masih tertatihnya kesadaran literasi yang
memayungi publik.
Tak sedikit penerbit yang shock dengan keadaan ini.
Bahkan di Yogyakarta, konon ada seorang pengusaha buku
yang sementara waktu berpindah haluan dengan berdagang
jamu akibat makin mahalnya biaya produksi buku.
Bagaimanapun, dalam skala luas, kondisi semacam ini
bukanlah alarm kematian bagi khazanah perbukuan. Masih
banyak peluang dan harapan untuk menyiasati keadaan dengan

62
tetap semangat berkiprah di jalur perniagaan buku. Sinyal-
sinyal positif ke arah itu sebenarnya sudah mulai terbaca
melalui sejumlah gejala.
Pertama, kian bergairahnya iklim simbiosis antara dunia
film pop (bioskop dan televisi) dengan dunia buku. Fenomena
ini antara lain bisa ditelisik dari makin larisnya karya-karya
fiksi yang diadaptasi menjadi skenario film. Digelarnya kembali
Festival Film Indonesia (FFI) bisa dijadikan tonggak bagi
momentum keakraban dan kerjasama antara dunia buku dan
film. Karya fiksi remaja cukup dimanjakan oleh iklim dinamis
ini.
Kedua, makin meluasnya pangsa pasar buku. Gejala
paling mutakhir adalah digarapnya segmen-segmen publik
yang selama ini terkesan cukup tertutup dan belum terjamah
potensinya secara eksploratif. Salah satu contohnya adalah
pesantren. Selama ini, kendati sempat dilirik sejumlah penerbit,
segmen pesantren khususnya yang tradisional dan secara
geografis, berada di zona yang sukar dijangkau oleh distribusi
buku.
Padahal kita mafhum, ada beberapa sisi kelebihan yang
dapat dimanfatkan dari sentrum pengkajian ilmu agama Islam
ini. Di antaranya adalah keunikan tradisi, potensi lokalitas,
kebinekaan budaya, serta pangsa pembaca buku yang relatif
jelas. Meskipun harus diakui, daya beli mereka masih agak
lemah, keterbukaan sikap serta tingginya minat baca kaum
santri tetap bakal mendongkrak nilai jual komunitas pesantren.
Pada titik ini, gebrakan yang mulai dirintis oleh penerbit
LKiS dengan membentuk lini penerbitan khusus mengelaborasi
karya dan khazanah khas kepesantrenan (fiksi dan non-fiksi)

63
tak ubahnya gerbang yang semakin melonggarkan peluang masa
depan perbukuan di pesantren. Sisi positif lain, perkembangan
dan trend dinamis semacam ini tentu akan lebih merangsang
tradisi baca tulis pesantren untuk membiak menuju ke arah
yang inklusif dan produktif.
Hitung-hitung, kesempatan ini juga dapat digunakan
sebagai ajang “perlawanan” dan pembuktian bahwa pesantren
bukanlah sarang teroris sebagaimana diasumsikan sebagian
pihak selama ini. Citra dan stigmasi negatif tersebut serta-
merta akan lenyap bilamana kaum pesantren tekun melahirkan
karya baru dan bermutu yang mampu diserap masyarakat luas.
Akhirnya, dengan etos dan optimisme, kita bisa ucapkan salam
semangat. Selamat datang, marhaban... Kita sambut pustaka-
pustaka baru yang menggugah dari pesantren. []

64
Melihat Kelebat
Buku-Buku Silat

M erebaknya eksodus buku-buku silat asing, baik yang


berbentuk novel maupun komik, akhir-akhir ini membuat
kita mengelus dada. Betapa tidak, khalayak perbukuan di negeri
pertiwi ini sudah demikian lama akrab dengan jagat bela diri,
terlebih pencak silat yang dianggap sebagai karya beladiri asli
nusantara. Diyakini atau tidak, seni beladiri merupakan warisan
tradisi lokal yang telah turun-temurun terwarisi dengan baik.
Pada generasi kita saat ini, kekayaan budaya tersebut seakan
sudah benar-benar lenyap ditelan bumi.
Berawal dari realitas memprihatinkan inilah, tak ada
salahnya apabila kita mencoba menyingkap kembali sejauh
mana pusaka leluhur itu masih lestari dalam khazanah
perbukuan kita. Yang patut dipersoalkan, kondisi ini terjadi
justru di tengah trend tontonan yang menempatkan dunia silat
(serta misteri mistik) pada posisi yang terhormat. Bisa kita
lihat bagaimana serial televisi (sinetron) kita hari ini masih
laris menjual khazanah sejarah kerajaan klasik lengkap dengan
pernak-pernik dunia persilatan di dalamnya. Mulai dari Saur
Sepuh, Sangkuriang, Jaka Tingkir, Tutur Tinular, Misteri Gunung

65
Merapi hingga Angling Dharma. Bahkan ada pula yang bernuansa
parodi-komedi seperti Ksatria Banjaran.
Mungkin keadaan ini tak akan begitu menyesakkan dada
jika saja diimbangi oleh pertumbuhan jagat literasi (bacaan)
yang dinamis pula. Artinya, dengan cara demikian kita bisa
memberikan kontribusi supaya kegemaran masyarakat kita
dalam hal tontonan dapat dilapisi dengan budaya baca yang
baik. Mengubah secara perlahan kesadaran dan pola masyarakat
penonton (dan pendengar) menuju masyarakat pembaca.
Bukankah kita sudah bosan dengan banyaknya hasil penelitian
(survei) yang secara terang benderang membuktikan bahwa
kesadaran baca masyarakat kita termasuk yang terendah di
dunia?
Kalau kita kilas balik, dahulu, di saat dunia televisi masih
tak segencar sekarang, masyarakat kita dapat lebih leluasa
menemukan bacaan dan memiliki kesempatan baca yang cukup
lapang. Terlepas apakah itu terpaksa atau tidak, dinamika
informasi yang masih belum “overload” seperti saat ini, lebih
memungkinkan orang untuk menyediakan durasi masa untuk
membaca lebih luang daripada saat ini. Anak-anak terbiasa
dengan komik-komik “kaki lima” serta buku-buku sastra
terbitan Balai Pustaka yang tersedia di sekolah ataupun di kedai
baca (persewaan).
Sejumlah nama penulis kala itu menjadi abadi untuk
dikenang, bahkan sampai sekarang. Asmaraman S. Kho
Ping Ho adalah satu di antara sedikit nama yang amat sulit
dilupakan. Karya-karya serialnya benar-benar membuat
banyak orang terhipnotis sehingga ketagihan dan keranjingan
membacanya. Demikian juga Yohanes H (Yanes) dengan cerita

66
petualangannya (antara lain Cinta Si Perawan Binal) ataupun
Sebastian Tito lewat Wiro Sableng serta Edwin Hartanto yang
popular dengan Gento Guyon-nya. Meski dicap “murahan”
(karena dikemas seadanya), cerita-cerita rekaan mereka telah
berhasil mempengaruhi dunia imajinasi pembaca.
Dalam kaitan ini kita juga dapat menyebut aneka buku
cerita rakyat yang juga tak jauh dari dunia silat. Mulai dari
Hikayat Hang Tuah, Jaka Sembung, Si Jampang, Sawunggaling,
Sakerah, hingga kisah fiksi berlatar sejarah milik S.H. Mintardja
seperti Nagasasra dan Sabuk Inten serta Api di Bukit Menoreh.
Penulis lain juga tak sedikit yang mencoba mengangkat
latar berkultur lokal, antara lain Arman Arroisi yang sempat
mempopulerkan Anak-anak Pendekar.
Memori di atas sungguh berbalik bila dibandingkan
keadaan perbukuan kita saat ini. Serbuan aneka novel serta
komik impor sudah cukup deras dan menenggelamkan khazanah
lokal. Sukses kisah-kisah “pahlawan asing” ini barangkali bisa
dirunut semenjak fenomena keberhasilan Return of The Condor
Heroes novel karya Chin Yung yang dikomikkan dengan amat
baik oleh Wee Tian Beng. Kisah cinta pendekar Yoko dan Siauw
Liong Lie ini juga sukses besar kala diangkat ke layar kaca.
Pada awal 1990-an, di saat booming televisi-televisi swasta
dengan terobosan dubbing-nya, anak-anak muda kita sangat
mengidolakan para pendekar dalam serial Pendekar Rajawali
Sakti tersebut. Semenjak itulah hingga hari ini publik pembaca
kita dikepung oleh aneka komik, majalah dan novel asing yang
hadir lengkap dengan kecanggihan teknologi animasi serta
inovasi digital yang luar biasa.

67
Lengkap sudah pengepungan itu. Kita seolah tidak
disisakan ruang bernapas lega untuk mengangkis kembali cerita-
cerita bermuatan lokal atau paling tidak meniru kreativitas
mereka. Di tengah kedigdayaan pustaka (terjemahan) asing
tersebut, laik kita berintrospeksi: ke mana khazanah kisah
pribumi kita selama ini? Ke mana para pengarang dan komikus
silat dalam negeri? Masihkah mereka betah bertapa dan tidak
mau turun gunung serta keluar dari petilasan dan “gua”
persembunyiannya?
Sebagaimana kegemaran masyarakat kita, mungkin kita
akan berkelit dan berapologi bahwa betapapun, masih ada
beberapa pengarang dan penerbit yang sudi dan peduli dengan
khazanah silat asli Indonesia. Di dunia penerbitan, mereka
antara lain Gramedia dan Mizan. Gramedia memang beberapa
tahun belakangan rajin menerbitkan beberapa serial novel dan
komik silat, bahkan ada yang berkemasan majalah.
Berbagai karya penulis China, Jepang dan Korea
(sebagaimana disebut di atas) merupakan karya terjemahan
yang diadaptasi oleh Gramedia melalui dua sayap penerbitan
miliknya (yakni Elex Media Komputindo serta M&C). Dalam
bentuk majalah full colour mereka merilis serial Long Hu Men serta
The Saint. Toni Wong, sang ilustrator, berhasil menampilkan
cerita hidup Sun Go Kong dan kawan-kawan dalam cerita fiksi
Kera Sakti dari Timur melalui jalur ini.
Akhir-akhir ini Gramedia malah getol menurunkan
cerita silat berlatar belakang sejarah pribumi semisal karya
Arswendo Atmowiloto, Senopati Pamungkas (2 jilid) serta yang
terbaru, besutan Remy Sylado, Sam Po Kong. Namun demikian,
kedua karya ini barangkali sulit untuk “turun tahta” menjadi

68
bacaan kaum umum. Karena di samping berbentuk novel
teramat panjang (satu jilid berkisar anatara 1.500 hingga 3.000
halaman) ia juga dikemas dalam sampul yang lux dan eksklusif
(hard cover). Hanya dua pangsa pembaca yang berpotensi
mengonsumsi buku jenis ini, yakni kelompok orang berduit
(the have) serta para maniak silat sejati.
Untuk mengimbangi dua karya ini, Gramedia juga
mengeluarkan dua karya tebal penulis Jepang, Eiji Yoshikawa,
yakni novel Mushashi yang berkisah tentang Miyamoto Musashi,
seorang pemuda yang memilih jalan pedang dengan menjadi
samurai sejati pada tahun 1600 Masehi. Di tengah dendam
kesumatnya terhadap Sasaki Kojito, musuh utamanya, ia harus
terlibat dalam sengkarut asmara dengan Otsu, gadis pujaannya.
Lain halnya dengan Mizan. Mereka lebih “khusyuk” dalam
mengolah cerita silat lokal. Hampir tak pernah dijumpai karya
kepahlwanan bernuansa asing yang diorbitkan oleh raksasa
penerbit dari Bandung itu. Kecuali beberapa karya keteladanan
muslim (semisal Khalid Bin Walid, Hamzah Singa Allah, dan
semacamnya). Sama dengan Gramedia, Mizan juga membentuk
divisi kembar untuk segmen ini, yakni Komik Mizan serta Dar!
Mizan. Kedua devisi tersebut sukses melahirkan beberapa
karya. Antara lain Dicabik Kenangan (Gola Gong). Qamaruzzaman,
Tiga Ksatria Gila (Eka Wardhana) serta rangkaian serial Syakila
(Tragedi, Bom, Bara, serta Sandera) karya Fahri Aziza.
Tidak jauh dari tema-tema ini, sebuah penerbit Islam
lainnya, yaitu Gema Insani Press merilis dua serial cerita silat
Topan Marabunta. Karya novelis muda Afifa ini berkisah ihwal
seorang anak jalanan yang berpindah haluan hidup dengan
menjadi pahlawan pembasmi sindikat narkoba. Pemuda

69
Topan Segara harus berhadapan dengan dua gembong raksasa,
Baracuda dan Ang Tiauw.
Jika berkaca pada beberapa kisah rimba belantara
perbukuan silat di atas, rasanya berlebihan bila kita terlalu
mengharapkan tumbuhnya minat baca terhadap pustaka seni
beladiri lokal, setidaknya untuk saat ini. Parahnya, hal ini
berimbas pada banyak aspek lain. Alih-alih menggelutinya,
anak muda kita menjadi kurang peduli dengan khazanah seni
dan olahraga negeri sendiri. Mereka lebih gemar dengan aneka
permainan modern yang diadopsi dari negeri luar.
Akhirnya, jurus-jurus guna memompa kesadaran literasi
tak akan usai hanya dengan “bersilat lidah”. Lebih dari itu butuh
kepedulian yang spartan untuk membaca geliat selera pasar
terhadap khazanah perbukuan. Termasuk di dalamnya buku-
buku silat. Mari kita belajar dari buku-buku silat. Ciaaaattt...! []

70
Mendulang Rezeki dari
Buku Siap Saji

J ika beragam buku panduan (how to) beberapa tahun terakhir


ini disebut-sebut mengalami masa panen, hal ini bukanlah
isapan jempol semata. Bukti faktual yang terpapar di pasar
(buku) menunjukan bahwa fenomena jagat pustaka kita akhir-
akhir ini turut “digoyang” oleh serbuan aneka buku panduan
dalam berbagai variasi isi dan bentuk kemasannya.
Terasa wajar jika kemudian realitas mengejutkan ini,
serta-merta menuai rasa dan sikap “iri” sementara kalangan
yang kemudian menuduhnya telah menggadaikan idealisme
kancah penerbitan. Ia pun dituding mewakili jenis buku yang
kering muatan intelektual dan cenderung hanya berorientasi
pada kepentingan pasar. Pekerja dan pemerhati buku lalu
berpolemik, lalu lahirlah kategorisasi (tepatnya: labelisasi)
buku idealis, buku pragmatis, dan sebagainya dan seterusnya.
Berlatar fenomena yang mengusik ini, marilah kita
bersikap arif dan positif terhadap keberadaan buku-buku how
to. Bagaimanapun pembaca buku patut kita posisikan sebagai
apresiator sejati dari dinamika pustaka. Sepanjang bermanfaat,
mengapa orang harus ribut mempersoalkan idealisme di balik
penerbitan sebuah buku. Toh, jika memang kehadirannya tak

71
disukai, ia tentu dengan sendirinya tak akan mampu bertahan
di tengah iklim perbukuan yang kian hari makin kompetitif ini.
Ajakan kritis senada ini, dalam banyak hal akan mengingat­
kan kita pada apa yang selama ini memayungi dinamika
kelam dunia pustaka. Taruhlah, sebuah buku yang dipandang
“idealis”, jika ia dikemas asal-asalan dan hanya “kejar tayang”
memburu tenggat waktu penerbitan, maka kualitas dari buku
tersebut turut dipertaruhkan. Artinya, ada beberapa hal yang
layak dipertanyakan karena potensial tidak tergarap dengan
baik.
Entah itu dari sisi mutu tulisan, teknik terjemahan,
tata letak, desain sampul, dan sebagainya. Di luar itu, perlu
pula diperhitungkan sejauh mana segmentasi yang mampu
menggawangi laris tidaknya buku-buku idealis yang umumnya
“kelas berat” tersebut. Jujur saja, hanya kalangan akademisi
dan sekitarnyalah yang memiliki kecenderungan memilih buku
jenis ini.
Selera publik sendiri, kiranya sudah berperan baik dalam
merespons konstelasi semacam ini. Mereka tidak terlampau
“pandir” untuk memilih dan memilah buku mana yang layak
dikaji dan konsumsi. Ketika timbul pertanyaan, misalnya,
mengapa buku-buku how to serial semisal Chicken Soup, Rich Dad
Poor Dad ataupun Mars and Venus terbitan Gramedia, Quantum
Learning dan Mengikat Makna dari kelompok Mizan, dan lain-
lain menjadi demikian populer dan laris manis bagai martabak
telor? Salah satu jawaban yang jitu disodorkan dalam kaitan
ini adalah karena buku-buku bertema ringan inilah yang relatif
bisa diterima di segala pangsa.

72
Pustaka panduan dirasa lebih memiliki khasiat yang jelas
terhadap “kosmos” kesadaran pembaca. Sifat dari kandungannya
yang terkesan ringan, praktis, membantu merasakan, empatik,
berdaya dorong dan ikut mengayomi (self-help) membuatnya
lebih bisa dirasakan manfaatnya oleh pembaca buku, terutama
segmen masyarakat umum. Hal ini tentu cukup berbeda dengan
buku-buku idealis yang cenderung formal, akademik, teoritik,
mendakik-dakik, rumit, dan “melangit”,
Alasan lain yang layak disuguhkan adalah karena publik
sudah cukup jenuh dengan (masih) hadirnya buku-buku
bertema berat semisal politik, ekonomi dan sejenisnya (di luar
sastra dan filsafat yang relatif lebih awet). Mereka tampaknya
ingin sesuatu yang baru, yang lebih mampu menawarkan sisi
katarsis serta nuansa segar bagi beban psikologis yang selama
ini menghimpit kehidupan sosial. Kesimpulan ini antara lain
terbukti dengan ikut naiknya angka penjualan buku-buku
panduan psikologi. Tidak hanya yang umum (populer) namun
juga yang bermuatan khusus (keagamaan).
Sekadar contoh, banyak penerbit buku keislaman yang juga
menangguk untung besar dari kondisi ini. Penerbit Mujahid
Press di Bandung, misalnya, selama ini bisa dianggap memiliki
tradisi best seller dalam berbagai buku (panduan) terbitannya.
Bahkan dibanding penerbit-penerbit lain, Mujahid Press
dikenal selalu berani mematok oplah terbit dalam hitungan
puluhan ribu eksemplar.
Sebuah angka yang (hanya) segelintir penerbit bisa
melakukannya. Tengoklah beragam buku laris mereka seperti
Pacaran yang Islami, Adakah?, Bila Jodoh Tak Kunjung Datang, 23
Kiat Disayang Suami, Kerudung Gaul, hingga buku Bergaul dengan

73
Kesalahan. Nyaris semuanya disambut baik oleh publik dan
meraup best seller.
Faktor terakhir di antara alasan mengapa beragam buku
how to digandrungi pembaca adalah karena memiliki muatan
edukasi (pendidikan) yang kental dan jelas. Pada derajat
tertentu, ia mengandung daya tuntun yang kuat bagi kesadaran
pembacanya, terlepas dari sudut pandangan apakah di dalamnya
menyimpan muatan opini subyektif dari penulisnya atas tidak.
Buku Sex in The Kost karya Iip Wijayanto merupakan salah
satu contohnya. Secara edukatif, buku ini mempunyai perbedaan
dan pengaruh penting dibandingkan buku bertema sejenis,
sebutlah misalnya, dengan Jakarta Undercover-nya Moammar
Emka, Seks Para Pangeran karya Otto Sukatno maupun dengan
Kamus Seks Remaja orbitan penerbit Gramedia yang sempat
menuai kecaman dari sejumlah kalangan.
Lanskap pemaparan di muka, sekali lagi, menandaskan
bahwa betapapun buku how to acapkali “dicaci”, ia pun
tetap banyak dicari. Secara lugas, kehadiran buku genre ini
menunjukan bahwa problema manusia modern harus dicarikan
solusi yang praktis. Segala problematika, serumit apa pun ia,
pasti menjanjikan jalan keluar.
Artinya tak ada hal yang -- meminjam istilah Arab -- laa
yukayyif (mustahil diusik dan dipecahkan). Buku-buku how to
justru hadir guna menjawab aneka pertanyaan bernada kayfa
(bagaimana). Pada titik inilah buku how to menancapkan
perannya dalam mengajak manusia supaya memaknai hidup
secara kreatif dan inovatif. []

74
Palestina dalam
Segenggam Jurgam

P alestina adalah sekeping luka. Membicarakannya, kapan saja,


selalu menerbitkan duka dan simpati yang tiada habisnya.
Karena itu, berhenti mengingat dan mengulasnya sama halnya
dengan mencampakkan jejak sejarah dari akar fakta. Dari
sinilah sebuah ironi timbul: puluhan tahun Palestina dibahas,
namun sepanjang itu pulalah ia dilupakan, ditelantarkan tanpa
solusi yang bermakna.
“Apa manfaat nyata pembicaraan itu bagi Palestina?” Lebih
tajam lagi, “Bagaimana kata-kata mampu mengubah keadaan?”
Sepasang tanya ini tak ubahnya mantra yang sudah amat bosan
dilafalkan oleh seluruh rakyat Palestina. Ribuan jurnalis datang,
tapi sama saja: mereka tak sanggup menyodorkan kontribusi
apa-apa.
Dengan kondisi yang demikian tersebut, patutkah kita
sangsi dengan kehadiran sebuah komik kemanusiaan yang
bertumbul “Palestina: Duka Orang-Orang Terusir karya Joe Sacco?
Bila kita belum membaca karya yang lebih tepat disebut
-- meminjam istilah Goenawan Mohamad -- jurnalisme gambar
(jurgam) ini, barangkali kita masih diliputi oleh keraguan akan
bagaimana seorang warga Amerika (mewakili simbol bangsa

75
Barat) akan mampu menggambarkan derita kaum Palestina
dengan baik dan adil. Namun kesan semacam ini serta-merta
bakal berubah jika kita menelisik tuntas komik karya Sacco
yang dahsyat dan sarat gugatan emosi ini.
Tak seperti buku komik biasa, karya ini mampu memadukan
secara kreatif dan kolaboratif dua bidang sekaligus, yakni
reportase dan gambar. Sebuah genre dan kemampuan yang
masih jarang dipraktikkan oleh banyak orang. Dengan latar
carut-marut Palestina akhir 1991 hingga awal 1992, Joe Sacco
sudi menghabiskan dua bulan waktu tugas jurnalistiknya untuk
berbaur dengan rakyat Palestina guna melakukan peliputan,
reportase serta penulisan karya dan riset ilmiah tentang tragedi
pendudukan paksa di bumi sejuta konflik tersebut.
Yang menarik, lewat cergam yang cerdas ini, Sacco
berhasil mematahkan kekhawatiran publik bahwa karyanya
hanya berupa perpanjangan tangan dari pihak Barat dalam
melanggengkan perang di Palestina. Pendek kata, ia hanya akan
menawarkan bias dan standar ganda khas masyarakat Barat.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, Sacco mampu
keluar dari jebakan kepentingan dengan cara mengungkapkan
setiap detail fakta dari kacamata jurnalis yang netral dan
berkepentingan. Ia membiarkan karya gambarnya bertutur apa
adanya. Bahkan pihak Israel kemudian merasa tersudut dan
mengutuk komik Sacco ini dengan menganggapnya sebagai
karya sampah yang penuh propaganda.
Tak berlebihan bila Edward Said, dalam pengantar buku
ini, menempatkan Sacco sebagai salah satu dari amat sedikit
komikus sekaligus jurnalis yang memiliki daya potret dan
kepedulian akan korban sejarah yang demikian kental dan

76
empatik. Tidak ada pahlawan dan superhero di komik ini.
Begitupun juga tak ada basa-basi politik yang munafik.
Sacco menggambarkan rakyat Palestina dengan intifadah-
nya yang berkeringat dan pantang surut. Sementara Israel
terlukis sebagai pihak yang selalu dibalut watak ganda:
kepongahan di satu sisi serta skeptisisme di sisi yang lain.
Komik berjudul asli Palestine yang pada 1996 meraih
American Book Award ini menyajikan goresan gambar yang
teramat kuat. Karakter para tokoh di dalamnya sanggup
membawa pembaca ke liang rasa haru, pilu, gemas, geram dan
bahkan pada derajat tertentu, konyol dan lucu. Pada dimensi
terdalam, sesungguhnya bisa disebut bahwa Joe Sacco sedang
melakukan pemberontakan kemanusiaan dengan caranya yang
kritis dan unik.
Satu hal yang layak diteladani dari upaya Sacco ini adalah
keberanian serta militansinya yang luar biasa untuk dengan
empatik turut merasakan bagaimana duka berdarah-darah yang
selama ini dialami oleh umat Palestina, baik yang bermukim di
negara Palestina sendiri (4,9 juta jiwa) maupun orang Palestina
yang tersebar di seantero dunia (8,9 juta jiwa).
Bisa dibayangkan, di bawah kontrol pengawasan tentara
Israel serta di tengah sorotan mata dunia internasional, Joe
Sacco bersama Saburo, rekan fotografernya asal Jepang, rela
menyisir Palestina dari berbagai sudut kota yang sarat gejolak.
Mulai dari Rafah, Nablus, Ramalah, Gaza, hingga kota suci
Yerussalem. Wajar bila Sacco kerap melukiskan pengembaraan
sarat risikonya ini dengan sebaris kiasan: “Di bumi Palestina,
aku senantiasa gemetar seperti daun”.

77
Dalam dimensi yang berbeda, dua jilid buku komik Joe
Sacco ini boleh dibilang merupakan “kelanjutan” dari apa yang
telah dirintis oleh Art Spiegelman lewat Maus-nya ataupun
Peter Kuper dengan Comic Trips-nya. Kedua karya ini sama-sama
menggunakan media komik untuk menggambarkan ziarah
kemanusiaan yang dilakukan penulisnya di wilayah Jerman dan
Afrika.
Bagi khalayak pembaca pustaka di Indonesia, genre komik
kemanusiaan semacam ini barangkali belum begitu akrab.
Karenanya, dapatlah kita berharap, karya Sacco ini sanggup
menjadi lead (pembuka) bagi penggugahan dan pelestarian
minat baca masyarakat Indonesia terhadap karya sejarah
dalam bentuknya yang lain. Yakni melalui komik sebagai
medium visual yang bersifat mendidik sekaligus menghibur
(edutainment).
Lebih dari itu, buku ini juga bisa dijadikan pustaka
renungan untuk mengasah simpati dan kepekaan kita akan
nasib malang rakyat Palestina yang sudah puluhan tahun galau
karena nasibnya terlunta-lunta. Kita yakin, sekecil apapun
simpati dan kepedulian itu, ia tetaplah “amunisi” yang sangat
dibutuhkan oleh mereka. Kendati hanya berupa segenggam
doa. []

78
Pamer Karakter
Lewat Cover

C over adalah karakter. Asumsi ini bisa dengan mudah


disimpulkan, manakala kita mengingat aspek penting dari
sebuah sampul buku. Dalam dinamika dan iklim perbukuan
yang demikian dinamis dan akrobatik seperti saat ini, sisi vital
dari cover buku sungguh sukar diabaikan. Apalagi di tengah
topangan teknologi komputer yang kian canggih, sampul
sebuah buku bukan sekadar menjadi pelindung dari lembaran-
lembaran halaman di dalamnya. Lebih dari itu, ia telah menjadi
gerbang pertama yang siap menyambut pandangan mata setiap
pembaca untuk menelisik keluasan muatan berikut kedalaman
karakter di dalamnya.
Muhammad Al-Fayyadl, seorang cendekiawan muda
pesantren pernah secara spesifik menyoroti detail perwajahanan
dari trend sampul buku mutakhir yang tengah marak saat
ini. Konklusi dari penulis buku Derrida dan Filsafat Negasi
tersebut menandaskan bahwa telah terjadi semacam simbiosis
mutualisme yang positif antara dunia penerbitan buku serta
jagad kesenian (seni rupa). Akibatnya, model perwajahan buku
mulai beranjak ke arah yang lebih estetis.

79
Apabila dicermati, sampul buku ibaratnya dua sisi
dari sekeping koin yang saling topang. cover depan bertugas
menyerap kesan pembaca sementara sampul belakang berisi
endorsement dalam aneka bentuk yang berupaya keras menarik
minat dan hasrat orang untuk mengamatinya lebih lanjut.
Lazimnya endorsement berisi sederet komentar dari para tokoh
atau orang-orang yang berkompeten dengan tema buku yang
lazimnya bernada dukungan dan sanjungan akan isi buku. Bila
tidak demikian ia berisi sinopsis singkat dari ‘ruh” muatan
buku yang biasanya dikutip dari kata pengantar.
Hanya sedikit dari penerbit yang membiarkan sampul
belakang hanya sebagai “lahan kosong” yang tanpa gambar
ataupun kata-kata penuh makna. Dalam kaitan ini, Penerbit LkiS
dan Bentang bisa disebut sebagai wakil dari sedikit penerbit
yang tidak suka memanfaatkan ruang belakang sampul dengan
jejalan kata, melainkan cukup dengan mengutip sepatah dua
patah kalimat yang kuat dan menggetarkan, dan mewakili
keseluruhan muatan buku.
Pada titik inilah muncul potensi untuk mengeksploitasi
komentar tokoh secara manipulatif. Artinya, tidak jarang
penerbit malah memajang pendapat fiktif hanya demi
menambah credit point dari sebuah buku. Penyair Joni
Ariadinata pernah menengarai bahwa komentar Pramoedya
Ananta Toer di endorsement novel Saman (Ayu Utami), ternyata
merupakan pemutarbalikan dari realitas yang sebenarnya.
Ketika membaca Saman, Pram sesungguhnya dibuat tidak
paham dan malah bingung dengan isi naratif novel dimaksud.
Namun, kenyataannya, pendapatnya yang “nihil” hanya dikutip

80
sebagian (tidak utuh) sehingga yang lahir malah kesan dan
ekspresi kekaguman Pram atas novel itu.

***

Secara general dan sederhana, kita bisa memilah tipe dan


model desain cover buku menjadi beberapa model. Pertama,
model grafis. Gaya inilah yang paling banyak digunakan oleh
para perancang sampul. Berkat bantuan teknologi digital,
mereka dapat leluasa memadukan berbagai fasilitas yang
tersedia di komputer (internet) dengan teknik-teknik digital
(semisal montase) serta karya-karya fotografi. Pada bidang
ini, dunia penerbitan dipastikan tak bakal kekurangan tenaga-
tenaga andal karena, adanya “garansi” dari lembaga desain
grafis di banyak tempat.
Kedua, model lukisan. Boleh dikata apresiasi khalayak
terhadap karya seni lukis akhir-akhir ini semakin meningkat.
Hal ini dibuktikan dari Kian larisnya karya lukis sebagai
ilustrasi cover buku maupun ilustrasi cerita pendek di koran-
koran. Dengan teknik repro sebuah lukisan di atas kanvas
bisa berpindah dengan mudah ke selembar kertas sampul
buku. Membincang model ini, seakan tak lengkap bila kita tak
menyebut penerbit Bentang Budaya Yogyakarta sebagai contoh.
Bisa dibilang penerbit inilah (antara lain) yang telah
berandil besar melestarikan khazanah karya lukis tidak hanya
dalam bentuk pemajangan di galeri maupun ajang pameran di
setiap cover buku terbitan Bentang kita akan melulu disuguhi
lukisan. Dengan kata lain, pembaca dapat mengenal apakah
buku itu terbitan Bentang atau bukan hanya dengan melihat
tampilan lukisan sampulnya sosok Buldanul Khuri sang bidan

81
bintang adalah “aktor” dibalik perwajahan buku-buku penerbit
Jogja itu.
Ketiga model ilustrasi dalam beragam bentuknya antara
lain karikatur kartun dan vignette dunia buku mutakhir mulai
melirik para kartunis dan pelukis grafis untuk turut ambil
bagian buku-buku LKiS layak dikedepankan dalam contoh
ini. Demikian juga sejumlah pustaka yang berkaitan dengan
sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) seperti Gila Gus
Dur, biografi Gus Dur (LKiS) hingga yang terakhir Mistik Politik
Gus Dur (Jendela). Di tangan karikaturis sekelas Haitami El-
jaid, sosok Gus Dur menjelma model karikatur “nomor satu”
sehingga sempat muncul “gosip” bahwa memang wajah dan
tubuh Gus Dur (juga Akbar Tadjung) merupakan objek paling
mudah untuk di-karikatur-kan.
Aneka buku sastra, komik, dan serial kartun bisa pula
digolongkan dalam kelompok ini. Di samping genre buku
kontemporer yang saat ini tengah diminati publik, yakni aneka
pustaka panduan (How to) serta buku chicken literature (chick-
lit). Selain karena muatannya yang praktis dan menggugah
Kedua jenis buku ini diminati lantaran sajian sampulnya yang
rame, ceria dan kaya warna.
Keempat, model polos. Walaupun kuat anggapan bahwa
gambar sampul merupakan aspek pemikat dari sebuah buku,
namun ada pula penerbit yang gemar mengeksplorasi Khazanah
gambar dalam buku-buku terbitannya secara berlebihan. Di
antaranya Paramadina dan Pustaka Utama Grafiti. Bila ditengok
pada awal masa penerbitannya, aneka buku Paramadina tampil
dengan sajian ilustrasi yang amat bersahaja. Bahkan sampul

82
buku Paramadina edisi awal-awal, cenderung hanya bertumpu
pada logo formal Paramadina sebagai lembaga. Hanya saja
ia dikreasi sedemikian rupa dengan berbagai warna dan
setting yang variatif. Sehingga dalam waktu sekian lama buku
Paramadina berhasil tampil dengan kata ter-ornamental-nya
yang kuat dan khas.
Pustaka Utama Grafiti pun demikian. Bahkan tak jarang
buku Grafiti tersaji tanpa gambar ataupun ilustrasi sama sekali.
Contohnya adalah senarai Catatan Pinggir-nya Goenawan
Muhammad. Sampul buku ini hanya menonjolkan tipografi
huruf serta, tentu saja, nama besar pengarangnya. Kendati
demikian trik ini terbukti tidak berimbas pada melemahnya
sisi penjualan.
Kelima, model kombinasi. Butuh kecermatan khusus
untuk memakai teknik ini. Namun di tengah kemajuan dunia
digital, hal yang sebelumnya tampak mustahil menjadi mudah
dilakukan. Perpaduan antara fotografi, karya seni, serta fasilitas
komputer acapkali menjelma ramuan perwajahan buku yang
konfiguratif dan memikat. Berbagai terobosan yang kian hari
makin inovatif dan luar biasa itu telah menghasilkan desain
sampul yang penuh lesatan-lesatan imajinatif.
Paralel dengan kondisi ini barangkali kita masih ingat
dengan fenomena John Tefon di jagat fotografi. John adalah
wakil dari fotografer yang anti kemapanan dan inovasi. Karya-
karya fotonya sering mencengangkan banyak orang karena
demikian liar dan genial paradigma fotografinya yang keluar
dari pakem konvensional. Pada saat bersamaan, ia telah
membentuk “mazhab” baru di tengah konstelasi dunia foto
yang monoton. Di dunia kaligrafi, kita juga mencatat nama

83
Syaiful Adnan yang justru makin eksis dengan aliran khasnya
yang dianggap menyimpang dari kaidah buku lukis huruf Arab.
Pada model kombinasi ini kita juga bisa memasukkan
sampul buku tiga dimensi yang belakangan cukup digandrungi.
Sajian huruf serta gambar yang timbul (menjorok keluar)
kini mulai mewarnai trend perbukuan. Beberapa sampul jadi
ini yang tersaji dengan baik adalah buku 1001 Saddam karya
Chaidir (Adicita, 2004) serta Al-Milal wa Al-Nihal terjemahan
karya Al-Syahrastany (Mizan, 2004). Pistol dalam 1001 Saddam
seolah benar-benar hidup dari jarak yang agak jauh ia seakan
seonggok pistol yang tergeletak dan terpisah dari sampul buku.
Ada bayangan yang tersisa di bawahnya.
Sementara Al Milal wa al Nihal menghidangkan gambar
halilintar keemasan yang menyerupai akar daun yang menjuntai
bercabang-cabang. Dengan latar hitam pekat, gambar ini
mampu menghadirkan suasana cekam seolah kita melihat petir
menyambar-nyambar di angkasa dan gelap. Gambar sampul
ini sealur dengan tema yang diusung dalam buku yakni kisah
tercabik-cabiknya kesatuan umat Islam abad pertengahan akibat
primordialisme sempit aliran-aliran teologi yang menjamur
kala itu.
Alhasil, dinamika seni sampul buku yang marak dan
kompetitif saat ini, mesti diyakini sebagai salah satu sebab dari
makin menggeliatnya dunia perbukuan dan penerbitan. Oleh
karenanya kita patut berterima kasih kepada para “punggawa”
rancang sampul yang telah membuat perwajahan buku
mutakhir menjadi menarik dinikmati. Kita tentu berharap
desainer-desainer sampul andal semisal Harry “Si Ong” Wahyu,
Haetami El-Jaid, Gus Ballon, Surgana, M. T. Firdaus, Andreas

84
Kusumahadi, Buldanul Khuri, dan lain-lain, bisa terus berkreasi
sekaligus berkompetisi ke arah yang lebih sehat, dinamis, dan
inovatif.
Sekali lagi sebuah sampul buku akhirnya tak hanya menjadi
titel yang mampu memikat simpati dan minat pembaca namun
lebih dari itu ia juga mesti mampu menjadi lead pemandu
guna menuntun pikiran dan kesan pembaca menuju karakter
dan muatan utama dari tulisan di dalamnya. Tidaklah keliru
bila peribahasa Cina mengatakan “Sepotong gambar bisa lebih
bermakna daripada seribu kata”. []

85
Paras Kasar
Radikalisme Agama

R adikalisme agama dalam bentuknya yang destruktif kian


menguat sebagai gejala sosial yang terus meneror tatanan
keberagamaan masyarakat. Selepas peristiwa WTC pada 11
September 2011 lampau, wacana ini sempat meredup dan
kemudian menyala kembali akibat maraknya tragedi-tragedi
kemanusiaan yang didakwa kuat bermotif fundamentalisme
dan radikalisme agama sebagai biang keladinya.
Terutama di dalam negeri, pengeksposan terhadap
diskursus ini bukan hanya ‘diecer’ oleh media massa saja
namun akhir-akhir ini sudah mulai terkemas dalam penyajian
yang lebih argumentatif dan mendalam, yakni melalui lini
penerbitan buku.
Pada rentang tahun 2005 tercatat setidaknya empat
pustaka serius yang mencoba mengulas wacana ini dari pelbagai
dimensi sudut pandang. Buku Aku Melawan Teroris karya
Imam Samudera (Penerbit Jazeera), Islam Sebagai Tertuduh-nya
Akbar S. Ahmed (Penerbit Arasy), Muslim, Dialog dan Teror
karangan Chandra Muzaffar (Penerbit Profetik) serta hasil
rintisan tekun seorang Agus Miftah dalam buku tebal Negara
Tuhan: The Thematic Encyclopaedia (Penerbit SR-Ins Team) hadir
bertandang nyaris bersamaan ke ruang baca masyarakat. Ada

86
yang bermaksud meneguhkan opini dan ada pula yang malah
berkeinginan meruntuhkannya.
Bila tiga buku pertama secara apologis berusaha membela
kum muslim dari stigma kelam dan atribusi teroris yang selama
ini dilekatkan padanya, buku yang terakhir sebaliknya hendak
membuktikan bahwa radikalisme agama bukanlah isapan
jempol belaka.
Sembari mengajak kita untuk merenungi realitas
keberagamaan yang mulai terancam, “buku 1000 halaman”
ini secara meyakinkan menyodorkan bukti-bukti lapangan
bahwa jaringan terorisme agama di Indonesia bukanlah fakta
fiktif, melainkan ia merupakan organisme gerakan ideologis
yang telah menanam akar kuat di masyarakat. Karenanya perlu
kebersamaan dan kewaspadaan yang ekstra guna mencegahnya
seoptimal mungkin.
Tentu harapan kita bersama, beragam pembahasan perihal
radikalisme beragama dengan ciri utama praktik teror turut
berjasa membuat kaum beragama untuk jera sembari terus
menerus berkaca: sejauh mana kesadaran keberagamaan
masing-masing kita serta seluas apa pengaruhnya terhadap
lingkungan sosial.
Sebenarnya topik fundamentalisme dan radikalisme
agama adalah langgam lawas yang sudah teralu kerap diulas.
Namun pemunculannya yang senantiasa aktual menyebabkan
isu ini krusial untuk selalu dicarikan jalur penyelesaian yang
solutif. Persoalannya, fundamentalisme semacam ini lebih
sering muncul dalam wujud pengeksposan yang negatif.
Ia lebih banyak dibungkus dengan nalar perlawanan,
logika permusuhan serta -- meminjam istilah John L Esposito

87
-- ideologi kebencian. Padahal sudah tak terhitung lagi korban-
korban kemanusiaan yang menjadi “martir” akibat disharmoni
hubungan lintas agama sepanjang sejarah.
Jika resistensi terhadap dunia Barat dengan segala produk
peradaban yang dihasilkannya dituding sebagai penyebab
timbulnya fundamentalisme dalam Islam, maka bagaimana
pula dengan fundamentalisme yang juga menyergap komunitas
beragama lain di luar Islam? Karen Armstrong secara empatik
menyebut bahwa tidak bisa disangsikan, benih-benih
fundamentalisme wujud dalam setiap agama.
Armstrong menengarai bahwa sikap terlampau fanatik
dalam beragama (over fanatism in religious faith) sebagai penyebab
utama dari lahirnya gejala-gejala destruktif ini. Paradigma
sempit serupa inilah yang kemudian berandil menentang setiap
upaya sekularisasi dan modernisasi di tubuh setiap agama.
Lahirlah absolutisme pemikiran – dengan “perisai”
purifikasi ajaran agama – yang memaksakan penafsiran literal
terhadap pelbagai problema keumatan. Segala hal ihwal mesti
dirujuk secara skriptural kepada sumber (hukum) tekstual
yang serba baku.
Dengan memodifikasi konsep Martin E. Marty, prinsip
dasar fundamentalisme agama dipilah Azyumardi Azra (1993)
ke dalam empat ragam. Pertama, oposisionalisme. Setiap
pemikiran dan arus perubahan yang mengancam kemapanan
ajaran agama senantiasa wajib untuk dilawan.
Kedua, penolakan terhadap hermeneutika. Pada dimensi
ini, teks-teks suci serta merta menjadi ruang yang kedap kritik.
Ketiga, penentangan akan pluralisme sosial. Masyarakat mesti
harus seragam dan tak boleh beragam. Keempat, pengingkaran

88
terhadap perkembangan historis dan sosiologis umat manusia.
Bentuk ideal keagamaan masyarakat dijawab dengan nostalgia
sejarah melalui ajakan untuk selalu kembali ke masa lalu.
Corak-corak dasar inilah yang telah berjasa membentuk
sikap, pola pikir, serta perilaku keberagamaan seseorang.
Ajaran agama harus senantiasa menjadi fundamen, dan setiap
agama tentulah mensyaratkan hal itu. Hanya saja, yang laik
diperselisihkan adalah mengapa sikap fundamentalistik itu
harus bersikap doktrinal dan cenderung kaku, sehingga ia
tidak kuasa bergerak secara plastis mengikuti kelenturan
perkembangan sosial?
Tepat di aras inilah sebenarnya urat nadi persoalan
fundamentalisme agama terterakan. Dalam bahasa Abid
Al-Jabiri, ketika upaya kebebasan (baca: ijtihad) dibekukan
dan klaim kebenaran telah final dipetakan, maka saat itulah
fundamentalisme dan radikalisme lahir dengan keperkasaan
yang dipaksakan.
Karena itu, fundamentalisme yang pada dasarnya bersifat
positif lalu bergerak liar secara negatif dan destruktif. Ruh
agama tidak lagi dijadikan kekuatan pembebas (liberating force)
yang menjunjung nilai-nilai luhur kemanusiaan (humanisme)
dalam porsi yang pantas. Sebaliknya ia justru dijadikan kekuatan
penebas yang memenggal paham dan pemikiran yang diklaim
berbeda dan tak selaras.
Dengan analogi yang cukup menarik, Zuhairi Misrawi
(2003) pernah mengelompokkan aksi fundamentalisme ke
dalam tiga varian. Pertama, fundamentalisme radikal yaitu
mereka yang gemar mempraktikkan kekerasan dengan dalih
agama. Kedua, fundamentalisme politik yakni mereka yang

89
menjadikan doktrin agama hanya sebagai landasan politik.
Sedangkan ketiga adalah fundamentalisme moderat yang
berwujud komunitas taat beragama yang menerima dan sudi
berdamai dengan perkembangan modernitas.
Sebenarnya, avorisme KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
yang dengan lantang menyuarakan “Tuhan tak perlu dibela”
patut dijadikan sebagai pintu penutup dari terbukanya kembali
“kotak pandora” persoalan seputar radikalisme agama ini.
Seruan autokritis ini paling tidak berguna untuk menyentak
kesadaran khalayak bahwa agama sesungguhnya diciptakan
bagi seluas-luasnya kesejahteraan manusia dan bukan semata
“persembahan simbolik” buat menyenangkan Tuhan.
Seraya demikian, sikap fundamental keberagamaan
seseorang akan selalu dipayungi sikap moderat yang santun
dan terbuka terhadap dinamika perubahan. Pada konteks
keindonesiaan, sayangnya, untuk saat ini keberadaan kalangan
fundamentalis radikal yang tiada lebih hanya “nila setitik” itu
telah mencemarkan citra “susu sebelanga” yang dihuni kaum
beragama moderat dan tradisional.
Fundamentalisme agama di negeri ini lebih sering tampil
ke permukaan dengan paras kasarnya yang menyeramkan. []

90
Pustaka Pergunjingan:
Mengunci Kebenaran dalam
Kotak Pandora

K ecenderungan menggunjing lewat buku kini telah menjadi


salah satu trend mutakhir yang cukup diminati dunia
penerbitan. Tak sedikit data faktual yang bisa disodorkan untuk
membuktikannya.
Beberapa waktu silam, terbit beberapa buku yang berusaha
menelanjangi sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Tercatat mulai dari Bahaya Pemikiran Gus Dur: Menyakiti Hati
Rakyat (sebanyak dua seri), Belitan Tasawuf Iblis: Gus Dur Wali?
hingga buku Gus Dur Menjual Bapaknya. Buku-buku karangan
Hartono Ahmad Jaiz yang diterbikan Al-Kautsar dan Darul
Falah ini tidak saja berupaya menyerang pemikiran nyeleneh Gus
Dur. Namun lebih dari itu ia pun membongkar segala pernak-
pernik kepribadian mantan ketua umum Nahdlatul Ulama
(NU) ini guna meyakinkan pembaca bahwa sepak terjangnya
tak layak ditiru.
Belum puas hanya menggugat sang tokoh, komunitas
jam’iyyahnya pun menjadi sasaran. Lalu lahirlah Bila Kiai
Dipertuhankan (penerbit Al-Kautsar) karya Hartono dan

91
Abduh Zulfidar yang mengutuk keras etika beragama warga
nahdliyyin. Di mata sang penulis, tradisi umat NU selama ini,
berupa budaya kepatuhan yang berlebihan terhadap sosok
kiai, cenderung menyuburkan wacana taqlid dan fanatisme
buta. Karenanya, hal itu dipandang amat “berbahaya” bagi
kehidupan keberagaman di negeri ini. Tak cukup hingga di situ,
nyaris semua tokoh serta kelompok keagamaan yang berada
di luar pagar haluan Islam “versi” Hartono cs, turut terbabat
habis melalui buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia (sekali
lagi, diterbitkan oleh Al- Kautsar).
Beberapa tahun berselang, kehadiran kaukus Jaringan
Islam Liberal (JIL) ternyata bukan hanya dianggap sebagai
ikon kelompok kritis pemikiran Islam khas nusantara, tetapi
ia pun disambut hujatan bertubi-tubi dari kalangan yang
merasa “gerah” dengan paradigma liberalisme pemikiran yang
coba ditawarkan oleh Ulil Abshar-Abdallah dan kawan-kawan.
Hadirlah kemudian buku-buku yang mengutuk kiprah JIL, di
antaranya salah satu yang cukup fenomenal adalah Melawan
Konspirasi JIL (Pustaka Furqan) yang ditulis oleh Fauzan Al-
Anshari, pemikir muda dari kubu Majelis Mujahidin Indonesia
(MMI) serta buku Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam
Liberal karya Adnin Armas (Gema Insani Press).
Belum lewat setahun kemudian merebaklah kontroversi
selebriti Inul Daratista. Pesona fenomenal penyanyi dangdut
kelahiran Pasuruan ini juga tak luput dari endusan hingar-
bingar dunia buku. Hanya dalam hitungan minggu, pagina-
pagina toko buku disesaki oleh pustaka bernuansa Inul.
Kebanyakan di antaranya cenderung mendukung (paling tidak,
bersikap netral) atas keberadaan Inul berikut kontroversi yang

92
melingkarinya. Satu-satunya (barangkali) dari sekian buku-
buku tentang Inul yang bernada kecaman ialah karya Kathur
Suhardi, Inul Lebih dari Sekadar Segelas Arak. Melalui buku ini,
Kathur meneropong “fenominul” melalui optik pendekatan
moral-normatif (agama).
Khusus untuk “kasus” Gus Dur, JIL maupun Inul, sebagian
khalayak mungkin masih merasa mafhum. Hal ini disebabkan
sejak awal, kehadiran dan kiprah para tokoh dan personaliti
tersebut pemikiran dan karya-karyanya sudah diselimuti oleh
nuansa polemik dan sikap pro-kontra. Lantas, bagaimana
dengan tokoh ataupun kelompok yang selama ini sepi dari
kontroversi dan tampak relatif bisa diterima kehadirannya oleh
berbagai kalangan?
Awal tahun 2003 masyarakat cukup digemparkan oleh
kehadiran buku Rapor Merah Aa Gym: MQ di Penjara Tasawuf
(Penerbit Darul Falah). Buku yang dirancang oleh Abdurrahman
Al-Mukaffi dan lagi-lagi diberi pengantar si ”tukang pukul”
Hartono Ahmad Jais ini jelas-jelas hendak menghantam buku Aa
Gym dan Fenomena Darut Tauhid (Mizan) serta aneka buku semi
biografis tentang sosok Aa Gym (KH Abdullah Gymnastiar)
terbitan Mutiara Qolbun Salim (MQS) yang telah lebih dulu
populer dan dianggap ikut andil melambungkan popularitas
mubaligh santun asal Bandung ini.
Tak lama berselang, almarhum M. Arifin Ilham, ustaz yang
kesohor lewat kajian-kajian majlis dzikirnya ini juga tak luput
dari godaman cerca. Melalui buku Koreksi Atas Zikir Jama’ah M.
Arifin Ilham (Darul Falah). Penulis bernama pena Abu Amsaka
dengan teliti menguliti praktik ritual Ustaz Arifin Ilham melalui
pisau bedah yang berselubung “kemurnian syariat Islam”.

93
Keterperangahan banyak orang yang luar biasa terhadap
buku Rapor Merah Aa Gym, misalnya, bisa dibuktikan oleh
tingginya tiras terbit (dalam tiga bulan naik cetak sebanyak
empat kali). Kesuksesan ini, pada sisi tertentu, disebabkan
rasa ingin tahu khalayak akan apa sebenarnya misi sejati yang
hendak diusung oleh buku ini. Sebagai figur populis yang
familiar dengan segmen masyarakat dari berbagai lapisan
(bahkan hingga lintas budaya dan agama), citra KH Abdullah
Gymnastiar dan Ustaz M. Arifin Ilham sejauh ini, boleh dibilang
jauh dari aroma negatif.
Dilirisnya kedua buku tersebut serta-merta “mengganggu”
opini masyarakat terhadap kredibilitas kedua mubaligh kondang
itu. Sesuatu yang wajar jika kemudian secara bersahaja, orang-
orang di sekitar mereka kemudian berinisiatif dan merasa
perlu “meluruskannya” lewat buku balasan. Pendukung Aa
Gym contohnya, menelurkan buku bernuansa tabayyun dengan
judul Ya Akhi, Mengapa Menggugat Aa?, juga Aa Gym: Dai Sejuk
dalam Masyarakat Majemuk, dan buku berikut kepingan CD
kalbugrafi, Aa Gym Apa Adanya yang diluncurkan memanfaatkan
momentum bulan Ramadan.

Tendensi di Balik Buku


Di luar itu, terlepas dari sukses tidaknya buku-buku
berjenis hujatan di pasaran, kecenderungan dinamis ini laik
untuk dicermati. Muncul tanda tanya, benarkah trend tersebut
merupakan representasi dari kesemarakan jagad literasi dan
dinamika perbukuan kita? Pertanyaan semacam ini wajib
dijawab dengan tandas mengingat kuatnya dugaan bahwa
ada motif dan modus lain yang bermain di sebalik fenomena

94
tersebut. Sisi sensasional sebuah buku tidak hanya bertumpu
pada kekuatan ide yang terbenam di dalamnya. Namun, bisa
saja sensasi itu sudah terbentuk bahkan sebelum buku itu
dirilis. Rilis buku kerapkali hanya mendompleng nama besar
tokoh ataupun alur permainan wacana yang sudah berjalan dan
tumbuh di masyarakat.
Sulit dipungkiri, terdapat tendensi “sponsor” yang hendak
ditiupkan melalui buku-buku serupa ini kendati dengan sekuat
tenaga hal itu berusaha untuk ditutup-tutupi. Dalam retorika
bahasa normatif yang demikian indah, Fauzan dan Hartono
(sebagai contoh) menyebut bahwa karya-karya tulis mereka
semata dilatari oleh keinginan (baca: kewajiban) untuk turut
mengamalkan amar ma’ruf nahy munkar serta dalam koridor
motivasi saling mengingatkan dalam kebenaran (tawashaw bi al-
haq). Maksudnya, betapapun terasa getir, terimalah ia sebagai
obat yang menyehatkan. Alasan apologis semacam ini tentu
tidak lantas mengalihkan opini publik bahwa sebuah buku
benar-benar steril dari lumuran kepentingan.
Unsur suka dan tak suka (like and dislike) dalam kerangka
ini merupakan aroma yang tak mudah untuk dihilangkan.
Taruhlah misalnya, argumentasi sebuah buku yang berdalih
“demi kebenaran sejati” pada saat bersamaan ia juga telah
melakukan indoktrinasi dan “pemaksaan” kebenaran yang
ditawarkannya sembari menutup pintu kebenaran yang
mungkin datang dari pihak lain. Tidak ada lagi aliran diskusi,
karena ia berjalan hanya dari satu arah atau monolog, bukan
dialog.
Kebenaran, pada dimensi ini, telah menjadi sesuatu hal
yang “usai”. Ia menjadi tidak lebih dari sebuah pusaka pemikiran

95
yang terkemas baku dan tertutup pengap dalam kotak pandora.
Segala ihwal yang berbeda, apalagi bertentangan dengan isi
kotak, akan serta-merta dicap sebagai kekeliruan dan karenanya
mesti dibasmi.
Tepat di titik inilah, oleh sifatnya yang baku dan kaku,
kebenaran telah menjelma “sabda” yang final dan antitafsir. Di
satu sisi, kebenaran adalah sebentuk monopoli yang tak boleh
diinterpretasi, apalagi dibeli. Sementara di sisi yang lain, dalih
kebenaran telah pula melahirkan “algojo-algojo” yang garang
dan sibuk mengeksekusi arus pemikiran lain yang dipandang
berbeda dan menyimpang.
Walaupun dalam avorisme yang klise kita sudah sering
mendengar ujaran “balaslah buku dengan buku” (dalam
khazanah Islam segaris dengan visi da’wah bi al-qalam,
berdakwah dengan pena), namun upaya penerbitan buku-buku
kritik yang meneror sosok personal atau kelompok komunal
tertentu tetaplah merupakan pilihan yang sangat potensial
untuk dipertanyakan.
Tentu akan lain halnya apabila kritik tersebut tidak tertuju
secara langsung kepada individu ataupun kubu tertentu,
melainkan lebih kepada kritik pola pikir, paradigma politik,
simtom budaya ataupun tatanan sosial dalam lingkup yang
luas. Sekadar contoh, buku Cendekiawan dan Kekuasaan dalam
Negara Orde Baru (Gramedia) karangan Daniel Dhakidae adalah
contoh yang baik dan jenial dari kemasan dan model referensi
yang berikhtiar mengubah kondisi sosial ke arah yang lebih baik
tanpa (harus) mendiskreditkan pribadi atau pihak lain sebagai
kambing hitam. Di situ, sararan masukan (point of critics) yang
dibidik Daniel adalah sistem politik dan tatanan budaya yang

96
cenderung menyuburkan perselingkuhan negatif antara kaum
cendekiawan dan kroni kekuasaan (rezim).
Contoh lain, Zainal Arifin Thoha menelurkan buku
Runtuhnya Singgasana Kyai (Penerbit Kutub) guna memrotes
‘syahwat’ politik sebagian kyai yang bernafsu terjun gunung
secara massif ke gelanggang politik praktis dan – karenanya
– dapat berpotensi buruk terhadap iklim kepesantrenan.
Nurcholish Madjid pernah pula mengorbitkan Bilik-Bilik
Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (Penerbit Paramadina)
yang mencoba membenahi pola makro pendidikan pesantren
dengan cara membongkar sisa-sisa ‘kekumuhan’ di pesantren-
pesantren klasik. Amin Syukur pun pernah mempersoalkan
perihal kontribusi sufisme pada abad mutakhir ini melalui
karyanya Menggugat Tasawuf (Pustaka Pelajar).

Buku dan Kitab Vonis


Ragam pustaka semacam ini, meski pada derajat tertentu
dapat memantik rasa geram sebagian kalangan, tetapi secara
eksplisit kritik yang dikemasnya relatif lebih bisa diterima.
Semakin ada pihak yang kebakaran jenggot, berarti kritik yang
terlontarkan terbukti mujarab dan tepat sasaran. Kelebihan
buku-buku jenis ini antara lain terletak pada sifatnya yang
sugestif, autokritis dan konstruktif. Seraya demikian, jendela
bagi tumbuhnya kesadaran, perenungan, pencerahan serta
diskusi lanjutan bagi yang membacanya menjadi lebih lapang
dan terbuka.
Di atas semua itu, lahirnya aneka buku vonis tersebut
dalam bahasa hukum layak dikategorikan sebagai tindakan
‘main hakim sendiri’ dan cenderung mengabaikan rasa keadilan.

97
Dalam kamus psikografi politik, ia juga bisa digolongkan sebagai
bagian dari upaya pembunuhan karakter (character assassination)
yang dalam beberapa hal terkesan keji dan sepihak. Sementara
merujuk ke istilah agama, ia pun dapat dicap sebagai fitnah
yang menjajakan aib pihak lain.
Oleh karena itu, mulai kini ada baiknya pihak-pihak yang
terlibat dalam mata rantai perbukuan (mulai dari penulis,
penerjemah, praktisi penerbitan, pelaku bisnis buku hingga
khalayak pembaca) guna bersama-sama introspeksi dan berkaca
diri. Hikmah apa yang sejatinya bisa dipetik dari kegemaran
kita menyerang dan menggunjing kesalahan dan aib orang lain?
Kendati arus reformasi berjaya melonggarkan kerah
kebebasan, tak lantas bermakna kita dapat seenaknya berlaku
permisif. Termasuk di dalamnya mengacak-acak ruang privasi
siapapun di luar kita meski (hanya) melalui karya pustaka. Pada
aras demikian, alangkah bijak jika kita sudi mengingat kembali
komitmen luhur yang pernah dicetuskan oleh sebuah gerakan
keagamaan di Arab: nahnu du’aat laa qudhaat. Kami sekadar
penyeru, bukan hakim yang menyaru. []

98
Ramadan dan
Buku Remaja

R amadan memang momen penuh berkah. Termasuk bagi


penerbit buku. Kedatangannya selalu menjadi saat yang
ditunggu. Meskipun tema yang bisa dikaitkan dan layak
jual (marketable) dengan momentum Bulan Seribu Bulan ini
tergolong sedikit -- bisa disebut hanyalah tema seputar ibadah
puasa, Lailatul Qadar, Nuzulul Qur’an, Zakat Fitrah dan hari raya --
tetapi banyak penerbit menyambut datangnya ramadan dengan
gegap gempita. Salah satu bukti adalah (masih) tingginya
angka penjualan dan kuantitas penerbitan (oplah) buku-buku
bertema puasa. Kian tahun, topik puasa seakan tak pernah
surut dikuras. Selalu saja ada hal baru yang menarik berkaitan
dengan ritual tahunan umat Islam ini.
Dirujuk dari sudut pengangkatan topik, kebanyakan buku
bertema puasa berisi panduan praktis seputar tata cara puasa
yang benar menurut tuntunan agama. Karena itu, cenderung
berkesan baku (formal) dan dengan pendekatan yang melulu
normatif (keagamaan). Tidak banyak buku puasa yang mencoba
menguak dimensi lain dari ritus suci ini.
Misalnya saja menarik jika ada yang menelaah puasa
sebagai sinkretisme antara ajaran agama dan warisan tradisi

99
budaya (lokal) yang telah lama beranak-pinak di bumi nusantara
ini. Dari sana, akan ada semacam penelusuran tapak sejarah
yang menarik yang hingga saat ini masih tampak hidup pada
perilaku masyarakat adat dalam menjalankan dan mewarnai
ritus rukun Islam keempat tersebut. Dari sana pula kita dapat
menelisik bahwa puasa, dalam banyak sisi, ternyata mampu
memancarkan kilau eksotisme keagamaan dan juga keunikan
budaya yang demikian plural.
Kecuali itu, puasa selama ini cenderung dikaji (melalui
buku) hanya dalam lingkup yang berkesan menonton.
Temanya berkisar kiat dan hikmah di balik puasa serta tata
cara berikut ketentuan pembayaran zakat fitrah. Tak banyak
tema terkait lain yang secara kreatif diracik ke dalam bahasan.
Bagaimana, misalnya, ritus ramadan juga kerap melahirkan
efek kemubaziran, selebritisme agama, kapitalisasi tayangan
ramadan di layar kaca, hingga seabrik perspektif-perspektif
menarik yang lain.

Gebrakan
Maka, terasa cukup istimewa bila dalam beberapa tahun
belakangan ini mulai bermunculan sejumlah buku yang
menyuguhkan tema puasa dengan sajian berbeda. Lebih-lebih
jika ditilik dari sudut pengemasan buku serta bahasa dan
retorika olahannya. Paling tidak ada tiga buku yang bisa disebut
bernuansa “berbeda” tersebut, yakni buku Ramadan Is Dead?!
Karya Sofwan Al-Banna (penerbit Pro-U Media, Yogyakarta),
Puasanya ABG: Panduan Puasa Bagi Remaja tulisan Ummu Harist
(penerbit Mandiri Visi Media, Solo) serta Menuju Puncak Taqwa
Melalui Akademi Ramadan karangan Budhi Dharmawan (Yayasan

100
Media, Depok). Ketiga-tiganya diluncurkan nyaris bersamaan
untuk menyambut kehadiran ramadan.
Ketiga pustaka tersebut dapat dikatakan lain dari yang
lain disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, pilihan judul serta
kemasan buku yang menarik. Ditilik dari judul-judulnya, jelas
kentara segmen pembaca yang mereka bidik adalah kalangan
remaja. Kemasan fisik buku juga didesain khas anak muda
dengan tonjolan permainan warna yang rame, hiasan mind map
yang asyik dan tidak rumit, ilustrasi gambar-gambar yang
komikal serta bentuk buku yang familiar dibaca dan mudah
untuk dibawa.
Kedua, suguhan bahasa yang mengalir gaya kawula muda,
ringan, ngepop, apa adanya, easy reading (walaupun kadang
berkesan “seenaknya sendiri”) serta sederhana. Dilihat dari
sisi ini, mudah sekali ditebak buku-buku ini hendak berakrab-
ria dengan kognisi dan psikologi komunitas remaja yang lagi
populer dan ngetrend saat ini. Ragam buku “gaul” serupa ini
barangkali turut diilhami oleh kesuksesan buku-buku genre
khas remaja serupa chicken literature (chicklit) dan teen literature
(teenlit) yang belakangan ini terbukti dominan merangkul
segmen pasar buku remaja.
Ketiga, perkembangan semacam ini, secara tidak langsung
bisa kita baca sebagai gejala pembumian sekaligus” peremajaan”
kemasan buku keagamaan dalam bentuknya yang baru.
Belajar dari pengalaman perbukuan selama ini, kendati buku
serius tetap laku di pasar, tetapi tingkat keberhasilan tersebut
belum menyentuh hingga ke zona hiruk-pikuk dunia remaja.
Lebih-lebih saat ini, ketika remaja milenial kita lebih banyak
disihir oleh hedonisme hidup ala” generasi MTV”, persoalan

101
keagamaan lambat laun mengalami peminggiran yang, pada
batas-batas tertentu, amat merisaukan.

Monopoli
Tentu kita tak ingin permasalahan seputar agama hanya
menjadi ”monopoli” kaum tua serta kian menjauh dari lingkup
kehidupan remaja. Maka, pelbagai terobosan yang dilakukan
sejumlah insan perbukuan ini semestinya dihargai serta
disambut dengan baik dan positif. Toh, yang terpenting adalah
bagaimana pesan dan nilai (dakwah) sebuah buku sampai ke
khalayak muda secara cerdas dan komunikatif, apapun media
kemasannya.
Buku Ramadan Is Dead?!, misalnya, telah mencoba untuk
berani menggugat beragam praktik budaya serta mitos-
mitos semu yang selama ini telah mengakar kuat di tengah
masyarakat. Melalui perspektif remaja muslim, buku ini antara
lain menggugat bagaimana tradisi “ritual” seperti padusan di
sebagian masyarakat Jawa masih betah dipelihara. Padahal
lelaku tradisional itu jelas merupakan jiplakan dari tradisi
bersuci massal ala umat Hindu di sungai Gangga India. Hal
lain adalah bagaimana ritus “selebrasi” petasan (mercon) yang
hingga hari ini masih menjadi ikon gebyar ramadan khususnya
bagi para remaja.
Terlepas dari semua itu, kebutuhan penyegaran (refreshing)
buku-buku ihwal puasa dalam beragam bentuk memang mutlak
dibutuhkan. Kondisi sosial masyarakat yang rentan jenuh
memerlukan gebrakan dan warna baru. Tak terkecuali dalam
dinamika perbukuan.

102
Bukan berarti tema-tema serta kemasan aneka buku serius
lantas begitu saja dilupakan. Akan tetapi perlu ”akrobatisasi”
inovatif dalam banyak hal. Bagaimana, misalnya, topik tentang
puasa, hari raya, zakat fitrah dan yang lain dibahas dari
perspektif yang sama sekali baru, namun tetap selaras dengan
kondisi dan perkembangan mutakhir.
Sekadar contoh, buku yang mengemas humanisme dan
sisi-sisi lain hari raya yang cukup baik, boleh disebut, hanyalah
Lebaran di Karet (penerbit Kompas). Antologi cerpen pilihan ini
berhasil menyandingkan antara nilai-nilai religius lebaran (hari
raya) dengan karnaval kemanusiaan (sosial) masyarakat yang
merayakannya dengan narasi yang cukup memikat. Lebih-lebih
ia ditampilkan dalam bentuk cerita (sastra) yang populer.
Kecuali itu, dibanding topik perihal puasa, tema tentang
zakat relatif lebih awet masanya. Hal ini disebabkan masalah
zakat sudah mengalami pemekaran wacana, sehingga tidak
hanya terbatas pada lingkup bulan ramadhan (zakat fitrah) saja.
Zakat, saat ini telah menjadi tema-tema pembahasan penting
dari wacana ekonomi Islam (syariah) secara makro yang akhir-
akhir ini mulai marak dikaji di berbagai mimbar akademik.
Apalagi perkembangan perbankan Islam (syariah) kini
tengah mengalami booming dan mengindikasikan perubahan
yang dinamis, di Indonesia maupun di dunia. Buku tentang
zakat telah menjadi panduan wajib dan buku ajar atau daras
(text book) yang bukan saja dikonsumsi oleh mahasiswa atau
pelajar muslim semata, tetapi juga di luar lingkungan keilmuan
mereka.
Yang jelas, bulan ramadan hingga sekarang masih
merupakan momentum singkat yang tetap menjadi sebagian

103
“primadona” berharga bagi dunia penerbitan buku. Realitas
ini sekaligus sebagai bukti bahwa ramadan dan hal-hal yang
berhubung-kait dengannya, memang tak pernah lekang dikaji
ulang. Untuk itu, butuh adanya terobosan-terobosan baru
bagi belantika perbukuan Islam supaya mereka tidak semakin
ditinggal oleh khalayak pembacanya.
Nah, segmen remaja, sebagai bagian penting dari
komunitas pecinta literasi dan dunia pustaka, janganlah pernah
diremehkan keberadaannya. Remaja adalah soko guru bangsa.
Kecerdasan dan kekuatan mereka sangatlah menentukan laju
perkembangan bangsa ini ke depan. Salah satu upaya guna
memberdayakan mereka adalah melalui upaya yang tak kenal
letih untuk senantiasa mengakrabkan mereka dengan dunia
literasi. []

104
Seputar Buku Pintar

D alam sebuah wawancara di sebuah stasiun televisi, seorang


pria paruh baya ditanya oleh presenter tentang kiat serta
rahasia kesuksesannya telah memenangkan kuis berhadiah
ratusan juta yang baru saja diraihnya. Dengan ekspresi
penuh percaya diri sang juara itu berujar, ”Saya selalu belajar,
membaca, dan satu lagi… saya melahap buku-buku pintar!”
Buku pintar. Iya, inilah salah satu kata kunci yang
berhasil mewujudkan impian seseorang dalam mengarungi
cakrawala ilmu pengetahuan. Dalam kasus mega kuis yang
telah terceritakan, buku pintar telah terbukti ampuh menjawab
pelbagai soal-soal serta efektif mematahkan para pesaing.
Mungkin tak semua orang tahu apakah itu buku
pintar. Sekadar dengar dan lihat, barangkali banyak yang
mengetahuinya. Namun untuk sampai berhasrat ingin
memiliki dan mengoleksi, barangkali dapat dibilang sedikit
yang meminatinya. Padahal buku-buku jenis ini amat penting,
sebab data-data yang terangkum dan terekam di dalamnya
sangatlah lengkap.
Karena itu, biasanya meski jarang mengalami booming
dalam penjualan, ia relatif lebih awet di pasaran karena isinya
tak mudah aus (out of date).

105
Secara general, buku pintar bisa digolongkan dalam
genre kamus dan atau ensiklopedia. Karena kategori inilah,
lazimnya ia tercatat dalam edisi yang cukup tebal sehingga
selain relatif mahal, membuat orang juga cenderung malas
untuk membacanya. Sebagai pustaka yang mampu memandu
memori manusia untuk mengingat kembali sejarah, baik itu
berupa deretan angka, peristiwa, waktu, rupa-rupa, tempat,
ataupun nama-nama, buku ini layak dijadikan bahan rujukan
yang representatif.
Sepintas, buku pintar berkesan sebagai tumpukan data
yang kaku dan beku. Padahal karena sifatnya itulah, ia harus
senantiasa diperbarui agar senantiasa akurat dan segaris dengan
perkembangan terbaru. Dengan kata lain, ia memuat data-
data yang dinamis dan terus berubah seiring perkembangan
kemajuan peradaban serta perputaran zaman.
Ragam buku pintar telah lama beredar luas di pasar
perbukuan. Sudah banyak penulis (lebih tepatnya, penghimpun
data, penyunting atau editor) serta penerbit yang mengeluarkan
ratusan buku-buku pintar dalam berbagai edisi, ukuran serta
ragam entry dan topik bahasan.

Iwan Gayo
Di antara beberapa penulis itu, rasanya kita wajib menyebut
nama Iwan Gayo. Dapat di kata, beliaulah “Bapak” buku pintar
Indonesia. Menyebut nama buku pintar, pikiran kita sering
langsung tertuju pada sosok Iwan Gayo. Pada saat keberadaan
buku pintar masih tergolong langka, buku karangannya yakni
Buku Pintar edisi senior dan junior telah dominan dan laris di
pasaran.

106
Di Indonesia, selain Iwan Gayo, terdapat beberapa penulis
yang dikenal “spesialis” buku-buku pintar. Mereka antara lain
Edi Sigar, Syailendra, Edy Sutrisno, Elisabeth Tara serta Richard
Nata. Sementara sejumlah penerbit yang secara kontinu
menerbitkan buku-buku pintar adalah Penerbit Aneka, Inti
Media, Restu Agung, Inovasi serta Penerbit Kompas. Di luar
itu, kendati ada beberapa, cukup sulit menemukan penerbit
yang mau merilis pustaka panduan jenis ini.
Selain itu, pilihan tema buku-buku pintar saat ini sudah
demikian beraneka ragam. Hampir semua bidang dan disiplin
keilmuan tersedia datanya secara khusus dan spesifik. Sebagai
misal, kita tak lagi kesulitan menemukan data perkembangan
mengenai musik karena sudah ada Buku Pintar Musik demikian
pula cabang lain seperti olahraga dengan Buku Pintar Atlet.
Disiplin dan rumpun keilmuan lain juga bertebaran buku
pintar. Mulai buku pintar tokoh-tokoh peraih Nobel (dari
Nobel perdamaian, kesehatan, ekonomi, sastra hingga fisika),
para orang sukses di berbagai bidang, para penemu, pahlawan,
peristiwa penting, seniman, serta sampai pada buku pintar
dunia mengenai anatomi tubuh manusia, dunia hewan serta
tumbuhan. Bahkan khusus memanjakan komunitas kaum
remaja yang doyan gosip selebriti tersedia pula buku pintar
dunia Hollywood.
Lebih dari itu, tema tema menarik lainnya yang kadang
dianggap remeh juga sudah tersedia buku pintarnya. Richard
Nata dan Puspa Swara, misalnya, dengan tekun menyusun
Buku Pintar Mencari Kerja yang tentu saja memberikan panduan
memadai bagi kaum pengangguran di sekitar kita. Ada pula

107
Buku Pintar Asah Otak serta Buku Pintar Ketawa yang bermaksud
menggelitik syaraf humor kita.
Di bidang pengetahuan serius seperti agama, misalnya,
juga tak luput dari bidikan. Panduan semacam Buku Pintar Haji
dan Umrah, Buku Pintar Puasa, Buku Pintar Zakat hingga yang
cukup hangat dari penerbit Mizan, Buku Pintar Remaja Muslim.
Kesemuanya berkeinginan guna memuaskan pembaca akan
dahaga data yang selama ini cenderung tak dapat ditemukan
pada umumnya buku-buku populer.

Memudahkan Membaca
Pada aspek ini pun kita juga bisa mengetahui ajaran lintas
agama sehingga pengetahuan akan agama-agama lain dapat
semakin luas. Jika Nogarsyah Moede menyusun Buku Pintar
Islam, kita bisa juga menjumpai Kenneth Taylor dengan Buku
Pintar Al-Kitab atau Valentine Chu dengan Buku Pintar Yin-Yang
untuk menguak misteri ajaran Taoisme.
Intinya, aneka buku pintar semacam ini dapat secara
alfabetis mengajak dan menuntun kita menelusuri dan
berselancar dengan dunia data. Gaya penyajian yang sistematis
memudahkan pembaca untuk memilih dan melompat-lompat
sesuai pilihan topik yang hendak ditelisik.
Yang jelas, pemanfaatan buku pintar kemudian tidak hanya
berguna sebagai bekal persiapan apabila hendak mengikuti
perlombaan, uji prestasi, kuis, dan semacamnya semata. Lain
dari itu, ia juga bisa kita fungsikan sebagai bacaan suplemen
untuk mengisi otak kita dengan bahan “nutrisi” pokok sekaligus
suplemen “gizi” keilmuan yang baik, segar dan sehat.

108
Guna mengasah kemampuan nalar menghafal
(intelegensia) yang terdapat di otak kiri, buku sejenis ini layak
dijadikan penunjang sekaligus pengimbang. Selanjutnya, tugas
otak kananlah yang bertugas mengolah bahan pokok tersebut
secara kreatif dan inspiratif.
Karena itu, ke depan, buku-buku pintar harus dikemas
dengan penyajian yang lebih ringan, atraktif dan ilustratif.
Dengan begitu kesan bahwa ia tak lebih buku serius yang berat
dan kaku menjadi kian hilang dan selanjutnya kaum pembaca,
terutama kawula muda turut terpantik animonya untuk
membaca dan mengoleksi.
Bagaimanapun harus dihindari kesan buku pintar hanya
sebagai konsumsi kaum tua serta hanya layak dipajang di
lemari-lemari kantor dan sekolah-sekolah. Caranya antara lain
dengan mengkreasi dan menyiasati kemasan agar lebih baru dan
trendi. Ada baiknya bila tata kemasannya meniru buku-buku
chicken literature (Chiklit), maupun teen literature (teenlit) yang
belakangan ini tengah merebak dikonsumsi publik perbukuan
di Indonesia, khususnya pada segmen remaja.
Satu hal yang penting, buku pintar disusun agar orang
yang membacanya menjadi pintar, tak mudah dibodohi juga tak
suka membodohi. Harus diakui bahwa topik-topik buku pintar
kini semakin berkembang dan meluas hingga tema yang kecil
dan detail.
Di tengah perkembangan dan hingar-bingar iklim politik
saat ini, kita layak berharap para politisi dan wakil rakyat
di parlemen maupun aparatur pemerintahan di kalangan
eksekutif juga mengonsumsi buku pintar agar lebih cermat

109
menyimak data, cerdas mengulas wacana dan tanggap serta
solutif terhadap persoalan rakyat.
Dengan begitu apa yang pernah disinyalir oleh Michael
Foot, politisi sekaligus penulis asal Inggris bahwa, “Pemegang
kekuasaan tak pernah punya waktu untuk membaca”, menjadi
jauh dari kenyataan. Karena, masih menurut Foot, “Kekuasaan
tidaklah tepat untuk orang yang tak pernah membaca”.
Syukurlah jika mereka sudi ramai-ramai menggagas buku
pintar dalam bentuk yang lain. Misalnya saja, “Buku Pintar
Membodohi Rakyat”. Sehingga rakyat menjadi kian sadar kalau
ternyata selama ini mereka seringkali dibodohi oleh wakil-
wakil mereka yang (setiap kampanye selalu mengaku) pintar
itu. []

110
BAB III

INISIASI

Buku, Tokoh, dan Brand Image


Dilema Penerbitan, Antara Dana dan Stamina
Logika Pasar
Parasit
Buku, Tokoh, dan
Brand Image

D i awal tahun 2000-an nama Iip Wijayanto mendadak


kondang dan naik daun. Penulis muda yang dulu hanya
dikenal di lingkungan Kampus Universitas Islam Indonesia
(UII) Yogyakarta almamaternya saat itu, pernah menikmati
“masa panen” berkat buku-bukunya. Baru dalam hitungan
tahun, beberapa karyanya yang diterbitkan Penerbit Tinta
(Qalam Group), sukses diserap pasar. Tercatat, mulai dari Sex in
The Kost, Pemerkosaan Atas Nama Cinta, Manajemen Cinta, Panduan
Mencari Kost Sehat di Jogja hingga yang cukup fenomenal, buku
Campus Fresh Chicken, semuanya laris manis diburu pembeli.
Terlepas dari anggapan “miring” bahwa popularitas yang
diraih buku-buku Iip hanyalah sekadar ekses sensasional dari
kesuksesan buku Jakarta Under Cover (Moammar Emka, Galang
Press) sebelumnya, realitas dinamis semacam ini kembali
mengingatkan kita akan peran penting sebuah penerbitan. Tak
bisa disangkal, Penerbit Tinta Jogjakarta adalah “aktor” utama
di balik kesuksesan Iip Wijayanto selama ini. Penerbit inilah
yang boleh dikata menguasai (hampir) semua buku-buku
penulis muda asal Bengkulu tersebut.

112
Asumsi bahwa penerbitlah yang turut berjasa mengangkat
dan membesarkan seorang penulis untuk kemudian menjelma
“tokoh”, cukup banyak terbukti berdasarkan beragam
pengalaman ataupun fakta perbukuan selama ini. Bahkan,
dalam konteks ini, tak jarang beberapa penerbit harus berjuang
dan bersitegang dengan penerbit lain guna mendapatkan lisensi
dan copy right dari seorang penulis. Penulis lantas menjadi
“tokoh”, maskot, ikon sekaligus brand image sesuai keinginan
dari pihak penerbit.
Salah satu contoh faktual, pada saat itu penerbit Serambi
Jakarta sedang getol-getolnya mempromosikan karya-karya
dari Khaled Abou El-Fadl. Hal ini berawal dari kesuksesan buku
Musyawarah Buku (terjemahan, terbit 2002) yang diterbitkan
Serambi beberapa tahun silam. Di samping itu, tulisan-tulisan
pemikir muslim yang sempat populer di Amerika Serikat ini
dianggap cukup berkualitas dan memikat. Menjadi beralasan,
jika Penerbit Serambi kemudian mati-matian berjuang
mendapatkan izin resmi dari penerjemahan buku-buku Abou
El-Fadl di Indonesia.
Jika kita kilas balik, kondisi serupa ini juga pernah
terjadi pada penerbit-penerbit Lain. LKiS (Jogjakarta),
misalnya, dikenal sebagai lokomotif yang sukses mengangkat
cendekiawan-cendekiawan muslim kontemporer semisal Nashr
Hamid Abu Zaid hingga Abid al-Jabiri. Bahkan, penerbit yang
dikelola anak-anak muda NU ini saat itu juga pernah berupaya
mengangkat Ali Harb, seorang ilmuwan asal Lebanon, guna
ikut menyemarakkan wacana pemikiran Islam liberal dan
progresif di Indonesia melalui buku-buku terbitannya. Di luar
itu juga LKiS patut disebut sebagai gerbong yang telah sukses

113
menyemai hasil-hasil penelitian beberapa Indonesianis ternama
semisal Martin Van Bruinessen, Clifford Geertz, Robert W.
Hefner hingga Huub de Jonge, ke hadapan publik pembaca kita.
Kisah manis serupa itu juga pernah didulang oleh Penerbit
Mizan. Penerbit asuhan Haidar Bagir ini sukses mengangkat
nama-nama seperti Jalaluddin Rakhmat, Quraish Shihab dan
Annemarie Schimmel serta para filosof muslim sekelas Ali
Syari’ati, Murtadha Muthahhari, Baqir Shadr hingga Abdul
Karim Soroush ke permukaan. Penerbit Paramadinapun
berhasil mengibarkan nama Nurcholish Madjid. Demikian pula
Bulan Bintang yang memproklamirkan diri sebagai bendera
utama dari karya-karya mendiang Buya Hamka.
Di belantika sastra pun kondisi seperti ini bisa pula
dicarikan contoh perbandingan. Dulu, sempat termasyhur
penerbit Risalah Gusti (Surabaya) yang memiliki andil berarti
dalam membesarkan (beragam karya) Emha Ainun Najib
atau Cak Nun, penerbit Obor dengan karya-karya sastrawan
kawakan semisal Mochtar Lubis dan Putu Wijaya, atau Hasta
Mitra (kini diambil-alih oleh Lentera Dipantara) yang secara
khusus dan serius menjadi corong dari aneka karya sastrawan
fenomenal (satu-satunya warga Indonesia yang pernah menjadi
kandidat peraih Nobel sastra) Pramoedya Ananta Toer.
Penerbit buku-buku khusus (semisal seri pemikiran filsafat
maupun pemikiran khas keagamaan) turut memanfaatkan
kondisi ini. Sekadar contoh, Kanisius yang dikenal sebagai
lumbung pemikiran kaum Kristiani, sangat identik dengan
beberapa kritikus filsafat maupun tokoh Kristen mulai dari
Romo Frans Magnez-Suseno hingga generasi yang paling belia,
F. Budi Hardiman. Begitu pula penerbit penerbit pustaka Islam

114
seperti Darul Falah, Pustaka Al Kautsar, Gema Insani Press,
dan lain-lain, tak bisa disangkal telah cukup berhasil menanam
benih pemahaman keislaman yang khas serta memunculkan
pemikir-pemikir Islam “garis keras” sekaliber Sayyid Qutub
maupun Abul A’la Al-Maududi bahkan hingga “kelas” lokal
semisal Adian Husaini dan Hartono Ahmad Jaiz.
Seberkas contoh menarik dari Semarang dapat kita jadikan
data sahih dari kuatnya peran penerbit sebagai kekuatan “di
balik layar” yang bermain dalam melambungkan nama besar
seorang penulis ataupun tokoh. Di kota itu, ada sebuah penerbit
kecil bernama Pustaka Rizki Putra. Uniknya, penerbit yang
satu ini hanya sudi menerbitkan buku-buku yang merupakan
tulisan asli dari almarhum Teungku Hasbi As-Shiddiqi, seorang
cendekiawan Islam terkemuka mantan Rektor IAIN Yogyakarta.
Hasilnya, sampai saat ini penerbit tersebut tetap eksis dan
berkibar walau hanya mengandalkan profilitas “karya” dari
seorang tokoh saja.
Demikianlah. Sebuah buku ternyata mampu berperan
mengabadikan serentang kisah dan sebuah penerbit mampu
menyambungnya menjadi tali-temali sejarah. []

115
Dilema Penerbitan, Antara
Dana dan Stamina

N yaris semua penerbit mapan kini membentuk divisi


pe­nerbitan. Unit mini ini didesain guna mewadahi
setidaknya dua tujuan. Pertama, memperkaya warna,
spesifikasi, dan pilihan tema-tema dan genre buku. Kedua,
untuk tetap mempertahankan nama penerbit induk
sebagai “brand” utama. Konon, jalan ini ditempuh untuk
tetap menjaga citra sebuah penerbit bila suatu waktu
ia “digugat” segmen pembaca yang merasa visi awal
penerbit tersebut sudah menelikung dan melenceng di
tengah jalan.
Dalam beberapa tahun terakhir fenomena penganak-
pinakan penerbit yang kemudian berimbas pada
keragaman topik dan genre perbukuan ini dapat dijumpai
secara cukup mencolok dalam horison kepustakaan kita.
Sebuah pilihan yang dengan kental menampakkan betapa
pragmatisme pasar buku telah serta-merta membuat
orientasi dunia penerbitan karya pustaka terus bergerak,
berubah, dan berbenah. Perubahan ini tentu bukan
semata keinginan dari pihak penerbit. Pada pigmen yang

116
lebih lebar, kondisi ini adalah penonjolan nyata dari
adanya pergeseran selera baca masyarakat secara umum.
Kecenderungan dinamis yang terjadi pada pilihan
selera ini, pada derajat tertentu, mau tak mau membuka
kesadaran insan perbukuan untuk selalu bersiasat
dengan pasar. Melakukan “perjudian” dengan pasar tak
harus berarti melacurkan idealisme keilmuan dengan
sikap malas untuk senantiasa berupaya mencerdaskan
cakrawala pengetahuan publik secara dewasa dan cerdas.
Lebih dari itu ia merupakan langkah-langkah kecil dari
serangkaian upaya maraton guna memperluas lingkup
alternatif perbukuan yang akhirnya bisa dipilih oleh
khalayak.
Seraya demikian, tengara sejumlah pihak yang
mengang­
gap bahwa telah terjadi semacam degradasi
idealisme dunia penerbitan terasa sebagai premis yang
terlampau tergesa diapungkan. Keasyikan sejumlah
penerbit untuk larut me­
nerbitkan buku-buku yang
tergolong “tidak serius” sesungguhnya bisa dibaca
sebagai satu dari sekian gejala siklus kejenuhan yang
lumrah memayungi dinamika perbukuan. Karenanya,
menganggap hal itu sebagai (maaf) “prostitusi”
perbukuan kemudian menjadi kurang beralasan.
Pada saatnya nanti, selera pembaca juga bisa berubah.
Artinya, publik sebenarnya lebih tahu tentang apa yang
mestinya mereka baca dan konsumsi pada rentang masa
tertentu selaras dengan trend. Toh, kehadiran buku-
buku serius tetap memancarkan prospek yang stabil

117
dan menciptakan pangsa pasar yang tetap (segmented).
Meskipun mungkin grafik pemasarannya lebih fluktuatif.
Memang sesuatu yang wajar belaka ketika sejumlah
kalangan merasa mulai merindukan bertandangnya
buku-buku serius yang layak mutu terutama dari para
penerbit yang selama ini lebih dikenal sebagai brand
penerbit spesialis buku keilmuan yang pilih tanding.
Namun satu hal yang vital diingat pada kerangka ini
adalah paparan realitas yang mendeskripsikan dengan
gamblang bahwa (hanya) mengandalkan penjualan buku-
buku serius ternyata tak cukup menyokong tegaknya
pilar permodalan “dapur” penerbit. Walaupun alternatif
dan opsi ini bukan satu-satunya, cara demikian terbukti
mampu menjaga vitalitas dan stamina penerbit untuk
tetap eksis dalam menyemangati dinamika perbukuan
yang ada.
Dengan kata lain, pengadaan buku-buku “tak serius”
tersebut (terpaksa atau tidak) dirilis guna menjadi bahan
bakar yang mampu memperpanjang napas hidup penerbit
dalam memutar roda usaha mereka. Dalih pragmatisme
lantas menjadi jawaban lugas dari serangkaian pertanyaan
yang bernada gugatan: mengapa para penerbit kini
terseret arus pasar buku yang mulai cenderung ngepop,
terfokus laba belaka (profit oriented), dan terkesan kering
dari nuansa idealisme dan nilai-nilai keilmuan.
Latar di atas seyogyanya mampu memadukan
semangat dan kesadaran para penerbit untuk terus
mengupayakan ketersediaan buku yang tidak hanya
mengedepankan sisi profit semata. Melainkan juga

118
memelihara proses keberlangsungan transformasi
pengetahuan di tengah khalayak dengan tetap menyajikan
buku-buku ilmiah-akademik (dalam skala prioritas
tertentu) yang penuh muatan pencerahan. Dengan
demikian, bakal tercipta keseimbangan (balance) dalam
mozaik perbukuan kita, kini dan di masa mendatang.
Marilah mulai kita pulihkan bersama kesadaran
literasi yang telah dimiliki masyarakat sembari
menggiringnya menuju ke arah yang lebih kondusif dan
produktif. Jadikanlah buku bukan lagi barang mewah di
mata publik. Upayakan karya-karya pustaka bisa dibaca
dan dijangkau di mana tempat yang kita suka. Apa yang
pernah dilakukan oleh Penerbit Galang Press misalnya,
dengan berupaya melebarkan sayap distribusi hingga
ke mancanegara (go international) merupakan rintisan
dinamis yang laik ditiru oleh penerbit-penerbit yang lain.
Langkah semacam itu bukan hanya membuktikan
bahwa karya anak negeri juga mampu berbicara hingga
ke kancah yang lebih luas. Lebih dari itu, gebrakan
tersebut merupakan sebuah ikhtiar nyata untuk kian
mendekatkan dunia baca dengan lapisan publik dari
pelbagai strata dan lintas area. []

119
Logika Pasar

S epanjang lima tahun awal di pangkal abad milenium


belantika perbukuan kita nyaris tak menyodorkan khazanah
baru yang bermakna. Tema dan nuansa perbukuan di masa
tersebut tak lebih hanya perpanjangan tangan dari tahun-tahun
sebelumnya. Ibarat mistar yang cuma menyambung dan meng­
garisbawahi dominasi genre dunia buku yang terlebih dahulu
berkibar, yakni aneka pustaka bertopik percintaan dan seks.
Nuansa kemonotonan ini diperparah dengan masih
lemahnya daya gebrak yang mampu dilakukan oleh banyak
penerbit kecil (baca: alternatif) dalam menghadapi hegemoni
ketangguhan segelintir penerbit besar dalam menguasai pasar
buku. Sementara di sisi lain, penerbit besar juga tak banyak
memberikan warna baru bagi perkembangan buku. Mereka
cenderung bertahan dengan pilihan tema yang ada serta
terkesan “mencari aman” dalam menjaga kestabilan selera
pasar.
Ilustrasi getir yang menggambarkan fenomena lesu nan
timpang ini pernah dilakukan oleh Sholeh Gysmar, seorang
praktisi perbukuan di Yogyakarta, melalui sebaris ungkapan:
“Penerbit-penerbit alternatif tak ubahnya hanya memunguti
serpihan-serpihan remah yang tersisa dari roti raksasa yang
disantap penerbit besar.”

120
Karenanya, ada tak sedikit hal yang butuh dipertajam,
bahkan bila perlu dirombak, terutama perihal pengelolaan
segmen, manajemen usaha, distribusi dan promosi produk,
pemilihan tema hingga kejelian inovasi yang mesti dibenahi
oleh penerbit-penerbit kecil tersebut jika mereka masih
memendam optimisme untuk tetap bertahan, atau bahkan
semakin mantap berjalan.
Satu hal yang tak boleh terabaikan adalah inovasi yang
selalu segar dalam berbagai aspek. Hal ini penting guna
merespons kecerdasan selera baca publik yang kian hari makin
tampak dinamis. Sebab, bagaimanapun juga inovasi yang kering
bakal berimbas pada penyempitan ruang yang bisa dipilih oleh
khalayak pembaca ihwal tawaran tema-tema yang segar, baru,
mendidik dan laik jual. Publik tentu tak punya banyak waktu
untuk selalu berkompromi saat dihadapkan pada topik-topik
lawas perbukuan yang cenderung berjalan di tempat.
Sekadar mengukur mundur, kita mungkin ingat momen­
tum kejayaan Pustaka Cinta dan seks yang dipelopori oleh
Moammar Emka (Jakarta Undercover) ternyata tak terlampau
lama menciptakan euforia. Kendati sempat menghangatkan
pasar, buku-buku jenis ini, terbukti menyurut drastis
beberapa waktu kemudian. Pada masa-masa ini, dinamika
perbukuan justru dikejutkan oleh kemunculan ragam buku
khas perempuan, baik genre dewasa (chicken literature) maupun
remaja (teen literature).
Meski banyak didominasi oleh karya terjemahan,
maraknya buku-buku chicklit dan teenlit, pada dimensi tertentu,
harus diakui turut berjasa melahirkan sejumlah penulis remaja
yang selama ini dibesarkan oleh tradisi tulis ala catatan harian

121
(diary). Terlebih lagi, pada saat yang sama, kegairahan ini ikut
dipicu dan dipengaruhi oleh kebangkitan dunia sinema kita
yang, secara kebetulan, juga lebih kerap menyoroti histeria
kehidupan remaja.
Dari kilas balik di muka, menyongsong masa-masa di
hadapan terdapat serangkum harapan (yang berbau “ramalan”)
akan tampilnya nuansa “beda!” yang kiranya bisa disikapi
serius oleh insan perbukuan.
Pertama, penerbitan buku-buku anak (children books).
Meskipun telah cukup lama upaya ini berjalan, boleh dikata
keberhasilan yang dicapai masih amat terbatas dan jauh dari
harapan. Pustaka anak selama ini didominasi secara mencolok
oleh sedikit penerbit besar. Sementara penerbit alternatif
masih sangat jarang yang sudi merambahnya. Beberapa
kendala pragmatis semisal kaburnya jaring distribusi ataupun
pesimisme pasar, acapkali dikedepankan sebagai alasan dari
sikap emoh mereka menggarap penerbitan buku anak. Di luar
itu, faktor kelangkaan naskah siap terbit untuk jenis ini juga
sering disebut-sebut sebagai unsur penghambat.
Padalah sesungguhnya, berbagai alasan di atas dapat
ditepis dengan bersatunya kesadaran segenap penerbit akan
adanya sebuah ancaman yang kini tengah mengintai masa
depan pembukuan kita. Yakni bahaya terkikisnya budaya dan
jati diri bangsa di masa mendatang akibat gerusan nilai-nilai
kehidupan dan kepribadian anak sebagai generasi harapan.
Budaya hedonisme ala generasi alay-lebay yang saat ini
sedang gencar-gencarnya mengepung kehidupan generasi
emas kita semestinya mampu mempersatukan kesadaran para
penerbit dan praktisi perbukuan di negeri ini untuk melawan

122
realitas memprihatinkan tersebut dengan (penerbitan) buku.
Gerakan “melawan dengan buku’ semacam ini paling tidak
berfungsi sebagai prevensi yang sejak dini diharapkan dapat
membentengi kawula muda dari ‘virus’ peradaban yang negatif
dan melenakan.
Di tahun-tahun ke depan, dengan demikian, dapat
dijadikan momentum serta tonggak kebangkitan khazanah
pustaka anak nusantara. Tentu siapa yang tak risau, bila anak-
anak kita lebih sudi berakrab-ria dengan beragam cerita dan
tokoh-tokoh impor mulai Crayon Sinchan, Doraemon, Kungfu Boy
hingga Harry Potter ketimbang Si Doel, Bawang Putih-Bawang
Merah, Si Jampang, Jaka Tingkir hingga generasi fiksi lokal paling
mutakhir seperti Topan Marabunta.
Dalam beragam bentuknya, semisal buku untuk balita
(baby books), buku bergambar (picture books), prosa fiksi ilmiah
(science fiction), sastra anak (childerns literature) hingga aneka
kartun dan komik, dapat digarap secara bahu-membahu dan
saling isi penerbit guna menggairahkan dinamika buku anak di
tanah air.
Kedua, subversifitas buku-buku bernuansa agama. Ada
semacam keyakinan bahwa ke depan juga akan diwarnai dengan
hadirnya kembali buku-buku kritis yang suka “usil” dan gemar
mempermainkan nalar dan kognisi keberagamaan khalayak.
Barangkali belum kering ingatan kita, tahun 2003-2004 publik
(terutama umat Islam) sempat digegerkan dengan terbitnya
beberapa buku bernuansa agama yang dinilai kontroversial.
Di awali buku Islam Liberal dan Fundamental, Sebuah
Pertarungan Wacana (Elsaq Press), khalayak disuguhi sajian
“rekaman” perdebatan panjang seputar konstekstualisasi

123
wacana keislaman di indonesia. Buku laris ini sebenarnya
hanya pengemasan (covering) utuh dari perselisihan seru yang
melibatkan sejumlah intelektual muslim Indonesai karena
dipantik oleh sebuah artikel Ulil Abshar-Abdalla di sebuah
harian nasional terkemuka.
Tak lama berselang, muncul buku Rapot Merah Aa Gym:
MQ di Penjara Tasawuf karya Abdurrahman Al-Mukaffi yang
berusaha menelanjangi sosok KH Abdullah Gymnastiar (Aa
Gym) secara negatif kehadapan publik. Kelarisan buku ini
akhirnya mengilhami buku-buku sejenis yang terbit kemudian.
Praktik-praktik keagamaan yang dirintis para figur publik pun
menjadi sasaran serang, seperti aktivitas zikir berjamaah yang
dilakukan ustaz M. Arifin Ilham. Kendati pustaka tandingan
(sebagai balasan) kemudian terbit lebih banyak, toh wacana
semacam ini akhirnya lenyap tanpa bekas. Kedewasaan pembaca
serta seleksi pasar menjadi ”hakim” terakhir dari perseteruan
semacam ini.
Jika kontroversi buku-buku keagamaan tersebut me­
rupakan tema-tema berat dan serius, maka ke depan diprediksi
akan diwarnai buku (bernuansa) agama genre fiksi yang ringan-
populer. Gejala condong ke fiksi tersebut dapat dibaca dari
kuatnya histeria pembaca muda akhir-akhir ini. Terbitnya buku
serial Syekh Siti Jenar (Suluk Abdul Jalil dan Sang Pembaharu,
LKiS) karangan Agus Sunyoto sebanyak 7 jilid, buku Tuhan,
Izinkan Aku Jadi Pelacur (Muhidin M. Dahlan, Penerbit Melibas)
serta Tapak Sabda (Fauz Noor, LkiS) adalah sepenggal bukti dari
buku-buku fiksi (setidaknya semi-fiksi) dengan pendekatan
keagamaan yang ‘lari” dari pakem konvensional.
Karya Agus mencoba mendekati panorama sufisme Islam-

124
Jawa dengan ramuan fiksi. Novel Muhidin bertutur tentang
perilaku hipokrit anak manusia dengan kerelaan melacurkan
nilai-nilai agama. Sedangkan karangan Fauz berusaha membawa
filsafat menerobos benteng tebal Islam Indonesia yang dikenal
doyan sajian mistik dan alergi filsafat.
Ketiga pustaka sastra-kritis ini, terutama karya Muhidin
(termasuk novel terbarunya Kabar Buruk dari Langit) secara
gamblang hendak melakukan akrobatisasi nakal dengan cara
mengusik logika dan paradigma keagamaan yang selama ini telah
mapan. Target yang ingin dibidiknya adalah rasa keingintahuan
dan bahkan sentimen “kemarahan” kaum beragama, lebih-
lebih kalangan kelas menengah perkotaan yang dikenal fanatik
memegang prinsip. Karena muatan kontroversi, agitasi serta
keisengan yang dikandungnya, pada derajat tertentu, ia layak
di cap”subversif ”.
Di sinilah logika pasar perbukuan bermain. Ragam buku
ideologis-subversif yang kontroversial serupa di atas tentu
hendak menyasar pangsa pembaca yang “penasaran” tersebut.
Berlakulah kemudian kredo tak tertulis yang menyatakan
bahwa “semakin kontroversial sebuah buku, semakin gencarlah
ia diburu”. Hal yang perlu dipertanyakan barangkali, sudah
siapkah kondisi sosial keagamaan masyarakat kita sekarang
menerima fenomena seperti ini? Tidakkah sejarah kelabu
yang pernah menimpa Ki Pandjikusmin dengan Langit Makin
Mendung-nya bakal terulang lagi? []

125
Parasit

A da segurat optimisme dan juga skeptisisme menatap


kebangkitan dinamika perbukuan kita di masa yang akan
datang. Kebersediaan dari seluruh penerbit di segala level,
baik yang kecil, sedang maupun besar untuk senantiasa
“bergandengan tangan” merupakan syarat asasi untuk
mewujudkan kondisi tersebut.
Kini dan di kemudian hari, utamanya bagi penerbit-
penerbit kecil yang “perlu dibela” karena selama ini selalu
dipandang secara sinis dan sebelah mata. Betapa tidak, aneka
buku yang ditelurkan oleh penerbit kecil seolah dianggap tidak
kontributif bagi upaya mencerdaskan anak bangsa.
Pembelaan semacam ini, pada batas tertentu, terasa
sangat penting, meskipun dengan dibela atau tidak dibelapun,
penerbit-penerbit kecil tetaplah menentukan nasibnya sendiri.
Namun tegasnya sikap, kepedulian dan dukungan kita akan
keberadaan mereka merupakan suntikan moral yang amat
berguna.
Bayangkan, kalangan penerbit besar (lebih-lebih di Jakarta)
cenderung menganggap penerbit kecil yang merebak di daerah
(lebih-lebih di Yogyakarta) sebagai tak lebih dari “parasit”
yang mendompleng hidup pada segmen perbukuan yang telah
diciptakan mereka sebelumnya. Cukup beralasan bila kemudian

126
timbul beragam pertanyaan: sudah begitu parahkah kualitas
buku yang dihasilkan oleh penerbit-penerbit gurem tersebut?
Ada sebuah lontaran menarik dari seorang rekan yang telah
cukup lama mengamati dinamika perbukuan. Dengan serius
ia berujar, “Banyak penerbit yang memikul dosa akibat tidak
mempertanggungjawabkan kualitas buku mereka. Bayangkan,
ketika tokoh besar sekaliber Al-Jabiri, Ibnu Rusyd, Charles
Darwin, Emile Durkheim, Foucalt, Derrida hingga Habermas
susah payah mengarang buku, eh kok karya mereka diterjemahkan
(ke dalam bahasa Indonesia) dengan serampangan dan mutu
yang tidak layak dipertanggungjawabkan. Hal itu kan sama
artinya dengan membuat tokoh-tokoh besar itu menjadi kerdil
dan tidak ada apa-apanya di hadapan publik kita.”
Pada satu sisi, ungkapan seperti ini barangkali benar
adanya. Namun pada sisi yang lain, apakah kita tidak melihat
bahwa upaya penerjemahan seperti itu merupakan bagian dari
upaya serius banyak pihak dalam memperkenalkan figur dan
pemikiran para tokoh-tokoh besar itu, kepada khalayak kita.
Apakah publik harus menunggu sekian lama, sampai ada yang
mampu dan (dianggap) capable dalam menerjemahkan karya
sejumlah ilmuan besar tersebut. Lalu, kapan lagi khalayak
umum bisa kenal akrab dengan buku?
Satu hal yang seyogyanya kita ambil hikmah dari
meruyaknya rupa-rupa penerbit buku ini adalah timbulnya
kesemarakan dalam dunia perbukuan. Kondisi ini semestinya
kita akui dan syukuri dengan jalan terus berkarya dan berkreasi.
Coba kita bayangkan, dengan banyaknya penerbit kecil (saya
lebih suka dengan istilah “penerbit alternatif ”), maka secara

127
bersamaan terbuka peluang, ruang, pasar dan kesempatan yang
demikian besar bagi lahirnya banyak penulis, penerjemah,
maupun editor buku. Dengan begitu pula maka akan lahir
banyak penjual buku (pebisnis) dan yang lebih penting lagi
para pembaca atau konsumen buku di seantero nusantara.
Sepintas, realitas ini seakan tampak remeh. Tapi,
dengan kelonggaran hati, boleh kita prediksikan apa yang
akan terjadi jika kelak dinamika perbukuan sudah demikian
marak dan kondusif. Terlepas dari baik tidaknya sebuah mutu
produk penerbitan, toh pada akhirnya ketika masyarakat kita
sudah keranjingan membaca dengan sendirinya selera untuk
menemukan dan menentukan secara selektif mana buku yang
layak baca, layak buang, atau bahkan layak bakar, akan serta
merta terbentuk dengan baik secara alamiah.
Hingga hari ini kita sudah sepantasnya merasa malu
dengan jumlah penduduk yang sebegitu padat dan wilayah
geografis yang begitu luas, masyarakat Indonesia (menurut
data) masih berkutat di posisi buncit dalam hal budaya literasi
dan tradisi baca-tulis dibandingkan bangsa lain di dunia.
Bila kita kilas balik, di saat rezim orde baru berkuasa,
kita susah sekali berjumpa dengan buku-buku tertentu karena
adanya kebijakan pencekalan. Buku-buku “kiri” seperti karya
Karl Marx, Lenin, Pramoedya Ananta Toer dan siapa saja yang
dianggap mengancam stabilitas dan status quo, akan dibabat
dan sulit ditemukan di pasaran. Lain halnya dengan kondisi
sekarang. Semua genre dan ragam buku hampir seluruhnya bisa
leluasa didapatkan. Pada batas tertentu Kita harus mensyukuri
kondisi dinamis ini.

128
Beberapa tahun silam di saat film remaja Ada Apa Dengan
Cinta? dirilis, seketika ribuan anak muda kita keranjingan
dengan buku-buku sastra. Penyebabnya ternyata sepele. Dalam
salah satu adegan film tersebut, sang tokoh (Rangga dan Cinta)
diskenariokan amat menggemari puisi serta “akrab” dengan
salah satu buku sastra. Imbasnya, buku tersebut (yakni Aku yang
bercerita tentang Chairil Anwar, karya almarhum Syumanjaya)
yang semula tidak ada (tak dicetak lagi), akhirnya ikut-ikutan
dicetak ulang hingga sekarang dan laris-manis diburu pembeli.
Menyusul sukses ini beberapa sinetron di layar kaca televisi
swasta juga turut memanfaatkan keadaan serupa. Contohnya,
sinetron Cintaku Di Kampus Biru dan miniseri remaja Percikkan.
Di sana tak jarang tokohnya diperlihatkan “akrab” dengan buku-
buku sastra (semisal Kahlil Gibran dan yang lainnya). Dampak
konkretnya, di pasaran, beragam pustaka sastra (lebih-lebih)
karya Gibran yang juga banyak diterbitkan ulang oleh penerbit-
penerbit gurem diserbu pembaca, khususnya kawula muda.
Dari sini, saya kira para pelaku buku sudah waktunya
menyadari bahwa seburuk-buruk mutu buku sastra, bagi
generasi remaja hal itu tetap lebih berguna ketimbang mereka
akrab dengan buku-puku stensilan dan media pop lainnya yang
malah cenderung mengajak mereka menuju ke glamouritas,
snobisme dan hedonisme pola hidup.
Dari sedikit gambaran di muka, saya rasa, tak cukup
bijaksana jika kalangan penerbit (yang sudah merasa) besar
itu lantas tak sudi berbesar hati untuk ikut membesarkan
semangat penerbit kecil. Paling tidak, ada kerja sama yang
positif di antara mereka untuk tetap bersatu dan tak berseteru.

129
Di kala pasar buku sudah menunjukkan gejala yang
dinamis dan semarak, marilah kita bersama memanfaatkannya
secara dewasa. Itu semua demi akhirnya perbukuan di negeri
kita tetap dan akan lebih semarak kembali. Demi akhirnya
iklim literasi secara alamiah dapat terus bergairah. []

130
BAB IV

INSPIRASI
Asa dari Madura
Bahasa Madura yang Kian Merana
Dicari: Perpustakaan Ramah Baca
Gairah Serambi Mekah
Internet dan Simalakama Peradaban Digital
Kata-Kata yang Menyembuhkan
Keluarga Buku
Margin, Menghubungkan Mata dengan Aksara
Membaca Buku di Atas Perahu
Memecah Tempurung Sastra Pesantren
Pada Cerita Kita Terpesona
“Pahlawan” di Kota Pahlawan
Salon Buku
Asa dari Madura

A da perkembangan menarik perihal dunia literasi (baca-


tulis) di bumi Madura. Setelah pemerintah kabupaten
Bangkalan meluncurkan beberapa unit mobil perpustakaan
keliling terbaru, disusul kemudian kabupaten Pamekasan sibuk
merampungkan pembangunan gedung perpustakaan daerah
yang konon termegah di Madura, giliran pengemban kebijakan
di Sumenep merilis program penebaran sarana baca di tempat-
tempat strategis di wilayahnya.
Memancing animo masyarakat agar sadar baca akan terasa
lebih efektif bila pejabat pendidikan terkait bersedia menjemput
bola dan turun langsung ke lapisan akar rumput. Penyediaan
sarana bacaan yang dekat tidak saja memperpendek jarak
dan waktu, namun pada jangka strategi juga bakal berpotensi
memompa iklim kompetisi positif di antara mereka.
Hanya saja, kita mesti memberikan masukan-masukan
autokritis supaya pemerintah tak terjebak dan akhirnya
salah orientasi dalam menumbuhkembangkan taman-taman
bacaan. Perenungan ulang terhadap model taman bacaan yang
dicanangkan terasa perlu agar ia tidak serupa dengan tempat-
tempat yang selama ini sudah lama ada di masyarakat dan belum
mampu menyumbangkan kontribusi positif yang signifikan.

132
Perlu diingat, konsep taman baca yang selama ini lebih
bertumpu pada unsur penyewaan serta bernuansa hiburan
semata pelan tapi pasti bukan hanya membunuh minat baca
(terutama kalangan berkantong tipis) karena model profit
oriented yang diterapkan. Lebih dari itu, nutrisi otak yang sedari
awal hendak diasupkan kepada para pembaca akan menjadi
lemah dan hambar disebabkan standar perpustakaan sehat
masih belum tercapai.
Perpustakaan sehat di samping harus melampaui angka
3.000 jumlah judul buku sebagai limit minimal, juga mesti
disajikan dalam komposisi koleksi genre pustaka yang seimbang.
Selama ini, sorotan terhadap menjamurnya taman-taman
baca yang sekadar menumpuk aneka komik dan fiksi populer,
menjadi agenda yang mesti disikapi hati-hati oleh para orang
tua serta publik pemerhati pendidikan.
Yang jelas, jika tanpa modifikasi, pola dan sistem serupa
ini sangat tak laik diadopsi pemerintah dalam label program
mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Usaha pemerintah
menebar taman-taman bacaan di banyak tempat kiranya bisa
dibaca sebagai ikhtiar untuk kian mendekatkan perpustakaan
dengan jodohnya yang sejati. Ibarat mempelai pengantin,
perpustakaan dan (khalayak) pembaca adalah pasangan yang
tak mungkin dipisahkan. Dan buku, pada titik ini adalah
“mahar” yang wajib dihadirkan agar keduanya dapat intim
bercengkrama.
Apa yang dilakukan yayasan taman baca Manca Indonesia
di Banyuwangi dengan mengunjungi sekolah-sekolah umum
untuk dibaca dan dipinjam siswa pada masa jam istirahat,
merupakan amsal dari kegigihan perpustakaan partikelir yang

133
tanpa letih turut menyadarkan masyarakat akan pentingnya
membaca dan vitalnya ketersediaan bacaan yang memadai dan
terjangkau. Walaupun tanpa subsidi dan imbalan minim, unit-
unit swadaya seperti ini kendati kecil tapi senantiasa tekun
bergerak dan menyuguhkan kontribusi nyata bagi kelangsungan
dunia baca pertumbuhkembangan literasi di negeri ini.
Bila pihak swasta yang partisan saja tergugah dan peduli,
lantas mana bukti konkret dari program dan kebijakan intansi-
intansi pendidikan yang dibiayai uang rakyat itu dalam
menjalankan tugas dan amanat mencerdaskan masyarakat?
Sembari menghibur diri, barangkali serentang contoh di
atas cukup dimaknai sebagai denyut ketergugahan (sebagian
kecil) pihak pemerintah daerah untuk kembali menyadari
perihal kesadaran baca bagi masyarakat yang sungguh
memprihatinkan. Kendati beragam lanskap sosiologis me­
nyajikan fakta budaya baca masyarakat di republik ini berada
pada titik nadir yang merisaukan. Tradisi baca-tulis (literasi)
rakyat kita jauh lebih rendah apabila dibanding kebiasaan
mereka menonton (visual). Kita lebih suka memanjakan indera
kita dengan aneka tontonan (lebih-lebih televisi) yang bersifat
sekilas daripada menikmati ilmu pengetahuan lewat bacaan
yang nyata-nyata banyak memberikan bekas.
Sekadar diketahui, angka reading indeks masyarakat bangsa
Indonesia adalah 0,009. Lebih rendah dari negara-negara
tetangga yang lebih baru menikmati alam kemerdekaan.
Apalagi jika dibandingkan negara-negara maju sekelas Jepang
(indeks: 156) atau Amerika (164). Bahkan, komunitas yang
gemar membaca di Indonesia tak lebih dari 0.04 persen dari
keseluruhan 240 juta penduduk. Memprihatinkan nian.

134
Senyampang belum telat, kesadaran literasi dan motivasi
baca-tulis masyarakat kita perlu terus dibenahi dan difasilitasi
bukan hanya dengan ransum semangat, tapi juga melalui
pembiayaan, pembinaan, dan pendampingan yang simultan
dan berkelanjutan.
Asa yang sudah mulai menyala tersebut, betapapun
kecilnya, terlalu sayang bila dibiarkan padam. Sebaliknya,
sejumlah fenomena di muka bisa dipelajari untuk kemudian
diteladani oleh para pemangku kebijakan di kepemerintahan
daerah yang lain agar sanggup -- meminjam adagium Bung
Karno -- ditangkap apinya dan dibuang abunya. []

135
Bahasa Madura yang
Kian Merana

P ada akhir tahun 2008 kongres perdana bahasa Madura digelar


di Pamekasan. Kegiatan ini merupakan amanat sekaligus
tindak lanjut hasil dari Kongres Kebudayaan Masyarakat
Madura (KKMM) yang diselenggarakan sekitar dua tahun
sebelumnya. Ekspektasi cukup besar diberikan masyarakat,
terutama pemerhati bahasa dan budaya Madura pada event
akbar yang pertama kali digelar di Pulau Garam tersebut
mengingat sudah mulai menghilangnya kesadaran berbahasa
Madura dalam kehidupan sosial keseharian komunitas Madura.
Dilihat dari populasi penggunanya, bahasa Madura
termasuk memiliki komunitas terbilang besar, yakni sekitar 13
juta orang. Mereka terdiri dari penduduk pulau Madura asli yang
berdomisili di pulau Madura dan puluhan gugusan kepulauan
yang mengelilinginya, sebagian wilayah di provinsi Jawa Timur
(terutama daerah di zona “tapal kuda”), serta jutaan rakyat
Madura yang merantau mengadu nasib di seantero nusantara
bahkan hingga luar negara.
Sebagaimana fenomena yang menimpa ratusan bahasa
daerah (lebih tepatnya bahasa ibu) di sekujur Indonesia,
kecendurungan kian menyusutnya animo penggunaan bahasa

136
Madura tampak kian benderang di depan mata. Di tengah gejala
pergeseran bahasa (language shift) di hampir semua wilayah dan
ranah kehidupan masyarakat, kenyataan semacam ini sangat
sukar untuk dielakkan. Kondisi mutakhir komunikasi antar
insan saat ini tidak lebih semakin mempertegas kekhawatiran
para pakar bahasa tentang ancaman bahaya diglosia, yaitu
keadaan yang dengan sangat cepat mendorong suatu kelompok
masyarakat memilih ragam bahasa yang berbeda dan beragam
untuk berbagai konteks dari tujuan (Fasold: 1987).
Problem yang krusial untuk diurai adalah faktor dan latar
terpenting di balik kondisi buram tersebut. Data sosiologis-
historis menyebutkan ihwal sedikitnya 10 bahasa daerah di
nusantara hingga kini telah punah. Sedangkan ratusan lainnya
kini terancam dan menanti giliran untuk tenggelam. Bahasa
Madura, berdasarkan sebuah hasil riset, bahkan diprediksi akan
tamat sekitar beberapa tahun lagi, tepatnya pada tahun 2024.

Peranan Kembar
Iqbal N Azhar, salah seorang pengamat kebahasaan,
pernah memaparkan perihal peranan vital bahasa Madura.
Pertama, bahasa ini (sebagaimana bahasa-bahasa daerah yang
lain) merupakan komponen penyumbang kosakata terhadap
bahasa nasional. Kedua, eksistensi sebagai pelindung bahasa
Indonesia dari serangan bahasa asing. Dari peranan kembar
tersebut, setidaknya dapat ditelisik akar persoalan di balik
kemalasan massal yang tengah melanda masyarakat penutur
bahasa Madura.
Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya me­
risaukan ini adalah rasa enggan dalam menulis dan membaca

137
tulisan berbahasa Madura. Kondisi karut-marut tersebut lalu
diperparah dengan minimnya kemampuan membaca dalam
bahasa madura, terutama di kalangan remaja dan anak-anak
yang merupakan tahapan usia produktif sebagai penular bahasa.
Jarangnya literatur berbahasa Madura, baik yang ilmiah-
akademis seperti buku dan jurnal maupun yang ilmiah-populer
seperti koran, majalah, pamflet, spanduk dan sticker, turut
berpengaruh pada terdongkraknya budaya malas berbahasa
Madura.
Spirit literer dalam berbahasa Madura pada tataran
khalayak pelan tetapi pasti mulai meredup. Apalagi, terlampir
asumsi bahwa bahasa daerah, termasuk Madura, sangat lambat
dalam beradaptasi dengan laju perkembangan zaman dan
cenderung kesulitan dalam menerjemahkan bahasa-bahasa
ilmiah yang dikenal rumit.
Serbuan teknologi digital serta dorongan budaya
instan, terlebih di kalangan anak-anak muda, lambat laun
turut berperan mendorong bahasa Madura menuju ambang
kepunahan. Taruhlah secara praktis, misalnya, masyarakat
milenial saat ini sudah semakin jarang memberi nama anak-
anak mereka dengan kata/ungkapan berbahasa Madura. Kini,
tidak ada lagi nama-nama gigantik seperti Rimba Ari Raja (lahir
pada hari raya), Bajra Odhyna (Beruntung hidupnya) atau Tera
Athena (hatinya bercahaya).
Demi falsafah hidup “trendi”, orang-orang modern
kemudian sibuk memberi nama anaknya dengan bahasa
asing yang keren kendati tidak jelas maknanya. Teknologi
telekomunikasi juga juga kian tidak ramah bagi kebertumbuhan

138
bahasa Madura. Masyarakat saling mengirim pesan-pesan
singkat di telepon pintar (SMS, WhatsApp, Telegram dan
sejenisnya) pun lebih gemar mengandalkan bahasa lain yang
dianggap lebih simpel dan efektif.
Apabila bahasa Madura dituding jauh dari ranah
ilmiah, alasan itu rasanya terlampau dilebih-lebihkan. Di
banyak pesantren, sampai hari ini khazanah bahasa Madura
tetap digunakan sebagai media transformasi utama dalam
menerjemahkan makna-makna kitab referensi berbahasa Arab.
Dalam konteks komunikasi verbal, bahasa Madura juga masih
awet terawat di tengah masyarakat. Ia masih terdepan sebagai
media tutur, terutama di tingkat khalayak akar rumput yang
kebanyakan menggunakan pola bahasa enja’-iyeh. Demikian
pula pada level di atasnya, pola bahasa Madura enggi-enten dan
enggi-bhunten juga masih kuat diterapkan.
Apabila sudi dirunut secara lebih rinci, masalah utama
yang dihadapi oleh bahasa Madura kini sebenarnya adalah
kelambanan dalam menghalau desakan modernisasi yang
merambah ke berbagai pelosok. Menurut M. Mushthafa
(2008), salah satu faktor kuncinya adalah kendala dokumentasi
dan sosialisasi di samping problem fungsi dan kelembagaan.
Sosialisasi bahasa “Pak Sakerah” ini kerap tersendat akibat
minimnya media-media komunikasi berbahasa Madura yang
tersedia di tengah khalayak.
Pada aras demikian, pergelaran kongres-kongres
tahunan bahasa Madura diharapkan sedapat mungkin mampu
merangkum sejumlah persoalan krusial kebahasamaduraan.
Lebih-lebih sanggup meretas pelbagai upaya yang bersifat

139
solutif agar bahasa Madura berkembang tidak timpang. Budaya
lisan yang masih cukup survive dapat diimbangi dengan tradisi
dan spirit literasi berbahasa Madura yang spartan serta penuh
kesadaran. Paling tidak, dengan rutin berkongres dan berkongsi
gagasan di antara pemerhati kebahasaan, dapat menjadi media
ikhtiar keberhasilan dan antisipasi komunal agar bahasa
Madura kian menjauh dari jurang kepunahan. []

140
Dicari: Perpustakaan
Ramah Baca

S ahabat saya, seorang kutu buku asal Sulawesi Tengah pernah


menulis sebuah esai refleksi di media massa dengan tajuk
“Andai Perpustakaan Buka Sampai Pukul 12 Malam”. Asa dalam
tulisannya adalah kegundahan akut seorang penikmat buku
saat merespons langkanya perpustakaan yang ramah pembaca.
Di negeri berpenghuni lebih 200 juta jiwa ini, sungguh tak
banyak sosok ataupun komunitas yang gila membaca. Terlebih
lagi, sedikit sekali perpustakaan yang dapat memanjakan para
pembaca buku dalam suasana yang ramah dan menyenangkan.
Kebanyakan dari kita malah enjoy dan cenderung nyaman dengan
suasana baca yang kadang kaku, ruwet dan serba birokratis.
Hampir di kebanyakan perpustakaan kita selalu menjumpai
para pengelola yang dingin, nyinyir, dan “menakutkan”. Tak
ubahnya polisi yang mengatur lalu-lintas buku, para penjaga
perpustakaan kerapkali berlagak layaknya pengintai yang
bertugas meringkus maling ketimbang pelayan yang dengan
santun dan terbuka memuaskan dahaga baca para pengunjung.
Alexandria di Mesir dikenal dunia bukan karena ia
kota pelabuhan yang ramai, melainkan karena di sanalah
perpustakaan pertama didirikan manusia sebagai sentrum

141
pembelajaran (learning center) yang tak hanya menyajikan
kelengkapan koleksi tapi juga mampu mengantar pembaca
untuk membangkitkan rasa ingin tahu (curiosity) hingga tak
mudah mencapai titik kejenuhan.
Sarana yang dibangun lebih dari dua milenium silam itu
bukan semata kondusif untuk dijadikan “rumah kedua”. Lebih
dari itu, Perpustakaan Alexandria mampu mendorong minat
publik dari keberminatan membaca menjadi perasaan “lapar”
bila tanpa aktivitas membaca. Orang Belanda mengenal kata
leeshoger guna menggambarkan rasa lapar baca atau kebutuhan
akan bacaan (behoefte aan lectuur).
Dalam berbagai klasifikasinya (baik umum, khusus
komunitas, pribadi, maupun lembaga pendidikan), per­
pustakaan di negeri kita ini kebanyakan masih tak ramah
pembaca. Hanya segelintir orang yang betah berlama-lama
di perpustakaan. Selain karena koleksi yang tak lengkap,
administrasi yang kaku dan terlampau birokratis, fasilitas tak
terawat, ruang yang kurang layak, servis pelayanan penjaga
perpustakaan merupakan faktor kunci yang acapkali justru kian
menjauhkan animo publik untuk bermesraan dengan buku.
Nun di negeri Paman Sam, orang begitu mudah me­
manfaatkan buku. Di setiap desa tersedia perpustakaan publik.
Bahkan gerai buku-buku bekas (second-hand book store) menebar
rata hingga ke pelosok terpencil. Bandingkan dengan di sini,
bocah-bocah desa harus menunggu berminggu-minggu untuk
berjumpa dengan buku. Itupun lewat mobil perpustakaan
keliling yang kadang, karena jarang sekali dipakai, terpaksa
parkir penuh debu di halaman belakang kantor kecamatan.

142
Ada banyak hal yang berperan membentuk masyarakat
gemar baca. Di samping kesadaran baca dan daya beli
masyarakat, kepedulian dan keseriusan nyata dari aparat
negara (pemerintah) sangat pula diperlukan. Tanpa sokongan
dana dan kebijakan yang simpatik dari pihak pemerintah,
mentalitas agraris masyarakat kita sulit diharapkan untuk mau
membangun fasilitas baca yang mandiri dan representatif.
Secara sosiologis, tak banyak yang membedakan antara kita,
misalnya, dengan India. Namun siapa sangka, Negeri Ganesha
ini begitu lekas berbenah. Hingga kini 60.000 judul buku per
tahun yang dihasilkan masyarakat India telah menempatkannya
di tangga ketiga negara buku paling produktif di dunia (setelah
Amerika dan Inggris). Resep apa yang mereka gunakan? Berkat
kebijakan politik pemimpin mereka, Jawaharlal Nehru, minat
baca rakyat di sana terdongkrak secara luar biasa.
Kecintaan Nehru terhadap buku antara lain diwujudkan
dengan mendirikan National Book Trust dan Sahitya Academy.
Akses pustaka pun menjadi sangat terbuka, minat baca
meningkat pesat, dan sirkulasi penjualan buku sangat sehat
dan dengan harga murah.
Tak ada kata terlambat utuk berkaca dan berbenah.
Rasa cinta yang dalam terhadap khazanah literasi, tidak saja
kian menyadarkan kita akan pentingnya membaca, namun
juga membuat setiap orang berkepentingan dan butuh akan
terciptanya fasilitas baca yang ramah dan menyenangkan bagi
khalayak. Perpustakaan Ignatius di Yogyakarta patut dijadikan
cerminan. Walau areanya tak seberapa luas, suasana yang sejuk
serta pelayanan yang ramah dan simpatik menjadikan taman
baca yang dikelola oleh kawan-kawan kaum Nasrani ini mampu

143
memikat banyak orang dari berbagai agama untuk bertandang
dan menjadi anggota tetap di sana.
Pengorbanan manusia sungguh tak setimpal bila
dibandingkan dunia flora dan fauna yang sanggup berkorban
demi mencerdaskan peradaban manusia. Jutaan pohon saban
tahun rela ditebang untuk berkorban diri menjadi kertas buku,
ribuan hewan pun menyumbangkan kulit mereka sebagai
sampulnya. Sun Yat Sen, Bapak Nasional Tiongkok, dengan jitu
menamsilkan bahwa pembeda antara manusia dan makhluk
lain hanyalah buku. Bahwa manusia yang baik diukur dari
sejauh mana ia menghargai buku dan menghormati para
pembaca buku.
Tepatlah bila seseorang berandai-andai ingin meneliti watak
manusia Indonesia lewat wajah perpustakaannya. Amat patut
dipertanyakan, jika orang-orang yang mengaku berpendidikan
malah abai dan tak becus mengurus perpustakaan. Dengarlah
pengakuan Minda Perangin-Angin, “Sekolah tanpa perpustakaan
bukanlah sekolah. Pelajaran tanpa buku bukanlah pelajaran. Pusat
dari sekolah bukanlah pelajar. Pusat dari sekolah bukankah guru,
melainkan perpustakaan....” []

144
Gairah Serambi Mekah

S elama lebih kurang sepekan saya bermuhibah di Nanggroe


Aceh Darussalam (NAD). Saya menjumpai sejumlah hal
baru dan menarik, terlebih berkaitan dengan khazanah literasi
nusantara. Sepanjang perjalanan darat dari Medan menuju ke
Lhokseumawe, terutama saat memasuki wilayah provinsi Aceh,
pandangan saya kerap bersitatap dengan papan nama bertulisan
”perpustakaan gampong”. Gampong adalah sebutan untuk
kampung, lingkar sosial terkecil dalam hierarki masyarakat
sosial di kawasan Tanah Rencong.
Gampong pulalah titik awal dari pemulihan kembali
peradaban di Aceh. Sebagaimana kita mafhum, provinsi di
ujung barat Indonesia itu relatif baru sembuh dari berbagai
duka lara yang sekian lama menerpa rakyat di sana. Setelah
lebih 30 tahun masyarakat ditekan konflik, baik karena
sergapan pengap Daerah Operasi Militer (DOM) rezim Orde
Baru maupun tekanan psikologis dari Gerakan Aceh Merdeka
(GAM), daerah istimewa ini juga diguncang musibah super
dahsyat berupa badai tsunami di penghujung 2004.
Sejarah perih dan duka yang mengiris inilah yang sekian
tahun menjadi selubung psikografis masyarakat Aceh untuk
mampu bangkit dari keterpurukan sosial. Pengalaman historis
yang pahit dan datang bertubi-tubi telah turut menghambat

145
pemulihan dan perkembangan sosial penduduk Aceh. Kendati
kini mulai berangsur normal, panorama kemasyarakatan di
Aceh masih menyisakan tangis yang tertahan, sinisme penuh
ratapan, serta trauma akibat tekanan. Satu-satunya jalan lapang
agar mereka terlepas dan dapat menghirup iklim kebebasan
adalah kuatnya gairah dan kebersamaan antarwarga.
Salah satu cara yang dirilis pemerintah Aceh guna
menyulut kembali spirit peradaban di sana adalah menggugah
minat baca dan bakat tulis masyarakat. Upaya itu diwujudkan
secara simultan dan massif. Dengan program bertahap,
pemerintah mendirikan perpustakaan sederhana di beberapa
gampong dan ditebar di sekujur Aceh. Dilampiri slogan ”Aceh
Membaca, Aceh Berjaya”, animo serta kesadaran publik hendak
dipulihkan kembali supaya mendapatkan suasana keilmuan
yang lega, antara lain dengan ketersediaan fasilitas membaca
dan menulis. Agar lekas berbaur dengan kemajuan dan
demi cita-cita merengkuh kejayaan, masyarakat diajak untuk
berakrab-ria dengan dunia pustaka. Guna membuka luasnya
cakrawala dunia, membaca adalah jendela yang niscaya.
Hal yang unik, letak perpustakaan gampong di Aceh selalu
berdampingan dengan meunasah (surau atau musola). Fenomena
itu sekaligus penanda bahwa masyarakat Aceh pada satu sisi
ingin menggenggam kemajuan dunia, namun di sisi lain juga
tak sudi berjauhan dengan nilai-nilai agama. Di provinsi seribu
bukit ini, agama (Islam) adalah acuan utama. Bagi mereka,
panduan syariat tak bisa ditawar dan ditukar dengan apapun.
Di lanskap sejarah nasional terukir nama Sultan Malikus
Saleh dan kerajaan Samudra Pasai sebagai tonggak penyebar
agama dan kerajaan Islam pertama di telatah Asia Tenggara.

146
Menyandingkan perpustakaan gampong dan meunasah tak
ubahnya simbol dari idealisme kembar masyarakat Aceh yang
senantiasa menginginkan kepentingan dunia dan akhirat dapat
harmonis berjalan dan rukun berkelindan.
Walaupun bahan bacaan di perpustakaan gampong
masih terbatas, pemerintah setempat bertekad untuk terus
membina dan mengembangkannya. Dengan bantuan armada
mobil perpustakaan keliling, setidaknya setiap 20 hari sekali
koleksi-koleksi buku di perpustakaan gampong ditambah dan
disirkulasi antara satu dengan yang lain. Faktor kejenuhan
membaca disiasati melalui subsidi silang judul-judul buku baru
yang menyegarkan.
Perpustakaan gampong adalah wujud dari ketanggapan
banyak pihak untuk merekonstruksi bangunan sosial di
Aceh. Lembaga Swadaya Masyarakat Cerdas Bangsa, kantor
Perpustakaan dan Arsip Daerah, serta BRR NAD-Nias
adalah pihak-pihak yang sangat berjasa di balik lahirnya unit
perpustakaan yang hingga kini sudah berjumlah 42 buah
tersebut.
Untuk menopang program itu, pemerintah Aceh juga
meluncurkan bantuan dana peumamue gampong (pemakmur
kampung) serta alokasi dana gampong yang berjumlah 100
juta rupiah per tahun. Dana itu masih diakumulasi dengan
sejumlah bantuan lain yang mencapai total sekitar 300 juta
rupiah. Respons strategis semacam itulah yang sejatinya
diharapkan terus bermunculan memberikan kontribusi nyata
bagi penyemaian spirit kebangkitan penduduk kawasan
Serambi Mekah.

147
Bagaimanapun, kita tak boleh menutup mata bahwa
Aceh adalah sentrum penting dari dinamika keilmuan, agama,
sastra, dan budaya nusantara. Wilayah tersebut menjadi bagian
penting dari perkembangan peradaban rumpun Melayu di Asia
Tenggara. Sejarah telah bernas menuturkan, sangatlah banyak
ulama, pujangga, dan budayawan ternama yang lahir dari daerah
kaya migas ini. Sebutlah beberapa di antaranya adalah Teuku
Chik Pantekulu, Hamzah Fansuri (yang dinobatkan sebagai
Bapak bahasa dan sastra Melayu oleh Abdul Hadi W.M), Abdur
Rauf As-Sinkili (Syiah Kuala), Syamsudin As-Sumatrai, hingga
Nuruddin Ar-Raniri.
Aceh juga merupakan muara dari beragam kultur
dan etnis. Akronim ”A-C-E-H” merupakan lukisan simbol
sosiologis dari arus perjumpaan antara bangsa (A)rab, (C)hina,
(E)ropa dan (H)india. Kondisi multikultur itu justru mampu
menjadi pemacu masyarakat untuk saling menghimpun
potensi menyumbangkan kontribusi positif bagi kebangkitan
Aceh. Mengacu pada teori melting pot-nya Ricardo L. Garcia,
kemajemukan tersebut adalah sumber beragam kekuatan yang
bertemu dan bahu membahu menjadi padu. Termasuk dalam
pengembangan spektrum perbukuan di sana.
Demikianlah. Sepercik pengalaman di ujung pulau Andalas
sudah memperkaya mozaik literasi kita. Ihwal kebangkitan
sebuah bangsa dapat dibangun dari pembacaan dan pemaknaan
kita terhadap pengetahuan yang termaktub dalam lembaran-
lembaran buku. Kemajuan bisa dirancang sejak dini dan
dimulai dari sendi yang terkecil, yaitu kampung (gampong).
Teduh rasanya membayangkan bila seluruh daerah di seantero
nusantara sudi meniru langkah sejuk semacam ini. Menanam
rimbun buku di setiap sudut kampung. Semoga.[]

148
Internet dan Simalakama
Peradaban Digital

B isakah piranti teknologi bernama internet menumpang


tegaknya pilar demokrasi? Bila pertanyaan ini diajukan
kepada para teknolog, mereka akan serentak menjawab: bisa!
Mereka tentu pula akan sepakat bulat untuk membuktikan
jawaban tersebut dengan serangkaian bukti-bukti konkret yang
dapat dilihat dalam kehidupan keseharian masyarakat.
Di samping daya jangkaunya yang akseleratif dan luas,
kemampuannya yang melintas batas serta penggunaannya
yang praktis, internet juga didukung oleh kecepatan analisis
yang luar biasa. Beberapa keunggulan internet ini serta merta
dijadikan alasan kuat mengapa internet harus ‘diterima’ oleh
masyarakat modern. Sejak kemunculannya di awal 1990-an,
internet telah mampu melampaui pranata teknologi yang ada
sebelumnya semisal mesin cetak, jasa pos, telepon, siaran radio
dan juga komputer.
Apalagi semenjak tragedi kemanusiaan WTC 11 September
2001 di Amerika Serikat dan disusul serangan virus antrax tak
lama setelah itu, keniscayaan penggunaan internet menjadi
tak terelakkan lagi. Kedua peristiwa kelabu tersebut telah
menjelma ancaman peradaban yang mengakibatkan pemerintah

149
Amerika serikat masuk ke dunia cyberspace lebih cepat dari yang
direncanakan. Mereka berkeyakinan bahwa para musuh-musuh
demokrasipun telah lebih dahulu dalam memanfaatkan jasa
internet. Sebutlah misalnya, beragam kelompok serta anasir
(yang dianggap) anti demokrasi yang selama ini dicap sarang
teroris seperti Al-Qaeda, Hamas, Taliban maupun koalisi-
koalisi pemberontak di Kuba dan Rusia telah menjadikan dunia
maya sebagai rumah kedua mereka.
Dari situlah kemudian timbul kesadaran untuk
menempatkan internet sebagai media “saling intip” antar
kelompok dan kepentingan politik di lingkup mondial.
Keberadaan internet telah membuka sedemikian rupa wawasan
penduduk dunia untuk bersama-sama merayakan keterbukaan
dan kebebasan yang nirbatas, seluas-luasnya. Namun, tepat
pada dimensi inilah, justru titik lemah dari internet muncul.
Keterbukaan serta kebebasan dalam beragam bentuknya
membuat banyak orang was-was dan cemas akan akses buruk
dari kehadiran internet. Apalagi akselerasinya yang tajam,
teramat sulit untuk dibendung dan mampu menembus ruang
privasi yang paling rahasia sekalipun.
Dilematis memang, sebagian kalangan terlampau sibuk
menghibur diri memberi anggapan dan pembelaan bahwa
internet adalah jalur penyelaras hajat hidup manusia dan
koridor penyebar nilai-nilai demokrasi (democratizing force). Ia
pun dipuja-puja bukan hanya sebagai atribut mesin politik yang
gagah dan cerdas. Lebih dari itu, internet dipandang sebagai
‘arsitektur’ demokrasi modern dalam bentuknya yang paling
canggih (sophisticated).

150
Tak berlebihan kiranya bila Don Heath, Presiden Internet
Society pernah memaparkan bahwa “jika sebuah pemerintahan
yang ingin menyebarkan ideologi serta paham politiknya
ke seluruh dunia, maka tidak akan ada model kemasan
yang terbaik selain internet”. Alhasil, temuan teknologi ini
dicitrakan dengan begitu rupa sebagai hasil simbiosis antara
kemajuan dunia teknologi di satu pihak serta keluhuran nilai-
nilai demokrasi di pihak lain.
Kitapun seakan alpa untuk lekas menyadari bahwa
bagaimanapun canggihnya, internet tetaplah peranti fisik yang
tidak sepenuhnya bebas nilai. Kita bakal sukar menutup mata
akan kejamnya sisi lain yang potensial dihadirkan internet.
Kasus pembobolan kartu kredit, sindikat narkoba, jaringan
judi, pelacuran daring, serta yang selalu membuat kita marah
yakni jaringan pedofilia yang mengancam masa depan anak-
anak kita. Belum lagi paparan kenyataan bahwa sebenarnya
internet bagi sebagian besar penduduk bumi masih merupakan
barang mewah yang hanya mampu dimiliki oleh segelintir
kaum elit. Di banyak negara,masih amat kuat adanya digital gap
berupa kesenjangan penerimaan informasi antara kelas kelas
sosial yang plural dan tidak merata.
Problema ini menjadi bertambah rumit bila dikaitkan
dengan masih adanya sebagian rezim di negara tertentu
yang melarang keras rakyatnya untuk mengakses internet.
Contohnya Korea utara. Bisa dibayangkan, betapa terkucilnya
rakyat Afghanistan ketika pemerintahan Taliban selama
bertahun-tahun melarang setiap produk teknologi (termasuk
internet) untuk dikonsumsi warga.

151
Bahkan rezim komunis di Myanmar tega menetapkan
hukuman 17 tahun penjara bagi warga yang sengaja mengakses
internet tanpa izin sah dari pemerintah. Menyikapi kondisi
prihatin semacam ini, Javier Corrales menyebutnya sebagai
gejala ‘pertentangan dua pilihan’. Di satu sisi mereka
menginginkan internet, namun di sisi lain mereka takut
menghadapinya. Internet bagi sebagian orang tak ubahnya
buah simalakama.
Menghadapi trend pemakaian internet yang tak terbendung
ini manusia dituntut tetap mengedepankan kejernihan akal
sehat. Bahwa internet hanyalah sekadar jembatan menuju
labirin ilmu pengetahuan. Sebagai produk peradaban yang
dihasilkan oleh kecerdasan otak manusia internet tetaplah
“produk” yang tidak bebas nilai. Ada etika, norma agama dan
nilai-nilai kemanusiaan yang membuatnya menjadi “terbatas”.
Dari segi politis, masyarakat Barat selama ini terlampau
memuji sosok Amerika Serikat berikut superioritas dan
heroismenya, dengan cara menempatkannya sebagai imperium
tunggal yang paling demokratis. Namun sebaliknya, mereka
terlalu mudah mengecam pihak-pihak lain yang menjadi
rivalnya semisal Rusia, China, serta negara-negara Arab dan
Timur Tengah sebagai pengancam tatanan demokrasi global
dan cermin dari represifitas penguasa.
Mesti diakui bahwa Amerika serta negara-negara Barat
lainnya merupakan ‘pabrik’ sekaligus kiblat dari segala piranti
teknologi modern, mulai dari software hingga hardware, sehingga
dengan leluasa mudah menanamkan kesadaran akan pentingnya
teknologi mutakhir. Sementara dari aspek kepentingan bisnis,

152
mereka secara tidak langsung berharap ‘banjir’ devisa bakal
mengalir deras ke kas negara mereka.
Terlepas dari semua itu, di tengah dinamika zaman yang
kian membuat dunia makin “terlipat” ini, keberadaan internet
adalah sesuatu yang niscaya. Memusuhinya sama sekali
hanyalah akan menyebabkan langkah mundur (set back) dan
menghambat laju peradaban. Oleh karenanya, pilihan yang
paling cerdas dan bijak adalah dengan jalan mengatur dan
membentengi diri dengan ideologi dan mentalitas yang kokoh.
Ambil ‘api’ internet yang positif, buang ‘abu’ internet yang
destruktif. []

153
Kata-Kata yang
Menyembuhkan

T ukang cerita (pendongeng) memiliki peran cukup


me­
nentukan dalam mewarnai kehidupan di tengah
masyarakat. Ia mampu mengubah opini publik, bahkan
dalam struktur kerajaan keberadaan tukang cerita
sanggup mempengaruhi arah kebijakan kepemerintahan.
Banyak hal bisa dilakukan dengan bercerita. Para
guru yang bijak kerap menyanyikan sejumlah cerita di
sela-sela pelajaran kepada siswanya. Para pendakwah
acapkali menyihir khalayak dengan cerita-cerita sejarah
dan anekdot yang dikoleksinya. Orator ulung mampu
membakar animo penonton juga salah satunya dengan
modal bercerita.
Di Nepal para ibu menggunakan cerita-cerita misteri
yang menakutkan sebagai ‘hukuman’ untuk mengontrol
anak-anak mereka. Berkat cerita itu, sang anak akhirnya
patuh mengatur waktu dan tak bermain di tempat-tempat
yang membahayakan. Begitu pula di Tibet orang-orang
mengundang tukang cerita (la-ma-mani) guna membakar
emosi dan adrenalin perjuangan. Konon, kisah-kisah

154
peperangan (epik) dianggap manjur guna menumbuhkan
keberanian para prajurit di medan laga.
Sementara itu, di kepulauan Fiji, sebuah cerita klasik
digunakan para dukun untuk mendeteksi penyakit dalam
tubuh dan pikiran manusia dan juga sebagai mantra
mujarab dalam atraksi berjalan di atas bara api.
Cerita, dalam beragam bentuknya (mulai hikayat,
legenda, dongeng, fabel, anekdot, hingga metafora)
mampu menumbuhkan spirit dan daya gugah luar biasa.
Dalam buku ini, George W. Burns menggunakan metafora
sebagai media efektif menyembuhkan penyakit mental.
Metafora (Burns suka menyebutnya cerita terapeutik)
itu satu bentuk komunikasi lain yang masih dalam genre
cerita.
Metafora menyiratkan suatu perbandingan antara
hal-hal yang tak sama. Asosiasi imajinatif dan simbolis
di dalamnya memberikan potensi literer dan terapeutik.
Sebuah cerita dirancang sebagai pola komunikasi
tidak langsung dan tersirat dengan pendengar tentang
pengalaman, proses, atau hasil-hasil yang bisa membantu
mereka memecahkan suatu masalah.
Karena itu, ia bisa meliputi dongeng, anekdot,
lelucon, pepatah, analog, dan lainnya. Perbedaannya,
metafora khusus diterapkan sebagai penyembuhan
terapi. Milton Erickson disebut-sebut sebagai orang
pertama yang memelopori pemakaian cerita metaforis,
sistematis, terstruktur, dan di­
sengaja untuk tujuan-
tujuan terapeutik.

155
Cerita metaforis, dalam hal ini, dirasa sangat
membantu memperlancar komunikasi antara pemberi
terapi dan pasien atau kliennya. Pada perspektif ini, cerita
bukan semata ungkapan pengalaman belaka, melainkan
cara mengubah pengalaman itu sendiri. Terlebih,
pengalaman yang mampu membangkitkan motivasi,
kesadaran, dan gairah hidup.
Adalah George W. Burns yang memiliki inisiasi
untuk menghimpun pelbagai cerita dalam bentuk
buku yang utuh. Itu dilakukan sebagai respons atas
permintaan banyak peserta pada saat ada gelaran
lokakarya internasional mengenai penyembuhan lewat
terapi. Bahwa bercerita dengan menggunakan metafora
atau majas (kiasan, analogi) dapat menjadi media
terapeutik yang bukan saja menghibur namun juga
menggugah kesadaran serta sanggup menyembuhkan
penyakit tertentu.
Karenanya, jikalau sebuah penyakit (psikis) bisa
sembuh dengan cerita metaforis, kenapa seseorang
harus memburu obat-obat medis lain yang bisa jadi
jauh lebih menguras biaya? Jika Anda ingin sembuh dan
tenang dengan cara super murah maka berhiburlah dan
bermain-mainlah dengan cerita. []

156
Keluarga Buku

S ebuah simtom menarik baru-baru ini dilansir oleh


Perpustakaan Nasional Jakarta. Ada kecenderungan
mutakhir berupa mewabahnya kegemaran anyar di kalangan
keluarga perkotaan dalam memompa minat baca, yaitu dengan
maraknya trend perpustakaan keluarga. Di sejumlah rumah
masyarakat modern kota sudah mudah dijumpai adanya ruang
khusus untuk memajang koleksi buku-buku anggota keluarga.
Artinya, kesadaran khalayak untuk turut berpartisipasi
menumpas tuna aksara kini perlahan mulai menguat.
Fenomena rumahan ini awalnya didorong oleh makin
tingginya kesadaran masyarakat (terutama di kota-kota besar)
untuk menciptakan desain tata ruang di rumah mereka yang
nyaman, sehat, dan minimalis. Selanjutnya, mereka mulai
memutar otak dan berkreasi untuk memberi tempat khusus
bagi aneka bacaan yang setiap hari menyesaki beranda. Bahan
bacaan tersebut umumnya berupa koran yang didapat secara
berlangganan, majalah/tabloid yang dibeli eceran, maupun
ragam buku yang lazimnya diperoleh saat jalan-jalan di toko
buku, jamaknya ketika belanja saban awal bulan.
Mengunjungi toko buku kini telah menjadi semacam
wisata keluarga modern yang rutin dilakukan banyak orang
(khususnya publik perkotaan) bersama semua anggota keluarga

157
sebagai ajang mempersegar (refreshing) wawasan sekaligus
rekreasi mengusir kesuntukan selepas disibukkan dengan
rutinitas pekerjaan.
Di satu sisi, menyediakan ruang khusus untuk menyimpan
buku dan aneka bacaan bukan hanya mempercantik ruangan,
namun juga akan menjadi taman ilmu yang menyuguhkan
alternatif sumber aktivitas yang mampu memekarkan inspirasi
positif bagi penghuni rumah.
Bila selama ini anak-anak di rumah kita hanya mengenal
area-area menonton semisal zona ruang keluarga dengan
televisinya, selasar samping dengan peralatan musik atau
permainan (game) atau teras belakang dengan aneka kebun
bunga, tersedianya ruangan khusus dengan aneka bacaan yang
terpajang rapi bakal menyedot perhatian untuk ikut membaca
dan menikmati lembar-lembar gagasan yang terkandung di
dalamnya.
Di luar itu, tersedianya ruang baca di rumah juga akan
berpotensi mengasah imajinasi anak sejak dini, lebih-lebih jika
orang tua menyajikan teladan dengan cara mengenalkan pada
mereka bahan-bahan bacaan yang baik dan inspiratif.
Tak sedikit dari para penulis dan ilmuan lahir dari keluarga
yang akrab dengan buku. Ahli Filsafat Frans Magnis ketika
masih kecil sangat terbiasa melihat kedua orang tuanya menulis
atau membaca. Uniknya, hampir di seluruh sudut rumahnya
tergeletak buku-buku yang (sengaja dibiarkan) bertumpuk.
Psikologi anak kecil yang selalu ingin tahu dan suka meniru
akan melihat orang tuanya sebagai figur yang paling dekat
dengan mereka. Kebiasaan yang baik kemudian membingkai
bakat-minat sang anak untuk menggeluti apa yang dilakukan

158
ayah ibunya, walau orang tua sekalipun tak pernah menyuruh
dan mengarahkannya.
Bak pepatah, biasanya buah jatuh tidak jauh dari
pohonnya. Like father like son. Simaklah kepolosan bocah kecil
Abdurrahman Faiz saat menjelaskan alasannya mengapa ia
suka sekali menulis. “Bagi aku, menulis bagaikan makanan
enak. Menulis juga bagaikan mainan. Nanti aku akan menjadi
presiden yang penulis.”
Dalam usianya yang masih belia, Faiz mampu dengan
cerdas menguraikan alasan kegemarannya menulis buku karena
ibunya sendiri (novelis Helvy Tiana Rosa) ataupun ayahnya
Widanardi Satryatomo (wartawan) yang dalam kesehariannya
terbiasa membaca dan menulis, sebagaimana senantiasa Faiz
saksikan secara langsung di rumah. Toh, siapa yang tak senang
jika kemudian dalam sebuah keluarga, seluruh anggotanya
sama-sama memiliki kebiasaan positif: membaca dan menulis.
Kesadaran terhadap pentinganya baca-tulis berpotensi
menciptakan “keluarga buku” yang bisa saling menyapa
dan berinteraksi keilmuan dengan dinamis. Sebagai contoh,
kemauannya membaca serta kemampuannya menulis sejak
kecil tidak hanya terbukti mengantar Abdurrahman Faiz sebagai
juara 1 lomba menulis surat buat presiden beberapa tahun
silam, namun juga mampu membuatnya mempersembahkan
“hadiah” berupa sebuah buku antologi puisi bertajuk Untuk
Bunda dan Dunia.
Dengan semangat berbagi serta motivasi guna menggugah
minat keluarga Indonesia untuk membudayakan baca-tulis,
ibunda Faiz, Helvy Tiana Rosa kemudian “membalas” karya
Faiz melalui antologi esainya, Risalah Cinta (2007). Melalui

159
buku ini Helvy secara khusus juga menceritakan bagaimana
awal mula dan perkembangan anaknya sehingga sang anak
lelakinya tertarik dan tergugah untuk berdakwah lewat tulisan.
“Saya sekalipun tak pernah menganjurkan, apalagi memaksa
Faiz untuk menjadi penulis seperti saya. Menurut saya,
sebenarnya dia bukan anak yang luar biasa. Dia biasa-biasa saja
sebagaimana teman-teman bocah yang seumuran dengannya,”
ujar Helvy.
Kebiasaan dan kemampuan untuk saling membalas karya
antara anak dan ibu seperti ini tentu akan sulit terwujud jika
sebuah keluarga tidak cinta buku dan tidak memiliki kesadaran
literasi dan baca-tulis yang terpelihara secara kondusif.
Maknanya, ternyata orang-orang yang super sibuk sekalipun,
bila ia mempunyai kepedulian untuk meluangkan waktu
menikmati bacaan, akan memiliki minat dan kemampuan
untuk menulis. Paling tidak bisa menuangkan keluh-kesah
yang mendera batinnya melalui goresan pena.
Terbukti, selebritis sesibuk Britney Spears sekalipun,
ternyata sudi dan sanggup meluangkan sebagian waktunya
untuk menulis dan menghadiahi mama tercintanya dengan
sebuah buku autobiografis berjudul A Mother Gift. Mendapat
hadiah dari putrinya, Lynne Spears, sang mama, lantas merasa
“panas” dan berencana membalas dengan buku juga. Seiring
waktu, Lynne dengan usaha kerasnya akhirnya merampungkan
pustaka karyanya, Pop Culture Mom: A Real Story of Fame and
Family in a Tabloid Word. Buku yang didedikasikan buat si
buah hati ini memuat cerita bagaimana ia sebagai sang ibu
membesarkan anak-anak dan mengelola keluarga artis yang
dibinanya hingga kini.

160
Demikianlah. Beberapa butir kisah di atas menguarkan
sejumlah hikmah. Rumah yang di dalamnya menyediakan
ruangan khusus berupa perpustakaan keluarga tak ubahnya
sebuah taman segar yang membawa iklim kondusif bagi
pembentukan karakter personal maupun komunal dengan
wawasan yang tertata dan menerbitkan pencerahan. Sungguh
teduh membayangkan rumah-rumah di lingkungan sosial kita
masing-masing memiliki perpustakaan keluarga, walaupun
dalam berbagai skala.
Sehingga harapan lahirnya generasi cerdas dan penuh
kepekaan bisa dimulai dari titik sederhana ini. Dari terminal
kesadaran bahwa keluarga bagaimanapun adalah altar
pendidikan yang pertama dan utama (al-bayt al-madrasah al-
uula). []

161
Margin, Menghubungkan Mata
dengan Aksara

S aat membaca buku, pernahkah anda berpikir tentang


margin? Ruang kosong yang disisakan mengelilingi tulisan
di halaman buku ini kerap terabaikan dari perhatian membaca.
Padahal dengan margin kita mendapatkan keleluasaan dalam
bercengkerama dengan samudera aksara.
Margin yang lapang akan melahirkan kenyamanan
membaca. Sebaliknya, margin yang sempit dan ketat dapat
menyesakkan pandangan mata, mengundang rasa jenuh, serta
mengusir minat kita untuk menjauh dari buku.
Di samping ukuran buku, tipe dan jenis kertas, tata
sampul, pilihan font huruf, serta desain tipografi, kenikmatan
menyantap buku juga amat dipengaruhi oleh seberapa jauh
pandangan kita diteduhi oleh margin yang menarik dan
memadai. Persoalannya, kadang kala kesadaran literasi maupun
keberminatan baca-tulis serta dokumentasi pustaka kita
yang dangkal acapkali menghadirkan “ulah” yang cenderung
membuat tampilan (luar dan dalam) buku menjadi kotor dan
kumuh.
Memang pada mulanya margin hanya sekadar celah kosong
yang membingkai teks. Namun justru karena ruang itu pulalah

162
imajinasi pembaca buku kerap merasa seperti diundang untuk
hadir berintegrasi lebih intim dengan teks.
Tak ubahnya margin serupa bidang luas yang menawarkan
kita untuk mengisinya dengan tulisan (tempatnya coretan,
memo, catatan) berupa tumpahan elaborasi kritis ataupun
catatan reproduksi makna dari teks yang ada. Ada ungkapan
bahwa pembaca buku yang cerdas adalah pembaca yang tak
pernah kenal puas. Nah, ketidakpuasan itu dapat terwadahi
oleh tersedianya margin yang cukup lapang.
Catatan kecil, kisi-kisi, ataupun penanda (dengan garis
bawah, lingkaran, pensil tinta, stabilo, dan alat lainnya) pada
bagian buku yang dipandang penting, acapkali melahirkan rasa
jengkel. Keadaan ini jamak dijumpai pada buku-buku milik
perpustakaan yang biasa kita pinjam. Tindakan ini ada kalanya
membuat sebagian kita sebal dan mencap perbuatan itu sebagai
bagian dari perusakan (vandalisme) akibat buah dari tipisnya
kesadaran merawat khazanah pustaka.
Hmm… benarkah tudingan negatif tersebut? Coretan di
sisi kanan-kiri teks tak ubahnya graffiti di tembok-tembok. Bila
graffiti bisa dikreasi sedemikian rupa menjadi lukisan (mural)
yang elok dan ilustratif, maka coretan di margin tentu pula bisa
ditata agar tetap menyedapkan mata. Karena itu, aksi corat-
coret serupa itu tak sepenuhnya melahirkan ekses yang negatif.
Setidakya masih ada unsur-unsur positif yang potensial
ditimbulkan. Salah satunya, dengan coretan di margin buku,
kita seolah dengan asyik dituntun menyaksikan jejak-jejak
interaktif dari para pembaca sebelumnya.
Bakal tampak dan tergambarkan dengan jelas bagaimana
pembaca yang lebih terdahulu dari kita secara intelektual dan

163
emosional bercengkerama mesra dengan teks (isi buku). Di lain
segi, ritual coret-coret tersebut bagaikan nostalgia historis yang
seakan menghadirkan kembali “aura yang hilang” dari zaman
pra-cetak: bagaimana dahulu generasi purba menulis di helai-
helai daun, pelepah pohon, potongan tulang, maupun keratan
kulit binatang. Bagaimana pula Tsai Lun dahulu menemukan
cara membuat kertas dari bubur ampas tebu sebelum akhirnya
John Gutenberg menyempurnakannya dengan mesin cetak.
Format dan sifat buku yang portable membuat pembaca
leluasa memperlakukannya sejauh mana mereka suka. Dengan
bentuk fisik yang tak susah dibawa memungkinkan kita
bermanja-manja dengan buku tanpa terlalu terhalang kendala
waktu dan ruang.
Di sinilah perbedaan mendasar antara buku dan medium
literasi lainnya semisal dongeng lisan (audio) maupun tontonan
film (visual). Buku, karenanya, dapat dikontrol penuh oleh
pembacanya. Ada pengalaman estetik tersediri yang unik dan
tak akan tergantikan oleh medium lain kala membaca buku
dibandingkan kala menyaksikan tayangan visual ataupun
mendengarkan cerita.
Alasan praktis ini jugalah yang menyebabkan kita mudah
menuangkan gagasan dan apa saja di sebalik lembaran-
lembaran buku. Kapan saja dan di mana saja tak ada yang meng­
halangi keasyikan pembaca untuk menumpahkan kegelisahan,
ketergelitikan, dan kritik lewat coretan di sekeliling teks.
Ada keakraban yang hangat dan “hidup” antara buku dan
pembacanya. Buku bak karib setia yang selalu menemani
hingga ranah yang paling privat sekalipun.

164
Buku dapat diajak berdikusi di tempat tidur saat
menjelang malam, bercengkerama di atas sofa empuk sembari
mendengarkan musik dan menyantap kudapan, saat kita
sedang menunggu antrean di ruang dokter, kala menyendiri di
rerimbunan taman kota, di sela-sela jam kantor, bahkan ketika
kita sedang bepergian dan terguncang-guncang di atas kursi
kereta api.
Hal yang menarik, ternyata aktivitas corat-coret di buku
semacam ini sungguh-sungguh ditoleransi oleh lembaga-
lembaga perbukuan serta perpustakaan-perpustakaan dunia,
sepanjang tidak menjurus pada aksi perobekan (isi atau
halaman) buku. Dengan demikian, mencoret buku asalkan
demi kepentingan keilmuan dan dalam batas-batas kewajaran,
bukanlah termasuk tindak vandalisme yang merugikan.
Pada intinya, margin hadir dan dihadirkan agar pembaca
semakin intim dengan buku. Karena itulah, manfaatkan margin
seoptimal mungkin. []

165
Membaca Buku di
Atas Perahu

U nik nian terobosan yang dilakukan pemerintah Batola,


sebuah daerah kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan.
Wilayah yang terletak di pelosok Pulau Borneo itu jarang sekali
namanya disebut orang dan singgah di telinga kita.
Memanfaatkan potensi alam yang dimiliki, Pemerintah
kabupaten Batola baru-baru ini merilis program sekolah antar-
jemput dengan menggunakan moda transportasi perahu.
Sungai Barito yang mengular di sepanjang kawasan tersebut
dan selama ini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat
setempat dengan Pasar Apungnya kemudian menjadi rute
utama pelayaran “sekolah perahu” tersebut.
Program ini dikhususkan bagi mereka yang terputus paksa
atau sama sekali tak pernah berkesempatan mencicipi bangku
sekolah. Istilah kerennya, sekolah kejar paket. Sebuah perahu
motor besar terbuat dari kayu asli Kalimantan disediakan.
Di ruang atas khusus untuk kelas. Sedangkan di lantai
bawah tersedia perpustakaan dengan aneka koleksi buku dan
dilengkapi fasilitas komputer serta internet. Di luar ruangan
kita bisa menggunakan teras perahu untuk sekadar rehat

166
meluruskan kaki sembari menikmati desiran angin dan eloknya
pemandangan di pinggir sungai.
Hal positif dan bernuansa baru yang dapat dibaca dari
program ini adalah kejelian Pemkab Batola dalam memanfaatkan
potensi kekayaan alam sebagai sarana rekreasi dan media
pendidikan yang jauh dari membosankan. Barangkali nyaris
tak pernah terbayangkan bagaimana sekumpulan bocah-bocah
saban hari bersekolah dan menikmati aneka bacaan dalam
perpustakaan di atas perahu yang berjalan menyusuri tenangnya
arus Sungai Barito. Sungguh hal itu akan menghadirkan nuansa
kesenangan dan sensasi tersendiri. Apalagi bagi masyarakat
pegunungan yang amat jarang bersentuhan langsung dengan
lingkungan perairan (sungai maupun laut).
Selama ini aktivitas membaca lazimnya dilakukan
di ruangan yang tak bergerak. Hanya di atas tumpangan
kendaraan barangkali seseorang akan membaca sambil
terguncang-guncang badannya mengikuti laju kendaraan. Dan,
perahu adalah satu dari sekian model alat transportasi yang
menawarkan kenyamanan bagi penumpangnya. Ada perasaan
rileks dan tenang yang menyergap manakala kita menaiki
perahu. Gemeriak aliran sungai serta kesiur angin akan
menjadi musik alami yang mampu membuat penumpangnya
mendapatkan suasana nyaman dan sejuk. Bagi sejumlah orang,
kondisi serupa ini berpotensi merangsang lahirnya ide dan
imajinasi.
Kita tak harus selalu mengamini anjuran Bobbi de Porter
atau Mike Hernacki yang menyarankan untuk membaca bacaan
dengan posisi badan tegak dan minim gerak. Hempasan halus
arus sungai yang menggoyang badan perahu justru mengantar

167
pembaca buku menuju keterbuaian yang nikmat. Jika me­
minjam istilah Muhammad Yulius, melakukan perjalanan
dengan perahu mampu menawarkan alternatif audio yang
lebih memungkinkan fokus pendengaran menjadi lebih hening.
Apalagi bentuk buku yang portable serta mudah dijinjing atau
dilipat dapat mengendapkan kenangan interaksi intelektual
yang tak gampang lekang.
Sungguh pantas disyukuri negeri ini dikelilingi gugusan
pulau-pulau indah dengan liukan seribu sungai di atasnya.
Niscaya jika hal semacam ini dimanfaatkan secara optimal ia
akan menjadi objek wisata yang menjanjikan. Boleh saja kita
membayangkan di nusantara ini ada daerah “romantis” seperti
Venezia di Italia yang terkenal dengan wisata sungainya. Di
kota cinta itu pelancong dimanjakan dengan Gandola (sampan
khas Venezia) yang siap mengantar penumpang menyusuri
jernihnya sungai yang membelah kota. Begitu pula di negeri
Mesir dengan bentangan terpanjang Sungai Nil-nya yang
mengagumkan.
Sekali lagi, perpustakaan di atas perahu, walaupun
mungkin ada di banyak tempat lain selain Batola, tetaplah
menyuguhkan pemandangan yang langka. Terlebih di Indonesia
dengan dinamika dunia literasi yang masih garing dan miskin
kreasi. Tak terlampau salah kiranya jika salah seorang pengamat
perbukuan pernah mengibaratkan perpustakaan sebagai “ruang
tersunyi”.
Tentu tak semua daerah bisa menyediakan perpustakaan
di atas air seperti di Batola. Namun, dari sekian wilayah
di Indonesia, tak sedikit yang memiliki sungai yang cukup
representatif untuk dijadikan sebagai objek wisata. Katakanlah

168
ini semacam wisata literasi. Berkeliling kota seraya membaca
buku di atas perahu. Dalam bingkai ilmu pendidikan, upaya ini
dapat digolongkan sebagai kreasi media pembelajaran dalam
wujudnya yang riang dan rekreatif.
Paling tidak, jika sejumlah kota besar yang dilalui arus
sungai seperti Batola menduplikasi program ini, akan lahir
beberapa manfaat langsung maupun tak langsung. Antara lain
berupa suguhan alternatif pola dan media pembelajaran yang
baru dan jauh dari monoton. Dalam perspektif pelestarian
lingkungan, pemerintah (kementerian lingkungan hidup
dan tata kota) mau tak mau akan selalu berusaha menjaga
kebersihan dan keasrian sungai. Sehingga daerah aliran sungai
menjadi bersih, lingkungan tak tercemar, warga senang, dan
wisatawan pun bakal berdatangan.
Di tengah mulai diminatinya pustaka genre traveling oleh
pasar buku saat ini, fenomena yang diinisiasi oleh Pemkab Batola
tersebut sangat inspiratif dan menggugah kepedulian sosial.
Dalam tilikan historis, banyak pengelana dan pengembara
(traveler) di nusantara yang mengabadikan perjalanan dan
ketertarikan mereka pada alam melalui tulisan-tulisan di buku
risalah perjalanan. Prabu Jaya Pakuan (Padjajaran) menulis
Naskah Bujangga Manik yang antara lain berkisah tentang
keterpukauan Sang Prabu pada kemolekan Sungai Cisokan di
Jawa Barat.
Yang pasti, panorama perbukuan Batola ini serta-
merta mengingatkan saya pada sepenggal sajak yang pernah
ditulis oleh Hasan Aspahani bertajuk Perahu Buku. Puisi yang
dipersembahkan khusus untuk penyair Sitok Srengenge itu
antara lain berbunyi:

169
Rumahmu danau yang tenang, perahuku tertidur/ditimang
ombak mungil yang mahir menembang/aku dan perahuku berpelukan,
bulan menyaksikan/ia cemas bertanya, “kau tak mabuk arak, bukan?”/
menjelang pagi, ada cahaya dari dasar danaumu/aku bertanya, kenapa
matahari terbit dari situ?/ ada perahu muncul dari goa kabut itu,
penuh buku/aku menduga kau mengirimnya untuk menjemputku... []

170
Memecah Tempurung
Sastra Pesantren

A da sejumlah fenomena unik yang kiranya bisa kita sebut


sebagai ‘kata kunci’ yang selama ini betah memayungi
realitas buram sastra pesantren mutakhir. Pertama, pesantren
terlampau sibuk dengan dunianya sendiri. Sehingga ia belum
mampu dan tidak sempat berkaca pada dinamika luar, dan
bahkan terkesan mengabaikannya. Pandangan dan sikap
terlalu melihat ke dalam (inward looking) yang betah dipelihara
masyarakat pesantren, pada akhirnya mengurung mereka
dalam tempurung yang pengap.
Zainal Arifin Thoha (2002), salah seorang tokoh sastra
pesantren pernah menyajikan kesimpulan bahwa pesantren
belum cukup menyodorkan bukti perihal eksistensi mereka
bukanlah sekadar konsumen sastra (luar). Kendatipun derajat
apresiasi mereka terhadap sastra dan seni dipandang cukup
tinggi, hal itu belum menjadi ukuran mutlak bahwa mereka
telah serius dan tidak semata menghibur diri lewat sastra.
Tidak sebandingnya jumlah dan mutu sastra (produk)
pesantren dengan jumlah santri dan pesantren di negeri ini,
layak dikedepankan sebagai salah satu alasan bahwa sastra
pesantren masih laksana ‘katak’ yang nyaring berbunyi (hanya)

171
di dalam tempurungnya sendiri. Kalau kondisi semacam ini
masih terus berlanjut, barangkali kita tinggal menunggu
kapan saatnya ‘katak’ itu keluar. Jangan-jangan ia keluar pada
waktu yang salah yakni malam hari, sehingga tersesat di jalan
raya peradaban. Beruntung jika ia selamat dan terhindar dari
lindasan mobilitas zaman yang kian bising dan menderu.
Dalam konteks ini, tak berlebihan jika orang pesantren
sekelas KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah melontarkan
kesalahannya dengan mengatakan bahwa pesantren selama ini
masih ‘terlalu’ menaruh respek dan rasa hormat yang amat
berlebihan terhadap warisan tradisi dan masa lalunya. Mereka
masih belum sepenuhnya bisa melepaskan diri dari bayang-
bayang sejarah serta keluhuran nama baik (citra) pesantren itu
sendiri.
Akibatnya, ketika muncul keterdesakan praktis yang
mengharuskannya keluar dari kanon tradisi konvensional
pesantren, mereka tampak begitu gugup, gagap dan kurang
percaya diri. Sehingga selain terlihat lamban dalam beradaptasi
dari dalam diri pesantren juga kurang muncul daya dobrak
berupa inovasi-inovasi yang lebih kritis, dinamis dan
menjanjikan.
Keadaan ini senada dan erat berkelindan dengan fenomena
buram yang kedua, yakni kemandegan (stagnasi) budaya tulis
di pesantren. Di saat tradisi literasi (aktivitas baca-tulis baik
itu karya jurnalistik maupun karya-karya ilmiah) di pesantren
mulai melumpuh, dengan sendirinya potensi sastra yang
terkandung di dalamnya serta merta ikut terpuruk dan tak
memiliki ruang katarsis yang memadai.

172
Pada derajat tertentu, keterpurukan ini tak bisa dilepaskan
dari faktor stagnasi budaya menulis (tashnif, ta’lif, tarjamah)
di dalamnya yang semakin lama kian mengering. Kiranya tak
usahlah orang pesantren menggemakan dalil, hujjah ataupun
bentuk-bentuk apologi dan retorika mereka yang lain hanya
untuk melindungi kelemahan tradisi literer di pesantren.
Sembari selanjutnya pada saat yang sama terus berusaha
mengagung-agungkan kebolehan mereka dalam hal tradisi
verbal “lisan” yang konon, setidaknya bagi kaum pesantren
sendiri, dianggap sangat mumpuni ‘menyihir’ khalayak
masyarakat.
Kerinduan komunitas muslim akan lahirnya (kembali)
penulis-penulis (dan sastrawan) pesantren semisal Syaikh
Nawawi Al-Bantani, Mahfudz At-Tarmasy, Bisri Mustofa, Buya
Hamka, Mahbub Djunaidi, Muhammad Diponegoro hingga
generasi mutakhir yang digardadepani oleh Taufik Ismail, D.
Zawawi Imron dan kawan-kawan, kian terasa sebagai dahaga
zaman yang amat merindukan guyuran air penawar dari internal
komunitas pesantren.
Pada kerangka ini, untuk tetap menjaga kelangsungan
hidup serta mempersegar gairah sastra pesantren ke depan,
ada beberapa langkah solutif yang mungkin prospektif untuk
ditempuh oleh komunitas pesantren. Pertama, Pesantren harus
segera dan senantiasa membuka diri terhadap dinamika luar.
Sungguhpun modernisasi lebih banyak menyodorkan tawaran
negatif, menjauhinya sama sekali rasanya merupakan sikap
yang kurang bijak dan malah kontraproduktif.
Kedua, mereka pun harus mulai membuka kran
kreativitas yang dimiliki para santri dan siapapun di dalamnya.

173
Bagaimanapun, karya sastra menjadi sangat sulit dilahirkan
dari lingkungan yang kaku-baku (rigid), yang hanya cenderung
menyuburkan wacana pembekuan (tajmid) di dalamnya.
Kendati sering identik dengan julukan penjara suci, bukan
berarti elan kreativitas di dalam pesantren harus ikut terpenjara
pula. Justru keberadaan santri yang dalam banyak hal sangat
heterogen, sedapat mungkin dimanfaatkan ke dalam jalur yang
lebih produktif-eksploratif.
Ketiga, rajin-rajinlah insan pesantren mengkaji-ulang
potensi-potensi khas yang dimilikinya. Mulai dari teks-teks
normatif keagamaan, kitab-kitab literatur, manaqib-manaqib
syair dan shalawat hingga dimensi ekstase spiritual dan potensi
religi di pesantren, merupakan khazanah yang menyimpan
potensi sastrawi yang luar biasa. Tentu saja amat disayangkan
jika dibiarkan menguap sia-sia.
Keempat, mau tidak mau pesantren wajib untuk terus
berupaya meretas jalan demi melestarikan kekayaan literasi
serta mengembangkan wacana baca-tulis di lingkungan
mereka. Tersedianya ruang ekspresi dan media yang kondusif,
akan lebih mendorong terciptanya lingkungan kesusastraan
yang hidup dan istiqomah. Semua itu dapat berlangsung dengan
baik dan ideal, manakala ada minat kuat serta keseriusan tulus
yang lahir dari kaum pesantren sendiri. Paling tidak, ada getar
semangat yang menggelora untuk senantiasa berusaha menuju
ke arah yang lebih menjanjikan. Ahakadzaa? []

174
Pada Cerita Kita
Terpesona

A lkisah, ada seorang kyai di sebuah daerah di Madura sedang


menderita penyakit kulit kronis. Di pangkal kakinya tumbuh
segumpal daging yang keras dan mulai membusuk. Berbagai
cara medias dan herbal dilakukan guna menyembuhkannya.
Menurut perspektif medis, satu-satunya jalan adalah dengan
memotong gumpalan daging tersebut. Namun kyai tersebut,
selain takut dioperasi juga amat tak kuat menahan rasa sakit.
Atas sejumlah pertimbangan, maka dicarilah kesempatan
ketika kyai tersebut khusyuk dan fokus dengan aktivitas
kegemarannya. Karena ia dikenal sebagai ahli ibadah yang rajin
shalat, dan atas kesepakatan dan persetujuannya pula, akhirnya
disepakatilah bahwa operasi pengambilan daging itu akan
dilakukan saat ia sedang melakukan ritual shalat sunah. Tak
ada yang menyangka, ternyata proses bedah tadi berlangsung
lancar dan sukses tanpa rasa sakit. Semua keluargapun merasa
lega dan puas.

***

Shalat, sebagaimana aktivitas lainnya, ternyata mengan­


dung daya pikat dan kekuatan spiritual yang luar biasa.

175
Demikian pula dengan cerita. Seseorang yang sudah tersihir
dengan cerita yang memukau, ia akan mengalami rasa mabuk
(trance) hingga ia mampu menahan dan melupakan apa saja.
Termasuk kenyataan di sekelilingnya.
Selaras dengan fenomena itulah, George W Burns, seorang
pemerhati dunia dongeng, mencontohkan kisah hidup yang
menimpa seorang John Grimm. Pengarang cerita rekaan Si
Putri Salju yang melegenda itu, sewaktu kecil pernah dibekap
penyakit tumor ganas. Kondisi memilukan itu terjadi pada 1794
ketika alat-alat kedokteran masih sangat sederhana dan belum
mengenal obat bius. Karena Grimm tergolong penggemar berat
dan percaya kekuatan sebuah cerita maka untuk memperlancar
proses pembedahan ia kemudian diperdengarkan sebuah
dongeng. Apa yang terjadi? Grimm mengaku selama menjalani
operasi pembedahan sampai selesai ia tak merasakan sakit
apapun. Kekuatan cerita ternyata mampu membuat rasa
sakitnya bisa raib seketika.
Burns menilai banyak sekali gagasan-gagasan kreatif dan
aplikatif yang bisa membingkai cerita menjadi energi spiritual
yang positif dan menggerakkan. Ada banyak trik untuk
menyulap bagaimana mengolah sebuah cerita sehingga ia bisa
menggugah siapapun yang mendengarnya. Cerita merupakan
media penyampaia pesan yang baik dan efektif. Dengan teknik
bercerita, pesan-pesan yang akan disampaikan seseorang,
secara komunikatif lebih mudah dicerna dan membekas. Tentu
saja dengan teknik dan kiat-kiat tertentu.
Menurut Burns, setidaknya ada sepuluh cara menyajikan
cerita yang efektif. Pertama, percaya dirilah bahwa Anda
sanggup menjadi pencerita yang baik. Pendongeng andal

176
sekelas Kak Seto Mulyadi ataupun WeEs Ibnu Say adalah contoh
pendongeng yang berangkat dari rasa percaya diri yang kuat.
Kedua, menggunakan realitas dan pengalaman pribadi sebagai
bahan bercerita dan jangan terbelenggu oleh persoalan teknik.
Ketiga, pakailah kecerdasan integritas dan etika. Keempat,
berceritalah dengan pas dan selaras dengan keadaan sekitar.
Kelima, buatlah cerita Anda menjadi seolah nyata, kendati ia
memang hanya rekaan (fiksi) belaka.
Keenam, susunlah cerita secara rapi dan sistematis. Ketujuh,
berlatihlah secara variatif dengan mencoba menggunakan
beragama teknik dan cara bertutur yang tidak monoton.
Kedelapan, bawakan cerita Anda pada orang lain. Sadarilah
bahwa orang lain adalah juri terbaik bagi Anda. Kesembilan,
perhatikan keadaan, psikologi dan level intelektual dari audiens
(pendengar) secara saksama sehingga bisa menangkap ragam
dan bobot respons yang muncul. Kesepuluh, bersikaplah secara
fleksibel. Dalam ilmu bercerita, tak ada sesuatu apapun yang
paten dan baku, sebaliknya cerita mesti mengalir dengan lentur
dan adaptif menyesuaikan kondisi yang ada.
Sebagai seorang psikiater dan penyaji terapi, Burns juga
piawai meramu cerita-cerita yang dikoleksinya mewakili banyak
ragam budaya dan multi-etnis. Karenanya ia mengandung
muatan-muatan universal. Ada cerita yang “disadap” dari para
pendongeng tentang hikayat rakyat masyarakat Tibet, kisah
nyata Kapten Robert Falcon Scott yang menjelajah Antartika,
cerita dari orang-orang perkebunan kopi di Vietnam, suku asli
di Kepulauan Fiji, masyarakat pedalaman di belantara Papua,
hingga aneka kisah yang diambil dari penuturan para pasien

177
Burns seputar problema hidup sosial yang mendera hidup
mereka.
Pada akhirnya, sebuah cerita merupakan salah satu
‘jembatan’ bagi seorang pengarang dan penutur kepada
pembaca, pendengar atau audiens dalam mentransfer pelbagai
hadiah positif yang bisa berwujud sugesti, motivasi, hikmah,
energi spiritual, hingga kesembuhan dari penyakit fisik
maupun psikis. Sebuah cerita mempesona ketika dibaca, juga
menggerakkan ketika dituturkan. []

178
“Pahlawan” di Kota
Pahlawan

P emerintah kota Surabaya dikenal memiliki kegairahan yang


kuat dalam upaya memompa minat baca para warganya.
Sekadar contoh, pada awal tahun 2008 dirilis sejumlah program
terobosan alternatif guna semakin menyemarakkan animo
baca-tulis dan kepedulian literasi bagi masyarakat metropolis.
Mulai ajang ‘superlis’ (seribu perempuan menulis), penetapan
kawasan Blauran sebagai Kampoeng Ilmoe, pembangunan
perpustakaan di kampung-kampung miskin pinggiran kota,
hingga program pengadaan sudut-sudut baca di sejumlah
puskesmas yang tersebar di kawasan Kota Pahlawan.
Program hasil kerjasama antara Badan Arsip dan
Perpustakaan (BAP) serta dinas kesehatan (Dinkes) Surabaya
dirilis secara resmi oleh walikota Surabaya saat itu, Bambang
D.H. Gebrakan-gebrakan populis semacam itu tentu pantas
disambut dengan antusiasme tinggi mengingat selama ini
kepedulian pemerintah dalam upaya penggalakan minat baca
masih terkesan monoton, kurang optimal, dan cenderung
stagnan alias berjalan di tempat.
Di tengah dinamika massif masyarakat yang kini
sedang bergerak bersama menuju puncak peradaban digital,

179
langkah mendekatkan publik kepada sentrum-sentrum
ilmu pengetahuan menjadi sangat penting dan krusial guna
diwujudkan. Pemerintah dalam konteks itu bertanggung
jawab menyelenggarakan agenda dan program konkret demi
terjangkaunya akses masyarakat dalam mendapatkan ruang
dan fasilitas keilmuan, termasuk ruang baca yang memadai
dan kondusif. Sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945
perihal kenyataan bahwa seluruh lapisan masyarakat berhak
mendapatkan pelayanan pendidikan yang memadai. Selain
itu, pemerintah dengan jejaring birokrasi yang dimilikinya
berkewajiban memenuhi sekaligus memfasilitasi keinginan
luhur tersebut.
Apalagi, selama ini khalayak dihadapkan pada beban
keterhimpitan ekonomi yang demikian kronis. Jangankan
me­menuhi kebutuhan akan tersedianya bahan bacaan
sebagai sarana rekreasi keilmuan, mengatasi kebutuhan
primer sandang-pangan-papan keseharian saja mereka kerap
kekurangan. Tersedianya fasilitas baca di tempat-tempat umum
seperti puskesmas paling tidak menjadi alternatif saat mereka
berkunjung ke pos-pos pelayanan publik.
Memang harus diakui bahwa kesadaran masyarakat kita
terhadap pentingnya aspek literasi (baca-tulis) masih jauh dari
harapan ideal. Namun, usaha mengenalkan masyarakat pada
fasilitas baca sedapatnya akan memancing animo publik untuk
mulai berkenalan dan berakrab-ria dengan jagat keilmuan yang
tak pernah mengenal batas.
Saat hampir di seluruh kawasan perkotaan sudah tersedia
kemudahan fasilitas digital, seperti hot spot, Maka pengenalan
literasi sejak dini seperti itu pelan tapi pasti bakal berpengaruh

180
signifikan pada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap
pentingnya kelestarian dunia baca tulis bagi kehidupan modern.
Para aparat birokrasi, praktisi pendidikan dan tokoh-
tokoh masyarakat seoptimal mungkin dapat bekerjasama
guna kian menguatkan kesadaran khalayak akan hal tersebut.
Masyarakat kita yang dikenal agamis dapat dimanfaatkan untuk
menyisipkan pesan keagamaan bahwa aktivitas membaca
sejatinya tidak ubahnya dengan menunaikan kewajiban setiap
manusia dalam menuntut ilmu pengetahuan. Dengan kata lain,
kegiatan baca tulis itu bisa bernilai ibadah.
Dalam istilah Gabriel Garcia Marquez, membaca tak
ubahnya seperti “spiritualitas literer” yang sanggup memuaskan
dahaga dan kebutuhan spiritual seseorang. Membaca juga
dapat berguna untuk menggali inspirasi, mengasah daya
kreasi, sekaligus menajamkan imajinasi. Dengan membaca,
daya kreativitas seseorang berpotensi turut terangsang karena
di dalamnya melibatkan emosi, perasaan, pengalaman, dan
harapan harapan.
Karena itu, ada yang menyetarakan membaca serupa
dengan bermain cinta. Gelisah, namun penuh gairah. Tidak
jarang pembaca seperti ditantang untuk bertransformasi diri
(self transformation) dan menyelesaikan (gagasan) apa yang
sebenarnya tak pernah selesai dalam sebuah bacaan yang
dibacanya.
Karena itu, tak dapat disangsikan bahwa membaca dapat
memberikan semesta kenikmatan. Bisa dibayangkan bagaimana
seseorang mampu mengalami interaksi personal yang intim
dengan apa yang sedang dibacanya, dengan himpunan makna
yang timbul tenggelam di lautan huruf dan margin-marginnya.

181
Juga, bagaimana seseorang kadang terharu dengan teks-teks
yang menyentuh kesadaran ataupun tersentak dengan narasi
yang mengobarkan semangat.
Pada aras demikian, aneka terobosan solutif berupa
penyediaan sudut-sudut baca yang dilakukan oleh Pemkot
Surabaya sedapatnya digunakan sebagai gerbang pembuka
sekaligus momentum kesempatan emas untuk, paling tidak,
mulai menularkan kegemaran membaca kepada lingkungan
sosial di sekitarnya. Jadikanlah budaya baca sebagai “virus”
positif yang mampu mewabah dan menjangkiti kesadaran
masyarakat dengan cepat dan tepat.
Lebih bersyukur lagi jika program unik dan menarik hasil
inisiasi arek-arek Suroboyo tersebut diduplikasi oleh instansi dan
tempat-tempat umum lain. Kita tahu, selain puskesmas, masih
banyak kantong-kantong pelayanan publik yang selalu ramai
didatangi pengunjung, bahkan daftar tunggu dan antreannya
panjang. Tempat-tempat yang dimaksud antara lain rumah
sakit, terminal, stasiun hingga bandara. Juga, kantor-kantor
pemerintah, terutama yang berkaitan dengan layanan publik,
hingga tempat-tempat ibadah milik khalayak.
Alangkah elok membayangkan apabila di banyak tempat,
warga bisa leluasa dimanjakan dengan ketersediaan ruang baca
serta bahan bacaan yang lengkap dan inspiratif. Membaca,
dengan demikian, menjadi aktivitas pengisi waktu yang tidak
saja mampu menghilangkan kesuntukan saat sedang menunggu
antrean, misalnya. Namun, membaca juga berfungsi sebagai
altar yang sanggup memekarkan cakrawala padang serta
mengelaborasi khazanah ilmu pengetahuan dengan cara yang
menghibur dan menyenangkan.

182
Surabaya, pada titik itu, kita harapkan menjadi perintis
sekaligus pilot project percontohan bagi lahirnya kawasan yang
dapat menerbitkan harapan pencerahan di tengah iklim sosial
politik yang semakin hari kian menampakan perilaku dan
sikap amoral yang jauh dari visi agung keilmuan. Semoga Kota
Pahlawan mampu menjadi “pahlawan”, paling tidak selalu
berupaya menjaga nyala pelita ilmu pengetahuan agar tidak
pernah padam dari pusaran peradaban. Semoga demikian. []

Dalam istilah Gabriel Garcia


Marquez, membaca tak
ubahnya seperti “spiritualitas
literer” yang sanggup
memuaskan dahaga
dan kebutuhan spiritual
seseorang.

183
Salon Buku

S ebuah stasiun televisi swasta menyajikan sepotong kisah


inspiratif seputar profesi unik yang dilakukan seorang
perempuan paruh baya asal Lampung dalam merawat buku.
Endang Setiani, nama ibu guru di SMAN 05 Bandar Lampung
itu. Dengan penuh kesetiaan hati ia rela membantu para
pembaca buku dengan cara bekerja sebagai tukang “permak”
buku.
Sembari menjalankan tugas wajibnya sebagai pendidik,
Bu Endang menyulap ruang kerja mininya sebagai “salon”
yang menerima sodoran aneka buku yang telah rusak untuk
dipermak ulang menjadi buku yang kukuh, rapi dan cantik.
Sehari-hari, dengan tekun ia mengerjakan order sambilan
menata-sulam buku-buku yang rusak di “bengkel buku”
miliknya. Dengan berbekal alat-alat reparasi seadanya seperti
gunting, lem kertas, benang dan jarum, ia mampu menyulap
tampilan buku yang sudah kumal dan nyaris tak berbentuk,
kembali menjadi utuh dan menarik.
Pada umumnya ”pasien” buku yang ia terima adalah buku-
buku dengan tingkat kerusakan yang cukup parah. Misalnya,
halamannya yang copot dan tak berurutan atau buku yang
mulai melapuk digerogoti anai-anai.

184
Sekilas, pekerjaan yang ditekuni Bu Endang itu seakan
tampak sepele dan sederhana. Namun, bila kita sudi menelusup
lebih dalam, sesungguhnya praktik unik tersebut tak ubahnya
ironi di dunia perbukuan. Di saat belantika perbukuan kita
diwarnai gegap-gempita dan di saat kian menguatnya animo
membaca serta meningginya daya beli buku masyarakat, tanpa
kita sadari ada satu sisi yang terabaikan dan tak dianggap
penting yakni realitas betapa sulit dan mahalnya kesempatan
kita untuk merawat buku-buku koleksi kita. Dengan kata lain,
aktivitas merawat buku mestinya menjadi bagian integral yang
tidak terpisahkan dalam tindak pustaka kita.
Dalam konteks tersebut, kebersediaan dan kepedulian
seseorang untuk berbagi kiat membantu orang lain dalam
ikut serta memelihara khazanah kepustakaan sebagaimana
ditunjukkan oleh Bu Endang merupakan kegiatan dan
kontribusi literer yang langka, mulia dan menawarkan banyak
makna.
Harus disadari bahwa ibarat “makhluk piaraan”, buku-
buku juga mempunyai hak untuk mendapatkan perawatan dan
perlindungan yang memadai. Bila seseorang membeli buku
untuk disesap dan dibagi materi isinya, harus diingat pula
bahwa bagaimana isi yang terkandung di dalamnya itu mampu
bertahan dengan baik sehingga jika sewaktu-waktu dibutuhkan
ia bisa dibuka kapan saja dengan muatan yang masih layak
cerna. Pada derajat tertentu, kesadaran merawat buku sama
halnya dengan kepedulian memelihara khazanah keilmuan
yang tak kenal batas.
Mengingat langkanya profesi tukang permak buku,
sepatutnyalah pilihan Bu Endang itu mendapat penghargaan

185
yang layak. Sungguh tak banyak orang yang paham dan mahir
dalam pengemasan buku. Barangkali sedikit di antara mereka
adalah pegawai perpustakaan ataupun pekerja percetakan yang
memang bertugas mengemas dan merawat buku.
Kebanyakan orang enggan dan malas meluangkan waktu
sekadar untuk menengok koleksi bukunya: apakah ia masih
utuh seperti semula ataukah sudah kusut dan melapuk
digerogoti cuaca. Cara paling sederhana barangkali adalah
dengan rajin membacanya kembali dan tekun membuka-buka
halaman bukunya.
Pada saat sebuah buku diambil dan dipisahkan dari
himpitan buku-buku lainnya, maka pada saat yang sama ada
ruang sirkulasi udara yang dapat mempersegar etalase. Salah
satu solusi adalah rutin merelokasi, menggonta-ganti posisi.
Paling tidak, kesesakan dan kepengapan lembaran-lem­
barannya dapat dikurangi sehingga terhindar dari kelembaban
serta kemungkinan lengket dan berjamur. Sekali waktu, deretan
buku yang terpanjang di lemari juga butuh dibersihkan, ditata
ulang dan jika perlu dirotasi tempat dan urutannya.
Banyak di antara kolektor dan pembaca buku yang acuh
tak acuh dan melupakan aspek kesehatan (fisik) sebuah buku.
Menaruh buku di sembarang tempat, menjadikannya penopang
kepala (bantal) untuk tidur, menumpuknya dengan asal-asalan,
melipat-lipat halaman seenaknya, ataupun membubuhkan
coretan yang tidak perlu, merupakan sebagian kebiasaan buruk
yang tanpa sadar acapkali kita praktikkan dengan ringan dan
tiada beban.
Imbasnya, secara tidak adil kita telah memperlakukan
buku laksana barang rongsokan yang tak memiliki “ruh”.

186
Padahal, buku sejatinya teman dialog yang hangat, bersahabat
dan butuh perhatian.
Merawat buku butuh kesadaran diri dan tidak asal-asalan.
Sejumlah toko buku di Jogjakarta telah memberikan teladan
pada kita akan pentingnya perawatan buku sejak awal. Setiap
pembelian buku di toko, pembeli selalu dihadiahi bonus gratis
berupa sampul plastik yang akan dipasangkan pada buku yang
kita beli.
Pemberian sampul tersebut sesungguhnya adalah “amanat
tersirat” yang tak salah alamat. Bahwa kesediaan kita membeli
buku sama artinya dengan kesiapan kita untuk senantiasa
merawatnya. []

187
Sumber Pemuatan Tulisan:

Asa dari Madura (Surya, 9 Desember 2007)


Ayo Jadi Penulis Go Blog! (Jawa Pos, 7 September 2008))
Bahasa Madura yang Kian Merana (Kompas, 15 Desember 2008)
Biografi dan Sejarawan yang Malas Berkarya (Mata Baca, 12
Agustus 2004)
Buku, Film dan Selebrasi Dunia Baca (Suara Merdeka, 5 Juni
2005)
Buku, Tokoh dan Brand Image (Jawa Pos, 5 Oktober 2003)
Buku-Buku Paling Dikecam (Jawa Pos, 27 Juli 2008)
Cinta dan Asketisme Seorang Penulis (Jawa Pos, 3 Oktober
2004)
Dicari: Perpustakaan Ramah Pembaca (Jawa Pos, 30 April 2006)
Dilema Penerbitan, Antara Dana dan Stamina (Jawa Pos, 29 Mei
2005)
Gairah Serambi Mekkah(Jawa Pos, 30 Agustus 2009)
Gus Dur yang Tenang, Lawan yang Garang (Jawa Pos, 18 Januari
2004)
Simalakama Peradaban Digital (Surya, 2004)
Kata-Kata yang Menyembuhkan (Surya, 27 Maret 2005)
Keajaiban Metafora (Solopos, 20 Maret 2005)
Keluarga Buku (Jawa Pos, 27 Januari 2008)
Kesaktian The Santri (Solopos, 11 April 2004)

188
Kisah Kutu Menggumuli Buku (Surya, 19 September 2004)
Logika Pasar (Jawa Pos, 19 Desember 2004)
Margin, Menghubungkan Mata dengan Aksara (Surya, 19
November 2006)
Marhaban, Pustaka Pesantren (Jawa Pos, 17 Januari 2006)
Media Massa dan Vulgaritas Bahasa (Sinar Harapan, 9 April
2005)
Melihat Kelebat Buku Silat (Jawa Pos, 30 Mei 2004)
Membaca Buku di Atas Perahu (Jawa Pos, 16 November 2008)
Memecah Tempurung Sastra Pesantren (Radar Madura, 10
November 2008)
Mendulang Rezeki dari Buku Siap Saji (Jawa Pos, 31 Agustus
2003)
Mengembalikan Tinta Tigriz (Majalah Santri, Edisi Februari
1998)
Pada Cerita Kita Terpesona (Koran Tempo, 13 Maret 2005)
“Pahlawan” di Kota Pahlawan (Radar Surabaya, 8 Agustus 2008)
Pamer Karakter Melalui Cover (Jawa Pos, 2 Mei 2004)
Palestina dalam Segenggam Jurgam (Solopos, 19 September
2004)
Paras Kasar Radikalisme Agama (Islamlib.com, 10 April 2005)
Parasit (Jawa Pos, 2 Oktober 2003)
Pustaka Pergunjingan (Mata Baca, 6 Februari 2004)
Ramadan dan Pustaka Remaja (Suara Merdeka, 31 Oktober
2004)
Salon Buku (Jawa Pos, 26 September 2007)
Seputar Buku Pintar (Suara Merdeka, 12 Desember 2004)

189
SENARAI PUSTAKA

Abdallah, Ulil-Abshar. Islam Liberal dan Fundamental, Sebuah


Pertarungan Wacana. Yogyakarta: Elsaq Press, 2004.
Abegebreil, Agus Maftuh. Dkk. Negara Tuhan; The Thematic
Encyclopaedia. Jakarta: Penerbit SR-Ins Publishing, 2004.
Adhim, Mohammad Fauzil. Indahnya Pernikahan Dini. Jakarta:
Gema Insani Press, 2002.
Ahmad, Akbar S. Islam Sebagai Tertuduh. Bandung: Arasy Mizan,
2004.
Al-Anshari, Fauzan. Melawan Konspirasi JIL. Jakarta: Pustaka
Furqan, 2003.
Al-Banna, Sofwan. Ramadan Is Dead?! Yogyakarta: Pro-U Media,
2007.
Al-Mukaffi, Abdurrahman. Rapot Merah Aa Gym; MQ Di Penjara
Tasawuf. Jakarta: Darul Falah, 2003.
Al-Qarni, ‘Aidh. Laa Tahzan (Terj. Samson Rahman). Jakarta:
Qisthi Press, 2004.
Al-Syahrastani, Imam. Al-Milal wa Al-Nihal (Terj. Asywadi
Syukur). Bandung: Mizan, 2004.
Amatullah, Afifah Afra, Topan Marabunta. Jakarta: Gema Insani
Press, 2002.

190
Amsaka, Abu. Koreksi Atas Zikir Jama’ah M. Arifin Ilham. Jakarta:
Darul Falah, 2003.
Armas, Adnin. Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal.
Jakarta: Gema Insani Press, 2003.
Arunita, Rachmania. Eiffel I’m in Love. Yogyakarta: Bentang
Belia, 2003.
Asmaya, Enung. Aa Gym Dai Sejuk dalam Masyarakat Majemuk.
Bandung: Mizan Publika, 2003.
Atmowiloto, Arswendo. Senopati Pamungkas. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2003.
Barton, Greg. Biografi Gus Dur. Yogyakarta: LkiS, 2005.
Benedanto, Pax. Dkk. Bukuku Kakiku. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 2004.
Burns, George W. 101 Kisah yang Memberdayakan; Penggunaan
Metafora Sebagai Media Penyembuhan (Terj. Haris Priyatna
& Ibnu Setiawan). Bandung: Kaifa, 2004.
Canfield, Jack. Dkk. Chicken Soup for The Soul (Terj. Susi
Purwoko). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Chaidir, 1001 Saddam. Jakarta: Adicita Karya Nusa, 2004.
Chu, Valentino. Buku Pintar Yin-Yang. Jakarta: Ladang Pustaka &
Intimedia, 2001.
Dahlan, Muhidin M. Kabar Buruk dari Langit. Yogyakarta:
ScriPtaManent, 2004.
________________ Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Yogyakarta:
Penerbit Melibas, 2003.
Dahm, Bernhard. Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan. Jakarta:
LP3ES, 1987.

191
Danarto. Setangkai Melati di Sayap Jibril; Kumpulan Cerpen.
Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2000.
DePorter, Bobbi & Mike Hernacki. Quantum Learning;
Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan (Terj.
Alawiyah Abdurrahman). Bandung: Penerbit Kaifa, 2001.
Dhakidae, Daniel. Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde
Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Dharmawan, Budi. Menuju Puncak Taqwa Melalui Akademi
Ramadan. Depok: Yayasan Medina, 2004.
Djaya, Sjuman. Aku; Chairil Anwar. Jakarta: Metafor Publishing,
2003.
El-Fadl, Khaled Abou. Musyawarah Buku (Terj. Abdullah Ali).
Jakarta: Serambi, 2006.
El-Shirazy, Habiburrahman. Ayat-Ayat Cinta. Jakarta: Penerbit
Republika, 2005.
Emka, Moammar. Jakarta Under Cover: Sex ‘n The City. Yogyakarta:
Galang Press, 2005.
Fahri Asiza. Serial Syakila (Bom, Bara, Sandera!). Bandung: DAR!
Mizan, 2003.
Faiz, Abdurrahman. Untuk Bunda dan Dunia. Bandung: DAR!
Mizan, 2004.
Fealy, Greg. Dkk. Gila Gus Dur: Wacana Pembaca Abdurrahman
Wahid. Yogyakarta: LkiS, 2010.
Garraty, John A. The Nature of Biography. New York: Alfred A.
Knopf Publisher, 1957.
Gayo, Iwan. Buku Pintar; Edisi Senior. Jakarta: Pustaka Warga
Negara, 2013.

192
Gie, Soe Hok. Catatan Harian Seorang Demonstran. Jakarta:
LP3ES, 1983.
Gong, Gola. Dicabik Kenangan. Bandung: DAR! Mizan, 2003.
Gray, John. Beyond Mars and Venus; Membangun Hubungan Ideal
di Zaman yang Semakin Kompleks (Terj. Susi Purwoko).
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000.
Harits, Ummu. Puasanya ABG; Panduan Puasa Bagi Remaja. Solo:
Mandiri Visi Media, 2007.
Hasyim, Mustofa W. Hari-Hari Bercahaya. Yogyakarta: Gita
nagari, 2004.
Haykal, Muhammad Husain. Sejarah Hidup Muhammad (Terj. Ali
Audah). Jakarta: Litera Antarnusa, 2002.
Hernowo. Mengikat Makna. Bandung: Penerbit Kaifa, 2001.
Jaiz, Hartono Ahmad. Aliran dan Paham Sesat di Indonesia. Jakarta:
Pustaka Al- Kautsar, 2002.
________________ Bahaya Pemikiran Gus Dur: Menyakiti Hati
Rakyat. Jakarta: Pustaka Al-kautsar, 1999.
________________ Belitan Tasawuf Iblis: Gus Dur Wali? Jakarta:
Darul Falah, 1999.
________________ Bila Kiai Dipertuhankan. Jakarta: Penerbit Al-
Kautsar, 2001.
________________ Gus Dur Menjual Bapaknya; Bantahan Pengantar
Buku Aku Bangga Jadi Anak PKI. Jakarta: Darul Falah, 2003.
K.H., Ramadhan. Soekarno; Kuantar ke Gerbang. Yogyakarta:
Penerbit Bentang, 2011.
Kayam, Umar. Lebaran di Karet, di Karet; Kumpulan Cerpen.
Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2002.

193
Kiyosaki, T. Robert. Rich Dad Poor Dad (Terj. J. Dwi Helly
Purnomo). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Kuntowijoyo. Metodologi Sejarah; Edisi Kedua. Yogyakarta: Tiara
Wacana, 2003.
Madjid, Nurcholish. Dkk. Fiqih Lintas Agama; Membangun
Masyarakat Inklusif-Pluralis. Jakarta: Yayasan Paramadina,
2004.
________________ Bilik-Bilik Pesantren; Sebuah Potret Perjalanan.
Jakarta: Yayasan Paramadina, 1997.
Moede, Nogarsyah. Buku Pintar Dakwah. Jakarta: Rineka Cipta,
2002.
Mohamad, Goenawan. Catatan Pinggir; 1. Jakarta: Pustaka
Graffiti, 1983.
Muzaffar, Chandra. Muslim, Dialog dan Teror. Jakarta: Penerbit
Profetik, 2003.
Nadjib, Emha Ainun. Yang Terhormat Nama Saya. Yogyakarta:
Sipress, 1992.
Nata, Richard. Buku Pintar Mencari Kerja. Jakarta: Puspa Swara,
2000.
Noor, Fauz. Tapak Sabda. Yogyakarta: LkiS, 2004.
Poeze, Harry A. Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia;
Jilid 1-3. Jakarta: Yayasan Obor & KITLV, 2008.
Roeder, O.G. Anak Desa; Biografi Presiden Soeharto. Jakarta: Haji
Masagung, 1990.
Rosa, Helvy Tiana. Ketika Mas Gagah Pergi. Jakarta: Pustaka
Annida, 1997.
______________ Risalah Cinta Untukmu. Depok: Lingkar Pena
Kreativa, 2008.

194
Rosyadi, Khoirul. Mistik Politik Gus Dur. Yogyakarta: Jendela,
2004.
Sacco, Joe. Palestina; Duka Orang-Orang Terusir. Bandung: DAR!
Mizan, 2003.
Samudera, Imam. Aku Melawan Teroris. Solo: Penerbit Jazeera,
2004.
Satori, Saefulloh M. Akhi, Haruskah Menghujat Aa? Jakarta:
Pustaka Medina, 2003.
Silvarani. Ada Apa Dengan Cinta?. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 2002.
Spears, Britney & Lynne Spears. A Mother Gift; A Novel. London:
Laurel Leaf, 2003.
Steinbeck, John. Of Mice and Men (Terj. Isma B. Koesalamwardi),
Jakarta: Ufuk Press, 2006.
Suhardi, Kathur. Inul Lebih dari Sekedar Segelas Arak; Cermin
Masyarakat Jahiliyah. Jakarta: Darul Falah, 2003.
Sunyoto, Agus. Suluk Abdul Jalil; Perjalanan Ruhani Syaikh Siti
Jenar. Yogyakarta: LkiS, 2004.
____________ Syaikh siti Jenar: Suluk Sang Pembaharu. Yogyakarta:
LkiS, 2004.
Sylado, Remy. Sam Po Kong; Perjalanan Pertama. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2004.
Syukur, Amin. Menggugat Tasawuf; Sufisme dan Tanggung Jawab
Sosial Abad 21. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.
Thoha, Zainal Arifin. Runtuhnya Singgasana Kyai NU, Pesantren
dan Kekuasaan; Pencarian Tak Kunjung Usai. Yogyakarta:
Penerbit Kutub, 2003.

195
Toer, Pramoedya Ananta. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Jakarta:
Lentera Dipantara, 2004.
Tohari, Ahmad. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1982.
Trim, Bambang. Aa Gym Apa Adanya; Sebuah Qalbugrafi.
Bandung: MQ Publishing, 2003.
Utami, Ayu. Saman. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.
Wardhana, Eka. Tiga Ksatria Gila. Bandung: Mizan, 2002.
Wijayanto, Iip. Campus Fresh Chicken. Yogyakarta: Penerbit
Tinta, 2003.
____________ Sex in The Kost. Yogyakarta: Penerbit Tinta, 2003.
Yoshikawa, Eiji. Mushashi (Terj. Koesalah Soebagyo Toer).
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.
Zuhri, Saifuddin. Guruku Orang-Orang dari Pesantren. Yogyakarta:
LkiS, 2002.

196
Sekerat Riwayat

Mohamad Ali Hisyam dilahirkan di


Pamekasan pada 27 Februari 1975. Jenjang
pendidikan formalnya dimulai dari SDN
Akkor Palengaan Pamekasan, kemudian
SMPN 6 Pamekasan dan MA Mambaul
Ulum Bata-Bata Pamekasan. Setelah itu ia
melanjutkan pendidikan tingginya ke Institut
Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Wonosobo Jawa Tengah (S-1), UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta (S-2) serta University of Malaya
Kuala Lumpur, Malaysia (S-3) dan lulus pada tahun 2017. Pada
masa kuliah S-1 ia terlibat aktif menjadi jurnalis di lembaga
penerbitan mahasiswa dan pesantren serta pengurus organisasi
kemahasiswaan di lingkup intra dan ekstra kampus. Di samping
itu, putra kedua dari pasangan H. Thabrani dan Hj. Muflihah
ini juga mengenyam pendidikan informal di pesantren, antara
lain di Ponpes Bata-Bata Pamekasan, Al-Asy’ariyyah Wonosobo
dan Sunan Pandan Aran Yogyakarta.
Penikmat sastra dan sepakbola ini pernah ditunjuk
menjadi anggota dewan presidium pada Forum Nasional Pers
Pesantren (FNPP) pada 1997-2000. Tulisan-tulisannya (opini,
resensi, esai, dan puisi) tersebar di pelbagai media massa
populer baik daerah, nasional dan mancanegara, antara lain

197
Kompas, Republika, Gatra, Horison, Koran Tempo, Media Indonesia,
Bisnis Indonesia, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Suara Karya,
Wawasan, Sinar Harapan, Jawa Pos, Surya, Surabaya Post, Sabili,
Matabaca, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Bernas, Solopos,
Majalah Dakwah (Terbitan Kementerian Agama Malaysia) dan
beragam media lainnya. Peraih Anugerah Peresensi terbaik II
pada Lomba Resensi Nasional yang diselenggarakan Penerbit
Galang Press 2004 ini kerapkali juga berbagi gagasan di
beberapa media online dan sejumlah jurnal ilmiah.
Buku-bukunya yang telah terbit antara lain Filantropi;
Antologi Karya Sastra Pilihan (Festival Kebudayaan Yogyakarta:
2002), Menggagas Pesantren Masa Depan; Antologi Karya Santri
(Qalam Press: 2005), Magma Agama; Membongkar Jurnalisme
Subyektif Media Massa (UIN Suka Press: 2009) serta Media Lokal;
Kontestasi, Trend, Dinamika dan Suara Media Arus Bawah Madura
(Puskakom UTM & Elmatera: 2016).
Kini, suami dari Rida Umamah ini aktif sebagai pengajar
tetap pada Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura.
Beralamat di: hisyamhisyam@gmail.com.

198

Anda mungkin juga menyukai